Tuesday, December 16, 2014

For Men | Profil | Februari, 2013 | by Hendra Suhendra


Sepertinya Anda melek IT juga. Untuk saat ini seberapa penting teknologi informasi bagi Anda? 

Haha, itu hanya “tipuan brosur”. Mungkin kesannya aja saya melek IT, tapi sebenarnya biasa-biasa aja. Yah, sampai batas tertentu saya punya ketertarikan dan kebutuhan, tapi saya bukan pengulik IT. Batas saya hanya sampai level praktis aja. Kalau soal hp, misalnya, saya biasa pakai satu handset sampai jelek banget dan nggak ganti-ganti (bahkan pernah ada hp saya yang tergilas mobil dan tetap saya pakai). Baru tahun lalu saya beli Blackberry. Laptop saya IBook Macintosh edisi lama, dan masih saya pakai sampai sekarang. Penggunaan internet juga sebatas yang saya butuhkan aja. Terus terang, untuk masalah IT, sekarang ini saya dibantuin Reza juga. Dia lebih ngulik daripada saya. 

Anda juga memiliki blog dan menulis di sana. Apa arti sebuah blog bagi seorang Dewi Lestari? 

Saya mulai nge-blog tahun 2006. Awalnya hanya untuk memuat tulisan-tulisan yang belum tertampung di buku. Ada banyak artikel yang saya tulis, sebagian sudah dimuat di majalah, sebagian lagi belum terpublikasi, dan saya bisa tampung itu semua di blog. Baru tahun 2007 saya lebih intens menulis di blog, traffic di blog saya juga meningkat pesat. Bahkan sekarang saya bisa mengatakan bahwa blog adalah media komunikasi utama saya dengan pembaca. Saya sih kepingin bikin website sendiri, domain sudah ada, tapi konsep website-nya masih mencari yang paling pas. 

Lagu terbaru Anda, Malaikat Juga Tahu, memiliki spirit yang khas dan berbeda. Bagaimana proses terciptanya? 

Pada dasarnya kalau bikin lagu saya lebih sering pakai sistem ‘wangsit’, jadi inspirasinya datang gitu aja, kayak wangsit. Makanya susah banget terima order bikinin lagu. Wong saya sendiri nggak pernah tahu kapan inspirasi itu muncul. Dan lagu Malaikat Juga Tahu (MJT) adalah salah satu contoh yang sempurna untuk kondisi tsb. Lagu itu tercipta begitu saja, hampir tanpa usaha berarti. Benar-benar seperti kesambar petir. Saya lagi di kamar mandi, sikat gigi, lalu melodi reff-nya MJT tahu-tahu muncul. Saya langsung rekam di HP. Lalu, saya tergelitik memakai kata “malaikat” dan “juara”, dan jadilah lirik reff-nya MJT. Sisanya saya ikut arus lagu itu sendiri aja. Dalam mencipta saya merasa lebih sering “digiring” daripada “menggiring”. 

Pesan apa yang ingin Anda sampaikan lewat lagu Malaikat Juga Tahu? 

Yah, sesuai liriknya saja. Saya nggak punya pesan pribadi apa-apa. Cerita dalam lirik MJT cukup umum, banyak orang mengalaminya. 

Apakah lagu tersebut berhubungan dengan seseorang? Tentang siapa? 

Nggak ada. Banyak yang nyangka saya curhat pribadi lewat MJT, padahal sama sekali tidak. Kalau dalam fiksinya, saya memang mengangkat sepenggal kisah dari kehidupan seorang teman dan keluarganya. 

Sebenarnya, bagaimana proses kreatif Anda dalam menciptakan lagu? Apakah bisa berdasarkan pesanan seseorang? 

Lihat jawaban no 3. 

Grup musik atau band sebelum bubar biasanya melakukan pergantian personil, tapi Trio RSD langsung bubar. Kenapa? 

Memang itulah keputusan kami saat itu. Saat saya memutuskan keluar, Rida & Sita pun memutuskan untuk tidak mencari pengganti, jadi mending grupnya pensiun aja sekalian. Yah, kami dibatasi oleh faktor nama juga sih, karena kan kalau mau tetap “Rida, Sita, Dewi” berarti nama personilnya harus sama terus. Sebetulnya kalau saya yang keluar kans cari pengganti cukup besar, berhubung nama “Dewi” sangat pasaran, hehe. Kalau “Rida” atau “Sita” pasti lebih susah. 

Sepertinya Anda sudah menikmati sebagai solois. Ada rencana untuk membuat album atau konser Trio RSD Reunion? Kalau ada, kapan? Kalau tidak, kenapa? 

Bikin album nggak gampang. Butuh persiapan yang panjang dan matang. Terus terang, kalau untuk bikin album lagi kami belum kepikiran. Tapi untuk konser atau nyanyi bareng sih ayo-ayo aja, kalau memang jadwal dan konsepnya pas. Sebetulnya kalau konser reuni sudah kita jalankan. Tahun 2007 akhir kita konser ke 12 kota di Jawa Barat. Untuk ke depannya masih belum tahu. Rida sekarang lagi mau meluncurkan album solo, jadi pasti dia lagi konsentrasi dulu ke albumnya. Sita juga punya rencana sama. Untuk RSD, kami sih cenderung santai dan nggak ngoyo. Kalau ada tawaran nyanyi ya nyanyi, kalo enggak ya nggak pa-pa.  

Anda sukses sebagai penyanyi dan penulis. Boleh jadi ada pekerjaan atau profesi yang menantang tapi Anda tidak ingin menekuninya. Seperti apa misalnya? 

Saya punya hobi masak, traveling, dan merangkai bunga. Nggak tahu apakah akan jadi profesi atau enggak.

Dalam sebuah wawancara Anda mengatakan ingin meluncurkan novel digital dalam bentuk cetak. Bisa diceritakan? 

Novel digital saya berjudul Perahu Kertas, tahun lalu (2008) diluncurkan oleh XL, dan tahun ini (2009) akan diluncurkan lewat Indosat. Novel digital sendiri adalah novel yang bisa di-download dan dibaca lewat hp, jadi sementara ini yang bisa baca adalah pengguna hp dari perusahaan telekomunikasi yang bersangkutan. Tadinya saya mau meluncurkan versi cetak Perahu Kertas akhir 2008, tapi bertabrakan jadwal rilisnya dengan Rectoverso. Saya cenderung untuk tidak mengeluarkan dua produk dalam waktu berdekatan, karena ribet menjalankan promonya. Jadi Perahu Kertas terpaksa ditunda sampai pertengahan tahun 2009. 

Beberapa tahun lalu Andrei Aksana pernah meluncurkan novel disertai soundtrack, judul Lelaki Terindah, meskipun (album) soundtrack-nya tidak dikemas secara khusus. Pendapat Anda? 

Saya kurang jelas maksud pertanyaan ini. “Pendapat saya?” Yah, baik-baik saja.  

Sepertinya, karya-karya Anda cenderung berbau supranatural. Apakah ini menjadi trade-mark seorang Dewi Lestari? 

Kita perlu definisikan dulu arti “supranatural”. Buat saya “supranatural” itu berkonotasi mistis dan cenderung klenik. Benarkah ini yang dimaksud? Karena saya tidak punya niatan demikian. Jika yang dimaksud adalah “spiritual”, berarti jawabannya adalah iya. Dan yang saya maksudkan “spiritual” di sini adalah dorongan alamiah dalam setiap manusia untuk mengenal diri sejatinya. Sejujurnya, saya nggak pernah dengan sengaja ingin menjadikannya sebagai label atau trade mark. Tapi memang motor penggerak saya terbesar dalam berkarya adalah spiritualitas, karena itulah minat saya yang paling utama. 

Adakah keinginan untuk menciptakan sebuah karya dengan tema tertentu, namun Anda khawatir akan mengalami pencekalan? 

Sejauh ini belum ada, baik yang dimaksud sebagai ‘tema tertentu’ maupun kekhawatiran akan pencekalan.  

Tema-tema apa saja yang menarik untuk Anda tulis menjadi novel atau cerita? 

Seperti yang dijelaskan di atas, kecenderungan saya adalah menulis tema tentang pencarian jati diri. Tapi nggak 100% itu melulu juga, saya pun senang mengungkap cerita hati: baik itu jatuh cinta, patah hati, berharap, dsb. 

Dari banyak peristiwa yang terjadi secara global, momen apa yang paling menyita perhatian Anda? 

Sekarang ini? Masalah lingkungan hidup. 

Kalau tidak salah, novel-novel Anda belum pernah difilmkan? Apakah Anda tertarik untuk memfilmkan? Atau jangan-jangan sudah ada yang meminta? 

Memang buku saya belum pernah difilmkan. Dulu, waktu Supernova baru keluar, banyak pihak yang menawarkan, tapi saya belum punya kesiapan untuk itu. Karena kalau bikin film, pastinya saya ingin terlibat cukup intens, dan sejauh ini, secara waktu dan kesempatan saya belum punya ruang untuk itu. Kalau soal tertarik sih tertarik, tapi bukan jadi tujuan utama saya. Bagi saya, difilmkan atau tawaran difilmkan hanyalah bonus sampingan, yang kalau bisa jalan ya syukur, enggak juga nggak apa-apa. 

Seandainya difilmkan, seberapa besar Anda ingin terlibat didalamnya? Karena cukup banyak novelis yang mengaku kurang puas atas hasil adaptasinya ke dalam film. 

Setidaknya supervisi skenario, karena skenario bagi saya adalah nyawa film. 

Saat masih bersama Marcell, sepertinya perkawinan Anda ideal sekali. Akan tetapi perceraian terjadi juga. Menurut Anda, seperti apa sebuah perkawinan yang ideal? 

Saya nggak pernah punya konsep ideal tentang pernikahan. Dan jika dikatakan “sepertinya perkawinan Anda ideal sekali” tentunya itu adalah penilaian terbatas dari pihak luar, yang menurut saya sah-sah saja, tapi belum tentu punya derajat kebenaran apa pun. Perkawinan bagi saya hanyalah bungkus luar yang nggak perlu dibubuhi idealisme apa-apa karena hanya akan bikin stres dan tidak natural. Yang lebih penting adalah relationship-nya. Bungkus bisa apa saja. Bagi saya, relationship yang sehat adalah relationship yang berbasiskan kejujuran dan kekinian (tidak terpaku pada masa lalu dan tidak berorientasi ke masa depan). Dan itu tidak berarti sebuah relationship akan lekang seumur hidup atau bahagia terus menerus. Jadi, bagi saya konsep ideal tidak berlaku. Yang lebih penting dan nyata adalah hubungan yang natural, bukan yang ideal.