Showing posts with label Serial Supernova. Show all posts
Showing posts with label Serial Supernova. Show all posts

Friday, May 12, 2017

WOOP.ID | Kepingan Supernova | April, 2017 | Yaya Sitanggang



Bagaimana rasanya setelah menyelesaikan "Kepingan Supernova”? Apa hal pertama yang dilakukan setelah berhasil menyelesaikan novel tersebut? Apa yang menjadi ide atau inspirasi utama dari "Kepingan Supernova”? Tantangan terbesar dalam proses pembuatan "Kepingan Supernova"?

Untuk Kepingan Supernova, pekerjaan saya lebih mensupervisi karena sebetulnya semua materi sudah ada, tinggal dikurasi, diedit, dan didesain. Jadi, saya lebih berada dalam posisi urun saran. Sebagian besar dilakukan oleh tim editor Bentang Pustaka dan desainer saya, Fahmi Ilmansyah. Rasanya tentu saja senang, karena sebetulnya kumpulan kutipan ini adalah ide saya sejak lama, bahkan dari sejak Supernova 1, tapi baru terealisasi sekarang. Saya rasa momennya juga lebih tepat karena serial Supernova sudah tamat, jadi kumpulannya sudah lebih lengkap dan kaya. Kami luncurkan sekaligus memperingati setahun selesainya serial Supernova.

Selama proses pembuatan pernahkah mengalami writer's block dan biasanya apa yang dilakukan?

Writer’s block bergantung dari definisi kita sebetulnya. Bagi saya, yang terjadi lebih seperti “macet sesaat” ketika proses menulis panjang, yang mana hal itu wajar terjadi. Untuk macet seperti itu biasanya yang dilakukan hal-hal sederhana misalkan istirahat sejenak, olahraga, rekreasi. Yang jelas, ketika sudah punya deadline maka kita coba patuhi itu, jadi ketika terjadi macet, kita tidak memundurkan deadline melainkan kita coba terus di hari berikutnya, dan seterusnya.

Sebagai seorang penulis Indonesia yang sudah aktif selama bertahun-tahun, bagaimana pendapat Mbak Dewi tentang dunia literatur Indonesia, terutama fiksi? Apakah ada hal yang masih harus ditingkatkan, digali, dan diperbincangkan? Bagaimana tanggapan Mbak Dewi tentang budaya membaca di Indonesia?

Pekerjaan rumah dari industri buku masih banyak, dari mulai masalah pajak, harga buku, retail, penerjemahan, dsb. Secara kultur dan sistem, kita masih perlu meningkatkan minat baca. Sebagai profesi, penulis juga masih perlu advokasi, asosiasi yang profesional, regenerasi, dan meningkatkan skill.

Sebagai penulis dan juga ibu, apakah tips untuk memperkenalkan dan mendorong anak untuk lebih tertarik membaca buku?

Dengan menjadikan kegiatan membaca sebagai kegiatan menyenangkan, kita berikan sudut membaca yang nyaman, akses kepada buku yang mudah, dan kita juga menjadikan buku sebagai hadiah bagi momen-momen tertentu hingga mereka punya persepsi bahwa buku itu berharga dan membahagiakan.

Seberapa sering dan banyak Mbak Dewi membaca? Satu buku biasanya bisa diselesaikan dalam berapa lama? Adakah target jumlah buku yang harus diselesaikan dalam, misalnya, setahun atau sebulan?

Saya membaca biasanya berdasarkan kebutuhan. Tidak berdasarkan target bulanan atau tahunan. Saya bisa break panjang dari membaca, tapi begitu saya harus riset misalnya, saya bisa baca puluhan buku secara kontinu. Secara umum biasanya sih dalam sebulan pasti ada judul baru yang saya baca.

Selama tahun 2016 kemarin, adakah judul-judul buku yang menjadi favorit? Selain itu apakah judul buku favorit sepanjang Mbak Dewi?

“The Emperor of Scent” – Chandler Burr, buku nonfiksi yang sifatnya reportase seorang wartawan yang mengikuti perjalanan seorang ilmuwan bernama Luca Turin yang hendak membuktikan teori baru tentang penciuman. Buku itu kebetulan bagian dari riset saya untuk manuskrip baru. Kalau yang sepanjang masa nggak hanya satu, tapi saya sebutkan satu saja, yakni “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono.

Apakah akan ada seri Supernova selanjutnya?

Serial Supernova sudah tamat, tapi ceritanya masih bisa berlanjut. Kalau saya lanjutkan maka judul serialnya sudah bukan Supernova lagi.

TinkerBell Writing Club | Teknik Menulis | Februari, 2017


Apa yang akan Anda lakukan jika merasa kurang yakin/puas dengan naskah cerita Anda?

Biasanya, saya akan terus mengolahnya hingga puas. Hanya kalau saya sudah puas maka saya akan memberikan naskahnya ke penerbit. Tentu saja, biasanya akan tetap terjadi proses editing, baik dari pihak saya maupun penerbit, dan pada akhirnya tidak ada naskah yang benar-benar sempurna atau pun “bersih” dari kesalahan. Kadang, saya bisa saja menjadi tidak puas ketika naskahnya sudah terbit karena menyadari hal-hal yang seharusnya bisa saya perbaiki, tapi setelah sekian kali menerbitkan buku saya sudah bisa menerima bahwa itu adalah wajar dan normal terjadi dalam proses berkarya.

Karya Anda yang berjudul Supernova sempat booming ketika tahun 2000-an, genrenya pun menurut saya anti mainstream dan pemilihan katanya membuat saya terpukau. Apakah ada rintangan ketika menulis Supernova?

Saat itu saya tidak melihatnya sebagai rintangan, tapi lebih kepada tantangan. Motivasi saya menerbitkan Supernova dulu sangatlah lugu, hanya untuk sekadar memberi kado ultah ke-25 bagi diri sendiri. Karena ada tenggat waktu seperti itu (mengejar hari ulang tahun), maka tantangannya lebih kepada produksi. Waktu itu saya self-publish, jadi banyak hal yang harus saya tangani langsung, dari mulai percetakan hingga distribusi. Namun, dari segi penulisannya sendiri saya tidak merasakan ada rintangan tertentu. Mungkin karena pada intinya saya menulis bagi diri saya sendiri jadi tidak merasa ada beban ekspektasi maupun aturan orang/pihak lain

Siapa saja yang memotivasi Anda untuk tetap lanjut menulis?

Dari kecil saya memang suka menulis dan bercita-cita menulis buku. Tanpa ada yang menyuruh pun saya akan tetap menulis. Setahun sebelum menulis Supernova, ada satu sahabat saya yang mengingatkan saya akan niat saya menulis buku, dia cuma bilang, “Jadi, kapan?” Itu jadi semacam cambuk bagi saya untuk membulatkan tekad.

Bagaimana caranya agar kita tetap konsisten dengan satu cerita hingga tamat? Apalagi Supernova butuh banyak waktu untuk selesai. Tidakkah Anda merasa bosan atau kehabisan ide ketika ingin melanjutkannya?

Rasa bosan pasti ada. Ide bukan soal habis atau tidak, tapi bagaimana menyusun logika cerita yang kuat dengan menggunakan ide-ide yang ada. Saya rasanya nggak pernah kehabisan ide, lebih banyak kebanyakan ide. Jadi, tantangan saya justru memilah dan memilih ide yang tepat untuk membangun cerita yang solid. Dalam penulisan serial, menurut saya kita harus sudah punya sistem, nggak bisa lagi mengandalkan kapan kita mau nulis atau tidak. Ada deadline, ada target harian. Konsistensi itu semata-mata ketekunan kita untuk sudi mengerjakan hal besar dalam porsi kecil-kecil secara rutin. 

Apa pendapat Anda mengenai banyaknya novel-novel jebolan Wattpad (yang kebanyakan diberi label jutaan pembaca) yang sudah diterbitkan?

Saya belum terlalu banyak membaca novel jebolan Wattpad jadi belum bisa berkomentar banyak secara konten. Namun, sebagai sebuah fenomena, menurut saya ini cukup menarik. Wattpad menjadi semacam ajang berlatih bagi para penulis, dan karena dikerjakan secara mencicil, otomatis itu memicu penulis untuk tekun, berinteraksi dengan pembaca, dan merasakan bagaimana sensasi bisa menamatkan sebuah kisah. Sensasi itu menurut saya penting karena itulah yang sering menjadi tantangan para penulis pemula. Mereka mudah memulai tapi kesulitan ketika harus menyelesaikan.

Ketika membaca suatu karya sastra anak bangsa, apa yang paling utama Anda nilai?

Patokan saya terhadap cerita sebetulnya sama, siapa pun penulisnya dan dari mana pun asalnya, yakni cerita yang mengikat pembaca dan solid secara logika. Tolok ukurnya mudah saja, jika kita tergerak untuk terus membuka halaman demi halaman, dan ketika menutup halaman terakhir kita mendapatkan sesuatu, entah itu ilmu baru, emosi, perenungan, dsb, maka kisah itu berhasil.

Sejak kapan Anda menyukai dunia tulis menulis?

Sejak kecil. Seingat saya, saya mulai menulis panjang (novel-novelan) dari kelas 5 SD.

Menurut Anda, bagaimana cara membuat plot twist yang tidak mudah ditebak?

Plot itu adalah rangkaian logika cerita. Twist yang berhasil hanya bisa terjadi ketika keseluruhan logika cerita kuat dan nggak bolong-bolong. Semakin tak tertebak biasanya logika ceritanya semakin rapi. Rumusnya sih sebetulnya gampang, walaupun belum tentu mudah dilakukan, yakni narasi besar perlu menggiring pembaca ke arah tertentu, sementara ada narasi bayangan yang hanya diketahui oleh penulis. Dan ketika kedua narasi itu bertemu dan jalur pembaca tahu-tahu tergiring ke narasi bayangan, pada saat itulah pembaca tersentak karena tidak menyangka perjalanan cerita tahu-tahu berubah. Namun, kalau dirunut balik, sebenarnya narasi bayangan itu sudah ada di sepanjang cerita, hanya saja tidak kentara karena penulis berhasil menyembunyikannya. Tentu ini dibutuhkan teknik. Tapi, yang lebih dibutuhkan lagi adalah logika cerita yang baik dan rapi.

Menulis bagi Anda sendiri adalah?

Kapasitas istimewa dari spesies manusia.

Pertanyaan terakhir, pesan apa yang ingin Anda sampaikan untuk anggota grup kepenulisan Tinker Wattpad Club?

Persepsikanlah menulis sebagai otot. Agar otot kita kuat dan bertumbuh, maka kita harus melatihnya. Wattpad bisa menjadi ajang berlatih yang efektif, manfaatkan sebaik-baiknya. Jangan cepat merasa puas dan teruslah belajar. Agar menulis bisa menjadi sebuah seni, maka kita terlebih dahulu harus menguasai tekniknya dengan baik.

Tirto.ID | Supernova IEP & Serial Supernova | Januari, 2017 | Aulia Adam


Selamat ulang tahun, Supernova. Selamat ulang tahun juga, Ibu Suri.

Terima kasih banyak.

Februari nanti tepat satu tahun dirilisnya IEP, bagaimana kabar tokoh-tokoh di dalamnya – para peretas, infiltran, dan sarvara?

Kabarnya baik. Seperti saya, mereka tampaknya menikmati betul petualangan yang mereka alami dalam IEP.

Dalam rentang 15 tahun, sejak KPBJ pertama kali dirilis hingga IEP, rupanya karakter-karakter dalam Supernova berkembang tak hanya jadi sekadar tokoh dalam novel. Bak novel saga lainnya seperti Harry Potter, Twilight, atau Fifty Shade of Gray, mereka bahkan punya basis penggemar masing-masing. Apakah Ibu Suri memang merakit karakter-karakter ini supaya demikian?

Saya mulai merancang “plot berbasis karakter” itu setelah menulis Supernova 1 (KPBJ). Di KPBJ saya merasa ruang gerak karakter-karakternya agak sempit, terutama Dimas dan Reuben yang bahkan tidak keluar dari rumah mereka, dan untuk episode selanjutnya saya ingin memberikan ruang luas bagi setiap karakter. Artinya, saya bercerita dari sudut pandang mereka, kemudian saya menggambarkan kehidupan mereka sejak kecil, dsb. Dengan demikian, pembaca bisa benar-benar paham peristiwa-peristiwa penting yang membentuk setiap karakter. Saya juga merancang agar setiap karakter memiliki sifat, latar belakang, kelebihan dan kelemahan, yang berbeda dari satu sama lain. Waktu kecil, saya pernah menonton serial Yogi Bear edisi khusus berjudul Laff-A-Lympics. Puluhan karakter dari serial kartun produksi Hanna-Barbera yang berbeda-beda tiba-tiba disatukan dan ditandingkan. Bagi saya, sensasinya luar biasa. Saya biasanya mengenal karakter-karakter itu di “dunia” mereka masing-masing, dan tiba-tiba mereka dipersatukan. Sensasi itu yang kira-kira ingin saya bangkitkan ketika merancang episode-episode berikut (2 sampai 5), dan puncaknya mereka bertemu di 6. Otomatis, seiring waktu, setiap pembaca sudah memiliki “jagoan” masing-masing. Dan, di buku 6 mereka akan melihat sisi-sisi baru dan segar dari jagoannya setelah berinteraksi dengan tokoh-tokoh dari episode lain.

Ibu Suri sendiri punya karakter Favorit? Siapa?

Sulit sebenarnya dijawab karena saya menyukai semuanya hampir sama rata. Tapi, saya amat menikmati proses menulis Alfa Sagala (Gelombang).

Kalau ada, apa yang membuatnya menarik?

Saya merasa karakter Alfa itu menggemaskan. Pintar tapi lugu. Pergelutan batinnya sebagai pionir yang memulai pemberontakan Peretas terhadap Sarvara juga membuat Alfa memiliki banyak lapisan menarik untuk dieksplorasi.

Ada banyak sekali teori, budaya, dan gaya bercerita yang berbeda Dee paparkan dalam heksalogi ini. Semua riset mendalam itu yang akhirnya jadi salah satu daya tarik Supernova. Apakah semua itu memang dirancang sejak awal?

Pada awalnya, saya hanya menentukan tema, jadi sifatnya sangat global. Misalnya, tema lingkungan untuk Partikel. Atau, tema alam mimpi untuk Alfa. Namun, ketika ditulis begitu banyak sudut pandang sekaligus informasi yang harus dipilih dan dipilah. Subjek-subjek pendukung seperti mikologi, konservasi orang utan, fotografi alam, dsb, saya pilih melalui proses. Mana subjek yang memiliki unsur “drama” yang kemudian menunjang kehidupan si karakter, itulah yang saya pilih. Jadi, mirip menyusun puzzle. Kepingan puzzle itu tidak sekaligus hadir, tapi bertahap. Gaya bercerita saya tentukan sesuai karakter. Cara bercerita Elektra, misalnya, pasti harus berbeda dengan Alfa atau Zarah. Bagi saya itu jadi tantangan yang menarik. Terutama ketika mereka semua berkumpul. Setiap karakter tetap harus menyuarakan keunikannya masing-masing, rasanya seperti menata orkestra.

Sebagai penutup, IEP sebenarnya terkesan 'penuh'. Sebab hampir semua penjelasan yang tak terjelaskan di buku-buku sebelumnya justru dijawab satu per satu oleh IEP. Bahkan IEP masih belum menjawab siapa Peretas Puncak, dan apa yang akan terjadi setelah kehadirannya tiba. Apakah ini memang akhir yang dirancang? Atau akan ada 'keping' baru yang akan mengejutkan penggemar Supernova?

IEP adalah akhir dari “babak”-nya Supernova. Ceritanya sendiri masih akan berlanjut. Kenapa Supernova berakhir babaknya? Karena Supernova sebagai sebuah permasalahan saya anggap sudah selesai dengan terbongkarnya siapa Diva dan apa tujuannya. Babak berikutnya akan fokus kepada Peretas Puncak dan ke pertarungan besar Sarvara vs Infiltran.

Dee pernah bilang, kalau tak menutup kemungkinan kelanjutan kisah ini--tapi, tak lagi dalam rangkaian Supernova. Boleh kasih bocoran tentang kelanjutan nasib Peretas Puncak? Siapa dia? Atau Bagaimana kelanjutan kisah cinta Gio-Zarah? Alfa-Isthar? Atau Mpret-Etra?

Peretas Puncak adalah anak dari Gio dan Zarah. Dan karena dia adalah bagian dari gugus Asko yang melibatkan nama-nama yang disebut di atas, otomatis yang lainnya itu akan terceritakan juga. Walau fokusnya mungkin tidak akan sebanyak tokoh utama yakni si Peretas Puncak.

Jika punya kesempatan, dari sekian banyak tokoh di IEP, siapa yang paling memungkinkan punya cerita sendiri untuk dibuatkan novel sendiri? Kira-kira apa judulnya?

Saya merasa Liong punya potensi untuk itu. Realitas yang dikisahkan dari sudut pandang Infiltran pasti akan berbeda dengan sudut pandang Peretas. Dan, Liong punya masa lalu yang masih misteri. Dia pernah menjadi Peretas. Rasanya sih akan menarik, walau belum tentu akan saya wujudkan beneran menjadi novel. Judulnya belum terbayang. Sesuatu yang berhubungan dengan Naga, barangkali.

Supernova KPBJ sudah pernah dibuatkan film. Adakah rencana melanjutkan buku-buku selanjutnya untuk diterjemahkan dalam rol film?

Saya tidak pernah merencanakan. Dalam hal ini, tawaran adaptasi biasanya datang dari produser, bukan perencanaan dari penulis. Jadi, kalau ada produser yang punya ketertarikan terhadap satu buku tertentu, maka akan ada tawaran adaptasi. Bagi saya sendiri, hal itu tidak pernah menjadi target.

Bila dipaksa untuk menyebutkan aktor-aktor yang cocok untuk memerankan Alfa, Bodhi, Chandra, Empret, Etra, Gio, Ishtar, Kell, Liong, dan Zarah, siapakah mereka?

Itu pertanyaan sulit karena mereka semua harus “ter-orkestrasi” baru pas. Dan saat ini rasanya bagi saya terlalu pelik untuk menyusun orkestrasi casting itu. Kalau cuma dicocokkan satu-satu tapi secara keseluruhan nggak nyambung nantinya jawaban saya malah aneh dan merusak imajinasi pembaca.

Dalam waktu dekat, adakah rencana mengeluarkan buku baru? Bisa kasih bocoran?

Dalam waktu dekat, baru akan menulis manuskrip baru. Keluarnya belum tahu kapan, karena biasanya saya butuh waktu 6 bulan hingga setahun untuk rilis buku, termasuk produksi.

Ada pesan untuk para penggemar Supernova yang masih menanti kabar Peretas Puncak?

Bersabarlah. Paling cepat saya baru bisa menunaikannya dalam waktu lima tahun ke depan.

Sejak dirilis, IEP sudah beredar berapa kopi? Berapa cetakan?

Cetakan pertama, IEP langsung dicetak 40 ribu kopi, dan setahu saya sudah beberapa kali dicetalk ulang. Saya belum update lagi perkembangan terakhirnya. Mungkin bisa ditanyakan langsung ke Bentang Pustaka.


Monday, March 14, 2016

Z Indonesia - Jawa Pos | Supernova IEP | Feb, 2016 | by Almas Salsabil


Mengingat kembali pada tahun 2001 saat Supernova pertama terbit, bagaimana perasaan Dee akhirnya bisa menyelesaikan enam seri dari buku ini?

Perasaannya bercampur, antara haru, sedih, lega, dan senang. Menulis Supernova merupakan proses yang sangat panjang. Ada saatnya saya benar-benar ingin mengakhiri supaya bisa “bebas” mengerjakan karya lain. Tapi, begitu mulai menuliskan IEP, muncul perasaan sedih dan tidak ingin berpisah. Namun, saya tetap merasa Supernova sebagai serial memang harus diakhiri sekarang. Setiap akhir akan melahirkan awal yang baru. Saya percaya itu.

Mengapa memilih judul Inteligensi Embun Pagi untuk buku penutup? Apa ada makna di baliknya?

Tentu saja, ada. Kalau tidak, tidak mungkin saya gunakan. Sebetulnya judul itu sendiri sudah saya publikasi sejak tahun 2002, waktu keluarnya Supernova Akar pertama kali. Saya terinspirasi sebuah judul buku puisi yang saya punya waktu kuliah, judulnya Intelligence of the Clouds. Bagi saya, konsep itu sangat menarik karena saya pribadi percaya bahwa alam semesta ini punya kecerdasan. Bahkan pada hal-hal yang bukan di kategori makhluk hidup sekalipun. Saya lalu merangkai judul Inteligensi Embun Pagi, yang pada saat itu lebih terdorong oleh faktor intuisi. Tapi, ketika konsep cerita Supernova semakin saya gali, saya menemukan keterkaitan antara judul dan konsep besar cerita Supernova memang ternyata erat sekali. Embun, yang merupakan butiran air, memiliki gugus heksagonal. Dan, heksagonal, adalah salah elemen sentral dalam cerita Supernova.

Dee pernah mengangkat tentang teori fisika, pencarian jati diri, maupun isu lingkungan, kira-kira konsep apa yang diangkat untuk cerita di buku penutup Supernova ini?

Bisa dibilang di IEP ini semua tema sebelumnya bercampur dan membuka plot cerita yang lebih besar, yang bermuara ke pertanyaan eksistensial tentang asal usul manusia dan realitas multidimensi. Tentu saja, apa yang saya tulis adalah fiksi. Tidak usah terlalu dianggap serius.

Apa sebenarnya benang merah yang menghubungkan keenam buku Supernova?

Keenam buku itu memiliki karakter-karakter yang saling berhubungan, tapi mereka sendiri belum sadar keterhubungan mereka apa. Baru di IEP semua itu terungkap. Mereka terhubung oleh sebuah misi. Lebih dari itu, eksistensi mereka sesungguhnya terhubung di level yang sangat dalam.

Kita telah mengenal Bodhi, Elektra, Zarah dan Alfa. Siapa yang akan menjadi tokoh utama pada novel Inteligensi Embun Pagi? Dan, bagaimana tokoh tersebut menjadi penghubung bagi tokoh di seri-seri sebelumnya?

Tidak ada tokoh baru di IEP, kecuali satu, yang kemunculannya di IEP ini bisa dibilang masih merupakan intro. Yang menarik dari IEP adalah adanya tokoh-tokoh yang tadinya muncul hanya sebagai peran pembantu, kini mencuat menjadi salah satu tokoh utama, seperti Gio dan Toni (Mpret). Ada juga beberapa tokoh yang “bangkit dari kubur”. Lalu, tokoh-tokoh yang tadinya hanya ada di latar juga diperkenalkan, misalnya orang tua Gio.

Apa atau siapakah sebenarnya Supernova itu?

Yang sejauh ini terungkap adalah Supernova sebagai tokoh di dunia maya, dan itu sudah diceritakan di buku Supernova pertama (KPBJ). Masih akan ada lapisan-lapisan lain tentang tokoh Supernova, tapi tentu tidak bisa saya jawab di wawancara ini karena nanti spoiler.

Kelima buku sebelumnya selalu menggunakan cover berwarna hitam, apa alasannya menggunakan warna putih untuk buku terakhir ini? Apakah ada filosofi tertentu di baliknya?

Pertanyaan itu sebetulnya akan terjawab dengan sendirinya kalau sudah membaca IEP. Pemilihan warna kover menjadi putih bukan karena alasan desain atau estetis tapi karena kebutuhan cerita. Kalau saya jawab sekarang, tentu akan jadi spoiler. Hehe. Jadi, nanti saja dibaca di IEP, akan ketahuan kenapa kovernya putih.

Terakhir, ada yang ingin disampaikan oleh Dee kepada penggemar setia Supernova?

Terima kasih karena telah mengikuti serial Supernova selama ini. Saya tahu cukup banyak yang bahkan ikut “tumbuh besar” bersama serial ini; dari mulai SMP sampai menikah, dari mulai jomblo sampai punya anak, dsb. Mengikuti serial sepanjang dan selama ini tentu tidak mudah. Terima kasih atas kesabarannya. Semoga episode penutup ini dapat memuaskan keingintahuan dan pertanyaan-pertanyaan kalian.

Friday, February 19, 2016

Mediaselebriti.Com | Supernova IEP | Februari, 2016 | by Ajie Fabregas

-->
Apa makna di balik judul Inteligensi Embun Pagi di Supernova terakhir ini?

Agak sulit mengungkap makna Inteligensi Embun Pagi tanpa membuka sebagian isi cerita, yang mana saat ini menjadi perihal sensitif karena bisa dianggap spoiler. Yang jelas, Inteligensi Embun Pagi (IEP) menyiratkan kecerdasan alam semesta sebagai salah satu kekuatan yang menggulirkan kehidupan, dan itu punya keterkaitan konteks dengan isi cerita. Selain itu, saya menyukai rangkaian kata Inteligensi Embun Pagi dan bagaimana kalimat itu dibunyikan.

Kenapa warna dasar kovernya berbeda dari seri-seri yang sebelumnya? Ada makna di balik itu?

Warna kover IEP bukan pilihan estetis, tapi berkaitan erat dengan konten cerita. IEP akan mengungkap sebuah tokoh baru, yang pada saat ini hanya akan hadir sebagai “intro” atau “teaser” awal saja, dan tokoh baru tersebut punya kaitan dengan warna mutiara, jadi secara teknis lebih tepat disebut putih mutiara ketimbang hanya putih saja.  

Boleh tahu latar tempat di Supernova IEP? Apakah di negeri yang jauh lagi? Apakah langsung riset tempat sendiri, atau melalui perantara orang lain?

Sebagaimana yang sudah diindikasikan di kelima episode sebelumnya, pada akhirnya puncak cerita akan terjadi di Indonesia. Jadi, di IEP hampir tidak ada setting di luar Indonesia. Kalau pun ada, hanya sepintas. Sebagian besar cerita terjadi di Indonesia, di setting yang selama ini sudah dikenal sebelumnya oleh pembaca, seperti Elektra Pop, rumah Dimas dan Reuben, rumah Zarah di Batu Luhur, dan sebagainya.

Ada pesan yang ingin Dee sampaikan kepada para pembaca? Kenapa harus baca Inteligensi Embun Pagi ini?

Bagi yang pernah mengikuti serial Supernova, tentunya membaca Inteligensi Embun Pagi adalah satu-satunya cara untuk tahu betul keseluruhan cerita. Saya penulis yang cenderung tidak punya pesan, setidaknya saya tidak meniatkan itu dengan sengaja. Supernova adalah hasil imajinasi dan penelusuran saya atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial, orang boleh sepakat, boleh terinspirasi, boleh juga tidak. Jadi, tidak ada yang “harus begini” atau “harus begitu”. Bagi saya pribadi, Supernova IEP adalah buku saya yang paling seru sejauh ini. Sayang kalau dilewatkan. Itu saja.

Kapan novelnya bakal mengisi rak-rak di toko buku seluruh Indonesia?

Tanggal 26 Februari rencananya. Mungkin untuk luar Jawa akan ada perbedaan waktu karena faktor distribusi, tapi untuk Pulau Jawa, bisa dipastikan tanggal 26 sudah ada.

Kabarnya ada pre-order edisi Supernova IEP yang bertandatangan, bisa dikasih tahu cara pesannya?

Ada toko-toko buku online yang bekerja sama dengan distributor (Mizan Media Utama) untuk membuka pre-order Supernova sejak tanggal 5 Februari hingga tanggal 23 Februari. Saat ini di beberapa toko buku, stok buku ber-TTD sudah habis. Melihat perkembangan terakhir, toko-toko buku konvensional juga ikut bergabung di promo pre-order ini. Kelebihan PO adalah peluang besar untuk mendapatkan edisi ber-TTD (selama persediaan masih ada, tentunya). Tapi, buku tetap akan dikirim sesudah tanggal 23 Feb, supaya rilisnya tetap kurang lebih bersamaan dengan toko buku konvensional. Jadi, bukan berarti yang PO baca duluan.

Tambahan, apa rencana ke depan setelah Supernova tamat? Bikin prekuelnyakah?

Saya tidak berpikir ke arah prekuel, sebenarnya. Setelah membaca IEP, pembaca akan menyadari bahwa sebenarnya KPBJ (episode pertama) adalah “intro” atau bisa dibilang prekuel. Kalaupun ada pengembangan, saya lebih tertarik untku mengembangkan cerita ke depan, bukan ke belakang. Hanya saat ini saya masih belum ingin menkonkretkan rencana proyek kreatif apa pun. Saya ingin istirahat dulu dari proses kreatif yang intens karena bisa dibilang saya menulis maraton dari tahun 2011 (mengerjakan manuskrip Partikel) hingga akhir 2015 (manuskrip IEP).

Terakhir, apa yang ingin seorang Dewi Lestari raih dalam 10 tahun ke depan?

Saya agak sulit menjawab pertanyaan futuristik. Untuk hal-hal seperti ini, dan untuk fase hidup saat ini, saya cenderung bertarget pendek-pendek saja. Dalam sepuluh tahun ke depan, mungkin saya sudah punya novel serial baru. Mungkin.


Wednesday, February 17, 2016

Bentang Pustaka | Supernova IEP Part 2 | Januari, 2016 | by Fitria C. Farisa


Kalau diminta menyebut satu judul dari keenam Serial Supernova, Dee paling memfavoritkan Supernova yang mana? Kenapa?

Saya punya kecenderungan untuk merasa paling suka dan dekat dengan karya yang paling baru saya garap. Nah, karena IEP adalah yang paling gres saya kerjakan, otomatis itu menjadi favorit saya. Secara konten, IEP ini memang sangat seru, banyak twist, ketegangan, dan juga ada bumbu humor dan romantisme, pokoknya semua unsur yang saya sukai ada di sana.

Siapa tokoh favorit Dee dari Serial Supernova? Alasannya?

Sulit memilih, jujur. Di IEP saya sangat menyukai Toni alias Mpret, tapi secara keseluruhan Alfa Sagala tetap yang paling berkesan buat saya. Mungkin karena saya sangat menikmati proses menulis Gelombang dan merasa ikut dalam pertumbuhan Alfa. Dia itu gigih, cerdas, cerdik, kadang bisa jadi kelihatan menyebalkan, tapi di beberapa aspek dia bisa sangat polos dan lugu. Dan, itu yang membuat karakter Alfa ini menjadi mengasyikkan sekali untuk digarap.

Dari keenam seri, yang paling banyak menemui kendala saat proses penulisan yang mana? Bisa disebutkan apa saja kendalanya?

Setiap episode berbeda-beda, karena kondisi lingkungan saya juga berubah-ubah terus. Waktu Partikel, misalnya, kesulitan utamanya adalah memulai lagi proses kreatif yang sempat tertunda bertahun-tahun, dan saya masih punya anak balita (saat itu Atisha baru 3 tahun). Waktu Gelombang, saya mulai menyempurnakan sistem kerja saya, tapi itu pun masih banyak yang harus saya perbaiki. Waktu IEP, sistem kerja saya sudah jauh lebih efisien dan strategis, tapi volume IEP yang besar ini sangat menyita fokus dan tenaga. Saya nggak terlalu banyak problem dengan konten maupun jalan cerita. Yang lebih menantang adalah menyelaraskan proses menulis dengan aspek kehidupan saya yang lain.

Dari keenam seri, yang paling cepat ditulis yang mana? Apa yang membuatnya bisa menjadi paling cepat?

Petir yang paling cepat. Rata-rata untuk tiap episode saya menghabiskan tujuh hingga satu tahun. Untuk Petir, mungkin sekitar lima bulan. Tapi, secara cerita, Petir memang tidak menuntut riset yang terlalu kompleks. Setting-nya Bandung, tempat yang saya sangat familier, dan jalan ceritanya juga cenderung mengalir, tidak banyak konflik.

Dari banyaknya setting tempat dalam Serial Supernova, Dee paling suka setting tempat di mana? Alasannya?

Salah satu yang berkesan adalah Tanjung Puting. Lucunya, saya sendiri sampai sekarang belum pernah ke sana. Hanya mengandalkan riset dan narasumber. Tapi, pada dasarnya saya sangat senang menulis setting yang sifatnya alami, hutan, dsb. Jadi, menuliskannya pun membuat saya merasa berada di tempat itu, sekaligus terkagum-kagum atas keindahannya. Nah, ajaibnya, banyak orang tergerak mengunjungi Tanjung Puting setelah baca Partikel dan melapor ke saya, mereka merasa deskripsi di buku sangat mendekati asli. Saya juga sangat terkesan dengan Sianjur Mula-mula. Gara-gara Gelombang, jadi banyak juga pembaca saya yang tergerak ke Sianjur Mula-mula. Bahkan tempat itu sekarang sering diliput media.

Dari beberapa kisah cinta yang ada dalam Serial Supernova, Dee paling suka kisah cinta siapa? Kenapa?

Saya pengin kasih tahu tapi nggak mau spoiler. Pokoknya yang paling saya suka itu ada di IEP.

Dari keenam seri, mana yang membutuhkan paling banyak referensi, baik literatur maupun wawancara narasumber?

Akar adalah salah satu yang paling ekstensif karena melibatkan banyak tempat sekaligus. Ada banyak elemen-elemen yang saat itu saya juga belum familier, seperti seni tato, komunitas punk, Buddhisme, dsb. Zaman itu juga informasi di internet belum semelimpahruah sekarang ini, jadi pekerjaan mencari datanya lebih berat dan lebih manual. Saya terpaksa bayar teman saya untuk ikut jadi staf riset. Saya bahkan masih wawancara menggunakan tape recorder. Sekarang, kaset sudah jadi barang vintage!  

Dari keenam seri, mana yang paling membuat Dee deg-degan sebelum dirilis? Ada alasan khusus?
Seingat saya, Partikel. Sepertinya karena ada jeda panjang dari Petir, dan karya-karya saya sebelum itu (Perahu Kertas, Rectoverso, Filosofi Kopi) cenderung lebih mudah dibaca, Partikel kembali menjadi “pertaruhan”. Untungnya, Partikel diterima dengan baik, bahkan serial Supernova seperti punya basis pembaca baru (yang lebih muda) pasca terbitnya Partikel dan dirilis ulangnya semua episode Supernova oleh Bentang Pustaka.

Jika diminta menyebutkan satu simbol favorit dari keenam simbol yang ada, Dee paling menyukai yang mana? Mengapa?

Beberapa simbol Supernova mengambil dari simbol sakral yang memang sudah ada sebelumnya, seperti Flower of Life (Akar), Antahkarana (Petir), dan Bumi (Partikel). Tapi beberapa memang saya rancang sendiri dibantu seorang desainer langganan saya, Fahmi Ilmansyah. Saya paling suka IEP sih, karena maknanya sangat kaya, dan pilihan warnanya juga unik (baru ketahuan kalau nanti bukunya sudah keluar, hehe).

Mungkin ada hal-hal unik yang Dee ingat waktu menulis masing-masing seri? Kalau IEP, konon Dee sampai harus ‘mengungsi’ ke hotel, nah, adakah hal-hal unik lain yang mba ingat ketika proses penulisan Serial Supernova selain IEP?

Waktu penulisan IEP, di lingkungan rumah saya kebetulan lagi banyak pembangunan, jadi agak berisik di rumah. Sementara slot waktu saya menulis hanya bisa di pagi sampai siang hari. Akhirnya di IEP ini saya banyak tur dari kafe ke kafe, sampai akhirnya saya menemukan “kantor” favorit saya. Namanya kedai kopi Rosso Micro Roastery, yang kebetulan lokasinya sangat dekat dari rumah, hanya sekitar 15 menit. Jadi, di Rosso ini saya seperti punya tempat keramat, yang kata baristanya, pengunjung lain sampai segan duduk di situ karena tahu biasanya saya bakal datang dan duduk di tempat sama selama berjam-jam. Satu hari, pernah ada rombongan arisan di Rosso dan semua meja full, banyak anak kecil juga. Akhirnya saya diungsikan ke kantor/gudang staf, nulis di sana. Saya nulis adegan puncak IEP justru di gudang itu, dikelilingi karung-karung isi biji kopi. Terharu banget ketika adegannya selesai, saya sampai nangis. Syukur juga saya kerja sendirian di gudang, jadi nggak ada lihat saya mewek, hehe.


Bentang Pustaka | Supernova IEP - Part 1 | Januari, 2016 | by Fitria C. Farisa


Bagaimana ide awal Dee menulis Supernova? Mungkin bisa diceritakan sejarah lahirnya Supernova sendiri?

Supernova bisa dibilang adalah gabungan dari topik  maupun hal-hal yang saya suka, yang saat itu tidak saya temukan di kepustakaan Indonesia, yakni fiksi yang menampung perihal spiritual, sains, konflik percintaan, persahabatan, dengan setting urban kontemporer. Saya terpicu oleh konflik religius yang pada akhir tahun 90-an terjadi di banyak tempat di Indonesia, dan karena saya memang hobi menulis fiksi sejak kecil, jadi menuangkan kegelisahan lewat karya fiksi adalah refleks saya. Saya pikir, dengan fiksi, perenungan-perenungan yang cenderung “berat” bisa dicairkan. Fiksi menjadi jembatan bagi saya untuk mengomunikasikan ide-ide saya. Target saya waktu itu juga bukan untuk meraup sebanyak-banyaknya pembaca, tapi lebih ke katarsis personal saja, karenanya Supernova KPBJ saat itu saya terbitkan sendiri karena mengejar momentum ulang tahun ke-25. Supernova adalah kado bagi diri saya sendiri. 

Apa memang dari awal udah rencana membuat Supernova menjadi berseri?

Sudah. Itu sudah saya umumkan sejak merilis Supernova KPBJ tahun 2001. Saya mulai membuat sketsa Akar hingga Gelombang dari tahun 2002. Bahkan judul episode terakhir, Inteligensi Embun Pagi, juga sudah saya umumkan begitu saya merilis Akar tahun 2002.

Supernova kan sci-fi, sedangkan Dee sendiri studinya adalah HI. Saya pribadi terheran-heran banget gimana seorang yang nggak menjalani studi formal sains bisa menulis teori Fisika, Biologi, dsb, dengan begitu luar biasa. Nah, dari mana saja Dee belajar tentang sains?

Saya pribadi selalu percaya bahwa pendidikan formal kita seringkali tidak menentukan minat dan ketertarikan personal kita dalam kehidupan sehari-hari. Ketertarikan terbesar yang menggerakkan saya menulis Supernova sebenarnya adalah spiritualitas. Pada tahun 2000 saya mulai membaca karya-karya sains yang ditulis oleh para ilmuwan yang juga berusaha mendedah spiritualitas dari sudut pandang berbeda. Sejak itu saya jadi lebih banyak baca buku sains. Pada dasarnya saya cukup suka ilmu alam. Jadi, meski secara formal saya tidak belajar sains, saya tidak merasa terlalu kesulitan memahami buku-buku tersebut. Mungkin karena ketertarikan saya sesungguhnya bukan ke teknisnya tapi cenderung ke makna filosofisnya. Kalau disuruh kerja di laboratorium, saya belum tentu suka. Hehe.

Untuk proses kreatif Supernova sendiri, berapa rata-rata waktu yang Dee butuhkan untuk menulis naskah?

Rata-rata satu tahun untuk satu buku, termasuk masa penyuntingan.

Bagaimana cara Dee menggali ide-ide gila yang dimunculkan di Supernova? Nggak berlebihan, pertama kali saya baca Supernova, saya pikir ide di dalamnya gila banget, liar, dan out of the box.

Sebetulnya tidak banyak berbeda dengan penulisan cerita pada umumnya, segala ide dan informasi teknis yang saya miliki harus ditempatkan dalam kerangka cerita. Ide adalah konten yang ketika sudah masuk ke cerita harus lebur dan subtil. Gerbong dan lokomotifnya tetap elemen-elemen fiksi seperti karakter, konflik, setting, dsb. Misalnya, tentang fungi. Banyak sekali hal menarik tentang fungi, tapi tidak semuanya bisa dikawinkan dengan elemen fiksi yang tengah saya garap, jadi pada akhirnya saya hanya memasukkan hal-hal yang mendukung cerita. Dari enam atau tujuh buku yang saya baca untuk riset fungi, ketika sudah masuk ke dalam cerita paling jadinya hanya beberapa halaman saja.

Lalu, bagaimana cara Dee mendalami karakter yang Dee buat sendiri?

Ketika saya menulis tentang satu karakter, saya menyetel mindset saya sedemikian rupa untuk bisa melihat dunia dari sudut pandang karakter saya, bukan lagi Dee Lestari. Mungkin kasarnya seperti “dirasuki”. Dan, itu terjadi berbulan-bulan sepanjang saya menulis. Dalam bercerita, sebisa mungkin saya menahan “Dee Lestari” untuk muncul, dan membiarkan karakter saya yang menonjol. Meski karakteristik  saya dalam menyusun kata, memilih diksi, pasti terasa oleh para pembaca yang sudah familier dengan tulisan saya, akan beda rasanya jika saya dengan sadar menahan ego saya muncul. Pembaca akan lebih mudah terhubung dengan karakter; mereka bisa jatuh cinta, tergila-gila, simpati, sebal, dsb. Emosi-emosi riil seperti itu yang menurut saya menghidupkan karakter di benak pembaca. Mereka punya akses penuh untuk punya hubungan dengan karakter secara langsung tanpa saya “menginterupsi”.

Bukan cuma mendalami karakter, bagaimana Dee bisa menggambarkan suatu tempat di negara lain dengan begitu detail? Menggambarkan suatu profesi, bahkan tradisi agama dengan sangat spesifik. Riset seperti apa yang Dee lakukan?

Sebetulnya apa yang saya kumpulkan dalam sebuah riset pasti berlipat-lipat jumlahnya dibandingkan apa yang akhirnya masuk ke cerita. Seperti yang saya sebutkan tadi, untuk topik fungi, saya bisa membaca enam sampai tujuh buku tapi pada kenyataannya yang masuk ke dalam cerita paling hanya beberapa halaman. Jadi, ke mana sisanya? Menurut saya, riset punya beberapa fungsi. Pertama, untuk menjadi bahan keyakinan bagi penulis, sama halnya kita belajar untuk ujian. Semakin banyak yang kita pelajari, kita cenderung lebih pede menghadapi ujian, walaupun belum tentu yang kita pelajari bakal keluar semua di soal. Kedua, riset yang strategis akan memperkuat keyakinan pembaca kepada tulisan kita. Strategis di sini maksudnya adalah tidak perlu banyak, tapi tepat guna. Riset kita harus mendukung elemen cerita, memperkuat deskripsi, menstimulasi panca indra pembaca. Dengan keleluasaan informasi seperti zaman sekarang ini, sebenarnya sudah sangat mudah untuk riset. Tinggal kitanya yang tahu bagaimana melakukan riset dengan tepat. Saya melakukan riset pustaka, video, wawancara dengan narasumber, atau datang ke tempatnya langsung. Yang terakhir paling jarang saya lakukan karena kendala waktu, tapi menurut saya bukan penghalang untuk kita bisa punya bahan yang meyakinkan.


Lalu, bisa diceritakan apa saja makna simbol dari setiap seri Supernova?

Kover KPBJ: Jaring Laba-laba, melambangkan keterhubungan.
Kover Akar: Flower of Life, melambangkan mekanisme dasar bagaimana hidup ini bertumbuh kembang.
Kover Petir: Antahkarana, melambangkan keterhubungan holistik antara dua level kesadaran; pikiran/intelek dan jiwa/kesadaran lebih tinggi.  
Kover Partikel: simbol dari Bumi.
Kover Gelombang: simbol dari gelombang kesadaran yang kemudian membentuk realitas.
Kover IEP: tripel heliks dalam bingkai heksagonal, melambangkan penggabungan tiga frekuensi dimensi dalam wadah formasi para Peretas (yang berjumlah enam orang). 
Kover Supernova sebetulnya mewakili masing-masing tokoh utama. Beberapa simbol ada yang saya rancang sendiri dibantu desainer (KPBJ, Gelombang, IEP), beberapa ada yang saya ambil dari simbol kuno (Akar, Petir, Partikel).

Apa saja kesulitan yang Dee alami selama menulis Supernova?

Banyak, tapi kesulitannya lebih banyak ke masalah jadwal dan distraksi dari tawaran-tawaran pekerjaan yang bermunculan sepanjang proses menulis. Jadi tantangannya lebih kepada menjaga fokus saya sepanjang menulis. Karena itulah sejak Partikel hingga IEP saya tidak mengambil proyek kreatif apa pun. Sekalinya saya terlibat dalam sesuatu, saya bisa berhenti menulis sampai sebulan, seperti waktu rilis film Filosofi Kopi, padahal keterlibatan saya di film itu cuma sebatas musik, promosi, dan penggarapan ide dasar cerita. Kalau sampai saya nulis skenario seperti waktu Perahu Kertas, saya bisa-bisa off setahun. Saya memang nggak bisa menjalankan beberapa proyek kreatif sekaligus, harus pilih satu.

Ada kebiasaan-kebiasaan tertentu saat menulis Supernova?

Kebiasaannya berganti-ganti tergantung sikon. Waktu Partikel, saya nulis sambil ngasuh anak saya yang masih kecil. Waktu Gelombang, saya menulis subuh. Waktu IEP, saya menulis di luar rumah. Yang jelas, semenjak Partikel, saya mulai punya sistem kerja yang jauh lebih baik dari buku-buku sebelumnya, yang terus saya perbaiki hingga IEP kemarin ini. Yang terpenting adalah punya rekam jejak perkembangan pekerjaan kita, punya deadline, dan menerjemahkan target-target kita ke dalam hitungan jam atau hari yang terukur.

Fans Supernova kan luar biasa, nih. Ada nggak kejadian-kejadian unik dari fans Supernova yang berkesan untuk Dee?

Waktu Supernova KPBJ, sempat tercipta sebuah milis para pembaca Supernova (milis Truedee), yang kemudian berkembang serius sampai akhirnya mereka menerbitkan buku, dan bahkan sampai sekarang masih sering ngumpul, yang berarti sudah 15 tahun lamanya.

Mungkin ada hal-hal unik yang nggak banyak diketahui orang tentang proses kreatif Supernova?

Saat penyelesaian akhir IEP, saya sempat ngungsi ke hotel agar bisa fokus menulis.

Pertanyaan terakhir, apa arti Supernova untuk Dee?

Supernova bagi saya adalah penelusuran ke dalam. Supernova adalah salah satu cara saya bertanya tentang hal-hal mendasar tentang diri dan eksistensi.