Showing posts with label Kuliah. Show all posts
Showing posts with label Kuliah. Show all posts

Friday, May 12, 2017

YouthManual.Com | Menulis & UWRF | Oktober, 2016 | Laila Achmad


Hai, Mbak Dee. Lagi mengerjakan project apa sekarang?

Lagi tidak mengerjakan apa-apa alias rihat. Februari 2016 lalu saya menyelesaikan serial Supernova dengan merilis buku ke-6 sekaligus penutup yakni Inteligensi Embun Pagi, dan sekarang ini saya masih jeda dulu dari proses kreatif, mungkin hingga awal 2017.

Bagaimana awalnya Mbak Dee menjadi seorang penulis? Kapan dan bagaimana Mbak Dee sadar bahwa passion Mbak Dee adalah bidang ini?

Sejak kecil senang mengkhayal, mulai mencoba menulis sedikit serius sejak kelas 5 SD, dan pada tahun 2001, tepat ketika berulang tahun ke-25, saya menerbitkan buku pertama saya, Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

Menurut Mbak Dee, etos kerja atau karakter seperti apa yang diperlukan untuk menjadi seorang penulis yang baik?

Mau belajar, memelihara rasa ingin tahu, punya disiplin, dan jeli mengamati keadaan sekitar termasuk mengamati batinnya sendiri.

Menurut Mbak Dee, bagaimana prospek karir penulis di Indonesia? Mengingat industri ini memiliki banyak sekali pesaing.

Sebagai karier, tentu permasalahannya bukan kreativitas atau pesaing semata-mata, tapi industri perbukuan secara keseluruhan. Untuk beberapa penulis yang berhasil, sekarang ini bukannya tidak mungkin mengandalkan profesi penulis sebagai sumber mata pencaharian. Tapi, hal ini bukan hal yang mudah dicapai. Tidak ada formula pasti agar buku kita bisa jadi best-seller, kalau formula itu ada, harusnya semua buku bisa jadi best-seller. Kenyataannya, tidak. Jadi, saya lebih fokus untuk menuliskan topik yang saya sukai, berusaha bekerja sebaik mungkin. Itu lebih penting daripada fokus kepada meraba kemauan pasar. Saya percaya basis pembaca itu bisa diciptakan.

Apa yang paling Mbak Dee sukai dari menjadi seorang penulis, dan apa tantangannnya?

Menciptakan semesta kehidupan dan menjadi rahim dari sebuah kehidupan. Tantangan utama bagi saya adalah menjaga keseimbangan dalam keseharian dan waktu saya agar tetap fungsional di hal-hal lain di luar menulis. 

Siapa penulis atau penulis idola Mbak Dee, dan kenapa?

Banyak. Salah satunya Graham Hancock. Karyanya kebanyakan nonfiksi, meski ada beberapa yang fiksi. Dedikasinya untuk sebuah topik, melakukan penelitian, dan menuangkannya ke dalam tulisan, sangat luar biasa.

Cerita, dong, tentang awalnya ide menulis buku Perahu Kertas. Bagaimana mendalami dunia anak muda untuk membangun tokoh Keenan dan Kugy?

Perahu Kertas adalah cerita yang aslinya saya tulis semasa kuliah, tahun 1996. Saya ingin membuat cerita cinta yang elegan dalam format cerita bersambung. Namun, karena waktu itu (dan sekarang) sudah tidak banyak media yang memuat cerita bersambung, akhirnya saya jadikan novel. Saya tulis ulang tahun 2008 dengan setting waktu yang sedikit dimajukan. Tidak terlalu sulit sebetulnya untuk mendalami dunia Keenan dan Kugy. Plus, saya waktu itu menyewa kamar kos untuk menulis, tetangga saya mahasiswi semua. Jadi, sedikit banyak itu juga membantu.

Pengalaman apa yang paling berkesan selama membuat Perahu Kertas?

Waktu itu saya mencoba metode menulis yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, yakni menentukan deadline terlebih dahulu dan kemudian mengumumkan deadline tersebut ke publik. Jadi, ada ekstra tekanan. Akibatnya, saya jadi lebih fokus. Metode itu akhirnya saya pakai terus, walaupun tidak selalu mengumumkan deadline saya ke publik.

Boleh minta lima tips bagi anak muda yang ingin memulai menjadi penulis? (Bagaimana mencari inspirasi sampai bagaimana memotivasi diri sendiri untuk terus menulis)

Ciptakan ruang dan waktu yang rutin untuk menulis. Dua jam per hari, misalnya. Buat target tenggat waktu dan agenda kerja, dan berusahalah untuk mematuhinya. Coba selesaikan sebuah karya, apapun formatnya. Biasanya,  begitu seseorang sudah berhasil menamatkan sebuah karya, ia akan punya kepercayaan diri untuk meneruskan ke karya berikutnya. Tidak usah untuk diterbitkan dulu juga tidak apa-apa. Yang penting berlatih.

Waktu kuliah, bagaimana, sih, profil dan aktivitas Mbak Dee secara garis besar? (berprestasi secara akademis? Suka berorganisasi? Suka nongkrong di kampus?)

Saya sudah memulai karier jadi penyanyi dari awal masuk kuliah, jadi saya tidak punya banyak kesempatan terlibat di aktivitas kampus karena sudah sibuk membagi waktu antara kuliah dan karier. Kedatangan saya ke kampus lebih seperlunya saja. Tidak juga punya ambisi berprestasi secara akademis. Lebih sering menahan kantuk ketika kuliah. Tapi ketika skripsi, saya akhirnya menemukan topik yang benar-benar menarik dan mendadak saya jadi serius banget belajar. Sayangnya, itu baru terjadi menjelang saya lulus, hehe.

First job Mbak Dee dulu apa? Kenapa memilih pekerjaan itu? How did you like it? Tell us more about it!

Jadi penari. Tahun 1990, kelas 1 SMA. Pementasan pertama saya honornya saya belikan tas sekolah dan empat jam tangan Kura-Kura Ninja. Motivasinya lebih karena iseng mencoba dan kebetulan klub dance saya itu dapat porsi di sebuah pertunjukan besar, jadi saya langsung dilibatkan secara profesional. I stayed in the dance club for one year. I didn’t enjoy it as much as I enjoyed singing and music, to be honest. Tapi, itu adalah pengalaman berharga yang tak terlupakan.

Apa skill yang dipelajari di luar bangku sekolah, tapi bermanfaat untuk profesi Mbak Dee sekarang?

Musik. Saya les piano, dan itu menjadi basis saya untuk menciptakan lagu. Untuk nyanyi saya otodidak, lebih karena aktif di paduan suara dan grup vokal sejak kecil, baik di gereja maupun di ekskul sekolah.

Boleh cerita tentang satu contoh kegagalan Mbak Dee dalam karier ataupun studi? Apa yang bikin kembali bersemangat?

Saking sibuknya di paduan suara dan grup vokal, waktu kelas 2 SMA saya sempat jadi ranking 49 dari 51 siswa. Itu rekor akademik saya terburuk. Tapi, saya nggak nyesal-nyesal amat, karena saya tahu itu bukan karena saya bodoh, tapi karena saya fokus ke hal lain. Pada saat bersamaan, saat itu saya memimpin seksi kesenian di sekolah, dan SMA saya mendapatkan prestasi puncaknya di ajang-ajang perlombaan musik. 

Kalau nggak jadi penulis atau penyanyi, kira-kira seorang Dewi Lestari bakal berprofesi sebagai apa?

Mungkin jadi juru masak dan buka restoran.

Hal apa yang Mbak Dee lakukan dulu ketika kuliah tapi nggak dilakukan oleh teman-teman sehingga Mbak Dee bisa sukses seperti sekarang?

Saya kurang tahu pasti karena tidak mengecek kegiatan semua teman saya. Saya hanya merasa beruntung karena bisa mengidentifikasi passion saya sejak cukup awal dan cukup serius untuk menggelutinya.

Mbak Dee bakal mengisi acara di Ubud Writers and Readers Festival 2016, apa hal yang paling bikin Mbak Dee excited?

Hadir di UWRF selalu menyenangkan karena bukan cuma berkesempatan untuk melihat banyak sesi menarik dari penulis berkualitas, tapi juga atmosfer kreatif yang bisa kita nikmati hanya dengan hadir di sana selama UWRF. Untuk UWRF kali ini saya juga akan berkesempatan untuk membahas perjalanan serial Supernova. That will be exciting for me.

Menurut Mbak Dee, Kalau anak-anak muda ke UWRF, kira-kira apa benefit yang bisa mereka ambil?

Seperti yang saya bilang tadi, berada di sana saja sudah pasti bisa merasakan atmosfer kreatif yang kental. It’s so refreshing and invigorating. Menyaksikan begitu banyak orang kreatif berkumpul dan berbagi pengalaman mereka, menurut saya sudah merupakan manfaat yang luar biasa.

What would you say to your 20-year-old self?

The best is yet to come.

Majalah UNPAR | Profil Alumni | Mei, 2016 | Bobby Suryo

-->
Apa alasan memilih kuliah di Unpar dan memilih jurusan HI?
Sejujurnya, alasan saya dulu lebih karena ketidaktahuan. Waktu SMA saya ambil jurusan Biologi, tapi menjelang kelulusan saya sadar bahwa saya tidak tertarik untuk mengambil jurusan eksak saat kuliah nanti, akhirnya saya banting setir dan cari jurusan sosial. Hubungan Internasional menjadi salah satu pilihan saya karena ada kata “internasional”-nya. Terdengar keren dan berprospek jalan-jalan ke luar negeri, jadi saya ambil. Ha-ha-ha! Saya nggak tahu bahwa ternyata di dalamnya belajar politik. Kalau UNPAR sih karena untuk pilihan swasta, menurut saya UNPAR adalah yang terbaik. Kebetulan kakak saya juga kuliah arsitektur di UNPAR, jadi rasanya sudah familier.
Apa saja aktivitas selama berkuliah (termasuk kegiatan kemahasiswaan atau yang lainnya)?
Saya sudah memulai karier nyanyi dari mulai awal kuliah, jadi sejak tahun pertama saya lebih banyak sibuk di luar kampus. Saya lebih tepat disebut sebagai siluman kampus ketimbang macan kampus, karena saya biasanya hanya datang untuk menghadiri perkuliahan. Tidak punya banyak kesempatan untuk berorganisasi.
Adakah hal paling berkesan yang dialami selama berkuliah?
Saya punya sekelompok sahabat yang dulu dinamakan “Anak 44” (karena kosnya di Ciumbuleuit no 44), persahabatan kami adalah salah satu yang paling berkesan. Selain itu adalah makan gule di kantin bawah (kayaknya sekarang sudah pindah entah ke mana). Saya sangat menikmati proses pembuatan skripsi saya. Waktu itu saya menulis tentang pop culture, belum pernah ada yang menulis tema itu sebelumnya. Saya jadi bersemangat karena akhirnya saya menemukan aspek dari Hubungan Internasional yang sangat menarik buat saya.
Saat ini, Mbak Dee dikenal sebagai musisi, penulis lagu, dan penulis buku. Bisa tolong ceritakan awal mula Mbak Dee memilih terjun di dunia seni ini?
Saya sudah mulai berkarier di musik sejak mulai kuliah, awalnya jadi backing vocal, dan dua tahun kemudian saya merilis album bersama trio Rida Sita Dewi. Hobi menulis lagu dan menulis fiksi memang sudah dari kecil, saya mulai bikin lagu dan mencoba menulis novel dari kelas 5 SD, dan hobi itu berlanjut sampai besar. Awalnya hanya buat dikonsumsi sendiri, atau dibagi ke teman-teman dan keluarga. Baru tahun 2000 saya berniat serius untuk menerbitkan karya pertama saya, Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Sejak itu, saya dikenal sebagai penulis hingga sekarang.
Apa tantangan Mbak Dee ketika menjalani hidup di dunia seni?
Hampir semua pekerja seni melakukan pekerjaan mereka karena cinta, termasuk saya. Kadang kita jadi merasa bahwa pekerjaan kita lebih besar dari hidup kita, dari segala-galanya. Jadi, tantangannya adalah bagaimana punya perspektif yang seimbang agar kita nggak terlena untuk terus mengejar eksistensi dan mengabaikan hal-hal lain yang tidak kalah penting, seperti keluarga dan kesehatan.
Adakah hal paling berkesan selama menjadi musisi dan penulis buku?
Terlalu banyak untuk disebutkan. Yang jelas, meski saya tidak berkarier sebagai diplomat atau terjun ke politik, menjadi musisi dan penulis membawa saya melihat dunia, berkeliling Indonesia, bertemu dengan banyak orang-orang luar biasa, sebagaimana yang saya bayangkan ketika dulu mau masuk HI.
Adakah materi perkuliahan yang Mbak Dee peroleh di Unpar yang bisa dipakai di dunia kerja Mbak Dee?
Kuliah di HI sangat mempertajam kemampuan saya menulis. Intinya, menulis yang baik adalah menulis secara jernih dan runut, dan itu terbantu sekali oleh ujian-ujian yang kebanyakan esai. Begitu juga ketika skripsi, otot membaca saya jadi sangat terlatih karena begitu banyak referensi yang harus saya pelajari untuk sebuah topik yang tidak lazim saat itu.
Sepengetahuan Mbak Dee, apa perbedaan Unpar sekarang dengan yang dulu? (baik gedung, mahasiswa, ataupun suasananya)
Ini hanya berdasarkan pengamatan yang terbatas, ya. Kesan saya, gedung UNPAR semakin megah, mahasiswanya tetap asyik, suasananya agak beda tapi itu lebih karena Bandung yang semakin macet. Dulu juga kalau ke Ciumbuleuit macet, tapi sekarang ini benar-benar perjuangan kalau sudah harus ke daerah Ciumbuleuit. Saya bayangkan situasi itu pasti menjadi tantangan besar buat mahasiswa UNPAR sekarang.
Pesan Mbak Dee untuk mahasiswa Unpar?
Selalu pelihara rasa ingin tahu. Ilmu terlalu luas untuk disekat gedung kampus. Rakuslah akan ilmu. Rakuslah akan pengalaman. Temukan yang kamu cinta, dan tekuni itu hingga kamu menjadi yang terbaik.

Unstoppable Hopes (Buku) | Salah Jurusan Kuliah | Mei, 2016 | Gloria Morgen

-->
Pada saat kuliah mengambil jurusan apa? Bagaimana bisa memilih jurusan kuliah itu?

Saya mengambil jurusan Hubungan Internasional, FISIP, di Universitas Parahyangan Bandung. Sejujurnya, waktu itu saya memilih jurusan HI lebih dikarenakan ketidaktahuan. Waktu SMA saya mengambil jurusan Biologi karena disuruh ibu, tapi saya sendiri sebetulnya tahu bahwa saya tidak akan mengambil jurusan eksak saat kuliah dan lebih tertarik ke sosial. Hanya saja ibu saya tidak mengizinkan saya ambil jurusan Sosial saat SMA. Begitu lulus, saya sudah tidak melirik lagi jurusan kuliah yang berhubungan dengan biologi. Saya langsung cari alternatif jurusan sosial yang kira-kira menarik. “Hubungan Internasional” terdengar keren bagi saya saat itu, dan karena ada kata “Internasional” saya pikir saya kelak jadi punya banyak kesempatan jalan-jalan keluar negeri. Akhirnya saya ambil. Saya tidak tahu bahwa Hubungan Internasional lebih banyak fokus ke politik, yang mana hal tersebut benar-benar tidak menarik bagi saya. Memang ada benarnya, kalau kita serius berkarier di dunia diplomatik, bisa jalan-jalan keluar negeri. Tapi tentunya pemahaman itu tidak serupa dengan bayangan remaja saya.

Kapan mulai menemukan passion, visi dan purpose of life? Trus apa passion, visi dan purpose dalam hidup Mbak Dewi? Ceritakan cara menemukannya.

Jika kilas balik ke belakang, sebetulnya sejak kecil saya sudah menemukan apa yang saya suka, dan masih saya geluti sampai sekarang, yakni musik dan menulis. Musik, saya senang dengan aspek mencipta lagu, dan karena bisa nyanyi juga ya akhirnya jadi penyanyi. Menulis, saya senang mengkhayal dan menciptakan cerita, akhirnya menulis fiksi menjadi penyaluran kreatif saya. Keduanya sudah saya jalani sejak kecil. Saya aktif nyanyi sejak kelas 3 SD. Saya membuat cerita panjang pertama saya sejak kelas 5 SD. Karena keduanya adalah hobi, saya jalankan terus. Saya aktif di vokal group sekolah, paduan suara, jadi dirigen, bikin band, ikut pementasan, jadi backing vokal, bikin group vokal, dan sebagainya. Sementara menulis lebih banyak terjadi di belakang layar. Tapi, saya tidak pernah berhenti. Ketika kuliah dan sudah mulai punya penghasilan sendiri dari menyanyi, saya beli laptop. Waktu itu anak kuliahan masih jarang yang punya laptop. Tapi, saya bela-belain beli karena saya ingin bisa menulis kapan saja dan di mana saja, terutama karena karier nyanyi saya mengharuskan saya banyak bepergian. Jadi, kedua hal tersebut adalah passion saya. Di pertengahan bangku kuliah, saya sudah tahu bahwa saya tidak akan berkarier kantoran, saya akan terus menggeluti bidang seni. Visi saya sebetulnya simpel, saya ingin berkarya sebaik mungkin yang saya bisa. Saya ingin menulis buku yang saya ingin baca. Saya ingin menulis lagu yang saya ingin dengar. Saya ingin punya karya-karya yang berumur panjang dan menyentuh hati. Terus terang, saya tadinya tidak yakin apakah saya bisa mengandalkan hidup dari hobi. Namun, ketika dijalani, pelan-pelan saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan. Secara finansial saya sudah mandiri sejak kuliah. Saya membiayai kuliah dan hidup saya sepenuhnya. Lulus kuliah, saya sudah bisa mengontrak rumah. Pelan-pelan, mulai punya kendaraan sendiri, membeli properti, membangun rumah, dst. Mungkin saya tidak jadi konglomerat dan memang tidak punya impian ke arah sana, tapi dari hobi yang saya jalani, saya punya penghidupan yang nyaman dan layak. Bagi saya, ini sudah lebih dari cukup. Apalagi kepuasan batin yang saya dapatkan dari berkarya tidak ternilai rasanya.

Apakah menyesal mengambil jurusan kuliah yang pernah diambil?

Sempat menyesal ketika pertengahan kuliah, karena saya merasa buang-buang waktu menjalani sesuatu yang saya sudah tahu tidak bakal saya pakai. Tapi, di penghujung kuliah, tepatnya ketika skripsi, saya menemukan topik penelitian yang sangat menarik minat saya. Saya menulis tentang hubungan pop culture dan politik. Saat itu, tema tsb belum pernah diangkat menjadi tema skripsi sebelumnya. Saya jadi bersemangat, apalagi pop culture banyak bicara tentang seni. Skill menulis saya jadi meningkat sepanjang pembuatan skripsi, demikian juga stamina saya membaca buku. Jadi, akhirnya saya merasa punya penutup yang manis dalam berkuliah, karena saya sangat puas dengan skripsi yang saya buat. Saya tidak menyesal dengan jurusan yang saya ambil. Setelah lulus saya malah sempat terpikir untuk mengambil S2 jurusan Filsafat. Namun, saya urungkan karena saya lebih tertarik pada spiritualitas dan sains yang akhirnya saya pelajari sendiri dari berburu buku.

Mbak Dewi kan, memiliki banyak talenta, mengapa justru memilih menulis? Apa pertimbangannya?

Itu bukanlah keputusan serta merta yang dibuat pada satu waktu tertentu, melainkan berdasarkan perkembangan dan proses yang organik. Ada kalanya saya memprioritaskan bermusik, dan ada kalanya juga saya rihat dari menulis. Tapi, sejak berkeluarga saya merasa menulis lebih pas menjadi karier prioritas karena fleksibilitas waktu dan lokasi. Saya tidak perlu terikat di satu tempat dan waktu tertentu. Saya bisa menentukan ritme kerja sendiri. Saya tidak banyak bergantung ke pihak lain. Menulis juga tidak mengenal usia maupun penampilan. Namun, itu semua sesungguhnya adalah faktor-faktor praktis dari aspek karier. Bagi saya menulis bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan.

Seberapa penting menulis bagi Mbak Dewi?

Kita tidak bisa membendung arus kreativitas. Menulis adalah medium saya untuk menyalurkan arus tak terbendung tersebut. Sama seperti kita butuh kaki untuk berjalan dan mata untuk melihat. Menulis adalah bagian dari diri saya.

Monday, April 27, 2015

Elle Magazine | Pendidikan Formal & Karier | April, 2015 | by Giovani Untari


Background pendidikan Anda bisa dibilang 180 derajat berbeda dengan pekerjaan Anda geluti sekarang, apa yang membuat Anda  akhirnya memilih karier yang berseebrangan dengan jurusan Anda?

Sebenarnya saya tidak “memilih” untuk berseberangan, tapi karier saya memang sudah dimulai dari sejak bangku kuliah. Saya mulai menyanyi profesional dari semester pertama kuliah. Jadi, sepanjang perkuliahan saya sudah menyambi kuliah dengan menyanyi.  Otomatis ketika lulus, saya sudah tinggal meneruskan karier saya.

Bagaimana rasanya memiliki pekerjaan yang berbeda dengan jalur pendidikan Anda? 

Biasa saja, sih. Karena pada kenyataannya memang banyak sekali yang demikian, jadi saya nggak merasa aneh sendiri. Lulusan Hubungan Internasional yang benar-benar berkarier di jalur diplomatik sangat sedikit. Setidaknya dari yang saya tahu, kebanyakan berkarier di luar itu, entah jadi humas, penyiar, advertising, atau yang menempuh jalur akademis (jadi dosen, dsb).

Apakah awalnya Anda merasa aneh / tidak nyaman dengan pekerjaan Anda yang berbeda dengan jurusan Anda tersebut ?

Tidak, karena menyanyi dan menulis sudah menjadi hobi saya sejak kecil. Kuliah lebih terasa “sampingan” malah, ketimbang kedua hobi tersebut.

Apakah ada ilmu yang dibawa dari jurusan Anda tersebut terhadap pekerjaan ini?

Skill menulis saya cukup banyak dilatih lewat jurusan Hubungan Internasional karena soal-soal ujian kebanyakan esai, jadi harus terbiasa mengungkapkan pikiran lewat tulisan.

Apa suka dan dukanya memiliki karier yang berbeda dengan jurusan Anda?

Waktu kuliah saya sempat terpikir untuk berhenti karena merasa memang nggak bakal nyambung dan ilmu saya nggak akan terpakai untuk pilihan karier saya kelak. Tapi saya bertahan karena janji saya pada orang tua. Dan akhirnya saya mulai menikmati kuliah justru di saat-saat terakhir yakni waktu membuat skripsi.

Apakah Anda puas dengan karier yang Anda miliki sekarang?

Sangat puas.

Bagaimana pesan Anda bagi perempuan yang mungkin saja ingin mencoba peruntungan bidang pekerjaan yang berbeda dengan lulusan mereka sebelumnya?

Sebenarnya sangat umum untuk orang-orang akhirnya berkarier di luar dari pendidikan formal mereka. Saya rasa karena pada akhirnya orang memilih pekerjaan berdasarkan passion atau kondisi alias terpaksa. Jadi, beruntunglah mereka yang akhirnya bisa memilih bukan karena terpaksa tapi karena memang passionate di bidangnya. Saya rasa itu bisa diraih dengan menemukan apa yang paling kita suka dan apa yang kita gemari, lalu kita tekuni hingga passion itu akhirnya menjadi skill.

Sunday, December 21, 2014

Majalah Economica | Profil | April, 2012 | by Nadya Restu Mayestika


Boleh minta Mbak berbagi cerita sewaktu dulu kuliah? Bagaimana Mbak Dewi menjalani hidup sebagai seorang mahasiswa?

Waktu kuliah saya sudah mulai berkarier jadi penyanyi, jadi saya nggak bisa terlalu sering di kampus karena disibukkan oleh kegiatan menyanyi, latihan, dsb. Benar-benar seperlunya saja. Untung ada beberapa teman yang cukup dekat di kampus, jadi masih bisa bergaul, walaupun terbatas dan nggak sering.

Adakah mimpi Mbak yang masih ingin dicapai?

Sekarang saya lebih tertarik menjalani hidup apa adanya. Mungkin namanya bukan mimpi lagi, tapi target. Seperti menulis buku, menyelesaikan serial Supernova, dsb, itu bukan lagi mimpi tapi sudah jadi target.

Antara nyanyi dan menulis, mana yang lebih passionate buat Mbak?

Dua-duanya sebetulnya senangnya sama. Tapi saat ini saya lebih dimungkinkan untuk menulis karena anak-anak di rumah masih kecil, dan butuh kehadiran saya lebih sering. Jadi saya cuti dulu dari segala kegiatan nyanyi-menyanyi. Lagian, saya memang kurang senang manggung, lebih senang rekaman. Namun saat ini fokus saya sedang tidak ke sana.

Dari kecil, memangnya Mbak sudah memiliki passion dalam bidang menulis? Apa dulu Mbak mempunyai passion yang sebenarnya ingin dicapai, tapi tidak tercapai?

Dari kecil sudah menulis. Pertama kali menulis dengan serius waktu kelas 5 SD. Saat ini sih rasanya saya sudah menjalani apa yang saya suka sejak dulu, yaitu musik dan menulis. Passion lain, memasak, sudah dilaksanakan juga di rumah.

Bisa ceritain nggak Mbak, bagaimana caranya Mbak bisa mengetahui passion Mbak sebenarnya dan bisa menjalaninya dengan sukses?

Dengan banyak mencoba. Akhirnya kita tahu mana yang benar-benar kita suka. Dan jika memang berjodoh, banyak jalan yang terbuka dengan mudah. Kita juga harus konsisten berkarya, dan berani mencoba, meski melalui kegagalan.

Mbak Dewi sampai sekarang kan masih aktif menyanyi dan menulis ya, gimana cara Mbak menyinergikan kedua aktivitas tersebut?

Jalani apa adanya saja. Sesuai dengan prioritas yang saat ini realistis dengan situasi dan kondisi saya. Rasanya nggak ada tips khusus.

Sejauh ini tulisan Mbak selalu memiliki tema yang mendalam tentang kehidupan dan spiritualitas, apa yang menginspirasi Mbak Dewi untuk menulis dalam tema tersebut? Apa ada alasan khusus kenapa Mbak sering memilih tema tersebut?

Karena spiritualitas adalah passion saya. As simple as that. Tentu kita lebih semangat untuk berkarya jika tema yang kita pilih adalah apa yang menjadi passion kita, kan?

Sejauh ini dari buku-buku yg sudah ditulis Mbak Dewi, dari Perahu Kertas sampai Partikel, apa dalam proses penulisannya ada yang paling berkesan?

Karena yang paling terakhir adalah Partikel, tentu yang terasa paling berkesan adalah Partikel, soalnya ingatan saya tentang prosesnya masih segar.

Apa pengalaman yang paling mengubah pandangan Mbak Dewi terhadap sastra sehingga dari seorang penyanyi Mbak juga mulai menulis?

Saya menulis karena memang hobi dari kecil, nggak ada hubungannya dengan pandangan saya tentang sastra, atau bermotivasi "banting setir"profesi. Waktu itu malah saya nggak tahu apa-apa sama sekali dengan industri tulis menulis. Pokoknya inginnya ya menulis buku. Dunia sastra baru saya kenal setelah saya menulis.

Bagaimana perjuangan yang Mbak tempuh untuk merintis karier dulu di dunia musik dan kini di dunia sastra?

Wah, terlalu panjang untuk diceritakan. Kayaknya perlu buku biografi untuk menjawab pertanyaan "selebar" itu. Hehe.

Apa halangan terberat yang dirasakan dalam karier Mbak?

Saat ini adalah ketersediaan waktu. Karena yang perlu saya urus banyak, jadi mencari waktu luang yang memadai untuk menulis, riset, dsb, cukup sulit. Belum lagi dengan pekerjaan non-menulis, permohonan wawancara, dsb. Kalau bisa sih setiap nulis saya masuk gua dulu dan nggak diganggu siapa pun.

Apa Mbak juga concern dengan hal-hal di luar kesastraan, misalnya pada pendidikan atau lingkungan? Bagaimana cara Mbak mengekspresikan rasa concern tersebut?

Sejauh ini sih dengan menulis, atau sesekali mengisi talkshow yang bertema lingkungan.

Mengenai soal lingkungan, tema Economica kali ini adalah Green Economy. Bagaimana pendapat Mbak mengenai Green Economy?

Sepertinya itu memang akan menjadi tren yang tidak terelakkan, ya. Kalau ingin hidup kita lebih lama di Bumi, semua aspek kehidupan saat ini harus beriorientasi lingkungan.

Ada minat nggak, Mbak memulai tulisan dengan bermaksud memberikan nilai berupa bujuakan atau insight yang dapat membantu alam sekitar?

Sudah sering.

Apakah semangat Green Economy bisa ditularkan lewat media tulisan fiksi, misalnya novel, mengingat temanya yang bukan hanya tentang lingkungan tapi juga ekonomi?

Sudah saya lakukan lewat Partikel.

Apakah selama ini media buku fiksi sudah cukup mengulas banyak berita mengenai lingkungan yang bisa meningkatkan kepedulian masyarakat pada lingkungan?

Saya rasa ada beberapa. Tapi saya bukan pengamat sastra/fiksi, hanya penulis, jadi saya tidak bisa menjawab dengan pasti.

Menurut Mbak, berapa tingkat kepedulian masyarakat Indonesia pada lingkungan dari skala 1-10?
6.

Apa saran Mbak agar masyarakat Indonesia bisa meninggikan kepeduliannya pada lingkungan?

Edukasi dan penegakan hukum.

Apa harapan Mbak ke depannya untuk sastra di Indonesia?

Lebih banyak karya bermutu dan variasi genre yang semakin banyak.

Apa prinsip hidup Mbak?

Nggak ada. Saya cuma segalanya berubah. Jadi siap saja dengan perubahan.

Apa tips Mbak untuk menjalani kehidupan kita agar bisa sedekat mungkin mencapai kebahagiaan?

Lebih banyak menyelami diri sendiri, bermeditasi, karena sumber kebahagiaan adanya di dalam, bukan di luar.

Adakah pesan untuk mahasiswa-mahasiswa Indonesia sekarang?

Segeralah temukan apa yang menjadi passion kita, dan jangan terpaku pada struktur formal untuk menekuninya. Belajarlah dari segala hal.

Highlight UNPAR | Profil | Oktober, 2009 | by Tasya Dwi Permatasari


Ceritain dong, gimana awalnya terjun ke dunia entertainment?

Awalnya saya jadi backing vocal bareng Sita, mulai dari tahun 1993. Lalu 1995 diajak bikin grup RSD (Rida, Sita, Dewi). 2001 mulai nulis buku.

Setelah kuliah atau bersamaan dengan kuliah?

Bareng kuliah.

Ngeganggu kuliah gak, Kak?

Lumayan repot aja sih. Karena manggung banyak di weekend, paling berasa kalau dapat jadwal kuliah Senin pagi. Yang ada seringnya nggak masuk atau ketiduran di kelas tiap Senin pagi. Hehe.

Kapan nih main-main ke Unpar?

Selama ini suka diundang juga sama Unpar, buat acara bedah buku, inagurasi, dsb.

Waktu itu ikut UKM apa?

Karena waktu kuliah saya udah sambil nyanyi, saya nggak sempat lagi berkegiatan di kampus. Jadi datang ke kampus benar-benar hanya untuk kuliah, atau ketemu teman-teman saja.

Dosen favorit Kakak siapa?

Saya paling dekat sama Mas Nur dan Mas Banyu. Mas Nyoman juga lumayan dekat, setelah lulus juga lumayan dekat sama Bu Suke, karena pernah ketemu di Australia saat saya diundang ke sana dan beliau lagi sekolah.

Di Unpar biasa makan atau nongkrong di mana?

Dulu seringnya di kantin bawah (nggak tahu sekarang masih ada atau enggak), di jembatan (nggak tahu namanya apa sekarang), di Efata (nggak tahu masih ada atau enggak).

Yang paling ngangenin di Unpar?

Suasana di jembatan saat bubar kuliah pagi. Very refreshing.

Bagaimana pendapat Kakak tentang dunia musik di indonesia saat ini?

Lumayan berbeda jauh dengan zaman saya dulu dengan RSD. Sekarang orang bikin musik untuk RBT, bukan untuk album lagi. Kalau zaman saya yang lebih kuat vokalis-vokalis solo, sekarang didominasi band. Dan kedengerannya semua mirip-mirip.

Bagaimana pandangan Kakak mengenai generasi muda di indonesia saat ini?

Maju dan berkembang, sekaligus punya tantangan yang sangat besar. Karena generasi muda sekarang harus banyak sekali menanggung beban masa lalu yang diwariskan generasi sebelumnya (korupsi, perusakan lingkungan, dsb). Dengan kreativitas, keberanian untuk berubah, dan otentisitas, semoga beban itu bisa tidak terlalu berat.

Kesan pesan kuliah di Unpar?

Kuliah di Unpar menyenangkan dan membanggakan. Secara kualitas kita amat bersaing dengan institusi pendidikan top lainnya, secara jaringan pergaulan dan relasi juga sangat luas. Saya bersyukur banget pernah kuliah di Unpar.

Apa nih pesan atau tips nasehat buat mahasiswa/i Unpar sebagai generasi muda penerus bangsa indonesia?

Find your passion, and stay true with it. Educate yourself, and don’t just depend on formal institutions.