Showing posts with label Keenan. Show all posts
Showing posts with label Keenan. Show all posts

Thursday, April 2, 2020

Majalah Moments | Back to the Kitchen | Agustus, 2017 | Eyi Puspita


Memasak kini menjadi hobi yang "seksi". Selain dianggap sebagai stress relief, memasak dan kembali ke dapur, juga bisa membantu memaksimalkan hubungan keluarga dengan bonus hidangan yang lebih sehat dan segar. Tak heran jika kini semakin banyak individu yang kembali ke dapur. Sejak kapan Mbak Dee belajar masak? Masakan apa yang pertama kali dibuat sendiri (tanpa dibantu sama sekali)?

Awalnya saya belajar masak karena sebagian keluarga saya vegetarian. Untuk yang bervegetarian, membeli makanan terus-terusan di luar tidak semudah itu karena pilihannya terbatas. Karena itulah saya belajar memasak. Pertama kali saya membuat tom yam (kalau tidak salah), saat itu masih memakai bumbu jadi, tapi sudah senang banget karena akhirnya bisa makan makanan favorit tanpa harus beli di luar dan saya juga bisa bikin versi vegetariannya.

Dari mana/siapa Mbak belajar masak? Apakah diajari oleh ibu/kakak? Atau mungkin otodidak? Mengandalkan gadget/sosmed/YouTube/acara masak-masak di TV? Atau campuran semuanya?

Ibu saya jago masak, tapi beliau meninggal jauh sebelum saya berkeluarga, jadi saya belum sempat mencuri ilmunya. Bisa dibilang saya otodidak. Terkecuali baking. Kalau baking saya masih ikut banyak kursus, tapi kalau masak learning by doing saja. Referensi saya macam-macam, dari buku resep, Youtube, dsb. Saya paling suka kalau bisa menyusup ke dapur restoran dan melihat cara mereka masak. Beberapa kenalan yang punya restoran mengizinkan saya masuk dan tanya-tanya langsung ke kokinya, sekaligus minta resep.

Menurut Mbak, apa saja manfaat/kelebihan hobi masak ini – terutama manfaatnya untuk keluarga ?

Pola makan sehat itu seperti tren, berubah terus. Yang dulu dibilang sehat sekarang tidak, yang sekarang tidak nanti tahu-tahu dianggap makanan sehat. Namun, memasak sendiri akan selalu lebih baik, terlepas menu apa yang kita pilih. Kita tahu persis apa saja yang ada di masakan kita, kebersihannya, dan kita bisa memilih kualitas bahan makanan yang kita pakai. Bagi saya, masakan rumah adalah fondasi dan juga jangkar memori. Ketika anak-anak kita besar nanti, salah satu hal terbaik yang mereka bisa kenang adalah masakan khas rumahnya.

Benar nggak sih, hobi masak juga mendekatkan sesama anggota keluarga? Dengan cara apa?

Saya nggak pernah lupa rica-rica bikinan ibu saya, ayam gorengnya, sambalnya. Semua kekhasan itu akan selalu terkenang dan juga mendekatkan batin saya dengannya, meskipun beliau sudah tidak ada. Bagi saya, ketika rumah memiliki masakan khas sendiri, ada ikatan emosional yang terjalin antara anggotanya. Dalam proses memasak, kita juga bisa melibatkan anak-anak, membagi tugas, sehingga mereka punya partisipasi. Ini juga akan menyuburkan memori yang baik kelak.

Apakah karena mamanya hobi ngubek di dapur, Atisha/Keenan juga terpicu minatnya untuk ikut masak? Biasanya kalau ‘membantu ibunya’, apa tugas mereka?

Sejauh ini mereka lebih suka ikut baking, mungkin karena bahan-bahannya lebih wangi dan nggak terlalu ‘messy’. Atisha ikut mengaduk adonan Keenan ikut menghias kue kering, dan mereka juga kasih penilaian kalau hasilnya sudah jadi, bahkan kasih masukan mereka inginnya seperti apa.

Apa prinsip Mbak dalam memasak buat keluarga?

Selalu menggunakan bahan yang terbaik, menjaga kebersihan alat-alat, menanyakan penilaian keluarga agar kita bisa terus memperbaiki diri, dikerjakan dengan sukacita. 

Apa makanan andalan Mbak yang jadi favorit Mas Reza dan anak-anak?


Reza suka Tempe Penyet, Pelecing Kacang Panjang, Tom Yam dan Mee Krawp. Atisha paling suka Pumpkin Soup dan Mint Chocholate Chip Cookies. Keenan paling suka Ikan Bakar, Ayam Goreng Kunyit, dan Hainan Chicken Rice.

Mengingat kesibukan Mbak, seberapa sering Mbak masak buat keluarga? Apakah tiap hari?

Hampir tiap hari masak, kecuali weekend. Karena biasanya masih ada sisa makanan atau kita makan di luar untuk rekreasi. Untuk resep-resep yang sudah sering saya ulang, biasanya saya sudah ajarkan ke ART, jadi sebagian bisa didelegasikan, terkecuali masakan-masakan luar Indonesia, seperti Minestrone, Baked Penne, dll, itu biasanya saya kerjakan sendiri.

Apa benar seorang perempuan harus bisa masak? Kenapa?

Saya tidak melihat masak harus eksklusif dilakukan perempuan. Hobi masak ini sangat berguna, baik untuk laki-laki dan perempuan. Mau single atau menikah. Mengolah dan memasak makanan itu satu hal yang menurut saya patut dirayakan. Tidak ada makhluk lain di Bumi yang melakukannya selain manusia.

Saya pernah baca, Mbak punya impian menulis buku masak. Apakah rencana itu masih ada dan akan diwujudkan?

Masih dalam daftar target. Saya ingin fokus membuat buku masak bagi yang benar-benar nggak bisa masak sekali, jadi from zero. Karena saya pun dulu seperti itu. Membuat buku masak bagi saya juga salah satu cara untuk meneruskan resep-resep terbaik kita kepada anak-anak (dan keturunan kita seterusnya), sekaligus membagi kebaikan ke orang lain.
                                                                                                         
Selain bisa menghidangkan makanan buat keluarga, apa saja manfaat hobi masak yang Mbak rasakan (untuk pribadi)? Benar nggak sih, hobi ini punya efek menenangkan (atau mungkin efek lainnya seperti ‘jadi lebih sabar’ dan ‘lebih telaten’ dsb)?

Sejauh ini, bagi saya memasak itu mengasah intuisi dan kepekaan indrawi. Sekarang kalau ada satu suap makanan yang masuk mulut, saya kurang lebih bisa menduga bahannya apa saja, bumbunya apa saja, dan mulai bisa memperkirakan step-step pengolahannya bagaimana. Ketika memasak dan kita fokus, bagi saya itu juga menenangkan. Dan ada kepuasan mengolah sesuatu, meramu banyak hal berbeda, menjadi hasil akhir yang padu.

Adakah sumber andalan Mbak buat belajar masak? Misalnya aplikasi/blog favorit /akun IG favorit/acara masak di TV? Kenapa Mbak memilih aplikasi/akun/blog/acara ini sebagai favorit/referensi?


Sejauh ini lebih sporadis sih, saya tidak mengikuti satu referensi terus menerus. Tapi saya selalu menyukai buku-buku keluaran Seri Sedap Sekejap karena hasil-hasilnya hampir selalu memuaskan. Untuk baking, saya mengikuti banyak kursus dari Natural Cooking Club (NCC).


Sunday, December 21, 2014

Majalah Tumbuh Kembang | Rubrik Bintang Tumbuh Kembang | April, 2011 | by Deti Gurnita


Di antara kesibukan Dewi, kegiatan apa nih yang kira-kira sering dilakukan bersama anak-anak? Dan seperti apa membagi waktunya?

Anak kedua saya, Atisha, masih 17 bulan, jadi selalu saya dampingi tiap harinya. Justru saya yang mengurangi drastis kegiatan saya untuk bisa menemaninya. Kalau Keenan, sudah kelas 1 SD, jadi kegiatan saya dengan dia lebih banyak membimbing belajar, membaca buku bersama. Dan kalau weekend, kita sesekali jalan-jalan bareng sekeluarga. Saya banyak bekerja dari rumah, jadi paling saya mengkhususkan 2-3 jam bekerja (menulis, dsb), habis itu sudah. Saya nemani anak-anak lagi.

Kejadian atau kebiasaan unik apa nih yang sedang terjadi di keluarga?

Menurut saya sih, sebetulnya kebiasaan-kebiasaan kami biasa-biasa saja. Sedang menikmati perkembangan pesat Atisha dan menikmati humor dan kelakuannya Keenan yang penuh kejutan.

Apa saja perkembangan pesat Atisha yang sekarang Dewi amati?

Dia sangat "connect" dengan orang. Pandangannya selalu fokus, dan dia seperti memahami semua yang kita komunikasikan, meskipun dia belum bisa bicara seperti orang dewasa. Saat ini dia sangat pintar meniru, sangat senang bicara, sangat senang menari.

Humor dan kelakuan Keenan apa saja yang sering membuat Dewi terkejut?

Komentar-komentarnya suka tidak terduga. Saking seringnya saya udah nggak inget lagi satu-satu, cuma sering saya posting aja di Twitter, hehe.

Pola dan rules apa yang telah dibangun dan sedang berjalan di keluarga Dewi?

Kami mengajarkan anak-anak untuk tidak ragu mengungkapkan perasaan mereka, karena bagi kami itu lebih sehat untuk perkembangan mentalnya. Dan kami juga membiasakan menghargai perasaan mereka. Kalau mereka kelihatan sedih atau ngambek, kami ajak bicara baik-baik, permasalahannya apa, kenapa merasa seperti itu, dsb. Meski Atisha belum berkomunikasi verbal dengan jelas, tapi kami tetap sebisa mungkin menunjukkan itikad kami untuk menghargai perasaannya.

Sebagai penulis, pasti ada beberapa cerita yang terinspirasi dari anak-anak. Sebenarnya, sebagai orangtua, apa yang paling Anda harapkan dari mereka? dan bagaimana arti anak-anak sendiri di hidup Anda?

Saya berharap mereka tumbuh maksimal sesuai dengan potensi yang mereka punya. Mereka menjadi manusia yang sadar akan tujuan mereka, dan membantu menyembuhkan Bumi. Saya sepaham dengan Kahlil Gibran tentang makna anak. Mereka adalah panah yang akan melesat. Kami orang tua hanya membekali perjalanan mereka sebaik mungkin.

Pernahkah Anda terinspirasi dari anak-anak dalam membuat tulisan?

Kalau secara harfiah dijadikan cerita sih belum. Tapi beberapa kali membuat artikel berdasarkan kejadian saya dengan Keenan. Sudah pernah saya posting juga di blog.

Apa upaya Dewi dan suami dalam memaksimalkan tumbuh kembang anak-anak? 

Memberikan ruang bagi mereka untuk berekspresi, tapi juga punya guideline untuk mereka belajar disiplin.

Tolong berikan sedikit tips dari Anda dalam menciptakan waktu yang maksimal untuk anak-anak.

Semua profesi pasti punya tantangan masing-masing perihal pembagian waktu. Kalau saya, saya harus benar-benar menyediakan waktu untuk nulis secara khusus, 2-3 jam sehari, sisanya saya harus bagi untuk anak-anak dan keluarga. Intinya sih ya ditata saja waktunya, karena kalau nggak banyak yang keteteran. Saya sengaja nggak ambil banyak kerjaan selama Atisha masih ASI. Rencananya saya ASI sampai 2,5 thn. Jadi sebisa mungkin selama periode itu, saya lebih banyak bersama anak-anak.

Tempo | Kebun Mini | Desember, 2010 | by Ninin Damayanti


Sejak kapan mengonsumsi sayuran organik? Apa alasannya?

Sudah lama, mungkin udah hampir 7 tahun ya. Pokoknya sejak saya berkeluarga, saya langsung beralih ke sayuran organik. Alasannya karena benefit kesehatannya lebih banyak, dari segi nutrisi sampai rasa. Dan karena saya vegetarian, saya udah berhemat banyak karena tidak mengonsumsi daging. Jadi saya alihkan ke pemakaian sayur organik.

Bisa diceritakan soal "kebun mini"-nya?

Awalnya saya memang pengin bikin dapur hidup karena hobi masak. Masalahnya bumbu-bumbu yang dijual seperti daun jeruk, daun salam, pandan, dsb, biasanya nggak dalam jumlah kecil. Padahal dipakainya hanya selembar dua lembar, yang ada malah busuk. Akhirnya saya putuskan untuk menanam sendiri. Tadinya saya beli pohon-pohon yang udah jadi. Tapi lama-lama penasaran pengin coba nanam sendiri. Saya sebetulnya dari kecil minat dengan cocok-tanam, tapi nggak pernah berani coba serius. Saya selalu merasa nggak bakat, karena kok tanaman yang saya pegang mati terus. Kali ini saya ingin membuktikan bahwa itu cuma ‘jebakan mental’ aja dan bisa diubah. Cuma saya ingin benar-benar belajar dari nol, dari mulai nanam biji/benih.

Sejak kapan mulai berkebun? Belajar dari mana?

Akhirnya saya belajar dari buku-buku dan internet. Pokoknya coba terapkan sesuai teori dulu aja. Saya mulai sebulan yang lalu.

Beli bibit kangkung dan pakchoy di mana? Kenapa memilih dua jenis sayuran itu?

Saya beli bibitnya di toko tanaman. Saya pilih kangkung dan pakchoy karena saya suka keduanya, bisa makan banyak banget. Dan keduanya juga cocok ditanam di dataran rendah seperti Jakarta ini. Kalau brokoli atau wortel kan hampir nggak mungkin di daerah hangat.

Bagaimana perawatan sehari-hari? Menggunakan pupuk apa? Mengapa?

Perawatannya saya siram pakai sprayer setiap pagi dan sore. Dua-tiga jam kena matahari langsung, sisanya saya taruh di tempat teduh. Saya pakai pupuk cair organik yang khusus buat sayuran. Air cucian beras juga saya pakai untuk menyiram karena bisa meningkatkan metabolisme tumbuhan mengolah nutrisi.

Media tanamnya apa?

Saya pakai media tanam yang sudah dicampur kompos. Ayah saya juga kasih limbah dari pabrik arang yang juga sangat bagus untuk tanaman.

Apa sudah mendapat manfaat dari kebun mini itu?

Saat ini saya sudah punya tanaman pandan, jeruk purut, jeruk limau, jeruk nipis, suji, bunga telang, salam, dan yang baru dicoba sayuran pakchoy, kangkung, cabai rawit dan cabai keriting. Masih banyak sih yang pengin ditanam, tapi nyicil dululah. Hehe. Sekarang ya kalau masak tinggal petik, bumbu jadi fresh, dan karena kita tanam sendiri, kebersihannya juga terjaga.

Hasil kebunnya mau dikonsumsi sendiri atau ada rencana dijual?

Konsumsi sendiri. Kalau lebih ya dibagi ke saudara atau tetangga.

Kalau boleh tahu, apa komentar Keenan soal kebun mamanya?

Dia menikmati sekali main airnya, hehe, ikut nyiram-nyiram, walaupun lebih sering nyiram kakinya sendiri ketimbang nyiram tanaman. 

Saturday, December 20, 2014

Mother & Baby | Gentle Birth | Desember, 2010


Apa kabar? Selain disibukkan dengan Keenan dan Atisha, apa lagi kegiatan sekarang? Bagaimana dengan penulisan buku? Perahu Kertas jadi difilmkan?

Kabar baik. Saat ini saya sengaja “sabbatical leave” alias cuti panjang dari pekerjaan, untuk mengurus Atisha. Untuk pekerjaan saya cuma ambil yang bisa dikerjakan dari rumah saja. Penulisan buku masih jalan terus. Tahun ini saya menulis skenario Perahu Kertas yang rencananya akan difilmkan tahun depan. Dan ada satu manuskrip kumpulan cerpen, plus beberapa proyek website pribadi.

Apakah sempat kagok jadi ibu lagi karena jarak antara Keenan dan Atisha cukup jauh? Apakah santai saja atau sempat juga baca-baca majalah kehamilan atau website?

Kagok sih enggak, bahkan saya merasa sangat dimudahkan karena Keenan udah cukup besar dan mulai mandiri, jadi saya bisa konsentrasi untuk mengurus Atisha. Kalau santai ya santai, tapi banyak pembekalan saat hamil, seperti membaca, praktek meditasi, latihan self healing, taichi, dsb.

Perbedaan kehamilan Keenan dan Atisha kemarin seperti apa? Tolong ceritakan.

Saat hamil Atisha pendekatan saya jauh lebih natural, karena sudah mulai menerapkan Gentle Birth yang memang dimulai dari kehamilan. Check up hanya dilakukan jika benar-benar perlu, USG saya hanya dua kali, dan tidak ada obat-obatan sama sekali. Banyak istirahat, taichi, meditasi, dan terapi alami seperti homeopati, Jin Shin Jyutsu, self-healing, dsb. Waktu hamil Keenan saya sebentar-sebentar ke dokter, bahkan sempat masuk rumah sakit dua kali, padahal nggak ada yang serius, cuma parno aja. Hehe.

Bagaimana dengan makanan? Berarti dari janin, Atisha vegan ya?

Saya sudah vegetarian saat hamil Atisha, jadi otomatis dia vegetarian juga. (catatan: bukan vegan, kalau vegan sudah tidak mengonsumsi telur/produk susu. Waktu hamil saya vegetarian, bukan vegan)

Sempat baca, kemarin melahirkan Atisha bersama suami dengan metode gentle birth. Apa yang dimaksud dengan metode gentle birth? Bisa diceritakan? Perbedaan dengan water birth atau persalinan normal pada umumnya apa?

Gentle Birth itu pendekatan yang holistik untuk persalinan, dan juga kehamilan, di mana yang diutamakan bukan hanya keselamatan fisik saja, tapi juga meminimalkan trauma lahir pada bayi dan ibu. Untuk itu kami memilih bersalin di rumah, sehingga suasananya santai dan sakral. Kami dibantu bidan, tapi pada saat persalinan karena bidannya nggak keburu datang sementara bayi sudah siap keluar, akhirnya Reza yang menangkap bayi. Tapi karena sudah persiapan, jadi kami cukup tenang menjalankannya. Tidak ada sobekan, dan semua berjalan cepat. Bidan membantu untuk proses pengeluaran plasenta dan perawatan pasca persalinan. Kami memang menggunakan metode water birth karena dari riset kami, bayi yang keluar di air transisinya lebih mulus, dan berada di air juga menenangkan bagi sang ibu.

Dari mana Anda dan suami mendapatkan metode ini? Apakah setelah persalinan ini, Anda ke rumah sakit juga? Berapa berat dan panjang Atisha serta arti namanya?

Reza sudah cukup lama mengenal Gentle Birth karena pekerjaannya sebagai praktisi penyembuhan holistik. Kami banyak belajar dari buku, menonton video, dan konsultasi dengan para bidan di Bali yang menjalankan metode ini, seperti di Bumi Sehat (Ubud). Kami tidak ke rumah sakit sesudahnya karena tidak ada kondisi medis yang mengharuskan. Nama lengkap Atisha adalah Atisha Prajna Tiara. Atisha adalah nama guru besar agama Buddha, Prajna artinya “wisdom”, dan Tiara adalah mahkota.

Bagaimana Anda memandang kelahiran Atisha untuk pribadi dan keluarga baru Anda?

Kelahiran Atisha benar-benar mentransformasi kami semua. Proses persalinannya sungguh luar biasa dan itu benar-benar membawa keajaiban bagi kami sekeluarga.

Lalu, bagaimana dengan pola didik dan pola asuh yang diterapkan untuknya?

Kami menerapkan conscious parenting yakni pola asuh berkesadaran. Prinsipnya sederhana, ketimbang mengasuh berdasarkan teori para ahli, atau sekadar meniru pola asuh mayoritas, kami berusaha untuk terus dituntun intuisi dari dalam diri. Kepekaan ini adalah kombinasi dari upaya untuk terus memperhatikan secara jernih energi, perilaku dan perkembangan si anak yang tentu punya kebutuhan unik, dengan latihan hidup berkesadaran yang kami latih sebagai individu. 

Untuk edisi Januari ini, temanya New Year, New You, kalau Anda sendiri apakah Anda memiliki resolusi tahun baru untuk pribadi dan keluarga? Seperti apa? Apakah Anda memiliki waktu pribadi untuk merenung?

Kami berencana untuk membangun rumah tahun depan, jadi itu resolusi kami yang terdekat. Biasanya untuk tahun baru saya dan Reza meditasi singkat bersama-sama.

Tip sehat dan bugar dari Anda?

Banyak tertawa, punya hobi, banyak minum air putih, meditasi, sering berjalan dan hiruplah udara segar.

Majalah Internal Kesehatan | Rekreasi Untuk Anak | Desember, 2009 | by Anastasia Ratih P Tyas


Menurut Anda, pentingkah seorang anak diberi kesempatan untuk rekreasi secara rutin? Mengapa?

Rekreasi itu penting. Kalau rutinnya sih saya lihat sikon, jika memang memungkinkan oke, tapi kalau enggak ya nggak usah dipaksakan. Menurut saya, rekreasi itu menyehatkan mental anak, dan juga memperkuat bonding antara orang tua dan anak.

Buat anak Anda, Keenan Avalokita Kirana, dalam bentuk apa rekreasi yang Anda berikan kepadanya? Atau, adakah permintaan khusus dari si kecil untuk melakukan suatu kegiatan rekreasi?

Keenan lagi suka main di air, jadi paling sering diajak berenang. Kalau ke luar kota sesekali kita jalankan, misalnya ke Taman Safari, Puncak, Garut, Bali. Kalau memang pas saya ada nyanyi/talkshow ke luar kota juga kadang-kadang Keenan saya bawa. Dia sih pada dasarnya suka jalan-jalan, jadi ke mana pun semangat. Tapi tempat favorit dia sejauh ini adalah Bali.

Saat ini, apa yang biasanya anak Anda lakukan saat diberi waktu untuk bermain?

Dia senang main di luar, ketemu teman-teman sebayanya. Kebetulan di kompleks kami cukup banyak anak kecil. Atau dia main musik (drum).

Apakah Anda termasuk tipe orangtua yang membatasi waktu bermain anak setiap harinya? Kalau iya, kapankah waktu yang pas untuk Keenan bermain/bersantai?

Karena dia baru 5 tahun, masih TK, dan belum ada pekerjaan rumah dari sekolah. Hampir setiap saat ya kerjanya main. Dia punya slot waktu khusus untuk belajar dan membaca. Sekarang ini dia lagi belajar nulis, dan biasanya dia membaca dongeng bersama saya sebelum tidur. Sisanya dia main.

Apakah Anda senantiasa menemani Keenan bermain atau Anda sudah mulai membiarkan dirinya mandiri, termasuk dalam hal rekreasi? Alasannya?

Saya nggak selalu menemani, apalagi sekarang ini saya sedang mengurus anak kedua, jadi Keenan lebih sering dibiarkan mandiri atau ditemani Reza. Karena Keenan juga cukup sering mengunjungi kakek-neneknya di Bandung, dia sudah terbiasa naik travel ditemani babysitter, jadi sudah cukup mandiri. 

Biasanya, apa yang Anda lakukan bersama anak-anak di waktu luang?

Ngobrol, nonton teve bareng, atau baca buku. 

Majalah Luar Biasa | Purpose of Life | November, 2009 | by Anastasya Ratih P Tyas


Kebanyakan orang memiliki resolusi hidup yang ingin dicapai setiap kali pergantian tahun. Apakah Anda termasuk salah satunya? Bila iya, dalam hal apa saja resolusi tahunan yang Anda buat?

Sudah lama sekali tidak punya resolusi tahunan. Mungkin terakhir bikin waktu masih kuliah. Sekarang sih menjalani hidup apa adanya saja.

Resolusi apa yang Anda ingin capai pada saat awal tahun 2009 lalu? Dan, apakah resolusi itu dapat diwujudkan?

Merujuk ke jawaban no 1, saya nggak punya resolusi.

Menurut Anda, pentingkah seseorang memiliki resolusi dalam hidupnya? Mengapa?

Menurut saya, nggak ada jawaban general yang bisa berlaku untuk semua orang. Akan selalu tergantung kebutuhan orang itu sendiri. Barangkali ada yang merasa terbantu dengan memiliki resolusi, karena jadi ada target untuk dikejar. Tapi ada juga yang mungkin tidak merasa terlalu perlu punya resolusi, saya salah satunya. Sesekali saya tetap punya target, tapi saya tidak menjadikannya kegiatan rutin. Kalau memang diperlukan saja.

Apakah Anda termasuk orang yang menganggap pergantian tahun patut dirayakan?

Sekarang ini saya rasanya lebih santai melihat pergantian tahun. Kalau memang ada kesempatan merayakan, oke. Kalau enggak pun nggak apa-apa. Esensinya, kan, semua tanggal pun tidak ada yang berulang dua kali, jadi setiap hari sebetulnya sama spesialnya.

Biasanya, dengan cara apa Anda menutup tahun?

Belakangan lebih banyak di rumah bersama keluarga. Dengar suara kembang api dan kadang-kadang nonton kembang api di langit kalau lagi ada. Pada saat tengah malam, saya dan Reza selalu bermeditasi sejenak. Setelah lewat tengah malam baru tidur.

Sudah ada rencana untuk akhir tahun 2009?

Untuk akhir tahun ini nggak ada. Tapi Oktober lalu saya baru melahirkan anak ke-2, jadi akhir tahun ini kami punya anggota keluarga baru. Bagi saya itu sudah cukup menjadikan akhir tahun 2009 ini ekstra spesial.

Sudahkah Anda menetapkan apa yang ingin Anda capai di tahun 2010?

Ada beberapa agenda pekerjaan yang memang jatuhnya di tahun 2010, antara lain beberapa judul buku baru. Tapi saya tidak menjadikannya resolusi, sekadar agenda kerja saja.

Apakah Anda sudah puas dengan hidup yang sudah Anda miliki dan jalani saat ini? Kalau belum, apa yang dirasa masih kurang dalam pencapaian hidup Anda?

Puas-puas saja. Impian atau proyeksi masa depan tetap ada, tapi itu rasanya tidak sampai membuat saya merasa kurang dengan apa yang saya punya sekarang.

Pernahkah Anda merasa menyerah dalam menghadapi suatu masalah?

Menurut saya, tahu kapan kita menyerah dan kapan kita berjuang adalah seni yang harus terus digeluti dalam hidup. Entah itu menyerah, bertahan, atau berjuang, bagi saya yang lebih penting adalah berpasrah dalam segala prosesnya. Menyadari dan menerima bahwa apa pun yang kita pikirkan dan rencanakan belum tentu akan terwujud dan belum tentu adalah yang terbaik. Menjalani hidup secara sadar bagi saya lebih esensial.

Bila hal di no.9 tadi sedang melanda, apa yang Anda lakukan untuk membangkitkan kembali semangat hidup?

Sekadar menyadari bahwa segala sesuatu tidak ada yang tetap. Kesedihan tidak tetap, kesialan tidak tetap, semua itu akan berlalu jika memang sudah saatnya. Sebaliknya pun sama. Nasib mujur tidak tetap, kegembiraan pun tidak tetap. Jadi kedua sisi itu nggak usah terlalu digigit kuat. Biarkan saja mereka hadir bergiliran sesuai waktunya.

Kesibukan apa yang sedang Anda lakukan saat ini?

Saat ini saya mau konsentrasi mengurus anak ke-2 saya dan keluarga. Lebih banyak ingin kerja dari rumah saja dan mengurangi kegiatan di luar kalau nggak perlu-perlu banget. Ada beberapa naskah buku yang tengah dipersiapkan.

Anda pertama kali terjun di dunia entertainment sebagai penyanyi, lalu belakangan orang mengenal Anda sebagai salah satu penulis wanita yang telah menerbitkan karya-karya tulis yang luar biasa. Mana sebenarnya yang lebih mencerminkan diri Anda sendiri, penyanyi atau penulis?

Bagi saya pribadi, musik dan menulis tidak bisa dipisahkan. Keduanya merupakan bagian inheren dari diri saya. Keduanya merupakan jalur saya berekspresi. Tinggal waktunya saja, kadang-kadang yang muncul adalah keinginan menulis, kadang-kadang bermusik. Jadi, hanya momen dan timing-nya saja yang bervariasi, tapi jalur ekspresinya ya hanya dua itu.

Ke depannya, apakah rencana Anda, apakah fokus pada dunia tarik suara atau dunia tulis-menulis?

Masih di dua-duanya. Tapi untuk jangka waktu dekat, saya masih harus menyelesaikan beberapa naskah tulisan saya.

Oktober lalu, Anda melahirkan anak ke-2. Bagaimana cara Anda membagi waktu secara adil, antara keluarga dan karier? Apalagi saat ini, promo album terbaru Anda juga masih berlangsung?

Sejak dulu, prinsip saya tentang prioritas adalah melihat situasi dan kondisi serealistis mungkin. Saat ini, saya memilih untuk fokus pada keluarga dan anak-anak saya dulu, khususnya anak ke-2 saya yang baru lahir. Untuk promo, kalau album sih sudah rilis dari tahun lalu jadi sudah tidak lagi intensif promonya. Yang paling baru justru buku (Perahu Kertas), dan sekarang buku itu tetap berpromo, tapi tidak dengan cara menghadirkan saya secara fisik, jadi lebih ke pemakaian media cetak seperti poster, banner, iklan, dsb. Syukurnya, meski dengan begitu, Perahu Kertas tetap bisa jadi best-seller.

Bagaimana tanggapan anak pertama dalam menerima kehadiran adik baru dalam hidupnya?

Keenan, anak pertama saya, sangat antusias sekali dengan kehadiran adiknya. Dari waktu hamil, dia sudah nagih-nagih untuk adiknya cepat keluar. Dan sekarang, dia sayang sekali dengan adiknya. Keenan selalu membanggakan ke orang-orang bahwa sekarang dia sudah punya adik perempuan.

Bagaimana cara Anda memperlakukan dengan adil kedua buah hati Anda?

Sebisa mungkin saya tetap kasih porsi perhatian saya pada Keenan. Kami punya ritual yakni membaca cerita sebelum dia tidur, jadi walaupun sekarang sudah ada adiknya, saya tetap sebisa mungkin mempertahankan ritual, tsb. Cara lain adalah dengan melibatkan Keenan dalam kegiatan mengurus adiknya: mengajarkan dia cara membelai, meminta tolong dia untuk menjaga adiknya, dsb.

Apakah kendalanya membesarkan anak dengan dua ayah yang berbeda? Apakah itu terkadang membuat Anda susah, atau malah memberikan warna tersendiri dalam hidup Anda?

Sebelum Atisha, anak ke-2 saya lahir, ikatan antara Keenan dan Reza sudah sangat kuat. Jadi tidak ada kesulitan sama sekali. Dan sejak saya hamil Atisha, Keenan sudah kami libatkan dari mulai proses kehamilan, bahkan saat kelahiran. Jadi ikatan antara satu sama lain dalam keluarga kecil kami tidak pernah terputus atau merenggang dengan perubahan ini. Kuncinya, ya, dengan cara melibatkan Keenan secara perlahan namun kontinu dalam semua perubahan yang terjadi.

Pernahkan anak pertama Anda mengeluhkan kurangnya perhatian Anda kepadanya, dan bagaimana Anda menyikapinya?

Sejauh ini sih nggak pernah, karena yang kasih perhatian sama dia banyak sekali. Saya malah bersyukur dia punya banyak keluarga. Karena dengan demikian dia bisa punya variasi dan curahan kasih sayang dari kiri-kanan, nggak hanya menuntut dari kami saja. Setiap akhir pekan dia punya kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama ayah kandungnya atau nenek-kakeknya di Bandung. Meski demikian, Keenan memang menghabiskan waktu paling banyak dengan saya dan Reza. Jadi sebagai sebuah unit keluarga, memang kami harus solid supaya Keenan tetap merasa stabil di mana pun dia berada. 

Friday, December 19, 2014

Koran Jakarta | Rubrik Perempuan | April, 2009 | by Ezra Natalyn


Sejak kapan bercita-cita menjadi penulis? Sebelumnya memang ingin terjun sekaligus sebagai penulis dan penyanyi?

Sejak kecil memang sudah ingin menulis buku, tapi tidak terpikir untuk menjadikannya profesi. Tidak pernah juga terpikir secara sengaja ingin jadi penulis dan penyanyi sekaligus. Saya semata-mata hanya mengikuti dan melaksanakan hobi saya saja. 

Apa menurut Anda persamaan dan perbedaan antara menulis dan menyanyi?

Perbedaan: jelas beda. Keduanya adalah aktivitas yang memang beda. Yang satu harus mengeluarkan suara, yang satu lagi enggak. Persamaan: Sama-sama saluran bagi saya untuk berekspresi. 

Biasanya menulis di mana? Kalau dideskripsikan kira-kira tempat Dewi menulis yang paling cocok itu seperti apa?

Saya menulis di mana-mana. Menurut saya, tempat apa pun bisa ideal untuk menulis yang penting hening dan nggak diganggu. 

Siapa penulis favorit? Dan mengapa?

Saya suka Sapardi Djoko Damono. Untuk penulis luarnya saya suka Dave Eggers, Rattawut Lapcharoenshap, dan Ana Castillo. Yang saya sukai dari para penulis tsb adalah ciri khasnya dan kekuatan inspirasif yang ditularkan pada pembacanya. 

Bagaimana rasanya saat proses kreatif menulis sebelum tulisan itu rampung?

Sangat magis. Seperti tarik-menarik, seperti pertarungan, seperti jatuh cinta, bisa juga putus asa, pokoknya rasanya macam-macam. Seperti naik roller-coaster. Tidak jarang saya begitu hanyutnya dalam cerita sehingga rasanya menjalani dua realitas; realitasnya Dewi Lestari dan realitas sebagai tokoh-tokoh cerita saya. 

Impian apa dalam dunia tulis-menulis yang belum teraih?

Bikin buku anak-anak. 

Apa pendapat Dewi tentang penulis-penulis perempuan Indonesia?

Saat ini, penulis perempuan memegang peranan dan punya suara sangat vokal di percaturan sastra Indonesia. Banyak acara yang diadakan khusus untuk mengangkat para sastrawan perempuan, sementara untuk yang laki-laki malah nggak ada. Keberagaman penulisnya juga sangat kaya. Banyak nama yang mencuat dan semuanya punya gaya menulis yang lain-lain. 

Adakah kisah masa kecil atau masa sekolah yang paling berkesan buat Dewi? Tolong diceritakan salah satu?

Banyak banget, sih. Tapi salah satu yang paling berkesan waktu diajak naik helikopter keliling kota Medan oleh ayah saya. Itu kali pertama dan satu-satunya saya pernah naik helikopter seumur hidup. 

Bagaimana rasanya menjadi seorang anak TNI? Displin dalam keluarga barangkali?

Ayah saya orangnya santai. Rasanya biasa-biasa aja. Tidak ada disiplin yang terlalu ketat. Kedua orang tua saya termasuk tipe yang demokratis dan mendengarkan pendapat anak, walaupun masih bisa tegas jika diperlukan. 

Dalam keluarga sebelum menikah, yang paling dekat dengan siapa dulu? Ayah? Ibu? Kakak atau adik? Mengapa?

Paling dekat dengan adik bungsu saya, Arina. Mungkin karena dari jarak usia kami yang dekat (cuma beda 2 tahun), dan sejak kecil saya selalu bareng dia terus ke mana-mana. Pernah pindah ke Medan barengan, sementara kakak-kakak perempuan saya yang lain tetap di Bandung. Setelah besar pun kami sharing rumah berdua. 

Sejak menikah, berapa lama setiap hari menghabiskan waktu dengan Keenan, dan apa acara favorit bersama keluarga?

Saya cukup sering menghabiskan waktu dengan Keenan. Apalagi dia ASI sampai 2,5 tahun, jadi dari bayi ikut saya terus ke mana-mana. Sekarang dia sudah TK, dan saya kebetulan lagi banyak di rumah, jadi waktu dengan dia tetap banyak. Yang pasti kalau malam saya punya jadwal rutin untuk membacakan dia cerita. Acara favorit kami sederhana aja: ngumpul di kamar, atau jalan-jalan ke villa keluarganya Reza di daerah Cibogo, Keenan senang sekali kalau sudah dibawa ke sana. Intinya, dia paling suka kalau keluarga besar ngumpul. 

Apa impian Dewi buat Keenan?

Menjadi manusia yang sehat luar dalam, dan apa adanya. 

Bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, dll? Kalau iya, kapan saja dilakukan?

Saya lumayan suka masak. Tapi nggak rutin. Kalau memang lagi ada dorongan aja. Saya suka memasakkan makanan Thai (tom yam, green curry, pad thai, dsb) untuk suami. 

Sekarang sedang mengandung anak kedua, kalau dideskripsikan, untuk Dewi bagaimana rasanya perempuan yang mengandung? Enak dan nggaknya?

Rasanya macam-macam, seperti deskripsi saya tentang proses kreatif. Kalau lagi muntah dan mual, ya, nggak enak. Kalau jadi dimanja suami dan keluarga, ya, enak. Yang jelas, buat saya hamil itu proses yang luar biasa besar. Untung cuma mau punya anak dua aja. Nggak kebayang kalau punya anak banyak! Haha. 

Suka wewangian jenis apa? Parfumnya apa? Kalau diungkapkan dengan kata-kata, bagaimana aroma wewangian favoritnya?

Saya lagi pakai parfum dari Philosophy (yang Baby Grace dan Falling in Love). Agak susah carinya, harus titip ke Amerika, atau cari ke toko parfum yang suka ngimpor parfum ‘aneh-aneh’. Saya suka aroma yang menenangkan hati, dan nggak pasaran. 

Apa arti sahabat bagi Anda, punya waktu rutin berkumpul atau kontak dengan sahabat?

Saya orangnya “sahabat-minded” banget. Tapi sekarang ini karena sudah berpencar, sudah pada menikah dan sudah punya kehidupan masing-masing, geng saya nggak ngumpul sesering dulu. Saya paling dekat dengan teman-teman SMA saya. Kalaupun nggak ketemuan langsung, saya kontak-kontakan via telepon, SMS, atau e-mail. Lagi kepikiran ingin bikin arisan supaya ada waktu kumpul, tapi belum sempat saya rintis. 

Pernah merasa jenuh dan kering inspirasi, apa yang biasanya dilakukan untuk menyegarkan pikiran kembali?

Tidak menulis dan mengerjakan hal lain.

Wednesday, December 17, 2014

Jawa Pos | Rubrik: Relationship | Oktober, 2011 | by Nora Sampurna


Menurut Dee, hal apa yang bisa membuat seseorang tetap dekat dengan mantan suami/istri? Apakah faktor anak, keikhlasan hati, atau hal lain?

Kalau menurut saya, itu sangat tergantung dengan bagaimana situasi saat mereka berpisah. Jika dari momen berpisah sudah bisa baik-baik, semua beban emosi yang besar sudah tuntas dikomunikasikan, maka relatif mudah untuk menjaga hubungan yang baik ke depannya. Singkatnya, mereka harus bertransformasi menjadi sahabat atau minimal teman, sebelum berpisah.

Bagaimana Dee membina hubungan baik dengan Marcell pasca berpisah?

Untungnya dari sebelum kami resmi berpisah secara pengadilan, kami sudah duluan menjadi teman baik. Sisanya ya tinggal komunikasi saja. Apalagi ada Keenan, yang menjadi jembatan hubungan antara dua keluarga kami sekarang. Jadi bagaimana pun akan selalu ada urusan yang perlu kami tangani berdua sebagai orang tua biologis Keenan.

Dalam hal ini, apa yang mendasari Dee dan Marcell terus membangun kedekatan? Apakah alasan utamanya untuk kebahagiaan Keenan?

Keenan tentu menjadi alasan penting, tapi di luar dari itu, saya sendiri tidak melihat keuntungan dari bersikap musuhan dengan mantan pasangan. Ada yang bilang, kalau sudah berpisah lebih baik nggak usah saling kenal lagi, menurut saya pandangan itu lumrah kalau perpisahannya tidak baik-baik. Tapi kalau secara emosi oke-oke saja, kenapa juga tidak diteruskan dalam bentuk pertemanan? Dan tidak perlu juga ada usaha khusus untuk sengaja maintain, alamiah saja.

Saya pernah membaca berita, Dee juga cukup akrab dengan Rima Melati Adams, istri Marcell. Bisa diceritakan mungkin, sedekat apa? Saling bercerita tentang anak mungkin atau hal-hal tentang perempuan seperti shopping, dll?

Untuk acara keluarga, seperti ulang tahun Keenan, atau ulang tahun Atisha, kami pasti mengundang. Dan kalau memang pas bisa, mereka pasti datang. Jadi Rima-Marcell kenal baik juga dengan mertua saya (orang tua Reza). Karena Rima juga sama-sama hobi masak dan berkebun, kadang-kadang dia suka ngasih bumbu atau bibit tanaman, kalau memang lagi ada yang saya cari dan dia punya.

Boleh diceritakan pula tentang Keenan, seberapa sering frekuensi bertemu dengan Marcell?

Tiap weekend, kalau Keenan sedang tidak ada kegiatan khusus, dan Marcell juga sedang tidak terlalu sibuk, Keenan pasti menginap di rumah Marcell-Rima. Kalau liburan, sering juga Keenan dibawa ke Singapura, mengunjungi keluarga Rima. Keenan cukup dekat dengan adik tirinya, Edga (anak Rima). Kalau Marcell lagi kangen banget, kadang-kadang di weekdays pun Keenan menginap beberapa hari di rumah Marcell.

Pernah saling mengunjungi keluarga masing-masing? Misal, keluarga Dee-Reza Gunawan mengundang keluarga Marcell-Rima, atau sebaliknya? Atau mungkin pergi bersama?

Tentu pernah. Kalau ada ultah dan dirayakan, biasanya kami saling mengundang. Pergi bersama juga pernah, walaupun belakangan agak jarang karena kesibukan masing-masing. Minimal 'say hi' lewat telepon, SMS, atau Twitter.

Saran Dee untuk perempuan yang memiliki pengalaman serupa dengan Dee, yang mungkin merasa canggung atau masih enggan membina hubungan baik dengan mantan pasangan, bagaimana untuk memulainya?

Hal seperti itu memang tidak bisa dipaksakan. Kalau masih ada unek-unek besar yang nyangkut di salah satu pihak, otomatis nggak bisa. Kalaupun bisa, pasti hanya basa-basi saja. Jadi menurut saya, peer besarnya adalah di membersihkan beban batin yang masih tersisa dari hubungan yang dahulu. Kalau itu sudah bersih, sama sekali bukan halangan untuk punya hubungan baik. Dan itu harus terjadi di kedua pihak, nggak bisa cuma salah satu.


Harian INDOPOS | Profil Selebritis | Juli, 2009 | by Ahmad Sukarno Hamid

Dee... sebelumnya selamat dan sukses untuk diluncurkannya novel terbaru. 

Terima kasih. 

Kabarnya novel Rectoverso sudah rilis? Bagaimana rasanya telah merampungkan satu proyek? 

Rectoverso rilis sejak Agustus tahun lalu. Rasanya senang, bahagia, lega. 

Bisa diceritakan awal penulisan novel ketujuh ini? 

Pertama-tama, Rectoverso adalah kumpulan cerpen. Bukan novel. Dan untuk buku, Rectoverso adalah buku saya ke-6. Banyak informasi tentang Rectoverso bisa dilihat di www.dee-interview.blogspot.com dengan label posting “Rectoverso”, silakan dicek. Jika ada yang belum saya jawab di sana, maka akan saya jawab di interview ini. Tapi kalau sudah ada, mohon dilihat jawaban saya di Dee-Interview, dan wawancara ini bisa berjalan lebih efisien dan efektif bagi pihak saya maupun Indopos. Terima kasih sebelumnya. 

Kalau dibandingkan dengan novel sebelumnya ada hubungannya nggak? 

Tidak ada hubungannya. 

Sempat nggak mengalami stagnan di karya ini? Bisa dijelaskan? 

Karena saat menyelesaikan album Rectoverso, saya belum kelar menulis semua cerpennya, saya sempat behind schedule untuk dua cerpen, makanya saya akhirnya kabur dulu ke Garut selama 3 hari 2 malam khusus untuk merampungkan dua cerpen tsb.

Dee… siapa sih yang paling berperan dalam pembuatan Rectoverso dan karier kamu? 

Setiap karya saya selalu membawa “tim sukses”-nya sendiri. Jadi setiap karya hampir selalu orang yang ngebantuinnya beda-beda. Saya berutang budi pada banyak orang, saking banyaknya nggak bisa saya sebutkan satu-satu. 

Sejauh ini peran suami (Reza Gunawan) dalam menunjang karier di musik sejauh apa? Dan untuk menulis seperti apa? Bisa dijelaskan? 

Reza membantu saya dengan mengiringi piano selama promosi Rectoverso (kebetulan dia pianis), dan secara umum dia sangat mendukung karier saya, baik menulis maupun musik. Dia adalah teman diskusi, teman brainstorming, dan teman curhat dalam segala pekerjaan saya. 

Sempat nggak meminta saran Reza atau sekedar pendapat, atau membaca ulang hasil tulisan kamu? 

Selalu. 

Ada perasaan beda nggak setelah menikah dengan Reza Gunawan? 

Setiap hari perasaannya beda-beda. Haha! 

Dee... seperti apa sih upaya dan rencana kamu untuk membesarkan Keenan Sidharta? 

Nama lengkap Keenan adalah: Keenan Avalokita Kirana. Bukan Keenan Sidhartha.
Saya nggak punya rencana macam-macam, pokoknya memfasilitasi dia sebaik mungkin. Kalau minatnya musik, ya, saya dorong, kalau menyanyi, ya, didorong juga. Pokoknya dilihat saja perkembangannya setiap hari seperti apa, lalu didukung sebaik mungkin. Karena kan, Keenan pastinya punya minat dan bakat sendiri, yang belum tentu sama dengan orang tuanya. 

Untuk sekadar mendidik anak pernah nggak browsing internet atau tanya kepada orang tua.

Saya banyak baca buku bertema parenting, cari info di internet juga. Kalau tanya orang sih cenderung enggak, karena belum tentu pas dan sevisi dengan kami. 

Masih komunikasi dengan Marcell untuk mendidik Keenan? 

Tentu masih. 

Sampai sejauh ini peran Marcell seperti apa, sih? 

Sebagai ayah kandung Keenan, tentunya peran dia tidak tergantikan. Sampai kapan pun hubungan mereka tak akan terputus, jadi sampai sekarang kami berdua (bahkan bertiga dengan Reza) masih terus diskusi dan saling lapor tentang perkembangan Keenan. Misalnya, saya sedang mengajarkan disiplin makan, saya lapor ke Marcell, supaya kalau Keenan lagi bareng Marcell pola asuhnya nggak belang-belang, dst. 

Sekarang, kan, mulai sibuk lagi, ada pembagian tugas nggak dengan Marcell? 

Kalau kebetulan saya dan Reza lagi ada kesibukan, saya suka telepon Marcell juga minta tolong jagain Keenan. Sebaliknya juga begitu dari pihak Marcell.