Showing posts with label Film Filosofi Kopi. Show all posts
Showing posts with label Film Filosofi Kopi. Show all posts

Thursday, April 2, 2020

Linkers | Edisi Kopi | Des, 2017 | Marrysa Tunjung Sari



1.     Seberapa besar ketertarikan Dee terhadap kopi? Sejak kapan?

Saya menulis Filosofi Kopi waktu masih kuliah. Sebagai mahasiswa, saat itu kami akrab dengan kopi untuk menemani bikin tugas, atau ketika sedang hang-out sama teman-teman. Sejak kecil saya sering membikinkan kopi untuk ayah saya. Menurut beliau, kopi seduhan saya rasanya enak. Saya juga dikasih icip kopi sedikit-sedikit pakai sendok makan. Sepanjang ingatan saya, saya selalu menyukai citarasa kopi.

2.     Inspirasi buku Filosofi Kopi lahir dari mana?

Waktu itu niat saya hanya ingin membuat cerita yang didedikasikan untuk tema kopi. Lalu, muncullah khayalan tentang sebuah kedai, tokoh Ben, tokoh Jody, dan seterusnya.

3.     Ada kisah menarik saat melakukan riset untuk penulisan buku Filosofi Kopi? (pengalaman dengan petani dan sebagainya)

Saya bikin cerpen itu tahun 1996. Sumber daya saya terbatas. Boro-boro riset jauh-jauh. Hanya mengandalkan khayalan saja dan ensiklopedia. Dari situ saya baca sepintas informasi tentang tanaman kopi.

4.     Kedai kopi paling favorit di Indonesia? Apa yang membuat kedai tersebut spesial?

Jelas Filosofi Kopi, karena kedai itu merupakan perwujudan dari fantasi saya. Hanya karena jarak rumah saya agak jauh ke Filosofi Kopi, saya nggak bisa setiap saat ke sana. Kalau yang dekat-dekat rumah, di daerah Tangerang Selatan, saya suka ke Rosso, Kullerfull, Fiordelatte, Saudagar Kopi. Yang membuat kedai kopi enak itu menurut saya bukan hanya kopinya saja, tapi hubungan pengunjung dengan baristanya. Dan, itulah yang membedakan kedai kopi dengan tempat lain. Kedai kopi itu manusianya juga, ada aspek personal.

5.     “Hidup bagaikan kopi pahit” bagaimana pendapat Dee tentang ungkapan ini?

Bagi saya ungkapan itu bergantung kepada bagaimana kita mempersepsikan rasa “pahit”. Pahit kopi sebetulnya bagian dari karakter kopi itu sendiri. Dan, citarasa kopi tidak melulu pahit, jauh lebih kompleks dari itu. Hidup pun begitu, tidak melulu pahit, banyak manisnya juga.

6.     Bisa ceritakan tentang buku Filosofi Kopi 2?

Filosofi Kopi 2 tidak ada dalam bentuk buku. Pengembangan yang terjadi di film Filosofi Kopi 2 adalah sepenuhnya kreativitas produser, sutradara, dan penulis skenario. Karya asli Filosofi Kopi hanya sebatas cerpen yang saya tulis, yang sudah dituangkan di film Filosofi Kopi pertama.

Monday, May 9, 2016

Qubicle Center - SLATE | Mengangkat Novel Ke Layar Lebar | Maret, 2016 | by Nanda Elvina


Untuk saat ini kegiatan apa saja yang sedang dijalani oleh Dee?

Saat ini saya sedang menjalankan kegiatan promosi Supernova 6 (Inteligensi Embun Pagi).

Kami sangat mengangumi karya-karya Dee yang sudah diangkat ke layar lebar, apa bisa diceritakan awal mula novel pertama Dee bisa diangkat ke layar lebar?

Adaptasi buku saya ke film diawali dengan Perahu Kertas. Perahu Kertas juga mengawali kerja sama perdana saya dengan Bentang Pustaka (yang sekarang menjadi penerbit semua karya saya). Saat itu, ada beberapa penerbit yang sama-sama tertarik dengan naskah Perahu Kertas. Bentang sudah datang bersama Mizan Pictures, yang langsung menawarkan adaptasi ke layar lebar. Dari semua karya saya, Perahu Kertas menurut saya adalah yang paling potensial untuk dijadikan format visual, entah itu film atau serial, jadi saya menyambut tawaran itu. Sejak Perahu Kertas, tawaran lain bermunculan.

Bagaimana proses yang dijalani untuk membawa sebuah novel  ke layar lebar?

Produser membeli hak adaptasi dari penulis. Sebetulnya itu saja. Setelahnya adalah rangkaian proses seperti layaknya produksi film. Penulis terlibat atau tidak itu bergantung dari kesepakatan yang terjadi antara penulis dan produser.

Apa Dee terlibat langsung dalam produksi film dari novel-novelnya?

Tidak semua, hanya Perahu Kertas yang sampai menulis skenario. Sisanya saya hanya sebatas konsultasi, ada yang jadi konsultan formal (terikat kontrak), dan ada juga yang tidak.

Tantangan tersulit seperti apa sih yang pernah dihadapi dalam pembuatan film yang diangkat dari novel Dee?

Sebetulnya mungkin pertanyaan itu lebih tepat dijawab oleh produser sebagai yang membuat film. Bagi saya, kalau saya tidak terlibat, otomatis tidak ada tantangan yang berarti, saya mirip dengan posisi penonton. Tapi, tentu, ketika saya menjadi penulis skenario, misalnya. Saya menghadapi tantangan untuk mengonversi buku menjadi skenario. Dan sebagai penulis skenario saya harus berkompromi dengan keinginan dan kepentingan banyak orang. Jadi bisa dibilang, tantangan itu baru muncul ketika saya ikut terlibat, dan tantangannya adalah sejauh apa yang peran saya di sana.

Adakah bagian  yang cukup sulit divisualkan dari isi novel ( karakter, tempat, pemain, dll)?

Lagi-lagi, saya rasa ini pertanyaan yang lebih pas ditujukan ke para pembuat film. Secara umum kesulitan pertama adalah di adaptasi cerita, bagaimana bahasa dan struktur cerita dari buku kemudian menjadi bahasa dan struktur film, karena keduanya tidak persis sama. Dari cerpen biasanya yang terjadi justru pengembangan, sementara kalau dari novel yang terjadi biasanya sebaliknya.

Pengalaman paling berkesan seperti apa  yang pernah dirasakan oleh Dee saat membuat proyek film dari novel?

Saya paling menikmati justru bagian bikin soundtrack, karena membuat lagunya jadi terasa mudah ketika kita dibantu visual/adegan. Dan, ada kepuasan ketika lagu yang kita buat terasa padu dengan film.

Menurut pendapat Dee dari seluruh novel yang diangkat ke layar lebar, yang paling mendekati imajinasi saat menulis ada pada film yang mana, dan mengapa?

Beda semua sih sebetulnya. Termasuk Filosofi Kopi yang menurut saya adaptasinya paling bagus. Tapi mirip atau tidak dengan imajinasi orisinal saya sebetulnya bukan tolok ukur untuk keberhasilan sebuah adaptasi film. Yang lebih penting adalah mengadaptasinya menjadi film yang enak ditonton. Itu saja.

Seperti yang kita ketahui bahwa penggemar buku biasanya sering kali kecewa jika karya sebuah buku yang di film kan dianggap tidak sesuai, Sejauh ini adakah pengemar yang protes dengan hasil visualisasi yang diangkat dari novel ke layar lebar? Dan, bagaimana menghadapinya?

Penggemar pasti ada yang protes, dan itu hal yang wajar. Pada dasarnya para pembuat film yang mengadaptasi dari buku harus bersaing dengan imajinasi pembaca, dan sejak awal itu adalah persaingan yang tidak fair karena tidak mungkin sebuah film memvisualisasikan keinginan semua orang dengan sempurna. Saya menghadapinya sih relatif santai saja, karena tahu itu pasti akan terjadi. Tidak juga ada pihak yang bisa disalahkan. Tidak ada yang bisa mencegah penonton untuk tidak datang dengan keinginan membandingkan. Tidak mungkin juga bagi pembuat film untuk memuaskan keinginan semua orang. Pada akhirnya menurut saya film adalah film, tolok ukurnya bagus atau nggak bagus. Bukan mirip atau nggak mirip dengan buku.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada seluruh produser dan sutradara yang membuat film Dee, dari keseluruan novel yang diangkat ke layar lebar, film apa yang kira-kira berada sedikit atau di luar jalur konten isi novel  yang mungkin membuat Dee sedikit menyayangkan?

Sebetulnya semua tidak ada yang persis sama. Yang saya suka sekalipun, tetap ada kontennya yang keluar dari konten asli. Bagi saya sebetulnya berada di luar jalur tidak menjadi masalah. Kita harus memahami bahwa film yang diangkat dari karya tulis merupakan adaptasi, bukan fotokopi. Tapi, saya punya catatan khusus untuk Madre. Saya menyayangkan tokoh Tansen di dalam film ditulis sedemikian rupa hingga melakukan aksi yang “mencederai” karakternya. Ketika tokoh utama digembosi seperti itu, kekuatan cerita secara keseluruhan jadi memudar, menurut saya.

Dalam waktu dekat ini adakah rencana untuk kembali mengangkat karya Dee kembali ke layar lebar?

Rencananya Filosofi Kopi akan dibuat sekuel oleh Visinema Pictures. Saya akan menjadi konsultan cerita saja. Jika tidak ada halangan, maka sekuel tersebut akan dirilis akhir tahun ini.

Monday, April 27, 2015

Muvila.Com | Film Filosofi Kopi | April, 2015 | by Eka Pratiwi


Berapa pihak yang pernah mendekati Dee untuk memfilmkan Filosofi Kopi? Mengapa akhirnya jatuh ke Angga Dwimas Sasongko/Visinema?

Waktu itu ada tiga pihak yang serius untuk membeli hak adaptasi Filosofi Kopi. Saya berbincang dengan masing-masing pihak untuk mengetahui ide dan visi mereka atas film Filosofi Kopi nanti. Bagi saya, ide dan visi Angga terasa fresh dan “beyond” sekadar produk film saja. Angga sudah berbicara tentang “user-generated-movie” untuk melibatkan para penonton ikut mengambil beberapa keputusan artistik film, dsb. Sejauh ini, eksekusi dari pihak Angga memang memuaskan dan inovatif. Filosofi Kopi tidak dikreasikan sebatas film saja, tapi meliputi aktivasi-aktivasi yang memperkuat Filosofi Kopi sebagai brand. Secara konten, Angga juga sejalan dengan saya untuk melebarkan cerita Filosofi Kopi, jadi tidak patuh sepenuhnya pada cerita asli.

Kriteria apa yang membuat Dee bersedia karya-karyanya untuk dijadikan film? Dan sebaliknya, kriteria apa yang membuat Dee menolak?

Saya lihat keseriusan mereka dan kesiapan mereka untuk membuat film dengan production value yang bagus. Dari pertemuan dan bincang-bincang mengenai konsep, saya juga akan menilai chemistry­-nya nyambung atau enggak, karena saya harus merasa nyaman kerja bareng mereka. Lalu, secara kreatif, ke arah mana mereka akan membawa cerita asli. Tentu, itu semua mengandung unsur trial and error, semakin ke sini saya juga semakin belajar untuk mengetahui proporsi keterlibatan yang pas, dan parameter apa saja yang penting untuk dijadikan pertimbangan.

Tentang proses adaptasi buku Dee ke film, apakah keputusan terbesar ada di penerbit atau di pengarang, apakah bisa lanjut bila pengarang menolak/tidak merestui? Kompensasi apa yang didapat oleh pengarang?

Dalam kasus saya, keputusan menerima/menolak sepenuhnya ada di tangan penulis. Itu memang bergantung dari kontrak antara penulis dan penerbit. Saya dengar ada juga kontrak penulis-penerbit yang mengikat penerbit untuk ikut punya hak kalau karya penulisnya difilmkan. Kontrak saya tidak seperti itu. Kompensasi yang didapat penulis sama seperti royalti. Biasanya dibayar putus di depan, jadi semacam advanced royalty. Ada juga yang menawarkan prosentase / bonus dalam jumlah tertentu ketika jumlah penonton mencapai angka X. Tapi kompensasi utamanya biasanya dibayar di duluan di depan. Ketika penulis sudah dibeli hak adaptasinya, sebetulnya urusan utama dengan produser selesai sampai di situ. Kalau di jalan tahu-tahu pengarang menolak atau tidak memberi restu, menurut saya itu hanya akan jadi tindakan moril saja, tidak berpengaruh kepada urusan legal, kecuali kalau pengarang memutus kontrak yang tentu ada konsekuensi hukum dan finansialnya.

Menurut Dee, seberapa perlu pengarang terlibat aktif dalam versi film dari tulisannya?

Bergantung keinginan dan kapasitas penulisnya, sih. Juga bergantung dari keinginan produser. Menurut saya, yang paling ideal pengarang dilibatkan dalam pembangunan cerita. Bukan hanya secara informal tapi benar-benar dimasukkan secara struktural jadi opininya nggak cuma numpang lewat. Tapi, ada produser yang tidak ingin “direcoki” oleh penulis. Dan, ada juga penulis yang benar-benar tidak mau terlibat, atau malah ingin terlibat penuh sebagai produser bahkan penulis skenario. Kalau saya, paling tidak inginnya terlibat sebagai konsultan cerita secara formal. Menulis skenario atau memproduseri, itu bergantung dari saya punya kapasitasnya dan punya waktunya atau enggak. Seringnya karena saya harus fokus pada pekerjaan lain, saya tidak melibatkan diri terlalu dalam, karena begitu terjun, pekerjaan menulis buku juga harus terhenti dulu.

Ikut main di Perahu Kertas, apakah itu keterlibatan terbesar Dee di film dibandingkan judul-judul lain (Madre, Rectoverso, Supernova, Filosofi Kopi)? Sunil Soraya sempat menyatakan ia bolak-balik konsultasi ke Dee dalam proses pembuatan skenario Supernova. Apakah semua filmmaker berbuat yang sama dengan Dee?

Keterlibatan saya di Perahu Kertas memang paling besar, karena saya sampai menulis skenario, jadi cameo, review hasil editing, dan ikut menyusun dan menyumbang lagu untuk OST. Waktu Supernova, Sunil konsultasi secara informal beberapa kali. Rectovero juga informal tapi jauh lebih intensif, saya diajak diskusi oleh para sutradara dan kasih masukan ke skenario dan hasil editing. Madre, bisa dibilang saya tidak terlibat sama sekali, sempat kasih masukan satu kali setelah baca skenario, tapi tidak terlalu mempengaruhi hasil akhir filmnya. Filosofi Kopi, saya secara formal terlibat sebagai konsultan cerita dan menulis dua lagu untuk OST-nya. 

Ada niat membuat skenario sendiri berdasarkan tulisan Dee?

Ada. Saya cukup jatuh cinta dengan proses penulisan skenario. Tapi tidak bisa saya lakukan dalam waktu dekat. Mau konsentrasi menyelesaikan Supernova 6 dulu.

Apa sebenarnya yang menyebabkan karya-karya Dee baru difilmkan dalam tiga tahun terakhir ini secara berdekatan, padahal Dee sudah terbitkan karya sejak lebih dari satu dekade yang lalu?

Pertanyaan bagus. Saya pun tidak tahu kenapa.

Pernah dapat tawaran adaptasi film untuk karya tulisan Dee yang belum terbit/belum selesai?

Ada. Tapi saya belum berani mengikatkan diri dalam kontrak karena saya ingin menyelesaikan Supernova 6 dulu, kalau saya sampai berkomitmen menyelesaikan buku lain demi adaptasi, Supernova 6 pasti terbengkalai untuk 1-2 tahun lagi. Saya nggak mau itu.

Sudah adakah karya Dee yang lain yang siap difilmkan?

Ada yang sedang dalam tahap penjajakan. Kita lihat nanti.

Pertanyaan tambahan, apakah Dee masih mengerjakan proyek musik?

Masih, sebenarnya terpicu oleh film Filosofi Kopi. Gara-gara menulis dua lagu dan menyanyikannya sendiri, akhirnya jadi bikin single untuk dirilis sebentar lagi. Mungkin bakal dicicil untuk jadi album. We’ll see.

Tambahan satu lagi, apa film favorit Dee sepanjang masa?

Serial Lords of the Rings. The Matrix. Shawshank Redemption.

GATRA | Apa & Siapa | Maret, 2015 | by Umaya Khusniah

 
Ide untuk membuat dua single untuk soundtrack film Filosofi Kopi ini sebenarnya dari siapa? Kapan ide ini muncul?

Dari awal, saat masih praproduksi, pihak Visinema sudah melontarkan ide agar saya ikut menyumbang lagu soundtrack. Saya sendiri juga tertarik, tapi waktu itu saya kepengin lihat preview filmnya dulu, supaya saya lebih punya bayangan harus bikin lagunya seperti apa.

Apakah memang ditetapkan harus dua single atau bagaimana?

Sebelum preview saya sudah membuat satu draf lagu, setelah lihat preview saya tergerak untuk membuat satu lagi. Jadi, berapa single-nya sih tidak ditetapkan di awal, spontanitas saja setelah melihat film.

Sulitkah membuat lirik untuk kedua single soundtrack ini?

Kalau sudah melihat materi tentu tidak lagi sulit, karena saya sudah punya cerita. Yang sulit dari menulis lagu adalah menentukan cerita dasarnya apa. Begitu cerita dasarnya ketemu, prosesnya langsung mudah.

Berapa lama pembuatan single ini, mulai dari lirik sampai jadi lagu?

Cukup cepat, saya bikin lirik dan lagu bersamaan. Mungkin kira-kira untuk dua lagu sekitar seminggu.

Ide untuk dinyanyikan sendiri oleh Mbak Dewi muncul dari siapa?

Awalnya sih karena ingin praktis saja. Kalau cari penyanyi lain lagi kan harus ada semacam proses audisinya lagi, milih siapa yang cocok, dia jadwalnya bisa atau tidak, perusahaan rekamannya siapa,  prosedurnya gimana, dsb. Dan saya sendiri suka sekali dengan kedua lagu yang saya tulis untuk OST Filosofi Kopi ini, jadi saya senang bisa menyanyikannya.

Bagaimana perasaannya bisa muncul di dunia tarik suara lagi?

Saat ini sih rasanya senang dan ringan-ringan saja. Buat saya, dunia musik dan nyanyi bukan untuk cari eksistensi lagi, tapi murni kesenangan. Saya sendiri lagi sibuk menulis buku saya yang berikut sebetulnya, jadi pasti nggak akan bisa terlalu menenggelamkan diri dalam musik juga sih, sebisanya saja.

Kangen nggak sih untuk nyanyi kayak dulu pas sama RSD?

Kangen sih kangen, tapi memang harus ada pihak yang menginisiasi kalau kita mau ngumpul lagi bertiga. Kalau mengandalkan masing-masing anggota sih sulit karena semua sudah punya kesibukan masing-masing.

Mbak Dewi kegiatannya banyak, mulai dari nulis novel, menyanyi, bikin lagu. Mana yang paling Mbak Dewi sukai? Kenapa?

Saya senangnya rekaman, kalau manggung biasa-biasa saja, lebih senang menulis di rumah. Kalau antara rekaman dan menulis sama senangnya, keduanya memuaskan.

Ada harapan khususkah untuk film Filosofi Kopi ini?

Bagi saya, sejauh ini, film Filosofi Kopi adalah adaptasi karya saya yang terbaik. Harapannya ya pasti mudah-mudahan banyak yang nonton. Tapi di luar itu saya sudah puas karena menurut saya hasilnya bagus.

Ada pulakah harapan untuk kedua single ini?

Semoga banyak yang suka.

Usai proyek ini selesai, proyek apa lagi yang akan digarap?

Kembali fokus mengerjakan Supernova 6.

Foodie Magazine | Kopi & Filosofi Kopi | Maret, 2015 | by Primo Rizky


Ada banyak yang karya literatur yang berfokus pada makanan, kenapa Mbak Dewi saat itu tertarik dengan kopi?

Saya menulis Filosofi Kopi pertama kali waktu masih kuliah, tahun 1996. Saat itu saya belum menjadi penulis profesional dan hanya hobi menulis saja. Jadi, motivasi saya menulis memang tidak dengan pertimbangan atau perbandingan dengan karya-karya lain, melainkan hanya ingin menulis tentang kopi saja. Bagi saya, kopi adalah minuman yang sangat berkarakter (sama dengan opini Ben, tokoh utamanya), dan saya ingin mendedikasikan sebuah tulisan untuk kopi. Itu saja.

When was your first encounter with coffee?

Seingat saya dari kecil, tapi perkenalannya waktu itu hanya sesendok dua sendok teh. Ayah saya yang memperkenalkan. Dia kadang menyuapi 1-2 sendok kopi dari gelasnya. Kalau saya lagi makan alpukat kerok, Ayah saya bilang, coba dikasih kopi, pasti lebih enak. Saya coba masukkan 1-2 sendok makan air kopi, dan benar, lebih enak. Sampai sekarang saya suka sekali Avocado Coffee.

Apa arti 'kopi' bagi seorang Dewi Lestari?

Doping utama umat manusia. Percaya atau tidak, kehidupan modern disangga oleh kopi, kalau tidak salah bertahun-tahun lalu majalah Times pernah membahasnya sebagai liputan utama.

How do you like your coffee?

Saat ini saya suka yang lebih soft seperti cafe latte atau paling tidak cappuccino, karena sepuluh tahun terakhir tubuh saya sensitif pada kafein. Dan saya lebih suka porsi kecil, di cangkir yang mini, tapi isinya bukan espresso. Saya juga suka mencampurkan rempah seperti kayu manis sebagai pengganti gula.

Kapan biasanya Mbak Dewi menikmati kopi? Apakah ada ritual-ritual tertentu dalam menikmatinya?

Karena saya nggak bisa minum banyak, I really cherish my chance of having a cup of coffee. Daripada minum yang abal-abal, mending nggak sama sekali, karena sayang sama kesempatannya. Biasanya pagi hari. Kalau sudah siang atau sore, tidur malam saya terganggu.

Personal curiosity, Kopi Tiwus itu benar-benar ada atau tidak? Aku research ke mana-mana tapi yang muncul selalu tentang Filkop. Kalau ternyata itu karangan Mbak Dewi, gimana awal mulanya bisa 'menciptakan' tentang kopi tersebut?

Pertanyaan Anda sama dengan pertanyaan Ayah saya. Waktu baca cerita Filosofi Kopi, dia juga terpikir ingin beli Kopi Tiwus, hehe. Ternyata cuma karangan anaknya saja. Saat itu saya memang ingin menubrukkan kreasi Ben (tokoh utama dalam Filosofi Kopi yang merasa sudah membuat kopi terbaik di dunia) dengan sesuatu yang sederhana, yang di luar dari perhitungannya. Makanya saya ciptakanlah Kopi Tiwus, yang merupakan antitesis dari segala yang dibikin Ben. Kopi Tiwus tumbuh alami, sembarangan, tanpa konsep, bahkan dijual dengan sangat murah bahkan seringnya cuma-cuma, tapi di balik itu ada semacam kekuatan “magis” yang disimpan Kopi Tiwus. Seperti apa? Ya, Anda harus mencicipi sendiri. Lewat tulisan saya. Haha!


Thursday, January 15, 2015

SatuHarapan.Com | Film Filosofi Kopi & Sastra | Januari, 2015 | by Fransisca Christy Rosana


Film Filosofi Kopi

Sejauh mana sih keterlibatan Dee sebagai penulis cerpen dalam pembuatannya?

Peran saya di Filosofi Kopi semacam produser konsultan. Dari mulai pembangunan cerita awal, supervisi skenario, hingga datang ke reading. Angga Sasongko (sutradara/produser film Filosofi Kopi) sangat membuka diri dan memang ingin melibatkan saya dalam proses penggarapan cerita. Saya tidak ikut di produksi yang sifatnya teknis, jadi fokus di penceritaan saja.

Apakah Dee juga akan masuk frame seperti film Perahu Kertas 1?

Sejauh ini belum ada rencana. Tapi kemungkinan besar enggak.

Dalam film, dimunculkan tokoh El atau tokoh yg sebelumnya tidak ada dalam cerpen. Apakah Dee yang memberi rekomendasi atau memang sudah menjadi keputusan tim produksi? Apa sebenarnya alasan dimunculkannya El dalam film Filosofi Kopi? Apakah agar cerita menjadi 'segar' atau memang ada isu lain yg ingin diangkat melalui tokoh El?

Dari awal saya sudah mengusulkan adanya “orang ketiga” dalam konstelasi karakter Filosofi Kopi. Tujuannya sih supaya cerita bisa berkembang lebih kaya dan dramatis. Ini memang tipikal kalau film diadaptasi dari cerpen, biasanya terjadi pengembangan. Pada novel, yang terjadi biasanya sebaliknya, pengurangan. Kebetulan, Angga dan Jenny (penulis skenario) juga berpikir sejalan. Jadi, dari masih tahap sinopsis, tokoh ini sudah kita putuskan bakal ada. Tentu, masuknya tokoh El harus punya tujuan kuat untuk membangun cerita, jadi nggak hanya pemanis saja.

Hampir seluruh karya Dee kini diangkat menjadi film, apakah rencananya Petir, Akar, Partikel, dan Gelombang juga akan difilmkan?

Belum ada kontrak apa-apa untuk serial Supernova berikutnya. We’ll see.

Adakah kekhawatiran Dee akan adanya reaksi 'mainstream' penonton yg biasanya berkomentar "filmnya nggak sesuai sama cerpennya" atau "lebih bagus cerpennya daripada filmnya" mengingat penonton Indonesia saat ini kurang dapat memaknai ungkapan 'adaptasi novel atau cerpen' dalam sebuah film?

Itu sepertinya sudah rutinitas yang harus dijalani, sih. Film itu pasti ada yang suka dan tidak. Terlepas itu diangkat dari buku atau bukan. Jadi, film dari buku pun sama saja pada dasarnya, bakal ada yang suka dan enggak, cuma ada variasi komentar “lebih bagus” atau “lebih jelek” atau “mirip” sama bukunya. Ada komparasi. Saya rasa, di seluruh dunia juga sama, nggak hanya di Indonesia. Itu memang sudah nasibnya film hasil adaptasi. Saya nggak terlalu khawatir mirip/enggak dengan buku sih, lebih khawatir kalau filmnya jelek.


Karya Sastra

Beberapa kritikus sastra beranggapan karya-karya Dee masuk dalam genre abu-abu, antara karya sastra dan karya populer. Bagaimana Dee menanggapinya?

Sepertinya memang posisi saya demikian. Sejujurnya, saya tidak menyengajakannya juga. Dikotomi karya sastra dan karya pop adalah hal yang tidak menjadi pertimbangan ketika saya berkarya. Saya lebih tertarik ke persoalan membangun cerita dan cara bercerita. Mungkin, pendekatan saya demikian karena begitu jugalah ekspektasi saya terhadap sebuah buku. Ceritanya memikat atau tidak. Itu saja. Mau itu sastra atau bukan, saya nggak peduli. Dan kayaknya itu memang lebih baik jadi tugas kritikus. Tidak usah menjadi beban penulis.

Apakah menurut Dee pengelompokan genre sastra itu menjadi penting dalam kiblat penulisan sebuah karya?

Penting bagi telaah sastra dan kategorisasi di toko buku. Kalau kiblat penulisan, yang saya lihat hanya konten. Ketertarikan saya sangat acak, dari mulai komik Jepang, kajian UFO, sampai buku puisi Sapardi. Saya nggak pernah fanatik terhadap satu genre tertentu.

Apakah menurut Dee segmentasi pembaca juga pada akhirnya akan berpengaruh terhadap dikamar-kamarkannya karya sastra?

Segmentasi pembaca itu banyak basisnya, bisa dari usia, gender, kelas ekonomi, dsb. Saya nggak tahu persis bagaimana kausalitas segmentasi pembaca dengan kategori buku, pengaruh sih pasti ada, tapi kayaknya ini lebih relevan bagi pelaku industri buku seperti penerbit, toko buku, dan sebagainya. Kritikus juga punya tugas dan sudut pandangnya sendiri. Kalau buat saya pribadi, semua itu tidak mempengaruhi proses kreatif saya. Dibuat “kamar-kamar” boleh, tidak juga tidak apa-apa.

Wednesday, December 10, 2014

Aplaus Magazine | Supernova PARTIKEL | Mei, 2012


Selamat untuk buku terbarunya PARTIKEL. Denger-denger, dari Petir ke Partikel jeda waktunya 8 tahun, ya? Kok bisa lama jeda waktunya? Ceritain dong...

Sudah saya ceritakan panjang lebar di Kata Pengantar-nya, hehe. Yang jelas, memang butuh kumulasi ilmu pengetahuan, informasi, dan juga ketertarikan saya untuk bisa menuliskan Partikel sebagaimana naskah yang terbit ini. Singkat kata, semua karya punya timing-nya masing-masing. Untuk Partikel, timing tersebut adalah April 2012.

Kalau kita baca di Twitter, sambutan orang-orang terhadap keluarnya buku PARTIKEL ini sangat luar biasa. Sejauh ini sudah berapa buku yang terjual?

Saya belum cek lagi persisnya. Setahu saya, Partikel langsung dicetak 40.000 eksemplar, dan sekarang hampir semua sudah diserap pasar.

Berapa lama proses membuat PARTIKEL ini? Ada cerita seru yang bisa diceritakan? Dan sebenernya hal atau goal apa yang ingin disampaikan lewat buku ini?

Proses menulis intensifnya antara 10-12 bulan. Sementara mengumpulkan informasi dan riset pustakanya sendiri sudah berjalan bertahun-tahun seiring waktu saja. Tema Partikel dari dulu memang sudah saya putuskan lingkungan hidup. Pesan utamanya kurang lebih adalah untuk manusia bisa menggeser perspektif dari penguasa Bumi menjadi pemelihara Bumi.

Kita tahu Dee telah banyak melahirkan buku-buku yang bagus dan mendapat sambutan yang luar biasa. Ada Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh, Akar, Petir, Perahu Kertas, kumpulan prosa Filosofi Kopi, Rectoverso, Madre, dan yang terakhir PARTIKEL. Dari sekian banyak buku yang sudah dikeluarkan, buku mana yang proses kreatifnya paling susah atau banyak mengalami kendala?

Kalau dari sisi risetnya sih yang paling kompleks Partikel ya, tapi dibilang susah juga sebetulnya bukan susah karena saya sendiri memang bersemangat dan menyukai topik-topik yang disajikan Partikel. Tantangannya lebih ke waktu untuk menulis. Karena Partikel saya tulis dalam kondisi sudah ada dua anak, yang satu masih batita dan butuh banyak perhatian, jadi yang menantang adalah menyisihkan waktu dan fokus untuk menulis intensif. 

Buku dengan penjualan tertinggi di antara buku-bukunya "Dee" yang mana nih?

Secara kumulatif, serial Supernova, khususnya episode pertama (Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh) tentunya adalah yang tertinggi karena terbitnya juga sudah dari 2001.

Perahu Kertas akan dibuat filmnya, apakah ada campur tangan Dee di dalam film ini? Dan denger-denger Filosofi Kopi juga bakal difilmkan ya?

Saya menuliskan naskahnya untuk Perahu Kertas. Filosofi  Kopi akan digarap jadi film pendek oleh Angga Sasongko. Dan Rectoverso juga akan menjadi film omnibus yang melibatkan lima sutradara perempuan, diproduseri oleh Marcella Zalianty. Tapi yang melibatkan saya hingga skenario hanya Perahu Kertas.

Di antara kumpulan prosa Dee,  yang mana yang paling difavoritin?

Sejauh ini ada 3 antologi: Filosofi Kopi, Rectoverso, dan Madre. Saya rasa biar pembaca saja yang memilih favoritnya yang mana. Karena bagi saya, ketiga-tiganya berbeda dan memiliki karakteristik unik yang nggak bisa dibandingkan.

Next project apa nih, Mbak? Kasih bocoran, dong.

Menulis serial Supernova selanjutnya, yakni Gelombang. Tapi saya belum mulai, masih rehat dari proses Partikel kemarin.

Pertanyaan terakhir nih, Mbak. Lebih enjoy mana menulis lirik lagu atau menulis buku?

Menulis buku. Puasnya sih sama, tapi buku lebih memiliki ruang luas untuk berkreasi dan beropini. Ruang dalam lagu tidak selebar itu.