Showing posts with label Masa Kecil. Show all posts
Showing posts with label Masa Kecil. Show all posts

Saturday, April 4, 2020

Arkuma Kidz Magz | Cita-cita Penulis | Juni, 2018 | Debby Lukito


Adakah peristiwa seru yang membuat Kak Dee suka menulis? Apakah ini cita-cita sejak kecil? Siapa tokoh yang menginspirasi dalam bidang literasi?

Saya sudah senang menulis sejak kecil. Walau tidak pernah mencantumkan cita-cita sebagai penulis, sejak umur 9 tahun saya sudah mulai mencoba menulis novel dan mengangankan satu hari akan melihat buku saya dijual di rak toko buku. Memutuskan senang menulis karena awalnya saya senang berkhayal, senang merangkai cerita, dan ingin membagikannya ke orang lain. Saya merasa hal itu bisa terfasilitasi dengan baik lewat menulis.

Kak Dee sempat eksis sebagai penyanyi, adakah keinginan untuk kembali ke dunia tarik suara dan apa rencana ke depan dalam bidang penulisan?

Keinginan untuk kembali berkarya di bidang musik tetap ada, tetapi saya belum tahu pasti kapan. Mudah-mudah bisa di tahun 2018 ini. Untuk di bidang penulisan, dalam waktu dekat saya akan melansir buku tentang proses kreatif.

Jika ada pembaca cilik yang nantinya ingin menjadi seorang penulis, apa kiat-kiat / "do atau don't" yang ingin Kak Dee bagikan untuk mereka?

Do: Banyak membaca, banyak mencoba, dan upayakan setiap tulisanmu bisa tamat. Menulis adalah keahlian yang harus terus diasah. Jam terbang sangat menentukan.
Don’t: Takut gagal, takut tulisan kita jelek. Fase itu harus dilewati, menulislah sampai kamu benar-benar puas dengan hasil tulisanmu.

Pesan Kak Dee untuk 'kids jaman now'?

Galilah minatmu, seluas-luasnya. Hari ini mungkin kamu suka melukis, besok suka menyanyi, tidak apa-apa. Eksplorasi saja. Begitu ketemu bidang atau hobi yang kamu suka, coba tekuni dengan semangat ingin menjadi yang terbaik.

Friday, May 12, 2017

YouthManual.Com | Menulis & UWRF | Oktober, 2016 | Laila Achmad


Hai, Mbak Dee. Lagi mengerjakan project apa sekarang?

Lagi tidak mengerjakan apa-apa alias rihat. Februari 2016 lalu saya menyelesaikan serial Supernova dengan merilis buku ke-6 sekaligus penutup yakni Inteligensi Embun Pagi, dan sekarang ini saya masih jeda dulu dari proses kreatif, mungkin hingga awal 2017.

Bagaimana awalnya Mbak Dee menjadi seorang penulis? Kapan dan bagaimana Mbak Dee sadar bahwa passion Mbak Dee adalah bidang ini?

Sejak kecil senang mengkhayal, mulai mencoba menulis sedikit serius sejak kelas 5 SD, dan pada tahun 2001, tepat ketika berulang tahun ke-25, saya menerbitkan buku pertama saya, Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

Menurut Mbak Dee, etos kerja atau karakter seperti apa yang diperlukan untuk menjadi seorang penulis yang baik?

Mau belajar, memelihara rasa ingin tahu, punya disiplin, dan jeli mengamati keadaan sekitar termasuk mengamati batinnya sendiri.

Menurut Mbak Dee, bagaimana prospek karir penulis di Indonesia? Mengingat industri ini memiliki banyak sekali pesaing.

Sebagai karier, tentu permasalahannya bukan kreativitas atau pesaing semata-mata, tapi industri perbukuan secara keseluruhan. Untuk beberapa penulis yang berhasil, sekarang ini bukannya tidak mungkin mengandalkan profesi penulis sebagai sumber mata pencaharian. Tapi, hal ini bukan hal yang mudah dicapai. Tidak ada formula pasti agar buku kita bisa jadi best-seller, kalau formula itu ada, harusnya semua buku bisa jadi best-seller. Kenyataannya, tidak. Jadi, saya lebih fokus untuk menuliskan topik yang saya sukai, berusaha bekerja sebaik mungkin. Itu lebih penting daripada fokus kepada meraba kemauan pasar. Saya percaya basis pembaca itu bisa diciptakan.

Apa yang paling Mbak Dee sukai dari menjadi seorang penulis, dan apa tantangannnya?

Menciptakan semesta kehidupan dan menjadi rahim dari sebuah kehidupan. Tantangan utama bagi saya adalah menjaga keseimbangan dalam keseharian dan waktu saya agar tetap fungsional di hal-hal lain di luar menulis. 

Siapa penulis atau penulis idola Mbak Dee, dan kenapa?

Banyak. Salah satunya Graham Hancock. Karyanya kebanyakan nonfiksi, meski ada beberapa yang fiksi. Dedikasinya untuk sebuah topik, melakukan penelitian, dan menuangkannya ke dalam tulisan, sangat luar biasa.

Cerita, dong, tentang awalnya ide menulis buku Perahu Kertas. Bagaimana mendalami dunia anak muda untuk membangun tokoh Keenan dan Kugy?

Perahu Kertas adalah cerita yang aslinya saya tulis semasa kuliah, tahun 1996. Saya ingin membuat cerita cinta yang elegan dalam format cerita bersambung. Namun, karena waktu itu (dan sekarang) sudah tidak banyak media yang memuat cerita bersambung, akhirnya saya jadikan novel. Saya tulis ulang tahun 2008 dengan setting waktu yang sedikit dimajukan. Tidak terlalu sulit sebetulnya untuk mendalami dunia Keenan dan Kugy. Plus, saya waktu itu menyewa kamar kos untuk menulis, tetangga saya mahasiswi semua. Jadi, sedikit banyak itu juga membantu.

Pengalaman apa yang paling berkesan selama membuat Perahu Kertas?

Waktu itu saya mencoba metode menulis yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, yakni menentukan deadline terlebih dahulu dan kemudian mengumumkan deadline tersebut ke publik. Jadi, ada ekstra tekanan. Akibatnya, saya jadi lebih fokus. Metode itu akhirnya saya pakai terus, walaupun tidak selalu mengumumkan deadline saya ke publik.

Boleh minta lima tips bagi anak muda yang ingin memulai menjadi penulis? (Bagaimana mencari inspirasi sampai bagaimana memotivasi diri sendiri untuk terus menulis)

Ciptakan ruang dan waktu yang rutin untuk menulis. Dua jam per hari, misalnya. Buat target tenggat waktu dan agenda kerja, dan berusahalah untuk mematuhinya. Coba selesaikan sebuah karya, apapun formatnya. Biasanya,  begitu seseorang sudah berhasil menamatkan sebuah karya, ia akan punya kepercayaan diri untuk meneruskan ke karya berikutnya. Tidak usah untuk diterbitkan dulu juga tidak apa-apa. Yang penting berlatih.

Waktu kuliah, bagaimana, sih, profil dan aktivitas Mbak Dee secara garis besar? (berprestasi secara akademis? Suka berorganisasi? Suka nongkrong di kampus?)

Saya sudah memulai karier jadi penyanyi dari awal masuk kuliah, jadi saya tidak punya banyak kesempatan terlibat di aktivitas kampus karena sudah sibuk membagi waktu antara kuliah dan karier. Kedatangan saya ke kampus lebih seperlunya saja. Tidak juga punya ambisi berprestasi secara akademis. Lebih sering menahan kantuk ketika kuliah. Tapi ketika skripsi, saya akhirnya menemukan topik yang benar-benar menarik dan mendadak saya jadi serius banget belajar. Sayangnya, itu baru terjadi menjelang saya lulus, hehe.

First job Mbak Dee dulu apa? Kenapa memilih pekerjaan itu? How did you like it? Tell us more about it!

Jadi penari. Tahun 1990, kelas 1 SMA. Pementasan pertama saya honornya saya belikan tas sekolah dan empat jam tangan Kura-Kura Ninja. Motivasinya lebih karena iseng mencoba dan kebetulan klub dance saya itu dapat porsi di sebuah pertunjukan besar, jadi saya langsung dilibatkan secara profesional. I stayed in the dance club for one year. I didn’t enjoy it as much as I enjoyed singing and music, to be honest. Tapi, itu adalah pengalaman berharga yang tak terlupakan.

Apa skill yang dipelajari di luar bangku sekolah, tapi bermanfaat untuk profesi Mbak Dee sekarang?

Musik. Saya les piano, dan itu menjadi basis saya untuk menciptakan lagu. Untuk nyanyi saya otodidak, lebih karena aktif di paduan suara dan grup vokal sejak kecil, baik di gereja maupun di ekskul sekolah.

Boleh cerita tentang satu contoh kegagalan Mbak Dee dalam karier ataupun studi? Apa yang bikin kembali bersemangat?

Saking sibuknya di paduan suara dan grup vokal, waktu kelas 2 SMA saya sempat jadi ranking 49 dari 51 siswa. Itu rekor akademik saya terburuk. Tapi, saya nggak nyesal-nyesal amat, karena saya tahu itu bukan karena saya bodoh, tapi karena saya fokus ke hal lain. Pada saat bersamaan, saat itu saya memimpin seksi kesenian di sekolah, dan SMA saya mendapatkan prestasi puncaknya di ajang-ajang perlombaan musik. 

Kalau nggak jadi penulis atau penyanyi, kira-kira seorang Dewi Lestari bakal berprofesi sebagai apa?

Mungkin jadi juru masak dan buka restoran.

Hal apa yang Mbak Dee lakukan dulu ketika kuliah tapi nggak dilakukan oleh teman-teman sehingga Mbak Dee bisa sukses seperti sekarang?

Saya kurang tahu pasti karena tidak mengecek kegiatan semua teman saya. Saya hanya merasa beruntung karena bisa mengidentifikasi passion saya sejak cukup awal dan cukup serius untuk menggelutinya.

Mbak Dee bakal mengisi acara di Ubud Writers and Readers Festival 2016, apa hal yang paling bikin Mbak Dee excited?

Hadir di UWRF selalu menyenangkan karena bukan cuma berkesempatan untuk melihat banyak sesi menarik dari penulis berkualitas, tapi juga atmosfer kreatif yang bisa kita nikmati hanya dengan hadir di sana selama UWRF. Untuk UWRF kali ini saya juga akan berkesempatan untuk membahas perjalanan serial Supernova. That will be exciting for me.

Menurut Mbak Dee, Kalau anak-anak muda ke UWRF, kira-kira apa benefit yang bisa mereka ambil?

Seperti yang saya bilang tadi, berada di sana saja sudah pasti bisa merasakan atmosfer kreatif yang kental. It’s so refreshing and invigorating. Menyaksikan begitu banyak orang kreatif berkumpul dan berbagi pengalaman mereka, menurut saya sudah merupakan manfaat yang luar biasa.

What would you say to your 20-year-old self?

The best is yet to come.

Unstoppable Hopes (Buku) | Salah Jurusan Kuliah | Mei, 2016 | Gloria Morgen

-->
Pada saat kuliah mengambil jurusan apa? Bagaimana bisa memilih jurusan kuliah itu?

Saya mengambil jurusan Hubungan Internasional, FISIP, di Universitas Parahyangan Bandung. Sejujurnya, waktu itu saya memilih jurusan HI lebih dikarenakan ketidaktahuan. Waktu SMA saya mengambil jurusan Biologi karena disuruh ibu, tapi saya sendiri sebetulnya tahu bahwa saya tidak akan mengambil jurusan eksak saat kuliah dan lebih tertarik ke sosial. Hanya saja ibu saya tidak mengizinkan saya ambil jurusan Sosial saat SMA. Begitu lulus, saya sudah tidak melirik lagi jurusan kuliah yang berhubungan dengan biologi. Saya langsung cari alternatif jurusan sosial yang kira-kira menarik. “Hubungan Internasional” terdengar keren bagi saya saat itu, dan karena ada kata “Internasional” saya pikir saya kelak jadi punya banyak kesempatan jalan-jalan keluar negeri. Akhirnya saya ambil. Saya tidak tahu bahwa Hubungan Internasional lebih banyak fokus ke politik, yang mana hal tersebut benar-benar tidak menarik bagi saya. Memang ada benarnya, kalau kita serius berkarier di dunia diplomatik, bisa jalan-jalan keluar negeri. Tapi tentunya pemahaman itu tidak serupa dengan bayangan remaja saya.

Kapan mulai menemukan passion, visi dan purpose of life? Trus apa passion, visi dan purpose dalam hidup Mbak Dewi? Ceritakan cara menemukannya.

Jika kilas balik ke belakang, sebetulnya sejak kecil saya sudah menemukan apa yang saya suka, dan masih saya geluti sampai sekarang, yakni musik dan menulis. Musik, saya senang dengan aspek mencipta lagu, dan karena bisa nyanyi juga ya akhirnya jadi penyanyi. Menulis, saya senang mengkhayal dan menciptakan cerita, akhirnya menulis fiksi menjadi penyaluran kreatif saya. Keduanya sudah saya jalani sejak kecil. Saya aktif nyanyi sejak kelas 3 SD. Saya membuat cerita panjang pertama saya sejak kelas 5 SD. Karena keduanya adalah hobi, saya jalankan terus. Saya aktif di vokal group sekolah, paduan suara, jadi dirigen, bikin band, ikut pementasan, jadi backing vokal, bikin group vokal, dan sebagainya. Sementara menulis lebih banyak terjadi di belakang layar. Tapi, saya tidak pernah berhenti. Ketika kuliah dan sudah mulai punya penghasilan sendiri dari menyanyi, saya beli laptop. Waktu itu anak kuliahan masih jarang yang punya laptop. Tapi, saya bela-belain beli karena saya ingin bisa menulis kapan saja dan di mana saja, terutama karena karier nyanyi saya mengharuskan saya banyak bepergian. Jadi, kedua hal tersebut adalah passion saya. Di pertengahan bangku kuliah, saya sudah tahu bahwa saya tidak akan berkarier kantoran, saya akan terus menggeluti bidang seni. Visi saya sebetulnya simpel, saya ingin berkarya sebaik mungkin yang saya bisa. Saya ingin menulis buku yang saya ingin baca. Saya ingin menulis lagu yang saya ingin dengar. Saya ingin punya karya-karya yang berumur panjang dan menyentuh hati. Terus terang, saya tadinya tidak yakin apakah saya bisa mengandalkan hidup dari hobi. Namun, ketika dijalani, pelan-pelan saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan. Secara finansial saya sudah mandiri sejak kuliah. Saya membiayai kuliah dan hidup saya sepenuhnya. Lulus kuliah, saya sudah bisa mengontrak rumah. Pelan-pelan, mulai punya kendaraan sendiri, membeli properti, membangun rumah, dst. Mungkin saya tidak jadi konglomerat dan memang tidak punya impian ke arah sana, tapi dari hobi yang saya jalani, saya punya penghidupan yang nyaman dan layak. Bagi saya, ini sudah lebih dari cukup. Apalagi kepuasan batin yang saya dapatkan dari berkarya tidak ternilai rasanya.

Apakah menyesal mengambil jurusan kuliah yang pernah diambil?

Sempat menyesal ketika pertengahan kuliah, karena saya merasa buang-buang waktu menjalani sesuatu yang saya sudah tahu tidak bakal saya pakai. Tapi, di penghujung kuliah, tepatnya ketika skripsi, saya menemukan topik penelitian yang sangat menarik minat saya. Saya menulis tentang hubungan pop culture dan politik. Saat itu, tema tsb belum pernah diangkat menjadi tema skripsi sebelumnya. Saya jadi bersemangat, apalagi pop culture banyak bicara tentang seni. Skill menulis saya jadi meningkat sepanjang pembuatan skripsi, demikian juga stamina saya membaca buku. Jadi, akhirnya saya merasa punya penutup yang manis dalam berkuliah, karena saya sangat puas dengan skripsi yang saya buat. Saya tidak menyesal dengan jurusan yang saya ambil. Setelah lulus saya malah sempat terpikir untuk mengambil S2 jurusan Filsafat. Namun, saya urungkan karena saya lebih tertarik pada spiritualitas dan sains yang akhirnya saya pelajari sendiri dari berburu buku.

Mbak Dewi kan, memiliki banyak talenta, mengapa justru memilih menulis? Apa pertimbangannya?

Itu bukanlah keputusan serta merta yang dibuat pada satu waktu tertentu, melainkan berdasarkan perkembangan dan proses yang organik. Ada kalanya saya memprioritaskan bermusik, dan ada kalanya juga saya rihat dari menulis. Tapi, sejak berkeluarga saya merasa menulis lebih pas menjadi karier prioritas karena fleksibilitas waktu dan lokasi. Saya tidak perlu terikat di satu tempat dan waktu tertentu. Saya bisa menentukan ritme kerja sendiri. Saya tidak banyak bergantung ke pihak lain. Menulis juga tidak mengenal usia maupun penampilan. Namun, itu semua sesungguhnya adalah faktor-faktor praktis dari aspek karier. Bagi saya menulis bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan.

Seberapa penting menulis bagi Mbak Dewi?

Kita tidak bisa membendung arus kreativitas. Menulis adalah medium saya untuk menyalurkan arus tak terbendung tersebut. Sama seperti kita butuh kaki untuk berjalan dan mata untuk melihat. Menulis adalah bagian dari diri saya.

Wednesday, February 17, 2016

KOMPAS | Kompas Kita: Q&A Dee Lestari | Mei, 2015 | by Susie Berindra


Sudah lama Dee menuangkan ide lewat cerita dan juga lagu. Jika harus memilih, manakah yang paling memuaskan bagi Dee? - Anggun Gita Sari

Saya juga punya kebutuhan berbeda untuk setiap pendekatan bercerita. Bagi saya fiksi dan lagu itu komplementer sifatnya, tidak saling menggantikan. Kepuasan yang dihasilkan masing-masing format juga berbeda, meski pada intinya sama-sama bercerita.

Apakah ada misi khusus Dee dibalik penulisan Supernova sampai 5 jilid dan bahkan akan menerbitkan lagi yang keenam? Sejak awal sudah direncanakan Supernova akan sampai 6 jilid? - Iko Boangmanalu

Sudah direncanakan dari awal. Misinya sederhana: menyelesaikan cerita. Supernova episode pertama hanya sepotong dari keseluruhan cerita dalam kepala saya.

Apa yang menjadi resep Dee selalu produktif berkarya, baik itu dalam literasi atau musik? Lalu syarat apa yang mesti dipenuhi agar sebuah karya dapat diterima masyarakat? Bagus Setyoko Purwo

Tujuan saya berkarya semata-mata karena banyak yang ingin saya ungkapkan. Mungkin kalau sudah tidak ada lagi yang ingin disampaikan, baru saya berhenti. Saya rasa tidak ada syarat khusus agar karya kita diterima masyarakat, yang jelas karya yang disukai adalah karya yang mampu menciptakan ikatan dengan penikmatnya.

Sebagai penulis, pernahkan Anda  mengalami kebuntuan ide? Lalu bagaimana cara mengatasinya? Christina M

Kebuntuan yang ringan cukup diatasi dengan hal-hal yang sederhana, seperti istirahat, mandi, atau baca buku. Kalau cerita stagnan berkepanjangan, biasanya perlu dirombak secara teknis. Elemen fiksinya dikaji ulang dan diganti, bahkan ditulis ulang.

Bermusik dan menulis adalah kanal untuk berekspresi, itu yang saya baca dalam sebuah artikel ttg Mbak Dee. "Ritual" seperti apa sih yang selalu dilakukan untuk mendapatkan ekspresi yang mendalam saat bercerita lewat novel? Apa secangkir kopi punya "dongeng" tersendiri yg mempengaruhi setiap karya Mbak Dee Lestari? – Uniqa Wardhani

Tidak ada ritual khusus selain disiplin mendedikasikan waktu dan fokus sampai proyeknya selesai. Bekerja dengan takaran yang terhitung dan punya deadline. Kadang ditemani kopi, kadang tidak. Saya berusaha tidak fanatik pada satu ritual khusus karena saya tidak ingin menciptakan ketergantungan yang merepotkan. Kalau nggak ada kopi lalu jadi nggak bisa kerja, kan repot jadinya.

Kira-kira apa yang menginspirasi Dee sehingga film Filosofi Kopi berhasil ditayangkan? Apakah ada tokoh sehingga membuat Dee terinspirasi untuk membuat film tersebut? – Hesrianus Cengga
              
Keberhasilan Filosofi Kopi sebagai film adalah hasil kerja keras tim dari Visinema. Saya hanya melepas hak adaptasi dan membantu pembangunan cerita pada tahap awal. Cerpen Filosofi Kopi sudah saya tulis lama sekali, dari tahun 1996. Saya tidak membasiskannya pada siapa-siapa. Hanya ingin membuat cerita seputar kopi, itu saja.

Sejak kapan Anda menekuni aktivitas menulis? Apa motivasi Anda terjun ke dunia literasi? – Ardiansyah Bagus Suryanto

Sebagai hobi, dari kecil. Dari usia 9 tahun saya sudah mulai mencoba menulis cerita panjang. Secara profesional, baru tahun 2001 ketika Supernova terbit. Saya menulis karena saya merasa tema-tema yang saya suka belum banyak ditemukan di pustaka Indonesia. Pada dasarnya saya menulis apa yang saya ingin baca.

Membuat tulisan bertema science fiction tidaklah mudah. Kendala apa saja yang muncul ketika menulis? – Dwi Atika Sari

Intinya, membuat novel memang tidak mudah. Kita harus punya komitmen, intuisi bercerita, paham struktur dan menguasai teknik menulis. Mau itu science fiction atau chick lit, akan susah kalau penulisnya tidak punya minat kuat atas apa yang ia tulis. Selama penulisnya suka dan tertarik dengan tema tulisannya, ia akan menggali dengan semangat. Kesulitan utama menulis bukan di tema, tapi bagaimana bercerita sebaik dan sejernih mungkin.

Dee, walaupun hanya bisa berjumpa lewat tulisan ini, aku ingin menyampaikan bahwa aku apreciate dengan karya-karyamu. Kamu telah merampas tiga malamku untuk menyelesaikan tiga karyamu! Melalui media Kompas Kita ini, aku mau bertanya kepadamu, passion apa yang paling membuatmu berkarya sampai saat ini? Sekaligus apa yang Dee lakukan untuk menjaganya tetap ada dan membara? – Jois Efendi

Terima kasih untuk apresiasinya. Banyak ide dalam kepala saya. Medium yang saya suka adalah lagu dan tulisan. Keduanya adalah skill yang menarik dan menantang. Setiap karya adalah ajang saya untuk belajar dan melepas ide-ide dalam kepala saya.

Saat ini semakin banyak para penulis novel seperti Dee yang saling berebut untuk memenangkan hati para pembaca. Bagaimana Dee menanggapi hal ini, apa saja yang dilakukan Dee agar karya Dee dapat mendapat tempat di hati para pembaca untuk selalu menunggu karya-karya Dee selanjutnya? – Nurus Syarifah

Berusaha memuaskan pembaca adalah motivasi berbahaya bagi penulis. Pertama, karena kita tidak mungkin memuaskan semua orang. Kedua, kita kehilangan otensisitas atas apa yang menurut kita paling penting. Tulislah apa yang bagi kita penting, mendesak, menggemaskan. Dan, tulislah sebaik dan sejernih yang kita bisa. Itu saja resep saya.  

Saya baru baca Filosofi Kopi dan Madre. Dulu baca Supernova (Akar) tapi nggak ngeh dan pusing, hehe. Kapan bikin novel true story tentang Tuhan versi Dee yang teologinya kayaknya ‘timur’ banget? Atau tentang kehidupan pribadi Dee bagaimana kegetiran perceraian dan tentang anak-anak, atau cerita-cerita tentang riak-riak kehidupan di rumah? – Amin Nurrokhman

Belum tahu. Sekarang belum tergerak.

Saya sangat antusias membaca karya Mbak. Madre, Filosofi Kopi, adalah salah satu kegemaran saya. Materinya ringan tapi sarat dengan makna. Yang ingin saya tanyakan, pertama, apa arti menulis buat Mbak? Kedua, apakah Mbak merasakan apa yang Mbak tulis? – Nordin                   

Menulis bagi saya adalah seni menyampaikan ide. Merasakan dalam arti emosi, tentu pernah. Kalau saya menulis tentang hal yang sedih tapi tidak ikut merasakan kesedihannya, berarti tulisan itu belum berhasil.  

Apakah ide dari cerita yang Dee tuangkan dalam novel merupakan ide murni dari pemikiran Dee sendiri ataukah ditambah ide yang telah ada di novel kebanyakan? Saya juga sering mendapatkan ide untuk cerita tetapi ketika dituangkan rasanya sulit sekali. Pernahkah Dee mengalami hal seperti itu dan bagaimana solusinya? – Dharmana Dhini Cipta Telaga

Yang saya tulis selalu kombinasi dari imajinasi, hasil pengamatan, hasil pengalaman. Termasuk mungkin di dalamnya buku-buku yang pernah saya baca. Kesulitan menuangkan ide biasanya karena kurang latihan dan jam terbang, begitu sering dilakukan, kita akan tahu sendiri tekniknya.  

Adakah di antara karya Dee, baik buku maupun lagu, yang merupakan pengalaman pribadi Mbak Dewi? Saya mengusulkan bagaimana kalau yang menjadi tokoh utama dalam layar lebarnya adalah Mbak sendiri. – Zenny Anaria

Kalau pun ada pengalaman pribadi, biasanya sudah tercampur unsur lain. Saya belum pernah berkarya yang sifatnya otobiografis. Untuk menjadi tokoh utama dalam layar lebar, sejauh ini belum terpikir dan belum tertarik. 

Bagi saya novel-novel Mbak Dee adalah sebuah alternatif. Alternatif dari miskinnya gagasan di Indonesia kontemporer. Saat ini adalah eranya pragmatisme, materialisme, dan budaya instan. Jadi, novel, juga film yang diadaptasi dari novel Mbak Dee-lah jawaban atas budaya yang diusung dunia modern tadi. Saya berharap Mbak Dee terus menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk novel. Pertanyaan buat Mbak Dee, apa pendapatnya tentang kemalasan berpikir, budaya baca yang rendah, dan tradisi menulis yang belum mengakar dalam masyarakat Indonesia saat ini? – Darwinto

Terima kasih atas apresiasinya. Kalau kita bicara kultur, tentu kita bicara proses ratusan tahun, dan untuk membalikkannya tidak bisa dalam waktu singkat. Kita bisa menjadi agen perubahan dengan ikut aktif menjadi pelaku komunitas baca dan tulis. Mulai dari diri sendiri dan keluarga sendiri, misalnya. Setelah itu kita bisa melangkah lebih jauh dengan berkarya, bisa lewat blogging atau tulisan singkat. Dari level pemerintah juga banyak kebijakan yang bisa diberlakukan, salah satunya adalah bagaimana pemerintah bisa memproduksi buku lebih murah, mendorong penerjemahan, dan meningkatkan jumlah perpustakaan. 

Setiap penulis mempunyai diferensiasi pada karyanya, dan diferensiasi karya Dee ada pada tema yang selalu mengusung pencarian jati diri. Bagaimana defferensiasi itu awalnya terjadi? Apakah sengaja dibuat untuk membedakan karya Dee dgn karya-karya lain, atau ada dengan sendirinya? – Muh Turmudi              

Setiap penulis umumnya umumnya berkarya diawali oleh kegelisahan. Kegelisahan itu tidak bisa “diatur”. Segala bentukan lingkungan dan konstruksi batin seseorang akan memicu adanya kegelisahan yang kemudian diburu lewat mempertanyakan, lewat ekspresi seni, lewat kreasi, dan seterusnya. Kegelisahan saya yang terbesar memang sejak dulu berpusat di aspek spiritualitas.

Siapa sajakah yang menjadi inspirasi Dee dalam menulis novel ? – Laras Kusumaningtyas

Saya mengamati banyak orang, dan biasanya orang-orang yang saya temui bercampur menjadi karakter. Saking banyaknya saya tidak bisa lagi menyebutkan satu-satu.

Saya penasaran, dari mana nama pena "Dee" itu, serta apakah ada makna terselip di dalamnya? Bagaimana Dee menjalani multiperannya, yaitu ibu, penulis, penulis lagu, penyanyi? Mengalir saja, ataukah ada manajemen waktu sedemikian rupa sehingga tetap dapat menjalankan tugas di dalam rumah sekaligus menjalankan karier-kariernya? – Hesty Puji Rahayu

Waktu kuliah dulu, saya pakai ransel dengan inisial “D”. Sejak itu mulai suka dipanggil “D” (Dee) oleh beberapa orang. Saya senang dengan sebutan itu karena simpel. Menjalani multiperan mengalir saja dengan banyak trial and error, tentunya. Yang menantang adalah bagaimana menyusun prioritas dari waktu ke waktu, dan konsisten menjalaninya. Misal, ketika saya sudah harus intensif menulis, saya harus berani menolak banyak tawaran pekerjaan dan proyek kreatif lain, sebab waktu saya untuk rumah dan keluarga juga sudah memakan besar porsi hari-hari saya. Kalau saya ambil semuanya, pasti ada yang keteteran. Saya tidak ingin keluarga saya jadi korban hanya karena saya mengejar karier. Waktu 24 jam sehari tidak bisa ditambah, jadi saya harus memaksimalkan ketersediaan waktu yang ada.

Dee dan Arina (Mocca) kan adik kakak kandung, bagaimana bisa jadi figur yang keduanya penuh karya dan menginspirasi? Kalau boleh tahu bagaimana kebiasaan didikan keluarga sehingga bisa menjadi figur yang menginspirasi banyak orang? – Nida Hadaina Farida

Ketika kami kecil, kami tidak terpikir untuk bercita-cita jadi seniman. Tapi hidup kami sehari-hari memang sudah dipadati kegiatan seni, dari main musik, nyanyi, menggambar, dan sebagainya. Orang tua kami sangat mengutamakan soal akademis, dan itu jadi syarat untuk kami tetap meneruskan hobi seni. Di sisi lain, orang tua kami juga sangat suportif. Kami semua diberi kesempatan les musik. Rumah kami menjadi markas besar untuk kegiatan musik, latihan paduan suara sekolah, gereja, vokal group, band, dan lain-lain. Jadi, kegiatan berkesenian itu sudah seperti atmosfer tetap di rumah kami.

Sunday, December 21, 2014

Koran Jakarta | Profil | Mei. 2012 | by Edwin Habibun


Boleh diceritakan bagaimana kehidupan masa kecil seorang Dewi Lestari?

Masa kecil saya berpindah-pindah kota, karena ikut dinas Bapak yang prajurit militer. Baru sejak kelas 4 SD saya menetap permanen di Bandung hingga sarjana. Saya lima bersaudara, jadi semarak. Senang berkhayal sejak kecil. Mulai senang menulis sejak kelas 5 SD.

Selama perjalanan hidup Dewi Lestari, kira-kira sosok siapakah yang memberikan influence paling besar?

Sepertinya tidak ada sosok tunggal. Keluarga jelas memberi pengaruh, kakak-kakak dan adik saya. Teman-teman, mentor-mentor, buku-buku yang saya baca, film yang saya tonton. Saya nggak bisa menunjuk satu pihak. 

Bila diberi kesempatan untuk mendeskripsikan sosok Dewi Lestari dengan menggunakan satu kata, apakah kata tersebut? Mengapa?

"Penasaran". Karena sepertinya banyak hal dalam hidup ini yang saya telusuri berawal dari rasa penasaran.

Dewi Lestari ingin dikenal dan diingat sebagai apa dan siapa?

Seseorang yang berkarya. Itu saja.

Sebelum Supernova keluar, Dewi Lestari memang dikabarkan memang senang menulis dan mengirimkan hasil tulisannya ke berbagai media. Tapi hal apa yang membuat Dewi Lestari memutuskan membuat sebuah novel?

Itu tidak benar. Saya amat jarang menulis untuk media. Sebelum Supernova hanya ada dua tulisan saya yang dipublikasi. Yang pertama, waktu saya jadi juara lomba menulis esai di majalah Gadis, tapi pakai nama adik saya, jadi tetap nama saya tidak muncul. Yang kedua, cerpen di majalah Mode, yaitu Rico De Coro. Tapi itu pun bukan saya mengirimkan, melainkan Hilman Hariwijaya (penulis Lupus, yang juga teman baik kakak saya) yang memasukkan naskahnya ke Mode. Saya menulis novel karena memang ingin menerbitkan buku dalam rangka menghadiahi diri sendiri pada ulang tahun saya ke-25. Dan Supernova adalah novel pertama saya yang berhasil rampung. Kebanyakan tulisan saya dulu yang formatnya novel gagal di tengah jalan.

Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh sangat sensasional dan memasuki nominasi Katulistiwa Literary Award disandingkan dengan penulis senior lainnya. Bagaimana perasaan Dewi Lestari saat itu?

Senang, bangga, sekaligus lucu. Karena saya betul-betul satu-satunya finalis yang umurnya masih 20-an, sementara yang lain penulis berusia 50-an ke atas semua. Tahun-tahun berikutnya Khatulistiwa akhirnya memisahkan kategori penulis muda. Pada waktu zaman saya masih tidak ada kategori itu.

Sebuah kontroversi, bagaimana seorang Dewi menyikapinya?

Kontroversi adalah konsekuensi dari keberagaman persepsi orang. Pro-kontra, suka-tak suka, setuju tak setuju, itulah dualitas yang selalu kita temui dan pasti akan selalu muncul karena memang bagian dari realitas kita. Saya tidak tahu persis bagaimana harus menyikapi kontroversi, saya rasa nggak ada rumus bakunya untuk itu. Kalau terjadi ya terjadilah, dan hadapi. Segalanya toh akan berlalu pada akhirnya.

Ciri khas Dewi Lestari dalam menulis lebih ke mana? Dan lebih menyenangi mengambil tema apa?

Saya rasa ciri khas adalah sesuatu yang sebaiknya dinilai oleh pembaca dan kritikus. Saya kurang berjarak untuk bisa menilai ciri khas saya apa. Kalau sedang menulis ya menulis saja, tanpa berpikir ini ciri saya atau bukan. Kalau tema, saya menyukai tema-tema spiritualitas, pencarian jati diri.

Target pembaca Dewi Lestari sebenarnya siapa saja?

Ini juga sesuatu yang sebaiknya dijawab oleh penerbit. Saya nggak punya target khusus. Yang jelas, dari profil pembaca saya saat ini kebanyakan, ya, anak muda, anak kuliahan, dan orang-orang di rentang usia 30-40 tahun.

Dalam menulis sesuatu, kiranya Dewi Lestari memperoleh inspirasi dari mana saja?

Dari hidup itu sendiri. Tidak ada yang spesifik. Menurut saya inspirasi itu tidak bisa "diperoleh", inspirasilah yang memilih kita. Selama kita peka dan mengamati hidup dengan baik, inspirasi selalu ada.

Hal apa yang Dewi Lestari senangi dalam berprofesi sebagai penulis?

Profesi penulis tidak kenal usia, tidak kenal pensiun, sampai umur berapa pun, selama masih bisa berpikir, ya bisa menulis. Saya juga tidak harus "perform" di depan umum dengan persyaratan seperti halnya penyanyi, lebih santai. Saya bisa lebih banyak di rumah. Di sisi lain, buku memiliki daya jangkau dan daya ubah yang sama kuatnya seperti musik.

Tiga buku favorit yang Dewi Lestari pernah baca? Mengapa?

Buku favorit saya jelas lebih dari tiga. Jadi, saya menuliskan ini bukan karena ini tiga buku yang mengalahkan lainnya, melainkan yang paling berkesan untuk diingat saat ini: Hujan Bulan Juni - Sapardi Djoko Damono, Self Aware Universe - Amit Goswami, Fingerprints of the Gods - Graham Hancock.

Boleh tahu bagaimana kabar Rida Sita Dewi? Apakah ada rencana untuk mengadakan pentas atau pertunjukkan bersama kembali?

Perkawanan dengan Rida dan Sita sih tetap berjalan baik. Walaupun lebih banyak menyapa di dunia maya karena jarak tinggal kami masing-masing cukup jauh. Saya masih lebih sering ketemu Sita karena sama-sama di Jakarta. Rencana untuk pentas lagi sebetulnya ada, semacam reunion show. Tapi belum dijalankan dengan serius, dan sepertinya untuk mempersiapkan itu kami harus benar-benar commit menyiapkannya. Saat ini belum ada tanda-tanda ke arah sana.

Bagaimana menyeimbangkan kegiatan berkeluarga, as a mother and a wife, dengan profesi Dewi Lestari sendiri?

Nggak tahu persis bagaimana, selain menjalaninya saja. Prioritas tentunya berganti-ganti, situasional tergantung keadaan. Saat anak saya masih bayi, ya jelas saya nggak memprioritaskan pekerjaan sama sekali. Setelah sekarang sudah memasuki fase batita, saya mulai bisa bekerja lagi. Nanti-nanti bisa berubah lagi.

Rencana ke depan seorang Dewi Lestari kira-kira apa saja?

Saat ini target saya dalam pekerjaan adalah menyelesaikan serial Supernova. Kesempatan dan berbagai penawaran selalu akan datang dan pergi, jadi saya nggak berencana macam-macam. Menyelesaikan Supernova menjadi prioritas untuk bidang pekerjaan.

Kira-kira boleh berbagi tips dari Dewi Lestari untuk para penulis yang ingin menulis sebuah novel, namun tidak tahu harus memulainya dari mana?

Tulislah buku yang ingin kita baca. Itu saja. Soal teknis dan sebagainya, bisa pelajari di buku atau mempelajari tulisan-tulisan yang kita suka. Temanya apa? Hanya yang menulis yang tahu. Ia tinggal mengikuti minatnya saja.

Soap Magazine | Profil: The Dark Side of Dee | Juni, 2005 | by Johan Sihotang


Dee’s Past

Aku kepingin tahu, masa kecil seperti apa sih yang telah membentuk seorang Dewi Lestari sekarang? Mungkin background khusus keluarga, kepribadian salah seorang tua yang cukup unik? Atau mungkin kehadiran masalah keluarga yang cukup besar sehingga sanggup membentuk kepribadian Dewi sekarang?

Keluarga saya itu sangat unik. I’m blessed to be raised in such family. Ayah saya, sekalipun perwira militer, sesungguhnya berjiwa seniman, he’s a fun person, musisi otodidak yang kreatif. Dan kualitasnya diimbangi oleh ibu saya yang sangat sistematis, tertata, but very thoughtful. Hasilnya kami berkesempatan untuk mengeksplorasi sisi seni kami, tanpa mengabaikan sekolah. Bisa dibilang kami punya modal disiplin tapi juga ‘keliaran’ kreativitas. Kalau masalah hampir nggak ada. Cuma Mama kadang-kadang kelewat hemat, kami hampir nggak pernah punya mainan, jarang beli barang baru. Tapi pikir-pikir, itu juga yang mendorong kami jadi kreatif, dan punya drive untuk bercita-cita. 

Apa trauma terbesar Dewi saat masih kecil, mungkin belum bisa didefinisikan sebagai trauma, tetapi yang tidak menyenangkan dan masih keinget, masih ada nga ya dampaknya sampai sekarang? (seperti saya masih ingat dipukuli teman-teman sendiri)

Hmm. Apa, ya. Barangkali waktu kelas 2 SD dulu, saya pernah lomba lari, tapi sepatu saya model loafer yang gampang copot, akhirnya pas lari sepatu saya lepas, diketawain satu sekolah. Sejak itu saya jadi nggak pede sama sekali dengan pelajaran olah raga dan segala permainan fisik. Sampai SMA saya bolos terus pelajaran olah raga, ngaku sakit segala macem, padahal sehat-sehat saja, bahkan I’m actually an active person. Saya sampai punya template surat sakit, memalsu tanda tangan ortu, pokoknya jadi sneaky berat, hanya untuk menghindari pelajaran satu itu. Hehe.

Ada nggak sih pengalaman-pengalaman di masa kecil dulu yang memalukan, lucu, memorable; mencium (lebih dulu) teman cowo mungkin? Apa yah cita-cita Dewi sewaktu kecil dulu, sudah terpikir untuk menjadi seorang selebritis sepeti sekarang?

Waktu kecil pengin jadi dokter hewan, karena cinta sekali sama binatang. Hanya kandas karena takut saya pada serangga melampaui cinta saya sama binatang. Hehe. Lalu arsitek, tapi kandas juga karena malas bermatematika ria, hanya sampai sekarang saya senang sekali menata interior, dsb. Anehnya, sekalipun tidak masuk ke daftar cita-cita, tapi yang saya lakoni secara konsisten sejak kecil memang seni. Baru saat kuliah, ketika pada semester 2 saya mulai membiayai hidup bahkan kuliah saya sendiri, saya tersadar bahwa hobi tersebut telah bertransformasi menjadi profesi. And it’s simply something I cannot live without. Saya tidak pernah lagi berpikir menjadi sesuatu yang lain.


Dee’s Train of Thoughts

Apa sih yang diinginkan dan dicari Dewi dalam hidup ini, dengan mengulik-ulik dunia spiritualnya? Mungkin beberapa orang sudah cukup nyaman dengan ‘spiritualitas pemberian’ (orang tua, masyaraktnya), kalau orang lain bilang hidup sudah terlau susah tanpa mempertanyakan kembali sisi spiritual, atau apakah karena ‘enggan mengutak-atik’ itu manusia merasa lebih susah?

Untuk seseorang sampai pada kembara spiritual yang sesungguhnya memang dibutuhkan satu titik balik. Ahli agama bisa berkhotbah sampai berbusa-busa, tapi kalau panggilan itu tidak muncul dari dalam hati, maka kita tetap jalan di tempat dan bahagia dengan itu. Saya setuju, pengembaraan spiritual itu memang bikin susah, tidak menjadikan hidup kita tambah mudah. Ada ungkapan yang mengatakan ‘ignorance is a bliss’. Ketidakmautahuan bisa jadi membuat hidup kita aman, tenang. Sementara keingintahuan justru menempatkan kita dalam track berbatu, menyakitkan, dicemooh, dst. Namun saya percaya, saat spiritualitas lama kita diguncang maka itu berarti kita sudah siap ‘naik level’. Sama halnya bersekolah, yang secara berkala kita harus ujian naik tingkat, dan nggak selamanya adem ayem tanpa diuji. Usaha saya menulis Supernova pun sekadar untuk berbagi, bahwa: this is my test, this is my exam sheet, how’s yours? Mereka yang berada pada tahap yang sama pasti akan connect. Mereka yang sudah lewat akan tersenyum simpul. Mereka yang belum sampai akan mengapresiasinya dengan cara yang lain lagi. I want nothing but to share. 

Kapan sih Dewi menemukan tujuan hidupnya seperti sekarang? Ada kejadian khusus yang melatar belakangi? (Sigmund Freud; women barely knows what they wants)

My series of epiphany took place by the end of 1999, sebelumnya pertanyaan saya tentang spiritualitas sudah menumpuk, tapi meledaknya pada saat itu. Buku yang menyatukan puzzle dalam otak saya adalah Conversation with God – Neale Donald Walsch. Semenjak itu pandangan saya terhadap Tuhan, hidup, dan juga diri, berubah total. Dan semenjak itu pulalah saya bertekad untuk sharing apa yang saya alami, dan berhubung talenta saya adalah menulis, plus cita-cita sejak kecil adalah menulis buku, maka tahun 2000 saya menulis Supernova.

Dengan kesuksesan seperti sekarang, kenapa memilih hidup berkeluarga dengan anugerah kehadiran seorang anak di sisi Anda? Dengan merepotkan penitian karir yang sedang baik-baik nya?

Kalau istilah ‘repot’ yang dipakai maka seolah-olah pilihan berkeluarga merintangi sesuatu. Menurut saya tidak demikian. My life is one assorted package. Kalau isinya melulu karier maka hidup ini pun terlalu sempit rasanya. Untuk bertumbuhkembang sebagai pribadi yang utuh manusia akan memilih beragam hal. Saya pribadi, memilih menikah dan punya anak. Karier sebagai salah satu aspek tentunya beradaptasi dengan kondisi tersebut. It is a challenge, but not an obstacle. Kalau dulu saya bisa nulis begadang dari malam sampai pagi, sekarang jadwal seperti itu tidak bisa dipertahankan.Tapi tidak berarti saya lantas tidak dimampukan untuk berkarya, kan. Hanya saya sekarang saya nulis pada jam yang lain, dengan pola yang lain. Sebetulnya yang bikin stres itu kan ekspektasi. Kalau nggak ingin stres, ekspektasi kita nggak usah ambisius. Kalau dulu pengin berpromo buku 4-5 hari dalam seminggu, sekarang 1-2 hari saja. Tiga harinya bisa dikompensasi dalam promo lain, perbanyak poster, pasang iklan, misalnya. Jadi hanya masalah beda siasat saja.   

Apa sih arti image untuk Dewi Lestari, hidup dengan ‘jaim’ terus, apalagi setelah menjadi selebritis dan menjadi sorotan public?

Image itu seperti peliharaan yang harus terus diberi makan. Everybody has an image to feed. Bukan cuma figur publik, orang biasa pun punya, hanya saja mungkinpeliharaannya lebih kecil dan relatif lebih mudah di-handle. Semakin besar dan gemerlap image yang dipunya, ya, maintenance-nya pun makin susah. Bahkan sampai tingkat tertentu tidak jarang image menjadi lebih besar dari diri kita yang sesungguhnya, sehingga kita dikendalikan image dan bukan sebaliknya. I just have to keep in mind that image is something partial, is a part of us but not us. Secara proporsional kita harus punya ruang dan waktu untuk melepaskan segala image yang melekat dan rileks dengan keberadaan kita yang sesungguhnya, bukan yang dituntut masyarakat. I’d like to think my image is like my Golden Retriever. It’s fun, friendly, and when it’s unleashed, you can feel safe knowing that it won’t kill you while you’re asleep.

Apakah Dewi punya misi jauh ke depan pada setiap pekerjaan yang dilakoni (menulis dan menyanyi)?

Rasanya saya sudah mantap dengan trek pekerjaan ini. Saya juga merasa beruntung menemukannya cukup dini. Jadi program saya hanyalah berkarya dan berkarya. Kalaupun ada pengembangan sifatnya lebih ke pelebaran audiens, satu saat saya ingin karya-karya saya bisa ‘go global’. Nggak cuma di Indonesia saja. 

Saya sempat gemas sekali dengan karakter Elektra (PETIR) yang begitu pemalas, sial terus menerus, tetapi ahirnya beruntung juga dengan perkenalannya dengan bisnis dunia maya warnet. Kenapa sih harus eksistensinya harus seperti itu?

Elektra adalah representasi metamorfosis manusia. Beda dengan Bodhi, atau Diva, yang jelas-jelas sejak awal dianugerahi kualitas ‘super’, Elektra butuh proses panjang untuk menemukan potensi dirinya. Bahkan kisahnya dalam Petir pun sebetulnya masih berupa awalan saja. Elektra mewakili sosok girl next door yang biasa banget, tapi sesungguhnya punya potensi luar biasa. Dan dia menemukannya dengan caranya sendiri, yang konyol, tapi sesungguhnya punya kedalaman. I had so much fun with Elektra, really. Menuliskannya sangat enjoyable, bahkan bisa membuat saya sendiri ngakak-ngakak.


Dee’s Dark Side

Seperti Bapak Freud mengutarakan kehadiran 3 elemen penting dalam setiap unik pribadi seseorang: id, ego, superego. Kali ini aku ingin melihat sisi gelap seorang Dewi Lestari. Dan karena ini majalah cowok Mbak, maaf sebelumnya jika saya ingin menanyakan hal-hal di sekitar seks dan juga hal-hal absurd lainnya, haha. Feel free not to answer. Sewaktu Mbak Dewi diributkan dengan masalah cover buku yang bertuliskan lambang umat Hindu, seperti apa Mbak dewi menanggapinya, sempat marah dulu?

Awalnya sempat kecewa, kesal juga. Bukan apa-apa, tapi karena hal tersebut seperti disengajakan untuk bocor ke pers terlebih dahulu, wartawan tahu duluan lewat faks yang sampai ke mereka beberapa hari lebih awal dibandingkan surat resmi ke saya. Jadi saya menerima kesan bahwa sebagian permasalahan lebih berupa cari sensasi bukan cari solusi. Tapi secara global kasus itu menyadarkan saya bahwa inilah gambaran masyarakat Indonesia. Spektrum consciousness level masyarakat kita sangatlah luas. Dari yang ekstrem fundamentalis sampai universalis ada di sini. Dan masalah simbol itu (dan kasus-kasus seputar simbol berikutnya) merepresentasikan bagaimana Tuhan diproyeksikan begitu beragam. Tidak ada yang salah, semua berpijak dari persepsi kita atas Tuhan, dunia, dan dirinya sendiri. Keputusan saya untuk akhirnya berunding dan berkompromi pun berpulang dari kesimpulan saya bahwa Tuhan tidak perlu dibela dan tidak perlu berpromo (baik lewat sampul novel atau sampul buku apa pun). Lenyapnya lambang Om dari Akar tidak berdampak apa pun bagi Tuhan. Dia tidak tambah besar, tidak juga tambah kecil. Tidak lebih ditinggikan, tidak juga lebih rendah. Wajah dan tapak Tuhan ada di mana-mana, dalam renik debu sekalipun, jadi buat apa didebatkan? Kasus kover Akar dan kasus sejenis sesungguhnya bukan kasus benar atau salah, tapi kasus yang tak perlu ada, alias nggak penting.

Kita terkadang hidup dengan defense mechanism (denial, proyeksi) masing-masing, yang terkadang perlu sewaktu menanggapi masalah, untuk memiliki mental yang sehat (saya sendiri sering ‘bertindak saat baik pada seseorang’ di saat saya justru sangat membencinya). Kalau Mbak Dewi seperti apa, ya?

Defense mechanism saya adalah dengan jurus ‘bird’s eye view’. Ketika ada masalah muncul, saya berusaha berpikir bahwa masalah itu menimpa Dewi Lestari, bukan diri saya yang sesungguhnya. Dewi Lestari itu kan kumpulan opini dari hasil konsensus sosial yang ditumpukkan sejak saya lahir. Seperti kain perca yang menyelimuti kesejatian kita. So when shit happens, it doesn’t really matter. Hanya keterikatan kita pada label sosial kitalah yang menjadikan itu ‘matter’. Tapi kalau kita berpulang pada diri kita yang ‘nonmatter’ then things ‘doesn’t matter’ anymore. Got it? Jurus bird’s eye view itulah yang, menurut saya, dapat sejenak membebaskan kita dari ilusi duniawi, termasuk segala masalah. Ketika beban tersebut lepas, solusi lebih jernih pun bisa didapat.

Pernah nggak menyakiti perasaan orang lain sampai teringat terus, atau bahkan masih bermusuhan sampai sekarang?

Disakiti kali, ye. Pernah. Nggak enak banget. Sebenarnya perasaan marahnya sudah bermutasi seperti ‘nggak usah kenal aja, deh. Kita beda frekuensi’. Beberapa kali dikhianati masalah bisnis, padahal dulunya teman baik, makanya sampai sekarang saya jadi berhati-hati sekali bisnis sama orang, kalau teman/saudara malah saya udah nggak mau sama sekali. Karena kalau ada apa-apa, sakitnya nggak worth it sama hasilnya. Lebih baik nggak usah.

Menyakiti atau disakiti? Yang mana yang lebih baik jika harus memilih?

Hmm. I have to say ‘disakiti’. Hehe. Kalau menyakiti you have to forgive yourself, which is even harder.

Hal apa yang bisa membuat Dewi merasa menjadi manusia terkejam di dunia?

Absolutisme. Tidak memberikan ruang untuk memilih dan wawasan akan pilihan yang ada. Menurut saya, semua kejahatan terbesar dalam sejarah manusia bermuara di situ. Merasa diri absolut yang paling benar dan tidak memberikan ruang bagi opsi.

Pernah tebersit ingin bunuh diri? Karena semua mulai terasa berantakan. Ke mana biasanya Anda ‘berlari’?

Nope. I cannot comprehend a suicide. Yet. Sepertinya dibutuhkan kasus berlatar belakang super luar biasa agar saya bisa memahami/memaklumi aksi bunuh diri. Tapi saya percaya kematian seharusnya adalah gerbang menuju sesuatu yang lebih baik. 

Bagaimana dengan membunuh, pernah paling nggak tebesit untuk membunuh orang lain?

Membayangkan membunuh in action sih, nggak. Tapi kalau membayangkan Bumi ini dikurangi populasinya sampai paling tidak setengah, pernah. Bahkan sering. Is it the same thing? I dunno.

Bagian tubuh pria yang paling menarik? Seperti saya yang adalah “leg person” hahaha…

Neck – one that’s firm, not too slender. Flat abdomen is also appealing. A bit muscley arm is nice as well. Dan juga urat kecil yang suka nongol di jidat, nggak tahu itu apa, but for me it’s a beautiful sight to see. But above all, pria yang menarik itu tidak dinilai dari tubuh, tapi auranya saat dia sedang asyik-asyiknya bekerja, now that is very sexy.

Pernah nggak sih menolak cinta orang lain, sampai pria itu begitu sakit hati?

Sering. Hehehe. But truly, it’s not something that I’m proud of. Seringnya saya jadi sedih dan miris. Cinta itu kan energi yang luar biasa, ya. Begitu melihat cinta salah alamat saya suka miris, andaikan cinta berbalas pasti dentumannya luar biasa. Tapi kalau tidak rasanya seperti nabrak dinding. Saya cuma berharap dinding itu bisa disikapi seperti cermin, jadi energi itu bisa terpantul dan menjadikan kita tambah kuat, bukannya malah buyar nggak karuan. Nggak jarang saya menyesalkan my unfortunate position sebagai si ‘penolak’, seriously. Lebih baik ditolak, kali. Terlebih kalau sikap atau kebaikan kita ternyata mislead or misguide other people. Aduh, nggak enak banget. 

Apa arti seks untuk Dewi Lestari?

Sex is one of God’s primal languages. Sex in a big picture is to exchange. Pertukaran dan saling-silang energi yang menghasilkan kehidupan baru.