Showing posts with label 2015. Show all posts
Showing posts with label 2015. Show all posts

Wednesday, February 17, 2016

Rula.Co.Id | Vegetarian | Januari, 2015 | by Natasha Tampi

Alasan Dee memilih menjadi vegetarian?

Saya mulai bervegetarian tahun 2006 karena alasan lingkungan hidup. Saat itu saya banyak riset tentang lingkungan hidup untuk buku saya, Supernova Partikel. Dan, dari riset tersebut saya menemukan informasi tentang dampak konsumsi daging, khususnya hewan ternak, terhadap pemanasan global. Jadi, waktu itu saya putuskan untuk mencoba bervegetarian.

Bisa diceritakan pengalaman Dee menjadi vegetarian?

Secara fisik, saya bisa merasakan tubuh lebih ringan. Memang ada proses adaptasi karena kenyangnya beda. Waktu awal-awal bervegetarian, berat saya sempat naik karena saya selalu merasa kurang kenyang. Ternyata memang kalau vegetarian itu kenyangnya di perut tidak terasa berat, jadi saya sempat terkecoh karena mengira perut saya masih lapar. Belanja lebih simpel karena otomatis dengan bervegetarian pilihan makanan saya menyempit. Bervegetarian juga akhirnya memaksa saya belajar masak, karena tidak terlalu gampang mencari menu vegetarian kalau take-away, dan kalau resep pengolahannya tidak diulik bisa jadi membosankan karena itu-itu lagi.

Alasan berhenti menjadi vegetarian?

Kira-kira tiga tahun yang lalu, saya merasakan tubuh saya seperti bergeser keinginannya. Timbul “craving” untuk makanan non-vegetarian. Saya sempat coba diamkan dulu tapi ternyata malah makin menguat. Karena saya prinsipnya lebih mendengarkan ke kebutuhan tubuh dan tidak fanatik terhadap satu gaya diet tertentu, saya coba ikuti saja pelan-pelan. Tentu, tidak bisa sekaligus juga supaya badan saya tidak kaget. Sekarang saya tetap bervegetarian dua kali seminggu karena saya sadar dampak mengurangi daging sangat baik dan efektif untuk lingkungan hidup. Jadi, walaupun tidak lagi tiap hari, saya tetap mendedikasikan waktu tertentu untuk pola makan vegetarian.

Bagaimana dukungan keluarga saat menjadi ataupun berhenti menjadi seorang vegetarian?

Awalnya tidak mudah, karena satu keluarga kami vegetarian, kecuali anak saya yang paling besar. Saat ini jadinya yang full vegetarian adalah suami dan anak saya yang bungsu, sementara saya dan anak saya yang paling besar tidak full. Tantangannya adalah jadi butuh lebih banyak variasi makanan di rumah. Ada yang vegetarian dan tidak. Tapi, lama-lama terbiasa juga, bahkan saya senang dengan variasi ini karena saya jadi tertantang untuk menguasai berbagai macam pengolahan jenis masakan.

JAWA POS Deteksi | Menulis Cerpen ala Dee | November, 2015 | by Wicak

-->  
Bagaimana sih komposisi membuat cerita pendek ala Mbak Dee? Saya harap bisa dibagi minimal tiga komposisi saja.

Saya rasa semua cerita, baik novel maupun cerpen, komposisinya kurang lebih sama, yakni struktur 3 babak. Dimulai dengan tesis, kemudian anti-tesis, dan terakhir sintesis. Bedanya, dalam cerpen biasanya ditekankan unsur kejutan, sebuah pertanyaan atau perenungan yang mengusik. Jika dalam novel kita punya banyak kesempatan untuk mengungkapkan back-story atau cerita latar, dalam cerpen kita biasanya fokus cerita utama saja. Kalau dalam novel kita bisa leluasa memainkan karakter dengan jumlah banyak, dalam cerpen saya cenderung memakai karakter yang lebih sedikit.

Hal apa yang menginspirasi Mbak Dee sehingga dapat membuat cerita yang menarik?

Banyak sebetulnya, saya tidak bisa terlalu memformulasikannya. Yang jelas, ada hal-hal yang menurut saya punya unsur fiksi. Bisa dikembangkan menjadi sebuah drama. Fakta yang kering baru bisa punya drama ketika kita memasukkan unsur emosi, dramatisasi. Potensi itu yang saya lihat ketika saya memilih satu topik untuk dikembangkan. Dalam Filosofi Kopi, misalnya, sekadar segelas kopi belum tentu bisa berkembang menjadi drama, tapi ketika dilihat dari perspektif seseorang yang terobsesi dengan kopi dan punya ambisi membuat kopi terbaik, itu menjadi drama.

Isu seperti apa sih yang cocok diangkat oleh generasi muda khususnya pelajar SMP/SMA agar menciptakan plot cerita yang menarik? 

Setiap penulis, terlepas dari usianya, menurut saya sudah punya ketertarikan “bawaan”. Sesuatu yang menarik dan menggelisahkannya. Terkadang, penulis harus mengalami satu momen dramatis dalam hidupnya terlebih dahulu yang lantas mendorongnya untuk bercerita. Tiap orang tentu beda-beda, bergantung apa yang terjadi dalam hidupnya dan bagaimana ia mencernanya. Jadi, tidak bisa kita generalisasi topik-topik yang cocok untuk segmentasi usia tertentu. Pilihan tema atau isu adalah pilihan yang sangat personal. Ketertarikan seseorang tidak bisa dipaksakan. Namun, untuk menjadikannya cerita yang menarik dibutuhkan skill, pengetahuan, dan latihan. Hal ini bisa dilatih dan dipertajam dengan membaca, ikut workshop, dan terus menulis.

Majalah TEMPO | Musik & Memori '90-an | November, 2015 | by Aisha Shaidra

Sebagai salah satu musisi yang terkenal di era 90-an adakah musisi di era yang sama yang jadi idola Dee Lestari? Siapa dan kenapa?

Banyak. Pada umumnya saya menyukai para penulis/pencipta lagu (singer-songwriter) seperti Sarah McLachlan dan Paula Cole. Untuk band saya menyukai Tears For Fears (walaupun mereka lebih 80’s ketimbang 90’s). Dan, secara umum saya menyukai musik-musik 90’s seperti Pearl Jam, Blind Melon, Crowded House, dsb. Untuk musik Indonesia tahun segitu saya senang juga Sheila On 7, Padi, Tic Band, Jikustik.

Banyak lagu yang diciptakan Dee untuk RSD, jika bisa kembali ke era 90-an adakah lirik lagu yang ingin diubah dari lirik atau segi musiknya? Kenapa?

Nggak, sih. Saya rasa, baik lirik maupun musik, memang akan selalu mencirikan sebuah zaman. Kalau diubah malah bisa jadi berubah nuansa waktunya. Kecuali kalau konteksnya re-make untuk dibuat lebih dekat ke zaman sekarang. Tapi kalau konteksnya “menyesal”, andaikan dulu dibikin begitu dan begini, nggak ada perasaan seperti itu, sih.

Banyak orang dewasa saat ini mengelu-elukan banyaknya tontonan menarik pada masa kecil mereka dibandingkan dengan tontonan saat ini, bagi Dee sendiri tontonan di era 90-an apa yang saat itu paling menarik dan berkesan? Kenapa?

Saya bukan penonton televisi. Tapi, yang saya ingat, tahun 90’an adalah masa kejayaan MTV Indonesia. Selain itu, sitkom Friends juga sangat terkenal. Saya juga ingat beberapa sinetron di Indosiar pada awal mereka berdiri itu bagus-bagus, seperti Abad 21, Kipas-Kipas Asmara, dll.

Pertanyaan serupa berlaku juga untuk beragam jenis permainan dan jajanan, jenis permainan dan jajanan apa yang di era 90-an banyak dimainkan dan sangat berkesan buat Dee?

Tahun ‘93 saya sudah kuliah, jadi nggak terlalu lagi melakukan permainan kanak-kanak dan jajan. Tapi, yang saya ingat sih, saya main PS dan sering ke warnet untuk browsing karena waktu itu belum punya koneksi internet sendiri. Jajanan rasanya nggak ada yang terlalu spesifik, tapi saya ingat itu adalah awal-awalnya kuliner di Bandung mulai terkenal ke Jakarta. Banyak yang datang untuk memborong pisang molen, batagor, dan variasi serabi mulai macam-macam, bukan cuma oncom dan gula merah.

Barang seperti apa yang pada era tersebut menurut Dee sangat keren (barang di sini misalnya mainan, atau benda-benda pakai yang hits pada saat itu)? Kenapa?

Sepatu Doctor Marten. Keren, karena memang keren, sih. Sampai sekarang juga model sepatu Docmart tetap tidak lekang oleh zaman, dan kualitasnya memang bagus. Juga jins Levi’s 501 yang pakai kancing (bukan ritsleting). Bagi saya, model jins seperti itu lebih manusiawi ketimbang model skinny jeans zaman sekarang yang mencekik kaki.

Kalau misalnya Dee diberi kesempatan untuk menjadi salah satu tokoh kartun anak yang terkenal di tahun 90-an Dee pilih menjadi siapa? Kenapa?

Saya nggak ingat tokoh kartun terkenal tahun ’90-an. Seingatku, Doraemon. Tapi sampai sekarang Doraemon tetap beken. Saya nggak pengin jadi Doraemon, tapi mau kalau punya teman kayak Doraemon

Seantusias apa Dee menyiapkan diri untuk berpartisipasi dan menyambut konser 90-an (The 90's Festival di Istora Senayan)?

Buat saya sih, dibawa santai saja. Tidak terlalu tegang juga, karena toh, sebetulnya orang datang kebanyakan untuk nostalgia. Kami nyanyi juga bukan untuk lagi mengejar ambisi tertentu atau ingin eksis, tapi karena untuk bersenang-senang.

KOMPAS | Kompas Kita: Q&A Dee Lestari | Mei, 2015 | by Susie Berindra


Sudah lama Dee menuangkan ide lewat cerita dan juga lagu. Jika harus memilih, manakah yang paling memuaskan bagi Dee? - Anggun Gita Sari

Saya juga punya kebutuhan berbeda untuk setiap pendekatan bercerita. Bagi saya fiksi dan lagu itu komplementer sifatnya, tidak saling menggantikan. Kepuasan yang dihasilkan masing-masing format juga berbeda, meski pada intinya sama-sama bercerita.

Apakah ada misi khusus Dee dibalik penulisan Supernova sampai 5 jilid dan bahkan akan menerbitkan lagi yang keenam? Sejak awal sudah direncanakan Supernova akan sampai 6 jilid? - Iko Boangmanalu

Sudah direncanakan dari awal. Misinya sederhana: menyelesaikan cerita. Supernova episode pertama hanya sepotong dari keseluruhan cerita dalam kepala saya.

Apa yang menjadi resep Dee selalu produktif berkarya, baik itu dalam literasi atau musik? Lalu syarat apa yang mesti dipenuhi agar sebuah karya dapat diterima masyarakat? Bagus Setyoko Purwo

Tujuan saya berkarya semata-mata karena banyak yang ingin saya ungkapkan. Mungkin kalau sudah tidak ada lagi yang ingin disampaikan, baru saya berhenti. Saya rasa tidak ada syarat khusus agar karya kita diterima masyarakat, yang jelas karya yang disukai adalah karya yang mampu menciptakan ikatan dengan penikmatnya.

Sebagai penulis, pernahkan Anda  mengalami kebuntuan ide? Lalu bagaimana cara mengatasinya? Christina M

Kebuntuan yang ringan cukup diatasi dengan hal-hal yang sederhana, seperti istirahat, mandi, atau baca buku. Kalau cerita stagnan berkepanjangan, biasanya perlu dirombak secara teknis. Elemen fiksinya dikaji ulang dan diganti, bahkan ditulis ulang.

Bermusik dan menulis adalah kanal untuk berekspresi, itu yang saya baca dalam sebuah artikel ttg Mbak Dee. "Ritual" seperti apa sih yang selalu dilakukan untuk mendapatkan ekspresi yang mendalam saat bercerita lewat novel? Apa secangkir kopi punya "dongeng" tersendiri yg mempengaruhi setiap karya Mbak Dee Lestari? – Uniqa Wardhani

Tidak ada ritual khusus selain disiplin mendedikasikan waktu dan fokus sampai proyeknya selesai. Bekerja dengan takaran yang terhitung dan punya deadline. Kadang ditemani kopi, kadang tidak. Saya berusaha tidak fanatik pada satu ritual khusus karena saya tidak ingin menciptakan ketergantungan yang merepotkan. Kalau nggak ada kopi lalu jadi nggak bisa kerja, kan repot jadinya.

Kira-kira apa yang menginspirasi Dee sehingga film Filosofi Kopi berhasil ditayangkan? Apakah ada tokoh sehingga membuat Dee terinspirasi untuk membuat film tersebut? – Hesrianus Cengga
              
Keberhasilan Filosofi Kopi sebagai film adalah hasil kerja keras tim dari Visinema. Saya hanya melepas hak adaptasi dan membantu pembangunan cerita pada tahap awal. Cerpen Filosofi Kopi sudah saya tulis lama sekali, dari tahun 1996. Saya tidak membasiskannya pada siapa-siapa. Hanya ingin membuat cerita seputar kopi, itu saja.

Sejak kapan Anda menekuni aktivitas menulis? Apa motivasi Anda terjun ke dunia literasi? – Ardiansyah Bagus Suryanto

Sebagai hobi, dari kecil. Dari usia 9 tahun saya sudah mulai mencoba menulis cerita panjang. Secara profesional, baru tahun 2001 ketika Supernova terbit. Saya menulis karena saya merasa tema-tema yang saya suka belum banyak ditemukan di pustaka Indonesia. Pada dasarnya saya menulis apa yang saya ingin baca.

Membuat tulisan bertema science fiction tidaklah mudah. Kendala apa saja yang muncul ketika menulis? – Dwi Atika Sari

Intinya, membuat novel memang tidak mudah. Kita harus punya komitmen, intuisi bercerita, paham struktur dan menguasai teknik menulis. Mau itu science fiction atau chick lit, akan susah kalau penulisnya tidak punya minat kuat atas apa yang ia tulis. Selama penulisnya suka dan tertarik dengan tema tulisannya, ia akan menggali dengan semangat. Kesulitan utama menulis bukan di tema, tapi bagaimana bercerita sebaik dan sejernih mungkin.

Dee, walaupun hanya bisa berjumpa lewat tulisan ini, aku ingin menyampaikan bahwa aku apreciate dengan karya-karyamu. Kamu telah merampas tiga malamku untuk menyelesaikan tiga karyamu! Melalui media Kompas Kita ini, aku mau bertanya kepadamu, passion apa yang paling membuatmu berkarya sampai saat ini? Sekaligus apa yang Dee lakukan untuk menjaganya tetap ada dan membara? – Jois Efendi

Terima kasih untuk apresiasinya. Banyak ide dalam kepala saya. Medium yang saya suka adalah lagu dan tulisan. Keduanya adalah skill yang menarik dan menantang. Setiap karya adalah ajang saya untuk belajar dan melepas ide-ide dalam kepala saya.

Saat ini semakin banyak para penulis novel seperti Dee yang saling berebut untuk memenangkan hati para pembaca. Bagaimana Dee menanggapi hal ini, apa saja yang dilakukan Dee agar karya Dee dapat mendapat tempat di hati para pembaca untuk selalu menunggu karya-karya Dee selanjutnya? – Nurus Syarifah

Berusaha memuaskan pembaca adalah motivasi berbahaya bagi penulis. Pertama, karena kita tidak mungkin memuaskan semua orang. Kedua, kita kehilangan otensisitas atas apa yang menurut kita paling penting. Tulislah apa yang bagi kita penting, mendesak, menggemaskan. Dan, tulislah sebaik dan sejernih yang kita bisa. Itu saja resep saya.  

Saya baru baca Filosofi Kopi dan Madre. Dulu baca Supernova (Akar) tapi nggak ngeh dan pusing, hehe. Kapan bikin novel true story tentang Tuhan versi Dee yang teologinya kayaknya ‘timur’ banget? Atau tentang kehidupan pribadi Dee bagaimana kegetiran perceraian dan tentang anak-anak, atau cerita-cerita tentang riak-riak kehidupan di rumah? – Amin Nurrokhman

Belum tahu. Sekarang belum tergerak.

Saya sangat antusias membaca karya Mbak. Madre, Filosofi Kopi, adalah salah satu kegemaran saya. Materinya ringan tapi sarat dengan makna. Yang ingin saya tanyakan, pertama, apa arti menulis buat Mbak? Kedua, apakah Mbak merasakan apa yang Mbak tulis? – Nordin                   

Menulis bagi saya adalah seni menyampaikan ide. Merasakan dalam arti emosi, tentu pernah. Kalau saya menulis tentang hal yang sedih tapi tidak ikut merasakan kesedihannya, berarti tulisan itu belum berhasil.  

Apakah ide dari cerita yang Dee tuangkan dalam novel merupakan ide murni dari pemikiran Dee sendiri ataukah ditambah ide yang telah ada di novel kebanyakan? Saya juga sering mendapatkan ide untuk cerita tetapi ketika dituangkan rasanya sulit sekali. Pernahkah Dee mengalami hal seperti itu dan bagaimana solusinya? – Dharmana Dhini Cipta Telaga

Yang saya tulis selalu kombinasi dari imajinasi, hasil pengamatan, hasil pengalaman. Termasuk mungkin di dalamnya buku-buku yang pernah saya baca. Kesulitan menuangkan ide biasanya karena kurang latihan dan jam terbang, begitu sering dilakukan, kita akan tahu sendiri tekniknya.  

Adakah di antara karya Dee, baik buku maupun lagu, yang merupakan pengalaman pribadi Mbak Dewi? Saya mengusulkan bagaimana kalau yang menjadi tokoh utama dalam layar lebarnya adalah Mbak sendiri. – Zenny Anaria

Kalau pun ada pengalaman pribadi, biasanya sudah tercampur unsur lain. Saya belum pernah berkarya yang sifatnya otobiografis. Untuk menjadi tokoh utama dalam layar lebar, sejauh ini belum terpikir dan belum tertarik. 

Bagi saya novel-novel Mbak Dee adalah sebuah alternatif. Alternatif dari miskinnya gagasan di Indonesia kontemporer. Saat ini adalah eranya pragmatisme, materialisme, dan budaya instan. Jadi, novel, juga film yang diadaptasi dari novel Mbak Dee-lah jawaban atas budaya yang diusung dunia modern tadi. Saya berharap Mbak Dee terus menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk novel. Pertanyaan buat Mbak Dee, apa pendapatnya tentang kemalasan berpikir, budaya baca yang rendah, dan tradisi menulis yang belum mengakar dalam masyarakat Indonesia saat ini? – Darwinto

Terima kasih atas apresiasinya. Kalau kita bicara kultur, tentu kita bicara proses ratusan tahun, dan untuk membalikkannya tidak bisa dalam waktu singkat. Kita bisa menjadi agen perubahan dengan ikut aktif menjadi pelaku komunitas baca dan tulis. Mulai dari diri sendiri dan keluarga sendiri, misalnya. Setelah itu kita bisa melangkah lebih jauh dengan berkarya, bisa lewat blogging atau tulisan singkat. Dari level pemerintah juga banyak kebijakan yang bisa diberlakukan, salah satunya adalah bagaimana pemerintah bisa memproduksi buku lebih murah, mendorong penerjemahan, dan meningkatkan jumlah perpustakaan. 

Setiap penulis mempunyai diferensiasi pada karyanya, dan diferensiasi karya Dee ada pada tema yang selalu mengusung pencarian jati diri. Bagaimana defferensiasi itu awalnya terjadi? Apakah sengaja dibuat untuk membedakan karya Dee dgn karya-karya lain, atau ada dengan sendirinya? – Muh Turmudi              

Setiap penulis umumnya umumnya berkarya diawali oleh kegelisahan. Kegelisahan itu tidak bisa “diatur”. Segala bentukan lingkungan dan konstruksi batin seseorang akan memicu adanya kegelisahan yang kemudian diburu lewat mempertanyakan, lewat ekspresi seni, lewat kreasi, dan seterusnya. Kegelisahan saya yang terbesar memang sejak dulu berpusat di aspek spiritualitas.

Siapa sajakah yang menjadi inspirasi Dee dalam menulis novel ? – Laras Kusumaningtyas

Saya mengamati banyak orang, dan biasanya orang-orang yang saya temui bercampur menjadi karakter. Saking banyaknya saya tidak bisa lagi menyebutkan satu-satu.

Saya penasaran, dari mana nama pena "Dee" itu, serta apakah ada makna terselip di dalamnya? Bagaimana Dee menjalani multiperannya, yaitu ibu, penulis, penulis lagu, penyanyi? Mengalir saja, ataukah ada manajemen waktu sedemikian rupa sehingga tetap dapat menjalankan tugas di dalam rumah sekaligus menjalankan karier-kariernya? – Hesty Puji Rahayu

Waktu kuliah dulu, saya pakai ransel dengan inisial “D”. Sejak itu mulai suka dipanggil “D” (Dee) oleh beberapa orang. Saya senang dengan sebutan itu karena simpel. Menjalani multiperan mengalir saja dengan banyak trial and error, tentunya. Yang menantang adalah bagaimana menyusun prioritas dari waktu ke waktu, dan konsisten menjalaninya. Misal, ketika saya sudah harus intensif menulis, saya harus berani menolak banyak tawaran pekerjaan dan proyek kreatif lain, sebab waktu saya untuk rumah dan keluarga juga sudah memakan besar porsi hari-hari saya. Kalau saya ambil semuanya, pasti ada yang keteteran. Saya tidak ingin keluarga saya jadi korban hanya karena saya mengejar karier. Waktu 24 jam sehari tidak bisa ditambah, jadi saya harus memaksimalkan ketersediaan waktu yang ada.

Dee dan Arina (Mocca) kan adik kakak kandung, bagaimana bisa jadi figur yang keduanya penuh karya dan menginspirasi? Kalau boleh tahu bagaimana kebiasaan didikan keluarga sehingga bisa menjadi figur yang menginspirasi banyak orang? – Nida Hadaina Farida

Ketika kami kecil, kami tidak terpikir untuk bercita-cita jadi seniman. Tapi hidup kami sehari-hari memang sudah dipadati kegiatan seni, dari main musik, nyanyi, menggambar, dan sebagainya. Orang tua kami sangat mengutamakan soal akademis, dan itu jadi syarat untuk kami tetap meneruskan hobi seni. Di sisi lain, orang tua kami juga sangat suportif. Kami semua diberi kesempatan les musik. Rumah kami menjadi markas besar untuk kegiatan musik, latihan paduan suara sekolah, gereja, vokal group, band, dan lain-lain. Jadi, kegiatan berkesenian itu sudah seperti atmosfer tetap di rumah kami.

Monday, April 27, 2015

Harian KOMPAS | Produk Lokal | April, 2015 | by Fellycia Nova Kuaranita


Saat ini, dalam memilih barang, apakah Mbak Dee merasa penting untuk sebisa mungkin memilih produk-produk lokal? Jika iya, apa pertimbangannya?

Untuk kebanyakan barang, terutama pangan, saya sebisa mungkin pilih lokal. Pilihan konsumen itu sebetulnya punya implikasi besar, bahkan politis, apa yang kita pilih di supermarket atau pasar ibaratnya voting untuk menentukan arah perekonomian bangsa dan nasib banyak orang. Saya merasa manfaat sosial, ekonomi, dan ekologinya jauh lebih banyak jika kita memilih barang lokal. Secara langsung dan tidak langsung kita membantu pengrajin, produsen, petani, bahkan ikut memangkas emisi karbon karena barang impor punya jejak karbon yang lebih besar ketimbang barang lokal.

Biasanya, Mbak Dee menggunakan produk/barang lokal untuk kebutuhan apa saja?

Untuk pangan hampir selalu saya pilih produk lokal. Untuk sandang, tergantung kebutuhan. Jika punya kesempatan tampil di forum internasional, saya selalu mengusahakan memakai busana desainer lokal.

Khususnya dalam hal pangan, bagaimana Mbak Dee menerapkan gaya hidup untuk mengonsumsi produk pangan lokal? Menurut Mbak Dee, apa keuntungannya?

Dari kesegaran, menurut saya lebih baik memilih produk pangan lokal karena mata rantai perjalanannya lebih pendek ketimbang impor. Hanya kalau butuh produk yang spesifik yang memang belum diproduksi di sini, baru saya pakai yang impor.

Apakah penting bagi Mbak Dee untuk memilih produk yang sudah terstandarisasi (misalnya SNI)? Mengapa?

Tergantung produknya sih, kalau produk kemasan dan produk elektronik misalnya, saya biasa cari yang sudah ada SNI atau ISO-nya. Tapi untuk produk segar, biasanya saya perhatikan konsistensi dan sertifikasinya, karena saya cenderung memilih yang organik.

Sebagai konsumen, apa saran atau usul Mbak Dee untuk meningkatkan kualitas produk lokal secara umum? (monggo ditambahkan jika ada komentar atau usul lain tentang produk/pangan lokal yang lebih spesifik)

Secara umum, sepertinya yang kita butuhkan adalah inovasi dan kemasan. Pengemasan barang, dalam arti desain hingga pemasaran, akan sangat menentukan dia diminati atau tidak. Juga inovasi, pemanfaatan tekstil tradisional dikawinkan dengan desain modern, misalnya, akan sangat membantu produk tersebut punya market yang lebih luas.

Menurut Mbak Dee, apa saja tantangan dalam mengajak masyarakat Indonesia secara umum untuk mencintai yang lokal, baik produk industri maupun pangan?

Kepercayaan konsumen, tata niaga yang juga sepertinya lebih bisa disokong oleh pemerintah, akan menentukan minat terhadap produk lokal. Kebetulan saya sering mengikuti rembukan teman-teman yang merintis BEKRAF. Tantangannya memang banyak dan besar, terutama bagaimana mensinergikan kebijakan pemerintah agar kondusif bagi industri dan kreator lokal.

Elle Magazine | Pendidikan Formal & Karier | April, 2015 | by Giovani Untari


Background pendidikan Anda bisa dibilang 180 derajat berbeda dengan pekerjaan Anda geluti sekarang, apa yang membuat Anda  akhirnya memilih karier yang berseebrangan dengan jurusan Anda?

Sebenarnya saya tidak “memilih” untuk berseberangan, tapi karier saya memang sudah dimulai dari sejak bangku kuliah. Saya mulai menyanyi profesional dari semester pertama kuliah. Jadi, sepanjang perkuliahan saya sudah menyambi kuliah dengan menyanyi.  Otomatis ketika lulus, saya sudah tinggal meneruskan karier saya.

Bagaimana rasanya memiliki pekerjaan yang berbeda dengan jalur pendidikan Anda? 

Biasa saja, sih. Karena pada kenyataannya memang banyak sekali yang demikian, jadi saya nggak merasa aneh sendiri. Lulusan Hubungan Internasional yang benar-benar berkarier di jalur diplomatik sangat sedikit. Setidaknya dari yang saya tahu, kebanyakan berkarier di luar itu, entah jadi humas, penyiar, advertising, atau yang menempuh jalur akademis (jadi dosen, dsb).

Apakah awalnya Anda merasa aneh / tidak nyaman dengan pekerjaan Anda yang berbeda dengan jurusan Anda tersebut ?

Tidak, karena menyanyi dan menulis sudah menjadi hobi saya sejak kecil. Kuliah lebih terasa “sampingan” malah, ketimbang kedua hobi tersebut.

Apakah ada ilmu yang dibawa dari jurusan Anda tersebut terhadap pekerjaan ini?

Skill menulis saya cukup banyak dilatih lewat jurusan Hubungan Internasional karena soal-soal ujian kebanyakan esai, jadi harus terbiasa mengungkapkan pikiran lewat tulisan.

Apa suka dan dukanya memiliki karier yang berbeda dengan jurusan Anda?

Waktu kuliah saya sempat terpikir untuk berhenti karena merasa memang nggak bakal nyambung dan ilmu saya nggak akan terpakai untuk pilihan karier saya kelak. Tapi saya bertahan karena janji saya pada orang tua. Dan akhirnya saya mulai menikmati kuliah justru di saat-saat terakhir yakni waktu membuat skripsi.

Apakah Anda puas dengan karier yang Anda miliki sekarang?

Sangat puas.

Bagaimana pesan Anda bagi perempuan yang mungkin saja ingin mencoba peruntungan bidang pekerjaan yang berbeda dengan lulusan mereka sebelumnya?

Sebenarnya sangat umum untuk orang-orang akhirnya berkarier di luar dari pendidikan formal mereka. Saya rasa karena pada akhirnya orang memilih pekerjaan berdasarkan passion atau kondisi alias terpaksa. Jadi, beruntunglah mereka yang akhirnya bisa memilih bukan karena terpaksa tapi karena memang passionate di bidangnya. Saya rasa itu bisa diraih dengan menemukan apa yang paling kita suka dan apa yang kita gemari, lalu kita tekuni hingga passion itu akhirnya menjadi skill.

Majalah Eduguide | Hari Buku Nasional | April, 2015 | by Lian Amigo


Apa makna HBN bagi Anda? Tujuan HBN ialah untuk meningkatkan minat baca, serta menumbuhkan produksi buku di Indonesia. Apakah tujuan itu menurut Anda sudah tercapai?

Hari Buku Nasional, seperti “Hari”-“Hari” lainnya, menurut saya adalah seremoni, maknanya tak lebih dari perayaan, pengingat, dan peningkatan ‘awareness’. Sementara meningkatkan minat baca serta menumbuhkan produksi buku adalah tujuan yang membutuhkan usaha yang jauh lebih intensif dalam periode waktu yang panjang dari sekadar mengandalkan momentum perayaan Hari Buku Nasional.

Banyak orangtua mengeluh soal mahalnya buku sekolah, ditambah wajib ganti setiap tahun. Bagaimana Anda memandang ini?

Buku pelajaran memang idealnya disubsidi oleh pemerintah. Saya rasa perubahan kurikulum yang terlalu sering juga mengakibatkan buku-buku harus berganti dan ini membebani siswa/orang tua.

Ada yang mengatakan, mahalnya buku lantaran berbagai pajak yang dikenakan, termasuk pajak penulis. Tanggapan Anda?

Buku pelajaran setahu saya bebas pajak (PPN), mohon diklarifikasi. Tapi keringanan untuk buku tidak harus datang dari pajak semata, melainkan juga keringanan dari bahan baku, dsb. Pajak royalti untuk penulis memang cukup besar, saya pun merasa ini perlu ditinjau ulang mengingat sulit untuk menjadi penulis full time.

Pameran buku yang diadakan di Indonesia kelihatannya kurang agresif. Apakah Anda melihat karena pemerintah kurang menyokong? Dalam hal menumbuhkan minat baca, saran Anda kepada pemerintah untuk memasyarakatkan minat tersebut?

Khusus untuk pameran kelas internasional menurut saya memang kurang disokong, karena selama ini gagal menyelenggarakan di tempat yang lebih representatif dan prestisius. Kalau di Pulau Jawa menurut saya acara buku sudah cukup banyak. Di daerah yang sangat kurang. Harga buku juga jauh lebih tinggi karena tingginya biaya distribusi. Saya berharap pemerintah lebih memerhatikan kegiatan-kegiatan perbukuan dan kepenulisan di luar P. Jawa. Otomatis itu akan meningkatkan minat baca, karena buku “didekatkan” ke masyarakat.

Apakah Anda memiliki ide agar masyarakat senang membaca? Di Inggris, para pemadam kebakaran datang ke sekolah-sekolah TK khusus untuk membacakan buku cerita. Kita berharap ini terjadi di Indonesia dan bisa dimulai lewat artis, pejabat dan sosok-sosok yang terkenal. Menurut Anda?

Saya rasa, kegiatan semacam itu sifatnya seremonial saja. Tidak akan menyentuh akar masalahnya, walau mungkin membantu dari nilai promosi. Di Inggris, kultur membaca sudah sangat kuat. Di Indonesia belum. Jadi, yang perlu dibenahi menurut saya lebih mendasar daripada sekadar mengajak sosok terkenal untuk keliling membacakan buku. Dari hulu dan hilir harus dihidupkan. Memperbanyak taman bacaan, mendukung toko buku kecil, menyediakan bacaan murah, mensubsidi buku, meningkatkan kegiatan membaca di sekolah melalui cara-cara yang lebih menarik, menurut saya adalah hal-hal yang lebih berarti.


Muvila.Com | Film Filosofi Kopi | April, 2015 | by Eka Pratiwi


Berapa pihak yang pernah mendekati Dee untuk memfilmkan Filosofi Kopi? Mengapa akhirnya jatuh ke Angga Dwimas Sasongko/Visinema?

Waktu itu ada tiga pihak yang serius untuk membeli hak adaptasi Filosofi Kopi. Saya berbincang dengan masing-masing pihak untuk mengetahui ide dan visi mereka atas film Filosofi Kopi nanti. Bagi saya, ide dan visi Angga terasa fresh dan “beyond” sekadar produk film saja. Angga sudah berbicara tentang “user-generated-movie” untuk melibatkan para penonton ikut mengambil beberapa keputusan artistik film, dsb. Sejauh ini, eksekusi dari pihak Angga memang memuaskan dan inovatif. Filosofi Kopi tidak dikreasikan sebatas film saja, tapi meliputi aktivasi-aktivasi yang memperkuat Filosofi Kopi sebagai brand. Secara konten, Angga juga sejalan dengan saya untuk melebarkan cerita Filosofi Kopi, jadi tidak patuh sepenuhnya pada cerita asli.

Kriteria apa yang membuat Dee bersedia karya-karyanya untuk dijadikan film? Dan sebaliknya, kriteria apa yang membuat Dee menolak?

Saya lihat keseriusan mereka dan kesiapan mereka untuk membuat film dengan production value yang bagus. Dari pertemuan dan bincang-bincang mengenai konsep, saya juga akan menilai chemistry­-nya nyambung atau enggak, karena saya harus merasa nyaman kerja bareng mereka. Lalu, secara kreatif, ke arah mana mereka akan membawa cerita asli. Tentu, itu semua mengandung unsur trial and error, semakin ke sini saya juga semakin belajar untuk mengetahui proporsi keterlibatan yang pas, dan parameter apa saja yang penting untuk dijadikan pertimbangan.

Tentang proses adaptasi buku Dee ke film, apakah keputusan terbesar ada di penerbit atau di pengarang, apakah bisa lanjut bila pengarang menolak/tidak merestui? Kompensasi apa yang didapat oleh pengarang?

Dalam kasus saya, keputusan menerima/menolak sepenuhnya ada di tangan penulis. Itu memang bergantung dari kontrak antara penulis dan penerbit. Saya dengar ada juga kontrak penulis-penerbit yang mengikat penerbit untuk ikut punya hak kalau karya penulisnya difilmkan. Kontrak saya tidak seperti itu. Kompensasi yang didapat penulis sama seperti royalti. Biasanya dibayar putus di depan, jadi semacam advanced royalty. Ada juga yang menawarkan prosentase / bonus dalam jumlah tertentu ketika jumlah penonton mencapai angka X. Tapi kompensasi utamanya biasanya dibayar di duluan di depan. Ketika penulis sudah dibeli hak adaptasinya, sebetulnya urusan utama dengan produser selesai sampai di situ. Kalau di jalan tahu-tahu pengarang menolak atau tidak memberi restu, menurut saya itu hanya akan jadi tindakan moril saja, tidak berpengaruh kepada urusan legal, kecuali kalau pengarang memutus kontrak yang tentu ada konsekuensi hukum dan finansialnya.

Menurut Dee, seberapa perlu pengarang terlibat aktif dalam versi film dari tulisannya?

Bergantung keinginan dan kapasitas penulisnya, sih. Juga bergantung dari keinginan produser. Menurut saya, yang paling ideal pengarang dilibatkan dalam pembangunan cerita. Bukan hanya secara informal tapi benar-benar dimasukkan secara struktural jadi opininya nggak cuma numpang lewat. Tapi, ada produser yang tidak ingin “direcoki” oleh penulis. Dan, ada juga penulis yang benar-benar tidak mau terlibat, atau malah ingin terlibat penuh sebagai produser bahkan penulis skenario. Kalau saya, paling tidak inginnya terlibat sebagai konsultan cerita secara formal. Menulis skenario atau memproduseri, itu bergantung dari saya punya kapasitasnya dan punya waktunya atau enggak. Seringnya karena saya harus fokus pada pekerjaan lain, saya tidak melibatkan diri terlalu dalam, karena begitu terjun, pekerjaan menulis buku juga harus terhenti dulu.

Ikut main di Perahu Kertas, apakah itu keterlibatan terbesar Dee di film dibandingkan judul-judul lain (Madre, Rectoverso, Supernova, Filosofi Kopi)? Sunil Soraya sempat menyatakan ia bolak-balik konsultasi ke Dee dalam proses pembuatan skenario Supernova. Apakah semua filmmaker berbuat yang sama dengan Dee?

Keterlibatan saya di Perahu Kertas memang paling besar, karena saya sampai menulis skenario, jadi cameo, review hasil editing, dan ikut menyusun dan menyumbang lagu untuk OST. Waktu Supernova, Sunil konsultasi secara informal beberapa kali. Rectovero juga informal tapi jauh lebih intensif, saya diajak diskusi oleh para sutradara dan kasih masukan ke skenario dan hasil editing. Madre, bisa dibilang saya tidak terlibat sama sekali, sempat kasih masukan satu kali setelah baca skenario, tapi tidak terlalu mempengaruhi hasil akhir filmnya. Filosofi Kopi, saya secara formal terlibat sebagai konsultan cerita dan menulis dua lagu untuk OST-nya. 

Ada niat membuat skenario sendiri berdasarkan tulisan Dee?

Ada. Saya cukup jatuh cinta dengan proses penulisan skenario. Tapi tidak bisa saya lakukan dalam waktu dekat. Mau konsentrasi menyelesaikan Supernova 6 dulu.

Apa sebenarnya yang menyebabkan karya-karya Dee baru difilmkan dalam tiga tahun terakhir ini secara berdekatan, padahal Dee sudah terbitkan karya sejak lebih dari satu dekade yang lalu?

Pertanyaan bagus. Saya pun tidak tahu kenapa.

Pernah dapat tawaran adaptasi film untuk karya tulisan Dee yang belum terbit/belum selesai?

Ada. Tapi saya belum berani mengikatkan diri dalam kontrak karena saya ingin menyelesaikan Supernova 6 dulu, kalau saya sampai berkomitmen menyelesaikan buku lain demi adaptasi, Supernova 6 pasti terbengkalai untuk 1-2 tahun lagi. Saya nggak mau itu.

Sudah adakah karya Dee yang lain yang siap difilmkan?

Ada yang sedang dalam tahap penjajakan. Kita lihat nanti.

Pertanyaan tambahan, apakah Dee masih mengerjakan proyek musik?

Masih, sebenarnya terpicu oleh film Filosofi Kopi. Gara-gara menulis dua lagu dan menyanyikannya sendiri, akhirnya jadi bikin single untuk dirilis sebentar lagi. Mungkin bakal dicicil untuk jadi album. We’ll see.

Tambahan satu lagi, apa film favorit Dee sepanjang masa?

Serial Lords of the Rings. The Matrix. Shawshank Redemption.

Majalah Sekolah Highscope | Menulis | Maret, 2015 | by Syafira Angelina


Saya pernah bertemu Anda di Indonesia Book Fair dan Anda menyatakan bahwa Anda sendiri bingung akan genre dari buku-buku Anda, terutama pentalogi Supernova ini. Mengapa?

Saya rasa genre lebih merupakan persoalan penerbit ketimbang penulis. Saya tidak terlalu sepakat sebetulnya kalau Supernova disebut fiksi ilmiah, karena basis saya menulis Supernova sebetulnya lebih ke spiritualitas ketimbang ilmiah, tapi sekali lagi, itu lebih menjadi opini dan “pe-er” dari pengamat dan penerbit. Apa pun genrenya, pada dasarnya saya hanya menuliskan apa yang saya suka.

Pembaca pasti tertarik akan gaya Anda yang menggabungkan romansa dan ilmiah. Ada alasan mengapa Anda menggabungkan dua hal yang menurut saya sendiri akan susah untuk digabungkan?

Sederhananya, karena itu kedua tema yang saya suka. Saya menggabungkannya bukan untuk memikat pembaca, melainkan untuk memuaskan diri saya sendiri terlebih dahulu.

Apa suka dan duka Anda menulis pentalogi Supernova ini? Terlebih lagi seri ini merupakan salah satu buku kontroversial di Indonesia yang membahas LGBT, kehidupan dewasa, dan hal-hal terlarang seperti ganja.

Saya rasa “membahas” beda dengan “menyetujui” atau “mengadvokasi”. Saya senang menulis sesuatu yang membuat orang berpikir dan meninjau ulang. Bukan demi pembaca menyepakati. Dukanya lebih karena sulit untuk membuat novel serial, dibutuhkan stamina yang kuat dan napas yang panjang untuk bisa bertahan. Sukanya karena puas mengerjakannya.

Siapa inspirasi Anda? Dan juga penulis yang sangat Anda hormati karyanya?

Inspirasi saya bukan orang tertentu, melainkan kehidupan itu sendiri. Banyak penulis yang saya suka. Yang bisa saya sebut salah satunya adalah Sapardi Djoko Damono.

Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh sudah dirilis sebagai film. Bisakah Anda menyatakan tentang bagaimana bisa Anda mempunyai ide untuk menjadikan buku ini sebagai sebuah film dan kesan Anda setelah film ini dirilis?

Yang punya ide adalah produser, sebenarnya. Mereka kemudian mengajukan penawaran untuk membeli hak adaptasi. Jadi, ide itu bukan berawal dari saya. Kesan saya untuk film KPBJ adalah film itu dibuat dengan kesungguhan dan berhasil menampilkan visual yang indah, ada beberapa catatan mengenai dialog dan jalan cerita, tapi secara keseluruhan film itu cukup membanggakan.

Apakah ada pemikiran untuk membuat Akar, Petir, Partikel, Gelombang, dan buku keenam Anda yang berjudul Inteligensi Embun Pagi sebagai sebuah film?

Sekali lagi, itu bergantung ada produser yang berminat atau tidak. Menjadikan buku saya film tidak pernah menjadi tujuan saya. Kalau ada yang berminat, tentunya akan saya jajaki dulu. Kalau memang ada kecocokan maka bisa tercipta kerjasama.

Di buku-buku Anda, saya menangkap bahwa Anda sangat menyukai ilmu tentang tidur dan hal-hal spiritual lainnya. Mengapa?

Lucid dreaming sebetulnya baru diungkap hanya di buku Gelombang, sebelumnya tidak pernah. Kalau hal yang spiritual, memang itu selalu menjadi minat saya, bahkan menjadi alasan untuk menulis Supernova. Kenapa? I don’t know for sure. Bagi saya, perihal itu penting dan menantang untuk ditelusuri.

Apa kunci sukses Anda selama ini?

Melakukan apa yang dicinta, menjalankannya dengan tekun, selalu memelihara rasa ingin tahu dan mau belajar.

Ada pesan-pesan untuk calon penulis remaja sebagai generasi penerus? Terutama untuk kami, anak-anak dari klub menulis Sekolah HighScope Indonesia.

Tulis apa yang ingin kalian baca. Temukan tema yang paling kalian suka, dan tekun berlatih dan menggali. Menulis adalah keahlian yang tak akan habis dipelajari seumur hidup. Jangan cepat puas.

GATRA | Apa & Siapa | Maret, 2015 | by Umaya Khusniah

 
Ide untuk membuat dua single untuk soundtrack film Filosofi Kopi ini sebenarnya dari siapa? Kapan ide ini muncul?

Dari awal, saat masih praproduksi, pihak Visinema sudah melontarkan ide agar saya ikut menyumbang lagu soundtrack. Saya sendiri juga tertarik, tapi waktu itu saya kepengin lihat preview filmnya dulu, supaya saya lebih punya bayangan harus bikin lagunya seperti apa.

Apakah memang ditetapkan harus dua single atau bagaimana?

Sebelum preview saya sudah membuat satu draf lagu, setelah lihat preview saya tergerak untuk membuat satu lagi. Jadi, berapa single-nya sih tidak ditetapkan di awal, spontanitas saja setelah melihat film.

Sulitkah membuat lirik untuk kedua single soundtrack ini?

Kalau sudah melihat materi tentu tidak lagi sulit, karena saya sudah punya cerita. Yang sulit dari menulis lagu adalah menentukan cerita dasarnya apa. Begitu cerita dasarnya ketemu, prosesnya langsung mudah.

Berapa lama pembuatan single ini, mulai dari lirik sampai jadi lagu?

Cukup cepat, saya bikin lirik dan lagu bersamaan. Mungkin kira-kira untuk dua lagu sekitar seminggu.

Ide untuk dinyanyikan sendiri oleh Mbak Dewi muncul dari siapa?

Awalnya sih karena ingin praktis saja. Kalau cari penyanyi lain lagi kan harus ada semacam proses audisinya lagi, milih siapa yang cocok, dia jadwalnya bisa atau tidak, perusahaan rekamannya siapa,  prosedurnya gimana, dsb. Dan saya sendiri suka sekali dengan kedua lagu yang saya tulis untuk OST Filosofi Kopi ini, jadi saya senang bisa menyanyikannya.

Bagaimana perasaannya bisa muncul di dunia tarik suara lagi?

Saat ini sih rasanya senang dan ringan-ringan saja. Buat saya, dunia musik dan nyanyi bukan untuk cari eksistensi lagi, tapi murni kesenangan. Saya sendiri lagi sibuk menulis buku saya yang berikut sebetulnya, jadi pasti nggak akan bisa terlalu menenggelamkan diri dalam musik juga sih, sebisanya saja.

Kangen nggak sih untuk nyanyi kayak dulu pas sama RSD?

Kangen sih kangen, tapi memang harus ada pihak yang menginisiasi kalau kita mau ngumpul lagi bertiga. Kalau mengandalkan masing-masing anggota sih sulit karena semua sudah punya kesibukan masing-masing.

Mbak Dewi kegiatannya banyak, mulai dari nulis novel, menyanyi, bikin lagu. Mana yang paling Mbak Dewi sukai? Kenapa?

Saya senangnya rekaman, kalau manggung biasa-biasa saja, lebih senang menulis di rumah. Kalau antara rekaman dan menulis sama senangnya, keduanya memuaskan.

Ada harapan khususkah untuk film Filosofi Kopi ini?

Bagi saya, sejauh ini, film Filosofi Kopi adalah adaptasi karya saya yang terbaik. Harapannya ya pasti mudah-mudahan banyak yang nonton. Tapi di luar itu saya sudah puas karena menurut saya hasilnya bagus.

Ada pulakah harapan untuk kedua single ini?

Semoga banyak yang suka.

Usai proyek ini selesai, proyek apa lagi yang akan digarap?

Kembali fokus mengerjakan Supernova 6.