Showing posts with label Writers Block. Show all posts
Showing posts with label Writers Block. Show all posts

Sunday, April 5, 2020

Wawancara Tugas Sekolah | Teknik Menulis | Feb, 2019 | Angie


1.     How do you set an atmosphere/tone throughout your work?

A tone can be based on many factors. For instance, it can follow the protagonist’s personality (is she/he cheerful, or rather gloomy). It can also follow the genre; if it’s a romantic story, then a writer can choose a rather romantic and artistic tone, and it can be reflected on the setting, the places, the events where scenes are taking place, etc. It can also be more than one, like a flow that changes as the storyline develops, i.e from gloomy to a bright/optimistic tone.

2.     How do you make sure you are engaging with the reader?

We won’t know for sure until our work reaches the readers. In the process, the only person I can count on is myself. So, as I write my story, I need to be as excited and as engaged as I want my readers to be. If it’s a funny scene, I need to make it’s funny to me as well. I need to laugh at my own funny scene, otherwise it probably won’t work for others either. I need to be in love with my characters, as I’d imagine my writers would be. So, make sure your writing is interesting for yourself first.

3.     How do you overcome writer’s block and get in the right state of mind to write?

Based on my experience, writer’s block mostly comes from technical issues. Sometimes we need to get technical to fix it. We need to fix the character, to fix the outline, to fix the plot, etc. The problem is, many beginner writers don’t like dealing with those issues. Hence, the writer’s block phenomenon is misunderstood as “lack of ideas”, or “lack of imagination”. Most of the time it’s not the idea or imagination that’s need to be fixed, it’s the writing. My best antidote for writer’s block is deadline. If you set a deadline and determined to accomplish it, you’ll find ways to overcome your difficulties. Just show commitment to your writing, set aside a dedicated time to work on it, daily. May it be thirty minutes or one hour. But, show up everytime.

4.     Do you have any other tips you could give me about writing in general?

For beginner writers, what you need to strive for is to finish whatever it is that you’re writing. Many people give up before they reach the end, therefore they never know the real struggle during the creative process. Once they can finish a writing, they will get more familiar with the whole process, and will have more courage and confidence to start another one. Practice a lot. Don’t worry about not being good enough. Once you’re familiar with finishing creative work and what it takes, strive for a better technique. Learn by reading good books, by reading books on writing techniques, attend seminars and workshops if you have to. But, find out what it takes to produce a more quality writing. Writing is a skill that takes a lifetime to learn. And that is good thing. It means there’s always a room for improvement, no matter what stage you are at in the given moment.

Saturday, April 4, 2020

Ubud Writers Readers Festival | Q&A with Speakers | Juli, 2018 | Tiara Mahardika


Kapan dan apa yang membuat Anda mulai menulis?

Saya menulis karena senang mengkhayal. Sejak kecil, dalam benak saya, mudah dan alamiah sekali rasanya merangkai cerita. Setiap membaca buku, selalu ada perasaan ingin ikut mencoba menulis demi menyalurkan khayalan-khayalan dalam benak saya. Kelas 5 SD, saya mulai mencoba-coba menulis cerita yang saya saat itu bayangkan akan menjadi sebuah buku.

Dari karya-karya Anda yang telah terbit, manakah yang meninggalkan kesan mendalam dalam proses penulisannya? Ceritakan kepada kami.

Buku yang paling berkesan bagi saya selalu buku terakhir yang saya tulis. Novel terakhir saya terbit Maret 2018 lalu, berjudul Aroma Karsa. Jadi, Aroma Karsa-lah yang saat ini terasa paling berkesan. Selain mengangkat tema penciuman yang saya rasa masih jarang digarap dalam dunia fiksi, Aroma Karsa merupakan karya yang proses kreatifnya paling lengkap saya dokumentasikan. Untuk itu, baru di Aroma Karsa saya berkesempatan menceritakan perjalanan riset berbagai keputusan kreatif saya kepada pembaca. Proses kreatif itu kemudian menjadi buku tersendiri, berjudul Di Balik Tirai, yang terbit bulan Juli 2018.

Apa yang biasa Anda lakukan saat mengalami ‘writer’s block’?

Writer’s Block ada dua jenis, menurut saya. Pertama, yang berakar dari kejenuhan atau kelelahan mental. Kedua, yang berakar dari kesalahan teknis dalam penulisan. Manifestasi keduanya terasa serupa, yakni kebuntuan menulis. Namun, dua hal itu ditangani dengan cara yang berbeda. Yang pertama menurut saya lebih mudah, karena biasanya cukup dengan rihat sejenak, melakukan kegiatan penyegaran, dan sebagainya. Yang kedua lebih sulit dan butuh upaya, karena perlu proses penulisan ulang, merombak struktur, mengganti elemen cerita, dan seterusnya. Namun, yang paling penting adalah, ketika kebuntuan datang, identifikasi dulu datangnya dari mana dan masalahnya apa.

Menurut Anda, hal apa saja yang bisa memberi ‘nyawa’ dalam sebuah karya tulis?

Kecermatan menjalin fakta ke dalam fiksi, menjadikan karakter kita semanusiawi mungkin sekaligus sedramatis mungkin. Meski “nyawa” cerita terdengar abstrak, menurut saya pada akhirnya akan kembali ke penguasaan teknik menulis dan jam terbang penulisnya. Tulisan yang bernyawa bukan semata-mata karena berdasarkan kisah personal penulis ataupun diangkat dari kisah nyata ataupun ditulis dengan emosional, melainkan tulisan yang jernih serta mampu berkomunikasi secara tepat dengan pembaca sehingga pembaca merasa menemukan kehidupan di dalamnya.

Adakah pesan yang ingin disampaikan untuk mereka yang berminat menekuni dunia kepenulisan?

Berani mencoba, berani gagal, berani menghadapi keberhasilan, dan mau terus belajar. Menulis menurut saya adalah kemampuan yang harus diasah seumur hidup.

Adakah topik yang ingin Anda eksplorasi di UWRF18?
Mengenai riset serta seni menjalin fakta ke dalam fiksi.

Thursday, April 2, 2020

Zetizen Jawa Pos | Profesi Penulis | Okt, 2017 | Renanta Rizka Permata


1.     Banyak anak muda yang sudah tertarik dengan profesi penulis. Kalau dari sudut pandang Kak Dee sendiri profesi penulis itu ngapain aja ya, Kak? 

Bergantung dari penulis jenis apa yang hendak ditekuni. Penulis itu bisa menulis fiksi, nonfiksi, jurnalisme, dan bisa jadi gabungan dari itu semua. Intinya penulis menerjemahkan ide abstrak menjadi tulisan konkret yang dapat dibagi ke orang lain. Penulis yang profesional artinya dia sudah dapat menjadikan kegiatan menulis sebagai mata pencarian.


2.     Mungkin bisa diceritakan pengalaman Kak Dee selama menulis, dari pengalaman sedihnya sampai pengalaman senangnya? 

Sangat banyak. Yang jelas, menulis memampukan saya bertemu dengan banyak orang, membawa saya berjalan-jalan, dan yang paling utama adalah ketika tulisan saya meninggalkan kesan dalam hidup seseorang. Tidak ada yang sedih sejauh ini. Menantang mungkin iya, tapi tidak sedih.

3.     Bagaimana cara mencari inspirasi menulis atau gimana caranya menghadapi writer’s block? 

Inspirasi tidak perlu dicari. Inspirasi akan datang sendiri jika kita peka. Jadi yang perlu dilatih adalah kepekaan kita untuk menjadikan segala yang kita amati, cerap, alami, menjadi ide tulisan. Writer’s block bisa diatasi dengan menentukan deadline sebelum menulis dan mematuhi tenggat waktu yang kita tentukan.


4.     Terkadang kalau kita menulis di tengah-tengah cerita itu kan malas melanjutkan, menurut Kak Dee gimana sih cara menghindari hal semacam itu? 

Kita harus punya perspektif yang realistis untuk tidak mengharapkan bahwa proses menulis akan selalu lancar. Pasti akan ada tersendatnya, ada malasnya, dan itu wajar. Saya pun masih mengalami. Hanya saja saya tidak lagi menganggapnya sebagai writer’s block, dsb. Yang penting adalah tidak berhenti. Disiplin akan mengatasi berbagai rintangan itu.

5.     Terus menjadi penulis itu apa keuntungan atau enaknya jadi penulis?

Kalau kita menyukainya, maka itu sudah menjadi keuntungan maupun kenikmatan menulis. Penulis pada dasarnya sama saja dengan profesi lain. Kita pasti akan berbahagia jika kita bisa melakukan apa yang kita cintai. Penulis itu punya kekuatan untuk membawa orang merenung, bepergian, hanya dengan orang membaca tulisan kita.

6.     Kalau dari sisi struggle, jadi penulis struggle-nya apa?

Penulis itu bertarung dengan dirinya sendiri dan halaman kosong. Untuk bisa menuntaskan sebuah karya, untuk membuat karya bermutu, perlu disiplin dan keinginan belajar terus menerus. Menulis adalah keahlian yang dipelajari seumur hidup. Tidak ada kata berhenti. Penulis juga harus mampu menata ekspektasi pembaca dan dirinya sendiri, menyeimbangkannya.

7.     Apa yang Kak Dee rasakan setelah berhasil menciptakan sebuah buku ? 

Seperti melahirkan anak. Bagi saya, buku itu seperti “anak batin”. Ada kepuasan, rasa haru, rasa bangga, dan rasa senang.

8.     Baru-baru ini heboh masalah pajak penulis, menurut pendapat Kak Dee sendiri gimana? Apakah Kak Dee setuju soal pajak penulis yang katanya sangat besar itu? 

Saya rasa perlakuan pajak terhadap penulis memang membutuhkan perbaikan menuju perlakuan yang lebih proporsional dan adil. Perumusannya seperti apa tentunya harus didiskusikan bersama dengan para pelaku di industri penerbitan dan juga instansi yang terkait.

9.     Karena banyak anak muda yang ingin jadi penulis, apa sih saran atau tips dari Kak Dee?

Banyak membaca dan banyak berlatih menulis. Tidak ada jalan pintas dalam keahlian menulis. Menulis itu seperti otot. Kalau kita mau kuat, tangguh, dan ahli, mau tidak mau otot menulisnya harus dilatih terus. Banyak mencoba, membaca referensi, dan juga mencoba berbagi ke orang lain agar kita mendapat masukan.

10.  Apa harapan Kak Dee untuk penulis-penulis ke depannya?

Saya berharap penulis muda Indonesia semakin banyak yang tumbuh, semakin berkualitas, semakin beragam. Pendidikan bangsa itu bukan hanya dari buku sekolah, tapi juga dari buku-buku fiksi. Jadi, penulis itu punya peran penting untuk meningkatkan intelektualitas masyarakat. Mudah-mudah juga profesi penulis dapat menjadi profesi yang lebih mapan dan mampu memberi penghidupan yang baik kepada pelakunya.

Friday, May 12, 2017

WOOP.ID | Kepingan Supernova | April, 2017 | Yaya Sitanggang



Bagaimana rasanya setelah menyelesaikan "Kepingan Supernova”? Apa hal pertama yang dilakukan setelah berhasil menyelesaikan novel tersebut? Apa yang menjadi ide atau inspirasi utama dari "Kepingan Supernova”? Tantangan terbesar dalam proses pembuatan "Kepingan Supernova"?

Untuk Kepingan Supernova, pekerjaan saya lebih mensupervisi karena sebetulnya semua materi sudah ada, tinggal dikurasi, diedit, dan didesain. Jadi, saya lebih berada dalam posisi urun saran. Sebagian besar dilakukan oleh tim editor Bentang Pustaka dan desainer saya, Fahmi Ilmansyah. Rasanya tentu saja senang, karena sebetulnya kumpulan kutipan ini adalah ide saya sejak lama, bahkan dari sejak Supernova 1, tapi baru terealisasi sekarang. Saya rasa momennya juga lebih tepat karena serial Supernova sudah tamat, jadi kumpulannya sudah lebih lengkap dan kaya. Kami luncurkan sekaligus memperingati setahun selesainya serial Supernova.

Selama proses pembuatan pernahkah mengalami writer's block dan biasanya apa yang dilakukan?

Writer’s block bergantung dari definisi kita sebetulnya. Bagi saya, yang terjadi lebih seperti “macet sesaat” ketika proses menulis panjang, yang mana hal itu wajar terjadi. Untuk macet seperti itu biasanya yang dilakukan hal-hal sederhana misalkan istirahat sejenak, olahraga, rekreasi. Yang jelas, ketika sudah punya deadline maka kita coba patuhi itu, jadi ketika terjadi macet, kita tidak memundurkan deadline melainkan kita coba terus di hari berikutnya, dan seterusnya.

Sebagai seorang penulis Indonesia yang sudah aktif selama bertahun-tahun, bagaimana pendapat Mbak Dewi tentang dunia literatur Indonesia, terutama fiksi? Apakah ada hal yang masih harus ditingkatkan, digali, dan diperbincangkan? Bagaimana tanggapan Mbak Dewi tentang budaya membaca di Indonesia?

Pekerjaan rumah dari industri buku masih banyak, dari mulai masalah pajak, harga buku, retail, penerjemahan, dsb. Secara kultur dan sistem, kita masih perlu meningkatkan minat baca. Sebagai profesi, penulis juga masih perlu advokasi, asosiasi yang profesional, regenerasi, dan meningkatkan skill.

Sebagai penulis dan juga ibu, apakah tips untuk memperkenalkan dan mendorong anak untuk lebih tertarik membaca buku?

Dengan menjadikan kegiatan membaca sebagai kegiatan menyenangkan, kita berikan sudut membaca yang nyaman, akses kepada buku yang mudah, dan kita juga menjadikan buku sebagai hadiah bagi momen-momen tertentu hingga mereka punya persepsi bahwa buku itu berharga dan membahagiakan.

Seberapa sering dan banyak Mbak Dewi membaca? Satu buku biasanya bisa diselesaikan dalam berapa lama? Adakah target jumlah buku yang harus diselesaikan dalam, misalnya, setahun atau sebulan?

Saya membaca biasanya berdasarkan kebutuhan. Tidak berdasarkan target bulanan atau tahunan. Saya bisa break panjang dari membaca, tapi begitu saya harus riset misalnya, saya bisa baca puluhan buku secara kontinu. Secara umum biasanya sih dalam sebulan pasti ada judul baru yang saya baca.

Selama tahun 2016 kemarin, adakah judul-judul buku yang menjadi favorit? Selain itu apakah judul buku favorit sepanjang Mbak Dewi?

“The Emperor of Scent” – Chandler Burr, buku nonfiksi yang sifatnya reportase seorang wartawan yang mengikuti perjalanan seorang ilmuwan bernama Luca Turin yang hendak membuktikan teori baru tentang penciuman. Buku itu kebetulan bagian dari riset saya untuk manuskrip baru. Kalau yang sepanjang masa nggak hanya satu, tapi saya sebutkan satu saja, yakni “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono.

Apakah akan ada seri Supernova selanjutnya?

Serial Supernova sudah tamat, tapi ceritanya masih bisa berlanjut. Kalau saya lanjutkan maka judul serialnya sudah bukan Supernova lagi.

Passion Stories (Buku) | Juni, 2016 | Qalbinur Nawawi


Sejak kecil Mbak Dee suka menulis dan menyanyi, namun dengan berjalannya waktu justru bakat menyanyi yang lebih dulu membuahkan hasil. Setelah itu, dalam aktivitas menjadi seorang penyanyi, Mbak Dee menulis novel Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Apa yang menjadi dorongan kuat Mbak untuk menulis pada saat hasil sebagai penyanyi sudah ada dan tinggal di-maintain saja: apakah Anda menulis novel karena terinspirasi dari membaca novel orang, atau mungkin tema yang Mbak Dee angkat belum ada makanya Mbak mau menuliskannya, atau seperti apa?

Sepertinya harus dibedakan antara perspektif karier dan perspektif renjana atau passion. Menulis dan musik adalah hobi dan passion saya sejak kecil, berkarier di kedua bidang tersebut menjadi akibat dari sebuah sebab. Karena saya tidak pernah menjadikan karier musik (dan karier menulis) sebagai sebuah sebab, maka saya tidak berpikir bahwa karier musik sudah cukup untuk itu tidak perlu berkarier menulis. Saya tidak berpikir dari perspektif karier. Saya semata-mata melakukan keduanya dari perspektif passion. Akibat dari itulah, saya jadi punya karier sebagai penyanyi dan penulis. Kalau soal novelnya, saya memang lebih senang menulis dalam format novel. Kalau soal tema, betul, saya menulis tema yang menurut saya menarik. Tapi, bagi saya, terjunnya saya dalam dua bidang tersebut bukan karena ingin “jadi penulis” dan “jadi penyanyi”, melainkan saya menulis karena saya suka, menyanyi karena saya suka musik. Atribut karier menyusul belakangan. 

Bagaimana reaksi keluarga dan teman saat Mbak di tengah usaha menyanyi yang Mbak rintis Mbak Dee justru menekuni dunia menulis?

Berhubung mereka tahu saya sejak kecil, mereka tidak ada yang kaget. Mereka memang tahu sejak kecil saya suka menulis, jadi mungkin tinggal tunggu waktu saja hingga saya betul-betul menyeriusinya.

Pernahkah Mbak Dee menemukan “aha moment”? Artinya sebuah langkah berani atau langkah awal dari perubahan positif yang membawa Mbak Dee hingga menjadi sekarang?

Pada akhir tahun 1999, saya mengalami semacam epifani. Sejak itu, pandangan saya berubah total, terutama yang berkenaan dengan aspek eksistensial dan spiritual. Saya ingin sekali berbagi tentang pengalaman dan pemikiran saya. Akhirnya, tahun 2000 saya mulai menulis manuskrip Supernova 1. Tapi, bukan hanya menulis bukunya, saya merasa momen itu benar-benar mengubah keseluruhan diri saya secara drastis.

Pernahkah saat proses menuju kepiawaian menulis, Mbak Dee mengalami kejadian pahit yang membuat drop dalam menjalani karier menjadi penulis, semisal ditolak penerbit naskahnya? Saya penasaran karena pertama karya mba lahir, novel Anda langsung disukai banyak orang. Bila ada, boleh diceritakan? Apa yang Mbak Dee lakukan setelahnya hingga bisa mencapai novelis andal?

Saya belum pernah ditolak penerbit karena memang belum pernah mengirimkan naskah ke penerbit. Saya mengawali buku pertama saya dengan menerbitkan sendiri. Sesudahnya, karena saya sudah punya basis pembaca, posisinya jadi berbalik. Penerbitlah yang mengajak saya bekerja sama. Tapi, saya punya pengalaman mengirim naskah ke majalah dan tidak ditanggapi, saya juga pernah mengirim naskah ke perlombaan dan tidak menang. Saya sempat kecil hati, tapi bukan karena tidak menang/tidak diterima, melainkan karena saya merasa saya tidak bisa dibatasi oleh persyaratan majalah/media massa yang mengharuskan cerpen itu sekian halaman, novel itu sekian halaman, dsb. Karya saya selalu di luar itu semua. Akibatnya, saya sempat merasa karya-karya saya tidak punya tempat. Namun, justru dari sana timbul tekad untuk menerbitkan sendiri. Akhirnya saya terus menulis, meski hanya disimpan, dengan niat bahwa satu saat saya akan menerbitkan sendiri tulisan-tulisan saya. 

Kini Mbak Dee sudah menghasilkan 7 novel dan 3 kumcer. Dari konsistensi menulis buku sampai saat ini, adakah value yang Mbak perjuangkan di setiap karya maupun aktivitasnya? 

Berusaha membuat karya yang lebih baik, dan ini bukan basa-basi, saya selalu merasa karya saya yang berikut harus menjadi perbaikan dari karya sebelumnya. Saya tidak peduli orang bilang lebih suka buku saya yang mana. Buat saya, karya berikut akan selalu lebih baik dari sebelumnya. Kedua, saya berusaha untuk menulis buku baru setiap minimal 1,5 tahun sekali. 
 
 
Dengan karya Mbak Dee diterima banyak orang dan mempunyai pembaca setia, tak hanya sekadar buku, Mbak Dee juga menjadi inspirasi buat pembaca. Dan, ada di sebagian dari mereka pun tertarik menjadi penulis novel. Namun kendala mood dan writers block seringkali menjadi rintangan awal penulis pemula untuk menyelesaikan naskah pertama mereka. Sebagian penulis menilai mood hanyalah alasan untuk kita tak menulis. Mereka berpikir menulislah dulu – seburuk apa pun hasilnya. Nanti, tinggal “dijahit” saja hasil tulisan yang tadinya buruk itu, hingga menjadi enak dibaca. Bagaimana pandangan Mbak Dee? Apakah Mbak Dee melihat menunggu mood datang memang hanya sebuah alasan untuk kita tidak menulis, atau seperti apa?
 
Tidak mood dan writer’s block adalah tantangan nyata yang selalu terjadi pada setiap penulis, termasuk saya. Jadi, tidak ada yang spesial dari kedua hal itu. Yang membedakan adalah bagaimana kita menyikapinya. Penulis yang sudah berpengalaman akan paham bahwa tidak mood dan writer’s block pasti akan terjadi, jadi kalaupun kejadian, itu tidak akan menghalanginya untuk tidak meneruskan karyanya sampai selesai. Ia tetap akan berusaha melewati rintangan itu. Sementara, penulis yang belum berpengalaman bisa jadi menyikapinya dengan berhenti. Karena itu saya selalu menekankan bahwa menulis itu butuh jam terbang. Kita butuh sering berlatih untuk tahu bahwa rintangan menulis sebetulnya tidak ada yang spesial. Kita juga perlu tahu rasanya menamatkan karya karena kata “Tamat” itu akan punya efek luar biasa terhadap mental kita. Jadi, selalu berusahalah untuk menamatkan karya. 

Dan bagaimana Mbak Dee cara mengatasi kendala itu?

Punya deadline, juga punya mentalitas atau prinsip atau apa pun, yang intinya menekankan bahwa karya yang tidak selesai adalah utang.

Dalam suatu kesempatan wawancara, Mbak Dee menuturkan bahwa proses kreatif menulis novel Mbak Dee itu berdasarkan timeline tertentu, di mana Mbak sudah mempunyai timeline dalam bentuk deadline. Atau dalam bahasa Mbak, jadwal produksinya jelas, mulai dari kerja berapa lama, berapa target halaman, menulis berapa halaman sehari dan seterusnya. Namun demikian, bukankah kegiatan menulis jadi terasa mekanis sekali? Saya merasa kehilangan rasa fun di dalamnya semisal target halaman pun sudah ditentukan. Nah, bagaimana pendapat Mbak Dee sendiri? Atau, jangan-jangan apa yang Mbak lakukan sebenarnya satu tahap di atas penulis biasanya melakukannya, yakni menentukan dengan detail jadwal waktu menulis dan target halamannya?

Rasa fun tidak ada hubungannya dengan sistem produktivitas. Jadi, kembali kita perlu membedakan dua perspektif. Perspektif kreativitas, dan perspektif produktivitas. Timeline, deadline, jam kerja, target halaman, itu adalah bagian dari sistem produktivitas. Saya bisa tetap fun menulis dan punya sistem produktivitas yang baik. Sistem yang baik membantu saya menyelesaikan pekerjaan sesuai target, membuat saya bisa membagi waktu dan fokus dengan hal lain, dan membuat karya tidak membelenggu saya. Sistem produktivitas yang baik membuat kita menjadi sparring partner yang seimbang dengan kreativitas. Sebaliknya, kita bisa berkarya bebas (yang bisa diartikan menjadi cara yang “fun”), tapi tidak punya sistem produktivitas yang sehat. Akibatnya, karya jadi mendikte dan membelenggu kita, ketika kita bekerja dengan pihak lain, penerbit misalnya, kita tidak punya target waktu yang bisa diandalkan. Sistem yang baik mendorong kita punya etos kerja yang baik. Jadi, dengan memiliki sistem produktivitas, saya justru menjaga agar saya bisa tetap fun menulis dan punya proporsi sehat untuk hal-hal lainnya.  

Selain itu, dengan Mbak Dee membuat target halaman, itu artinya Anda sudah tahu berapa halaman novel Anda akan berakhir. Bukankah jumlah halaman seselesai outline yang kita buat, ya Mbak? Yang mana biasanya novel biasanya memiliki minimal dua cerita klimaks di dalamnya?

Pertama, sepanjang pengetahuan saya, novel tidak punya dua klimaks. Klimaks hanya terjadi satu kali. Kedua, outline tidak menentukan jumlah halaman. Tapi kita bisa punya target kasar seberapa besar volume buku yang ingin kita tulis, rentang seperti 40 ribu kata, 80 ribu kata, 100 ribu kata, dan seterusnya. Angka itu tentunya tidak mungkin fixed, tapi setidaknya memberikan kita semacam gambaran tentang seberapa besar dan seberapa memungkinkan ide kita bisa dikembangkan. Kalau idenya sempit, ya, realistis saja untuk tidak menargetkan 100 ribu kata, melainkan cukup di 40 ribu, misalnya. Tapi, kalau idenya luas, maka bisa menargetkan jumlah halaman yang lebih banyak. Saya tidak tahu persis di halaman keberapa novel saya akan habis, saya rasa tidak ada satu pun penulis di dunia ini yang punya kemampuan itu. Yang bisa saya lakukan adalah memiliki target kasar seberapa besar volume cerita yang akan saya garap, dan bagi saya itu penting, sama seperti salah satu prinsip Stephen Covey (7 Kebiasaan Efektif) yakni: Begin with the end in mind.

Saya jadi juga penasaran, bagaimana Mbak Dee membuat outline plot cerita, apakah drive-nya berdasarkan informasi yang disembunyikan dalam plot, atau karakter? Mana yang paling banyak sering Mbak Dee pakai? Bisa dijelaskan alasannya?

Informasi maupun karakter adalah “kurir” cerita, bukan cerita itu sendiri. Plot  adalah grafik. Grafik itu akan diukir dan dibentuk melalui pergerakan karakter dan informasi yang mereka bawa. Grafik dibentuk bukan oleh “informasi apa yang harus dibuka” atau “apa yang harus dilakukan karakter”, tapi “apa yang terjadi”. Jadi lebih luas dari sekadar informasi maupun karakter, melainkan dinamika keseluruhan dari semua elemen cerita. Kita bisa banyak belajar mengenai hal ini dari buku-buku tentang penulisan skenario. Salah satu yang saya gunakan sebagai referensi adalah buku Save The Cat dari Blake Snyder.

Inspirasi menulis novel itu paling mudah muncul dari keresahan atau pun pengalaman yang yang kita jalani. Bagaimana Mbak Dee melihatnya, apakah Mbak Dee setuju tentang hal itu? Atau apakah baiknya mengandalkan dua hal itu?

Kalau pertanyaannya adalah “yang paling mudah”, betul, saya setuju. Pengalaman pribadi adalah sumber yang paling untuk kita tulis karena kita punya kedekatan dan pengetahuan personal. Para penulis pemula memang sebaiknya memulai dari sana, bukan karena yang paling ideal, melainkan karena memang paling mudah. Bagi saya, yang paling utama harus kita kejar adalah jam terbang dulu. Menulis itu membutuhkan latihan yang tak terhingga. Tidak usah berpikir menerbitkan buku dulu, sering-sering saja menulis cerita walaupun cuma dibaca sendiri atau orang-orang terdekat.

Apakah Mbak Dee punya informasi kriteria novel bagus yang disukai penerbit mayor seperti apa? Ini agar para orang yang di luar sana ingin jadi penulis tahu standarnya?

Saya tidak pernah berada di posisi penerbit selain untuk karya saya sendiri (self-publishing), jadi informasi saya terbatas soal ini. Untuk penerbit pasti ada pertimbangan seperti tren pasar, jenis buku yang sedang digemari, dsb, tapi yang jelas mereka akan memilih naskah yang memang bagus atau minimal bisa dipoles, sesuai dengan genrenya masing-masing. Jadi kita harus hati-hati menghakimi sebuah buku “tidak layak terbit” atau “tidak bermutu”, bisa jadi karena kita memang tidak suka genrenya. Penerbit harus punya jendela selera yang luas karena dia mengakomodir banyak pihak.

Mbak Dee pernah bilang dengan kemudahan internet dan self publishing saat ini makin banyak penulis muda lahir. Namun, dalam waktu yang sama, persaingan lebih sulit karena semakin banyak penulis yang lahir, dan kuncinya untuk menonjol ialah fokus pada kualitas, terus belajar dan mengembangkan diri. Dalam konkretnya, apakah makna tiga kunci itu, apakah mempunyai diferensiasi atau keunikan dari setiap karyanya? Misalnya terus menulis pada fokus pada satu genre saja, katakanlah teenlit, agar bisa berhasil atau mempunyai basis pembaca yang kuat? Atau seperti Raditya Dika, di mana ia selalu dia selalu menyusupkan nama binatang dalam judul bukunya agar terlihat dalam kerumunan buku yang lahir? Bagaimana menurut Mbak Dee, setujukah? Atau mba Dee punya pendapat lain?

Saya tidak tahu persis motivasi Raditya Dika menyusupkan jenis binatang adalah agar pembeda dari yang lain atau karena itu memang ciri khasnya. Kalau kita cermat kita akan melihat bahwa kedua hal tadi adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama orientasinya orang lain, yang kedua adalah diri sendiri. Dan bagi saya, itulah pertanyaan dasar yang paling penting. Kita mau orientasi ke orang lain atau diri sendiri? Bagi saya pribadi, orientasi ke orang lain itu melelahkan, belum tentu akurat, dan belum tentu berhasil. Tidak berarti kalau kita orientasi ke diri sendiri langsung dijamin berhasil dalam arti sukses jadi penulis best-seller dsb, tapi setidaknya proses yang terjadi menjadi menyenangkan dan penuh semangat. Misal, ketika saya menulis Perahu Kertas, tujuan saya adalah bikin cerita cinta yang menggabungkan unsur cita-cita, lucu, seru, serta punya romantisme yang pas dan khas. Standard itu datang dari saya, bukan dari siapa-siapa. Itulah yang menjadi tugas utama penulis. Basis pembaca adalah urusan belakangan. Saya melihat kuat atau tidaknya basis pembaca lebih sebagai efek dari sebuah sebab, bukan target. Latihan, jam terbang, belajar menulis yang baik entah dari buku atau ikut workshop, dan tulis apa yang kita suka. Ciri khas kita akan keluar dengan sendirinya.

Adakah novel-novel rekomendasi Mbak Dee dengan plot cerita bagus yang bisa dijadikan para penulis pemula belajar? Sehingga kualitas karya yang dilahirkan sesuai dengan selera penerbit mayor? Atau mungkin, plot seperti apa yang biasanya disukai penerbit mayor, apakah plotnya tidak tertebak atau mereka mempunya informasi yang mengejutkan karena konflik yang berlapis-lapis?

Ini adalah pertanyaan yang lebih cocok diajukan ke penerbit, sama seperti pertanyaan yang sebelumnya di atas.

Ide cerita yang baik ialah cerita yang memiliki emosi. Lebih dalam, Mbak Dee menyebutnya cerita yang punya dramatisasi. Dan, dramatisasi bisa didapat kalau kita punya intuisi bercerita – sebuah sudut pandang apa yang dipilih lebih mengena pada pembaca dari cerita yang dibangun, paham struktur dan menguasai teknik menulis – bagaimana para penulis meletakan racun atau unsur kejutannya. Pertanyaan saya, apakah elemen ini yang perlu dicari oleh seseorang yang ingin menjadi penulis novel saat melahap banyak novel sebagai modal awal terjun ke dalam dunia menulis novel?

Membaca sambil mempelajari menurut saya adalah salah satu cara paling efektif untuk belajar menulis. Baca buku Dan Brown atau JK Rowling, misalnya, dengan membaca sekaligus mempelajari, kita bisa tahu bagaimana para penulis tersebut menyusun plotnya, membentuk karakternya, dsb. Tentu ini modal awal penting bagi penulis pemula, tapi lebih penting lagi adalah mereka tahu kegunaan dan implementasi dari yang mereka baca itu seperti apa. Jadi,  bagi saya, tetap yang utama adalah mencoba menulis cerita. Berlatih crafting cerita sesering mungkin.

Menurut Mbak Dee apa itu passion? Bagaimana agar passion bisa membawa kita jadi penulis novel yang andal?

Gampangnya, passion itu minat yang dilakoni dengan semangat. Passion memotivasi kita untuk belajar dan menggali, juga untuk mencoba lagi meskipun sempat tersandung atau gagal.
Saran Mbak Dee, sebaiknya penulis pemula itu mencoba menulis dari cerpen apa langsung novel?

Bisa keduanya. Sejak kecil yang saya suka adalah novel, jadi karya pertama saya novel. Saya memang suka menulis panjang. Cerpen menurut saya lebih gampang manajemen waktunya, tapi tidak semua orang juga suka dengan format cerpen. Jadi, kedua-keduanya bisa dicoba untuk penjajakan.


Monday, May 9, 2016

SiPenulis.Com | Profil | April, 2016 | by Noor Hadi


Jika kamu adalah sebuah novel, kamu ingin ditulis oleh siapa? Kenapa kamu memilih pengarang itu?

Enid Blyton, karena saya akan disuguhi banyak sekali limun jahe.

Jika memiliki kesempatan untuk berpacaran dengan sebuah kata, kamu ingin berpacaran dengan kata apa? Boleh tahu alasannya?

Energi, karena energi tidak bisa dimusnahkan.

Jika membaca sebuah buku akan membuat usiamu bertambah 5 tahun, dan semakin banyak membaca buku artinya kamu akan semakin cepat tua, apakah kamu masih tetap ingin membaca buku? Kalau masih, kenapa kamu nekat sekali?

Saya akan berhenti dan gantinya akan menulis saja. Saya lebih bisa hidup tanpa membaca ketimbang tanpa menulis. Sumber inspirasi tidak semata dari buku. Jika diamati dengan jernih dan jeli, hidup ini sebenarnya adalah buku besar yang tak akan habis dibaca.

Jika writer’s block mendatangimu dalam wujud manusia, apa yang akan kamu lakukan terhadapnya? Mengusirnya dengan sapu, menendangnya ke jurang, menghajarnya sampai babak-belur, atau apa?

Akan saya ajak bicara baik-baik, saya suguhi teh panas dan kue-kue kecil. Writer’s block itu cuma ingin didengarkan saja maunya apa. Nanti setelah dia puas curhat, dia akan pergi dengan sendirinya.
Dilawan cuma buang-buang tenaga. Dalam curhatnya, writer’s block biasanya membawa pesan terselubung bagi kita, sebuah paket pembelajaran. Kalau kita dengarkan dengan baik dan pesan darinya sampai, justru kita yang beroleh manfaat.

Jika salah satu tokoh fiksimu diberi kesempatan untuk hidup menjadi manusia sungguhan, siapa yang akan kamu pilih? Bisikkan kepada kami kenapa kamu memilihnya. Kami janji tidak akan memberi tahu siapa-siapa.

Toni alias Mpret. Dia manusia yang sangat berguna, apalagi di era digital seperti ini, sangatlah menyenangkan jika punya tech support yang bisa diandalkan. Apalagi Toni itu orang yang sangat setia kawan. Di lain sisi, dia juga orang yang low-maintenance, nggak banyak tuntutan, dan mandiri. Berkawan dengan dia sama sekali tidak merepotkan.

Jika pada suatu hari Puisi menghubungimu melalui telefon, Cerpen mengirim pesan kepadamu melalui email, dan Novel mengetuk pintu rumahmu berkali-kali, mana yang lebih dulu ingin kamu tanggapi? Semua hal itu berlangsung dalam waktu bersamaan.

Saya akan dahulukan novel. Saya menyukai kerja yang panjang, cerita yang kompleks, dan jika bicara pasar, novel punya prospek pasar yang lebih bagus dibandingkan puisi dan cerpen.

Jika kamu diberi kesempatan oleh Presiden untuk menghapus 3 kata yang terdapat di KBBI, kata-kata apa saja yang akan kamu pilih untuk dihapus? Tenang, kami tidak akan menanyakan alasannya.

Mangkus, sangkil, dan gegara. Yang terakhir tidak ada di KBBI, tapi saya ingin sekali menghapusnya dari percakapan media sosial.

Jika saat ini kamu sedang duduk bersama Dave Eggers dan Ana Castillo pada jamuan makan malam, kira-kira apa yang akan kamu bicarakan bersama mereka?

Saya pernah jamuan makan malam bersama Vikram Seth dan Sebastian Faulks. Satu hal yang saya amati adalah, dalam kesempatan seperti itu, biasanya yang terjadi justru pembicaraan dengan topik umum, bukan teknik menulis, bukan pula proses kreatif. Pada kesempatan seperti itu, yang kita dapatkan biasanya adalah persona mereka sebagai “manusia biasa”, bukan kreator. Jadi, dengan Dave Eggers barangkali saya hanya akan menikmati humor dan kecerkasannya, yang saya harap terefleksi dalam persona kesehariannya jika ditemui langsung (bisa jadi ia lucu ketika menulis saja). Dengan Ana Castillo, mungkin saya akan bicara hal yang umum seputar kultur Amerika Latin dan mungkin dia ingin tahu tentang kultur Indonesia. Sejujurnya, jika boleh memilih, saya lebih memilih kesempatan mengobrol dengan para penulis nonfiksi yang menjadi referensi saya, seperti Graham Hancock dan Amit Goswami.

Jika kamu adalah manusia paling jujur sedunia, tolong katakan kepada kami, judul buku apa yang paling ingin kamu singkirkan di muka bumi ini.

Tidak ada. Dan, itu jawaban jujur. Saya menghargai adanya buku yang tidak saya suka sama halnya dengan kehadiran buku yang saya suka. Buku yang tidak saya suka perlu ada agar saya bisa tahu jangan sampai saya menulis seperti itu. Itu kompas yang sama penting dengan buku-buku yang saya suka. 

Jika semua tanya-jawab ini adalah mimpi, menurutmu apakah ini termasuk mimpi indah atau mimpi buruk?

Mimpi indah. Saya selalu suka jika hal-hal abstrak seperti ide dianalogikan seperti makhluk konkret. Justru dengan cara seperti inilah kita bisa lebih memahami yang abstrak.  

Terima kasih banyak atas jawaban-jawabannya. Semoga tanya-jawab ini bisa memantik imajinasi dan kreativitas bagi mereka yang membacanya.

Terima kasih sama-sama untuk wawancara yang menarik.

Wednesday, February 17, 2016

KOMPAS | Kompas Kita: Q&A Dee Lestari | Mei, 2015 | by Susie Berindra


Sudah lama Dee menuangkan ide lewat cerita dan juga lagu. Jika harus memilih, manakah yang paling memuaskan bagi Dee? - Anggun Gita Sari

Saya juga punya kebutuhan berbeda untuk setiap pendekatan bercerita. Bagi saya fiksi dan lagu itu komplementer sifatnya, tidak saling menggantikan. Kepuasan yang dihasilkan masing-masing format juga berbeda, meski pada intinya sama-sama bercerita.

Apakah ada misi khusus Dee dibalik penulisan Supernova sampai 5 jilid dan bahkan akan menerbitkan lagi yang keenam? Sejak awal sudah direncanakan Supernova akan sampai 6 jilid? - Iko Boangmanalu

Sudah direncanakan dari awal. Misinya sederhana: menyelesaikan cerita. Supernova episode pertama hanya sepotong dari keseluruhan cerita dalam kepala saya.

Apa yang menjadi resep Dee selalu produktif berkarya, baik itu dalam literasi atau musik? Lalu syarat apa yang mesti dipenuhi agar sebuah karya dapat diterima masyarakat? Bagus Setyoko Purwo

Tujuan saya berkarya semata-mata karena banyak yang ingin saya ungkapkan. Mungkin kalau sudah tidak ada lagi yang ingin disampaikan, baru saya berhenti. Saya rasa tidak ada syarat khusus agar karya kita diterima masyarakat, yang jelas karya yang disukai adalah karya yang mampu menciptakan ikatan dengan penikmatnya.

Sebagai penulis, pernahkan Anda  mengalami kebuntuan ide? Lalu bagaimana cara mengatasinya? Christina M

Kebuntuan yang ringan cukup diatasi dengan hal-hal yang sederhana, seperti istirahat, mandi, atau baca buku. Kalau cerita stagnan berkepanjangan, biasanya perlu dirombak secara teknis. Elemen fiksinya dikaji ulang dan diganti, bahkan ditulis ulang.

Bermusik dan menulis adalah kanal untuk berekspresi, itu yang saya baca dalam sebuah artikel ttg Mbak Dee. "Ritual" seperti apa sih yang selalu dilakukan untuk mendapatkan ekspresi yang mendalam saat bercerita lewat novel? Apa secangkir kopi punya "dongeng" tersendiri yg mempengaruhi setiap karya Mbak Dee Lestari? – Uniqa Wardhani

Tidak ada ritual khusus selain disiplin mendedikasikan waktu dan fokus sampai proyeknya selesai. Bekerja dengan takaran yang terhitung dan punya deadline. Kadang ditemani kopi, kadang tidak. Saya berusaha tidak fanatik pada satu ritual khusus karena saya tidak ingin menciptakan ketergantungan yang merepotkan. Kalau nggak ada kopi lalu jadi nggak bisa kerja, kan repot jadinya.

Kira-kira apa yang menginspirasi Dee sehingga film Filosofi Kopi berhasil ditayangkan? Apakah ada tokoh sehingga membuat Dee terinspirasi untuk membuat film tersebut? – Hesrianus Cengga
              
Keberhasilan Filosofi Kopi sebagai film adalah hasil kerja keras tim dari Visinema. Saya hanya melepas hak adaptasi dan membantu pembangunan cerita pada tahap awal. Cerpen Filosofi Kopi sudah saya tulis lama sekali, dari tahun 1996. Saya tidak membasiskannya pada siapa-siapa. Hanya ingin membuat cerita seputar kopi, itu saja.

Sejak kapan Anda menekuni aktivitas menulis? Apa motivasi Anda terjun ke dunia literasi? – Ardiansyah Bagus Suryanto

Sebagai hobi, dari kecil. Dari usia 9 tahun saya sudah mulai mencoba menulis cerita panjang. Secara profesional, baru tahun 2001 ketika Supernova terbit. Saya menulis karena saya merasa tema-tema yang saya suka belum banyak ditemukan di pustaka Indonesia. Pada dasarnya saya menulis apa yang saya ingin baca.

Membuat tulisan bertema science fiction tidaklah mudah. Kendala apa saja yang muncul ketika menulis? – Dwi Atika Sari

Intinya, membuat novel memang tidak mudah. Kita harus punya komitmen, intuisi bercerita, paham struktur dan menguasai teknik menulis. Mau itu science fiction atau chick lit, akan susah kalau penulisnya tidak punya minat kuat atas apa yang ia tulis. Selama penulisnya suka dan tertarik dengan tema tulisannya, ia akan menggali dengan semangat. Kesulitan utama menulis bukan di tema, tapi bagaimana bercerita sebaik dan sejernih mungkin.

Dee, walaupun hanya bisa berjumpa lewat tulisan ini, aku ingin menyampaikan bahwa aku apreciate dengan karya-karyamu. Kamu telah merampas tiga malamku untuk menyelesaikan tiga karyamu! Melalui media Kompas Kita ini, aku mau bertanya kepadamu, passion apa yang paling membuatmu berkarya sampai saat ini? Sekaligus apa yang Dee lakukan untuk menjaganya tetap ada dan membara? – Jois Efendi

Terima kasih untuk apresiasinya. Banyak ide dalam kepala saya. Medium yang saya suka adalah lagu dan tulisan. Keduanya adalah skill yang menarik dan menantang. Setiap karya adalah ajang saya untuk belajar dan melepas ide-ide dalam kepala saya.

Saat ini semakin banyak para penulis novel seperti Dee yang saling berebut untuk memenangkan hati para pembaca. Bagaimana Dee menanggapi hal ini, apa saja yang dilakukan Dee agar karya Dee dapat mendapat tempat di hati para pembaca untuk selalu menunggu karya-karya Dee selanjutnya? – Nurus Syarifah

Berusaha memuaskan pembaca adalah motivasi berbahaya bagi penulis. Pertama, karena kita tidak mungkin memuaskan semua orang. Kedua, kita kehilangan otensisitas atas apa yang menurut kita paling penting. Tulislah apa yang bagi kita penting, mendesak, menggemaskan. Dan, tulislah sebaik dan sejernih yang kita bisa. Itu saja resep saya.  

Saya baru baca Filosofi Kopi dan Madre. Dulu baca Supernova (Akar) tapi nggak ngeh dan pusing, hehe. Kapan bikin novel true story tentang Tuhan versi Dee yang teologinya kayaknya ‘timur’ banget? Atau tentang kehidupan pribadi Dee bagaimana kegetiran perceraian dan tentang anak-anak, atau cerita-cerita tentang riak-riak kehidupan di rumah? – Amin Nurrokhman

Belum tahu. Sekarang belum tergerak.

Saya sangat antusias membaca karya Mbak. Madre, Filosofi Kopi, adalah salah satu kegemaran saya. Materinya ringan tapi sarat dengan makna. Yang ingin saya tanyakan, pertama, apa arti menulis buat Mbak? Kedua, apakah Mbak merasakan apa yang Mbak tulis? – Nordin                   

Menulis bagi saya adalah seni menyampaikan ide. Merasakan dalam arti emosi, tentu pernah. Kalau saya menulis tentang hal yang sedih tapi tidak ikut merasakan kesedihannya, berarti tulisan itu belum berhasil.  

Apakah ide dari cerita yang Dee tuangkan dalam novel merupakan ide murni dari pemikiran Dee sendiri ataukah ditambah ide yang telah ada di novel kebanyakan? Saya juga sering mendapatkan ide untuk cerita tetapi ketika dituangkan rasanya sulit sekali. Pernahkah Dee mengalami hal seperti itu dan bagaimana solusinya? – Dharmana Dhini Cipta Telaga

Yang saya tulis selalu kombinasi dari imajinasi, hasil pengamatan, hasil pengalaman. Termasuk mungkin di dalamnya buku-buku yang pernah saya baca. Kesulitan menuangkan ide biasanya karena kurang latihan dan jam terbang, begitu sering dilakukan, kita akan tahu sendiri tekniknya.  

Adakah di antara karya Dee, baik buku maupun lagu, yang merupakan pengalaman pribadi Mbak Dewi? Saya mengusulkan bagaimana kalau yang menjadi tokoh utama dalam layar lebarnya adalah Mbak sendiri. – Zenny Anaria

Kalau pun ada pengalaman pribadi, biasanya sudah tercampur unsur lain. Saya belum pernah berkarya yang sifatnya otobiografis. Untuk menjadi tokoh utama dalam layar lebar, sejauh ini belum terpikir dan belum tertarik. 

Bagi saya novel-novel Mbak Dee adalah sebuah alternatif. Alternatif dari miskinnya gagasan di Indonesia kontemporer. Saat ini adalah eranya pragmatisme, materialisme, dan budaya instan. Jadi, novel, juga film yang diadaptasi dari novel Mbak Dee-lah jawaban atas budaya yang diusung dunia modern tadi. Saya berharap Mbak Dee terus menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk novel. Pertanyaan buat Mbak Dee, apa pendapatnya tentang kemalasan berpikir, budaya baca yang rendah, dan tradisi menulis yang belum mengakar dalam masyarakat Indonesia saat ini? – Darwinto

Terima kasih atas apresiasinya. Kalau kita bicara kultur, tentu kita bicara proses ratusan tahun, dan untuk membalikkannya tidak bisa dalam waktu singkat. Kita bisa menjadi agen perubahan dengan ikut aktif menjadi pelaku komunitas baca dan tulis. Mulai dari diri sendiri dan keluarga sendiri, misalnya. Setelah itu kita bisa melangkah lebih jauh dengan berkarya, bisa lewat blogging atau tulisan singkat. Dari level pemerintah juga banyak kebijakan yang bisa diberlakukan, salah satunya adalah bagaimana pemerintah bisa memproduksi buku lebih murah, mendorong penerjemahan, dan meningkatkan jumlah perpustakaan. 

Setiap penulis mempunyai diferensiasi pada karyanya, dan diferensiasi karya Dee ada pada tema yang selalu mengusung pencarian jati diri. Bagaimana defferensiasi itu awalnya terjadi? Apakah sengaja dibuat untuk membedakan karya Dee dgn karya-karya lain, atau ada dengan sendirinya? – Muh Turmudi              

Setiap penulis umumnya umumnya berkarya diawali oleh kegelisahan. Kegelisahan itu tidak bisa “diatur”. Segala bentukan lingkungan dan konstruksi batin seseorang akan memicu adanya kegelisahan yang kemudian diburu lewat mempertanyakan, lewat ekspresi seni, lewat kreasi, dan seterusnya. Kegelisahan saya yang terbesar memang sejak dulu berpusat di aspek spiritualitas.

Siapa sajakah yang menjadi inspirasi Dee dalam menulis novel ? – Laras Kusumaningtyas

Saya mengamati banyak orang, dan biasanya orang-orang yang saya temui bercampur menjadi karakter. Saking banyaknya saya tidak bisa lagi menyebutkan satu-satu.

Saya penasaran, dari mana nama pena "Dee" itu, serta apakah ada makna terselip di dalamnya? Bagaimana Dee menjalani multiperannya, yaitu ibu, penulis, penulis lagu, penyanyi? Mengalir saja, ataukah ada manajemen waktu sedemikian rupa sehingga tetap dapat menjalankan tugas di dalam rumah sekaligus menjalankan karier-kariernya? – Hesty Puji Rahayu

Waktu kuliah dulu, saya pakai ransel dengan inisial “D”. Sejak itu mulai suka dipanggil “D” (Dee) oleh beberapa orang. Saya senang dengan sebutan itu karena simpel. Menjalani multiperan mengalir saja dengan banyak trial and error, tentunya. Yang menantang adalah bagaimana menyusun prioritas dari waktu ke waktu, dan konsisten menjalaninya. Misal, ketika saya sudah harus intensif menulis, saya harus berani menolak banyak tawaran pekerjaan dan proyek kreatif lain, sebab waktu saya untuk rumah dan keluarga juga sudah memakan besar porsi hari-hari saya. Kalau saya ambil semuanya, pasti ada yang keteteran. Saya tidak ingin keluarga saya jadi korban hanya karena saya mengejar karier. Waktu 24 jam sehari tidak bisa ditambah, jadi saya harus memaksimalkan ketersediaan waktu yang ada.

Dee dan Arina (Mocca) kan adik kakak kandung, bagaimana bisa jadi figur yang keduanya penuh karya dan menginspirasi? Kalau boleh tahu bagaimana kebiasaan didikan keluarga sehingga bisa menjadi figur yang menginspirasi banyak orang? – Nida Hadaina Farida

Ketika kami kecil, kami tidak terpikir untuk bercita-cita jadi seniman. Tapi hidup kami sehari-hari memang sudah dipadati kegiatan seni, dari main musik, nyanyi, menggambar, dan sebagainya. Orang tua kami sangat mengutamakan soal akademis, dan itu jadi syarat untuk kami tetap meneruskan hobi seni. Di sisi lain, orang tua kami juga sangat suportif. Kami semua diberi kesempatan les musik. Rumah kami menjadi markas besar untuk kegiatan musik, latihan paduan suara sekolah, gereja, vokal group, band, dan lain-lain. Jadi, kegiatan berkesenian itu sudah seperti atmosfer tetap di rumah kami.