Showing posts with label Menulis Skenario. Show all posts
Showing posts with label Menulis Skenario. Show all posts

Friday, May 12, 2017

Sriwijaya Air Magz | Inspiring People | April, 2016 | K. Ayu Budiani


Dee terkenal piawai menggunakan bahasa-bahasa puitis dalam membuat lirik lagu. Jika ditanya, Dee merasa tipe orang romantis atau bukan?

Lumayan. Namun, khusus dalam kepenulisan, saya bisa karena terbiasa. Dalam menulis, saya harus menempatkan diri saya dalam konteks cerita, meresapi emosi yang terjadi, sehingga bisa mengomunikasikan emosi tersebut dalam kata-kata yang saya susun.

Siapa musisi favorit? Kenapa?

Saya cenderung menyukai mereka yang singer-songwriter, karena biasanya lagu-lagu mereka sangat mengena. Saya menyukai Sarah McLachlan, Sara Bareilles, Emily Saliers dari Indigo Girls.

Dari mana biasanya mendapat inspirasi lagu?

Tidak tentu. Buat saya selama ini proses bikin lagu itu seperti tersambar petir. Kalau terjadi, terjadilah. Saya tidak sengaja mencari-cari.

Sebagai penulis lagu, bagaimana menyelaraskan antara lagu dengan orang yang menyanyikan?

Patokan saya bukan kepada yang menyanyikan, karena saya tidak tahu pasti siapa yang akan menyanyikan lagu saya. Saya lebih memperhatikan aspek prosodi, yakni kesesuaian melodi dengan lirik. Prosodi itu butuh kepekaan. Tapi, jika kita sudah bisa mengamati itu dengan jeli, kita bisa tahu bahwa frase melodi tertentu cocok dengan bunyi vokal tertentu. Kemudian, frase melodi tersebut akan membentuk suasana tertentu yang cocok dengan tema tertentu. Ketika ada lagu yang prosodinya nggak enak atau nggak pas, saya bisa merasa dan terganggu. Misalnya, ada frase melodi cerita tapi diisi dengan lirik yang sedih dan sebaliknya. Atau ketika ada pemotongan suku kata yang tidak pas dengan napas melodi. Atau ketika ada kata yang artikulasi hurufnya menyulitkan ketika dinyanyikan. Hal-hal seperti itu yang saya perhatikan.

Seorang penulis harus banyak membaca. Seberapa seringkah Dee membaca buku?

Kalau sedang riset, bisa sangat banyak. Terus terang, belakangan saya kesulitan punya waktu luang untuk membaca. Kalau memang niat banget, saya sampai harus mencantumkan membaca dalam to-do-list.

Siapa penulis favorit dan apa judul buku favorit? Kenapa?

Tidak ada satu penulis fiksi yang saya ikuti terus dengan setia, mungkin karena saya bukan pembaca fiksi yang sabar. Tapi, ada beberapa penulis nonfiksi yang saya ikuti terus karena saya suka topiknya, seperti Graham Hancock.

Dee adalah seorang ibu dari dua anak, bagaimana membagi waktu dengan keluarga namun bisa tetap berkomitmen menulis?

Dengan mengaturnya dalam jadwal kerja. Ketika saya sudah memilih satu proyek kreatif, saya langsung membuat deadline, menyusun jadwal harian, dan dalam perhitungan tersebut saya sudah memilah waktu saya kerja dan waktu saya buat keluarga dan hal lainnya. Ketika komitmen itu dimulai, saya menyebut fase tersebut “fase masuk gua”. Biasanya, selama fase masuk gua berlangsung, saya membatasi seminim mungkin kegiatan saya di luar rumah, jadi saya masih punya waktu untuk keluarga. Karena dengan hanya menulis saja sudah begitu banyak jam yang saya dedikasikan untuk bekerja, kalau saya masih mengambil lagi komitmen-komitmen pekerjaan lain, bisa-bisa saya tidak punya waktu lagi untuk rumah dan keluarga. Jadi, memang harus ada yang dikorbankan.

Semua buku Dee yang diterbitkan sudah difilmkan. Sejauh mana keterlibatan Dee dari semua film-film adaptasi buku Dee tersebut?

Beda-beda bergantung kesepakatan saya dengan pihak produser dan juga kesanggupan saya. Karena meski produsernya kepingin saya terlibat, kalau saya sedang ada fase menulis, saya pasti akan mengutamakan buku saya. Mengapa? Karena pertama, film bukan pekerjaan inti saya. Kedua, dalam film, posisi saya masih bisa digantikan atau malah ditiadakan, karena bagaimana pun produser mengadaptasi karya saya, yang artinya mereka punya kebebasan untuk melakukan interpretasi ulang. Sementara tidak ada lagi yang bisa menuliskan buku saya selain saya sendiri.

Bagaimana Dee memandang sebuah film yang diadaptasi dari buku?

Film yang diadaptasi dari buku adalah hal biasa. Film-film pertama di dunia pun diambil dari adaptasi buku. Jadi, ini adalah praktik yang lazim. Film yang diadaptasi dari buku biasanya menjadi polemik di antara pembaca setia, ada yang suka dan tidak. Namun, menurut saya, semua film juga biasanya begitu. Akan ada yang suka dan tidak. Pada akhirnya, sebuah produksi film tugas utamanya adalah menghadirkan film yang sebaik mungkin. Terlepas itu diadaptasi dari buku atau bukan.

Piawai dalam menulis karya fiksi, lalu menulis skenario pertama kali untuk Perahu Kertas. Apakah mengalami kesulitan untuk menulis skenario? Jika iya, bagaimana mengatasi kesulitannya?

Skenario adalah hal yang sama sekali berbeda dengan penulisan novel. Pakemnya, pendekatannya, eksekusinya, semuanya beda. Jadi, untuk menulis skenario saya harus belajar ulang dari nol. Saya baca lagi teori-teori menulis skenario, diskusi dengan beberapa penulis skenario, dsb.

Jika disuruh untuk memilih, bermusik atau menulis? Kenapa?

Tidak bisa memilih. Keduanya sudah inheren ada di dalam diri saya. Bagi saya, musik dan menulis hakikatnya satu: story telling.

Ide gila apa yang ingin dituangkan di dalam tema cerita di buku?

Pendekatan saya kepada buku tidak seperti itu. Saya tidak menulis semata-mata karena punya “ide gila”. Saya menulis karena ingin menciptakan cerita yang baik. Dan, untuk itu tidak selalu dibutuhkan ide yang gila, ide yang biasa-biasa pun jadi, selama dikerjakan dengan baik hasilnya bisa jadi luar biasa.
 
Pernah punya keinginan untuk menulis skenario orisinal untuk film? Film genre apa?

Saat ini belum.

Banyak sekali anak-anak muda yang bercita-cita menjadi penulis dan karyanya dipajang di toko buku. Sama seperti impian Dee. Namun tak sedikit pula yang mengalami penolakan. Bisa berbagi sedikit untuk mereka bagaimana supaya tidak patah semangat?

Penolakan adalah hal yang akan dilalui semua penulis, skalanya beda-beda. Mungkin yang satu ditolak penerbit, yang satu lagi ditolak media, yang lain mungkin dikritik teman-teman yang akhirnya terasa seperti “penolakan”. Intinya, tidak semua orang akan menyukai karya kita. Penulis pemula mengalami itu, penulis profesional pun masih akan terus mengalami itu. Ketika saya mengalami hal tersebut, saya menggunakannya sebagai momen refleksi. Biasanya, kita akan temukan beberapa hal yang perlu kita perbaiki dari karya kita. Momen seperti itu juga menjadi pengingat bagi saya: untuk siapakah saya menulis? Saya tidak menulis untuk memuaskan orang lain. Saya menulis untuk kepuasan diri saya sendiri. Kalau ada orang yang suka, saya anggap bonus. Jadi, selalu kembalikan niat kita ke bentuknya yang paling dasar. Saya menulis buku yang saya ingin baca. Itu saja.

Sukses menerbitkan Supernova seri terakhir di awal tahun 2016. Target dan impian apa lagi yang belum tercapai?

Saya tidak melihatnya lagi seperti itu. Saya memandang menulis adalah proses kontinu. Sama halnya seperti petani menghadapi musim. Habis Supernova 6 akan datang buku berikutnya, dan seterusnya.  

Kapan menerbitkan buku lagi?

Sekarang ini saya break dulu. Masa rihat bagi saya sama pentingnya dengan masa bekerja. Saya ingin mengambil napas panjang sebelum mulai sesuatu yang baru. Mungkin saya baru akan menyusun proyek kreatif berikutnya di akhir tahun. We’ll see.

Monday, December 22, 2014

MNC Network Magazine | Profil | April, 2013 | by Roy Wicaksono


Sebagai Penulis:

Bisa ceritakan singkat mengenai asal-usul nama “Dee” yang menjadi identitas Anda dalam menulis sebuah karya tulis?

"Dee" sebetulnya pengucapan inisial dari huruf D, sebuah emblem yang menempel di ransel sekolah saya bertahun-tahun, dan juga signature saya di buntut setiap e-mail. Beberapa teman jadi ada yang memanggil saya "Dee". Saya lalu memakai inisial tersebut sebagai nama pena, karena waktu saya menerbitkan buku, saya ingin memisahkan image saya sebagai penyanyi di RSD dan sebagai penulis. Waktu itu saya lebih dikenal sebagai "Dewi RSD". Sementara nama "Dewi Lestari" sendiri cukup pasaran di Indonesia. Akhirnya saya pilih saja inisial "D" atau Dee.

Setelah lebih dari 10 tahun sejak karya pertama Anda muncul di pasaran (Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh), bagaimana kini Anda memandang diri Anda sendiri sebagai seorang penulis?

Penulis sudah menjadi profesi yang nyaman untuk saya kenakan. Menulis sendiri adalah hobi sejak  kecil, dan saat ini menulis sudah menjadi second nature. Semakin digali lebih dalam, semakin saya menemukan keindahan dan pelajaran baru dalam dunia kepenulisan.  Saya memandangnya sebagai seni. Dan saya merasa beruntung bisa menjadikan hobi ini sebagai profesi dan saluran nafkah.

Berbagai prestasi telah hinggap pada karya Anda, hingga penghargaan seperti Top 5 dalam Khatulistiwa Literary Award tahun 2001 dan 2008 berhasil diraih. Bagaimana tanggapan Anda mengenai hal ini?

Prestasi dalam bentuk award bagi saya adalah bonus, yang menyenangkan, tentunya. Tapi tidak pernah dan sebaiknya tidak menjadi target. Saya menulis bukan untuk award, tapi untuk mengomunikasikan ide. Menjadikan diri saya medium dari pesan yang lebih besar. Untuk itu, bagi saya jauh lebih penting dan berharga ketika ide-ide yang saya kemas dalam buku, bisa berbicara bagi banyak orang, terlebih lagi jika kemudian mengubah hidup mereka. Bagi saya, itu penghargaan yang tertinggi.

Bagaimana perasaan Anda saat menjadi pembicara dalam Ubud Writers Festival dan Byron Bay Writers Festival beberapa waktu silam?

Selalu menyenangkan dan membanggakan jika diundang berpartisipasi ke dalam Writers Festival. Itu berarti posisi kita sebagai penulis telah dianggap mewakili aspek tertentu yang penting dalam skema besar dunia kepenulisan. Tapi, memang tidak semua undangan bisa saya terima, terutama yang di luar negeri. Kadang-kadang, karena kendala jadwal dan prioritas, saya terpaksa tidak berangkat. Tahun ini (2013) saya akan kembali berpartisipasi dalam Ubud Writers Festival, dan ada beberapa festival internasional lain yang masih tahap penjajakan.


Adaptasi Buku ke Layar Lebar:

Tiga karya buku Anda, berturut-turut telah diadaptasi ke panggung layar lebar selama 2 tahun belakangan seperti Perahu Kertas, Rectoverso dan Madre. Sebatas apa kontribusi Anda terhadap versi layar lebarnya?

Berbeda-beda di setiap judul. Saya paling banyak terlibat di Perahu Kertas, karena saya memang penulis skenarionya, dan saya juga ikut terlibat di proses casting, editing, dan menulis soundtrack. Keterlibatan itu tentunya punya konsekuensi. Waktu terlibat di Perahu Kertas, saya harus cuti setahun dari menulis buku. Saya tidak punya keleluasaan itu lagi di Rectoverso dan Madre. Karena masa produksi yang berdekatan dan simultan, saya memilih untuk menyelesaikan buku yang adalah  profesi utama saya. Di Rectoverso, saya masih terlibat secara informal sebagai konsultan skenario dan editing. Tapi di Madre, bisa dibilang saya nyaris melepas total. Hanya satu kali saya sempat baca skenario dan kasih masukan. Sisanya, saya memercayakan proses kreatifnya ke tangan Mizan Production dan Benni Setiawan yang menjadi sutradara sekaligus penulis skenarionya.

Anda juga diketahui sebagai penulis skenario untuk film Perahu Kertas dan juga Madre yang akan tayang sebentar lagi. Adakah hal-hal unik dalam penulisan ini dari versi buku ke versi layar lebarnya? Adakah kesulitan dalam hal tersebut? (menulis skenario film dari versi bukunya)

Saya tidak menulis untuk Madre, hanya Perahu Kertas. Menulis skenario sendiri adalah skill yang menurut saya tidak bisa disamakan dengan menulis buku fiksi. Untuk menulis skenario, saya perlu belajar dari nol. Dalam film sudah ada struktur dan kebutuhan yang jelas. Hitungannya adalah durasi dan budget. Kebutuhan grafik ceritanya juga pasti. Jadi, fleksibilitas yang kita miliki jauh berbeda dari menulis buku. Kesulitan dalam menulis skenario Perahu Kertas adalah memampatkan cerita yang begitu panjang ke dalam skenario 110 halaman. Itu pun pada akhirnya film tetap menjadi dua, karena rough cut film ternyata mencapai 4,5 jam. Dalam film, kita juga dihadapkan dengan banyak kepentingan. Sebuah setting tertentu bisa mengibatkan pembengkakan biaya. Jadi, kepraktisan juga faktor penting dalam menulis skenario. Hal-hal seperti ini tidak ditemui saat menulis buku. Imajinasi kita bisa bebas menciptakan apa saja. Dalam skenario, setiap imajinasi kita akan menentukan durasi dan budget.

Bagaimana komentar Dee terhadap tiga film layar lebar yang telah rampung? (Perahu Kertas, Rectoverso, dan Madre)

Sepertinya semua film yang diadaptasi dari buku akan selalu memiliki tantangan yang mirip-mirip. Pertama, menjembatani apa yang ada di imajinasi penulis, pembaca, dan pembuat film itu sendiri, tidaklah mudah. Perbedaan dan pertentangan pasti ada. Film adaptasi buku pasti tak akan luput dari pembandingan, jadi kebanyakan penonton tidak menyaksikannya dengan mind set yang fresh, melainkan komparasi. Ketiga film tersebut (Perahu Kertas, Rectoverso, dan Madre) juga mengalami tantangan serupa. Saya rasa Rectoverso memiliki lebih banyak kemudahan dibanding dua judul lain karena format aslinya yang cerpen-semi-puisi memberikan ruang pengembangan paling luas dibandingkan Perahu Kertas maupun Madre. Madre, sekalipun formatnya novelet/novel pendek yang lebih pas bagi format film, lebih definit ceritanya ketimbang cerpen-cerpen yang ada di Rectoverso. Karena itu ia pun punya keterbatasan seperti Perahu Kertas. Saya sebagai penulis tentu juga tidak luput dari perbenturan imajinasi ketika saya melihat format filmnya. Namun, terlibat langsung dalam produksi Perahu Kertas mengajarkan saya untuk bisa lebih relaks dan mengapresiasi film sebagai apa adanya film. Itu pun akan kembali lagi ke selera. Setiap sutradara adalah koki, dan ada yang saya suka dari masakannya, ada yang kurang suka. Tapi, yah, itu wajar-wajar saja.


Sebagai Musisi:

Setelah beberapa tahun berpisah, akhirnya trio RSD kembali lagi ke studio untuk mengisi salah satu lagu di film Perahu Kertas, bisa ceritakan mengenai hal ini?

Di Perahu Kertas, saya terlibat menulis soundtrack. Ada satu lagu (Langit Amat Indah) yang saya ciptakan yang menurut saya pas dinyanyikan oleh grup. Iseng, saya melontarkan ide mengumpulkan RSD kembali untuk menyanyikan lagu itu. Tahunya ide tersebut disambut baik oleh produser. Akhirnya kita bisa rekaman.

Adakah keinginan untuk comeback sebagai trio RSD dan kembali memproduksi album penuh lagi bersama dua personel lainnya?

Sejauh ini belum ada rencana ke sana. Sekarang kami sudah punya jalur karier masing-masing, jadi kalaupun sesekali reuni, itu lebih ke arah for fun, dan kami rasanya belum ingin terbebani target harus rekaman album lagi.

Anda diketahui sebagai salah satu saksi hidup dalam konser Metallica 1993 di stadion Lebak Bulus silam, apakah momen ini mempengaruhi Dee dalam berkarya musik?

Hehe, kayaknya sih nggak sampai mempengaruhi dalam berkarya. Sebagai generasi '90-an pada umumnya yang dekat dengan musik grunge, rock, dan metal, saya bisa menikmati musik Metallica. Tapi mereka tidak sampai menjadi pengaruh saya dalam berkarya. Saya lebih dipengaruhi musik band-band seperti U2, Tears for Fears, Pearl Jam, Radiohead, dll.

Siapakah musisi idola Dewi Lestari?

Kebanyakan dari genre singer/songwriter seperti Sarah McLachlan, Paula Cole, Sarah Bareilles, Corinne May. Untuk band saya cinta mati sama Tears For Fears.


Sebagai Musisi dan Penulis:

Anda dikenal memiliki profesi sebagai musisi dan penulis, bagaimana membagi waktu untuk dua hal tersebut?

Tidak ada resepnya. Masalah fluktuasi prioritas saja sih. Apa yang menjadi prioritas saya saat ini, ya, itu yang saya kerjakan. Kadang kalau saya harus fokus sama keluarga, saya cuti bekerja sama sekali. Saya tidak pernah membatasi secara rigid profesi saya. Prinsipnya adalah menjalankan apa yang perlu dan apa yang saya suka.

Apa ada perbedaan dalam menulis buku dan lirik dalam musik?

Beda sekali. Walau keduanya bisa saling memengaruhi. Dalam menulis lirik, saya cenderung suka lagu yang punya cerita, jadi ada unsur bikin plot di situ. Untuk menulis, saya cenderung suka menulis kalimat yang berirama, yang enak dibunyikan, yang liris. Jelas itu adalah pengaruh dari kebiasaan bikin lirik.

Adakah momen di waktu Anda kecil, yang mempengaruhi karier Anda saat ini menjadi penulis maupun musisi?

Saya hidup di keluarga penyuka seni. Dari kecil, kegiatan bermusik adalah kegiatan sehari-hari. Dari mulai kursus piano, ikut vokal group, paduan suara, dsb, adalah hal yang dilakoni satu keluarga. Keluarga saya juga penyuka buku dan senang dengan cerita, berkisah, dsb. Otomatis itu menjadi pembentuk minat dan hobi saya hingga kini.

Rectoverso merupakan salah satu wujud yang terbentuk atas kegemaran Anda dalam menyanyi dan menulis. Kemudian, apalagi rencana Dee ke depan?

Prioritas saya saat ini adalah menyelesaikan Supernova. Setelah itu, cukup banyak rencana yang lain. Antaranya, membuat website yang memuat minat saya secara komprehensif, lalu membuat workshop menulis, dan buku atau memoar tentang proses kreatif. Selain itu, masih ada buku-buku tema lain yang ingin saya wujudkan.


Kehidupan Sosial:

Apa makna “Penggemar” bagi Dee? (baik penggemar karya musik maupun karya tulis berupa buku ataupun cerita-cerita pendek yang di-publish)

Saya agak risih menggunakan kata "penggemar", saya lebih melihat mereka sebagai pengapresiasi. Relasinya lebih seperti partner. Para pembaca buku dan penikmat musik saya adalah cermin bagi saya berkarya. Dari reaksi dan apresiasi mereka, saya dibantu untuk mengenal karya saya lebih baik. Dan pada akhirnya, untuk mengenal diri saya dengan lebih baik.

Apa yang Anda lakukan di waktu luang?

Main dengan anak dan keluarga, membaca, menjalankan hobi lain seperti berkebun, masak, dll. Kegiatan saya kebanyakan sangat domestik.

Adakah suka-duka profesi Anda?

Ini pertanyaan yang terlalu luas untuk dijawab. Tentu semua profesi punya suka-duka. Kesulitan dan kemudahan tersendiri. Apa yang saya lakukan adalah hobi bagi saya, jadi kesulitannya pun saya sambut dengan suka. Namun ketika hobi menjadi profesi, tentu punya tantangan yang sifatnya lebih profesional seperti manajemen waktu dan manajemen bisnis. Bagi saya, kesulitan yang terkadang terasa seperti "duka" adalah ketika menghadapi problem-problem dari aspek profesionalnya. Dan saya rasa ini hampir terjadi universal di semua profesi.


Sunday, December 21, 2014

Rolling Stone Indonesia | Film Perahu Kertas | Agustus, 2012 | by Wening Gitomartoyo


Penulisan novel Perahu Kertas dilakukan dengan 'mengasingkan diri' selama 60 hari. Bagaimana dengan penulisan skenario filmnya? Dan berapa lama pengerjaannya?

Untuk skenario saya nggak menargetkan waktu seperti saat menulis novel. Saat menulis skenario, prosesnya saya barengi dengan belajar dasar teorinya juga. Jadi, cukup lama juga saya berkutat dengan buku-buku penulisan skenario, membaca skenario film yang menurut saya bagus dan mempelajari strukturnya. Saya lebih lama bermain dengan struktur ketimbang penulisannya, karena tantangan skenario Perahu Kertas adalah memuat cerita yang begitu besar ke dalam skenario 100 halaman tanpa merusak grafiknya. Belum lagi penulisan skenario tersebut harus mengakomodasi keinginan tiga produser (Pak Chand Parwez dari Starvision, Pak Putut dari Bentang Pictures, dan Hanung Bramantyo dari Dapur Film). Jadi, cukup lama proses bongkar pasangnya. Kira-kira setahun saya mengerjakan skenario Perahu Kertas.

Hal apa yang dirasa paling pelik dalam 'memindahkan' karakter-karakter novel ke dalam film?

Tidak banyak perubahan dalam karakter. Karakter-karakter di novel sudah cukup kuat. Namun, saya merasa, dalam film, cerita dan karakter harus dipertegas gradasinya. Harus ada tokoh-tokoh yang menajamkan konflik. Untuk itu, saya memunculkan beberapa tokoh "baru", tepatnya, tokoh yang sudah ada di novel tapi dikembangkan sedemikian rupa sehingga mereka memiliki porsi yang lebih besar dan signifikan. Misalnya, tokoh Siska (partner kerjanya Remigius) dan Banyu (pemahat di Ubud). Dua tokoh itu ada di novel, tapi hanya selewat, di film mereka diperbesar dan punya porsi signifikan dalam hidup tokoh-tokoh utama.

Film biasanya tidak bisa seleluasa novel, dalam arti ada hal-hal yang harus dikorbankan atau dihilangkan. Bagaimana Mbak Dewi berkompromi dengan hal ini?

Itu hal yang saya sadari sejak awal. Karena itulah saya mengajukan diri sebagai penulis skenario Perahu Kertas sejak awal kerja sama. Saya berpikir, kalau ada orang yang bisa tega memutilasi cerita Perahu Kertas, ya, harus saya orangnya. Sayalah orang yang memahami betul fondasi cerita Perahu Kertas, hingga sayalah yang bisa memutilasinya tanpa membunuh spirit ceritanya. Konsekuensinya, kalau ada yang protes kenapa cerita beda dengan novel, ya, saya jugalah orang yang diprotes. Nggak bisa cari kambing hitam. Hehe.

Bagaimana komentar Mbak Dewi untuk Hanung Bramantyo sebagai sutradara film ini? Apa dari awal memang sudah menginginkan Hanung di posisi itu?

Untuk pemilihan sutradara, kami pitching bersama (saya, Pak Chand Parwez, dan Pak Putut). Ada empat nama sutradara yang sempat dicalonkan. Sejak awal, Pak Parwez sudah sangat yakin dengan Hanung, karena menurut beliau, Hanung tipe sutradara yang mampu memegang banyak pemain, pas dengan karakter Perahu Kertas yang punya tokoh banyak. Sayangnya, Hanung sempat tidak bisa karena jadwal kerjanya nggak matching. Setelah rencana rilis Perahu Kertas diundurkan ke Agustus 2012, jadwal Hanung kembali memungkinkan, dan akhirnya Pak Parwez kembali mengusulkan Hanung. Jujur, tadinya saya ragu. Tapi, setelah kenal langsung dengan Hanung, intuisi saya seketika mengatakan, dialah orang yang tepat. Apalagi akhirnya Hanung bukan cuma menyutradarai, tapi ikut terlibat sebagai produser dengan perusahaannya, Dapur Film.

Mbak Dewi juga terlibat dalam pemilihan pemain filmnya. Bisa diceritakan bagaimana prosesnya? Sulitkah 'memasangkan' karakter-karakter di novel dengan para aktor/aktrisnya?

Keterlibatan saya lebih konsultatif, sih. Proses casting tetap sepenuhnya dijalankan oleh Zaskia. Menurut Zaskia sendiri, inilah proses casting tersulit yang pernah dia lakukan. Casting Perahu Kertas itu seperti orkestrasi, semua pemain saling terkait, jadi kalau ada satu yang diubah, yang lain harus ikut berubah. Maudy adalah pemain yang pertama kami kunci, dan memang sayalah yang meyakini bahwa Maudy adalah pemain yang tepat untuk Kugy. Setelah semua pihak setuju, barulah kami menyesuaikan semua pemain berdasarkan tokoh Kugy yang sudah kami kunci.

Selain Maudy Ayunda, film Perahu Kertas juga memuat Rida Sita Dewi dalam soundtrack-nya. Apa yang memicu ini, dan bagaimana saat kembali menyanyi setelah beberapa tahun tidak bersama?

Ide melibatkan RSD sebenarnya sudah cukup lama ada di benak saya, tepatnya ketika saya menuliskan adegan terakhir Perahu Kertas. Ada satu lagu yang saya rasa pas banget untuk adegan itu. Lagu lama saya yang belum pernah dirilis, saya tulis mungkin sekitar tahun '96, judulnya "Langit Amat Indah". Tahun segitu saya lagi senang-senangnya dengan Indigo Girls, jadi lagu itu pun feel-nya kurang lebih seperti lagu-lagu Indigo Girls yang cenderung folk, dinyanyikan lebih dari satu orang, dst. Saya pun iseng terpikir untuk menyanyikannya bareng RSD. Ternyata para produser, termasuk Trinity Optima yang mengerjakan soundtrack-nya, bersemangat dengan ide tersebut. Saya sendiri baru mengontak Rida dan Sita menjelang rekaman. Mereka juga ternyata bisa dan semangat untuk rekaman lagi. Rasanya lucu campur aneh, ya. Bayangkan, kami terakhir rekaman 8 tahun yang lalu. Sudah nggak tahu lagi suara kita kalau digabung seperti apa. Begitu rekaman, ternyata belum berubah, termasuk kelakuannya juga. Jadi, seru banget proses rekamannya waktu itu.

Penulisan lagu-lagu untuk soundtrack Perahu Kertas memakan waktu berapa lama? Bagaimana proses merangkum cerita panjang di novel menjadi lirik lagu?

Sejak awal pula saya sudah tahu akan melibatkan diri dalam soundtrack. Saya rasa, dengan profesi saya sebagai musisi dan pencipta lagu, sangat alamiah jika saya pun berpikir tentang Perahu Kertas dalam format musik. Jadi, ketika skenario selesai, saya langsung membuat lagu "Perahu Kertas". Saya pilah-pilah mana ide yang perlu dimasukkan, dan juga kata-kata kunci seperti "perahu kertas", "surat cinta', "radar", dsb. Jadi terasa jelas keterkaitan lagu dan film. Saya menciptakan lima lagu untuk soundtrack ini. Ada empat lagu baru (termasuk "Perahu Kertas), dua di antaranya bahkan saya tulis dalam waktu seminggu saja, karena baru kita ketahui slotnya ketika sudah nonton preview pertama kali. Satu lagu yang sudah saya tulis lama tapi belum pernah dirilis, "Langit Amat Indah" (RSD). Sisanya: "Tahu Diri" oleh Maudy Ayunda, "Dua Manusia" oleh Dendy Mikes, "A New World" oleh Nadya Fathira. Di luar dari lagu saya, ada Triangle Band ("How Could You") dan Adrian Martadinata ("Behind The Star").

Kabarnya Mbak Dewi sempat ragu akan kemampuan Maudy Ayunda menyanyikan theme song Perahu Kertas. Bagaimana setelah mendengar hasil akhirnya?

Usia Maudy masih sangat muda, dan saya tadinya ragu apakah dia punya kematangan cukup untuk bisa menyelami lagu tersebut. Tapi Maudy ternyata menguasainya dengan baik. Satu hal tentang Maudy, menurut saya dia orang yang sangat cerdas dan perseptif, dengan mudah dia memahami apa yang dibutuhkan darinya, dan apa yang kita mau. Jadi, prosesnya cukup mulus.

Selain Perahu Kertas, Rectoverso juga akan dibawa ke layar lebar oleh beberapa sutradara perempuan. Sulitkah menaruh kepercayaan pada orang lain atas pembuatan karya Mbak Dewi dalam format lain?

Memang tidak mudah. Tapi saya sendiri bukan tipe kreator yang fanatik, dalam arti saya masih bisa melihat karya saya berkembang dari benak orang lain, dan malah penasaran seperti apa hasilnya. Yang sulit sebetulnya adalah menjaga agar karakter dan "flavor" Dee tetap ada dalam karya-karya yang dikembangkan tersebut, karena itu yang rentan hilang. Sementara menurut saya justru "flavor" itulah yang paling dikenali oleh pembaca. Jadi, kalau bukan saya terlibat langsung, ya, saya harus benar-benar berani melepas. Di Rectoverso, keterlibatan saya memang agak "nanggung", karena saya tidak menulis skenario atau casting, dan hanya terlibat secara konsultatif saja. Tapi, ya, kita lihat nanti. Saya rasa Marcella dan teman-teman sudah bekerja dengan sangat serius untuk mewujudkannya menjadi film yang cukup baik.

Majalah HAI | Memfilmkan Buku | September, 2012 | by Ananda Rasulia


Saat pertama mendapat tawaran, apa rasanya novel yang ditulis sendiri akan difilmkan? Apa yang terbayang saat itu?

Dari kali pertama menuliskan cerita Perahu Kertas tahun 1996, saya sudah mengkhayalkannya menjadi film. Dalam benak saya saat menuliskannya pun yang terbayang adalah film. Walaupun menurut saya saat itu, format yang ideal untuk Perahu Kertas adalah serial, karena konten ceritanya yang sangat padat. Dari tahun 2001 pun sebetulnya saya dan kakak saya sudah memperjuangkannya menjadi film, tapi belum berjodoh. Baru tahun 2009 tawaran itu datang bersamaan dengan tawaran menerbitkan Perahu Kertas menjadi buku (sebelumnya sudah terbit dalam format digital WAP oleh XL). Yang terbayang saat itu adalah kerja keras. Saya memang sudah mensyaratkan beberapa hal, salah satunya menjadi penulis skenario, terlibat dalam proses casting, dan membuatkan soundtrack. 

Mbak juga menjadi penulis naskah Perahu Kertas, apakah alasan utama meminta posisi tersebut dalam film?

Karena saya merasa sebagai orang yang paling mengenal cerita, jadi kalau ada yang harus tega "memutilasi" novel Perahu Kertas tapi tanpa kehilangan esensi dan gaya bertutur Perahu Kertas, ya orang itu adalah saya. Saya memang harus belajar menulis skenario dari nol, karena format dan hukum-hukumnya yang nggak persis sama dengan novel. Tantangan yang menyenangkan, sih. Saya belajar banyak dari menulis skenario Perahu Kertas.

Apa pendapat Mbak tentang 'film yang diangkat dari novel, sering mengecewakan penonton yang sudah membaca novel tersebut?'

Ya, itu sudah lumrah hukumnya. Teater dalam pikiran pembaca adalah yang terbaik, mutlak, dan tak bisa dikalahkan. Otomatis, pembaca yang menjadi penonton akan melakukan komparasi dan pembanding-bandingan antara apa yang ia lihat di layar dan yang ia khayalkan dalam benaknya. Dan hampir pasti keduanya berbeda.

Bagaimana sebenarnya proses adaptasi film dari novel? Jika dibuat langkah demi langkah secara garis besar seperti apakah kira-kira langkahnya?

Skenario punya struktur yang hampir baku. Grafik cerita, naik-turun, sudah ada hukum-hukumnya. Sudut bercerita dalam film juga harus jelas, apa yang jadi premisnya, segalanya harus lebih tajam. Jadi, dari novel, kita harus menentukan ulang, premis cerita kita apa, karakter-karakter mana yang menjadi pencerita, dsb. Selebihnya, kita memuatkan isi novel ke dalam struktur skenario mengikuti hukum grafiknya. Karena itu terkadang ada tokoh yang tidak menonjol jadi menonjol, konflik yang tidak ada jadi ada, dsb, karena kita harus "melukis" ulang grafik cerita sesuai dengan hukum film. 

Apa yang paling sulit dari semua langkah itu? Dan bagaimana cara mengatasinya?

Yang paling sulit adalah mengakomodasi keinginan banyak orang. Film itu melibatkan banyak pihak: sutradara, produser, artistik, dsb. Semua itu harus diakomodir dalam skenario. Jadi nggak bisa sesukanya penulis. Beda dengan novel di mana penulis punya kebebasan hampir mutlak. Mengatasinya ya dengan belajar berkompensasi. Memahami bahwa inilah film. Bukan buku.

Tentang film yang sekarang banyak diangkat dari novel, apakah Mbak melihatnya sebagai tren, latah, atau memang permintaan pasar yang besar?

Ada beberapa aspek bisnis yang jelas menguntungkan dengan mengadaptasi buku. Pertama, buku, terutama yang laris, pastinya sudah punya pembaca setia dalam jumlah besar. Pembaca itulah yang kemudian diharapkan menjadi penonton. Jadi, sudah ada sejumlah penonton yang pasti. Kedua, film itu tulang punggungnya adalah cerita. Buku, terutama yang laris, kurang lebih karena punya cerita yang kuat. Berarti itu sudah menjadi modal tulang punggung yang kuat bagi film. Risikonya, kalau adaptasi tidak memuaskan. Otomatis akan menjadi publikasi yang kurang baik bagi film, bahkan bagi penulis. Jadi tetap ada risikonya.

Sekarang sedang garap film Madre ya, mbak? Sudah sampai mana prosesnya? Mbak jadi penulis naskah lagikah?

Dalam Madre, saya tidak terlibat produksi sama sekali. Cerita akan ditulis dan disutradari oleh Benny Setiawan. Jadi, di Madre, saya belajar juga untuk melepas karya saya sepenuhnya. Bagi saya ini sebuah pengalaman yang perlu dicicipi juga. Yang saya tahu, saat ini Madre masih penggarapan naskah sekaligus persiapan syuting. Syuting mulai Oktober.

Ada pesan khusus untuk filmmaker yang akan menggarap film yang diangkat dari novel?

Pahami premis cerita dengan baik, karena itulah benang merah yang minimal harus ada untuk menjembatani buku dan film. Pahami bahwa film dan buku adalah dua format yang berbeda. Jangan salahi struktur hanya karena ingin "setia" sama buku. Tulang punggung film tetap harus skenario yang kuat, bukan skenario yang persis buku.

Wednesday, December 17, 2014

Jawa Pos | Film Madre | Maret, 2013 | by Amalia Nurul M


Madre merupakan cerita yang sangat memikat. Dari mana Dee mendapatkan inspirasinya? 

Idenya datang ketika saya ikut kursus membuat roti, dan saat itu instruktur saya menceritakan tentang adonan biang, dan bedanya dengan pengembang roti instan. Saat itu rasanya saya kecantol dengan adonan biang itu, saya merasa adonan biang memiliki aspek cerita yang sangat menarik. Sepulang kursus, saya langsung googling dan mencari tahu lebih banyak tentang adonan biang. Dalam kepala saya berkembanglah cerita, dan itu yang kemudian saya tuangkan menjadi novelet Madre. 

Pesan apa yang ingin Dee sampaikan lewat Madre? 

Singkat kata, inti cerita Madre adalah pemaknaan ulang arti rumah dan keluarga. Dalam proses merajut ceritanya, cukup banyak pesan sekunder lain yang tertuang, antara lain: dedikasi, kesetiaan pada profesi, entrepreneurship, harmonisasi antargenerasi, pluralitas, dan keberanian berkomitmen.
 

Madre dalam buku merupakan cerita pendek namun ia akan diangkat ke film yang berdurasi panjang, apakah akan terdapat penambahan cerita saat difilmkan? Bila iya, apakah Dee tidak khawatir penambahan tersebut dapat merusak esensi dari Madre? 

Ada penambahan. Bagi saya, itu wajar terjadi. Kebutuhan film dan buku tentu berbeda. Tapi memang saya meminta untuk baca skenario demi memastikan bahwa premis Madre masih tetap sama. Karena bagi saya pesan utamanya jangan sampai berubah. Jadi, saya sempat kasih masukan juga untuk pengembangan cerita. Untungnya Benni Setiawan dan pihak produser juga kooperatif, dan hasil akhirnya menurut saya cukup baik. Pengembangannya sejauh ini tidak melenceng dari pesan utama cerita asli.

Ekspektasi Dee terhadap film Madre? 

Tentu saya berharap Madre bisa mendapat sambutan hangat dari penonton, dan semoga jumlah penontonnya bagus.

Dalam film Perahu Kertas, Dee ikut terlibat di proses pembuatannya. Mengapa Dee tidak mau terlibat pada film Rectoverso dan Madre?

Karena saat produksi Rectoverso dan Madre dimulai, saya sedang menulis Partikel (Supernova 4). Untuk menulis skenario Perahu Kertas saat itu, saya harus break satu tahun dari menulis buku. Kalau saya terjun lagi di produksi Madre dan Rectoverso, buku saya akan keteteran, dan akhirnya saya memilih untuk fokus di buku. Toh, kalau di film, sudah banyak orang-orang kredibel yang bisa membantu. Sementara menulis buku kan tidak bisa digantikan siapa pun. Karena itu saya melepas Rectoverso dan Madre untuk digarap pihak lain. 

Madre merupakan buku ke-3 dari Dee yang difilmkan, apakah suatu saat Dee berencana untuk mengangkat pula kisah Supernova ke layar lebar? 

Supernova 1 memang sudah dibeli hak adaptasinya oleh Soraya Film (yang membuat film 5 CM). Tapi sepertinya baru akan diproduksi tahun 2014. 
 

The Jakarta Post | Profile Story | April, 2012 | by Indah Setiawati


Please share a bit about the process of writing Partikel. It took some years after the launch of Petir in 2004. Why was that? 

Tell you the truth, I don't know the exact answer. I believe every book has its own "birth timing”. Looking back, now I can see how Partikel needs a perfect accumulation of knowledge, interest, and passion, that might not brew up to the right boiling point if I had pushed myself to write it few years earlier. The ease of today's technology also allows me to do my research while I stay at home most of the time, looking after my family. 

I believe that you consider all books as your babies, but I still want to ask this. How personal is Partikel for you? 

Each of my books has its own voice, its own stressing point. With Partikel, I voice out my concern about the environment, the future of humanity on this planet, the destructive course we are heading.  On this particular episode, I also have a chance to juggle many topics that have been my interests, such as shamanism, ethnobotany, entheogens, crop circles, extra-terrestrials. Lately I'm also drawn to learn more about the new paradigm of anthropology, the work of pioneers like Graham Hancock and Andrew Collins. I feel there's a shift of global thinking that takes place as we speak. New evidence and questions about our history on this planet are emerging everywhere. So, Partikel is particularly interesting for me, because I can channel all those topics through its storyline. 

I talked to Mas Hanung (Bramantyo) a few months ago. He told me he was first fascinated with Supernova and later decided to film a book of yours, Perahu Kertas. You also penned the script. How was your reaction when you first heard that the decision to film the book was final? Whose names came across in your mind for Keenan and Kugy? Did the final actors and actress satisfy you? I believe your fans have mixed responses to this question, don’t they?

The offer to make movie out of Perahu Kertas came along with the offer of publishing the book in the first place. From all of my books, if I had to choose one to be filmed, the top of my list would be Perahu Kertas. The story is indeed a movie material. I realized it ever since I wrote its first draft back in 1996. So there had been no doubt in me to say yes to the offer. The publisher, Bentang Pustaka, is a sister company to Mizan Production, the same company who made Laskar Pelangi. So, it was a 2-in-1 deal to begin with, and I was sure I was in good hands. I signed myself in as the scriptwriter because I have always compelled to do it for Perahu Kertas. It was my first book to be filmed, and if there's any way I can "guide" it through, it's by writing the script. It was like escorting the bride on that long walk in the aisle, before the story "married" its director. So, first, it was just me and the producers, then we handpicked the director. That's when Hanung came into the picture. When I met him in person, I instantly have faith in him.  I was certain he would do a great job. The next challenging phase was the casting process. Hanung's wife, Zaskia Mecca, is the casting director. As we all have agreed, I was involved in the final selection. It was not easy at all. Perahu Kertas' casting is like an orchestration. You changed one cast, you had to change everyone, or the whole dynamic would go awry. We were quite happy with final result, although we also knew we all had a portion of compromising, even myself. When the shooting was about to begin and everyone gathered, including the casts, I started to see different qualities shone from them. I believed they are the perfect ones. Of course, we cannot satisfy all the book fans. Nobody can compete with the reader's theatre of mind. Yet, nobody can perfectly fulfill it either. In this case, we have to understand that Perahu Kertas movie is being retold by Hanung's perspective, and if we learn to appreciate that without having to fall back to our own theatre of mind all the time, we would enjoy the movie a lot more. 

What were the challenges of writing the script compared to the days when you wrote the story? Are you interested to pen more scripts? Will the film audience get a full story of the book in the cinema? Or did you have to omit many parts to pack the novel in a few hours? 

Screenplay is a totally different beast. One might be an author of dozens of fiction books, but screenplay writing must be perceived as a new ball game. We cannot go light with it, just because we're fiction writers. So I've prepared myself for quite some time for this. I always knew I wanted to write Perahu Kertas screenplay, so I took a film making workshop years ago, I bought a lot of books on screenplay writing, I read screenplays of movies that I like, etc. In short, I started from zero. I spent almost year writing Perahu Kertas screenplay. There's no way I can fit the whole book into the movie. I don't want to do that either. Stuffing the whole book plot into 110 minutes motion picture is not my objective. It's a movie, it's a different format, it speaks to the audience differently than a book does. I need to recreate the book into something similar, not identical. It carries the same essence and spirit, but with different delivery. I must admit, I enjoyed writing a screenplay. But, at the moment, I don't have the luxury of time and attention to do more screenplays. My main priority now is to finish my Supernova series. So, no screenplay in any time soon. 

Perahu Kertas seems to become an inspiration for lovers who search for the true love. Do personally you believe in soulmate? Why? Hehe. I just wonder what might happen if Keenan and Kugy chose to stick on their decision and did not get married.

I think Perahu Kertas is actually more than that. It's a reflection of a grander lesson in life, which is finding that subtle balance between when to let go and when to pursue. It's not just about romance. Every moment of our life, we're confronted with those two choices. Kugy and Keenan are struggling to find their inner voice, and learn to trust it, not only on their love lives, but also on their careers, family relationship, and friendship.
I, myself, used to believe in the concept of soul mate. Now, I cannot say for sure. I guess I don't care much about it anymore. I believe in changes. I believe that life is ever changing. Impermanence. If you believe that you will find a soul mate out there, and that belief makes your life happier and better, then by all means, believe it with your dear life. But if you don't, I think it's fine too. Life will always serve us with surprises anyway, and yet there's a familiarity in everything we encounter cause I think our heart is whole lot bigger and powerful than our logical mind. The heart just knows, intuitively, intelligently. 

What makes you happy and sad most during your career as a writer?

It's never about sadness, I think. It's more like challenges. My biggest challenge is always setting the time for writing and research. As long as I can remember, ever since I published my first book, suddenly the writing process was interfered with promotional events, talk shows, media interviews, etc. They are all necessary, yet they also stole big portion of my time and energy. Now that I'm married with two kids and a household to manage, it becomes even more challenging. I hardly read for fun. Every book I read is for my research otherwise I wouldn't have enough time to do it at all. What's very fulfilling is to see how my books can reach out to their readers and leave impact on their lives.

Some well known authors tell me that writing is a long and painful process (although they prove to enjoy the pain) because it involves researches, editing, mood and the likes. How about you? Could you tell me how you can keep going from one book to another? Which books require the fastest and the longest process? 

I don't look for ideas or inspirations. I somehow believe it works the other way around. Inspiration comes to a perceptive mind who, in the right time and the right situation, is sensitive enough to open up and be willing to be a host for that inspiration. If I create a new book, or write a new song, it's always a collaboration between that seeds of idea and my own willingness to work on it. So if one day, I stop doing what I'm doing, then perhaps the same dynamic doesn't take place. The duration of writing books are varied. It's not always about the writing, but also research, or sometimes our own passion needs an ample of time to mature. In general, I usually work for 3 months up to a year. That's just for the writing. I don't really count how much time I spent for research, because it's almost like daily thing. I bumped into something that I like, or something new triggered my interest, then I started to dig deeper as days went by. Partikel, so far, is the most interesting cocktail of topics. 

In your opinion, is writing a gift or a passion that can be nurtured?  Or else?

Both. Someone may have natural interest in writing, like I always have since I was little. During my childhood, I was not much of a reader, but composing stories was something I always fond of. But for that ability to grow, one needs to be determined, to be willing to practice over and over again, experiencing failure and finding way to get back up. It's the same with everything in life, I guess. A natural talent is a great start, but it's practice and determination that enable someone to be brilliant. And it's an on-going process.

Rampant piracy have become a bitter fact to face for singers and writers? What is your strategy?

I don't have any particular strategy at the moment. I'm just not so much into the business aspect of both music and book industry anymore. Maybe because my engine is leaning towards the creative aspect nowadays. Thinking about the piracy solution takes so much energy because the situation is complicated, involving the law enforcement, government, etc. Something that I just don't have space for right now.

After Partikel and Perahu Kertas movie, what’s next?

Many more. Rectoverso is also made into a movie, so is Filosofi Kopi. There are several possibilities for my other books to be filmed as well, and we're still working on the deal. And of course, the next episode of Supernova, Gelombang. I'm taking it one step at a time, because it's so easy to get overwhelmed in this modern life we're living. I just hope I don't lose sight of what's more important in life.


Tuesday, December 16, 2014

Majalah HELLO! | Karya & Keluarga | Oktober, 2012 | by Risty Nurraisa


SEPUTAR KARYA 

Selamat atas diputarnya film Perahu Kertas 1 dan 2. Bisa diceritakan bagaimana perasaan Anda ketika menyaksikan sendiri film yang diangkat dari novel Anda, dan script-nya dibuat oleh Anda? Saat menyaksikannya, apakah Anda menempatkan diri sebagai penonton, atau sebagai penulis, dan bagaimana Anda menggambarkan kepuasan Anda terhadap film ini? 

Dalam hal ini rasanya tak terelakkan kalau saya akan melihat film Perahu Kertas dari berbagai perspektif sekaligus. Bagi saya pribadi, Perahu Kertas menjadi film adalah mimpi besar yang jadi kenyataan, karena dari sejak tahun 1996 saat saya menulis Perahu Kertas pertama kali di bangku kuliah, saya sudah menyimpan impian bahwa cerita Perahu Kertas satu saat akan bertransformasi dalam bentuk "motion picture" entah itu di layar kaca atau lebar. Dan akhirnya di 2012 ini, mimpi itu menjadi kenyataan. Terharu rasanya. Sebagai penonton, saya merasa Perahu Kertas memiliki unsur-unsur yang saya cari dan sukai dalam sebuah film. Saya memang penyuka genre drama, dan saya suka drama yang membuat saya tertawa, terharu, dan merenung. Sebagai sebuah film, saya merasa mendapatkan itu semua dari Perahu Kertas. Sebagai penulis skenario, saya lebih memerhatikan aspek teknis, bagaimana eksekusi skenario ke gambar, interpretasi aktor dan aktris yang membawakan, properti, wardrobe, dsb. Jadi, lebih ke detail teknis. Dan semua kesan itu simultan saya rasakan saat menonton Perahu Kertas. 

Bagaimana perbedaan kenikmatan antara menulis novel dan skenario? Apakah nantinya Anda juga berniat untuk semakin mendalami profesi sebagai penulis skenario? 

Ada keasyikan tersendiri dalam menulis skenario. Bagi saya, penulisan skenario lebih mekanistis, saintifik, dan baku rumusnya ketimbang menulis novel. Jadi, keasyikannya adalah bagaimana memuat cerita yang lebih "organik" di novel menjadi sebuah struktur skenario. Kayak main puzzle jadinya. Saya nggak merencanakan secara pasti akan menulis skenario atau tidak. Yang jelas, core kepenulisan saya ada di buku. Dan saya masih punya pe-er besar menyelesaikan serial Supernova. So, saya ingin fokus dulu di buku. Jika sudah ada keleluasaan untuk mengulik skenario, dan kesempatannya ada, mungkin saya akan menulis skenario lagi. 

Film Rectoverso akan segera diluncurkan, dan disutradarai oleh lima artis wanita. Apakah Anda juga terlibat dalam pemilihan kelima wanita ini? Jika iya, apa yang membuat Anda sreg dengan mereka? 

Rectoverso adalah murni proyeknya Marcella Zalianty. Marcella yang sudah punya ide duluan untuk menggarap film dengan empat artis perempuan, dan mereka tinggal mencari cerita. Marcella kemudian mengontak saya, menanyakan saya punya materi cerita atau enggak. Marcella ingin menggarap film tentang cinta tapi dari berbagai perspektif. Saya lalu teringat Rectoverso. Akhirnya saya kirimkan bukunya, dia baca dan tertarik. Marcella yang lalu memilih sendiri cerita-cerita mana yang akan digarap. Secara formal saya nggak terlibat dalam Rectoverso, walaupun terkadang dimintai konsultasi dari waktu ke waktu. Jadi, keterlibatan saya lebih konsultan informal saja. Semua keputusan kreatif, strategis, maupun hal lainnya ada di tangan Marcella dan Keana Production. 

Santer terdengar bahwa Madre juga akan difilmkan. Ketika membuat novel-novel ini, apakah Anda pernah bermimpi bahwa semuanya akan diangkat ke layar lebar? Atau proyek-proyek ini memang seperti 'bonus' bagi karya-karya Anda? 

Layar lebar tidak pernah menjadi tujuan saya. Sebatas mengangan-angankan saja sih pasti pernah. Tapi tidak menjadi target. Dalam hal ini, posisi saya lebih pasif. Jika ada yang tertarik lalu menawarkan untuk membeli rights adaptasi, dan kemudian kami menemukan kesepatakan, ya sudah, dijalankan. Bisa dibilang memang pemfilman, dsb, hanya bonus bagi saya. Karena inti pekerjaan saya sebenarnya bukan di sana. Film adalah karya seni format lain lagi. Saat menulis buku, ya, saya hanya fokus pada format buku. 

Sejauh apa keterlibatan Anda dalam pembuatan film Rectoverso dan Madre? 

Sama seperti Rectoverso, dalam Madre saya juga hanya melepas rights adaptasi. Madre akan ditulis skenarionya dan disutradarai oleh Benny Setiawan. Jadi, film Madre akan menjadi murni karyanya Mas Benny. Kalau memang ada yang perlu ditanyakan, atau butuh kejelasan tertentu mengenai cerita, saya membuka diri untuk ditanya kapan pun. Jadi, sekali lagi, hanya sebatas konsultan informal saja. 

Adakah novel yang akan Anda luncurkan atau mulai tulis dalam waktu dekat? 

Setelah ini saya berencana untuk meneruskan seri Supernova berikutnya, Gelombang. Tapi belum saya mulai prosesnya, karena akhir tahun ini saya mau pindah rumah dulu. Setelah settled di rumah baru dan beres-beresnya kelar, yang mungkin akan makan waktu bulanan, barulah saya bisa menulis lagi. 

Jika Anda memiliki pesan kepada penulis pemula, apa yang ingin Anda sampaikan? 

Tulislah buku yang ingin Anda baca.

SEPUTAR KELUARGA 

Banyak penulis membutuhkan tempat yang tenang untuk mengeluarkan idenya. Dengan memiliki dua anak, bagaimana Anda menyiasati agar perhatian Anda kepada si kecil tetap maksimal, namun karya-karya Anda juga tidak terbengkalai? 

Bagi saya itu proses adaptasi panjang, dan tidak ada rumusnya. Setiap saat situasinya bisa berbeda, dan butuh penanganan yang berbeda juga. Dulu, misalnya, saat Keenan masih kecil dan saya harus menulis Perahu Kertas, saya sampai harus menyewa kamar kos dekat rumah untuk saya jadikan "kantor". Saat punya anak kedua, Atisha, saya nggak bisa melakukan hal yang sama lagi, jadi saya lebih bersiasat untuk menulis dengan durasi pendek-pendek tapi sering. Dan selalu ada harga yang harus dibayar. Jadi, susah sekali mewujudkan kondisi ideal di mana perhatian pada anak tetap maksimal sementara berkarya jalan terus. Harus saya akui, jika saya menulis intensif, perhatian saya pada keluarga otomatis sedikit berkurang, dan perlu pintar-pintar untuk menyelipkan waktu di mana saya membayar utang atensi saya pada mereka. 

Anda dan keluarga menjalani pola makan sehat. Sulitkah untuk memberi pengertian kepada anak-anak betapa pentingnya menjalani pola makan sehat, mengingat anak-anak kadang tertarik untuk jajan atau makan junk food? 

Sebetulnya keluarga kami nggak steril-steril amat sih soal jajanan. Walaupun mereka jarang makan fast food, nggak pernah minum soda atau makan permen, tapi kalau jajanan seperti snack komersil di supermarket, ya, beli juga. Tapi kami membiasakan disiplin seperti: ngemil boleh, tapi selesaikan makan besarnya dulu. 

Anda adalah seorang istri, ibu, dan penulis. Bagaimana Anda menjalani semua peran tersebut secara seimbang? 

Seperti yang saya bilang tadi, nggak ada rumus idealnya. Bagi saya, menjalani multiperan adalah perjalanan panjang trial and error. Barangkali justru yang perlu dipahami pertama kali adalah, menerima bahwa saat bermulti peran, tidak bisa selamanya proporsi tersebut seimbang. Yang ada malah jadi stres karena kita mengharapkan segalanya berjalan sempurna dan proporsional terus menerus. Menurut saya keseimbangan semacam itu malah tidak realistis. 

Bukan bermaksud mengungkit, namun saya sangat tertarik melihat keharmonisan antara keluarga Anda dan keluarga mantan suami Anda, Marcell. Sepertinya, tak banyak pasangan yang sudah berpisah dapat tetap menjaga hubungan baik. Apa rahasia atau prinsip Anda dalam menjaga hubungan baik ini? 

Sepertinya yang menentukan adalah bagaimana kondisi saat perpisahan itu terjadi. Sebelum saya dan Marcell resmi berpisah, kami sudah terlebih dulu tiba di titik ikhlas untuk melepas dan bisa berteman. Jadi, yang kami teruskan sekarang adalah hubungan persahabatan kami. Dengan adanya anak, kondisi tersebut juga semakin menentukan. Penting bagi anak kami untuk tumbuh besar dalam suasana yang kondusif. Kami juga tidak menanamkan stigma pada Keenan bahwa perpisahan adalah hal yang buruk atau aib. Sekarang ini, Keenan merasa memiliki keluarga yang ekstra besar. Dengan percaya diri dia selalu berkata pada orang-orang bahwa dia punya dua papa dan dua mama.