Monday, December 22, 2014

MNC Network Magazine | Profil | April, 2013 | by Roy Wicaksono


Sebagai Penulis:

Bisa ceritakan singkat mengenai asal-usul nama “Dee” yang menjadi identitas Anda dalam menulis sebuah karya tulis?

"Dee" sebetulnya pengucapan inisial dari huruf D, sebuah emblem yang menempel di ransel sekolah saya bertahun-tahun, dan juga signature saya di buntut setiap e-mail. Beberapa teman jadi ada yang memanggil saya "Dee". Saya lalu memakai inisial tersebut sebagai nama pena, karena waktu saya menerbitkan buku, saya ingin memisahkan image saya sebagai penyanyi di RSD dan sebagai penulis. Waktu itu saya lebih dikenal sebagai "Dewi RSD". Sementara nama "Dewi Lestari" sendiri cukup pasaran di Indonesia. Akhirnya saya pilih saja inisial "D" atau Dee.

Setelah lebih dari 10 tahun sejak karya pertama Anda muncul di pasaran (Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh), bagaimana kini Anda memandang diri Anda sendiri sebagai seorang penulis?

Penulis sudah menjadi profesi yang nyaman untuk saya kenakan. Menulis sendiri adalah hobi sejak  kecil, dan saat ini menulis sudah menjadi second nature. Semakin digali lebih dalam, semakin saya menemukan keindahan dan pelajaran baru dalam dunia kepenulisan.  Saya memandangnya sebagai seni. Dan saya merasa beruntung bisa menjadikan hobi ini sebagai profesi dan saluran nafkah.

Berbagai prestasi telah hinggap pada karya Anda, hingga penghargaan seperti Top 5 dalam Khatulistiwa Literary Award tahun 2001 dan 2008 berhasil diraih. Bagaimana tanggapan Anda mengenai hal ini?

Prestasi dalam bentuk award bagi saya adalah bonus, yang menyenangkan, tentunya. Tapi tidak pernah dan sebaiknya tidak menjadi target. Saya menulis bukan untuk award, tapi untuk mengomunikasikan ide. Menjadikan diri saya medium dari pesan yang lebih besar. Untuk itu, bagi saya jauh lebih penting dan berharga ketika ide-ide yang saya kemas dalam buku, bisa berbicara bagi banyak orang, terlebih lagi jika kemudian mengubah hidup mereka. Bagi saya, itu penghargaan yang tertinggi.

Bagaimana perasaan Anda saat menjadi pembicara dalam Ubud Writers Festival dan Byron Bay Writers Festival beberapa waktu silam?

Selalu menyenangkan dan membanggakan jika diundang berpartisipasi ke dalam Writers Festival. Itu berarti posisi kita sebagai penulis telah dianggap mewakili aspek tertentu yang penting dalam skema besar dunia kepenulisan. Tapi, memang tidak semua undangan bisa saya terima, terutama yang di luar negeri. Kadang-kadang, karena kendala jadwal dan prioritas, saya terpaksa tidak berangkat. Tahun ini (2013) saya akan kembali berpartisipasi dalam Ubud Writers Festival, dan ada beberapa festival internasional lain yang masih tahap penjajakan.


Adaptasi Buku ke Layar Lebar:

Tiga karya buku Anda, berturut-turut telah diadaptasi ke panggung layar lebar selama 2 tahun belakangan seperti Perahu Kertas, Rectoverso dan Madre. Sebatas apa kontribusi Anda terhadap versi layar lebarnya?

Berbeda-beda di setiap judul. Saya paling banyak terlibat di Perahu Kertas, karena saya memang penulis skenarionya, dan saya juga ikut terlibat di proses casting, editing, dan menulis soundtrack. Keterlibatan itu tentunya punya konsekuensi. Waktu terlibat di Perahu Kertas, saya harus cuti setahun dari menulis buku. Saya tidak punya keleluasaan itu lagi di Rectoverso dan Madre. Karena masa produksi yang berdekatan dan simultan, saya memilih untuk menyelesaikan buku yang adalah  profesi utama saya. Di Rectoverso, saya masih terlibat secara informal sebagai konsultan skenario dan editing. Tapi di Madre, bisa dibilang saya nyaris melepas total. Hanya satu kali saya sempat baca skenario dan kasih masukan. Sisanya, saya memercayakan proses kreatifnya ke tangan Mizan Production dan Benni Setiawan yang menjadi sutradara sekaligus penulis skenarionya.

Anda juga diketahui sebagai penulis skenario untuk film Perahu Kertas dan juga Madre yang akan tayang sebentar lagi. Adakah hal-hal unik dalam penulisan ini dari versi buku ke versi layar lebarnya? Adakah kesulitan dalam hal tersebut? (menulis skenario film dari versi bukunya)

Saya tidak menulis untuk Madre, hanya Perahu Kertas. Menulis skenario sendiri adalah skill yang menurut saya tidak bisa disamakan dengan menulis buku fiksi. Untuk menulis skenario, saya perlu belajar dari nol. Dalam film sudah ada struktur dan kebutuhan yang jelas. Hitungannya adalah durasi dan budget. Kebutuhan grafik ceritanya juga pasti. Jadi, fleksibilitas yang kita miliki jauh berbeda dari menulis buku. Kesulitan dalam menulis skenario Perahu Kertas adalah memampatkan cerita yang begitu panjang ke dalam skenario 110 halaman. Itu pun pada akhirnya film tetap menjadi dua, karena rough cut film ternyata mencapai 4,5 jam. Dalam film, kita juga dihadapkan dengan banyak kepentingan. Sebuah setting tertentu bisa mengibatkan pembengkakan biaya. Jadi, kepraktisan juga faktor penting dalam menulis skenario. Hal-hal seperti ini tidak ditemui saat menulis buku. Imajinasi kita bisa bebas menciptakan apa saja. Dalam skenario, setiap imajinasi kita akan menentukan durasi dan budget.

Bagaimana komentar Dee terhadap tiga film layar lebar yang telah rampung? (Perahu Kertas, Rectoverso, dan Madre)

Sepertinya semua film yang diadaptasi dari buku akan selalu memiliki tantangan yang mirip-mirip. Pertama, menjembatani apa yang ada di imajinasi penulis, pembaca, dan pembuat film itu sendiri, tidaklah mudah. Perbedaan dan pertentangan pasti ada. Film adaptasi buku pasti tak akan luput dari pembandingan, jadi kebanyakan penonton tidak menyaksikannya dengan mind set yang fresh, melainkan komparasi. Ketiga film tersebut (Perahu Kertas, Rectoverso, dan Madre) juga mengalami tantangan serupa. Saya rasa Rectoverso memiliki lebih banyak kemudahan dibanding dua judul lain karena format aslinya yang cerpen-semi-puisi memberikan ruang pengembangan paling luas dibandingkan Perahu Kertas maupun Madre. Madre, sekalipun formatnya novelet/novel pendek yang lebih pas bagi format film, lebih definit ceritanya ketimbang cerpen-cerpen yang ada di Rectoverso. Karena itu ia pun punya keterbatasan seperti Perahu Kertas. Saya sebagai penulis tentu juga tidak luput dari perbenturan imajinasi ketika saya melihat format filmnya. Namun, terlibat langsung dalam produksi Perahu Kertas mengajarkan saya untuk bisa lebih relaks dan mengapresiasi film sebagai apa adanya film. Itu pun akan kembali lagi ke selera. Setiap sutradara adalah koki, dan ada yang saya suka dari masakannya, ada yang kurang suka. Tapi, yah, itu wajar-wajar saja.


Sebagai Musisi:

Setelah beberapa tahun berpisah, akhirnya trio RSD kembali lagi ke studio untuk mengisi salah satu lagu di film Perahu Kertas, bisa ceritakan mengenai hal ini?

Di Perahu Kertas, saya terlibat menulis soundtrack. Ada satu lagu (Langit Amat Indah) yang saya ciptakan yang menurut saya pas dinyanyikan oleh grup. Iseng, saya melontarkan ide mengumpulkan RSD kembali untuk menyanyikan lagu itu. Tahunya ide tersebut disambut baik oleh produser. Akhirnya kita bisa rekaman.

Adakah keinginan untuk comeback sebagai trio RSD dan kembali memproduksi album penuh lagi bersama dua personel lainnya?

Sejauh ini belum ada rencana ke sana. Sekarang kami sudah punya jalur karier masing-masing, jadi kalaupun sesekali reuni, itu lebih ke arah for fun, dan kami rasanya belum ingin terbebani target harus rekaman album lagi.

Anda diketahui sebagai salah satu saksi hidup dalam konser Metallica 1993 di stadion Lebak Bulus silam, apakah momen ini mempengaruhi Dee dalam berkarya musik?

Hehe, kayaknya sih nggak sampai mempengaruhi dalam berkarya. Sebagai generasi '90-an pada umumnya yang dekat dengan musik grunge, rock, dan metal, saya bisa menikmati musik Metallica. Tapi mereka tidak sampai menjadi pengaruh saya dalam berkarya. Saya lebih dipengaruhi musik band-band seperti U2, Tears for Fears, Pearl Jam, Radiohead, dll.

Siapakah musisi idola Dewi Lestari?

Kebanyakan dari genre singer/songwriter seperti Sarah McLachlan, Paula Cole, Sarah Bareilles, Corinne May. Untuk band saya cinta mati sama Tears For Fears.


Sebagai Musisi dan Penulis:

Anda dikenal memiliki profesi sebagai musisi dan penulis, bagaimana membagi waktu untuk dua hal tersebut?

Tidak ada resepnya. Masalah fluktuasi prioritas saja sih. Apa yang menjadi prioritas saya saat ini, ya, itu yang saya kerjakan. Kadang kalau saya harus fokus sama keluarga, saya cuti bekerja sama sekali. Saya tidak pernah membatasi secara rigid profesi saya. Prinsipnya adalah menjalankan apa yang perlu dan apa yang saya suka.

Apa ada perbedaan dalam menulis buku dan lirik dalam musik?

Beda sekali. Walau keduanya bisa saling memengaruhi. Dalam menulis lirik, saya cenderung suka lagu yang punya cerita, jadi ada unsur bikin plot di situ. Untuk menulis, saya cenderung suka menulis kalimat yang berirama, yang enak dibunyikan, yang liris. Jelas itu adalah pengaruh dari kebiasaan bikin lirik.

Adakah momen di waktu Anda kecil, yang mempengaruhi karier Anda saat ini menjadi penulis maupun musisi?

Saya hidup di keluarga penyuka seni. Dari kecil, kegiatan bermusik adalah kegiatan sehari-hari. Dari mulai kursus piano, ikut vokal group, paduan suara, dsb, adalah hal yang dilakoni satu keluarga. Keluarga saya juga penyuka buku dan senang dengan cerita, berkisah, dsb. Otomatis itu menjadi pembentuk minat dan hobi saya hingga kini.

Rectoverso merupakan salah satu wujud yang terbentuk atas kegemaran Anda dalam menyanyi dan menulis. Kemudian, apalagi rencana Dee ke depan?

Prioritas saya saat ini adalah menyelesaikan Supernova. Setelah itu, cukup banyak rencana yang lain. Antaranya, membuat website yang memuat minat saya secara komprehensif, lalu membuat workshop menulis, dan buku atau memoar tentang proses kreatif. Selain itu, masih ada buku-buku tema lain yang ingin saya wujudkan.


Kehidupan Sosial:

Apa makna “Penggemar” bagi Dee? (baik penggemar karya musik maupun karya tulis berupa buku ataupun cerita-cerita pendek yang di-publish)

Saya agak risih menggunakan kata "penggemar", saya lebih melihat mereka sebagai pengapresiasi. Relasinya lebih seperti partner. Para pembaca buku dan penikmat musik saya adalah cermin bagi saya berkarya. Dari reaksi dan apresiasi mereka, saya dibantu untuk mengenal karya saya lebih baik. Dan pada akhirnya, untuk mengenal diri saya dengan lebih baik.

Apa yang Anda lakukan di waktu luang?

Main dengan anak dan keluarga, membaca, menjalankan hobi lain seperti berkebun, masak, dll. Kegiatan saya kebanyakan sangat domestik.

Adakah suka-duka profesi Anda?

Ini pertanyaan yang terlalu luas untuk dijawab. Tentu semua profesi punya suka-duka. Kesulitan dan kemudahan tersendiri. Apa yang saya lakukan adalah hobi bagi saya, jadi kesulitannya pun saya sambut dengan suka. Namun ketika hobi menjadi profesi, tentu punya tantangan yang sifatnya lebih profesional seperti manajemen waktu dan manajemen bisnis. Bagi saya, kesulitan yang terkadang terasa seperti "duka" adalah ketika menghadapi problem-problem dari aspek profesionalnya. Dan saya rasa ini hampir terjadi universal di semua profesi.