Monday, December 22, 2014

AlandaKariza.Com | Kebiasaan Menulis | September, 2014 | by Alanda Kariza


Anda telah menerbitkan beberapa buku dan mempublikasikan sejumlah kumpulan cerita pendek. Karya mana yang menjadi favorit Anda sampai saat ini, dan mengapa? 

Setiap karya memberikan yang pengalaman dan pelajaran yang berbeda-beda. Jujur, saya tidak punya karya favorit karena masing-masing buku rasanya tidak bisa dibandingkan. Saya rasa, itu menjadi privilese pembaca.

Boleh dibilang, Anda merupakan salah satu penulis Indonesia yang cukup produktif. Kapan biasanya Anda menulis? Apakah Anda lebih senang menulis di pagi atau malam hari? 

Sebetulnya tergantung sikon. Saat ini, karena saya mengurus anak, suami, rumah, dan pekerjaan lainnya di luar menulis, saya sengaja menyisihkan waktu subuh-subuh sebelum orang-orang rumah bangun. Bagi saya syarat utama menulis, terlepas pagi atau malam, adalah keheningan dan tidak diganggu. Jadi, sebetulnya kapan pun saya punya kualitas waktu yang seperti itu, saya manfaatkan untuk menulis.

Di mana Anda sering menulis? Apakah ada preferensi tertentu - misalnya, harus di tempat umum, atau justru di tempat sepi? 

Saya lebih senang di tempat sepi karena distraksinya rendah. Tapi, kalau terpaksa, di tempat ramai juga bisa-bisa saja. Yang penting jangan diajak ngobrol. Karena kalau sudah masuk dan mengalir di dalam proses kreatif, biasanya saya sudah nggak peduli lingkungan sekitar. Yang penting nggak diinterupsi.

Bagaimana susunan meja kerja yang Anda miliki?

Saya punya meja kerja, tapi jauh lebih sering menulis di meja makan.

Bagaimana Anda biasanya menulis? Alat apa saja yang Anda gunakan (misalnya: laptop, ponsel, buku catatan, dan sebagainya)?

Laptop. Saya membuat catatan di kertas kalau hanya untuk menampung ide sementara.

Apakah Anda biasa mendengarkan musik ketika sedang menulis? Musik yang seperti apa? 

Sekarang ini nggak lagi pakai musik. Dulu sempat suka, tapi memang tidak pernah jadi syarat utama. Pakai atau tidak oke-oke saja, asal musiknya instrumental, karena kalau berlirik bisa mendistraksi. Perkecualian hanya kalau saya menulis adegan yang memang membutuhkan semacam “soundtrack” dan saya sudah tahu lagu yang pas untuk itu yang mana. Tapi kasus seperti itu jarang terjadi.

Bagaimana "hari menulis" Anda biasanya berjalan? (Misalnya, bangun jam 3 pagi lalu menulis, atau mungkin, bangun jam 8 pagi, menulis, makan siang, menulis lagi, dsb.)

Bangun jam 4 menulis sampai jam 7 pagi, menyiapkan anak sekolah, terus power nap sekitar 15-30 menit, sehabis itu mengerjakan pekerjaan lain di luar menulis termasuk baca dan riset. Kalau ada waktu kosong di sisa hari, biasanya saya manfaatkan lagi untuk menulis. Tapi biasanya saya sudah wrap-up pagi-pagi, diteruskan lagi esok harinya.

Bisakah Anda menceritakan bagaimana proses yang biasanya Anda lalui ketika menerbitkan sebuah karya - mulai dari membuat kerangka tulisan sampai akhirnya tulisan tersebut diterbitkan? 

Untuk kumpulan cerpen sifatnya insidental dan sporadis. Antologi saya biasanya kumpulan karya dalam rentang waktu 5 tahunan. Setelah saya rasa “tabungan” karyanya cukup, saya kompilasi, edit ulang berkali-kali, lalu saya kirim ke penerbit. Untuk cerpen saya tidak membuat pemetaan cerita, biasanya spontan. Kalau untuk novel, proses risetnya panjang, bisa makan waktu tahunan. Proses menulisnya sendiri berkisar antara 2-9 bulan. Sebelum menulis saya biasanya membuat pemetaan cerita lebih dulu, peta itu saya pakai jadi panduan, dan sifatnya terbuka, artinya masih bisa saya revisi dan tambahkan sesuai dengan perkembangan yang terjadi. Setelah proses menulis draf pertama selesai, saya print, dan biasanya manuskrip tersebut saya “fermentasi”, yang artinya didiamkan dan tidak dibaca-baca lagi, antara 2 minggu sampai 1 bulan. Setelah itu baru proses penyuntingan dimulai. Setiap selesai penyuntingan, saya fermentasi lagi sebelum ke proses penyuntingan berikut. Siklus itu bisa berulang 3-4 kali,  tergantung waktu yang saya miliki. Hasil akhir itu yang kemudian menjadi draf final. Draf final dikirim ke penerbit dan disunting oleh editor. Mereka akan mempelajari, bertanya, memberi masukan, diskusi, dan seterusnya, sampai jadilah naskah akhir yang akan dikerjakan setting-nya. Setelah setting selesai, saya melakukan pengecekan final. Kalau semua sudah oke, maka proses cetak dimulai. Dari percetakan, buku akan didistribusi ke seluruh toko buku di Indonesia, dan waktu yang dibutuhkan untuk distribusi kira-kira dua minggu lamanya.