Showing posts with label Sastra Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Sastra Indonesia. Show all posts

Sunday, April 5, 2020

Simpul Aksara | London Book Fair | April, 2019 | Namira D.

Sebagai penulis, apa saja persiapan yang dilakukan untuk menghadiri event internasional seperti LBF ini?
 
 
Persiapan saya lebih ke persiapan teknis—membuat visa, mencocokkan agenda dengan jadwal keberangkatan, dsb. Dengan pihak British Council yang menjadi sponsor sekaligus penyusun program, kami berdiskusi mengenai topik dari panel-panel yang akan kami isi. Kami juga mendapat beberapa kali briefing dari pihak KBN mengenai program selama di London, logistik di sana seperti apa, dsb. Ada juga permintaan wawancara media yang kami penuhi sebelum berangkat ke London, yakni wawancara-wawancara dari media UK yang sudah diatur lewat agensi relasi publik yang ditunjuk resmi oleh pihak British Council dan KBN. Wawancara itu ditujukan sebagai persiapan/pemanasan public awareness tentang Indonesia, baik tentang industri buku, budaya, maupun literasi. 
 
 
Selama proses persiapan (misal saat meeting) topik apa yang paling sering dibahas?
 
 
Kalau dengan KBN sifatnya yang lebih teknis dan berhubungan dengan logistik, karena koordinasi untuk rombongan besar tentunya membutuhkan pengecekan banyak detail. 
 
 
Proses apa saja yang dilalui dan dilakukan bersama-sama (dengan tim LBF) sebelum sampai di London?
 
 
Kami berkomunikasi lewat grup WA. Sepertinya ada banyak grup, tapi yang saya ikuti adalah grup penulis saja. Selain briefing, konferensi pers, dan pertemuan dengan media UK, kami juga melakukan sesi pemotretan dan pengambilan video untuk materi promosi acara. 
 
 
Bagaimana pendapat Mbak Dewi secara umum atas acara Indonesia Paviliun di LBF 2019?
 
 
Programnya sangat ekstensif dan bagus-bagus, ada 100 acara yang total diselenggarakan dalam rangka LBF, dan tidak semuanya diadakan di paviliun, melainkan meliputi fringe event di berbagai tempat di London dan di luar London dalam rentang waktu kurang lebih sebulan. Yang saya pantau dari KBN, target pembelian rights di LBF telah tercapai, bahkan melebihi target. Target BEKRAF kepada KBN adalah 50 judul, dan sekarang rights yang sudah terjual 60, plus masih ada 400 judul dalam negosiasi. Jadi, dari tolok ukur target penjualan rights, bisa dibilang LBF 2019 ini sukses. 
 
 
Apakah added value untuk Mbak Dewi sebagai penulis dengan adanya event sejenis London Book Fair 2019 ini?
 
 
London Book Fair tidak dibuka untuk umum, hanya untuk pelaku bisnis, jadi memang tidak bisa disamakan dengan festival literasi. Acara utama di book fair seperti LBF adalah perdagangan rights. Diskusi panel yang diisi oleh para penulis hanyalah pelengkap saja. Kendati demikian, para penulis yang berangkat ke LBF tentunya beroleh pengalaman dan ekspos media internasional. Bagi saya, nilai tambahnya adalah pengalaman dan wawasan. Kehadiran saya di sana belum tentu menggolkan buku saya tembus pasar internasional, tetapi lebih untuk berbagi sudut pandang serta situasi perbukuan dan literasi Indonesia ke publik UK. 
 
 
Selain itu, adakah commercial value yang Mbak Dewi dapatkan sebagai penulis melalui event ini?
 
 
Nilai komersial rasanya tidak ada. 
 
 
Menurut Mbak Dewi apa yang seharusnya dikejar dalam event seperti ini?
 
 
Book Fair adalah perdagangan rights, jadi yang harus dikejar memang penjualan rights sebanyak-banyaknya. Dalam hal itu, saya rasa jalur yang ditempuh saat ini sudah benar. Yang lebih harus diperhatikan dan dibina sebetulnya justru yang terjadi di luar book fair, yakni persiapan penerjemahan, peningkatan kualitas SDM penerjemah, pengenalan penulis-penulis Indonesia ke agen-agen literasi, dan peningkatan kualitas penulis itu sendiri. Di luar itu, cukup banyak penulis yang menurut saya punya kesalahpahaman terhadap acara book fair besar seperti LBF dan FBF, seakan-akan ketika sudah berangkat ke book fair maka kita pasti dikenal secara internasional, buku kita pasti diterjemahkan, dst. Kepenulisan kita itu justru dibangun di luar book fair, lewat karya dan hubungan kita dengan pembaca. Untuk menjangkau pasar internasional yang kita butuhkan adalah agen. Namun, kadang-kadang menjadi delegasi book fair dianggap sebagai pinnacle keberhasilan seorang penulis, padahal tidak seperti itu. 
 
 
Kalau ini bukan book fair pertama yang pernah Mbak Dewi ikuti, apa pengalaman baru yang ditemukan saat di London?
 
 
LBF menurut saya pelaksanaannya cukup rapi. Jumlah rombongan tidak sebesar FBF 2015 jadi lebih mudah ditata. Pengalaman yang sama sekali baru sih tidak ada, tapi saya justru menikmati kebersamaan dengan para penulis Indonesia lainnya karena di LBF ini kami punya banyak program bersama-sama, berangkat dan pulang bersama. Saat FBF rasanya lebih terpencar-pencar. 
 
 
Bagaimana opini personal atas literasi Indonesia hari ini?
 
 
Sejauh pengamatan saya, industri buku sendiri cukup bergairah. Semakin banyak platform alternatif yang bisa dipilih calon penulis, genre yang semakin semarak, dan banyak penulis muda bermunculan. Namun, masih banyak juga bagian dari ekosistem buku kita yang harus diperbaiki. Perhatian saya saat ini lebih ke hal-hal yang sifatnya kebijakan, seperti pajak royalti dan pajak buku, serta pembajakan buku, karena ini berpengaruh ke semua penulis dan ke keberlangsungan profesi penulis di Indonesia.
 
 
Adakah rencana proyek baru yang sedang atau akan dikerjakan dalam waktu dekat?
 
 
Buku saya ke-13, dan juga nonfiksi pertama saya, akan terbit setelah bulan Lebaran, yakni Di Balik Tirai Aroma Karsa. Sebuah buku yang mengupas teknik serta metode yang saya pakai untuk menulis novel Aroma Karsa. 
 
 
Selama perjalanan ini, adakah buku bacaan yang memang dibawa oleh Mbak Dewi sebagai bahan bacaan selama berkegiatan? 
 
 
Waktu ke London, saya masih sedang meneruskan buku Genome karya Matt Ridley. 
 
 
Adakah makanan tertentu yang dicari atau memang ingin dimakan saat sedang berada di London?
 
 
Yang spesifik nggak ada. Tapi, saya menikmati pastry dan steak di London. Di seberang Olympia tempat LBF diadakan, ada restoran steak Argentina yang berkesan. Di dekat hotel tempat kami menginap juga ada kafe yang menjual pastry enak, setiap pagi saya bela-belain jalan kaki dari hotel beli croissant ke sana.

Five Books | The Best of Contemporary Indonesian Literature | April, 2019 | Cal Flyn


Is it a good time to be a writer in Indonesia?

It is. Many things still need to be done in terms of our book industry ecosystem, but looking back on how things were in the past—let’s say, compared to 2001when I published my first book—the situation is much better now. We now have prosperous authors who can truly rely on writing as their main profession. We have more book shops, more publishers, more online libraries, more literary festivals, more platforms to promote our works. Literary power and importance are something that public and government are more aware of.

Indonesian literature is not very well known in the English-speaking world. Why do you think that is? Do you think that is changing?

I think there hasn’t been a real roadmap and priority to use literary as our nation’s ambassador to the world. All this time, we had worked a lot more on our tourism. Literature was below on the list compared to culinary, fashion, and goods. That also reflects on the dwarf size of our book industry in the Indonesia’s creative economy. Translation is an art that cannot be rushed. And once a translation is done, you still need many more efforts just to catch the attention from the international readers and publishers. You don’t need to translate a dish, everything speaks for itself. But, in literature, language is the bridge, and we didn’t have enough translators nor did we have an exact plan on how to support the growth and quality of our writers and translators. But, I’m optimist that a change is in the making. Ever since 2015 when Indonesia became the Guest of Honour in Frankfurt Book Fair, I felt our book industry had a jolt of fresh spirit. The echo still continues to London Book Fair. In the past four years, I was involved and invited to speak to the ministers on at least three big book-related discourses: royalty tax, book tax, and book piracy. I even had a chance to voice out these concerns directly to the president. It’s something that was unthinkable before. Of course, the government’s and the book committee’s effort are not immune to criticism. But, nobody can deny that there’s a change going on.

You were a very successful singer-songwriter – what prompted you to move into writing fiction?

I always loved story telling since I was small. I attempted to write my first novel when I was 9 years old. I sent short stories to magazines when I was teenager. Of course, not all of those attempts were successful, most of them actually failed, but I couldn’t stop writing. During my singing career, I used my savings to buy a laptop. It was an unusual for a college student at that time to own a laptop. I took my laptop everywhere so I could write in between gigs. I remembered when I was nine years old, I this fantasy that someday I will see my book sold in a book store. So, when I finished my Supernova manuscript in September 2000, I thought “this is it. This will be my first book.” I finally self-publish my book in 2001 to celebrate my 25th birthday. I didn’t care if it sells or not, I didn’t even know how to sell books, I just wanted to fulfil my dream. It turned out to be a huge success. 7.000 copies sold in two weeks. It was beyond the best-selling standard in Indonesia at that time. And since Supernova was designed to be a series, I continued writing the instalments year after year. Writing then slowly took over my career. I didn’t have much time to focus on my music anymore. But, since I have been doing my music career for over than ten years already, I didn’t miss it that much. I enjoyed writing a lot more because it’s more solitary, less fuss, and less need for make-up, hairdos, and high heels. 

What is the first book you would like to recommend? Why?

Suddenly The Night, a poetry book from a prominent Indonesian poet, Sapardi Djoko Damono. Sapardi’s poems was very influential in my early introduction to literature. It taught a lot me about perusing nature as a source of metaphors. 


What is the second book you would like to recommend? Why?

Saman by Ayu Utami. The book came out at the right timing, right after the collapse of the New Order regime. The story broke many barriers of various taboos and sensitive topics, including the rise of women authors. To me, Saman was a mark of a new era in literature.

What is the third book you would like to recommend? Why?

Man Tiger by Eka Kurniawan. It depicts familiar facets of Indonesia, and yet those facets can be totally unique for the international audience. Eka’s writing has a distinct, masculine voice. I admire his seriousness in crafting his story.  

What is the fourth book you would like to recommend? Why?

Raden Mandasia by Yusi Avianto Pareanom. With ancient Indonesia as its setting, fueled with Yusi’s explosive—verging to chaotic, unapologetic, humorous style of writing, I’m interested to see if this book would get translated. I think Raden Mandasia will be an interesting and refreshing window to peek into the richness of Indonesian literature. 

What is the fifth book you would like to recommend? Why?

Kill the Radio by Dorothea Rosa Herliany. She’s one of the most prominent Indonesian female poets. I like the way Harry Aveling, the translator of this book, worked with Dorothea’s original poems. There was a debate about this. Some say Aveling took it too far, but some say what Aveling did was a “transliteration”. Instead of merely translating, Harry was giving another breath into Dorothea’s poems. And, I enjoy the result.


Saturday, April 4, 2020

Media Indonesia | Buku di Era Digital | Mei, 2018 | Suryani Wandari


Di zaman serba digital ini banyak kekhawatiran terjadi pasalnya sejumlah toko buku akhirnya tutup karena perubahan perilaku masyarakat. Bagaimana Dee melihat kondisi ini? Beberapa penerbit buku sudah mati, tapi menurut IKAPI minat baca masyarakat Indonesia justru semakin meningkat. Menurut Dee mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Perubahan tren pasar berbelanja buku secara online, dalam pengamatan saya, sebetulnya hanya mengubah outlet fisik menjadi outlet digital, tapi minat baca maupun ketertarikan masyarakat terhadap bacaan belum tentu ikut mati dengan matinya beberapa toko buku fisik. Tutupnya banyak rantai toko buku fisik besar di Amerika misalnya, tetap saja dibarengi dengan peningkatan volume penjualan buku secara keseluruhan. Artinya, bukan penjualan bukunya yang turun, outletnya yang berubah. Itu terefleksikan juga pada bisnis retail, bukan daya beli masyarakat yang menurun dengan tutupnya banyak department store, hanya masyarakat lebih cenderung membeli online.
Untuk penerbit kurang lebih serupa kondisinya. Karena penerbit banyak bergantung kepada outlet fisik dan memproduksi buku secara fisik, sementara rabat dari toko buku terus meningkat dan bahan baku produksi buku semakin mahal. Tentu tidak mudah untuk menghidupkan bisnis jika judul-judul bukunya tidak laku. Jadi, dalam hal ini hukum pasar yang mendasar tetap berlaku, entah bukunya yang harus laris, bisnisnya harus lebih ramping, mencari alternatif penjualan yang lebih bisa menghemat profit, atau gabungan semua itu.
Sementara, sebagai kreator konten yang bergerak di hulu seperti saya, sebetulnya tidak banyak yang perlu dikhawatirkan, karena masyarakat tetap membutuhkan konten, hanya cara mendapatkannya saja yang berbeda.

Apa dampak dari masifnya teknologi informasi di berbagai bidang ini berpengaruh pula terhadap penjualan buku yang Dee tulis?

Sejauh ini tidak. Bahkan lebih baik, karena sekarang ada outlet tambahan, yakni toko buku online yang menjual fisik, dan toko buku digital yang menjual format digital.

Apakah pernah mengalami ditolak oleh beberapa penerbit?

Belum, karena latar belakang saya dari self-publishing.

Dee sendiri lebih memilih mencetak buku di penerbit indie atau penerbit mayor? Alasannya?

Keduanya punya keuntungan dan tantangan masing-masing. Menerbitkan sendiri lebih punya keleluasaan, termasuk keuntungan yang bukan hanya datang dari royalti melainkan juga dari profit penjualan. Penerbit indie biasanya lebih punya sedikit penulis jadi bisa lebih fokus, tapi modal dan SDM-nya belum tentu kuat. Penerbit mayor biasanya punya modal dan SDM kuat, meski keleluasaan penulis, pembagian royalti, relatif lebih ketat dibandingkan self-publishing ataupun penerbit indie. Karena saat ini volume penjualan buku-buku saya selalu dalam jumlah besar, modal dan SDM penerbitnya harus kuat, untuk itu saat ini saya lebih merasa pas dengan penerbit mayor.

Dengan fenomena ini tidak sedikit toko buku yang sengaja mengobral buku agar terjual. Ini bagaikan bertolak belakang, satu sisi miris karena buku yang merupakan seni berfikir ini dihargai rendah. Satu sisi lainnya menjadi keuntungan pembeli bisa membeli buku harga murah. Bagaimana Dee melihatnya?

Sebetulnya itu hukum pasar saja. Daripada menumpuk di gudang dan jadi barang mati, tentu lebih baik diobral ketimbang menahannya demi gengsi seni. Bagaimanapun sebuah buku, ketika sudah diproduksi masif, menjadi produk. Mungkin miris bagi penulisnya ketika melihat bukunya dijual murah, tapi ia pun harus memahami bahwa ketika bukunya diterbitkan, maka buku tersebut menjadi barang dagangan. Dan, bukankah lebih baik jika ide dalam buku itu disebar ketimbang menumpuk di gudang? Semua penerbit pasti punya stok buku yang tidak bergerak. Supaya bisnisnya hidup, tentu ia harus melakukan berbagai strategi.

Apa yang dilakukan untuk menjadikan buku buatan Dee laku di pasaran? Apakah memanfaatkan medsos sendiri untuk melakukan branding juga?

Medsos memegang peranan sampai batas tertentu untuk mempopulerkan sebuah produk, tapi tidak ada artinya jika produknya tidak bagus. Menurut saya, yang paling mendasar harus berangkat dari kualitas konten. Saya hampir tidak pernah berpikir soal pasar ketika menulis buku. Fokus utama saya hanya menulis sebaik mungkin.  Tentu di titik ini saya punya kemudahan karena sudah berkarier 17 tahun sebagai penulis profesional dan sudah punya basis pembaca. Tapi, tidak jaminan juga kalau memang buku yang saya hasilkan tidak berkualitas, karena orang lantas akan menilai dan bersuara. Branding lebih kepada pemeliharaan medsos kita sebagai sebuah portofolio, di mana kita mengasosiasikan diri, menampilkan diri, dsb. Hal itu membantu, tapi sekali lagi, inti pekerjaan saya ada pada kreasi saya. Jadi, tugas saya terpenting adalah menghasilkan karya yang berkualitas.

Kabarnya, novel terbaru berjudul Aroma Karsa dirilis melalui format digital, bahkan versi cetak dibuat menyusul. Mengapa?

Saya lampirkan FAQ / Media Highlights untuk menjawab pertanyaan ini.

Bagaimana format bagi hasil dengan penerbit buku digital tersebut?

Formatnya sama dengan penerbit buku fisik, ada pembagian royalti, hanya saja porsinya bisa lebih besar karena beberapa komponen hilang, seperti biaya percetakan, distribusi, dan rabat toko. Jadi, hanya antara penerbit dan penulis saja.

Sejauh ini hasil penjualannya seperti apa? Adakah perbedaan yang signifikan antara penjualan digital dan cetak sebelumnya?

Penjualan cetak tetap jauh lebih besar. Digital kurang lebih 10-12% dari jumlah penjualan cetak. Tapi, faktor lain yang harus diperhitungkan adalah, royalti dari produk digital lebih besar. Jadi, meski secara angka penjualan lebih kecil, itu bisa dikompensasi dari besaran royaltinya.

Apa saja tantangan penulis buku di era digital? Bagaimana pula strategi untuk terus berkarya?

Berkarya menjadi keputusan sepenuhnya dari pembuat karya, dalam era seperti apa pun. Industrinya yang kemudian berubah dan berkembang. Di era digital, penulis punya “channel” lain untuk dipelihara dan dimanfaatkan, yakni medsos. Penulis juga punya banyak “mainan baru” untuk bereksperimen seperti blog, self-publishing, penerbit digital, dll. Tergantung mau dimanfaatkan atau tidak. Yang jelas saat ini kita punya lebih banyak pilihan.

Menjadi penulis dan melihat buku terpampang di rak toko buku menjadi mimpi Dee sejak lama. Bagaimana Dee kembali melihat mimpi tersebut di era digital sekarang ini?

Sama saja sebetulnya. Kalau dulu hanya bisa di rak toko buku, sekarang bisa juga di laman situs toko digital di layar komputer .

Harapannya terhadap industri perbukuan  di tanah air?

Menjadi lebih baik, lebih sehat, buku lebih murah dan mudah diakses.

Friday, April 3, 2020

Sahabat Guru | Kegiatan Literasi | Maret, 2018 | Agung Yuswanto

 Adakah pengalaman literasi menarik (dikasih hadiah buku oleh ibu/ayah/paman/guru)? Apa latar belakang pengalaman menarik itu?

Saya anak keempat dari lima bersaudara, dan tiga kakak saya gemar membaca, jadi saya banyak membaca buku-buku maupun majalah milik mereka. Bacaan saya semasa kecil tergolong ringan dan sesuai usia. Keluarga kami pelanggan Donal Bebek bertahun-tahun, kami suka komik, cergam, dan fiksi-fiksi terjemahan seperti karya Enid Blyton, Alfred Hitchcock, Sydney Sheldon, dsb, yang populer pada zamannya. Saya senang mengkhayal dan menulis dari kecil. Salah satu pengalaman berkesan adalah ketika dipuji oleh ibu saya. Beliau bilang saya berbakat menulis. Ucapan beliau menyemangati saya untuk terus menulis meski cuma sebatas iseng dan kebanyakan disimpan sendiri.

Siapa tokoh literasi idola Dee?

Saya tidak punya tokoh tertentu yang diidolakan, tapi saya kagum pada para rekan penulis yang punya komitmen dan dedikasi untuk tidak sekadar menulis tapi juga membina komunitas penulis dan pembaca, seperti Gola Gong dan Helvy Tiana Rossa. Saya belum sanggup seperti mereka.

Apa penilaian Dee terhadap gerakan literasi di sekolah dan di masyarakat pada hari ini? Apa yang kurang? Bagaimana sebaiknya sekolah dan masyarakat (khususnya orangtua) dalam upaya membangun kultur literasi? Apa pendapat Dee soal subsidi buku?

Akar masalah kita bukan hanya industri melainkan juga kultur. Tradisi lisan di masyarakat kita ketimbang tulisan. Namun, dengan tuntutan zaman, mau tak mau kita harus memperkuat tradisi tulisan. Upaya perbaikan itu tentu butuh waktu panjang dan menyeluruh, tidak cuma dari pemerintah dan sekolah, tapi dari unit keluarga. Sedini mungkin keluarga mengenalkan bacaan kepada anak lebih baik. Kita bisa dedikasikan sebuah sudut di rumah untuk menjadi semacam sudut baca dan sudut kreativitas, di mana ada rak buku dan tempat nyaman bagi anak bisa membaca.
Akses kepada bacaan perlu dipermudah. Kesadaran akan pentingnya membaca perlu terus digaungkan. Dan, industri buku perlu diberi insentif agar lebih bergairah dan produksi buku lebih murah. Berkaitan dengan subsidi buku, menurut saya perlu ada perluasan kategori subsidi buku, tidak cuma sebatas buku pelajaran atau agama tapi termasuk buku populer, karena pengajaran bahasa dan ilmu tidak berbatas pada buku pendidikan saja.

Apa dampaknya bagi masa depan Indonesa bila warga bangsa tidak memiliki tradisi literasi?

SDM kita jalan di tempat dan kalah saing dibandingkan dengan negara-negara yang tradisi literasinya lebih kuat.

Adakah hubungan antara gerakan literasi yg lambat dan dinamika sastra pada bangsa ini? Mengapa dunia sastra kita lemah? Sejak kapan itu terjadi?

Saya tidak merasa dunia sastra kita lemah, tetapi industri bukunya yang kurang berkembang pesat. Ini termasuk ke regenerasi penulis dan harga buku. Jadi, bicara sastra tidak bisa lepas dari industri buku secara keseluruhan. Saya tidak bisa jelaskan kapan persisnya terjadi karena itu bukan keahlian saya. Namun, dari sebatas yang saya tahu dari rekan-rekan di industri buku, baik dari penerbit, penulis, maupun toko buku, selama buku masih mahal dan tidak mudah diakses secara merata, yang bergerak lambat bukan hanya dunia sastra saja, tapi tingkat literasi bangsa ini. Sastra hanya sebagian dari dunia literasi. Saya rasa kita tidak kekurangan kreativitas maupun talenta, hanya untuk bisa mengembangkannya sampai ke taraf  “excellent” baik dari segi kualitas maupun kemapanan hidup, hanya segelintir yang bisa. Ini perlu diperbaiki secara sistemik dan menyeluruh.

Apa kesibukan Dee paling menarik/gres pada belakangan ini? Terkait literasi? Kegiatan sosial?

Sedang mempersiapkan rilis buku terbaru saya Aroma Karsa yang rencananya terbit pertengahan Maret. Saat ini Aroma Karsa versi digital sudah bisa dinikmati dalam format cerita bersambung melalui platform Bookslife (www.bookslife.co). Tentang Aroma Karsa bisa disimak di website saya www.deelestari.com. Di luar itu, saya masih aktif mengajar workshop dan seminar tentang kepenulisan.

Bagaimana Dee menjaga etos literasi selama ini?

Saya kurang paham yang dimaksud dengan “etos literasi”. Intinya, saya berkomitmen untuk berkarya setiap 1,5 – 2 tahun sekali. Dan dalam setiap karya saya coba menggarapnya semaksimal mungkin dan memberikan diri saya sendiri tantangan-tantangan baru, entah dari tema, kebutuhan riset, maupun format cerita dan cara marketing yang belum pernah saya coba.

Apa mimpi Dee yang belum tercapai?

Menulis buku resep masakan dan buku cerita anak-anak.

Thursday, April 2, 2020

Grand Magazine | Perkembangan Literasi | Juni, 2017 | Fiqih A. Dennoto


Bagaimana pandangan narasumber tentang perkembangan literasi di Indonesia mengingat menurut beberapa riset yang dilakukan, literasi di Indonesia masih cukup rendah?

Kalau kita melihat fenomena pameran buku, seperti Big Bad Wolf baru-baru ini yang mampu meraup target pengunjung di atas ekspektasi, bagaimana orang bisa membeli dan memborong buku sampai subuh, berarti semangat dan ketertarikan kepada buku sebenarnya besar. Tapi, kalau kita memotret Indonesia secara keseluruhan, tentu kita juga harus memasukkan profil masyarakat yang pergi ke sekolah saja susah, akses perpustakaan dan buku terbatas, dan akhirnya secara keseluruhan kita jadi punya angka literasi (berapa banyak buku yang dibaca setahun oleh rata-rata penduduk Indonesia) menjadi rendah. Berarti untuk bisa meningkatkan literasi butuh perbaikan yang sistemik dan menyeluruh. Dari mulai kebijakan pajak buku, menekan harga produksi buku, penyebaran perpustakaan, menggairahkan pemain-pemain industri buku seperti outlet, penerbit, dan juga menyokong para penulis agar kesejahteraannya meningkat. Jadi, ini pe-er besar, dan tidak bisa dilakukan oleh segelintir orang, tapi sudah harus skala kebijakan pemerintah dan industri.

Bagaimana pandangan narasumber tentang media-media apa saja yang bisa digunakan untuk mempopulerkan literasi?

Sesungguhnya, literasi itu sudah populer, kok. Kehidupan manusia sudah melibatkan kegiatan menulis, story-telling, dsb. Film-film Indonesia saat ini banyak sekali yang bersumber dari adaptasi buku. Jadi, bukannya masyarakat tidak kenal atau aware dengan pentingnya buku. Cuma, belum menjadi lahan subur saja, beda jika kita bandingkan dengan kuliner, misalnya. Masih sedikit yang tergerak terlibat menjadi pemain serius, baik dari kalangan bisnisnya maupun kreatifnya. Yang bisa hidup benar-benar dari menulis itu masih sedikit. Industri buku masih jadi penyumbang sangat kecil terhadap ekonomi kreatif Indonesia. Caranya seperti yang saya ungkap tadi. Menulis dan membaca harus menjadi satu paket kegiatan yang didorong sejak kecil. Selain itu, secara industri, harus bisa dibuat ekosistem yang subur.

Sebagai seorang penulis, penyanyi, serta pencipta lagu, bagaimana pandangan narasumber tentang literasi yang diaplikasikan melalui musik?

Format karya yang menggabungkan literasi dan lagu sudah pernah saya buat tahun 2008 saat saya membuat Rectoverso. Sekarang ini juga cukup banyak yang membuat karya gabungan semacam itu, seperti Fahd Pahdepie dan Sudjiwo Tejo, misalnya. Tapi, tentu itu bukan satu-satunya format. Saya rasa dari mulai komposisi lagu pun sudah harus melibatkan kemampuan literasi. Jadi, kalau dilihat secara umum, sebenarnya kemampuan menulis/literasi itu bersinggungan dengan banyak sekali industri.

Supernova, Perahu Kertas, Filosofi Kopi merupakan karya dari narasumber yang sangat dikenal di kalangan masyarakat Indonesia. Pandangan narasumber tentang pencapaiannya sebagai seorang penulis, penyanyi, sekaligus pencipta lagu yang membawa nama Dewi Lestari sampai ke luar negeri.

Jalur kreatif saya sejak kecil memang selalu dua itu, musik dan menulis. Dan, benang merah antara keduanya adalah story-telling atau seni bercerita. Baik dalam format buku maupun lirik lagu, yang saya kedepankan selalu adalah cerita. Saya merasa beruntung dapat menjadikan seni bercerita sebagai karier, identitas, maupun kontribusi saya bagi masyarakat. Pada titik ini saya pun merasa masih banyak sekali hal yang perlu saya pelajari tentang seni bercerita. Itu jugalah yang membuat saya amat mencintai pekerjaan saya, karena ruang untuk terus belajar selalu ada. Pencapaian terbesar yang saya rasakan adalah ketika banyak pembaca mengatakan bahwa mereka jadi menyukai fiksi, menyukai membaca, setelah bertemu dengan karya saya. Bagi saya, itu menjadi indikasi bahwa kecintaan saya terhadap seni bercerita mampu menular dan tersebar ke pihak lain.

Bagaimana pandangan narasumber tentang musisi serta penulis di Indonesia yang mempopulerkan literasi melalui media populer seperti musik dan novel serta seberapa besar perannya dalam mengajak anak muda untuk mulai mencintai literasi?

Saya ini sebetulnya lebih banyak berada di jalur yang soliter, di mana saya berkarya dan kemudian itu menjadi kontribusi saya. Tapi ada penulis-penulis lain yang memang mendedikasikan diri dan waktunya untuk mengembangkan komunitas, mendidik dan membina penulis-penulis muda, seperti Helvy Tiana Rosa dan Gola Gong. Juga ada orang-orang seperti Janet de Neefe penggagas Ubud Writers Festival dan Lily Farid penggagas Makassar Writers Festival, misalnya. Mereka ini menurut saya sungguh luar biasa. Terus terang, saya belum punya kapasitas ke arah sana saat ini. Kita membutuhkan orang-orang semacam mereka, karena mereka memegang peranan penting dalam regenerasi penulis dan juga pengembangan ekosistem kreatif.

Apa yang seharusnya dilakukan anak muda yang ingin mengembangkan budaya literasi agar bisa dinikmati berbagai kalangan?

Yang bisa dilakukan secara langsung dan nyata tentunya adalah dengan menciptakan karya. Sekadar menulis, semua banyak yang bisa. Tapi, ketika kita berkomitmen untuk menciptakan karya, bagi saya itu levelnya sudah beda. Ada banyak implikasi. Kita belajar bagaimana menjadi seorang kreator, kita merasakan pengalaman ketika karya kita berinteraksi dengan pembaca, dsb. Jalur untuk berkarya ini juga tentunya tidak mutlak harus lewat penerbit mapan. Banyak cara untuk berkarya sekarang ini. Lewat self-publishing, lewat perlombaan, atau bahkan lewat platform seperti Wattpad. Intinya, harus mencoba untuk berkarya.

Harapan narasumber sebagai penulis, penyanyi, serta pencipta lagu untuk generasi muda agar lebih peka terhadap literasi.

Tulislah buku yang ingin kamu punya. Tulislah cerita yang ingin kamu baca. Menulis adalah otot yang harus dilatih sesering mungkin untuk bisa menjadi tangguh. Dan, membacalah agar kita terus berkembang.

Thursday, January 15, 2015

SatuHarapan.Com | Film Filosofi Kopi & Sastra | Januari, 2015 | by Fransisca Christy Rosana


Film Filosofi Kopi

Sejauh mana sih keterlibatan Dee sebagai penulis cerpen dalam pembuatannya?

Peran saya di Filosofi Kopi semacam produser konsultan. Dari mulai pembangunan cerita awal, supervisi skenario, hingga datang ke reading. Angga Sasongko (sutradara/produser film Filosofi Kopi) sangat membuka diri dan memang ingin melibatkan saya dalam proses penggarapan cerita. Saya tidak ikut di produksi yang sifatnya teknis, jadi fokus di penceritaan saja.

Apakah Dee juga akan masuk frame seperti film Perahu Kertas 1?

Sejauh ini belum ada rencana. Tapi kemungkinan besar enggak.

Dalam film, dimunculkan tokoh El atau tokoh yg sebelumnya tidak ada dalam cerpen. Apakah Dee yang memberi rekomendasi atau memang sudah menjadi keputusan tim produksi? Apa sebenarnya alasan dimunculkannya El dalam film Filosofi Kopi? Apakah agar cerita menjadi 'segar' atau memang ada isu lain yg ingin diangkat melalui tokoh El?

Dari awal saya sudah mengusulkan adanya “orang ketiga” dalam konstelasi karakter Filosofi Kopi. Tujuannya sih supaya cerita bisa berkembang lebih kaya dan dramatis. Ini memang tipikal kalau film diadaptasi dari cerpen, biasanya terjadi pengembangan. Pada novel, yang terjadi biasanya sebaliknya, pengurangan. Kebetulan, Angga dan Jenny (penulis skenario) juga berpikir sejalan. Jadi, dari masih tahap sinopsis, tokoh ini sudah kita putuskan bakal ada. Tentu, masuknya tokoh El harus punya tujuan kuat untuk membangun cerita, jadi nggak hanya pemanis saja.

Hampir seluruh karya Dee kini diangkat menjadi film, apakah rencananya Petir, Akar, Partikel, dan Gelombang juga akan difilmkan?

Belum ada kontrak apa-apa untuk serial Supernova berikutnya. We’ll see.

Adakah kekhawatiran Dee akan adanya reaksi 'mainstream' penonton yg biasanya berkomentar "filmnya nggak sesuai sama cerpennya" atau "lebih bagus cerpennya daripada filmnya" mengingat penonton Indonesia saat ini kurang dapat memaknai ungkapan 'adaptasi novel atau cerpen' dalam sebuah film?

Itu sepertinya sudah rutinitas yang harus dijalani, sih. Film itu pasti ada yang suka dan tidak. Terlepas itu diangkat dari buku atau bukan. Jadi, film dari buku pun sama saja pada dasarnya, bakal ada yang suka dan enggak, cuma ada variasi komentar “lebih bagus” atau “lebih jelek” atau “mirip” sama bukunya. Ada komparasi. Saya rasa, di seluruh dunia juga sama, nggak hanya di Indonesia. Itu memang sudah nasibnya film hasil adaptasi. Saya nggak terlalu khawatir mirip/enggak dengan buku sih, lebih khawatir kalau filmnya jelek.


Karya Sastra

Beberapa kritikus sastra beranggapan karya-karya Dee masuk dalam genre abu-abu, antara karya sastra dan karya populer. Bagaimana Dee menanggapinya?

Sepertinya memang posisi saya demikian. Sejujurnya, saya tidak menyengajakannya juga. Dikotomi karya sastra dan karya pop adalah hal yang tidak menjadi pertimbangan ketika saya berkarya. Saya lebih tertarik ke persoalan membangun cerita dan cara bercerita. Mungkin, pendekatan saya demikian karena begitu jugalah ekspektasi saya terhadap sebuah buku. Ceritanya memikat atau tidak. Itu saja. Mau itu sastra atau bukan, saya nggak peduli. Dan kayaknya itu memang lebih baik jadi tugas kritikus. Tidak usah menjadi beban penulis.

Apakah menurut Dee pengelompokan genre sastra itu menjadi penting dalam kiblat penulisan sebuah karya?

Penting bagi telaah sastra dan kategorisasi di toko buku. Kalau kiblat penulisan, yang saya lihat hanya konten. Ketertarikan saya sangat acak, dari mulai komik Jepang, kajian UFO, sampai buku puisi Sapardi. Saya nggak pernah fanatik terhadap satu genre tertentu.

Apakah menurut Dee segmentasi pembaca juga pada akhirnya akan berpengaruh terhadap dikamar-kamarkannya karya sastra?

Segmentasi pembaca itu banyak basisnya, bisa dari usia, gender, kelas ekonomi, dsb. Saya nggak tahu persis bagaimana kausalitas segmentasi pembaca dengan kategori buku, pengaruh sih pasti ada, tapi kayaknya ini lebih relevan bagi pelaku industri buku seperti penerbit, toko buku, dan sebagainya. Kritikus juga punya tugas dan sudut pandangnya sendiri. Kalau buat saya pribadi, semua itu tidak mempengaruhi proses kreatif saya. Dibuat “kamar-kamar” boleh, tidak juga tidak apa-apa.

Monday, December 22, 2014

The Jakarta Globe | Frankfurt Book Fair | September, 2014 | by Jaime Adams


Indonesia will be Guest of Honor country at next year's Frankfurt Book Fair. You will already travel to Germany this year to attend the handover ceremony at the end of the fair, when Indonesia will officially take over from this year's GoH country Finland. What exactly will your role be, and how did you end up being chosen for it?

My role will be as a Indonesia’s to receive the scroll from Finland, a symbolic gesture to acknowledge the honor of being the next GoH in Frankfurt Book Fair. There will be a short conversation between me and the Finland’s representative afterwards on stage. I think it was Goenawan Mohamad and the National Committee who chose me for the handover ceremony. Although I’m sure they would know their reason better than I do, I think I was chosen because of my experience in some international literary events before. They would also want someone who can represent Indonesia’s book industry and I’ve been a published writer for 13 years now, so I can say a thing or two about the situation of our book industry.

Besides the handover ceremony, what other Indonesia-related events at Frankfurt Book Fair will you attend?

I will have a session with Slamet Rahardjo where we will be talking about Indonesia cinemas. The session will begin with Rectoverso movie screening. Rectoverso is the movie adapted from my short story collections and had won several awards in Indonesia and Asia.

Besides Frankfurt Book Fair, what else is on the agenda for your Germany trip?

I will give a talk at Dussman, Berlin, on Oct 14. I was told it was a very prestigious venue for writers. I’m truly honored.

Looking ahead to next year, how important do you think it is for Indonesia to be the GoH country at Frankfurt Book Fair?

Basically, all eyes will be on Indonesia. Frankfurt Book Fair is the biggest book event in the world. I heard many complaints about how unrecognizable Indonesia literature is on the international level, only few names were ever heard of, like Pramoedya Ananta Toer and recently Andrea Hirata, and that situation has been stagnant for a long time. There hasn’t been a real breakthrough in introducing Indonesia literature to the world market. Being the GoH of Frankfurt Book Fair is a golden chance for Indonesia. But I’m worried our government is not realizing it. I don’t even think most people are aware of the importance of this event. Our role in Frankfurt Book Fair 2015 has to be promoted on national scale, because not only the book industry will benefit from it, but also our creative economy industry. It should perceived as a huge cultural event and opportunity. We need to showcase our country and culture as optimally as we can.

What do you think are the necessary steps to be taken in order to make next year's fair a successful one?

Our preparation for Frankfurt Book Fair is extremely short. The government is also being very slow and rather vague on their support. I heard the term for translation funding is rather impossible, they give one month deadline to finish the whole translation. Everybody with the right mind knows there cannot be a good translation work done in only one month, not to mention the scarcity of good translators out there. So, it’s a deadlock. We need to take the initiative. Everybody’s involved in the book industry has to socialize and promote Frankfurt Book Fair to the mass. It’s a golden opportunity which should be celebrated by our creative industry. We don’t only display books, we can display our culinary treasure, our dance, our culture, our music, and share those beauties to the world. If the government is holding back their support, for whatever reason, then we must actively work outside of that frame.

Will you be able present your own books in German as well? Have you found a German publisher that shows interest in your novels?

It’s a tricky situation. I wrote eight books, but only one book has an English translation. Some writers with dozens of books may not even have a single English translation. All this time, we never really pay attention to the importance of translation. Therefore, being the Guest of Honor of Frankfurt Book Fair is a like huge slap on our face. It’s either a blessing or a curse. There won’t be enough time to translate a whole book in significant quantity. So, basically we can only translate synopsis into English or German and try to sell the rights to international publishers. The trade will only start this October, so we’ll see.

Currently, there is a new "challenge" making its rounds in social media circles, where people can nominate their friends to compile a list of books that have inspired them the most. What books would make it to your list?

I think it will be interesting to introduce the work like Es Tito’s Negeri Kelima (The Fifth Country). The book packages Indonesia’s history in a popular, fast-paced, story telling. Something we don’t see so often in the market.

Are you working on a new book at the moment?

Yes. I just finished the fifth installment of my Supernova series, called Gelombang. It’ll be out in bookstores on Oct 17. I will start writing the final book immediately afterward.

Are there any other outlets you ever wanted to try to unleash your creativity, like film, theater or art?

Aside of writing books, I still involve in the music industry, although mostly now as a songwriter and not into stage performance so much. I partly invole in movies too. I wrote my first screenplay Perahu Kertas two years ago. But since I want to focus in finishing my Supernova series, I can’t afford to get involve in any other creative projects, at least for another one or two years. I’m seriously planning to write a cook book, though.

You are a mother, a wife, a writer, a singer and a songwriter. Don't you ever feel tired? :)

Those roles can be overwhelming, indeed. Ha-ha! It’s like a juggling game, day in day out. Everyday I learn to set my priorities straight, to work more efficiently and effectively. My office is practically at home, and I still have daily household chores and a family to take care of. So, I’m very stingy of my time. I say no to most meetings. I live in suburb (Tangerang Selatan), and it’ll cost me a whole day for an hour meeting in Jakarta. Regarding my work, I rely on e-mail and phone communications. To finish my latest book, I need to wake up before everybody else at home, so I still have that silence and uninterrupted moment. For months, I woke up at four AM and wrote for two-three hours straight. I declined most talkshow and teve invitations for almost a year. At first I was shaky because I felt like I was missing out opportunities, but I gradually learn to see what really matters. I can’t stress more of how important it is to see the distinction. Sometimes we’re just busy without being truly productive.