Showing posts with label Pernikahan. Show all posts
Showing posts with label Pernikahan. Show all posts

Tuesday, December 16, 2014

For Men | Profil | Februari, 2013 | by Hendra Suhendra


Sepertinya Anda melek IT juga. Untuk saat ini seberapa penting teknologi informasi bagi Anda? 

Haha, itu hanya “tipuan brosur”. Mungkin kesannya aja saya melek IT, tapi sebenarnya biasa-biasa aja. Yah, sampai batas tertentu saya punya ketertarikan dan kebutuhan, tapi saya bukan pengulik IT. Batas saya hanya sampai level praktis aja. Kalau soal hp, misalnya, saya biasa pakai satu handset sampai jelek banget dan nggak ganti-ganti (bahkan pernah ada hp saya yang tergilas mobil dan tetap saya pakai). Baru tahun lalu saya beli Blackberry. Laptop saya IBook Macintosh edisi lama, dan masih saya pakai sampai sekarang. Penggunaan internet juga sebatas yang saya butuhkan aja. Terus terang, untuk masalah IT, sekarang ini saya dibantuin Reza juga. Dia lebih ngulik daripada saya. 

Anda juga memiliki blog dan menulis di sana. Apa arti sebuah blog bagi seorang Dewi Lestari? 

Saya mulai nge-blog tahun 2006. Awalnya hanya untuk memuat tulisan-tulisan yang belum tertampung di buku. Ada banyak artikel yang saya tulis, sebagian sudah dimuat di majalah, sebagian lagi belum terpublikasi, dan saya bisa tampung itu semua di blog. Baru tahun 2007 saya lebih intens menulis di blog, traffic di blog saya juga meningkat pesat. Bahkan sekarang saya bisa mengatakan bahwa blog adalah media komunikasi utama saya dengan pembaca. Saya sih kepingin bikin website sendiri, domain sudah ada, tapi konsep website-nya masih mencari yang paling pas. 

Lagu terbaru Anda, Malaikat Juga Tahu, memiliki spirit yang khas dan berbeda. Bagaimana proses terciptanya? 

Pada dasarnya kalau bikin lagu saya lebih sering pakai sistem ‘wangsit’, jadi inspirasinya datang gitu aja, kayak wangsit. Makanya susah banget terima order bikinin lagu. Wong saya sendiri nggak pernah tahu kapan inspirasi itu muncul. Dan lagu Malaikat Juga Tahu (MJT) adalah salah satu contoh yang sempurna untuk kondisi tsb. Lagu itu tercipta begitu saja, hampir tanpa usaha berarti. Benar-benar seperti kesambar petir. Saya lagi di kamar mandi, sikat gigi, lalu melodi reff-nya MJT tahu-tahu muncul. Saya langsung rekam di HP. Lalu, saya tergelitik memakai kata “malaikat” dan “juara”, dan jadilah lirik reff-nya MJT. Sisanya saya ikut arus lagu itu sendiri aja. Dalam mencipta saya merasa lebih sering “digiring” daripada “menggiring”. 

Pesan apa yang ingin Anda sampaikan lewat lagu Malaikat Juga Tahu? 

Yah, sesuai liriknya saja. Saya nggak punya pesan pribadi apa-apa. Cerita dalam lirik MJT cukup umum, banyak orang mengalaminya. 

Apakah lagu tersebut berhubungan dengan seseorang? Tentang siapa? 

Nggak ada. Banyak yang nyangka saya curhat pribadi lewat MJT, padahal sama sekali tidak. Kalau dalam fiksinya, saya memang mengangkat sepenggal kisah dari kehidupan seorang teman dan keluarganya. 

Sebenarnya, bagaimana proses kreatif Anda dalam menciptakan lagu? Apakah bisa berdasarkan pesanan seseorang? 

Lihat jawaban no 3. 

Grup musik atau band sebelum bubar biasanya melakukan pergantian personil, tapi Trio RSD langsung bubar. Kenapa? 

Memang itulah keputusan kami saat itu. Saat saya memutuskan keluar, Rida & Sita pun memutuskan untuk tidak mencari pengganti, jadi mending grupnya pensiun aja sekalian. Yah, kami dibatasi oleh faktor nama juga sih, karena kan kalau mau tetap “Rida, Sita, Dewi” berarti nama personilnya harus sama terus. Sebetulnya kalau saya yang keluar kans cari pengganti cukup besar, berhubung nama “Dewi” sangat pasaran, hehe. Kalau “Rida” atau “Sita” pasti lebih susah. 

Sepertinya Anda sudah menikmati sebagai solois. Ada rencana untuk membuat album atau konser Trio RSD Reunion? Kalau ada, kapan? Kalau tidak, kenapa? 

Bikin album nggak gampang. Butuh persiapan yang panjang dan matang. Terus terang, kalau untuk bikin album lagi kami belum kepikiran. Tapi untuk konser atau nyanyi bareng sih ayo-ayo aja, kalau memang jadwal dan konsepnya pas. Sebetulnya kalau konser reuni sudah kita jalankan. Tahun 2007 akhir kita konser ke 12 kota di Jawa Barat. Untuk ke depannya masih belum tahu. Rida sekarang lagi mau meluncurkan album solo, jadi pasti dia lagi konsentrasi dulu ke albumnya. Sita juga punya rencana sama. Untuk RSD, kami sih cenderung santai dan nggak ngoyo. Kalau ada tawaran nyanyi ya nyanyi, kalo enggak ya nggak pa-pa.  

Anda sukses sebagai penyanyi dan penulis. Boleh jadi ada pekerjaan atau profesi yang menantang tapi Anda tidak ingin menekuninya. Seperti apa misalnya? 

Saya punya hobi masak, traveling, dan merangkai bunga. Nggak tahu apakah akan jadi profesi atau enggak.

Dalam sebuah wawancara Anda mengatakan ingin meluncurkan novel digital dalam bentuk cetak. Bisa diceritakan? 

Novel digital saya berjudul Perahu Kertas, tahun lalu (2008) diluncurkan oleh XL, dan tahun ini (2009) akan diluncurkan lewat Indosat. Novel digital sendiri adalah novel yang bisa di-download dan dibaca lewat hp, jadi sementara ini yang bisa baca adalah pengguna hp dari perusahaan telekomunikasi yang bersangkutan. Tadinya saya mau meluncurkan versi cetak Perahu Kertas akhir 2008, tapi bertabrakan jadwal rilisnya dengan Rectoverso. Saya cenderung untuk tidak mengeluarkan dua produk dalam waktu berdekatan, karena ribet menjalankan promonya. Jadi Perahu Kertas terpaksa ditunda sampai pertengahan tahun 2009. 

Beberapa tahun lalu Andrei Aksana pernah meluncurkan novel disertai soundtrack, judul Lelaki Terindah, meskipun (album) soundtrack-nya tidak dikemas secara khusus. Pendapat Anda? 

Saya kurang jelas maksud pertanyaan ini. “Pendapat saya?” Yah, baik-baik saja.  

Sepertinya, karya-karya Anda cenderung berbau supranatural. Apakah ini menjadi trade-mark seorang Dewi Lestari? 

Kita perlu definisikan dulu arti “supranatural”. Buat saya “supranatural” itu berkonotasi mistis dan cenderung klenik. Benarkah ini yang dimaksud? Karena saya tidak punya niatan demikian. Jika yang dimaksud adalah “spiritual”, berarti jawabannya adalah iya. Dan yang saya maksudkan “spiritual” di sini adalah dorongan alamiah dalam setiap manusia untuk mengenal diri sejatinya. Sejujurnya, saya nggak pernah dengan sengaja ingin menjadikannya sebagai label atau trade mark. Tapi memang motor penggerak saya terbesar dalam berkarya adalah spiritualitas, karena itulah minat saya yang paling utama. 

Adakah keinginan untuk menciptakan sebuah karya dengan tema tertentu, namun Anda khawatir akan mengalami pencekalan? 

Sejauh ini belum ada, baik yang dimaksud sebagai ‘tema tertentu’ maupun kekhawatiran akan pencekalan.  

Tema-tema apa saja yang menarik untuk Anda tulis menjadi novel atau cerita? 

Seperti yang dijelaskan di atas, kecenderungan saya adalah menulis tema tentang pencarian jati diri. Tapi nggak 100% itu melulu juga, saya pun senang mengungkap cerita hati: baik itu jatuh cinta, patah hati, berharap, dsb. 

Dari banyak peristiwa yang terjadi secara global, momen apa yang paling menyita perhatian Anda? 

Sekarang ini? Masalah lingkungan hidup. 

Kalau tidak salah, novel-novel Anda belum pernah difilmkan? Apakah Anda tertarik untuk memfilmkan? Atau jangan-jangan sudah ada yang meminta? 

Memang buku saya belum pernah difilmkan. Dulu, waktu Supernova baru keluar, banyak pihak yang menawarkan, tapi saya belum punya kesiapan untuk itu. Karena kalau bikin film, pastinya saya ingin terlibat cukup intens, dan sejauh ini, secara waktu dan kesempatan saya belum punya ruang untuk itu. Kalau soal tertarik sih tertarik, tapi bukan jadi tujuan utama saya. Bagi saya, difilmkan atau tawaran difilmkan hanyalah bonus sampingan, yang kalau bisa jalan ya syukur, enggak juga nggak apa-apa. 

Seandainya difilmkan, seberapa besar Anda ingin terlibat didalamnya? Karena cukup banyak novelis yang mengaku kurang puas atas hasil adaptasinya ke dalam film. 

Setidaknya supervisi skenario, karena skenario bagi saya adalah nyawa film. 

Saat masih bersama Marcell, sepertinya perkawinan Anda ideal sekali. Akan tetapi perceraian terjadi juga. Menurut Anda, seperti apa sebuah perkawinan yang ideal? 

Saya nggak pernah punya konsep ideal tentang pernikahan. Dan jika dikatakan “sepertinya perkawinan Anda ideal sekali” tentunya itu adalah penilaian terbatas dari pihak luar, yang menurut saya sah-sah saja, tapi belum tentu punya derajat kebenaran apa pun. Perkawinan bagi saya hanyalah bungkus luar yang nggak perlu dibubuhi idealisme apa-apa karena hanya akan bikin stres dan tidak natural. Yang lebih penting adalah relationship-nya. Bungkus bisa apa saja. Bagi saya, relationship yang sehat adalah relationship yang berbasiskan kejujuran dan kekinian (tidak terpaku pada masa lalu dan tidak berorientasi ke masa depan). Dan itu tidak berarti sebuah relationship akan lekang seumur hidup atau bahagia terus menerus. Jadi, bagi saya konsep ideal tidak berlaku. Yang lebih penting dan nyata adalah hubungan yang natural, bukan yang ideal.

Dhammacaka | Face to Face (part 2) | Mei, 2009 | by Setiawan Liu


After getting re-married, some particular group of people ‘judge’ you to have misled either the Buddhist practice or other teaching, how do you see their judgement? (please advise me if you follow or unfollow Buddhism)

I guess it eventually depends on how one perceives ‘teaching’, ‘religious practice’, or just ‘religion’ in general, and how one posits them in his/her life. As for myself, religious practices and teaching are always open to interpretation, so I do not see any singular, fixed truth about anything. Truth is organic. Religion, for me, should be organic. It lives and grows. And that is why, for me personally, authenticity matters much more than mere do’s and don’t’s. I see no point in living in a lie or in a social deception just to please other people or to uphold some rules. What I have decided in my life is something that I will bear on my own. I care less about public opinion, not in order to live in an anti-social bubble, but it’s so obvious we can never please everybody. As my husband, Reza, always says: the moment we care too much about other’s opinion or pleasing people, we officially put ourselves on the fastest path towards misery and unhappiness. I’m still a Buddhist, by the way.

What is really on your mind about ‘having a good (re)marriage’ – how do you see that in either Buddhism or in general ideas? 

To be honest, other than keeping it realistic and truthful, I do not have any other idea of what a good relationship ideals are—and that includes marriage, of course. Too fixated in defining what’s good and bad can be very stressful, because we’ll be led up by ideals and not by the ever-changing moment-to-moment truth. In my current marriage, our commitment to each other is just to stay as honest and truthful as possible. We do not give promises, but just hold intentions. It implies vast difference. And we communicate everything as clear, complete, and concise as we can, no matter how ugly they may be. For me, that’s the best gift we can offer to someone. 

If only you have two choices, married with the man with two wives, or being in separation with your beloved husband? 

I do not like hypothetical question very much. Most of the time it’s pointless, because when we face the reality, we could go for a complete opposite direction from our previous hypothetical answer. But so far, I do not see myself as a polygamous person. 

How does Buddhism influence each step of your life? Do you practice another religious teaching besides Buddhism? 

I think what Buddhism really inspires me is the spirit of self-inquiry. Ehipassiko. I now pay more respect to direct experiences. We can talk until our mouths foam about concepts of truth or teachings, but only by experiencing we can ever truly learn about anything. And that moves me to practice meditation in the first place. I appreciate many teachings, especially what people called ‘mystics’, also for the same reason. The mystic tradition emphasizes on experiencing, not so much do’s and don’t’s, or the more ‘political’ side of religion/spirituality.

So far, after getting remarried, do you always feel comfortable with this ‘new’ situation? 

(note: actually I’m not so clear with what you meant by ‘new’ situation. Is it the marriage? The social aspect? Work? What exactly the situation do you address? Anyhow, I’m going to answer it from relationship angle).If you define ‘always feel comfortable’ as ‘being happy all the time’, of course it’s not realistic. Relating is a not a sugary sweet fairy tale all the time. Like all relating that has ups and downs, we have to adapt so many things in our togetherness. We re-learn to live and to co-evolve with one another’s presence. But if you define ‘comfortable’ as acceptance, I do embrace every aspect of this new life I have—comfortably. This has been one of the best gifts that life has ever given to me. I feel so blessed.
  

Dhammacaka | Face to Face | Mei, 2009 | by Setiawan Liu


Bagaimana Mbak Dewi melihat permasalahan perceraian, baik dalam perspektif umum maupun dalam perspektif agama yang dianut?

Sebagaimana hal-hal yang barangkali dianggap “kurang menyenangkan” secara umum, seperti halnya perpisahan dan kematian, saya rasa manusia cenderung menghindari perceraian, meski kadang-kadang demikianlah kenyataan hidup yang perlu dihadapi. Saya pun sendiri seperti itu. Jika memungkinkan ya sebaiknya tidak berpisah, tidak bercerai, tapi jika memang itu yang perlu dihadapi, ya akhirnya hadapi saja. Pada prinsipnya, menurut saya, kita justru belajar dari yang pahit, bukan dari yang manis. Jadi pada hal-hal yang dianggap kurang menyenangkanlah justru batin kita punya kesempatan paling besar untuk bertumbuh. Jika saya kilas ke belakang, saya justru melihat saya telah memetik pelajaran yang sangat berharga. Jadi pada akhirnya saya melihat perceraian sebagai peristiwa hidup yang "biasa-biasa" saja, dalam arti: semua peristiwa hidup punya tujuan dan makna, mau itu perceraian atau bukan. Dan sebuah peristiwa jadi punya guna jika kita telah berhasil memetik pelajaran darinya. Dari apa yang saya ketahui, di Buddhisme sendiri perceraian bukanlah sesuatu momok menakutkan atau kutukan, melainkan sebuah fenomena. Sama halnya dengan segala fenomena dalam hidup ini. Tapi tentunya mengadopsi hal itu bukanlah hal yang mudah, karena secara riil kita hidup dalam kultur yang cenderung mengagungkan persatuan/pertemuan dan mengutuk perpisahan/perceraian. Sama seperti kita mengagungkan kelahiran dan menghindari kematian. Sementara dalam pemahaman Buddhisme, kelahiran dan kematian hanyalah fenomena dalam siklus tumimbal lahir yang keduanya netral-netral saja.

Ada beberapa hipotesis, baik dari kalangan umum maupun selebritis, bahwa ‘separate lives is a solution’ dalam arti adakalanya perpisahan/perceraian merupakan suatu solusi. Apa pendapat Mbak Dewi?

Saya rasa, dalam hidup, segala sesuatu dapat dipandang menjadi solusi. Bahkan hal paling ekstrem seperti kematian sekalipun. Karena kita hidup dalam realitas yang dualitas, setiap permasalahan pasti sudah datang bersama solusinya. Dan apakah solusi itu? Kita tidak pernah bisa tahu, sampai solusi itu benar-benar datang dan tiba secara nyata dalam hidup kita. Jadi, perceraian, perpisahan, kepergian, tentunya bisa menjadi sebuah solusi jika memang pas dengan konteks dan perspektifnya. Ini akan kembali ke pandangan dan belief system masing-masing orang. Jika mereka percaya bahwa perpisahan bukanlah solusi, yah mungkin mereka akan terus bertahan untuk bersama, meski sudah tersiksa luar biasa. Semata-mata karena bagi mereka, perpisahan bukanlah pilihan. Dan hal itu sah-sah saja, menurut saya.

Beberapa agama mempunyai doktrin mengenai perceraian. Dalam agama Buddha ‘perkawinan bukan sesuatu yang sakral, begitu pula perceraian’ – sementara beberapa doktrin agama lain, ‘perkawinan dan perceraian sama-sama sakral’ – lalu bagaimana pandangan Mbak Dewi Lestari?

Sejak lama, saya pun merasa bahwa pernikahan memang bukanlah segalanya. Tidak ada harga mati dalam hidup ini. Segalanya berubah dan tidak tetap. Sama seperti situasi langit yang terus berubah; kadang jernih, kadang berawan, kadang hujan, begitu jugalah hidup. Justru ketika kita mengharapkan sesuatu adalah abadi, sakral, tak bisa ditawar-tawar, kita mulai hidup dalam ketegangan batin dan ketidakbahagiaan. Namun bukan berarti kita juga jadi main-main menghadapi pernikahan, atau pun perceraian. Saya yakin, semua orang yang memasuki sebuah pernikahan atau pun memutuskan bercerai, pastilah itu sebuah keputusan serius, yang dipikirkan masak-masak. Tidak ada yang mengharapkan berpisah saat bertemu, tapi kenyataan hidup kan tidak ada yang bisa menduga arahnya. Dengan menjalankan sebaik-baiknya sebuah keputusan, apa pun itu, sekaligus menerima fakta dan hukum alam bahwa segalanya tidak ada yang permanen, kita jadi bisa lebih realistis dan tidak terlampau mencengkeram sesuatu. Meskipun sesuatu itu kita anggap baik dan penting.

Apakah perceraian dalam konteks ‘it is a solution’ – bisa digeneralisir (either case by case of person by person)?

Saya rasa tidak ada permasalahan yang benar-benar bisa digeneralisasi. Setiap permasalahan adalah unik, dan tentu solusinya pun unik. Walaupun mungkin ada kasus yang mirip-mirip, tak ada satupun dalam hidup ini yang identik. Jadi bagaikan semua individu di dunia ini, sebuah solusi pun sifatnya pasti unik dan individual. 

Wednesday, March 11, 2009

GOOD HOUSEKEEPING | Cover Story | Jan, 2009 | By Zustina Priyatni

1. Apa rasanya jatuh cinta (dengan Reza Gunawan) lagi?

Reza adalah sahabat terbaik saya, bahkan sebelum kita pacaran dan menikah. I feel so blessed to experience this companionship with him.

2. Saat Anda memutuskan untuk menikah lagi, apa pertimbangan Anda?

Sejujurnya saya nggak tahu pasti. Lebih seperti intuisi. Jadi bukan pertimbangan logis atau matematis bahwa ini poin positifnya berapa, negatifnya berapa, penjelasannya gimana, dsb. Pokoknya, itulah yang saya rasakan sebagai sesuatu yang ‘pas’ bagi saya saat itu, dan juga saat ini, tapi ujungnya apa… kita nggak pernah tahu.

3. Apa yang Anda pelajari dari kegagalan pernikahan Anda sebelumnya?

Bahwa segala sesuatu indah pada waktunya, baik itu perjumpaan maupun perpisahan. Bahwa kejujuran, bagi saya, lebih penting daripada sekadar kebersamaan. Bahwa hubungan cinta, bagi saya, adalah sesuatu yang realistis dan ‘hidup’, bukan konsep mati dan pajangan sosial. Bahwa otentik pada diri kita sendiri jauh lebih mendamaikan daripada cuma bikin masyarakat senang.

4. Percayakah Anda dengan istilah "soulmate"?

Menurut saya, “soulmate” adalah salah satu istilah yang terlalu diromantisir. Hehe. Bagi saya pribadi, “soulmate” tidaklah tunggal, melainkan jamak. Setiap orang dan setiap hal yang hadir untuk mendewasakan jiwa kita, ya itulah “soulmate”. Jadi jumlahnya tidak satu, dan punya banyak konteks. Saya dengan orang tua dan keluarga saya di kehidupan sekarang ini, misalnya, mereka juga “soulmate[s]” saya. Jadi konteksnya tidak harus dengan pasangan hidup saja.

5. Apa Keenan tahu bahwa bapak dan ibunya sudah berpisah? Pengertian seperti apa yang Anda coba sampaikan padanya?

Keenan sekarang baru berusia 4 tahun. Jangankan konsep perceraian, konsep pernikahan saja tentunya anak sebesar dia belum ngeh. Menurut pengalaman dan pengamatan saya selama ini, di usia anak seperti Keenan penjelasan bukanlah hal utama. Dia lebih melihat kenyataan dan contoh langsung, bukan memahami penjelasan. Sama halnya kalau saya mau mencontohkan makan yang tertib, bukan dengan dijelaskan, tapi dengan saya peragakan langsung. Barulah dia paham. Jadi saya belum pernah menjelaskan verbal ke Keenan mengenai perpisahan orang tuanya ataupun keluarga barunya dengan Reza, saya hanya menunjukkan dari hari ke hari bagaimana ayah dan ibunya tidak bersama lagi, tapi kami berdua masih berhubungan baik dan dia bisa menemui ayahnya kapan saja. Jadi dia masih merasa secure dan tidak kehilangan. Saya juga pelan-pelan memperkenalkan Reza dan membiarkan Keenan dan Reza menemukan “chemistry” mereka secara alamiah. Nggak dipaksakan. Begitu juga ketika memperkenalkan Keenan ke oma-opanya yang baru (orang tua Reza), ya alamiah aja. Sampai akhirnya Keenan malah yang nagih ingin ke rumah oma-opanya bahkan senang bermalam di sana.

6. Apakah pandangan Anda tentang media massa berubah, setelah kasus perceraian Anda menjadi berita hangat?

Sejak lama saya memang menyadari bahwa media massa tidak ada yang objektif, meskipun kredonya demikian. Kebetulan saya kuliah politik jadi secara teoritis saya paham bahwa memang media massa pada dasarnya adalah drama-maker, tapi yang dirangkai adalah potongan kehidupan nyata, fakta, opini, dsb. Jenis drama apa yang ingin ditampilkan, ya disesuaikan dengan kepentingan dan kebutuhan dari medianya. Dan saya mengalami sendiri bagaimana fakta bisa disetir dan dirangkai untuk memenuhi kebutuhan media, terutama media hiburan. Pelajaran utamanya adalah: jangan sepenuhnya percaya apa yang kita baca dan kita dengar, justru kita harus senantiasa mempertanyakan apa yang kita baca dan kita dengar. Dan, bagi saya, dengan pendekatan seperti kita bisa lebih kritis dan jernih dalam memilah informasi.

7. Apakah benar, kehadiran Keenan sedikit banyak memengaruhi proses menulis Anda?

Setelah punya anak, cara kerja saya memang berubah. Saya nggak lagi fanatik dengan menulis subuh atau menulis malam. Sekarang saya belajar menulis kapan saja dan di mana saja, sesuai dengan sempatnya saya. Tadinya saya sempat ragu, bisa atau enggak. Tapi ternyata bisa, dan saya malah lebih merasa sehat dengan cara kerja seperti itu. Baik fisik maupun mental. Karena keseimbangan hidup saya jadi lebih terjaga, fisik saya juga nggak terlalu diforsir.

8. Belakangan Anda sering diajak menjadi pembicara di berbagai acara/seminar tentang meditasi. Sejak kapan Anda mendalami meditasi dan apa yang membuat Anda tertarik untuk menjalaninya? Adakah 'live turning event' yang menguatkan keinginan Anda untuk mempelajari meditasi?

Ketertarikan saya pada spiritualitas (dan di dalamnya termasuk meditasi) dimulai sudah cukup lama sebetulnya, dari tahun 1999 tepatnya. Saya pernah belajar meditasi selewat melalui yoga dan reiki, tapi baru tahun 2006 saya mulai serius belajar. Pertama kali saya ikut Mindfulness Retreat dengan Master Thich Nhat Hanh tahun 2006, waktu itu retreatnya diadakan di Hongkong. Pada tahun yang sama, saya ikut retreat meditasi vipassana (meditasi untuk mengenal diri) di Vihara Mendut. Dan dari sana hingga sekarang saya cukup rutin meditasi, baik melalui praktek harian maupun ikut retreat maupun pelatihan. Sekarang ini saya praktek mingguan juga di Meditasi Rabu yang kebetulan dibimbing Reza.
Tahun 1999 saya melepaskan konsep “lama” saya tentang Tuhan, agama, dsb, dan mulai mencari sendiri. Kalau dulu kan saya ikut-ikut saja apa yang dibilang orang, lingkungan, dsb. Nah mulai tahun 1999 saya kembali ke diri saya sendiri, dan mulai mencari dari sana. Kalau untuk meditasi sendiri, boleh dibilang setelah sekian tahun membaca literatur tentang spiritualitas dan meditasi, akhirnya saya haus untuk berpraktek dan mengalami sendiri. Dan itulah yang menguatkan keinginan saya untuk bermeditasi.

9. Apa manfaat meditasi yang Anda rasakan dalam kehidupan sehari-hari?

Lebih peka dan jujur pada diri sendiri. Lebih memahami jerat-jerat pikiran dan perasaan yang kadang bisa membelenggu dan memabukkan, dan lebih memahami bahwa segala sesuatu yang di luar sana adalah hasil bentukan mental kita sendiri. Jadi, meditasi membantu saya lebih bertanggung jawab atas hidup saya sendiri.

10. Saat aktivitas Anda padat, bagaimana Anda mencari waktu untuk bermeditasi?

Meditasi sebetulnya tidak sebatas pada duduk diam. Segala kegiatan bisa jadi meditasi, yang penting kita menyadari sepenuhnya, baik itu makan, berjalan, bernyanyi, masak, dsb. Saya sih selalu mengupayakan minimal dalam 1 hari itu ada kegiatan meditatifnya, mau itu duduk diam, menyadari napas, atau melakukan relaksasi ringan. 10 menit dicicil 3x sehari, misalnya.

11. Apakah Anda percaya pada kekuatan pikiran?

Semesta ini adalah kumpulan energi, dan energi mengikuti gerak pikiran (thought). Jadi, ibarat kuda dan pedati, pikiranlah kuda yang menggiring pedati ke mana2. Masalahnya, pikiran kita seringkali tidak jernih, liar, dan tidak disadari, karena kita terlalu sering mengidentifikasikan diri kita dengan pikiran kita. Padahal pikiran, meski punya kekuatan, hanyalah fenomena. Masih dualitas. Cuma keelingan atau awareness-lah yang bisa membantu kita melihat semua fenomena itu dengan jernih.

12. Bagi Anda, apakah menulis mempunyai efek yang sama dengan meditasi?

Menulis dapat menjadi kegiatan meditatif, jika dilakukan dengan meditatif. Jadi bukan sembarang menulis. Saya punya sebuah buku tentang kepenulisan dari seorang pemeditasi Zen (Natalie Goldberg). Di sana dikatakan bahwa: menulis, jika dilakukan dengan meditatif, akan membantu kita untuk menghadapkan diri kita yang sejati. Dan saya setuju itu.

13. Kegiatan menulis dan meditasi, menimbulkan kesan bahwa Anda orang yang serius. Sementara dari tulisan-tulisan Anda (termasuk di blog), sisi humoris seorang Dewi Lestari justru jelas terlihat. Apakah bisa dibilang bahwa proses menulis merupakan upaya Anda
untuk menyeimbangkan diri?

Hehe, yah itu namanya ‘kesan’ saja. Meditasi tidak identik dengan keseriusan kok. Justru orang yang terlalu serius malah bisa kesulitan dalam praktek meditasinya. Dalam meditasi tertentu, kita bisa tertawa segila-gilanya dan bertingkah sekonyol-konyolnya. Yang penting disadari. Jadi meditasi bukan masalah “serius” atau “nggak serius”, tapi disadari atau tidak. Humor menurut saya adalah bentuk sifat ilahiah yang sangat sakral. Tuhan, kalau di mata saya, adalah Maha Humoris. Saya nggak ada upaya khusus untuk menyeimbangkan diri, tapi ya itulah faset-faset yang ada pada saya. Saya, seperti halnya semua orang, punya banyak sisi atau faset.

14. Menurut Anda, adakah perbedaan yang Anda rasakan saat menulis blog dengan menulis buku?

Tujuan awal saya membuat blog adalah membuat wadah bagi tulisan-tulisan saya yang tidak tertampung dalam wadah buku. Jadi bentuk tulisan dalam blog lebih seperti artikel lepas, kontemplasi pendek, dsb. Satu hari nanti, bukannya nggak mungkin tulisan saya di blog akan dibukukan. Jadi perbedaan utamanya hanya dalam bentuk format aja. Kalau rasa menulisnya sama. Tulisan panjang atau pendek, untuk diterbitkan atau enggak, dalam proses mentahnya terasa sama, kok. Dalam metafora saya, seperti memancing di kolam inspirasi. Sama-sama ada tarik menarik antara diri saya dengan Sang Sumber tersebut.