Showing posts with label 2010. Show all posts
Showing posts with label 2010. Show all posts

Sunday, December 21, 2014

U Magazine | Profil | Januari, 2010


Bagaimana Anda mendefinisikan "budaya"?

Sebuah hasil efek samping yang tak terhindarkan, diakibatkan oleh tubrukan antara aspek sosial dan aspek individual dari umat manusia.

Menurut Anda, apa media yang paling ampuh untuk menyebarkan suatu nilai budaya? Alasannya?

Televisi, dan sekarang ini jejaring sosial di internet. Televisi, karena kekuatan audio-visual dan penggunaannya yang sudah sangat luas. Internet, karena selain juga bisa audio-visual, kecepatannya real-time.

Lewat buku atau musik, Anda merasa mewakili satu "genre" atau "kelompok" kebudayaan tertentu? Kalau iya, "genre" atau "budaya" apa?

Secara umum, saya dibesarkan dalam konteks budaya pop. Saya tidak merasa mewakili kelompok kebudayaan tertentu, tapi yang jelas karya saya tidak bisa lepas dari andil/pengaruh budaya pop.

Saat ini banyak negara mengandalkan industri kreatif untuk menggenjot pendapatan. Anda setuju dengan "mengkomersilkan" kreatifitas? Atau memang harus begitu supaya maju dan berkembang?

Menurut saya, jika ingin berkembang luas, faktor komersil dan kreativitas seharusnya berjalan seimbang. Komersialitas jangan memakan dan mendikte kreativitas, sebaliknya kreativitas tanpa komersialitas juga akan berjalan di tempat.

Apakah Anda melihat masyarakat Indonesia telah cukup cerdas untuk menerima produk budaya yang bagus (meski kadang-kadang "susah")? Apa indikasinya? Apakah, misalnya dengan banyaknya toko-toko buku baru bisa menjadi ukuran bahwa masyarakat Indonesia makin cerdas?

Dalam pengamatan saya, yang tentunya terbatas, saat ini ada minat dan geliat baru dalam dunia pustaka Indonesia. Salah satu indikasinya adalah lebih banyak toko buku, lebih banyak penerbit, lebih banyak penulis, dan volume oplah keseluruhan yang juga meningkat. Tapi apakah itu berkorelasi dengan kualitas dan kecerdasan, menurut saya belum tentu.

Buku terbaru Anda (yang sebenarnya bersumber dari tulisan lama Anda), Perahu Kertas, cenderung lebih ringan dibandingkan novel-novel sebelumnya? Apakah ini bagian dari "mengikuti selera pasar"?

Pada prinsipnya, saya tidak pernah mengikuti selera pasar. Saya hanya menuliskan buku yang ingin saya baca. Perahu Kertas adalah naskah yang juga berada dalam rentang selera dan minat saya pribadi. Dibilang lebih ringan bisa jadi, yang jelas kreativitas saya memang berwarna dan tidak pernah berada dalam satu spektrum saja. Dan Perahu Kertas sudah ada jauh sebelum serial Supernova, jadi sebetulnya kalau saya merilis Perahu Kertas lebih cocok saya dibilang “menentang pasar” ketimbang “mengikuti pasar” saya yang sudah ada dan terbentuk oleh Supernova.

Apa yang mendorong Anda bekerjasama dengan XL untuk pemasaran novel ini -- yang mengharuskan Anda menyelesaikannya dalam 55 hari dengan banyak perubahan dari naskah asli, seperti Anda tulis di blog?

Saya suka proyek-proyek pionir. Dan saat itu novel digital memang belum ada, jadi Perahu Kertas menjadi yang pertama. Selain itu, saya memang sudah berniat untuk menyelesaikan naskah Perahu Kertas yang sudah mati suri sekian lama. Jadi, tawaran XL menjadi motivasi segar bagi saya untuk menyelesaikannya. Kenapa 55 hari? Karena kalau tidak ada deadline seperti itu, saya berisiko untuk menghabiskan waktu terlalu lama untuk menulis ulang naskahnya, yang artinya Perahu Kertas mati suri lebih panjang lagi.

Anda meluncurkan Rectoverso satu paket buku dan musik. Sebenarnya bagaimana ide awalnya dan apa pertimbangannya? Apakah masyarakat pembaca buku Indonesia siap dengan model seperti ini? Tanggapan para pembaca buku Anda, bagaimana? Adakah pengaruhnya terhadap tingkat penjualan buku ini -- menjadi lebih laku atau malah sebaliknya?

Lagi-lagi, Rectoverso adalah proyek pionir. Belum ada sebelumnya buku dan album musik yang saling bercermin seperti itu (bukan soundtrack), dan kebetulan musik dan penulisan adalah bidang yang saya kuasai. Tanggapan masyarakat cukup bagus, pembaca saya juga sejauh ini positif menanggapinya. Walaupun saya berkesimpulan, secara penjualan tetap buku yang lebih kuat, karena industri musik sendiri sedang mengalami perubahan drastis dengan peralihan ke format digital, download, RBT, dan maraknya pembajakan.

Waktu pertama kali meluncurkan Supernova, Anda memakai jalur penjualan indie, apakah ini menguntungkan dari segi komersil? Mengapa Anda sekarang akhirnya kembali ke jalur penjualan "normal" lewat toko buku? Apakah ada pertimbangan khusus atau semata-mata soal bisnis?

Menyimpulkan dari masa sekarang, indie atau tidak keuntungan komersialnya sama-sama saja. Karena sekalipun profit menerbitkan sendiri lebih besar ketimbang cuma dapat royalti tapi konsekuensinya kita juga harus punya sistem, SDM, dsb, yang butuh energi dan biaya juga. Yang membedakan hanyalah kemerdekaan dan keleluasaan untuk menetapkan strategi, harga, dsb, karena buku itu otomatis menjadi barang kita sendiri. Perlu digarisbawahi bahwa “indie” artinya adalah menerbitkan sendiri (dan sebagian mendistribusikannya lewat jalur sendiri), tapi itu bukan berarti tidak lewat toko buku. Semua buku saya sejak dulu selalu lewat toko buku. Hanya saja ada saluran tambahan lewat internet, direct selling, dsb. Jadi tidak tepat kalau dibilang saya “kembali ke jalur normal”, karena kalau yang disebut “normal” adalah lewat toko buku, dari dulu pun buku saya selalu dijual di toko buku. Hanya peran distributor dan penerbitnyalah yang dilakoni sendiri. 

Tahun ini, Perahu Kertas akan difilmkan oleh Mizan. Apa yang membuat Anda bersedia? Apa saja persiapan Anda? Anda yakin filmnya akan setia pada buku? Tidak takut nantinya terjadi "penyelewengan" dari buku ke film?

Sejak awal menulis Perahu Kertas saya memang sudah punya visi untuk mengangkatnya ke layar lebar. Jadi tinggal mencari partner yang tepat saja. Kebetulan karena sekarang Perahu Kertas bekerja sama dengan Bentang sebagai penerbitnya, maka selaku paying dari Bentang, Mizan Production-lah yang maju terlebih dahulu. Soal penyelewengan, saya sih cukup realistis, tidak akan pernah mungkin naskah buku sama persis ketika difilmkan. Jadi “penyelewangan” pasti terjadi. Tinggal sekarang bagaimana “penyelewengan” itu tetap bagus dan manis sehingga bisa diapresiasi sebagai karya seni yang baik.

Kalau harus memilih fokus ke satu hal, Anda akan memilih jadi apa: penyanyi, penulis, pemain film, ibu rumah tangga, atau apa?

Ibu rumah tangga yang hobi nyanyi dan cari uang sambilan dari menulis. Main film? Tidak pernah terlintas di benak saya.

Dari semua buku-buku Anda, ada yang jadi favorit Anda? Kenapa?

Sejauh ini, saya paling suka Petir dan Perahu Kertas. Semata-mata karena dua buku itu proses pembuatannya sangatlah menghibur.

Apa yang paling mempengaruhi Anda dalam menulis: pengalaman atau pengamatan sehari-hari ATAU ide-ide liar tentang apa saja yang tiba-tiba muncul di kepala?

Kesemuanya. Menurut saya tidak ada “single factor” dalam menulis, apa pun yang menjadi pengalaman mental, fisik, maupun rohani dalam kehidupan nyata kita, akan menjadi bahan yang keluar tiba-tiba ketika kita menulis.

Apa yang paling sulit dan memakan waktu ketika menulis novel: mencari ide, membuat riset, menulis, atau justru saat melemparnya ke pembaca? Dari semua itu, mana yang paling Anda nikmati dan kenapa?

Paling makan waktu: riset. Paling bikin pusing tapi mengasyikkan: menulis. Paling melelahkan: promosi buku. Saya paling menikmati saat buku sudah jadi tapi belum rilis. Itu fase ‘tengah-tengah’ di mana ada kelegaan karena sudah selesai, tapi stres berikutnya yakni mempromosikan buku, belum datang.

Apa proyek atau karya Anda berikutnya? Apakah tetap berkisar di buku dan musik atau mungkin sesuatu yang sama sekali berbeda?

Supernova Partikel dan skenario film Perahu Kertas. Ada proyek-proyek lainnya yang nonfiksi, tapi masih dalam tahap penggodokan.

Apa film terakhir yang Anda tonton dan sangat suka? Kenapa?

Saya lagi jarang nonton film layar lebar, apalagi ke bioskop, karena masih ngurus bayi. Saya lagi senang nonton film serial, favorit saya: Criminal Minds, Lie To Me, Castle, dan Fringe. Serial-serial itu menurut saya mencerdaskan karena saya jadi tahu banyak hal sekaligus terhibur.

Apa buku terakhir yang Anda baca dan bagian apa yang paling Anda suka?

Saya lagi baca buku fotografi, Understanding Exposure oleh Bryan Peterson.

Tempo | Kebun Mini | Desember, 2010 | by Ninin Damayanti


Sejak kapan mengonsumsi sayuran organik? Apa alasannya?

Sudah lama, mungkin udah hampir 7 tahun ya. Pokoknya sejak saya berkeluarga, saya langsung beralih ke sayuran organik. Alasannya karena benefit kesehatannya lebih banyak, dari segi nutrisi sampai rasa. Dan karena saya vegetarian, saya udah berhemat banyak karena tidak mengonsumsi daging. Jadi saya alihkan ke pemakaian sayur organik.

Bisa diceritakan soal "kebun mini"-nya?

Awalnya saya memang pengin bikin dapur hidup karena hobi masak. Masalahnya bumbu-bumbu yang dijual seperti daun jeruk, daun salam, pandan, dsb, biasanya nggak dalam jumlah kecil. Padahal dipakainya hanya selembar dua lembar, yang ada malah busuk. Akhirnya saya putuskan untuk menanam sendiri. Tadinya saya beli pohon-pohon yang udah jadi. Tapi lama-lama penasaran pengin coba nanam sendiri. Saya sebetulnya dari kecil minat dengan cocok-tanam, tapi nggak pernah berani coba serius. Saya selalu merasa nggak bakat, karena kok tanaman yang saya pegang mati terus. Kali ini saya ingin membuktikan bahwa itu cuma ‘jebakan mental’ aja dan bisa diubah. Cuma saya ingin benar-benar belajar dari nol, dari mulai nanam biji/benih.

Sejak kapan mulai berkebun? Belajar dari mana?

Akhirnya saya belajar dari buku-buku dan internet. Pokoknya coba terapkan sesuai teori dulu aja. Saya mulai sebulan yang lalu.

Beli bibit kangkung dan pakchoy di mana? Kenapa memilih dua jenis sayuran itu?

Saya beli bibitnya di toko tanaman. Saya pilih kangkung dan pakchoy karena saya suka keduanya, bisa makan banyak banget. Dan keduanya juga cocok ditanam di dataran rendah seperti Jakarta ini. Kalau brokoli atau wortel kan hampir nggak mungkin di daerah hangat.

Bagaimana perawatan sehari-hari? Menggunakan pupuk apa? Mengapa?

Perawatannya saya siram pakai sprayer setiap pagi dan sore. Dua-tiga jam kena matahari langsung, sisanya saya taruh di tempat teduh. Saya pakai pupuk cair organik yang khusus buat sayuran. Air cucian beras juga saya pakai untuk menyiram karena bisa meningkatkan metabolisme tumbuhan mengolah nutrisi.

Media tanamnya apa?

Saya pakai media tanam yang sudah dicampur kompos. Ayah saya juga kasih limbah dari pabrik arang yang juga sangat bagus untuk tanaman.

Apa sudah mendapat manfaat dari kebun mini itu?

Saat ini saya sudah punya tanaman pandan, jeruk purut, jeruk limau, jeruk nipis, suji, bunga telang, salam, dan yang baru dicoba sayuran pakchoy, kangkung, cabai rawit dan cabai keriting. Masih banyak sih yang pengin ditanam, tapi nyicil dululah. Hehe. Sekarang ya kalau masak tinggal petik, bumbu jadi fresh, dan karena kita tanam sendiri, kebersihannya juga terjaga.

Hasil kebunnya mau dikonsumsi sendiri atau ada rencana dijual?

Konsumsi sendiri. Kalau lebih ya dibagi ke saudara atau tetangga.

Kalau boleh tahu, apa komentar Keenan soal kebun mamanya?

Dia menikmati sekali main airnya, hehe, ikut nyiram-nyiram, walaupun lebih sering nyiram kakinya sendiri ketimbang nyiram tanaman. 

Saturday, December 20, 2014

Majalah Panorama | Profil | Oktober, 2010 | by Jaka Setia


Anda banyak juga dikenal dengan nama pena “Dee”, apakah ada sejarah/alasan khusus di balik nama “Dee”?

“Dee” memang ‘tidak sengaja’ jadi nama pena saya. Sebetulnya karena pertimbangan nama “Dewi” itu agak pasaran, hehe, dan asosiasi orang saat itu selalu “Dewi RSD” jadi untuk tampil dengan image fresh sebagai penulis, saya mencoba memakai nama panggilan saya yakni “Dee”. Dipanggil “Dee” karena waktu kuliah saya pakai ransel dengan emblem besar huruf “D” (Dee).

Menurut Anda, adakah perbedaan antara seorang Dewi Lestari di karya-karya buku dan musik, dan seorang Dewi Lestari di kehidupan sehari – hari?

Dewi Lestari yang bermusik dan menulis adalah sebagian aspek dari diri saya keseluruhan. Mewakili saya, memang, tapi itu bukan sepenuhnya diri saya juga. Jadi bukannya beda, tapi “belum lengkap”. Yah, lengkapnya yang sehari-hariyang hobi, kelakuan, cara bicara, karakter, dsbhanya dikenal oleh orang yang memang berinteraksi dengan saya sehari-hari.  Dan belum tentu diketahui oleh pembaca atau pendengar musik saya.

Sebagai seseorang yang aktif dalam dunia musik dan literatur, adakah korelasi di antara keduanya? Adakah passion terpendam lainnya yang ingin Anda kerjakan dalam waktu dekat ini?

Bagi saya, korelasi keduanya tentu sangat dekat.  Keduanya merupakan saluran saya berekspresi yang sama pentingnya. Passion saya yang lain cukup banyak, saat ini sedang hobi memasak, fotografi, dan lagi senang belajar tentang masalah gizi dan parenting. Saya sedang berencana membuat situs tentang vegetarianisme dan Gentle Birth (metode persalinan alami).

Boleh ceritakan tentang pengarang favorit Anda dan bagaimana ia telah memberikan inspirasi dan pengaruh terhadap karya tulisan Anda?

Penulis Indonesia yang saya kagumi antara lain Sapardi Djoko Damono, yang metaforanya menurut saya mencengangkan. Ayu Utami, penulis yang karyanya “Saman” adalah salah satu buku yang membuat saya bersemangat untuk menerbitkan buku. 

Di buku Supernova, Anda berhasil untuk merangkai dan menggabungkan fakta dan alur cerita menjadi sebuah kesatuan yang menarik. Bagaimana proses Anda melakukan itu?

Gabungan dari riset dan imajinasi. Harus rajin mengolah keduanya. Dan yang lebih penting lagi, adalah harus terus menghidupkan tema dan napas untuk cerita tersebut karena sifatnya yang serial. Stamina kreativitasnya harus kuat. 

Berbagai buku Anda memiliki hubungan yang erat dengan tema ‘life searching’. Boleh bercerita bagaimana pandangan Anda terhadap sebuah proses pencarian jati diri dan makna hidup?

Menurut saya pencarian jati diri adalah proses inheren dalam setiap kehidupan manusia. Semua orang pasti mengalaminya, meski dalam format yang berbeda-beda. Jadi bagi saya, itu adalah tema yang universal.

Sebagai salah satu penulis Indonesia yang telah menjadi bagian dari ajang prestisius Ubud Writers & Readers Festival 2010, bagaimana Anda ingin memberikan inspirasi terhadap penulis dan pembaca dewasa ini?

Dengan terus berbagi dan berkarya sebisa saya. Menurut saya hanya itu yang paling baik dan realistis untuk dilakukan.

Menjadi bagian dari panel diskusi Writing the Digital Future, bagaimana pendapat Anda tentang dunia literatur di era yang serba digital saat ini?

Dunia literatur mau tak mau perlu beradaptasi dengan perubahan zaman. Terutama yang berkenaan dengan format dan saluran-saluran menulis baru seperti blog, Twitter, e-book, dsb. Secara spirit, menurut saya menulis adalah menulis. Dari zaman ke zaman esensinya tetap sama. Tapi bagaimana kita menyuarakannya, inilah yang terus berubah dan berkembang.

Rectoverso, sebuah hasil karya musik dan literatur, sementara Perahu Kertas akan ditayangkan di layar lebar pada waktu dekat ini, kira-kira kejutan apalagi yang pada masa dekat ini? Menggabungkan perfilman dan musik atau menghasilkan produksi musikal mungkin?

Kalau pentas musikal, saya merasa itu bukan bidang keahlian saya, walaupun saya bergelut di bidang musik dan penulisan. Kalau hanya menulis beberapa lagu untuk soundtrack, itu masih lebih mungkin.

Berada di Bali untuk festival writers & readers tahun 2010 ini, adakah hubungan batin yang erat terhadap Bali, khususnya Ubud?

Ubud adalah tempat liburan favorit saya. Bahkan terpikir juga untuk menghabiskan masa pensiun nanti di sini. Kalau bisa sebelum itu ya lebih baik lagi, hehe. Pokoknya dalam setahun saya harus ada kunjungan ke Ubud, buat nge-charge baterai batin. Hehe.

Beralih topik tentang kesukaan Anda terhadap dunia traveling, ceritakan perjalanan mana yang paling berkesan bagi Anda?

Waktu saya ke Papua, tepatnya Tembaga Pura, tahun 1999. Itu tempat yang “ajaib” menurut saya. Ada kota modern di ketinggian 2500 kaki, di tengah hutan, dilingkung gunung. Dan, ada cable car sampai ke tengah-tengah Jayawijaya. Dan semua itu karena manusia menambang emas. Baru kali itu saya melihat kapabilitas intervensi manusia yang begitu besar pada alam.

Hal apakah yang paling Anda sukai pada saat berpergian/traveling?

Mengamati. Melihat segala sesuatu yang baru. Menyentuh ranah ketidaktahuan.

Pastinya Anda sudah berpergian mengunjungi bermacam-macam negara, pernahkah tercetus ide untuk membuat travelog dari berbagai destinasi yang pernah Anda kunjungi?

Sudah lumayan banyak: Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Dubai, Australia, New Zealand, dan beberapa negara di Asia. Tapi kebanyakan dalam rangka bekerja, jadi saya nggak benar-benar traveling murni. Lain sih rasanya. Satu saat saya ingin sekali ke Peru. Harusnya tahun 2009, tapi karena hamil saya batalkan.

Mother & Baby | Gentle Birth | Desember, 2010


Apa kabar? Selain disibukkan dengan Keenan dan Atisha, apa lagi kegiatan sekarang? Bagaimana dengan penulisan buku? Perahu Kertas jadi difilmkan?

Kabar baik. Saat ini saya sengaja “sabbatical leave” alias cuti panjang dari pekerjaan, untuk mengurus Atisha. Untuk pekerjaan saya cuma ambil yang bisa dikerjakan dari rumah saja. Penulisan buku masih jalan terus. Tahun ini saya menulis skenario Perahu Kertas yang rencananya akan difilmkan tahun depan. Dan ada satu manuskrip kumpulan cerpen, plus beberapa proyek website pribadi.

Apakah sempat kagok jadi ibu lagi karena jarak antara Keenan dan Atisha cukup jauh? Apakah santai saja atau sempat juga baca-baca majalah kehamilan atau website?

Kagok sih enggak, bahkan saya merasa sangat dimudahkan karena Keenan udah cukup besar dan mulai mandiri, jadi saya bisa konsentrasi untuk mengurus Atisha. Kalau santai ya santai, tapi banyak pembekalan saat hamil, seperti membaca, praktek meditasi, latihan self healing, taichi, dsb.

Perbedaan kehamilan Keenan dan Atisha kemarin seperti apa? Tolong ceritakan.

Saat hamil Atisha pendekatan saya jauh lebih natural, karena sudah mulai menerapkan Gentle Birth yang memang dimulai dari kehamilan. Check up hanya dilakukan jika benar-benar perlu, USG saya hanya dua kali, dan tidak ada obat-obatan sama sekali. Banyak istirahat, taichi, meditasi, dan terapi alami seperti homeopati, Jin Shin Jyutsu, self-healing, dsb. Waktu hamil Keenan saya sebentar-sebentar ke dokter, bahkan sempat masuk rumah sakit dua kali, padahal nggak ada yang serius, cuma parno aja. Hehe.

Bagaimana dengan makanan? Berarti dari janin, Atisha vegan ya?

Saya sudah vegetarian saat hamil Atisha, jadi otomatis dia vegetarian juga. (catatan: bukan vegan, kalau vegan sudah tidak mengonsumsi telur/produk susu. Waktu hamil saya vegetarian, bukan vegan)

Sempat baca, kemarin melahirkan Atisha bersama suami dengan metode gentle birth. Apa yang dimaksud dengan metode gentle birth? Bisa diceritakan? Perbedaan dengan water birth atau persalinan normal pada umumnya apa?

Gentle Birth itu pendekatan yang holistik untuk persalinan, dan juga kehamilan, di mana yang diutamakan bukan hanya keselamatan fisik saja, tapi juga meminimalkan trauma lahir pada bayi dan ibu. Untuk itu kami memilih bersalin di rumah, sehingga suasananya santai dan sakral. Kami dibantu bidan, tapi pada saat persalinan karena bidannya nggak keburu datang sementara bayi sudah siap keluar, akhirnya Reza yang menangkap bayi. Tapi karena sudah persiapan, jadi kami cukup tenang menjalankannya. Tidak ada sobekan, dan semua berjalan cepat. Bidan membantu untuk proses pengeluaran plasenta dan perawatan pasca persalinan. Kami memang menggunakan metode water birth karena dari riset kami, bayi yang keluar di air transisinya lebih mulus, dan berada di air juga menenangkan bagi sang ibu.

Dari mana Anda dan suami mendapatkan metode ini? Apakah setelah persalinan ini, Anda ke rumah sakit juga? Berapa berat dan panjang Atisha serta arti namanya?

Reza sudah cukup lama mengenal Gentle Birth karena pekerjaannya sebagai praktisi penyembuhan holistik. Kami banyak belajar dari buku, menonton video, dan konsultasi dengan para bidan di Bali yang menjalankan metode ini, seperti di Bumi Sehat (Ubud). Kami tidak ke rumah sakit sesudahnya karena tidak ada kondisi medis yang mengharuskan. Nama lengkap Atisha adalah Atisha Prajna Tiara. Atisha adalah nama guru besar agama Buddha, Prajna artinya “wisdom”, dan Tiara adalah mahkota.

Bagaimana Anda memandang kelahiran Atisha untuk pribadi dan keluarga baru Anda?

Kelahiran Atisha benar-benar mentransformasi kami semua. Proses persalinannya sungguh luar biasa dan itu benar-benar membawa keajaiban bagi kami sekeluarga.

Lalu, bagaimana dengan pola didik dan pola asuh yang diterapkan untuknya?

Kami menerapkan conscious parenting yakni pola asuh berkesadaran. Prinsipnya sederhana, ketimbang mengasuh berdasarkan teori para ahli, atau sekadar meniru pola asuh mayoritas, kami berusaha untuk terus dituntun intuisi dari dalam diri. Kepekaan ini adalah kombinasi dari upaya untuk terus memperhatikan secara jernih energi, perilaku dan perkembangan si anak yang tentu punya kebutuhan unik, dengan latihan hidup berkesadaran yang kami latih sebagai individu. 

Untuk edisi Januari ini, temanya New Year, New You, kalau Anda sendiri apakah Anda memiliki resolusi tahun baru untuk pribadi dan keluarga? Seperti apa? Apakah Anda memiliki waktu pribadi untuk merenung?

Kami berencana untuk membangun rumah tahun depan, jadi itu resolusi kami yang terdekat. Biasanya untuk tahun baru saya dan Reza meditasi singkat bersama-sama.

Tip sehat dan bugar dari Anda?

Banyak tertawa, punya hobi, banyak minum air putih, meditasi, sering berjalan dan hiruplah udara segar.

Friday, December 19, 2014

Kompas | Gentle Birth | Maret, 2010 | by Lusiana Indriasari


Bagaimana sampai pada keputusan memakai cara melahirkan dengan metode gentle birth/water birth? Apakah ada pengalaman buruk yang pernah di dengar atau karena ada motivasi khusus?

Waktu melahirkan anak pertama, saya di-caesar. Saat mengetahui kehamilan yang kedua, saya berkeinginan untuk mengalami persalinan yang bukan hanya “normal”, tapi juga sealami mungkin. Rezalah yang memperkenalkan konsep gentle birth pada saya, sejalan dengan pekerjaannya sebagai terapis penyembuhan holistik.  Sudut pandang holistik inipun ternyata sangat penting ketika menyikapi kehamilan & persalinan. Akhirnya kami mencari info sebanyak-banyaknya tentang opsi gentle birth ini, lewat buku, internet, video dokumenter, dsb. Dan ternyata memang beda sekali pendekatannya. Persalinan umumnya hanya fokus pada selamat / sehat secara fisik semata dan sesaat, artinya terpantau secara jangka pendek setelah persalinan. Namun, filosofi gentle birth justru peduli perkembangan fisik dan psikologis jangka panjang dari momen kelahiran, untuk itu proses hamil hingga bersalin perlu dirawat sebaik mungkin agar tidak saja sehat fisik, tapi juga intervensi sesedikit mungkin agar minim trauma & ramah jiwa bagi ibu dan bayi.  Gentle birth bukan hanya fokus pada ibu agar rileks, mengurangi sakit, dsb, tapi juga pada kesejahteraan batin dan tubuh bayi saat melewati transisi terbesar yang paling jadi titik penentu dalam hidupnya, yakni perjalanan dari rahim menuju dunia luar rahim.

Ceritakan bagaimana persiapan pada masa kehamilan dan juga persiapan menjelang gentle birth? Apakah sejak awal kehamilan sudah melakukan banyak persiapan misalnya seperti yoga kehamilan, meditasi, dll.?

Persiapan gentle birth yang kami lakukan meliputi emotional & trauma clearing, menyiapkan water birth di rumah – dari mulai memesan peralatan dan persiapan teknis pelaksanaan (kami memang memilih metode water birth karena lebih relaks bagi ibu dan juga minim risiko trauma fisik bagi bayi), dan saya melakukan Tai Chi khusus kehamilan selama dua bulan terakhir. Perencanaan persalinan kami juga tetap memperhitungkan aspek gawat darurat medis yang bisa saja terjadi, oleh karena itu kami tetap punya back-up rumah sakit yang sedekat mungkin dari rumah.
Hingga saat ini, Atisha tumbuh berkembang begitu sehat dan ‘hidup’.  Sejak awal lahir dia sudah membuka mata, dan kontak mata langsung dengan sadar & responsif. Perkembangan panca indera dan motoriknya juga cenderung cepat, begitu pula dengan proses belajar mengunyah makanan pendukung ASI yang kami berikan. Dia belum pernah sakit berat kecuali demam ringan saat-saat tumbuh gigi saja.  Dia sering mampu mengerti permintaan lisan kami, misalnya kalau kami harus ada meeting atau perjalanan jauh, biasanya dia tidak pernah rewel bahkan beristirahat tidur, dan terbangun tepat saat kesibukan kami sudah beres.  Bagi kami berdua, melaksanakan gentle birth adalah persembahan terbaik yang bisa kami berikan bagi bayi kami.
Perlu digaris bawahi bahwa gentle birth tidak harus selalu terjadi di air. Water birth bisa menjadi bagian dari gentle birth, tapi bukan sebuah prasyarat. Gentle birth bisa terjadi dengan metode water birth ataupun dry birth.

Wednesday, December 17, 2014

Portal Berita KabarIndo | Industri Kreatif | Januari, 2010 | by Arul Arista


Apa ada korelasi imajinasi merangkai kata dari untaian kalimat prosa dengan kreativitas?

Menurut saya, imajinasi adalah sumbernya, kreativitas adalah mesinnya, jadi keduanya berkorelasi. 

Memulai kalimat inspiring dari sisi apa?

Dari pesan dasarnya dulu, apa yang sesungguhnya ingin kita sampaikan.

Apakah fakta atau cerita-cerita orang menarik dijadikan karya sastra?

Sebuah karya memang selalu merupakan gabungan dari imajinasi dan fakta, yang bisa berupa cerita/pengalaman orang, atau pun cerita/pengalaman kita sendiri. Setidaknya itu yang selama ini saya lakukan.

Supernova bisa didaulat sebagai produk industri kreatif?

Tentu saja. 

Hal apa saja yang menarik dari industri kreatif?

Karena pekerjaan saya memang ada di bidang kreatif, bagi saya segalanya tentang industri kreatif jadi menarik.

Indonesia 2010 sedang meniti era Komputasi Sosial. Jejaring Sosial seperti FB dan Twitter ibarat jamur di musim hujan, ada pendapat? 

Sudah saatnya. Sebagai salah satu negara berpenduduk terbanyak di dunia, Indonesia punya potensi besar untuk memiliki jejaring sosial yang signifikan.

Apa asyiknya dengan aktivitas update status dan Twitter?

Bisa berkomunikasi langsung dengan pembaca/penggemar karya, bisa brainstorming secara virtual dengan orang-orang yang kompeten, dan bisa terhibur dengan interaksi yang terjadi.
 
Cinta menurut Dee, apa? 

Cinta, bagi saya, pada dasarnya adalah energi. Energi yang menggerakkan segalanya.
 

The Jakarta Globe | My Jakarta | Juli, 2010 | by Candra Malik


Anda seorang penyanyi sekaligus penulis yang produktif. Mana yang lebih awal Anda jalani?

Musik duluan. Saya mengawali karier musik dari umur 17 tahun (thn 1993). Awalnya menjadi backing vokal untuk Iwa K, P Project, Harvey Malaiholo, Java Jive, Chrisye, dan sebagainya. 

Apakah Anda mendapatkan dua kemahiran itu dari bakat yang turun di keluarga? Siapakah yang juga penyanyi dan/atau penulis di antara mereka?

Keluarga saya memang pencinta seni. Kakak saya, Imel, adalah seorang pianis/vokalis jazz profesional yang juga udah bikin album. Adik saya, Arina, adalah vokalis dari band Mocca. Kakak saya, Key, adalah seorang sutradara dan penulis skenario. Kalau yang menulis buku memang hanya saya. Kedua orang tua saya memang selalu mendorong kami untuk belajar musik sejak kecil. Ayah saya adalah seorang pencerita yang sangat baik, walaupun nggak nulis buku. Beliau juga senang bernyanyi dan bermusik meski otodidak. 

Saat ini, mana yang dorongannya lebih kuat dalam diri Anda: menyanyi atau menulis? Mengapa?

Dalam pengalaman saya, dorongan itu datang bergantian. Cuma sejak menulis Supernova tahun 2001, saya memang lebih intens menulis. Ada satu hal dalam dunia penulisan yang membuat saya lebih nyaman, yakni keleluasaan untuk rileks dan jadi diri sendiri. Menyanyi punya sisi glamor, sisi ‘nampil’, yang ternyata saya nggak selalu nyaman melakukannya. Saya senang rekaman dan membuat musik, tapi untuk performing saya nggak merasa punya semangat yang tinggi untuk itu. Selain itu, sejauh ini ide yang lebih sering muncul belakangan adalah ide menulis ketimbang musik. 

Anda memilih label indie untuk menerbitkan buku-buku, bahkan mendistribusikan sendiri buku-buku itu, dan terbilang sukses. Sudah berapa buku? Bagaimana ceritanya?

Sebetulnya saya cukup banyak bekerja sama dengan para penerbit selama ini, salah satunya yang masih bertahan hingga sekarang adalah GagasMedia dan Bentang Pustaka. Hanya seri Supernova (1-3) yang masih saya jalankan sendiri bersama Truedee Books. Awalnya sih bisa dibilang ‘kecelakaan’. Waktu itu saya punya manuskrip Supernova, dan saya nggak cukup pede untuk bawa ke penerbit. Teman saya ada yang mencoba, lalu katanya naskah tersebut harus antre dulu beberapa bulan, sementara target saya adalah menerbitkan Supernova sebagai hadiah ulang tahun bagi diri sendiri (Januari 2001). Ya sudah, akhirnya saya terbitkan sendiri. Dulu memang nggak kebayang ternyata animonya sebesar itu. 

Apa buku Anda yang, menurut Anda sendiri, paling spesial dan menunjukkan pencapaian tertentu? Siapa penulis atau tokoh yang memengaruhi Anda?

Agak susah memilih, karena setiap buku punya karakter tersendiri dan juga prestasi tersendiri. Secara historis sih ya tentu buku pertama, karena saya belajar banyak dari sana, baik sebagai penulis maupun sebagai penerbit. Saya mengagumi Ayu Utami dan Sapardi Djoko Damono. Buku Ayu, Saman, menjadi salah satu pendorong saya untuk berani menulis buku. Sementara dari Sapardi, saya banyak belajar tentang kreativitas, membuat metafora, dsb.

Sedangkan untuk album, sejak masih bersama grup RSD sampai akhirnya solo karier, mengapa Anda tak memilih jalur indie pula? 

Untuk RSD saya memang sejak awal sudah dibina oleh perusahaan rekaman yang mengontrak kami. Bahkan perusahaan rekaman tersebutlah (Warna Musik – Adjie Soetama/Adi Adrian) yang membentuk RSD pertama kali. Jadi memang jalurnya sudah seperti itu. Waktu solo karier, justru saya indie. Album solo saya pertama Out of Shell diproduksi sendiri, hanya distribusinya aja saya kerja sama dengan perusahaan distributor, karena saya nggak punya SDM untuk menjalankannya sendiri. Album kedua saya, Rectoverso, kebetulan bergabung dengan buku, jadi kasusnya agak lain. Tapi itu pun saya terlibat sebagai produser dan pemodal.

Anda berdarah Batak, lahir di Bandung, tinggal di Serpong, cari duit di Jakarta (Twitter said so ;p). Bagaimana Anda menjalani ini? Apa kesibukan Anda di Jakarta?

Hahaha... inget aja lagi. Bertahun-tahun saya memang bertahan di Bandung, walaupun teman-teman yang di industri sama sudah banyak yang pindah ke Jakarta karena memang lebih memudahkan. Tapi setelah anak saya, Keenan, masuk TK, saya mulai berpikir ulang. Soalnya, karena harus pulang-pergi terus, saya jadi sering ninggalin Keenan di Bandung, tapi kalau dia dibawa, dia sering bolos sekolah. Akhirnya saya “menyerah”, pindah ke Jakarta juga. Dan setelah menikah dengan Reza, yang orang Jakarta, ya semakin kuatlah alasan untuk tinggal di sini. Saya memilih tinggal di daerah suburb karena saya memang senang daerah yang masih hijau, tenang, relatif sepi. Di Bandung pun saya tinggalnya di daerah pegunungan. Tinggal di tengah kota nggak begitu cocok buat saya. Reza juga kebetulan prinsipnya sama. Hingga akhirnya kami memilih tinggal di BSD.

Ketika terjebak dalam kemacetan, apa hal yang paling produktif yang bisa Anda lakukan?

Meditasi.

Sebagai seorang Buddha, bagaimana Anda memahami meditasi dalam konteks kehidupan saat ini yang penuh gegap-gempita dan persaingan?

Sebetulnya, terlepas dari Buddhis atau bukan, untuk kehidupan zaman sekarang, saya ingin sekali menganjurkan ke semua orang untuk bermeditasi. Stimulasi eksternal di kehidupan modern ini begitu intens. Orang dipacu untuk terus cepat, instan, sibuk, dsb, makanya tingkat stres tinggi, penyakit degeneratif juga merajalela. Karena orang nggak lagi dibiasakan untuk ngerem dan berhenti. Meditasi adalah penyeimbang yang bisa bikin manusia modern tetap “waras”. Syukur-syukur bisa sampai pencerahan, haha! Tapi minimal untuk bisa berfungsi secara optimal, baik secara mental, emosional, dan fisik, meditasi sangat diperlukan. Bagi saya, meditasi bukan lagi sekadar unsur agama tertentu saja, tapi harusnya sudah menjadi bagian keseharian, sama halnya seperti kita berolahraga, atau makan. Kebanyakan orang sudah mulai melek dengan pola hidup sehat, makan sehat, dsb, tapi masih sedikit sekali orang yang memasukkan meditasi ke dalam kebutuhan keseharian. Bahkan di kalangan Buddhis sekalipun, praktisi meditasi masih menjadi minoritas.

Di Jakarta dan sekitarnya, apakah Anda mengalami kesulitan untuk berbelanja kebutuhan vegetarian? Anda memasak sendiri? Dari mana memperkaya menu-menu dan mendapat resep-resepnya?

Karena sekarang ini saya lagi hobi masak, otomatis jadi lebih sering bikin makanan sendiri. Nggak sulit sih, walaupun nggak banyak toko yang jual bahan vegetarian, tapi karena sedikit itulah networkingnya justru malah bagus. Ada direktori khusus yang bisa dicari di internet untuk petunjuk restoran/toko bahan vegetarian. Di BSD aja ada beberapa. Kalo menu dan resep saya modifikasi sendiri dari resep-resep nonvegetarian. Dan sebetulnya makanan Indonesia asli banyak yang vegetarian friendly. Apalagi di sini tahu tempenya murah dan enak.

Bagaimana Anda pertama kali meyakinkan orang lain bahwa vegetarian adalah pilihan hidup yang sehat dan mengasyikkan?

Kalau saya nggak pernah meyakinkan siapa pun. Apa pun yang saya jalankan dan rasakan manfaatnya, saya share sebisa saya. Entah itu lewat artikel, twit, atau blog. Kalau ada yang tertarik ya syukur, kalau enggak ya nggak apa-apa.

Jika Anda diminta memilih, lebih suka Dee yang ketika remaja atau Dee yang sekarang? Mengapa? Apa pula yang Anda sesali dari masa lalu?

Saya senang Dewi yang hari ini. Karena Dewi yang dulu sudah nggak ada. Setiap orang berubah hari bahkan setiap saat. Kalau saya bertahan atau terikat pada Dewi yang dulu, nggak akan bisa menikmati hari ini. Apa yang terjadi di masa lalu membentuk saya apa adanya hari ini. Hargai sejarah, jalani hari ini, dan siapkan masa depan, secara proporsional (kebanyakan planning juga stres, hehe). Itu prinsip saya.

Anda sering mondar-mandir Jakarta-Bandung. Bagaimana respon Anda ketika KA Parahyangan yang legendaris itu akhirnya distop operasionalnya? Mana yang paling Anda suka: naik kereta itu, travel, bis, atau berkendara sendiri Jakarta-Bandung? 

Perkembangan zaman kan nggak bisa dibendung. Sejak ada Cipularang, otomatis orang akan lebih menemukan kenyamanan dan keleluasaan untuk bepergian Jakarta-Bandung. Jadi yah wajar-wajar aja kalau terjadi perubahan. Tentunya sebagai bagian dari memori, saya trenyuh juga dengan tiadanya lagi KA Parahyangan. Tapi sebagai bagian dari perubahan itu sendiri, ya diterima saja. Saya lebih suka berkendara sendiri (pakai sopir), karena lebih fleksibel. Nomor duanya, saya memilih travel. 

Membaca peta Jakarta dan sekitarnya, menurut Anda, bagian mana di ibukota dan kota-kota satelitnya yang masih punya harapan ditata ulang agar semenarik dan sehijau Bandung?

Bukan karena saya tinggal di BSD ya, tapi menurut saya BSD punya peluang ke arah sana (meski Bandung jangan lagi dijadikan barometer karena sudah tidak semenarik dan sehijau dulu). BSD menurut saya planning kotanya cukup matang, penghijauannya cukup bagus, tinggal tunggu pohonnya besar-besar. Yang masih perlu digarap adalah konsep green living. Lebih bagus lagi kalau di BSD ada semacam sentra pengolahan untuk sampah organik, pusat daur ulang, dan juga upaya-upaya imbauan dan insentif untuk listrik tenaga solar, penampungan air hujan, dsb.

Tuesday, December 16, 2014

Femina | Gaya Hidup Ramah Lingkungan | Juli, 2010 | by Halleyna Sjuhada


Sejak kapan Anda mulai menerapkan kehidupan yang selaras dengan alam?

Kalau saya kilas balik, sepertinya saya sudah tertarik dengan konsep hidup yang ramah lingkungan itu sudah lama, sejak kecil bahkan. Tapi baru setelah berumah tangga dan punya otonomi untuk mengurus segalanya sendiri, barulah saya punya kebebasan penuh untuk menerapkan gaya hidup yang saya mau. Ditambah lagi, salah satu cerita Supernova yang sedang saya tulis (Partikel), temanya memang lingkungan hidup, jadi karena banyak riset dan otomatis banyak baca, rasanya saya makin melek dengan banyaknya ketidakselarasan gaya hidup manusia modern dengan alam. Dan itu membuat saya banyak merenung, lalu mulai melakukan perubahan kecil-kecil dari rumah sendiri.

Konsep go green, green living, sampai hidup organik, kini sering dijadikan orang sebagai gaya hidup temporer. Bagaimana Anda bisa menjaga komitmen diri untuk konsisten menjalankannya?

Prinsip saya, tidak ada yang namanya perbuatan besar, yang ada hanyalah perbuatan kecil namun dilakukan dengan setia. Begitu juga dengan green living, baru bermakna dan transformatif jika dilakukan dengan setia, nggak perlu ngoyo, dan nggak usah target muluk-muluk. Cukup perubahan yang dirasa realistis, untuk skala diri sendiri dan keluarga. 

Saat mulai ‘berdamai’ dengan alam, pasti ada rutinitas dan pola baru yang harus dijalani. Misalnya, yang tadinya makan daging lalu switch menjadi vegetarian. Pernahkah ada kesulitan meninggalkan kebiasaan lama?

Waktu vegetarian, karena sudah punya rumah dan keluarga sendiri, rasanya nggak sulit. Waktu mulai rutin meditasi, misalnya, karena lingkungan juga mendukung, juga rasanya mudah-mudah saja. Yang lumayan menantang adalah mengondisikan penghuni rumah lain (pembantu dsb) untuk ikut partisipasi, misalnya dalam pemisahan sampah, membuat kompos, dan disiplin2 kecil lain yang mungkin bagi mereka bukan hal yang umum

Bangun pagi yang baik, biasanya membuat sesorang memiliki mood yang baik pula untuk mengawali hari. Apa ritual bangun pagi Anda untuk menjaga penampilan dan mood?

Sekarang ini sih, saya lagi punya rutinitas untuk jalan kaki di pagi hari selama 30-35 menit. Pas baru bangunnya banget, saya minum air putih lalu sarapan buah.

Apakah Anda selalu menggunakan produk berbahan natural, seperti makanan organik, kosmetik, peralatan rumah? Apa sajakah keuntungan menggunakannya, bagi diri sendiri, orang lain dan bagi Bumi?

Sebisa mungkin iya, karena selain lebih aman (apalagi kalau di rumah ada anak kecil), sebetulnya bahan-bahan alami jauh lebih ekonomis dan ramah lingkungan tentunya. Misalnya, pemakaian baking soda untuk membersihkan sayuran, menggosok alat-alat dapur, kamar mandi, dsb. Untuk perawatan kulit, sekarang saya sedang mencoba hanya pakai VCO atau minyak zaitun, dan ternyata baik-baik saja.

Bagaimana pendapat Anda tentang inner beauty? Apakah itu merupakan anugerah, atau sesuatu yang harus diusahakan oleh setiap wanita untuk memancarkan inner beauty-nya?

Menurut saya, inner beauty tidak bisa dipaksakan. Itu semacam “bonus” yang terpancar jika memang sudah terasah. Malah menurut saya, semakin kita “sadar” dan ingin meningkatkan inner beauty, malah kontraproduktif. Inner beauty, menurut saya, sama seperti ketulusan. Dia hadir jika memang sudah saatnya hadir, bertambah jika memang sudah seharusnya bertambah, tidak bisa kita kondisikan. 

Menurut Anda, bagaimana hubungan antara kecantikan dan percaya diri seorang wanita? 

Percaya diri menurut saya ada dua macam. Percaya diri polesan yang sifatnya lebih superfisial, dan percaya diri yang memang terdorong dari dalam karena yang bersangkutan sudah betul-betul nyaman dan menerima dirinya apa adanya. Menurut saya, kecantikan yang sesungguhnya ada di tipe percaya diri yang kedua. Justru ketika seorang perempuan sudah benar-benar berdamai dengan dirinya sendiri, menerima baik buruk dirinya, tanpa lagi merasa harus memoles apa-apa, di sanalah kecantikan yang sesungguhnya akan terpancar. 

Saat ini, tempat ‘refreshing’ bagi sebagian besar masyarakat kota adalah mall. Bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini? Apa tip Anda untuk menemukan efek ‘refresh’ yang sederhana bagi diri sendiri? 

Mall memang bagian dari kebudayaan modern yang tidak bisa disangkal atau dicegah. Saya sendiri tidak anti mall, tapi memang agak miskin rasanya kalau perbendaharaan tempat refreshing kita hanya mall dan sejenisnya. Refreshing yang benar-benar mengisi baterai hati, tubuh, dan batin, menurut pengalaman saya adalah retret. Menarik diri dari keramaian luar, dekat dengan alam, dan mengamati “keramaian” yang terjadi dalam diri, alias bermeditasi. Nggak perlu dalam format retret formal, cukup dengan meluangkan waktu harian untuk diam dalam hening dan mengamati apa yang terjadi di dalam diri kita, bagi saya adalah refreshing sederhana tapi bermakna. 

Ada anggapan bahwa menerbitkan buku juga merupakan kegiatan yang kurang ramah lingkungan. Sebagai penulis, bagaimana Anda menyiasati hal ini? 

Opsi yang dipunya sekarang adalah buku digital. Saya sendiri sempat punya buku digital yakni Perahu Kertas yang dilaunch versi digitalnya tahun 2007. Saat itu Perahu Kertas cuma bisa dibaca lewat HP. Sekarang juga sudah marak e-book, dsb. Menurut saya, saat ini industri buku dan industri analog secara keseluruhan memang sedang bertransisi. Apakah barang-barang seperti buku, CD, dsb, akan hilang nantinya? Saya nggak tahu pasti. Saya sendiri masih dalam posisi mengamati perkembangan yang terjadi. 

Apa tip Anda untuk para wanita modern yang ingin memulai hidup dengan lebih serasi dan seimbang dengan alam?

Hidup selaras dan seimbang, artinya jangan hanya sibuk dengan apa yang terlihat dan apa yang ada di luar diri kita, tapi juga kembali pada apa yang ada di dalam diri. Bermeditasi, memperbaiki nutrisi, mengenal konsep-konsep atau trik/tips green living, bisa membuat perempuan lebih sehat, lebih seimbang, lebih dekat dengan energi femininnya, dan juga membantu Bumi kita untuk bernapas sedikit lebih lega.