Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Saturday, December 20, 2014

Kover Medan | Profil | Maret, 2011 | by Yuni Adisti


Sebelum Perahu Kertas, novel Kak Dee itu lebih berbau spiritual. Kenapa?

Spiritualitas adalah salah satu minat terbesar saya, dan juga salah satu tema yang menggerakkan saya untuk menulis. Pada prinsipnya, saya hanya menulis apa yang menjadi minat saya.

Untuk Supernova (1-3) ada beberapa adegan yang setting-nya diluar Indonesia. Apakah Kak Dee bener-bener pergi ke suatu tempat sebelum mulai nulis? Atau cuma bermodalkan Google?

Nggak semua ke tempatnya langsung. Dan, nggak semua juga cukup dengan Google. Saya riset juga melalui studi pustaka dan wawancara narasumber.

Apakah ada perubahan-perubahan yang didapat oleh Kak Dee dari menulis?

Perubahan apa maksudnya? (sori, pertanyaannya terlalu luas) Kalau saya melihat inti hidup ini adalah perubahan. Tanpa menulis pun, setiap hari segala hal berubah, termasuk saya.

Apa yang membuat Kak Dee merasa kalau writing is something you want to do? And if you're not the writer/singer that you are now, what do you want to be?

Sepertinya itu dorongan alamiah sejak kecil, sama seperti hobi dan ketertarikan yang biasa muncul sendiri. Bukan sesuatu yang saya niatkan dengan sengaja. Kalau saya bukan penyanyi atau penulis, jujur saya nggak kebayang. Yah, mungkin menjalankan hobi lain saya, seperti memasak, fotografi, atau yang ada hubungannya dengan tanaman.

What do you expect your readers to get/learn/realise from your writings?

I never expect anything from my readers. Dalam berkarya, prinsip saya kita mencipta apa yang kita suka dan apa yang kita percaya. Saya yakin orang yang tertarik pada karya kita adalah mereka yang memang akan bisa merasa terhubung dengan karya tersebut, tanpa perlu lagi kita targetkan ekspektasi tertentu.  Setiap pembaca pasti punya reaksi tertentu yang itu ada di luar kendali penulis. Mereka beli, baca dan mereka suka, saya bersyukur. Namun itu semua di luar kendali saya. Begitu juga sebaliknya kalau mereka nggak suka. It’s never in our hands.

Kak Dee sudah nulis dari lama banget, tapi kenapa milih untuk jadi penyanyi dulu baru jadi penulis?

Saya nggak memilih. Karier menyanyi terjadi mengalir begitu saja. Nggak pernah saya rencanakan “akan nyanyi dulu baru nulis”. Semua itu go with the flow saja.

I once read that you think religion and belief are two different things. While most Indonesians consider them to be the same. Care to explain why you think they're different?

Agama (religion) terinstitusi, ada organisasinya, ada aturan tata-tertibnya, dsb. Kepercayaan (belief) lebih informal, personal. Dua-duanya pada akhirnya membutuhkan keyakinan dan keimanan. Hanya secara superfisial ada perbedaan dalam aspek institusional.

Dilihat dari Twitter-nya, ada apa dengan Dewi Lestari dan berkebun?

Hobi.

Dulu, kalau mau nulis itu medianya cuma di kertas. Lalu bergerak ke komputer. Komputer dilengkapi dengan internet, muncul blog. Sekarang Twitter. Semakin banyak media, semakin gampang untuk tulisan seseorang dibaca orang banyak. Untuk Kak Dee sendiri apakah perubahan ini mempengaruhi kreativitas dalam menulis? Kalau iya, dari segi apa?

Pada kreativitas sih rasanya enggak. Social media seperti Twitter lebih kepada penyebaran informasi dan keterhubungan kita satu sama lain. Dengan adanya social media, berarti pentas seseorang untuk berbicara dan beraktulisasi bertambah. Tapi apakah itu lantas mengubah atau mempengaruhi kreativitas, tergantung individunya masing-masing. Bagi saya pribadi, dalam berkarya Twitter berpotensi jadi distraksi, tapi dalam berpromosi dan berinteraksi dengan pembaca maupun teman-teman, ya, Twitter menjadi sarana yang sangat efektif.

Sebagai penulis, obsesi apa yang belum kesampaian?

Bikin buku anak.

Dari semua karya Kak Dee, musik dan buku, ada nggak sih yang paling disukai? Mungkin karena punya lagu itu yang paling lama atau paling cepat prosesnya atau karena buku yang itu paling seru proses penulisannya?

Selalu susah jawab pertanyaan karena semua karya punya karakter dan story-nya masing-masing.

When you're not writing, what do you like to do?

Relaxing and traveling.

Kebiasaan aneh seorang Dewi Lestari?

Ritual bengong setiap pagi di meja makan. Buat saya itu saat paling menyenangkan. Nggak tahu deh itu aneh atau enggak.

Tuesday, December 16, 2014

Elle | Buddhisme & Zen Living | Juni, 2009 | by Erika Ardianto

Bisa dijelaskan hakikat agama Budha? 

Ada beberapa fondasi dalam Buddhisme yakni: hakikat siklus hidup-mati (samsara) sesungguhnya adalah penderitaan (dukkha/suffering) yang disebabkan oleh jerat keinginan (desire) dan kemelekatan (attachment). Kebebasan sejati adalah ketika seseorang terbebas dari siklus samsara dan segala kemelekatan, dan hal ini bisa dicapai oleh siapa pun melalui pencerahan batin. Bagaimana caranya agar batin kita tercerahkan? Dengan mengasah kesadaran melalui praktek meditasi, mengamati batin dan fisik hingga kita memahami hakikatnya. Saat kita memahami diri kita yang sejati (Buddha nature) maka kita bisa terbebaskan dari segala ilusi dan bertemu kebenaran yang sesungguhnya.

Bagaimana idealnya menjalani hidup sebagai seorang Budhis? 

Intinya hidup sebagai seorang Buddhis sebenarnya simpel banget, yakni hidup penuh keelingan/kesadaran. Dengan mengasah kesadaran, kita dapat  mengetahui bagaimana batin dan fisik kita bekerja, kita bisa memiliki pandangan terang dan menyadari bahwa tidak ada satu hal pun dalam hidup ini yang bersifat permanen, bahwa segalanya berubah. Kita juga dapat menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada satu hal pun dalam hidup ini yang independen, segalanya interdependen, dan keterpisahan adalah ilusi. Semua ini bisa dilakukan dan dicapai oleh siapa pun melalui meditasi, bahkan tanpa harus memeluk agama Buddha. Buddha sendiri tidak mendirikan agama, ia hanya membabarkan pandangan hidup yang jernih. 

Sepengetahuan Mbak Dewi apa perbedaan mendasar antara Buddha dengan Zen? 

Zen dan Buddhisme sebetulnya tidak bisa dibandingkan apple to apple, karena Zen adalah percabangan dari Buddhisme. Zen bisa dibandingkan dengan aliran-aliran lain dalam Buddhisme, tapi bukan dengan Buddhisme itu sendiri. 

Dan apa sebenarnya konsep Zen Living itu sendiri? 

Batin kita hampir selalu tertarik ke masa lalu atau ke masa depan, dan itu mengakibatkan pandangan kita tak pernah jernih. Kita senantiasa memandang hidup melalui seperangkat persepsi, sehingga kita selalu luput melihat segala sesuatu apa adanya. Hidup secara Zen adalah melihat segala sesuatu apa adanya, dengan kesadaran yang penuh. Hidup secara Zen bisa diartikan adalah senantiasa hidup pada saat ini (living in the now).

Dalam Buddha apa pencapaian tertinggi dalam hakikat spritualnya? 

Saat seseorang bisa terbebas dari siklus hidup-mati dan mencapai kebebasan sejati (nibbana/nirvana). 

Bagaimana dengan pencapaian Zen? Atau adakah perbedaan dalam proses menuju atau justru titik tertingginya? 

Zen, dalam bahasa Jepang, artinya meditasi. Dan kondisi meditasi dalam Zen adalah sebuah kondisi di mana kita tidak berusaha, tidak berupaya untuk menuju apa-apa. Jadi, sekalipun dalam Zen—sebagaimana dalam Buddhisme—pencerahan sempurna adalah tujuan karena ia akan membawa ke pembebasan, Zen menekankan kondisi meditasi bebas upaya. Satu hal lagi yang penting dalam praktek Zen adalah pengalaman langsung (direct knowing) melalui praktek meditasi, jadi bukan berkutat pada teori.

Dhammacaka | Face to Face (part 2) | Mei, 2009 | by Setiawan Liu


After getting re-married, some particular group of people ‘judge’ you to have misled either the Buddhist practice or other teaching, how do you see their judgement? (please advise me if you follow or unfollow Buddhism)

I guess it eventually depends on how one perceives ‘teaching’, ‘religious practice’, or just ‘religion’ in general, and how one posits them in his/her life. As for myself, religious practices and teaching are always open to interpretation, so I do not see any singular, fixed truth about anything. Truth is organic. Religion, for me, should be organic. It lives and grows. And that is why, for me personally, authenticity matters much more than mere do’s and don’t’s. I see no point in living in a lie or in a social deception just to please other people or to uphold some rules. What I have decided in my life is something that I will bear on my own. I care less about public opinion, not in order to live in an anti-social bubble, but it’s so obvious we can never please everybody. As my husband, Reza, always says: the moment we care too much about other’s opinion or pleasing people, we officially put ourselves on the fastest path towards misery and unhappiness. I’m still a Buddhist, by the way.

What is really on your mind about ‘having a good (re)marriage’ – how do you see that in either Buddhism or in general ideas? 

To be honest, other than keeping it realistic and truthful, I do not have any other idea of what a good relationship ideals are—and that includes marriage, of course. Too fixated in defining what’s good and bad can be very stressful, because we’ll be led up by ideals and not by the ever-changing moment-to-moment truth. In my current marriage, our commitment to each other is just to stay as honest and truthful as possible. We do not give promises, but just hold intentions. It implies vast difference. And we communicate everything as clear, complete, and concise as we can, no matter how ugly they may be. For me, that’s the best gift we can offer to someone. 

If only you have two choices, married with the man with two wives, or being in separation with your beloved husband? 

I do not like hypothetical question very much. Most of the time it’s pointless, because when we face the reality, we could go for a complete opposite direction from our previous hypothetical answer. But so far, I do not see myself as a polygamous person. 

How does Buddhism influence each step of your life? Do you practice another religious teaching besides Buddhism? 

I think what Buddhism really inspires me is the spirit of self-inquiry. Ehipassiko. I now pay more respect to direct experiences. We can talk until our mouths foam about concepts of truth or teachings, but only by experiencing we can ever truly learn about anything. And that moves me to practice meditation in the first place. I appreciate many teachings, especially what people called ‘mystics’, also for the same reason. The mystic tradition emphasizes on experiencing, not so much do’s and don’t’s, or the more ‘political’ side of religion/spirituality.

So far, after getting remarried, do you always feel comfortable with this ‘new’ situation? 

(note: actually I’m not so clear with what you meant by ‘new’ situation. Is it the marriage? The social aspect? Work? What exactly the situation do you address? Anyhow, I’m going to answer it from relationship angle).If you define ‘always feel comfortable’ as ‘being happy all the time’, of course it’s not realistic. Relating is a not a sugary sweet fairy tale all the time. Like all relating that has ups and downs, we have to adapt so many things in our togetherness. We re-learn to live and to co-evolve with one another’s presence. But if you define ‘comfortable’ as acceptance, I do embrace every aspect of this new life I have—comfortably. This has been one of the best gifts that life has ever given to me. I feel so blessed.
  

Dhammacaka | Face to Face | Mei, 2009 | by Setiawan Liu


Bagaimana Mbak Dewi melihat permasalahan perceraian, baik dalam perspektif umum maupun dalam perspektif agama yang dianut?

Sebagaimana hal-hal yang barangkali dianggap “kurang menyenangkan” secara umum, seperti halnya perpisahan dan kematian, saya rasa manusia cenderung menghindari perceraian, meski kadang-kadang demikianlah kenyataan hidup yang perlu dihadapi. Saya pun sendiri seperti itu. Jika memungkinkan ya sebaiknya tidak berpisah, tidak bercerai, tapi jika memang itu yang perlu dihadapi, ya akhirnya hadapi saja. Pada prinsipnya, menurut saya, kita justru belajar dari yang pahit, bukan dari yang manis. Jadi pada hal-hal yang dianggap kurang menyenangkanlah justru batin kita punya kesempatan paling besar untuk bertumbuh. Jika saya kilas ke belakang, saya justru melihat saya telah memetik pelajaran yang sangat berharga. Jadi pada akhirnya saya melihat perceraian sebagai peristiwa hidup yang "biasa-biasa" saja, dalam arti: semua peristiwa hidup punya tujuan dan makna, mau itu perceraian atau bukan. Dan sebuah peristiwa jadi punya guna jika kita telah berhasil memetik pelajaran darinya. Dari apa yang saya ketahui, di Buddhisme sendiri perceraian bukanlah sesuatu momok menakutkan atau kutukan, melainkan sebuah fenomena. Sama halnya dengan segala fenomena dalam hidup ini. Tapi tentunya mengadopsi hal itu bukanlah hal yang mudah, karena secara riil kita hidup dalam kultur yang cenderung mengagungkan persatuan/pertemuan dan mengutuk perpisahan/perceraian. Sama seperti kita mengagungkan kelahiran dan menghindari kematian. Sementara dalam pemahaman Buddhisme, kelahiran dan kematian hanyalah fenomena dalam siklus tumimbal lahir yang keduanya netral-netral saja.

Ada beberapa hipotesis, baik dari kalangan umum maupun selebritis, bahwa ‘separate lives is a solution’ dalam arti adakalanya perpisahan/perceraian merupakan suatu solusi. Apa pendapat Mbak Dewi?

Saya rasa, dalam hidup, segala sesuatu dapat dipandang menjadi solusi. Bahkan hal paling ekstrem seperti kematian sekalipun. Karena kita hidup dalam realitas yang dualitas, setiap permasalahan pasti sudah datang bersama solusinya. Dan apakah solusi itu? Kita tidak pernah bisa tahu, sampai solusi itu benar-benar datang dan tiba secara nyata dalam hidup kita. Jadi, perceraian, perpisahan, kepergian, tentunya bisa menjadi sebuah solusi jika memang pas dengan konteks dan perspektifnya. Ini akan kembali ke pandangan dan belief system masing-masing orang. Jika mereka percaya bahwa perpisahan bukanlah solusi, yah mungkin mereka akan terus bertahan untuk bersama, meski sudah tersiksa luar biasa. Semata-mata karena bagi mereka, perpisahan bukanlah pilihan. Dan hal itu sah-sah saja, menurut saya.

Beberapa agama mempunyai doktrin mengenai perceraian. Dalam agama Buddha ‘perkawinan bukan sesuatu yang sakral, begitu pula perceraian’ – sementara beberapa doktrin agama lain, ‘perkawinan dan perceraian sama-sama sakral’ – lalu bagaimana pandangan Mbak Dewi Lestari?

Sejak lama, saya pun merasa bahwa pernikahan memang bukanlah segalanya. Tidak ada harga mati dalam hidup ini. Segalanya berubah dan tidak tetap. Sama seperti situasi langit yang terus berubah; kadang jernih, kadang berawan, kadang hujan, begitu jugalah hidup. Justru ketika kita mengharapkan sesuatu adalah abadi, sakral, tak bisa ditawar-tawar, kita mulai hidup dalam ketegangan batin dan ketidakbahagiaan. Namun bukan berarti kita juga jadi main-main menghadapi pernikahan, atau pun perceraian. Saya yakin, semua orang yang memasuki sebuah pernikahan atau pun memutuskan bercerai, pastilah itu sebuah keputusan serius, yang dipikirkan masak-masak. Tidak ada yang mengharapkan berpisah saat bertemu, tapi kenyataan hidup kan tidak ada yang bisa menduga arahnya. Dengan menjalankan sebaik-baiknya sebuah keputusan, apa pun itu, sekaligus menerima fakta dan hukum alam bahwa segalanya tidak ada yang permanen, kita jadi bisa lebih realistis dan tidak terlampau mencengkeram sesuatu. Meskipun sesuatu itu kita anggap baik dan penting.

Apakah perceraian dalam konteks ‘it is a solution’ – bisa digeneralisir (either case by case of person by person)?

Saya rasa tidak ada permasalahan yang benar-benar bisa digeneralisasi. Setiap permasalahan adalah unik, dan tentu solusinya pun unik. Walaupun mungkin ada kasus yang mirip-mirip, tak ada satupun dalam hidup ini yang identik. Jadi bagaikan semua individu di dunia ini, sebuah solusi pun sifatnya pasti unik dan individual. 

Thursday, February 19, 2009

COSMOPOLITAN | Fun Fearless Female | May, 2006 | By Intan Pradina

1. Kabarnya album Out of Shell sudah rilis? Bagaimana rasanya telah merampungkan satu proyek yang makan waktu lama dalam prosesnya? Semua Anda kerjakan sendiri mulai dari bikin lagu sampai produksi?

Rasanya plong! Karena proyek ini tertunda lama banget. Mungkin bisa dicatatkan di MURI sebagai album yang persiapannya paling lama, hehe. Saya memang mengerjakan semuanya hampir sendirian, bahkan kalau lagi rekaman saya kadang-kadang merangkap jadi ‘office girl’ juga, beliin makanan buat kru, musisi, dsb. Demo pertama saya buat sejak tahun 1997, dan master sudah jadi dari tahun 2002. Waktu itu kendalanya karena masih terikat di Sony, tapi ketika keluar dari RSD tahun 2003 pun saya masih belum bisa keluarin karena menikah lalu hamil, 2004 punya anak, 2005 Keenan masih kecil banget, nah… baru 2006 inilah, setelah sudah bener-bener nggak tahu album itu musti diapain, tahu-tahu jalannya terbuka begitu aja. Out of Shell pertama rilis di I-Tunes dulu, dua minggu kemudian baru di toko-toko. Sebagian pembiayaan album ini sempat dibantu juga oleh Triawan Munaf, tapi operasionalnya saya kerjakan sendiri.

2. RSD dulu sukses. Begitu pun buku-buku Anda, laku keras! Apa resepnya?

Wah, apa, ya? Mungkin karena semua dilakukan dengan cinta. Memang kecintaan saya ada di musik dan menulis. Ukuran laku sih relatif ya, tapi kalau kita melakukan profesi kita atas dasar cinta, passion, pasti hasilnya memuaskan, setidaknya dari ukuran kreatornya. Faktor lain yang nggak kalah penting lagi adalah kerja keras. Mempromosikan buku sebenarnya sangat melelahkan dan menyita waktu, makanya nggak semua penulis mau melakukannya. Tapi sejauh ini saya memilih untuk seoptimal mungkin berpromo karena saya rasa itu yang terbaik bagi buku itu sendiri.

3. Sepintas melihat Dee, yang terbayang Dee itu tipe pemikir dan orangnya serius. Tapi saat membaca beberapa karya Anda seperti Petir dan cerpen Rico De Coro (Filosofi Kopi), sepertinya sisi humor Anda tinggi juga bahkan cenderung “gila”. Benarkah?

Bener banget. Untuk banyak hal saya memang serius, sangat-sangat serius, saya senang berpikir, merenung, melamun, kontemplasi, dan bacaan saya juga kebanyakan serius dan berat. Tapi di sisi lain saya ini pencinta humor sejati, sangat senang tertawa, sangat ringan, konyol, bahkan “gila”. Itu terlihat dari sahabat-sahabat saya yang sangat beragam, dari mulai yang ancur-ancuran lucunya sampai ke para pemikir yang sangat serius. Dan memiliki kedua sisi itu, menurut saya, adalah cara terbaik untuk menikmati hidup. Ada yang bilang, ketika orang sudah mencapai pencerahan dia justru akan tertawa. Saya setuju banget. Untuk jadi tercerahkan biasanya kita setengah mati memeras hati dan otak, tapi kalau pada ujungnya nanti kita malah nggak bisa ketawa, maka pencarian itu sia-sia. Tidak ada cara terjitu untuk memaknai hidup selain lewat humor.

4. Imajinasi Anda pasti tinggi. Pernahkah merasa “kewalahan” dengan talenta Anda itu? Bagaimana Anda mengatur untuk dapat menampung seluruhnya dalam wadah yang tepat?

Kayaknya saya tiap hari kewalahan soal itu, deh. Haha! Dan memang itulah tantangan saya terbesar, mengorganisasi begitu banyak ide dan menyusunnya dalam rancangan kerja yang realistis. Selama ini, yang sering menjadi batu sandungan saya adalah jumlah ide dan keinginan yang tidak sinkron dengan kemampuan riil. Solusinya adalah kompromi dengan diri sendiri. Di kepala saya ada sepuluh proyek, tapi di atas kertas saya cuma bisa mencantumkan dua atau tiga, dan saya tidak boleh terhanyut rasa frustrasi atau gemas karena yang sisanya itu belum bisa direalisasi. Intinya sih, just get real. Dan untuk bisa realistis bagi seorang pemimpi seperti saya itu adalah tantangan besar.

5. Apa hal-hal yang bisa bikin Anda tertawa lepas dan gembira?

Almost anything. Saya punya sekelompok sahabat, yang kalau sudah dengan mereka dijamin saya bisa lepas dan gila. Dengan keluarga saya pun begitu juga, kami selalu mampu menemukan hal lucu. Momen terlucu yang baru-baru ini terjadi adalah ketika saya di restoran masakan Sunda di Cirebon, dan saya menemukan hal aneh di buku menunya. Jadi untuk menerjemahkan masakannya ke bahasa Inggris mereka pakai istilah Latin, mungkin karena ingin sekali terkesan serius dan akurat. Misalnya, “Keripik Emping” diterjemahkan jadi “Gnentum Gnenom Cracker”, “Ikan Mas Bakar” jadi “Grilled Cyphrinus Carpio”, “Pete Goreng” jadi “Fried Parkia Speciosa”, dan masih banyak lagi. Sumpah, saya ketawa sampai ternangis-nangis, setengah jam lebih nggak berhenti. I think that’s the best kind of humour. Ketika sesuatu tidak dimaksudkan untuk lucu, ditemukan nggak sengaja, dan absurd.

6. Apa sisi paling mengasyikkan dari pekerjaan Anda sekarang?

Bertemu begitu banyak orang yang berkualitas. Bertemu dengan para pembaca saya yang bilang ‘buku Anda menginspirasi saya’, ‘buku Anda mengubah hidup saya’. Itu tak terkatakan rasanya.

7. Anda bahagia menjadi Dee karena... ?

I can do what I love the most, and actually can make a living out of it. Untuk satu hal itu, I consider myself very, very lucky.

8. Orang-orang dekat Anda mengatakan Dee itu identik dengan apa?

Kata adik saya: Joget Norak dan Suara Dua. Haha! Berhubung di rumah cuma lagi ada dia, jadi saya nggak ada tambahan dari yang lain.

9. Anda pernah diprotes soal cover novel Akar yang menyinggung satu agama tertentu. Bagaimana reaksi dan sikap Anda menghadapi hal itu?

Setiap agama pasti punya kelompok chauvinist yang memang hobinya mengklaim ini-itu sebagai milik eksklusif kelompoknya, dan ini merupakan ciri umum dari agama di seluruh dunia. Ketika saya membahas masalah universal seperti spiritualitas, yang merupakan jantung tiap agama, pastinya akan beririsan dengan lapisan periferinya juga, yaitu dengan orang-orang yang pandangannya masih eksklusif dan sempit. Fenomena ini wajar sekali. There’s no wrong or right, hanya sudut pandang yang berbeda. Dan, saya pikir masyarakat pun bisa bijak melihat esensi dari masalah seperti itu. Toh di berbagai kasus yang serupa pun yang protes juga masih orang-orang yang sama.

10. Menurut Anda, sisi fearless Anda muncul pada saat Anda...

Saat saya jatuh cinta. Rasanya apa aja bisa dilakukan. And also in those short moments when I feel that life is actually a whole, inseparable, and everything is one.

11. Apa arti seksi buat Anda? Anda mengatakan seorang wanita tampak seksi bila?

Sexy is a state of mind. Sexy is an energy that when transcended becomes nothing but love. Jadi seksi sesungguhnya adalah kemampuan untuk mencinta. Ketika seseorang tampak sangat nyaman dengan dirinya sendiri, menurut saya itu sangat seksi. Penerimaan diri itu bukan hal yang mudah, tidak bisa dicapai dengan kosmetik atau operasi plastik, dan sepertinya orang-orang modern makin keras berjuang untuk bisa diterima. Mereka cari guidance dari majalah, dari iklan, dari macam-macam. Ada yang ketemu, tapi lebih banyak lagi yang malah tersesat. When a woman finally arrives at a point where she can claim: “This is me. And I’m happy and comfortable with myself”, it’s when she reaches the sexiest point of her life.

12. Anda suka membaca apa? Musik siapa yang Anda dengarkan?

Bacaan saya kebanyakan seputar spiritualitas, sains, filsafat, kesehatan, parenting, ekologi, dan beberapa fiksi. Kalau sekarang lagi suka baca bukunya Graham Hancock yang mendekonstruksi sejarah pra-primitif dan bicara soal The Lost Civilization, dan yang lebih menariknya lagi adalah ternyata penelitian tsb masih berhubungan dengan global warming yang kita hadapi sekarang. Lagi baca bukunya Osho juga. Untuk musik saya kebanyakan suka band atau singer-songwriter, saya suka Tears for Fears, Sarah McLachlan, Paula Cole, dll.

13. Apa pengaruh keluarga/orangtua dalam membentuk karakter Anda hingga seperti sekarang ini?

Sangat besar. Mereka tidak pernah intervensi kerjaan saya secara langsung, tapi keberadaan mereka sebagai sebuah sistem penyokong memungkinkan saya bisa berkembang seperti ini. Ayah saya sangat demokratis, berpikiran terbuka. Ibu saya cenderung disiplin, intelektual. Kakak-adik saya “gila” semua, mereka memang seniman-seniman sejak kecil, dan sampai sekarang pun bekerja di bidang seni. Jadi kreativitas sudah jadi kegiatan sehari-hari dari kami kanak-kanak.

14. Apa yang kamu lakukan untuk relaksasi, keluar dari 'rutinitas' sebagai selebriti?

Santai di rumah saja, nonton TV kabel, nggak keluar-keluar, bahkan seharian nggak mandi, itu sudah jadi relaksasi. Sesekali ke bioskop, atau nongkrong ketemu teman-teman lama.

15. Apa impian Anda saat ini?

Pingin travelling. Banyak sekali yang ingin saya lihat tapi sejauh ini waktunya belum ada. Mudah-mudahan setelah Keenan agak besar, setelah proyek-proyek buku selesai, saya ingin off dulu beberapa lama dan hanya travelling.