Showing posts with label Best-seller. Show all posts
Showing posts with label Best-seller. Show all posts

Sunday, December 21, 2014

Portal Berita TNol | Karya Fenomenal Sastra Populer Generasi Baru | Juli, 2011 | by Nopiyanti


Saat ini kesibukan Dee apa ya? Apakah sedang menulis novel kembali? Judulnya apa dan mengenai apa?

Baru saja meluncurkan kumpulan cerpen berjudul Madre, isinya beragam dan merupakan kumpulan karya saya selama lima tahun terakhir.

Mengenai karya Dee yang fenomenal Supernova, sebelum menulis karya tersebut, apa cerita itu memang obsesi Dee? Atau karena kisahnya berkaitan dengan Mbak saat itu? Atau ada peristiwa semacam itu sehingga Dee merasa fenomena itu peru dijadikan objek tulisan?

Untuk menulis bukunya sendiri sih sudah cita-cita dari kecil, karena menulis adalah hobi sejak umur 8 tahun seingat saya. Untuk tema Supernova-nya sendiri, saya menuangkan pemikiran dan perenungan saya tentang spiritualitas pada saat itu.

Setelah Dee menuangkan ke dalam tulisan apakah merasa lega?

Tergantung. Kalau tujuan tulisan tersebut hanya sekadar curhat ya mungkin lega, tapi kalau menulis untuk menjadi buku yang diterbitkan pastinya yang dicari tidak sekadar lega, melainkan bagaimana mengomposisi tulisan kita menjadi sebuah karya yang baik dan bisa dinikmati banyak orang.

Apakah hal itu berlaku terhadap karya Dee selanjutnya?

Tentunya.

Supernova merupakan salah satu karya fenomenal. Menurut Dee tentang karya fenomenal lainnya seperti Laskar Pelangi, Eiffel I’m in Love dan Ayat-ayat Cinta bagaimana? Apakah merupakan suatu keberuntungan atau memang layak diperoleh seorang pengarang yang telah berusaha menghasilkan karya sebaik-baiknya?

Segala sesuatu dalam hidup ini menurut saya selalu kombinasi dari kerja keras dan keberuntungan. Tugas seorang penulis maupun seniman hanyalah berkarya sebaik-baiknya, sesuai dengan kata hatinya, itu saja. Kalau kemudian diterima dan disukai orang banyak, dicap "fenomenal" dsb, menurut saya itu sudah banyak sekali elemen yang terlibat, antara lain timing, cara marketing, selera masyarakat pada saat itu, dsb. Terlalu kompleks untuk dijadikan sebuah formula yang seragam.

Menurut Dee, apakah suatu saat nanti Dee akan bisa menghasilkan suatu karya fenomenal lagi? Mengapa?

Tujuan saya tidak pernah membuat "karya fenomenal", karena menurut saya hal tersebut adalah sesuatu yang diberikan oleh orang lain. Sebuah bentuk apresiasi. Kita nggak bisa mengejar itu. Kalaupun dikejar, bisa jadi malah kecewa sendiri karena nggak sesuai ekspektasi. Bagi saya, jauh lebih penting membuat karya yang saya sukai. Karya yang mampu menyuarakan pemikiran, perenungan, dan imajinasi saya sebaik mungkin. Kalau nantinya dicap fenomenal ya syukur, kalau enggak, selama saya sudah puas, ya sudah.

Kira-kira apa yang nanti akan Mbak Dee angkat agar menjadi sebuah karya fenomenal kembali? Kenapa?

Jawaban masih sama, ya.

Dalam menulis sebuah karya, apakah Dee menyediakan waktu khusus? Kapan biasanya menulis, pagi, siang, sore atau malam? Adakah durasi waktu dalam menulis setiap harinya?

Dulu sih kebanyakan menulis malam hari sampai dini hari. Tapi setelah punya anak, udah nggak realistis lagi menulis di jam seperti itu. Jadi sekarang saya menulis sesempatnya. Kadang pagi, siang, sore. Malam malah jarang karena lebih banyak menemani anak. Durasi waktu saya upayakan minimal 2 jam per hari.

Dalam setahun, Dee menargetkan berapa novel yang ditulis?

Idealnya setahun sekali. Tapi selama ini rata-rata saya menerbitkan buku 1,5 tahun sekali.

Dengan menulis novel, bagaimana dengan kegiatan Dee dalam menyanyi? Akankah kumpul kembali dengan RSD? Jika iya, kapan akan direalisasikannya? Dan jika nanti bersatu kembali, apakah akan membuat album baru?

Nyanyi saya hentikan dulu ketika hamil anak ke-2. Soalnya kalau nyanyi tuntutan untuk ke luar rumah jauh lebih tinggi, sementara saya ingin lebih banyak di rumah dulu. Otomatis menulis menjadi fokus pekerjaan saya saat ini. Kalau nanti anak udah lebih besar, mungkin saja balik lagi nyanyi. Untuk RSD, kami sih hanya sempat bicara untuk konser reuni kecil-kecilan, tapi untuk bikin album lagi belum terpikir, karena kegiatan masing-masing yang cukup padat dan lokasi tinggal yang udah beda kota.

Selama tidak nyanyi bersama RSD,  apakah tetap saling komunikasi? Lewat telepon atau email? Biasanya membicarakan soal apa dengan Rida dan Sita?

Masih komunikasi via Twitter, SMS, atau BBM. Kita punya BB grup bertiga, hehe. Membicarakan apa saja, dari mulai berbagi foto lama sampai ketawa-ketiwi.

Saturday, December 20, 2014

Pikiran Rakyat | Gaya Hidup Penulis Best-Seller | Juni, 2008 | by Eriyanti

 
Kapan sih mulai menulis, judulnya apa, dan dimuat di mana?

Saya nulis sejak kecil. Tulisan serius pertama yang saya buat judulnya Rumahku Indah Sekali, saya tulis tangan di sebuah buku tulis, waktu saya kelas 5 SD, umur 9 tahun. Tulisan ini nggak dikirim ke mana-mana. 

Honor pertama yang diterima berapa? Dipakai untuk apa saja dan gimana rasanya?

Tulisan saya yang menghasilkan 'sesuatu' pertama kali dikirim ke perlombaan menulis sebuah majalah cewek, dan jadi juara 1. Tapi waktu itu saya nggak pede, jadi nggak pakai nama sendiri. Yang saya pakai nama adik saya. Dan akhirnya dia yang jadi juara, diwawancara, bahkan dapat hadiah berlibur segala, hehe. Cerpen saya juga pernah dimuat di Majalah Mode, judulnya Rico De Coro (ada dalam buku kumpulan cerita Filosofi Kopi), tahun 1996 or 1997. Honornya lupa berapa. 

Sekarang setelah terkenal, honornya sudah berapa? Dipakai untuk apa saja?

Maksudnya royalti? Atau honor artikel? Kalau artikel, tergantung kebijakan majalah/korannya. Berkisar antara 350.000 - 1.250.000. Kalau royalti, saya biasanya dapat 15% dari harga buku. Besarannya tergantung bukunya laku berapa. Dipakai untuk biaya hidup, dong. 

Berapa sih pengeluaran seorang penulis best-seller setiap bulannya? Hobi belanja enggak? Kalau belanja biasanya apa saja yang dibeli?

Pengeluaran bulanan saya biasanya dipakai untuk biaya hidup, biaya anak, keperluan pribadi. Sama-sama saja dengan orang-orang lain. Saya nggak terlalu gila belanja, kadang-kadang saja kalau lagi mood. Biasanya beli buku di Amazon.com, nggak tiap bulan sih. Tapi sekali beli berkisar antara 1 - 3 juta. Di luar itu belanja tergantung kebutuhan aja. Sesekali saya juga suka spa, atau massage, dan rekreasi. 

Selain untuk dipakai kebutuhan sehari-hari, penghasilannya pasti ditabung, kan? Berapa sih depositonya? Asuransi yang dimiliki apa saja?

Saya suka nabung, tapi nggak berdeposito. Asuransi hanya punya life insurance saja. 

Mbak Dewi rumahnya di mana? Kawasan apa? Pasti elit, dong. Sudah rumah sendiri? Budgetnya berapa, sih? Pasti dari novel, ya?

Rumah di Bandung di daerah Awiligar. Statusnya sudah rumah sendiri. Biaya beli dan bangunnya sekitar 1 M, tapi itu dulu hasil patungan. Penghasilan saya sebagian besar memang dari royalti, tapi ada juga dari iklan, talk show, dsb. 

Gimana sih rasanya jadi penulis muda, kaya, dan terkenal?

Yang menyenangkan adalah saya bisa punya pekerjaan dan hidup dari aktivitas yang saya cinta. 

Selain materi apa saja "kekayaan hati" yang diperoleh seorang penulis terkenal seperti Mbak Dewi?

Bisa menginspirasi orang, bisa bertemu dengan banyak orang, bisa berbagi dengan banyak orang. 

Berkat semua karya tersebut, Mbak Dewi sudah melanglang ke mana saja? Dibiayainya oleh siapa?

Sudah keliling Indonesia. Beberapa kali juga ke luar negeri, diundang jadi pembicara. Saya pernah diundang ke Adelaide, Byron Bay, Sydney, London. Bahkan ke Jepang dan Amerika, tapi yang dua ini saya nggak bisa memenuhi karena waktu itu jadwalnya nggak pas. Dibiayainya oleh yang mengundang. 

Pengalaman berharga dari semua perjalanan itu apa? Negara mana yang paling mengesankan? Mengapa negara itu?

Yang paling mengesankan di Byron Bay (Australia), dalam rangka Byron Bay Writers Festival. Kami tinggal selama 10 hari di sana. Saya bawa anak saya, Keenan, dan dia berulang tahun yang ke-2 di sana. Tempatnya di Byron indah sekali, dan festivalnya juga bagus. 

Dari semua yang sudah diperoleh sekarang, apakah Mbak Dewi masih punya obsesi? Pasti dong, kira-kira apa? Mengapa mengobsesikan hal itu?

Menulis sampai tua. Dan pengin menjadi penulis internasional. 

Gimana sih caranya bisa menjadi penulis seperti Mbak Dewi?

Cari objek/topik tulisan yang kita paling suka, dan kerjakan itu sebaik-baiknya. Mau berpromosi, dan terus berkarya. Setiap tulisan adalah latihan untuk mengenali diri dan mengasah skill menulis. 

Apa sebenarnya yang harus dimiliki oleh seorang penulis/pengarang agar karyanya diterima dengan baik dan bertahan? Dan tidak instan?

Sejujurnya, saya tidak tahu. Karena itu keputusan masyarakat dan pembaca. Sebagai penulis, yang penting kita otentik, tulus, jujur dengan apa yang kita suka, dan terus menulis. 

Apakah untuk jadi penulis terkenal, ide ceritanya harus penuh sensasi? Kisah-kisah apa saja sebenarnya yang sekarang diminati masyarakat?

Menurut saya, tidak sekadar sensasi. Tulisan yang sensasional bisa mencuri perhatian, tapi membuatnya diminati dan bertahan bukan sekadar sensasinya saja, tapi sejauh mana tulisan tersebut bisa menggerakkan hati dan menginspirasi seseorang. 

Bagaimana agar novel kita bisa jadi best-seller?

Tidak tahu. Kalau ada rumus pastinya, semua buku bisa jadi best-seller. Kenyataannya kan ada yang iya dan ada yang tidak. 

Bagaimana menerobos pasar novel yang sekarang persaingannya kian ketat? Boleh ya, minta sarannya?

Saya rasa tidak ada kiat-kiat yang spesial selain menulislah sebaik mungkin. Setiap jenis tulisan pasti memiliki pembacanya sendiri. 

Apa saja pesan yang ingin disampaikan Mbak Dewi kepada para penulis baru yang ingin bergerak di bidang kepenulisan?

Menulislah untuk diri sendiri, tapi jangan lupa sesekali mengambil posisi sebagai pembaca. Menulislah apa yang kita suka. 

Mbak setuju nggak kalau penulis zaman sekarang itu identik dengan selebriti?

Nggak. 

Apa sih hambatan jadi penulis itu, biasanya gimana ngatasin hambatan tersebut?

Musuh terbesar adalah diri sendiri. Kemalasan, tidak disiplin, tidak percaya diri, kebuntuan, adalah hal-hal yang biasanya menjadi hambatan seorang penulis, dan semua hambatan itu datangnya dari dalam diri. Jadi, tinggal gimana kitanya saja menata dan mengatasi diri kita untuk bisa melewati hambatan-hambatan tsb.

Majalah PESONA | Profil | Juli, 2007


Bagaimana Anda beralih dari penyanyi menjadi penulis? 

Debut saya dalam dunia kepenulisan dimulai tahun 2001 waktu menerbitkan Supernova 1: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. 

Apakah dulu memang sempat bercita-cita menjadi penulis? Kalau ya, sejak kapan? 

Sebetulnya hobi menulis sudah saya jalankan sejak kecil, beriringan juga dengan eksplorasi saya dalam musik. Seingat saya, tulisan serius pertama saya dibuat waktu umur 9 tahun. Tipe tulisannya juga sudah seperti buku. Awalnya sih karena memang hobi mengkhayal. Jadi menulis menjadi penyaluran bagi saya. Dulu saya tidak terpikir bahwa menulis akan menjadi profesi, tapi saya memang ingin sekali memproduksi sebuah buku. 

Berbeda dengan penulis lain, Anda menerbitkan buku sendiri. Apa alasan Anda? 

Alasannya simpel. Waktu itu saya ingin Supernova menjadi hadiah ulang tahun saya ke-25, dan jatuhnya di bulan Januari. Sementara draft Supernova saya selesaikan bulan November. Setelah sempat tanya-tanya, ternyata rentang itu terlalu mepet untuk penerbit, jadi saya mulai melihat kemungkinan lain yakni menerbitkan sendiri. Setelah konsultasi dengan teman yang kerja di penerbitan, kesimpulan saya waktu itu ternyata tidak terlalu rumit untuk menerbitkan sendiri. Kebetulan ada beberapa teman yang mau ikut membantu, akhirnya saya jalankan. Sekarang ini saya lebih memilih kerja sama dengan penerbit, tapi sistemnya fifty-fifty, jadi saya tetap menanamkan modal dan memiliki kontrol ke produksi, karena bagi saya pribadi lebih memuaskan secara idealisme, dan juga lebih menguntungkan dari segi bisnis. 

Bagaimana proses singkat sampai Anda menulis buku Supernova dan triloginya? Apa ada saran dari mentor, perencanaan tertentu untuk membuat buku best-seller? 

Supernova betul-betul saya rilis tanpa ekspektasi apa-apa. Tidak terpikir bahwa akan jadi best-seller. Waktu itu target saya hanya balik modal saja. Tidak ada mentor juga, selain teman saya yang memberi info soal cara kerja di industri buku, jadi sifatnya lebih teknis. Kalau masalah pemasaran, promosi, dsb, semuanya didapat sambil berjalan. Kebanyakan intuisi dan common-sense saja. Karena saya datang dari industri musik di mana promosi yang aktif dan ekspansif itu adalah hal biasa, jadi ketika saya coba terapkan itu di industri buku, hal itu menjadi luar biasa karena selama itu industri buku biasanya pasif dan lebih menunggu bola ketimbang menjemput bola. 

Anda ingin disebut sebagai penulis, sastrawan, atau apa? 

Penulis sepertinya lebih pas. Karena saya tidak hanya ingin menulis sastra atau fiksi, sekarang ini saya juga ada proyek non-fiksi. Genre yang saya ingin coba pun cukup banyak. Satu hari saya ingin juga menulis buku anak, masalah well-being, pokoknya topik-topik yang ada dalam spektrum ketertarikan saya. Lebih luas lagi, barangkali istilah yang lebih tepat adalah seniman. Karena saya juga bekerja di bidang seni lain, yaitu musik, yang menurut saya sama pentingnya juga dengan karier kepenulisan saya. 

Pernahkah Anda terbayang bahwa buku Anda menjadi best-seller? 

Tidak. Waktu pertama kali cetak buku, saya pergi ke percetakannya, dan melihat 1500 buku saya siap diangkut. Saya tidak terbayang 1500 buku itu bisa habis, karena kelihatannya banyak sekali. Saya pikir: ‘memangnya ada ya yang mau baca?’ 

Dibandingkan dengan sebagai penyanyi, nilai kepuasan apa yang didapat dengan menjadi penulis? (misal: secara finansial, mana yang lebih memuaskan antara menjadi penyanyi dan penulis?) 

Kalau soal kepuasan, saya tidak bisa membandingkan mana yang lebih, karena keduanya memang bagian integral dari diri saya yang selalu saya butuhkan untuk berekspresi. Tapi menulis memang lebih relaks, karena tidak ada tuntutan kostum, panggung, dsb. Dalam menulis juga ada interaksi, karena kita bisa bertanya jawab langsung dengan pembaca kita. Soal finansial, buku lebih stabil walaupun mungkin tidak sebesar pendapatan bernyanyi. Tapi menulis adalah profesi seumur hidup, tidak kenal usia dan keriput, jadi bisa jalan terus sampai kapan pun. 

Kesuksesan menurut Anda adalah? Apakah Anda merasa sudah cukup sukses saat ini? 

Kesuksesan bagi saya adalah totalitas kita untuk mengenal dan menerima diri. Proses sampai akhirnya saya yakin dan menerima talenta saya pun memakan waktu puluhan tahun, dimulai sejak kecil. Saya merasa beruntung pada akhirnya saya menemukan apa yang saya bisa, saya suka, dan saya bisa mencari nafkah dari sana. Untuk hal itulah saya merasa ‘sukses’. Uang, materi, keterkenalan, menurut saya adalah efek samping—yang bisa da bisa tidak. Jadi ukuran sukses menurut saya bukan dari materi atau karier yang sifatnya ‘tangible’ tapi lebih halus dari itu, yakni integrasi kita dengan potensi diri kita sendiri. 

Setelah sukses, apakah ini jalur pekerjaan yang Anda inginkan dan bisa memberi kebahagiaan? Atau mungkin Anda punya obsesi mencoba hal lain di masa yang akan datang? 

Sejauh ini, saya merasa optimalisasi diri saya berada di jalur buku dan musik, dan ‘bensin’ yang menggerakkan mesin kreativitas saya adalah masalah spiritualitas. Selebihnya adalah pengembangan. Saya tidak mentargetkan sesuatu yang spesifik. Karena dalam dua bidang ini pun masih banyak yang ingin saya eksplorasi. 

Boleh sharing tip kesuksesan Anda sebagai penulis? 

Menulis harus digerakkan oleh rasa cinta, bukan karena ingin laku, eksis, atau beken. Kita menulis pada intinya untuk diri kita sendiri, jadi kejujuran, integritas, adalah modal agar tulisan kita punya karakter dan ciri. Untuk menghidupkan tulisan kita juga harus banyak membaca. Jadi jangan dipisahkan kegiatan antara menulis dan membaca. Ibarat napas, keduanya harus dijalankan dengan seimbang. 

Friday, December 12, 2014

Batam Pos | Partikel & Kepenulisan | Juni, 2012 | by Hasan Aspahani


Baiklah, saya ingin mulai dengan satu pertanyaan. Semacam konfirmasi saja, dari petikan Milan Kundera. Dia bilang, "Spirit novel adalah spirit kontinuitas: setiap karya adalah jawaban karya terdahulu; setiap karya mengandung pengalaman novel sebelumnya." Saya kira yg dimaksud Kundera, selain novel yang kita tulis sendiri, adalah juga karya penulis lain yang kita baca. Secara sengaja, atau tidak sengaja, spirit karya siapakah yang Anda "lanjutkan"? Atau Anda tak setuju dan tak peduli pada Kundera tadi?

Sepertinya pendapat saya senada, walau tak persis sama. Saya sendiri percaya bahwa pengetahuan yang kita miliki, demikian juga opini dan persepsi, sesungguhnya merupakan "kain perca" yang terdiri dari pecahan pengetahuan, opini, dan persepsi orang lain yang kita baca, dan seterusnya. Jadi, segala ide yang dimiliki oleh setiap orang selalu merupakan kontinuitas dari ide-ide yang hadir sebelumnya. Supernova, bagi saya pribadi, adalah bukti nyata dari kenyataan itu. Dia adalah karya yang organik, yang tumbuh bersama dengan penulisnya. Tidak ada pemikiran maupun karya tunggal yang saya teruskan, melainkan banyak karya dari banyak penulis. Agak sukar saya sebutkan terperinci satu demi satu. Untuk contoh saja, novel terbaru saya "Partikel", mengusung pemikiran Dr. Birute Galdikas, Graham Hancock, Andrew Collins, Terrence McKenna, Albert Hoffman, dan masih banyak lagi yang karya-karyanya menjadi bahan riset saya. 

Tanpa mengabaikan Filosofi Kopi, Perahu Kertas, Madre dan Rectoverso (yg terakhir ini satu-satunya karya Anda yang belum saya baca), empat seri Supernova menunjukkan kelas Anda sebagai novelis. Apa dan atau siapa yang membuat Anda menulis? Saya curiga jangan-jangan Anda menulis karena muak dengan novel-novel yang pernah Anda baca? Semacam wujud kemarahan 'hei, begini seharusnya sebuah novel ditulis!'?

Cukup tepat, sebetulnya. Walaupun energi yang muncul bukan kemarahan, melainkan gemas dan penasaran. Topik-topik yang selama ini saya angkat di Supernova adalah topik-topik yang selalu mengusik rasa ingin tahu saya, dan sangat minim diangkat dalam pustaka Indonesia. Setidaknya sejauh yang saya temukan. Karena itulah, saya setuju benar dengan apa yang dibilang penulis Amitav Gosh: "Tulislah buku yang ingin kita baca." Ketika saya mendengar kalimat tersebut, rasanya itu merangkum semua yang saya lakukan selama ini. Baik di bidang musik maupun sastra. Saya semata-mata menulis buku yang ingin saya baca, dan membuat musik yang ingin saya dengar.

Menelisik empat seri Supernova, saya yakin banyak sekali perjalanan yang harus Anda lakukan untuk novel-novel Anda. Pertanyaan saya, perjalanan itu Anda lakukan mengikut rancangan kisah dalam novel Anda atau sebaliknya, Anda bepergian saja ke berbagai sudut dunia, lalu dari sana tumbuh gagasan-gagasan, tokoh-tokoh dalam cerita Anda?

Sayangnya, tidak banyak perjalanan fisik yang saya lakukan. Sungguh, saya amat berharap bisa mengunjungi tempat-tempat yang saya tulis. Kenyataannya, sebagian besar tempat tersebut belum saya kunjungi langsung. Tapi, saya merasa dianugerahi bakat untuk menulis dengan cukup meyakinkan, hehe. Menurut saya itu tergantung angle dan porsi deskripsi yang tepat. Tanpa terlalu berlebihan membeberkan, atau terlalu minim deskripsi. Jika pas, maka pembaca akan merasa mereka berada di sana, dan imbasnya mereka juga ikut percaya bahwa saya pasti pernah berada di sana. Plot saya selalu berjalan sesuai dengan kebutuhan gagasan yang ingin saya sampaikan ke pembaca. Jika gagasan tersebut kemudian membutuhkan perjalanan tertentu, ya, akan saya buat. Terlepas saya pernah melakukan perjalanan yang sama atau tidak. Sering kali juga cerita bertumbuh saat ditulis. Kalau tiba-tiba tokoh saya butuh kedalaman psikologis tertentu, dan untuk itu dia  harus melakukan perjalanan ke satu tempat atau bertemu karakter yang spesifik, ya, akan saya ciptakan.

Bagaimana Anda menemukan atau menciptakan tokoh dalam cerita Anda, memilih dari (saya yakin ada) sekian banyak, mengembangkan karakternya, menjaga konsistensinya, dan nanti bagaimana menghabisi mereka? Adakah tokoh yang merupakan "pecahan" dari diri Anda? Atau diri Anda yang Anda inginkan seperti karakter cerita Anda tersebut?

Ketika sudah ditulis, sejujurnya saya tidak bisa lagi membedakan. Kadang-kadang dengan sadar dan sengaja saya mencomot orang-orang di sekeliling saya, yang saya kenal baik atau cuma kenal sekilas, atau bahkan hanya fisiknya saja tanpa saya kenal sama sekali. Namun, kadang-kadang proses itu sudah tidak disadari lagi. Pastinya ada bagian-bagian diri saya yang masuk ke dalam karakter, tapi tidak pernah seutuhnya. Bagi saya, itu otobiografi terselubung, dan bukan itu saya inginkan dalam fiksi-fiksi saya. Sama seperti plot, tokoh pun bertumbung seiring dengan ditulisnya cerita. Kadang ada yang tiba-tiba jadi antagonis, padahal niat awal saya tidak demikian. Hanya ketika ditulis, secara intuitif saya merasa tokoh tersebut harus membuat "twist". Ada juga tokoh yang di rencana awal saya hanya jadi pelengkap, tapi ketika ditulis mendadak dia punya dimensi menarik yang akhirnya menuntut saya untuk memperbesar porsinya. Kejutan-kejutan seperti itulah yang membuat proses menulis menjadi sangat menarik dan seru.
  
Ini teknis, saya yakin Anda mewawancarai banyak orang-orang untuk novel-novel Anda, seperti jurnalis untuk sebuah liputan investigasi. Atau lebih daripada itu. Bagaimana Anda mengatur hasil wawancara itu: data, foto-foto (yang tak akan ditampilkan di novel), rekaman, juga kesan-kesan yg terekam di hati. Anda mencicil pekerjaan menulis Anda? Atau menumpuknya untuk dituntaskan setelah mengaanggap semua bahan telah cukup?

Ya, karena saya tidak punya banyak kesempatan untuk mengunjungi berbagai macam tempat secara langsung, akhirnya saya banyak melakukan wawancara. Saya tidak pernah persis tahu apa yang saya butuhkan untuk cerita hingga tiba waktu menuliskannya. Saya paling hanya terbayang garis besarnya saja. Untuk itu saya selalu bertanya sebanyak-banyaknya. Untuk mengetahui sebuah tempat, misalnya, saya bertanya sampai ke rasa udaranya bagaimana, lembap atau kering; air di sana bagaimana, jernih atau keruh; bagaimana rupa pepohonan dan tetumbuhan di sana, dsb. Untuk riset pustaka kurang lebih begitu juga, saya baca sebanyak-banyaknya. Satu buku bisa mencabangkan saya ke banyak buku lain, dan saya cerap saja semua informasinya di memori. Begitu tiba saatnya saya menulis, biasanya pengetahuan tersebut akan terseleksi, mana yang dituangkan dan mana yang tidak. Untuk Partikel, saking sudah lamanya saya mengumpulkan materi, saya harus membuat outline dulu. Berdasarkan panduan plot tersebut, maka dipilihlah informasi yang sekiranya menunjang cerita. Tapi, tentu pada pelaksanaannya proses tersebut berjalan organik dan banyak unsur spontanitas.

"... Supernova hanya menjamin satu hal: perubahan cara pandang kita terhadap dunia akan berdampak besar pada dunia, melampaui apa yang bisa kita bayangkan." Ini petikan dari "kredo" Supernova. Saya melihat itu tersirat amat sublim dalam empat rangkaian karya Anda: ajakan untuk lebih arif, mengubah cara pandang, melihat dunia dgn cara yg lebih luas. Sejauh mana ajakan itu disambut oleh pembaca Anda?

Saya tidak pernah mengadakan riset atau polling resmi jadi tidak bisa menjawab secara pasti, hehe. Yang jelas, dari apa yang disampaikan pembaca saat kami bertemu, atau via internet, media sosial, dan lain-lain, banyak yang merasa hidupnya ikut diubah karena membaca buku-buku saya. Kadarnya sudah pasti berbeda-beda. Dan tentu bukan saya yang mengubah hidup seseorang secara langsung, melainkan persepsi merekalah yang kemudian bergeser atau berubah akibat apa yang mereka baca. Itu juga apa yang saya sebut di Supernova, bahwa cara pandang kita terhadap hidup otomatis mengubah hidup kita. Life is all about perception.

Apakah sejak awal memang Supernova dirancang jadi enam seri? Kenapa enam? Anda menyisakan dua seri lagi. Sekarang kalau boleh buka rahasia sebagai pengarang, apakah Anda sudah punya cara menutup rangkaian serial ini?

Sebetulnya mengapa Supernova menjadi enam adalah perkembangan yang terjadi ketika proses menulis berjalan. Sejujurnya, konsep awal saya adalah tiga buku. Trilogi. Buku kedua akan bercerita tentang 4 tokoh baru yakni: Akar, Petir, Partikel, dan Gelombang. Namun, ketika saya mulai menulis Bodhi, saya sadar bahwa materi Bodhi sendiri volumenya sudah cukup untuk satu buku. Dan untuk menjaga konsistensi, maka ketiga teman lainnya pun juga harus masing-masing ditulis dalam satu buku. Akhirnya episode kedua berubah menjadi empat buku. Dan yang tadinya trilogi menjadi heksalogi. Bagaimana saya menutupnya? Saya sendiri tidak tahu persis, hehe. Sudah ada bayangan, tapi sifatnya masih sangat cair, jadi masih bisa berubah walaupun saya sudah punya ancer-ancer. Untuk sementara ini saya rasa lebih baik soal penutup dibiarkan menjadi misteri.

Baluran sains dalam karya Anda sebenarnya berpotensi untuk bikin "tidak laku". Pembaca kita tak akrab dgn isu-isu sains, bukan? Ini saya kira pertaruhan besar di edisi awal Supernova. Dan Anda memenangkan pertaruhan itu. Keberhasilan itu apakah kemudian ini ada pengaruhnya dalam proses penulisan serial berikutnya?

Memang awalnya saya sendiri tidak peduli buku itu akan laku atau tidak. Saya menulis Supernova untuk kado ulang tahun saya yang ke-25, jadi menghadiahi diri sendiri. Saya sudah senang menulis sejak kecil, dan sering berkhayal bahwa satu saat akan punya buku sendiri. Saya menerbitkan Supernova untuk memenuhi impian itu. Waktu itu, saya nggak peduli apakah 7000 buku yang saya cetak itu akan habis dalam setahun atau sepuluh tahun. Topik sains dan spiritualitas memang menjadi ketertarikan saya. Namun, saya tidak mengulang sains di Akar karena memang kebutuhan cerita Bodhi tidak ke sana arahnya. Demikian juga pada Petir. Baru pada Partikel, unsur sains muncul kembali. Jadi, ciri khas Supernova memang bukan pada sainsnya, melainkan penelusuran spiritualnya.

Apakah Supernova sekarang jadi beban atau berkah bagi kepengarangan Anda? Maksud saya, ketika nanti Anda merencanakan menulis karya lain diluar rangkaian Supernova.

Saya sudah menulis karya lain selain Supernova sejak 2006, melalui Filosofi Kopi. Dan sesudah itu saya mengeluarkan tiga buku lain yang juga tidak dalam rangkaian Supernova. Jadi, isu tersebut sepertinya sudah tidak relevan. Waktu akan merilis Filosofi Kopi memang sempat deg-degan, karena itulah kali pertama saya menulis di luar dari Supernova. Namun, ternyata sambutannya cukup baik. Malah Filosofi Kopi menjadi lima besar di Khatulistiwa Award dan menjadi karya sastra terbaik tahun 2006 pilihan majalah Tempo. Saya, sih, tidak ada beban untuk berkarya apa pun. Cuma saya nggak tahu apakah akan menulis serial sejenis Supernova lagi atau tidak.

Wednesday, December 10, 2014

Area Magz | Rubrik Hotseat | September, 2011

Alasan menghadirkan buku kumpulan cerita Madre? 

Untuk membuat kumpulan cerita, butuh waktu tahunan bagi saya mengumpulkannya, karena saya menulis cerpen itu biasanya insidental. Beda dengan novel. Sejak Filosofi Kopi dan Rectoverso rilis, saya sudah punya lagi "tumpukan" karya pendek dalam kurun waktu 2006-2011, yang setelah saya hitung-hitung, volumenya cukup untuk membuat kumpulan cerita. Jadilah Madre. 

Menyoal cerita Madre, ada latar belakang apa yang membuat Anda tertarik dengan roti? Ada riset khusus yang dilakukan? 

Beberapa tahun terakhir saya hobi memasak, juga baking. Ingin sekali menulis tentang dunia memasak. Ide baru muncul ketika saya ikut kursus bikin roti, di sana saya dapat informai tentang ragi instan vs adonan biang. Seketika saya tertarik. Dan setelah saya riset, ternyata memang ada dimensi cerita yang saya bisa gali dan kembangkan dari sana.   

Kopi sudah. Kini roti. Anda sedang tertarik dalam wacana kuliner? 

Sejak dulu, sih. Kuliner selalu jadi minat saya sejak kecil. Cuma memang baru intensif saya lakukan ketika sudah berumah tangga.   

Madre jadi buku kumpulan cerita ketiga selain Filosofi Kopi dan Rectoverso. Dari Anda sendiri, ada alasan tersendiri menghadirkan buku kumpulan cerita selain novel?   

Seperti jawaban nomor 1 di atas, secara insidental saya cukup sering membuat karya pendek, baik itu cerpen maupun prosa. Otomatis peluang untuk membuat kumpulan cerita jadi ada. Saya ini kan penulis, bukan cuma novelis, hehe, jadi berkaryanya bukan hanya dalam bentuk novel.  

Cerita yang beragam. Buku ini menjadi ajang luapan segala unek-unek Anda atas segala tema, mulai dari cinta, hubungan ibu dan janinnya, tuhan, dan lainnya. Sengaja untuk tidak mengkhususkan pada satu bahasan? Ada alasan menghadirkan sejumlah sajak dalam buku ini? 

Seperti yang saya jelaskan tadi, menulis cerpen/karya pendek lainnya bagi saya insidental, tema apa yang menginspirasi saya pada momen itu, ya itulah yang saya jadikan tulisan. Baik itu cerpen atau prosa (atau yang disebut di pertanyaan sebagai sajak). Jadi tentunya tidak ada frame work untuk menyambungkan semuanya dalam satu tema, karena proses penulisannya tidak seperti itu. 

Jujur saja, menurut saya, cerita yang Anda hadirkan sederhana. Tokoh yang diciptakan sederhana. Tapi kenapa Anda selalu berhasil membuat kejutan dan membikin penasaran. Menurut Anda sendiri apa kunci keberhasilan Anda? 

Sejujurnya, saya sendiri nggak tahu persis apa kuncinya. Saya selalu percaya tidak ada rumusan baku di balik keberhasilan sebuah buku. Rumus dasar saya dalam berkarya cuma satu: menulis buku yang ingin saya baca. Mungkin apa yang ingin saya baca atau temukan dalam sebuah buku ternyata juga menjadi pencarian bagi banyak orang. Mengenai "sederhana" tadi, bagi saya justru keindahan lebih banyak bisa kita dapatkan dari hal-hal yang sederhana. Jadi faktor kejutan atau penasaran bukan ditentukan oleh sederhana/tidak, tapi seberapa kuat cerita itu bisa mengikat pembaca. 

Harus diakui, keberhasilan buku satu menyulut tuntutan keberhasilan di buku-buku selanjutnya.  Pembaca setia selalu menanti kejutan dari Anda. Bagaimana Anda menyikapi situasi ini? Bagaimana menghadapi pembaca-pembaca Anda yang over-expectation? 

Saya dengarkan, kadang dijadikan pertimbangan, sekaligus evaluasi. Tapi saya nggak pernah menjadikan keinginan pembaca sebagai benchmark dalam berkarya. Seperti yang saya bilang tadi, pada dasarnya saya hanya ingin menulis buku yang ingin saya baca. Dalam posisi tersebut, saya menjadikan diri saya sebagai pembaca: apa yang ingin saya cari dari sebuah buku, metafora seperti apa yang bisa menyentuh saya, dsb, itulah yang saya terapkan dalam semua karya saya. 

Kenapa memilih menulis? 

Bagi saya yang utama adalah bercerita. Saya bercerita lewat tulisan dan lagu. Barangkali inti dari semua itu adalah dorongan untuk ingin berbagi. Menulis hanyalah saluran atau cara yang pas bagi saya.  

Dalam proses kreatif penulisan, utamanya berkenaan dengan tema ilmiah dan historis yang kerap Anda ungkap, riset menjadi proses terbesar dan terpenting yang melatari kelahiran buku-buku Anda. Apa yang biasanya Anda lakukan? Apa kendala yang dihadapi? 

Riset pustaka, wawancara, riset internet, dan apa pun yang bisa membantu saya menggali sebuah tema. Yang paling besar tentunya adalah riset pustaka alias baca buku. Kendala saat ini adalah waktu. Banyak yang saya perlu urus di rumah, terutama anak-anak, jadi harus lihai mencuri-curi waktu, dan realistis bikin target biar nggak terlalu ngoyo. 

Di balik semua perdebatan, berkat Supernova Anda didaulat sebagai pengusung sains fiction. Adakah gelar tersebut menjadi beban dalam proses penulisan Anda selanjutnya? 

Saya nggak pernah setuju dengan penyebutan Supernova sebagai science fiction. Genre science fiction yang saya tahu itu nggak seperti Supernova. Dalam science fiction ada realitas yang diolah dan dimanipulasi dengan sains, sementara di Supernova yang ada hanyalah tokoh yang kebetulan suka sains. Jadi sudah beda definisi sebetulnya. Tapi mungkin karena saat itu nggak ada lagi cerita lain yang ada unsur sains, jadi dengan ringannya Supernova dikategorikan sebagai science fiction.  

Menulis buku (cerita pendek atau panjang) sedianya memiliki tantangan. Anda sendiri, kala menulis novel atau cerita-cerita pendek, tantangan apa yang dihadapi? 

Dalam cerita pendek yang menjadi tantangan adalah plot, bagaimana kita bisa membuat grafik cerita yang bagus dan dinamis dalam ruang yang ketat. Begitu juga dalam membentuk karakter, dengan cepat kita harus membuat pembaca mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh utama. Kita punya waktu panjang untuk itu dalam novel, tapi dalam cerpen efisiensi harus kita perhitungkan dengan matang. 

Apa yang menjadi tolok ukur keberhasilan Anda dalam menulis? 

Pertama, jika saya puas dengan hasilnya, bisa terbawa suasana oleh ceritanya, dan bisa sejiwa dengan karakter-karakternya. Kedua, jika ada pembaca yang juga merasakan sama.

Apa proyek selanjutnya? Buku atau musik? 

Supernova 4 yang berjudul Partikel.  

Bagaimana dengan urusan tarik suara dan menulis lagu? Masih berhasrat menyalurkan talenta tersebut dalam album? 

Masih, tapi tidak sekarang. Saat ini saya ingin fokus dulu membesarkan anak-anak, apalagi yang bungsu belum genap dua tahun. Musik itu lebih demanding ketimbang menulis karena ada jadwal promo yang lebih padat serta melelahkan. Bagi saya hal itu nggak realistis untuk saya kejar saat ini.  

Banyak orang bisa menulis. Banyak yang bisa menerbitkan buku. Banyak juga yang sekadar one-hit-wonder lantas hilang. Bagaimana tanggapan Anda dengan penulis-penulis yang demikian? Faktor apa yang menjadi aral? 

Banyak faktor. Bisa jadi mentok di ide, bisa jadi tertarik pada karier lain sehingga nggak ada lagi waktu untuk menulis, bisa jadi juga persaingan dalam industri. Hal seperti itu selalu terjadi dalam berbagai industri. Ya menulis, ya musik. Seleksi alam selalu ada. Saya sih yang penting industrinya yang tetap maju dan sehat supaya bisa terus men-support penulis-penulis baru, memapankan penulis yang sudah established, dan terus mengembangkan pembaca. 

Selebritas, popularitas, musik, buku, keluarga, anak-anak, dan lain-lain. Masih ada impian yang ingin diraih? 

Kursus merangkai bunga. Dari dulu belum kesampaian.  

Menyoal teknologi komunikasi digital dan social media. Bagaimana perannya dalam mendukung kreatif Anda dan pemasaran karya Anda? 

Untuk pemasaran, promosi, dan interaksi dengan pembaca, social media sangat membantu, khususnya Twitter. Namun untuk proses kreatif, bisa jadi pedang bermata dua. Terkadang saya terbantu juga oleh masukan atau input dari pembaca seputar nama karakter, informasi, dsb. Tapi Twitter adalah distraksi besar jika sudah memasuki proses nulis. Walaupun sepertinya nggak signifikan, tapi media seperti Twitter itu menyedot atensi dan energi kita.


Thursday, February 19, 2009

COSMOPOLITAN | Fun Fearless Female | May, 2006 | By Intan Pradina

1. Kabarnya album Out of Shell sudah rilis? Bagaimana rasanya telah merampungkan satu proyek yang makan waktu lama dalam prosesnya? Semua Anda kerjakan sendiri mulai dari bikin lagu sampai produksi?

Rasanya plong! Karena proyek ini tertunda lama banget. Mungkin bisa dicatatkan di MURI sebagai album yang persiapannya paling lama, hehe. Saya memang mengerjakan semuanya hampir sendirian, bahkan kalau lagi rekaman saya kadang-kadang merangkap jadi ‘office girl’ juga, beliin makanan buat kru, musisi, dsb. Demo pertama saya buat sejak tahun 1997, dan master sudah jadi dari tahun 2002. Waktu itu kendalanya karena masih terikat di Sony, tapi ketika keluar dari RSD tahun 2003 pun saya masih belum bisa keluarin karena menikah lalu hamil, 2004 punya anak, 2005 Keenan masih kecil banget, nah… baru 2006 inilah, setelah sudah bener-bener nggak tahu album itu musti diapain, tahu-tahu jalannya terbuka begitu aja. Out of Shell pertama rilis di I-Tunes dulu, dua minggu kemudian baru di toko-toko. Sebagian pembiayaan album ini sempat dibantu juga oleh Triawan Munaf, tapi operasionalnya saya kerjakan sendiri.

2. RSD dulu sukses. Begitu pun buku-buku Anda, laku keras! Apa resepnya?

Wah, apa, ya? Mungkin karena semua dilakukan dengan cinta. Memang kecintaan saya ada di musik dan menulis. Ukuran laku sih relatif ya, tapi kalau kita melakukan profesi kita atas dasar cinta, passion, pasti hasilnya memuaskan, setidaknya dari ukuran kreatornya. Faktor lain yang nggak kalah penting lagi adalah kerja keras. Mempromosikan buku sebenarnya sangat melelahkan dan menyita waktu, makanya nggak semua penulis mau melakukannya. Tapi sejauh ini saya memilih untuk seoptimal mungkin berpromo karena saya rasa itu yang terbaik bagi buku itu sendiri.

3. Sepintas melihat Dee, yang terbayang Dee itu tipe pemikir dan orangnya serius. Tapi saat membaca beberapa karya Anda seperti Petir dan cerpen Rico De Coro (Filosofi Kopi), sepertinya sisi humor Anda tinggi juga bahkan cenderung “gila”. Benarkah?

Bener banget. Untuk banyak hal saya memang serius, sangat-sangat serius, saya senang berpikir, merenung, melamun, kontemplasi, dan bacaan saya juga kebanyakan serius dan berat. Tapi di sisi lain saya ini pencinta humor sejati, sangat senang tertawa, sangat ringan, konyol, bahkan “gila”. Itu terlihat dari sahabat-sahabat saya yang sangat beragam, dari mulai yang ancur-ancuran lucunya sampai ke para pemikir yang sangat serius. Dan memiliki kedua sisi itu, menurut saya, adalah cara terbaik untuk menikmati hidup. Ada yang bilang, ketika orang sudah mencapai pencerahan dia justru akan tertawa. Saya setuju banget. Untuk jadi tercerahkan biasanya kita setengah mati memeras hati dan otak, tapi kalau pada ujungnya nanti kita malah nggak bisa ketawa, maka pencarian itu sia-sia. Tidak ada cara terjitu untuk memaknai hidup selain lewat humor.

4. Imajinasi Anda pasti tinggi. Pernahkah merasa “kewalahan” dengan talenta Anda itu? Bagaimana Anda mengatur untuk dapat menampung seluruhnya dalam wadah yang tepat?

Kayaknya saya tiap hari kewalahan soal itu, deh. Haha! Dan memang itulah tantangan saya terbesar, mengorganisasi begitu banyak ide dan menyusunnya dalam rancangan kerja yang realistis. Selama ini, yang sering menjadi batu sandungan saya adalah jumlah ide dan keinginan yang tidak sinkron dengan kemampuan riil. Solusinya adalah kompromi dengan diri sendiri. Di kepala saya ada sepuluh proyek, tapi di atas kertas saya cuma bisa mencantumkan dua atau tiga, dan saya tidak boleh terhanyut rasa frustrasi atau gemas karena yang sisanya itu belum bisa direalisasi. Intinya sih, just get real. Dan untuk bisa realistis bagi seorang pemimpi seperti saya itu adalah tantangan besar.

5. Apa hal-hal yang bisa bikin Anda tertawa lepas dan gembira?

Almost anything. Saya punya sekelompok sahabat, yang kalau sudah dengan mereka dijamin saya bisa lepas dan gila. Dengan keluarga saya pun begitu juga, kami selalu mampu menemukan hal lucu. Momen terlucu yang baru-baru ini terjadi adalah ketika saya di restoran masakan Sunda di Cirebon, dan saya menemukan hal aneh di buku menunya. Jadi untuk menerjemahkan masakannya ke bahasa Inggris mereka pakai istilah Latin, mungkin karena ingin sekali terkesan serius dan akurat. Misalnya, “Keripik Emping” diterjemahkan jadi “Gnentum Gnenom Cracker”, “Ikan Mas Bakar” jadi “Grilled Cyphrinus Carpio”, “Pete Goreng” jadi “Fried Parkia Speciosa”, dan masih banyak lagi. Sumpah, saya ketawa sampai ternangis-nangis, setengah jam lebih nggak berhenti. I think that’s the best kind of humour. Ketika sesuatu tidak dimaksudkan untuk lucu, ditemukan nggak sengaja, dan absurd.

6. Apa sisi paling mengasyikkan dari pekerjaan Anda sekarang?

Bertemu begitu banyak orang yang berkualitas. Bertemu dengan para pembaca saya yang bilang ‘buku Anda menginspirasi saya’, ‘buku Anda mengubah hidup saya’. Itu tak terkatakan rasanya.

7. Anda bahagia menjadi Dee karena... ?

I can do what I love the most, and actually can make a living out of it. Untuk satu hal itu, I consider myself very, very lucky.

8. Orang-orang dekat Anda mengatakan Dee itu identik dengan apa?

Kata adik saya: Joget Norak dan Suara Dua. Haha! Berhubung di rumah cuma lagi ada dia, jadi saya nggak ada tambahan dari yang lain.

9. Anda pernah diprotes soal cover novel Akar yang menyinggung satu agama tertentu. Bagaimana reaksi dan sikap Anda menghadapi hal itu?

Setiap agama pasti punya kelompok chauvinist yang memang hobinya mengklaim ini-itu sebagai milik eksklusif kelompoknya, dan ini merupakan ciri umum dari agama di seluruh dunia. Ketika saya membahas masalah universal seperti spiritualitas, yang merupakan jantung tiap agama, pastinya akan beririsan dengan lapisan periferinya juga, yaitu dengan orang-orang yang pandangannya masih eksklusif dan sempit. Fenomena ini wajar sekali. There’s no wrong or right, hanya sudut pandang yang berbeda. Dan, saya pikir masyarakat pun bisa bijak melihat esensi dari masalah seperti itu. Toh di berbagai kasus yang serupa pun yang protes juga masih orang-orang yang sama.

10. Menurut Anda, sisi fearless Anda muncul pada saat Anda...

Saat saya jatuh cinta. Rasanya apa aja bisa dilakukan. And also in those short moments when I feel that life is actually a whole, inseparable, and everything is one.

11. Apa arti seksi buat Anda? Anda mengatakan seorang wanita tampak seksi bila?

Sexy is a state of mind. Sexy is an energy that when transcended becomes nothing but love. Jadi seksi sesungguhnya adalah kemampuan untuk mencinta. Ketika seseorang tampak sangat nyaman dengan dirinya sendiri, menurut saya itu sangat seksi. Penerimaan diri itu bukan hal yang mudah, tidak bisa dicapai dengan kosmetik atau operasi plastik, dan sepertinya orang-orang modern makin keras berjuang untuk bisa diterima. Mereka cari guidance dari majalah, dari iklan, dari macam-macam. Ada yang ketemu, tapi lebih banyak lagi yang malah tersesat. When a woman finally arrives at a point where she can claim: “This is me. And I’m happy and comfortable with myself”, it’s when she reaches the sexiest point of her life.

12. Anda suka membaca apa? Musik siapa yang Anda dengarkan?

Bacaan saya kebanyakan seputar spiritualitas, sains, filsafat, kesehatan, parenting, ekologi, dan beberapa fiksi. Kalau sekarang lagi suka baca bukunya Graham Hancock yang mendekonstruksi sejarah pra-primitif dan bicara soal The Lost Civilization, dan yang lebih menariknya lagi adalah ternyata penelitian tsb masih berhubungan dengan global warming yang kita hadapi sekarang. Lagi baca bukunya Osho juga. Untuk musik saya kebanyakan suka band atau singer-songwriter, saya suka Tears for Fears, Sarah McLachlan, Paula Cole, dll.

13. Apa pengaruh keluarga/orangtua dalam membentuk karakter Anda hingga seperti sekarang ini?

Sangat besar. Mereka tidak pernah intervensi kerjaan saya secara langsung, tapi keberadaan mereka sebagai sebuah sistem penyokong memungkinkan saya bisa berkembang seperti ini. Ayah saya sangat demokratis, berpikiran terbuka. Ibu saya cenderung disiplin, intelektual. Kakak-adik saya “gila” semua, mereka memang seniman-seniman sejak kecil, dan sampai sekarang pun bekerja di bidang seni. Jadi kreativitas sudah jadi kegiatan sehari-hari dari kami kanak-kanak.

14. Apa yang kamu lakukan untuk relaksasi, keluar dari 'rutinitas' sebagai selebriti?

Santai di rumah saja, nonton TV kabel, nggak keluar-keluar, bahkan seharian nggak mandi, itu sudah jadi relaksasi. Sesekali ke bioskop, atau nongkrong ketemu teman-teman lama.

15. Apa impian Anda saat ini?

Pingin travelling. Banyak sekali yang ingin saya lihat tapi sejauh ini waktunya belum ada. Mudah-mudahan setelah Keenan agak besar, setelah proyek-proyek buku selesai, saya ingin off dulu beberapa lama dan hanya travelling.

Tuesday, February 10, 2009

FISIP UHAMKA | Tips Menulis | Nov, 2008 | By Winnie

1). Bagaimana langkah-langkah menulis dengan baik untuk para pemula?

Banyak mencoba, jangan takut gagal, dan banyak membaca. Kita bisa mulai dengan ‘mengimitasi’ penulis yang kita suka, sampai akhirnya kita menemukan karakter diri kita sendiri. Tentu saja prosesnya tidak instan. Jadi harus banyak-banyak mencoba. Kalaupun ceritanya tidak selesai, biar saja. Yang penting jangan pernah berhenti.

2). Tips/kiat-kiat apa yang dilakukan selama proses penulisan berlangsung?

Meluangkan waktu khusus untuk menulis tanpa diganggu. Kalau bisa ada disiplin yang jadi tolok ukur, bisa dari durasi waktu bekerja atau banyaknya halaman per hari. Sediakan Kamus Besar Bahasa Indonesia, jadi kalau ada kata-kata yang kita ragu arti dan penggunaannya, selalu ada acuan yang stand by.

3). Kriteria-kriteria buku best seller itu seperti apa? Adakah acuan tersendiri dan tolok ukur dalam hal penulisan buku-buku yang dibuat (segmentasi pembaca, tema, dll)?

Hmm. Saya rasa yang lebih kompeten untuk menjawab ini adalah penerbit. Saya sendiri hanya menuliskan apa yang saya suka, dan apa yang ingin saya baca. Menurut saya segmen pembaca dan tema tidak menjadi patokan bagi sebuah buku best-seller atau tidak, karena bisa sangat bervariasi. Yang jelas, buku best-seller biasanya punya sudut menarik yang menyentuh hati atau menggelitik keingintahuan banyak orang.

4). Bagaimana proses awal dalam pembuatan tulisan hingga menjadi sebuah buku (cerita)?

Biasanya jadi draft dulu, lalu dikirim ke editor untuk diedit, setelah ada manuskrip yang final, baru dilanjutkan ke bagian lay-out, terakhir ke percetakan.

5). Apa saja kelemahan/kendala yang dihadapi ketika proses penulisan ini dibuat hingga sampai ke penerbit? Langkah/kiat apa yang dilakukan dalam menghadapi hal tersebut?

Sebelum naskah tsb rampung, tantangan si penulis ya hanya menyelesaikannya saja. Baru sesudah itu dia tinggal mencari penerbit yang pas, menyamakan visi-misi dengan penerbit, dsb. Untuk mencari penerbit yang tepat bisa dilakukan dengan cara browsing di toko buku, lalu kita cari buku-buku yang kira-kira setema atau senada dengan buku kita, dan kita cari tahu penerbitnya siapa. Dan lebih baik kita kirimkan naskah ke lebih dari satu penerbit untuk memperluas kans.

6). Berapa lama proses yang dibutuhkan dalam penerbitan buku?

Tidak tentu. Tergantung finalisasi draft-nya. Tapi kalau sudah sampai ke editor, biasanya 1-2 bulan sudah bisa rampung untuk sampai ke percetakan.

7). Kiat sukses menjadi penulis untuk para pembaca?

Tidak berorientasi semata-mata pada pembaca, tapi yang terpenting adalah ke pada diri sendiri. Karena tulisan yang baik dan menyentuh adalah tulisan yang jujur dan otentik.