Showing posts with label Buddhism. Show all posts
Showing posts with label Buddhism. Show all posts

Sunday, December 21, 2014

Wawancara Skripsi | Supernova AKAR | Januari, 2007 | by Isma Noor Anggraeni

-->
Apa yang mendorong Dee untuk menulis Supernova? 

Saya tergerak menulis Supernova awalnya karena terjadi pergeseran paradigma dalam diri saya mengenai ketuhanan dan spiritualitas. Pada saat itu saya melihat bahwa akar segala konflik dan perpecahan manusia adalah karena pemahaman akan diri dan Tuhan yang  terpecah pula. Manifestasinya bisa dilihat di mana-mana, salah satunya adalah perpecahan antara sains dan agama. Saya mulai bergeser menuju paradigma holistik yakni melihat realitas sebagai fenomena utuh yang melampaui dualitas hitam-putih. Dan Supernova menjadi wahana bagi saya untuk berbagi sudut pandang ini. Pada dasarnya, Supernova adalah ‘sharing’ saya perihal spiritualitas yang dikemas dalam bentuk fiksi.

Dari mana muncul ide khusus untuk episode Akar? 

Akar adalah bagian dari babak ke-2 Supernova, yakni pengenalan empat tokoh baru yang mewakili empat karakter pencarian jatidiri yang berbeda-beda, tiga yang lainnya adalah: Petir, Partikel, dan Gelombang. Jadi episode Akar merupakan bagian intrinsik bersama-sama tiga episode lainnya. Akar dan Petir saling bercermin, Partikel saling bercermin dengan Gelombang. Jadi Akar dan Petir adalah bagian yang secara konseptual tidak terpisahkan, karena Akar yang merupakan elemen bumi melambangkan pencarian ke dalam diri, berpasangan dengan Petir yang merupakan elemen langit melambangkan pencarian ke luar diri. Kedua-duanya saling melengkapi. 

Dari mana munculnya inspirasi mengenai tokoh Bodhi? 

Saya ingin menciptakan tokoh yang seolah ‘tercerabut’ dari akarnya. Bodhi adalah tokoh soliter; yatim-piatu, independen, selalu hidup dalam lingkungan komunitas dan menemukan arti keluarga pada orang-orang yang tidak sedarah dengannya, dan dia juga dianugerahi kelebihan yang malah membuatnya semakin teralienasi. Jadi Bodhi digambarkan sebagai tokoh yang terobsesi untuk mencari akarnya: siapa dia, mengapa dia bisa terlahir seperti itu, dsb. Dan itu disesuaikan dengan tema pencarian jatidiri untuk episode Akar yang tentunya akan berbeda-beda dengan episode lain.

Mengapa Dee menamai tokoh utamanya dengan nama Bodhi? 

Bodhi saya ambil dari pohon bodhi, tempat Siddhartha Gautama bersemadi dan beroleh pencerahan. Ada keselarasan ‘bodhi’ sebagai pohon yang bisa dibilang sakral dengan tema ‘akar’ itu sendiri. Dan untuk itu saya sengaja membuat tokoh Buddhis sehingga keseluruhan cerita selaras dengan elemen-elemen yang saya pilih. 

Mengapa Bodhi digambarkan memiliki ciri fisik yang anomali? 

Bodhi memang tokoh digambarkan sebagai tokoh misterius. Dia overloaded dengan kemampuan indera ke-enam, asal usulnya tidak jelas, dan fisiknya juga tidak biasa. Dan pergelutannya adalah bagaimana menjadi ‘normal’. Anomali fisiknya termasuk dari penekanan karateristik dia yang misterius. Bodhi akan selalu mendapat tantangan yang datang dari ‘keanehan’ dirinya hingga pada akhirnya nanti ia mampu mengetahui rahasia dirinya dan menerima peran serta fungsinya. Tidak bisa saya jelaskan lebih lanjut karena ini adalah bagian dari episode Supernova selanjutnya. 

Mengapa tema Buddhisme dan Punk mendominasi episode Akar? 

Saya memilih Buddhisme secara khusus karena pendekatan ajaran Buddha dalam mendedah realitas selaras dengan paradigma holistik yang mampu menjembatani jurang antara sains dan religi, yang saya ungkap di no 1 di atas.

Menurut Dee, salahkah jika saya meneliti Buddhisme dan Punk sebagai budaya? 

Menurut saya, Buddhisme tidak terlalu tepat jika dipahami sebagai budaya. Buddhisme pada esensinya adalah ajaran Sang Buddha untuk memahami realitas hidup dan diri. Buddhisme sebagai budaya hanyalah ‘by-product’. Asimilasi Buddhisme dan budaya termanifestasi dalam bentuk bermacam-macam, misalnya aliran-aliran dalam ajaran Buddhisme (Tibetan, Mahayana, Hinayana, dll) yang di dalamnya terdapat perbedaan-perbedaan yang bersifat ritualistik saja. Jadi apabila Buddhisme diteliti sebagai budaya, harus sangat berhati-hati untuk menentukan budaya yang mana, karena asimilasi Buddhisme dengan budaya sudah sangat banyak ragamnya. Sementara untuk meneliti Punk sebagai budaya tidak ada masalah, menurut saya.

Apakah Bodhi menganut dan meyakini ajaran Buddha, atau hanya menjalaninya sebagai kebiasaan yang dibawa sedari kecil? Jika iya, aliran manakah yang diikuti Bodhi? 

Dilema Bodhi justru terletak pada menemukan makna baru dalam keyakinannya. Jadi Bodhi menganut dan meyakini ajaran Buddha, dan itu sekaligus dikarenakan ia dibesarkan dalam lingkungan vihara.  Perjalanan batin yang terungkap dalam Akar menunjukkan kebimbangan sekaligus kerinduannya untuk bertemu kesejatian diri lewat apa yang sudah ia dapat dari ajaran Buddha namun perlu ia maknai ulang. Saya tidak mengungkap secara eksplisit aliran yang diikuti Bodhi, walaupun kecenderungan yang saya pakai adalah Mahayana. Tapi sebetulnya Buddhisme dalam Akar dipakai esensinya saja, jadi lepas dari denominasi.

Apakah Bodhi mengakui dan meyakini filosofi Punk? Jika iya mengapa? 

Dalam posisinya, Bodhi tidak ‘mengakui’ atau ‘meyakini’, tapi dia dekat dan bergaul dengan lingkungan punk. Filosofi punk sendiri diwakili oleh Bong, dan bukan Bodhi. Kedekatan Bodhi dengan lingkungan Punk dikarenakan gaya hidup dan profesi yang dia pilih, yakni independensi dan tattoo. Saya memilih Punk karena implikasi yang dibawanya selaras dengan kehidupan Bodhi yang ingin saya bentuk. Bodhi sebatang kara tapi ia mampu mandiri, punya penghasilan. Punk memiliki filosofi D.I.Y yaitu Do It Yourself, dan menurut hasil riset yang saya lakukan di komunitas Punk, profesi yang ‘lumayan menghasilkan’ dalam dunia itu adalah tindik dan tattoo, atau jadi bandar ganja/narkoba. Yang terakhir jelas tidak mungkin untuk Bodhi, dan saya memilih tattoo karena ada simbol2 yang ingin digambarkan dalam Akar jadi tattoo sebagai seni bisa menjadi wahana yang tepat. Dalam Punk juga ada aliran Straight Edge, dan ini bisa menjadi ‘kedok’ bagi anomali Bodhi di tengah komunitas Punk. 

Mengapa Bodhi merasa nyaman di lingkungan Punk? 

Bodhi menghargai kemerdekaan berpikir, resistensi terhadap sistem opresif, dan juga kemandirian yang diusung oleh filosofi Punk. Tentunya tidak semua anak Punk sampai pada level sedalam itu, tapi di sini Bodhi menemukan role model dari tokoh Bong, yang memang digambarkan sebagai anak cerdas dan pemikir sejati.

Gaya hidup Bodhi yang seperti bikkhu membuatnya tampak seperti penganut Straight Edge di tengah-tengah komunitas Punk. Apakah itu merupakan unsur kesengajaan dari Dee untuk menunjukkan kepaduan  antara Buddhisme dan Punk dalam dirinya? 

Ya, seperti yang sudah saya jelaskan di atas, Straight Edge menjadi ‘excuse’ dari sterilnya Bodhi, sehingga dia tidak dianggap aneh di kalangan Punk berhubung pilihan hidupnya yang vegetarian, tidak merokok, tidak minum/mabuk, dsb. 

Apa kekhususan Episode Akar? 

Karakteristik khusus Akar terletak pada Bodhi. Demikian juga Petir yang kekhususannya terletak pada Elektra. Ini kembali lagi kepada konsep bahwa empat buku yang termasuk babak ke-2 Supernova ini memang dikhususkan untuk menceritakan per tokoh dengan mendetail. Mereka adalah empat manusia berbeda dengan pergulatan batin yang berbeda-beda, tapi mereka bermuara dalam satu pencarian jatidiri. Akar sangat kental unsur kontemplasinya, petualangan, traveling, dan Buddhisme. 

Bagaimana Pandangan, Kepercayaan, Stereotipe, dan Prasangka Dee  terhadap Buddhisme dan Punk? 

Buddhisme bagi saya identik dengan keheningan, penerimaan realitas sebagaimana adanya, dan ketiadaan diri. Sementara Punk identik dengan musik gaduh, resistensi, dan peneguhan kekuatan individu. Walaupun seperti bertolak belakang tapi baik Buddhisme dan Punk sama-sama menuntut upaya mandiri seseorang untuk membebaskan dirinya. Buddhisme menekankan pembebasan diri dari ilusi dan dukkha (penderitaan) dengan pembuktian sendiri (prinsip ehipassiko: lihat dan buktikan). Buddha selalu mengatakan ia tidak bisa memberikan pencerahan, ia hanya bisa menunjukkan jalannya. Punk menekankan pembebasan diri dari sistem opresif yang diwakili oleh kapitalisme, di mana setiap orang harus disadarkan bahwa selama ini mereka hanya sapi-sapi perah mesin kapitalis. Jadi menurut saya, keduanya bergerak dengan semangat pembebasan walaupun dalam level kedalaman yang berbeda. 

Seperti apa Representasi Mental Dee yang tercurahkan dalam Episode Akar? Apa saja nilai-nilai pribadi Dee yang tercermin dalam Episode Akar? 

Semua pencarian jatidiri dalam tokoh-tokoh saya adalah pencarian saya juga. Jadi kegelisahan Bodhi adalah kegelisahan saya, pencerahan dia adalah pencerahan saya, dsb. Saya menghargai filosofi Punk, saya juga merasa selaras dengan kebenaran dalam ajaran Buddha. Saya juga merasa ada konektivitas kuat antara mitos (yang diwakili oleh Star dan Kell) dan realitas sehari-hari yang diwakili matematika geometri suci, dll. Pada prinsipnya, saya menulis apa yang saya percaya. 

Bagaimana proses penulisan Episode Akar mempengaruhi Dee baik sebagai pribadi maupun sebagai penulis? 

Akar mempengaruhi saya cukup dalam. Setelah menulis Akar, saya tergerak untuk mempelajari ajaran Buddha lebih intens. Dari segi kepenulisan, di Akar untuk pertama kalinya saya mencoba teknik narasi mengalir tanpa tanda petik, menekan keakuan penulis dan membiarkan karakter saya Bodhi yang mengambil alih penceritaan. Teknik yang sama saya terapkan di Petir, dan akan dipakai lagi untuk Partikel dan Gelombang. 

Apa yang ingin Dee sampaikan kepada pembaca melalui Episode Akar? 

Saya hanya sharing penelusuran spiritual saya dalam kemasan fiksi, yang dalam Akar diwakili oleh Bodhi. Itu saja. Semua pesan dalam Supernova sebenarnya sama adanya, yakni pendekatan memahami realitas dengan paradigma holistik.

Tuesday, December 16, 2014

Femina | Retret Spiritual | Agustus, 2010 | by Eka Januwati


Sudah berapa kali Anda melakukan retret meditasi? Sudah ke mana saja dan bertemu dengan guru siapa saja?
  • 2007: Mindfulness Retret, Hong Kong. Pembimbing: Thich Nhat Hanh (Zen Master dari Plum Village, Prancis).
  • 2007 (dua kali): Meditasi Mengenal Diri (MMD), Vihara Mendut. Pembimbing: Hudoyo Hupudio.
  • 2007: Enlightenment Intensive, Anahata Resort – Ubud. Pembimbing: Jack Wexler.
  • 2008: Mahamudra 1 & 2, Jakarta. Pembimbing: Mingyur Rinpoche (Buddhist Zen Master, dari Tibet).
  • 2009: Retret “Geming, Hening, Bening”, Anahata Resort – Ubud. Pembimbing: Reza Gunawan. 
Ke mana dan kapan Anda pertama kali melakukan retret meditasi itu? Kenapa Anda memilih tempat itu?
 
Pertama-tama, pilihan retret itu bukan karena tempat, tapi siapa pembimbingnya. Saya pengagum karya-karya Thich Nhat Hanh, dan beliau sudah berkeliling dunia untuk mengadakan retret. Tahun 2007 kebetulan beliau ke Hong Kong, yang menurut saya cukup dekat ketimbang harus pergi ke Prancis, ke monastery-nya. Bagi saya, satu pengalaman yang berbeda ketika kita membaca karya seseorang dan kemudian berpraktek langsung di bawah bimbingannya. Yang satu hanya pengalaman nalar, sementara berpraktek langsung merupakan pengalaman lahir batin yang komplet.
 
Ketika pergi untuk yang pertama kalinya, apa yang mendorong atau memotivasi Anda untuk melakukan retret meditasi?

Bermeditasi itu cuma jadi sebatas pengalaman intelektual kalau kita hanya membaca dan mendiskusikannya. Meditasi baru bisa punya kekuatan transformatif jika dilaksanakan dan dicicipi langsung manfaatnya. Hadirnya pembimbing juga sangat membantu karena mereka bisa memberi pengarahan langsung, bahkan kehadiran mereka saja secara energetik sudah punya kekuatan tersendiri. Jadi, yang ingin saya alami adalah sebuah pengalaman langsung. 

Perasaan apa yang timbul ketika Anda melakukan retret meditasi (misal: terharu, damai, self-fulfillment, dsb.) dan apa yang bisa menyebabkan Anda merasakan perasaan itu?

Seringnya adalah ‘a-ha moment’ yang terjadi di ujung retret. Macam-macam istilahnya, ada yang bilang itu pencerahan kecil, atau satori, dsb. Kalo perasaan yang timbul sih nggak semuanya bersifat tenang, damai, dsb. Terkadang dalam retret yang intensif, justru kita harus berani menghadapi “inner demons” kita. Semua trauma, luka batin, dsb, bisa keluar dan teramplifikasi pada saat retret, tapi di sanalah justru proses penyembuhan terjadi. Yang penting dalam retret adalah jangan punya ekspektasi yang melulu cuma bagus dan enak-enaknya saja, justru kita harus siap dengan segala kemungkinan dan menghadapi diri sendiri. 
 
Apakah setiap retret meditasi itu menimbulkan perasaan atau kesan yang sama? Perjalanan yang mana yang menimbulkan perasaan atau kesan paling mendalam? Kenapa?

Setiap retret beda-beda. Tergantung situasi mental kita, jatah karma kita, dan juga dinamika yang terjadi antara kita, peserta lain, dan guru kita. Yang jelas, selalu ada pelajaran, pencerahan, pengalaman yang bermanfaat dari setiap retret. Setidaknya demikian dalam pengalaman saya pribadi.
 

Mengapa Anda merasa penting untuk melakukan retret meditasi lebih dari sekali, apakah pengalaman yang kedua, ketiga, dan seterusnya berbeda dari yang pertama? Bisa tolong ceritakan sedikit saja mengenai ritual-ritual yang Anda lakukan dalam retret meditasi itu?
 
Setiap retret akan punya metode tersendiri, tergantung tema dan pembimbingnya. Kalau Mindfulness Retret, kita belajar cara untuk menjadi mindful atau menyadari setiap yang kita lakukan, dari mulai makan, berjalan, dsb, dikombinasi dengan ceramah, tanya jawab, dsb. Kalau Enlightenment Intensive, kita menjalankan dyad yakni format meditasi yang dilakukan berdua dengan peserta lain, dikombinasi juga dengan surrender meditation. Kalau MMD, kita full meditasi duduk dari subuh hingga malam, diselingi tanya jawab, meditasi berjalan, dsb. Kalau Mahamudra bukan format meditasi intensif, tapi lebih seperti proses belajar saja. Biasanya kalau meditasi intensif sudah pasti harus menginap, ada noble silence yang artinya tidak berbicara selama retret (kecuali saat tanya jawab).
 
Apakah Anda merasakan adanya spiritual enlightenment dari retret meditasi yang Anda lakukan? Seberapa besar spiritual enlightenment yang Anda rasakan? Dan apa penyebabnya?

Spiritual enlightenment nggak bisa diukur besarnya. Kita hanya bisa merasakan efeknya pada pemahaman dan hidup kita. Spiritual enlightenment juga nggak bisa dijadikan tujuan, semakin dikejar malah semakin nggak dapet. Ini sesuatu yang sulit dijelaskan, tapi harus dialami langsung. 
 
Apakah ada perbedaan dengan spiritual enlightenment yang timbul dengan hanya bermeditasi di rumah atau di Jakarta saja?
 
Enlightenment itu bisa terjadi di mana saja, nggak harus dalam retret. Di rumah, di mana pun, kalau memang sudah saatnya ya terjadi. Tapi bedanya kalau retret kita berkesempatan untuk benar-benar memfokuskan energi kita ke dalam diri. Jadi jauh lebih intensif ketimbang kita melatih meditasi di rumah. Bagi saya, latihan di rumah itu seperti maintenance, tapi setahun sekali atau dua kali setahun, sebaiknya kita meluangkan waktu untuk retret karena itulah kesempatan kita untuk benar-benar membersihkan “mind stuff” yang bertumpuk selama hidup dalam keseharian. Kalau dalam istilah komputernya seperti di-defrag. Atau “turun mesin” lah kira-kira. 
 
 Seberapa lama spiritual enlightenment itu bertahan setelah Anda pulang dari retret meditasi?
 
Tergantung seberapa rajin kita menjalankan prakteknya dan mengaplikasikannya dalam keseharian. Semakin rajin, ya, semakin lama efeknya. 
 
Apa yang Anda lakukan untuk mempertahankan spiritual enlightenment yang Anda dapatkan dari retret meditasi?

Luangkan waktu untuk bermeditasi harian. Kebetulan, Reza suami saya, punya kegiatan meditasi kelompok setiap hari Rabu. Kegiatan mingguan semacam itu juga membantu untuk mengasah kepekaan kita sekaligus berbagi pengalaman bersama orang-orang lain. 
 
Menurut Anda, sebenarnya apa definisi dari spiritual enlightenment dan apa manfaatnya bagi kualitas kehidupan seseorang sebagai?
 
Tujuan dari praktik meditasi adalah hidup secara sadar. Itu saja. Sadar di sini bukan berarti sekadar melek atau nggak pingsan, melainkan menyadari semua tindakan, pikiran, kondisi mental kita. Karena banyak sekali problem dalam kehidupan yang terjadi hanya karena kita nggak “sadar”. Kita marah, kita emosi, tanpa tahu apa yang benar-benar terjadi dalam diri kita. Kita cenderung melihat segalanya ke luar, eksternalisasi. Akibatnya kita selalu mencari kesalahan pada orang lain. Jarang kita benar-benar melihat ke dalam diri dan mencari tahu siapa sebetulnya yang disebut “aku”, siapa “diri kita” yang sesungguhnya. Ketika kita bisa sadar itu, otomatis pemahaman kita akan hidup, akan diri kita, dan orang lain, akan berubah.

Elle | Buddhisme & Zen Living | Juni, 2009 | by Erika Ardianto

Bisa dijelaskan hakikat agama Budha? 

Ada beberapa fondasi dalam Buddhisme yakni: hakikat siklus hidup-mati (samsara) sesungguhnya adalah penderitaan (dukkha/suffering) yang disebabkan oleh jerat keinginan (desire) dan kemelekatan (attachment). Kebebasan sejati adalah ketika seseorang terbebas dari siklus samsara dan segala kemelekatan, dan hal ini bisa dicapai oleh siapa pun melalui pencerahan batin. Bagaimana caranya agar batin kita tercerahkan? Dengan mengasah kesadaran melalui praktek meditasi, mengamati batin dan fisik hingga kita memahami hakikatnya. Saat kita memahami diri kita yang sejati (Buddha nature) maka kita bisa terbebaskan dari segala ilusi dan bertemu kebenaran yang sesungguhnya.

Bagaimana idealnya menjalani hidup sebagai seorang Budhis? 

Intinya hidup sebagai seorang Buddhis sebenarnya simpel banget, yakni hidup penuh keelingan/kesadaran. Dengan mengasah kesadaran, kita dapat  mengetahui bagaimana batin dan fisik kita bekerja, kita bisa memiliki pandangan terang dan menyadari bahwa tidak ada satu hal pun dalam hidup ini yang bersifat permanen, bahwa segalanya berubah. Kita juga dapat menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada satu hal pun dalam hidup ini yang independen, segalanya interdependen, dan keterpisahan adalah ilusi. Semua ini bisa dilakukan dan dicapai oleh siapa pun melalui meditasi, bahkan tanpa harus memeluk agama Buddha. Buddha sendiri tidak mendirikan agama, ia hanya membabarkan pandangan hidup yang jernih. 

Sepengetahuan Mbak Dewi apa perbedaan mendasar antara Buddha dengan Zen? 

Zen dan Buddhisme sebetulnya tidak bisa dibandingkan apple to apple, karena Zen adalah percabangan dari Buddhisme. Zen bisa dibandingkan dengan aliran-aliran lain dalam Buddhisme, tapi bukan dengan Buddhisme itu sendiri. 

Dan apa sebenarnya konsep Zen Living itu sendiri? 

Batin kita hampir selalu tertarik ke masa lalu atau ke masa depan, dan itu mengakibatkan pandangan kita tak pernah jernih. Kita senantiasa memandang hidup melalui seperangkat persepsi, sehingga kita selalu luput melihat segala sesuatu apa adanya. Hidup secara Zen adalah melihat segala sesuatu apa adanya, dengan kesadaran yang penuh. Hidup secara Zen bisa diartikan adalah senantiasa hidup pada saat ini (living in the now).

Dalam Buddha apa pencapaian tertinggi dalam hakikat spritualnya? 

Saat seseorang bisa terbebas dari siklus hidup-mati dan mencapai kebebasan sejati (nibbana/nirvana). 

Bagaimana dengan pencapaian Zen? Atau adakah perbedaan dalam proses menuju atau justru titik tertingginya? 

Zen, dalam bahasa Jepang, artinya meditasi. Dan kondisi meditasi dalam Zen adalah sebuah kondisi di mana kita tidak berusaha, tidak berupaya untuk menuju apa-apa. Jadi, sekalipun dalam Zen—sebagaimana dalam Buddhisme—pencerahan sempurna adalah tujuan karena ia akan membawa ke pembebasan, Zen menekankan kondisi meditasi bebas upaya. Satu hal lagi yang penting dalam praktek Zen adalah pengalaman langsung (direct knowing) melalui praktek meditasi, jadi bukan berkutat pada teori.

Dhammacaka | Face to Face (part 2) | Mei, 2009 | by Setiawan Liu


After getting re-married, some particular group of people ‘judge’ you to have misled either the Buddhist practice or other teaching, how do you see their judgement? (please advise me if you follow or unfollow Buddhism)

I guess it eventually depends on how one perceives ‘teaching’, ‘religious practice’, or just ‘religion’ in general, and how one posits them in his/her life. As for myself, religious practices and teaching are always open to interpretation, so I do not see any singular, fixed truth about anything. Truth is organic. Religion, for me, should be organic. It lives and grows. And that is why, for me personally, authenticity matters much more than mere do’s and don’t’s. I see no point in living in a lie or in a social deception just to please other people or to uphold some rules. What I have decided in my life is something that I will bear on my own. I care less about public opinion, not in order to live in an anti-social bubble, but it’s so obvious we can never please everybody. As my husband, Reza, always says: the moment we care too much about other’s opinion or pleasing people, we officially put ourselves on the fastest path towards misery and unhappiness. I’m still a Buddhist, by the way.

What is really on your mind about ‘having a good (re)marriage’ – how do you see that in either Buddhism or in general ideas? 

To be honest, other than keeping it realistic and truthful, I do not have any other idea of what a good relationship ideals are—and that includes marriage, of course. Too fixated in defining what’s good and bad can be very stressful, because we’ll be led up by ideals and not by the ever-changing moment-to-moment truth. In my current marriage, our commitment to each other is just to stay as honest and truthful as possible. We do not give promises, but just hold intentions. It implies vast difference. And we communicate everything as clear, complete, and concise as we can, no matter how ugly they may be. For me, that’s the best gift we can offer to someone. 

If only you have two choices, married with the man with two wives, or being in separation with your beloved husband? 

I do not like hypothetical question very much. Most of the time it’s pointless, because when we face the reality, we could go for a complete opposite direction from our previous hypothetical answer. But so far, I do not see myself as a polygamous person. 

How does Buddhism influence each step of your life? Do you practice another religious teaching besides Buddhism? 

I think what Buddhism really inspires me is the spirit of self-inquiry. Ehipassiko. I now pay more respect to direct experiences. We can talk until our mouths foam about concepts of truth or teachings, but only by experiencing we can ever truly learn about anything. And that moves me to practice meditation in the first place. I appreciate many teachings, especially what people called ‘mystics’, also for the same reason. The mystic tradition emphasizes on experiencing, not so much do’s and don’t’s, or the more ‘political’ side of religion/spirituality.

So far, after getting remarried, do you always feel comfortable with this ‘new’ situation? 

(note: actually I’m not so clear with what you meant by ‘new’ situation. Is it the marriage? The social aspect? Work? What exactly the situation do you address? Anyhow, I’m going to answer it from relationship angle).If you define ‘always feel comfortable’ as ‘being happy all the time’, of course it’s not realistic. Relating is a not a sugary sweet fairy tale all the time. Like all relating that has ups and downs, we have to adapt so many things in our togetherness. We re-learn to live and to co-evolve with one another’s presence. But if you define ‘comfortable’ as acceptance, I do embrace every aspect of this new life I have—comfortably. This has been one of the best gifts that life has ever given to me. I feel so blessed.
  

Dhammacaka | Face to Face | Mei, 2009 | by Setiawan Liu


Bagaimana Mbak Dewi melihat permasalahan perceraian, baik dalam perspektif umum maupun dalam perspektif agama yang dianut?

Sebagaimana hal-hal yang barangkali dianggap “kurang menyenangkan” secara umum, seperti halnya perpisahan dan kematian, saya rasa manusia cenderung menghindari perceraian, meski kadang-kadang demikianlah kenyataan hidup yang perlu dihadapi. Saya pun sendiri seperti itu. Jika memungkinkan ya sebaiknya tidak berpisah, tidak bercerai, tapi jika memang itu yang perlu dihadapi, ya akhirnya hadapi saja. Pada prinsipnya, menurut saya, kita justru belajar dari yang pahit, bukan dari yang manis. Jadi pada hal-hal yang dianggap kurang menyenangkanlah justru batin kita punya kesempatan paling besar untuk bertumbuh. Jika saya kilas ke belakang, saya justru melihat saya telah memetik pelajaran yang sangat berharga. Jadi pada akhirnya saya melihat perceraian sebagai peristiwa hidup yang "biasa-biasa" saja, dalam arti: semua peristiwa hidup punya tujuan dan makna, mau itu perceraian atau bukan. Dan sebuah peristiwa jadi punya guna jika kita telah berhasil memetik pelajaran darinya. Dari apa yang saya ketahui, di Buddhisme sendiri perceraian bukanlah sesuatu momok menakutkan atau kutukan, melainkan sebuah fenomena. Sama halnya dengan segala fenomena dalam hidup ini. Tapi tentunya mengadopsi hal itu bukanlah hal yang mudah, karena secara riil kita hidup dalam kultur yang cenderung mengagungkan persatuan/pertemuan dan mengutuk perpisahan/perceraian. Sama seperti kita mengagungkan kelahiran dan menghindari kematian. Sementara dalam pemahaman Buddhisme, kelahiran dan kematian hanyalah fenomena dalam siklus tumimbal lahir yang keduanya netral-netral saja.

Ada beberapa hipotesis, baik dari kalangan umum maupun selebritis, bahwa ‘separate lives is a solution’ dalam arti adakalanya perpisahan/perceraian merupakan suatu solusi. Apa pendapat Mbak Dewi?

Saya rasa, dalam hidup, segala sesuatu dapat dipandang menjadi solusi. Bahkan hal paling ekstrem seperti kematian sekalipun. Karena kita hidup dalam realitas yang dualitas, setiap permasalahan pasti sudah datang bersama solusinya. Dan apakah solusi itu? Kita tidak pernah bisa tahu, sampai solusi itu benar-benar datang dan tiba secara nyata dalam hidup kita. Jadi, perceraian, perpisahan, kepergian, tentunya bisa menjadi sebuah solusi jika memang pas dengan konteks dan perspektifnya. Ini akan kembali ke pandangan dan belief system masing-masing orang. Jika mereka percaya bahwa perpisahan bukanlah solusi, yah mungkin mereka akan terus bertahan untuk bersama, meski sudah tersiksa luar biasa. Semata-mata karena bagi mereka, perpisahan bukanlah pilihan. Dan hal itu sah-sah saja, menurut saya.

Beberapa agama mempunyai doktrin mengenai perceraian. Dalam agama Buddha ‘perkawinan bukan sesuatu yang sakral, begitu pula perceraian’ – sementara beberapa doktrin agama lain, ‘perkawinan dan perceraian sama-sama sakral’ – lalu bagaimana pandangan Mbak Dewi Lestari?

Sejak lama, saya pun merasa bahwa pernikahan memang bukanlah segalanya. Tidak ada harga mati dalam hidup ini. Segalanya berubah dan tidak tetap. Sama seperti situasi langit yang terus berubah; kadang jernih, kadang berawan, kadang hujan, begitu jugalah hidup. Justru ketika kita mengharapkan sesuatu adalah abadi, sakral, tak bisa ditawar-tawar, kita mulai hidup dalam ketegangan batin dan ketidakbahagiaan. Namun bukan berarti kita juga jadi main-main menghadapi pernikahan, atau pun perceraian. Saya yakin, semua orang yang memasuki sebuah pernikahan atau pun memutuskan bercerai, pastilah itu sebuah keputusan serius, yang dipikirkan masak-masak. Tidak ada yang mengharapkan berpisah saat bertemu, tapi kenyataan hidup kan tidak ada yang bisa menduga arahnya. Dengan menjalankan sebaik-baiknya sebuah keputusan, apa pun itu, sekaligus menerima fakta dan hukum alam bahwa segalanya tidak ada yang permanen, kita jadi bisa lebih realistis dan tidak terlampau mencengkeram sesuatu. Meskipun sesuatu itu kita anggap baik dan penting.

Apakah perceraian dalam konteks ‘it is a solution’ – bisa digeneralisir (either case by case of person by person)?

Saya rasa tidak ada permasalahan yang benar-benar bisa digeneralisasi. Setiap permasalahan adalah unik, dan tentu solusinya pun unik. Walaupun mungkin ada kasus yang mirip-mirip, tak ada satupun dalam hidup ini yang identik. Jadi bagaikan semua individu di dunia ini, sebuah solusi pun sifatnya pasti unik dan individual. 

Thursday, February 12, 2009

NIRMALA | Yang Muda Yang Spiritual | Dec, 2006 | By Emma Madjid

1. Mengapa Dee belakangan ini tertarik masuk ke gerbang spiritual?

Sebetulnya proses itu sudah cukup lama, sejak akhir 1999. Dan saya merasa ketertarikan pada spiritualitas itu inheren pada setiap orang, hanya masalah momen naik ke permukaannya saja yang berbeda-beda. Pertanyaan tentang Tuhan, eksistensi, makna hidup, dan sejenisnya, memang selalu mengusik saya sejak kecil dan bolanya bergulir terus hingga sampai puncaknya pada tahun 1999. Sejak itu konsep saya tentang Tuhan dan agama berubah total. Saya memutuskan untuk melepaskan segala ‘jubah’ keagamaan dan ingin mengapresiasi hidup dari titik nol. Sejujurnya, saya sangat nyaman dengan kondisi ‘jalan tak berpeta’ tersebut. Namun setelah berkeluarga, barulah saya mulai mempertimbangkan untuk berada dalam satu koridor khusus. Saya mendapatkan banyak kecocokan dengan ajaran Buddha, walaupun itu tidak berarti saya lantas berhenti mengeksplorasi. Prinsipnya, apapun yang cocok dengan intuisi dan mencerahkan saya secara pribadi, akan saya terima. Misalnya, saya banyak sekali mendapatkan wawasan baru dan jernih dari Kabballah, juga dari sains yang berbasis monisme idealistik (mis. buku-buku Amit Goswami). Pendekatan eklektik semacam ini memang yang paling pas bagi saya. Perjalanan spiritual adalah perjalanan yang individual, meski dalam prosesnya kita dibantu oleh banyak orang dan banyak jiwa lain, hanya kitalah yang bisa merasa apa yang paling pas bagi diri kita sendiri dari waktu ke waktu.

2. Kapan pencerahan itu datang? Apakah melewati kejadian tertentu dalam hidup Dee? Atau ada yang 'ngomporin'?

Bagi saya, momen pencerahan itu tidak tunggal tapi multipel. Bukan satu peristiwa yang sekali jadi lalu selesai, melainkan proses yang berulang-ulang dan semakin dalam. ‘Gong’ pertama memang tahun 1999, tapi prosesnya terus saya jalani hingga sekarang. Pada saat itu saya memang terbentur masalah pribadi yang cukup berat, dan akhirnya itu menggiring saya untuk menggali lebih dalam makna cinta, hidup, dan Tuhan. Dan sekarang saya mengerti bahwa gerbang menuju kesejatian memang bermacam-macam, barangkali itulah gerbang yang jiwa saya pilih. Selain itu, secara umum saya memang sangat terusik dengan fenomena perseteruan agama; orang-orang bisa saling membunuh atas nama Tuhan. Dan pada saat itu tragedi Ambon sedang ramai-ramainya. Di Indonesia, bahkan dunia, sejarah manusia berdarah-darah akibat membela Tuhannya masing-masing. Itu membuat saya semakin tergerak untuk berbuat sesuatu, karena menurut saya masalah dunia ini terletak pada pemahaman dasar manusia akan Tuhan. Apa yang seseorang percaya atau tidak percaya tentang Tuhannya akan membentuk sikap dan cara pandangnya untuk berlaku di Bumi. Makanya kemudian saya menulis Supernova, novel serial yang memang dikhususkan untuk tema spiritualitas. Supernova merupakan cermin perjalanan batin saya. Saya ingin berbagi cara pandang, syukur kalau ada yang merasa cocok, kalau tidak pun tidak apa-apa. Semua makhluk menjalankan proses yang patut kita hargai.
Perjalanan saya sejauh ini dituntun alamiah oleh hidup melalui peristiwa dan hasil trial & error. Belum pernah punya sosok guru tunggal, mungkin belum ketemu. Sejauh ini saya lebih didukung oleh support system berupa buku-buku, teman-teman, keluarga, dll.

3. Apakah ada perubahan dalam diri setelah masuk ke gerbang tersebut? Tolong disebutkan.

Wah, banyak sekali ya. Karena itu tadi, saya percaya pemahaman seseorang akan Tuhan (atau non-Tuhan) itu otomatis menentukan segala hal lainnya. Prioritas saya berubah, cara saya memandang sebuah hubungan baik itu percintaan atau persahabatan juga berubah. Dalam keseharian, saya lebih menghargai proses, berusaha tidak menjustifikasi berdasarkan polaritas hitam-putih tapi berusaha mentransendensi polaritas tsb dan melihat segala hal dari esensi yang netral, bukan apa yang kelihatan di permukaan. Secara global, saya jauh merasa lebih tenang, lebih seimbang, dan lebih sehat secara fisik. Saya sangat menikmati dan menghargai hidup ini. Bukan berarti segala masalah lenyap, tapi cara pandang saya pada masalah itu yang jadi beda. Saya nggak terlalu ngoyo lagi soal pekerjaan. Dulu saya orangnya target-minded, sekarang jauh lebih rileks, dan hasilnya malah lebih baik. Intinya, saya lebih bisa menerima diri. Semakin kenal, dan semakin menerima. Proses ini tidak mudah, tapi tidak ada istilah mundur. Gampang dan susah tinggal kita yang mengkontekstualisasi. Perjalanan spiritual itu tidak kenal mundur, sama halnya dengan evolusi. Kita bisa berpencar arah, tapi semua melangkah maju dengan waktu dan kecocokan caranya masing-masing.

4. Selama ini Dee termasuk sering mengatur POLA MAKAN, dan menjalani hidup sehat, boleh dijelaskan? Demi kesehatan, makanan/minuman apa saja yang sudah dihapus?

Saya mulai jadi vegetarian lacto-ovo sejak tahun 2006. Sudah lama sih kepingin jadi vegetarian tapi ternyata tekadnya baru bulat setelah membaca hubungan hidup vegetaris dengan lingkungan hidup. Jadi alasan saya bukan semata-mata kesehatan. Saya memang lagi concern sekali dengan masalah lingkungan, dan ingin serius melakukan kontribusi. Ternyata hidup vegetarian punya dampak besar sekali. Banyak dari kita yang belum tahu bahwa industri hewan kontribusinya sangat signifikan bagi pemanasan global. Keenan, anak saya, yang justru pertama kali jadi vegetarian. Sejak umur 1 tahun dia sudah menolak makan daging. Dipaksa dan diakali seperti apapun dia nggak mau, pasti dia keluarkan dari mulutnya. Jadi ketika saya berniat vegetarian saya pikir sekalian saja, toh Keenan bahkan sudah duluan. Dan untungnya kami bisa kompak satu keluarga, masaknya jadi praktis.
Secara umum, pola makan kami tidak terlalu rigid, bahkan cenderung sederhana. Untuk konsumsi telur kami coba batasi 3x seminggu, sehari-hari lauk kami hanya tahu-tempe-sayur. Gula juga kami batasi, sebisa mungkin menggunakan gula yang lebih natural (bukan yang refined), seperti gula batu atau gula madu. Camilan Keenan juga kami usahakan tidak yang terlalu berbumbu atau berasa tajam supaya lidahnya nggak ‘kecanduan’, dia lebih sering makan rice crackers atau sereal polos. Selain itu, saya berusaha sebisa mungkin mengonsumsi makanan organik.

6. Apa makanan/minuman Andalan Dee agar selalu fit?

Air putih, sebisa mungkin yang heksagonal. Dan sayur yang dimasak tidak terlalu layu.

7. Bagaimana cara Dee menekan stres yang selalu timbul dalam aktivitas keseharian? (ini semacam tip dari Dee aja, yang Dee sering lakukan, boleh beberapa poin, kalau memang unik boleh diterangkan cara menerapkannya)

Memahami bahwa hidup ini hanya kumpulan aktor yang sedang akting, termasuk diri kita sendiri. Di Buddhisme dikenal istilah anicca, yakni tidak ada yang kekal. Stres itu timbul karena kita ingin meyakini beberapa hal itu nyata dan kekal, padahal tidak ada. Bahagia maupun sedih, senang maupun sakit, semua itu senantiasa berubah dan hidup ini cair. Melawan, kita justru tenggelam. Berenang oke, asal tidak menentang arus, karena akhirnya kelelahan.
Ketika tengah menjalani hari saya kadang-kadang suka ngomong sendiri: ‘Cut!’, dan itu menyadarkan saya bahwa hidup ini rangkaian adegan belaka. Susah atau senang itu bikinan kita sendiri. Lewat beradegan kita menerima pelajaran, dan apabila pelajaran itu selesai, maka kita beradegan baru, kalau belum maka adegannya akan diulang-ulang terus.

Sunday, February 8, 2009

EDITOR'S CHOICE Majalah | Writing is Power | August, 2007 | Oktavianti

1. Arti menulis bagi Dee?

Menulis bagi saya adalah kebutuhan, seperti berkomunikasi. Tapi dalam menulis yang diajak komunikasi adalah diri sendiri dan alam kreativitas.

2. Apa bisa dibilang menulis telah menjadi hidup Dee?

Karena sudah menjadi kebutuhan, menulis otomatis menjadi bagian dari sistem penopang hidup saya agar tetap seimbang dan selaras. Menulis bukan keseluruhan hidup saya, tapi bagian besar dari hidup saya.

3. Bagaimana tanggapan Dee tentang: “writing is power”?

Sudah bukan rahasia lagi bahwa tulisan dapat menjadi kekuatan dan katarsis kebudayaan, bahkan politik. Zaman dulu, bahkan sastra menjadi semacam alat pemerintah untuk menanamkan atau menyebarkan nilai-nilai tertentu. Dan seperti halnya semua “alat”, jika dipakai secara baik akan menjadi baik, jika disalahgunakan bisa jadi bencana. Bagi saya pribadi, menulis adalah proses dahsyat di mana manusia bisa terhubungkan dengan kekuatan kreatif yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.

5. Dari mana saja inspirasi dan ide tulisan Dee?

Kebanyakan dari perenungan. Bahan yang direnungkan tentu datangnya dari kehidupan itu sendiri, dari kisah pribadi, kisah orang lain, mengamati alam, dsb. Seorang penulis memang harus jadi pengamat yang baik.

6. Menurut Dee, apa saja yang harus dipersiapkan untuk menulis?

Komitmen. Keberanian. Referensi/Bacaan.

7. Hambatan apa saja yang Dee hadapi saat menulis?

Sekarang ini hambatan yang paling signifikan adalah waktu luang. Dengan adanya anak dan rumah tangga, waktu menulis menjadi barang langka. Beda dengan dulu waktu saya masih single dan bisa menulis seharian tanpa ada beban. Secara realistis, sekarang sudah tidak bisa begitu lagi. Jadi saya sedang belajar untuk menulis dalam potongan-potongan waktu yang relatif singkat, interval 1-2 jam, berhenti, lalu kalau ada kesempatan, menulis lagi. Dan karena saya penulis yang cenderung lamban, hal itu jadi tantangan besar, karena biasanya dalam 1-2 jam saya cuma bergerak ½ halaman.

8. Waktu yang cocok untuk Dee menulis, kapan dan kenapa?

Dulu yang paling cocok adalah jam 10 malam sampai pagi/subuh, saat sudah sepi dan tidak ada gangguan komunikasi seperti krang-kring telepon/hp. Sekarang, asal bisa duduk diam tidak diganggu sudah lebih dari cukup. Mau malam atau pagi atau siang atau sore tidak jadi masalah.

9. Bagaimana cara Dee mengatasi hambatan dalam menulis?

Kalau hambatan ide, biasanya saya menghentikan kegiatan menulisnya lalu melakukan hal lain, seperti membaca atau sama sekali yang tidak ada hubungannya dengan menulis, seperti jalan-jalan atau main dengan anak. Biasanya saya tidak memaksa diri. Saya menanggapinya seolah-olah benak saya minta istirahat, dan jatah itu harus dipenuhi kalau enggak nanti korslet. Hehe.

10. Siapa saja penulis-penulis (dalam dan luar negeri) yang menginspirasi tulisan Dee? Dan kenapa mereka?

Untuk dalam negeri saya suka Sapardi Djoko Damono, Ayu Utami, dan Seno Gumira Ajidarma. Saya suka metafora dan keindahan tulisan Sapardi, Ayu menurut saya adalah penulis yang telaten, estetis, dan cerdas. Dan saya suka gaya tulisan serta kelugasan tulisan Seno. Untuk penulis luar, saya suka Ana Castilo, Dave Eggers, dan terakhir ada penulis Thailand yang bagus sekali, yakni Ratawutt Lapcharoensap.

11. Apa motivasi Dee untuk menulis?

Berbagi. Itu saja.

12. Menurut Dee, tolak ukur kesuksesan penulis bisa dilihat dari apa?

Jika si penulis mampu mengartikulasikan sempurna idealisme dan kreativitasnya, dan tulisannya berhasil memenuhi tujuan dan membangkitkan efek yang ia inginkan. Misalnya, penulis cerita horor harus mampu membuat pembacanya merasa seram. Penulis cerita cinta harus mampu membuat pembacanya terharu-biru, dsb. Jadi tujuan cerita tersebut, apa pun itu, sampai dengan baik.

13. Dari novel-novel yang pernah Dee buat, novel apa yang paling berkesan (kesannya mendalam) baik dari segi pembuatannya, riset, atau yang lain? Dan kenapa?

Sejauh ini yang sangat berkesan secara keseluruhan proses adalah AKAR. Kompleksitas AKAR sangat tinggi, melibatkan banyak negara, banyak bahasa, dan aneka pengetahuan yang tidak saya kuasai, tapi harus mampu saya sajikan sedemikian rupa hingga meyakinkan. Karena itu risetnya benar2 menguras waktu dan tenaga, sekaligus sangat menyenangkan. Untuk mengerjakan AKAR, saya mewawancara dan berkorespondensi dengan puluhan orang, menongkrongi studio tato, kantor ASEAN, sampai mencari info tentang cara membuat detektor ranjau.

14. Bagaimana tanggapan Dee dengan semakin “menggeliat”-nya penulis-penulis wanita dan masih muda-muda?

Saya selalu menanggapi positif jika banyak penulis baru muncul. Soal perempuan dan laki-laki tidak masalah, yang penting tulisannya bagus. Ada yang bilang juga bahwa kondisi penulis muda Indonesia sekarang lebih berat di kuantitas bukan kualitas. Penulis banyak tapi yang bermutu sedikit. Kalau bagi saya, itu juga tidak terlampau masalah, karena seleksi alam secara alamiah akan berlaku. Yang penting orang-orang muda sekarang sudah berani berekspresi dan menuangkannya secara konstruktif dalam bentuk tulisan. Saya percaya tiap jenis tulisan akan punya audiens sendiri kok. Jadi bagi siapa pun yang ingin punya bacaan tertentu, tidak harus menunggu secara pasif, mereka bisa “membuat” bacaannnya sendiri dengan menjadi penulis.

15. Menurut Dee, bagaimana perkembangan menulis/kebebasan berekspresi di Indonesia saat ini?

Jika dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu tentunya sudah jauh berbeda ya. Tapi bukan berarti tidak ada “rambu” atau “polisi”. Jika zaman pra-reformasi atau Orba yang menjadi polisi adalah pemerintah, sekarang justru yang jadi polisi adalah kelompok-kelompok masyarakat, dan ini bisa menjadi problem baru bagi dunia kreativitas/seni karena aksi protes atau sensor dari kelompok-kelompok masyarakat ini seringnya tidak punya legitimasi tapi bisa jadi lebih keras dan brutal, dan belum tentu juga pihak seniman beroleh perlindungan. Jadi kalau sekarang yang berlaku adalah “risiko tanggung masing-masing”. Yah, pintar-pintarnya kita saja dalam mengemas pesan dan memilih tema yang “aman” tapi tetap tajam dan otentik. Kalau mau nekat juga sah-sah saja, tapi dengan catatan risiko tanggung sendiri. Selalu akan ada perubahan kepentingan dari berbagai macam pihak.

16. Bagaimana awal mula Dee terjun ke dunia menulis ini?

Saya mengawalinya pertama kali ketika cerpen saya “Rico De Coro” (ada dalam kumpulan cerita “Filosofi Kopi”) dimuat di majalah Mode tahun 1997, dua tahun sebelumnya tulisan saya juga pernah memenangkan kompetisi menulis di majalah Gadis, tapi saya pakai nama samaran. Sesudah itu langsung ke “Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh” tahun 2001. Sebetulnya cuma modal nekat saja, saya menerbitkan sendiri Supernova ke-1 tanpa ada ekspektasi dan pengetahuan lika-liku industri buku. Saya nyaris tidak ada target, siap merugi, yang penting saya menulis buku, itu saja.

17. Menurut Dee, seperti apa penulis yang baik?

Penulis yang jujur pada dirinya sendiri, otentik, berkomitmen, dan mau berkembang.

18. Menurut Dee, seperti apa tulisan yang baik?

Tulisan yang jujur, otentik, menggugah, dan punya kekuatan untuk mengubah sesuatu.

19. Kalau Dee lagi stress / sedang tidak ada ide untuk menulis, apa yang biasanya Dee lakukan?

Jawaban no 9.

20. Bagaimana frekuensi Dee membaca buku? (dalam sehari / seminggu / dst, Dee bisa membaca berapa buku?)

Sebetulnya tidak ada patokan tetap. Tapi kalau memang lagi dalam rangka mencari referensi, intensitas saya membaca sangat tinggi, sehari kadang-kadang bisa dua buku sekaligus. Kalau tebal sekali, saya biasanya menghabiskan 2-3 hari. Jadi kira-kira seminggu bisa 3-4 buku.

21. Apa saja pilihan buku Dee (dalam dan luar negeri)?

Saya memilih buku biasanya berdasarkan tema. Koleksi buku saya berkisar antara tema sains, spiritualitas, well-being, parenting, psikologi, globalisasi, filsafat, puisi, dan (sedikit) fiksi.

22. Menurut Dee, apa saja trik: “how to be a good writer”?

Seperti yang saya ungkap sebelumnya, seorang penulis yang baik harus menjadi pengamat yang baik. Penulis yang mau berkembang juga tidak segan memperkaya diri dengan referensi dan eksperimen. Tapi yang paling penting, penulis yang baik berani jujur pada dirinya sendiri dan berkomitmen untuk terus berkarya. Kita harus menemukan “kegelisahan” kita yang paling utama dan berani untuk terus berdialog dengannya, karena dari sana kita menemukan motor penggerak untuk berkarya.

23. Apa pendapat Dee jika “reading is a fashion”?

Reading can be a fashion, can be anything. Ada yang bilang bahwa anak sekarang membaca supaya dibilang keren. Menurut saya itu perkembangan yang baik dan patut didukung. Tren memang faktor pemicu yang sangat jitu, terutama di kalangan anak muda. Jika tren yang timbul sifatnya positif, harus didukung sebaik-baiknya. Awalnya fashion dulu, lama-lama kalau kecantol kan jadi kebutuhan.

24. Apa yang Dee dapat dari menulis?

Dari level superfisial, saya mendapatkan banyak pengalaman dan pertemuan menarik dengan orang-orang baru, pergi ke banyak tempat, dan menimba banyak ilmu. Dari level spiritual, menulis menjadi gerbang saya menemukan jati diri.

25. Apa yang Dee dapat dari menyanyi?

Menyanyi dan bermusik menjadi cara saya mencinta. Banyak keindahan dan perasaan yang bisa terungkap sempurna lewat menulis lagu dan menyanyi, dan itu menjadi kepuasan tersendiri yang tidak bisa terukur.

26. Jika diminta memilih, akan memilih yang mana dan kenapa?

Tidak bisa memilih, dan tak perlu memilih. Kedua-duanya adalah aspek yang tak terpisahkan dari diri saya.

27. Kepuasan apa yang didapat dari menulis yang tidak didapat dari menyanyi?

Menulis itu seperti menciptakan semesta sendiri, lebih komplet dan komprehensif, tapi tidak berarti lebih unggul dari musik, karena keduanya bersifat komplementer.

28. Kira-kira faktor penyebabnya apa?

Lewat menulis saya bisa mengeksplorasi karakter, narasi, dan plot. Dalam lagu, unsur itu ada tapi terbatas, jadi kisah dalam lagu cenderung lebih abstrak dan interpretatif. Tapi justru di situ jugalah kelebihan musik. Musik bisa dihayati bahkan lebih mendalam, dan bisa jadi lebih langgeng dan tak lekang zaman. Lagu juga punya melodi, dan itu satu kelebihan sendiri dibanding kata-kata belaka.

29. Apa “misi” terbesar dalam kegiatan menulis ini? Apakah untuk kepuasan batin atau ada yang ingin Anda sampaikan dalam setiap tulisan Anda? Misalnya: untuk perubahan bangsa ini, atau bagaimana?

Bagi saya pribadi, misi menulis itu sederhana dan sebaiknya juga memang dijaga agar tetap sederhana. Saya ingin menulis buku yang ingin saya baca, yang artinya saya menulis apa yang saya suka, dan saya mencintai kegiatan menulis itu sendiri. Jika ternyata itu bisa mengubah bangsa ke arah yang lebih baik, saya bersyukur. Itu bisa dibilang bonus. Tapi jika tidak mengubah apa-apa, juga tetap tidak masalah, karena pada intinya semua penulis hanya bertanggung jawab pada dirinya sendiri, otentisitasnya, dan kejujuran batinnya.

30. Dengan kepercayaan Buddha yang Anda yakini saat ini, ada tidak pengaruhnya sedikit banyak ke dalam tulisan Anda? Boleh dong berbagi pengalaman Dee yang paling berkesan mengenai hal itu?

Sejak lama sebetulnya saya sudah menyukai tema spiritualitas secara umum, dan jika dicermati, semua tulisan saya, terutama serial Supernova, memang berjangkar pada masalah spiritualitas. Boleh dibilang, itulah motor penggerak saya berkarya, yakni masalah jati diri, masalah kesadaran, “inner journey”, dll.
Sejak tahun 2002 pun saya banyak menuliskan soal Buddhism di “Supernova: AKAR”, karena tokoh utama saya memang ceritanya seorang Buddhis. Bagi saya inti dari ajaran Buddha adalah kesadaran. Dan tanpa perlu eksplisit menggunakan istilah-istilah Buddhis sekalipun, jika seorang penulis mengungkapkan muatan kesadaran/keelingan dalam karyanya, sesungguhnya dia pun sedang menuliskan eksplorasinya dalam menghayati dan memaknai jati diri. Dan itu merupakan hal yang universal.

31. Apa yang Anda dapat dari kepercayaan Buddha Anda sekarang yang belum pernah Anda rasakan dan sangat berpengaruh ke tulisan Anda?

Jawaban no 30.

32. Now, you’re being a mother, how do you feel?

It’s truly a blessing. Kehadiran Keenan bagi saya seperti kehadiran seorang guru. Melalui tugas saya sebagai orang tua, saya belajar banyak sekali.

33. Boleh juga dong berbagi pengalaman dalam kesibukan mengurus anak?

Karena pekerjaan saya yang sifatnya free-lance seperti ini, secara umum saya cukup punya banyak waktu dengan Keenan, tapi bukan berarti saya nggak sering pergi juga. Sampai 2,5 tahun, dia selalu ikut ke mana pun saya pergi, termasuk ke luar kota dan luar negeri. Sekarang, karena dia sudah mulai playgroup, kalau bepergiannya tidak terlalu lama saya sudah berani meninggalkan dia di Bandung. Yang jelas, hubungan kami dekat sekali, Keenan menyusui sampai umur 3 tahun. Kami punya kebiasaan tutup pintu rapat-rapat kalau sudah jamnya Keenan tidur, berdoa, dan baca buku bareng.

34. Sebagai orang tua, seperti apa Dee mengarahkan anak (dalam hal seperti: pendidikan, cita-cita, dan lain-lain)?

Saya hanya ingin Keenan berkembang maksimal sesuai dengan potensi, minat dan bakatnya. Dan tidak perlu dia sampai stres mengejar prestasi akademis. Yang penting dia punya inisiatif yang bagus, haus ilmu dan wawasan, serta nyaman dengan dirinya sendiri. Dan yang lebih penting lagi, menjadi manusia yang penuh kasih. Untuk itu, tentunya kami harus menjadi contoh, tidak ada cara yang lebih efisien. Karena anak tumbuh besar dengan meniru. Bukan berarti kami harus tampil sebagai orang tua sempurna tanpa cacat dan masalah, tapi setiap masalah yang kami hadapi, diselesaikan dengan cara yang baik, terbuka, dan berbasiskan kasih sayang.

35. Dee termasuk orang penyuka makanan apa? Minuman apa? Film apa?

Saya penyuka masakan Indonesia sejati. Sejak jadi vegetarian, memang jadi lebih sering makan masakan Sunda karena olahan tahu-tempenya banyak dan menunya simpel. Untuk minuman, saya suka air putih, jus buah tanpa gula, dan teh herbal.
Saya suka film drama, sitkom, film-film komedi yang ‘hancur’ juga suka, kayak filmnya Will Ferrel, Adam Sandler, dan Ben Stiller. Film favorit saya sejauh ini Matrix dan Lord Of The Rings.

36. Apa saja harapan Dee mendatang (baik di karier dan keluarga)? Planning dan cita-cita Dee mendatang?

Sekarang ini saya lebih suka menjalani hidup ‘one day at a time’. Bukan berarti tidak ada perencanaan sama sekali, tapi dalam perencanaan hidup saya berusaha nggak terlalu ‘distant-future-oriented’, apa lagi yang terlampau jauh ke depan. Membesarkan Keenan sebaik mungkin, berkarya seoptimal mungkin, dan menjalankan hidup sesadar mungkin. Itu saja.