Showing posts with label Teknologi. Show all posts
Showing posts with label Teknologi. Show all posts

Thursday, April 2, 2020

Tirto.ID | Pajak Royalti | Mei, 2017 | Aulia Adam


1.     Waktu ketemu Presiden di BEKRAF 2015, masih ingat dialog yang terjadi? Apa yang Mbak Dee bilang tentang pajak royalti penulis dan bagaimana tanggapan Presiden?

Waktu itu, Presiden pada dasarnya menampung masukan tersebut karena saat itu bukan saya saja yang bicara, ada juga beberapa pekerja kreatif lain dari berbagai bidang. Yang jelas, setahun setelah dialog tersebut, saya mendengar bahwa sudah disusun aturan NPPN bagi para penulis, yang akhirnya berlaku mulai 2017 ini.

2.     Bisa ceritakan maksud dari 'mengkapitalisasi diri'? Apa saja yang biasanya dilakukan penulis untuk tetap dapat pemasukan lain selain menunggu royalti?

Mengajar seminar, mengisi talkshow, kasih workshop, jadi motivator, menulis lepasan (dibayar putus dan bukan royalti) untuk order dari perusahan maupun perorangan, dsb.

3.     Mbak Dee sendiri harus berapa lama menunggu pembayaran royalti? Sekali per semester?

Setahun dua kali, setiap enam bulan.


4.     Mbak Dee juga pernah melakukan self-publishing. Bisa ceritakan pengalaman itu? Bagaimana hasilnya?


Self-publish intinya kita berperan jadi penerbit. Artinya, segala modal, tugas, dan profit penerbit menjadi porsinya penulis. Keuntungannya adalah kita fleksibel menentukan konten, jadwal, maupun cara promosi dan distribusi, tapi tantangannya tentu kita harus punya modal dan SDM yang kuat untuk menjalankan bisnisnya.

5.     Menurut Mbak Dee, seberapa penting penerbit bagi penulis Indonesia? Tolong ilustrasikan.

Pada dasarnya, penerbit dan penulis sama-sama membidani lahirnya buku, dengan tugas yang dibagi-bagi. Penulis setor konten, dan penerbit mengolahnya hingga produk jadi. Elemen tugas yang dikerjakan penerbit cukup banyak, dari mulai berurusan dengan percetakan, distributor, toko buku, promosi, dsb. Jadi, kalau dibilang penting ya sangat penting. Karena belum tentu semua penulis punya kapasitas untuk melakukan itu semua. Tugas utama penulis adalah mengolah konten. Kalau memang ada penulis yang kuat menjalankan bisnisnya, ya silakan saja. Profitnya pasti lebih besar, tapi tanggung jawabnya juga besar.

6.     Apakah mencabut buku dari penerbit sebagai protes terhadap pajak adalah laku yang bijak, menurut Mbak Dee? Bukankah penerbit sendiri sudah kena pajak di sana-sini?

Menurut saya, keputusan Tere Liye mencabut buku dari penerbit bukanlah yang difokuskan kepada penerbit, melainkan kondisi ekonomi perbukuan secara keseluruhan termasuk komponen pajaknya. Jatah penerbit dari sebuah buku tidak terlalu besar, kok. Jauh di bawah toko buku. Dalam kasus Tere Liye, saya melihat upayanya sebagai upaya membebaskan diri dari rantai perdagangan buku konvensional yang di dalamnya melibatkan kebijakan pajak yang tidak ia setujui. Toh, beliau sendiri menyatakan bahwa ia akan mencari cara lain untuk menulis.

7.     Di luar masalah pajak penulis, gimana pandangan Mbak Dee tentang regenerasi penulis di Indonesia?

Sebetulnya saat ini regenerasi penulis cukup cepat karena diterimanya berbagai macam variasi genre oleh penerbit dan pasar. Kita punya pasar teenlit, Wattpad, maupun platform self-publish yang lebih bervariasi. Para penulis muda sekarang jauh lebih mudah untuk bisa berkarya. Pada akhirnya, mereka yang serius akan terus menekuni bidang ini. Seleksi alam akan berlaku. Yang jelas, ada pasar besar untuk para penulis muda.

8.     Perkembangan teknologi membawa perubahan tabiat membaca. Generasi lebih muda punya karakter lebih senang bacaan singkat, grafis yang banyak. Buku dituntut untuk mengimbangi teknologi hiburan lainnya yang menunjukkan kenaikan peminat, misalnya di sektor musik atau film streaming (https://tirto.id/revolusi-gaya-menonton-ala-gen-z-ctUd). Apa pendapat Mbak Dee tentang hal ini?

Perubahan zaman tidak bisa ditolak, hanya bisa dirangkul. Betul, tabiat membaca secara umum berubah, tapi kebutuhan orang akan konten menurut saya akan terus berjalan. Buku fisik bisa jadi bergeser jadi buku digital, tapi kebutuhan orang akan fiksi, akan cerita, terus berjalan. Maksud saya, jangan sampai tertukar antara medium dan konten. Perubahan medium bisa ke mana saja, tapi konten yang bagus akan tetap dibutuhkan. Jadi, penulis jangan dipusingkan soal medium dulu, fokus pada konten. Hanya karena orang senang baca cerita bergambar, tidak berarti saya juga harus bikin cerita bergambar karena tren. Hanya karena orang senang baca cerita singkat, tidak berarti saya berhenti bikin cerita panjang. Tetaplah mengolah konten yang kita sukai.


9.     Bagaimana pengalaman Mbak Dee sebagai penulis yang menghadapi pembaca secara langsung?

Saya kurang paham pertanyaan ini.

10.   Apakah perubahan tabiat ini juga memengaruhi penulis-penulis muda yang ingin masuk ke industri? Akankah lebih mudah atau susah?

Ini hubungannya dengan nomor 8 ya? Saya rasa nggak terlalu berpengaruh ke susah atau mudah. Filter untuk masuk ke industri biasanya kualitas naskah, dan relevansi dengan visi penerbit.


11.   Menurut Mbak Dee, apakah book fairs (misalnya IIBF, Beijing International Book Fair, Frankfurt Book Fair, atau LBF) masih relevan dikunjungi dan berpengaruh pada penjualan buku?

Book Fair sifatnya lebih ke perdagangan lisensi, bukan soal volume retail. Jadi, sebetulnya book fair semacam itu fungsinya lebih “B to B” (business to business) bukan “B to C” (business to consumer). Yang diperdagangkan lebih ke hak penerjemahan. Tentu penting untuk memperkenalkan karya-karya penulis kita ke luar, dan juga sebaliknya.

Saturday, December 20, 2014

Majalah Panorama | Profil | Oktober, 2010 | by Jaka Setia


Anda banyak juga dikenal dengan nama pena “Dee”, apakah ada sejarah/alasan khusus di balik nama “Dee”?

“Dee” memang ‘tidak sengaja’ jadi nama pena saya. Sebetulnya karena pertimbangan nama “Dewi” itu agak pasaran, hehe, dan asosiasi orang saat itu selalu “Dewi RSD” jadi untuk tampil dengan image fresh sebagai penulis, saya mencoba memakai nama panggilan saya yakni “Dee”. Dipanggil “Dee” karena waktu kuliah saya pakai ransel dengan emblem besar huruf “D” (Dee).

Menurut Anda, adakah perbedaan antara seorang Dewi Lestari di karya-karya buku dan musik, dan seorang Dewi Lestari di kehidupan sehari – hari?

Dewi Lestari yang bermusik dan menulis adalah sebagian aspek dari diri saya keseluruhan. Mewakili saya, memang, tapi itu bukan sepenuhnya diri saya juga. Jadi bukannya beda, tapi “belum lengkap”. Yah, lengkapnya yang sehari-hariyang hobi, kelakuan, cara bicara, karakter, dsbhanya dikenal oleh orang yang memang berinteraksi dengan saya sehari-hari.  Dan belum tentu diketahui oleh pembaca atau pendengar musik saya.

Sebagai seseorang yang aktif dalam dunia musik dan literatur, adakah korelasi di antara keduanya? Adakah passion terpendam lainnya yang ingin Anda kerjakan dalam waktu dekat ini?

Bagi saya, korelasi keduanya tentu sangat dekat.  Keduanya merupakan saluran saya berekspresi yang sama pentingnya. Passion saya yang lain cukup banyak, saat ini sedang hobi memasak, fotografi, dan lagi senang belajar tentang masalah gizi dan parenting. Saya sedang berencana membuat situs tentang vegetarianisme dan Gentle Birth (metode persalinan alami).

Boleh ceritakan tentang pengarang favorit Anda dan bagaimana ia telah memberikan inspirasi dan pengaruh terhadap karya tulisan Anda?

Penulis Indonesia yang saya kagumi antara lain Sapardi Djoko Damono, yang metaforanya menurut saya mencengangkan. Ayu Utami, penulis yang karyanya “Saman” adalah salah satu buku yang membuat saya bersemangat untuk menerbitkan buku. 

Di buku Supernova, Anda berhasil untuk merangkai dan menggabungkan fakta dan alur cerita menjadi sebuah kesatuan yang menarik. Bagaimana proses Anda melakukan itu?

Gabungan dari riset dan imajinasi. Harus rajin mengolah keduanya. Dan yang lebih penting lagi, adalah harus terus menghidupkan tema dan napas untuk cerita tersebut karena sifatnya yang serial. Stamina kreativitasnya harus kuat. 

Berbagai buku Anda memiliki hubungan yang erat dengan tema ‘life searching’. Boleh bercerita bagaimana pandangan Anda terhadap sebuah proses pencarian jati diri dan makna hidup?

Menurut saya pencarian jati diri adalah proses inheren dalam setiap kehidupan manusia. Semua orang pasti mengalaminya, meski dalam format yang berbeda-beda. Jadi bagi saya, itu adalah tema yang universal.

Sebagai salah satu penulis Indonesia yang telah menjadi bagian dari ajang prestisius Ubud Writers & Readers Festival 2010, bagaimana Anda ingin memberikan inspirasi terhadap penulis dan pembaca dewasa ini?

Dengan terus berbagi dan berkarya sebisa saya. Menurut saya hanya itu yang paling baik dan realistis untuk dilakukan.

Menjadi bagian dari panel diskusi Writing the Digital Future, bagaimana pendapat Anda tentang dunia literatur di era yang serba digital saat ini?

Dunia literatur mau tak mau perlu beradaptasi dengan perubahan zaman. Terutama yang berkenaan dengan format dan saluran-saluran menulis baru seperti blog, Twitter, e-book, dsb. Secara spirit, menurut saya menulis adalah menulis. Dari zaman ke zaman esensinya tetap sama. Tapi bagaimana kita menyuarakannya, inilah yang terus berubah dan berkembang.

Rectoverso, sebuah hasil karya musik dan literatur, sementara Perahu Kertas akan ditayangkan di layar lebar pada waktu dekat ini, kira-kira kejutan apalagi yang pada masa dekat ini? Menggabungkan perfilman dan musik atau menghasilkan produksi musikal mungkin?

Kalau pentas musikal, saya merasa itu bukan bidang keahlian saya, walaupun saya bergelut di bidang musik dan penulisan. Kalau hanya menulis beberapa lagu untuk soundtrack, itu masih lebih mungkin.

Berada di Bali untuk festival writers & readers tahun 2010 ini, adakah hubungan batin yang erat terhadap Bali, khususnya Ubud?

Ubud adalah tempat liburan favorit saya. Bahkan terpikir juga untuk menghabiskan masa pensiun nanti di sini. Kalau bisa sebelum itu ya lebih baik lagi, hehe. Pokoknya dalam setahun saya harus ada kunjungan ke Ubud, buat nge-charge baterai batin. Hehe.

Beralih topik tentang kesukaan Anda terhadap dunia traveling, ceritakan perjalanan mana yang paling berkesan bagi Anda?

Waktu saya ke Papua, tepatnya Tembaga Pura, tahun 1999. Itu tempat yang “ajaib” menurut saya. Ada kota modern di ketinggian 2500 kaki, di tengah hutan, dilingkung gunung. Dan, ada cable car sampai ke tengah-tengah Jayawijaya. Dan semua itu karena manusia menambang emas. Baru kali itu saya melihat kapabilitas intervensi manusia yang begitu besar pada alam.

Hal apakah yang paling Anda sukai pada saat berpergian/traveling?

Mengamati. Melihat segala sesuatu yang baru. Menyentuh ranah ketidaktahuan.

Pastinya Anda sudah berpergian mengunjungi bermacam-macam negara, pernahkah tercetus ide untuk membuat travelog dari berbagai destinasi yang pernah Anda kunjungi?

Sudah lumayan banyak: Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Dubai, Australia, New Zealand, dan beberapa negara di Asia. Tapi kebanyakan dalam rangka bekerja, jadi saya nggak benar-benar traveling murni. Lain sih rasanya. Satu saat saya ingin sekali ke Peru. Harusnya tahun 2009, tapi karena hamil saya batalkan.

Majalah NEXT (Nexian) | Profil | Juli, 2011 | by Mahadi Asman


Lagi sibuk mengerjakan apa sekarang?

Baru saja merilis kumpulan cerpen berjudul Madre. Saya lebih banyak sibuk di rumah, karena masih fokus mengurus anak kedua saya yang baru 21 bulan.

Menyanyi dan menulis yang mana menjadi prioritas Dewi?

Buat saya, prioritas itu ditentukan oleh mana yang feasible dan mungkin untuk dikerjakan sesuai dengan sikon yang ada. Saat ini, karena saya masih full mengurus anak, otomatis saya rehat dulu dari kegiatan menyanyi. Menulis saat ini jauh lebih feasible karena saya bisa mengerjakannya dari rumah.

Bagaimana Dewi melihat dunia tulis menulis saat ini?

Saya lihat perkembangannya cukup baik. Dari banyak aspek, terlihat kemajuan secara global. Kualitas produksi buku-buku sekarang membaik, judul juga banyak, toko buku membanyak, animo pembaca juga baik. Barangkali yang perlu diperhatikan adalah penyebaran yang lebih merata ke daerah-daerah, dari segi jumlah toko, kecepatan distribusi, dsb. Jadi yang di daerah atau kota kecil nggak ketinggalan dibandingkan kota besar.

Apakah persamaan antara menulis dan menyanyi?

Sama-sama seni, sama-sama harus pakai hati, sama-sama hobi saya.

Di antara buku yang Dewi tulis mana yang paling Dewi kagumi? Dan kenapa?

Pertanyaan sulit karena setiap buku yang saya tulis menurut saya punya karakter dan tantangan yang berbeda-beda. Sulit dibandingkan "apple to apple".

Saat seperti apa paling sering mendapatkan inspirasi?

Justru di saat paling tidak mengharapkan munculnya inspirasi. Bagi saya inspirasi itu tidak dicari, tapi ia akan menemukan kita. Dan, momennya tidak bisa diduga-duga. Contohnya, Malaikat Juga Tahu, saya dapat melodinya justru lagi menyikat gigi. Nggak mengharapkan bikin lagu kan kalau lagi sikat gigi? Hehe. Tapi kalau kejadian, ya, nggak bisa menolak.

Dari fitur ponsel, mana yang paling sering Dewi gunakan dan yang sangat menolong?

Push-email dan internet (koneksi data). Karena saat ini komunikasi saya lebih banyak via online, nggak banyak lagi pembicaraan telepon, SMS juga hanya sekali-sekali.

Apa yang pertama kali dilakukan ketika pertama kali bangun pagi?

Minum air putih. Lalu bikin sarapan untuk keluarga.

Di mana tempat yang paling indah untuk liburan, menulis dan membuat lagu?

Kalau liburan saya nggak pernah nulis atau bikin lagu, hanya murni rekreasi. Soalnya bagi saya, menulis dan membuat lagu itu adalah pekerjaan. Tempat libur favorit saya di Ubud, Bali.

Tema majalah kita bulan ini "sang juara". Apa makna sang juara menurut Dewi?

Sang Juara berarti orang yang berhasil mengalahkan musuhnya paling besar, yakni dirinya sendiri.

Siapa "sang juara" yang paling Anda idolakan?

Siddhartha Gautama.

Rencana besar Dewi ke depan?

Menyelesaikan serial Supernova.

Tuesday, December 16, 2014

For Men | Profil | Februari, 2013 | by Hendra Suhendra


Sepertinya Anda melek IT juga. Untuk saat ini seberapa penting teknologi informasi bagi Anda? 

Haha, itu hanya “tipuan brosur”. Mungkin kesannya aja saya melek IT, tapi sebenarnya biasa-biasa aja. Yah, sampai batas tertentu saya punya ketertarikan dan kebutuhan, tapi saya bukan pengulik IT. Batas saya hanya sampai level praktis aja. Kalau soal hp, misalnya, saya biasa pakai satu handset sampai jelek banget dan nggak ganti-ganti (bahkan pernah ada hp saya yang tergilas mobil dan tetap saya pakai). Baru tahun lalu saya beli Blackberry. Laptop saya IBook Macintosh edisi lama, dan masih saya pakai sampai sekarang. Penggunaan internet juga sebatas yang saya butuhkan aja. Terus terang, untuk masalah IT, sekarang ini saya dibantuin Reza juga. Dia lebih ngulik daripada saya. 

Anda juga memiliki blog dan menulis di sana. Apa arti sebuah blog bagi seorang Dewi Lestari? 

Saya mulai nge-blog tahun 2006. Awalnya hanya untuk memuat tulisan-tulisan yang belum tertampung di buku. Ada banyak artikel yang saya tulis, sebagian sudah dimuat di majalah, sebagian lagi belum terpublikasi, dan saya bisa tampung itu semua di blog. Baru tahun 2007 saya lebih intens menulis di blog, traffic di blog saya juga meningkat pesat. Bahkan sekarang saya bisa mengatakan bahwa blog adalah media komunikasi utama saya dengan pembaca. Saya sih kepingin bikin website sendiri, domain sudah ada, tapi konsep website-nya masih mencari yang paling pas. 

Lagu terbaru Anda, Malaikat Juga Tahu, memiliki spirit yang khas dan berbeda. Bagaimana proses terciptanya? 

Pada dasarnya kalau bikin lagu saya lebih sering pakai sistem ‘wangsit’, jadi inspirasinya datang gitu aja, kayak wangsit. Makanya susah banget terima order bikinin lagu. Wong saya sendiri nggak pernah tahu kapan inspirasi itu muncul. Dan lagu Malaikat Juga Tahu (MJT) adalah salah satu contoh yang sempurna untuk kondisi tsb. Lagu itu tercipta begitu saja, hampir tanpa usaha berarti. Benar-benar seperti kesambar petir. Saya lagi di kamar mandi, sikat gigi, lalu melodi reff-nya MJT tahu-tahu muncul. Saya langsung rekam di HP. Lalu, saya tergelitik memakai kata “malaikat” dan “juara”, dan jadilah lirik reff-nya MJT. Sisanya saya ikut arus lagu itu sendiri aja. Dalam mencipta saya merasa lebih sering “digiring” daripada “menggiring”. 

Pesan apa yang ingin Anda sampaikan lewat lagu Malaikat Juga Tahu? 

Yah, sesuai liriknya saja. Saya nggak punya pesan pribadi apa-apa. Cerita dalam lirik MJT cukup umum, banyak orang mengalaminya. 

Apakah lagu tersebut berhubungan dengan seseorang? Tentang siapa? 

Nggak ada. Banyak yang nyangka saya curhat pribadi lewat MJT, padahal sama sekali tidak. Kalau dalam fiksinya, saya memang mengangkat sepenggal kisah dari kehidupan seorang teman dan keluarganya. 

Sebenarnya, bagaimana proses kreatif Anda dalam menciptakan lagu? Apakah bisa berdasarkan pesanan seseorang? 

Lihat jawaban no 3. 

Grup musik atau band sebelum bubar biasanya melakukan pergantian personil, tapi Trio RSD langsung bubar. Kenapa? 

Memang itulah keputusan kami saat itu. Saat saya memutuskan keluar, Rida & Sita pun memutuskan untuk tidak mencari pengganti, jadi mending grupnya pensiun aja sekalian. Yah, kami dibatasi oleh faktor nama juga sih, karena kan kalau mau tetap “Rida, Sita, Dewi” berarti nama personilnya harus sama terus. Sebetulnya kalau saya yang keluar kans cari pengganti cukup besar, berhubung nama “Dewi” sangat pasaran, hehe. Kalau “Rida” atau “Sita” pasti lebih susah. 

Sepertinya Anda sudah menikmati sebagai solois. Ada rencana untuk membuat album atau konser Trio RSD Reunion? Kalau ada, kapan? Kalau tidak, kenapa? 

Bikin album nggak gampang. Butuh persiapan yang panjang dan matang. Terus terang, kalau untuk bikin album lagi kami belum kepikiran. Tapi untuk konser atau nyanyi bareng sih ayo-ayo aja, kalau memang jadwal dan konsepnya pas. Sebetulnya kalau konser reuni sudah kita jalankan. Tahun 2007 akhir kita konser ke 12 kota di Jawa Barat. Untuk ke depannya masih belum tahu. Rida sekarang lagi mau meluncurkan album solo, jadi pasti dia lagi konsentrasi dulu ke albumnya. Sita juga punya rencana sama. Untuk RSD, kami sih cenderung santai dan nggak ngoyo. Kalau ada tawaran nyanyi ya nyanyi, kalo enggak ya nggak pa-pa.  

Anda sukses sebagai penyanyi dan penulis. Boleh jadi ada pekerjaan atau profesi yang menantang tapi Anda tidak ingin menekuninya. Seperti apa misalnya? 

Saya punya hobi masak, traveling, dan merangkai bunga. Nggak tahu apakah akan jadi profesi atau enggak.

Dalam sebuah wawancara Anda mengatakan ingin meluncurkan novel digital dalam bentuk cetak. Bisa diceritakan? 

Novel digital saya berjudul Perahu Kertas, tahun lalu (2008) diluncurkan oleh XL, dan tahun ini (2009) akan diluncurkan lewat Indosat. Novel digital sendiri adalah novel yang bisa di-download dan dibaca lewat hp, jadi sementara ini yang bisa baca adalah pengguna hp dari perusahaan telekomunikasi yang bersangkutan. Tadinya saya mau meluncurkan versi cetak Perahu Kertas akhir 2008, tapi bertabrakan jadwal rilisnya dengan Rectoverso. Saya cenderung untuk tidak mengeluarkan dua produk dalam waktu berdekatan, karena ribet menjalankan promonya. Jadi Perahu Kertas terpaksa ditunda sampai pertengahan tahun 2009. 

Beberapa tahun lalu Andrei Aksana pernah meluncurkan novel disertai soundtrack, judul Lelaki Terindah, meskipun (album) soundtrack-nya tidak dikemas secara khusus. Pendapat Anda? 

Saya kurang jelas maksud pertanyaan ini. “Pendapat saya?” Yah, baik-baik saja.  

Sepertinya, karya-karya Anda cenderung berbau supranatural. Apakah ini menjadi trade-mark seorang Dewi Lestari? 

Kita perlu definisikan dulu arti “supranatural”. Buat saya “supranatural” itu berkonotasi mistis dan cenderung klenik. Benarkah ini yang dimaksud? Karena saya tidak punya niatan demikian. Jika yang dimaksud adalah “spiritual”, berarti jawabannya adalah iya. Dan yang saya maksudkan “spiritual” di sini adalah dorongan alamiah dalam setiap manusia untuk mengenal diri sejatinya. Sejujurnya, saya nggak pernah dengan sengaja ingin menjadikannya sebagai label atau trade mark. Tapi memang motor penggerak saya terbesar dalam berkarya adalah spiritualitas, karena itulah minat saya yang paling utama. 

Adakah keinginan untuk menciptakan sebuah karya dengan tema tertentu, namun Anda khawatir akan mengalami pencekalan? 

Sejauh ini belum ada, baik yang dimaksud sebagai ‘tema tertentu’ maupun kekhawatiran akan pencekalan.  

Tema-tema apa saja yang menarik untuk Anda tulis menjadi novel atau cerita? 

Seperti yang dijelaskan di atas, kecenderungan saya adalah menulis tema tentang pencarian jati diri. Tapi nggak 100% itu melulu juga, saya pun senang mengungkap cerita hati: baik itu jatuh cinta, patah hati, berharap, dsb. 

Dari banyak peristiwa yang terjadi secara global, momen apa yang paling menyita perhatian Anda? 

Sekarang ini? Masalah lingkungan hidup. 

Kalau tidak salah, novel-novel Anda belum pernah difilmkan? Apakah Anda tertarik untuk memfilmkan? Atau jangan-jangan sudah ada yang meminta? 

Memang buku saya belum pernah difilmkan. Dulu, waktu Supernova baru keluar, banyak pihak yang menawarkan, tapi saya belum punya kesiapan untuk itu. Karena kalau bikin film, pastinya saya ingin terlibat cukup intens, dan sejauh ini, secara waktu dan kesempatan saya belum punya ruang untuk itu. Kalau soal tertarik sih tertarik, tapi bukan jadi tujuan utama saya. Bagi saya, difilmkan atau tawaran difilmkan hanyalah bonus sampingan, yang kalau bisa jalan ya syukur, enggak juga nggak apa-apa. 

Seandainya difilmkan, seberapa besar Anda ingin terlibat didalamnya? Karena cukup banyak novelis yang mengaku kurang puas atas hasil adaptasinya ke dalam film. 

Setidaknya supervisi skenario, karena skenario bagi saya adalah nyawa film. 

Saat masih bersama Marcell, sepertinya perkawinan Anda ideal sekali. Akan tetapi perceraian terjadi juga. Menurut Anda, seperti apa sebuah perkawinan yang ideal? 

Saya nggak pernah punya konsep ideal tentang pernikahan. Dan jika dikatakan “sepertinya perkawinan Anda ideal sekali” tentunya itu adalah penilaian terbatas dari pihak luar, yang menurut saya sah-sah saja, tapi belum tentu punya derajat kebenaran apa pun. Perkawinan bagi saya hanyalah bungkus luar yang nggak perlu dibubuhi idealisme apa-apa karena hanya akan bikin stres dan tidak natural. Yang lebih penting adalah relationship-nya. Bungkus bisa apa saja. Bagi saya, relationship yang sehat adalah relationship yang berbasiskan kejujuran dan kekinian (tidak terpaku pada masa lalu dan tidak berorientasi ke masa depan). Dan itu tidak berarti sebuah relationship akan lekang seumur hidup atau bahagia terus menerus. Jadi, bagi saya konsep ideal tidak berlaku. Yang lebih penting dan nyata adalah hubungan yang natural, bukan yang ideal.