Sunday, April 5, 2020

IDN Times | Menulis Lagu | Sept, 2019 | Febriyanti Revitasari


Gimana sih cara Mbak Dewi menyatukan syair yang bercerita dengan nada yang menyentuh?

Dalam penulisan lagu, saya memandang lirik dan nada adalah satu kesatuan. Keduanya saling menopang dan membangun. Jadi, kata-kata tertentu jika ditempel di atas melodi yang tidak sesuai, meski kata-kata itu puitis dan bagus, belum tentu punya efek kuat. Di dalam teori menulis lagu, kesesuaian tersebut dinamakan "prosody". Bagi saya, prosodi merupakan elemen terpenting dalam lagu.

Kayaknya, hampir gak ada lagu mbak yang gak laris manis. Apa ada ritual khusus kalau mau menciptakan lagu tersebut?

Tidak ada. Menulis lagu itu ada miripnya dengan menulis cerita, kita harus melakukan proses pengecekan dan penyuntingan berulang. Yang saya lakukan hanyalah mengecek dan menyunting berulang kali sampai segalanya pas.

Kapan nih album terbarunya Dewi Lestari keluar? Apa mau fokus nulis buku terus?

Sejujurnya, belum tahu kapan. Keinginan ada, tetapi saya sudah begitu lama tidak bermain di industri musik, jadi rasanya asing dengan peta industri musik saat ini yang sudah berubah jauh dibandingkan saat saya masih aktif dulu.

Setelah reunian sama Rida & Sita di Festival Mesin Waktu, apakah ada rencana membuat album RSD yang baru? Atau hanya akan konser reuni saja seperti di acara tersebut? Kenapa?

Kami pernah berbincang bertiga, dan kami sama-sama merasa bahwa album baru bukanlah tujuan kami, meski tidak menutup kemungkinan itu terjadi jika ternyata ada momen yang serba pas. Kami cukup senang dengan sesekali manggung bersama membawakan lagu-lagu RSD yang lama. Lagipula, yang ingin didengar oleh penonton adalah lagu-lagu kami yang lama. Karena itu pula, pentas-pentas yang selama ini mengundang kami memang konsepnya nostalgia. Dan, kami tidak keberatan dengan itu, malah senang.

Kalau bikin lagu, sudah ada bayangan belum siapa yang akan nyanyikan lagunya?

Kadang-kadang. Terkadang saya "meminjam" suara vokalis tertentu saat berproses kreatif. Namun, hasil akhirnya belum tentu vokalis yang saya bayangkan itu yang menyanyikan.

Menurut Mbak Dewi, perempuan hebat itu seperti apa?

Yang nyaman dengan dirinya sendiri dan punya manfaat untuk orang lain.

Di era yang semakin canggih seperti sekarang, perempuan itu harus berbuat seperti apa? Apa tantangan kita sebagai perempuan?

Saya rasa, tantangannya sama bagi semua gender. Kita semua harus melatih diri berpikir kritis dan memutakhirkan pengetahuan kita agar tidak tergerus oleh kemajuan zaman dan teknologi.

Pernah gak sih mengalami diskriminasi gender di dunia kerja yang Mbak Dewi jalani?

Belum.

Ceritain dong pengalaman yang paling berharga atau terbahagia yang pernah dialami!

Ketika pertanyaan itu diajukan kepada orang yang sudah berusia 40 tahun lebih, menjawabnya susah karena sudah terlalu banyak pengalaman berharga dan bahagia.

Kalau momen yang paling bikin sedih?

Sama seperti jawaban di atas.

Siapa sosok yang paling menginspirasi Mbak Dewi, baik dalam menulis, bermusik, dan kehidupan sehari-hari? Apa alasannya?

Saya tidak pernah terinspirasi oleh satu orang saja, apalagi untuk bidang sebanyak itu. Dalam menulis, saya ingin terus berkarya hingga lanjut usia, seperti Pak Sapardi ataupun Goenawan Mohamad yang kiprah dan jasanya terhadap industri penulisan tetap signifikan meski beliau-beliau sudah berusia lebih dari 70 tahun. Untuk musik, sosok Erwin Goetawa juga menginspirasi. Beliau mampu konsisten mempertahankan kualitas kerjanya serta punya branding yang kuat.

Apa pesan Mbak Dewi buat para perempuan di Indonesia agar tetap survive dengan tantangan dan kerasnya zaman?

Kenali diri sendiri dengan baik, perkaya diri dengan ilmu dan wawasan, buka hati dan buka pikiran, belajar menerima keberagaman.


Zetizen Jawa Pos | Reuni RSD | Okt, 2019 | Melisa Nirmaladewi



1. Kayaknya kemarin asik banget nih, waktu Prambanan Jazz. Apa sih yang membuat kakak memutuskan untuk reuni di waktu sekarang?

Sebenarnya sejak 2015, RSD sudah manggung bareng lagi. Waktu itu untuk 90's Festival. Setelahnya setiap tahun, setidaknya satu kali kami ada show bareng. Itu bukan sesuatu keputusan yang punya permulaan yang tegas sih, lebih alami saja. Kalau ada pengundang yang tertarik, tanggalnya pas, budget-nya pas, kami akan manggung. Soal konsep, pastinya pengundang RSD memang sudah punya kebutuhan spesifik yang sesuai dengan kami. Mereka pastinya ingin mendengar lagu-lagu lama kami, dan penontonnya memang sudah tahu RSD dan lagu-lagunya.

2. Ada nggak hal unik yang selalu dilakukan bareng-bareng waktu ketemuan begini?

Buat kami, yang paling menyenangkan dari proses manggung bersama adalah kesempatan untuk bersua dan mengobrol. Berhubung kami ketiganya tinggal di kota yang berbeda—saya di Tangsel, Sita di Jakarta, dan Rida di Cimahi—kami tidak punya kesempatan banyak untuk bertemu. Jadi, punya jadwal manggung adalah kesempatan bagi kami untuk punya waktu bareng yang berkualitas. Hal baru yang kami lakukan setelah berkarier bareng sejak 1995 adalah membuat T-shirt. Menjelang Prambanan Jazz, suami saya, Reza punya usul untuk membuat T-shirt sebagai seragam pemain band. Akhirnya, RSD juga ikut bikin T-shirt. Untuk pertama kalinya kami punya "merchandise"... haha! Meski nggak dijual juga sih, hanya untuk dipakai sendiri.

3. Ada rencana melakukan hal bareng-bareng lagi nggak habis reuni di Prambanan Jazz kemarin?

Kami cukup senang dengan kesempatan sesekali bertemu, tanpa harus membuat single baru. Kalau ada kesempatan show lagi, pasti kami akan sambut baik. Namun, untuk bikin single baru upayanya berbeda, dan saat ini kami masing-masing sedang tidak punya kapasitas untuk itu.

4. Gimana sih cara kalian menjaga hubungan walau jarang ketemuan?

Sebenarnya pertemanan kami itu low-maintenance banget. Kami cuma punya WA grup bersama, sesekali saling menyapa lewat teks. Ngobrol yang intensif hanya kalau menjelang ada show. Anehnya, setiap kali bertemu, rasanya tidak ada jarak. Saya rasa itu mengindikasikan persahabatan yang solid. Bagaimana pun kami memang sudah saling kenal selama itu, dan sudah pernah melalui berbagai fase bersama-sama, jadi kedekatan emosionalnya tetap langgeng.

Wawancara Tugas Kuliah | Profesi Penulis | April, 2019 | Lathifa


1.     Menurut Anda, kompetensi apa saja yang harus dimiliki seorang penulis agar tetap bisa konsisten dengan karier menulisnya?

Seorang penulis baiknya memiliki keahlian dan teknik seni penceritaan yang baik. Ia pun harus menguasai tata bahasa Indonesia yang baik. Penulis juga baiknya memahami industri perbukuan secara umum, tahu apa hak dan kewajibannya ketika berhadapan dengan penerbit dan pihak lainnya. Dan, yang terpenting, penulis mau untuk terus mengasah ilmunya, terus memperluas wawasannya, dan produktif berkarya.


2.     Apakah Anda pernah memikirkan profesi lain selain apa yang telah Anda tekuni saat ini?

Saya sudah multiprofesi sejak lama. Saya punya karier musik, baik menyanyi maupun mencipta lagu. Jadi, sejak awal, menulis memang bukan karier saya satu-satunya. Di luar dari musik dan menulis, saya belum terpikir untuk menekuni profesi lain, karena dua hal itu saja sudah sangat menyita waktu saya. Saya lebih tertarik untuk mengeksplorasi kembangan-kembangannya, misalnya menulis genre nonfiksi, menulis buku masak, dll.

3.     Menurut Anda, bagaimana lapangan pekerjaan penulis saat ini? Apakah profesi penulis terutama penulis fiksi masih bisa populer hingga puluhan tahun mendatang?

Keahlian menulis itu menurut saya salah satu keahlian yang sangat berguna di segala bidang. Intinya, semakin seseorang mahir menulis maka logika berpikirnya semakin runut dan jernih. Hampir semua pekerjaan akan terbantu dengan kemampuan tersebut. Manusia sendiri akan selalu membutuhkan cerita. Sejak awal peradaban, manusia berkomunikasi lewat cerita. Bagaimana otak kita memahami realitas sama dengan bagaimana otak kita mencerna hasil imajinasi. Menurut saya, fiksi merupakan kebutuhan yang vital bagi manusia. Medianya mungkin bisa berkembang, seperti sekarang kita punya buku digital, dsb, tetapi keahlian yang dibutuhkan untuk memformulasikan dan memaparkan sebuah cerita pada dasarnya sama. Dan, ini akan bertahan selama peradaban manusia masih ada.



Tempo | Agen Literasi | Maret, 2019 | Isma Savitri


Bagaimana proses deal Mbak Dewi dengan Jacaranda Literacy Agency? Kapan mereka mulai mengontak Mbak Dewi, dan bagaimana tahapan prosesnya sampai berujung teken kontrak? 

Pada tahun 2014, saya berangkat sebagai delegasi penulis di Frankfurt Book Fair 2014, yang mana terjadi upacara serah terima / hand-over tampuk Guest of Honour dari Finlandia ke Indonesia. Sejak itu Indonesia sudah bergaung akan menjadi Guest of Honour di Frankfurt Book Fair 2015. Amazon Crossing, yakni penerbit imprint dari Amazon Publishing yang memang bergerak khusus di buku-buku terjemahan dari seluruh dunia, tertarik untuk menerjemahkan buku-buku dari penulis Indonesia. Karena di industri penerbitan internasional memang biasa digunakan jasa agen sebagai perantara (penerbit tidak berkontak langsung dengan penulis), maka sekitar bulan Maret 2015, Amazon Crossing mengontak Jacaranda Literacy Agency yang memang mengkhususkan diri di region Asia. Jacaranda lalu mengontak Tiffany Tsao, penerjemah sekaligus penulis yang sudah pernah punya kerja sama dengan Jacaranda (dan juga menerjemahkan Perahu Kertas—buku saya yang diterbitkan oleh Amazon Crossing), untuk memberikan rekomendasi buku-buku dari penulis Indonesia. Dalam daftar rekomendasinya, Tiffany Tsao mencantumkan nama saya dan Perahu Kertas. Berdasarkan nukilan terjemahan Perahu Kertas yang diajukan Tiffany, Amazon Crossing lantas tertarik untuk menerbitkan Perahu Kertas. Akhirnya, sekitar 6 bulan setelah kontak pertama dengan pihak Jacaranda, saya pun resmi mengikatkan diri dalam kontrak dengan Jacaranda, yang kemudian dilanjut dengan kontrak three-party bersama Amazon Crossing.  

Selain Jacaranda, agen literasi mana lagi yang melobi Mbak Dewi? Lalu mengapa akhirnya memilih Jacaranda sebagai mitra?

Dalam kurun empat tahun setelah kontrak dengan Amazon Crossing, setidaknya ada dua agen literasi internasional yang mengontak saya. Namun, sejauh ini belum ada ikatan kontrak apa-apa. Kontrak saya dengan agen literasi masih hanya dengan Jacaranda. 

Dalam kontrak, apa saja yang disepakati? (masa kontrak, royalti, dll)

Masa kontrak, cakupan kerja sama, besaran royalti, pembagian royalti dengan agen, sistem pembayaran, dll. 

Seperti apa sistem kerjasama dengan pihak agen?

Sebetulnya sederhana, hanya berbagi royalti saja. Namun, tentunya jadi ada pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya mediasi yang harus dilakukan oleh agen, antara lain melindungi hak penulis ketika berhadapan dengan penerbit, membantu mempromosikan dan menawarkan naskah saya saat mereka ikut book fair, dsb. 

Ada berapa publisher yang menerbitkan Supernova dan Paper Boats di luar negeri?

Supernova KPBJ (episode 1) diterbitkan oleh Lontar Foundation, penerbit dalam negeri, tapi ke dalam Bahasa Inggris dan dipasarkan secara internasional lewat Amazon, baik dalam bentuk digital maupun dalam bentuk print on demand. Perahu Kertas edisi Bahasa Inggris diterbitkan oleh Amazon Crossings, dan edisi Bahasa Melayu-nya oleh Litera Utama. Saat ini, Filosofi Kopi sedang dalam proses penerjemahan ke Bahasa Jepang dan akan diterbitkan oleh penerbit Sofia University Press. 

Seperti apa penjualan buku-buku tersebut?

Secara kuantitas, tidak bisa dibandingkan dengan penjualan di Indonesia tentunya. Kalau dari jumlah oplah, kesenjangan angkanya jauh. Namun, penjualannya cenderung stabil dan bertahan lama. 

Sejauh mana peran event London Book Fair 2019 dalam mempromosikan buku-buku Mbak Dewi dan sekaligus meningkatkan penjualannya?

Setidaknya dalam kasus saya, penjualan utama saya datang dari pembaca dalam negeri. Dari sudut pandang itu kehadiran saya di LBF lebih untuk memperkuat writership; bahwa saya dipercaya sebagai salah satu delegasi oleh pemerintah, dan karier kepenulisan saya dianggap dapat mewakili industri perbukuan Indonesia. Namun, bukan untuk meningkatkan penjualan. Promosi pun sifatnya yang lebih ke awareness, karena ada ekstra pemberitaan baik di media dalam negeri maupun di UK. Bukan promosi yang dipahami ketika kita misalnya baru merilis buku baru dan harus menggenjot sales. 

Indonesia menjadi sorotan dalam LBF 2019 ini. Menurut Mbak Dewi, apa imbasnya ke masa depan sastra Indonesia dan para penulisnya?

Kehadiran Indonesia sebagai sorotan utama di FBF, lalu di LBF, adalah jalan panjang untuk memancing ketertarikan publik internasional terhadap naskah-naskah Indonesia. Imbasnya tentu saja adalah bergaungnya Indonesia sebagai potensi sumber naskah untuk digali. Penerbit luar yang tadinya tidak tahu dan tidak kenal Indonesia, mulai melirik naskah-naskah dari Indonesia. Dan, perlu saya garis bawahi bahwa bukan cuma sastra. Menjebakkan diri untuk menjadikan karya sastra sebagai tolok ukur tunggal di pasar internasional menurut saya sebuah kesalahan yang membentuk ekspektasi tak realistis. Sastra hanya sebagian dari kekayaan naskah kita. Masih ada buku anak-anak, seni rupa, kuliner, nonfiksi, dan lain-lain.



Simpul Aksara | London Book Fair | April, 2019 | Namira D.

Sebagai penulis, apa saja persiapan yang dilakukan untuk menghadiri event internasional seperti LBF ini?
Persiapan saya lebih ke persiapan teknis—membuat visa, mencocokkan agenda dengan jadwal keberangkatan, dsb. Dengan pihak British Council yang menjadi sponsor sekaligus penyusun program, kami berdiskusi mengenai topik dari panel-panel yang akan kami isi. Kami juga mendapat beberapa kali briefing dari pihak KBN mengenai program selama di London, logistik di sana seperti apa, dsb. Ada juga permintaan wawancara media yang kami penuhi sebelum berangkat ke London, yakni wawancara-wawancara dari media UK yang sudah diatur lewat agensi relasi publik yang ditunjuk resmi oleh pihak British Council dan KBN. Wawancara itu ditujukan sebagai persiapan/pemanasan public awareness tentang Indonesia, baik tentang industri buku, budaya, maupun literasi.
Selama proses persiapan (misal saat meeting) topik apa yang paling sering dibahas?
Kalau dengan KBN sifatnya yang lebih teknis dan berhubungan dengan logistik, karena koordinasi untuk rombongan besar tentunya membutuhkan pengecekan banyak detail.
Proses apa saja yang dilalui dan dilakukan bersama-sama (dengan tim LBF) sebelum sampai di London?
Kami berkomunikasi lewat grup WA. Sepertinya ada banyak grup, tapi yang saya ikuti adalah grup penulis saja. Selain briefing, konferensi pers, dan pertemuan dengan media UK, kami juga melakukan sesi pemotretan dan pengambilan video untuk materi promosi acara.
Bagaimana pendapat Mbak Dewi secara umum atas acara Indonesia Paviliun di LBF 2019?
Programnya sangat ekstensif dan bagus-bagus, ada 100 acara yang total diselenggarakan dalam rangka LBF, dan tidak semuanya diadakan di paviliun, melainkan meliputi fringe event di berbagai tempat di London dan di luar London dalam rentang waktu kurang lebih sebulan. Yang saya pantau dari KBN, target pembelian rights di LBF telah tercapai, bahkan melebihi target. Target BEKRAF kepada KBN adalah 50 judul, dan sekarang rights yang sudah terjual 60, plus masih ada 400 judul dalam negosiasi. Jadi, dari tolok ukur target penjualan rights, bisa dibilang LBF 2019 ini sukses.
Apakah added value untuk Mbak Dewi sebagai penulis dengan adanya event sejenis London Book Fair 2019 ini?
London Book Fair tidak dibuka untuk umum, hanya untuk pelaku bisnis, jadi memang tidak bisa disamakan dengan festival literasi. Acara utama di book fair seperti LBF adalah perdagangan rights. Diskusi panel yang diisi oleh para penulis hanyalah pelengkap saja. Kendati demikian, para penulis yang berangkat ke LBF tentunya beroleh pengalaman dan ekspos media internasional. Bagi saya, nilai tambahnya adalah pengalaman dan wawasan. Kehadiran saya di sana belum tentu menggolkan buku saya tembus pasar internasional, tetapi lebih untuk berbagi sudut pandang serta situasi perbukuan dan literasi Indonesia ke publik UK.
Selain itu, adakah commercial value yang Mbak Dewi dapatkan sebagai penulis melalui event ini?
Nilai komersial rasanya tidak ada.
Menurut Mbak Dewi apa yang seharusnya dikejar dalam event seperti ini?
Book Fair adalah perdagangan rights, jadi yang harus dikejar memang penjualan rights sebanyak-banyaknya. Dalam hal itu, saya rasa jalur yang ditempuh saat ini sudah benar. Yang lebih harus diperhatikan dan dibina sebetulnya justru yang terjadi di luar book fair, yakni persiapan penerjemahan, peningkatan kualitas SDM penerjemah, pengenalan penulis-penulis Indonesia ke agen-agen literasi, dan peningkatan kualitas penulis itu sendiri. Di luar itu, cukup banyak penulis yang menurut saya punya kesalahpahaman terhadap acara book fair besar seperti LBF dan FBF, seakan-akan ketika sudah berangkat ke book fair maka kita pasti dikenal secara internasional, buku kita pasti diterjemahkan, dst. Kepenulisan kita itu justru dibangun di luar book fair, lewat karya dan hubungan kita dengan pembaca. Untuk menjangkau pasar internasional yang kita butuhkan adalah agen. Namun, kadang-kadang menjadi delegasi book fair dianggap sebagai pinnacle keberhasilan seorang penulis, padahal tidak seperti itu.
Kalau ini bukan book fair pertama yang pernah Mbak Dewi ikuti, apa pengalaman baru yang ditemukan saat di London?
LBF menurut saya pelaksanaannya cukup rapi. Jumlah rombongan tidak sebesar FBF 2015 jadi lebih mudah ditata. Pengalaman yang sama sekali baru sih tidak ada, tapi saya justru menikmati kebersamaan dengan para penulis Indonesia lainnya karena di LBF ini kami punya banyak program bersama-sama, berangkat dan pulang bersama. Saat FBF rasanya lebih terpencar-pencar.
Bagaimana opini personal atas literasi Indonesia hari ini?
Sejauh pengamatan saya, industri buku sendiri cukup bergairah. Semakin banyak platform alternatif yang bisa dipilih calon penulis, genre yang semakin semarak, dan banyak penulis muda bermunculan. Namun, masih banyak juga bagian dari ekosistem buku kita yang harus diperbaiki. Perhatian saya saat ini lebih ke hal-hal yang sifatnya kebijakan, seperti pajak royalti dan pajak buku, serta pembajakan buku, karena ini berpengaruh ke semua penulis dan ke keberlangsungan profesi penulis di Indonesia.
Adakah rencana proyek baru yang sedang atau akan dikerjakan dalam waktu dekat?
Buku saya ke-13, dan juga nonfiksi pertama saya, akan terbit setelah bulan Lebaran, yakni Di Balik Tirai Aroma Karsa. Sebuah buku yang mengupas teknik serta metode yang saya pakai untuk menulis novel Aroma Karsa.
Selama perjalanan ini, adakah buku bacaan yang memang dibawa oleh Mbak Dewi sebagai bahan bacaan selama berkegiatan?
Waktu ke London, saya masih sedang meneruskan buku Genome karya Matt Ridley.
Adakah makanan tertentu yang dicari atau memang ingin dimakan saat sedang berada di London?
Yang spesifik nggak ada. Tapi, saya menikmati pastry dan steak di London. Di seberang Olympia tempat LBF diadakan, ada restoran steak Argentina yang berkesan. Di dekat hotel tempat kami menginap juga ada kafe yang menjual pastry enak, setiap pagi saya bela-belain jalan kaki dari hotel beli croissant ke sana.

Five Books | The Best of Contemporary Indonesian Literature | April, 2019 | Cal Flyn


Is it a good time to be a writer in Indonesia?

It is. Many things still need to be done in terms of our book industry ecosystem, but looking back on how things were in the past—let’s say, compared to 2001when I published my first book—the situation is much better now. We now have prosperous authors who can truly rely on writing as their main profession. We have more book shops, more publishers, more online libraries, more literary festivals, more platforms to promote our works. Literary power and importance are something that public and government are more aware of.

Indonesian literature is not very well known in the English-speaking world. Why do you think that is? Do you think that is changing?

I think there hasn’t been a real roadmap and priority to use literary as our nation’s ambassador to the world. All this time, we had worked a lot more on our tourism. Literature was below on the list compared to culinary, fashion, and goods. That also reflects on the dwarf size of our book industry in the Indonesia’s creative economy. Translation is an art that cannot be rushed. And once a translation is done, you still need many more efforts just to catch the attention from the international readers and publishers. You don’t need to translate a dish, everything speaks for itself. But, in literature, language is the bridge, and we didn’t have enough translators nor did we have an exact plan on how to support the growth and quality of our writers and translators. But, I’m optimist that a change is in the making. Ever since 2015 when Indonesia became the Guest of Honour in Frankfurt Book Fair, I felt our book industry had a jolt of fresh spirit. The echo still continues to London Book Fair. In the past four years, I was involved and invited to speak to the ministers on at least three big book-related discourses: royalty tax, book tax, and book piracy. I even had a chance to voice out these concerns directly to the president. It’s something that was unthinkable before. Of course, the government’s and the book committee’s effort are not immune to criticism. But, nobody can deny that there’s a change going on.

You were a very successful singer-songwriter – what prompted you to move into writing fiction?

I always loved story telling since I was small. I attempted to write my first novel when I was 9 years old. I sent short stories to magazines when I was teenager. Of course, not all of those attempts were successful, most of them actually failed, but I couldn’t stop writing. During my singing career, I used my savings to buy a laptop. It was an unusual for a college student at that time to own a laptop. I took my laptop everywhere so I could write in between gigs. I remembered when I was nine years old, I this fantasy that someday I will see my book sold in a book store. So, when I finished my Supernova manuscript in September 2000, I thought “this is it. This will be my first book.” I finally self-publish my book in 2001 to celebrate my 25th birthday. I didn’t care if it sells or not, I didn’t even know how to sell books, I just wanted to fulfil my dream. It turned out to be a huge success. 7.000 copies sold in two weeks. It was beyond the best-selling standard in Indonesia at that time. And since Supernova was designed to be a series, I continued writing the instalments year after year. Writing then slowly took over my career. I didn’t have much time to focus on my music anymore. But, since I have been doing my music career for over than ten years already, I didn’t miss it that much. I enjoyed writing a lot more because it’s more solitary, less fuss, and less need for make-up, hairdos, and high heels. 

What is the first book you would like to recommend? Why?

Suddenly The Night, a poetry book from a prominent Indonesian poet, Sapardi Djoko Damono. Sapardi’s poems was very influential in my early introduction to literature. It taught a lot me about perusing nature as a source of metaphors. 


What is the second book you would like to recommend? Why?

Saman by Ayu Utami. The book came out at the right timing, right after the collapse of the New Order regime. The story broke many barriers of various taboos and sensitive topics, including the rise of women authors. To me, Saman was a mark of a new era in literature.

What is the third book you would like to recommend? Why?

Man Tiger by Eka Kurniawan. It depicts familiar facets of Indonesia, and yet those facets can be totally unique for the international audience. Eka’s writing has a distinct, masculine voice. I admire his seriousness in crafting his story.  

What is the fourth book you would like to recommend? Why?

Raden Mandasia by Yusi Avianto Pareanom. With ancient Indonesia as its setting, fueled with Yusi’s explosive—verging to chaotic, unapologetic, humorous style of writing, I’m interested to see if this book would get translated. I think Raden Mandasia will be an interesting and refreshing window to peek into the richness of Indonesian literature. 

What is the fifth book you would like to recommend? Why?

Kill the Radio by Dorothea Rosa Herliany. She’s one of the most prominent Indonesian female poets. I like the way Harry Aveling, the translator of this book, worked with Dorothea’s original poems. There was a debate about this. Some say Aveling took it too far, but some say what Aveling did was a “transliteration”. Instead of merely translating, Harry was giving another breath into Dorothea’s poems. And, I enjoy the result.


Air Asia Magazine | Profile | April, 2018 | Mahdiah



1.     Boleh ceritakan awal karier di dunia entertainment?
Saya sudah mulai berkarier di musik sejak mulai kuliah, tahun 1993, awalnya jadi backing vocal, antara lain untuk (alm) Chrisye, Iwa K, Padhyangan Project, Java Jive, Harvey Malaiholo, dan banyak lagi. Setelah dua tahun menjadi backing vocal, saya berkesempatan rekaman dengan trio Rida Sita Dewi yang diproduseri oleh Adjie Soetama dan Adi Kla Project. Saya merilis empat album bersama Rida Sita Dewi. Hobi menulis lagu dan menulis fiksi juga sudah dari kecil. Saya mulai bikin lagu dan mencoba menulis novel dari kelas 5 SD, dan hobi itu berlanjut sampai besar. Lagu ciptaan saya pertama yang masuk ke dapur rekaman adalah Satu Bintang di Langit Kelam, yang ada di album perdana Rida Sita Dewi. Awalnya saya hanya menulis cerita buat dikonsumsi sendiri, atau dibagi ke teman-teman dan keluarga. Baru tahun 2000 saya berniat serius untuk menerbitkan karya pertama saya, Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Sejak itu, saya dikenal sebagai penulis hingga sekarang.
2.     Seperti yang sudah diketahui, selain bernyanyi, Mbak Dee kini dikenal sebagai penulis serta pencipta lagu. Lantas, jika harus memilih lebih tertarik profesi yang mana?

Saya punya kebutuhan berbeda-beda untuk setiap pendekatan bercerita. Bagi saya fiksi dan lagu itu komplementer sifatnya, tidak saling menggantikan. Kepuasan yang dihasilkan masing-masing format juga berbeda, meski pada intinya sama-sama bagian dari seni bercerita.
3.     Mbak Dee dikenal sebagai sosok multitalenta, apakah ada hal baru yang hingga kini belum tercapai dan segera ingin diwujudkan?

Masih banyak jenis buku yang ingin saya tulis, mulai dari buku resep, buku anak, fiksi remaja, dsb. Saya juga ingin berkarya lagi di musik, entah dalam bentuk single, atau album. Tapi, karena waktu saya terbatas, saya hanya bisa fokus kepada satu atau dua proyek kreatif per tahunnya.

4.     Adakah buku karya Mbak Dee yang paling memorable?
Saya merasa paling dekat dengan karya yang saya tulis paling akhir. Pada saat ini, karya terasa paling dekat bagi saya adalah Aroma Karsa. Cukup banyak alasan lain mengapa Aroma Karsa paling memorable, salah satunya adalah proses risetnya yang saya dokumentasikan paling rapi dibandingkan buku-buku saya sebelumnya. Karena itu, saya bisa menerbitkan buku “behind-the-scenes”-nya, yakni Di Balik Tirai Aroma Karsa. Buku Di Balik Tirai Aroma Karsa sejauh ini baru terbit dalam format digital. Isinya mengenai proses kreatif, proses riset, dan berbagai strategi pemasaran yang saya lakukan saat menerbitkan Aroma Karsa.
5.     Apakah Mbak Dee merasa nyaman apabila karyanya dituang ke dalam sebuah film? Lalu, film apa saja yang membuat Mbak Dee merasa puas karena karyanya benar-benar terealisasikan?
Ketika penulis sudah bersepakat dengan produser dan menjual hak adaptasi karyanya, otomatis harus sepenuhnya menerima segala konsekuensi. Bagi saya persoalannya bukan nyaman atau tidak nyaman. Memang tidak semua adaptasi memuaskan bagi kreatornya, termasuk saya. Namun, saya harus melihatnya sebagai karya adaptasi, bukan lagi karya saya pribadi. Jadi, ketika saya melihat film yang diangkat dari karya saya, sebisa mungkin saya memandangnya sebagai karya film bukan lagi buku. Ada pakem dan aturan yang berbeda, ada banyak faktor penentu di balik pilihan kreatif sutradara dan produser. Jadi, dalam hal posisi itu, saya kembali menjadi penonton, dan menilai film yang ditonton, bukan lagi buku yang saya tulis.
6.     Berkaitan dengan Hari Musik Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Maret. Apa harapan Mbak Dee bagi industri musik Indonesia?
Saat ini ada keresahan dari banyak insan musisi tentang RUU Permusikan. Saya harap RUU tersebut dapat dibatalkan, atau setidak direvisi dan dipertimbangkan ulang dengan memperhitungkan aspirasi para musisi yang khawatir dengan potensi implementasi RUU itu kelak. Yang dibutuhkan para musisi adalah kejelasan tata niaga industri musik, bukan aturan yang mengatur dan mengekang kreativitas seniman.
7.     Pengalaman traveling yang mengesankan bagi Mbak Dee?
Wah, banyak. Kalau luar Indonesia, saya sangat suka dengan Jepang. Saya mengagumi etos kerja masyarakat Jepang yang tercerminkan dari segala hal yang mereka kerjakan, mulai dari kualitas makanan, cara menjaga toko, cara menyambut tamu, dsb. Kalau domestik, perjalanan ke Papua salah satu yang paling berkesan. Alam Papua itu benar-benar berbeda dari belahan Indonesia lainnya. Saya memperhatikan mulai dari warna tanah, serangga, tanamannya, semuanya luar biasa unik.
8.     Adakah pengalaman terseru konser pertama dan konser terakhir yang Mbak Dee tonton? 
Konser pertama yang saya tonton kalau tidak salah konser BB King, di Hardrock Café Jakarta, tahun 1992. Saya masih SMA waktu itu, di Bandung, bela-belain ke Jakarta naik kereta api yang penuh dan tidak dapat tempat duduk, jadi setengah perjalanan berdiri atau duduk di bordes. Pulangnya naik travel (dulu adanya 4848). Saya paling rajin nonton konser waktu masih SMA dan kuliah. Sekarang sudah jarang. Konser terakhir yang saya tonton adalah Konser Salute Erwin Gutawa di ICE BSD. Kenapa saya tonton? Karena Konser Salut tersebut didedikasikan untuk tiga penulis lagu-penyanyi perempuan, yakni Melly Goeslaw, Dewiq, dan saya. Hehe, jadi tidak mungkin saya tidak nonton.
9.     Penulis novel favorit Mbak Dee?
Sejujurnya saya belum menetapkan siapa novelis favorit saya, karena saya jarang mengikuti dengan setia karya seorang penulis fiksi. Saya bacanya cabutan. Dan, setiap penulis itu punya ciri khas masing-masing yang sulit saya putuskan siapa atau gaya mana yang lantas menjadi favorit saya. Kalau penulis nonfiksi, saya malah cukup banyak punya favorit. Salah satu yang lagi saya sukai banget adalah Yuval Noah Harari, saya baca ketiga bukunya.
10.  Tips menulis yang baik dan berkualitas dari Mbak Dee?
Menulis yang baik dan berkualitas itu butuh pembelajaran seumur hidup. Sulit dirangkum dalam tips singkat. Yang jelas, kalau kamu suka menulis, yang perlu dikejar adalah menamatkan karya kita terlebih dahulu. Dengan menamatkan, kita jadi semakin mengenal proses kreatif itu seperti apa, dan kita lebih berani untuk mencoba. Setelah berhasil punya beberapa karya yang tamat, kejarlah kualitas. Parameter “kualitas” itu subjektif, ada yang ukurannya popularitas, ada yang ukurannya oplah, ada yang ukurannya penghargaan, ada juga yang bukan semua itu tapi lebih kepada kepuasan pribadi. Apa pun itu, kualitas dikejar dengan itikad dan upaya untuk menulis lebih baik—lebih rapi, lebih jelas, lebih jernih, lebih memikat. Belajarlah dari tulisan orang lain, banyak membaca, dan sering berlatih.
11.  Bagaimana Mbak Dee menggeluti passion menulis hingga dapat memberikan karya yang begitu sukses?
Sama seperti yang saya tulis di atas. Saya menulis karena menyukai seni bercerita, dan dalam setiap buku, saya selalu berusaha memperbaiki dan mengejar cara bercerita yang menurut saya lebih baik: lebih efektif, lebih jelas, lebih memikat, lebih mengikat, dan seterusnya. Sukses dalam arti laku atau tidak, sangat sulit untuk dikendalikan. Kita tidak pernah tahu. Jadi, kalau bagi saya pribadi, saya berusaha untuk tidak mengejar “laku” atau “dapat penghargaan”, karena itu hal-hal yang tidak bisa saya kendalikan. Lebih memuaskan jika saya menulis karena saya mengejar cara bercerita yang bagi saya pribadi lebih baik daripada sebelumnya. Saya sebut itu “kaizen writing”, menulis dengan mengejar kemajuan yang berkesinambungan.
12.  Apa perbedaan membangun karakter dalam lagu dan dalam novel?
Pada dasarnya, dalam lagu kita tidak punya ruang gerak yang banyak. Karakter tidak bisa dibangun dalam lagu seperti halnya membangun karakter dalam novel. Yang bisa kita lakukan adalah agar pendengar mengidentifikasi dirinya menjadi karakter dalam lagu. Dengan demikian, yang kita ceritakan dalam lagu menjadi ceritanya sang pendengar. Tentu saja itu juga subjektif. Belum tentu semua orang otomatis ‘relate’ dengan lagu kita. Namun, membuat cerita lagu sebaik mungkin dengan melodi yang sinergis dengan kata-kata, bagi saya adalah pintu masuk agar orang bisa menemukan kisahnya dalam lagu.
13.  Tiga destinasi wisata paling favorit? 
Bali, Bandung, Jepang.
14.  Adakah kebiasaan tertentu sebelum menulis yang selalu dilakukan Mbak Dee?
Mandi. Mandi bagi saya seperti tombol “reset”. Saya selalu menulis pagi hari, jadi sebelum memulai hari, sebelum mulai menulis, saya “reset” tubuh dan pikiran saya dulu dengan mandi.

Wawancara Tugas Sekolah | Teknik Menulis | Feb, 2019 | Angie


1.     How do you set an atmosphere/tone throughout your work?

A tone can be based on many factors. For instance, it can follow the protagonist’s personality (is she/he cheerful, or rather gloomy). It can also follow the genre; if it’s a romantic story, then a writer can choose a rather romantic and artistic tone, and it can be reflected on the setting, the places, the events where scenes are taking place, etc. It can also be more than one, like a flow that changes as the storyline develops, i.e from gloomy to a bright/optimistic tone.

2.     How do you make sure you are engaging with the reader?

We won’t know for sure until our work reaches the readers. In the process, the only person I can count on is myself. So, as I write my story, I need to be as excited and as engaged as I want my readers to be. If it’s a funny scene, I need to make it’s funny to me as well. I need to laugh at my own funny scene, otherwise it probably won’t work for others either. I need to be in love with my characters, as I’d imagine my writers would be. So, make sure your writing is interesting for yourself first.

3.     How do you overcome writer’s block and get in the right state of mind to write?

Based on my experience, writer’s block mostly comes from technical issues. Sometimes we need to get technical to fix it. We need to fix the character, to fix the outline, to fix the plot, etc. The problem is, many beginner writers don’t like dealing with those issues. Hence, the writer’s block phenomenon is misunderstood as “lack of ideas”, or “lack of imagination”. Most of the time it’s not the idea or imagination that’s need to be fixed, it’s the writing. My best antidote for writer’s block is deadline. If you set a deadline and determined to accomplish it, you’ll find ways to overcome your difficulties. Just show commitment to your writing, set aside a dedicated time to work on it, daily. May it be thirty minutes or one hour. But, show up everytime.

4.     Do you have any other tips you could give me about writing in general?

For beginner writers, what you need to strive for is to finish whatever it is that you’re writing. Many people give up before they reach the end, therefore they never know the real struggle during the creative process. Once they can finish a writing, they will get more familiar with the whole process, and will have more courage and confidence to start another one. Practice a lot. Don’t worry about not being good enough. Once you’re familiar with finishing creative work and what it takes, strive for a better technique. Learn by reading good books, by reading books on writing techniques, attend seminars and workshops if you have to. But, find out what it takes to produce a more quality writing. Writing is a skill that takes a lifetime to learn. And that is good thing. It means there’s always a room for improvement, no matter what stage you are at in the given moment.