Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts

Monday, December 22, 2014

Perempuan.Com | Profil | Desember, 2013 | by Stephen Willy


Sejak kapan Dee tertarik untuk menulis? Apakah dulu sewaktu kecil Dee memang sudah bercita-cita untuk menjadi penulis?
Sudah hobi sejak kecil. Jadi cita-cita sih tidak, tapi menulis merupakan satu hobi yang selalu saya tekuni.

Apa yang membuat Dee mencintai dunia sastra?

Saya menyukai fiksi. Dan saya juga penikmat informasi. Sastra atau bukan, saya sebenarnya tidak terlalu peduli. Ada buku-buku fiksi yang saya suka dan bukan sastra, dan bahkan koleksi nonfiksi saya lebih banyak banyak daripada fiksi. Jadi, tepatnya, saya bukan eksklusif mencintai dunia sastra. Saya mencintai buku dan informasi.

Mana yang lebih Dee sukai, menyanyi, menulis cerita, atau mencipta lagu?

Ketiganya adalah bagian integral dari cara saya berekspresi, jadi saya suka ketiganya. Tapi mana yang jadi prioritas itu tergantung sikon. Saat ini menulis buku adalah yang paling nyaman karena memberikan saya fleksibilitas waktu untuk keluarga dan rumah tangga.

Adakah tokoh yang menjadi inspirasi Dee dalam dunia sastra? Dan apa karya sastra favorit Dee?

Saya tidak punya tokoh tunggal sebagai inspirasi, begitu juga karya favorit. Ada banyak dan berubah-ubah. Tapi satu buku yang saya sangat sukai sejak dulu dan masih sampai sekarang adalah Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono.

Pernahkah mengalami writer’s block? Jika pernah, apa yang Dee lakukan?

Pernah. Kalau saya punya deadline, biasanya saya terjang saja. Pokoknya saya upayakan untuk terus menulis. Tapi ada kalanya writer's block itu memang perlu disikapi dengan cara tidak fokus dulu ke menulis, melainkan melakukan aktivitas lain yang nggak ada hubungannya. Biasanya itu juga membantu proses penyegaran kita berkarya.

Berapa lama rata-rata waktu yang dibutuhkan oleh Dee dalam menulis sebuah novel? Saya pernah mendengar bahwa ketika menulis sebuah novel, Dee selama tiga hari berada di dalam kamar, menulis cerita dari awal hingga selesai. Namun gambarannya sendiri sudah ada dalam bayangan Dee melalui proses perenungan selama hitungan bulan. Benarkah demikian?

Yang di tiga hari di kamar nggak pernah tuh, mungkin salah dengar, hehe. Untuk novel saya selalu butuh bulanan, antara 9 bulan sampai 1 tahun, termasuk masa riset. Intensif menulisnya tok mungkin antara 3-5 bulan. Kalau cerpen memang bisa dalam hitungan hari. Tapi saya tidak pernah nonstop menulis. Pasti terselingi hal lain. Aktivitas dan kewajiban saya soalnya banyak, saya nggak bisa hanya menulis saja. Ada rumah tangga yang perlu diurus dan kegiatan lainnya, jadi saya harus terus membagi waktu. Kalau inkubasi idenya bisa tahunan, seperti Supernova. Tapi bisa juga cepat, seperti novelet Madre, yang idenya saya dapat ketika saya ikut kursus membuat roti, dan tidak lama kemudian langsung saya tuliskan menjadi cerita.

Seringkali saya mendengar bahwa ada beberapa rumusan khusus dalam menulis, baik fiksi maupun non-fiksi. Namun mengapa ada tulisan yang polanya sederhana tapi dapat menarik perhatian banyak orang? Satu contoh, buku diarinya Anne Frank yang sangat laris dan disebut sebagai salah satu karya sastra terhebat abad ke-20. Menurut Dee, adakah pakem-pakem tertentu yang harus dipatuhi oleh penulis dalam menulis suatu cerita?

Pakem dasar menurut saya ada. Tapi tidak berarti harus pakem teoritis. Selama seorang manusia bisa bertutur lisan dan ucapannya bisa dimengerti, menurut saya itu bisa diterjemahkan menjadi tulisan. Artinya, tulisan yang laris tidak berarti harus sempurna mengikuti pakem tertentu. Pada dasarnya, karya yang baik adalah karya yang bisa dipahami kontennya dan menyentuh pembacanya. Jelas saja buku Anne Frank sangat menyedot perhatian, karena pengalamannya itu berkaitan dengan peristiwa monumental yang menggugah dunia, terlepas dari Anne Frank mengerti pakem penulisan secara teoritis atau tidak. Selain itu, ada juga yang namanya editor, yang menurut saya fungsinya adalah untuk membantu tulisan seorang penulis agar lebih sesuai pakem, lebih rapi, dan lebih tertata. Jadi, kadang seorang penulis dibantu oleh beberapa pihak sampai bisa melahirkan produk jadinya yakni buku yang terbit di pasaran. Ada proses di balik itu semua.

Banyak sekali orang yang menemui dilema ketika harus memilih, antara mengikuti passion atau memilih pekerjaan yang realistis bagi mereka. Sama seperti yang Dee gambarkan pada sosok Kugy dan Keenan dalam Perahu Kertas. Apa masukan yang dapat Dee berikan bagi mereka?

Tentu kita dengan mudah akan terdorong untuk menganjurkan ikuti kata hati atau passion. Tapi kenyataannya memang tidak semudah itu. Saya pikir kita tetap harus cermat untuk mengamati situasi dan memilih apa yang riil. Mengikuti passion secara buta tanpa persiapan juga tidak bijak. Dan sebetulnya itu sudah diungkapkan oleh perjalanan Kugy dan Keenan. Meski pada akhirnya mereka memilih passion mereka, tapi pertimbangan yang mereka lalui cukup panjang dan berliku. Dan baru ketika sudah ada pijakan yang cukup pastilah mereka baru berani melangkah lebih jauh.

Apa arti cinta menurut Dee?

Energi.

Apa proyek yang sedang Dee kerjakan saat ini? Dan adakah cita-cita ataupun keinginan yang belum sempat terwujudkan?

Saya sedang mulai menulis Supernova berikutnya berjudul Gelombang. Minat atau pun keinginan saya sih masih banyak, tapi yang akan diseriusi sampai ke tahap karya mungkin akan terseleksi oleh waktu. Saat ini saya fokus ke menulis Supernova dulu.

Buat pembaca yang tertarik untuk mengikuti jejak Dee menjadi seorang penulis, adakah saran maupun masukan yang dapat Dee berikan untuk mereka?

Banyak membaca, tapi yang lebih penting adalah banyak menulis. Tidak ada cara lain untuk menulis selain menulis.

Sunday, December 21, 2014

Soap Magazine | Profil: The Dark Side of Dee | Juni, 2005 | by Johan Sihotang


Dee’s Past

Aku kepingin tahu, masa kecil seperti apa sih yang telah membentuk seorang Dewi Lestari sekarang? Mungkin background khusus keluarga, kepribadian salah seorang tua yang cukup unik? Atau mungkin kehadiran masalah keluarga yang cukup besar sehingga sanggup membentuk kepribadian Dewi sekarang?

Keluarga saya itu sangat unik. I’m blessed to be raised in such family. Ayah saya, sekalipun perwira militer, sesungguhnya berjiwa seniman, he’s a fun person, musisi otodidak yang kreatif. Dan kualitasnya diimbangi oleh ibu saya yang sangat sistematis, tertata, but very thoughtful. Hasilnya kami berkesempatan untuk mengeksplorasi sisi seni kami, tanpa mengabaikan sekolah. Bisa dibilang kami punya modal disiplin tapi juga ‘keliaran’ kreativitas. Kalau masalah hampir nggak ada. Cuma Mama kadang-kadang kelewat hemat, kami hampir nggak pernah punya mainan, jarang beli barang baru. Tapi pikir-pikir, itu juga yang mendorong kami jadi kreatif, dan punya drive untuk bercita-cita. 

Apa trauma terbesar Dewi saat masih kecil, mungkin belum bisa didefinisikan sebagai trauma, tetapi yang tidak menyenangkan dan masih keinget, masih ada nga ya dampaknya sampai sekarang? (seperti saya masih ingat dipukuli teman-teman sendiri)

Hmm. Apa, ya. Barangkali waktu kelas 2 SD dulu, saya pernah lomba lari, tapi sepatu saya model loafer yang gampang copot, akhirnya pas lari sepatu saya lepas, diketawain satu sekolah. Sejak itu saya jadi nggak pede sama sekali dengan pelajaran olah raga dan segala permainan fisik. Sampai SMA saya bolos terus pelajaran olah raga, ngaku sakit segala macem, padahal sehat-sehat saja, bahkan I’m actually an active person. Saya sampai punya template surat sakit, memalsu tanda tangan ortu, pokoknya jadi sneaky berat, hanya untuk menghindari pelajaran satu itu. Hehe.

Ada nggak sih pengalaman-pengalaman di masa kecil dulu yang memalukan, lucu, memorable; mencium (lebih dulu) teman cowo mungkin? Apa yah cita-cita Dewi sewaktu kecil dulu, sudah terpikir untuk menjadi seorang selebritis sepeti sekarang?

Waktu kecil pengin jadi dokter hewan, karena cinta sekali sama binatang. Hanya kandas karena takut saya pada serangga melampaui cinta saya sama binatang. Hehe. Lalu arsitek, tapi kandas juga karena malas bermatematika ria, hanya sampai sekarang saya senang sekali menata interior, dsb. Anehnya, sekalipun tidak masuk ke daftar cita-cita, tapi yang saya lakoni secara konsisten sejak kecil memang seni. Baru saat kuliah, ketika pada semester 2 saya mulai membiayai hidup bahkan kuliah saya sendiri, saya tersadar bahwa hobi tersebut telah bertransformasi menjadi profesi. And it’s simply something I cannot live without. Saya tidak pernah lagi berpikir menjadi sesuatu yang lain.


Dee’s Train of Thoughts

Apa sih yang diinginkan dan dicari Dewi dalam hidup ini, dengan mengulik-ulik dunia spiritualnya? Mungkin beberapa orang sudah cukup nyaman dengan ‘spiritualitas pemberian’ (orang tua, masyaraktnya), kalau orang lain bilang hidup sudah terlau susah tanpa mempertanyakan kembali sisi spiritual, atau apakah karena ‘enggan mengutak-atik’ itu manusia merasa lebih susah?

Untuk seseorang sampai pada kembara spiritual yang sesungguhnya memang dibutuhkan satu titik balik. Ahli agama bisa berkhotbah sampai berbusa-busa, tapi kalau panggilan itu tidak muncul dari dalam hati, maka kita tetap jalan di tempat dan bahagia dengan itu. Saya setuju, pengembaraan spiritual itu memang bikin susah, tidak menjadikan hidup kita tambah mudah. Ada ungkapan yang mengatakan ‘ignorance is a bliss’. Ketidakmautahuan bisa jadi membuat hidup kita aman, tenang. Sementara keingintahuan justru menempatkan kita dalam track berbatu, menyakitkan, dicemooh, dst. Namun saya percaya, saat spiritualitas lama kita diguncang maka itu berarti kita sudah siap ‘naik level’. Sama halnya bersekolah, yang secara berkala kita harus ujian naik tingkat, dan nggak selamanya adem ayem tanpa diuji. Usaha saya menulis Supernova pun sekadar untuk berbagi, bahwa: this is my test, this is my exam sheet, how’s yours? Mereka yang berada pada tahap yang sama pasti akan connect. Mereka yang sudah lewat akan tersenyum simpul. Mereka yang belum sampai akan mengapresiasinya dengan cara yang lain lagi. I want nothing but to share. 

Kapan sih Dewi menemukan tujuan hidupnya seperti sekarang? Ada kejadian khusus yang melatar belakangi? (Sigmund Freud; women barely knows what they wants)

My series of epiphany took place by the end of 1999, sebelumnya pertanyaan saya tentang spiritualitas sudah menumpuk, tapi meledaknya pada saat itu. Buku yang menyatukan puzzle dalam otak saya adalah Conversation with God – Neale Donald Walsch. Semenjak itu pandangan saya terhadap Tuhan, hidup, dan juga diri, berubah total. Dan semenjak itu pulalah saya bertekad untuk sharing apa yang saya alami, dan berhubung talenta saya adalah menulis, plus cita-cita sejak kecil adalah menulis buku, maka tahun 2000 saya menulis Supernova.

Dengan kesuksesan seperti sekarang, kenapa memilih hidup berkeluarga dengan anugerah kehadiran seorang anak di sisi Anda? Dengan merepotkan penitian karir yang sedang baik-baik nya?

Kalau istilah ‘repot’ yang dipakai maka seolah-olah pilihan berkeluarga merintangi sesuatu. Menurut saya tidak demikian. My life is one assorted package. Kalau isinya melulu karier maka hidup ini pun terlalu sempit rasanya. Untuk bertumbuhkembang sebagai pribadi yang utuh manusia akan memilih beragam hal. Saya pribadi, memilih menikah dan punya anak. Karier sebagai salah satu aspek tentunya beradaptasi dengan kondisi tersebut. It is a challenge, but not an obstacle. Kalau dulu saya bisa nulis begadang dari malam sampai pagi, sekarang jadwal seperti itu tidak bisa dipertahankan.Tapi tidak berarti saya lantas tidak dimampukan untuk berkarya, kan. Hanya saya sekarang saya nulis pada jam yang lain, dengan pola yang lain. Sebetulnya yang bikin stres itu kan ekspektasi. Kalau nggak ingin stres, ekspektasi kita nggak usah ambisius. Kalau dulu pengin berpromo buku 4-5 hari dalam seminggu, sekarang 1-2 hari saja. Tiga harinya bisa dikompensasi dalam promo lain, perbanyak poster, pasang iklan, misalnya. Jadi hanya masalah beda siasat saja.   

Apa sih arti image untuk Dewi Lestari, hidup dengan ‘jaim’ terus, apalagi setelah menjadi selebritis dan menjadi sorotan public?

Image itu seperti peliharaan yang harus terus diberi makan. Everybody has an image to feed. Bukan cuma figur publik, orang biasa pun punya, hanya saja mungkinpeliharaannya lebih kecil dan relatif lebih mudah di-handle. Semakin besar dan gemerlap image yang dipunya, ya, maintenance-nya pun makin susah. Bahkan sampai tingkat tertentu tidak jarang image menjadi lebih besar dari diri kita yang sesungguhnya, sehingga kita dikendalikan image dan bukan sebaliknya. I just have to keep in mind that image is something partial, is a part of us but not us. Secara proporsional kita harus punya ruang dan waktu untuk melepaskan segala image yang melekat dan rileks dengan keberadaan kita yang sesungguhnya, bukan yang dituntut masyarakat. I’d like to think my image is like my Golden Retriever. It’s fun, friendly, and when it’s unleashed, you can feel safe knowing that it won’t kill you while you’re asleep.

Apakah Dewi punya misi jauh ke depan pada setiap pekerjaan yang dilakoni (menulis dan menyanyi)?

Rasanya saya sudah mantap dengan trek pekerjaan ini. Saya juga merasa beruntung menemukannya cukup dini. Jadi program saya hanyalah berkarya dan berkarya. Kalaupun ada pengembangan sifatnya lebih ke pelebaran audiens, satu saat saya ingin karya-karya saya bisa ‘go global’. Nggak cuma di Indonesia saja. 

Saya sempat gemas sekali dengan karakter Elektra (PETIR) yang begitu pemalas, sial terus menerus, tetapi ahirnya beruntung juga dengan perkenalannya dengan bisnis dunia maya warnet. Kenapa sih harus eksistensinya harus seperti itu?

Elektra adalah representasi metamorfosis manusia. Beda dengan Bodhi, atau Diva, yang jelas-jelas sejak awal dianugerahi kualitas ‘super’, Elektra butuh proses panjang untuk menemukan potensi dirinya. Bahkan kisahnya dalam Petir pun sebetulnya masih berupa awalan saja. Elektra mewakili sosok girl next door yang biasa banget, tapi sesungguhnya punya potensi luar biasa. Dan dia menemukannya dengan caranya sendiri, yang konyol, tapi sesungguhnya punya kedalaman. I had so much fun with Elektra, really. Menuliskannya sangat enjoyable, bahkan bisa membuat saya sendiri ngakak-ngakak.


Dee’s Dark Side

Seperti Bapak Freud mengutarakan kehadiran 3 elemen penting dalam setiap unik pribadi seseorang: id, ego, superego. Kali ini aku ingin melihat sisi gelap seorang Dewi Lestari. Dan karena ini majalah cowok Mbak, maaf sebelumnya jika saya ingin menanyakan hal-hal di sekitar seks dan juga hal-hal absurd lainnya, haha. Feel free not to answer. Sewaktu Mbak Dewi diributkan dengan masalah cover buku yang bertuliskan lambang umat Hindu, seperti apa Mbak dewi menanggapinya, sempat marah dulu?

Awalnya sempat kecewa, kesal juga. Bukan apa-apa, tapi karena hal tersebut seperti disengajakan untuk bocor ke pers terlebih dahulu, wartawan tahu duluan lewat faks yang sampai ke mereka beberapa hari lebih awal dibandingkan surat resmi ke saya. Jadi saya menerima kesan bahwa sebagian permasalahan lebih berupa cari sensasi bukan cari solusi. Tapi secara global kasus itu menyadarkan saya bahwa inilah gambaran masyarakat Indonesia. Spektrum consciousness level masyarakat kita sangatlah luas. Dari yang ekstrem fundamentalis sampai universalis ada di sini. Dan masalah simbol itu (dan kasus-kasus seputar simbol berikutnya) merepresentasikan bagaimana Tuhan diproyeksikan begitu beragam. Tidak ada yang salah, semua berpijak dari persepsi kita atas Tuhan, dunia, dan dirinya sendiri. Keputusan saya untuk akhirnya berunding dan berkompromi pun berpulang dari kesimpulan saya bahwa Tuhan tidak perlu dibela dan tidak perlu berpromo (baik lewat sampul novel atau sampul buku apa pun). Lenyapnya lambang Om dari Akar tidak berdampak apa pun bagi Tuhan. Dia tidak tambah besar, tidak juga tambah kecil. Tidak lebih ditinggikan, tidak juga lebih rendah. Wajah dan tapak Tuhan ada di mana-mana, dalam renik debu sekalipun, jadi buat apa didebatkan? Kasus kover Akar dan kasus sejenis sesungguhnya bukan kasus benar atau salah, tapi kasus yang tak perlu ada, alias nggak penting.

Kita terkadang hidup dengan defense mechanism (denial, proyeksi) masing-masing, yang terkadang perlu sewaktu menanggapi masalah, untuk memiliki mental yang sehat (saya sendiri sering ‘bertindak saat baik pada seseorang’ di saat saya justru sangat membencinya). Kalau Mbak Dewi seperti apa, ya?

Defense mechanism saya adalah dengan jurus ‘bird’s eye view’. Ketika ada masalah muncul, saya berusaha berpikir bahwa masalah itu menimpa Dewi Lestari, bukan diri saya yang sesungguhnya. Dewi Lestari itu kan kumpulan opini dari hasil konsensus sosial yang ditumpukkan sejak saya lahir. Seperti kain perca yang menyelimuti kesejatian kita. So when shit happens, it doesn’t really matter. Hanya keterikatan kita pada label sosial kitalah yang menjadikan itu ‘matter’. Tapi kalau kita berpulang pada diri kita yang ‘nonmatter’ then things ‘doesn’t matter’ anymore. Got it? Jurus bird’s eye view itulah yang, menurut saya, dapat sejenak membebaskan kita dari ilusi duniawi, termasuk segala masalah. Ketika beban tersebut lepas, solusi lebih jernih pun bisa didapat.

Pernah nggak menyakiti perasaan orang lain sampai teringat terus, atau bahkan masih bermusuhan sampai sekarang?

Disakiti kali, ye. Pernah. Nggak enak banget. Sebenarnya perasaan marahnya sudah bermutasi seperti ‘nggak usah kenal aja, deh. Kita beda frekuensi’. Beberapa kali dikhianati masalah bisnis, padahal dulunya teman baik, makanya sampai sekarang saya jadi berhati-hati sekali bisnis sama orang, kalau teman/saudara malah saya udah nggak mau sama sekali. Karena kalau ada apa-apa, sakitnya nggak worth it sama hasilnya. Lebih baik nggak usah.

Menyakiti atau disakiti? Yang mana yang lebih baik jika harus memilih?

Hmm. I have to say ‘disakiti’. Hehe. Kalau menyakiti you have to forgive yourself, which is even harder.

Hal apa yang bisa membuat Dewi merasa menjadi manusia terkejam di dunia?

Absolutisme. Tidak memberikan ruang untuk memilih dan wawasan akan pilihan yang ada. Menurut saya, semua kejahatan terbesar dalam sejarah manusia bermuara di situ. Merasa diri absolut yang paling benar dan tidak memberikan ruang bagi opsi.

Pernah tebersit ingin bunuh diri? Karena semua mulai terasa berantakan. Ke mana biasanya Anda ‘berlari’?

Nope. I cannot comprehend a suicide. Yet. Sepertinya dibutuhkan kasus berlatar belakang super luar biasa agar saya bisa memahami/memaklumi aksi bunuh diri. Tapi saya percaya kematian seharusnya adalah gerbang menuju sesuatu yang lebih baik. 

Bagaimana dengan membunuh, pernah paling nggak tebesit untuk membunuh orang lain?

Membayangkan membunuh in action sih, nggak. Tapi kalau membayangkan Bumi ini dikurangi populasinya sampai paling tidak setengah, pernah. Bahkan sering. Is it the same thing? I dunno.

Bagian tubuh pria yang paling menarik? Seperti saya yang adalah “leg person” hahaha…

Neck – one that’s firm, not too slender. Flat abdomen is also appealing. A bit muscley arm is nice as well. Dan juga urat kecil yang suka nongol di jidat, nggak tahu itu apa, but for me it’s a beautiful sight to see. But above all, pria yang menarik itu tidak dinilai dari tubuh, tapi auranya saat dia sedang asyik-asyiknya bekerja, now that is very sexy.

Pernah nggak sih menolak cinta orang lain, sampai pria itu begitu sakit hati?

Sering. Hehehe. But truly, it’s not something that I’m proud of. Seringnya saya jadi sedih dan miris. Cinta itu kan energi yang luar biasa, ya. Begitu melihat cinta salah alamat saya suka miris, andaikan cinta berbalas pasti dentumannya luar biasa. Tapi kalau tidak rasanya seperti nabrak dinding. Saya cuma berharap dinding itu bisa disikapi seperti cermin, jadi energi itu bisa terpantul dan menjadikan kita tambah kuat, bukannya malah buyar nggak karuan. Nggak jarang saya menyesalkan my unfortunate position sebagai si ‘penolak’, seriously. Lebih baik ditolak, kali. Terlebih kalau sikap atau kebaikan kita ternyata mislead or misguide other people. Aduh, nggak enak banget. 

Apa arti seks untuk Dewi Lestari?

Sex is one of God’s primal languages. Sex in a big picture is to exchange. Pertukaran dan saling-silang energi yang menghasilkan kehidupan baru. 


Wednesday, December 17, 2014

Portal Berita KabarIndo | Industri Kreatif | Januari, 2010 | by Arul Arista


Apa ada korelasi imajinasi merangkai kata dari untaian kalimat prosa dengan kreativitas?

Menurut saya, imajinasi adalah sumbernya, kreativitas adalah mesinnya, jadi keduanya berkorelasi. 

Memulai kalimat inspiring dari sisi apa?

Dari pesan dasarnya dulu, apa yang sesungguhnya ingin kita sampaikan.

Apakah fakta atau cerita-cerita orang menarik dijadikan karya sastra?

Sebuah karya memang selalu merupakan gabungan dari imajinasi dan fakta, yang bisa berupa cerita/pengalaman orang, atau pun cerita/pengalaman kita sendiri. Setidaknya itu yang selama ini saya lakukan.

Supernova bisa didaulat sebagai produk industri kreatif?

Tentu saja. 

Hal apa saja yang menarik dari industri kreatif?

Karena pekerjaan saya memang ada di bidang kreatif, bagi saya segalanya tentang industri kreatif jadi menarik.

Indonesia 2010 sedang meniti era Komputasi Sosial. Jejaring Sosial seperti FB dan Twitter ibarat jamur di musim hujan, ada pendapat? 

Sudah saatnya. Sebagai salah satu negara berpenduduk terbanyak di dunia, Indonesia punya potensi besar untuk memiliki jejaring sosial yang signifikan.

Apa asyiknya dengan aktivitas update status dan Twitter?

Bisa berkomunikasi langsung dengan pembaca/penggemar karya, bisa brainstorming secara virtual dengan orang-orang yang kompeten, dan bisa terhibur dengan interaksi yang terjadi.
 
Cinta menurut Dee, apa? 

Cinta, bagi saya, pada dasarnya adalah energi. Energi yang menggerakkan segalanya.
 

Tuesday, December 16, 2014

Hers Magazine | Profil | Juli, 2005 | by Ina


Orang pertama kali mengenal Anda sebagai penyanyi, bagaimana ceritanya sampai tiba-tiba Anda ingin jadi penulis? 

Sebetulnya hobi menulis itu sudah sejak kecil sekali, bahkan bisa dibilang sebelum menyanyi. Kalau hobi bermusik lebih dulu subur karena terdorong oleh keluarga dan lingkungan yang pecinta seni semua, tapi hobi menulis benar-benar hadir secara independen. Saya juga tidak pernah ikut lomba atau aktif mengirim ke media cetak, jadi betul-betul asyik buat sendiri saja. Paling-paling saya sebar ke teman-teman sendiri dan keluarga. Meskipun begitu, keinginan untuk menulis buku memang sangat kuat, hanya tunggu timing dan karya untuk menjadi titik awal, dan itu saya temukan ketika mulai menggarap naskah Supernova tahun 2000. Saya berpikir ‘inilah saatnya, inilah yang akan menjadi buku pertama saya’. Dan itu juga bedanya dengan karier musik saya yang berjalan mengalir begitu saja, it’s given, sementara dalam menulis I have to make it happen. Ada satu awalan yang saya mulai sendiri, yakni menerbitkan dan memasarkan Supernova secara independen.

Kenikmatan apa yang Anda dapatkan saat menulis?

Bagi saya, menulis itu menjadi media komunikasi saya dengan jiwa. I’m communicating with myself, between the little self and the Big Self. Dalam level substansi, bagi saya menulis bukan lagi sekadar hobi tapi kebutuhan rohani. It’s how I keep my sanity.

Apa yang biasanya menjadi inspirasi utama Anda dalam menulis?

Cinta – evolusi dan metamorfosanya. Karena dinamika pemahaman kita akan Cinta itu sejalan dengan dinamika pemahaman kita akan diri, dunia, dan Tuhan.

Dari keseluruhan seri novel Supernova, mana yang paling Anda sukai?

Ketiganya merupakan pengalaman yang tak terbandingkan. Dan itu yang ingin saya dapat sekaligus hadirkan dalam Supernova, setiap seri merupakan pengalaman yang berbeda-beda. Dalam Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ) saya mendapatkan kepuasan eksplorasi berpikir, keindahan saat rasio dan insting melebur. Sementara dalam Akar saya mendapat pengalaman mind traveling, saat pikiran saya harus mengikuti jejak Bodhi ke berbagai tempat. Kalau Petir saya bisa melepaskan sisi ‘gila’-nya Dewi Lestari yang sebenarnya sangat senang bercanda.

Misi atau pesan apa yang sebenarnya ingin Anda sampaikan dalam keseluruhan buku Supernova?

Supernova merupakan cerminan pergelutan spiritual kaum muda dalam zaman Aquarius, yang mana peran generasi kita pada zaman ini sangat krusial dalam penentuan nasib dunia kelak. Value utama dalam Supernova adalah self-inquiry. Kita harus menggali diri kita ke dalam untuk tahu identitas kita yang sesungguhnya, dan setelah itu didapatkan maka niscaya kita akan memperlakukan diri kita, Bumi, dan sesama makhluk hidup, dengan respek dan tanggung jawab. 

Karakter yang Anda tulis dalam setiap seri Supernova apakah secara tidak langsung menggambarkan pribadi dan karakter Anda sendiri? 

Setiap karya tentunya merupakan ekspresi subjektif penciptanya. Supernova tidak terkecuali. Kalaupun tidak langung merupakan penggambaran Dewi Lestari, tapi pastinya pikiran maupun ide-ide saya tertumpangkan ke dalam tokoh-tokoh Supernova maupun alur ceritanya.

Bagaimana Anda menggambarkan karakter dan kepribadian Anda?

I’m multidimensional. Tanggal lahir saya perbatasan Capricorn-Aquarius, shio saya perbatasan Kelinci dan Naga. So I guess my personality is a mix between equally strong but contrast qualities, and my challenge is to bring the best out of those two sides and at the same time learn to embrace the down sides of both.

Anda juga dikenal sebagai pecinta lingkungan hidup, ada nggak niatan untuk menulis buku tentang lingkungan?

 Tentunya ada. Saya akan memulainya dengan seri Supernova berikut yakni Partikel di mana tokoh utamanya, Zarah, adalah seorang environmentalist yang juga berprofesi sebagai seorang nature photographer. Walaupun masih dalam kerangka besar Supernova, tapi setidaknya ide-ide dan pesan-pesan saya tentang urgensi isu lingkungan bisa tersalurkan.

Atau mungkin, salah satu seri buku Supernova ada yang ingin dikembangkan menjadi film layar lebar, tertarikkah Anda untuk menulisnya menjadi naskah skenario film?

Hmm. Masih belum kepikiran, sih. Kalau keinginan untuk bikin skenario film sih ada, tapi mungkin bukan Supernova. Karena bagi saya Supernova masih cerita yang belum utuh tamat, kalau serial itu selesai mungkin-mungkin saja kemungkinan itu jadi terbuka. 

Lirik-lirik yang pernah Anda tulis dalam album RSD terdengar sangat puitis dan filosofis? Dari mana Anda mendapatkan sumber inspirasi dan imajinasi dalam merangkainya menjadi satu kalimat lirik lagu? Apakah itu hanya karangan atau ada hubungannya dengan pengalaman pribadi Anda?

Dari semua tipe kepenulisan, bagi saya menulis lirik lagu merupakan pekerjaan yang paling menantang sekaligus paling memuaskan. Kita harus mengkondens cerita dalam beberapa bait dan harus mengawinkannya dengan melodi sehingga peleburan itu terasa sempurna dan bukan tempelan. Analoginya, bagi saya membuat lirik itu seperti ngisi TTS. Menantang otak sekaligus rekreasi. Nggak semua pengalaman pribadi, tapi sedikit banyak ada tercampur-campur. Karena tetap dong butuh dramatisasi, tidak semuanya kisah pribadi itu cukup menarik untuk diangkat, hehe.

Bagaimana cara Anda mendidik atau menanamkan nilai-nilai pendidikan pada si kecil? 

Karena Keenan masih 10 bulan, mungkin belum terlalu terasa, ya. Tapi saya sih natural saja sama dia. Jangan malu untuk jadi jelek atau gila-gilaan, pokoknya we just have to be fun. Yang paling penting  bagi saya adalah dia tumbuh dalam kasih. Interaksi kita harus akrab, nggak formal. Dia juga harus diajarkan untuk cinta lingkungan dan respek sama makhluk lain.

Adakah obsesi untuk ‘mempersiapkan’ si kecil menjadi penulis atau seniman seperti Anda? Atau ada obsesi lain? 

Kami sebagai orang tua sudah pasti akan membesarkan anak dengan tendensi. Sama seperti ayah saya yang suka musik, sekalipun dia tidak menyuruh kami jadi musisi, tapi dengan menghadirkan alat musik di rumah, sering bernyanyi-nya, dsb, akhirnya kami jadi terbawa. Keenan juga pasti tumbuh besar dalam tendensi profesi kami berdua. Saya pasti akan mendekatkan dia dengan buku, dengan musik, dengan seni. Ayahnya pasti mengajak dia ikut main drum, atau membawa dia ikut kalau show, dsb. Saya nggak tahu outcome dari itu semua, apakah kemudian dia mengikuti jejak kami berdua atau tidak, yang jelas kami akan berusaha memfasilitasi semua potensi dia. I just want him to become the best at what he’s good at.

Rencana Anda ke depan baik sebagai penulis atau penyanyi?

Untuk menulis ya tentunya menamatkan serial Supernova, menerbitkan kumpulan cerita dalam waktu dekat. Kelak, saya ingin menulis cerita anak. Untuk nyanyi penginnya bikin album solo, tapi nggak ngoyo. Kalau bisa terealisasi tahun ini sudah bagus banget. 
 

Tabloid Gaya Hidup Sehat | Kesehatan | Maret, 2011 | by Feira

Menurut Anda apa arti kesehatan itu?

Kesehatan buat saya adalah syarat utama untuk menjalankan dan menikmati hidup. Dan apa yang bisa menunjang kesehatan sangatlah berlapis, jadi bukan hanya aspek fisik saja, tapi juga mental dan spiritual. Jadi, kalau kita ingin memperhatikan dan menjaga kesehatan, menurut saya nggak bisa parsial hanya dari aspek fisik. Psikis, ketenangan batin, kedamaian hati, adalah faktor penting yang akan menentukan kondisi kesehatan seseorang.

Bagaimana Anda mendidik anak tentang kesehatan?

Dengan memberikannya info yang jelas tentang makanan/minuman dan apa efeknya untuk tubuh, juga mengawasi apa yang ia konsumsi. Sering-sering mengajaknya tertawa, bermain. Kalau buat saya, untuk anak itu lebih ke terapan sifat edukasinya.

Apa makna cinta yang Anda dapatkan setelah menikah?

Saya melihat cinta sebagai sesuatu yang realistis dan hidup. Perlu dipelihara dan dirawat melalui banyak cara. Bagi saya, kejujuran, mendengarkan, sekaligus berkomunikasi yang lugas dan jelas adalah hadiah cinta terbaik yang bisa diberikan pada pasangan.

Kapan ingin merilis album lagi?

Belum ada rencana dalam waktu dekat. Tahun ini akan menulis buku lagi dulu.

Femina | Pencerahan & Spiritualitas | Juni, 2009 | by Naomi Jayalaksana


Saya yakin, bahwa Dewi juga pernah mengalami masa-masa pencarian dan keraguan yang meliputi makna hidup, Tuhan, dan kebahagiaan. Kegelisahan atau pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang kerap muncul di benak Dewi saat itu? Bagaimana prosesnya perjalanan pencarian Dewi hingga akhirnya menemukan jawaban tersebut? Berapa lama?

Saya nggak tahu persis berapa lama, sejak kecil memang saya sudah tertarik dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial. Tahun 1998 saya mengalami peristiwa yang membuat saya harus mempertanyakan ulang arti cinta, dan setelah itu pertanyaan saya berkembang menjadi arti hidup, lalu arti Tuhan. Dan setelah itu saya bertemu dengan buku Conversation With God yang di dalamnya banyak beresonansi dengan perenungan saya selama itu. Hingga akhirnya tahun 1999 saya mengalami semacam epifani, semacam ekstase spiritual, dan sejak itu pandangan saya tentang Tuhan, agama, cinta, hidup, berubah sama sekali.

Apakah Dewi juga pernah melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan jawaban itu, misalnya ke Nepal, atau negara-negara lain? Menurut salah satu sumber, Dewi dan suami berencana untuk melakukan perjalanan spiritual ke Peru? Bisa dishare kisahnya, tentang tujuan dari Dewi dan suami?

Enggak sih, saya belum sampai melakukan perjalanan jauh, walaupun keinginan ada. Tapi saya sering ikut retreat meditasi, salah satunya ke Hong Kong, untuk ikut retreat bersama Thich Nhat Hanh. Rencana ke Peru sebagian besar dengan tujuan riset untuk novel saya Supernova Partikel, tapi terpaksa ditunda karena kehamilan. Tapi di Peru saya memang ingin mengunjungi situs-situs sakral dan ikut ritual sakral Ayahuasca bersama shaman di sana.

Adakah trauma atau sebuah kejadian yang membuat Dewi merasa gelisah, namun berhasil "disembuhkan" ketika Dewi akhirnya menemukan pencerahan itu? Bisa di-share kisahnya?

Sejak saya meditasi sebetulnya saya juga belajar bahwa hidup adalah kesempatan untuk menyembuhkan rangkaian trauma, dan trauma ini kita dapat bukan hanya dari kehidupan sekarang, tapi juga kehidupan-kehidupan lampau yang kemudian tertanam di DNA kita. Jadi nggak ada satu kejadian yang spesifik sih, tapi begitu banyak penyembuhan yang saya alami sejak mendalami meditasi.

Meminjam istilah Oprah Winfrey, apa "a-ha moment" Dewi, dan kapan serta bagaimana Dewi mendapatkan momen itu?

Tahun 1999, saya mengalami peristiwa di mana terjadi komunikasi langsung antara saya dengan “the higher self”, yah, namanya bisa macam-macam, orang ada yang menyebut Tuhan, dsb. Lalu tahun 2000 saya mendapat peristiwa visualisasi yang juga mengubah pandangan saya tentang realitas selama ini. Dan waktu saya belajar meditasi vipassana di Mendut, saya juga mengalami bahwa segala sesuatu tidak ada yang permanen termasuk apa yang kita sebut sebagai “diri” atau “self”. Pada tahun 2007, saat mengikuti retreat Enlightenment Intensive di Ubud, saya mendarat di present moment yang sangat powerful bagi saya saat itu. Bagi saya, kompilasi peristiwa-peristiwa tadi tidak lain adalah proses evolusi pribadi saya. Caranya bermacam-macam dan a-ha moment-nya juga macam-macam.

Seperti apa konsep kebahagiaan bagi Dewi? Adakah perbedaannya sebelum dan sesudah Dewi menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan pada nomor satu?

Kebahagiaan bukanlah yang terpenting meski itu adalah yang semua orang cari. Kesadaran atau keelingan lebih penting. Karena kebahagiaan juga pada akhirnya pudar, sama dengan kedukaan. Nggak ada orang yang terus-terusan bahagia, nggak ada juga orang yang terus-terusan susah, semuanya berganti-ganti dan nggak ada yang tetap. Namun menyadari keduanya sebagai fenomena dan menyambut keduanya dengan tangan yang sama-sama terbukalah yang membuat hidup ini lebih mudah dan realistis untuk dijalani.

 Bisa tolong di-share, perubahan pada pribadi Dewi: The "Then Dewi" and "Now Dewi" setelah mendapat pencerahan.

Menurut saya pencerahan itu bukan sesuatu yang fixed, tapi terus berjalan dan berubah. Saya lima menit yang lalu pun tidak sama dengan Dewi yang sekarang. Secara global, saya merasa lebih realistis dan lebih santai.
 

Thursday, February 19, 2009

COSMOPOLITAN | Fun Fearless Female | May, 2006 | By Intan Pradina

1. Kabarnya album Out of Shell sudah rilis? Bagaimana rasanya telah merampungkan satu proyek yang makan waktu lama dalam prosesnya? Semua Anda kerjakan sendiri mulai dari bikin lagu sampai produksi?

Rasanya plong! Karena proyek ini tertunda lama banget. Mungkin bisa dicatatkan di MURI sebagai album yang persiapannya paling lama, hehe. Saya memang mengerjakan semuanya hampir sendirian, bahkan kalau lagi rekaman saya kadang-kadang merangkap jadi ‘office girl’ juga, beliin makanan buat kru, musisi, dsb. Demo pertama saya buat sejak tahun 1997, dan master sudah jadi dari tahun 2002. Waktu itu kendalanya karena masih terikat di Sony, tapi ketika keluar dari RSD tahun 2003 pun saya masih belum bisa keluarin karena menikah lalu hamil, 2004 punya anak, 2005 Keenan masih kecil banget, nah… baru 2006 inilah, setelah sudah bener-bener nggak tahu album itu musti diapain, tahu-tahu jalannya terbuka begitu aja. Out of Shell pertama rilis di I-Tunes dulu, dua minggu kemudian baru di toko-toko. Sebagian pembiayaan album ini sempat dibantu juga oleh Triawan Munaf, tapi operasionalnya saya kerjakan sendiri.

2. RSD dulu sukses. Begitu pun buku-buku Anda, laku keras! Apa resepnya?

Wah, apa, ya? Mungkin karena semua dilakukan dengan cinta. Memang kecintaan saya ada di musik dan menulis. Ukuran laku sih relatif ya, tapi kalau kita melakukan profesi kita atas dasar cinta, passion, pasti hasilnya memuaskan, setidaknya dari ukuran kreatornya. Faktor lain yang nggak kalah penting lagi adalah kerja keras. Mempromosikan buku sebenarnya sangat melelahkan dan menyita waktu, makanya nggak semua penulis mau melakukannya. Tapi sejauh ini saya memilih untuk seoptimal mungkin berpromo karena saya rasa itu yang terbaik bagi buku itu sendiri.

3. Sepintas melihat Dee, yang terbayang Dee itu tipe pemikir dan orangnya serius. Tapi saat membaca beberapa karya Anda seperti Petir dan cerpen Rico De Coro (Filosofi Kopi), sepertinya sisi humor Anda tinggi juga bahkan cenderung “gila”. Benarkah?

Bener banget. Untuk banyak hal saya memang serius, sangat-sangat serius, saya senang berpikir, merenung, melamun, kontemplasi, dan bacaan saya juga kebanyakan serius dan berat. Tapi di sisi lain saya ini pencinta humor sejati, sangat senang tertawa, sangat ringan, konyol, bahkan “gila”. Itu terlihat dari sahabat-sahabat saya yang sangat beragam, dari mulai yang ancur-ancuran lucunya sampai ke para pemikir yang sangat serius. Dan memiliki kedua sisi itu, menurut saya, adalah cara terbaik untuk menikmati hidup. Ada yang bilang, ketika orang sudah mencapai pencerahan dia justru akan tertawa. Saya setuju banget. Untuk jadi tercerahkan biasanya kita setengah mati memeras hati dan otak, tapi kalau pada ujungnya nanti kita malah nggak bisa ketawa, maka pencarian itu sia-sia. Tidak ada cara terjitu untuk memaknai hidup selain lewat humor.

4. Imajinasi Anda pasti tinggi. Pernahkah merasa “kewalahan” dengan talenta Anda itu? Bagaimana Anda mengatur untuk dapat menampung seluruhnya dalam wadah yang tepat?

Kayaknya saya tiap hari kewalahan soal itu, deh. Haha! Dan memang itulah tantangan saya terbesar, mengorganisasi begitu banyak ide dan menyusunnya dalam rancangan kerja yang realistis. Selama ini, yang sering menjadi batu sandungan saya adalah jumlah ide dan keinginan yang tidak sinkron dengan kemampuan riil. Solusinya adalah kompromi dengan diri sendiri. Di kepala saya ada sepuluh proyek, tapi di atas kertas saya cuma bisa mencantumkan dua atau tiga, dan saya tidak boleh terhanyut rasa frustrasi atau gemas karena yang sisanya itu belum bisa direalisasi. Intinya sih, just get real. Dan untuk bisa realistis bagi seorang pemimpi seperti saya itu adalah tantangan besar.

5. Apa hal-hal yang bisa bikin Anda tertawa lepas dan gembira?

Almost anything. Saya punya sekelompok sahabat, yang kalau sudah dengan mereka dijamin saya bisa lepas dan gila. Dengan keluarga saya pun begitu juga, kami selalu mampu menemukan hal lucu. Momen terlucu yang baru-baru ini terjadi adalah ketika saya di restoran masakan Sunda di Cirebon, dan saya menemukan hal aneh di buku menunya. Jadi untuk menerjemahkan masakannya ke bahasa Inggris mereka pakai istilah Latin, mungkin karena ingin sekali terkesan serius dan akurat. Misalnya, “Keripik Emping” diterjemahkan jadi “Gnentum Gnenom Cracker”, “Ikan Mas Bakar” jadi “Grilled Cyphrinus Carpio”, “Pete Goreng” jadi “Fried Parkia Speciosa”, dan masih banyak lagi. Sumpah, saya ketawa sampai ternangis-nangis, setengah jam lebih nggak berhenti. I think that’s the best kind of humour. Ketika sesuatu tidak dimaksudkan untuk lucu, ditemukan nggak sengaja, dan absurd.

6. Apa sisi paling mengasyikkan dari pekerjaan Anda sekarang?

Bertemu begitu banyak orang yang berkualitas. Bertemu dengan para pembaca saya yang bilang ‘buku Anda menginspirasi saya’, ‘buku Anda mengubah hidup saya’. Itu tak terkatakan rasanya.

7. Anda bahagia menjadi Dee karena... ?

I can do what I love the most, and actually can make a living out of it. Untuk satu hal itu, I consider myself very, very lucky.

8. Orang-orang dekat Anda mengatakan Dee itu identik dengan apa?

Kata adik saya: Joget Norak dan Suara Dua. Haha! Berhubung di rumah cuma lagi ada dia, jadi saya nggak ada tambahan dari yang lain.

9. Anda pernah diprotes soal cover novel Akar yang menyinggung satu agama tertentu. Bagaimana reaksi dan sikap Anda menghadapi hal itu?

Setiap agama pasti punya kelompok chauvinist yang memang hobinya mengklaim ini-itu sebagai milik eksklusif kelompoknya, dan ini merupakan ciri umum dari agama di seluruh dunia. Ketika saya membahas masalah universal seperti spiritualitas, yang merupakan jantung tiap agama, pastinya akan beririsan dengan lapisan periferinya juga, yaitu dengan orang-orang yang pandangannya masih eksklusif dan sempit. Fenomena ini wajar sekali. There’s no wrong or right, hanya sudut pandang yang berbeda. Dan, saya pikir masyarakat pun bisa bijak melihat esensi dari masalah seperti itu. Toh di berbagai kasus yang serupa pun yang protes juga masih orang-orang yang sama.

10. Menurut Anda, sisi fearless Anda muncul pada saat Anda...

Saat saya jatuh cinta. Rasanya apa aja bisa dilakukan. And also in those short moments when I feel that life is actually a whole, inseparable, and everything is one.

11. Apa arti seksi buat Anda? Anda mengatakan seorang wanita tampak seksi bila?

Sexy is a state of mind. Sexy is an energy that when transcended becomes nothing but love. Jadi seksi sesungguhnya adalah kemampuan untuk mencinta. Ketika seseorang tampak sangat nyaman dengan dirinya sendiri, menurut saya itu sangat seksi. Penerimaan diri itu bukan hal yang mudah, tidak bisa dicapai dengan kosmetik atau operasi plastik, dan sepertinya orang-orang modern makin keras berjuang untuk bisa diterima. Mereka cari guidance dari majalah, dari iklan, dari macam-macam. Ada yang ketemu, tapi lebih banyak lagi yang malah tersesat. When a woman finally arrives at a point where she can claim: “This is me. And I’m happy and comfortable with myself”, it’s when she reaches the sexiest point of her life.

12. Anda suka membaca apa? Musik siapa yang Anda dengarkan?

Bacaan saya kebanyakan seputar spiritualitas, sains, filsafat, kesehatan, parenting, ekologi, dan beberapa fiksi. Kalau sekarang lagi suka baca bukunya Graham Hancock yang mendekonstruksi sejarah pra-primitif dan bicara soal The Lost Civilization, dan yang lebih menariknya lagi adalah ternyata penelitian tsb masih berhubungan dengan global warming yang kita hadapi sekarang. Lagi baca bukunya Osho juga. Untuk musik saya kebanyakan suka band atau singer-songwriter, saya suka Tears for Fears, Sarah McLachlan, Paula Cole, dll.

13. Apa pengaruh keluarga/orangtua dalam membentuk karakter Anda hingga seperti sekarang ini?

Sangat besar. Mereka tidak pernah intervensi kerjaan saya secara langsung, tapi keberadaan mereka sebagai sebuah sistem penyokong memungkinkan saya bisa berkembang seperti ini. Ayah saya sangat demokratis, berpikiran terbuka. Ibu saya cenderung disiplin, intelektual. Kakak-adik saya “gila” semua, mereka memang seniman-seniman sejak kecil, dan sampai sekarang pun bekerja di bidang seni. Jadi kreativitas sudah jadi kegiatan sehari-hari dari kami kanak-kanak.

14. Apa yang kamu lakukan untuk relaksasi, keluar dari 'rutinitas' sebagai selebriti?

Santai di rumah saja, nonton TV kabel, nggak keluar-keluar, bahkan seharian nggak mandi, itu sudah jadi relaksasi. Sesekali ke bioskop, atau nongkrong ketemu teman-teman lama.

15. Apa impian Anda saat ini?

Pingin travelling. Banyak sekali yang ingin saya lihat tapi sejauh ini waktunya belum ada. Mudah-mudahan setelah Keenan agak besar, setelah proyek-proyek buku selesai, saya ingin off dulu beberapa lama dan hanya travelling.