Showing posts with label Film Rectoverso. Show all posts
Showing posts with label Film Rectoverso. Show all posts

Sunday, December 21, 2014

Rolling Stone Indonesia | Film Perahu Kertas | Agustus, 2012 | by Wening Gitomartoyo


Penulisan novel Perahu Kertas dilakukan dengan 'mengasingkan diri' selama 60 hari. Bagaimana dengan penulisan skenario filmnya? Dan berapa lama pengerjaannya?

Untuk skenario saya nggak menargetkan waktu seperti saat menulis novel. Saat menulis skenario, prosesnya saya barengi dengan belajar dasar teorinya juga. Jadi, cukup lama juga saya berkutat dengan buku-buku penulisan skenario, membaca skenario film yang menurut saya bagus dan mempelajari strukturnya. Saya lebih lama bermain dengan struktur ketimbang penulisannya, karena tantangan skenario Perahu Kertas adalah memuat cerita yang begitu besar ke dalam skenario 100 halaman tanpa merusak grafiknya. Belum lagi penulisan skenario tersebut harus mengakomodasi keinginan tiga produser (Pak Chand Parwez dari Starvision, Pak Putut dari Bentang Pictures, dan Hanung Bramantyo dari Dapur Film). Jadi, cukup lama proses bongkar pasangnya. Kira-kira setahun saya mengerjakan skenario Perahu Kertas.

Hal apa yang dirasa paling pelik dalam 'memindahkan' karakter-karakter novel ke dalam film?

Tidak banyak perubahan dalam karakter. Karakter-karakter di novel sudah cukup kuat. Namun, saya merasa, dalam film, cerita dan karakter harus dipertegas gradasinya. Harus ada tokoh-tokoh yang menajamkan konflik. Untuk itu, saya memunculkan beberapa tokoh "baru", tepatnya, tokoh yang sudah ada di novel tapi dikembangkan sedemikian rupa sehingga mereka memiliki porsi yang lebih besar dan signifikan. Misalnya, tokoh Siska (partner kerjanya Remigius) dan Banyu (pemahat di Ubud). Dua tokoh itu ada di novel, tapi hanya selewat, di film mereka diperbesar dan punya porsi signifikan dalam hidup tokoh-tokoh utama.

Film biasanya tidak bisa seleluasa novel, dalam arti ada hal-hal yang harus dikorbankan atau dihilangkan. Bagaimana Mbak Dewi berkompromi dengan hal ini?

Itu hal yang saya sadari sejak awal. Karena itulah saya mengajukan diri sebagai penulis skenario Perahu Kertas sejak awal kerja sama. Saya berpikir, kalau ada orang yang bisa tega memutilasi cerita Perahu Kertas, ya, harus saya orangnya. Sayalah orang yang memahami betul fondasi cerita Perahu Kertas, hingga sayalah yang bisa memutilasinya tanpa membunuh spirit ceritanya. Konsekuensinya, kalau ada yang protes kenapa cerita beda dengan novel, ya, saya jugalah orang yang diprotes. Nggak bisa cari kambing hitam. Hehe.

Bagaimana komentar Mbak Dewi untuk Hanung Bramantyo sebagai sutradara film ini? Apa dari awal memang sudah menginginkan Hanung di posisi itu?

Untuk pemilihan sutradara, kami pitching bersama (saya, Pak Chand Parwez, dan Pak Putut). Ada empat nama sutradara yang sempat dicalonkan. Sejak awal, Pak Parwez sudah sangat yakin dengan Hanung, karena menurut beliau, Hanung tipe sutradara yang mampu memegang banyak pemain, pas dengan karakter Perahu Kertas yang punya tokoh banyak. Sayangnya, Hanung sempat tidak bisa karena jadwal kerjanya nggak matching. Setelah rencana rilis Perahu Kertas diundurkan ke Agustus 2012, jadwal Hanung kembali memungkinkan, dan akhirnya Pak Parwez kembali mengusulkan Hanung. Jujur, tadinya saya ragu. Tapi, setelah kenal langsung dengan Hanung, intuisi saya seketika mengatakan, dialah orang yang tepat. Apalagi akhirnya Hanung bukan cuma menyutradarai, tapi ikut terlibat sebagai produser dengan perusahaannya, Dapur Film.

Mbak Dewi juga terlibat dalam pemilihan pemain filmnya. Bisa diceritakan bagaimana prosesnya? Sulitkah 'memasangkan' karakter-karakter di novel dengan para aktor/aktrisnya?

Keterlibatan saya lebih konsultatif, sih. Proses casting tetap sepenuhnya dijalankan oleh Zaskia. Menurut Zaskia sendiri, inilah proses casting tersulit yang pernah dia lakukan. Casting Perahu Kertas itu seperti orkestrasi, semua pemain saling terkait, jadi kalau ada satu yang diubah, yang lain harus ikut berubah. Maudy adalah pemain yang pertama kami kunci, dan memang sayalah yang meyakini bahwa Maudy adalah pemain yang tepat untuk Kugy. Setelah semua pihak setuju, barulah kami menyesuaikan semua pemain berdasarkan tokoh Kugy yang sudah kami kunci.

Selain Maudy Ayunda, film Perahu Kertas juga memuat Rida Sita Dewi dalam soundtrack-nya. Apa yang memicu ini, dan bagaimana saat kembali menyanyi setelah beberapa tahun tidak bersama?

Ide melibatkan RSD sebenarnya sudah cukup lama ada di benak saya, tepatnya ketika saya menuliskan adegan terakhir Perahu Kertas. Ada satu lagu yang saya rasa pas banget untuk adegan itu. Lagu lama saya yang belum pernah dirilis, saya tulis mungkin sekitar tahun '96, judulnya "Langit Amat Indah". Tahun segitu saya lagi senang-senangnya dengan Indigo Girls, jadi lagu itu pun feel-nya kurang lebih seperti lagu-lagu Indigo Girls yang cenderung folk, dinyanyikan lebih dari satu orang, dst. Saya pun iseng terpikir untuk menyanyikannya bareng RSD. Ternyata para produser, termasuk Trinity Optima yang mengerjakan soundtrack-nya, bersemangat dengan ide tersebut. Saya sendiri baru mengontak Rida dan Sita menjelang rekaman. Mereka juga ternyata bisa dan semangat untuk rekaman lagi. Rasanya lucu campur aneh, ya. Bayangkan, kami terakhir rekaman 8 tahun yang lalu. Sudah nggak tahu lagi suara kita kalau digabung seperti apa. Begitu rekaman, ternyata belum berubah, termasuk kelakuannya juga. Jadi, seru banget proses rekamannya waktu itu.

Penulisan lagu-lagu untuk soundtrack Perahu Kertas memakan waktu berapa lama? Bagaimana proses merangkum cerita panjang di novel menjadi lirik lagu?

Sejak awal pula saya sudah tahu akan melibatkan diri dalam soundtrack. Saya rasa, dengan profesi saya sebagai musisi dan pencipta lagu, sangat alamiah jika saya pun berpikir tentang Perahu Kertas dalam format musik. Jadi, ketika skenario selesai, saya langsung membuat lagu "Perahu Kertas". Saya pilah-pilah mana ide yang perlu dimasukkan, dan juga kata-kata kunci seperti "perahu kertas", "surat cinta', "radar", dsb. Jadi terasa jelas keterkaitan lagu dan film. Saya menciptakan lima lagu untuk soundtrack ini. Ada empat lagu baru (termasuk "Perahu Kertas), dua di antaranya bahkan saya tulis dalam waktu seminggu saja, karena baru kita ketahui slotnya ketika sudah nonton preview pertama kali. Satu lagu yang sudah saya tulis lama tapi belum pernah dirilis, "Langit Amat Indah" (RSD). Sisanya: "Tahu Diri" oleh Maudy Ayunda, "Dua Manusia" oleh Dendy Mikes, "A New World" oleh Nadya Fathira. Di luar dari lagu saya, ada Triangle Band ("How Could You") dan Adrian Martadinata ("Behind The Star").

Kabarnya Mbak Dewi sempat ragu akan kemampuan Maudy Ayunda menyanyikan theme song Perahu Kertas. Bagaimana setelah mendengar hasil akhirnya?

Usia Maudy masih sangat muda, dan saya tadinya ragu apakah dia punya kematangan cukup untuk bisa menyelami lagu tersebut. Tapi Maudy ternyata menguasainya dengan baik. Satu hal tentang Maudy, menurut saya dia orang yang sangat cerdas dan perseptif, dengan mudah dia memahami apa yang dibutuhkan darinya, dan apa yang kita mau. Jadi, prosesnya cukup mulus.

Selain Perahu Kertas, Rectoverso juga akan dibawa ke layar lebar oleh beberapa sutradara perempuan. Sulitkah menaruh kepercayaan pada orang lain atas pembuatan karya Mbak Dewi dalam format lain?

Memang tidak mudah. Tapi saya sendiri bukan tipe kreator yang fanatik, dalam arti saya masih bisa melihat karya saya berkembang dari benak orang lain, dan malah penasaran seperti apa hasilnya. Yang sulit sebetulnya adalah menjaga agar karakter dan "flavor" Dee tetap ada dalam karya-karya yang dikembangkan tersebut, karena itu yang rentan hilang. Sementara menurut saya justru "flavor" itulah yang paling dikenali oleh pembaca. Jadi, kalau bukan saya terlibat langsung, ya, saya harus benar-benar berani melepas. Di Rectoverso, keterlibatan saya memang agak "nanggung", karena saya tidak menulis skenario atau casting, dan hanya terlibat secara konsultatif saja. Tapi, ya, kita lihat nanti. Saya rasa Marcella dan teman-teman sudah bekerja dengan sangat serius untuk mewujudkannya menjadi film yang cukup baik.

Sindo Weekly | Profil | Agustus, 2012 | by Diah Ayuningtyas


Bicara mengenai novel Dewi Lestari yang diangkat ke layar lebar, Perahu Kertas dan Rectoverso, apa yang melatarbelakangi dua novel tersebut terpilih sebagai base story film yang akan diangkat ke layar lebar? 

Sebenarnya pertanyaan itu lebih tepat diajukan ke produser. Karena dalam hal ini, saya menjadi pihak yang ditawari, bukan menawarkan diri, jadi pertimbangan untuk memfilmkan sepenuhnya adalah keputusan dan ketertarikan para produser. Untuk Perahu Kertas ada 3 PH yg terlibat: Bentang Pictures, Starvision, dan Dapur Film. Sementara Rectoverso adalah Keana Production (Marcella Zalianty). 

Dewi Lestari sendiri ikut ambil peran dalam pembuatan film tersebut such as mengisi soundtrack atau ikut menjadi salah satu cast film-film tersebut? 

Di Perahu Kertas saya diminta main, tadinya buat jadi cameo, tapi nggak ada slot yang tepat, akhirnya jadi salah satu pemeran kecil, cuma satu scene doang, hehe. Untuk soundtrack saya memang terlibat, ada lima lagu yang saya ciptakan untuk OST Perahu Kertas. Dalam Rectoverso, lima lagu saya juga dipakai, tapi dinyanyikan ulang oleh penyanyi-penyanyi lain, antara lain Glenn Fredly, Drew, Dira Sugandhi, dan Acha Septriyasa. Saya nggak terlibat main di Rectoverso, hanya menjadi konsultan informal saja. 

Bagaimana proses mulai dari pengambilan keputusan dua novel tersebut terpilih sampai benar-benar diangkat jadi skenario dan lain-lain? 

Sebagaimana yang saya jelaskan tadi, pemilihan cerita-cerita mana yang diangkat adalah keputusan produser. Perahu Kertas sudah ditawari untuk difilmkan sejak tahun 2008, tepatnya ketika saya mencari penerbit untuk novel Perahu Kertas, dan saat itu Bentang Pustaka datang bersama dengan Mizan Production untuk ikut pitching. Jadi, sejak awal tawaran penerbitan sudah dibarengi dengan tawaran untuk difilmkan. Saya tertarik, dengan syarat saya yang menulis skenarionya dan dilibatkan dalam pemilihan cast. Ini memang sudah menjadi rencana saya sejak lama. Saya selalu membayangkan Perahu Kertaslah buku saya yang pertama kali difilmkan, karena materi ceritanya memang sangat filmis. Dan untuk menjaga spirit dari buku, saya ingin terlibat sebagai penulis skenario. Bisa dibilang saya seperti konsultan garis miring produser informal untuk Perahu Kertas, karena memang saya dilibatkan cukup jauh. Dari mulai skenario, pemilihan sutradara, casting, soundtrack, dll. Saya senang sekali karena diberikan ruang dan keterlibatan yang cukup luas oleh Bentang Pictures, Starvision, dan Dapur Film. Skenario Perahu Kertas saya kerjakan kurang lebih setahun. Untuk Rectoverso, keterlibatan saya nggak sedalam itu, sifatnya hanya lebih konsultatif saja, karena dalam Rectoverso pihak yang terlibat sudah cukup banyak berhubung ada lima sutradara dan lima penulis skenario. 

Setelah Perahu Kertas dan Rectoverso, sudah ada rencana untuk novel lain dari Dewi Lestari yang akan diangkat ke layar lebar, seperti Filosofi Kopi atau Partikel? 

Yang sudah pasti akan difilmkan adalah Supernova 1 dan Madre. Filosofi Kopi sedang dijajaki. 

Untuk penulisan skenario, apakah Dewi Lestari juga turut serta? 

Dalam Perahu Kertas, saya penulis skenarionya. 

Bicara mengenai karier sebagai penulis, apa keluarga memberi dukungan penuh? 

Sangat. Saya nggak akan mungkin bisa menjalankan begitu banyak proyek menulis jika bukan karena dukungan keluarga saya, khususnya suami saya, Reza Gunawan. Dialah support system saya yang paling penting. Kehadiran keluarga juga memberikan balans bagi saya, karena pekerjaan menulis kalau nggak dijaga rambu-rambunya cenderung menghanyutkan dan membawa kita ke dunia sendiri. 

Bagaimana kabar RSD (Rida, Sita, Dewi)? Masih eksis atau tidak? Bagaimana RSD memberi bukti atas ke-eksisannya di dunia musik Indonesia? 

RSD secara formal sudah bubar sejak 2003. Tahun 2007 kita pernah konser reuni, dan tur ke 12 kota di Jawa Barat. Sampai sekarang sih kami belum terpikir untuk bikin album. Namun, di soundtrack Perahu Kertas, saya iseng-iseng mengajak Rida & Sita untuk nyanyi lagu satu lagu saja. Tidak ada rencana panjang bahwa itu akan berlanjut ke dalam bentuk album, dsb. Bagi kami, reuni rekaman dalam satu lagu saja sudah luar biasa sekali rasanya. Kita lihat saja nanti ke depannya bagaimana. 

Personal message dong untuk dunia seni khususnya penulisan untuk pembaca SINDO Weekly. 

Temukan jenis buku yang kita suka, dan tulislah buku yang ingin kita baca.

Tuesday, December 16, 2014

Iciherz Magazine | Film Rectoverso | Januari, 2013 | by Yudhi

Apa alasannya Rectoverso ini diangkat ke layar lebar?

Jadi, awalnya Marcella Zalianty menghubungi saya untuk minta ide cerita. Dia sudah punya konsep ingin membuat film omnibus tentang cinta dengan lima sutradara. Saya bilang bahwa saya lagi nggak ada ide baru, tapi saya punya kumpulan cerita yang barangkali sejalan dengan idenya. Saya lalu mengirimkan buku Rectoverso untuk dia baca. Ternyata Marcella suka. Saya sendiri senang ada yang tertarik mengapresiasi Rectoverso dan ingin menjadikannya film. Yang saya tahu Marcella dan rumah produksinya adalah perusahaan profesional dan punya visi yang bagus. Bagi saya itu cukup.

Dari berita yang saya lihat, di film Rectoverso ini hanya mengangkat 5 cerita aja, yaitu HANYA ISYARAT, MALAIKAT JUGA TAHU, CICAK DI DINDING, CURHAT BUAT SAHABAT dan FIRASAT. Kenapa? Mengapa memilih kisah tersebut untuk difilmkan?
 
Itu sepenuhnya pilihan dari pihak Marcella dan para sutradara. Keterlibatan saya hanya sampai melepas hak adaptasi dan membantu konsultasi informal jika dibutuhkan. Jadi, pilihan kreatif, teknis, dan sebagainya, ada di pihak para pembuat film. 

Siapa saja yang menjadi pemain dalam film Rectoverso ini?

Ada banyak. Di antaranya Sophia Latjuba, Tio Pakusadewo, Lukman Sardi, Prisia Nasution, Asmirandah, Dwi Sasono, Acha Septriasa, Indra Birowo, dan seterusnya.  
 
Siapa yang menjadi sutradara dari film ini?  

Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Olga Lydia, Cathy Sharon, Happy Salma.

Kapan rencananya film ini ditayangkan?

Februari 2013.

Dalam memfilmkan kumpulan cerpen ini, ada kendala yang dialami nggak?
 
Kendalanya mungkin dirasakan paling banyak oleh pembuat filmnya ya, saya sendiri tidak terlibat. Tapi, tantangan mereka yang pertama barangkali adalah "menerjemahkan" dan menginterpretasi cerita dari format cerpen ke skenario.
 
Menurut Dee, film Rectoverso ini bakal sama suksesnya dengan film Perahu Kertas?

Saya tidak bisa memprediksi, karena penonton Indonesia susah diprediksi. Yang jelas, Rectoverso lebih dewasa filmnya dari Perahu Kertas, jadi segmennya bisa jadi berbeda.
 
Apa harapan Dee untuk film Rectoverso ini?  

Saya harap film ini bisa menyentuh hati penonton, dan sukses tentunya.

 Ke depannya, apa ada novel karya Dee yang akan difilmkan?
 
Ada. Rencananya Supernova 1, dan Filosofi Kopi.

Majalah HELLO! | Karya & Keluarga | Oktober, 2012 | by Risty Nurraisa


SEPUTAR KARYA 

Selamat atas diputarnya film Perahu Kertas 1 dan 2. Bisa diceritakan bagaimana perasaan Anda ketika menyaksikan sendiri film yang diangkat dari novel Anda, dan script-nya dibuat oleh Anda? Saat menyaksikannya, apakah Anda menempatkan diri sebagai penonton, atau sebagai penulis, dan bagaimana Anda menggambarkan kepuasan Anda terhadap film ini? 

Dalam hal ini rasanya tak terelakkan kalau saya akan melihat film Perahu Kertas dari berbagai perspektif sekaligus. Bagi saya pribadi, Perahu Kertas menjadi film adalah mimpi besar yang jadi kenyataan, karena dari sejak tahun 1996 saat saya menulis Perahu Kertas pertama kali di bangku kuliah, saya sudah menyimpan impian bahwa cerita Perahu Kertas satu saat akan bertransformasi dalam bentuk "motion picture" entah itu di layar kaca atau lebar. Dan akhirnya di 2012 ini, mimpi itu menjadi kenyataan. Terharu rasanya. Sebagai penonton, saya merasa Perahu Kertas memiliki unsur-unsur yang saya cari dan sukai dalam sebuah film. Saya memang penyuka genre drama, dan saya suka drama yang membuat saya tertawa, terharu, dan merenung. Sebagai sebuah film, saya merasa mendapatkan itu semua dari Perahu Kertas. Sebagai penulis skenario, saya lebih memerhatikan aspek teknis, bagaimana eksekusi skenario ke gambar, interpretasi aktor dan aktris yang membawakan, properti, wardrobe, dsb. Jadi, lebih ke detail teknis. Dan semua kesan itu simultan saya rasakan saat menonton Perahu Kertas. 

Bagaimana perbedaan kenikmatan antara menulis novel dan skenario? Apakah nantinya Anda juga berniat untuk semakin mendalami profesi sebagai penulis skenario? 

Ada keasyikan tersendiri dalam menulis skenario. Bagi saya, penulisan skenario lebih mekanistis, saintifik, dan baku rumusnya ketimbang menulis novel. Jadi, keasyikannya adalah bagaimana memuat cerita yang lebih "organik" di novel menjadi sebuah struktur skenario. Kayak main puzzle jadinya. Saya nggak merencanakan secara pasti akan menulis skenario atau tidak. Yang jelas, core kepenulisan saya ada di buku. Dan saya masih punya pe-er besar menyelesaikan serial Supernova. So, saya ingin fokus dulu di buku. Jika sudah ada keleluasaan untuk mengulik skenario, dan kesempatannya ada, mungkin saya akan menulis skenario lagi. 

Film Rectoverso akan segera diluncurkan, dan disutradarai oleh lima artis wanita. Apakah Anda juga terlibat dalam pemilihan kelima wanita ini? Jika iya, apa yang membuat Anda sreg dengan mereka? 

Rectoverso adalah murni proyeknya Marcella Zalianty. Marcella yang sudah punya ide duluan untuk menggarap film dengan empat artis perempuan, dan mereka tinggal mencari cerita. Marcella kemudian mengontak saya, menanyakan saya punya materi cerita atau enggak. Marcella ingin menggarap film tentang cinta tapi dari berbagai perspektif. Saya lalu teringat Rectoverso. Akhirnya saya kirimkan bukunya, dia baca dan tertarik. Marcella yang lalu memilih sendiri cerita-cerita mana yang akan digarap. Secara formal saya nggak terlibat dalam Rectoverso, walaupun terkadang dimintai konsultasi dari waktu ke waktu. Jadi, keterlibatan saya lebih konsultan informal saja. Semua keputusan kreatif, strategis, maupun hal lainnya ada di tangan Marcella dan Keana Production. 

Santer terdengar bahwa Madre juga akan difilmkan. Ketika membuat novel-novel ini, apakah Anda pernah bermimpi bahwa semuanya akan diangkat ke layar lebar? Atau proyek-proyek ini memang seperti 'bonus' bagi karya-karya Anda? 

Layar lebar tidak pernah menjadi tujuan saya. Sebatas mengangan-angankan saja sih pasti pernah. Tapi tidak menjadi target. Dalam hal ini, posisi saya lebih pasif. Jika ada yang tertarik lalu menawarkan untuk membeli rights adaptasi, dan kemudian kami menemukan kesepatakan, ya sudah, dijalankan. Bisa dibilang memang pemfilman, dsb, hanya bonus bagi saya. Karena inti pekerjaan saya sebenarnya bukan di sana. Film adalah karya seni format lain lagi. Saat menulis buku, ya, saya hanya fokus pada format buku. 

Sejauh apa keterlibatan Anda dalam pembuatan film Rectoverso dan Madre? 

Sama seperti Rectoverso, dalam Madre saya juga hanya melepas rights adaptasi. Madre akan ditulis skenarionya dan disutradarai oleh Benny Setiawan. Jadi, film Madre akan menjadi murni karyanya Mas Benny. Kalau memang ada yang perlu ditanyakan, atau butuh kejelasan tertentu mengenai cerita, saya membuka diri untuk ditanya kapan pun. Jadi, sekali lagi, hanya sebatas konsultan informal saja. 

Adakah novel yang akan Anda luncurkan atau mulai tulis dalam waktu dekat? 

Setelah ini saya berencana untuk meneruskan seri Supernova berikutnya, Gelombang. Tapi belum saya mulai prosesnya, karena akhir tahun ini saya mau pindah rumah dulu. Setelah settled di rumah baru dan beres-beresnya kelar, yang mungkin akan makan waktu bulanan, barulah saya bisa menulis lagi. 

Jika Anda memiliki pesan kepada penulis pemula, apa yang ingin Anda sampaikan? 

Tulislah buku yang ingin Anda baca.

SEPUTAR KELUARGA 

Banyak penulis membutuhkan tempat yang tenang untuk mengeluarkan idenya. Dengan memiliki dua anak, bagaimana Anda menyiasati agar perhatian Anda kepada si kecil tetap maksimal, namun karya-karya Anda juga tidak terbengkalai? 

Bagi saya itu proses adaptasi panjang, dan tidak ada rumusnya. Setiap saat situasinya bisa berbeda, dan butuh penanganan yang berbeda juga. Dulu, misalnya, saat Keenan masih kecil dan saya harus menulis Perahu Kertas, saya sampai harus menyewa kamar kos dekat rumah untuk saya jadikan "kantor". Saat punya anak kedua, Atisha, saya nggak bisa melakukan hal yang sama lagi, jadi saya lebih bersiasat untuk menulis dengan durasi pendek-pendek tapi sering. Dan selalu ada harga yang harus dibayar. Jadi, susah sekali mewujudkan kondisi ideal di mana perhatian pada anak tetap maksimal sementara berkarya jalan terus. Harus saya akui, jika saya menulis intensif, perhatian saya pada keluarga otomatis sedikit berkurang, dan perlu pintar-pintar untuk menyelipkan waktu di mana saya membayar utang atensi saya pada mereka. 

Anda dan keluarga menjalani pola makan sehat. Sulitkah untuk memberi pengertian kepada anak-anak betapa pentingnya menjalani pola makan sehat, mengingat anak-anak kadang tertarik untuk jajan atau makan junk food? 

Sebetulnya keluarga kami nggak steril-steril amat sih soal jajanan. Walaupun mereka jarang makan fast food, nggak pernah minum soda atau makan permen, tapi kalau jajanan seperti snack komersil di supermarket, ya, beli juga. Tapi kami membiasakan disiplin seperti: ngemil boleh, tapi selesaikan makan besarnya dulu. 

Anda adalah seorang istri, ibu, dan penulis. Bagaimana Anda menjalani semua peran tersebut secara seimbang? 

Seperti yang saya bilang tadi, nggak ada rumus idealnya. Bagi saya, menjalani multiperan adalah perjalanan panjang trial and error. Barangkali justru yang perlu dipahami pertama kali adalah, menerima bahwa saat bermulti peran, tidak bisa selamanya proporsi tersebut seimbang. Yang ada malah jadi stres karena kita mengharapkan segalanya berjalan sempurna dan proporsional terus menerus. Menurut saya keseimbangan semacam itu malah tidak realistis. 

Bukan bermaksud mengungkit, namun saya sangat tertarik melihat keharmonisan antara keluarga Anda dan keluarga mantan suami Anda, Marcell. Sepertinya, tak banyak pasangan yang sudah berpisah dapat tetap menjaga hubungan baik. Apa rahasia atau prinsip Anda dalam menjaga hubungan baik ini? 

Sepertinya yang menentukan adalah bagaimana kondisi saat perpisahan itu terjadi. Sebelum saya dan Marcell resmi berpisah, kami sudah terlebih dulu tiba di titik ikhlas untuk melepas dan bisa berteman. Jadi, yang kami teruskan sekarang adalah hubungan persahabatan kami. Dengan adanya anak, kondisi tersebut juga semakin menentukan. Penting bagi anak kami untuk tumbuh besar dalam suasana yang kondusif. Kami juga tidak menanamkan stigma pada Keenan bahwa perpisahan adalah hal yang buruk atau aib. Sekarang ini, Keenan merasa memiliki keluarga yang ekstra besar. Dengan percaya diri dia selalu berkata pada orang-orang bahwa dia punya dua papa dan dua mama. 

Bintang Indonesia | Sosok Inspiratif | Agustus, 2012 | by Wayan Diananto


Saya ucapkan selamat, karena Perahu Kertas (PK) telah diproduksi dan siap tayang menjelang Lebaran. Beberapa pengamat sinema menyebut film ini sebagai “kuda hitam” alias pengumpul penonton terbanyak pada putaran Lebaran 2012. Bisa diceritakan kapan persisnya dan bagaimana Starvision Plus-Mizan Production meminang novel PK?

Kelahiran novel Perahu Kertas diawali dengan format digital pada tahun 2007, dan setelah lewat setahun kontrak eksklusifnya dengan perusahaan content provider, Perahu Kertas pun saya siapkan untuk terbit dalam format hardcopy alias buku. Ada beberapa penerbit yang ikut pitching meminang naskah Perahu Kertas pada tahun 2008 itu. Bentang Pustaka adalah satu-satunya penerbit yang tidak datang "sendirian". Sejak awal, Bentang Pustaka sudah bergandeng tangan dengan Mizan Production yang tertarik untuk mengangkat Perahu Kertas ke layar lebar. Jadi, hanya Bentanglah yang maju dengan dua penawaran sekaligus. Saya sendiri merasa cocok dengan chemistry yang terjadi dengan pihak Bentang saat kami bertemu langsung. Sementara, sejak kali pertama saya menulis Perahu Kertas, inilah naskah yang seketika saya bayangkan menjadi film. Jadi, saya pun menerima penawaran Bentang dan Mizan. Saat proses bergulir, Mizan lalu bekerjasama dengan Starvision, yang mereka anggap sangat berpengalaman dalam mengolah film genre drama. Pak Parwez dari Starvision pun tampaknya jatuh cinta pada buku tersebut dan bersemangat ingin memfilmkannya. Hanung dan Dapur Film adalah pihak terakhir yang ikut bergabung. Sejak awal, Pak Parwez sangat yakin bahwa Hanunglah orang yang paling tepat untuk menyutradarai Perahu Kertas. Tapi, jadwal Hanung sempat bentrok, dan akhirnya kami sempat pitching nama-nama lain. Namun, berhubung jadwal tayang Perahu Kertas bergeser, jadwal Hanung kembali dimungkinkan. Dan akhirnya, pilihan tersebut kembali jatuh pada Hanung.
 
Waktu itu, apa pertimbangan Anda mengiyakan tawaran untuk memfilmkan novel ini? Adakah syarat-syarat yang Anda ajukan sebelum akhirnya novel PK dikonversi ke layar perak? 

Saya mengajukan dua syarat. Pertama, saya akan menjadi penulis skenarionya. Kedua, saya ikut terlibat dalam pemilihan casting. Karena menurut saya dua hal itulah yang paling penting untuk menggawangi adaptasi Perahu Kertas.
 
Saya melihat di barisan kasting, ada Mbak Dee sebagai Rani. Wah, ternyata punya bakat akting juga ya, Mbak?

Sebetulnya lebih karena dipaksa terlibat, sih. Hehe. Dari awal saya padahal sudah bilang sama Zaskia, saya nggak suka syuting, dan paling malas kalau disuruh syuting. Tapi semua pihak merasa kalau penulisnya muncul akan lebih seru. Sayangnya, tidak ada ruang dalam skenario untuk pemunculan cameo. Akhirnya saya akan dikasih peran. Tadinya, saya berharap jadi figuran saja. Tapi, tokoh Rani ternyata masih kosong karena beberapa pemain yang dicalonkan mendadak nggak bisa. Jadi, akhirnya sayalah yang dijadikan Rani. Saya nggak bermasalah dengan akting sih, tapi syuting. Males banget. Haha! 
 
Apakah film PK adalah pengalaman pertama Mbak Dee sebagai penulis naskah?

Iya. 

Bagaimana Anda memandang terpilihnya Maudy Ayunda, Reza Rahadian, dan Adipati Dolken yang terpilih sebagai pelakon film ini?
 
Karena saya selalu diajak diskusi dan konsultasi oleh Zaskia mengenai casting, jadi terpilihnya Maudy, Reza, dan Adipati, adalah hasil rembukan bersama. Walaupun lewat cukup banyak perdebatan, tapi akhirnya casting sekarang adalah hasil kesepakatan semua pihak, termasuk saya. Maudy sebagai Kugy, saya yang menjagokan. Reza sebagai Remi, Hanung yang menjagokan. Adipati sebagai Keenan, Zaskia yang menjagokan. Para produser yang lain pun memiliki vote mereka masing-masing. Sejujurnya saya cukup surprised dengan hasilnya ketika sudah di layar lebar, saya rasa semua cast memainkan perannya dengan sangat baik. 

Apakah Anda juga turut memberi sumbang saran terkait keputusan film PK “dipecah” menjadi dua film?
 
Nggak. Ini saya tahu belakangan, ketika menjelang preview. Sejujurnya, saya cukup kaget juga ketika tahu hasil syuting Hanung ternyata sampai lima jam. Padahal naskah saya cuma 101 halaman. Dan irama film yang saya bayangkan memang lebih cepat. Pada pelaksanaannya, ternyata cukup banyak adegan yang ditambahkan oleh Hanung. Selain itu eksekusi ritme para aktor dan aktris tidak secepat yang saya bayangkan. Tapi, bagi saya sih, nggak terlalu masalah. Kalau memang itulah yang terbaik bagi cerita, ya, nggak apa-apa. Daripada dipaksakan menjadi satu film tapi malah merusak cerita. 

Banyak remaja yang jatuh hati pada novel PK. Mereka merasa terwakili oleh kisah cinta yang tergurat didalamnya. Mbak Dee mendapat ide menulis babak Keenan-Kugy ini dari mana?
 
Melihat ke belakang, sepertinya cukup banyak pemicu ide saya untuk menulis kisah Kugy dan Keenan. Saya menuliskan kisah itu waktu saya masih kuliah, jadi suasana kampus dan dunia perkuliahan amat dekat dengan saya saat itu. Saya suka komik Jepang "Popcorn", format cerita serial, lagu Indigo Girls, dan film Reality Bites, gabungan kesemua itu kemudian memunculkan ide untuk menuliskan Perahu Kertas, perjalanan panjang dua orang sahabat dalam menemukan cinta dan cita-cita. Dan saya rasa itu memang menjadi perjalanan banyak orang. 
 
Saya dengar ada pula omnibus Rectoverso yang melibatkan Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Olga Lydia, dan Happy Salma. Boleh digambarkan bagaimana perkembangan proyek ini dan kapan rencana akan dirilis?

Syutingnya sudah selesai dan sekarang Marcella lagi menggarap penggabungan plot kelima cerita tersebut, jadi masih tahap editing. Rencana rilis ada dua alternatif, akhir tahun ini atau Februari tahun depan. Saya belum tahu akhirnya jadi kapan. 
 
Dee disebut sebagai salah satu penulis novel dengan ide dan diksi terunik di negeri ini, apa tanggapan Anda?

Tentu senang. Terus terang, menjadi unik bukanlah tujuan saya. Tujuan saya menulis itu hanya satu, yakni berbagi apa yang saya rasa lewat jenis tulisan yang saya suka. Jadi, intinya saya hanya menuliskan buku yang kira-kira bakal saya suka, jika saya jadi pembaca. Tapi saya akui, latar belakang saya sebagai musisi dan penulis lagu punya pengaruh juga dalam tulisan saya. Saya menjadi lebih peka terhadap ritme dan "suara" dari kalimat-kalimat saya. Dalam membuat kalimat, saya cenderung menyusunnya sedemikian rupa hingga enak dan berirama jika diucapkan. Tuntutan efektivitas dalam membuat lagu juga mendorong saya untuk menyusun kalimat yang padat makna. Lama-lama itu menjadi kebiasaan tersendiri, dan akhirnya menjadi ciri khas. Saya senang kalimat yang berlagu dan kalimat yang bermakna padat. 
 
Saya sebenarnya sudah “mencium” kehebatan Mbak Dee dalam menulis, setelah membaca lirik “Satu Bintang Di Langit Kelam”, “Di Sudut Malam Bisu”, “Jalanmu”, dan yang paling saya favoritkan (semoga tidak salah) lagu “Tak Perlu Memiliki” dari album Satu (1999). Persisnya, sejak kapan Mbak mulai berani menulis?
 
Saya menulis sejak kecil. Seingat saya dari kelas 5 SD saya membuat tulisan yang digarap "serius", sebuah novel tentang anak kecil. Memang cerita itu nggak selesai, tapi saya menuliskannya sepenuh hati, sampai satu buku tulis habis. Sejak itu saya terus menulis sebagai hobi yang dipendam sendiri. Paling-paling saya bagikan ke keluarga atau orang-orang dekat saja. Tahun '97, cerpen saya pertama kali dimuat di majalah. Itu pun Hilman (Hariwijaya) yang mengajukan ke majalah Mode. Saya sendiri nggak pernah berani lagi ngirim ke majalah, karena pernah ditolak waktu SMP. Begitu juga dengan mencipta lagu, dari kecil saya sudah suka. Tapi titik balik saya memang saat menulis "Satu Bintang Di Langit Kelam". Sejak itu jadi lebih pede dan berani menulis lebih banyak lagu. 

Omong-omong, masih ingatkah Mbak kapan pertama kali menulis puisi atau essay atau cerpen dan apa judulnya ketika itu?  

Rumahku Indah Sekali, itu cerita yang saya buat waktu kelas 5 SD.
 
Oh ya, saya baca dari lini masa Twitter, akhirnya Rida Sita Dewi reuni setelah sepuluh tahun dalam mini album soundtrack PK. Boleh diceritakan bagaimana repotnya mengatur jadwal berkumpul dengan Rida dan Sita?

Terlalu repot sih nggak, karena cuma satu lagu. Tapi deadline pembuatan soundtrack Perahu Kertas memang sangat pendek, jadi kami nggak punya cukup waktu untuk persiapan. Begitu ketemu di studio, langsung rekaman. Padahal kami sudah lama sekali nggak kumpul, bahkan untuk ngobrol2 sekalipun. Jadi, dalam waktu singkat, kami harus kembali adaptasi dengan suasana rekaman bertiga. Tapi kami puas juga dengan hasilnya, ternyata di luar dugaan, hehe. Dengar satu reffrain aja kami langsung serasa kembali ke tahun '90'-an. 
 
Boleh digambarkan, suasana rekaman (lagi) sekaligus reuni bersama dua karib lama di studio saat itu? Judul lagunya apa dan dari mana datangnya ide reuni ini? 

Judul lagunya "Langit Amat Indah". Lagu lama saya, dibuat mungkin tahun '96-an. Ide saya memasukkan lagu ini sebetulnya sudah cukup lama, sejak saya menulis skenario Perahu Kertas. Saya selalu membayangkan inilah lagu terakhir yang akan muncul saat film nanti. Karena lagu itu sendiri saya tulis pas lagi suka-sukanya sama Indigo Girls, saya sudah mendesainnya untuk dinyanyikan bukan oleh solis, tapi grup. Makanya saya kepikir untuk membawakannya bersama RSD. Ketika ide itu saya lontarkan, para produser dan juga Trinity Optima ternyata semangat menyambut. Akhirnya, kami wujudkan.
 
Dalam pandangan Mbak, sejauh mana perkembangan penulis perempuan di Indonesia?
 
Sejak sepuluh tahun terakhir sih menurut saya tidak terlalu ada banyak perubahan dalam dunia penulisan Indonesia. Cukup banyak nama baru dan judul-judul fenomenal, tapi sepertinya tidak ada lagi dikotomi kuat antara penulis perempuan dan penulis laki-laki seperti waktu tahun 90'an akhir dan 2000 awal, saat Ayu Utami, saya, Djenar, mulai sering disebut-sebut sebagai "sastra wangi". Saat ini menurut saya kondisinya cukup lebur. Bukan lagi perihal laki-laki atau perempuan, tapi laku atau tidak laku. Jadi, saya cuma bisa bilang, dilihat dari perkembangan, terjadi perkembangan secara jumlah penulis yang lebih banyak, toko buku yang lebih banyak, dan penerbit yang lebih banyak.  

Beberapa pembaca kami menyatakan ingin sekali menulis, tetapi ketika menghadap komputer jinjing kebingunan mau memulai dari mana. Bolehkah Mbak Dee memberikan tip-tip menulis untuk para pemula?
 
Carilah buku yang kita suka, dan tulislah sebagaimana kita ingin membaca buku yang kita suka. 
 
Adakah kriteria yang harus dimiliki seseorang, yang ingin menjadi penulis?
 
Berani belajar dan berani gagal, dan tidak putus asa untuk terus mencoba. Carilah referensi buku yang baik, dan membacalah sebanyak-banyaknya.

Adakah buku dan album baru yang sedang disiapkan?
 
Sedang rihat dulu. Mungkin setelah Perahu Kertas dua-duanya diluncurkan, baru saya mulai kembali berproduksi. Rencananya sih saya akan kembali meneruskan episode ke-5 Supernova. 
 
Aktivitas lain di luar menulis buku dan lagu?

Lagi bangun rumah. Mudah-mudahan November selesai. 
 
Apa target yang ingin dicapai Mbak Dee tahun ini?

Pindahan yang lancar dan film Perahu Kertas-nya juga lancar, hehe.

Pertanyaan tambahan nih Mbak, adakah rencana ingin rekaman album lagi atas nama Rida Sita Dewi? Kangen juga nih mendengarkan RSD membawakan lagu-lagu Adjie Soetama, Adi Adrian dan Yovie Widianto, hehehe…

Untuk bikin full album sih belum ada rencana. Kita lihat satu lagu ini dulu aja, deh. Saya sendiri sebetulnya sudah lebih senang di belakang layar ketimbang nampil sebagai penyanyi/performer. Tapi untuk bersenang-senang sekali-sekali saja sih nggak apa-apa.



Monday, December 15, 2014

Good Housekeeping | Film Perahu Kertas | November, 2012 | by Fiona Yasmina


Film Perahu Kertas, kan, booming.  Kenapa Perahu Kertas yang dipilih sebagai novel pertama yang difilmkan? Apakah karena cerita dalam novel ini cenderung ringan dibandingkan karya-karya Anda lain yang cenderung “mikir”? Padahal mungkin banyak orang yang mengharapkan Supernova lebih dulu difilmkan dibandingkan karya Anda lainnya? 

Dalam hal ini sebenarnya saya tidak di posisi "memilih". Produserlah yang mendatangi saya dan kemudian menawarkan untuk membeli hak adaptasi dari karya saya. Perahu Kertas adalah karya saya yang pertama kali mendapat penawaran pembelian hak adaptasi film. Prosesnya terjadi dari tahun 2009. Jadi, kewenangan untuk menentukan mana yang duluan difilmkan bukan dari pihak saya, melainkan dari pihak pembeli hak adaptasi, yang mana pihaknya bukan cuma satu dan berbeda-beda. 

Sebenarnya sulit tidak menyatukan dunia novel ke dalam dunia nyata (film)? Karena dunia novel kan apa yang ada di dalam imajinasi kita. Imajinasi berkembang tetapi di dunia nyata kita stuck dengan apa yang ada. Boleh ceritakan bagaimana kesulitan perealisasiaannya? 

Yang memproduksi film, sih, tugasnya simpel, yakni membuat produksi film yang sebaiknya-baiknya. Film sudah punya aturan sendiri, punya batasan durasi, struktur bercerita yang lebih baku ketimbang novel. Jadi, yang perlu dilakukan sebenarnya hanya memindahkan novel ke dalam format film. Yang sulit memang bukan adaptasinya. Yang sulit adalah berusaha menyesuaikan film dengan teater yang sudah tercipta di benak pembaca dari sejak mereka membaca buku. Menurut saya, itu bahkan tak mungkin. Setiap pembaca pasti memiliki imajinasi yang unik dan berbeda satu sama lain. Jadi, tidak mungkin memuaskan keinginan semua orang sekaligus. 

Dari hasil syuting film Perahu Kertas, ada sumber yang mengatakan bahwa sebenarnya hasilnya 6 jam, tetapi karena Anda sayang memotongnya maka film ini dibuat jadi dua seri. Apakah ini benar? Kenapa bisa sepanjang itu? 

Perlu digarisbawahi bahwa peran saya dalam produksi Perahu Kertas hanyalah penulis skenario. Sesekali saya dimintai pendapat. Namun, banyak hal strategis yang bukan menjadi kewenangan saya. Saya tidak terlibat dalam keputusan menjadikan Perahu Kertas dua bagian. Itu semua keputusan produser. Bagaimana Perahu Kertas bisa jadi 6 jam, ya tentu, itu adalah pertanyaan yang seharusnya ditujukan ke sutradara. Bukan saya. Kenapa bisa jadi dua bagian? Itu adalah pertanyaan untuk produser. Namun, saya pribadi merasa itulah hal terbaik yang bisa diputuskan oleh para pihak tsb. 

Banyak orang bilang novel dan film adalah dua karya yang berbeda, kenapa harus disatukan? Memang sampai sedetail apa sih kesamaan yang ada di novel dan film? Kenapa harus sedetail itu? Apakah karena Anda takut kalau pembaca yang menonton jadi kecewa? Bisa dijelaskan? 

Banyak yang tidak bisa dipersiskan, kok. Struktur cerita film Perahu Kertas banyak berubah dibandingkan novel. Tokoh yang tadinya signifikan ada yang dikecilkan, tokoh yang tadinya tidak sigfinikan ada yang dibesarkan porsinya. Saya sendiri merasa format film memang beda dengan novel. Upaya untuk terlalu memirip-miripkan tentunya akan menyulitkan semua pihak dan berisiko pada filmnya. Dari namanya saja sudah jelas bahwa film adalah adaptasi novel, bukan visualisasi novel. Jadi, sejak awal saya sudah mengambil posisi bahwa cerita tidak mungkin persis sama. Karakterisasi juga demikian. Yang perlu dijaga adalah spiritnya. Spiritnya yang jangan berubah. 

Di dalam film Perahu Kertas, Anda sendiri menjadi penulis skenarionya. Apa pertimbangan sampai Anda sendiri yang harus menulis skenarionya? Apakah Anda memiliki ketakutan bahwa apa yang disampaikan di film berbeda dengan apa yang disampaikan di novel? 

Sejak lama saya memang sudah ingin menulis skenario untuk Perahu Kertas. Bagaimana cerita itu tercipta dalam benak saya sudah seperti alur film. Banyak gimmick dan ciri khas dari cerita yang ingin saya pertahankan, hal-hal yang subtil sehingga belum tentu pas jika dikerjakan oleh orang lain, untuk itu saya mengajukan diri untuk menjadi penulis skenarionya. 

Bagaimana proses casting film Perahu Kertas hingga mendapat orang seperti Kugy, Remi, dan Keenan hingga pas seperti apa yang Anda inginkan? Sempat ada hambatan? Boleh diceritakan? Sejauh mana keterlibatan Anda dalam pemilihan pemeran? 

Untuk casting, saya memang menjadi konsultan, walaupun pelaksanaannya sepenuhnya dipegang oleh Zaskia. Casting Perahu Kertas adalah salah satu proses yang paling sulit karena karakternya saling berkaitan seperti orkestra. Satu pemain berubah, yang lain harus ikut berubah karena nggak jadi pas lagi. Proses mulai melancar ketika kami akhirnya mengunci pemeran Kugy di Maudy Ayunda. Dari sana, semuanya tinggal mengikuti patokan karakter Kugy. 

Misalnya seperti buku Harry Potter, ketika bukunya difilmkan memberi efek terbalik yaitu orang jadi ingin membaca bukunya. Apakah hal ini sama dengan Anda? Ingin memfilmkan agar bukunya laku? 

Sebelum ada film, Perahu Kertas juga sudah laku, kok, hehe. Menurut saya, hal yang tidak efisien dan berlebihan jika memfilmkan buku hanya demi bukunya laku. Banyak cara promo lain yang lebih murah daripada bikin film. Kalau ternyata filmnya jelek dan tidak dapat sambutan, akhirnya bukunya makin terpuruk, kan? Tambah rugi, dong. Buku difilmkan harus karena potensi ceritanya. Kalau setelah difilmkan, penjualan buku meningkat, itu berarti bonus. Dalam kasus Perahu Kertas, memang itu yang terjadi. Tahun 2009, Perahu Kertas jadi salah satu buku best-seller. Tahun ini, buku Perahu Kertas kembali jadi best-seller karena orang yang belum baca jadi curious karena gaung filmnya. 

Anda juga merupakan bagian dari cameo di dalam film Perahu Kertas. Apakah ini hanya sekadar iseng atau ada pertimbangan lain? 

Lebih tepatnya, dipaksa. Hehe. Saya sendiri tadinya nggak kepengin karena saya malas ikut syuting. Paling nggak betah nunggu syuting seharian. Tapi, Zaskia dan para produser kepengin saya muncul buat lucu-lucuan saja. Dari semua peran, memang cuma perannya Tante Rani (partner kerjanya Hans, ayahnya Wanda) yang belum ada. Akhirnya, saya disuruh mengisi porsi Tante Rani.

Apakah buku Rectoverso dan Madre ini difilmkan karena kesuksesan Perahu Kertas atau sudah direncanakan sebelumnya? 

Rectoverso dan Madre sudah dibeli hak adaptasinya sebelum Perahu Kertas tayang. Jadi, murni karena potensi cerita. Bukan karena animo Perahu Kertas. 

Dalam buku-buku Anda, Anda selalu bisa mendeskripsikan dengan detail suatu tempat atau makanan, misalnya dalam Madre. Sampai-sampai orang tergugah seleranya. Bagaimana di film Anda memberikan efek yang sama? 

Saya rasa, dalam film itu sudah menjadi tugas banyak pihak. Beda dengan novel di mana dalam novel itu bergantung sepenuhnya pada penulis dan kemampuan deskripsinya. Dalam film, itu menjadi tugas sutradara, penulis skenario, tim artistik, aktor/aktris, dst. Film adalah karya kolaborasi. 

Ceritakan dong bocoran tentang film Rectoverso, kenapa Anda memilih 5 cerita? Atas dasar apa cerita itu dipilih? Apa benang merah dan keistimewaannya dari kelima cerita itu? Apa yang ingin disampaikan dari lima cerita itu? Kenapa harus melalui 5 sutradara yang berbeda? Apakah tidak cukup dengan satu sutradara saja? 

Sekali lagi, bukan saya yang menentukan. Itu semua dipilih dan ditentukan oleh produser. Begitu juga penentuan lima sutradara, konsep omnibus, mengapa yang dipilih lima cerita tsb, dsb. Dalam Rectoverso, peran saya hanya sebatas penulis buku yang dibeli hak adaptasi. Sesekali saya diajak konsultasi sebatas pengecekan skenario dan preview film, tapi segala keputusan strategis bukan di tangan saya.