Showing posts with label Mendidik Anak. Show all posts
Showing posts with label Mendidik Anak. Show all posts

Friday, May 12, 2017

WOOP.ID | Kepingan Supernova | April, 2017 | Yaya Sitanggang



Bagaimana rasanya setelah menyelesaikan "Kepingan Supernova”? Apa hal pertama yang dilakukan setelah berhasil menyelesaikan novel tersebut? Apa yang menjadi ide atau inspirasi utama dari "Kepingan Supernova”? Tantangan terbesar dalam proses pembuatan "Kepingan Supernova"?

Untuk Kepingan Supernova, pekerjaan saya lebih mensupervisi karena sebetulnya semua materi sudah ada, tinggal dikurasi, diedit, dan didesain. Jadi, saya lebih berada dalam posisi urun saran. Sebagian besar dilakukan oleh tim editor Bentang Pustaka dan desainer saya, Fahmi Ilmansyah. Rasanya tentu saja senang, karena sebetulnya kumpulan kutipan ini adalah ide saya sejak lama, bahkan dari sejak Supernova 1, tapi baru terealisasi sekarang. Saya rasa momennya juga lebih tepat karena serial Supernova sudah tamat, jadi kumpulannya sudah lebih lengkap dan kaya. Kami luncurkan sekaligus memperingati setahun selesainya serial Supernova.

Selama proses pembuatan pernahkah mengalami writer's block dan biasanya apa yang dilakukan?

Writer’s block bergantung dari definisi kita sebetulnya. Bagi saya, yang terjadi lebih seperti “macet sesaat” ketika proses menulis panjang, yang mana hal itu wajar terjadi. Untuk macet seperti itu biasanya yang dilakukan hal-hal sederhana misalkan istirahat sejenak, olahraga, rekreasi. Yang jelas, ketika sudah punya deadline maka kita coba patuhi itu, jadi ketika terjadi macet, kita tidak memundurkan deadline melainkan kita coba terus di hari berikutnya, dan seterusnya.

Sebagai seorang penulis Indonesia yang sudah aktif selama bertahun-tahun, bagaimana pendapat Mbak Dewi tentang dunia literatur Indonesia, terutama fiksi? Apakah ada hal yang masih harus ditingkatkan, digali, dan diperbincangkan? Bagaimana tanggapan Mbak Dewi tentang budaya membaca di Indonesia?

Pekerjaan rumah dari industri buku masih banyak, dari mulai masalah pajak, harga buku, retail, penerjemahan, dsb. Secara kultur dan sistem, kita masih perlu meningkatkan minat baca. Sebagai profesi, penulis juga masih perlu advokasi, asosiasi yang profesional, regenerasi, dan meningkatkan skill.

Sebagai penulis dan juga ibu, apakah tips untuk memperkenalkan dan mendorong anak untuk lebih tertarik membaca buku?

Dengan menjadikan kegiatan membaca sebagai kegiatan menyenangkan, kita berikan sudut membaca yang nyaman, akses kepada buku yang mudah, dan kita juga menjadikan buku sebagai hadiah bagi momen-momen tertentu hingga mereka punya persepsi bahwa buku itu berharga dan membahagiakan.

Seberapa sering dan banyak Mbak Dewi membaca? Satu buku biasanya bisa diselesaikan dalam berapa lama? Adakah target jumlah buku yang harus diselesaikan dalam, misalnya, setahun atau sebulan?

Saya membaca biasanya berdasarkan kebutuhan. Tidak berdasarkan target bulanan atau tahunan. Saya bisa break panjang dari membaca, tapi begitu saya harus riset misalnya, saya bisa baca puluhan buku secara kontinu. Secara umum biasanya sih dalam sebulan pasti ada judul baru yang saya baca.

Selama tahun 2016 kemarin, adakah judul-judul buku yang menjadi favorit? Selain itu apakah judul buku favorit sepanjang Mbak Dewi?

“The Emperor of Scent” – Chandler Burr, buku nonfiksi yang sifatnya reportase seorang wartawan yang mengikuti perjalanan seorang ilmuwan bernama Luca Turin yang hendak membuktikan teori baru tentang penciuman. Buku itu kebetulan bagian dari riset saya untuk manuskrip baru. Kalau yang sepanjang masa nggak hanya satu, tapi saya sebutkan satu saja, yakni “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono.

Apakah akan ada seri Supernova selanjutnya?

Serial Supernova sudah tamat, tapi ceritanya masih bisa berlanjut. Kalau saya lanjutkan maka judul serialnya sudah bukan Supernova lagi.

Monday, December 22, 2014

Tabloid My Mommy | Profil | Juni, 2013 | by Hesty Daisy


Boleh ceritakan sedikit tentang latar belakang maupun karakter Mbak yang sedikit banyak punya pengaruh untuk sampai di karier sekarang sebagai penyanyi, penulis, dan penggubah lagu?

Dari kecil memang saya sudah suka musik, menulis, dan membaca. Jadi, bisa dibilang karier saya saat ini adalah perpanjangan hobi-hobi saya sejak kecil.

Di balik layar kehidupan Mbak sekarang, siapa (atau apa saja) yang paling jadi motivasi dan ikut andil jadi alasan kesuksesan Mbak?

Keluarga dan lingkungan tentunya membantu membentuk dan minat saya. Kalau alasan, sepertinya memang setiap seniman punya dorongan dan motivasi inheren untuk terus berkarya. Karya tersebut menjadi alat untuk berkomunikasi ke khalayak, sekaligus alat untuk menggali potensi diri. Jadi, motivasi dan andil menurut saya selalu dua pihak, secara eksternal yakni dari keluarga dan lingkungan serta secara internal yakni motivasi pribadi untuk berkarya.

Pernah mengalami masa-masa berat dalam hidup? Barangkali ada sesuatu hal yang belum banyak diketahui orang, tapi cukup dalam dan penting sebagai titik balik hidup Mbak. Tips apa yang Mbak bisa berikan kepada para perempuan/ibu saat menghadapi masa-masa sulit itu?

Saya merasa sangat terbantu oleh meditasi. Dengan meditasi kita mampu mengambil jarak dengan masalah. Alih-alih tergulung dalam masalah dan kemudian sulit untuk keluar dari kubangannya, meditasi membantu kita untuk bisa melihat situasi kita secara apa adanya, kemudian mengajarkan kita untuk menerima situasi tersebut. Dalam keadaan pasrah dan aware, biasanya masalah tidak bertahan lama, dan tidak sampai membelenggu kita secara berlarut-larut. Tidak hanya untuk perempuan atau ibu, menurut saya meditasi atau ritual untuk mengheningkan diri akan sangat berguna untuk kondisi general apa pun dalam hidup ini.  Selain itu, sangat penting untuk punya saluran komunikasi yang sehat dengan pasangan. Belajar mendengarkan dan berkomunikasi dengan jujur.

Bagaimana kabar Keenan? Sudah sebesar apa dia sekarang? Boleh dong ceritakan juga tentang dia. Seberapa dekat dengan Mbak, dan apakah dari dia  juga ada yang menjadi inspirasi dalam berkarya. Bisa sekalian share pola pengasuhan anak dengan para ibu.

Keenan sudah 9 tahun, tahun ini dia akan naik ke kelas 5. Anaknya aktif, senang bicara dan melucu, sayang sama adiknya sekaligus suka gangguin juga. Kalau dekat sih bisa dibilang dekat banget, karena dia kan tinggal bareng dengan kami. Bagi saya, dia lebih seperti sahabat kecil. Nggak selalu mudah membimbingnya, apalagi dia tambah besar dan secara psikologis juga ada masa-masa perubahan dan penyesuaian. Dengan bantuan Reza, saya belajar banyak untuk menghadapi dan membesarkan Keenan. Kami tidak menganut pola-pola khusus. Yang jelas kami mencoba seimbang antara disiplin dan kreativitas. Kami berusaha sebaik mungkin mendukung minat dan ketertarikannya. Sejauh ini dia menunjukkan minat ke arah musik dan seni. Dia kursus piano, drum, dan menggambar.

Bisa kasih pesan-pesan untuk para perempuan/ibu dalam mengasuh anak? Mengingat maraknya kasus pelecehan seksual pada anak. Di Kaltim juga heboh, lho mbak setelah mencuatnya pemberitaan JIS. Nah, sebagai ibu, hal apa yang bisa Mbak lakukan sebagai protect dan edukasi untuk anak?

Kejadian itu memang membuat kita jadi lebih awas terhadap hal-hal yang sepertinya selama ini luput untuk kita komunikasikan kepada anak. Dan memang peran sekolah juga penting untuk bisa mencegah hal-hal seperti ini terjadi. Untungnya sekolah anak saya cepat tanggap dan langsung mengadakan edukasi terhadap orang tua dan murid mengenai hal-hal yang perlu dilindungi, seperti mengajarkan anak perbedaan sentuhan yang aman dan berbahaya, juga mengajarkan bagian-bagian tubuh mana dari mereka yang tidak boleh disentuh orang lain, dan juga bagaimana mereka harus bertindak jika hal itu terjadi. Jadi dalam hal ini orang tua bekerja sama dengan sekolah. Di luar dari itu, saya juga langsung ajak ngobrol anak-anak, tanya sejauh mana mereka sudah memahami konsep “boundary” atas tubuh mereka.

Ngomong-ngomong, Mbak sedang sibuk mengurus atau berkegiatan apa? Nah, di tengah kesibukan itu, bagaimana cara mengatur waktu supaya karier dengan karya tetap bisa berimbang?

Saya sedang menulis buku saya berikut, episode kelima serial Supernova berjudul Gelombang. Untuk itu saya memang harus punya disiplin ketat untuk menulis secara terjadwal, dengan demikian saya bisa menata waktu saya sedemikian rupa untuk bisa tetap punya waktu untuk suami, anak-anak, dan mengurus rumah. Butuh waktu juga untuk hidup dalam jadwal seperti itu, karena pada dasarnya saya terbiasa bekerja bebas. Tapi setelah berjalan sekian lama, saya malah merasa jauh lebih produktif dan tetap berimbang. Walau demikian, tentunya ada konsekuensi-konsekuensi yang harus saya jalani, antara lain “cuti” dulu dari kegiatan wawancara, talkshow televisi, dll. Kalau nggak penting-penting banget saya nggak ambil. Jadi ada prioritas yang jelas dan harus konsekuen dengan itu. Buat saya saat ini, waktu adalah hal termahal yang nggak bisa diganti. Jadi kalau mau hidup berimbang ya harus mahir menata waktu.

Apa sih prinsip hidup Mbak? Ada nggak, cita-cita dan target ke depan setelah yang ini terjalani?

Saat ini saya cenderung menjalankan hidup secara realistis. Saya sudah berhasil punya profesi yang sesuai dengan hobi saya. Jadi, kalaupun ada target itu sifatnya sudah lebih praktis. Bikin buku tidak lagi jadi impian, tapi itu memang kewajiban saya, kalau enggak bukan lagi profesional namanya. Berkarya di musik atau yang lainnya hanya masalah yang mana yang jadi prioritas saat ini. Kalau sekarang saya sedang berkomitmen menulis buku, berarti yang lainnya harus menunggu. Pokoknya keluarga tetap nomor satu, bergandengan dengan pekerjaan. Sisanya masuk daftar tunggu. Kalau terselip syukur, kalau enggak juga tidak perlu mutung, karena mungkin memang saatnya belum tepat.

Secuil rahasia hidup Dee dong untuk pengetahuan eksklusif pembaca My Mommy.

Saya nggak punya tips rahasia. Itu rahasianya. Hehe.


Parents Indonesia | Menulis & Membaca | Oktober, 2013 | by Resti Agtadwimawanti


Sebetulnya, tantangan menulis bagi pemula itu apa saja sih, Mbak? Mungkin Mbak Dee bisa flash back saat pertama kali menulis. Bagaimana cara Mbak mengatasinya?

Seingat saya, saat itu yang paling menantang adalah menyelesaikan cerita itu sendiri. Untuk cerita pendek sih nggak ada masalah. Tapi, saya kan sangat senang menulis novel. Sepertinya saat itu saya belum punya "stamina" dan pengalaman menulis cukup untuk bisa bertahan hingga cerita tamat. Supernova 1 adalah novel pertama saya yang berhasil tamat. Cara saya mengatasinya adalah terus mencoba. Lama-lama pengalaman itu akan terakumulasi sendiri.

Perlu enggak sih bagi penulis pemula untuk menentukan target, atau biarkan saja dulu untuk mengasah kepiawaiannya dalam menulis?

Selama targetnya realistis sih sah-sah saja. Yang agak sulit adalah, misalnya, berharap untuk terus menerus menang lomba. Untuk sebuah karya memenangkan lomba atau masuk ke media biasanya amat tergantung subjektivitas juri dan kebutuhan redaksi. Selama para penulis pemula tsb punya mental yang cukup kuat terhadap penolakan, boleh-boleh saja pasang target seperti itu. Tapi, menurut saya lebih realistis kalau targetnya adalah menyelesaikan sebuah novel dalam dua bulan, atau mengerjakan cerpen dalam dua minggu, dan seterusnya. Bisa juga itu diterapkan dalam target membaca. Toh, kalau ada karya yang sudah jadi, penulis bisa memulai mempublikasikannya via blog, atau minimal di-share ke teman-teman dan lingkungan dekatnya.

Kadang, orang enggan mencoba untuk menulis dengan alasan “enggak bakat”. Karena itu juga, bisa jadi tulisan enggak kelar-kelar. Menurut pandangan Mbak Dee sendiri bagaimana?

Bakat menurut saya memang menjadi faktor tersendiri. Ada orang-orang yang dilahirkan dengan batin yang peka dan punya archetype pencerita. Biasanya mereka dengan alami pandai merangkai cerita. Tapi, menulis juga merupakan skill dan teknik, yang artinya bisa dipelajari. Semakin jernih dan peka seseorang bisa merasa dan berpikir, semakin mudah mereka bisa mengomunikasikan alam pikirnya. Saya rasa itu modal utama seorang penulis.

Passion tentang apa yang hendak kita tulis itu berperan pentingkah? Seperti apa penerapannya pada karya-karya Mbak?

Tipe kepenulisan itu bermacam-macam. Ada orang yang memang hanya bisa membuat sebuah tulisan berdasarkan passion-nya, tapi ada juga orang-orang yang memang pekerja aksara. Mereka bisa menulis apa saja, tanpa harus passionate terlebih dulu terhadap apa yang mereka ingin tulis. Ini sering berlaku untuk tulisan-tulisan yang sifatnya lebih teknis seperti reportase, jurnalistik, riset, dll. Karena saya penulis fiksi, tentunya saya menulis berdasarkan imajinasi saya. Dan imajinasi saya didapat dari kombinasi minat, passion, observasi, riset.

Saran dari mbak Dee, sebaiknya penulis pemula ini menulis karya dalam bentuk apa dulu nih, Mbak? Misalnya cukup nge-blog dulu atau mungkin rajin mengirim artikel singkat ke media massa.

Keduanya bisa. Tapi kalau ke media massa, ya harus punya kiat, kita harus mengenal karakter media massa tersebut seperti apa, supaya tidak salah sasaran. Kalau blog kita sendiri kan bebas.

Bagaimana Mbak mengatur waktu saat Mbak harus segera menyelesaikan karya dan Mbak juga harus mengasuh anak? Ini juga mungkin bisa menjadi kendala terselesaikannya sebuah tulisan.

Sebelum punya anak, saya punya konsep ideal tentang menulis, bahwa menulis itu harus malam hari, harus panjang waktunya, tidak terputus, tidak ada gangguan, dsb. Setelah punya anak, saya harus menghadapi realitas bahwa konsep ideal tersebut sudah tidak bisa diwujudkan. Dan kalau saya menunggu kondisi ideal itu hadir, tidak akan ada buku baru yang lahir. Akhirnya saya belajar berdamai. Saya mencoba menulis di siang hari, pagi hari, kapan pun saya punya waktu. Tidak lagi harus durasi waktu panjang tapi sebisanya. Kalau dapat sejam ya syukur, kalau enggak, ya harus bisa menyambung lagi begitu ada kesempatan. Dari delapan buku yang kini terbit, hanya ada dua buku yang saya kerjakan sebelum punya anak, yakni Supernova 1 dan 2. Enam buku sesudahnya, termasuk Partikel yang lebih dari 500 halaman, saya kerjakan setelah punya anak. Berarti sebetulnya punya anak bukan sebuah keterbatasan, melainkan tantangan yang bisa disiasati.

Bisa di-sharing momen-momen yang enggak terlupakan pada saat itu? Soalnya beberapa saat lalu saya sempat baca tweet Mbak tentang saat Mbak harus ngetik sambil gendong bayi.

Waktu nulis Supernova 3 (Petir), Keenan sudah lahir. 40% buku tersebut saya selesaikan sambil mengasuh Keenan yang masih bayi. Saya hanya bisa menulis waktu dia tidur. Dan karena masih menyusui, mau tidak mau, kadang-kadang saya terpaksa mengetik satu tangan sambil sebelah tangannya lagi menggendong dia yang sedang menyusui. Waktu nulis Madre dan Partikel, Atisha juga sudah lahir. Saya baru mulai menulis lagi setelah Atisha berumur setahun lebih. Caranya kurang lebih sama, yakni dengan mencuri waktu sebisanya. Setiap hari syukurnya masih dapat satu-dua jam menulis di kamar tanpa diganggu, sementara Atisha main dengan pengasuh atau ayahnya.

Lalu, untuk membiasakan anak gemar membaca, bisa sharing tentang cara Mbak dalam membiasakan Keenan membaca? Mungkin ada waktu tertentu atau dengan cara yang menyenangkan?

Membaca selalu jadi ritual hampir setiap malam. Tidak ada buku pun saya suka mengarang cerita sendiri. Intinya, mereka dibiasakan mendengar storytelling.

Keenan dibiasakan membaca sejak usia berapa, Mbak? Aatau mungkin Atisha juga sudah distimulasi? Seperti apa stimulasinya?

Keenan cukup awal saya kenalkan pada membaca. Dia sudah bisa membaca dari umur dua tahun karena saya latih dengan menggunakan flash card. Lalu dilanjutkan dengan buku-buku sederhana. Saya juga selalu menyediakan stok bacaan yang banyak untuknya. Kami kadang-kadang ke toko buku bersama dan anak-anak boleh memilih buku yang mereka suka. Singkatnya, mereka mendapat akses mudah ke buku/bacaan.

Kendala umumnya apa sih saat pertama kali membiasakan anak untuk senang membaca? Dalam prosesnya, Mbak sendiri butuh berapa lama untuk membiasakan gemar membaca kepada Keenan? Apakah Mbak memberikan semacam reward kalau Keenan mau membaca? Kalau ya, seperti apa?

Kendalanya sebetulnya ada pada orang tua. Saya rasa, anak secara alamiah adalah seorang pembelajar. Mereka penuh keingintahuan dan merespons dengan baik pada segala sesuatu yang baru. Masalahnya, kadang-kadang kita sebagai orang tua memiliki keterbatasan waktu, fokus, tenaga, dan konsistensi untuk bisa terus mengenalkan anak pada dunia baca.

Bacaan apa saja yang Mbak berikan kepada anak-anak? Terbatas pada pelajaran sekolah atau bagaimana? Dan, bacaan yang paling disukai Keenan itu apa, ya?

Bacaan yang saya sediakan di rumah merupakan gabungan dari buku pengetahuan, fiksi, komik. Tidak terbatas dalam bentuk cetak saja, buku digital seperti dongeng anak2 elektronik yang bisa dibaca di Ipad pun kami suka kasih. Keenan saat ini lebih suka buku pengetahuan. Dia senang mempelajari binatang dan fenomena alam. Kalau fiksi, dia lagi suka Tintin.

Apakah ada tanda-tanda bahwa Keenan juga doyan nulis seperti mamanya?

Belum tahu. Saat ini dia lebih senang nonfiksi ketimbang fiksi. Tapi saya nggak memaksakan juga sih, ikut arusnya saja sambil terus dipantau.

Saturday, December 20, 2014

Nakita | Gentle Birth | Oktober, 2011 | by Dedeh


Kesibukan dan aktivitas apa saja yang sekarang Anda tengah lakukan?
                   
Saat ini saya sedang menyelesaikan buku saya kedelapan, Supernova Partikel. Untuk itu, saya sengaja cuti panjang dari berbagai kegiatan yang di luar rumah. Jadi saat ini konsentrasi saya hanya untuk menulis dan mengurus rumah, keluarga, anak-anak.
                   
Anda pernah menjalani persalinan dengan gentle birth. Dari pengalaman yang Anda rasakan, bagaimana pengaruhnya bagi diri anak sekarang ini dan juga hubungannya dengan Anda sebagai ibu? (Misalnya, anaknya termasuk anak yang tenang, bahagia, dan sebagainya. Hubungan dengan Anda sebagai ibu lebih erat, dan sebagainya.)
                   
Sejak lahir, Atisha bisa dibilang sangat "conscious". Perkembangannya sangat baik, baik itu motorik, sensorik, maupun memori dan daya tangkapnya. Dari Atisha masih di kandungan, saya dan sudah membiasakan berkomunikasi dengannya. Jadi setelah lahir pun, meski dia belum berkomunikasi seperti orang dewasa, dia sangat responsif terhadap apa yang kami sampaikan. Secara kesehatan, Atisha jarang sakit, daya tahan tubuhnya sangat bagus.
Pengalaman Gentle Birth benar-benar revolusioner dalam hidup saya, dan juga keluarga. Atisha juga dekat dengan abangnya dan ayahnya. Saya sendiri sangat menikmati peran saya sebagai ibu. Meski bisa dibilang, saya hampir tidak bekerja lagi seperti dulu, jadi hanya mengambil pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah, saya tidak merasa kehilangan apa pun. Malah kalau bisa selama mungkin mengurus Atisha secara penuh, setidaknya sampai sebelum dia bersekolah.
                   
Dalam hal membesarkan buah hatinya, seperti mendidik dan mengasuhnya, apa yang Anda anggap penting untuk ditanamkan pada diri mereka? Mengapa itu penting?
                   
Kami selalu mendorong mereka untuk jujur dan tidak sungkan mengomunikasikan perasaan dan pikiran mereka. Kami ingin mereka tumbuh besar menjadi orang yang peka dan tidak mengabaikan suara batin mereka. Karena kami melihat kecenderungan orang modern sekarang ini adalah melapisi diri mereka dengan berbagai tameng, entah itu citra, identifikasi yang tidak tulus, dan sebagainya.
                   
Kegiatan apa yang sering dilakukan bersama anak-anak dalam keseharian dan juga di hari weekend?

Kami sering jalan-jalan di sekitar kompleks, membaca, menyanyi di rumah. Saat kami semua berkumpul di kamar, bercanda dan ketawa-ketawa, itulah momen yang paling menyenangkan.

Majalah Internal Kesehatan | Rekreasi Untuk Anak | Desember, 2009 | by Anastasia Ratih P Tyas


Menurut Anda, pentingkah seorang anak diberi kesempatan untuk rekreasi secara rutin? Mengapa?

Rekreasi itu penting. Kalau rutinnya sih saya lihat sikon, jika memang memungkinkan oke, tapi kalau enggak ya nggak usah dipaksakan. Menurut saya, rekreasi itu menyehatkan mental anak, dan juga memperkuat bonding antara orang tua dan anak.

Buat anak Anda, Keenan Avalokita Kirana, dalam bentuk apa rekreasi yang Anda berikan kepadanya? Atau, adakah permintaan khusus dari si kecil untuk melakukan suatu kegiatan rekreasi?

Keenan lagi suka main di air, jadi paling sering diajak berenang. Kalau ke luar kota sesekali kita jalankan, misalnya ke Taman Safari, Puncak, Garut, Bali. Kalau memang pas saya ada nyanyi/talkshow ke luar kota juga kadang-kadang Keenan saya bawa. Dia sih pada dasarnya suka jalan-jalan, jadi ke mana pun semangat. Tapi tempat favorit dia sejauh ini adalah Bali.

Saat ini, apa yang biasanya anak Anda lakukan saat diberi waktu untuk bermain?

Dia senang main di luar, ketemu teman-teman sebayanya. Kebetulan di kompleks kami cukup banyak anak kecil. Atau dia main musik (drum).

Apakah Anda termasuk tipe orangtua yang membatasi waktu bermain anak setiap harinya? Kalau iya, kapankah waktu yang pas untuk Keenan bermain/bersantai?

Karena dia baru 5 tahun, masih TK, dan belum ada pekerjaan rumah dari sekolah. Hampir setiap saat ya kerjanya main. Dia punya slot waktu khusus untuk belajar dan membaca. Sekarang ini dia lagi belajar nulis, dan biasanya dia membaca dongeng bersama saya sebelum tidur. Sisanya dia main.

Apakah Anda senantiasa menemani Keenan bermain atau Anda sudah mulai membiarkan dirinya mandiri, termasuk dalam hal rekreasi? Alasannya?

Saya nggak selalu menemani, apalagi sekarang ini saya sedang mengurus anak kedua, jadi Keenan lebih sering dibiarkan mandiri atau ditemani Reza. Karena Keenan juga cukup sering mengunjungi kakek-neneknya di Bandung, dia sudah terbiasa naik travel ditemani babysitter, jadi sudah cukup mandiri. 

Biasanya, apa yang Anda lakukan bersama anak-anak di waktu luang?

Ngobrol, nonton teve bareng, atau baca buku. 

Wednesday, December 17, 2014

Harian INDOPOS | Profil Selebritis | Juli, 2009 | by Ahmad Sukarno Hamid

Dee... sebelumnya selamat dan sukses untuk diluncurkannya novel terbaru. 

Terima kasih. 

Kabarnya novel Rectoverso sudah rilis? Bagaimana rasanya telah merampungkan satu proyek? 

Rectoverso rilis sejak Agustus tahun lalu. Rasanya senang, bahagia, lega. 

Bisa diceritakan awal penulisan novel ketujuh ini? 

Pertama-tama, Rectoverso adalah kumpulan cerpen. Bukan novel. Dan untuk buku, Rectoverso adalah buku saya ke-6. Banyak informasi tentang Rectoverso bisa dilihat di www.dee-interview.blogspot.com dengan label posting “Rectoverso”, silakan dicek. Jika ada yang belum saya jawab di sana, maka akan saya jawab di interview ini. Tapi kalau sudah ada, mohon dilihat jawaban saya di Dee-Interview, dan wawancara ini bisa berjalan lebih efisien dan efektif bagi pihak saya maupun Indopos. Terima kasih sebelumnya. 

Kalau dibandingkan dengan novel sebelumnya ada hubungannya nggak? 

Tidak ada hubungannya. 

Sempat nggak mengalami stagnan di karya ini? Bisa dijelaskan? 

Karena saat menyelesaikan album Rectoverso, saya belum kelar menulis semua cerpennya, saya sempat behind schedule untuk dua cerpen, makanya saya akhirnya kabur dulu ke Garut selama 3 hari 2 malam khusus untuk merampungkan dua cerpen tsb.

Dee… siapa sih yang paling berperan dalam pembuatan Rectoverso dan karier kamu? 

Setiap karya saya selalu membawa “tim sukses”-nya sendiri. Jadi setiap karya hampir selalu orang yang ngebantuinnya beda-beda. Saya berutang budi pada banyak orang, saking banyaknya nggak bisa saya sebutkan satu-satu. 

Sejauh ini peran suami (Reza Gunawan) dalam menunjang karier di musik sejauh apa? Dan untuk menulis seperti apa? Bisa dijelaskan? 

Reza membantu saya dengan mengiringi piano selama promosi Rectoverso (kebetulan dia pianis), dan secara umum dia sangat mendukung karier saya, baik menulis maupun musik. Dia adalah teman diskusi, teman brainstorming, dan teman curhat dalam segala pekerjaan saya. 

Sempat nggak meminta saran Reza atau sekedar pendapat, atau membaca ulang hasil tulisan kamu? 

Selalu. 

Ada perasaan beda nggak setelah menikah dengan Reza Gunawan? 

Setiap hari perasaannya beda-beda. Haha! 

Dee... seperti apa sih upaya dan rencana kamu untuk membesarkan Keenan Sidharta? 

Nama lengkap Keenan adalah: Keenan Avalokita Kirana. Bukan Keenan Sidhartha.
Saya nggak punya rencana macam-macam, pokoknya memfasilitasi dia sebaik mungkin. Kalau minatnya musik, ya, saya dorong, kalau menyanyi, ya, didorong juga. Pokoknya dilihat saja perkembangannya setiap hari seperti apa, lalu didukung sebaik mungkin. Karena kan, Keenan pastinya punya minat dan bakat sendiri, yang belum tentu sama dengan orang tuanya. 

Untuk sekadar mendidik anak pernah nggak browsing internet atau tanya kepada orang tua.

Saya banyak baca buku bertema parenting, cari info di internet juga. Kalau tanya orang sih cenderung enggak, karena belum tentu pas dan sevisi dengan kami. 

Masih komunikasi dengan Marcell untuk mendidik Keenan? 

Tentu masih. 

Sampai sejauh ini peran Marcell seperti apa, sih? 

Sebagai ayah kandung Keenan, tentunya peran dia tidak tergantikan. Sampai kapan pun hubungan mereka tak akan terputus, jadi sampai sekarang kami berdua (bahkan bertiga dengan Reza) masih terus diskusi dan saling lapor tentang perkembangan Keenan. Misalnya, saya sedang mengajarkan disiplin makan, saya lapor ke Marcell, supaya kalau Keenan lagi bareng Marcell pola asuhnya nggak belang-belang, dst. 

Sekarang, kan, mulai sibuk lagi, ada pembagian tugas nggak dengan Marcell? 

Kalau kebetulan saya dan Reza lagi ada kesibukan, saya suka telepon Marcell juga minta tolong jagain Keenan. Sebaliknya juga begitu dari pihak Marcell. 

Tuesday, December 16, 2014

Hers Magazine | Profil | Juli, 2005 | by Ina


Orang pertama kali mengenal Anda sebagai penyanyi, bagaimana ceritanya sampai tiba-tiba Anda ingin jadi penulis? 

Sebetulnya hobi menulis itu sudah sejak kecil sekali, bahkan bisa dibilang sebelum menyanyi. Kalau hobi bermusik lebih dulu subur karena terdorong oleh keluarga dan lingkungan yang pecinta seni semua, tapi hobi menulis benar-benar hadir secara independen. Saya juga tidak pernah ikut lomba atau aktif mengirim ke media cetak, jadi betul-betul asyik buat sendiri saja. Paling-paling saya sebar ke teman-teman sendiri dan keluarga. Meskipun begitu, keinginan untuk menulis buku memang sangat kuat, hanya tunggu timing dan karya untuk menjadi titik awal, dan itu saya temukan ketika mulai menggarap naskah Supernova tahun 2000. Saya berpikir ‘inilah saatnya, inilah yang akan menjadi buku pertama saya’. Dan itu juga bedanya dengan karier musik saya yang berjalan mengalir begitu saja, it’s given, sementara dalam menulis I have to make it happen. Ada satu awalan yang saya mulai sendiri, yakni menerbitkan dan memasarkan Supernova secara independen.

Kenikmatan apa yang Anda dapatkan saat menulis?

Bagi saya, menulis itu menjadi media komunikasi saya dengan jiwa. I’m communicating with myself, between the little self and the Big Self. Dalam level substansi, bagi saya menulis bukan lagi sekadar hobi tapi kebutuhan rohani. It’s how I keep my sanity.

Apa yang biasanya menjadi inspirasi utama Anda dalam menulis?

Cinta – evolusi dan metamorfosanya. Karena dinamika pemahaman kita akan Cinta itu sejalan dengan dinamika pemahaman kita akan diri, dunia, dan Tuhan.

Dari keseluruhan seri novel Supernova, mana yang paling Anda sukai?

Ketiganya merupakan pengalaman yang tak terbandingkan. Dan itu yang ingin saya dapat sekaligus hadirkan dalam Supernova, setiap seri merupakan pengalaman yang berbeda-beda. Dalam Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ) saya mendapatkan kepuasan eksplorasi berpikir, keindahan saat rasio dan insting melebur. Sementara dalam Akar saya mendapat pengalaman mind traveling, saat pikiran saya harus mengikuti jejak Bodhi ke berbagai tempat. Kalau Petir saya bisa melepaskan sisi ‘gila’-nya Dewi Lestari yang sebenarnya sangat senang bercanda.

Misi atau pesan apa yang sebenarnya ingin Anda sampaikan dalam keseluruhan buku Supernova?

Supernova merupakan cerminan pergelutan spiritual kaum muda dalam zaman Aquarius, yang mana peran generasi kita pada zaman ini sangat krusial dalam penentuan nasib dunia kelak. Value utama dalam Supernova adalah self-inquiry. Kita harus menggali diri kita ke dalam untuk tahu identitas kita yang sesungguhnya, dan setelah itu didapatkan maka niscaya kita akan memperlakukan diri kita, Bumi, dan sesama makhluk hidup, dengan respek dan tanggung jawab. 

Karakter yang Anda tulis dalam setiap seri Supernova apakah secara tidak langsung menggambarkan pribadi dan karakter Anda sendiri? 

Setiap karya tentunya merupakan ekspresi subjektif penciptanya. Supernova tidak terkecuali. Kalaupun tidak langung merupakan penggambaran Dewi Lestari, tapi pastinya pikiran maupun ide-ide saya tertumpangkan ke dalam tokoh-tokoh Supernova maupun alur ceritanya.

Bagaimana Anda menggambarkan karakter dan kepribadian Anda?

I’m multidimensional. Tanggal lahir saya perbatasan Capricorn-Aquarius, shio saya perbatasan Kelinci dan Naga. So I guess my personality is a mix between equally strong but contrast qualities, and my challenge is to bring the best out of those two sides and at the same time learn to embrace the down sides of both.

Anda juga dikenal sebagai pecinta lingkungan hidup, ada nggak niatan untuk menulis buku tentang lingkungan?

 Tentunya ada. Saya akan memulainya dengan seri Supernova berikut yakni Partikel di mana tokoh utamanya, Zarah, adalah seorang environmentalist yang juga berprofesi sebagai seorang nature photographer. Walaupun masih dalam kerangka besar Supernova, tapi setidaknya ide-ide dan pesan-pesan saya tentang urgensi isu lingkungan bisa tersalurkan.

Atau mungkin, salah satu seri buku Supernova ada yang ingin dikembangkan menjadi film layar lebar, tertarikkah Anda untuk menulisnya menjadi naskah skenario film?

Hmm. Masih belum kepikiran, sih. Kalau keinginan untuk bikin skenario film sih ada, tapi mungkin bukan Supernova. Karena bagi saya Supernova masih cerita yang belum utuh tamat, kalau serial itu selesai mungkin-mungkin saja kemungkinan itu jadi terbuka. 

Lirik-lirik yang pernah Anda tulis dalam album RSD terdengar sangat puitis dan filosofis? Dari mana Anda mendapatkan sumber inspirasi dan imajinasi dalam merangkainya menjadi satu kalimat lirik lagu? Apakah itu hanya karangan atau ada hubungannya dengan pengalaman pribadi Anda?

Dari semua tipe kepenulisan, bagi saya menulis lirik lagu merupakan pekerjaan yang paling menantang sekaligus paling memuaskan. Kita harus mengkondens cerita dalam beberapa bait dan harus mengawinkannya dengan melodi sehingga peleburan itu terasa sempurna dan bukan tempelan. Analoginya, bagi saya membuat lirik itu seperti ngisi TTS. Menantang otak sekaligus rekreasi. Nggak semua pengalaman pribadi, tapi sedikit banyak ada tercampur-campur. Karena tetap dong butuh dramatisasi, tidak semuanya kisah pribadi itu cukup menarik untuk diangkat, hehe.

Bagaimana cara Anda mendidik atau menanamkan nilai-nilai pendidikan pada si kecil? 

Karena Keenan masih 10 bulan, mungkin belum terlalu terasa, ya. Tapi saya sih natural saja sama dia. Jangan malu untuk jadi jelek atau gila-gilaan, pokoknya we just have to be fun. Yang paling penting  bagi saya adalah dia tumbuh dalam kasih. Interaksi kita harus akrab, nggak formal. Dia juga harus diajarkan untuk cinta lingkungan dan respek sama makhluk lain.

Adakah obsesi untuk ‘mempersiapkan’ si kecil menjadi penulis atau seniman seperti Anda? Atau ada obsesi lain? 

Kami sebagai orang tua sudah pasti akan membesarkan anak dengan tendensi. Sama seperti ayah saya yang suka musik, sekalipun dia tidak menyuruh kami jadi musisi, tapi dengan menghadirkan alat musik di rumah, sering bernyanyi-nya, dsb, akhirnya kami jadi terbawa. Keenan juga pasti tumbuh besar dalam tendensi profesi kami berdua. Saya pasti akan mendekatkan dia dengan buku, dengan musik, dengan seni. Ayahnya pasti mengajak dia ikut main drum, atau membawa dia ikut kalau show, dsb. Saya nggak tahu outcome dari itu semua, apakah kemudian dia mengikuti jejak kami berdua atau tidak, yang jelas kami akan berusaha memfasilitasi semua potensi dia. I just want him to become the best at what he’s good at.

Rencana Anda ke depan baik sebagai penulis atau penyanyi?

Untuk menulis ya tentunya menamatkan serial Supernova, menerbitkan kumpulan cerita dalam waktu dekat. Kelak, saya ingin menulis cerita anak. Untuk nyanyi penginnya bikin album solo, tapi nggak ngoyo. Kalau bisa terealisasi tahun ini sudah bagus banget. 
 

Tuesday, February 10, 2009

WANITA INDONESIA | Mengajarkan Anak Membaca (Metode Glenn Doman) | Jan, 2009 | By Didi

1. Mundur ke belakang, sejak usia berapa Dee mengajar Keenan bermain dengan metode Glenn Doman? Bagaimana pada awal Keenan menerima pola ajar seperti itu?

Sejak Keenan umur 1 tahun. Dan saya tahu dia sudah bisa baca waktu umur 2,5 tahun. Dia sih menerimanya dengan baik, atentif, dan selalu memerhatikan flash card yang ditunjukkan padanya.

2. Apakah cara yang dilakukan itu menggunakan tempo, misalnya tiap hari atau tiap berapa kali dalam seminggu? Selama melakukan itu berapa lama (jam) dan di saat suasana seperti apa diterapkan pada Keenan? Atau adakah waktu khusus?

Sesuai dengan petunjuk dari metode Glenn Doman, saya memainkan tiga set flash card sebanyak tiga kali sehari. Memainkan flash card sendiri tidak makan waktu berjam-jam, bahkan kurang dari semenit, karena per kartunya hanya perlu ditunjukkan dalam waktu satu detik. Suasananya sih nggak ada yang khusus, pokoknya saat dia lagi santai dan fokusnya nggak ke hal lain (teve, mainan, dsb).

3. Apa dampak positif dan negatif pada keenan yang dirasakan Dee pada cara kerja metode Glenn Doman tersebut?

Saya sih tidak merasakan dampak negatif, walaupun ada beberapa psikolog yang bilang metode itu membuat anak hanya tertarik pada membaca saja, yang lain jadi kurang. Tapi buat saya pribadi, saya nggak merasakan dampak negatifnya. Keenan sudah bisa baca dari umur 2,5 tahun, bagi saya tentu itu dampak positif. Kuncinya adalah jangan pernah mengetes, karena kadang-kadang ibu-ibu jadi kesusu ingin mengetes anaknya, atau ngoyo supaya anaknya bisa cepat baca, apalagi kartu-kartu itu memang nggak murah, kalau buat sendiri pun lumayan repot, jadi wajar kalau ibu-ibu jadi ‘nggak mau rugi’. Cuma keinginan mengetes itu kontra-produktif bagi anak. Intinya semua anak senang belajar, tapi tidak suka diuji. Jadi biarkanlah hasil dari pembelajaran itu muncul dengan alamiah tanpa perlu dipaksakan.

4. Apa keistimewaan menggunakan Glenn Doman dibanding cara lainnya?

Khusus untuk membaca, saya nggak tahu metode lain, jadi nggak bisa membandingkan. Tapi, dibanding dengan waktu saya kecil dulu dan diajarkan baca memakai aksara dan mengeja ‘a, b, c’ dst, metode Glenn Doman lebih efektif dan konon lebih cocok dengan kerja alamiah otak.

5. Bagaimana Dee pertama kali mengetahui dan mengenal Glenn Doman? Dengar kabar sampai bela-belain mencari produk itu keluar negeri, ya? Dan menerapkan pada Keenan menggunakan bahasa Inggris?

Saya baca bukunya dulu, lalu ikut pelatihannya di Bandung. Saya beli kartu-kartunya di Indonesia, kok. Kan sudah ada distributornya di sini. Yang saya pakai memang Bahasa Inggris, karena waktu itu yang ada hanya Bahasa Inggris, versi Bahasa Indonesia baru keluar setahun kemudian. Dulu, untuk Bahasa Indonesia saya terpaksa buat sendiri, tapi nggak banyak, mungkin cuma 50-an kartu. Setelah versi Bahasa Indonesia-nya keluar, ya saya pakai flash card yang udah jadi.

6. Kalau tidak salah Dee jadi duta Glenn Doman? Bagaimana ceritanya? Terus, apa langkah yang dijalankan Dee dengan menyandang duta itu?

Saya bukan duta Glenn Doman. Setahu saya nggak ada yang jadi duta Glenn Doman, yang ada hanyalah licensed instructor yang memang mengambil pelatihan resmi Glenn Doman di Amerika, dan di Indonesia baru ada satu orang yakni Mbak Irene Mongkar.

7. Sepantasnya Glenn Doman cocok diterapkan pada usia anak berapa?

Dari bayi umur seminggu juga bisa, tapi bukan huruf dulu, hanya siluet aneka bentuk dengan warna hitam putih. Setelah itu baru pakai huruf. Pada prinsipnya, semakin dini diajarkan semakin baik, karena semakin mudah dicerap anak.

8. Peran ibu dalam hal ini seperti apa yang pantas dianggap cukup berhasil menerapkan metode Glenn Doman pada anaknya?

Buat saya pribadi, bukan hanya soal bisa baca atau enggak, tapi dengan meluangkan waktu untuk belajar dan bermain sama anak, kita jadi punya quality time dan bonding time dengan anak. Dan ya itu tadi, jangan tergoda untuk menguji. Saya tahu Keenan sudah bisa baca ketika dia tiba-tiba menunjuk kata-kata di layar komputer saya dan membacanya. Saya nggak pernah dengan sengaja menguji dia.

9. Kabarnya Glenn Doman pantas diterapkan pada anak yang bermasalah, misalnya pada anak yang mengalami ‘cacat’? Sehingga tidak layak diterapkan pada anak yang normal?

Awalnya metode itu ditemukan memang ketika Glenn Doman menangani anak yang mengalami brain injury, dan ternyata setelah diajarkan membaca, anak yang mengalami cedera otak tsb memperoleh kemajuan yang sangat pesat dan akhirnya punya kemampuan sama dengan anak dengan otak normal. Oleh karena itu, jika metode yang sama diterapkan ke anak dengan otak yang normal, hasilnya menurut Glenn Doman akan sangat luar biasa. Kenapa membaca? Karena membaca melibatkan aktivitas otak kiri dan otak kanan sekaligus.

10. Komentar lain tentang Glenn Doman yang Dee rasakan?

Jangan hanya terpaku atau fanatik pada satu metode saja. Menurut saya, kasih sayang, komunikasi yang jujur dan sehat dengan anak, serta alokasi waktu yang cukup untuk menemaninya adalah hal yang paling penting.