Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Friday, April 3, 2020

Media Indonesia | Aroma Karsa & Profesi Penulis | April, 2018 | Rizky Noor Alam


Sebagai seorang penulis senior, bagaimana Anda melihat perkembangan dunia menulis Indonesia saat ini?

Secara umum, profesi penulis saat ini mendapatkan lebih banyak perhatian. Dari soal pajak, program residensi, festival penulis baik lokal maupun internasional, pemunculan beberapa asosiasi penulis, kesemua itu menunjukkan adanya geliat yang lebih dinamis. Berbicara soal penulis tidak bisa lepas dari industri. Industri yang sehat dan bergairah akan memunculkan lebih banyak penulis. Secara industri, industri perbukuan masih sangat kecil dibandingkan industri kreatif lain, yang artinya masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibereskan. Terutama menyangkut minat literasi, akses ke buku yang lebih merata, dan pengadaan buku yang lebih terjangkau.

Buku terbaru Anda yang berjudul Aroma Karsa bisa dibilang booming di pasaran. Bisa dijelaskan apa latar belakang serta pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca? Mengingat tampaknya Anda melakukan riset yang mendalam untuk ini.

Saya bukan tipe penulis yang punya pesan khusus kepada pembaca. Saya menuliskan sesuatu semata-mata karena itu menarik bagi saya. Sejam empat tahun lalu, saya memang sudah tertarik untuk mengolah topik indra penciuman di dalam fiksi. Dari sanalah muncul ide dasar untuk Aroma Karsa.

Bagian mana dari buku Aroma Karsa yang paling menarik/berkesan buat Anda? Mengapa begitu?

Saya tidak bisa mengisolasi beberapa bagian saja dari cerita. Bagi saya, semuanya merupakan satu kesatuan. Di Aroma Karsa, selain tema penciuman, mungkin yang bisa dibilang hal baru bagi saya di Aroma Karsa adalah penggalian mitologi Jawa khususnya Majapahit, yang meski dalam Aroma Karsa hampir semuanya fiktif, dalam risetnya saya tetap mempertimbangkan aspek epigrafi yang relevan. Unsur semacam ini belum pernah sebelumnya muncul di karya saya.

Apa harapan Anda dengan kemunculan buku Aroma Karsa? Mau dibawa ke mana komunitas pembaca Aroma Karsa yang sudah terbentuk?

Dinamika pembaca semacam ini merupakan hal lazim, sebetulnya. Yang membedakan adalah saya, sebagai kreator, sempat ikut di dalamnya. Meski sekarang ini pastinya keterlibatan saya tidak seintensif ketika cerbung Aroma Karsa masih berjalan. Saya tidak ingin mengorganisir pembaca karena itu akan memakan fokus dan atensi saya yang seharusnya bisa dipakai untuk berkarya. Saya juga yakin pembaca lebih membutuhkan saya untuk berkarya ketimbang mengorganisir mereka. Saya lebih cenderung membiarkan komunitas pembaca semacam ini  berjalan organik, seperti halnya Komunitas Supernova. Jadi, biarlah para pembaca yang sudah bersilaturahmi ini yang kemudian memutuskan arahnya bagaimana. Grup FB Aroma Karsa yang sekarang ada tidak akan ditutup.

Berapa eksemplar buku Aroma Karsa yang sudah terjual? Adakah target jumlah buku yang terjual? Dan, apakah akan muncul sekuel lanjutan Aroma Karsa?

10.000 buku PO sudah terjual. Di luar dari itu, jika tidak salah, penerbit mencetak 40.000 eksemplar. Detailnya bisa dipastikan ke Bentang Pustaka. Kalau jumlah terjual harus dicek beberapa bulan kemudian, karena penyerapan di toko buku tidak bisa dilaporkan serta merta.
Sekuel Aroma Karsa sejauh ini belum direncanakan, meski tidak menutup kemungkinan.

Sebelum Aroma Karsa, Anda sudah menerbitkan banyak buku dan beberapa diantaranya diangkat menjadi sebuah film seperti Supernova, Filosofi Kopi, dan Perahu Kertas. Bisa dijelaskan bagaimana perjalanan buku-buku Anda tersebut dapat diangkat menjadi sebuah film?

Tawaran menjadi film sepenuhnya merupakan inisiatif rumah produksi/produser. Saya tidak pernah aktif menawarkan atau mencanangkan buku-buku saya jadi film. Jadi, kalau ada yang tertarik, maka yang bersangkutan akan mengontak saya. Jika segalanya pas, jadi. Jika tidak, ya, tidak jadi. Sesederhana itu saja.

Bagaimana soal hak cipta dari buku/cerita yang Anda tulis yang kemudian diangkat ke film? Mengingat jika sebuah buku diangkat menjadi film, tidak semuanya isi buku tersebut difilmkan? Dan, kalau tidak keberatan, berapa nilai dari setiap buku yang diangkat menjadi film tersebut?

Hak cipta tetap ada di tangan penulis. Proses ekranisasi atau alih wahana dari fiksi menjadi film disebut sebagai hak adaptasi. Artinya, buku diadaptasi, dan bukan garansi bahwa isi buku 100% diterjemahkan menjadi film. Dalam proses alih wahana tersebut pasti akan penyesuaian. Penulis memberikan hak adaptasi kepada pihak film, dan selebihnya merupakan hak pembuat film untuk menentukan.
Poin yang kedua tidak bisa saya jawab karena menyangkut pasal kerahasiaan dalam kontrak.

Dalam menulis buku, apa target Anda? apakah Anda selalu menargetkan menjadi film saat menulis buku? Atau Anda memang sudah membayangkan akan diangkat menjadi film?

Target saya adalah menulis buku yang ingin saya baca, dan menulis sebaik-baiknya. Alih wahana tidak pernah menjadi target.

Setelah Aroma Karsa, buku apa lagi yang sedang dalam proses penulisan? Adakah target jumlah buku yang harus Anda terbitkan setiap tahunnya?

Saat ini saya masih menjalani masa promosi Aroma Karsa, dan belum merencanakan apa yang akan saya garap berikutnya. Tentunya saya sudah punya beberapa opsi, tapi saya tidak mau memikirkan soal itu dulu hingga masa promosi selesai. Setelah itu, saya rihat dulu sambil pelan-pelan mulai merencanakan proyek kreatif berikut. Saya tidak punya target tahunan, karena kecepatan saya berkarya sejauh ini selalu lebih dari setahun, paling cepat setahun setengah.

Di era digital saat ini, banyak orang yang sudah mulai beralih membaca via tablet atau smartphone-nya. Namun masih ada pula beberapa kalangan yang masih setia membaca menggunakan kertas. Bagaimana Anda melihat fenomena ini? Akankah Anda akan mulai beralih menerbitkan buku secara digital?

Saya sudah memulai menerbitkan naskah secara digital sejak tahun 2007, dimulai dari Perahu Kertas. Saat ini, selain Aroma Karsa, semua versi digital dari buku saya juga sudah tersedia. Saya merasa teknologi saat ini merupakan kesempatan emas untuk meningkatkan minat literasi. Meski buku cetak masih mendominasi dan memiliki peran penting, kita bisa memanfaatkan teknologi buku digital untuk pemerataan buku-buku di daerah, ketimbang harus mengirimkan/menyebarkan buku fisik yang juga memakan biaya dan membutuhkan perawatan. Beberapa daerah yang saya kunjungi akhir-akhir ini, salah satunya Kalimantan Selatan, Dinas Perpustakaan-nya sudah bersiap meluncurkan perpustakaan digital, yang mana anggota perpus dapat meminjam buku secara gratis dalam kurun waktu tertentu. Hal seperti ini menurut saya adalah terobosan penting dan mudah-mudahan dapat diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. Untuk itu, penting sekali bagi pemerintah untuk menyiapkan jaringan/infrastruktur bagi layanan internet memadai di Indonesia. Buku bukan berhenti sebatas kertas. Buku adalah konten dan informasi. Dan, teknologi saat ini memungkinkan kita mengakses konten buku di luar dari batasan fisik. Tergantung kita siap memanfaatkannya secara maksimal atau tidak.

BEKRAF pernah bilang bahwa media multiplatform cocok untuk orang-orang yang bergerak di industri kreatif, konten tulisan Anda dapat pun dapat dikembangkan melalui banyak media. Maksudnya inti dari industri kreatif adalah hak cipta. Misalnya komik Marvel yang menjelma menjadi banyak film dan dibuat merchandise-nya, Laskar Pelangi yang selain menjadi film juga mampu berdampak pada menghidupkan industri pariwisata di daerahnya, lalu Filosofi Kopi yang tidak hanya diangkat menjadi film tapi sekarang juga ada gerai-gerai kopinya. Bagaimana pendapat Anda dengan hal tersebut?

Menurut saya, memang ke arah sanalah industri perbukuan harus bergerak. Dan, secara umum, ke arah sana jugalah industri kreatif harus bergerak. Sekat antar medium saat ini sudah semakin cair dan fleksibel. Satu ide yang sama dapat bertransformasi menjadi berbagai output, lintas industri.

Bagaimana pendapat Anda soal pengenaan pajak bagi penulis yang dilakukan Pemerintah?

Sudah ada perhatian dengan tanggapnya pemerintah dan Menteri Keuangan terhadap isu pajak penulis tempo hari, dan juga perbaikan dengan adanya profesi penulis di daftar NPPN. Hanya saja, menurut saya pajak penulis masih bisa diperbaiki dan lebih merefleksikan sifat profesinya. Besaran NPPN tsb menurut saya masih bisa disesuaikan. PPh 23 saat ini juga masih terlalu besar (15%), dan pengaturan pemungutan langsung oleh penerbit berarti pemerintah menahan uang penulis dan berpotensi membuat perhitungan yang membutuhkan koreksi di SPT tahunan (bisa lebih atau kurang bayar – yang artinya menambah satu prosedur lagi yang merepotkan penulis, juga pemungut pajak).

Follower Anda di sosial media terbilang banyak. Bagaimana Anda memandang diri Anda sebagai seorang influencer?

Saya tidak memisahkan profesi saya dengan status saya sebagai influencer. Kredibilitas saya datang dari profesi yang saya lakukan. Jadi, yang lain-lain bisa dibilang hanya ‘bonus’. Yang jelas, di medsos saya berprinsip untuk membatasi tidak over-sharing hal-hal yang terlalu pribadi. Dan, ketika saya menampilkan keseharian, saya juga tidak ingin menampilkan citra artifisial, jadi sesuai dengan kepribadian saya saja. Interaksi dengan follower saya jaga tetap riil dan hangat. Bagi saya, medsos pada prinsipnya adalah penunjang pekerjaan, tapi saya tidak ingin “dimanfaatkan” medsos.

Apa saran Anda bagi para penulis muda Indonesia?

Tulis yang ingin kita baca. Tingkatkan jam terbang. Banyak mencoba sampai kita nyaman. Jangan takut gagal, jangan juga terlalu muluk. Mulai tulisan dengan niat menamatkannya.

Apa arti musik dan buku bagi Anda?

Medium untuk berekspresi.

Bagaimana Anda mendapatkan inspirasi dalam menulis? Akankah Anda tertarik untuk menulis berdasarkan fenomena sosial masyarakat terkini?

Inspirasi saya datang dari hidup itu sendiri, dari mengamati dan menjalaninya. Baik perenungan, ketertarikan, maupun buku-buku yang saya baca, menjadi bahan bagi saya menulis. Kalau ada fenomena sosial masyarakat terkini yang menarik, maka bisa saja itu menjadi ide. Tetapi, saya tidak pernah merencanakannya dengan sengaja. Kalau memang terpicu jadi ide, ya terjadilah.

Bagaimana cara Anda menghilangkan penat dan mengumpulkan semangat saat sudah mulai jenuh untuk menulis? 

Kebuntuan ringan cukup diatasi dengan hal-hal yang sederhana, seperti istirahat, nonton film, olahraga, mandi, atau baca buku. Kalau cerita stagnan berkepanjangan, biasanya perlu dirombak secara teknis. Elemen fiksinya dikaji ulang dan diganti, bahkan ditulis ulang. Berusaha terus semangat dalam menyelesaikan karya bukanlah target yang realistis, karena seperti cuaca, pasti ada naik-turunnya. Saya cuma berusaha mematuhi deadline yang saya buat. Semangat atau tidak semangat, jenuh tidak jenuh, kalau kita sudah punya deadline dan komitmen untuk mematuhinya, perintang seperti itu akan teratasi dengan sendirinya, apa pun caranya.


Hobi Anda di luang apa? Seberapa sering Anda lakukan? Bagaimana Anda membagi waktu dengan keluarga d itengah kesibukan?

Berenang, memasak. Memasak hampir setiap hari karena merupakan bagian dari mengurus keluarga. Berenang kira-kira seminggu dua-tiga kali. Membagi waktu berdasarkan prioritas yang tepat sesuai kebutuhan, tidak ada rumus khusus. Kalau saatnya kerja dan keluar kota, ya, lakukan. Kalau memang harus di rumah, ya, di rumah. Saya berusaha membatasi diri saja untuk tidak over-work dan menjalankan prinsip produktif tanpa sibuk. Banyak orang sibuk tapi tidak produktif. Saya berusaha sebaliknya, produktif tapi minim sibuk.

Sebagai seorang penulis, nilai-nilai apa yang selalu Anda tanamkan pada anak Anda? Apakah Anda juga mendorongnya untuk mengikuti jejak Anda?

Di rumah kami berusaha menyuburkan kreativitas anak-anak, memberi mereka akses ke alat musik, kursus musik, dan buku. Saya tidak berusaha menjadikan mereka seperti saya. Saya percaya mereka lahir dengan potensi masing-masing dan ketertarikan yang juga mungkin berbeda dengan saya. Saya dan suami hanya berusaha memfasilitasi sebaik mungkin.

Thursday, April 2, 2020

Blog Putra Sasmita | Profil & Teknik Menulis | Mei, 2017 | Putra Sasmita

Bagaimana Anda memulai menulis novel? Apakah Anda membuat outline sebelum menulis?

Dari waktu ke waktu, teknik maupun metode saya menulis terus saya perbarui. Dulu saya menulis tanpa outline, walau hampir selalu membuat semacam peta cerita meski sederhana. Sekarang saya selalu membuat outline dan time table. Jadi, bukan hanya konten yang saya petakan, tapi sama pentingnya adalah jadwal kerja. Saya memberlakukan pemakaian outline hanya untuk novel. Prosa singkat, cerpen, atauapun novelet, biasanya saya tulis spontan.

Apa Anda punya target harian?

Ada. Bisa bervariasi sesuai kebutuhan. Untuk draf pertama, hitungan saya biasanya adalah jumlah kata. 1000 kata per hari. Jika sudah mendekati akhir cerita, lebih ke target ke berapa adegan yang bisa saya selesaikan (karena jalan cerita sudah semakin jelas). Pada tahap editing, target saya adalah menyunting sekian bab per hari (jumlahnya bergantung ada berapa banyak bab dan berapa lama waktu yang saya punya sebelum target cetak – yang biasanya saya tentukan sendiri).

Tampaknya Anda begitu disiplin dalam menulis. Anda memiliki target-target yang jelas, bahkan sampai target cetak yang Anda tentukan sendiri. Apakah kedisiplinan ini sudah ditanam oleh keluarga Anda sejak kecil?

Kedisiplinan menulis saya tumbuhnya berangsur, tidak serta merta, semata-mata karena akhirnya saya menemukan dan merasakan sendiri bahwa disiplin memiliki manfaat yang nyata bagi produktivitas kepenulisan saya sekaligus merupakan cara kerja yang realistis dengan kondisi saya yang berkeluarga. Pada aspek lain, saya orangnya cenderung santai.

Apakah Anda mengedit saat menulis atau setelahnya?

Tahapan pertama adalah penuntasan draf pertama. Melakukan penyuntingan pada tahap ini bagi saya kontraproduktif, karena bisa memperlambat jadwal kerja. Saya melakukan penyuntingan menyeluruh setelah draf pertama selesai. Ada kalanya di tengah jalan (biasanya mulai memasuki babak 2B), saya harus berhenti sejenak untuk meninjau ulang jalan cerita. Tapi, saya batasi untuk tidak jadi menyunting seluruh naskah, karena buat saya beda banget setting berpikir antara menulis dan menyunting. Kalau menulis saya harus di dalam cerita. Kalau menyunting saya harus di luar cerita. Kalau sudah di luar, cukup sulit untuk balik lagi ke dalam. Jadi, lebih baik penyuntingan dilakukan setelah draf pertama selesai.

Apa Anda punya rutinitas selama menulis?

Saya sudah mencoba berbagai macam jadwal dan kebiasaan. Dari menulis malam sampai menulis subuh. Dari nulis di keramaian sampai menulis sendirian. Saat ini saya cenderung menulis pagi hari hingga setelah makan siang, umumnya sebelum anak saya pulang sekolah. Biasanya saya olah raga dulu, mandi, ngopi, baru mulai menulis. Yang penting buat saya adalah tidak diinterupsi (diajak ngobrol). Tidak masalah dalam keramaian atau kesendirian.

Maya Angelou bercerita, saat menulis Ia akan menyewa sebuah kamar hotel dan harus ada sebotol Sherry, kamus, thesaurus, notepad, asbak, dan Injil. Bagaimana dengan Anda? Boleh gambarkan sedikit seperti apa ruang kerja Anda? Adakah kebiasaan yang Anda lakukan sambil menulis, misalnya sambil mendengarkan musik?

Saat ini saya sedang tidak punya ruang kerja khusus, biasanya saya menulis di kamar atau meja makan. Kalau di luar rumah, saya biasanya bekerja di kedai kopi. Saya berusaha tidak usah banyak “benda ritualistik” agar tidak repot. Yang penting ada air putih dan suhu ruangan tidak terlalu dingin/terlalu panas agar bisa menulis nyaman (saya menghindari tempat duduk yang terlalu dekat dengan tiupan angin AC). Kamus saya biasa pakai aplikasi KBBI, jadi tidak pakai versi cetak lagi. Terkecuali jika ada beberapa buku atau kamus spesifik yang saya butuhkan berkenaan dengan cerita. Musik tidak wajib, hanya kalau dirasa perlu. Kadang-kadang saya gunakan untuk membangun suasana saat menulis adegan tertentu. Tapi, tanpa musik juga bisa.

Siapa yang membaca draf pertama tulisan Anda?

Biasanya suami. Habis itu baru saya bagikan ke beberapa orang beta reader, yang biasanya teman-teman di penerbit.

Apakah suami Anda memberikan masukan?

Iya, dan juga kesannya terhadap cerita.

Ketika mengedit atau menulis, apakah Anda membaca keras-keras (read out loud)?

Iya. Tidak terus-terusan dalam setiap kali menyunting, tapi hampir selalu saya mengetes kalimat saya dengan membunyikannya (membacanya dengan bersuara).

Tema spiritualitas dan sains kerap muncul di serial Supernova, bagaimana Anda menggabungkan dua hal yang kelihatannya berseberangan ini ke dalam karya tulis Anda?

Bagi saya, justru keduanya tidak berseberangan, malah berkaitan. Dan keterkaitan itu yang menarik untuk ditulis. Tidak ada metode khusus untuk menggabungkan keduanya selain berusaha membangun cerita yang solid.

Bisa tolong jelaskan bagaimana Anda melihat keterkaitan spiritualitas dan sains?

Sains dan spiritualitas sama-sama bertujuan mengungkap realitas, memahami manusia, dan mekanisme kehidupan.

Sepertinya Ibu Dee tertarik dengan spiritualitas, sains, dan filsafat. Bagaimana ketertarikan ini bermula? Apakah Anda memiliki pengalaman pribadi?

Kalau saya ingat-ingat, memang hal-hal itu yang menarik minat saya sejak kecil. Mungkin belum saya bahasakan sebagai spiritualitas-sains-filsafat, tapi saya sering melamunkan bagaimana kehidupan ini bermula, dan buat apa saya (dan manusia lain) hidup dan terlahir di Bumi.

Apakah karena ini Anda menulis fiksi? Untuk mengungkap realitas, memahami manusia, dan menjelaskan mekanisme kehidupan?

Yang saya ungkapkan di atas itu lebih tepat sebagai alasan saya menulis Supernova. Karya fiksi saya yang lain tidak semuanya setema dengan Supernova. Saya menulis fiksi pada dasarnya karena saya suka seni bercerita.

Apakah pop culture ada pengaruhnya terhadap karya-karya Anda?

Saya tidak pernah benar-benar menyadari atau menyengajakannya, tapi saya percaya kita semua terpengaruh oleh budaya apa pun yang berlaku pada zaman kita hidup. Karena saya hidup dan besar di zaman ketika pop culture ada, tentunya saya terpengaruh. Seberapa banyak dan seberapa besar, saya tidak mengukurnya.

Bagaimana Anda melakukan riset untuk karya-karya Anda?

Riset yang saya lakukan umumnya dua macam. Riset langsung dan tidak langsung. Riset langsung contohnya ketika saya ke Sianjur Mula-mula untuk penulisan Gelombang, atau mencoba terapi listrik ketika menulis Petir. Namun, tidak semua kebutuhan riset bisa saya penuhi melalui riset langsung. Biasanya karena keterbatasan waktu. Misalnya, ketika saya masih punya bayi yang nggak bisa saya tinggal-tinggal, otomatis saya tidak bisa bepergian, meski kebutuhan cerita menuntut saya menulis berbagai tempat yang belum pernah saya kunjungi. Untuk itu saya melakukan riset tidak langsung, melalui riset pustaka (membaca buku, atau browsing), riset video / dokumenter, dan wawancara narasumber.

Pembaca bisa menduga bahwa Anda tentunya melakukan riset mendalam untuk karya-karya Anda. Biasanya yang terjadi apakah Anda meriset setelah menentukan cerita (plot, karakter, dsb) atau sebaliknya, riset dulu baru dicocokkan dengan cerita dan karakter? 

Keduanya bisa berjalan paralel. Hasil riset bisa menentukan jalan cerita. Jalan cerita juga bisa menentukan kebutuhan riset. Biasanya saya melakukan riset di awal, tapi hampir selalu saya mengecek banyak hal selama proses menulis berjalan, jadi bisa dibilang berjalan paralel.

Karakter-karakter yang Anda ciptakan tergambar kuat di benak pembaca. Apakah Anda membayangkan orang tertentu di dunia nyata saat menciptakan karakter?

Setiap karakter yang saya buat bagai kain perca. Ada campuran orang nyata (biasanya saya ambil nama, profesi, ciri fisik – dan jumlahnya lebih dari satu) dan imajinasi saya sendiri. Tidak pernah ada orang tertentu di dunia nyata yang benar-benar saya ambil utuh menjadi karakter.

Apakah bagi Anda proses menulis cerpen dan puisi serupa dengan proses menulis novel?

Beda. Puisi cenderung spontan. Cerpen memiliki perencanaan seperti halnya novel tapi jauh lebih sederhana. Tantangan cerpen buat saya adalah membuat kejutan dan fokus yang tajam. Sementara novel ibarat lari marathon, persiapannya panjang, prosesnya panjang, dan butuh stamina yang luar biasa.

Menurut Anda adakah persamaan proses menulis dengan menciptakan lagu?
Ketika saya menulis lagu, intinya juga saya membuat cerita. Tantangannya berbeda. Dalam lagu, efektivitas kata menjadi amat penting. Kita membuat cerita seutuh mungkin dalam durasi terbatas, dengan suku kata yang harus pas dengan melodi. Selain itu, dalam pembuatan lagu ada aspek menciptakan melodi dan menyusun aransemen. Tapi intinya sama-sama membuat cerita.

Ada yang mengatakan menulis lagu dan menulis puisi berkaitan. Bagaimana menurut Anda?

Kurang lebih prinsipnya sama, tapi tentunya di lagu ada melodi. Jadi ada aspek lain yang harus diperhatikan ketimbang puisi. Juga ada keterbatasan dalam lagu karena mengikuti durasi dan struktur tertentu (bait, reff, dsb).

Adakah penulis yang berpengaruh terhadap gaya penulisan Anda? Apakah Graham Hancock memiliki pengaruh dalam gaya penulisan Anda?

Untuk gaya menulis, saya tidak pernah terlalu menyadari. Mungkin karena bacaan saya juga kebanyakan nonfiksi. Graham Hancock dan penulis-penulis nonfiksi lainnya memengaruhi saya dalam hal konten, bukan gaya menulis. Gaya menulis lebih banyak bisa kita dapat dari penulis fiksi. Untuk metafora saya mengagumi Sapardi Djoko Damono. Untuk plot, penulis-penulis seperti Dan Brown, JK. Rowling, James Patterson, Alfred Hitchcock, Michael Crichton, Stephen King, amat patut dipelajari. Penulis seperti John Green dan Margaret Atwood menurut saya pintar memainkan emosi. Dan, ada penulis-penulis lain yang temanya unik dan kuat seperti Yan Martell, Alan Lightman, Paulo Coelho. Setiap yang saya baca pasti meninggalkan pengaruh, tapi karena kekuatan masing-masing penulis berbeda dan tampaknya yang saya serap juga berbeda-beda, saya tidak menunjuk satu-dua nama saja. Gaya penulisan merupakan kumulasi dari begitu banyak hal yang kita baca maupun gali dari diri kita sendiri.

Kalau saya tidak salah lagu Anda "Satu Bintang Di Langit Kelam" terinspirasi puisi SDD "Hujan Di Bulan Juni". Adakah karya Beliau lainnya yang Anda sukai? Bagaimana Anda menilainya?

SBDLK tidak terinspirasi HBJ. Tapi gaya menulis lirik saya berubah setelah membaca buku HBJ. Lebih metaforis dan puitis. Secara umum saya menyukai puisi-puisi Beliau. Saya menyukai metaforanya, kepekaannya memilih kata, dan ritme kalimatnya.

Apa yang Anda dapatkan dari menulis puisi/lagu yang tidak Anda dapatkan dari menulis novel?

Saya merasa hampir tidak pernah menulis puisi. Prosa pendek, iya. Lagu, iya. Yang tidak didapatkan dari menulis novel dibandingkan keduanya tadi tentu saja adalah perkawinan kata dengan melodi serta keleluasaan waktu. Secara durasi pengerjaan membuat novel jauh lebih panjang dan lebih rumit.

Ketika mengadaptasi novel Anda menjadi naskah film apa saja tantangannya? Sejauh mana keterlibatan Anda dalam setiap adaptasi film?

Keterlibatan saya berbeda-beda di setiap film. Ada yang terlibat sampai menjadi penulis skenario seperti di Perahu Kertas, ada juga yang tidak terlibat sama sekali seperti Madre dan Supernova KPBJ. Ada juga yang terlibat secara konsultatif, seperti Rectoverso, Filosofi Kopi 1, dan Filosofi Kopi 2. Dari cerpen menjadi film menurut saya tidak terlampau sukar karena biasanya yang terjadi pengembangan. Sementara masalah atau pun pendapat yang kontra biasanya muncul karena terjadi pemotongan/pengurangan dari cerita asli. Biasanya itu terjadi dalam adaptasi dari novel. Tantangannya tentu karena buku dan film merupakan medium yang berbeda, produk dari dua industri yang berbeda, yang mana keduanya punya aturan dan pakem sendiri. Dalam film, kita bicara durasi, pemain, penyutradaraan, sinematografi, investasi produser, dan banyak faktor lain yang tidak ada di buku. Saya sendiri melihat bahwa dalam adaptasi ke film, yang berkarya adalah para pembuat film, bukan penulis. Begitu juga ketika saya menjadi penulis skenario. Film akan “ditulis ulang” oleh sutradara dan editor, jadi skrip saya bukan satu-satunya patokan. Pada prinsipnya, yang terjadi adalah kompromi dan bagaimana kita bisa menjembatani keinginan dan kepentingan banyak pihak.

Bagaimana perasaan Anda setelah melihat hasil akhirnya di film?

Bergantung hasilnya. Tapi, dari setiap film akan selalu ada hal yang saya sukai, ada yang tidak. Sama-sama saja seperti kita melihat film lain sebetulnya, tapi tentu ada kebanggaan karena melihat bagaimana karya kita bertransformasi menjadi bentuk lain, dan film adalah hasil kerja keras banyak orang. Membayangkan bagaimana sebegitu banyak orang berupaya untuk mewujudkan cerita kita menjadi produk film juga membanggakan sekaligus mengharukan.

Apakah aktif di media sosial adalah salah satu cara Anda menjaga basis pembaca (readership)?

Media sosial bagi saya fungsinya kadang-kadang untuk saluran ekspresi yang personal juga, bersilaturahmi dengan teman-teman lama, dsb. Meski demikian, pemakaian yang utama memang adalah untuk mendukung pekerjaan saya. Pada zaman ini, pembaca memang tidak hanya mengenal karya, tapi bisa juga mengenal penulisnya. Tinggal tergantung seterbuka apa kita menunjukkan dunia kita yang lebih personal. Bagi saya, media sosial adalah cara paling praktis saat ini untuk berkomunikasi langsung dengan pembaca.

Saat menulis apakah Anda membayangkan audiens tertentu?

Sejujurnya, tidak. Saya membayangkan kalau saya yang jadi pembaca. Intinya, saya harus menulis buku yang bisa memikat minat saya. Buku yang bisa membuat saya kepengin terus membaca. Setelah berkali-kali menerbitkan buku tentunya saya bisa membayangkan profil pembaca saya. Tapi ketika berkarya, fokus saya hampir selalu internal.

Kalau saya tidak salah Supernova 1 adalah self-published, kemudian karya berikutnya dicetak penerbit lain. Bagaimana transisi ini terjadi? Adakah pengaruhnya terhadap karya Anda?

Untuk sejarah self-publish Supernova 1 bisa dilihat di arsip saya www.dee-interview.blogspot.co.id ya, karena sudah sering sekali saya bahas.

Menurut Anda bagaimana cara latihan menulis? Apakah penulis harus belajar secara otodidak?

Belajar terbaik menurut saya adalah dengan punya mentalitas ingin belajar terlebih dahulu. Dengan demikian, ketika kita membaca buku orang lain, kita bukan cuma sekadar membaca, melainkan membaca sambil belajar. Belajar mengenali apa yang kita suka, mengenali apa yang kita tidak suka, berusaha mengadopsi apa yang menurut kita baik, dan menghindari apa yang menurut kita tidak baik/tidak cocok. Otodidak atau tidak menurut saya bukan patokan. Kalau memang ada kesempatan ikut workshop, seminar, atau masterclass, mengapa tidak? Tapi, kalau tidak ada kesempatan itu, yang otodidak tidak berarti akan lebih buruk dari yang ikut workshop atau masterclass. Jam terbang akan amat menentukan. Tapi yang lebih menentukan lagi adalah keinginan untuk memperbaiki diri. Dari satu karya ke karya lain, kita harus dengan sadar ingin melakukan perbaikan.

Apakah Anda pernah mengikuti kelas menulis? Jika iya, bisa ceritakan pengalaman Anda? Siapa pengajarnya?

Sejauh ini, saya pernah ikut Masterclass James Patterson, ikut beberapa kursus fiksi dari Steve Alcorn, saya juga pernah mengikuti kursus scriptwriting dari Sue Clayton. Terkecuali dengan Sue Clayton, kedua yang pertama dilakukan secara online.

Anda dikategorikan dalam gerakan "Sastra Wangi" (fragrant literature), tanggapan Anda?

Sastra Wangi tidak ada maknanya buat saya. Itu hanya istilah yang diciptakan media untuk merujuk ke satu masa di awal 2000-an ketika banyak penulis perempuan muncul dan menonjol. Tidak ada substansi lain.

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Bagi Anda, apakah inspirasi itu datang dari dalam diri sendiri atau dari luar diri?

Dua-duanya.

Apakah ada hobi yang sedang Anda geluti saat ini?

Memasak dan berenang.

Jika boleh bertanya, buku apa yang sedang Anda kerjakan saat ini?

Saya sedang mengerjakan naskah buku baru, tapi detailnya saat ini belum bisa saya ungkap ke publik.

Setelah menjadi seorang ibu, adakah yang berubah pada diri Anda sebagai seorang penulis?

Perubahan utama adalah jadwal. Saya harus lebih disiplin dan lihai membagi waktu agar semua tugas dan kewajiban saya di rumah tetap terlaksana dan masih bisa berkarya.

Adakah pengaruh seni dari anggota keluarga Anda saat Anda kecil?

Tentunya ada, karena semua anggota keluarga saya suka seni, khususnya gambar dan musik. Semua suka membaca. Jadi, otomatis itu menjadi atmosfer saya sehari-hari di rumah sejak kecil.

Apa kendala teknis (dalam menulis) terberat yang sejauh ini Anda alami?

Bagaimana cara Anda mengatasinya?

Tantangan terbesar saya adalah penataan waktu. Hal tersebut tidak inheren termasuk dalam “teknik” menulis, tapi manajemen waktu menentukan produktivitas kita menulis. Bagaimana cara menjadikan menulis itu “habit”, kemudian merajutnya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kita sudah punya dedikasi untuk menjadikan menulis agenda kita sehari-hari, kesulitan dalam menulis akan terurai dengan sendirinya karena kita sudah punya waktu dan komitmen untuk itu. Tapi, kalau aktivitas menulis masih menjadi hal yang sporadis, nunggu mood, dsb, maka akan banyak perkara teknis dalam menulis yang sulit semata-mata karena kita tidak punya cukup dedikasi dan waktu untuk mencari solusinya. 


Permata Magazine | Quality Life | Nov, 2017



1. Apa saja kesibukkan Anda saat ini?

Saya baru saja menyelesaikan manuskrip novel baru yang telah saya kerjakan selama sembilan bulan. Sedang dalam masa penyuntingan.


2. Karier Anda yang sebagai musisi dan penulis, sebenarnya dari manakah pengaruh tersebut datang?

Kalau musik, saya memang tumbuh besar di keluarga yang suka musik dan suka seni. Bermain instrumen dan bernyanyi adalah kegiatan sehari-hari di rumah. Kakak dan adik saya juga sampai sekarang berprofesi di bidang seni. Kalau menulis, kami sekeluarga senang membaca. Tapi, memang yang punya ketertarikan kuat terhadap menulis adalah saya. Pada dasarnya saya senang mengkhayal dan akhirnya belajar mengonstruksikan khayalan tersebut ke dalam bentuk tulisan.


3. Anda memulai karier awalnya di bidang musik, walaupun ambisi menjadi penulis juga telah tumbuh sejak lama. Apakah menjadi musisi dan penulis memang menjadi passion dan ambisi yang harus dijalani bersamaan? Or, which one actually came first?

Saya tidak menggunakan rumus “harus” dalam hal ini. Di luar dari karier, masih banyak hal yang harus saya kerjakan juga, khususnya yang berkenaan dengan keluarga. Jadi, saya menekuni karier yang sesuai dengan prioritas dan kondisi saya dari waktu ke waktu. Saya lebih aktif menulis ketimbang bermusik karena menulis memberikan saya fleksibilitas waktu dan tidak harus mengharuskan saya terlalu mobile, jadi saya bisa banyak di rumah. Aktivitas saya di musik saat ini lebih ke menulis lagu buat orang lain. Saya tetap terpikir ingin berkarya lagi membuat album, tapi akan lihat situasi prioritas dulu.


4. Bagaimana jam kerja Anda? 


Setiap saya sedang menulis manuskrip, saya langsung menyusun jadwal kerja untuk sekian bulan ke depan. Misalnya, sembilan bulan, delapan bulan, dan seterusnya. Pada bulan-bulan saya menggarap manuskrip, saya bekerja dari pagi sampai siang menjelang sore. Tepatnya, sampai anak-anak saya pulang sekolah. Sore ke malam biasanya sudah waktu dengan keluarga. Jadwal ini kadang-kadang bisa berubah. Ada kalanya saya menulis subuh. Dulu, sebelum menikah, saya biasanya menulis malam. Dalam satu minggu saya biasanya ambil break 1-2 hari. 


5. Bagaimana Anda membagi waktu dengan keluarga?

Sedapat mungkin saya bekerja selama anak-anak sekolah dan suami bekerja. Jadi, ada takarannya, dan tetap mengakomodir kebutuhan mereka akan saya. Di sela-sela menulis, saya juga mengerjakan beberapa pekerjaan domestik seperti ke pasar dan memasak, dan seterusnya. Saya juga ingin tetap ada waktu berkualitas dan rekreasi bersama keluarga. Untuk beracara di luar biasanya saya batasi antara 6-7 event per bulan.


6. Kegiatan apa saja yang sering Anda lakukan bersama keluarga?

Menonton bioskop, makan bersama, atau keluar kota jika ada liburan panjang. Kalau di rumah biasanya kami main board game, bermusik, atau membantu mereka membuat prakarya.


7. Hal apa saja yang membuat Anda ingat untuk bersyukur bisa berada di posisi sekarang? (pencapaian karier dan sebagai ibu)

Saya merasa beruntung sekali bisa menjalankan pekerjaan yang memang merupakan hobi dan passion saya. Memang tidak selalu mudah, tapi sangat memuaskan secara batin. Saya pun bersyukur bisa punya penghidupan yang baik dan layak melalui profesi yang saya miliki ini. Sebagai seorang ibu dan istri, saya merasa memiliki keluarga yang luar biasa. Mereka sangat suportif, menghibur, dan kompak. Bahkan dua anak saya yang sekarang umurnya 13 tahun dan 8 tahun. Rasanya seperti serumah bersama sahabat-sahabat.


8. Aktivitas apa yang Anda lakukan untuk membuat hidup tetap seimbang? (misal olahraga, meditasi, etc)

Saya menjalankan puasa (intermittent fasting) sudah lebih dari setahun. Saya merasa efeknya sangat baik untuk menjaga metabolisme dan kesehatan secara umum. Untuk olahraga saya paling sering berenang, kadang dikombinasi dengan jogging dan weight training. Meditasi saya jalankan harian, tapi tidak panjang-panjang, antara 15-30 menit sehari. Penting juga untuk mendengar badan dan tidak memaksanya untuk terlalu lelah, terlalu aktif, atau terlalu malas. Istirahat yang cukup, memberi jeda yang cukup antara satu pekerjaan/event, sekaligus bergerak yang cukup, adalah hal-hal yang selama ini berusaha saya jaga keseimbangannya.


9. Bagaimana Anda menanamkan hidup seimbang di dalam keluarga?

Saya berolahraga renang dengan suami secara rutin. Kami juga meditasi bersama, kadang melibatkan anak-anak juga. Anak-anak punya kegiatan olahraganya masing-masing. Anak saya yang perempuan les balet, sementara yang laki-laki les renang. Kami sekeluarga juga sering renang bersama sebagai rekreasi maupun olahraga. Kepada anak-anak, kami membatasi jam gadget mereka. Mereka juga belum punya hp dan gadget sendiri. Kami memang tidak ingin mereka terlalu cepat berinteraksi dengan gadeget maupun media sosial.


10. Tantangan apa yang Anda hadapi dalam menyeimbangkan hidup sebagai seseorang yang telah mapan dan tinggal di kota besar?

Saya rasa tinggal di kota besar itu riskan distraksi. Kita mudah terbuai untuk sibuk walaupun belum tentu produktif. Perhatian kita juga semakin pendek dan kita menghabiskan banyak waktu di jalan. Butuh upaya yang sadar untuk tidak terseret dalam distraksi dan menentukan porsi-porsi tertentu dalam hidup kita yang membuat diri kita lebih baik, seperti menghabiskan waktu dengan keluarga, dengan teman, berolahraga, menjalani hobi, dll.


11. Menurut Anda, hidup yang berkualitas itu seperti apa?

Hidup yang layak, damai, dan bertumbuh. Layak tidak berarti kaya raya tapi berkecukupan. Damai tidak berarti tanpa konflik tapi kita mampu menghadapi kesulitan tanpa berkubang terlalu lama di dalamnya. Bertumbuh dalam arti pengetahuan, pengalaman, pemahaman atas diri kita dan lingkungan.


12. Elemen apa saja dalam hidup Anda yang berkontribusi dalam membuat hidup Anda berkualitas?

Keluarga, meditasi, memasak, menulis, membaca, seni, dan memelihara rasa ingin tahu.


Majalah Moments | Back to the Kitchen | Agustus, 2017 | Eyi Puspita


Memasak kini menjadi hobi yang "seksi". Selain dianggap sebagai stress relief, memasak dan kembali ke dapur, juga bisa membantu memaksimalkan hubungan keluarga dengan bonus hidangan yang lebih sehat dan segar. Tak heran jika kini semakin banyak individu yang kembali ke dapur. Sejak kapan Mbak Dee belajar masak? Masakan apa yang pertama kali dibuat sendiri (tanpa dibantu sama sekali)?

Awalnya saya belajar masak karena sebagian keluarga saya vegetarian. Untuk yang bervegetarian, membeli makanan terus-terusan di luar tidak semudah itu karena pilihannya terbatas. Karena itulah saya belajar memasak. Pertama kali saya membuat tom yam (kalau tidak salah), saat itu masih memakai bumbu jadi, tapi sudah senang banget karena akhirnya bisa makan makanan favorit tanpa harus beli di luar dan saya juga bisa bikin versi vegetariannya.

Dari mana/siapa Mbak belajar masak? Apakah diajari oleh ibu/kakak? Atau mungkin otodidak? Mengandalkan gadget/sosmed/YouTube/acara masak-masak di TV? Atau campuran semuanya?

Ibu saya jago masak, tapi beliau meninggal jauh sebelum saya berkeluarga, jadi saya belum sempat mencuri ilmunya. Bisa dibilang saya otodidak. Terkecuali baking. Kalau baking saya masih ikut banyak kursus, tapi kalau masak learning by doing saja. Referensi saya macam-macam, dari buku resep, Youtube, dsb. Saya paling suka kalau bisa menyusup ke dapur restoran dan melihat cara mereka masak. Beberapa kenalan yang punya restoran mengizinkan saya masuk dan tanya-tanya langsung ke kokinya, sekaligus minta resep.

Menurut Mbak, apa saja manfaat/kelebihan hobi masak ini – terutama manfaatnya untuk keluarga ?

Pola makan sehat itu seperti tren, berubah terus. Yang dulu dibilang sehat sekarang tidak, yang sekarang tidak nanti tahu-tahu dianggap makanan sehat. Namun, memasak sendiri akan selalu lebih baik, terlepas menu apa yang kita pilih. Kita tahu persis apa saja yang ada di masakan kita, kebersihannya, dan kita bisa memilih kualitas bahan makanan yang kita pakai. Bagi saya, masakan rumah adalah fondasi dan juga jangkar memori. Ketika anak-anak kita besar nanti, salah satu hal terbaik yang mereka bisa kenang adalah masakan khas rumahnya.

Benar nggak sih, hobi masak juga mendekatkan sesama anggota keluarga? Dengan cara apa?

Saya nggak pernah lupa rica-rica bikinan ibu saya, ayam gorengnya, sambalnya. Semua kekhasan itu akan selalu terkenang dan juga mendekatkan batin saya dengannya, meskipun beliau sudah tidak ada. Bagi saya, ketika rumah memiliki masakan khas sendiri, ada ikatan emosional yang terjalin antara anggotanya. Dalam proses memasak, kita juga bisa melibatkan anak-anak, membagi tugas, sehingga mereka punya partisipasi. Ini juga akan menyuburkan memori yang baik kelak.

Apakah karena mamanya hobi ngubek di dapur, Atisha/Keenan juga terpicu minatnya untuk ikut masak? Biasanya kalau ‘membantu ibunya’, apa tugas mereka?

Sejauh ini mereka lebih suka ikut baking, mungkin karena bahan-bahannya lebih wangi dan nggak terlalu ‘messy’. Atisha ikut mengaduk adonan Keenan ikut menghias kue kering, dan mereka juga kasih penilaian kalau hasilnya sudah jadi, bahkan kasih masukan mereka inginnya seperti apa.

Apa prinsip Mbak dalam memasak buat keluarga?

Selalu menggunakan bahan yang terbaik, menjaga kebersihan alat-alat, menanyakan penilaian keluarga agar kita bisa terus memperbaiki diri, dikerjakan dengan sukacita. 

Apa makanan andalan Mbak yang jadi favorit Mas Reza dan anak-anak?


Reza suka Tempe Penyet, Pelecing Kacang Panjang, Tom Yam dan Mee Krawp. Atisha paling suka Pumpkin Soup dan Mint Chocholate Chip Cookies. Keenan paling suka Ikan Bakar, Ayam Goreng Kunyit, dan Hainan Chicken Rice.

Mengingat kesibukan Mbak, seberapa sering Mbak masak buat keluarga? Apakah tiap hari?

Hampir tiap hari masak, kecuali weekend. Karena biasanya masih ada sisa makanan atau kita makan di luar untuk rekreasi. Untuk resep-resep yang sudah sering saya ulang, biasanya saya sudah ajarkan ke ART, jadi sebagian bisa didelegasikan, terkecuali masakan-masakan luar Indonesia, seperti Minestrone, Baked Penne, dll, itu biasanya saya kerjakan sendiri.

Apa benar seorang perempuan harus bisa masak? Kenapa?

Saya tidak melihat masak harus eksklusif dilakukan perempuan. Hobi masak ini sangat berguna, baik untuk laki-laki dan perempuan. Mau single atau menikah. Mengolah dan memasak makanan itu satu hal yang menurut saya patut dirayakan. Tidak ada makhluk lain di Bumi yang melakukannya selain manusia.

Saya pernah baca, Mbak punya impian menulis buku masak. Apakah rencana itu masih ada dan akan diwujudkan?

Masih dalam daftar target. Saya ingin fokus membuat buku masak bagi yang benar-benar nggak bisa masak sekali, jadi from zero. Karena saya pun dulu seperti itu. Membuat buku masak bagi saya juga salah satu cara untuk meneruskan resep-resep terbaik kita kepada anak-anak (dan keturunan kita seterusnya), sekaligus membagi kebaikan ke orang lain.
                                                                                                         
Selain bisa menghidangkan makanan buat keluarga, apa saja manfaat hobi masak yang Mbak rasakan (untuk pribadi)? Benar nggak sih, hobi ini punya efek menenangkan (atau mungkin efek lainnya seperti ‘jadi lebih sabar’ dan ‘lebih telaten’ dsb)?

Sejauh ini, bagi saya memasak itu mengasah intuisi dan kepekaan indrawi. Sekarang kalau ada satu suap makanan yang masuk mulut, saya kurang lebih bisa menduga bahannya apa saja, bumbunya apa saja, dan mulai bisa memperkirakan step-step pengolahannya bagaimana. Ketika memasak dan kita fokus, bagi saya itu juga menenangkan. Dan ada kepuasan mengolah sesuatu, meramu banyak hal berbeda, menjadi hasil akhir yang padu.

Adakah sumber andalan Mbak buat belajar masak? Misalnya aplikasi/blog favorit /akun IG favorit/acara masak di TV? Kenapa Mbak memilih aplikasi/akun/blog/acara ini sebagai favorit/referensi?


Sejauh ini lebih sporadis sih, saya tidak mengikuti satu referensi terus menerus. Tapi saya selalu menyukai buku-buku keluaran Seri Sedap Sekejap karena hasil-hasilnya hampir selalu memuaskan. Untuk baking, saya mengikuti banyak kursus dari Natural Cooking Club (NCC).