Showing posts with label Perempuan Penulis. Show all posts
Showing posts with label Perempuan Penulis. Show all posts

Friday, May 12, 2017

Belia - Pikiran Rakyat | Hari Kartini & Menulis | April, 2017 | Dhiany Nadya Utami

--> -->
Sebagai pembuka, karena di bulan ini kita memperingati Hari Kartini, menurut Mbak Dee bagaimana sih seharusnya tokoh Kartini itu?

“Seharusnya” bukanlah konsep yang saya miliki tentang Hari Kartini maupun sosok Kartini. Namun, sebagaimana Kartini pada saat itu, saya merasa Kartini menyimbolkan pemikiran kritis terhadap kemajuan dan harkat perempuan. Ia sosok yang cerdas dan melampaui zaman, walaupun akhirnya menyerah kepada keterbatasan yang mengungkungnya saat itu. Saya merasa pergelutan Kartini itu lebih di tataran intelektual.

Dalam pandangan Mbak Dee, apa yang sebenarnya menjadikan seorang wanita itu hebat?

Perempuan yang bersentuhan dekat dengan potensinya, kekuatannya, dan mampu memanifestasikannya dalam kehidupan nyata, bidang apa pun itu, termasuk dalam berumah tangga dan membesarkan anak-anaknya.

Apa yang bisa dilakukan seorang perempuan untuk memberdayakan (empowering) sesama perempuan?

Saling berbagi informasi, pengetahuan, pemikiran. Saya rasa itu juga yang kurang lebih dilakukan Kartini dulu. Saat ini tentu kita sudah bisa melangkah jauh, ada yang memilih berorganisasi, bergerak melalui LSM, dsb. Namun, intinya adalah bagaimana kita menciptakan kesadaran akan kekuatan dan potensi kaum perempuan.

Kembali ke Kartini, kita tahu ia dikenal salah satunya karena ia mendokumentasikan pemikirannya dalam tulisan dan mengirimkannya dalam bentuk surat pada temannya, bagaimana Mbak Dee memandang hal tersebut?

Bagaimana pandangan Mbak Dee jika Mbak disebut disebut sebagai Kartini Literasi?
Saya merasa predikat seperti itu merupakan hak dari pembaca atau siapa pun yang berada di luar dari saya sendiri, tentunya. Jika saya kembali ke diri saya sendiri, saya berkarya bukan demi predikat, melainkan karena kecintaan dan kegemaran saya pada seni bercerita. Tentu pada akhirnya, ketika seorang konsisten berkarya dan mulai memiliki gaung di tengah masyarakat, akan ada banyak predikat yang disandangkan. Saya merasa itu sesuatu yang patut diapresiasi, tapi bukan sesuatu yang saya kejar, jadi saya terima saja.

Oh ya, Mbak Dee sendiri sejak kapan suka menulis dan mengapa memutuskan untuk berkarya lewat tulisan?

Saya mulai menulis “novel-novelan” sejak kelas lima SD, dan sering mengkhayal cerita-cerita bahkan lebih muda dari itu. Setelahnya saya menulis terus sebagai hobi, sampai lulus kuliah, berkarier di bidang musik, dan akhirnya tahun 2001 saya menerbitkan buku (Supernova episode Kesatria, Puteri, dan Bintang Jatuh).

Bagi Mbak, menulis itu apa?

Saluran berekspresi dan pekerjaan yang saya cintai.

Siapa (atau apa) yang menjadi inspirasi Mbak Dee dalam menulis?

Inspirasi saya didapat dari hidup itu sendiri. Ketika menjalani hidup dan mengalami berbagai pengalaman, banyak hal yang renungkan, ingin saya bagikan, dan komunikasikan ke pihak lain. Medium yang saya pilih adalah menulis. Sama halnya dengan pelukis yang memilih melakukannya lewat lukisan, atau musikus yang berekspresi lewat musik.

Karya seperti apa sih yang ingin dihasilkan oleh seorang Dewi Lestari?

Karya yang saya sendiri sukai. Saya hanya menulis buku yang ingin saya baca, dan lagu yang ingin saya dengar.

Adakah pesan atau tips dari Mbak Dee untuk pembaca Belia yang ingin atau sudah  mulai menulis?

Menulis itu seperti otot. Jika kita ingin tangguh, ingin bertumbuh, ingin terus bertambah kuat, satu-satunya cara adalah dilatih, sering, dan sebisa mungkin rutin. Setelah sering latihan, tentu kita juga ingin tahu cara berlatih yang benar dan efektif, maka carilah ilmu menulis yang baik, lewat membaca, ikut workshop, dan sebagainya. Intinya jadikan itu bagian dari hidup seperti halnya kita makan dan minum.

Friday, December 19, 2014

Koran Jakarta | Rubrik Perempuan | April, 2009 | by Ezra Natalyn


Sejak kapan bercita-cita menjadi penulis? Sebelumnya memang ingin terjun sekaligus sebagai penulis dan penyanyi?

Sejak kecil memang sudah ingin menulis buku, tapi tidak terpikir untuk menjadikannya profesi. Tidak pernah juga terpikir secara sengaja ingin jadi penulis dan penyanyi sekaligus. Saya semata-mata hanya mengikuti dan melaksanakan hobi saya saja. 

Apa menurut Anda persamaan dan perbedaan antara menulis dan menyanyi?

Perbedaan: jelas beda. Keduanya adalah aktivitas yang memang beda. Yang satu harus mengeluarkan suara, yang satu lagi enggak. Persamaan: Sama-sama saluran bagi saya untuk berekspresi. 

Biasanya menulis di mana? Kalau dideskripsikan kira-kira tempat Dewi menulis yang paling cocok itu seperti apa?

Saya menulis di mana-mana. Menurut saya, tempat apa pun bisa ideal untuk menulis yang penting hening dan nggak diganggu. 

Siapa penulis favorit? Dan mengapa?

Saya suka Sapardi Djoko Damono. Untuk penulis luarnya saya suka Dave Eggers, Rattawut Lapcharoenshap, dan Ana Castillo. Yang saya sukai dari para penulis tsb adalah ciri khasnya dan kekuatan inspirasif yang ditularkan pada pembacanya. 

Bagaimana rasanya saat proses kreatif menulis sebelum tulisan itu rampung?

Sangat magis. Seperti tarik-menarik, seperti pertarungan, seperti jatuh cinta, bisa juga putus asa, pokoknya rasanya macam-macam. Seperti naik roller-coaster. Tidak jarang saya begitu hanyutnya dalam cerita sehingga rasanya menjalani dua realitas; realitasnya Dewi Lestari dan realitas sebagai tokoh-tokoh cerita saya. 

Impian apa dalam dunia tulis-menulis yang belum teraih?

Bikin buku anak-anak. 

Apa pendapat Dewi tentang penulis-penulis perempuan Indonesia?

Saat ini, penulis perempuan memegang peranan dan punya suara sangat vokal di percaturan sastra Indonesia. Banyak acara yang diadakan khusus untuk mengangkat para sastrawan perempuan, sementara untuk yang laki-laki malah nggak ada. Keberagaman penulisnya juga sangat kaya. Banyak nama yang mencuat dan semuanya punya gaya menulis yang lain-lain. 

Adakah kisah masa kecil atau masa sekolah yang paling berkesan buat Dewi? Tolong diceritakan salah satu?

Banyak banget, sih. Tapi salah satu yang paling berkesan waktu diajak naik helikopter keliling kota Medan oleh ayah saya. Itu kali pertama dan satu-satunya saya pernah naik helikopter seumur hidup. 

Bagaimana rasanya menjadi seorang anak TNI? Displin dalam keluarga barangkali?

Ayah saya orangnya santai. Rasanya biasa-biasa aja. Tidak ada disiplin yang terlalu ketat. Kedua orang tua saya termasuk tipe yang demokratis dan mendengarkan pendapat anak, walaupun masih bisa tegas jika diperlukan. 

Dalam keluarga sebelum menikah, yang paling dekat dengan siapa dulu? Ayah? Ibu? Kakak atau adik? Mengapa?

Paling dekat dengan adik bungsu saya, Arina. Mungkin karena dari jarak usia kami yang dekat (cuma beda 2 tahun), dan sejak kecil saya selalu bareng dia terus ke mana-mana. Pernah pindah ke Medan barengan, sementara kakak-kakak perempuan saya yang lain tetap di Bandung. Setelah besar pun kami sharing rumah berdua. 

Sejak menikah, berapa lama setiap hari menghabiskan waktu dengan Keenan, dan apa acara favorit bersama keluarga?

Saya cukup sering menghabiskan waktu dengan Keenan. Apalagi dia ASI sampai 2,5 tahun, jadi dari bayi ikut saya terus ke mana-mana. Sekarang dia sudah TK, dan saya kebetulan lagi banyak di rumah, jadi waktu dengan dia tetap banyak. Yang pasti kalau malam saya punya jadwal rutin untuk membacakan dia cerita. Acara favorit kami sederhana aja: ngumpul di kamar, atau jalan-jalan ke villa keluarganya Reza di daerah Cibogo, Keenan senang sekali kalau sudah dibawa ke sana. Intinya, dia paling suka kalau keluarga besar ngumpul. 

Apa impian Dewi buat Keenan?

Menjadi manusia yang sehat luar dalam, dan apa adanya. 

Bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, dll? Kalau iya, kapan saja dilakukan?

Saya lumayan suka masak. Tapi nggak rutin. Kalau memang lagi ada dorongan aja. Saya suka memasakkan makanan Thai (tom yam, green curry, pad thai, dsb) untuk suami. 

Sekarang sedang mengandung anak kedua, kalau dideskripsikan, untuk Dewi bagaimana rasanya perempuan yang mengandung? Enak dan nggaknya?

Rasanya macam-macam, seperti deskripsi saya tentang proses kreatif. Kalau lagi muntah dan mual, ya, nggak enak. Kalau jadi dimanja suami dan keluarga, ya, enak. Yang jelas, buat saya hamil itu proses yang luar biasa besar. Untung cuma mau punya anak dua aja. Nggak kebayang kalau punya anak banyak! Haha. 

Suka wewangian jenis apa? Parfumnya apa? Kalau diungkapkan dengan kata-kata, bagaimana aroma wewangian favoritnya?

Saya lagi pakai parfum dari Philosophy (yang Baby Grace dan Falling in Love). Agak susah carinya, harus titip ke Amerika, atau cari ke toko parfum yang suka ngimpor parfum ‘aneh-aneh’. Saya suka aroma yang menenangkan hati, dan nggak pasaran. 

Apa arti sahabat bagi Anda, punya waktu rutin berkumpul atau kontak dengan sahabat?

Saya orangnya “sahabat-minded” banget. Tapi sekarang ini karena sudah berpencar, sudah pada menikah dan sudah punya kehidupan masing-masing, geng saya nggak ngumpul sesering dulu. Saya paling dekat dengan teman-teman SMA saya. Kalaupun nggak ketemuan langsung, saya kontak-kontakan via telepon, SMS, atau e-mail. Lagi kepikiran ingin bikin arisan supaya ada waktu kumpul, tapi belum sempat saya rintis. 

Pernah merasa jenuh dan kering inspirasi, apa yang biasanya dilakukan untuk menyegarkan pikiran kembali?

Tidak menulis dan mengerjakan hal lain.

Tuesday, December 16, 2014

Bintang Indonesia | Sosok Inspiratif | Agustus, 2012 | by Wayan Diananto


Saya ucapkan selamat, karena Perahu Kertas (PK) telah diproduksi dan siap tayang menjelang Lebaran. Beberapa pengamat sinema menyebut film ini sebagai “kuda hitam” alias pengumpul penonton terbanyak pada putaran Lebaran 2012. Bisa diceritakan kapan persisnya dan bagaimana Starvision Plus-Mizan Production meminang novel PK?

Kelahiran novel Perahu Kertas diawali dengan format digital pada tahun 2007, dan setelah lewat setahun kontrak eksklusifnya dengan perusahaan content provider, Perahu Kertas pun saya siapkan untuk terbit dalam format hardcopy alias buku. Ada beberapa penerbit yang ikut pitching meminang naskah Perahu Kertas pada tahun 2008 itu. Bentang Pustaka adalah satu-satunya penerbit yang tidak datang "sendirian". Sejak awal, Bentang Pustaka sudah bergandeng tangan dengan Mizan Production yang tertarik untuk mengangkat Perahu Kertas ke layar lebar. Jadi, hanya Bentanglah yang maju dengan dua penawaran sekaligus. Saya sendiri merasa cocok dengan chemistry yang terjadi dengan pihak Bentang saat kami bertemu langsung. Sementara, sejak kali pertama saya menulis Perahu Kertas, inilah naskah yang seketika saya bayangkan menjadi film. Jadi, saya pun menerima penawaran Bentang dan Mizan. Saat proses bergulir, Mizan lalu bekerjasama dengan Starvision, yang mereka anggap sangat berpengalaman dalam mengolah film genre drama. Pak Parwez dari Starvision pun tampaknya jatuh cinta pada buku tersebut dan bersemangat ingin memfilmkannya. Hanung dan Dapur Film adalah pihak terakhir yang ikut bergabung. Sejak awal, Pak Parwez sangat yakin bahwa Hanunglah orang yang paling tepat untuk menyutradarai Perahu Kertas. Tapi, jadwal Hanung sempat bentrok, dan akhirnya kami sempat pitching nama-nama lain. Namun, berhubung jadwal tayang Perahu Kertas bergeser, jadwal Hanung kembali dimungkinkan. Dan akhirnya, pilihan tersebut kembali jatuh pada Hanung.
 
Waktu itu, apa pertimbangan Anda mengiyakan tawaran untuk memfilmkan novel ini? Adakah syarat-syarat yang Anda ajukan sebelum akhirnya novel PK dikonversi ke layar perak? 

Saya mengajukan dua syarat. Pertama, saya akan menjadi penulis skenarionya. Kedua, saya ikut terlibat dalam pemilihan casting. Karena menurut saya dua hal itulah yang paling penting untuk menggawangi adaptasi Perahu Kertas.
 
Saya melihat di barisan kasting, ada Mbak Dee sebagai Rani. Wah, ternyata punya bakat akting juga ya, Mbak?

Sebetulnya lebih karena dipaksa terlibat, sih. Hehe. Dari awal saya padahal sudah bilang sama Zaskia, saya nggak suka syuting, dan paling malas kalau disuruh syuting. Tapi semua pihak merasa kalau penulisnya muncul akan lebih seru. Sayangnya, tidak ada ruang dalam skenario untuk pemunculan cameo. Akhirnya saya akan dikasih peran. Tadinya, saya berharap jadi figuran saja. Tapi, tokoh Rani ternyata masih kosong karena beberapa pemain yang dicalonkan mendadak nggak bisa. Jadi, akhirnya sayalah yang dijadikan Rani. Saya nggak bermasalah dengan akting sih, tapi syuting. Males banget. Haha! 
 
Apakah film PK adalah pengalaman pertama Mbak Dee sebagai penulis naskah?

Iya. 

Bagaimana Anda memandang terpilihnya Maudy Ayunda, Reza Rahadian, dan Adipati Dolken yang terpilih sebagai pelakon film ini?
 
Karena saya selalu diajak diskusi dan konsultasi oleh Zaskia mengenai casting, jadi terpilihnya Maudy, Reza, dan Adipati, adalah hasil rembukan bersama. Walaupun lewat cukup banyak perdebatan, tapi akhirnya casting sekarang adalah hasil kesepakatan semua pihak, termasuk saya. Maudy sebagai Kugy, saya yang menjagokan. Reza sebagai Remi, Hanung yang menjagokan. Adipati sebagai Keenan, Zaskia yang menjagokan. Para produser yang lain pun memiliki vote mereka masing-masing. Sejujurnya saya cukup surprised dengan hasilnya ketika sudah di layar lebar, saya rasa semua cast memainkan perannya dengan sangat baik. 

Apakah Anda juga turut memberi sumbang saran terkait keputusan film PK “dipecah” menjadi dua film?
 
Nggak. Ini saya tahu belakangan, ketika menjelang preview. Sejujurnya, saya cukup kaget juga ketika tahu hasil syuting Hanung ternyata sampai lima jam. Padahal naskah saya cuma 101 halaman. Dan irama film yang saya bayangkan memang lebih cepat. Pada pelaksanaannya, ternyata cukup banyak adegan yang ditambahkan oleh Hanung. Selain itu eksekusi ritme para aktor dan aktris tidak secepat yang saya bayangkan. Tapi, bagi saya sih, nggak terlalu masalah. Kalau memang itulah yang terbaik bagi cerita, ya, nggak apa-apa. Daripada dipaksakan menjadi satu film tapi malah merusak cerita. 

Banyak remaja yang jatuh hati pada novel PK. Mereka merasa terwakili oleh kisah cinta yang tergurat didalamnya. Mbak Dee mendapat ide menulis babak Keenan-Kugy ini dari mana?
 
Melihat ke belakang, sepertinya cukup banyak pemicu ide saya untuk menulis kisah Kugy dan Keenan. Saya menuliskan kisah itu waktu saya masih kuliah, jadi suasana kampus dan dunia perkuliahan amat dekat dengan saya saat itu. Saya suka komik Jepang "Popcorn", format cerita serial, lagu Indigo Girls, dan film Reality Bites, gabungan kesemua itu kemudian memunculkan ide untuk menuliskan Perahu Kertas, perjalanan panjang dua orang sahabat dalam menemukan cinta dan cita-cita. Dan saya rasa itu memang menjadi perjalanan banyak orang. 
 
Saya dengar ada pula omnibus Rectoverso yang melibatkan Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Olga Lydia, dan Happy Salma. Boleh digambarkan bagaimana perkembangan proyek ini dan kapan rencana akan dirilis?

Syutingnya sudah selesai dan sekarang Marcella lagi menggarap penggabungan plot kelima cerita tersebut, jadi masih tahap editing. Rencana rilis ada dua alternatif, akhir tahun ini atau Februari tahun depan. Saya belum tahu akhirnya jadi kapan. 
 
Dee disebut sebagai salah satu penulis novel dengan ide dan diksi terunik di negeri ini, apa tanggapan Anda?

Tentu senang. Terus terang, menjadi unik bukanlah tujuan saya. Tujuan saya menulis itu hanya satu, yakni berbagi apa yang saya rasa lewat jenis tulisan yang saya suka. Jadi, intinya saya hanya menuliskan buku yang kira-kira bakal saya suka, jika saya jadi pembaca. Tapi saya akui, latar belakang saya sebagai musisi dan penulis lagu punya pengaruh juga dalam tulisan saya. Saya menjadi lebih peka terhadap ritme dan "suara" dari kalimat-kalimat saya. Dalam membuat kalimat, saya cenderung menyusunnya sedemikian rupa hingga enak dan berirama jika diucapkan. Tuntutan efektivitas dalam membuat lagu juga mendorong saya untuk menyusun kalimat yang padat makna. Lama-lama itu menjadi kebiasaan tersendiri, dan akhirnya menjadi ciri khas. Saya senang kalimat yang berlagu dan kalimat yang bermakna padat. 
 
Saya sebenarnya sudah “mencium” kehebatan Mbak Dee dalam menulis, setelah membaca lirik “Satu Bintang Di Langit Kelam”, “Di Sudut Malam Bisu”, “Jalanmu”, dan yang paling saya favoritkan (semoga tidak salah) lagu “Tak Perlu Memiliki” dari album Satu (1999). Persisnya, sejak kapan Mbak mulai berani menulis?
 
Saya menulis sejak kecil. Seingat saya dari kelas 5 SD saya membuat tulisan yang digarap "serius", sebuah novel tentang anak kecil. Memang cerita itu nggak selesai, tapi saya menuliskannya sepenuh hati, sampai satu buku tulis habis. Sejak itu saya terus menulis sebagai hobi yang dipendam sendiri. Paling-paling saya bagikan ke keluarga atau orang-orang dekat saja. Tahun '97, cerpen saya pertama kali dimuat di majalah. Itu pun Hilman (Hariwijaya) yang mengajukan ke majalah Mode. Saya sendiri nggak pernah berani lagi ngirim ke majalah, karena pernah ditolak waktu SMP. Begitu juga dengan mencipta lagu, dari kecil saya sudah suka. Tapi titik balik saya memang saat menulis "Satu Bintang Di Langit Kelam". Sejak itu jadi lebih pede dan berani menulis lebih banyak lagu. 

Omong-omong, masih ingatkah Mbak kapan pertama kali menulis puisi atau essay atau cerpen dan apa judulnya ketika itu?  

Rumahku Indah Sekali, itu cerita yang saya buat waktu kelas 5 SD.
 
Oh ya, saya baca dari lini masa Twitter, akhirnya Rida Sita Dewi reuni setelah sepuluh tahun dalam mini album soundtrack PK. Boleh diceritakan bagaimana repotnya mengatur jadwal berkumpul dengan Rida dan Sita?

Terlalu repot sih nggak, karena cuma satu lagu. Tapi deadline pembuatan soundtrack Perahu Kertas memang sangat pendek, jadi kami nggak punya cukup waktu untuk persiapan. Begitu ketemu di studio, langsung rekaman. Padahal kami sudah lama sekali nggak kumpul, bahkan untuk ngobrol2 sekalipun. Jadi, dalam waktu singkat, kami harus kembali adaptasi dengan suasana rekaman bertiga. Tapi kami puas juga dengan hasilnya, ternyata di luar dugaan, hehe. Dengar satu reffrain aja kami langsung serasa kembali ke tahun '90'-an. 
 
Boleh digambarkan, suasana rekaman (lagi) sekaligus reuni bersama dua karib lama di studio saat itu? Judul lagunya apa dan dari mana datangnya ide reuni ini? 

Judul lagunya "Langit Amat Indah". Lagu lama saya, dibuat mungkin tahun '96-an. Ide saya memasukkan lagu ini sebetulnya sudah cukup lama, sejak saya menulis skenario Perahu Kertas. Saya selalu membayangkan inilah lagu terakhir yang akan muncul saat film nanti. Karena lagu itu sendiri saya tulis pas lagi suka-sukanya sama Indigo Girls, saya sudah mendesainnya untuk dinyanyikan bukan oleh solis, tapi grup. Makanya saya kepikir untuk membawakannya bersama RSD. Ketika ide itu saya lontarkan, para produser dan juga Trinity Optima ternyata semangat menyambut. Akhirnya, kami wujudkan.
 
Dalam pandangan Mbak, sejauh mana perkembangan penulis perempuan di Indonesia?
 
Sejak sepuluh tahun terakhir sih menurut saya tidak terlalu ada banyak perubahan dalam dunia penulisan Indonesia. Cukup banyak nama baru dan judul-judul fenomenal, tapi sepertinya tidak ada lagi dikotomi kuat antara penulis perempuan dan penulis laki-laki seperti waktu tahun 90'an akhir dan 2000 awal, saat Ayu Utami, saya, Djenar, mulai sering disebut-sebut sebagai "sastra wangi". Saat ini menurut saya kondisinya cukup lebur. Bukan lagi perihal laki-laki atau perempuan, tapi laku atau tidak laku. Jadi, saya cuma bisa bilang, dilihat dari perkembangan, terjadi perkembangan secara jumlah penulis yang lebih banyak, toko buku yang lebih banyak, dan penerbit yang lebih banyak.  

Beberapa pembaca kami menyatakan ingin sekali menulis, tetapi ketika menghadap komputer jinjing kebingunan mau memulai dari mana. Bolehkah Mbak Dee memberikan tip-tip menulis untuk para pemula?
 
Carilah buku yang kita suka, dan tulislah sebagaimana kita ingin membaca buku yang kita suka. 
 
Adakah kriteria yang harus dimiliki seseorang, yang ingin menjadi penulis?
 
Berani belajar dan berani gagal, dan tidak putus asa untuk terus mencoba. Carilah referensi buku yang baik, dan membacalah sebanyak-banyaknya.

Adakah buku dan album baru yang sedang disiapkan?
 
Sedang rihat dulu. Mungkin setelah Perahu Kertas dua-duanya diluncurkan, baru saya mulai kembali berproduksi. Rencananya sih saya akan kembali meneruskan episode ke-5 Supernova. 
 
Aktivitas lain di luar menulis buku dan lagu?

Lagi bangun rumah. Mudah-mudahan November selesai. 
 
Apa target yang ingin dicapai Mbak Dee tahun ini?

Pindahan yang lancar dan film Perahu Kertas-nya juga lancar, hehe.

Pertanyaan tambahan nih Mbak, adakah rencana ingin rekaman album lagi atas nama Rida Sita Dewi? Kangen juga nih mendengarkan RSD membawakan lagu-lagu Adjie Soetama, Adi Adrian dan Yovie Widianto, hehehe…

Untuk bikin full album sih belum ada rencana. Kita lihat satu lagu ini dulu aja, deh. Saya sendiri sebetulnya sudah lebih senang di belakang layar ketimbang nampil sebagai penyanyi/performer. Tapi untuk bersenang-senang sekali-sekali saja sih nggak apa-apa.



Monday, December 15, 2014

Wawancara Skripsi Part 2 | Mei, 2007 | by Diah Ismawardani


PENULISAN ARTIKEL DI DALAM BLOG DEE-IDEA 

Saat saya membaca artikel Anda ide yang dibuat terkadang bukan hal yang baru, namun Anda melontarkan argumen yang cukup kuat. Apakah hal ini sering terjadi pada saat Anda menulis. Mengapa demikian?

Saya sendiri baru mulai mencoba menulis artikel dengan lebih intensif sejak tahun lalu, jadi sebetulnya saya juga masih meraba-raba bentukan khas artikel saya itu seperti apa. Sekarang-sekarang ini memang sudah mulai ketahuan benang merahnya. Saya senang membuat artikel yang sifatnya menggugah, temanya tidak jadi masalah apakah sederhana atau tidak. Yang penting mampu mengajak pembaca untuk merenung. Dan barangkali itulah ciri khas artikel saya.

Kebanyakan dari ide artikel Anda adalah hasil pengamatan sehari-hari, namun apakah Anda tidak takut bila pembaca beranggapan ”itu adalah hal yang biasa”, dan artikel Anda menjadi tidak dibaca?

Semua artikel saya memang berawal dari pengamatan sehari-hari. Dan saat saya menulis, saya tidak terlalu memikirkan pembaca saya beranggapan apa, yang penting saya jujur dulu menuliskan apa yang saya pikir atau rasa. Syukur kalau pembaca menyukai atau terinspirasi, kalu tidak juga tidak apa-apa. Saya tidak terlalu memikirkan. Semua itu terserah pembaca, dan penulis tidak bisa terlalu mengendalikan.

Apa yang melandasi ide konvensional yang ada dalam beberapa artikel Anda namun tetap Anda tulis dan ternyata dimuat dalam harian, apakah atas dasar nama besar Anda saja?

Bagi saya, artikel itu tidak harus bertemakan sesuatu yang ‘aneh’ atau ‘tidak biasa’. Karena toh yang kita hadapi dalam hidup kebanyakan adalah hal-hal yang rutin kita temui, biasa, dan tidak aneh-aneh, tapi di balik semua itu banyak perenungan yang kita lupakan. Saya tertarik untuk menggali hal-hal kecil yang cenderung dilupakan tersebut. Saya pikir, setiap harian punya kebijaksaan tertentu, kalau memang tulisannya tidak layak standar mereka, siapa pun penulisnya, ya, tidak akan dimuat. 

Terus terang saya sangat menyukai gaya penulisan artikel Anda yang tidak jauh dari seperti menulis novel. Apakah tidak pernah ada komplain dari pihak media massa yang memuat artikel Anda?

Tidak. 

Apakah Anda pernah melihat orang lain melakukan ide yang Anda tulis dalam artikel Anda?

Belum. Tapi saya suka gaya penulisan artikel Goenawan Mohamad, menurut saya dia esais yang sangat hebat. 

Apakah ada yang beranggapan bahwa artikel Anda tidak selayaknya sebuah artikel karena gaya penulisan Anda yang seperti menulis novel ini?  Lalu bagaimana Anda menyikapinya?

Bagi saya, tidak ada garis kaku antara ‘gaya artikel’ dan ‘gaya novel’, yang membedakan adalah fiksi atau nonfiksi. Gayanya bisa apa saja. Saya malah suka bingung, kenapa artikel maupun karya-karya tulis sepertinya wajib ditulis dengan gaya akademis yang cenderung berat dan membosankan, kan tidak harus begitu melulu? Mungkin juga karena saya penulis novel, jadi ada pengaruh kuat dari gaya penulisan fiksi. Tapi menurut saya, gaya adalah pilihan, dan juga karakteristik. Saya tidak akan menulis artikel dengan gaya orang lain, hanya karena alasan gaya tsb ‘wajib’ atau ‘selayaknya’. Semua penulis tetap harus menemukan otentisitasnya masing-masing. 

Bagi Anda, apa artikel itu sebenarnya?

Secara definisi saya tidak tahu pasti, barangkali  bisa ditemukan di buku-buku teks.
Yang jelas, artikel itu karya nonfiksi. Bisa ditujukan untuk kepentingan akademis, jurnalistik, dsb. 

Dalam beberapa artikel Anda sering menggunakan Intro yang mendeskripsikan kehidupan Anda sehari-hari. Apakah memang kehidupan sehari-hari Anda cukup menarik bila dijadikan sebuah intro artikel? Atau hanya sebatas gaya penulisan Anda saja?

Karena kebanyakan saya menulis artikel diawali oleh perenungan terhadap hidup saya sehari-hari, saya pasti memasukkan unsur-unsur itu. Dan menurut saya, artikel yang menarik adalah artikel yang personal. Kalau kita membaca majalah-majalah internasional, setiap wawancara berkelas adalah wawancara yang kental dengan personalitas si penulisnya, bukan sekadar pemaparan info. Dan saya menyukai tipe artikel seperti itu. Karenanya, saya pun selalu menuliskan artikel yang sifatnya personal.

Terkadang dalam penulisan artikel seolah Anda tidak memperhatikan kemampuan pembaca mencerna kata-kata yang anda munculkan. Dan tak sedikit kata-kata yang sukar pembaca mengerti. Bagaimana Anda berani seperti itu?

Justru supaya pembaca penasaran, dan mencari tahu. Kalaupun dia tidak cari tahu, minimal dia jadi tahu apa yang dia tidak tahu. Saya pribadi menyukai dengan tulisan yang menantang saya untuk tahu lebih, memberi info lebih. Menurut saya itu salah satu cara untuk kita tidak malas dan terus menggali pengetahuan.

Saat menulis artikel, apakah Anda memperhatikan abstraksi media mana yang akan memuat tulisan Anda? Atau tidak?
 
Saya tentu menyesuaikan juga, tapi lebih ke masalah temanya dan contoh-contoh yang saya pakai. Untuk Imagosentris dan Sinkronisitas, karena saya tahu pembaca majalah Trolley kebanyakan anak muda, saya pakai contohnya dengan nama musisi, dsb. Gaya penulisan dan bobot sih biasanya sama-sama saja, karena menurut saya itu bagian dari karakteristik saya sebagai penulis.

Saya pernah membaca beberapa artikel anda di harian Pikiran Rakyat, dan ada yamg satu yang sangat saya sukai “Menembus Tingkap Kaca” dan “Satu Orang Satu pohon”, dan beberapa artikel lain seperti “imagosentris” menurut Anda artikel Anda yang paling bagus yang mana? Bisakah dilampirkan?

Saya tidak bisa memilih mana yang paling bagus. Semuanya memiliki pesan yang saya pikir layak dan cukup penting untuk disampaikan. Pembacalah yang menentukan tulisan mana yang paling beresonansi dengan mereka, dan pastinya setiap orang akan memiliki opini yang berbeda-beda. 

Artikel seperti apa yang menurut Anda bagus?

Artikel yang menggugah, mengedukasi, memberi info berguna, dan personalitas penulisnya terasa. 

Artikel bisa dikategorikan sebagai karya jurnalistik, lalu bagaimana menurut Anda tentang tulisan Seno Gumira Ajidarma dalam bukunya “Ketika Jurnalisme dibungkam, sastra berbicara? Apakah Anda pernah mengalami hal itu sebagai penulis artikel dan sastra?

Kebetulan saya mulai menulis ketika masa reformasi, di mana semua orang lebih bebas bersuara dan saya tidak merasakan opresi yang dirasakan banyak penulis saat rezim Orde Baru, jadi saya tidak bisa terlalu memberikan banyak pendapat soal ini. Lagipula, saya kurang tertarik dengan masalah-masalah politik, jadi tulisan-tulisan saya tidak terlalu berisiko pembungkaman. 

Bagaimana menurut Anda tentang lingkungan Indonesia khususnya pemanasan global, karena kebanyakan yang saya baca dari artikel Anda lebih mengarah ke lingkungan?

Karena saya sangat peduli soal lingkungan, dan menurut saya krisis lingkungan adalah hal yang sangat krusial untuk dunia sekarang ini.

Apakah Anda menulis setiap hari? Kapan terakhir menulis artikel? 

Saya menulis jurnal setiap hari. Kalau berkarya sih sebagaimana ada ide dan minatnya saja. Artikel terakhir bulan Mei ada di blog saya, judulnya Pacarku Ada Lima.


PEREMPUAN PENULIS & DUNIA PERBUKUAN INDONESIA 

Sebagai seorang wanita, bagaimana perkembangan penulis wanita di Indonesia saat ini?

Untuk perempuan, kondisinya sedang menguntungkan, karena sekarang justru para penulis perempuan yang lebih banyak disorot, bukan berarti lebih bagus dari yang laki-laki. Tapi media sedang berkiblat ke arah ekspos para penulis perempuan. Yang jelas, banyak penulis perempuan yang berani dan lebih jujur mengungkapkan masalah-masalah politik, gender, seksualitas, dan datang dari sudut perempuan, jadi cukup menarik untuk dikaji—khususnya peminat masalah-masalah gender.

Apakah pernah ada tanggapan negatif pembaca terhadap tulisan Anda? 

Kritik selalu ada. Supernova 1 cukup keras juga mengalami gelombang kritik. Tapi saya rasa semua karya seperti itu, ada yang memuji dan juga ada yang mengkritik. Hal itu biasa, karena kritik sastra adalah bagian inheren dari sastra itu sendiri. 

Apakah tanggapan Anda tentang penulis Indonesia yang sok “nginggris” pada judul buku, namun isinya bahasa Indonesia?
 
Sebetulnya sah-sah saja, selama punya konsep yang jelas, memang nyambung dan relevan dengan isi buku, dan juga mengandung nilai jual (misalnya gampang diingat, dsb) supaya mendukung buku itu sendiri. Tapi saya pribadi, selama masih ada pilihan yang sama baiknya dalam Bahasa Indonesia, saya pasti akan memilih dalam Bahasa Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan tayangan televisi yang seperti kasus di atas?

Idem. Selama ada konsep jelas, nyambung, dan ada nilai jual, kenapa tidak? Tapi kalau ada padanan Bahasa Indonesia yang sama baiknya, kenapa juga tidak dicoba dulu dengan Bahasa Indonesia?

Dalam dunia tulis menulis, terdapat dua paham yang menyatakan bahwa seorang penulis itu dilahirkan (sangat ditentukan bakat), kedua seorang penulis dibentuk (melalui proses pelatihan/ pendidikan). Bagaimana pendapat Anda mengenai paham ini?

Saya pernah baca kutipan, bahwa faktor bakat itu cuma 1%. 99% kerja keras dan keberanian. Saya sendiri bukan lahir dari keluarga penulis, dan banyak penulis yang saya tahu juga orang tuanya bukan penulis. Tapi mereka menyukai menulis, lalu berani mencoba, dan bekerja keras untuk mengembangkan kemampuannya. Jadi bukan bakat yang paling penting, tapi minat. Selama minatnya ada, tinggal disusul oleh komitmen. Tapi, kalau minatnya nggak ada, mau orang tuanya pasangan sastrawan, ya, tidak akan tumbuh bakatnya.

Anda sendiri termasuk yang mana?

Saya punya minat, nekat dan komitmen. Soal bakat, saya tidak yakin. Mungkin ada, mungkin tidak.
 
Apa dan bagaimana penilaian Anda terhadap para penulis Indonesia sekarang?

Banyak penulis baru, terutama dari genre chicklit dan teenlit. Saya mendukung keberanian dan kreativitas para penulis baru ini. Tapi kalau fiksi dewasa saya masih melihat ada kesenjangan antara karya sastra dan populer. Sementara yang bermain di tengah-tengah, yang bisa berfungsi sebagai jembatan, agak kurang jumlahnya. Jadi menurut saya sekarang ini tercipta kesenjangan yang cukup lebar antara penulis remaja dan penulis dewasa. Dan tema-tema yang dipilih para penulis remaja ini cenderung agak jenuh, sementara yang penulis dewasa mungkin agak terlalu serius, jadi para pembaca muda cenderung kurang berminat untuk mengikuti. 

Apakah penulis harus menguasai Bahasa Indonesia, terutama tata bahasanya?

Kalau mau jadi penulis profesional: harus. Kalau cuma untuk jadi diary atau dibaca oleh teman-teman dekat, nggak harus. Kalau kita sudah jadi penulis profesional, kita bertanggung jawab untuk edukasi bahasa yang baik bagi pembaca kita, karena saya sendiri dulu pun merasakan betul akibat dari kurangnya pengetahuan soal tata bahasa ini menjadikan saya banyak tidak tahu soal penulisan, ejaan, dll. Setelah cerita saya diedit saya baru mulai belajar, dan menyadari bahwa selama ini saya belajar dari sumber-seumber yang memang ‘kurang bertanggungjawab’. Iklan kita banyak yang ngaco, penulisan di majalah juga ngaco, sementara seberapa sering kita baca buku teks pelajaran Bahasa Indonesia? Jadi sebagai penulis profesional, kita harus menguasai. Bahkan menurut saya, profesionalisme si penulis bisa dinilai, salah satunya, adalah dengan melihat tata bahasanya.

Wawancara Disertasi | Energi Supernova PETIR Dalam Industri Penerbitan Sastra | April, 2009 | by Sugiarti


Kapan Anda memulai aktivitas menulis karya sastra?

Sejak buku pertama saya diluncurkan (Supernova “Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh”), tahun 2001.

Pengalaman/energi  apa yang mendorong Anda untuk terus melakukan kegiatan menulis karya sastra (novel)?

Sekadar ingin berbagi buah pikir.

Ide apa yang mendasari Anda menulis novel Supernova (Petir)?

Pada dasarnya PETIR merupakan kelanjutan dari dua episode Supernova sebelumnya (KPBJ dan AKAR), jadi ide yang mendasari PETIR merupakan kesinambungan dari seluruh serial Supernova secara keseluruhan. Pada PETIR, saya berusaha mengangkat profil sederhana yang bisa ditemui sehari-hari di sekeliling kita, tapi dalam sosok yang sederhana itu ternyata ada potensi yang sangat besar.

Pesan apa yang ingin disampaikan kepada penikmat/pembaca?

Dalam PETIR saya bercerita tentang transformasi, meditasi, dan penyembuhan.

Strategi apa yang dilakukan oleh Anda agar karya sastra disegani pembaca?

‘Disegani’? Saya tidak punya strategi apa-apa, selain menuliskan apa yang saya suka dan apa yang ingin saya baca. Selebihnya saya menjalankan apa yang saya pikir baik untuk buku tsb, seperti mengadakan peluncuran, promosi, dsb. Saya rasa karya yang baik akan berbicara dengan sendirinya tanpa harus banyak strategi dari produsennya.

Bagaimana proses kreatif dalam penciptaan karya sastra dilakukan?

Biasanya saya sudah punya ide kasar di benak saya, lalu saya tuangkan sedikit demi sedikit ke dalam tulisan. Sejauh ini, saya agak jarang bikin outline yang serius. Lebih banyak unsur spontan dan mengalir saja.

Apakah benar dikatakan bahwa perempuan pengarang dalam menulis novel lebih sering mengimprovisasi pengalamannya sendiri?

Menurut saya, semua pengarang, mau itu laki-laki atau pun perempuan pasti sedikit banyak akan berbicara dari pengalaman mereka sendiri. Ada banyak unsur-unsur lain tentunya; pengamatan, pengalaman orang lain, imajinasi, dsb. Bagi saya sendiri, yang saya tumpangkan dalam karya adalah ide dan perenungan saya, tidak melulu pengalaman pribadi secara harfiah. Untuk jalan cerita saya lebih banyak bersandar pada imajinasi.

Bagaimana tanggapan Anda jika dikatakan dalam menghadirkan/mengungkapkan karya sastra lebih menekankan persoalan seksualitas atau seputar persoalan perempuan?

Saya tidak tahu dengan penulis lain, kalau saya sendiri kebetulan tidak ‘bermain-main’ di ranah seksualitas ataupun persoalan perempuan secara eksklusif. Jadi saya tidak bisa mengatakan setuju kalau karya sastra yang dibuat oleh penulis perempuan hanya bicara soal seksualitas atau feminisme saja. Tema yang saya suka lebih banyak tentang spiritualitas dan humanisme.

Sejauh mana perubahan sosial budaya selalu mewarnai dalam proses penciptaan karya sastra?

Setiap karya sastra adalah saksi sejarah dari kondisi sosial budaya. Ibarat rahim tempat ia lahir. Jadi, walaupun sebuah karya tidak secara eksplisit mengangkat soal sosial budaya, ia tidak akan pernah terlepas dari konteks sosial budaya di mana sang penulisnya berada.

Kerangka pikir apa yang ingin disampaikan Anda melalui karya sastra yang dihasilkan?

Cara berpikir holistik, yang tidak melihat sesuatu secara terpisah-pisah atau parsial atau hitam-putih.

Bagaimana tanggapan Anda terhadap industri penerbitan sastra?

Sekarang ini, menurut saya, ada geliat baru dalam dunia penerbitan. Terbukti dari banyaknya penulis baru bermunculan, penerbit baru bermunculan, taman bacaan dan komunitas pembaca yang bermunculan. Buku saat ini adalah media ekspresi seni yang berkembang secara di baik di masyarakat.

Menurut pengalaman Anda, apakah keberadaan penerbitan memberikan kontribusi pada distribusi novel kepada pembaca?

Tanpa penerbitan, penulis tidak punya saluran untuk mencapai pembacanya. Jadi bukan hanya kontribusi, tapi penerbitan adalah elemen utama (selain penulis, toko buku, dan distributor) yang mewujudkan industri buku.

Apakah perkembangan teknologi komunikasi berpengaruh terhadap minat baca sastra (novel)?

Saya rasa iya. Banyak komunitas sastra virtual yang sekarang tercipta, marketing online maupun pembelian online juga mulai dilirik oleh banyak pemain buku. Penulis pun bisa memanfaatkan teknologi untuk menggaungkan karya-karyanya.

Sejauh mana hubungan Anda dengan penerbit dan pembaca sastra?

Kebetulan hampir semua karya saya diterbitkan sendiri. Dengan pembaca, saya berkomunikasi lewat blog, lewat Facebook, dan saat saya memang bertemu langsung dengan mereka di acara-acara temu penulis, bedah buku, dll.

Bagaimana tanggapan Anda terhadap hubungan  karya sastra (novel) dengan pembaca? Mohon komentar?

Sebuah karya dan pembaca terkadang memiliki hubungan yang lebih erat dan personal ketimbang antara pembaca dan penulis, karena lewat karya itulah mereka terinspirasi, bercermin, merenung, dsb. Seorang pembaca bisa menyukai sebuah karya tanpa harus ikut menyukai bahkan mengenal penulisnya. Mungkin itu juga yang membuat ungkapan “pengarang sudah mati” menjadi populer. Karena karya berbicara lebih lama dan bisa jadi abadi, ketimbang penulisnya.