Showing posts with label 2009. Show all posts
Showing posts with label 2009. Show all posts

Sunday, December 21, 2014

Wawancara Skripsi | Rectoverso | Agustus, 2009 | by Cecilia Abigail


Selain menjadi penyanyi sekarang Dee lebih sering dikenal sebagai penulis. Sejak kapan Dee memiliki bakat menulis itu?

Saya memang bercita-cita ingin menulis buku sejak kecil. Saya nggak pernah punya ambisi jadi penulis lewat jalur jurnalistik atau penulis fiksi lewat media (kirim cerpen ke majalah, dll—walaupun sesekali pernah mencoba), pinginnya memang menulis buku. Latar belakangnya sederhana saja: ingin berbagi. Berbagi perenungan, pengalaman, pemikiran. Dan saya pikir, keinginan berbagi ini inheren ada di setiap manusia, cuma pilihan penyalurannya saja yang berbeda-beda. Kebetulan media yang saya pilih adalah lewat menulis.

Dari mana kiprah Dee sebagai penulis dimulai?

Saya mengawalinya pertama kali ketika cerpen saya Rico De Coro (ada dalam kumpulan cerita Filosofi Kopi) dimuat di majalah Mode tahun 1997, dua tahun sebelumnya tulisan saya juga pernah memenangkan kompetisi menulis di majalah Gadis, tapi saya pakai nama samaran. Sesudah itu langsung ke Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh tahun 2001. Sebetulnya cuma modal nekat saja, saya menerbitkan sendiri Supernova ke-1 tanpa ada ekspektasi dan pengetahuan lika-liku industri buku. Saya nyaris tidak ada target, siap merugi, yang penting saya menulis buku, itu saja.

Mana yang lebih menarik, menjadi penulis atau menjadi penyanyi?

Sama-sama menarik, keduanya saling melengkapi. Dari level superfisial, lewat menulis saya mendapatkan banyak pengalaman dan pertemuan menarik dengan orang-orang baru, pergi ke banyak tempat, dan menimba banyak ilmu. Dari level spiritual, menulis menjadi gerbang saya menemukan jati diri. Sementara menyanyi dan bermusik menjadi cara saya mencinta. Banyak keindahan dan perasaan yang bisa terungkap sempurna lewat menulis lagu dan menyanyi, dan itu menjadi kepuasan tersendiri yang tidak bisa terukur.
Menjadi penyanyi dan penulis bukan pilihan. Kedua-duanya sudah menjadi bagian inheren dari diri saya. Mimpi terbesar saya adalah karya saya bisa dinikmati dalam skala internasional.
Menulis itu seperti menciptakan semesta sendiri, lebih komplet dan komprehensif, tapi tidak berarti lebih unggul dari musik, karena keduanya bersifat komplementer.
Lewat menulis saya bisa mengeksplorasi karakter, narasi, dan plot. Dalam lagu, unsur itu ada tapi terbatas, jadi kisah dalam lagu cenderung lebih abstrak dan interpretatif. Tapi justru di situ jugalah kelebihan musik. Musik bisa dihayati bahkan lebih mendalam, dan bisa jadi lebih langgeng dan tak lekang zaman. Lagu juga punya melodi, dan itu satu kelebihan sendiri dibanding kata-kata belaka.

Dari keseluruhan karya Dee itu, mana yang paling berkesan untuk Dee?

Hmm. Semuanya punya kesan masing-masing sih. Tapi barangkali secara pengalaman, saya paling banyak belajar dari Supernova 1, karena itulah buku pertama saya, dan dari sanalah segala macam pengalaman menulis dan jadi penulis bermula.

Pernah terbayangkan sebelumnya kalau sekarang Dee menjalani hidup sebagai seorang penyanyi, pencipta lagu sekaligus penulis buku?

Sejujurnya, tidak. Karier menyanyi saya berjalan begitu saja, transisinya halus sekali. Dari aktivis vokal group & paduan suara sekolah, lulus SMA jadi backing vokal selama dua tahun, lalu tahun 1995 mulai rekaman untuk RSD, berjalan delapan tahun, hingga akhirnya berkarier solo sampai sekarang. Untuk jadi penulis memang lebih banyak perjuangan, karena dulu saya menerbitkan sendiri Supernova, jadi tantangannya memang banyak. Kalau buku itu kemudian jadi laku dan jadi perbincangan, itu di luar dugaan saya sama sekali. Dulu saya cuma cita-cita pingin punya buku aja. Kalau yang baca cuma 10 orang juga nggak apa-apa. Sudah senang.

Dari keseluruhan buku atau cerita yang Dee telah tulis, dari mana biasanya Dee mendapatkan ide – ide ceritanya? Dari pengalaman orang lain, pengalaman sendiri, atau berasal dar imajinasi Dee saja?

Kebanyakan dari perenungan. Bahan yang direnungkan tentu datangnya dari kehidupan itu sendiri, dari kisah pribadi, kisah orang lain, mengamati alam, dsb. Seorang penulis memang harus jadi pengamat yang baik.

Dari karya Dee yang berjudul Supernova, beberapa orang yang beranggapan bahwa buku – buku karya Dee terlalu sulit dimengerti. Apakah memang Dee senang menggunakan bahasa atau istilah-istilah kiasan di setiap karya Dee, lalu bagaimana Dee menanggapi tanggapan beberapa orang itu?

Masalahnya, saya jarang memikirkan orang lain ketika berkarya. Saya menulis apa yang saya suka saja. Termasuk kalau menurut saya ada beberapa terminologi teknis yang perlu digunakan, ya saya gunakan. Kalau kiasan atau metafora sepertinya sih semua karya sastra memilikinya. Soal susah dipahami atau tidak menurut saya adalah hal yang relatif. Yang jelas, saat berkarya kita tidak mungkin memuaskan semua orang, atau memastikan bahwa semua orang akan mengerti. Yang mengerti pasti ada, yang enggak juga pasti ada. Karenanya saya lebih suka menjadikan diri saya sendiri sebagai patokan, pokoknya apa yang menurut saya sesuai dan pas dengan yang ingin saya ungkapkan, ya, saya gunakan.

Rectoverso merupakan karya kedelapan Dee. Apa yang Dee ingin angkat dari Rectoverso ini?

Rectoverso adalah karya yang sangat personal dan emosional. Justru sayalah yang menantikan pesan dari pembaca Rectoverso dalam bentuk perasaan mereka, air mata mereka, dan bagaimana kisah-kisah dalam Rectoverso menyentuh hati mereka.

Apa latar belakang Dee sehingga Dee menggabungkan dua media yaitu buku dan music (album cd) dalam karya kedelapan Dee ini?

Rectoverso pada dasarnya adalah produk hibrida, jadi nggak bisa cuma dilihat sebagai album saja, atau buku saja, melainkan kedua-duanya seperti “saudara kembar”. Itu yang sangat membedakan Rectoverso dari karya-karya saya yang lain. Lagu dan kisah di Rectoverso saling melengkapi dan saling bercermin. Jadi bukan sekadar satu paket, tapi buku dan album Rectoverso itu seperti dua sisi dari koin yang sama. Esensinya, ide dan inspirasi untuk album dan buku Rectoverso itu satu dan sama, hanya saja mengambil dua bentuk yang berbeda. Saya juga ingin menampilkan aspek romantisme saya yang selama ini hanya bisa terekspresikan secara parsial dalam karya-karya saya yang sebelumnya. Rectoverso itu seperti menulis surat cinta yang panjang. Saya tidak fokus pada penokohan atau plot, melainkan emosi terdalam yang dirasakan oleh tokoh-tokoh, baik dalam lagu maupun cerpen di Rectoverso.

11 cerita dan 11 lagu dengan judul yang sama. Apakah angka 11 itu sebuah kebetulah atau memang Dee memang sengaja menulis cerita dan menulis lagu hingga berjumlah 11?

Awalnya nggak sengaja, kebetulan materinya memang sebelas. Sebetulnya masih bisa ditambah, tapi pada akhirnya saya memutuskan sebelas, karena 11:11 itu punya makna yang sangat dalam di ilmu numerologi. 11:11 dipercaya sebagai angka yang mewakili terbukanya gerbang antara dunia materi dan spiritual, antara dunia fisik dan dunia roh.

Dari mana ide cerita – cerita di dalam Rectoverso didapat?

Ya dari hidup itu sendiri. Dari kejadian sehari-hari, peristiwa di sekeliling saya, curhat orang-orang, apa yang saya rasakan, imajinasi, fantasi, dsb. Bagi saya, hiduplah yang mengajarkan dan menginspirasikan segala lakon dan karya manusia di dunia. Tergantung bagaimana kejelian kita mengamati dan mencerapnya saja.

Berapa lama proses pengerjaan Rectoverso ini?

Rekamannya sendiri hanya 4 hari karena semua direkam secara live. Tapi pengerjaan dari mulai konsep sampai mastering butuh waktu 1,5 tahun. Kalau bukunya kurang lebih sama, tapi saya kerjakan secara sporadis. Jadi nggak sekaligus.

Kesulitan – kesulitan apa yang Dee temui pada proses pengerjaan Rectoverso ini?

Kendalanya lebih ke penyatuan antara dua industri yakni musik dan buku, dan bagaimana menentukan strategi pemasaran yang mengakomodasi keduanya. Dari segi rekaman, karena kita memakai sebegitu banyak pemain dan rekamannya live (sejarah yang lebih lengkap silakan lihat kata pengantar di buku Rectoverso), jadi cara mengorganisir dan mengatur skema kerja produksinya juga menantang. Kalau dalam menulis sih hampir nggak ada kesulitan karena saya bikin berdasarkan lirik, dan nggak melibatkan orang banyak jadi tinggal berproses dengan diri sendiri saja.

Dalam CD rectoverso Dee berduet dengan Arina Mocca dan Aqi ALEXA, kenapa Dee memilih mereka untuk berduet dalam Rectoverso ini?

Saya adalah pengagum berat suaranya Arina. Menurut saya, dialah yang paling berbakat menyanyi di keluarga dan saya juga selalu berangan-angan ingin berkolaborasi dengan saudara-saudara saya. Kebetulan saya mencari karakter suara yang innocent dan seperti anak kecil untuk lagu Aku Ada. Arina adalah vokalis yang paling pas untuk itu. Duet tersebut sekaligus juga mewujudkan cita-cita saya untuk berkolaborasi dengannya. Saya memilih Aqi karena memang mencari partner duet cowok yang karakternya agak nge-rock tapi nggak terlalu ‘sangar’ sampai melibas suara saya yang cenderung soft. Dan kebetulan waktu itu album Alexa belum dirilis jadi Aqi masih bebas, mengurus perizinannya jadi nggak ribet. Dan saya juga suka banget karakter suaranya Aqi.

Sudah dua video klip yang Dee keluarkan, apakah Dee berniat untuk membuat video klip dari judul lainnya?

Baru saja dirilis VK “Aku Ada”. Jadi sekarang sudah ada tiga VK dari album Rectoverso.

Beberapa orang memiliki caranya sendiri dalam menikmati Rectoverso, kalau menurut Dee sendiri bagaimana cara terbaik menikmati buku dan CD Rectoverso?

Tidak ada cara khusus. Orang-orang bisa memulainya dari mana saja, bisa dari buku atau dari musik. Yang penting adalah menikmati keduanya sehingga keutuhan karyanya bisa dihayati secara penuh  dan maksimal.

Apa yang ingin Dee dapatkan sebagai seorang penulis?

Saya cuma ingin berbagi pemikiran dan suara hati saya. Itu saja.

Highlight UNPAR | Profil | Oktober, 2009 | by Tasya Dwi Permatasari


Ceritain dong, gimana awalnya terjun ke dunia entertainment?

Awalnya saya jadi backing vocal bareng Sita, mulai dari tahun 1993. Lalu 1995 diajak bikin grup RSD (Rida, Sita, Dewi). 2001 mulai nulis buku.

Setelah kuliah atau bersamaan dengan kuliah?

Bareng kuliah.

Ngeganggu kuliah gak, Kak?

Lumayan repot aja sih. Karena manggung banyak di weekend, paling berasa kalau dapat jadwal kuliah Senin pagi. Yang ada seringnya nggak masuk atau ketiduran di kelas tiap Senin pagi. Hehe.

Kapan nih main-main ke Unpar?

Selama ini suka diundang juga sama Unpar, buat acara bedah buku, inagurasi, dsb.

Waktu itu ikut UKM apa?

Karena waktu kuliah saya udah sambil nyanyi, saya nggak sempat lagi berkegiatan di kampus. Jadi datang ke kampus benar-benar hanya untuk kuliah, atau ketemu teman-teman saja.

Dosen favorit Kakak siapa?

Saya paling dekat sama Mas Nur dan Mas Banyu. Mas Nyoman juga lumayan dekat, setelah lulus juga lumayan dekat sama Bu Suke, karena pernah ketemu di Australia saat saya diundang ke sana dan beliau lagi sekolah.

Di Unpar biasa makan atau nongkrong di mana?

Dulu seringnya di kantin bawah (nggak tahu sekarang masih ada atau enggak), di jembatan (nggak tahu namanya apa sekarang), di Efata (nggak tahu masih ada atau enggak).

Yang paling ngangenin di Unpar?

Suasana di jembatan saat bubar kuliah pagi. Very refreshing.

Bagaimana pendapat Kakak tentang dunia musik di indonesia saat ini?

Lumayan berbeda jauh dengan zaman saya dulu dengan RSD. Sekarang orang bikin musik untuk RBT, bukan untuk album lagi. Kalau zaman saya yang lebih kuat vokalis-vokalis solo, sekarang didominasi band. Dan kedengerannya semua mirip-mirip.

Bagaimana pandangan Kakak mengenai generasi muda di indonesia saat ini?

Maju dan berkembang, sekaligus punya tantangan yang sangat besar. Karena generasi muda sekarang harus banyak sekali menanggung beban masa lalu yang diwariskan generasi sebelumnya (korupsi, perusakan lingkungan, dsb). Dengan kreativitas, keberanian untuk berubah, dan otentisitas, semoga beban itu bisa tidak terlalu berat.

Kesan pesan kuliah di Unpar?

Kuliah di Unpar menyenangkan dan membanggakan. Secara kualitas kita amat bersaing dengan institusi pendidikan top lainnya, secara jaringan pergaulan dan relasi juga sangat luas. Saya bersyukur banget pernah kuliah di Unpar.

Apa nih pesan atau tips nasehat buat mahasiswa/i Unpar sebagai generasi muda penerus bangsa indonesia?

Find your passion, and stay true with it. Educate yourself, and don’t just depend on formal institutions.

Saturday, December 20, 2014

Majalah PESONA | Close Up Interview with Dewi Lestari | Mei, 2009 | by Shinta Kusuma



Present Moment
Mengapa sekarang Anda menghindari wawancara tatap muka? 

Alasan pertama, karena kondisi fisik. Di kehamilan trimester pertama ini saya cukup sering ‘out of breath’, apalagi kalau harus ngomong lama, suka jadi ngos-ngosan dan habis itu kepinginnya berbaring. Sementara kalau wawancara kan pihak yang lebih banyak bicara pastinya saya. Alasan kedua, pengalaman saya diwawancara cukup sering membuat saya agak berhati-hati dengan format lisan. Masalahnya, cukup sering ucapan saya disalah kutip, salah dengar, salah tangkap, dsb. Alasan ketiga, banyak pertanyaan wawancara yang sering diulang-ulang, misalnya: sejak kapan suka menulis, dsb. Kalau wawancara tertulis saya bisa copy-paste dari arsip, hehe. Jadi, selain meminimalisir kesalahan kutip dan sejenisnya, lebih hemat waktu/energi juga bagi kedua belah pihak, dan saya jadi punya dokumentasi wawancaranya. Kalau dibilang ‘kurang hidup’ atau ‘feelingnya nggak dapet’, pengalaman saya menunjukkan ketika wawancaranya sudah dimuat dalam bentuk tulisan, nggak terlalu berasa juga ketemu langsung atau enggaknya. 

Sedang sibuk apa saat ini? 

Secara garis besar, sedang nggak sibuk. Sejak tahu hamil saya mengurangi drastis aktivitas saya. Dan memang fisik saya juga sempat naik-turun banget, ya mual, muntah, lemas, dan sebagainya. Tapi sebetulnya saya lagi menyiapkan buku baru juga, yakni novel digital saya berjudul Perahu Kertas, yang sedang dipersiapkan untuk naik cetak. 

Bagaimana dengan kondisi kehamilan Anda: apa bedanya ketika hamil Keenan? Ekspektasinya perempuan atau laki? 

Kehamilan yang sekarang lebih ‘alami’. Nggak pakai obat, nggak setiap bulan di-USG, nggak pakai suplemen macam-macam. Saya cuma minum satu vitamin prenatal, dan sisanya makan sebaik mungkin saja. Saat muntah-muntah pun dijalani saja tanpa obat apa-apa. Hasilnya sih lumayan. Keluhan-keluhan trimester pertama ini malah lebih cepat lewat dibandingkan kehamilan saya dulu. Dan kehamilan kali ini saya juga sudah vegetarian, dulu belum. Ekspektasi? Hmm. Jujur saya agak kepingin perempuan, karena anak pertama laki-laki dan semua keponakan saya laki-laki. We need more girls in the family. Tapi kalau pun cowok lagi, ya, nggak apa-apa. 

Rencana melahirkan: apa mau berbeda misalnya dengan hypno-birthing atau water birth? 

Untuk persalinan pun inginnya kali ini sealamiah mungkin. Kalau bisa water birth. Bahkan kalau memungkinkan, penginnya home birth, yakni melahirkan di rumah. Di persalinan yang dulu saya sudah mencicipi induksi dan operasi caesar. Mudah-mudahan yang berikut ini pengalamannya bisa berbeda.

Bagaimana peran Reza dalam kondisi kehamilan Anda sekarang?

Wah. Saya beruntung banget didampingi Reza. Pokoknya semua keahlian penyembuhannya saya ‘peras’ habis selama kehamilan ini. Haha! Dia hampir selalu meluangkan untuk merawat saya, memberi terapi, menemani dan menemani saat saya muntah-muntah, bahkan mau keluar rumah malam-malam buat cari jambu biji (saya sempat ngidam). Selain itu dia juga harus beradaptasi dengan perubahan fisik saya, di mana saya sempat nggak keluar rumah berminggu-minggu, lemas melulu, dsb. Tentunya nggak gampang buat Reza, karena ini kan pengalaman pertamanya juga mendampingi perempuan hamil secara intensif, tapi berhasil dilalui. Keenan juga pintar, lho. Kalau Reza nggak ada, dia yang nemenin saya muntah-muntah di kamar mandi sambil pijat-pijat punggung saya. Nyontek dari Reza… hehe.

Soul Character


Sebutkan 3 karakter Anda yang paling kuat (dan mungkin orang lain tidak tahu). 

Pemalas, konyol, dan kampungan. 

The best the worst moment in your life: kapan turning point dalam hidup Anda? Apa yang terjadi saat itu? 

Bagi saya, turning point terbesar dalam hidup sejauh ini adalah akhir tahun 1999, ketika saya melepaskan semua konsep agama dan mulai berjalan dalam ranah spiritual tanpa peta. It changed my life forever, termasuk menginspirasi saya untuk melakukan banyak hal, salah satunya: menulis Supernova. 

Siapa the most inspiring person di mata Anda? Alasannya? 

Thich Nhat Hanh. Beliau berhasil menerjemahkan ajaran Buddha menjadi begitu membumi, universal, dan merangkul begitu banyak orang tanpa semangat konversi, semata-mata karena welas asih. Beliau bukan hanya seniman dan rohaniwan, tapi juga seorang humanis yang benar-benar menjalankan apa yang ia ucapkan, menjadi seorang “bukti hidup”. He walks the talk like no other. 

Apakah Anda percaya pada reinkarnasi? Kalau ya, Anda ingin jadi siapa jika dilahirkan kembali? Alasannya? 

Jadi ikan paus. Karena saya sekarang belum bisa berenang. Sementara saya selalu tertarik pada misteri kehidupan di bawah laut. Jadi alangkah menyenangkannya kalau saya bisa menjelajah laut dengan menjadi ikan yang paling besar. Dan mudah-mudahan saat saya jadi ikan paus, semua orang sudah vegetarian jadi saya nggak diburu. 

What is your wildest dream? 

Diculik alien, dan dibawa jalan-jalan lihat semesta raya. Dengan catatan: dipulangin lagi. 

Soul Mate


Siapa sosok soulmate bagi Anda? Kalau memang bisa lebih dari 1 orang, bagaimana arti Reza bagi Anda? 

Buat saya, siapa pun yang dihadirkan ke dalam hidup kita, baik itu jadi musuh atau teman, siapa pun yang memberikan kita pelajaran dan pengalaman yang bermakna, merekalah ‘soulmate(s)’. Karena kehadiran mereka memberikan jiwa kita kesempatan untuk bertumbuh. Perannya saja lain-lain. Termasuk juga Reza, hanya saja perannya sekarang dalam hidup saya adalah sahabat, suami, pasangan hidup, dsb. Jadi bagi saya, soulmate itu bisa macam-macam perannya dan, tentu, tak cuma satu. 

Apa yang menarik dalam diri Reza sehingga Anda memutuskan untuk menikah? (Sebutkan 3 hal) 

Sejak awal kenal, saya menemukan sosok sahabat dalam dirinya, kita bahkan pernah bercita-cita jadi tetangga. Dan kualitas sahabat itu membuat saya selalu nyaman jadi diri saya sendiri saat bersama dengan dia. Kedua, dia itu aneh. Dan saya memang suka yang aneh-aneh. Reza itu biangnya paradoks. Contohnya: kesan luarnya dia tipe orang yang manut, padahal dia itu pemberontak. Kesan lainnya dia itu waras, padahal ‘gila’. Haha! Ketiga, ini faktor yang subtil sih, tapi bagi saya nyata, yaitu: intuisi. Keputusan saya menikah dengan Reza adalah keputusan yang intuitif, nggak bisa diverbalkan dengan mudah. 

Apa pengaruh terbesar setelah kehadiran Reza dalam hidup Anda? Hal apa yang 'mengejutkan' dari Reza (yang baru diketahui setelah nikah & tinggal bareng)? 

Saya jadi lebih apa adanya. Kalau ngamuk ya ngamuk, sedih ya sedih, malas ya malas, sementara kalau dulu saya sangat ahli dalam bungkus-membungkus perasaan. Sekarang nggak lagi. Saya bahkan jadi tahu rasanya cemburu. Itu hal langka, karena saya orangnya lempeng banget soal yang begitu-begitu. Yang mengejutkan dari Reza… hmm, sejauh ini adalah soal makanan. Ternyata buat dia, perihal makanan—dari mulai ketersediaan sampai menu yang cocok—itu amat, sangat penting. Sementara selera kita nggak selalu sama. Dan jujur, saya orangnya agak serampangan soal makan. Jadi butuh kerja keras juga untuk saling menyesuaikan. Dia akhirnya bantu saya untuk lebih sistematik dalam menyusun menu dan sistem masak-memasak di rumah. 

Reza adalah soul twin Anda, apakah kalau terlalu sama malah boring? Apakah Anda tidak pernah mengalami konflik? Kalau ya, biasanya soal apa? 

Tanggal lahir kita memang cuma beda sehari, minat kita banyak banget yang sama, dan begitu banyak sinkronisitas yang kita temukan sejak awal kita kenal. Tapi sebetulnya kita juga cukup berbeda. Konflik pasti ada, cukup banyak malah, dari mulai soal kecil seperti pilih DVD sampai soal besar seperti sifat, kebiasaan, dsb. Penyelamat kita adalah komitmen untuk tetap jujur pada satu sama lain, seburuk apa pun kejujuran itu. 

Apakah cerita di buku Rectoverso berjudul Grow a Day Older adalah kisah sejati antara Anda dan Reza?

Semua fiksi saya nggak pernah sepenuhnya 100% mengambil kisah nyata. Terinspirasi, sih, iya. Dan Grow A Day Older memang terinspirasi oleh keberadaan Reza, bahkan lagunya adalah hadiah ulang tahun saya buat dia waktu itu.

So(u)litary Moment
Bagaimana cara Anda menikmati liburan? Tempat liburan & kegiatan favorit Anda? 

Saya suka liburan yang tidak terburu-buru dan tidak ambisius, yang nggak harus mengunjungi 10 tempat dalam sehari, dan sesudah itu terkapar nggak ada tenaga. Jadi, bagi saya berlibur itu ya sebisa mungkin rileks dan santaaai. Tempat favorit: Ubud. Kegiatan favorit: lihat pemandangan, makan, dan mengobrol bersama orang-orang lokal. Selalu ada hal menarik biasanya. 

Punya waktu khusus untuk 'me time'? Kalau ya, biasanya apa yang dilakukan? 

Menulis tanpa diganggu, seharian di spa atau salon (pijat, lulur, meni-pedi, creambath, dll), nonton film, atau main-main bertiga—saya, Keenan, Reza—ketawa-ketawa di tempat tidur, atau main-main air di kolam renang. 

Apakah sekarang masih perlu waktu khusus untuk mencari inspirasi dan menulis? 

Kalau saya dari dulu prinsipnya tidak pernah “mencari” inspirasi, karena menurut saya, inspirasilah yang menemukan kita. Jadi kita bisa terinspirasi di mana saja dan kapan saja. Cuma untuk menuliskannya memang butuh waktu khusus. Sekarang saya menulis kapan pun sempatnya, nggak ada waktu ideal. Pokoknya kalau ada waktu di mana saya sedang sendiri, ya itulah kesempatan saya menulis. 

'Vacation is a state of mind'. Apa maksud kalimat Anda ini? 

Kadang-kadang badan kita berlibur, pergi ke satu tempat wisata misalnya, tapi pikiran kita tidak berlibur, tetap saja memikirkan pekerjaan, dsb. Menurut saya yang paling penting dalam berlibur adalah pikirannya dulu yang berlibur. Caranya bisa dengan relaksasi, meditasi, dsb. Kalau sudah bisa begitu, nggak terlalu masalah lagi mau berlibur ke mana secara fisik. Di mana pun kita bisa “berlibur”. 

Impian liburan yang belum kesampaian? 

Ke Peru, ke Galapagos, ke Bhutan, dan keliling Asia Tenggara. Oh ya, saya juga kepingin ‘napak tilas’ perjalanannya Graham Hancock seperti di bukunya Fingerprints of the Gods. 

Majalah Oops! | Star Style | Maret, 2009 | by Putri Sekar


Sejak kapan gemar membuat karya tulisan?

Sejak kecil.

Tujuan dari membuat karya tulisan / buku Anda?

Berbagi.

Dalam menulis, adakah tema spesifik yang Anda suka? Berikan alasannya.

Pencarian jati diri dan spiritualitas. Karena kedua tema itulah minat saya yang utama.

Soal style berpakaian sehari-hari, apakah sejalan dengan gaya menulis yang Anda sebutkan di atas tadi (contoh: gaya menulis bebas, lugas, cuek, feminine dsb)?

Sejujurnya, sebelum pertanyaan ini muncul dari Oops!, saya nggak pernah kepikir untuk mengamati korelasi antara gaya menulis saya dengan style berpakaian saya. Jadi, jujur, agak bingung menjawabnya. Pada dasarnya saya suka gaya yang simpel, nggak terlalu banyak detail, nggak terlalu banyak motif, nggak terlalu banyak warna. Saya nggak tahu apakah itu mencerminkan gaya menulis saya juga atau enggak.

Deskripsikan style berpakaian Anda sehari-hari (contoh: jeans, t-shirt & aksesoris rambut).

Rambut, kalau lagi nggak panas, enaknya digerai, di-blow lurus aja. Aksesorisnya paling bando tali tipis. Kalau lagi panas, ya, diikat atau dijepit. Baju kebanyakan jeans, atau celana bahan kaos, rok kadang-kadang. Atasannya tank-top, t-shirt polos, atau blus yang nyaman. Kalau ada penambahan paling cardigan tipis, scarf, atau pashmina. Dulu saya suka pakai boots, sekarang saya lebih suka pakai sepatu/sendal yang terbuka. Saya juga suka pakai kalung yang setema dengan baju hari itu. 

Adakah fashion item yang menjadi trademark diri?

Mmm. Hmmm. Emmm. Apa, ya? Hehe. Bingung. Kayaknya nggak ada.

Warna favorit? Kenapa?

Putih dan hitam. They’re just never out of style.

Gaya berpakaian atau karya tulisan. Yang manakah yang lebih menggambarkan ”real you”?

Yang pasti bukan gaya berpakaian, haha! Nggak tahu juga, sih. ”Real me” menurut saya nggak cukup dibatasi oleh gaya berpakaian atau karya tulisan. Dua-duanya hanyalah bagian dari saya, tapi bukan saya yang sesungguhnya. Tapi, kalau memang harus dipilih antara dua itu, saya lebih cenderung menjawab karya tulisan. Setidaknya, bagi saya pribadi, menulis adalah kanvas yang lebih besar untuk berekspresi ketimbang gaya busana. 

Tabloid Nyata | Perahu Kertas | September, 2009 | by Endah


Hai Dee, apa kabar? Apa kegiatannya sekarang?

Kabar baik. Sekarang ini saya lebih banyak di rumah.

Apakah istirahat karena baru melahirkan Perahu Kertas, atau malah tambah sibuk nih?

Sempat sibuk selama dua minggu untuk mempromosikan Perahu Kertas di radio, teve, dan toko buku. Tapi setelah itu saya memang sudah kembali istirahat untuk mempersiapkan kelahiran anak ke-2 saya.

Bagaimana rasanya punya ’bayi baru’ Perahu Kertas?

Sebagaimana rasanya setiap punya buku baru, ya lega, senang, semangat, dsb.

Sebenarnya sudah berapa lama ide dasar Perahu Kertas mengendap? Apakah yang sudah jadi pada 11 tahun lalu Perahu Kertas dalam bentuk ide, atau sudah berupa naskah kasar?

Pertama kali saya menuliskan naskah Perahu Kertas yakni tahun 1996, waktu saya juga masih kuliah. Judul aslinya dulu “Kugy & Keenan”, dan saya hanya sanggup mengerjakan sampai naskahnya ¾ selesai karena mentok alias “habis bensin” di tengah jalan. Naskah itu kemudian saya tinggalkan dulu, tapi disimpan terus, karena dalam hati saya bertekad untuk menyelesaikannya suatu hari nanti.

Dari mana Dee mendapatkan ide? Adakah orang-orang ’nyata’ di sekitar Dee yang menjadi ide dasar karakter-karakter di buku ini?

Saya kangen sama cerbung-cerbung yang dulu banyak di majalah remaja, dan saya juga banyak terpengaruh dari komik drama serial Jepang, dan semua itu lantas memotivasi saya untuk menuliskan Perahu Kertas. Nggak ada orang ‘nyata’ yang menjadi ide dasar. Tapi saya banyak mengambil unsur-unsur kecil dari orang-orang di sekitar saya, terutama teman-teman kampus, yang namanya banyak saya pakai di dalam buku Perahu Kertas. 

Bagaimana proses kreatifnya?

Saya menulis Perahu Kertas versi baru ini dari nol lagi. Jadi naskah lama tidak dipakai sama sekali, hanya ide dasarnya saja yang dipertahankan. Cukup banyak eksperimen baru yang saya lakukan dalam menuliskan Perahu Kertas versi baru ini. Salah satunya adalah mencoba disiplin waktu, yakni menulis tidak lebih dari 60 hari kerja. Saya juga menyewa tempat kos khusus untuk menulis, jadi ada semacam kantor tempat saya ‘bekerja’ setiap hari. Proses hari per harinya pun saya tuliskan dalam sebuah blog (www.dee-55days.blogspot.com) yang bisa diikuti secara terbuka oleh orang-orang.

Apa yang Dee ingin sampaikan kepada pembaca dengan isi cerita Perahu Kertas?
       
Perahu Kertas banyak bercerita tentang kejujuran, baik dalam mencintai maupun dalam meraih cita-cita. Cerita ini juga mengungkap mekanisme dalam hidup: kapan kita berserah, kapan kita bertahan, dan bagaimana intuisi sebetulnya mampu memberi petunjuk itu.
       
Apakah Dee ingin memotivasi pembaca untuk mewujudkan obsesi-obsesinya? Dee sendiri, apakah sudah merasa perahu kertas Dee telah berlabuh?

Sejujurnya nggak ada keinginan khusus, kalau ada yang tergerak atau terinspirasi ya syukur, kalau enggak juga nggak apa-apa. Dalam menulis saya lebih banyak digerakkan oleh keinginan untuk sharing dari diri saya pribadi, bukan untuk memotivasi orang.

Apakah menjadi penulis memang keinginan mendasar Dee? Apakah sudah mewujudkan keinginan terdalam Dee? Bagaimana rasanya? Seperti Keenan yang ingin jadi pelukis, apakah Dee memendam keinginan-keinginan lain yang Dee belum wujudkan? Apa itu?

Sejauh ini sih saya merasa sudah berada di jalur yang memang saya suka dan saya bisa, yakni menulis dan musik.

Tentang kepenulisan, bagaimana Dee bisa mempertahankan keajegan menulis, dan memasang deadline untuk diri sendiri? Adakah menjadwal waktu khusus untuk menulis? Jam berapa?

Biasanya sih enggak, tapi khusus ketika menulis Perahu Kertas saya memang membuat jadwal khusus. Jamnya fleksibel, yang penting realistis dan bisa sejalan dengan kegiatan saya lainnya. Jadi setiap harinya bisa beda-beda. Untuk buku berikut saya bisa saja memakai sistem yang sama, tapi belum tahu juga. Lihat nanti. 

Ada ‘ritual khusus’ dalam menulis? Misalnya, harus siap dengan secangkir teh, pasang aromaterapi, setel musik tertentu? Kalau sambil dengerin musik, apa musik favorit Dee saat menulis? 

Saya nggak bisa dengar musik kalau menulis. Harus hening. Minuman dan makanan tergantung mood saat itu. Keheningan hanyalah satu-satunya syarat mutlak saya untuk menulis. Semakin sedikit distraksi semakin baik.

Setelah Perahu Kertas, apa yang ingin Dee tuliskan? Ceritakan dong proyek buku terbarunya itu. Atau masih ingin beristirahat?

Mau lahiran anak dulu aja, sesudah itu baru menulis lagi.

Mizan.Com | Perahu Kertas | Agustus, 2009


Kapan tepatnya karya ini dibuat? Berapa lama prosesnya?

Sebetulnya ini karya lama yang ”dibangunkan” kembali. Pertama kali saya menuliskan Perahu Kertas (dulu judulnya Kugy & Keenan) adalah tahun 1996, lalu pada saat sudah tigaperempat selesai proses menulisnya sempat terhenti. Sebelas tahun kemudian, tepatnya tahun 2007, saya mendapat tawaran dari sebuah perusahaan content provider untuk menerbitkan novel digital dalam bentuk WAP yang akan dipasarkan oleh perusahaan telco lewat HP (pada saat itu Excelcomindo). Jadi orang-orang bisa baca novel lewat layar HP mereka. Pada saat itulah saya terpikir untuk menulis ulang Perahu Kertas dan menjadikannya novel digital pertama di Indonesia, karena saya memang ingin memberikan materi yang fresh dan bukan sekadar digitalisasi novel-novel saya yang sudah beredar di pasaran.

Kendala semacam apa yang menjadi tantangan dalam proses pembuatannya?

Karena naskah lama, tentunya banyak sekali penyesuaian waktu, konteks, bahkan jalan cerita. Bisa dibilang saya memang memulai lagi dari nol. Dan pada saat itu deadline saya cukup mepet, jadi saya pun dipaksa untuk mengubah sistem menulis saya. Pada akhirnya novel tersebut bisa diselesaikan dalam waktu 60 hari kerja, padahal itulah novel terpanjang yang pernah saya tulis (hampir 450 halaman).

Anda sengaja kost untuk menulis novel ini dengan para mahasiswi, seperti apa efeknya bagi proses penulisan?

Sebetulnya nggak sengaja ngekost. Hehe. Untuk sistem kerja yang intensif sebagaimana yang saya terapkan dalam penulisan Perahu Kertas, saya membutuhkan semacam ”markas besar” untuk menulis, di mana tempat itu aman dari segala distraksi, dan saya bisa menerapkan jam kerja yang disiplin. Akhirnya saya pilih cari tempat kost. Nulisnya sih seperti ngantor, saya berangkat pagi lalu pulang sore, atau pergi siang lalu pulang lagi menjelang makan malam. Dan begitu sampai di rumah saya nggak menyentuh lagi pekerjaan saya. Tapi ternyata punya tempat kost seperti itu membantu juga untuk mengembalikan spirit dan suasana kuliah sebagaimana setting di cerita Perahu Kertas. Rasanya lebih menjiwai. Waktu saya nulis, kadang-kadang suka kedengaran tetangga-tetangga kamar saya, yang notabene anak-anak kuliah, berkumpul, menggosip, ngobrolin tugas, dsb. Kadang-kadang juga kita makan bareng di meja makan bersama. Jadi, secara suasana lebih dapet rasanya.

Apa beda PK dengan buku-buku sebelumnya?

Bisa dibilang inilah cerita saya yang benar-benar ada di kategori fiksi populer. Karya-karya saya sebelumnya lebih bernuansa sastra atau berada di tengah-tengah antara sastra dan fiksi populer. Jadi segmen pembaca yang dituju untuk Perahu Kertas pun lebih lebar secara usia.

Kenapa pilihan ceritanya lebih kepada pembaca remaja?

Perahu Kertas menceritakan tentang dua anak lulusan SMA yang masuk ke dunia perkuliahan dan kemudian menghadapi berbagai tantangan dalam mencapai impian mereka. Otomatis pembaca yang bisa relate dengan masalah seperti itu adalah pembaca dengan usia remaja, tepatnya muda-dewasa.

Anda punya tujuan khusus dalam hal ini?

Nggak juga, sih. Kebetulan memang tema naskah Perahu Kertas dari sebelas tahun yang lalu isinya demikian. Dan saya nggak berniat mengubahnya hanya karena umur saya sekarang. Saya justru ingin mengawetkan spirit dan fondasi cerita Perahu Kertas sebagaimana yang saya tulis sebelas tahun yang lalu, karena di situlah memang ”nyawa”-nya.

Bagaimana novel ini mengakomodasi pembaca bukan remaja?

Menurut saya, Perahu Kertas adalah bacaan dengan rentang usia pembaca yang lebar. Walaupun usia karakter-karakternya muda dan gaya penulisannya lebih ngepop, dalam Perahu Kertas banyak lapisan permasalahan yang esensial dan mendalam, mis. hubungan orangtua-anak, keberanian untuk jujur pada kata hati, kegigihan untuk mencapai cita-cita, dsb. Dan menurut saya tema-tema itu adalah persoalan universal yang menjadi pergelutan siapa saja, terlepas dari umurnya berapa.

Anda tidak khawatir dianggap melenceng dari karya-karya sebelumnya?

Tidak terlalu. Bukan berarti nggak khawatir sama sekali. Haha! Yang penting siap mental saja, bahwa karya ini pastinya beda dengan karya saya sebelumnya. Tapi sebetulnya saya memang nggak pernah ingin stagnan dalam satu warna saja. Jika diperhatikan dengan jeli, setiap buku saya warnanya beda-beda, sekaligus mirip-mirip. Ada benang merah yang menautkan semuanya. Tidak terkecuali Perahu Kertas. Saya tetap yakin para pembaca yang mengenal karakter tulisan saya dengan baik akan tetap menemukan ”Dee” di dalam Perahu Kertas.

Ini merupakan ”petualangan” baru anda dalam proses berkarya?

Iya. Petualangan baru dalam tema, genre, dan juga proses kreatifnya.

Adakah keinginan khusus tentang respons pembaca atas novel ini?

Saya hanya ingin mereka menikmatinya seperti saya pun sangat menikmati proses menulisnya. Perahu Kertas saya rancang sedemikian rupa sebetulnya untuk memenuhi kehausan saya pribadi akan fiksi populer yang seru, menyentuh, sekaligus bernas. Saya berharap semoga pembaca juga mengalaminya seperti itu.

Adakah perbedaan buku ini dengan versi WAP?

Versi cetak ini lebih lengkap, ada beberapa bagian cerita yang bahkan dalam versi WAP tidak ada. Bisa dibilang ini adalah versi yang lebih sempurna, juga lebih enak dibaca tentunya, karena nggak harus lihat dari layar mungil sebuah HP.