Showing posts with label Seperti Kemarin. Show all posts
Showing posts with label Seperti Kemarin. Show all posts

Tuesday, December 23, 2014

FAQ: Seperti Kemarin - NOAH (Musica Studio, 2014)


Bagaimana awalnya bisa terlibat dalam proses pembuatan lagu Seperti Kemarin? 

Publisher saya dari Trinity Optima yang terlebih dulu terlibat pembicaraan dengan pihak Musica, bahwa ada calon single Noah yang belum berlirik dan Musica sedang mencari penulis lagu yang bisa membuatkan liriknya. Sampel lagu kemudian dikirimkan kepada saya untuk didengarkan. Saya juga sudah memberi tahu dari awal bahwa saya harus menemukan kecocokan dulu dengan lagunya, jadi kalau saya merasa tidak cocok atau tidak suka dengan lagunya saya tidak akan memaksakan diri untuk mengerjakan. Ketika saya dengarkan sampel itu berkali-kali, saya pun merasa cocok dan sanggup menulis liriknya. Barulah saya mengiyakan. 

Apa yang menjadi inspirasi lirik Seperti Kemarin? Apa tema yang diangkat? Kenapa memilih tema tersebut? 

Prinsip saya dalam menulis lirik adalah prosody, yakni kecocokan mood melodi dengan bunyi lirik. Begitu saya mendengar melodi dalam sampel Seperti Kemarin, saya merasa melodinya memiliki mood yang penuh harapan, pembebasan, uplifting, dan suasana lepas landas. Jadi, saya memilih lirik berdasarkan mood itu. Tema yang langsung terpikir adalah “back with vengeance”. Saya rasa tema itu bisa cocok dengan banyak orang karena kita sering berada dalam situasi terpuruk atau terjebak dan ketika kita berhasil bebas dari itu, ada semangat baru yang ingin kita nyatakan, dan saya rasa lagu ini bisa mewakili perasaan itu. 

Apakah lirik lagu Seperti Kemarin diangkat dari kisah nyata atau cerita pribadi seseorang? 

Tidak. Saya cuma merasakan spirit yang ada dalam melodi dan memilih kata dan kalimat yang sesuai dengan pergerakan nada. Saya cukup memutuskan tema apa yang ingin saya angkat dan cerita lagu bergulir dari situ. 

Adakah komunikasi / konsultasi dengan Ariel atau Noah selama pembuatan lirik? 

Sampel lagu yang dikirim ke saya sudah diberi judul Seperti Kemarin, dan di demonya Ariel cuma menyanyikan kata-kata “seperti kemarin” sementara sisanya “nanana…”. Saya hanya sempat menanyakan kepada Ariel via Whatsapp apakah kata-kata “seperti kemarin” ingin dipertahankan dalam lagu, dan menurut Ariel itu memang kalimat spontan yang tercipta saat lagu itu terbuat. Karena itulah saya pertahankan dan tetap saya jadikan judul. Bagi saya, spontanitas seperti itu menjadi semacam pertanda bahwa memang “nyawa” lagu berpusat di kalimat itu, jadi saya tinggal mengembangkan cerita besarnya saja.

Adakah kesulitan dalam proses membuat lirik Seperti Kemarin?

Yang paling menantang dalam membuat lirik adalah menentukan tema. Begitu temanya udah ketemu, cerita lagu biasanya mulai terbentuk, kata-kata pun mulai mengalir. Jadi, berhari-hari saya mendengar lagunya berulang-ulang untuk merasakan “spirit” melodinya dulu. Dan karena saya penyanyi, saya bisa merasakan susunan kata-kata yang enak dinyanyikan itu seperti apa. Prinsipnya, saya harus enak dulu menyanyikannya supaya penyanyinya nanti nyaman. Jadi, saya kirim juga sampel suara saya menyanyikan Seperti Kemarin ke Ariel biar dia kebayang bagaimana lirik tersebut disuarakan. 

Berapa lama proses pembuatan liriknya? 

Mungkin intensifnya sekitar seminggu, ya. Sampelnya sih dikirim ke saya lebih lama dari itu, dan saya dengarkan sekali-sekali. Begitu temanya sudah terbayang, baru saya dengarkan intensif dan menyusun kata per kata. 

Bagaimana perasaannya berkolaborasi dengan Noah? 

Senang dan excited. Saya selalu melihat Noah sebagai band yang progresif, berkualitas, dan pada saat yang sama mereka memiliki magnet kuat untuk menjaring begitu banyak fans. Bisa berkolaborasi dengan mereka adalah suatu kebanggaan tersendiri, juga menjadi pengalaman baru buat saya karena jarang-jarang saya berkolaborasi dengan pencipta lagu lain.

Apa harapan Dee untuk single Seperti Kemarin? 

Pada prinsipnya, menulis lirik dan menulis buku hakikatnya sama bagi saya, yakni story telling. Kita menyampaikan cerita. Dengan single Seperti Kemarin, saya menyampaikan cerita lewat musikalitas Noah. Bagi saya ini menjadi pengalaman artistik yang menarik. Dan, sebagaimana saya menulis buku, saya pun berharap banyak orang yang bisa terwakili dan merasakan keterhubungan dengan lagu ini.

Apakah ada rencana berkolaborasi lagi dengan Noah ke depannya? 

Menulis lagu selalu menjadi salah satu passion saya dalam berkesenian, selain menulis fiksi dan menyanyi. Pada prinsipnya, kalau memang saya merasa cocok, saya bisa berkolaborasi dengan siapa pun.

Monday, December 22, 2014

Bintang Indonesia | Single NOAH: Seperti Kemarin | November, 2014 | by Yohanes

Sebenarnya sejak kapan Anda mengenal para personel NOAH?

Saya cuma kenal langsung sama Ariel. Waktu saya masih di Bandung dan Peter Pan belum rekaman, saya pernah nyanyi di satu acara yang home band-nya adalah Peter Pan, jadi mereka mengiringi saya nyanyi. Kakaknya Ariel kebetulan teman kampus adik saya juga.

Pandangan Anda melihat NOAH adalah sebuah grup musik yang seperti apa?

Menurut saya, sebagai band Noah itu termasuk yang progresif dan berkualitas. Saya suka aransemen-aransemen mereka. Pada saat yang sama, Noah juga punya basis fans yang sangat kuat dan luas. Jadi mereka mampu mengombinasikan kualitas dan popularitas.

Apa sebelumnya pernah bekerja sama dengan NOAH?

Belum.

Lagu seperti kemarin kabarnya judul itu yang memilih NOAH lalu Anda diminta tolong membuat liriknya? Lagu itu mengkisahkan tentang apa, ya?

Saya dihubungi oleh publisher saya, Trinity Optima. Katanya, Noah punya single tapi belum ada lirik, dan Bu Acin dari Musica sedang mencari penulis lagu untuk dimintai bantuan bikin liriknya. Saya lalu dikirimi sampelnya, dan sudah tertera judul “Seperti Kemarin”. Di sampel itu, Ariel cuma nyanyi kata-kata “seperti kemarin” di awal, selebihnya “nanana”. Saya dengarkan dulu sampelnya, saya bilang kalau memang cocok ya saya kerjakan, kalau enggak saya juga tidak akan memaksakan. Dan, ketika dengar berulang-ulang, saya suka dan setuju untuk mencoba. Saya lalu tanya kepada Ariel apakah kata-kata “seperti kemarin” ingin dipertahankan, dan menurut dia memang itu kalimat yang spontan muncul. Akhirnya saya putuskan untuk dipertahankan dan saya mengembangkan cerita lagu dari sana. Interpretasinya memang bisa banyak dan macam-macam. Tapi saya mendasarkan liriknya yang paling utama dari melodi. Menurut saya, melodinya itu terdengar uplifting dan ada suasana yang membebaskan. Akhirnya saya pilih tema “back with vengeance”, yang kira-kira tentang seseorang yang berhasil keluar dari keterpurukan atau situasi yang mengekang, dan lagu itu menjadi semacam pernyataan kebebasan dan itikad barunya. Saya rasa hal itu itu bisa relate dengan banyak orang.

Ada kebanggaan bisa menulis lirik untuk NOAH?

Saya sih senang, karena pada dasarnya menulis lagu itu passion saya, cuma tidak banyak kesempatan untuk mengeksplorasi karena saya sibuk nulis buku. Dengan berkolaborasi bersama Noah, rasanya saya bisa kembali menyalurkan passion saya di musik. Menulis lagu itu kayak bercerita juga, jadi rasanya saya punya “pembaca” baru, yakni para penikmat musik Noah.

Pesan apa yang ingin Anda sampaikan lewat lirik seperti kemarin?

Lagu itu punya banyak pesan yang positif; keberanian keluar dari comfort zone, independensi, memulai babak baru, dsb. Mereka yang mungkin terjebak dalam abusive relationship, susah move on, galau berkepanjangan, dsb, mudah-mudahan bisa tergerak untuk bangkit kalau mendengar lagu tersebut.

Sekarang kesibukan Mbak Dewi apa saja?

Sekarang sih masih dalam periode promosi buku terbaru saya, Supernova episode kelima berjudul Gelombang. Bulan Desember nanti film Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh juga bakal tayang. Setelah itu saya mau kembali lagi menulis episode Supernova yang keenam.