Showing posts with label Self-Publishing. Show all posts
Showing posts with label Self-Publishing. Show all posts

Saturday, April 4, 2020

Media Indonesia | Buku di Era Digital | Mei, 2018 | Suryani Wandari


Di zaman serba digital ini banyak kekhawatiran terjadi pasalnya sejumlah toko buku akhirnya tutup karena perubahan perilaku masyarakat. Bagaimana Dee melihat kondisi ini? Beberapa penerbit buku sudah mati, tapi menurut IKAPI minat baca masyarakat Indonesia justru semakin meningkat. Menurut Dee mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Perubahan tren pasar berbelanja buku secara online, dalam pengamatan saya, sebetulnya hanya mengubah outlet fisik menjadi outlet digital, tapi minat baca maupun ketertarikan masyarakat terhadap bacaan belum tentu ikut mati dengan matinya beberapa toko buku fisik. Tutupnya banyak rantai toko buku fisik besar di Amerika misalnya, tetap saja dibarengi dengan peningkatan volume penjualan buku secara keseluruhan. Artinya, bukan penjualan bukunya yang turun, outletnya yang berubah. Itu terefleksikan juga pada bisnis retail, bukan daya beli masyarakat yang menurun dengan tutupnya banyak department store, hanya masyarakat lebih cenderung membeli online.
Untuk penerbit kurang lebih serupa kondisinya. Karena penerbit banyak bergantung kepada outlet fisik dan memproduksi buku secara fisik, sementara rabat dari toko buku terus meningkat dan bahan baku produksi buku semakin mahal. Tentu tidak mudah untuk menghidupkan bisnis jika judul-judul bukunya tidak laku. Jadi, dalam hal ini hukum pasar yang mendasar tetap berlaku, entah bukunya yang harus laris, bisnisnya harus lebih ramping, mencari alternatif penjualan yang lebih bisa menghemat profit, atau gabungan semua itu.
Sementara, sebagai kreator konten yang bergerak di hulu seperti saya, sebetulnya tidak banyak yang perlu dikhawatirkan, karena masyarakat tetap membutuhkan konten, hanya cara mendapatkannya saja yang berbeda.

Apa dampak dari masifnya teknologi informasi di berbagai bidang ini berpengaruh pula terhadap penjualan buku yang Dee tulis?

Sejauh ini tidak. Bahkan lebih baik, karena sekarang ada outlet tambahan, yakni toko buku online yang menjual fisik, dan toko buku digital yang menjual format digital.

Apakah pernah mengalami ditolak oleh beberapa penerbit?

Belum, karena latar belakang saya dari self-publishing.

Dee sendiri lebih memilih mencetak buku di penerbit indie atau penerbit mayor? Alasannya?

Keduanya punya keuntungan dan tantangan masing-masing. Menerbitkan sendiri lebih punya keleluasaan, termasuk keuntungan yang bukan hanya datang dari royalti melainkan juga dari profit penjualan. Penerbit indie biasanya lebih punya sedikit penulis jadi bisa lebih fokus, tapi modal dan SDM-nya belum tentu kuat. Penerbit mayor biasanya punya modal dan SDM kuat, meski keleluasaan penulis, pembagian royalti, relatif lebih ketat dibandingkan self-publishing ataupun penerbit indie. Karena saat ini volume penjualan buku-buku saya selalu dalam jumlah besar, modal dan SDM penerbitnya harus kuat, untuk itu saat ini saya lebih merasa pas dengan penerbit mayor.

Dengan fenomena ini tidak sedikit toko buku yang sengaja mengobral buku agar terjual. Ini bagaikan bertolak belakang, satu sisi miris karena buku yang merupakan seni berfikir ini dihargai rendah. Satu sisi lainnya menjadi keuntungan pembeli bisa membeli buku harga murah. Bagaimana Dee melihatnya?

Sebetulnya itu hukum pasar saja. Daripada menumpuk di gudang dan jadi barang mati, tentu lebih baik diobral ketimbang menahannya demi gengsi seni. Bagaimanapun sebuah buku, ketika sudah diproduksi masif, menjadi produk. Mungkin miris bagi penulisnya ketika melihat bukunya dijual murah, tapi ia pun harus memahami bahwa ketika bukunya diterbitkan, maka buku tersebut menjadi barang dagangan. Dan, bukankah lebih baik jika ide dalam buku itu disebar ketimbang menumpuk di gudang? Semua penerbit pasti punya stok buku yang tidak bergerak. Supaya bisnisnya hidup, tentu ia harus melakukan berbagai strategi.

Apa yang dilakukan untuk menjadikan buku buatan Dee laku di pasaran? Apakah memanfaatkan medsos sendiri untuk melakukan branding juga?

Medsos memegang peranan sampai batas tertentu untuk mempopulerkan sebuah produk, tapi tidak ada artinya jika produknya tidak bagus. Menurut saya, yang paling mendasar harus berangkat dari kualitas konten. Saya hampir tidak pernah berpikir soal pasar ketika menulis buku. Fokus utama saya hanya menulis sebaik mungkin.  Tentu di titik ini saya punya kemudahan karena sudah berkarier 17 tahun sebagai penulis profesional dan sudah punya basis pembaca. Tapi, tidak jaminan juga kalau memang buku yang saya hasilkan tidak berkualitas, karena orang lantas akan menilai dan bersuara. Branding lebih kepada pemeliharaan medsos kita sebagai sebuah portofolio, di mana kita mengasosiasikan diri, menampilkan diri, dsb. Hal itu membantu, tapi sekali lagi, inti pekerjaan saya ada pada kreasi saya. Jadi, tugas saya terpenting adalah menghasilkan karya yang berkualitas.

Kabarnya, novel terbaru berjudul Aroma Karsa dirilis melalui format digital, bahkan versi cetak dibuat menyusul. Mengapa?

Saya lampirkan FAQ / Media Highlights untuk menjawab pertanyaan ini.

Bagaimana format bagi hasil dengan penerbit buku digital tersebut?

Formatnya sama dengan penerbit buku fisik, ada pembagian royalti, hanya saja porsinya bisa lebih besar karena beberapa komponen hilang, seperti biaya percetakan, distribusi, dan rabat toko. Jadi, hanya antara penerbit dan penulis saja.

Sejauh ini hasil penjualannya seperti apa? Adakah perbedaan yang signifikan antara penjualan digital dan cetak sebelumnya?

Penjualan cetak tetap jauh lebih besar. Digital kurang lebih 10-12% dari jumlah penjualan cetak. Tapi, faktor lain yang harus diperhitungkan adalah, royalti dari produk digital lebih besar. Jadi, meski secara angka penjualan lebih kecil, itu bisa dikompensasi dari besaran royaltinya.

Apa saja tantangan penulis buku di era digital? Bagaimana pula strategi untuk terus berkarya?

Berkarya menjadi keputusan sepenuhnya dari pembuat karya, dalam era seperti apa pun. Industrinya yang kemudian berubah dan berkembang. Di era digital, penulis punya “channel” lain untuk dipelihara dan dimanfaatkan, yakni medsos. Penulis juga punya banyak “mainan baru” untuk bereksperimen seperti blog, self-publishing, penerbit digital, dll. Tergantung mau dimanfaatkan atau tidak. Yang jelas saat ini kita punya lebih banyak pilihan.

Menjadi penulis dan melihat buku terpampang di rak toko buku menjadi mimpi Dee sejak lama. Bagaimana Dee kembali melihat mimpi tersebut di era digital sekarang ini?

Sama saja sebetulnya. Kalau dulu hanya bisa di rak toko buku, sekarang bisa juga di laman situs toko digital di layar komputer .

Harapannya terhadap industri perbukuan  di tanah air?

Menjadi lebih baik, lebih sehat, buku lebih murah dan mudah diakses.

Friday, April 3, 2020

Tempo | Royalti Penulis | April, 2017 | Gabriel Yoga


Sejauh pengalaman Mbak Dee, bagaimana prosedur yang dijalani penulis dan dan penerbit untuk merilis buku di Indonesia? Bagaimana usaha dulu melobi penerbit? Apakah langsung sukses atau ada yang gagal?

Saya mengawali kepenulisan saya dengan melakukan self-publishing, baru setelah buku kedua saya mulai kerja bareng dengan penerbit. Otomatis saat itu saya sudah punya posisi tawar yang baik, jadi tidak ada masalah. Umumnya, penulis mengirimkan naskah kepada penerbit, lalu diseleksi oleh tim editor, yang lolos akan diterbitkan. Sekarang ini, dengan perkembangan platform menulis seperti Wattpad, blog, dsb, penerbit sekarang malah berburu penulis. Tidak lagi cuma menunggu naskah. Mereka yang punya reader base kuat, naskahnya banyak dibaca, biasanya menjadi incaran penerbit.

Berapa besar sebenarnya pembagian pendapatan, keuntungan dan royalti antara penulis dan penerbit? Apakah proporsinya tetap atau selalu berubah?

Kisaran royalti kira-kira di 10-15%, mungkin di kasus tertentu bisa sampai 17,5% tapi itu jarang sekali. Karena memang margin penerbit tidak besar, dan komponen sebuah buku kurang lebih sama; produksi/biaya cetak, distribusi, dan toko buku. Kalau antara penulis dan penerbit, yang mereka bagi paling hanya sekitar 30-40% dari “kue” sebuah buku. Sisanya sudah merupakan biaya untuk produksi dan toko.

Sejauh mana penulis bisa menawar proporsi pendapatan dan keuntungan (royalti)? Apa saja yang bisa mengurangi pendapatan penulis?

Tidak banyak ruang sebetulnya, karena memang ruang gerak penerbit juga tidak besar. Besaran royalti kadang ditentukan oleh senioritas dan posisi tawar penulis. Kalau penulis baru, bahkan bisa dimulai dari 5-7%, baru secara progresif – tergantung jumlah penjualan buku – royalti tersebut bisa naik hingga 10-12% misalnya.

Sejumlah buku Mbak Dee sudah diterjemahkan dalam bahasa asing dan diterbitkan di luar negeri. Bagaimana proses negoisasi dengan penerbit asing? Seperti apa proporsi pembagian royalti?

Dengan penerbit asing biasanya kita memakai agensi buku. Penerbit asing jarang yang mau berurusan langsung dengan penulis. Rata-rata memakai agensi. Jadi, kita harus punya agen yang kemudian menjadi perwakilan kita untuk bernegosiasi dengan penerbit. Royaltinya kurang lebih sama dengan proporsi royalti di Indonesia. Bahkan kalau pakai agen dan penerjemah, royalti itu masih kita bagi lagi ke mereka. Jadi, royaltinya terbagi tiga.

Apa yang paling dirasa berbeda jika menerbitkan buku di luar negeri dan di Indonesia? Soal transparansi penerbitan, apakah ada perbedaan antara penerbit lokal dan asing? 

Transparansi kurang lebih sama. Kalau penerbit yang bonafide, berbentuk badan hukum seperti PT, sudah sulit untuk licik-licikan karena risikonya akan kembali ke mereka. Dari penerbit luar negeri saya juga mendapat laporan penjualan yang rinci. Sama seperti di sini. Bedanya di luar, setidaknya yang saya alami dengan Amazon Crossing, mereka punya sistem online yang sangat kuat. Laporan bisa kita cek per bulan secara online. Dari mulai masukan buat kover, editorial, kontrak, dsb, semua dilakukan secara digital. Saya tidak perlu bertemu muka dan hampir tidak ada surat menyurat yang hardcopy, selain waktu mengirimkan bukti terbit buku.

Apakah Mbak Dee pernah mengalami masalah pajak royalti seperti yang diceritakan Tere Liye? Bukankah pajak royalti sudah dibayarkan penerbit? Bagaimana sebenarnya masalah perpajakan yang dialami penulis? Bagaimana Mbak Dee menyelesaikan masalah ini?

Soal isu perpajakan sudah saya ulas mendetail di blog saya: http://deelestari.com/memahami-profesi-penulis/ dan http://deelestari.com/royalti-dan-keadilan/
Dan pokok persoalannya bukan soal pajak royalti sudah dibayarkan oleh penerbit atau bukan. Dalam hal tsb, penerbit memang wajib memungut pajak dan menyetorkannya ke negara. Tapi, yang dibayarkan itu adalah bagian dari royalti kami (bukan artinya dibayarkan oleh penerbit dengan memakai dana dari penerbit). Dan isu kemarin pun bukan soal antar penerbit dan penulis, melainkan penulis dengan pihak perpajakan. Saya sendiri sejauh ini tidak punya masalah dengan KPP saya. Namun, beberapa teman memang ada yang jadi punya masalah karena adanya ketidakseragaman persepsi di lapangan, yang kemudian diluruskan oleh Ditjen Pajak pada tanggal 8 Sept 2017 lalu. Ke depannya, tentu masih ada hal-hal yang perlu diperjuangkan oleh para penulis agar pajak yang diberlakukan kepada kami benar-benar sudah merefleksikan dengan tepat profesi kami di mata perpajakan. Perumusannya harus dibicarakan bersama, dan rencananya akan diadakan Pokja antara penulis, pihak DJP, dan juga Bekraf.

Prestasi Mbak Dee menjadi salah satu pembuka bagi penulis-penulis muda lain untuk bergerak. Apa saran yang bisa diberikan kepada para penulis itu agar dilirik penerbit?

Penerbit akan selalu punya pertimbangan pasar. Tapi, penulis sebaiknya tidak berpikir ke arah sana. Menurut saya, penulis sebaiknya menulis buku yang ingin ia baca (bukan yang hendak dibaca pasar) dan lakukan itu sebaik mungkin. Artinya, tulislah apa yang kita suka dan gemari, dan buatlah tulisan yang sebaik mungkin dari segi teknis maupun perasaan. Itulah yang akan melahirkan karakter sekaligus kualitas. Dan dua hal itulah yang akan membuat seorang penulis disukai, bertahan, dan sekaligus punya kontribusi untuk genre yang ia tekuni.

Bisakah saya mendapat data lengkap buku-buku Mbak Dee yang diterbitkan di luar negeri dan di negara mana saja diterbitkan?

Buku saya yang diterbitkan oleh penerbit di luar Indonesia baru Perahu Kertas, versi Malaysia oleh Litera Utama, dan versi Bahasa Inggris (Paper Boats) oleh Amazon Crossings.

Thursday, April 2, 2020

Blog Putra Sasmita | Profil & Teknik Menulis | Mei, 2017 | Putra Sasmita

Bagaimana Anda memulai menulis novel? Apakah Anda membuat outline sebelum menulis?

Dari waktu ke waktu, teknik maupun metode saya menulis terus saya perbarui. Dulu saya menulis tanpa outline, walau hampir selalu membuat semacam peta cerita meski sederhana. Sekarang saya selalu membuat outline dan time table. Jadi, bukan hanya konten yang saya petakan, tapi sama pentingnya adalah jadwal kerja. Saya memberlakukan pemakaian outline hanya untuk novel. Prosa singkat, cerpen, atauapun novelet, biasanya saya tulis spontan.

Apa Anda punya target harian?

Ada. Bisa bervariasi sesuai kebutuhan. Untuk draf pertama, hitungan saya biasanya adalah jumlah kata. 1000 kata per hari. Jika sudah mendekati akhir cerita, lebih ke target ke berapa adegan yang bisa saya selesaikan (karena jalan cerita sudah semakin jelas). Pada tahap editing, target saya adalah menyunting sekian bab per hari (jumlahnya bergantung ada berapa banyak bab dan berapa lama waktu yang saya punya sebelum target cetak – yang biasanya saya tentukan sendiri).

Tampaknya Anda begitu disiplin dalam menulis. Anda memiliki target-target yang jelas, bahkan sampai target cetak yang Anda tentukan sendiri. Apakah kedisiplinan ini sudah ditanam oleh keluarga Anda sejak kecil?

Kedisiplinan menulis saya tumbuhnya berangsur, tidak serta merta, semata-mata karena akhirnya saya menemukan dan merasakan sendiri bahwa disiplin memiliki manfaat yang nyata bagi produktivitas kepenulisan saya sekaligus merupakan cara kerja yang realistis dengan kondisi saya yang berkeluarga. Pada aspek lain, saya orangnya cenderung santai.

Apakah Anda mengedit saat menulis atau setelahnya?

Tahapan pertama adalah penuntasan draf pertama. Melakukan penyuntingan pada tahap ini bagi saya kontraproduktif, karena bisa memperlambat jadwal kerja. Saya melakukan penyuntingan menyeluruh setelah draf pertama selesai. Ada kalanya di tengah jalan (biasanya mulai memasuki babak 2B), saya harus berhenti sejenak untuk meninjau ulang jalan cerita. Tapi, saya batasi untuk tidak jadi menyunting seluruh naskah, karena buat saya beda banget setting berpikir antara menulis dan menyunting. Kalau menulis saya harus di dalam cerita. Kalau menyunting saya harus di luar cerita. Kalau sudah di luar, cukup sulit untuk balik lagi ke dalam. Jadi, lebih baik penyuntingan dilakukan setelah draf pertama selesai.

Apa Anda punya rutinitas selama menulis?

Saya sudah mencoba berbagai macam jadwal dan kebiasaan. Dari menulis malam sampai menulis subuh. Dari nulis di keramaian sampai menulis sendirian. Saat ini saya cenderung menulis pagi hari hingga setelah makan siang, umumnya sebelum anak saya pulang sekolah. Biasanya saya olah raga dulu, mandi, ngopi, baru mulai menulis. Yang penting buat saya adalah tidak diinterupsi (diajak ngobrol). Tidak masalah dalam keramaian atau kesendirian.

Maya Angelou bercerita, saat menulis Ia akan menyewa sebuah kamar hotel dan harus ada sebotol Sherry, kamus, thesaurus, notepad, asbak, dan Injil. Bagaimana dengan Anda? Boleh gambarkan sedikit seperti apa ruang kerja Anda? Adakah kebiasaan yang Anda lakukan sambil menulis, misalnya sambil mendengarkan musik?

Saat ini saya sedang tidak punya ruang kerja khusus, biasanya saya menulis di kamar atau meja makan. Kalau di luar rumah, saya biasanya bekerja di kedai kopi. Saya berusaha tidak usah banyak “benda ritualistik” agar tidak repot. Yang penting ada air putih dan suhu ruangan tidak terlalu dingin/terlalu panas agar bisa menulis nyaman (saya menghindari tempat duduk yang terlalu dekat dengan tiupan angin AC). Kamus saya biasa pakai aplikasi KBBI, jadi tidak pakai versi cetak lagi. Terkecuali jika ada beberapa buku atau kamus spesifik yang saya butuhkan berkenaan dengan cerita. Musik tidak wajib, hanya kalau dirasa perlu. Kadang-kadang saya gunakan untuk membangun suasana saat menulis adegan tertentu. Tapi, tanpa musik juga bisa.

Siapa yang membaca draf pertama tulisan Anda?

Biasanya suami. Habis itu baru saya bagikan ke beberapa orang beta reader, yang biasanya teman-teman di penerbit.

Apakah suami Anda memberikan masukan?

Iya, dan juga kesannya terhadap cerita.

Ketika mengedit atau menulis, apakah Anda membaca keras-keras (read out loud)?

Iya. Tidak terus-terusan dalam setiap kali menyunting, tapi hampir selalu saya mengetes kalimat saya dengan membunyikannya (membacanya dengan bersuara).

Tema spiritualitas dan sains kerap muncul di serial Supernova, bagaimana Anda menggabungkan dua hal yang kelihatannya berseberangan ini ke dalam karya tulis Anda?

Bagi saya, justru keduanya tidak berseberangan, malah berkaitan. Dan keterkaitan itu yang menarik untuk ditulis. Tidak ada metode khusus untuk menggabungkan keduanya selain berusaha membangun cerita yang solid.

Bisa tolong jelaskan bagaimana Anda melihat keterkaitan spiritualitas dan sains?

Sains dan spiritualitas sama-sama bertujuan mengungkap realitas, memahami manusia, dan mekanisme kehidupan.

Sepertinya Ibu Dee tertarik dengan spiritualitas, sains, dan filsafat. Bagaimana ketertarikan ini bermula? Apakah Anda memiliki pengalaman pribadi?

Kalau saya ingat-ingat, memang hal-hal itu yang menarik minat saya sejak kecil. Mungkin belum saya bahasakan sebagai spiritualitas-sains-filsafat, tapi saya sering melamunkan bagaimana kehidupan ini bermula, dan buat apa saya (dan manusia lain) hidup dan terlahir di Bumi.

Apakah karena ini Anda menulis fiksi? Untuk mengungkap realitas, memahami manusia, dan menjelaskan mekanisme kehidupan?

Yang saya ungkapkan di atas itu lebih tepat sebagai alasan saya menulis Supernova. Karya fiksi saya yang lain tidak semuanya setema dengan Supernova. Saya menulis fiksi pada dasarnya karena saya suka seni bercerita.

Apakah pop culture ada pengaruhnya terhadap karya-karya Anda?

Saya tidak pernah benar-benar menyadari atau menyengajakannya, tapi saya percaya kita semua terpengaruh oleh budaya apa pun yang berlaku pada zaman kita hidup. Karena saya hidup dan besar di zaman ketika pop culture ada, tentunya saya terpengaruh. Seberapa banyak dan seberapa besar, saya tidak mengukurnya.

Bagaimana Anda melakukan riset untuk karya-karya Anda?

Riset yang saya lakukan umumnya dua macam. Riset langsung dan tidak langsung. Riset langsung contohnya ketika saya ke Sianjur Mula-mula untuk penulisan Gelombang, atau mencoba terapi listrik ketika menulis Petir. Namun, tidak semua kebutuhan riset bisa saya penuhi melalui riset langsung. Biasanya karena keterbatasan waktu. Misalnya, ketika saya masih punya bayi yang nggak bisa saya tinggal-tinggal, otomatis saya tidak bisa bepergian, meski kebutuhan cerita menuntut saya menulis berbagai tempat yang belum pernah saya kunjungi. Untuk itu saya melakukan riset tidak langsung, melalui riset pustaka (membaca buku, atau browsing), riset video / dokumenter, dan wawancara narasumber.

Pembaca bisa menduga bahwa Anda tentunya melakukan riset mendalam untuk karya-karya Anda. Biasanya yang terjadi apakah Anda meriset setelah menentukan cerita (plot, karakter, dsb) atau sebaliknya, riset dulu baru dicocokkan dengan cerita dan karakter? 

Keduanya bisa berjalan paralel. Hasil riset bisa menentukan jalan cerita. Jalan cerita juga bisa menentukan kebutuhan riset. Biasanya saya melakukan riset di awal, tapi hampir selalu saya mengecek banyak hal selama proses menulis berjalan, jadi bisa dibilang berjalan paralel.

Karakter-karakter yang Anda ciptakan tergambar kuat di benak pembaca. Apakah Anda membayangkan orang tertentu di dunia nyata saat menciptakan karakter?

Setiap karakter yang saya buat bagai kain perca. Ada campuran orang nyata (biasanya saya ambil nama, profesi, ciri fisik – dan jumlahnya lebih dari satu) dan imajinasi saya sendiri. Tidak pernah ada orang tertentu di dunia nyata yang benar-benar saya ambil utuh menjadi karakter.

Apakah bagi Anda proses menulis cerpen dan puisi serupa dengan proses menulis novel?

Beda. Puisi cenderung spontan. Cerpen memiliki perencanaan seperti halnya novel tapi jauh lebih sederhana. Tantangan cerpen buat saya adalah membuat kejutan dan fokus yang tajam. Sementara novel ibarat lari marathon, persiapannya panjang, prosesnya panjang, dan butuh stamina yang luar biasa.

Menurut Anda adakah persamaan proses menulis dengan menciptakan lagu?
Ketika saya menulis lagu, intinya juga saya membuat cerita. Tantangannya berbeda. Dalam lagu, efektivitas kata menjadi amat penting. Kita membuat cerita seutuh mungkin dalam durasi terbatas, dengan suku kata yang harus pas dengan melodi. Selain itu, dalam pembuatan lagu ada aspek menciptakan melodi dan menyusun aransemen. Tapi intinya sama-sama membuat cerita.

Ada yang mengatakan menulis lagu dan menulis puisi berkaitan. Bagaimana menurut Anda?

Kurang lebih prinsipnya sama, tapi tentunya di lagu ada melodi. Jadi ada aspek lain yang harus diperhatikan ketimbang puisi. Juga ada keterbatasan dalam lagu karena mengikuti durasi dan struktur tertentu (bait, reff, dsb).

Adakah penulis yang berpengaruh terhadap gaya penulisan Anda? Apakah Graham Hancock memiliki pengaruh dalam gaya penulisan Anda?

Untuk gaya menulis, saya tidak pernah terlalu menyadari. Mungkin karena bacaan saya juga kebanyakan nonfiksi. Graham Hancock dan penulis-penulis nonfiksi lainnya memengaruhi saya dalam hal konten, bukan gaya menulis. Gaya menulis lebih banyak bisa kita dapat dari penulis fiksi. Untuk metafora saya mengagumi Sapardi Djoko Damono. Untuk plot, penulis-penulis seperti Dan Brown, JK. Rowling, James Patterson, Alfred Hitchcock, Michael Crichton, Stephen King, amat patut dipelajari. Penulis seperti John Green dan Margaret Atwood menurut saya pintar memainkan emosi. Dan, ada penulis-penulis lain yang temanya unik dan kuat seperti Yan Martell, Alan Lightman, Paulo Coelho. Setiap yang saya baca pasti meninggalkan pengaruh, tapi karena kekuatan masing-masing penulis berbeda dan tampaknya yang saya serap juga berbeda-beda, saya tidak menunjuk satu-dua nama saja. Gaya penulisan merupakan kumulasi dari begitu banyak hal yang kita baca maupun gali dari diri kita sendiri.

Kalau saya tidak salah lagu Anda "Satu Bintang Di Langit Kelam" terinspirasi puisi SDD "Hujan Di Bulan Juni". Adakah karya Beliau lainnya yang Anda sukai? Bagaimana Anda menilainya?

SBDLK tidak terinspirasi HBJ. Tapi gaya menulis lirik saya berubah setelah membaca buku HBJ. Lebih metaforis dan puitis. Secara umum saya menyukai puisi-puisi Beliau. Saya menyukai metaforanya, kepekaannya memilih kata, dan ritme kalimatnya.

Apa yang Anda dapatkan dari menulis puisi/lagu yang tidak Anda dapatkan dari menulis novel?

Saya merasa hampir tidak pernah menulis puisi. Prosa pendek, iya. Lagu, iya. Yang tidak didapatkan dari menulis novel dibandingkan keduanya tadi tentu saja adalah perkawinan kata dengan melodi serta keleluasaan waktu. Secara durasi pengerjaan membuat novel jauh lebih panjang dan lebih rumit.

Ketika mengadaptasi novel Anda menjadi naskah film apa saja tantangannya? Sejauh mana keterlibatan Anda dalam setiap adaptasi film?

Keterlibatan saya berbeda-beda di setiap film. Ada yang terlibat sampai menjadi penulis skenario seperti di Perahu Kertas, ada juga yang tidak terlibat sama sekali seperti Madre dan Supernova KPBJ. Ada juga yang terlibat secara konsultatif, seperti Rectoverso, Filosofi Kopi 1, dan Filosofi Kopi 2. Dari cerpen menjadi film menurut saya tidak terlampau sukar karena biasanya yang terjadi pengembangan. Sementara masalah atau pun pendapat yang kontra biasanya muncul karena terjadi pemotongan/pengurangan dari cerita asli. Biasanya itu terjadi dalam adaptasi dari novel. Tantangannya tentu karena buku dan film merupakan medium yang berbeda, produk dari dua industri yang berbeda, yang mana keduanya punya aturan dan pakem sendiri. Dalam film, kita bicara durasi, pemain, penyutradaraan, sinematografi, investasi produser, dan banyak faktor lain yang tidak ada di buku. Saya sendiri melihat bahwa dalam adaptasi ke film, yang berkarya adalah para pembuat film, bukan penulis. Begitu juga ketika saya menjadi penulis skenario. Film akan “ditulis ulang” oleh sutradara dan editor, jadi skrip saya bukan satu-satunya patokan. Pada prinsipnya, yang terjadi adalah kompromi dan bagaimana kita bisa menjembatani keinginan dan kepentingan banyak pihak.

Bagaimana perasaan Anda setelah melihat hasil akhirnya di film?

Bergantung hasilnya. Tapi, dari setiap film akan selalu ada hal yang saya sukai, ada yang tidak. Sama-sama saja seperti kita melihat film lain sebetulnya, tapi tentu ada kebanggaan karena melihat bagaimana karya kita bertransformasi menjadi bentuk lain, dan film adalah hasil kerja keras banyak orang. Membayangkan bagaimana sebegitu banyak orang berupaya untuk mewujudkan cerita kita menjadi produk film juga membanggakan sekaligus mengharukan.

Apakah aktif di media sosial adalah salah satu cara Anda menjaga basis pembaca (readership)?

Media sosial bagi saya fungsinya kadang-kadang untuk saluran ekspresi yang personal juga, bersilaturahmi dengan teman-teman lama, dsb. Meski demikian, pemakaian yang utama memang adalah untuk mendukung pekerjaan saya. Pada zaman ini, pembaca memang tidak hanya mengenal karya, tapi bisa juga mengenal penulisnya. Tinggal tergantung seterbuka apa kita menunjukkan dunia kita yang lebih personal. Bagi saya, media sosial adalah cara paling praktis saat ini untuk berkomunikasi langsung dengan pembaca.

Saat menulis apakah Anda membayangkan audiens tertentu?

Sejujurnya, tidak. Saya membayangkan kalau saya yang jadi pembaca. Intinya, saya harus menulis buku yang bisa memikat minat saya. Buku yang bisa membuat saya kepengin terus membaca. Setelah berkali-kali menerbitkan buku tentunya saya bisa membayangkan profil pembaca saya. Tapi ketika berkarya, fokus saya hampir selalu internal.

Kalau saya tidak salah Supernova 1 adalah self-published, kemudian karya berikutnya dicetak penerbit lain. Bagaimana transisi ini terjadi? Adakah pengaruhnya terhadap karya Anda?

Untuk sejarah self-publish Supernova 1 bisa dilihat di arsip saya www.dee-interview.blogspot.co.id ya, karena sudah sering sekali saya bahas.

Menurut Anda bagaimana cara latihan menulis? Apakah penulis harus belajar secara otodidak?

Belajar terbaik menurut saya adalah dengan punya mentalitas ingin belajar terlebih dahulu. Dengan demikian, ketika kita membaca buku orang lain, kita bukan cuma sekadar membaca, melainkan membaca sambil belajar. Belajar mengenali apa yang kita suka, mengenali apa yang kita tidak suka, berusaha mengadopsi apa yang menurut kita baik, dan menghindari apa yang menurut kita tidak baik/tidak cocok. Otodidak atau tidak menurut saya bukan patokan. Kalau memang ada kesempatan ikut workshop, seminar, atau masterclass, mengapa tidak? Tapi, kalau tidak ada kesempatan itu, yang otodidak tidak berarti akan lebih buruk dari yang ikut workshop atau masterclass. Jam terbang akan amat menentukan. Tapi yang lebih menentukan lagi adalah keinginan untuk memperbaiki diri. Dari satu karya ke karya lain, kita harus dengan sadar ingin melakukan perbaikan.

Apakah Anda pernah mengikuti kelas menulis? Jika iya, bisa ceritakan pengalaman Anda? Siapa pengajarnya?

Sejauh ini, saya pernah ikut Masterclass James Patterson, ikut beberapa kursus fiksi dari Steve Alcorn, saya juga pernah mengikuti kursus scriptwriting dari Sue Clayton. Terkecuali dengan Sue Clayton, kedua yang pertama dilakukan secara online.

Anda dikategorikan dalam gerakan "Sastra Wangi" (fragrant literature), tanggapan Anda?

Sastra Wangi tidak ada maknanya buat saya. Itu hanya istilah yang diciptakan media untuk merujuk ke satu masa di awal 2000-an ketika banyak penulis perempuan muncul dan menonjol. Tidak ada substansi lain.

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Bagi Anda, apakah inspirasi itu datang dari dalam diri sendiri atau dari luar diri?

Dua-duanya.

Apakah ada hobi yang sedang Anda geluti saat ini?

Memasak dan berenang.

Jika boleh bertanya, buku apa yang sedang Anda kerjakan saat ini?

Saya sedang mengerjakan naskah buku baru, tapi detailnya saat ini belum bisa saya ungkap ke publik.

Setelah menjadi seorang ibu, adakah yang berubah pada diri Anda sebagai seorang penulis?

Perubahan utama adalah jadwal. Saya harus lebih disiplin dan lihai membagi waktu agar semua tugas dan kewajiban saya di rumah tetap terlaksana dan masih bisa berkarya.

Adakah pengaruh seni dari anggota keluarga Anda saat Anda kecil?

Tentunya ada, karena semua anggota keluarga saya suka seni, khususnya gambar dan musik. Semua suka membaca. Jadi, otomatis itu menjadi atmosfer saya sehari-hari di rumah sejak kecil.

Apa kendala teknis (dalam menulis) terberat yang sejauh ini Anda alami?

Bagaimana cara Anda mengatasinya?

Tantangan terbesar saya adalah penataan waktu. Hal tersebut tidak inheren termasuk dalam “teknik” menulis, tapi manajemen waktu menentukan produktivitas kita menulis. Bagaimana cara menjadikan menulis itu “habit”, kemudian merajutnya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kita sudah punya dedikasi untuk menjadikan menulis agenda kita sehari-hari, kesulitan dalam menulis akan terurai dengan sendirinya karena kita sudah punya waktu dan komitmen untuk itu. Tapi, kalau aktivitas menulis masih menjadi hal yang sporadis, nunggu mood, dsb, maka akan banyak perkara teknis dalam menulis yang sulit semata-mata karena kita tidak punya cukup dedikasi dan waktu untuk mencari solusinya. 


Sunday, December 21, 2014

Voice+ Magazine | Self-Publishing | April, 2012 | by Kristian Erdianto


Apa yang melatarbelakangi Dewi Lestari banyak menulis tentang pencerahan, spiritualitas, dan kehidupan? Adakah sebuah kejadian dalam hidup yang membuat Dewi akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang penulis?

Untuk menulisnya sendiri sudah hobi dari kecil. Tapi saat saya menuliskan Supernova pada tahun 2000, itu memang didorong oleh peristiwa pribadi yang terjadi pada hidup saya. Singkat kata, Supernova adalah refleksi dari perjalanan spiritualitas saya.

Beberapa novel karya Dewi yang sudah diterbitkan, hampir semuanya diterbitkan secara indie/self published, kenapa Dewi memilih untuk menerbitkannya sendiri? Ada alasan khusus? Apakah terkait dengan menjaga idealisme?

Keputusan saya self-publishing sebetulnya lebih seperti "kecemplung". Waktu itu saya tidak begitu pede bahwa Supernova akan diterima penerbit, sementara saya ingin menerbitkan Supernova menjadi buku sebagai hadiah ultah saya yang ke-25. Jarak antara manuskrip selesai ke ultah saya hanya 4 bulan. Saya pikir itu terlalu mepet untuk dibawa ke penerbit karena ada risiko harus antre, dsb. Jadi saya terbitkan sendiri. Selebihnya sih karena sudah kadung menjalankan saja. Setelah terasa kerepotan baru saya melirik kerjasama dengan penerbit lain.

Sebelum Dewi meluncurkan novel pertama Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, dan meledak di pasaran, apakah Dewi pernah menawarkan naskah awal ke penerbit-penerbit konvensional (major publisher)? Apakah ditolak? Bila ditolak, apa yang menjadi alasan dari penolakan tersebut?

Saya nggak sempat ke penerbit.

Apa tanggapan Dewi melihat saat ini banyak penulis yang memilih untuk menggunakan jalur self publishing?

Menurut saya, jalur self publishing adalah jalur alternatif yang baik. Tentu ada risiko dan konsekuensi sendiri. Tapi jika cuma bersandar pada kans yang dibuka oleh penerbit-penerbit besar, menurut saya itu juga akan meredam kreativitas dan semangat kepenulisan.

Ada anggapan miring yang menyatakan bahwa banyak penulis yang memilih self publishing karena mereka ditolak oleh penerbit, hanya mencari ketenaran dengan cara singkat, dan kualitas karya yang dihasilkan pun patut dipertanyakan. Bagaimana komentar Dewi terhadap anggapan miring tersebut?

Tujuan saya self publishing waktu itu sangat sederhana, yaitu menghadiahi diri sendiri kado ultah berupa buku. Saya nggak peduli bakal laku atau tidak, jadi tenar atau tidak. Toh, waktu itu saya sudah jadi penyanyi. Jadi saya tidak lagi mencari pengakuan semacam itu.

Proses apa saja yang telah dilalui (atau mungkin harus dilalui) oleh Dewi ketika menerbitkan seluruh karyanya melalui jalur self publishing?

Sebagai catatan, karya saya yang murni self publish sebetulnya hanya satu, yakni Supernova episode pertama (KPBJ). Pada Akar, Petir, Filosofi Kopi, saya sudah bekerja sama dengan penerbit lain. Saya masih memproduseri, tapi sudah ada penerbit yang mem-backup saya. Untuk self publishing sendiri tentunya yang dibutuhkan adalah modal (tergantung bukunya laku atau tidak, semakin bukunya laku, otomatis modal cetak yang dibutuhkan lebih besar lagi), lalu SDM. yakni staf atau orang-orang yang menjalankan produksi, pengecekan ke distributor, promosi, dan hal-hal administratif lainnya.

Apa saja yang harus dilakukan oleh seorang penulis pemula (strategi) jika ingin menerbitkan karyanya melalui jalur self publishing agar tidak dipandang sebelah mata?

Memiliki semua yang saya sebutkan di atas. Self publishing amat tergantung dari animo pembaca yang menyambutnya. Jika sambutannya sederhana, maka penerbitan bukunya pun bisa sederhana, bahkan mungkin dijalankan sendirian oleh penulisnya. Semakin bukunya bergaung dan diminati secara luas, sistem kerja dan modal yang dibutuhkan juga akan semakin kompleks. Jadi minimal si penulis harus mengecek betul kesiapannya: modal, SDM, tekad, dan kesiapan untuk repot.

Apa yang menjadi sisi positif dan negatif bagi penulis jika memutuskan untuk melakukan self publishing? Sepanjang pengalaman melakukan self publishing, apa manfaat yang dirasakan oleh Dewi sebagai seorang penulis?

Positifnya, penulis memiliki kendali yang lebih luas, sistem yang otomatis lebih transparan, dan banyak pengalaman bermanfaat. Tantangannya, lebih repot, energi dan fokus terkuras, bisa-bisa habis tenaga untuk menulis buku berikutnya, dan kemungkinan rugi secara finansial. Yang saya rasakan juga kurang lebih sama. Dengan pernah menerbitkan sendiri, saya jadi paham betul proses produksi dan cukup tahu cara kerja industri perbukuan itu seperti apa. Repotnya juga banyak, antara lain saya harus mengurus staf, administrasi, dan banyak hal-hal teknis lain yang menguras energi.

Menurut Dewi adakah kekurangan dari proses self publishing yang sekarang banyak dilakukan oleh penulis-penulis pemula?

Saya kurang tahu bagaimana proses self publishing yang dijalankan penulis lain, jadi tidak bisa berpendapat soal ini.

Bagaimana Dewi melihat tren self publishing di Indonesia ke depannya?

Entah ke depannya. Yang jelas, sekarang ini semakin banyak mitra-mitra independen untuk menerbitkan buku, terutama dengan adanya sistem POD (Print On Demand), yang itu bisa membantu penulis untuk tidak terbebani dengan modal cetak yang besar di depan. Begitu juga dengan perkembangan buku digital. Rantai antara penulis dan pembaca semakin pendek karena tidak lagi harus berurusan dengan toko buku fisik, distribusi fisik, dll. Jadi pasti akan ada perkembangan yang menarik.

Ada saran bagi penggemar Dewi yang berniat menjadi seorang penulis?

Berani gagal, berani memiliki karya yang tidak selesai, berani mencoba lagi, dan berani menghadapi kesuksesan. Semuanya itu memiliki konsekuensi. Yang jelas, menulislah apa yang kita suka. Tulislah buku yang ingin kita baca.

Dari info yang kami dapatkan, pada bulan April ini, Mbak Dewi akan merilis novel terbaru berjudul Partikel, bisa ceritakan sedikit kepada para penggemar Dee tentang novel terbarunya? 

Partikel adalah episode keempat dari serial Supernova, terbit serentak tanggal 13 April 2012 ini. Sebagai buku yang sudah ditunggu delapan tahun, saat-saat ini menjadi momen yang mendebarkan bagi saya. Partikel sendiri akan banyak bercerita tentang lingkungan, shamanisme, ET, dan konflik keluarga.

U Magazine | Profil | Januari, 2010


Bagaimana Anda mendefinisikan "budaya"?

Sebuah hasil efek samping yang tak terhindarkan, diakibatkan oleh tubrukan antara aspek sosial dan aspek individual dari umat manusia.

Menurut Anda, apa media yang paling ampuh untuk menyebarkan suatu nilai budaya? Alasannya?

Televisi, dan sekarang ini jejaring sosial di internet. Televisi, karena kekuatan audio-visual dan penggunaannya yang sudah sangat luas. Internet, karena selain juga bisa audio-visual, kecepatannya real-time.

Lewat buku atau musik, Anda merasa mewakili satu "genre" atau "kelompok" kebudayaan tertentu? Kalau iya, "genre" atau "budaya" apa?

Secara umum, saya dibesarkan dalam konteks budaya pop. Saya tidak merasa mewakili kelompok kebudayaan tertentu, tapi yang jelas karya saya tidak bisa lepas dari andil/pengaruh budaya pop.

Saat ini banyak negara mengandalkan industri kreatif untuk menggenjot pendapatan. Anda setuju dengan "mengkomersilkan" kreatifitas? Atau memang harus begitu supaya maju dan berkembang?

Menurut saya, jika ingin berkembang luas, faktor komersil dan kreativitas seharusnya berjalan seimbang. Komersialitas jangan memakan dan mendikte kreativitas, sebaliknya kreativitas tanpa komersialitas juga akan berjalan di tempat.

Apakah Anda melihat masyarakat Indonesia telah cukup cerdas untuk menerima produk budaya yang bagus (meski kadang-kadang "susah")? Apa indikasinya? Apakah, misalnya dengan banyaknya toko-toko buku baru bisa menjadi ukuran bahwa masyarakat Indonesia makin cerdas?

Dalam pengamatan saya, yang tentunya terbatas, saat ini ada minat dan geliat baru dalam dunia pustaka Indonesia. Salah satu indikasinya adalah lebih banyak toko buku, lebih banyak penerbit, lebih banyak penulis, dan volume oplah keseluruhan yang juga meningkat. Tapi apakah itu berkorelasi dengan kualitas dan kecerdasan, menurut saya belum tentu.

Buku terbaru Anda (yang sebenarnya bersumber dari tulisan lama Anda), Perahu Kertas, cenderung lebih ringan dibandingkan novel-novel sebelumnya? Apakah ini bagian dari "mengikuti selera pasar"?

Pada prinsipnya, saya tidak pernah mengikuti selera pasar. Saya hanya menuliskan buku yang ingin saya baca. Perahu Kertas adalah naskah yang juga berada dalam rentang selera dan minat saya pribadi. Dibilang lebih ringan bisa jadi, yang jelas kreativitas saya memang berwarna dan tidak pernah berada dalam satu spektrum saja. Dan Perahu Kertas sudah ada jauh sebelum serial Supernova, jadi sebetulnya kalau saya merilis Perahu Kertas lebih cocok saya dibilang “menentang pasar” ketimbang “mengikuti pasar” saya yang sudah ada dan terbentuk oleh Supernova.

Apa yang mendorong Anda bekerjasama dengan XL untuk pemasaran novel ini -- yang mengharuskan Anda menyelesaikannya dalam 55 hari dengan banyak perubahan dari naskah asli, seperti Anda tulis di blog?

Saya suka proyek-proyek pionir. Dan saat itu novel digital memang belum ada, jadi Perahu Kertas menjadi yang pertama. Selain itu, saya memang sudah berniat untuk menyelesaikan naskah Perahu Kertas yang sudah mati suri sekian lama. Jadi, tawaran XL menjadi motivasi segar bagi saya untuk menyelesaikannya. Kenapa 55 hari? Karena kalau tidak ada deadline seperti itu, saya berisiko untuk menghabiskan waktu terlalu lama untuk menulis ulang naskahnya, yang artinya Perahu Kertas mati suri lebih panjang lagi.

Anda meluncurkan Rectoverso satu paket buku dan musik. Sebenarnya bagaimana ide awalnya dan apa pertimbangannya? Apakah masyarakat pembaca buku Indonesia siap dengan model seperti ini? Tanggapan para pembaca buku Anda, bagaimana? Adakah pengaruhnya terhadap tingkat penjualan buku ini -- menjadi lebih laku atau malah sebaliknya?

Lagi-lagi, Rectoverso adalah proyek pionir. Belum ada sebelumnya buku dan album musik yang saling bercermin seperti itu (bukan soundtrack), dan kebetulan musik dan penulisan adalah bidang yang saya kuasai. Tanggapan masyarakat cukup bagus, pembaca saya juga sejauh ini positif menanggapinya. Walaupun saya berkesimpulan, secara penjualan tetap buku yang lebih kuat, karena industri musik sendiri sedang mengalami perubahan drastis dengan peralihan ke format digital, download, RBT, dan maraknya pembajakan.

Waktu pertama kali meluncurkan Supernova, Anda memakai jalur penjualan indie, apakah ini menguntungkan dari segi komersil? Mengapa Anda sekarang akhirnya kembali ke jalur penjualan "normal" lewat toko buku? Apakah ada pertimbangan khusus atau semata-mata soal bisnis?

Menyimpulkan dari masa sekarang, indie atau tidak keuntungan komersialnya sama-sama saja. Karena sekalipun profit menerbitkan sendiri lebih besar ketimbang cuma dapat royalti tapi konsekuensinya kita juga harus punya sistem, SDM, dsb, yang butuh energi dan biaya juga. Yang membedakan hanyalah kemerdekaan dan keleluasaan untuk menetapkan strategi, harga, dsb, karena buku itu otomatis menjadi barang kita sendiri. Perlu digarisbawahi bahwa “indie” artinya adalah menerbitkan sendiri (dan sebagian mendistribusikannya lewat jalur sendiri), tapi itu bukan berarti tidak lewat toko buku. Semua buku saya sejak dulu selalu lewat toko buku. Hanya saja ada saluran tambahan lewat internet, direct selling, dsb. Jadi tidak tepat kalau dibilang saya “kembali ke jalur normal”, karena kalau yang disebut “normal” adalah lewat toko buku, dari dulu pun buku saya selalu dijual di toko buku. Hanya peran distributor dan penerbitnyalah yang dilakoni sendiri. 

Tahun ini, Perahu Kertas akan difilmkan oleh Mizan. Apa yang membuat Anda bersedia? Apa saja persiapan Anda? Anda yakin filmnya akan setia pada buku? Tidak takut nantinya terjadi "penyelewengan" dari buku ke film?

Sejak awal menulis Perahu Kertas saya memang sudah punya visi untuk mengangkatnya ke layar lebar. Jadi tinggal mencari partner yang tepat saja. Kebetulan karena sekarang Perahu Kertas bekerja sama dengan Bentang sebagai penerbitnya, maka selaku paying dari Bentang, Mizan Production-lah yang maju terlebih dahulu. Soal penyelewengan, saya sih cukup realistis, tidak akan pernah mungkin naskah buku sama persis ketika difilmkan. Jadi “penyelewangan” pasti terjadi. Tinggal sekarang bagaimana “penyelewengan” itu tetap bagus dan manis sehingga bisa diapresiasi sebagai karya seni yang baik.

Kalau harus memilih fokus ke satu hal, Anda akan memilih jadi apa: penyanyi, penulis, pemain film, ibu rumah tangga, atau apa?

Ibu rumah tangga yang hobi nyanyi dan cari uang sambilan dari menulis. Main film? Tidak pernah terlintas di benak saya.

Dari semua buku-buku Anda, ada yang jadi favorit Anda? Kenapa?

Sejauh ini, saya paling suka Petir dan Perahu Kertas. Semata-mata karena dua buku itu proses pembuatannya sangatlah menghibur.

Apa yang paling mempengaruhi Anda dalam menulis: pengalaman atau pengamatan sehari-hari ATAU ide-ide liar tentang apa saja yang tiba-tiba muncul di kepala?

Kesemuanya. Menurut saya tidak ada “single factor” dalam menulis, apa pun yang menjadi pengalaman mental, fisik, maupun rohani dalam kehidupan nyata kita, akan menjadi bahan yang keluar tiba-tiba ketika kita menulis.

Apa yang paling sulit dan memakan waktu ketika menulis novel: mencari ide, membuat riset, menulis, atau justru saat melemparnya ke pembaca? Dari semua itu, mana yang paling Anda nikmati dan kenapa?

Paling makan waktu: riset. Paling bikin pusing tapi mengasyikkan: menulis. Paling melelahkan: promosi buku. Saya paling menikmati saat buku sudah jadi tapi belum rilis. Itu fase ‘tengah-tengah’ di mana ada kelegaan karena sudah selesai, tapi stres berikutnya yakni mempromosikan buku, belum datang.

Apa proyek atau karya Anda berikutnya? Apakah tetap berkisar di buku dan musik atau mungkin sesuatu yang sama sekali berbeda?

Supernova Partikel dan skenario film Perahu Kertas. Ada proyek-proyek lainnya yang nonfiksi, tapi masih dalam tahap penggodokan.

Apa film terakhir yang Anda tonton dan sangat suka? Kenapa?

Saya lagi jarang nonton film layar lebar, apalagi ke bioskop, karena masih ngurus bayi. Saya lagi senang nonton film serial, favorit saya: Criminal Minds, Lie To Me, Castle, dan Fringe. Serial-serial itu menurut saya mencerdaskan karena saya jadi tahu banyak hal sekaligus terhibur.

Apa buku terakhir yang Anda baca dan bagian apa yang paling Anda suka?

Saya lagi baca buku fotografi, Understanding Exposure oleh Bryan Peterson.