Showing posts with label Rectoverso. Show all posts
Showing posts with label Rectoverso. Show all posts

Monday, December 22, 2014

We Indonesians Rule (Buku) | Juni, 2013 | by Juventia Vicky


Apa yang membuat Anda memutuskan untuk menggeluti karier menulis setelah berkarya dalam bidang musik melalui Rida Sita Dewi?

Sebetulnya menulis adalah hobi saya sejak kecil, yang berjalan paralel dengan hobi saya di musik. Jadi, keputusan berkarier dalam menulis bukan di posisi "either/or" dengan musik. Bagi saya, keduanya adalah saluran ekspresi kreatif yang sama-sama esensial. saya akhirnya berhasil menyiapkan manuskrip. Seiring waktu, saya harus akui saya jadi lebih nyaman dengan menulis karena faktor-faktor eksternal seperti berkeluarga dan punya anak. Dunia menulis memberikan saya lebih banyak fleksibilitas ketimbang dunia entertainment. Saya bisa lebih banyak di rumah dan mengatur jadwal kerja saya secara lebih independen.

Bagaimana Anda menjelaskan proses kreatif yang Anda lalui ketika menulis? Apakah riset berperan besar seperti yang ditunjukkan melalui tetralogi Supernova?

Saya rasa proses kreatif itu mirip-mirip untuk semua bidang. Intinya, kita menerjemahkan abstraksi dari alam ide ke sebuah pemaparan konkret yang bisa dinikmati dan dimengerti oleh orang banyak, termasuk oleh diri kita sendiri. Passion, disiplin, serta jam terbang menjadi penentu untuk seseorang bisa lancar dan konsisten berkarya. Riset menjadi salah satu metode saya untuk memperdalam cerita dan menjadikannya lebih believable. Lewat riset, bukan hanya pembaca yang diperkaya, saya yang melakukan risetnya pun ikut diperkaya. Dan demikian jugalah selera saya dalam menikmati karya orang. Saya senang dengan karya yang menantang cara berpikir dan memperkaya saya dengan pengetahuan. Karena itu, ketika saya berkarya, saya juga ingin melakukan hal yang sama.

Dari mana inspirasi untuk karya-karya Anda umumnya datang?

Dari mengamati hidup, lingkungan, diri sendiri.

Apakah Anda memiliki penulis favorit, baik dari Indonesia maupun negara lain, yang menjadi role model Anda?

Terus terang, saya lebih banyak baca nonfiksi ketimbang fiksi. Dalam nonfiksi yang biasanya ditekankan adalah materi tulisannya ketimbang gaya penulisannya. Saya suka dengan tema neo-arkeologi seperti buku-buku Graham Hancock, awareness-based science seperti buku-buku Amit Goswami, David Bohm, F. David Peat, dst. Belakangan saya senang dengan tulisan-tulisan Cheryl Strayed. Kalau dari penulis lokal, saya pengagum Sapardi Djoko Damono.

Anda telah menulis berbagai macam jenis sastra, dari novel dan cerita pendek hingga puisi. Bagaimana perbedaan bentuk ini mempengaruhi proses menulis Anda?

Saya tidak pernah terkungkung oleh bentuk. Saya rasa, idelah yang menentukan bentuk. Ada ide yang cukup diungkapkan lewat puisi, tapi ada juga ide yang perlu ruang lebih lebar seperti novel. I serve the ideas. Not the other way around. Saya tidak tahu pasti kreator lain bagaimana, tapi bagi saya, karya punya jiwa sendiri yang ingin berbicara, dan ia memanfaatkan saya sebagai medium. Jadi, ada kolaborasi dan kerja sama. Tapi, yang menjadi lokomotif adalah ide itu sendiri. Tugas saya adalah menerjemahkan "kemauannya" sebaik-baiknya dengan menjaga kepekaan dan mengasah skill saya menulis.

Apa yang Anda lihat sebagai signature style Anda ketika menulis?

Barangkali yang paling mudah dikenali adalah tema. Hampir semua tema tulisan saya, terlepas dari format dan segmentasinya, bercerita tentang eksplorasi jati diri. Kedua, ritme dan pemilihan kata. Mungkin karena saya berangkat dari penyanyi dan penulis lagu, saya sangat peka pada ritme. Sebuah paragraf harus bisa menemukan ritme yang pas, dan itu ditentukan oleh jumlah kata, bunyi, tekstur makna, dsb. Saya juga senang menggunakan kata-kata yang kontras, seperti menyisipkan satu istilah ilmiah dalam sebuah paparan puitis, misalnya. Semua ini mungkin terdengar abstrak, tapi bagi yang mengikuti karya-karya saya pasti bisa mengenali style tersebut. Sama halnya saya juga bisa mengenali jika style saya dipakai atau memengaruhi penulis lain.

Dalam Rectoverso, Anda menggabungkan novel dengan sebuah album musik. Apakah musik memiliki pengaruh yang besar terhadap tulisan Anda?

Dalam Rectoverso, lirik menjadi titik awalnya. Semua berkembang dari lirik. Jadi, lirik dulu baru fiksi, setelah itu aransemen musik. Kalau kasusnya Rectoverso, jelas musik berpengaruh sangat besar. Di tulisan-tulisan saya lain, pengaruh musik seperti yang saya jelaskan sebelumnya, yakni mengenai ritme. Musik mengajarkan saya untuk peka ritme, dan kepekaan itu kemudian saya tuangkan ke dalam cara saya menyusun kalimat, paragraf, bahkan cerita.

Beberapa karya Anda telah diadaptasi ke dalam film. Sejauh mana Anda memiliki andil dalam pembuatan film-film ini? Apakah melalui medium ini, Anda berharap penonton akan tergerak untuk mulai membaca karya-karya Anda?

Dalam setiap judul, keterlibatan saya berbeda-beda. Waktu Perahu Kertas, saya terlibat cukup banyak. Saya menulis skenario, saya membuat soundtrack, saya ikut menentukan casting, dan juga ikut editing. Bisa dibilang keterlibatan saya hampir seperti produser informal. Di Rectoverso, saya sudah lebih lepas tangan, dan hanya jadi konsultan saja. Di Madre, saya lepas sama sekali. Ketiga-tiganya punya risiko dan keuntungan masing-masing. Dengan bertransformasinya cerita menjadi film, memang ada potensi untuk menjangkau lebih banyak audiens. Saya tidak punya harapan tertentu sebetulnya. Secara umum memang ketika buku dijadikan film, otomatis ekspos terhadap buku tersebut meningkat, dan akibatnya bisa meningkatkan penjualan. Itu memang terjadi di ketiga buku yang saya dijadikan film. Tapi, sebelum itu pun buku-buku tersebut pun sudah punya pembacanya sendiri.

Menurut Anda, bagaimana situasi dunia sastra di Indonesia pada saat ini?
Anda beserta beberapa penulis perempuan kontemporer lain di Indonesia seringkali dicap sebagai penulis “sastra wangi.” Apa pendapat Anda mengenai karakterisasi tersebut?

Saya sendiri heran mengapa "sastra wangi" masih saja ditanyakan, padahal istilah itu munculnya sudah hampir delapan tahun yang lalu, dan kondisi saat ini sudah tidak lagi mengakomodir atau pun relevan untuk membahas "sastra wangi". Saya tidak punya pendapat khusus tentang "sastra wangi". Kalau definisinya adalah serangkaian penulis perempuan yang dengan berani mengungkap seksualitas yang selama ini dianggap tabu, saya rasa karya saya tidak berada dalam definisi itu. Tema seksualitas tidak pernah jadi tema sentral dalam tulisan saya. Saya juga lebih cenderung humanis ketimbang feminis dalam berkarya. Satu-satunya irisan saya dengan "sastra wangi" adalah jenis kelamin saya perempuan, saya penulis, dan saya wangi... kalau baru mandi.

Apa pandangan Anda akan budaya membaca di Indonesia? Apakah para pembaca mulai apresiatif serta kritis terhadap sastra Indonesia?

Jika dibandingkan dengan masa-masa Orde Baru, atau pra 1998, kondisi perbukuan Indonesia memang sudah jauh berkembang. Saya tidak tahu persis tentang budaya membaca masyarakat, saya bukan pengamat. Tapi, yang jelas, ada peningkatan jumlah penerbit, jumlah toko buku, jumlah penulis, dan jumlah genre buku. Barangkali itu bisa disimpulkan bahwa ada peningkatan budaya membaca di masyarakat modern Indonesia. Khususnya untuk genre sastra, saya rasa ada juga peningkatan (dari jumlah penulis dan jumlah buku terjual), tapi tidak sesignifikan genre-genre populer seperti chicklit, teenlit, atau buku-buku motivasi. Namun, saya tidak punya kapasitas mencukupi untuk bicara soal kritik sastra Indonesia. Biarlah hal seperti ini dijawab oleh mereka yang menekuni kritik sastra Indonesia. Peran saya adalah menulis.

Menurut Anda, apa yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak yang terlibat dalam dunia perbukuan—penulis, editor, penerbit, kritikus buku—untuk meningkatkan apresiasi atas sastra Indonesia? Apakah penghargaan seperti Khatulistiwa Literary Award dapat mendorong penulis-penulis Indonesia untuk berkarya dengan lebih baik?

Ajang penghargaan merupakan hal yang menarik, bisa mengundang perhatian media dan publik, dan pada level tertentu bisa menyemangati. Tapi, satu hal dalam perihal penghargaan, hampir semua ajang penghargaan selalu berbau conflict of interest. Dan, selalu saja akan ada nada-nada sumbang yang mengungkap adanya eksklusivitas atau dominasi pihak-pihak tertentu dalam penentuan pemenang. Jadi, menurut saya, sekalipun award adalah hal positif, tapi jangan menggantungkan ekspektasi terlalu besar. Award tidak mungkin jadi pendorong satu-satunya bagi perkembangan perbukuan. Bagi saya, untuk mendorong penulis-penulis berkarya, yang lebih luas dan jangka panjang adalah lewat ajang pelatihan, workshop, dsb, selama dilakukan dengan konsisten dan merata. Lewat kegiatan tersebut, bibit-bibit baru bermunculan, penulis atau editor yang sudah veteran pun berkesempatan untuk berbagi ilmunya, penerbit pun punya banyak potensi yang bisa dikembangkan. It's a win-win for everybody. Saya berharap semakin banyak pihak swasta yang tertarik untuk mensponsori pelatihan penulisan.

Beberapa karya Anda telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Seberapa penting outreach kepada audiens internasional dalam memajukan dunia sastra Indonesia?

Cukup penting. Sayangnya, belum banyak penulis Indonesia yang bisa menembus pasar internasional tanpa terlepas dari "kerangkeng" eksotisme. Saya masih merasa minat audiens internasional terhadap kita dan penulis Asia lainnya terjebak dalam eksotisme—entah itu tema budaya, sejarah, atau politik—jadi bukan fokus pada kualitas kepenulisannya. Akibatnya, jarang ada penulis yang benar-benar diterima dan diakui secara internasional. Lebih kepada pemenuhan katalog atau sensasi sejenak saja.

Karya seperti apa yang Anda ingin terbitkan selanjutnya?

Saya ingin menyelesaikan serial Supernova dulu. Setelah itu, saya ingin menulis nonfiksi. Ada cukup banyak topik yang ingin saya eksplorasi.

Sunday, December 21, 2014

FAQ: Rectoverso (2008, Goodfaith | 2012, Bentang Pustaka)


Which comes first? Lirik atau cerpen? Bila memang lirik, apakah cerita yang dituangkan dalam cerpen memang persis seperti inspirasi terhadap pembuatan lirik tersebut? 

Dalam proyek ini, semuanya memang berawal dari lirik. Jadi, saya membuat lagunya terlebih dahulu, atau memilih lagu-lagu saya yang liriknya naratif dan bisa digarap menjadi cerita. Tidak semua lirik lagu cocok untuk materi Rectoverso, jadi penyeleksian lagu menjadi tahap yang cukup penting. Penulisan ceritanya sendiri tidak semua identik dengan lirik lagu. Cerita dalam lirik dikembangkan menjadi plot, jadi lebih kompleks. Beberapa cerpen bahkan mengambil sudut pandang berbeda dengan lirik, mis. dalam lagu sudut pandangnya dari si cewek, sementara dalam cerpen sudut pandangnya dari si cowok. 

Sebenarnya siapa yang pertama kali come up dengan ide untuk menggabungkan buku dan CD ini? Apakah menurut Anda sebuah lagu memang perlu dilengkapi dengan “cerita lengkap” di baliknya? 

Kalau dirunut sejarahnya, saya harus berterima kasih pada Pak Iman Sastrosatomo (ex-MD Warner Music Indonesia), yang dalam suatu obrolan makan siang pada tahun 2006 melontarkan ide itu. Pada waktu itu, saya sedang mengajukan demo album saya, dan Pak Iman bilang, kenapa tidak mencoba menempelkan profesi kepenulisan saya dengan album tersebut, dengan misalnya menambahkan puisi, dst. Saya jadi teringat, kebetulan sekali saya memang baru melakukan “eksperimen”, yakni membuat cerpen dari lirik lagu yang baru saya buat (Hanya Isyarat). Lalu saya mulai mencoba membuat cerpen-cerpen lain dari lirik lagu yang saya pilih, dan ternyata saya sangat puas dengan hasilnya. Lalu saya memilih judul Rectoverso untuk proyek coba-coba ini, sampai akhirnya proyek ini serius diwujudkan. 

Selain judul yang sama antara lagu dan cerita pendek untuk menerjemahkan konsep Rectoverso yang berarti cermin, apakah ada hal lain (misal lirik dan alur cerita) yang Anda lakukan agar kedua karya yang terpisah tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh?

Rectoverso lebih tepatnya analogis dengan konsep “saling melengkapi”. Selain dengan me-rectoverso-kan lirik dan lagu, perkawinan tsb dipererat lagi dengan aspek desain dan grafis. Agar lebih hidup lagi, saya menambahkan satu elemen lagi yakni ilustrasi. Selain itu, desain packaging produk ini juga menjadi hal yang penting, karena ini bisa memperkaya dan memperkuat konsep Rectoverso. 

Personally, Anda lebih merekomendasikan mana, mendengarkan lagunya terlebih dulu atau justru cerita pendek. Mengapa? 

Tidak jadi masalah dimulai di mana, yang jelas harus diakhiri dengan menikmati kedua-duanya. Jangan hanya “sebelah”. Karena Rectoverso ini memang dibuat untuk saling melengkapi, jadi pengalaman menikmatinya pun baru komplet jika menyimak kedua-duanya, baik cerita maupun musik. 

Apakah tema cinta mendominasi keseluruhan syair dan buku Anda? Mengapa demikian? 

Iya. Saya memang meniatkan karya ini menjadi karya yang romantis sekaligus memorable. Kisah cinta sendiri adalah satu hal yang bisa menyentuh lubuk terdalam hati setiap manusia. Jika disajikan dengan konsep yang unik, maka sebuah karya bernapaskan cinta bisa menjadi tak terlupakan. Itu yang saya harapkan bisa dicapai lewat Rectoverso. 

Menurut Anda seberapa besar para pembaca sekaligus penikmat musik bisa relate dengan berbagai tema yang diangkat dalam setiap lagu dan cerita? 

Semua yang saya angkat dalam Rectoverso adalah masalah cinta yang umumnya terjadi dalam dinamika hati manusia sehari-hari. Nothing new. Penyajiannya saja yang berbeda, yakni lewat racikan Dewi Lestari, lengkap dengan style dan cara saya pribadi. Tapi kalau dilihat dari esensi kisahnya, saya pikir semua orang bisa relate dengan cerpen maupun lagu dalam Rectoverso. 

Berapa lama waktu yang dihabiskan untuk keseluruhan proyek ini? 

Saya mulai membuat mengerjakan cerpen pertama dari tahun 2006. Tapi bisa dibilang, pengerjaan Rectoverso yang paling intens dikerjakan pada tahun 2007. Rekamannya sendiri sangat cepat, karena kami memakai konsep live. Jadi dalam seminggu, semua rekaman musik dan vokal 95% selesai. Sisanya hanya revisi dan penambahan. Untuk keseluruhan ceritanya sendiri selesai di bulan Januari 2008. 

Kesulitan apa saja yang sempat dihadapi saat menggarapnya? 

Tantangannya banyak banget. Pertama, dari aspek rekaman, adalah membuat mekanisme rekaman ini seefektif mungkin karena melibatkan sangat banyak pemain. Kedua, secara mekanisme dagang, Rectoverso bisa dibilang produk yang penuh teka-teki, karena nggak ada acuan produk serupa sebelum ini. Sifatnya yang “hibrida” (setengah buku dan setengah musik) membuat Rectoverso tidak bisa diperlakukan dengan sistem yang standar. 

Setelah beberapa lama fokus dengan permainan kata-kata, apa rasanya “kembali” ke dunia tarik suara? 

Menyegarkan. Apalagi waktu proses rekaman dan latihan. Harap-harap cemas juga ada, karena sudah cukup lama saya nggak masuk lagi ke industri dengan album bahasa Indonesia. Terakhir waktu RSD. Saya nggak tahu pasti apakah musik saya pas dengan tren yang sedang berlaku. Saya sih berharap karya ini bisa jadi karya yang timeless. 

Proyek ini melibatkan banyak pihak, apakah aransemen Andi Rianto dan Ricky Lionardi serta ilustrasi oleh SubForm sesuai dengan konsep yang Anda bayangkan sejak awal untuk karya ini? 

Sejujurnya enggak. Yang pertama kali saya bayangkan, Rectoverso ini proyek yang sederhana banget, minimalis. Setelah ada investor merangkap eksekutif produser (Ignatius Andy), dan juga masuknya Tommy P. Utomo dan Ruzie Firuzie sebagai produser, barulah Rectoverso menjadi bentuk dan skalanya yang sekarang ini. 

Rectoverso ini Anda nyatakan sebagai karya yang berkualitas, hal apa saja yang Anda lakukan supaya nuansa premium tersebut benar-benar bisa dirasakan oleh setiap orang yang menikmatinya? 

Semua elemen dari Rectoverso digarap dengan sangat, sangat serius. Dan yang lebih penting lagi, dibuat dengan hati. Semua orang yang terlibat di sini betul-betul mencurahkan yang terbaik yang bisa mereka kasih. Semua material tulisan, ilustrasi, musik, kualitas rekaman, di atas kertas maupun secara hati, bisa dibilang premium semua. Tapi yang paling penting agar karya ini bisa dinikmati secara optimal oleh pendengar/pembaca, adalah dengan menikmati kedua ‘wajah’-nya. Jangan cuma sebelah. Jadi kalau mendengarkan musiknya, baca juga bukunya. Dan sebaliknya. Baru di sana, Rectoverso bisa diapresiasi secara maksimal. 

Apa yang membuatnya “lain” dari karya yang sudah ada? Benarkah baru pertama kali hal ini dilakukan di Indonesia? Jelaskan. 

Sejauh yang saya tahu, ini memang yang pertama. Sudah ada beberapa buku yang diselipkan CD musik, antara lain: Kionelle dari Rio Aminoto yang punya soundtrack yang diisi berbagai musisi dan aneka lagu, ada juga dari Andrei Aksana yang konsepnya juga soundtrack dari buku, lalu Yuni Shara dan Tamara Geraldine juga berkolaborasi membuat buku dan album sama-sama bertajuk “35”. Tapi, Rectoverso berasal dari kreator yang sama, baik CD dan bukunya. Lebih lanjut lagi, CD-nya bukan soundtrack dari buku, atau bukunya merupakan “bonus” dari CD. Keduanya adalah karya yang berkorelasi langsung dan saling melengkapi. Jadi satu kesatuan utuh. Bukan untuk dihayati secara terpisah, meskipun secara independen mereka bisa dinikmati satu-satu. 

Apakah karya ini memperbolehkan Anda untuk menggali dan mengasah semua kemampuan, mengingat Anda tak hanya menulis, menggubah tapi juga menyanyikannya? 

Iya. Di sinilah saya benar-benar menampilkan semua talenta saya secara utuh. 

Terakhir, apa hal utama yang ingin Anda tawarkan kepada pembaca dan penikmat buku dengan karya fiksikalisasi ini? Bisa tolong dijelaskan? 

Sebuah karya yang romantis, menyentuh, berkualitas, timeless. Sesuatu yang mudah-mudahan bisa mengisi sekaligus hidup dalam hati pembaca/pendengar Rectoverso untuk selamanya.  

Wawancara Skripsi | Rectoverso | Agustus, 2009 | by Cecilia Abigail


Selain menjadi penyanyi sekarang Dee lebih sering dikenal sebagai penulis. Sejak kapan Dee memiliki bakat menulis itu?

Saya memang bercita-cita ingin menulis buku sejak kecil. Saya nggak pernah punya ambisi jadi penulis lewat jalur jurnalistik atau penulis fiksi lewat media (kirim cerpen ke majalah, dll—walaupun sesekali pernah mencoba), pinginnya memang menulis buku. Latar belakangnya sederhana saja: ingin berbagi. Berbagi perenungan, pengalaman, pemikiran. Dan saya pikir, keinginan berbagi ini inheren ada di setiap manusia, cuma pilihan penyalurannya saja yang berbeda-beda. Kebetulan media yang saya pilih adalah lewat menulis.

Dari mana kiprah Dee sebagai penulis dimulai?

Saya mengawalinya pertama kali ketika cerpen saya Rico De Coro (ada dalam kumpulan cerita Filosofi Kopi) dimuat di majalah Mode tahun 1997, dua tahun sebelumnya tulisan saya juga pernah memenangkan kompetisi menulis di majalah Gadis, tapi saya pakai nama samaran. Sesudah itu langsung ke Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh tahun 2001. Sebetulnya cuma modal nekat saja, saya menerbitkan sendiri Supernova ke-1 tanpa ada ekspektasi dan pengetahuan lika-liku industri buku. Saya nyaris tidak ada target, siap merugi, yang penting saya menulis buku, itu saja.

Mana yang lebih menarik, menjadi penulis atau menjadi penyanyi?

Sama-sama menarik, keduanya saling melengkapi. Dari level superfisial, lewat menulis saya mendapatkan banyak pengalaman dan pertemuan menarik dengan orang-orang baru, pergi ke banyak tempat, dan menimba banyak ilmu. Dari level spiritual, menulis menjadi gerbang saya menemukan jati diri. Sementara menyanyi dan bermusik menjadi cara saya mencinta. Banyak keindahan dan perasaan yang bisa terungkap sempurna lewat menulis lagu dan menyanyi, dan itu menjadi kepuasan tersendiri yang tidak bisa terukur.
Menjadi penyanyi dan penulis bukan pilihan. Kedua-duanya sudah menjadi bagian inheren dari diri saya. Mimpi terbesar saya adalah karya saya bisa dinikmati dalam skala internasional.
Menulis itu seperti menciptakan semesta sendiri, lebih komplet dan komprehensif, tapi tidak berarti lebih unggul dari musik, karena keduanya bersifat komplementer.
Lewat menulis saya bisa mengeksplorasi karakter, narasi, dan plot. Dalam lagu, unsur itu ada tapi terbatas, jadi kisah dalam lagu cenderung lebih abstrak dan interpretatif. Tapi justru di situ jugalah kelebihan musik. Musik bisa dihayati bahkan lebih mendalam, dan bisa jadi lebih langgeng dan tak lekang zaman. Lagu juga punya melodi, dan itu satu kelebihan sendiri dibanding kata-kata belaka.

Dari keseluruhan karya Dee itu, mana yang paling berkesan untuk Dee?

Hmm. Semuanya punya kesan masing-masing sih. Tapi barangkali secara pengalaman, saya paling banyak belajar dari Supernova 1, karena itulah buku pertama saya, dan dari sanalah segala macam pengalaman menulis dan jadi penulis bermula.

Pernah terbayangkan sebelumnya kalau sekarang Dee menjalani hidup sebagai seorang penyanyi, pencipta lagu sekaligus penulis buku?

Sejujurnya, tidak. Karier menyanyi saya berjalan begitu saja, transisinya halus sekali. Dari aktivis vokal group & paduan suara sekolah, lulus SMA jadi backing vokal selama dua tahun, lalu tahun 1995 mulai rekaman untuk RSD, berjalan delapan tahun, hingga akhirnya berkarier solo sampai sekarang. Untuk jadi penulis memang lebih banyak perjuangan, karena dulu saya menerbitkan sendiri Supernova, jadi tantangannya memang banyak. Kalau buku itu kemudian jadi laku dan jadi perbincangan, itu di luar dugaan saya sama sekali. Dulu saya cuma cita-cita pingin punya buku aja. Kalau yang baca cuma 10 orang juga nggak apa-apa. Sudah senang.

Dari keseluruhan buku atau cerita yang Dee telah tulis, dari mana biasanya Dee mendapatkan ide – ide ceritanya? Dari pengalaman orang lain, pengalaman sendiri, atau berasal dar imajinasi Dee saja?

Kebanyakan dari perenungan. Bahan yang direnungkan tentu datangnya dari kehidupan itu sendiri, dari kisah pribadi, kisah orang lain, mengamati alam, dsb. Seorang penulis memang harus jadi pengamat yang baik.

Dari karya Dee yang berjudul Supernova, beberapa orang yang beranggapan bahwa buku – buku karya Dee terlalu sulit dimengerti. Apakah memang Dee senang menggunakan bahasa atau istilah-istilah kiasan di setiap karya Dee, lalu bagaimana Dee menanggapi tanggapan beberapa orang itu?

Masalahnya, saya jarang memikirkan orang lain ketika berkarya. Saya menulis apa yang saya suka saja. Termasuk kalau menurut saya ada beberapa terminologi teknis yang perlu digunakan, ya saya gunakan. Kalau kiasan atau metafora sepertinya sih semua karya sastra memilikinya. Soal susah dipahami atau tidak menurut saya adalah hal yang relatif. Yang jelas, saat berkarya kita tidak mungkin memuaskan semua orang, atau memastikan bahwa semua orang akan mengerti. Yang mengerti pasti ada, yang enggak juga pasti ada. Karenanya saya lebih suka menjadikan diri saya sendiri sebagai patokan, pokoknya apa yang menurut saya sesuai dan pas dengan yang ingin saya ungkapkan, ya, saya gunakan.

Rectoverso merupakan karya kedelapan Dee. Apa yang Dee ingin angkat dari Rectoverso ini?

Rectoverso adalah karya yang sangat personal dan emosional. Justru sayalah yang menantikan pesan dari pembaca Rectoverso dalam bentuk perasaan mereka, air mata mereka, dan bagaimana kisah-kisah dalam Rectoverso menyentuh hati mereka.

Apa latar belakang Dee sehingga Dee menggabungkan dua media yaitu buku dan music (album cd) dalam karya kedelapan Dee ini?

Rectoverso pada dasarnya adalah produk hibrida, jadi nggak bisa cuma dilihat sebagai album saja, atau buku saja, melainkan kedua-duanya seperti “saudara kembar”. Itu yang sangat membedakan Rectoverso dari karya-karya saya yang lain. Lagu dan kisah di Rectoverso saling melengkapi dan saling bercermin. Jadi bukan sekadar satu paket, tapi buku dan album Rectoverso itu seperti dua sisi dari koin yang sama. Esensinya, ide dan inspirasi untuk album dan buku Rectoverso itu satu dan sama, hanya saja mengambil dua bentuk yang berbeda. Saya juga ingin menampilkan aspek romantisme saya yang selama ini hanya bisa terekspresikan secara parsial dalam karya-karya saya yang sebelumnya. Rectoverso itu seperti menulis surat cinta yang panjang. Saya tidak fokus pada penokohan atau plot, melainkan emosi terdalam yang dirasakan oleh tokoh-tokoh, baik dalam lagu maupun cerpen di Rectoverso.

11 cerita dan 11 lagu dengan judul yang sama. Apakah angka 11 itu sebuah kebetulah atau memang Dee memang sengaja menulis cerita dan menulis lagu hingga berjumlah 11?

Awalnya nggak sengaja, kebetulan materinya memang sebelas. Sebetulnya masih bisa ditambah, tapi pada akhirnya saya memutuskan sebelas, karena 11:11 itu punya makna yang sangat dalam di ilmu numerologi. 11:11 dipercaya sebagai angka yang mewakili terbukanya gerbang antara dunia materi dan spiritual, antara dunia fisik dan dunia roh.

Dari mana ide cerita – cerita di dalam Rectoverso didapat?

Ya dari hidup itu sendiri. Dari kejadian sehari-hari, peristiwa di sekeliling saya, curhat orang-orang, apa yang saya rasakan, imajinasi, fantasi, dsb. Bagi saya, hiduplah yang mengajarkan dan menginspirasikan segala lakon dan karya manusia di dunia. Tergantung bagaimana kejelian kita mengamati dan mencerapnya saja.

Berapa lama proses pengerjaan Rectoverso ini?

Rekamannya sendiri hanya 4 hari karena semua direkam secara live. Tapi pengerjaan dari mulai konsep sampai mastering butuh waktu 1,5 tahun. Kalau bukunya kurang lebih sama, tapi saya kerjakan secara sporadis. Jadi nggak sekaligus.

Kesulitan – kesulitan apa yang Dee temui pada proses pengerjaan Rectoverso ini?

Kendalanya lebih ke penyatuan antara dua industri yakni musik dan buku, dan bagaimana menentukan strategi pemasaran yang mengakomodasi keduanya. Dari segi rekaman, karena kita memakai sebegitu banyak pemain dan rekamannya live (sejarah yang lebih lengkap silakan lihat kata pengantar di buku Rectoverso), jadi cara mengorganisir dan mengatur skema kerja produksinya juga menantang. Kalau dalam menulis sih hampir nggak ada kesulitan karena saya bikin berdasarkan lirik, dan nggak melibatkan orang banyak jadi tinggal berproses dengan diri sendiri saja.

Dalam CD rectoverso Dee berduet dengan Arina Mocca dan Aqi ALEXA, kenapa Dee memilih mereka untuk berduet dalam Rectoverso ini?

Saya adalah pengagum berat suaranya Arina. Menurut saya, dialah yang paling berbakat menyanyi di keluarga dan saya juga selalu berangan-angan ingin berkolaborasi dengan saudara-saudara saya. Kebetulan saya mencari karakter suara yang innocent dan seperti anak kecil untuk lagu Aku Ada. Arina adalah vokalis yang paling pas untuk itu. Duet tersebut sekaligus juga mewujudkan cita-cita saya untuk berkolaborasi dengannya. Saya memilih Aqi karena memang mencari partner duet cowok yang karakternya agak nge-rock tapi nggak terlalu ‘sangar’ sampai melibas suara saya yang cenderung soft. Dan kebetulan waktu itu album Alexa belum dirilis jadi Aqi masih bebas, mengurus perizinannya jadi nggak ribet. Dan saya juga suka banget karakter suaranya Aqi.

Sudah dua video klip yang Dee keluarkan, apakah Dee berniat untuk membuat video klip dari judul lainnya?

Baru saja dirilis VK “Aku Ada”. Jadi sekarang sudah ada tiga VK dari album Rectoverso.

Beberapa orang memiliki caranya sendiri dalam menikmati Rectoverso, kalau menurut Dee sendiri bagaimana cara terbaik menikmati buku dan CD Rectoverso?

Tidak ada cara khusus. Orang-orang bisa memulainya dari mana saja, bisa dari buku atau dari musik. Yang penting adalah menikmati keduanya sehingga keutuhan karyanya bisa dihayati secara penuh  dan maksimal.

Apa yang ingin Dee dapatkan sebagai seorang penulis?

Saya cuma ingin berbagi pemikiran dan suara hati saya. Itu saja.

U Magazine | Profil | Januari, 2010


Bagaimana Anda mendefinisikan "budaya"?

Sebuah hasil efek samping yang tak terhindarkan, diakibatkan oleh tubrukan antara aspek sosial dan aspek individual dari umat manusia.

Menurut Anda, apa media yang paling ampuh untuk menyebarkan suatu nilai budaya? Alasannya?

Televisi, dan sekarang ini jejaring sosial di internet. Televisi, karena kekuatan audio-visual dan penggunaannya yang sudah sangat luas. Internet, karena selain juga bisa audio-visual, kecepatannya real-time.

Lewat buku atau musik, Anda merasa mewakili satu "genre" atau "kelompok" kebudayaan tertentu? Kalau iya, "genre" atau "budaya" apa?

Secara umum, saya dibesarkan dalam konteks budaya pop. Saya tidak merasa mewakili kelompok kebudayaan tertentu, tapi yang jelas karya saya tidak bisa lepas dari andil/pengaruh budaya pop.

Saat ini banyak negara mengandalkan industri kreatif untuk menggenjot pendapatan. Anda setuju dengan "mengkomersilkan" kreatifitas? Atau memang harus begitu supaya maju dan berkembang?

Menurut saya, jika ingin berkembang luas, faktor komersil dan kreativitas seharusnya berjalan seimbang. Komersialitas jangan memakan dan mendikte kreativitas, sebaliknya kreativitas tanpa komersialitas juga akan berjalan di tempat.

Apakah Anda melihat masyarakat Indonesia telah cukup cerdas untuk menerima produk budaya yang bagus (meski kadang-kadang "susah")? Apa indikasinya? Apakah, misalnya dengan banyaknya toko-toko buku baru bisa menjadi ukuran bahwa masyarakat Indonesia makin cerdas?

Dalam pengamatan saya, yang tentunya terbatas, saat ini ada minat dan geliat baru dalam dunia pustaka Indonesia. Salah satu indikasinya adalah lebih banyak toko buku, lebih banyak penerbit, lebih banyak penulis, dan volume oplah keseluruhan yang juga meningkat. Tapi apakah itu berkorelasi dengan kualitas dan kecerdasan, menurut saya belum tentu.

Buku terbaru Anda (yang sebenarnya bersumber dari tulisan lama Anda), Perahu Kertas, cenderung lebih ringan dibandingkan novel-novel sebelumnya? Apakah ini bagian dari "mengikuti selera pasar"?

Pada prinsipnya, saya tidak pernah mengikuti selera pasar. Saya hanya menuliskan buku yang ingin saya baca. Perahu Kertas adalah naskah yang juga berada dalam rentang selera dan minat saya pribadi. Dibilang lebih ringan bisa jadi, yang jelas kreativitas saya memang berwarna dan tidak pernah berada dalam satu spektrum saja. Dan Perahu Kertas sudah ada jauh sebelum serial Supernova, jadi sebetulnya kalau saya merilis Perahu Kertas lebih cocok saya dibilang “menentang pasar” ketimbang “mengikuti pasar” saya yang sudah ada dan terbentuk oleh Supernova.

Apa yang mendorong Anda bekerjasama dengan XL untuk pemasaran novel ini -- yang mengharuskan Anda menyelesaikannya dalam 55 hari dengan banyak perubahan dari naskah asli, seperti Anda tulis di blog?

Saya suka proyek-proyek pionir. Dan saat itu novel digital memang belum ada, jadi Perahu Kertas menjadi yang pertama. Selain itu, saya memang sudah berniat untuk menyelesaikan naskah Perahu Kertas yang sudah mati suri sekian lama. Jadi, tawaran XL menjadi motivasi segar bagi saya untuk menyelesaikannya. Kenapa 55 hari? Karena kalau tidak ada deadline seperti itu, saya berisiko untuk menghabiskan waktu terlalu lama untuk menulis ulang naskahnya, yang artinya Perahu Kertas mati suri lebih panjang lagi.

Anda meluncurkan Rectoverso satu paket buku dan musik. Sebenarnya bagaimana ide awalnya dan apa pertimbangannya? Apakah masyarakat pembaca buku Indonesia siap dengan model seperti ini? Tanggapan para pembaca buku Anda, bagaimana? Adakah pengaruhnya terhadap tingkat penjualan buku ini -- menjadi lebih laku atau malah sebaliknya?

Lagi-lagi, Rectoverso adalah proyek pionir. Belum ada sebelumnya buku dan album musik yang saling bercermin seperti itu (bukan soundtrack), dan kebetulan musik dan penulisan adalah bidang yang saya kuasai. Tanggapan masyarakat cukup bagus, pembaca saya juga sejauh ini positif menanggapinya. Walaupun saya berkesimpulan, secara penjualan tetap buku yang lebih kuat, karena industri musik sendiri sedang mengalami perubahan drastis dengan peralihan ke format digital, download, RBT, dan maraknya pembajakan.

Waktu pertama kali meluncurkan Supernova, Anda memakai jalur penjualan indie, apakah ini menguntungkan dari segi komersil? Mengapa Anda sekarang akhirnya kembali ke jalur penjualan "normal" lewat toko buku? Apakah ada pertimbangan khusus atau semata-mata soal bisnis?

Menyimpulkan dari masa sekarang, indie atau tidak keuntungan komersialnya sama-sama saja. Karena sekalipun profit menerbitkan sendiri lebih besar ketimbang cuma dapat royalti tapi konsekuensinya kita juga harus punya sistem, SDM, dsb, yang butuh energi dan biaya juga. Yang membedakan hanyalah kemerdekaan dan keleluasaan untuk menetapkan strategi, harga, dsb, karena buku itu otomatis menjadi barang kita sendiri. Perlu digarisbawahi bahwa “indie” artinya adalah menerbitkan sendiri (dan sebagian mendistribusikannya lewat jalur sendiri), tapi itu bukan berarti tidak lewat toko buku. Semua buku saya sejak dulu selalu lewat toko buku. Hanya saja ada saluran tambahan lewat internet, direct selling, dsb. Jadi tidak tepat kalau dibilang saya “kembali ke jalur normal”, karena kalau yang disebut “normal” adalah lewat toko buku, dari dulu pun buku saya selalu dijual di toko buku. Hanya peran distributor dan penerbitnyalah yang dilakoni sendiri. 

Tahun ini, Perahu Kertas akan difilmkan oleh Mizan. Apa yang membuat Anda bersedia? Apa saja persiapan Anda? Anda yakin filmnya akan setia pada buku? Tidak takut nantinya terjadi "penyelewengan" dari buku ke film?

Sejak awal menulis Perahu Kertas saya memang sudah punya visi untuk mengangkatnya ke layar lebar. Jadi tinggal mencari partner yang tepat saja. Kebetulan karena sekarang Perahu Kertas bekerja sama dengan Bentang sebagai penerbitnya, maka selaku paying dari Bentang, Mizan Production-lah yang maju terlebih dahulu. Soal penyelewengan, saya sih cukup realistis, tidak akan pernah mungkin naskah buku sama persis ketika difilmkan. Jadi “penyelewangan” pasti terjadi. Tinggal sekarang bagaimana “penyelewengan” itu tetap bagus dan manis sehingga bisa diapresiasi sebagai karya seni yang baik.

Kalau harus memilih fokus ke satu hal, Anda akan memilih jadi apa: penyanyi, penulis, pemain film, ibu rumah tangga, atau apa?

Ibu rumah tangga yang hobi nyanyi dan cari uang sambilan dari menulis. Main film? Tidak pernah terlintas di benak saya.

Dari semua buku-buku Anda, ada yang jadi favorit Anda? Kenapa?

Sejauh ini, saya paling suka Petir dan Perahu Kertas. Semata-mata karena dua buku itu proses pembuatannya sangatlah menghibur.

Apa yang paling mempengaruhi Anda dalam menulis: pengalaman atau pengamatan sehari-hari ATAU ide-ide liar tentang apa saja yang tiba-tiba muncul di kepala?

Kesemuanya. Menurut saya tidak ada “single factor” dalam menulis, apa pun yang menjadi pengalaman mental, fisik, maupun rohani dalam kehidupan nyata kita, akan menjadi bahan yang keluar tiba-tiba ketika kita menulis.

Apa yang paling sulit dan memakan waktu ketika menulis novel: mencari ide, membuat riset, menulis, atau justru saat melemparnya ke pembaca? Dari semua itu, mana yang paling Anda nikmati dan kenapa?

Paling makan waktu: riset. Paling bikin pusing tapi mengasyikkan: menulis. Paling melelahkan: promosi buku. Saya paling menikmati saat buku sudah jadi tapi belum rilis. Itu fase ‘tengah-tengah’ di mana ada kelegaan karena sudah selesai, tapi stres berikutnya yakni mempromosikan buku, belum datang.

Apa proyek atau karya Anda berikutnya? Apakah tetap berkisar di buku dan musik atau mungkin sesuatu yang sama sekali berbeda?

Supernova Partikel dan skenario film Perahu Kertas. Ada proyek-proyek lainnya yang nonfiksi, tapi masih dalam tahap penggodokan.

Apa film terakhir yang Anda tonton dan sangat suka? Kenapa?

Saya lagi jarang nonton film layar lebar, apalagi ke bioskop, karena masih ngurus bayi. Saya lagi senang nonton film serial, favorit saya: Criminal Minds, Lie To Me, Castle, dan Fringe. Serial-serial itu menurut saya mencerdaskan karena saya jadi tahu banyak hal sekaligus terhibur.

Apa buku terakhir yang Anda baca dan bagian apa yang paling Anda suka?

Saya lagi baca buku fotografi, Understanding Exposure oleh Bryan Peterson.

Saturday, December 20, 2014

Majalah PESONA | Close Up Interview with Dewi Lestari | Mei, 2009 | by Shinta Kusuma



Present Moment
Mengapa sekarang Anda menghindari wawancara tatap muka? 

Alasan pertama, karena kondisi fisik. Di kehamilan trimester pertama ini saya cukup sering ‘out of breath’, apalagi kalau harus ngomong lama, suka jadi ngos-ngosan dan habis itu kepinginnya berbaring. Sementara kalau wawancara kan pihak yang lebih banyak bicara pastinya saya. Alasan kedua, pengalaman saya diwawancara cukup sering membuat saya agak berhati-hati dengan format lisan. Masalahnya, cukup sering ucapan saya disalah kutip, salah dengar, salah tangkap, dsb. Alasan ketiga, banyak pertanyaan wawancara yang sering diulang-ulang, misalnya: sejak kapan suka menulis, dsb. Kalau wawancara tertulis saya bisa copy-paste dari arsip, hehe. Jadi, selain meminimalisir kesalahan kutip dan sejenisnya, lebih hemat waktu/energi juga bagi kedua belah pihak, dan saya jadi punya dokumentasi wawancaranya. Kalau dibilang ‘kurang hidup’ atau ‘feelingnya nggak dapet’, pengalaman saya menunjukkan ketika wawancaranya sudah dimuat dalam bentuk tulisan, nggak terlalu berasa juga ketemu langsung atau enggaknya. 

Sedang sibuk apa saat ini? 

Secara garis besar, sedang nggak sibuk. Sejak tahu hamil saya mengurangi drastis aktivitas saya. Dan memang fisik saya juga sempat naik-turun banget, ya mual, muntah, lemas, dan sebagainya. Tapi sebetulnya saya lagi menyiapkan buku baru juga, yakni novel digital saya berjudul Perahu Kertas, yang sedang dipersiapkan untuk naik cetak. 

Bagaimana dengan kondisi kehamilan Anda: apa bedanya ketika hamil Keenan? Ekspektasinya perempuan atau laki? 

Kehamilan yang sekarang lebih ‘alami’. Nggak pakai obat, nggak setiap bulan di-USG, nggak pakai suplemen macam-macam. Saya cuma minum satu vitamin prenatal, dan sisanya makan sebaik mungkin saja. Saat muntah-muntah pun dijalani saja tanpa obat apa-apa. Hasilnya sih lumayan. Keluhan-keluhan trimester pertama ini malah lebih cepat lewat dibandingkan kehamilan saya dulu. Dan kehamilan kali ini saya juga sudah vegetarian, dulu belum. Ekspektasi? Hmm. Jujur saya agak kepingin perempuan, karena anak pertama laki-laki dan semua keponakan saya laki-laki. We need more girls in the family. Tapi kalau pun cowok lagi, ya, nggak apa-apa. 

Rencana melahirkan: apa mau berbeda misalnya dengan hypno-birthing atau water birth? 

Untuk persalinan pun inginnya kali ini sealamiah mungkin. Kalau bisa water birth. Bahkan kalau memungkinkan, penginnya home birth, yakni melahirkan di rumah. Di persalinan yang dulu saya sudah mencicipi induksi dan operasi caesar. Mudah-mudahan yang berikut ini pengalamannya bisa berbeda.

Bagaimana peran Reza dalam kondisi kehamilan Anda sekarang?

Wah. Saya beruntung banget didampingi Reza. Pokoknya semua keahlian penyembuhannya saya ‘peras’ habis selama kehamilan ini. Haha! Dia hampir selalu meluangkan untuk merawat saya, memberi terapi, menemani dan menemani saat saya muntah-muntah, bahkan mau keluar rumah malam-malam buat cari jambu biji (saya sempat ngidam). Selain itu dia juga harus beradaptasi dengan perubahan fisik saya, di mana saya sempat nggak keluar rumah berminggu-minggu, lemas melulu, dsb. Tentunya nggak gampang buat Reza, karena ini kan pengalaman pertamanya juga mendampingi perempuan hamil secara intensif, tapi berhasil dilalui. Keenan juga pintar, lho. Kalau Reza nggak ada, dia yang nemenin saya muntah-muntah di kamar mandi sambil pijat-pijat punggung saya. Nyontek dari Reza… hehe.

Soul Character


Sebutkan 3 karakter Anda yang paling kuat (dan mungkin orang lain tidak tahu). 

Pemalas, konyol, dan kampungan. 

The best the worst moment in your life: kapan turning point dalam hidup Anda? Apa yang terjadi saat itu? 

Bagi saya, turning point terbesar dalam hidup sejauh ini adalah akhir tahun 1999, ketika saya melepaskan semua konsep agama dan mulai berjalan dalam ranah spiritual tanpa peta. It changed my life forever, termasuk menginspirasi saya untuk melakukan banyak hal, salah satunya: menulis Supernova. 

Siapa the most inspiring person di mata Anda? Alasannya? 

Thich Nhat Hanh. Beliau berhasil menerjemahkan ajaran Buddha menjadi begitu membumi, universal, dan merangkul begitu banyak orang tanpa semangat konversi, semata-mata karena welas asih. Beliau bukan hanya seniman dan rohaniwan, tapi juga seorang humanis yang benar-benar menjalankan apa yang ia ucapkan, menjadi seorang “bukti hidup”. He walks the talk like no other. 

Apakah Anda percaya pada reinkarnasi? Kalau ya, Anda ingin jadi siapa jika dilahirkan kembali? Alasannya? 

Jadi ikan paus. Karena saya sekarang belum bisa berenang. Sementara saya selalu tertarik pada misteri kehidupan di bawah laut. Jadi alangkah menyenangkannya kalau saya bisa menjelajah laut dengan menjadi ikan yang paling besar. Dan mudah-mudahan saat saya jadi ikan paus, semua orang sudah vegetarian jadi saya nggak diburu. 

What is your wildest dream? 

Diculik alien, dan dibawa jalan-jalan lihat semesta raya. Dengan catatan: dipulangin lagi. 

Soul Mate


Siapa sosok soulmate bagi Anda? Kalau memang bisa lebih dari 1 orang, bagaimana arti Reza bagi Anda? 

Buat saya, siapa pun yang dihadirkan ke dalam hidup kita, baik itu jadi musuh atau teman, siapa pun yang memberikan kita pelajaran dan pengalaman yang bermakna, merekalah ‘soulmate(s)’. Karena kehadiran mereka memberikan jiwa kita kesempatan untuk bertumbuh. Perannya saja lain-lain. Termasuk juga Reza, hanya saja perannya sekarang dalam hidup saya adalah sahabat, suami, pasangan hidup, dsb. Jadi bagi saya, soulmate itu bisa macam-macam perannya dan, tentu, tak cuma satu. 

Apa yang menarik dalam diri Reza sehingga Anda memutuskan untuk menikah? (Sebutkan 3 hal) 

Sejak awal kenal, saya menemukan sosok sahabat dalam dirinya, kita bahkan pernah bercita-cita jadi tetangga. Dan kualitas sahabat itu membuat saya selalu nyaman jadi diri saya sendiri saat bersama dengan dia. Kedua, dia itu aneh. Dan saya memang suka yang aneh-aneh. Reza itu biangnya paradoks. Contohnya: kesan luarnya dia tipe orang yang manut, padahal dia itu pemberontak. Kesan lainnya dia itu waras, padahal ‘gila’. Haha! Ketiga, ini faktor yang subtil sih, tapi bagi saya nyata, yaitu: intuisi. Keputusan saya menikah dengan Reza adalah keputusan yang intuitif, nggak bisa diverbalkan dengan mudah. 

Apa pengaruh terbesar setelah kehadiran Reza dalam hidup Anda? Hal apa yang 'mengejutkan' dari Reza (yang baru diketahui setelah nikah & tinggal bareng)? 

Saya jadi lebih apa adanya. Kalau ngamuk ya ngamuk, sedih ya sedih, malas ya malas, sementara kalau dulu saya sangat ahli dalam bungkus-membungkus perasaan. Sekarang nggak lagi. Saya bahkan jadi tahu rasanya cemburu. Itu hal langka, karena saya orangnya lempeng banget soal yang begitu-begitu. Yang mengejutkan dari Reza… hmm, sejauh ini adalah soal makanan. Ternyata buat dia, perihal makanan—dari mulai ketersediaan sampai menu yang cocok—itu amat, sangat penting. Sementara selera kita nggak selalu sama. Dan jujur, saya orangnya agak serampangan soal makan. Jadi butuh kerja keras juga untuk saling menyesuaikan. Dia akhirnya bantu saya untuk lebih sistematik dalam menyusun menu dan sistem masak-memasak di rumah. 

Reza adalah soul twin Anda, apakah kalau terlalu sama malah boring? Apakah Anda tidak pernah mengalami konflik? Kalau ya, biasanya soal apa? 

Tanggal lahir kita memang cuma beda sehari, minat kita banyak banget yang sama, dan begitu banyak sinkronisitas yang kita temukan sejak awal kita kenal. Tapi sebetulnya kita juga cukup berbeda. Konflik pasti ada, cukup banyak malah, dari mulai soal kecil seperti pilih DVD sampai soal besar seperti sifat, kebiasaan, dsb. Penyelamat kita adalah komitmen untuk tetap jujur pada satu sama lain, seburuk apa pun kejujuran itu. 

Apakah cerita di buku Rectoverso berjudul Grow a Day Older adalah kisah sejati antara Anda dan Reza?

Semua fiksi saya nggak pernah sepenuhnya 100% mengambil kisah nyata. Terinspirasi, sih, iya. Dan Grow A Day Older memang terinspirasi oleh keberadaan Reza, bahkan lagunya adalah hadiah ulang tahun saya buat dia waktu itu.

So(u)litary Moment
Bagaimana cara Anda menikmati liburan? Tempat liburan & kegiatan favorit Anda? 

Saya suka liburan yang tidak terburu-buru dan tidak ambisius, yang nggak harus mengunjungi 10 tempat dalam sehari, dan sesudah itu terkapar nggak ada tenaga. Jadi, bagi saya berlibur itu ya sebisa mungkin rileks dan santaaai. Tempat favorit: Ubud. Kegiatan favorit: lihat pemandangan, makan, dan mengobrol bersama orang-orang lokal. Selalu ada hal menarik biasanya. 

Punya waktu khusus untuk 'me time'? Kalau ya, biasanya apa yang dilakukan? 

Menulis tanpa diganggu, seharian di spa atau salon (pijat, lulur, meni-pedi, creambath, dll), nonton film, atau main-main bertiga—saya, Keenan, Reza—ketawa-ketawa di tempat tidur, atau main-main air di kolam renang. 

Apakah sekarang masih perlu waktu khusus untuk mencari inspirasi dan menulis? 

Kalau saya dari dulu prinsipnya tidak pernah “mencari” inspirasi, karena menurut saya, inspirasilah yang menemukan kita. Jadi kita bisa terinspirasi di mana saja dan kapan saja. Cuma untuk menuliskannya memang butuh waktu khusus. Sekarang saya menulis kapan pun sempatnya, nggak ada waktu ideal. Pokoknya kalau ada waktu di mana saya sedang sendiri, ya itulah kesempatan saya menulis. 

'Vacation is a state of mind'. Apa maksud kalimat Anda ini? 

Kadang-kadang badan kita berlibur, pergi ke satu tempat wisata misalnya, tapi pikiran kita tidak berlibur, tetap saja memikirkan pekerjaan, dsb. Menurut saya yang paling penting dalam berlibur adalah pikirannya dulu yang berlibur. Caranya bisa dengan relaksasi, meditasi, dsb. Kalau sudah bisa begitu, nggak terlalu masalah lagi mau berlibur ke mana secara fisik. Di mana pun kita bisa “berlibur”. 

Impian liburan yang belum kesampaian? 

Ke Peru, ke Galapagos, ke Bhutan, dan keliling Asia Tenggara. Oh ya, saya juga kepingin ‘napak tilas’ perjalanannya Graham Hancock seperti di bukunya Fingerprints of the Gods.