Showing posts with label 2014. Show all posts
Showing posts with label 2014. Show all posts

Tuesday, December 23, 2014

Tabloid Wanita Indonesia | Rubrik: Bincang | Desember, 2014 | by Dewi Syafrianis

 
Halo Dee, apa kabar? Lagi sibuk apa? 

Kabar baik. Saya sedang terlibat beberapa penjurian lomba menulis dan merampungkan jadwal promosi Gelombang untuk akhir 2014 ini. 

Oh ya, Dee kan sudah nonton filmnya ya (waktu preskon, Sabtu 6 Des 2014). Puas nggak dengan hasilnya? Sudah sesuai dengan ekspektasikah? 

Menurut saya, filmnya cukup membanggakan, digarap dengan sangat serius dan produksinya luar biasa. Angin segar bagi perfilman Indonesia karena cerita dan penggarapannya yang tidak biasa. Tentunya, bukan tanpa catatan. Apalagi bagi saya yang nulis, ya. Tapi secara keseluruhan menurut saya filmnya amat layak ditonton. 

Boleh cerita lagi dong tentang ide awal menulis Supernova ini. Kan, katanya bisa dibilang ini tentang spiritual Dee yang diangkat dalam bentuk fiksi ya. Seperti apa tuh... 

Supernova saya tulis tahun 2000. Kira-kira setahun sebelumnya saya mengalami peristiwa yang mungkin bisa disebut “epifani” atau pencerahan kecil, yang mengubah pandangan saya tentang hidup. Dan sejak itu saya tertarik menyelami spiritualitas dan bagaimana hubungannya dengan dunia sains. Saya menulis Supernova karena ingin berbagi apa yang saya pikirkan. Karena saya bisanya ya nulis fiksi. 

Kesibukan Dee selain nulis novel apa lagi nih? Masih menekuni dunia menyanyi nggak sih?  Maksudnya di luar mencipta lagu ya. Apakah masih terima tawaran off air? 

Sedang enggak. Lagi fokus menulis saja. 

Seperti apa sih keasyikan menulis untuk Dee? 

Bagi saya, menulis adalah saluran berekspresi, jadi bukan sekadar asyik tapi juga kebutuhan. 

Sudah ada belum sih buku yang Dee buat bersama suami (Reza Gunawan)? Belakangan kan ada juga tuh penulis berkolaborasi dalam membuat novel. 

Belum. 

Olahraga kesukaan Dee apa sih? Apa manfaat yang didapat?

Saya cenderung suka olahraga yang cardio, seperti Body Combat, Taebo. Belakangan lagi coba interval training juga, kombinasi lari dan jalan. 

Apakah olahraga tersebut juga bagian dari me time? Kalau bukan, me time-nya apa tuh? 

Kalau buat saya, olahraga memang buat jaga kesehatan dan metabolisme. “Me time” lebih ke hal-hal yang relaks seperti membaca, melamun, meditasi, jalan-jalan, atau spa. 

Seperti apa bentuk dukungan suami terhadap karya-karya Dee selama ini? 

Dia seperti produser saya. Bukan soal kreatifnya, tapi soal jadwal. Soalnya peran saya kan bukan cuma penulis, tapi ibu dan istri. Jadi, dia ikut bantu menyusun jadwal kerja saya, dari mulai ngitung deadline sampai jam menulis, supaya peran saya yang lain nggak keteteran. Dan sejauh ini, peran dia sangat besar. Madre, Partikel, dan Gelombang nggak akan beres tepat waktu kalau bukan karena bantuannya.

Jawa Pos | Film Supernova KPBJ | Desember, 2014 | by Shika Arimasen


Seberapa besar keterlibatan Dee dalam proses produksi film Supernova? Apa dilepas begitu aja? Kalau iya, kok bisa percaya banget mengingat novel Supernova termasuk "berat" utk difilmkan?

Bisa dibilang hampir tidak terlibat sama sekali. Waktu masih membuat konsep dan draft awal saya beberapa kali diajak diskusi oleh produser, tapi secara teknis saya tidak terlibat. Secara waktu memang tidak mengizinkan karena berbarengan dengan saya menulis Gelombang. Tentunya saya harus memprioritaskan Gelombang karena peran saya sebagai penulis Gelombang tidak ada yang bisa menggantikan. Namun, di film Supernova saya merasa memang itu adalah proyeknya produser dan sutradara, bukan saya. Kecuali kalau saya terlibat secara formal, entah itu sebagai produser atau penulis skenario, ya baru saya harus ikut proses produksi dan punya suara untuk menentukan ini-itu. Tapi posisi saya dari awal memang tidak bisa terlibat karena saya tidak bisa meluangkan waktu untuk itu. “Berat” atau “tidak” menurut saya itu relatif, sih. Pada prinsipnya film ya film. Beda format dengan buku. Buku yang “berat” belum tentu harus ikutan berat kalau jadi film. Yang penting sebagai film, ya, dia harus jadi film yang bagus dari tolok ukur film. Bukan buku. Bagi saya, prinsipnya itu saja. Tidak berarti film harus memvisualkan setiap halaman dan bagian dari buku. Film harus punya identitasnya sendiri, meski ceritanya diadaptasi dari buku.

Gimana menurut Dee pemeran-pemeran tokoh Supernova? Cocok nggak sih dengan visualisasi penulis saat mengembangkan karakternya dulu?

Secara fisik sih menurut saya cocok. Bagaimana mereka memerankannya saya belum bisa menilai karena belum nonton.

Sudah sesuai ekspektasikah garapan sutradara Rizal buat Supernova dari sudut pandang Dee?

Pada saat wawancara ini dilakukan, saya belum nonton jadi tidak bisa menilai. Yang jelas, saya yakin kalau Rizal gambarnya pasti bagus.

Sebenarnya pesan yang berusaha disampaikan novel Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh apa sih? Apakah sama dengan pesan yang disampaikan versi filmnya?

Sekali lagi saya belum nonton film jadi saya tidak bisa mengetahui sama atau tidaknya. Yang jelas, novel Supernova itu adalah novel yang bercerita tentang evolusi spiritual yang terjadi pada karakter-karakternya. Pemahaman mereka akan hidup, cinta, dan jatidiri mereka akan berubah akibat konflik-konflik yang mereka alami sepanjang cerita. Jadi, setidaknya itu yang harus terlihat nanti di film.

Apakah ada rencana Supernova seri lain utk difilmkan juga?

Sejauh ini belum. Kontrak saya dengan Soraya hanya sebatas episode pertama (Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh) saja, dan belum ada pembicaraan apa-apa lagi mengenai episode-episode berikutnya.

Majalah Cita Cinta | Rubrik Intermezzo | Desember, 2014 | by Dian Probowati


Bagaimana perasaan Anda saat ada yang tertarik meminang novel Anda untuk diangkat ke layar lebar?

Biasanya sih yang pertama muncul adalah rasa penasaran. Ingin tahu apa jadinya ketika kreativitas saya diolah oleh orang lain menjadi format yang berbeda.

Bagaimana proses terpilihnya Supernova untuk dijadikan film? Sempatkah tebersit keraguan untuk mengiyakan tawaran tersebut?

Produsernya, Sunil Soraya, sudah menghubungi saya sejak 6 tahun yang lalu. Tapi saat itu saya masih belum tertarik karena saya merasa Supernova adalah cerita yang belum selesai. Setelah sekian lama, perspektif saya berubah. Sama seperti bukunya, saya rasa Supernova bisa dinikmati setiap episodenya secara terpisah-pisah. Jadi, ketika tahun 2012 Sunil menghubungi saya lagi, mind set saya sudah berbeda. Dan saya melihat keseriusan niatnya dalam menggarap film Supernova. Setelah beberapa kali berbincang-bincang, akhirnya saya melepas hak adaptasinya.

Setelah film Supernova selesai digarap, apakah Anda puas dengan hasilnya?

Saat wawancara ini dilakukan, saya belum melihat, jadi untuk hal ini saya belum bisa komentar.

Apakah Anda terlibat langsung dalam memilih aktor-aktor yang akan memerankan tokoh dalam novel Anda? (Beberapa waktu lalu saya sempat wawancara Arifin Putra, katanya Mbak Dee sendiri yang meminta dia membaca novelnya karena menurut Anda ada karakter yang cocok dimainkan untuknya.)

Terlibat langsung sih, tidak. Tapi awal-awal ketika proses casting baru dimulai saya sempat diajak diskusi oleh Sunil perihal casting. Pada akhirnya tentu dia yang memutuskan karena itu sesuai kapasitas dia sebagai produser. Saya sebatas kasih usulan saja. Arifin Putra adalah salah satu aktor Indonesia favorit saya. Saya memang pernah mengusulkan Arifin, tapi sebenarnya bukan sebagai Reuben (perannya yang sekarang), melainkan sebagai Ferre. Hanya saja peran Ferre sudah dikunci di Herjunot Ali. Saya sih oke-oke saja dengan itu. Tahunya, setelah The Raid 2 keluar, Arifin diundang casting lagi, tapi kali ini sebagai Reuben. Karena saya tahu dia aktor bagus, saya sih menyambut positif. Saya yakin dia bisa memerankan Reuben dengan baik.

Sejauh apa keterlibatan Anda sebagai penulis dalam proses produksi film?
Bisa dibilang hampir tidak terlibat sama sekali. Hanya berupa diskusi di awal saja. Atau kalau ada yang Sunil ragu-ragu mengenai makna dalam cerita Supernova, dia tanya saya.

Durasi film yang terbatas (90-120 menit) akan sulit menggambarkan keseluruhan cerita pada ratusan halaman buku. Sering kali pembaca novel kecewa ketika menonton film adaptasi novel favorit mereka. Bagaimana cara Anda agar hal itu nggak terjadi pada film yang diadaptasi dari novel Anda?

Sayangnya, kendali itu bukan di saya. Dan, saya rasa bukan itu tugas utama sebuah film yang diadaptasi dari buku. Kalau bikin film dari buku hanya sekadar untuk memuaskan pembacara, jelas itu nggak mungkin dilakukan. Setiap orang punya persepsi dan “theatre of mind”-nya masing-masing. Tugas utama pembuat film adalah bikin film bagus. Itu saja. Cerita bisa diadaptasi dari buku atau naskah orisinal, nggak masalah. Dan setiap karya, mau itu film atau buku, pasti akan ada yang suka dan tidak. Jadi, menurut saya sama-sama saja.

Apakah ada kekhawatiran tersendiri soal filmnya karena novel Anda menyandang title Best Seller?

Saat ini, enggak sih.

Apa kendala terbesar bagi Anda dalam proses pembuatan film adaptasi ini?

Karena saya nggak ikutan produksi, saya tidak merasakan kendala apa-apa.

Saat ini mulai banyak film di Indonesia yang merupakan adaptasi dari novel Best Seller, seperti 5 CM, Refrain, Mika, Laskar pelangi, dsb. Bagaimana Anda melihat fenomena film adaptasi novel di Indonesia?

Saya rasa itu memang pilihan yang dinilai strategis oleh para produser. Ketimbang naskah orisinal yang belum dikenal, cerita dari buku laris otomatis sudah punya pembaca dan massanya sendiri. Setidaknya film itu nanti sudah akan menarik perhatian para pembaca buku.

Ada nggak film adaptasi favorit Anda (dalam dan luar negeri). Sertakan alasannya.

Serial The Lord of the Rings adalah favorit saya sejauh ini, karena saya lebih bisa menikmati filmnya ketimbang bukunya. The Hunger Games juga efeknya sama di saya, bagi saya filmnya lebih charming ketimbang bukunya. Saya juga cukup suka The Giver tanpa baca bukunya.

Lebih seru mana, menulis buku atau proses membuat filmnya?

Saya lebih suka menulis buku, karena cuma sendirian dan nggak harus melalui persetujuan banyak orang.

Next, apakah sudah ada lagi yang tertarik memfilmkan novel Anda lainnya? Ataukah sekuel Supernova akan dibuat juga?

Filosofi Kopi akan difilmkan, rencana rilis April 2015, proses praproduksinya sudah dimulai. Untuk sekuel Supernova sejauh ini belum ada rencana. Kontrak saya dengan Soraya Intercine hanya sebatas episode pertama Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh saja.

Provoke Magazine | Person of the Month | November, 2014 | by Rizki Ramadan


Minggu lalu, saya baru menyelesaikan baca Gelombang, dan perasaan saya saat baca selalu sama seperti saat baca seri Supernova sebelumnya. Semesta yang ada di buku itu begitu jelas dan detail. Saya seperti mebaca ensiklopedia versi fun tentang Kalimantan, Bogor, Sianjur Mula-Mula sampai New York.  Nah, tiap mau nulis buku itu proses riset Mbak Dewi itu seperti apa, sih? Lantas, apa sih yang bisa bikin Mbak Dee gemar berimajinasi, berkhayal sampai akhirnya diejewantahkan pada novel-novelnya ini?

Pada dasarnya saya menulis berdasarkan kebutuhan cerita dan konteks. Misalnya, tradisi spiritual di dunia yang menekankan pentingnya mimpi adalah tradisi spiritual Tibet dan secara kontekstual cocok dengan cerita saya, akhirnya saya memutuskan untuk membuat setting di Tibet, yang konsekuensinya saya harus riset tentang Tibet. Lalu, kenapa Alfa pergi ke Amerika, karena saya punya keluarga yang juga menjadi imigran di sana, dan mereka keluarga Batak. Kenapa New York, karena ada kaitan yang kontras antara Alfa yang tak bisa tidur dengan kota New York yang konon tak pernah tidur. Jadi, semua yang saya ceritakan selalu berada dalam konteks yang interdependensi, saling terkait. Riset hanyalah konsekuensi dari interdependensi bagian-bagian dalam cerita.

Ngomong-ngomong soal riset, riset yang mendalam ini karena rasa ingin tahu, Mbak Dee, yang memang gedenya bisa ngalahin T-Rex,  yah? Hehe. Biasanya kalau tiba-tiba penasaran dan pengin tahu tentang sesuatu, apa yang dilakukan?

Haha! Karena “curiosity kills the cat” terlalu mainstream! Well, saya pada dasarnya memang orang yang punya banyak ketertarikan. Ketertarikan kalau digali lebih dalam bisa jadi passion. Nah, passion hanya bakal jadi “panas yang kosong” kalau tidak diberi skill. Jadi, prinsip saya, kalau punya ketertarikan, berikan dia kesempatan menjadi passion dengan cara menggalinya lebih dalam. Kalau sudah jadi passion, kasihlah skill maka passion itu bisa jadi punya nilai lebih. Kalau saya tertarik sesuatu, pertama saya akan cari tahu lebih banyak, entah lewat baca banyak buku atau riset tentang topik tersebut. Kalau ternyata benar-benar menarik, saya akan cari kursusnya. Untuk menulis Zarah, saya kursus fotografi. Untuk menulis Alfa, saya ikut workshop Meditasi Mimpi dengan seorang rinpoche dari Tibet. Menulis Madre, terinspirasi dari ketika saya ikut kursus membuat roti. Jadi, saya ini ratu kursus sebenarnya.

Satu judul lagi, Supernova akan rampung. Setelahnya, Mbak Dewi berencana bikin apa lagi nih? Bikin novel bersambung lagi dooong... hmm, atau ada rencana nulis novel renyah kayak Perahu Kertas lagikah? Oh ya, ada rencana mau rilis Inteligensi Embun Pagi kapan, mbak?

Saat ini saya memprioritaskan untuk menyelesaikan serial Supernova dulu, mungkin setelah itu baru mengerjakan proyek menulis lainnya. Perkiraan waktu rilis Inteligensi Embun Pagi belum bisa saya kasih tahu, yang jelas saya akan mulai mengerjakannya dalam waktu dekat.

Apa yang bikin Mbak Dee nulis Supernova?  Saat awal-awal mau bikin Supernova proses kreatifnya gimana, sampai akhirnya pun langsung ngeluarin judulnya sampe seri yang keenam?

Sejak pertama menulis Supernova pertama memang sudah rencana jadi serial. Titik baliknya adalah ketika memutuskan untuk memunculkan empat tokoh baru. Dan karena untuk masing-masing tokoh saya bikinkan satu buku, otomatis jadi 6 buku. KPBJ sebagai pembuka, Akar hingga Gelombang untuk memperkenalkan empat tokoh utama, dan Inteligensi Embun Pagi sebagai buku penutup.

Novel-novelmu kan udah banyak yang difilmkan, Mbak. Nah, kami para pembaca kadang merasa waswas tiap kali ada novel yang kami suka dibuatkan film. Di satu sisi penasaran dan excited pengen liat bagaimana jadinya kalau cerita di buku jadi berwujud, tapi di satu sisi takut film nggak bisa mewujudkan sensasi yang diharapkan, takut nggak sesuai dengan ekspektasi lah pokoknya. Nah, apakah perasaan kayak gitu Mbak rasakan juga? terus pertimbangan apa sih yang biasa dilakukan sebelum akhirnya setuju untuk memfilmkan buku? (Misal: script-nya harus Mbak yang tulis sendiri, dll)

Tadinya begitu, sekarang sih sudah cukup santai. Setelah pengalaman di Perahu Kertas di mana saya jadi penulis skenario, tetap saja kadang-kadang ada hal-hal yang di luar dugaan. Ekspektasi dan reaksi pembaca juga beragam. Jadi, menurut saya sih hampir sama-sama saja antara ikut terlibat atau tidak. Yang barangkali bisa membedakan secara signifikan adalah kalau saya berperan sebagai produser dan penyandang dana, nah, barulah di situ saya punya kuasa penuh. Selama belum bisa begitu, ya saya harus menerima fakta bahwa film adalah karya kolaboratif dan bukan datang dari pemikiran tunggal seorang penulis sebagaimana layaknya buku, jadi pasti keduanya berbeda. Dengan tidak lagi membandingkan, saya jadi lebih santai sebagai penonton.

Ceritain dong, Mbak, masa SMA-mu seperti apa? Saat SMA sudah suka nulis kan pasti? Saat itu biasanya nulis apa, Mbak?

Saya hobi nulis fiksi sejak kecil, dari SD. Waktu SMA, saya sudah mulai bikin artikel untuk mading, bahkan pernah bikin koran yang isinya tulisan saya semua. Saya juga rajin nulis jurnal / buku harian dari SMP kelas 1, terus sampai dewasa, termasuk masa SMA. Beberapa kali bikin cerpen dan novel pendek, yang biasanya nggak tamat. 

Sebut lima judul buku yang Mbak baca saat masa SMA dan itu berkesan.

Komik Topeng Kaca, Candy-candy, Popcorn, dan buku-buku Sydney Sheldon.

Menulis dan mengiati kegiatan kreatif lainnya kan pasti banyak godaannya, seperti bosan, mentok atau disktraksi lainnya, bagaimana cara Mbak Dewi mengatasinya?

Punya deadline. Kalau sudah jadi penulis profesional, memiliki deadline tidak sulit lagi karena biasanya sudah jadi konsekuensi. Buat yang belum profesional, bikinlah deadline untuk diri sendiri. Publikasikan deadline kalian secara online, kasih tahu teman-teman, keluarga, dsb. Jadi ada tekanan untuk menyelesaikan. Distraksi, mentok, bosan, dan sebagainya, akan teratasi dengan sendirinya begitu kalian punya deadline yang nyata.

Mbak tertarik dengan alien (di Akar dan Partikel), dan di buku Gelombang ini tentang mimpi. Nah, di edisi depan kan Provoke! bertema capture the future ini, apa yang mbak bayangkan tentang masa depan? Ada hal yang ditakuti (atau malah ditunggu) dari masa depan nggak, Mbak?

Ketika sudah berkeluarga, bicara tentang masa depan biasanya sudah lebih memikirkan tentang anak ketimbang diri sendiri. Berkaitan dengan masa depan anak, saya lebih sering terpikir mengenai masa depan bumi dengan segala perubahan drastis yang terjadi akibat ulah manusia, dari mulai kepunahan spesies sampai pemanasan global. Saya berharap manusia bisa menemukan cara koeksistensi yang lebih harmonis dengan alam dan makhluk lainnya.

Apa yang Mbak Dee suka dari menulis buku?

Menciptakan dunia, kehidupan, dan karakter baru, tenggelam di dalamnya dan berinteraksi dengan alam imajinasi. Bagi saya itu semua adalah kepuasan dan rekreasi.

Minta tips dong untuk kita-kita yang lagi belajar jadi penulis ini.

Menulis adalah keahlian yang butuh proses panjang dan jam terbang tinggi. Jadi, berlatihlah dari sekarang. Just keep it small. Have small targets, but keep doing them. Bisa satu artikel blog satu minggu, satu cerpen satu bulan, satu novel satu tahun, dsb. Tapi teruslah berlatih. Miliki wawasan dengan banyak membaca.


RAPID QUESTION

Hutan atau laut?
Laut.

Kopi atau es krim?
Kopi.

Masa depan atau masa lalu?
Masa depan.

Buku harian atau Twitter?
Buku harian.

Alien atau UFO?
Alien.

The Jakarta Globe | Frankfurt Book Fair | November, 2014 | by Jaime Adams


What were your impressions from Frankfurt Book Fair 2014?

It was bigger than I expected. I’ve heard about FBF as one of the biggest book fairs in the world, but to actually be there and saw the size of the event was an entirely different experience. When I saw the Guest of Honor building I immediately imagined how it would be like if it was the Indonesian flag, Indonesian sign, and Indonesian books presented there. It was thrilling.

How did you experience the symbolic handover ceremony, where Indonesia was officially named Guest of Honour country for next year?

It was touching. We all could see how emotional it was for Finland, knowing how hard they have prepared and their volumes of work for being the Guest of Honor in 2014. The stark contrast between the cool Finland and hot Indonesia was also very interesting. It was like we were taken to travel to another side of the globe and experience the colorful world of culture and literature. I was more than proud to be one of delegates, introducing Indonesia the best way I could, from the talk to the ikat dress I wore from Ikat Indonesia. I know it was a literature event, but at that moment it really felt it was way more than that. It’s cultural. Book became a meeting point where people from all over the world meet and be in touched with the beauty of diversity.

You traveled to Berlin afterwards to have a reading at Dussmann. Could you share with me how the event went? Who were the people in the crowd, did you think there was much interest in you/ Indonesian literature in general?

First of all, I’m so impressed with Berlin. I found the city was very charming. And Dussmann has the perfect venue for writer’s event. That night, we had Berlin locals and Indonesians, including the ambassador Mr. Fauzi Bowo. The talk was lively with many interesting questions from the audience. We talked about the literature scene in Indonesia; the challenges and also the new hope. We also talked about the importance of Indonesia’s creative economy; its future and potential. We now have a new government and how the timing coincided with Frankfurt Book Fair 2015 nevertheless brought a new energy to our book industry, I hope we can seize the moment and use it as a momentum to bring Indonesian literature to a new level and recognition.

When you came back, you immediately published your new novel, and I see that it has created quite some buzz; even though you are a "seasoned" writer, do you still get very excited when publishing a new book, and seeing the reactions of your readers?

For me, each book is different. Even though my new book, Gelombang (The Wave) is a part of Supernova series, I still feel each episode carried a new spirit and created different dynamic with the readers. So, it always got me excited. The first Supernova episode came out almost 14 years ago, but with each episode, the series keep attracting first time readers. So, it’s always got me excited. Each episode always feels like a first book for me.

How do you personally prepare for next year's Frankfurt Book Fair? What remains to be done?

So many things to be done. After I’m done with my new book promotion,  I’ll be working closely with my publisher to prepare the translations for my books. I’m pretty sure Indonesia can bring out solid cultural shows and performances for FBF ’15. I’m still concerned on the massive book translations Indonesia has to prepare, considering how short the time we have. I think that is our biggest homework.

Majalah Univ Mercu Buana | Supernova GELOMBANG | November, 2014


Selain project penerbitan buku, kesibukan apa lagi yang sedang dijalani lainnya?

Sedang ikut jadi juri untuk kompetisi yang diadakan oleh produsen gadget dan provider selular, dan baru saja selesai roadshow untuk produsen perawatan rambut.
Setahun ke depan ini saya juga akan membantu Kemendikbud dan IKAPI untuk sosialisasi peran Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015.

Apa saja yang dipersiapkan untuk peluncuran buku terbarunya?

Bentang Pustaka menyiapkan gimmick figur bernama Si Jaga Portibi yang akan berkeliling ke toko-toko buku. Selain itu, persiapan stok yang cukup tentunya.

Di mana peluncurannya?

Tidak ada event peluncuran. Konsepnya hanya serentak distribusi untuk sebagian besar wilayah Indonesia pada tanggal yang sama.

Roadshow peluncuran buku tersebut ke kota mana saja?

Masih akan disusun. Pastinya ke kota-kota besar di Indonesia.

Apa yang membedakan Supernova 5 (Gelombang) dengan Supernova sebelumnya?

Ada satu tokoh utama yang baru diperkenalkan di Supernova 5. Episode ini juga menjelaskan banyak hal yang akan menautkan semua episode. Konsep besar serial Supernova akan lebih jelas terbaca dalam episode ini.

Berapa lama proses penulisannya?

Intensifnya lima bulan, di luar dari editing dan riset.

Kendala apa yang ditemui saat proses penulisan?

Sebenarnya proses menulis Gelombang cenderung lancar sih, tidak ada kendala yang berarti. Malah ini proses penulisan yang paling sistematis dibandingkan yang sebelum-sebelumnya, karena akhirnya saya menemukan mekanisme kerja yang paling pas.

Ada rencana untuk difilmkan?

Untuk Gelombang, belum.

Apa harapan dari karya terbarunya ?

Setiap episode Supernova memiliki karakter yang berbeda-beda. Saya berharap Gelombang akan menemukan penggemarnya dan Alfa, tokoh utamanya, menjadi salah satu tokoh utama yang disukai dan meninggalkan kesan dalam.

Pesan apa yang ingin disampaikan dari Supernova (Gelombang) ini?

Saya nggak menyisipkan pesan. Nikmati ceritanya saja.

Dalam produksi film Supernova (Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh) Mbak Dewi ada keterlibatan produksi atau tidak?

Tidak ada. Hanya sebatas diskusi di awal-awal, tapi begitu produksi berjalan saya nggak terlibat.

Seberapa besar kontribusi Mbak Dewi dalam penggarapan film Supernova pertama?

Hanya berdiskusi dua-tiga kali dengan produser dan kasih komentar untuk draft skenarionya.

Majalah Suara KPU | Rubrik: Suara Selebritas | November, 2014 | by Shoffa A. Fajriyah


Apakah Anda turut berpartisipasi dalam Pemilu 2014 kemarin? Bagaimana dengan partisipasi pada pemilu sebelum-sebelumnya?

Ya, saya ikut memilih kali ini. Sebelum-sebelumnya tidak. Partisipasi saya di Pemilu 2014 memang ekstra, karena saya juga ikut jadi relawan sosmed yang mendukung Jokowi. Kami cuma bermodal group Whatsapp, isinya orang-orang industri kreatif, dari mulai sutradara, aktor, produser, MC, dan lain-lain. Partisipasi kita fokus di sosial media. Tapi saya dan suami ikut mengawasi juga penghitungan suara di TPS saya.  

Bagaimana tanggapan Anda soal keberlangsungan Pemilu 2014 kemarin?

Rasanya, itulah pemilu yang paling seru dan tajam yang pernah ada di Indonesia. Pemilu 2014 berhasil jadi peristiwa politik yang membuat banyak orang “turun gunung” dan keluar dari “selibat politik”-nya. Dari sisi itu, saya rasa Pemilu 2014 berhasil memancing kepedulian orang terhadap politik.

Bagaimana tanggapan Anda soal kinerja KPU dalam Pemilu 2014 kemarin?

Saya rasa KPU bekerja sangat keras dan memiliki peran yang luar biasa krusial dalam Pemilu 2014. Banyak momen kritis dalam Pemilu 2014 yang akhirnya bergantung pada keputusan dan kejernihan KPU. Salah satu langkah yang patut diacungi jempol adalah memberikan data terbuka bagi masyarakat yang memberikan ruang gerak bagi para penghitung independen untuk ikut mengawasi jalannya pemilu. Ini akan jadi preseden baik bagi pemilu ke depan.

Menurut Anda, apa saja hal-hal yang harus dibenahi selama penyelenggaraan Pemilu 2014 kemarin?

Sejauh memantau dari pemilu kemarin, saya rasa perlu ada pembenahan teknologi dan logistik, mengingat banyak komplain dari pemilih di luar negeri yang tidak bisa memilih karena kehabisan surat suara.

Bagaimana tanggapan Anda soal partisipasi kalangan muda yang lebih pro aktif dalam Pemilu 2014 kemarin?

Kontras dan kuatnya figur kedua capres di Pemilu 2014 memang memicu banyaknya dukungan kalangan muda. Secara umum kepedulian politik memang meningkat jauh di Pemilu 2014. Saya sangat senang dengan banyaknya anak muda yang berkampanye kreatif dan memanfaatkan teknologi untuk ikut mengawasi pemilu seperti Kawalpemilu.org. Saya membayangkan Indonesia akan punya darah segar untuk kehidupan politik jika anak-anak muda lebih banyak terlibat dan turun tangan.

Hasil suara dalam Pilpres kemarin memiliki angka yang sangat beda tipis, bagaimana pandangan Anda melihat fenomena tersebut?

Ya, itulah serunya. Seperti saya bilang tadi, kedua figur sama-sama kuat, pendukungnya juga hampir sama banyak. Belum tentu kita akan melihat pemilu seseru itu lagi ke depannya. Saya rasa terjadi pembelajaran politik luar biasa bagi masyarakat Indonesia lewat Pemilu 2014. Para pemegang kekuasaan ke depan juga harus semakin mencermati kecerdasan dan kritisnya para pemilih di pemilu-pemilu depan.

Bagaimana tanggapan Anda soal adanya gugatan-gugatan sengketa hasil pilpres?

Saya rasa sebagai pihak yang kalah wajar saja kalau memang ada keinginan untuk memperjuangkan hasil semaksimal mungkin, selama masih di koridor yang wajar dan diperbolehkan secara hukum sih menurut saya sah-sah saja. Walaupun memang terkadang saya menilai secara luas masyarakat akan lebih dimudahkan jika semua pihak percaya dan berserah pada hasil dan kemudian segera beriorientasi ke masa depan ketimbang meributkan keputusan yang sudah final. Karena meskipun tipis, tetap saja kita bicara hitungan jutaan suara.

Bagaimana tanggapan Anda soal rencana KPU yang akan menerapakan e-voting dalam pemilu mendatang? Setujukah Anda dengan rencana ini? Tolong berikan kritik dan saran agar ke depannya KPU semakin baik?

Saya sih setuju dengan e-voting, selama memang terdukung oleh infrastruktur internet dan sekuritas yang baik. Bagaimanapun juga pemilu manual itu mahal, memakan begitu banyak sumber daya, dan juga makan waktu. Dengan perkembangan teknologi di dunia saat ini, bukan tidak mungkin bagi Indonesia untuk mulai menerapkan e-voting. Apalagi dengan bentuk negara kepulauan, akan jauh lebih efisien karena kita bisa memangkas banyak aspek logistik lewat internet. (itu sekaligus jadi masukan dari saya untuk KPU)

Monday, December 22, 2014

Bintang Indonesia | Single NOAH: Seperti Kemarin | November, 2014 | by Yohanes

Sebenarnya sejak kapan Anda mengenal para personel NOAH?

Saya cuma kenal langsung sama Ariel. Waktu saya masih di Bandung dan Peter Pan belum rekaman, saya pernah nyanyi di satu acara yang home band-nya adalah Peter Pan, jadi mereka mengiringi saya nyanyi. Kakaknya Ariel kebetulan teman kampus adik saya juga.

Pandangan Anda melihat NOAH adalah sebuah grup musik yang seperti apa?

Menurut saya, sebagai band Noah itu termasuk yang progresif dan berkualitas. Saya suka aransemen-aransemen mereka. Pada saat yang sama, Noah juga punya basis fans yang sangat kuat dan luas. Jadi mereka mampu mengombinasikan kualitas dan popularitas.

Apa sebelumnya pernah bekerja sama dengan NOAH?

Belum.

Lagu seperti kemarin kabarnya judul itu yang memilih NOAH lalu Anda diminta tolong membuat liriknya? Lagu itu mengkisahkan tentang apa, ya?

Saya dihubungi oleh publisher saya, Trinity Optima. Katanya, Noah punya single tapi belum ada lirik, dan Bu Acin dari Musica sedang mencari penulis lagu untuk dimintai bantuan bikin liriknya. Saya lalu dikirimi sampelnya, dan sudah tertera judul “Seperti Kemarin”. Di sampel itu, Ariel cuma nyanyi kata-kata “seperti kemarin” di awal, selebihnya “nanana”. Saya dengarkan dulu sampelnya, saya bilang kalau memang cocok ya saya kerjakan, kalau enggak saya juga tidak akan memaksakan. Dan, ketika dengar berulang-ulang, saya suka dan setuju untuk mencoba. Saya lalu tanya kepada Ariel apakah kata-kata “seperti kemarin” ingin dipertahankan, dan menurut dia memang itu kalimat yang spontan muncul. Akhirnya saya putuskan untuk dipertahankan dan saya mengembangkan cerita lagu dari sana. Interpretasinya memang bisa banyak dan macam-macam. Tapi saya mendasarkan liriknya yang paling utama dari melodi. Menurut saya, melodinya itu terdengar uplifting dan ada suasana yang membebaskan. Akhirnya saya pilih tema “back with vengeance”, yang kira-kira tentang seseorang yang berhasil keluar dari keterpurukan atau situasi yang mengekang, dan lagu itu menjadi semacam pernyataan kebebasan dan itikad barunya. Saya rasa hal itu itu bisa relate dengan banyak orang.

Ada kebanggaan bisa menulis lirik untuk NOAH?

Saya sih senang, karena pada dasarnya menulis lagu itu passion saya, cuma tidak banyak kesempatan untuk mengeksplorasi karena saya sibuk nulis buku. Dengan berkolaborasi bersama Noah, rasanya saya bisa kembali menyalurkan passion saya di musik. Menulis lagu itu kayak bercerita juga, jadi rasanya saya punya “pembaca” baru, yakni para penikmat musik Noah.

Pesan apa yang ingin Anda sampaikan lewat lirik seperti kemarin?

Lagu itu punya banyak pesan yang positif; keberanian keluar dari comfort zone, independensi, memulai babak baru, dsb. Mereka yang mungkin terjebak dalam abusive relationship, susah move on, galau berkepanjangan, dsb, mudah-mudahan bisa tergerak untuk bangkit kalau mendengar lagu tersebut.

Sekarang kesibukan Mbak Dewi apa saja?

Sekarang sih masih dalam periode promosi buku terbaru saya, Supernova episode kelima berjudul Gelombang. Bulan Desember nanti film Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh juga bakal tayang. Setelah itu saya mau kembali lagi menulis episode Supernova yang keenam.


The Jakarta Globe | Frankfurt Book Fair | September, 2014 | by Jaime Adams


Indonesia will be Guest of Honor country at next year's Frankfurt Book Fair. You will already travel to Germany this year to attend the handover ceremony at the end of the fair, when Indonesia will officially take over from this year's GoH country Finland. What exactly will your role be, and how did you end up being chosen for it?

My role will be as a Indonesia’s to receive the scroll from Finland, a symbolic gesture to acknowledge the honor of being the next GoH in Frankfurt Book Fair. There will be a short conversation between me and the Finland’s representative afterwards on stage. I think it was Goenawan Mohamad and the National Committee who chose me for the handover ceremony. Although I’m sure they would know their reason better than I do, I think I was chosen because of my experience in some international literary events before. They would also want someone who can represent Indonesia’s book industry and I’ve been a published writer for 13 years now, so I can say a thing or two about the situation of our book industry.

Besides the handover ceremony, what other Indonesia-related events at Frankfurt Book Fair will you attend?

I will have a session with Slamet Rahardjo where we will be talking about Indonesia cinemas. The session will begin with Rectoverso movie screening. Rectoverso is the movie adapted from my short story collections and had won several awards in Indonesia and Asia.

Besides Frankfurt Book Fair, what else is on the agenda for your Germany trip?

I will give a talk at Dussman, Berlin, on Oct 14. I was told it was a very prestigious venue for writers. I’m truly honored.

Looking ahead to next year, how important do you think it is for Indonesia to be the GoH country at Frankfurt Book Fair?

Basically, all eyes will be on Indonesia. Frankfurt Book Fair is the biggest book event in the world. I heard many complaints about how unrecognizable Indonesia literature is on the international level, only few names were ever heard of, like Pramoedya Ananta Toer and recently Andrea Hirata, and that situation has been stagnant for a long time. There hasn’t been a real breakthrough in introducing Indonesia literature to the world market. Being the GoH of Frankfurt Book Fair is a golden chance for Indonesia. But I’m worried our government is not realizing it. I don’t even think most people are aware of the importance of this event. Our role in Frankfurt Book Fair 2015 has to be promoted on national scale, because not only the book industry will benefit from it, but also our creative economy industry. It should perceived as a huge cultural event and opportunity. We need to showcase our country and culture as optimally as we can.

What do you think are the necessary steps to be taken in order to make next year's fair a successful one?

Our preparation for Frankfurt Book Fair is extremely short. The government is also being very slow and rather vague on their support. I heard the term for translation funding is rather impossible, they give one month deadline to finish the whole translation. Everybody with the right mind knows there cannot be a good translation work done in only one month, not to mention the scarcity of good translators out there. So, it’s a deadlock. We need to take the initiative. Everybody’s involved in the book industry has to socialize and promote Frankfurt Book Fair to the mass. It’s a golden opportunity which should be celebrated by our creative industry. We don’t only display books, we can display our culinary treasure, our dance, our culture, our music, and share those beauties to the world. If the government is holding back their support, for whatever reason, then we must actively work outside of that frame.

Will you be able present your own books in German as well? Have you found a German publisher that shows interest in your novels?

It’s a tricky situation. I wrote eight books, but only one book has an English translation. Some writers with dozens of books may not even have a single English translation. All this time, we never really pay attention to the importance of translation. Therefore, being the Guest of Honor of Frankfurt Book Fair is a like huge slap on our face. It’s either a blessing or a curse. There won’t be enough time to translate a whole book in significant quantity. So, basically we can only translate synopsis into English or German and try to sell the rights to international publishers. The trade will only start this October, so we’ll see.

Currently, there is a new "challenge" making its rounds in social media circles, where people can nominate their friends to compile a list of books that have inspired them the most. What books would make it to your list?

I think it will be interesting to introduce the work like Es Tito’s Negeri Kelima (The Fifth Country). The book packages Indonesia’s history in a popular, fast-paced, story telling. Something we don’t see so often in the market.

Are you working on a new book at the moment?

Yes. I just finished the fifth installment of my Supernova series, called Gelombang. It’ll be out in bookstores on Oct 17. I will start writing the final book immediately afterward.

Are there any other outlets you ever wanted to try to unleash your creativity, like film, theater or art?

Aside of writing books, I still involve in the music industry, although mostly now as a songwriter and not into stage performance so much. I partly invole in movies too. I wrote my first screenplay Perahu Kertas two years ago. But since I want to focus in finishing my Supernova series, I can’t afford to get involve in any other creative projects, at least for another one or two years. I’m seriously planning to write a cook book, though.

You are a mother, a wife, a writer, a singer and a songwriter. Don't you ever feel tired? :)

Those roles can be overwhelming, indeed. Ha-ha! It’s like a juggling game, day in day out. Everyday I learn to set my priorities straight, to work more efficiently and effectively. My office is practically at home, and I still have daily household chores and a family to take care of. So, I’m very stingy of my time. I say no to most meetings. I live in suburb (Tangerang Selatan), and it’ll cost me a whole day for an hour meeting in Jakarta. Regarding my work, I rely on e-mail and phone communications. To finish my latest book, I need to wake up before everybody else at home, so I still have that silence and uninterrupted moment. For months, I woke up at four AM and wrote for two-three hours straight. I declined most talkshow and teve invitations for almost a year. At first I was shaky because I felt like I was missing out opportunities, but I gradually learn to see what really matters. I can’t stress more of how important it is to see the distinction. Sometimes we’re just busy without being truly productive.