Showing posts with label Menulis Lirik. Show all posts
Showing posts with label Menulis Lirik. Show all posts

Sunday, April 5, 2020

IDN Times | Menulis Lagu | Sept, 2019 | Febriyanti Revitasari


Gimana sih cara Mbak Dewi menyatukan syair yang bercerita dengan nada yang menyentuh?

Dalam penulisan lagu, saya memandang lirik dan nada adalah satu kesatuan. Keduanya saling menopang dan membangun. Jadi, kata-kata tertentu jika ditempel di atas melodi yang tidak sesuai, meski kata-kata itu puitis dan bagus, belum tentu punya efek kuat. Di dalam teori menulis lagu, kesesuaian tersebut dinamakan "prosody". Bagi saya, prosodi merupakan elemen terpenting dalam lagu.

Kayaknya, hampir gak ada lagu mbak yang gak laris manis. Apa ada ritual khusus kalau mau menciptakan lagu tersebut?

Tidak ada. Menulis lagu itu ada miripnya dengan menulis cerita, kita harus melakukan proses pengecekan dan penyuntingan berulang. Yang saya lakukan hanyalah mengecek dan menyunting berulang kali sampai segalanya pas.

Kapan nih album terbarunya Dewi Lestari keluar? Apa mau fokus nulis buku terus?

Sejujurnya, belum tahu kapan. Keinginan ada, tetapi saya sudah begitu lama tidak bermain di industri musik, jadi rasanya asing dengan peta industri musik saat ini yang sudah berubah jauh dibandingkan saat saya masih aktif dulu.

Setelah reunian sama Rida & Sita di Festival Mesin Waktu, apakah ada rencana membuat album RSD yang baru? Atau hanya akan konser reuni saja seperti di acara tersebut? Kenapa?

Kami pernah berbincang bertiga, dan kami sama-sama merasa bahwa album baru bukanlah tujuan kami, meski tidak menutup kemungkinan itu terjadi jika ternyata ada momen yang serba pas. Kami cukup senang dengan sesekali manggung bersama membawakan lagu-lagu RSD yang lama. Lagipula, yang ingin didengar oleh penonton adalah lagu-lagu kami yang lama. Karena itu pula, pentas-pentas yang selama ini mengundang kami memang konsepnya nostalgia. Dan, kami tidak keberatan dengan itu, malah senang.

Kalau bikin lagu, sudah ada bayangan belum siapa yang akan nyanyikan lagunya?

Kadang-kadang. Terkadang saya "meminjam" suara vokalis tertentu saat berproses kreatif. Namun, hasil akhirnya belum tentu vokalis yang saya bayangkan itu yang menyanyikan.

Menurut Mbak Dewi, perempuan hebat itu seperti apa?

Yang nyaman dengan dirinya sendiri dan punya manfaat untuk orang lain.

Di era yang semakin canggih seperti sekarang, perempuan itu harus berbuat seperti apa? Apa tantangan kita sebagai perempuan?

Saya rasa, tantangannya sama bagi semua gender. Kita semua harus melatih diri berpikir kritis dan memutakhirkan pengetahuan kita agar tidak tergerus oleh kemajuan zaman dan teknologi.

Pernah gak sih mengalami diskriminasi gender di dunia kerja yang Mbak Dewi jalani?

Belum.

Ceritain dong pengalaman yang paling berharga atau terbahagia yang pernah dialami!

Ketika pertanyaan itu diajukan kepada orang yang sudah berusia 40 tahun lebih, menjawabnya susah karena sudah terlalu banyak pengalaman berharga dan bahagia.

Kalau momen yang paling bikin sedih?

Sama seperti jawaban di atas.

Siapa sosok yang paling menginspirasi Mbak Dewi, baik dalam menulis, bermusik, dan kehidupan sehari-hari? Apa alasannya?

Saya tidak pernah terinspirasi oleh satu orang saja, apalagi untuk bidang sebanyak itu. Dalam menulis, saya ingin terus berkarya hingga lanjut usia, seperti Pak Sapardi ataupun Goenawan Mohamad yang kiprah dan jasanya terhadap industri penulisan tetap signifikan meski beliau-beliau sudah berusia lebih dari 70 tahun. Untuk musik, sosok Erwin Goetawa juga menginspirasi. Beliau mampu konsisten mempertahankan kualitas kerjanya serta punya branding yang kuat.

Apa pesan Mbak Dewi buat para perempuan di Indonesia agar tetap survive dengan tantangan dan kerasnya zaman?

Kenali diri sendiri dengan baik, perkaya diri dengan ilmu dan wawasan, buka hati dan buka pikiran, belajar menerima keberagaman.


Friday, April 3, 2020

Jawa Pos | Hari Buku Nasional | Mei, 2018 | Fahmi Samastuti


Sebelum berkarier sebagai penulis, Dee dikenal sebagai musisi. Seperti apa transformasi dari musisi jadi penulis?

Sebetulnya tidak ada transformasi yang khusus, sih. Hanya lambat laun karena saya lebih produktif menulis, orang jadi mengenal dan mengasosiasikan saya lebih kuat ke menulis ketimbang musik/menyanyi. Saya juga masih membuat album sampai tahun 2009, dan sesekali menulis lagu untuk penyanyi lain, maupun soundtrack film. Jadi, sebenarnya masih berjalan paralel, hanya saja di menulis saya lebih rutin memproduksi buku baru.

Adakah kesamaan menulis lirik untuk lagu dengan menulis untuk cerpen, novel pendek, atau novel panjang?

Bagi saya, semuanya sama-sama harus memiliki struktur cerita, meski lirik hitungannya jauh lebih pendek dan ruang geraknya lebih sempit karena dibatasi durasi. Hanya saja, keuntungan lirik adalah hadirnya melodi, aransemen, yang kesemuanya bisa memperkuat cerita.

Banyak orang maupun penulis yang punya penulis idola. Untuk Dee pribadi, siapa penulis favoritnya (baik luar maupun dalam negeri)?

Saya jarang mengikuti katalog karya satu penulis yang sama terus menerus. Koleksi buku saya juga sebetulnya lebih banyak nonfiksi karena saya adalah pembaca yang dipicu oleh ketertarikan saya akan topik tertentu. Namun, tentunya ada karya-karya penulis yang meninggalkan kesan mendalam bagi saya, baik dari gaya tulisan maupun kepenulisan (produktivitas, keberanian menggebrak, dsb). Buku-buku tersebut antara lain: Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono, Saman – Ayu Utami, Sightseeing – Rattawut Lapcharoensap, Manusia Harimau – Eka Kurniawan. Saya pun menyukai gaya tulisan Dave Eggers dan mengagumi kemampuan Dan Brown dalam membuat struktur. Secara personal, saya juga mengagumi sosok Pak Sapardi dan Goenawan Mohamad karena produktivitas dan aktivitas mereka yang terus berlanjut hingga usia senior.

Dee banyak mengambil Indonesia, entah tempat maupun budayanya, untuk latar cerita. Mengapa demikian? 

Tentu saja karena saya tinggal di Indonesia, sehingga pengamatan saya banyak datang dari sekeliling saya. Semata-mata karena kebutuhan cerita, saya hampir tidak pernah punya misi khusus untuk mengangkat budaya tertentu. Tapi, sebenarnya tulisan saya lebih kontemporer ketimbang tradisional. Jadi, meskipun ada budaya lokal yang saya ambil, seringnya dikombinasikan dengan kehidupan masyarakat modern. Selain setting lokal, sebenarnya saya cukup sering mengambil setting di luar negeri.

Oh ya, kalau boleh tahu, buku apa saja yang ada di Must Read List-nya Dee (mungkin empat atau lima judul) dan mengapa?

The Life-Changing Magic of Tidying Up – Marie Kondo
Self-Aware Universe – Amit Goswami
Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono
On Writing – Stephen King
The Joy of Living – Yongey Mingyur Rinpoche

Alasannya, karena kesemuanya penting, menarik, dan transformatif.



Friday, May 12, 2017

UPH Conservatory of Music - Skripsi | Menulis Lagu | Januari, 2017 | Novia Arifin


Apakah latar belakang Dewi Lestari sehingga dapat berkarya tidak hanya sebagai penulis namun juga sebagai pencipta lagu?

Dorongan ataupun ketertarikan mencipta lagu sudah saya rasakan sejak kecil. Seingat saya, saya pertama kali coba-coba bikin lagu sejak kelas 2 SD, tapi tentunya belum terstruktur dengan baik. Baru kelas 5 SD saya mencoba lebih serius dan berhasil membuat dua lagu pada saat itu. Sehabis itu, terus coba-coba di bangku SMP. Namun, baru saat kuliah saya mulai lebih serius lagi. Lagu pertama saya yang masuk dapur rekaman adalah Satu Bintang di Langit Kelam, saya tulis tahun 1994, dan masuk ke album perdana Rida Sita Dewi tahun 1995. Saya menulis juga sejak kecil, sejak SD. Kelas 5 SD pertama mencoba bikin novel, dan terus coba-coba. Jadi, sejarahnya kurang lebih sama dan berjalan paralel. Intinya, passion saya adalah story-telling. Fiksi atau lagu, hanya perkara mediumnya saja.

Bagaimana pengalaman Dewi Lestari saat membuat karya musik pertama/lagu pertama? Urgensi/inspirasi apa yang dirasakan? Kronologi pembuatannya seperti apa?

Bagi saya, proses bikin lagu itu selalu “balap-balapan” antara melodi dan lirik. Terkadang lirik membuka pemicu untuk melodi baru, terkadang melodi yang memicu lirik. Jadi, datangnya silih berganti. Baru setelah rampung, saya punya kesempatan untuk mengedit lirik agar lebih rapi dan sempurna. Inspirasinya biasanya datang dari merasakan sebuah emosi. Bisa dari pengalaman pribadi, maupun pengalaman orang lain. Tapi, saya selalu melihat frame sebuah cerita untuk bisa dijadikan lagu. Jadi, tetap ada unsur story-telling.

Bagaimanakah proses kronologi pembuatan lagu yang sering dilakukan atau sudah menjadi kebiasaan bagi Dewi Lestari?

Mirip dengan jawaban di atas. Biasanya, muncul potongan sedikit melodi, lalu beberapa kata untuk lirik. Kemudian, saya lanjutkan di piano. Proses merampungkannya jarang sekali jadi. Biasanya, bisa makan waktu beberapa hari. Bahkan beberapa minggu. Jadi, saya bolak-balik mengunjungi draf lagu, hingga rampung. Baru, saya edit ulang lirik agar rapi; efisien dalam penggunaan kata, enak dinyanyikan, ceritanya lebih runut.

Apakah inspirasi yang biasanya memicu Dewi Lestari sebelum membuat sebuah lagu?

Emosi, yang kemudian saya kembangkan menjadi cerita.

Bagaimana proses pembuatan lirik yang diterapkan dalam pembuatan lagu bagi Dewi Lestari?

Mirip dengan jawaban-jawaban di atas. Kalau sudah ada bingkai cerita maka biasanya lebih mudah. Sama dengan prinsip bercerita, awal itu biasanya set-up, di bait kedua sudah ada “persoalan” lagu, dan biasanya pesan utamanya muncul di reffrain.

Dalam pembuatan lirik adakah teori yang dipakai khususnya teori dalam ilmu sastra? Misalnya semantic atau rima, apakah rima penting untuk membuat lirik?

Tidak berdasarkan teori tertentu. Lebih banyak feeling. Rima biasanya saya terapkan karena bagi kuping saya lirik yang punya rima lebih enak didengar.

Apakah keberadaan teori sangat berperan dalam pembuatan lagu secara keseluruhan atau tidak sama sekali?

Karena saya otodidak, saya tidak menjalankan teori tertentu. Belakangan baru saya baca-baca buku tentang songwriting, dan ternyata sebagian besar sudah saya terapkan tanpa disadari. Misalnya, tentang prosody, yakni kesesuaian melodi dan lirik. Bagi saya, prosody sangat penting. Dan, itu terasa ketika saya mendengar lagu yang menurut saya baik. Dan juga terasa ketika saya mendengar lagu yang prosody-nya nggak pas, contohnya lagu dengan melodi cerah tapi diberi lirik yang sendu. Jadi, nggak terasa “kawin”.

Manakah yang lebih didahulukan dalam membuat lagu, lirik atau melodi lagu?

Sama seperti jawaban no 2.

Jika lirik dibuat terlebih dahulu, adakah pemberlakuan/treatment yang sering digunakan saat membuat melodi berdasarkan lirik yang ada?

Saya tidak pernah membuat lagu (melodi) dengan lirik yang sudah rampung terlebih dahulu. Selalu overlapping.

Jika melodi dibuat terlebih dahulu, adakah pemberlakuan yang sering digunakan saat membuat lirik?

Sama dengan jawaban no 9.

Lirik yang menyesuaikan melodi atau melodi yang menyesuaikan lirik? Manakah yang biasanya ‘dikorbankan’?

Keduanya saling menyesuaikan.

Apakah lirik dan melodi memiliki posisi yang sederajat atau ada yang lebih penting diantara keduanya?

Bagi saya sama penting. Lirik indah tapi melodi tidak menggugah sama lemahnya dengan melodi indah tapi lirik tidak menggugah.

Hal apakah yang paling penting dalam sebuah lagu sehingga lagu dapat dikatakan matang?

Strukturnya rapi, jelas. Baik dari segi melodi, bagan lagu, hingga cerita/konten lagu.

Apakah makna lirik berhubungan dengan pergerakan melodi dalam lagu?

Itu yang tadi saya sebut dengan prosody. Salah satu lagu dengan prosody terbaik konon adalah I Don’t Have The Heart (James Ingram). Bisa dipelajari bagaimana ketika melodi dan lirik sudah “kawin” atau terintegrasi, maka yang terjadi adalah cerita. Tidak lagi bisa kita pisahkan melodi dan liriknya. Keduanya saling memberi penekanan yang tepat hingga baik melodi dan lirik sama-sama kuat bagi pendengar.

Apa pendapat Dewi Lestari tentang lagu yang memiliki makna lirik yang buruk/negatif? (Contohnya: Yura – Cinta dan Rahasia dll.)

Saya punya definisi berbeda tentang makna lirik yang negatif. Bagi saya, lirik yang sampai taraf negatif itu kalau sudah sampai ke taraf menghasut ke tindakan kriminal seperti membunuh, dsb. Namun, apa yang diungkap dalam contoh lagu yang kamu berikan, saya rasa masih sangat realistis dan banyak dialami oleh orang-orang. Jadi, saya merasa netral-netral saja dengan lagu tsb.

Apakah cerita lagu diutamakan dalam pembuatan lagu?

Bagi saya, iya.

Apakah ada pemberlakuan yang berbeda antara verse, pre chorus maupun chorus dalam hal lirik maupun melodi?

Saya belum terlalu jelas dengan makna “pemberlakuan” dalam konteks pertanyaan di atas. Tapi tentu saja karakteristik verse, pre-chorus, dan chorus berbeda. Verse sifatnya membuka, pre-chorus sebagai jembatan, dan chorus biasanya punya kekuatan ekstra, nadanya lebih klimaks. Secara lirik, bergantung pendekatan penulis lagunya seperti apa. Kalau saya, prinsipnya seperti story-telling. Ada set-up, ada masalah, ada penyelesaian/kesimpulan.

Apakah pencipta lagu terbiasa mengerjakan lagu secara individual atau lebih menyukai bekerja sama dengan musisi lainnya? Jika bekerja sama dengan musisi, bagaimanakah prosesnya? Dan apakah sulit karena tentu saja memiliki perbedaan selera dan pendapat.

Hal tersebut sifatnya individual. Jawaban saya tentu tidak bisa mewakili penulis lagu lain. Kalau saya sejauh ini selalu bekerja sendiri.

Apa latar belakang dari lagu Firasat yang dibuat oleh Dewi Lestari?

Banyak lagu saya yang tidak punya “latar belakang” atau “misi”, lebih ke lahir begitu saja. Firasat, adalah salah satunya. Yang saya ingat, waktu itu saya diminta bikin lagu untuk album Marcell. Dan, karena suara Marcell cenderung lebih R&B, saya kemudian membayangkan melodi yang kira-kira cocok dilantunkan Boyz II Men, dan lalu muncullah potongan melodi di reffrain Firasat, yang tak lama kemudian saya pasangkan dengan kata-kata “Cepat pulang”. Setelah itu mulai terbingkai sebuah cerita yang lebih lengkap.

Adakah interaksi yang terjadi antara lirik dengan melodi dari lagu Firasat? Jika ada, seperti apakah interaksi tersebut?

Sama seperti jawaban sebelum-sebelumnya. Karena saya menciptakan lagu secara overlapping, keterkaitan antara melodi dan lirik otomatis jadi sangat kuat karena saling mendorong terciptanya satu sama lain. Begitu juga dengan Firasat.

Bagaimanakah kronologi pembuatan lagu Firasat?

Sama seperti jawaban no 19. Sekadar tambahan, Firasat adalah lagu yang sepenuhnya saya ciptakan di “kepala”, tanpa bantuan alat musik. Karena saya bikinnya waktu itu di luar kota. Baru ketika saya pulang ke rumah, saya coba mainkan di piano untuk tahu chord-nya.

Lebih penting mana, membuat lagu untuk disukai orang yang mendengar atau membuat lagu agar orang mengetahui pesan lagu tersebut, suka atau tidak suka?

Pada prinsipnya, saya hanya menulis lagu yang ingin saya dengar. Artinya, patokannya adalah saya sendiri. Saya harus suka duluan sama lagunya. Orang lain suka, saya anggap bonus. Tapi, saya tidak pernah bikin lagu yang saya sendiri nggak suka.

Menurut pendapat Dewi Lestari, apa perbedaan musik instrumental dengan musik ber-lirik? Apakah ada yang lebih bermanfaat/bagus/komunikatif?

Saya rasa musik instrumental lebih mengedepankan pada penekanan pada instrumen tertentu atau sebuah aransemen/komposisi multi-instrumen. Sama halnya dengan musik yang berlirik, keduanya tentu punya cerita yang ingin dikomunikasikan. Hanya saja pada musik instrumental, cerita itu tidak disampaikan secara verbal. Jadi, bukan soal lebih bagus atau tidak. Kembali kepada tujuan maupun preferensi kreatornya. Yang jelas, biasanya musik instrumental punya interval melodi yang lebih luas dan kompleks karena tidak perlu memperhitungkan rentang maupun kenyamanan vokal sebagai salah satu instrumen. Sementara musik yang berlirik biasanya memperhitungkan kecocokan dan kenyamanan vokalis untuk membawakan lagu.

Sriwijaya Air Magz | Inspiring People | April, 2016 | K. Ayu Budiani


Dee terkenal piawai menggunakan bahasa-bahasa puitis dalam membuat lirik lagu. Jika ditanya, Dee merasa tipe orang romantis atau bukan?

Lumayan. Namun, khusus dalam kepenulisan, saya bisa karena terbiasa. Dalam menulis, saya harus menempatkan diri saya dalam konteks cerita, meresapi emosi yang terjadi, sehingga bisa mengomunikasikan emosi tersebut dalam kata-kata yang saya susun.

Siapa musisi favorit? Kenapa?

Saya cenderung menyukai mereka yang singer-songwriter, karena biasanya lagu-lagu mereka sangat mengena. Saya menyukai Sarah McLachlan, Sara Bareilles, Emily Saliers dari Indigo Girls.

Dari mana biasanya mendapat inspirasi lagu?

Tidak tentu. Buat saya selama ini proses bikin lagu itu seperti tersambar petir. Kalau terjadi, terjadilah. Saya tidak sengaja mencari-cari.

Sebagai penulis lagu, bagaimana menyelaraskan antara lagu dengan orang yang menyanyikan?

Patokan saya bukan kepada yang menyanyikan, karena saya tidak tahu pasti siapa yang akan menyanyikan lagu saya. Saya lebih memperhatikan aspek prosodi, yakni kesesuaian melodi dengan lirik. Prosodi itu butuh kepekaan. Tapi, jika kita sudah bisa mengamati itu dengan jeli, kita bisa tahu bahwa frase melodi tertentu cocok dengan bunyi vokal tertentu. Kemudian, frase melodi tersebut akan membentuk suasana tertentu yang cocok dengan tema tertentu. Ketika ada lagu yang prosodinya nggak enak atau nggak pas, saya bisa merasa dan terganggu. Misalnya, ada frase melodi cerita tapi diisi dengan lirik yang sedih dan sebaliknya. Atau ketika ada pemotongan suku kata yang tidak pas dengan napas melodi. Atau ketika ada kata yang artikulasi hurufnya menyulitkan ketika dinyanyikan. Hal-hal seperti itu yang saya perhatikan.

Seorang penulis harus banyak membaca. Seberapa seringkah Dee membaca buku?

Kalau sedang riset, bisa sangat banyak. Terus terang, belakangan saya kesulitan punya waktu luang untuk membaca. Kalau memang niat banget, saya sampai harus mencantumkan membaca dalam to-do-list.

Siapa penulis favorit dan apa judul buku favorit? Kenapa?

Tidak ada satu penulis fiksi yang saya ikuti terus dengan setia, mungkin karena saya bukan pembaca fiksi yang sabar. Tapi, ada beberapa penulis nonfiksi yang saya ikuti terus karena saya suka topiknya, seperti Graham Hancock.

Dee adalah seorang ibu dari dua anak, bagaimana membagi waktu dengan keluarga namun bisa tetap berkomitmen menulis?

Dengan mengaturnya dalam jadwal kerja. Ketika saya sudah memilih satu proyek kreatif, saya langsung membuat deadline, menyusun jadwal harian, dan dalam perhitungan tersebut saya sudah memilah waktu saya kerja dan waktu saya buat keluarga dan hal lainnya. Ketika komitmen itu dimulai, saya menyebut fase tersebut “fase masuk gua”. Biasanya, selama fase masuk gua berlangsung, saya membatasi seminim mungkin kegiatan saya di luar rumah, jadi saya masih punya waktu untuk keluarga. Karena dengan hanya menulis saja sudah begitu banyak jam yang saya dedikasikan untuk bekerja, kalau saya masih mengambil lagi komitmen-komitmen pekerjaan lain, bisa-bisa saya tidak punya waktu lagi untuk rumah dan keluarga. Jadi, memang harus ada yang dikorbankan.

Semua buku Dee yang diterbitkan sudah difilmkan. Sejauh mana keterlibatan Dee dari semua film-film adaptasi buku Dee tersebut?

Beda-beda bergantung kesepakatan saya dengan pihak produser dan juga kesanggupan saya. Karena meski produsernya kepingin saya terlibat, kalau saya sedang ada fase menulis, saya pasti akan mengutamakan buku saya. Mengapa? Karena pertama, film bukan pekerjaan inti saya. Kedua, dalam film, posisi saya masih bisa digantikan atau malah ditiadakan, karena bagaimana pun produser mengadaptasi karya saya, yang artinya mereka punya kebebasan untuk melakukan interpretasi ulang. Sementara tidak ada lagi yang bisa menuliskan buku saya selain saya sendiri.

Bagaimana Dee memandang sebuah film yang diadaptasi dari buku?

Film yang diadaptasi dari buku adalah hal biasa. Film-film pertama di dunia pun diambil dari adaptasi buku. Jadi, ini adalah praktik yang lazim. Film yang diadaptasi dari buku biasanya menjadi polemik di antara pembaca setia, ada yang suka dan tidak. Namun, menurut saya, semua film juga biasanya begitu. Akan ada yang suka dan tidak. Pada akhirnya, sebuah produksi film tugas utamanya adalah menghadirkan film yang sebaik mungkin. Terlepas itu diadaptasi dari buku atau bukan.

Piawai dalam menulis karya fiksi, lalu menulis skenario pertama kali untuk Perahu Kertas. Apakah mengalami kesulitan untuk menulis skenario? Jika iya, bagaimana mengatasi kesulitannya?

Skenario adalah hal yang sama sekali berbeda dengan penulisan novel. Pakemnya, pendekatannya, eksekusinya, semuanya beda. Jadi, untuk menulis skenario saya harus belajar ulang dari nol. Saya baca lagi teori-teori menulis skenario, diskusi dengan beberapa penulis skenario, dsb.

Jika disuruh untuk memilih, bermusik atau menulis? Kenapa?

Tidak bisa memilih. Keduanya sudah inheren ada di dalam diri saya. Bagi saya, musik dan menulis hakikatnya satu: story telling.

Ide gila apa yang ingin dituangkan di dalam tema cerita di buku?

Pendekatan saya kepada buku tidak seperti itu. Saya tidak menulis semata-mata karena punya “ide gila”. Saya menulis karena ingin menciptakan cerita yang baik. Dan, untuk itu tidak selalu dibutuhkan ide yang gila, ide yang biasa-biasa pun jadi, selama dikerjakan dengan baik hasilnya bisa jadi luar biasa.
 
Pernah punya keinginan untuk menulis skenario orisinal untuk film? Film genre apa?

Saat ini belum.

Banyak sekali anak-anak muda yang bercita-cita menjadi penulis dan karyanya dipajang di toko buku. Sama seperti impian Dee. Namun tak sedikit pula yang mengalami penolakan. Bisa berbagi sedikit untuk mereka bagaimana supaya tidak patah semangat?

Penolakan adalah hal yang akan dilalui semua penulis, skalanya beda-beda. Mungkin yang satu ditolak penerbit, yang satu lagi ditolak media, yang lain mungkin dikritik teman-teman yang akhirnya terasa seperti “penolakan”. Intinya, tidak semua orang akan menyukai karya kita. Penulis pemula mengalami itu, penulis profesional pun masih akan terus mengalami itu. Ketika saya mengalami hal tersebut, saya menggunakannya sebagai momen refleksi. Biasanya, kita akan temukan beberapa hal yang perlu kita perbaiki dari karya kita. Momen seperti itu juga menjadi pengingat bagi saya: untuk siapakah saya menulis? Saya tidak menulis untuk memuaskan orang lain. Saya menulis untuk kepuasan diri saya sendiri. Kalau ada orang yang suka, saya anggap bonus. Jadi, selalu kembalikan niat kita ke bentuknya yang paling dasar. Saya menulis buku yang saya ingin baca. Itu saja.

Sukses menerbitkan Supernova seri terakhir di awal tahun 2016. Target dan impian apa lagi yang belum tercapai?

Saya tidak melihatnya lagi seperti itu. Saya memandang menulis adalah proses kontinu. Sama halnya seperti petani menghadapi musim. Habis Supernova 6 akan datang buku berikutnya, dan seterusnya.  

Kapan menerbitkan buku lagi?

Sekarang ini saya break dulu. Masa rihat bagi saya sama pentingnya dengan masa bekerja. Saya ingin mengambil napas panjang sebelum mulai sesuatu yang baru. Mungkin saya baru akan menyusun proyek kreatif berikutnya di akhir tahun. We’ll see.

Wednesday, February 17, 2016

Majalah TEMPO | Musik & Memori '90-an | November, 2015 | by Aisha Shaidra

Sebagai salah satu musisi yang terkenal di era 90-an adakah musisi di era yang sama yang jadi idola Dee Lestari? Siapa dan kenapa?

Banyak. Pada umumnya saya menyukai para penulis/pencipta lagu (singer-songwriter) seperti Sarah McLachlan dan Paula Cole. Untuk band saya menyukai Tears For Fears (walaupun mereka lebih 80’s ketimbang 90’s). Dan, secara umum saya menyukai musik-musik 90’s seperti Pearl Jam, Blind Melon, Crowded House, dsb. Untuk musik Indonesia tahun segitu saya senang juga Sheila On 7, Padi, Tic Band, Jikustik.

Banyak lagu yang diciptakan Dee untuk RSD, jika bisa kembali ke era 90-an adakah lirik lagu yang ingin diubah dari lirik atau segi musiknya? Kenapa?

Nggak, sih. Saya rasa, baik lirik maupun musik, memang akan selalu mencirikan sebuah zaman. Kalau diubah malah bisa jadi berubah nuansa waktunya. Kecuali kalau konteksnya re-make untuk dibuat lebih dekat ke zaman sekarang. Tapi kalau konteksnya “menyesal”, andaikan dulu dibikin begitu dan begini, nggak ada perasaan seperti itu, sih.

Banyak orang dewasa saat ini mengelu-elukan banyaknya tontonan menarik pada masa kecil mereka dibandingkan dengan tontonan saat ini, bagi Dee sendiri tontonan di era 90-an apa yang saat itu paling menarik dan berkesan? Kenapa?

Saya bukan penonton televisi. Tapi, yang saya ingat, tahun 90’an adalah masa kejayaan MTV Indonesia. Selain itu, sitkom Friends juga sangat terkenal. Saya juga ingat beberapa sinetron di Indosiar pada awal mereka berdiri itu bagus-bagus, seperti Abad 21, Kipas-Kipas Asmara, dll.

Pertanyaan serupa berlaku juga untuk beragam jenis permainan dan jajanan, jenis permainan dan jajanan apa yang di era 90-an banyak dimainkan dan sangat berkesan buat Dee?

Tahun ‘93 saya sudah kuliah, jadi nggak terlalu lagi melakukan permainan kanak-kanak dan jajan. Tapi, yang saya ingat sih, saya main PS dan sering ke warnet untuk browsing karena waktu itu belum punya koneksi internet sendiri. Jajanan rasanya nggak ada yang terlalu spesifik, tapi saya ingat itu adalah awal-awalnya kuliner di Bandung mulai terkenal ke Jakarta. Banyak yang datang untuk memborong pisang molen, batagor, dan variasi serabi mulai macam-macam, bukan cuma oncom dan gula merah.

Barang seperti apa yang pada era tersebut menurut Dee sangat keren (barang di sini misalnya mainan, atau benda-benda pakai yang hits pada saat itu)? Kenapa?

Sepatu Doctor Marten. Keren, karena memang keren, sih. Sampai sekarang juga model sepatu Docmart tetap tidak lekang oleh zaman, dan kualitasnya memang bagus. Juga jins Levi’s 501 yang pakai kancing (bukan ritsleting). Bagi saya, model jins seperti itu lebih manusiawi ketimbang model skinny jeans zaman sekarang yang mencekik kaki.

Kalau misalnya Dee diberi kesempatan untuk menjadi salah satu tokoh kartun anak yang terkenal di tahun 90-an Dee pilih menjadi siapa? Kenapa?

Saya nggak ingat tokoh kartun terkenal tahun ’90-an. Seingatku, Doraemon. Tapi sampai sekarang Doraemon tetap beken. Saya nggak pengin jadi Doraemon, tapi mau kalau punya teman kayak Doraemon

Seantusias apa Dee menyiapkan diri untuk berpartisipasi dan menyambut konser 90-an (The 90's Festival di Istora Senayan)?

Buat saya sih, dibawa santai saja. Tidak terlalu tegang juga, karena toh, sebetulnya orang datang kebanyakan untuk nostalgia. Kami nyanyi juga bukan untuk lagi mengejar ambisi tertentu atau ingin eksis, tapi karena untuk bersenang-senang.

Tuesday, December 16, 2014

Hers Magazine | Profil | Juli, 2005 | by Ina


Orang pertama kali mengenal Anda sebagai penyanyi, bagaimana ceritanya sampai tiba-tiba Anda ingin jadi penulis? 

Sebetulnya hobi menulis itu sudah sejak kecil sekali, bahkan bisa dibilang sebelum menyanyi. Kalau hobi bermusik lebih dulu subur karena terdorong oleh keluarga dan lingkungan yang pecinta seni semua, tapi hobi menulis benar-benar hadir secara independen. Saya juga tidak pernah ikut lomba atau aktif mengirim ke media cetak, jadi betul-betul asyik buat sendiri saja. Paling-paling saya sebar ke teman-teman sendiri dan keluarga. Meskipun begitu, keinginan untuk menulis buku memang sangat kuat, hanya tunggu timing dan karya untuk menjadi titik awal, dan itu saya temukan ketika mulai menggarap naskah Supernova tahun 2000. Saya berpikir ‘inilah saatnya, inilah yang akan menjadi buku pertama saya’. Dan itu juga bedanya dengan karier musik saya yang berjalan mengalir begitu saja, it’s given, sementara dalam menulis I have to make it happen. Ada satu awalan yang saya mulai sendiri, yakni menerbitkan dan memasarkan Supernova secara independen.

Kenikmatan apa yang Anda dapatkan saat menulis?

Bagi saya, menulis itu menjadi media komunikasi saya dengan jiwa. I’m communicating with myself, between the little self and the Big Self. Dalam level substansi, bagi saya menulis bukan lagi sekadar hobi tapi kebutuhan rohani. It’s how I keep my sanity.

Apa yang biasanya menjadi inspirasi utama Anda dalam menulis?

Cinta – evolusi dan metamorfosanya. Karena dinamika pemahaman kita akan Cinta itu sejalan dengan dinamika pemahaman kita akan diri, dunia, dan Tuhan.

Dari keseluruhan seri novel Supernova, mana yang paling Anda sukai?

Ketiganya merupakan pengalaman yang tak terbandingkan. Dan itu yang ingin saya dapat sekaligus hadirkan dalam Supernova, setiap seri merupakan pengalaman yang berbeda-beda. Dalam Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ) saya mendapatkan kepuasan eksplorasi berpikir, keindahan saat rasio dan insting melebur. Sementara dalam Akar saya mendapat pengalaman mind traveling, saat pikiran saya harus mengikuti jejak Bodhi ke berbagai tempat. Kalau Petir saya bisa melepaskan sisi ‘gila’-nya Dewi Lestari yang sebenarnya sangat senang bercanda.

Misi atau pesan apa yang sebenarnya ingin Anda sampaikan dalam keseluruhan buku Supernova?

Supernova merupakan cerminan pergelutan spiritual kaum muda dalam zaman Aquarius, yang mana peran generasi kita pada zaman ini sangat krusial dalam penentuan nasib dunia kelak. Value utama dalam Supernova adalah self-inquiry. Kita harus menggali diri kita ke dalam untuk tahu identitas kita yang sesungguhnya, dan setelah itu didapatkan maka niscaya kita akan memperlakukan diri kita, Bumi, dan sesama makhluk hidup, dengan respek dan tanggung jawab. 

Karakter yang Anda tulis dalam setiap seri Supernova apakah secara tidak langsung menggambarkan pribadi dan karakter Anda sendiri? 

Setiap karya tentunya merupakan ekspresi subjektif penciptanya. Supernova tidak terkecuali. Kalaupun tidak langung merupakan penggambaran Dewi Lestari, tapi pastinya pikiran maupun ide-ide saya tertumpangkan ke dalam tokoh-tokoh Supernova maupun alur ceritanya.

Bagaimana Anda menggambarkan karakter dan kepribadian Anda?

I’m multidimensional. Tanggal lahir saya perbatasan Capricorn-Aquarius, shio saya perbatasan Kelinci dan Naga. So I guess my personality is a mix between equally strong but contrast qualities, and my challenge is to bring the best out of those two sides and at the same time learn to embrace the down sides of both.

Anda juga dikenal sebagai pecinta lingkungan hidup, ada nggak niatan untuk menulis buku tentang lingkungan?

 Tentunya ada. Saya akan memulainya dengan seri Supernova berikut yakni Partikel di mana tokoh utamanya, Zarah, adalah seorang environmentalist yang juga berprofesi sebagai seorang nature photographer. Walaupun masih dalam kerangka besar Supernova, tapi setidaknya ide-ide dan pesan-pesan saya tentang urgensi isu lingkungan bisa tersalurkan.

Atau mungkin, salah satu seri buku Supernova ada yang ingin dikembangkan menjadi film layar lebar, tertarikkah Anda untuk menulisnya menjadi naskah skenario film?

Hmm. Masih belum kepikiran, sih. Kalau keinginan untuk bikin skenario film sih ada, tapi mungkin bukan Supernova. Karena bagi saya Supernova masih cerita yang belum utuh tamat, kalau serial itu selesai mungkin-mungkin saja kemungkinan itu jadi terbuka. 

Lirik-lirik yang pernah Anda tulis dalam album RSD terdengar sangat puitis dan filosofis? Dari mana Anda mendapatkan sumber inspirasi dan imajinasi dalam merangkainya menjadi satu kalimat lirik lagu? Apakah itu hanya karangan atau ada hubungannya dengan pengalaman pribadi Anda?

Dari semua tipe kepenulisan, bagi saya menulis lirik lagu merupakan pekerjaan yang paling menantang sekaligus paling memuaskan. Kita harus mengkondens cerita dalam beberapa bait dan harus mengawinkannya dengan melodi sehingga peleburan itu terasa sempurna dan bukan tempelan. Analoginya, bagi saya membuat lirik itu seperti ngisi TTS. Menantang otak sekaligus rekreasi. Nggak semua pengalaman pribadi, tapi sedikit banyak ada tercampur-campur. Karena tetap dong butuh dramatisasi, tidak semuanya kisah pribadi itu cukup menarik untuk diangkat, hehe.

Bagaimana cara Anda mendidik atau menanamkan nilai-nilai pendidikan pada si kecil? 

Karena Keenan masih 10 bulan, mungkin belum terlalu terasa, ya. Tapi saya sih natural saja sama dia. Jangan malu untuk jadi jelek atau gila-gilaan, pokoknya we just have to be fun. Yang paling penting  bagi saya adalah dia tumbuh dalam kasih. Interaksi kita harus akrab, nggak formal. Dia juga harus diajarkan untuk cinta lingkungan dan respek sama makhluk lain.

Adakah obsesi untuk ‘mempersiapkan’ si kecil menjadi penulis atau seniman seperti Anda? Atau ada obsesi lain? 

Kami sebagai orang tua sudah pasti akan membesarkan anak dengan tendensi. Sama seperti ayah saya yang suka musik, sekalipun dia tidak menyuruh kami jadi musisi, tapi dengan menghadirkan alat musik di rumah, sering bernyanyi-nya, dsb, akhirnya kami jadi terbawa. Keenan juga pasti tumbuh besar dalam tendensi profesi kami berdua. Saya pasti akan mendekatkan dia dengan buku, dengan musik, dengan seni. Ayahnya pasti mengajak dia ikut main drum, atau membawa dia ikut kalau show, dsb. Saya nggak tahu outcome dari itu semua, apakah kemudian dia mengikuti jejak kami berdua atau tidak, yang jelas kami akan berusaha memfasilitasi semua potensi dia. I just want him to become the best at what he’s good at.

Rencana Anda ke depan baik sebagai penulis atau penyanyi?

Untuk menulis ya tentunya menamatkan serial Supernova, menerbitkan kumpulan cerita dalam waktu dekat. Kelak, saya ingin menulis cerita anak. Untuk nyanyi penginnya bikin album solo, tapi nggak ngoyo. Kalau bisa terealisasi tahun ini sudah bagus banget. 
 

Tuesday, February 10, 2009

BINTANG INDONESIA Tabloid | Rubrik: Bintang Musik | Desember, 2009 | by Wayan Diananto

Saya mengikuti kiprah menulis lagu Dewi sejak Satu Bintang di Langit Kelam (Rida Sita Dewi, 1995), Jalanmu dan Di Sudut Malam Bisu (Bertiga, 1997) dan Tak Perlu Memiliki (Satu, 1999). Sejak kapan letupan bermusik muncul dalam diri Mbak Dee?

Saya menulis lagu sejak umur 7 tahun. Nggak jelas judulnya apa, sih. Tapi saya menyadari betapa senangnya saya merangkai kata dan melodi. Baru umur 10 tahun saya cukup “serius” menulis lagu, saya membuat mars untuk sekolah saya, judulnya “Mars SDN Banjarsari” (tapi nggak pernah berani dikasih dengar ke guru-guru, jadi saya nyanyiin sendiri dengan teman-teman), dan satu lagi “Nyiur Melambai”. Saya ajarkan ke adik-adik dan sepupu-sepupu saya, lalu kami nyanyi bersama-sama. Haha! Kebetulan saya memang bisa main piano, jadi sejak itu sampai besar saya bikin-bikin lagu aja sendiri. Baru lagu “Satu Bintang Di Langit Kelam” yang akhirnya direkam secara profesional. 

Apa bedanya bernyanyi bertiga dan kini tampil sendiri?

Wah, beda banget. Kalau nyanyi bertiga beban panggungnya dibagi tiga, dan kita tidak bisa menampilkan individualitas kita, melainkan kebersamaan grup. Jadi dari mulai dinamika, gerak, vokal, harus selalu lihat kiri-kanan biar tetap seimbang. Kalau nyanyi solo, ya, itu semua menjadi pe-er sendirian. Tapi kebebasannya juga jelas lebih luas karena kita bisa menampilkan karakter individu kita dengan maksimal. 

Rectoverso menyusul Out of Shell, perkembangan baru apa yang Anda suguhkan di album terbaru Anda?

Secara musik, Rectoverso merupakan lompatan jauh. Tidak semua penyanyi memiliki kesempatan untuk rekaman live dengan 45 musisi sekaligus. Jadi musik di Rectoverso boleh dibilang memang kualitas premium. Tapi yang menjadi pembeda Rectoverso dengan album-album yang lain adalah konsep hibridanya, yakni penggabungan fiksi dan musik yang saling melengkapi, dan menggunakan dua media yang berbeda. 

“Keresahan” seperti apa yang Anda tuangkan dalam Rectoverso?

Saya ingin menampilkan aspek romantisme saya yang selama ini hanya bisa terekspresikan secara parsial dalam karya-karya saya yang sebelumnya. Rectoverso itu seperti menulis surat cinta yang panjang. Saya tidak fokus pada penokohan atau plot, melainkan emosi terdalam yang dirasakan oleh tokoh-tokoh, baik dalam lagu maupun cerpen di Rectoverso. 

Apakah “permasalahan intern” beberapa bulan silam, turut mempengaruhi proses kreativitas Anda di album ini?

Bisa iya, bisa tidak. Saya tidak tahu pasti. Buat saya, setiap karya sudah punya nyawanya sendiri yang tidak terganggu gugat oleh keadaan si penciptanya. Tapi tentu saja setiap proses kreatif tidak mungkin 100% imun dari kondisi eksternal. Jadi pengaruhnya pasti ada, tapi sedikit atau banyak, saya sendiri tidak tahu karena semuanya sudah melebur. 

Bisakah dikatakan Rectoverso merupakan album soundtrack dari novelnya?

Konsep soundtrack tidaklah tepat untuk Rectoverso karena kedua karya dalam Rectoverso berdiri sama tegak dan bisa dinikmati secara terpisah. Sementara dalam konsep soundtrack, film menjadi yang utama dan musik sebagai pendukung tambahan. 

Menarik, ketika Anda mengganti lirik Firasat versi Marcell. Di baris terakhir dengan: “Aku pun sadari, kau tak kan kembali lagi...” Seberapa penting pergantian lirik ini?

Sebenarnya, lirik asli Firasat adalah versi yang saya bawakan di Rectoverso. Dulu di album Marcell, sengaja saya ganti supaya lagunya jadi tidak terlalu sedih. Ada masukan juga dari perusahaan rekaman Marcell saat itu supaya Firasat lebih happy-ending agar lebih gampang jualan. Jadi ketika saya memutuskan untuk membawakan ulang Firasat, inilah kesempatan saya untuk membawakan versi aslinya dengan suasana sebagaimana yang ingin dihadirkan oleh lagu tersebut. 

Adakah sesuatu yang mendasari pergantian lirik Firasat, apa yang ingin Anda sampaikan kepada penikmat musik melalui pergantian lirik ini?

Sudah terjawab di atas. 

Peluk, seingat saya pernah muncul di debut album perdana Shanty (2000). Jujur, sebenarnya saya berharap Peluk menjadi single kedua Shanty waktu itu, karena ketajaman lirik dan aransemen yang simple. Apa pertimbangan Anda mengangkat kembali lagu ini?

Sama. Dulu saya juga pinginnya lagu itu jadi single kedua Shanty karena menurut saya, lagu itu komersil tapi tetap puitis dan emosional, hehehe... Pertimbangan saya memakai ulang lagu Peluk semata-mata karena kekuatan narasi dalam liriknya bisa dikembangkan menjadi cerita. Tidak semua lirik lagu bisa difiksikan. Dan ini yang menjadi kriteria dasar lagu-lagu di Rectoverso. 

Bisa diceritakan sedikit proses kreatif Anda saat menulis Peluk?

Saya menulis lagu tersebut sekitar tahun 2000 dan niatan saya adalah membuat lagu putus yang elegan, dewasa dan nggak cengeng. Karena hampir semua lagu putus isinya terlalu dramatis dan tragis. Kalau fiksinya saya benar-benar setia pada lirik, jadi pengembangannya hanya sampai pada menciptakan suasana antara dua kekasih yang memutuskan untuk berpisah. 

Selain bersaudara, apa yang membuat Anda tertarik untuk mengajak Arina berkolaborasi dalam Aku Ada?

Saya adalah pengagum berat suaranya Arina. Menurut saya, dialah yang paling berbakat menyanyi di keluarga dan saya juga selalu berangan-angan ingin berkolaborasi dengan saudara-saudara saya. Kebetulan saya mencari karakter suara yang innocent dan seperti anak kecil untuk lagu Aku Ada. Arina adalah vokalis yang paling pas untuk itu. Duet tersebut sekaligus juga mewujudkan cita-cita saya untuk berkolaborasi dengannya. 

Malaikat Juga Tahu menjadi komposisi yang unik dan punya daya jual tinggi. Andi Rianto berada dibalik studio bersama Anda mengerjakan aransemennya. Piano dan orkestra terdengar pekat. Bisa Anda ceritakan bagaimana suasana pengerjaan lagu ini? Bagaimana kesan Anda bekerja sama dengan Andi?

Saya pengagum Andi Rianto sejak lama. Waktu saya merumuskan konsep musik Rectoverso di awal proyek ini, produser saya (Tommy Utomo) bilang bahwa khusus untuk lagu MJT, orang yang paling tepat mengaransirnya hanyalah Andi Rianto, dan saya setuju. Seperti berjodoh, Andi pun langsung jatuh cinta pada lagu itu. Secara keseluruhan, Andi sangat enak diajak kerjasama, dia idealis tapi masih punya ruang untuk diskusi. Suasana pengerjaan lagu tersebut dan juga semua lagu di Rectoverso, bagi saya, sangat sakral dan berkesan. Semua musisi memberikan yang terbaik yang mereka miliki dan itu dimungkinkan karena kita latihan cukup intensif sebelumnya, dan rekaman yang dilakukan secara live. 

Kelebihan lain dari Malaikat Juga Tahu, terletak pada video klipnya yang bagus. Sejauh mana campur tangan Anda dalam video klip tersebut?

Sejujurnya, saya hanya membekali sutradara dengan cerita pendek MJT dan berpesan agar video klipnya mengikuti cerita. Saya beruntung karena Lukman Sardi sangat antusias ingin mengambil peran dalam video klip tersebut, dan Lukman bermain dengan sangat cemerlang. 

Eksplorasi Anda di Rectoverso patut mendapat apresiasi positif. Single Cicak di Dinding, terdengar 'tengil' tapi pemaknaan Anda pada cinta membuat banyak orang termenung. Bisa Anda ulas sedikit, lagu ini untuk pembaca Bintang?

Kita cenderung melewatkan hal-hal kecil tapi sebetulnya dalam sesuatu yang kita anggap remeh, banyak sekali makna yang bisa digali. Cicak di Dinding adalah penggambaran situasi sederhana dimana kadang-kadang benda mati atau hewan kecil yang sering kita abaikan malah punya tempat yang sangat spesial, yang tidak bisa kita miliki. Contohnya, ketika kita jadi pengagum rahasia, rasanya kita rela memberikan apa saja demi jadi cicak di tembok orang yang kita kagumi. 

Berapa lama Anda mengerjakan album ini?

Rekamannya sendiri hanya 4 hari karena semua direkam secara live. Tapi pengerjaan dari mulai konsep sampai mastering butuh waktu 1,5 tahun. 

Seorang sutradara film Indonesia sempat mengenang dan terkesan pada susunan lirik Malaikat Juga Tahu. Khususnya pada baris: "Andai wajahku diganti..." Jika sekarang Anda dibatasi lima kata saja. Kata-kata apa yang akan Anda pilih untuk menggambarkan Rectoverso?

Air mata, hati, pulang, pergi, berharap. 

Musik Dee itu musik yang seperti apa sih?

Maksudnya yang saya suka? Kebanyakan saya menyukai genre singer/songwriter, karena biasanya karya-karya di genre ini kuat, menyentuh, dan berkarakter. Contoh: Sarah McLachlan, Paula Cole, Corrinne May, Indigo Girls. Saya suka lagu dengan lirik yang kuat dan melodius. 

Dari mana saja inspirasi menulis lagu dan lirik di album ini? Apakah inspirasi juga datang dari anak?

Inspirasi datang dari mana saja, termasuk juga dari anak dan orang-orang di sekitar saya. Umumnya setiap saya berkarya, selalu diinspirasikan 4 hal: pengamatan, pengalaman hidup sendiri, pengalaman hidup orang lain, dan imajinasi.