Showing posts with label Filosofi Kopi. Show all posts
Showing posts with label Filosofi Kopi. Show all posts

Thursday, April 2, 2020

Linkers | Edisi Kopi | Des, 2017 | Marrysa Tunjung Sari



1.     Seberapa besar ketertarikan Dee terhadap kopi? Sejak kapan?

Saya menulis Filosofi Kopi waktu masih kuliah. Sebagai mahasiswa, saat itu kami akrab dengan kopi untuk menemani bikin tugas, atau ketika sedang hang-out sama teman-teman. Sejak kecil saya sering membikinkan kopi untuk ayah saya. Menurut beliau, kopi seduhan saya rasanya enak. Saya juga dikasih icip kopi sedikit-sedikit pakai sendok makan. Sepanjang ingatan saya, saya selalu menyukai citarasa kopi.

2.     Inspirasi buku Filosofi Kopi lahir dari mana?

Waktu itu niat saya hanya ingin membuat cerita yang didedikasikan untuk tema kopi. Lalu, muncullah khayalan tentang sebuah kedai, tokoh Ben, tokoh Jody, dan seterusnya.

3.     Ada kisah menarik saat melakukan riset untuk penulisan buku Filosofi Kopi? (pengalaman dengan petani dan sebagainya)

Saya bikin cerpen itu tahun 1996. Sumber daya saya terbatas. Boro-boro riset jauh-jauh. Hanya mengandalkan khayalan saja dan ensiklopedia. Dari situ saya baca sepintas informasi tentang tanaman kopi.

4.     Kedai kopi paling favorit di Indonesia? Apa yang membuat kedai tersebut spesial?

Jelas Filosofi Kopi, karena kedai itu merupakan perwujudan dari fantasi saya. Hanya karena jarak rumah saya agak jauh ke Filosofi Kopi, saya nggak bisa setiap saat ke sana. Kalau yang dekat-dekat rumah, di daerah Tangerang Selatan, saya suka ke Rosso, Kullerfull, Fiordelatte, Saudagar Kopi. Yang membuat kedai kopi enak itu menurut saya bukan hanya kopinya saja, tapi hubungan pengunjung dengan baristanya. Dan, itulah yang membedakan kedai kopi dengan tempat lain. Kedai kopi itu manusianya juga, ada aspek personal.

5.     “Hidup bagaikan kopi pahit” bagaimana pendapat Dee tentang ungkapan ini?

Bagi saya ungkapan itu bergantung kepada bagaimana kita mempersepsikan rasa “pahit”. Pahit kopi sebetulnya bagian dari karakter kopi itu sendiri. Dan, citarasa kopi tidak melulu pahit, jauh lebih kompleks dari itu. Hidup pun begitu, tidak melulu pahit, banyak manisnya juga.

6.     Bisa ceritakan tentang buku Filosofi Kopi 2?

Filosofi Kopi 2 tidak ada dalam bentuk buku. Pengembangan yang terjadi di film Filosofi Kopi 2 adalah sepenuhnya kreativitas produser, sutradara, dan penulis skenario. Karya asli Filosofi Kopi hanya sebatas cerpen yang saya tulis, yang sudah dituangkan di film Filosofi Kopi pertama.

Monday, April 27, 2015

Foodie Magazine | Kopi & Filosofi Kopi | Maret, 2015 | by Primo Rizky


Ada banyak yang karya literatur yang berfokus pada makanan, kenapa Mbak Dewi saat itu tertarik dengan kopi?

Saya menulis Filosofi Kopi pertama kali waktu masih kuliah, tahun 1996. Saat itu saya belum menjadi penulis profesional dan hanya hobi menulis saja. Jadi, motivasi saya menulis memang tidak dengan pertimbangan atau perbandingan dengan karya-karya lain, melainkan hanya ingin menulis tentang kopi saja. Bagi saya, kopi adalah minuman yang sangat berkarakter (sama dengan opini Ben, tokoh utamanya), dan saya ingin mendedikasikan sebuah tulisan untuk kopi. Itu saja.

When was your first encounter with coffee?

Seingat saya dari kecil, tapi perkenalannya waktu itu hanya sesendok dua sendok teh. Ayah saya yang memperkenalkan. Dia kadang menyuapi 1-2 sendok kopi dari gelasnya. Kalau saya lagi makan alpukat kerok, Ayah saya bilang, coba dikasih kopi, pasti lebih enak. Saya coba masukkan 1-2 sendok makan air kopi, dan benar, lebih enak. Sampai sekarang saya suka sekali Avocado Coffee.

Apa arti 'kopi' bagi seorang Dewi Lestari?

Doping utama umat manusia. Percaya atau tidak, kehidupan modern disangga oleh kopi, kalau tidak salah bertahun-tahun lalu majalah Times pernah membahasnya sebagai liputan utama.

How do you like your coffee?

Saat ini saya suka yang lebih soft seperti cafe latte atau paling tidak cappuccino, karena sepuluh tahun terakhir tubuh saya sensitif pada kafein. Dan saya lebih suka porsi kecil, di cangkir yang mini, tapi isinya bukan espresso. Saya juga suka mencampurkan rempah seperti kayu manis sebagai pengganti gula.

Kapan biasanya Mbak Dewi menikmati kopi? Apakah ada ritual-ritual tertentu dalam menikmatinya?

Karena saya nggak bisa minum banyak, I really cherish my chance of having a cup of coffee. Daripada minum yang abal-abal, mending nggak sama sekali, karena sayang sama kesempatannya. Biasanya pagi hari. Kalau sudah siang atau sore, tidur malam saya terganggu.

Personal curiosity, Kopi Tiwus itu benar-benar ada atau tidak? Aku research ke mana-mana tapi yang muncul selalu tentang Filkop. Kalau ternyata itu karangan Mbak Dewi, gimana awal mulanya bisa 'menciptakan' tentang kopi tersebut?

Pertanyaan Anda sama dengan pertanyaan Ayah saya. Waktu baca cerita Filosofi Kopi, dia juga terpikir ingin beli Kopi Tiwus, hehe. Ternyata cuma karangan anaknya saja. Saat itu saya memang ingin menubrukkan kreasi Ben (tokoh utama dalam Filosofi Kopi yang merasa sudah membuat kopi terbaik di dunia) dengan sesuatu yang sederhana, yang di luar dari perhitungannya. Makanya saya ciptakanlah Kopi Tiwus, yang merupakan antitesis dari segala yang dibikin Ben. Kopi Tiwus tumbuh alami, sembarangan, tanpa konsep, bahkan dijual dengan sangat murah bahkan seringnya cuma-cuma, tapi di balik itu ada semacam kekuatan “magis” yang disimpan Kopi Tiwus. Seperti apa? Ya, Anda harus mencicipi sendiri. Lewat tulisan saya. Haha!