Showing posts with label Awal Menyanyi. Show all posts
Showing posts with label Awal Menyanyi. Show all posts

Sunday, April 5, 2020

Air Asia Magazine | Profile | April, 2018 | Mahdiah



1.     Boleh ceritakan awal karier di dunia entertainment? 
 
 
Saya sudah mulai berkarier di musik sejak mulai kuliah, tahun 1993, awalnya jadi backing vocal, antara lain untuk (alm) Chrisye, Iwa K, Padhyangan Project, Java Jive, Harvey Malaiholo, dan banyak lagi. Setelah dua tahun menjadi backing vocal, saya berkesempatan rekaman dengan trio Rida Sita Dewi yang diproduseri oleh Adjie Soetama dan Adi Kla Project. Saya merilis empat album bersama Rida Sita Dewi. Hobi menulis lagu dan menulis fiksi juga sudah dari kecil. Saya mulai bikin lagu dan mencoba menulis novel dari kelas 5 SD, dan hobi itu berlanjut sampai besar. Lagu ciptaan saya pertama yang masuk ke dapur rekaman adalah Satu Bintang di Langit Kelam, yang ada di album perdana Rida Sita Dewi. Awalnya saya hanya menulis cerita buat dikonsumsi sendiri, atau dibagi ke teman-teman dan keluarga. Baru tahun 2000 saya berniat serius untuk menerbitkan karya pertama saya, Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Sejak itu, saya dikenal sebagai penulis hingga sekarang. 
 
 
2.     Seperti yang sudah diketahui, selain bernyanyi, Mbak Dee kini dikenal sebagai penulis serta pencipta lagu. Lantas, jika harus memilih lebih tertarik profesi yang mana?

Saya punya kebutuhan berbeda-beda untuk setiap pendekatan bercerita. Bagi saya fiksi dan lagu itu komplementer sifatnya, tidak saling menggantikan. Kepuasan yang dihasilkan masing-masing format juga berbeda, meski pada intinya sama-sama bagian dari seni bercerita.
 
 
3.     Mbak Dee dikenal sebagai sosok multitalenta, apakah ada hal baru yang hingga kini belum tercapai dan segera ingin diwujudkan?

Masih banyak jenis buku yang ingin saya tulis, mulai dari buku resep, buku anak, fiksi remaja, dsb. Saya juga ingin berkarya lagi di musik, entah dalam bentuk single, atau album. Tapi, karena waktu saya terbatas, saya hanya bisa fokus kepada satu atau dua proyek kreatif per tahunnya.

4.     Adakah buku karya Mbak Dee yang paling memorable?
 
 
Saya merasa paling dekat dengan karya yang saya tulis paling akhir. Pada saat ini, karya terasa paling dekat bagi saya adalah Aroma Karsa. Cukup banyak alasan lain mengapa Aroma Karsa paling memorable, salah satunya adalah proses risetnya yang saya dokumentasikan paling rapi dibandingkan buku-buku saya sebelumnya. Karena itu, saya bisa menerbitkan buku “behind-the-scenes”-nya, yakni Di Balik Tirai Aroma Karsa. Buku Di Balik Tirai Aroma Karsa sejauh ini baru terbit dalam format digital. Isinya mengenai proses kreatif, proses riset, dan berbagai strategi pemasaran yang saya lakukan saat menerbitkan Aroma Karsa. 
 
 
5.     Apakah Mbak Dee merasa nyaman apabila karyanya dituang ke dalam sebuah film? Lalu, film apa saja yang membuat Mbak Dee merasa puas karena karyanya benar-benar terealisasikan?
 
 
Ketika penulis sudah bersepakat dengan produser dan menjual hak adaptasi karyanya, otomatis harus sepenuhnya menerima segala konsekuensi. Bagi saya persoalannya bukan nyaman atau tidak nyaman. Memang tidak semua adaptasi memuaskan bagi kreatornya, termasuk saya. Namun, saya harus melihatnya sebagai karya adaptasi, bukan lagi karya saya pribadi. Jadi, ketika saya melihat film yang diangkat dari karya saya, sebisa mungkin saya memandangnya sebagai karya film bukan lagi buku. Ada pakem dan aturan yang berbeda, ada banyak faktor penentu di balik pilihan kreatif sutradara dan produser. Jadi, dalam hal posisi itu, saya kembali menjadi penonton, dan menilai film yang ditonton, bukan lagi buku yang saya tulis. 
 
 
6.     Berkaitan dengan Hari Musik Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Maret. Apa harapan Mbak Dee bagi industri musik Indonesia?
 
 
Saat ini ada keresahan dari banyak insan musisi tentang RUU Permusikan. Saya harap RUU tersebut dapat dibatalkan, atau setidak direvisi dan dipertimbangkan ulang dengan memperhitungkan aspirasi para musisi yang khawatir dengan potensi implementasi RUU itu kelak. Yang dibutuhkan para musisi adalah kejelasan tata niaga industri musik, bukan aturan yang mengatur dan mengekang kreativitas seniman. 
 
 
7.     Pengalaman traveling yang mengesankan bagi Mbak Dee?
 
 
Wah, banyak. Kalau luar Indonesia, saya sangat suka dengan Jepang. Saya mengagumi etos kerja masyarakat Jepang yang tercerminkan dari segala hal yang mereka kerjakan, mulai dari kualitas makanan, cara menjaga toko, cara menyambut tamu, dsb. Kalau domestik, perjalanan ke Papua salah satu yang paling berkesan. Alam Papua itu benar-benar berbeda dari belahan Indonesia lainnya. Saya memperhatikan mulai dari warna tanah, serangga, tanamannya, semuanya luar biasa unik. 
 
 
8.     Adakah pengalaman terseru konser pertama dan konser terakhir yang Mbak Dee tonton? 
 
 
Konser pertama yang saya tonton kalau tidak salah konser BB King, di Hardrock Café Jakarta, tahun 1992. Saya masih SMA waktu itu, di Bandung, bela-belain ke Jakarta naik kereta api yang penuh dan tidak dapat tempat duduk, jadi setengah perjalanan berdiri atau duduk di bordes. Pulangnya naik travel (dulu adanya 4848). Saya paling rajin nonton konser waktu masih SMA dan kuliah. Sekarang sudah jarang. Konser terakhir yang saya tonton adalah Konser Salute Erwin Gutawa di ICE BSD. Kenapa saya tonton? Karena Konser Salut tersebut didedikasikan untuk tiga penulis lagu-penyanyi perempuan, yakni Melly Goeslaw, Dewiq, dan saya. Hehe, jadi tidak mungkin saya tidak nonton. 
 
 
9.     Penulis novel favorit Mbak Dee?
 
 
Sejujurnya saya belum menetapkan siapa novelis favorit saya, karena saya jarang mengikuti dengan setia karya seorang penulis fiksi. Saya bacanya cabutan. Dan, setiap penulis itu punya ciri khas masing-masing yang sulit saya putuskan siapa atau gaya mana yang lantas menjadi favorit saya. Kalau penulis nonfiksi, saya malah cukup banyak punya favorit. Salah satu yang lagi saya sukai banget adalah Yuval Noah Harari, saya baca ketiga bukunya. 
 
 
1.  Tips menulis yang baik dan berkualitas dari Mbak Dee? 
 
 
Menulis yang baik dan berkualitas itu butuh pembelajaran seumur hidup. Sulit dirangkum dalam tips singkat. Yang jelas, kalau kamu suka menulis, yang perlu dikejar adalah menamatkan karya kita terlebih dahulu. Dengan menamatkan, kita jadi semakin mengenal proses kreatif itu seperti apa, dan kita lebih berani untuk mencoba. Setelah berhasil punya beberapa karya yang tamat, kejarlah kualitas. Parameter “kualitas” itu subjektif, ada yang ukurannya popularitas, ada yang ukurannya oplah, ada yang ukurannya penghargaan, ada juga yang bukan semua itu tapi lebih kepada kepuasan pribadi. Apa pun itu, kualitas dikejar dengan itikad dan upaya untuk menulis lebih baik—lebih rapi, lebih jelas, lebih jernih, lebih memikat. Belajarlah dari tulisan orang lain, banyak membaca, dan sering berlatih. 
 
 
11 Bagaimana Mbak Dee menggeluti passion menulis hingga dapat memberikan karya yang begitu sukses? 
 
 
Sama seperti yang saya tulis di atas. Saya menulis karena menyukai seni bercerita, dan dalam setiap buku, saya selalu berusaha memperbaiki dan mengejar cara bercerita yang menurut saya lebih baik: lebih efektif, lebih jelas, lebih memikat, lebih mengikat, dan seterusnya. Sukses dalam arti laku atau tidak, sangat sulit untuk dikendalikan. Kita tidak pernah tahu. Jadi, kalau bagi saya pribadi, saya berusaha untuk tidak mengejar “laku” atau “dapat penghargaan”, karena itu hal-hal yang tidak bisa saya kendalikan. Lebih memuaskan jika saya menulis karena saya mengejar cara bercerita yang bagi saya pribadi lebih baik daripada sebelumnya. Saya sebut itu “kaizen writing”, menulis dengan mengejar kemajuan yang berkesinambungan. 
 
 
12 Apa perbedaan membangun karakter dalam lagu dan dalam novel? 
 
 
Pada dasarnya, dalam lagu kita tidak punya ruang gerak yang banyak. Karakter tidak bisa dibangun dalam lagu seperti halnya membangun karakter dalam novel. Yang bisa kita lakukan adalah agar pendengar mengidentifikasi dirinya menjadi karakter dalam lagu. Dengan demikian, yang kita ceritakan dalam lagu menjadi ceritanya sang pendengar. Tentu saja itu juga subjektif. Belum tentu semua orang otomatis ‘relate’ dengan lagu kita. Namun, membuat cerita lagu sebaik mungkin dengan melodi yang sinergis dengan kata-kata, bagi saya adalah pintu masuk agar orang bisa menemukan kisahnya dalam lagu. 
 
 
Tiga destinasi wisata paling favorit? 
 
 
Bali, Bandung, Jepang. 
 
 
1   Adakah kebiasaan tertentu sebelum menulis yang selalu dilakukan Mbak Dee? 
 
 
Mandi. Mandi bagi saya seperti tombol “reset”. Saya selalu menulis pagi hari, jadi sebelum memulai hari, sebelum mulai menulis, saya “reset” tubuh dan pikiran saya dulu dengan mandi.

Friday, May 12, 2017

UPH Conservatory of Music - Skripsi | Menulis Lagu | Januari, 2017 | Novia Arifin


Apakah latar belakang Dewi Lestari sehingga dapat berkarya tidak hanya sebagai penulis namun juga sebagai pencipta lagu?

Dorongan ataupun ketertarikan mencipta lagu sudah saya rasakan sejak kecil. Seingat saya, saya pertama kali coba-coba bikin lagu sejak kelas 2 SD, tapi tentunya belum terstruktur dengan baik. Baru kelas 5 SD saya mencoba lebih serius dan berhasil membuat dua lagu pada saat itu. Sehabis itu, terus coba-coba di bangku SMP. Namun, baru saat kuliah saya mulai lebih serius lagi. Lagu pertama saya yang masuk dapur rekaman adalah Satu Bintang di Langit Kelam, saya tulis tahun 1994, dan masuk ke album perdana Rida Sita Dewi tahun 1995. Saya menulis juga sejak kecil, sejak SD. Kelas 5 SD pertama mencoba bikin novel, dan terus coba-coba. Jadi, sejarahnya kurang lebih sama dan berjalan paralel. Intinya, passion saya adalah story-telling. Fiksi atau lagu, hanya perkara mediumnya saja.

Bagaimana pengalaman Dewi Lestari saat membuat karya musik pertama/lagu pertama? Urgensi/inspirasi apa yang dirasakan? Kronologi pembuatannya seperti apa?

Bagi saya, proses bikin lagu itu selalu “balap-balapan” antara melodi dan lirik. Terkadang lirik membuka pemicu untuk melodi baru, terkadang melodi yang memicu lirik. Jadi, datangnya silih berganti. Baru setelah rampung, saya punya kesempatan untuk mengedit lirik agar lebih rapi dan sempurna. Inspirasinya biasanya datang dari merasakan sebuah emosi. Bisa dari pengalaman pribadi, maupun pengalaman orang lain. Tapi, saya selalu melihat frame sebuah cerita untuk bisa dijadikan lagu. Jadi, tetap ada unsur story-telling.

Bagaimanakah proses kronologi pembuatan lagu yang sering dilakukan atau sudah menjadi kebiasaan bagi Dewi Lestari?

Mirip dengan jawaban di atas. Biasanya, muncul potongan sedikit melodi, lalu beberapa kata untuk lirik. Kemudian, saya lanjutkan di piano. Proses merampungkannya jarang sekali jadi. Biasanya, bisa makan waktu beberapa hari. Bahkan beberapa minggu. Jadi, saya bolak-balik mengunjungi draf lagu, hingga rampung. Baru, saya edit ulang lirik agar rapi; efisien dalam penggunaan kata, enak dinyanyikan, ceritanya lebih runut.

Apakah inspirasi yang biasanya memicu Dewi Lestari sebelum membuat sebuah lagu?

Emosi, yang kemudian saya kembangkan menjadi cerita.

Bagaimana proses pembuatan lirik yang diterapkan dalam pembuatan lagu bagi Dewi Lestari?

Mirip dengan jawaban-jawaban di atas. Kalau sudah ada bingkai cerita maka biasanya lebih mudah. Sama dengan prinsip bercerita, awal itu biasanya set-up, di bait kedua sudah ada “persoalan” lagu, dan biasanya pesan utamanya muncul di reffrain.

Dalam pembuatan lirik adakah teori yang dipakai khususnya teori dalam ilmu sastra? Misalnya semantic atau rima, apakah rima penting untuk membuat lirik?

Tidak berdasarkan teori tertentu. Lebih banyak feeling. Rima biasanya saya terapkan karena bagi kuping saya lirik yang punya rima lebih enak didengar.

Apakah keberadaan teori sangat berperan dalam pembuatan lagu secara keseluruhan atau tidak sama sekali?

Karena saya otodidak, saya tidak menjalankan teori tertentu. Belakangan baru saya baca-baca buku tentang songwriting, dan ternyata sebagian besar sudah saya terapkan tanpa disadari. Misalnya, tentang prosody, yakni kesesuaian melodi dan lirik. Bagi saya, prosody sangat penting. Dan, itu terasa ketika saya mendengar lagu yang menurut saya baik. Dan juga terasa ketika saya mendengar lagu yang prosody-nya nggak pas, contohnya lagu dengan melodi cerah tapi diberi lirik yang sendu. Jadi, nggak terasa “kawin”.

Manakah yang lebih didahulukan dalam membuat lagu, lirik atau melodi lagu?

Sama seperti jawaban no 2.

Jika lirik dibuat terlebih dahulu, adakah pemberlakuan/treatment yang sering digunakan saat membuat melodi berdasarkan lirik yang ada?

Saya tidak pernah membuat lagu (melodi) dengan lirik yang sudah rampung terlebih dahulu. Selalu overlapping.

Jika melodi dibuat terlebih dahulu, adakah pemberlakuan yang sering digunakan saat membuat lirik?

Sama dengan jawaban no 9.

Lirik yang menyesuaikan melodi atau melodi yang menyesuaikan lirik? Manakah yang biasanya ‘dikorbankan’?

Keduanya saling menyesuaikan.

Apakah lirik dan melodi memiliki posisi yang sederajat atau ada yang lebih penting diantara keduanya?

Bagi saya sama penting. Lirik indah tapi melodi tidak menggugah sama lemahnya dengan melodi indah tapi lirik tidak menggugah.

Hal apakah yang paling penting dalam sebuah lagu sehingga lagu dapat dikatakan matang?

Strukturnya rapi, jelas. Baik dari segi melodi, bagan lagu, hingga cerita/konten lagu.

Apakah makna lirik berhubungan dengan pergerakan melodi dalam lagu?

Itu yang tadi saya sebut dengan prosody. Salah satu lagu dengan prosody terbaik konon adalah I Don’t Have The Heart (James Ingram). Bisa dipelajari bagaimana ketika melodi dan lirik sudah “kawin” atau terintegrasi, maka yang terjadi adalah cerita. Tidak lagi bisa kita pisahkan melodi dan liriknya. Keduanya saling memberi penekanan yang tepat hingga baik melodi dan lirik sama-sama kuat bagi pendengar.

Apa pendapat Dewi Lestari tentang lagu yang memiliki makna lirik yang buruk/negatif? (Contohnya: Yura – Cinta dan Rahasia dll.)

Saya punya definisi berbeda tentang makna lirik yang negatif. Bagi saya, lirik yang sampai taraf negatif itu kalau sudah sampai ke taraf menghasut ke tindakan kriminal seperti membunuh, dsb. Namun, apa yang diungkap dalam contoh lagu yang kamu berikan, saya rasa masih sangat realistis dan banyak dialami oleh orang-orang. Jadi, saya merasa netral-netral saja dengan lagu tsb.

Apakah cerita lagu diutamakan dalam pembuatan lagu?

Bagi saya, iya.

Apakah ada pemberlakuan yang berbeda antara verse, pre chorus maupun chorus dalam hal lirik maupun melodi?

Saya belum terlalu jelas dengan makna “pemberlakuan” dalam konteks pertanyaan di atas. Tapi tentu saja karakteristik verse, pre-chorus, dan chorus berbeda. Verse sifatnya membuka, pre-chorus sebagai jembatan, dan chorus biasanya punya kekuatan ekstra, nadanya lebih klimaks. Secara lirik, bergantung pendekatan penulis lagunya seperti apa. Kalau saya, prinsipnya seperti story-telling. Ada set-up, ada masalah, ada penyelesaian/kesimpulan.

Apakah pencipta lagu terbiasa mengerjakan lagu secara individual atau lebih menyukai bekerja sama dengan musisi lainnya? Jika bekerja sama dengan musisi, bagaimanakah prosesnya? Dan apakah sulit karena tentu saja memiliki perbedaan selera dan pendapat.

Hal tersebut sifatnya individual. Jawaban saya tentu tidak bisa mewakili penulis lagu lain. Kalau saya sejauh ini selalu bekerja sendiri.

Apa latar belakang dari lagu Firasat yang dibuat oleh Dewi Lestari?

Banyak lagu saya yang tidak punya “latar belakang” atau “misi”, lebih ke lahir begitu saja. Firasat, adalah salah satunya. Yang saya ingat, waktu itu saya diminta bikin lagu untuk album Marcell. Dan, karena suara Marcell cenderung lebih R&B, saya kemudian membayangkan melodi yang kira-kira cocok dilantunkan Boyz II Men, dan lalu muncullah potongan melodi di reffrain Firasat, yang tak lama kemudian saya pasangkan dengan kata-kata “Cepat pulang”. Setelah itu mulai terbingkai sebuah cerita yang lebih lengkap.

Adakah interaksi yang terjadi antara lirik dengan melodi dari lagu Firasat? Jika ada, seperti apakah interaksi tersebut?

Sama seperti jawaban sebelum-sebelumnya. Karena saya menciptakan lagu secara overlapping, keterkaitan antara melodi dan lirik otomatis jadi sangat kuat karena saling mendorong terciptanya satu sama lain. Begitu juga dengan Firasat.

Bagaimanakah kronologi pembuatan lagu Firasat?

Sama seperti jawaban no 19. Sekadar tambahan, Firasat adalah lagu yang sepenuhnya saya ciptakan di “kepala”, tanpa bantuan alat musik. Karena saya bikinnya waktu itu di luar kota. Baru ketika saya pulang ke rumah, saya coba mainkan di piano untuk tahu chord-nya.

Lebih penting mana, membuat lagu untuk disukai orang yang mendengar atau membuat lagu agar orang mengetahui pesan lagu tersebut, suka atau tidak suka?

Pada prinsipnya, saya hanya menulis lagu yang ingin saya dengar. Artinya, patokannya adalah saya sendiri. Saya harus suka duluan sama lagunya. Orang lain suka, saya anggap bonus. Tapi, saya tidak pernah bikin lagu yang saya sendiri nggak suka.

Menurut pendapat Dewi Lestari, apa perbedaan musik instrumental dengan musik ber-lirik? Apakah ada yang lebih bermanfaat/bagus/komunikatif?

Saya rasa musik instrumental lebih mengedepankan pada penekanan pada instrumen tertentu atau sebuah aransemen/komposisi multi-instrumen. Sama halnya dengan musik yang berlirik, keduanya tentu punya cerita yang ingin dikomunikasikan. Hanya saja pada musik instrumental, cerita itu tidak disampaikan secara verbal. Jadi, bukan soal lebih bagus atau tidak. Kembali kepada tujuan maupun preferensi kreatornya. Yang jelas, biasanya musik instrumental punya interval melodi yang lebih luas dan kompleks karena tidak perlu memperhitungkan rentang maupun kenyamanan vokal sebagai salah satu instrumen. Sementara musik yang berlirik biasanya memperhitungkan kecocokan dan kenyamanan vokalis untuk membawakan lagu.

Majalah UNPAR | Profil Alumni | Mei, 2016 | Bobby Suryo

-->
Apa alasan memilih kuliah di Unpar dan memilih jurusan HI?
Sejujurnya, alasan saya dulu lebih karena ketidaktahuan. Waktu SMA saya ambil jurusan Biologi, tapi menjelang kelulusan saya sadar bahwa saya tidak tertarik untuk mengambil jurusan eksak saat kuliah nanti, akhirnya saya banting setir dan cari jurusan sosial. Hubungan Internasional menjadi salah satu pilihan saya karena ada kata “internasional”-nya. Terdengar keren dan berprospek jalan-jalan ke luar negeri, jadi saya ambil. Ha-ha-ha! Saya nggak tahu bahwa ternyata di dalamnya belajar politik. Kalau UNPAR sih karena untuk pilihan swasta, menurut saya UNPAR adalah yang terbaik. Kebetulan kakak saya juga kuliah arsitektur di UNPAR, jadi rasanya sudah familier.
Apa saja aktivitas selama berkuliah (termasuk kegiatan kemahasiswaan atau yang lainnya)?
Saya sudah memulai karier nyanyi dari mulai awal kuliah, jadi sejak tahun pertama saya lebih banyak sibuk di luar kampus. Saya lebih tepat disebut sebagai siluman kampus ketimbang macan kampus, karena saya biasanya hanya datang untuk menghadiri perkuliahan. Tidak punya banyak kesempatan untuk berorganisasi.
Adakah hal paling berkesan yang dialami selama berkuliah?
Saya punya sekelompok sahabat yang dulu dinamakan “Anak 44” (karena kosnya di Ciumbuleuit no 44), persahabatan kami adalah salah satu yang paling berkesan. Selain itu adalah makan gule di kantin bawah (kayaknya sekarang sudah pindah entah ke mana). Saya sangat menikmati proses pembuatan skripsi saya. Waktu itu saya menulis tentang pop culture, belum pernah ada yang menulis tema itu sebelumnya. Saya jadi bersemangat karena akhirnya saya menemukan aspek dari Hubungan Internasional yang sangat menarik buat saya.
Saat ini, Mbak Dee dikenal sebagai musisi, penulis lagu, dan penulis buku. Bisa tolong ceritakan awal mula Mbak Dee memilih terjun di dunia seni ini?
Saya sudah mulai berkarier di musik sejak mulai kuliah, awalnya jadi backing vocal, dan dua tahun kemudian saya merilis album bersama trio Rida Sita Dewi. Hobi menulis lagu dan menulis fiksi memang sudah dari kecil, saya mulai bikin lagu dan mencoba menulis novel dari kelas 5 SD, dan hobi itu berlanjut sampai besar. Awalnya hanya buat dikonsumsi sendiri, atau dibagi ke teman-teman dan keluarga. Baru tahun 2000 saya berniat serius untuk menerbitkan karya pertama saya, Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Sejak itu, saya dikenal sebagai penulis hingga sekarang.
Apa tantangan Mbak Dee ketika menjalani hidup di dunia seni?
Hampir semua pekerja seni melakukan pekerjaan mereka karena cinta, termasuk saya. Kadang kita jadi merasa bahwa pekerjaan kita lebih besar dari hidup kita, dari segala-galanya. Jadi, tantangannya adalah bagaimana punya perspektif yang seimbang agar kita nggak terlena untuk terus mengejar eksistensi dan mengabaikan hal-hal lain yang tidak kalah penting, seperti keluarga dan kesehatan.
Adakah hal paling berkesan selama menjadi musisi dan penulis buku?
Terlalu banyak untuk disebutkan. Yang jelas, meski saya tidak berkarier sebagai diplomat atau terjun ke politik, menjadi musisi dan penulis membawa saya melihat dunia, berkeliling Indonesia, bertemu dengan banyak orang-orang luar biasa, sebagaimana yang saya bayangkan ketika dulu mau masuk HI.
Adakah materi perkuliahan yang Mbak Dee peroleh di Unpar yang bisa dipakai di dunia kerja Mbak Dee?
Kuliah di HI sangat mempertajam kemampuan saya menulis. Intinya, menulis yang baik adalah menulis secara jernih dan runut, dan itu terbantu sekali oleh ujian-ujian yang kebanyakan esai. Begitu juga ketika skripsi, otot membaca saya jadi sangat terlatih karena begitu banyak referensi yang harus saya pelajari untuk sebuah topik yang tidak lazim saat itu.
Sepengetahuan Mbak Dee, apa perbedaan Unpar sekarang dengan yang dulu? (baik gedung, mahasiswa, ataupun suasananya)
Ini hanya berdasarkan pengamatan yang terbatas, ya. Kesan saya, gedung UNPAR semakin megah, mahasiswanya tetap asyik, suasananya agak beda tapi itu lebih karena Bandung yang semakin macet. Dulu juga kalau ke Ciumbuleuit macet, tapi sekarang ini benar-benar perjuangan kalau sudah harus ke daerah Ciumbuleuit. Saya bayangkan situasi itu pasti menjadi tantangan besar buat mahasiswa UNPAR sekarang.
Pesan Mbak Dee untuk mahasiswa Unpar?
Selalu pelihara rasa ingin tahu. Ilmu terlalu luas untuk disekat gedung kampus. Rakuslah akan ilmu. Rakuslah akan pengalaman. Temukan yang kamu cinta, dan tekuni itu hingga kamu menjadi yang terbaik.

Unstoppable Hopes (Buku) | Salah Jurusan Kuliah | Mei, 2016 | Gloria Morgen

-->
Pada saat kuliah mengambil jurusan apa? Bagaimana bisa memilih jurusan kuliah itu?

Saya mengambil jurusan Hubungan Internasional, FISIP, di Universitas Parahyangan Bandung. Sejujurnya, waktu itu saya memilih jurusan HI lebih dikarenakan ketidaktahuan. Waktu SMA saya mengambil jurusan Biologi karena disuruh ibu, tapi saya sendiri sebetulnya tahu bahwa saya tidak akan mengambil jurusan eksak saat kuliah dan lebih tertarik ke sosial. Hanya saja ibu saya tidak mengizinkan saya ambil jurusan Sosial saat SMA. Begitu lulus, saya sudah tidak melirik lagi jurusan kuliah yang berhubungan dengan biologi. Saya langsung cari alternatif jurusan sosial yang kira-kira menarik. “Hubungan Internasional” terdengar keren bagi saya saat itu, dan karena ada kata “Internasional” saya pikir saya kelak jadi punya banyak kesempatan jalan-jalan keluar negeri. Akhirnya saya ambil. Saya tidak tahu bahwa Hubungan Internasional lebih banyak fokus ke politik, yang mana hal tersebut benar-benar tidak menarik bagi saya. Memang ada benarnya, kalau kita serius berkarier di dunia diplomatik, bisa jalan-jalan keluar negeri. Tapi tentunya pemahaman itu tidak serupa dengan bayangan remaja saya.

Kapan mulai menemukan passion, visi dan purpose of life? Trus apa passion, visi dan purpose dalam hidup Mbak Dewi? Ceritakan cara menemukannya.

Jika kilas balik ke belakang, sebetulnya sejak kecil saya sudah menemukan apa yang saya suka, dan masih saya geluti sampai sekarang, yakni musik dan menulis. Musik, saya senang dengan aspek mencipta lagu, dan karena bisa nyanyi juga ya akhirnya jadi penyanyi. Menulis, saya senang mengkhayal dan menciptakan cerita, akhirnya menulis fiksi menjadi penyaluran kreatif saya. Keduanya sudah saya jalani sejak kecil. Saya aktif nyanyi sejak kelas 3 SD. Saya membuat cerita panjang pertama saya sejak kelas 5 SD. Karena keduanya adalah hobi, saya jalankan terus. Saya aktif di vokal group sekolah, paduan suara, jadi dirigen, bikin band, ikut pementasan, jadi backing vokal, bikin group vokal, dan sebagainya. Sementara menulis lebih banyak terjadi di belakang layar. Tapi, saya tidak pernah berhenti. Ketika kuliah dan sudah mulai punya penghasilan sendiri dari menyanyi, saya beli laptop. Waktu itu anak kuliahan masih jarang yang punya laptop. Tapi, saya bela-belain beli karena saya ingin bisa menulis kapan saja dan di mana saja, terutama karena karier nyanyi saya mengharuskan saya banyak bepergian. Jadi, kedua hal tersebut adalah passion saya. Di pertengahan bangku kuliah, saya sudah tahu bahwa saya tidak akan berkarier kantoran, saya akan terus menggeluti bidang seni. Visi saya sebetulnya simpel, saya ingin berkarya sebaik mungkin yang saya bisa. Saya ingin menulis buku yang saya ingin baca. Saya ingin menulis lagu yang saya ingin dengar. Saya ingin punya karya-karya yang berumur panjang dan menyentuh hati. Terus terang, saya tadinya tidak yakin apakah saya bisa mengandalkan hidup dari hobi. Namun, ketika dijalani, pelan-pelan saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan. Secara finansial saya sudah mandiri sejak kuliah. Saya membiayai kuliah dan hidup saya sepenuhnya. Lulus kuliah, saya sudah bisa mengontrak rumah. Pelan-pelan, mulai punya kendaraan sendiri, membeli properti, membangun rumah, dst. Mungkin saya tidak jadi konglomerat dan memang tidak punya impian ke arah sana, tapi dari hobi yang saya jalani, saya punya penghidupan yang nyaman dan layak. Bagi saya, ini sudah lebih dari cukup. Apalagi kepuasan batin yang saya dapatkan dari berkarya tidak ternilai rasanya.

Apakah menyesal mengambil jurusan kuliah yang pernah diambil?

Sempat menyesal ketika pertengahan kuliah, karena saya merasa buang-buang waktu menjalani sesuatu yang saya sudah tahu tidak bakal saya pakai. Tapi, di penghujung kuliah, tepatnya ketika skripsi, saya menemukan topik penelitian yang sangat menarik minat saya. Saya menulis tentang hubungan pop culture dan politik. Saat itu, tema tsb belum pernah diangkat menjadi tema skripsi sebelumnya. Saya jadi bersemangat, apalagi pop culture banyak bicara tentang seni. Skill menulis saya jadi meningkat sepanjang pembuatan skripsi, demikian juga stamina saya membaca buku. Jadi, akhirnya saya merasa punya penutup yang manis dalam berkuliah, karena saya sangat puas dengan skripsi yang saya buat. Saya tidak menyesal dengan jurusan yang saya ambil. Setelah lulus saya malah sempat terpikir untuk mengambil S2 jurusan Filsafat. Namun, saya urungkan karena saya lebih tertarik pada spiritualitas dan sains yang akhirnya saya pelajari sendiri dari berburu buku.

Mbak Dewi kan, memiliki banyak talenta, mengapa justru memilih menulis? Apa pertimbangannya?

Itu bukanlah keputusan serta merta yang dibuat pada satu waktu tertentu, melainkan berdasarkan perkembangan dan proses yang organik. Ada kalanya saya memprioritaskan bermusik, dan ada kalanya juga saya rihat dari menulis. Tapi, sejak berkeluarga saya merasa menulis lebih pas menjadi karier prioritas karena fleksibilitas waktu dan lokasi. Saya tidak perlu terikat di satu tempat dan waktu tertentu. Saya bisa menentukan ritme kerja sendiri. Saya tidak banyak bergantung ke pihak lain. Menulis juga tidak mengenal usia maupun penampilan. Namun, itu semua sesungguhnya adalah faktor-faktor praktis dari aspek karier. Bagi saya menulis bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan.

Seberapa penting menulis bagi Mbak Dewi?

Kita tidak bisa membendung arus kreativitas. Menulis adalah medium saya untuk menyalurkan arus tak terbendung tersebut. Sama seperti kita butuh kaki untuk berjalan dan mata untuk melihat. Menulis adalah bagian dari diri saya.

Sunday, December 21, 2014

Wawancara Skripsi | Rectoverso | Agustus, 2009 | by Cecilia Abigail


Selain menjadi penyanyi sekarang Dee lebih sering dikenal sebagai penulis. Sejak kapan Dee memiliki bakat menulis itu?

Saya memang bercita-cita ingin menulis buku sejak kecil. Saya nggak pernah punya ambisi jadi penulis lewat jalur jurnalistik atau penulis fiksi lewat media (kirim cerpen ke majalah, dll—walaupun sesekali pernah mencoba), pinginnya memang menulis buku. Latar belakangnya sederhana saja: ingin berbagi. Berbagi perenungan, pengalaman, pemikiran. Dan saya pikir, keinginan berbagi ini inheren ada di setiap manusia, cuma pilihan penyalurannya saja yang berbeda-beda. Kebetulan media yang saya pilih adalah lewat menulis.

Dari mana kiprah Dee sebagai penulis dimulai?

Saya mengawalinya pertama kali ketika cerpen saya Rico De Coro (ada dalam kumpulan cerita Filosofi Kopi) dimuat di majalah Mode tahun 1997, dua tahun sebelumnya tulisan saya juga pernah memenangkan kompetisi menulis di majalah Gadis, tapi saya pakai nama samaran. Sesudah itu langsung ke Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh tahun 2001. Sebetulnya cuma modal nekat saja, saya menerbitkan sendiri Supernova ke-1 tanpa ada ekspektasi dan pengetahuan lika-liku industri buku. Saya nyaris tidak ada target, siap merugi, yang penting saya menulis buku, itu saja.

Mana yang lebih menarik, menjadi penulis atau menjadi penyanyi?

Sama-sama menarik, keduanya saling melengkapi. Dari level superfisial, lewat menulis saya mendapatkan banyak pengalaman dan pertemuan menarik dengan orang-orang baru, pergi ke banyak tempat, dan menimba banyak ilmu. Dari level spiritual, menulis menjadi gerbang saya menemukan jati diri. Sementara menyanyi dan bermusik menjadi cara saya mencinta. Banyak keindahan dan perasaan yang bisa terungkap sempurna lewat menulis lagu dan menyanyi, dan itu menjadi kepuasan tersendiri yang tidak bisa terukur.
Menjadi penyanyi dan penulis bukan pilihan. Kedua-duanya sudah menjadi bagian inheren dari diri saya. Mimpi terbesar saya adalah karya saya bisa dinikmati dalam skala internasional.
Menulis itu seperti menciptakan semesta sendiri, lebih komplet dan komprehensif, tapi tidak berarti lebih unggul dari musik, karena keduanya bersifat komplementer.
Lewat menulis saya bisa mengeksplorasi karakter, narasi, dan plot. Dalam lagu, unsur itu ada tapi terbatas, jadi kisah dalam lagu cenderung lebih abstrak dan interpretatif. Tapi justru di situ jugalah kelebihan musik. Musik bisa dihayati bahkan lebih mendalam, dan bisa jadi lebih langgeng dan tak lekang zaman. Lagu juga punya melodi, dan itu satu kelebihan sendiri dibanding kata-kata belaka.

Dari keseluruhan karya Dee itu, mana yang paling berkesan untuk Dee?

Hmm. Semuanya punya kesan masing-masing sih. Tapi barangkali secara pengalaman, saya paling banyak belajar dari Supernova 1, karena itulah buku pertama saya, dan dari sanalah segala macam pengalaman menulis dan jadi penulis bermula.

Pernah terbayangkan sebelumnya kalau sekarang Dee menjalani hidup sebagai seorang penyanyi, pencipta lagu sekaligus penulis buku?

Sejujurnya, tidak. Karier menyanyi saya berjalan begitu saja, transisinya halus sekali. Dari aktivis vokal group & paduan suara sekolah, lulus SMA jadi backing vokal selama dua tahun, lalu tahun 1995 mulai rekaman untuk RSD, berjalan delapan tahun, hingga akhirnya berkarier solo sampai sekarang. Untuk jadi penulis memang lebih banyak perjuangan, karena dulu saya menerbitkan sendiri Supernova, jadi tantangannya memang banyak. Kalau buku itu kemudian jadi laku dan jadi perbincangan, itu di luar dugaan saya sama sekali. Dulu saya cuma cita-cita pingin punya buku aja. Kalau yang baca cuma 10 orang juga nggak apa-apa. Sudah senang.

Dari keseluruhan buku atau cerita yang Dee telah tulis, dari mana biasanya Dee mendapatkan ide – ide ceritanya? Dari pengalaman orang lain, pengalaman sendiri, atau berasal dar imajinasi Dee saja?

Kebanyakan dari perenungan. Bahan yang direnungkan tentu datangnya dari kehidupan itu sendiri, dari kisah pribadi, kisah orang lain, mengamati alam, dsb. Seorang penulis memang harus jadi pengamat yang baik.

Dari karya Dee yang berjudul Supernova, beberapa orang yang beranggapan bahwa buku – buku karya Dee terlalu sulit dimengerti. Apakah memang Dee senang menggunakan bahasa atau istilah-istilah kiasan di setiap karya Dee, lalu bagaimana Dee menanggapi tanggapan beberapa orang itu?

Masalahnya, saya jarang memikirkan orang lain ketika berkarya. Saya menulis apa yang saya suka saja. Termasuk kalau menurut saya ada beberapa terminologi teknis yang perlu digunakan, ya saya gunakan. Kalau kiasan atau metafora sepertinya sih semua karya sastra memilikinya. Soal susah dipahami atau tidak menurut saya adalah hal yang relatif. Yang jelas, saat berkarya kita tidak mungkin memuaskan semua orang, atau memastikan bahwa semua orang akan mengerti. Yang mengerti pasti ada, yang enggak juga pasti ada. Karenanya saya lebih suka menjadikan diri saya sendiri sebagai patokan, pokoknya apa yang menurut saya sesuai dan pas dengan yang ingin saya ungkapkan, ya, saya gunakan.

Rectoverso merupakan karya kedelapan Dee. Apa yang Dee ingin angkat dari Rectoverso ini?

Rectoverso adalah karya yang sangat personal dan emosional. Justru sayalah yang menantikan pesan dari pembaca Rectoverso dalam bentuk perasaan mereka, air mata mereka, dan bagaimana kisah-kisah dalam Rectoverso menyentuh hati mereka.

Apa latar belakang Dee sehingga Dee menggabungkan dua media yaitu buku dan music (album cd) dalam karya kedelapan Dee ini?

Rectoverso pada dasarnya adalah produk hibrida, jadi nggak bisa cuma dilihat sebagai album saja, atau buku saja, melainkan kedua-duanya seperti “saudara kembar”. Itu yang sangat membedakan Rectoverso dari karya-karya saya yang lain. Lagu dan kisah di Rectoverso saling melengkapi dan saling bercermin. Jadi bukan sekadar satu paket, tapi buku dan album Rectoverso itu seperti dua sisi dari koin yang sama. Esensinya, ide dan inspirasi untuk album dan buku Rectoverso itu satu dan sama, hanya saja mengambil dua bentuk yang berbeda. Saya juga ingin menampilkan aspek romantisme saya yang selama ini hanya bisa terekspresikan secara parsial dalam karya-karya saya yang sebelumnya. Rectoverso itu seperti menulis surat cinta yang panjang. Saya tidak fokus pada penokohan atau plot, melainkan emosi terdalam yang dirasakan oleh tokoh-tokoh, baik dalam lagu maupun cerpen di Rectoverso.

11 cerita dan 11 lagu dengan judul yang sama. Apakah angka 11 itu sebuah kebetulah atau memang Dee memang sengaja menulis cerita dan menulis lagu hingga berjumlah 11?

Awalnya nggak sengaja, kebetulan materinya memang sebelas. Sebetulnya masih bisa ditambah, tapi pada akhirnya saya memutuskan sebelas, karena 11:11 itu punya makna yang sangat dalam di ilmu numerologi. 11:11 dipercaya sebagai angka yang mewakili terbukanya gerbang antara dunia materi dan spiritual, antara dunia fisik dan dunia roh.

Dari mana ide cerita – cerita di dalam Rectoverso didapat?

Ya dari hidup itu sendiri. Dari kejadian sehari-hari, peristiwa di sekeliling saya, curhat orang-orang, apa yang saya rasakan, imajinasi, fantasi, dsb. Bagi saya, hiduplah yang mengajarkan dan menginspirasikan segala lakon dan karya manusia di dunia. Tergantung bagaimana kejelian kita mengamati dan mencerapnya saja.

Berapa lama proses pengerjaan Rectoverso ini?

Rekamannya sendiri hanya 4 hari karena semua direkam secara live. Tapi pengerjaan dari mulai konsep sampai mastering butuh waktu 1,5 tahun. Kalau bukunya kurang lebih sama, tapi saya kerjakan secara sporadis. Jadi nggak sekaligus.

Kesulitan – kesulitan apa yang Dee temui pada proses pengerjaan Rectoverso ini?

Kendalanya lebih ke penyatuan antara dua industri yakni musik dan buku, dan bagaimana menentukan strategi pemasaran yang mengakomodasi keduanya. Dari segi rekaman, karena kita memakai sebegitu banyak pemain dan rekamannya live (sejarah yang lebih lengkap silakan lihat kata pengantar di buku Rectoverso), jadi cara mengorganisir dan mengatur skema kerja produksinya juga menantang. Kalau dalam menulis sih hampir nggak ada kesulitan karena saya bikin berdasarkan lirik, dan nggak melibatkan orang banyak jadi tinggal berproses dengan diri sendiri saja.

Dalam CD rectoverso Dee berduet dengan Arina Mocca dan Aqi ALEXA, kenapa Dee memilih mereka untuk berduet dalam Rectoverso ini?

Saya adalah pengagum berat suaranya Arina. Menurut saya, dialah yang paling berbakat menyanyi di keluarga dan saya juga selalu berangan-angan ingin berkolaborasi dengan saudara-saudara saya. Kebetulan saya mencari karakter suara yang innocent dan seperti anak kecil untuk lagu Aku Ada. Arina adalah vokalis yang paling pas untuk itu. Duet tersebut sekaligus juga mewujudkan cita-cita saya untuk berkolaborasi dengannya. Saya memilih Aqi karena memang mencari partner duet cowok yang karakternya agak nge-rock tapi nggak terlalu ‘sangar’ sampai melibas suara saya yang cenderung soft. Dan kebetulan waktu itu album Alexa belum dirilis jadi Aqi masih bebas, mengurus perizinannya jadi nggak ribet. Dan saya juga suka banget karakter suaranya Aqi.

Sudah dua video klip yang Dee keluarkan, apakah Dee berniat untuk membuat video klip dari judul lainnya?

Baru saja dirilis VK “Aku Ada”. Jadi sekarang sudah ada tiga VK dari album Rectoverso.

Beberapa orang memiliki caranya sendiri dalam menikmati Rectoverso, kalau menurut Dee sendiri bagaimana cara terbaik menikmati buku dan CD Rectoverso?

Tidak ada cara khusus. Orang-orang bisa memulainya dari mana saja, bisa dari buku atau dari musik. Yang penting adalah menikmati keduanya sehingga keutuhan karyanya bisa dihayati secara penuh  dan maksimal.

Apa yang ingin Dee dapatkan sebagai seorang penulis?

Saya cuma ingin berbagi pemikiran dan suara hati saya. Itu saja.