Showing posts with label 2006. Show all posts
Showing posts with label 2006. Show all posts

Monday, May 9, 2016

Majalah Kartini (Digital) | Proses Kreatif | April, 2016


Dari semua buku karangan Dewi Lestari, buku mana yang menjadi favorit dari Mbak Dewi sendiri? Kenapa?

Saya selalu merasa paling dekat dengan buku yang paling akhir saya tulis. Jadi, saat ini saya merasa buku favorit saya adalah Inteligensi Embun Pagi.

Dari mana saja inspirasi itu keluar saat menuliskan cerita di novel-novel Mbak Dewi?

Karena saya sudah terbiasa menulis dan bekerja kreatif bertahun-tahun, saya merasa ada mekanisme yang memang berjalan sendirinya. Inspirasi saya datang dari hidup itu sendiri, dari mengamati dan menjalaninya. Baik perenungan, ketertarikan, maupun buku-buku yang saya baca, menjadi bahan bagi saya menulis.

Saat kondisi mood seperti apakah saat yang paling banyak mengeluarkan inspirasi dalam tulisan Mbak Dewi?

Saya tidak lagi menulis berdasarkan mood. Ketika saya sudah berkomitmen untuk membuat sebuah karya kreatif, saya lebih melihatnya sebagai pekerjaan yang diletakkan pada timeline tertentu. Katakanlah, setahun atau sembilan bulan, dsb. Jadi, bukan lagi soal mood dan nggak mood. Jika saya sudah menetapkan deadline, saya berusaha untuk mematuhinya. Yang saya buat adalah jadwal produksi; kerja berapa lama, berapa jam sehari, berapa target halaman, dst. 

Musik jenis apa yang paling bisa membuat Mbak Dewi enjoy saat menulis? Dan biasanya, siapa band atau penyanyi yang paling sering didengarkan sebelum atau saat menulis?

Secara umum saya lebih senang bekerja tanpa musik. Bagi saya, ketimbang musik, yang lebih penting adalah punya slot waktu yang tidak terganggu. Katakanlah, dua jam, maka dalam dua jam tersebut saya tidak mengerjakan hal lain. Sesekali pakai musik hanya kalau memang ada keterkaitan langsung antara cerita yang saya tulis dengan lagu tsb. Seperti waktu Rectoverso, saya menulis cerpen berdasarkan lagu, jadi selama saya menulis cerpen, saya mendengarkan lagunya berulang-ulang.

Novel Mbak Dewi selalu disukai oleh setiap pembaca buku, apa harapan terhadap para pembaca setia novel Mbak Dewi?

Saya sebetulnya tidak berharap macam-macam. Saya sudah cukup bersyukur punya basis pembaca yang cukup setia dan terus bertumbuh. Saya lebih fokus kepada berkarya sebaik yang saya bisa. Saya yakin dengan itu pembaca juga akan selalu mendapatkan kualitas dari pekerjaan saya.

Sebagai seorang penulis, apa pesan Mbak Dewi terhadap penulis-penulis muda saat ini?

Saat ini sebetulnya menjadi penulis sudah jauh lebih mudah dalam beberapa aspek. Platform yang tersedia saat ini memungkinkan penulis untuk menerbitkan sendiri, lewat media sosial penulis juga bisa mempromosikan karya-karyanya. Namun, saat ini juga persaingan lebih sulit karena semakin banyak penulis yang lahir. Saya rasa, jika para penulis muda tetap fokus kepada kualitas, punya motivasi kuat untuk terus belajar dan mengembangkan diri, maka mereka akan punya potensi untuk berhasil dan punya basis pembaca yang kuat.

Saturday, December 20, 2014

Mitra Netra | Profil | Juli, 2006 | by Fifi


Sejak kapan Mbak Dewi mulai menulis?

Saya menulis sejak kecil. Seingat saya, tulisan serius pertama yang saya tulis itu waktu saya kelas 5 SD, umur 10 tahun, dongeng tentang seorang anak yang mendamba kuda poni. Waktu itu saya banyak terpengaruh buku-buku Enid Blyton. Serius menggarap buku mulai saat kuliah. Tapi baru tahun 1999 saat saya mulai menulis draf Supernova, saya amat yakin bahwa Supernova akan menjadi karya pertama saya yang akan dipublikasi.

Saya tahu Mbak Dewi adalah seorang penyanyi. Apa yang menginspirasi mbak Dewi untuk menulis?

Memang hobi sejak kecil, sih, ya. Saya sendiri nggak tahu darimana asalnya. Barangkali bakat. Atau juga karena saya memang hobi mengkhayal dan butuh penyaluran. Menulis menjadi salah satu media saya.

Sudah berapa buku yang mbak Dewi tulis?

Ada 4 buku: Supernova – Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, Supernova – Akar, Supernova – Petir, dan Filosofi Kopi.

Bagaimana Mbak Dewi mendapatkan inspirasi atau ide untuk dijadikan novel?

Menurut saya, lebih tepat kalau ide yang menemukan saya, bukan saya yang menemukan ide. Apa yang saya lakukan hanyalah mengobservasi kehidupan sekitar saya, mengobservasi perasaan, pikiran, dan kehidupan pribadi saya. Dikombinasi dengan imajinasi maka jadilah ide cerita.

Apa yang Mbak Dewi lakukan untuk memperkaya tulisan?

Banyak membaca, dan menjadi pengamat yang baik. Itu saja. Inspirasi itu tersembunyi di setiap momen hidup kita, baik dari peristiwa, maupun bacaan. Dengan mengasah diri kita menjadi peka, dan mau membuka wawasan, pasti tulisan kita juga jadi lebih kaya.

Saya tahu Mbak Dewi cukup sibuk. Kapan biasanya Mbak Dewi menulis?

Dulu saya rutin menulis mulai malam hari sampai pagi. Tapi, sekarang berhubung sudah ada anak, jadi tidak bisa seperti itu lagi. Sekarang saya menulis sesempatnya saja. Kalau memang ada waktu kosong ya saya manfaatkan.

Berapa lama biasanya Mbak Dewi bisa menyelesaikan sebuah novel?

Bervariasi, kadang-kadang bisa di bawah 1 tahun, 9 atau 6 bulan. Tapi ada juga yang di atas 1 tahun, bahkan bertahun-tahun. Tergantung keleluasaan waktu yang saya punya dan tingkat kesulitan/riset yang dibutuhkan cerita itu.
 
Bagaimana Mbak Dewi membagi waktu untuk keluarga, menyanyi dan menulis?

Tidak ada resep khusus sebetulnya, hanya menjalankan semuanya sebisa mungkin dengan sesantai mungkin. Yang jelas keluarga saya harus jadi prioritas, sisanya menyusul. Kalau sempat nulis, ya, nulis, kalau sempat nyanyi, ya, nyanyi. Yang penting tidak melupakan komitmen dan integritas saya terhadap profesi. Bagaimanapun saya butuh menulis dan musik sebagai media berekspresi, tapi juga harus realistis.

Bagaimana dukungan keluarga dan suami dalam profesi Mbak Dewi sebagai penulis?

Mereka tentunya sangat mendukung. Ini kan sudah bagian dari diri saya, satu paket. Kalau sehari-harinya, ya, dengan memberikan saya keleluasaan untuk bekerja, memberikan masukan jika dibutuhkan, dsb. Pokoknya mereka sangat suportif.

Apa Mbak Dewi akan terus menulis?

Tentunya iya. Bagi saya menulis bukan lagi profesi, tapi kebutuhan. Dulu sebelum cerita saya diterbitkan pun saya tidak pernah berhenti menulis, jadi nanti kalaupun nggak jadi buku ya nggak apa-apa, yang penting menulisnya jalan terus. Dibaca sendirian juga oke. Hehe.

Apa motto hidup Mbak Dewi?

Mengenali diri sendiri adalah satu-satunya misi sejati hidup ini.

Mengapa Mbak Dewi bersedia membantu teman-teman tunanetra dalam hal bahan bacaan?

Menurut saya, teman-teman tunanetra pun punya hak yang sama dengan teman-teman lain, mereka punya hak untuk meluaskan wawasan, hak untuk terhibur lewat bacaan, juga hak untuk berkreasi lewat menulis. Karena menulis dan membaca adalah kegiatan yang tidak terpisahkan, maka sebisa mungkin kita selayaknya membantu teman-teman tunanetra. Mereka sudah punya huruf Braille untuk membaca, tinggal bacaannya yang perlu diperkaya. Satu kehormatan bagi saya apabila karya saya juga bisa dinikmati oleh mereka.

Apa saran Mbak Dewi kepada generasi muda yang ingin jadi penulis?

Sama seperti yang di atas, bahwa menulis harus dikawinkan dengan kegiatan membaca. Seorang penulis yang baik adalah pengamat yang baik, juga pembaca yang kaya. Dan tidak ada cara lain untuk menulis selain menulis, jadi harus sering dilatih dan dicoba tanpa putus asa. 

Monday, December 15, 2014

Didaktika UNJ | Profil | Desember, 2006 | by Sary Rahmayati

Dee mulai menulis sejak kapan? 

Saya menulis sejak kecil. Seingat saya, tulisan serius pertama yang saya tulis itu waktu saya kelas 5 SD, umur 10 tahun, dongeng tentang seorang anak yang mendamba kuda poni. Waktu itu saya banyak terpengaruh buku-buku Enid Blyton. Serius menggarap buku mulai saat kuliah. Tapi baru tahun 1999 saat saya mulai menulis draf Supernova, saya yakin bahwa Supernovalah karya pertama saya yang akan dipublikasi.

Kenapa Dee bisa beralih profesi dari seorang penyanyi menjadi seorang penulis novel? 

Sebetulnya menulis memang hobi sejak kecil dan merupakan kegiatan yang tidak terputus dari dulu sampai sekarang. Jadi dibilang beralih sebetulnya enggak juga, karena kedua hobi itu (musik dan menulis) saya jalankan berbarengan sejak kecil, hanya masalah mana kesempatan yang datang lebih dulu. Kebetulan karier saya di musik terbuka lebih awal, yakni tahun 1995 dengan RSD, sementara menulis baru tahun 2001 dengan menerbitkan Supernova. 

Pengalaman apa yang membuat Dee ingin menjadi penulis? 

Dari kecil saya senang mengkhayal, senang membuat cerita. Jadi tidak ada pengalaman khusus, memang sudah senangnya begitu sejak kecil. Saya suka buku, khususnya buku dongeng. Sejak dulu saya memang sudah bercita-cita ingin menulis buku. Tidak terpikir untuk kemudian berprofesi sebagai penulis sebetulnya, tapi ketika dijalani memang ternyata tidak bisa berhenti, ya. Selama saya masih punya sesuatu untuk saya bagi, tentunya saya akan terus menulis. 

Siapa penulis idola yang menjadi sumber inspirasi buat Dee? 

Saya banyak terinspirasi justru oleh para penulis nonfiksi, karena saya sangat suka buku-buku sains dan spiritualitas. Tapi untuk fiksi, saya suka gaya tulisannya Sapardi Djoko Damono, Seno Gumira Ajidarma dan Ayu Utami. Penulis luar saya suka Dave Eggers dan Ana Castillo. 

Bagaimana proses kreatif pembuatan Supernova? 

Supernova ditulis dengan terlebih dahulu melakukan riset, baik riset pustaka lewat internet maupun buku, dan juga riset lewat wawancara. Setelah bahan terkumpul, sambil jalan saya mulai menulis. Proses penyelesaian Supernova masing-masing episode berbeda-beda, tergantung faktor kesulitan tema yang ingin diangkat, juga faktor kesibukan juga. Supernova 1 saya selesaikan dalam waktu 9 bulan, yang berikutnya yakni Akar 1,5 tahun, Petir kira-kira enam bulan, sementara Partikel—yang sekarang ini sedang saya kerjakan—cukup alot. Selain materinya berat, saya juga sedang sibuk karena banyak kegiatan lain. 

Bagaimana tips dan trik Dee jika mengalami stagnasi dalam menulis?

Banyak membaca, dan menjadi pengamat yang baik. Itu saja. Inspirasi itu tersembunyi di setiap momen hidup kita, baik dari peristiwa, maupun bacaan. Dengan mengasah diri kita menjadi peka, dan mau membuka wawasan, pasti tulisan kita juga jadi lebih kaya dan stagnasi bisa kita atasi. 

Apa arti keluarga buat Dee? 

Keluarga bagi saya adalah support system, mereka hadir untuk menyeimbangkan hidup saya dan jadi prioritas yang utama. Sebelum berkeluarga, pekerjaan ya jadi nomor satu. Sekarang sudah nggak bisa begitu lagi. Jadi harus bisa pintar-pintar membagi waktu. 

Apa arti menulis buat Dee? 

Menulis bagi saya seperti bernapas. Bukan lagi masalah profesi, tapi sudah jadi kebutuhan. Lewat menulis saya mengaktualisasi diri, bahkan membantu menemukan jati diri saya. Dan seperti kegiatan bernapas, ada tarik dan ada keluar, maka ibaratnya menulis itu mengembuskan napas, membaca itu menarik napas. Kita harus menjalankan kedua-duanya agar seimbang; di satu sisi tulisan kita berkembang, dan di sisi lain apa yang kita baca juga bermanfaat bagi orang lain. 

Inspirasi untuk menulis biasanya datang dari mana saja? 

Dari hidup secara umum. Tema-tema spiritualitas dan cinta kebanyakan menjadi dasar bagi karya-karya saya. Jadi datangnya bisa macam-macam, lewat peristiwa yang melibatkan kita langsung ataupun tidak, atau dari sekadar mendengar dan mengamati apa yang terjadi di sekitar kita. 

Bagaimana tanggapan Dee melihat penulis perempuan sekarang? 

Yang jelas jumlahnya semakin banyak. Karena kalau dilihat di pasaran, penulis baru sekarang memang kebanyakan perempuan, ya. Bagus, deh. Aku sih senang-senang aja. Karena artinya perempuan semakin ekspresif, semakin bisa bersuara. Soal genre sih aku tidak terlalu mempermasalahkan, mau chicklit, teenlit, atau apapun, yang penting ketika penulis semakin banyak dan semakin beragam, diharapkan pembaca pun semakin banyak dan beragam. Pokoknya yang utama adalah perkembangan industri buku di Indonesia, supaya minat baca dan kultur membaca itu samakin memasyarakat. 

Tanggapan Dee mengenai RUU APP? Sebagai penulis perempuan ada tidak pengaruhnya dengan proses kreatif Dee sekarang? 

Saya menilai RUU APP itu dilatarbelakangi oleh sikap reaksioner, yang akhirnya memancing respons yang reaksioner juga. Menurut saya, peraturan dan hukum untuk distribusi barang-barang pornografilah yang perlu ditegakkan. Sejauh ini saya pribadi tidak merasakan dampak langsung, mungkin karena apa yang saya tulis juga tidak bermain-main di ranah yang seolah dikategorikan sensitif pornografi. Tapi saya harap tidak terjadi pemasungan kreativitas di negara kita, apapun kedok dan caranya. 

Melihat keadaan negara sekarang yang ricuh dan kisruh dengan banyak bencana dan kerusuhan lainnya bagaimana tanggapan Dee? 

Apabila kita ingin memperbaiki negara maka tidak ada jalan lain selain memperbaiki diri sendiri dulu. Apa yang tidak kita sukai, cobalah untuk dijauhi apalagi kita lakukan. Kita tidak mungkin mengubah negara kalau tidak mau mengubah diri sendiri dulu. Menurut saya, motor perubahan itu terjadinya dari rumah tangga, dari unit terkecil, negara akan menyusul. Bencana alam pun perlu disikapi dengan introspektif, bahwa alam memiliki mekanismenya sendiri, dan apa yang terjadi pada alam adalah cerminan yang kita berikan baginya. Jadi hargailah alam dengan menjaga lingkungan, kita bisa mulai dari hal kecil seperti menanam pohon, atau mengolah sampah rumah tangga. 

Motto hidup Dee? 

Kenali diri sendiri sebelum mengenali orang lain. 

Pesan buat anak muda (mahasiswa) yang ingin menjadi penulis? 

Sama seperti yang di atas, bahwa menulis harus dikawinkan dengan kegiatan membaca. Seorang penulis yang baik adalah pengamat yang baik, juga pembaca yang kaya. Dan tidak ada cara lain untuk menulis selain menulis, jadi harus sering dilatih dan dicoba tanpa putus asa.

Thursday, February 19, 2009

COSMOPOLITAN | Fun Fearless Female | May, 2006 | By Intan Pradina

1. Kabarnya album Out of Shell sudah rilis? Bagaimana rasanya telah merampungkan satu proyek yang makan waktu lama dalam prosesnya? Semua Anda kerjakan sendiri mulai dari bikin lagu sampai produksi?

Rasanya plong! Karena proyek ini tertunda lama banget. Mungkin bisa dicatatkan di MURI sebagai album yang persiapannya paling lama, hehe. Saya memang mengerjakan semuanya hampir sendirian, bahkan kalau lagi rekaman saya kadang-kadang merangkap jadi ‘office girl’ juga, beliin makanan buat kru, musisi, dsb. Demo pertama saya buat sejak tahun 1997, dan master sudah jadi dari tahun 2002. Waktu itu kendalanya karena masih terikat di Sony, tapi ketika keluar dari RSD tahun 2003 pun saya masih belum bisa keluarin karena menikah lalu hamil, 2004 punya anak, 2005 Keenan masih kecil banget, nah… baru 2006 inilah, setelah sudah bener-bener nggak tahu album itu musti diapain, tahu-tahu jalannya terbuka begitu aja. Out of Shell pertama rilis di I-Tunes dulu, dua minggu kemudian baru di toko-toko. Sebagian pembiayaan album ini sempat dibantu juga oleh Triawan Munaf, tapi operasionalnya saya kerjakan sendiri.

2. RSD dulu sukses. Begitu pun buku-buku Anda, laku keras! Apa resepnya?

Wah, apa, ya? Mungkin karena semua dilakukan dengan cinta. Memang kecintaan saya ada di musik dan menulis. Ukuran laku sih relatif ya, tapi kalau kita melakukan profesi kita atas dasar cinta, passion, pasti hasilnya memuaskan, setidaknya dari ukuran kreatornya. Faktor lain yang nggak kalah penting lagi adalah kerja keras. Mempromosikan buku sebenarnya sangat melelahkan dan menyita waktu, makanya nggak semua penulis mau melakukannya. Tapi sejauh ini saya memilih untuk seoptimal mungkin berpromo karena saya rasa itu yang terbaik bagi buku itu sendiri.

3. Sepintas melihat Dee, yang terbayang Dee itu tipe pemikir dan orangnya serius. Tapi saat membaca beberapa karya Anda seperti Petir dan cerpen Rico De Coro (Filosofi Kopi), sepertinya sisi humor Anda tinggi juga bahkan cenderung “gila”. Benarkah?

Bener banget. Untuk banyak hal saya memang serius, sangat-sangat serius, saya senang berpikir, merenung, melamun, kontemplasi, dan bacaan saya juga kebanyakan serius dan berat. Tapi di sisi lain saya ini pencinta humor sejati, sangat senang tertawa, sangat ringan, konyol, bahkan “gila”. Itu terlihat dari sahabat-sahabat saya yang sangat beragam, dari mulai yang ancur-ancuran lucunya sampai ke para pemikir yang sangat serius. Dan memiliki kedua sisi itu, menurut saya, adalah cara terbaik untuk menikmati hidup. Ada yang bilang, ketika orang sudah mencapai pencerahan dia justru akan tertawa. Saya setuju banget. Untuk jadi tercerahkan biasanya kita setengah mati memeras hati dan otak, tapi kalau pada ujungnya nanti kita malah nggak bisa ketawa, maka pencarian itu sia-sia. Tidak ada cara terjitu untuk memaknai hidup selain lewat humor.

4. Imajinasi Anda pasti tinggi. Pernahkah merasa “kewalahan” dengan talenta Anda itu? Bagaimana Anda mengatur untuk dapat menampung seluruhnya dalam wadah yang tepat?

Kayaknya saya tiap hari kewalahan soal itu, deh. Haha! Dan memang itulah tantangan saya terbesar, mengorganisasi begitu banyak ide dan menyusunnya dalam rancangan kerja yang realistis. Selama ini, yang sering menjadi batu sandungan saya adalah jumlah ide dan keinginan yang tidak sinkron dengan kemampuan riil. Solusinya adalah kompromi dengan diri sendiri. Di kepala saya ada sepuluh proyek, tapi di atas kertas saya cuma bisa mencantumkan dua atau tiga, dan saya tidak boleh terhanyut rasa frustrasi atau gemas karena yang sisanya itu belum bisa direalisasi. Intinya sih, just get real. Dan untuk bisa realistis bagi seorang pemimpi seperti saya itu adalah tantangan besar.

5. Apa hal-hal yang bisa bikin Anda tertawa lepas dan gembira?

Almost anything. Saya punya sekelompok sahabat, yang kalau sudah dengan mereka dijamin saya bisa lepas dan gila. Dengan keluarga saya pun begitu juga, kami selalu mampu menemukan hal lucu. Momen terlucu yang baru-baru ini terjadi adalah ketika saya di restoran masakan Sunda di Cirebon, dan saya menemukan hal aneh di buku menunya. Jadi untuk menerjemahkan masakannya ke bahasa Inggris mereka pakai istilah Latin, mungkin karena ingin sekali terkesan serius dan akurat. Misalnya, “Keripik Emping” diterjemahkan jadi “Gnentum Gnenom Cracker”, “Ikan Mas Bakar” jadi “Grilled Cyphrinus Carpio”, “Pete Goreng” jadi “Fried Parkia Speciosa”, dan masih banyak lagi. Sumpah, saya ketawa sampai ternangis-nangis, setengah jam lebih nggak berhenti. I think that’s the best kind of humour. Ketika sesuatu tidak dimaksudkan untuk lucu, ditemukan nggak sengaja, dan absurd.

6. Apa sisi paling mengasyikkan dari pekerjaan Anda sekarang?

Bertemu begitu banyak orang yang berkualitas. Bertemu dengan para pembaca saya yang bilang ‘buku Anda menginspirasi saya’, ‘buku Anda mengubah hidup saya’. Itu tak terkatakan rasanya.

7. Anda bahagia menjadi Dee karena... ?

I can do what I love the most, and actually can make a living out of it. Untuk satu hal itu, I consider myself very, very lucky.

8. Orang-orang dekat Anda mengatakan Dee itu identik dengan apa?

Kata adik saya: Joget Norak dan Suara Dua. Haha! Berhubung di rumah cuma lagi ada dia, jadi saya nggak ada tambahan dari yang lain.

9. Anda pernah diprotes soal cover novel Akar yang menyinggung satu agama tertentu. Bagaimana reaksi dan sikap Anda menghadapi hal itu?

Setiap agama pasti punya kelompok chauvinist yang memang hobinya mengklaim ini-itu sebagai milik eksklusif kelompoknya, dan ini merupakan ciri umum dari agama di seluruh dunia. Ketika saya membahas masalah universal seperti spiritualitas, yang merupakan jantung tiap agama, pastinya akan beririsan dengan lapisan periferinya juga, yaitu dengan orang-orang yang pandangannya masih eksklusif dan sempit. Fenomena ini wajar sekali. There’s no wrong or right, hanya sudut pandang yang berbeda. Dan, saya pikir masyarakat pun bisa bijak melihat esensi dari masalah seperti itu. Toh di berbagai kasus yang serupa pun yang protes juga masih orang-orang yang sama.

10. Menurut Anda, sisi fearless Anda muncul pada saat Anda...

Saat saya jatuh cinta. Rasanya apa aja bisa dilakukan. And also in those short moments when I feel that life is actually a whole, inseparable, and everything is one.

11. Apa arti seksi buat Anda? Anda mengatakan seorang wanita tampak seksi bila?

Sexy is a state of mind. Sexy is an energy that when transcended becomes nothing but love. Jadi seksi sesungguhnya adalah kemampuan untuk mencinta. Ketika seseorang tampak sangat nyaman dengan dirinya sendiri, menurut saya itu sangat seksi. Penerimaan diri itu bukan hal yang mudah, tidak bisa dicapai dengan kosmetik atau operasi plastik, dan sepertinya orang-orang modern makin keras berjuang untuk bisa diterima. Mereka cari guidance dari majalah, dari iklan, dari macam-macam. Ada yang ketemu, tapi lebih banyak lagi yang malah tersesat. When a woman finally arrives at a point where she can claim: “This is me. And I’m happy and comfortable with myself”, it’s when she reaches the sexiest point of her life.

12. Anda suka membaca apa? Musik siapa yang Anda dengarkan?

Bacaan saya kebanyakan seputar spiritualitas, sains, filsafat, kesehatan, parenting, ekologi, dan beberapa fiksi. Kalau sekarang lagi suka baca bukunya Graham Hancock yang mendekonstruksi sejarah pra-primitif dan bicara soal The Lost Civilization, dan yang lebih menariknya lagi adalah ternyata penelitian tsb masih berhubungan dengan global warming yang kita hadapi sekarang. Lagi baca bukunya Osho juga. Untuk musik saya kebanyakan suka band atau singer-songwriter, saya suka Tears for Fears, Sarah McLachlan, Paula Cole, dll.

13. Apa pengaruh keluarga/orangtua dalam membentuk karakter Anda hingga seperti sekarang ini?

Sangat besar. Mereka tidak pernah intervensi kerjaan saya secara langsung, tapi keberadaan mereka sebagai sebuah sistem penyokong memungkinkan saya bisa berkembang seperti ini. Ayah saya sangat demokratis, berpikiran terbuka. Ibu saya cenderung disiplin, intelektual. Kakak-adik saya “gila” semua, mereka memang seniman-seniman sejak kecil, dan sampai sekarang pun bekerja di bidang seni. Jadi kreativitas sudah jadi kegiatan sehari-hari dari kami kanak-kanak.

14. Apa yang kamu lakukan untuk relaksasi, keluar dari 'rutinitas' sebagai selebriti?

Santai di rumah saja, nonton TV kabel, nggak keluar-keluar, bahkan seharian nggak mandi, itu sudah jadi relaksasi. Sesekali ke bioskop, atau nongkrong ketemu teman-teman lama.

15. Apa impian Anda saat ini?

Pingin travelling. Banyak sekali yang ingin saya lihat tapi sejauh ini waktunya belum ada. Mudah-mudahan setelah Keenan agak besar, setelah proyek-proyek buku selesai, saya ingin off dulu beberapa lama dan hanya travelling.

Thursday, February 12, 2009

NIRMALA | Yang Muda Yang Spiritual | Dec, 2006 | By Emma Madjid

1. Mengapa Dee belakangan ini tertarik masuk ke gerbang spiritual?

Sebetulnya proses itu sudah cukup lama, sejak akhir 1999. Dan saya merasa ketertarikan pada spiritualitas itu inheren pada setiap orang, hanya masalah momen naik ke permukaannya saja yang berbeda-beda. Pertanyaan tentang Tuhan, eksistensi, makna hidup, dan sejenisnya, memang selalu mengusik saya sejak kecil dan bolanya bergulir terus hingga sampai puncaknya pada tahun 1999. Sejak itu konsep saya tentang Tuhan dan agama berubah total. Saya memutuskan untuk melepaskan segala ‘jubah’ keagamaan dan ingin mengapresiasi hidup dari titik nol. Sejujurnya, saya sangat nyaman dengan kondisi ‘jalan tak berpeta’ tersebut. Namun setelah berkeluarga, barulah saya mulai mempertimbangkan untuk berada dalam satu koridor khusus. Saya mendapatkan banyak kecocokan dengan ajaran Buddha, walaupun itu tidak berarti saya lantas berhenti mengeksplorasi. Prinsipnya, apapun yang cocok dengan intuisi dan mencerahkan saya secara pribadi, akan saya terima. Misalnya, saya banyak sekali mendapatkan wawasan baru dan jernih dari Kabballah, juga dari sains yang berbasis monisme idealistik (mis. buku-buku Amit Goswami). Pendekatan eklektik semacam ini memang yang paling pas bagi saya. Perjalanan spiritual adalah perjalanan yang individual, meski dalam prosesnya kita dibantu oleh banyak orang dan banyak jiwa lain, hanya kitalah yang bisa merasa apa yang paling pas bagi diri kita sendiri dari waktu ke waktu.

2. Kapan pencerahan itu datang? Apakah melewati kejadian tertentu dalam hidup Dee? Atau ada yang 'ngomporin'?

Bagi saya, momen pencerahan itu tidak tunggal tapi multipel. Bukan satu peristiwa yang sekali jadi lalu selesai, melainkan proses yang berulang-ulang dan semakin dalam. ‘Gong’ pertama memang tahun 1999, tapi prosesnya terus saya jalani hingga sekarang. Pada saat itu saya memang terbentur masalah pribadi yang cukup berat, dan akhirnya itu menggiring saya untuk menggali lebih dalam makna cinta, hidup, dan Tuhan. Dan sekarang saya mengerti bahwa gerbang menuju kesejatian memang bermacam-macam, barangkali itulah gerbang yang jiwa saya pilih. Selain itu, secara umum saya memang sangat terusik dengan fenomena perseteruan agama; orang-orang bisa saling membunuh atas nama Tuhan. Dan pada saat itu tragedi Ambon sedang ramai-ramainya. Di Indonesia, bahkan dunia, sejarah manusia berdarah-darah akibat membela Tuhannya masing-masing. Itu membuat saya semakin tergerak untuk berbuat sesuatu, karena menurut saya masalah dunia ini terletak pada pemahaman dasar manusia akan Tuhan. Apa yang seseorang percaya atau tidak percaya tentang Tuhannya akan membentuk sikap dan cara pandangnya untuk berlaku di Bumi. Makanya kemudian saya menulis Supernova, novel serial yang memang dikhususkan untuk tema spiritualitas. Supernova merupakan cermin perjalanan batin saya. Saya ingin berbagi cara pandang, syukur kalau ada yang merasa cocok, kalau tidak pun tidak apa-apa. Semua makhluk menjalankan proses yang patut kita hargai.
Perjalanan saya sejauh ini dituntun alamiah oleh hidup melalui peristiwa dan hasil trial & error. Belum pernah punya sosok guru tunggal, mungkin belum ketemu. Sejauh ini saya lebih didukung oleh support system berupa buku-buku, teman-teman, keluarga, dll.

3. Apakah ada perubahan dalam diri setelah masuk ke gerbang tersebut? Tolong disebutkan.

Wah, banyak sekali ya. Karena itu tadi, saya percaya pemahaman seseorang akan Tuhan (atau non-Tuhan) itu otomatis menentukan segala hal lainnya. Prioritas saya berubah, cara saya memandang sebuah hubungan baik itu percintaan atau persahabatan juga berubah. Dalam keseharian, saya lebih menghargai proses, berusaha tidak menjustifikasi berdasarkan polaritas hitam-putih tapi berusaha mentransendensi polaritas tsb dan melihat segala hal dari esensi yang netral, bukan apa yang kelihatan di permukaan. Secara global, saya jauh merasa lebih tenang, lebih seimbang, dan lebih sehat secara fisik. Saya sangat menikmati dan menghargai hidup ini. Bukan berarti segala masalah lenyap, tapi cara pandang saya pada masalah itu yang jadi beda. Saya nggak terlalu ngoyo lagi soal pekerjaan. Dulu saya orangnya target-minded, sekarang jauh lebih rileks, dan hasilnya malah lebih baik. Intinya, saya lebih bisa menerima diri. Semakin kenal, dan semakin menerima. Proses ini tidak mudah, tapi tidak ada istilah mundur. Gampang dan susah tinggal kita yang mengkontekstualisasi. Perjalanan spiritual itu tidak kenal mundur, sama halnya dengan evolusi. Kita bisa berpencar arah, tapi semua melangkah maju dengan waktu dan kecocokan caranya masing-masing.

4. Selama ini Dee termasuk sering mengatur POLA MAKAN, dan menjalani hidup sehat, boleh dijelaskan? Demi kesehatan, makanan/minuman apa saja yang sudah dihapus?

Saya mulai jadi vegetarian lacto-ovo sejak tahun 2006. Sudah lama sih kepingin jadi vegetarian tapi ternyata tekadnya baru bulat setelah membaca hubungan hidup vegetaris dengan lingkungan hidup. Jadi alasan saya bukan semata-mata kesehatan. Saya memang lagi concern sekali dengan masalah lingkungan, dan ingin serius melakukan kontribusi. Ternyata hidup vegetarian punya dampak besar sekali. Banyak dari kita yang belum tahu bahwa industri hewan kontribusinya sangat signifikan bagi pemanasan global. Keenan, anak saya, yang justru pertama kali jadi vegetarian. Sejak umur 1 tahun dia sudah menolak makan daging. Dipaksa dan diakali seperti apapun dia nggak mau, pasti dia keluarkan dari mulutnya. Jadi ketika saya berniat vegetarian saya pikir sekalian saja, toh Keenan bahkan sudah duluan. Dan untungnya kami bisa kompak satu keluarga, masaknya jadi praktis.
Secara umum, pola makan kami tidak terlalu rigid, bahkan cenderung sederhana. Untuk konsumsi telur kami coba batasi 3x seminggu, sehari-hari lauk kami hanya tahu-tempe-sayur. Gula juga kami batasi, sebisa mungkin menggunakan gula yang lebih natural (bukan yang refined), seperti gula batu atau gula madu. Camilan Keenan juga kami usahakan tidak yang terlalu berbumbu atau berasa tajam supaya lidahnya nggak ‘kecanduan’, dia lebih sering makan rice crackers atau sereal polos. Selain itu, saya berusaha sebisa mungkin mengonsumsi makanan organik.

6. Apa makanan/minuman Andalan Dee agar selalu fit?

Air putih, sebisa mungkin yang heksagonal. Dan sayur yang dimasak tidak terlalu layu.

7. Bagaimana cara Dee menekan stres yang selalu timbul dalam aktivitas keseharian? (ini semacam tip dari Dee aja, yang Dee sering lakukan, boleh beberapa poin, kalau memang unik boleh diterangkan cara menerapkannya)

Memahami bahwa hidup ini hanya kumpulan aktor yang sedang akting, termasuk diri kita sendiri. Di Buddhisme dikenal istilah anicca, yakni tidak ada yang kekal. Stres itu timbul karena kita ingin meyakini beberapa hal itu nyata dan kekal, padahal tidak ada. Bahagia maupun sedih, senang maupun sakit, semua itu senantiasa berubah dan hidup ini cair. Melawan, kita justru tenggelam. Berenang oke, asal tidak menentang arus, karena akhirnya kelelahan.
Ketika tengah menjalani hari saya kadang-kadang suka ngomong sendiri: ‘Cut!’, dan itu menyadarkan saya bahwa hidup ini rangkaian adegan belaka. Susah atau senang itu bikinan kita sendiri. Lewat beradegan kita menerima pelajaran, dan apabila pelajaran itu selesai, maka kita beradegan baru, kalau belum maka adegannya akan diulang-ulang terus.

Tuesday, February 10, 2009

DJAKARTA MAGAZINE | Out of Shell | 2006 | By Randy Salim

1. Now you're finally “out of shell”—just how cramped was it in there anyway?

Let’s put it this way: my first English song, “Uncommon” was written back in 1994, long way before I joined RSD. And first the song I produced, “Water Song”, hit the studio in 1997. The whole process of composing, recomposing, arranging, rearranging, mixing, remixing, still continued until end of 2000. And what year is it now? 2001—the real millennium? So, I won’t say it’s cramped. It was almost like being baked in a microwave, and the microwave is your own brain. You were attacked by countless waves of thought and emotion that were longing to be expressed and manifested, but you just don’t know how long the ‘ting’ finally tings till it tings! Got it? ;)

2. English—the language of snobs or poetic expression?

English, believe it or not, was my last priority. My deepest poetic drive originally rooted in Urdu. But, hey, it’s a real industry using some real money, so someone has to be realistic here.

3. Solo albums—a way of branching out or a way of saying I’m sick of the band?

A way of to keep myself sane. Have you ever heard memetics? It’s a new branch of science that studies meme—the smallest unit of mind that works like virus. It was designed to invade and infect others, otherwise it consumes its host to the last molecule. The same thing works in mind and emotional level. When you have ideas in whatever form, you just have to let them out at some point, or they’ll eat you up. As in my case, it would cause me continuously humming the same old tunes I’ve created 7 years ago, which is… pretty sickening. Or even lethal.

4. Personal preference—being known by the first letter of your name or the last name out of 3?

The first letter is always the best. I love “Dee”. May it be Dudung, Dadang, or Dodol! Somehow “Dewi RSD” sounds like an academic title, like Ph.D or something, which I hardly earn.

5. An English solo album by a known Indonesian singer/songwriter—‘think the folks up in the daerah will get it?

Well, I heard the Titanic soundtrack was a huge success in daerah, even before someone in the industry was creative enough to make a Sundanese or Bataknese version of “My Heart Will Go On” in cha-cha-dut house remix. So, yea, I think there’s always a chance.

6. Artis—an honourable title or a confused and misused 5-letter word?

It’s very a deceitful word; provides you free tickets, lots of salon’s voucher, insurance and credit card applications—since everybody thinks you’re all filthy rich. At the same time, it exposes you to so many shallow and unnecessary publicities, and before you know it, you will hold a press conference just to confirm you finally dumped your pacar for real.

7. Sinetrons and advertisement—please tell us you’re not, and hopefully never going to do either one…

If you have a message or something meaningful to say, would you prefer to pack it in a form of an exclusive, high-cost mega movie that would only attract hundreds of audience, or in a sinetron that’s watched by millions? I don’t have anything against sinetrons (though I hardly watch any), or advertisements. In fact, I think they are very powerful mediums. I know I won’t be an artis sinetron for sure, but I don’t mind producing one just for the sake of passing down a positive message (or: spreading my memes). I also think that advertisement, if it truly supports your ideal and not the other way around, can be an amplifier for the image you want to deliver.

8. Celebrity Death Match—between you and Anggun (as the only other known English-singing Indonesian), who would kick whose ass if you were both immortalized in clay?

Ha! Lucky you. My insider just told me that the real threat is not the return of Anggun’s fang that was once removed in a secret operation in Paris (which would resurrect her vampire’s bite), but the undercover Neo-Nazi skinheads that will butcher all the mulatto’s skinned people in the stadium, including me and Anggun. So, for your information, I will thoroughly airbrush my skin with water-proof silver paint, then arm myself with chains of garlic. Sounds like a plan, eh? Let’s see who really kicks some ass!

Monday, February 9, 2009

BUKUNE Majalah | Behind The Book: Supernova AKAR | Dec, 2006 | By Deta Oktaria

1. Mengenai cover buku "Akar", kenapa dulu cover itu bisa sampai bermasalah?

Pada cover depan Supernova ke-2 berjudul AKAR, saya memuat lambang Om (atau Aum). Lambang Om itu sendiri juga muncul di bagian dalam dan secara intrinsik terajut dalam cerita. Ternyata ada pihak yang menganggap bahwa Om sebagai lambang suci tidak layak dimuat dalam sampul novel, hanya di kitab suci. Dan juga Om itu eksklusif milik agama/budaya tertentu sehingga orang2 yang di luar dari penganut agama/budaya tsb tidak diperkenankan untuk memakai lambang Om dalam karya/keseharian mereka.

2. Siapa yang mempermasalahkan cover itu?

Sebuah organisasi pemuda berbasis Hindu di Bali. Menurut jubirnya, mereka hanya menampung aspirasi dari beberapa orang di lapisan masyarakat Bali yang merasa Om tidak pantas ada di sampul novel.

3. Perubahan apa yang dilakukan terhadap cover itu?

Sebetulnya kedua pihak (saya dan organisasi tsb) sudah sama-sama jelas dan sepakat bahwa penggunaan Om di cover AKAR tidak bermotivasikan penghinaan atau pelecehan, tapi untuk mengakomodir semua pihak maka kami memutuskan untuk mengubah sampul pada cetakan berikut. Saya tidak menyanggupi permintaan mereka untuk menarik buku cetakan pertama yang kadung beredar karena kesulitan teknis, dan akhirnya mereka juga setuju. Untuk cetakan berikut, sampul AKAR pada bagian Om akhirnya dibolongi.

4. Tahun berapa cover 'bermasalah' itu terbit?

Tahun 2002.

5. Apakah Mbak Dee kecewa dengan adanya masalah seperti ini?

Awalnya kecewa juga, karena menurut saya sikap eksklusivitas semacam itu kontraproduktif dengan universalitas nilai-nilai pihak itu sendiri. Tapi saya juga sadar sepenuhnya bahwa ini semua hanya keberagaman sudut pandang, jadi tidak usah dilebih-lebihkan. Saya sendiri nggak fanatik dengan desain cover, buktinya saya sering mengubah-ubah sampul buku saya sendiri dari cetakan ke cetakan. Jadi masalahnya memang bukan di desain, tapi persepsi yang memotori protes tersebut.