Showing posts with label Reza Gunawan. Show all posts
Showing posts with label Reza Gunawan. Show all posts

Monday, April 27, 2015

Free Magazine | Simangunsong Sisters & Gelombang | Januari, 2015 | by Mikhail Teguh Pribadi


Simangunsong Sisters
 
Bagaimana ide awalnya bisa tercetus untuk kumpul kembali ?

Sebenarnya nggak ada konsep “kumpul kembali” sih, karena secara formal kami memang nggak pernah menjadi satu group. Tapi dari kecil kami sering nyanyi bareng dan bermusik bareng. Kami saling membantu kalau satu sama lain bikin album solo atau proyek musik. Kami juga pernah ikut group vokal dan paduan suara bareng-bareng. Cuma memang yang jarang terjadi adalah kami bernyanyi untuk publik (umum) dengan tema di luar dari Natal / acara keluarga. Dan itu akhirnya kejadian di acara Tribute to Carpenters yang diadakan oleh @America.

Mengapa memilih The Carpenters sebagai perform awal untuk tampil ?

Itu pun sebetulnya bukan kami yang pilih. Salah satu kurator @America, Chico Hindarto, berteman baik dengan Imel, dan Chico terpikir untuk mengadakan Tribute to Carpenters sebagai salah satu program spesial @America. Chico lalu menghubungi Imel dan menanyakan apakah kami bertiga, sebagai bersaudara, mau tampil membawakan lagu-lagu Carpenters. Setelah ada tanggal yang kosong, akhirnya Imel mengiyakan. Bagi kami sih sebetulnya bukan Carpenters-nya yang utama, cuma pengalaman nyanyi bareng untuk publik umumlah yang menjadikan tawaran itu menarik.

Dengan kesibukan masing-masing yang berbeda dan superpadat, bagaimanakah kalian mengatur scheduling untuk latihan akhirnya tampil?

Terus terang latihan agak minim karena kesibukan masing-masing, terutama Arina yang super sibuk dengan Mocca, plus kami sudah tidak tinggal sekota. Jadi, kami latihan waktu kumpul keluarga pas Natal 2014, lalu pas Arina ada acara di Jakarta, Imel menyengajakan pergi ke Jakarta untuk latihan bareng. Kami latihan di rumah saya di BSD, sudah bareng dengan para pemusik tambahan, Jesse (drum) dan Chaka (bass), termasuk suami saya, Reza, yang “ditodong” jadi pianis tamu. Berikutnya, kami langsung ketemu di @America pas sound-check. Jadi, agak mepet memang. Untungnya beberapa lagu sudah familier karena sering dengar dari kecil. 

Ke depan, akankah kalian akan lebih sering tampil bersama seperti ini?

Ide itu menarik sih untuk dieksplorasi, yang jelas hanya bisa dilakukan kalau Arina sedang berada di Indonesia. Mudah-mudahan acara @America tempo lalu jadi pemicu untuk kesempatan tampil lainnya.

Sejauh mana The Carpenters menginspirasi kalian ?

Sejujurnya kami nggak pernah (setidaknya saya) merasa ngefans amat sama Carpenters, tapi setelah kami mengulik lagu-lagunya, ternyata banyak sekali lagu mereka yang sudah kami mainkan sejak kecil tanpa sadar. Banyak lagu Carpenters menjadi lagu-lagu pelajaran waktu kami les musik. Dan, Carpenters juga banyak menyanyikan lagu-lagu orang lain, termasuk lagu-lagu yang kami suka, seperti lagunya Jim Henson “Rainbow Connection”, lagunya Joe Raposo “Sing”, dan lagunya Neil Sedaka “Solitaire”. Di luar itu, lagu-lagu yang ditulis oleh Richard Carpenters-nya sendiri memang banyak yang bagus. Dan gara-gara ngulik untuk acara tempo hari, saya jadi mengapresiasi ulang kepiawaiannya menulis lagu.


Gelombang

Setelah merilis Novel Supernova #5 : Gelombang, adakah rencana untuk kembali bermusik ?

Ada, tapi saya kayaknya ingin mendahulukan menyelesaikan Supernova 6, setidaknya sampai manuskripnya selesai, baru bisa fokus ke proyek-proyek kreatif lain. Nggak bisa disambi.

Adakah plan untuk kembali mengadakan reuni bersama RSD ?

Sejauh ini belum. Kalau hanya untuk show saja sebenarnya kami terbuka, tapi memang kesempatannya belum ada.

Sejauh mana musik mempengaruhi seorang Dee untuk berkarya dalam menulis?

Sangat berpengaruh. Dan itu awalnya tidak saya sadari. Tapi semakin ke sini, saya makin sadar bahwa cara saya menulis dan menyusun kalimat itu sangat terpengaruh dengan bunyi dan tempo. Bagi saya kalimat yang dibacanya enak itu adalah kalimat yang juga enak dibunyikan, punya ritme, dan temponya pas dengan keseluruhan cerita. Feeling semacam itu saya dapatkan dari bermusik.

Siapa musisi saat ini yang menginspirasi Anda?

Saya selalu suka dengan singer/songwriter yang liriknya bagus. Dari dulu saya senangnya ya seputar Sarah McLachlan dan Indigo Girls. Yang agak baru saya suka Corrine May dan Sara Barreiles. Dari Indonesia, saya lagi suka Tulus.

Tuesday, December 23, 2014

Tabloid Wanita Indonesia | Rubrik: Bincang | Desember, 2014 | by Dewi Syafrianis

 
Halo Dee, apa kabar? Lagi sibuk apa? 

Kabar baik. Saya sedang terlibat beberapa penjurian lomba menulis dan merampungkan jadwal promosi Gelombang untuk akhir 2014 ini. 

Oh ya, Dee kan sudah nonton filmnya ya (waktu preskon, Sabtu 6 Des 2014). Puas nggak dengan hasilnya? Sudah sesuai dengan ekspektasikah? 

Menurut saya, filmnya cukup membanggakan, digarap dengan sangat serius dan produksinya luar biasa. Angin segar bagi perfilman Indonesia karena cerita dan penggarapannya yang tidak biasa. Tentunya, bukan tanpa catatan. Apalagi bagi saya yang nulis, ya. Tapi secara keseluruhan menurut saya filmnya amat layak ditonton. 

Boleh cerita lagi dong tentang ide awal menulis Supernova ini. Kan, katanya bisa dibilang ini tentang spiritual Dee yang diangkat dalam bentuk fiksi ya. Seperti apa tuh... 

Supernova saya tulis tahun 2000. Kira-kira setahun sebelumnya saya mengalami peristiwa yang mungkin bisa disebut “epifani” atau pencerahan kecil, yang mengubah pandangan saya tentang hidup. Dan sejak itu saya tertarik menyelami spiritualitas dan bagaimana hubungannya dengan dunia sains. Saya menulis Supernova karena ingin berbagi apa yang saya pikirkan. Karena saya bisanya ya nulis fiksi. 

Kesibukan Dee selain nulis novel apa lagi nih? Masih menekuni dunia menyanyi nggak sih?  Maksudnya di luar mencipta lagu ya. Apakah masih terima tawaran off air? 

Sedang enggak. Lagi fokus menulis saja. 

Seperti apa sih keasyikan menulis untuk Dee? 

Bagi saya, menulis adalah saluran berekspresi, jadi bukan sekadar asyik tapi juga kebutuhan. 

Sudah ada belum sih buku yang Dee buat bersama suami (Reza Gunawan)? Belakangan kan ada juga tuh penulis berkolaborasi dalam membuat novel. 

Belum. 

Olahraga kesukaan Dee apa sih? Apa manfaat yang didapat?

Saya cenderung suka olahraga yang cardio, seperti Body Combat, Taebo. Belakangan lagi coba interval training juga, kombinasi lari dan jalan. 

Apakah olahraga tersebut juga bagian dari me time? Kalau bukan, me time-nya apa tuh? 

Kalau buat saya, olahraga memang buat jaga kesehatan dan metabolisme. “Me time” lebih ke hal-hal yang relaks seperti membaca, melamun, meditasi, jalan-jalan, atau spa. 

Seperti apa bentuk dukungan suami terhadap karya-karya Dee selama ini? 

Dia seperti produser saya. Bukan soal kreatifnya, tapi soal jadwal. Soalnya peran saya kan bukan cuma penulis, tapi ibu dan istri. Jadi, dia ikut bantu menyusun jadwal kerja saya, dari mulai ngitung deadline sampai jam menulis, supaya peran saya yang lain nggak keteteran. Dan sejauh ini, peran dia sangat besar. Madre, Partikel, dan Gelombang nggak akan beres tepat waktu kalau bukan karena bantuannya.

Monday, December 22, 2014

Wawancara Jotun | Eco-Friendly House | April, 2013


Sejak kapan menghuni rumah ini?

Kami mulai pindah ke rumah ini sejak 12 Desember 2012.

Berapa luas bangunan dan luas tanah? Berapa lantai? Berapa lama pengerjaan rumah?

Luas bangunan kurang lebih 420 m2, luas tanah 360 m2. Bangunan ini terdiri dari dua lantai. Pengerjaan rumah kurang lebih berjalan 15 bulan.

Ceritakan mengenai konsep rumah Anda.

Rumah kami mengusung konsep 'rumah sehat hijau'. Artinya, rumah ini sedapat mungkin hemat energi, eco-friendly, minim toksin, minim polusi elektromagnetik, minim clutter, dan memberikan kesehatan lahir batin bagi penghuninya.

Rumah Anda terasa lengang dan hanya terisi oleh benda yang diperlukan saja, bisa menceritakan tentang hal ini?

Karena rumah ini diliput baru setelah dua bulan kami pindah, tentu saja rumah ini belum full kami isi, makanya barangkali jadi terasa lengang. Kami ingin mengisinya pelan-pelan. Yang penting rumah ini fungsional dulu. Tapi di luar dari faktor itu, kami juga tidak ingin menjadikan rumah ini sesak oleh barang. Sedapat mungkin kami tidak menyimpan barang yang tidak dibutuhkan, dan ini termasuk pakaian, buku, pajangan, dll. Secara berkala, kami sebisa mungin ingin mendonasikan barang-barang yang sudah tidak diperlukan. Kami rasa ini juga penting agar rumah terjaga tetap spacious dan tidak menumpuk energi stagnan dari barang-barang yang tidak terpakai.  

Ceritakan mengenai aplikasi material eco-green pada hunian Anda?

Saat kami mulai mengonsep rumah ini, kami banyak melakukan riset dan studi tentang rumah yang sehat dan hijau. Rumah yang demikian tentu harus didukung oleh material-material yang green dan eco-friendly, yang ternyata belum banyak dikenal di Indonesia. Masyarakat kita secara luas belum banyak menyadari bahayanya polusi indoor yang diakibatkan bermacam toksin dari material rumah, baik itu cat, lem, lampu, pelapis lantai, benda-benda elektromagnetik, kasur, dan sebagainya. Karena masih terbatasnya pilihan material eco-friendly di Indonesia, kami menerapkan sebisanya saja. Sesuai dengan yang ada di pasar saat ini. Meski tidak terlalu banyak yang bisa kami dapatkan, tapi bagi kami cukup signifikan. Kami berhasil mendapatkan opsi penerangan LED untuk rumah, yang mana memenuhi kriteria hemat energi dan juga minim toksin (karena tidak mengandung merkuri sebagaimana bola lampu umumnya), kami juga berhasil menemukan finishing kayu yang bebas toksin, kasur dengan bahan 100% lateks alami, dan cat berkualitas baik yang rendah VOC. Selain itu, kami juga mengatur jalur kabel listrik sedemikian rupa hingga tidak mengakibatkan ekses polusi elektromagnetik, khususnya di kamar-kamar tidur.  Kami juga menggunakan aplikasi vertical greenwall pada fasade luar yang mendukung sehatnya udara dan menurunkan panas dalam ruangan.

Apa alasan Anda memilih Jotun sebagai cat hunian?

Dari sekian banyak merk cat yang ada, kami menjatuhkan pilihan pada Jotun karena baru Jotunlah yang memenuhi kriteria ideal untuk cat rendah VOC. Cat adalah unsur penting karena dia melapisi seluruh dinding rumah. Bayangkan jika cat ini tinggi toksisitasnya, pasti akan berakibat tidak baik bagi kesehatan penghuninya. Selain itu, untuk mendapatkan cat minim toksin dari Jotun, kami tidak perlu berkompromi soal kualitasnya, karena kualitas cat Jotun amat memuaskan. Bahkan kontraktor kami sempat berkomentar, bahwa dari rumah-rumah yang ia kerjakan, rumah kami yang memakai Jotun adalah rumah dengan cat yang terbaik secara kualitas dan warna. 

Kriteria apa saja dan keunggulan dari materi bangunan yang menjadi pertimbangan Anda?

Kriteria kami yang pertama tentu adalah kesehatan (minim toksin), kedua adalah kualitas dan durabilitas. Jotun memenuhi semua kriteria tadi.

Kenapa Anda memilih Ridwan Kamil sebagai arsitek rumah ini? Apa konsep yang ia aplikasikan?

Sejak awal, kami sudah ingin membuat rumah sehat dan hijau. Selain itu kami juga punya kebutuhan-kebutuhan ruang yang spesifik, misalnya ada perpustakaan, ruang meditasi, ruang praktek penyembuhan holistik untuk Reza, dan kebutuhan lain yang sulit dipenuhi jika mengikuti standard bangunan di kompleks. Untuk itu, kami menawarkan konsep ini ke beberapa arsitek, lalu menjajaki respons dan ide mereka untuk mewujudkannya. Ridwan Kamil menyambut baik konsep ini, dan beliau berhasil membuat desain yang menjawab semua kebutuhan ruang kami. Bisa dibilang, semua sudut di rumah ini termanfaatkan dengan baik. Beliau membuat konsep "rumah di tengah hutan-hutan kecil" yang diaplikasikan menjadi rumah dengan banyak courtyard. Dampaknya adalah, rumah tersebut memiliki akses cahaya dan sirkulasi udara maksimal. Semua ruangan di rumah memiliki akses ke "hutan kecil" alias courtyard tadi. Ketika jendela kami buka, terasa rumah ini bernapas. Udara mengalir lancar. Untuk area yang ada di pojokan, beliau menyiasatinya dengan membuat skylight. Contohnya, untuk tangga utama yang terletak di pojok rumah. Seharusnya ini menjadi area yang gelap. Tapi, dengan membuat atap skylight, cahaya matahari menembus atap kaca dan menjadikan tangga kami terang benderang oleh sinar alami. Akibatnya, pemakaian lampu dan AC jadi minim. Kami juga tidak punya masalah dengan nyamuk karena serangga tidak "terperangkap" di rumah. Salah satu keunikan rumah ini antara lain banyaknya kupu-kupu yang hinggap. Mungkin karena rumah ini dilingkupi oleh area hijau dan punya banyak jendela, banyak kupu-kupu dan capung yang masuk ke rumah, tapi dengan mudah keluar lagi karena sirkulasinya banyak.

Rumah Anda cukup didominasi oleh tanaman hijau. Bisa ceritakan mengenai vertical garden pada fasad rumah, spot taman indoor, dan peletakan pot-pot tanaman di lantai dua?

Vertical garden dan taman indoor/courtyard adalah konsep yang diusulkan oleh Ridwan Kamil. Vertical garden membuat dinding dalam ruangan di baliknya tidak panas karena ada semacam lapisan penyejuk. Lingkungan di sekitarnya pun ikut terteduhkan pemandangannya dengan hadirnya vertical garden, apalagi untuk daerah BSD yang mataharinya cenderung terik. Dewi sendiri penyuka tanaman, jadi ia senang dengan hadirnya tanaman di dalam rumah. Dari riset yang kami kumpulkan, salah satu solusi alami untuk membersihkan udara dalam rumah adalah dengan meletakkan tanaman-tanaman indoor tertentu. Selain bunga-bungaan untuk mempercantik, tanaman seperti palem-paleman dan spatuphyllum punya manfaat membersihkan udara.

Selain pada hunian apa konsep eco-green living seperti apa yang Anda aplikasikan pada gaya hidup sehari-hari?

Untuk bahan-bahan pembersih rumah, kami sedapat mungkin menggunakan pembersih alami yang minim toksin, seperti baking soda, cuka, air soda. Kami juga menghindari clutter dengan menerapkan efisiensi pembelian barang. Dalam aplikasi yang lebih sederhana, kami meminimalkan pemakaian plastik/kemasan sekali pakai dengan membawa kantong belanja sendiri, botol minum sendiri, menghindari kemasan styrofoam. Pola makan keluarga kami sebagian besar juga vegetarian, yang mana pola makan vegetarian juga lebih ramah lingkungan. 

Siapa yang paling dominan dalam menentukan isi, desain, warna rumah, furnitur, dsb., untuk rumah ini?

Karena penyelesaian rumah adalah pekerjaan yang kompleks dan butuh banyak koordinasi, akhirnya kami melakukan pembagian tugas. Dewi yang lebih banyak kebagian tugas untuk menentukan finishing, dari mulai material hingga warna. Namun, untuk penentuan hal-hal yang krusial kami putuskan bersama. Untuk detail interior yang lebih spesifik seperti pemilihan kain, pajangan, dll, memang sebagian besar dipilih langsung oleh Dewi.  Reza lebih banyak berperan di desain struktur, arsitektur dan supervisi pengerjaan.  Salah satu pengalaman kami ketika punya begitu banyak kriteria eco-friendly, adalah ternyata para pekerja dari kontraktor butuh supervisi yang lebih ketat karena belum terbiasa untuk mengaplikasikan materi eco-friendly yang sudah kami tentukan.  Hampir 6 bulan terakhir sebelum pindah, hidup kami di luar saat bekerja sesuai profesi, lebih mirip seperti mandor / pengawas proyek.

Seberapa sering Anda melakukan perubahan interior dan dekorasi rumah Anda?

Dari konsep yang ada, kami tidak melakukan perubahan drastis karena memang
sudah sepakat sejak awal, sifatnya jadi lebih melengkapi dan detailing saja. Yang diganti berkala paling hanya bunga-bungaan dan aksesoris kecil-kecil lainnya. Palet warna dan tekstur sudah kami tetapkan dari awal. Pengisian dinding kami lakukan pelan-pelan, karena lukisan maupun hiasan dinding kan bukan barang yang sekali pakai atau bisa dibuang begitu saja.

Ruang favorit Anda di rumah?

REZA: Untuk saya, ruang favorit adalah ruang kerja pribadi yang terhubung dengan kamar tidur. Ruang itu memiliki akses jendela ke luar dan ke dalam, jadi udaranya segar dan pemandangannya nyaman. Untuk Dewi, ruang favoritnya adalah ruang makan karena letaknya yang sentral hingga bisa memandang ke segala arah, dari mulai dapur, tiga courtyard, piano, ruang keluarga, sampai ruang teve. Dewi sendiri lebih senang bekerja di area terbuka, jadi bekerja di meja makan menjadi pilihan favoritnya.

Momen yang terasa paling inspiratif untuk menulis atau membaca? Siang atau malam, dan kenapa?

DEWI: Momen favorit Reza adalah malam hari saat semua sudah tidur, jadi sudah minim interupsi dan lebih hening. Untuk saya, sejak punya anak saya memang sudah terkondisikan untuk bisa bekerja kapan saja dan di kapan pun kesempatan yang saya punya, jadi kapan pun bisa jadi momen yang tepat. Tapi momen yang paling produktif bagi saya adalah pagi hari karena tubuh dan pikiran masih fresh.

Apa arti sebuah rumah bagi Dewi Lestari?

Bagi saya, rumah adalah akar dan penyangga tempat saya dan keluarga bertumbuh. Rumah yang solid, terawat, sehat, dan nyaman, adalah bentuk penyangga ideal bagi seorang individu untuk berkembang dan merasa aman. Apa pun suasana di dunia luar sana, menurut saya, kembali ke rumah harus menjadi sebuah perasaan yang paling ditunggu-tunggu.

Ceritakan apakah ada konsep tertentu dalam menjalani peran sebagai ortu?

Sebagai orang tua, saya dan Reza berupaya untuk menjalankan apa yang dinamakan conscious parenting. Kami berusaha menerapkan pendekatan lebih intuitif untuk memahami apa yang terbaik untuk anak, dengan juga melibatkan mereka dalam prosesnya. Kami berusaha menanamkan komunikasi yang terbuka dengan anak-anak. Kami ingin mereka terbiasa mengomunikasikan perasaan dan pikiran mereka.

Apakah ada saran dan tips untuk ibu-ibu atau keluarga muda, yang harus diperhatikan saat membangun rumah?

Rumah adalah hal yang personal dan membutuhkan koordinasi yang kompleks dalam mewujudkannya. Secara ideal, setiap orang pasti punya mimpinya masing-masing, tapi kadang keterbatasan kondisi membuat kondisi ideal itu tidak selalu tercapai. Bagi saya, idealnya membangun rumah itu secara konseptual harus matang dulu, jadi tidak terburu-buru. Perhitungkan berbagai aspek dengan baik, dari mulai lingkungan, keamanan, sampai budget tentunya. Jika ada keleluasaan, maka masukkanlah aspek kesehatan dalam pembangunan rumah. Jadi, jangan cuma kelihatan indah dan ekonomis atau saja, tapi kita perlu bijak dalam memilih material. Sebaliknya, yang serba mahal dan bergengsi juga belum tentu ideal secara kesehatan. Jadi, sebagai calon pemilik rumah, jangan malas menggali informasi.

Warna kesukaan Anda untuk hunian?

Saat ini kami lebih banyak memakai warna putih dan warna-warna pastel yang lembut. Warna seperti ini lebih long lasting dan punya efek meneduhkan. Rumah dengan dominasi warna putih dan pastel juga memberikan efek yang lebih terang dan bersih. Untuk beberapa ornamen rumah, kami tetap mempertahankan sebagaimana aslinya, khususnya untuk furnitur yang terbuat dari kayu solid seperti pintu utama, meja makan, dan coffee table. Tekstur dan warna natural ini menjadi aksen dan penyeimbang bagi rumah kami yang serba putih.

Hal terbaik dari area tempat tinggal Anda?

Kami beruntung mendapatkan lahan sudut yang artinya kami dapat lahan ekstra untuk taman. Selain itu, tepat di seberang lahan kami adalah area hijau yang tidak akan ditutup bangunan. Karenanya, cahaya dan angin tetap mengalir lancar tanpa ada halangan. Di sebelah rumah kami juga ada hutan bambu yang merupakan tepian kompleks dan juga bebas dari bangunan lain.

Deskripsikan hunian Anda dalam tiga kata.

Relaks, sehat, hijau.

Hal pertama yang Anda lakukan ketika sampai di rumah?

Ruang makan selalu menjadi perhentian pertama. Bisa dibilang, itu markas favorit keluarga kami, untuk makan, ngobrol, sampai tempat anak bikin pe-er. Jadi, biasanya kami selalu mampir duduk di situ dulu, untuk sekadar minum air putih atau ngobrol sejenak.

Menu makan malam favorit?

DEWI: Reza dan saya punya selera makan yang berbeda. Saya sangat suka makanan tradisional dan masakan asli Indonesia yang cenderung pedas dan bumbunya tajam. Reza punya selera yang rentangnya lebih luas dan internasional, dia juga nggak suka pedas. Tapi, bisa dibilang kami punya kesamaan masakan favorit yakni masakan Thailand. Tom Yum dan Green Curry adalah favorit kami.

Arti kata inspirasi bagi Anda?

Inspirasi adalah pemantik agar kehidupan ini lebih bercahaya dan berpijar.

Tabloid Bintang Home | Cover Story | April, 2013 | by Deri Akhsan

 
Hai Mbak Dee dan Mas Reza, apa kabar? Kesibukannya apa saja akhir-akhir ini?

Kabar baik, terima kasih. Sebetulnya setengah tahun terakhir kami sangat fokus dalam menyelesaikan rumah baru, pindahan, dan beres-beres. Tapi belakangan kegiatan kami sudah kembali menormal. Reza masih menjalankan praktek, terapi, dan kegiatan mengajarnya di kliniknya, True Nature, dan sesekali menerima pasien juga di rumah, khususnya untuk mereka yang sudah cukup dekat. Saya sempat cukup sibuk juga dengan film-film yang diangkat dari buku-buku saya belakangan ini, tapi memasuki April-Mei sebetulnya saya mulai mengurangi kegiatan untuk mulai riset dan menulis buku baru.

Sejak kapan menempati rumah ini?

Sejak 12 Desember 2012.

Berapa luas lahan dan luas bangunannya?

Luas lahan 360m2 dan luas bangunan 420m2.

Arsiteknya siapa dan mengapa memilih beliau?

Sejak awal, kami sudah ingin membuat konsep 'rumah sehat hijau', yakni rumah yang ramah lingkungan, hemat energi, rendah toksin dan sehat jiwa raga bagi penghuninya. Selain itu kami juga punya kebutuhan-kebutuhan ruang yang spesifik; ada perpustakaan, ruang meditasi, ruang praktek penyembuhan holistik untuk Reza, dan kebutuhan lain yang sulit dipenuhi jika mengikuti standard bangunan di kompleks. Untuk itu, kami menawarkan konsep ini ke beberapa arsitek, lalu menjajaki respons dan ide mereka untuk mewujudkannya. Ridwan Kamil menyambut baik konsep kami, dan beliau berhasil membuat desain yang menjawab semua kebutuhan ruang kami. Karena itu akhirnya kami bekerja sama dengan Ridwan Kamil.

Mengapa mengaplikasikan vertical garden di fasad bangunan? 

Vertical garden adalah salah satu konsep yang diusulkan oleh Ridwan Kamil. Vertical garden membuat dinding ruangan di baliknya tidak panas karena ada semacam lapisan penyejuk. Lingkungan di sekitarnya pun ikut terteduhkan pemandangannya dengan hadirnya kehijauan vertical garden, apalagi untuk daerah BSD yang mataharinya cenderung terik. Menurut kami, vertical garden adalah opsi fasad yang menyegarkan ketimbang pelapis dinding beton biasa. 

Definisi rumah sehat menurut Dewi-Reza?

Rumah kami mengusung konsep Rumah Sehat Hijau. Artinya, rumah ini sedapat mungkin hemat energi, eco-friendly, minim toksin, minim polusi elektromagnetik, minim clutter, punya sirkulasi cahaya dan udara yang baik, serta memberikan kesehatan lahir batin bagi penghuninya.

Punya tips untuk menjaga rumah agar tetap nyaman dan sehat untuk keluarga?

Rumah nyaman, menurut kami, jauh lebih mudah diwujudkan, tapi rumah sehat membutuhkan lebih banyak ketelitian dan kerja keras. Selain sirkulasi cahaya dan udara yang harus ditata dengan baik, tentu kami juga butuh produk-produk bangunan yang mendukung kriteria sehat, hemat energi, dan minim toksin. Salah satunya adalah menerapkan penerangan LED untuk rumah, yang mana memenuhi kriteria hemat energi dan juga minim toksin (karena tidak mengandung merkuri sebagaimana bola lampu umumnya). Kami juga berhasil menemukan finishing kayu yang bebas toksin, kasur dengan bahan 100% lateks alami, dan cat berkualitas baik yang rendah VOC. Selain itu, kami juga mengatur jalur kabel listrik sedemikian rupa hingga tidak mengakibatkan ekses polusi elektromagnetik yang mengganggu istirahat, khususnya di kamar-kamar tidur. Sedapat mungkin kami tidak menyimpan barang yang tidak dibutuhkan, dan ini termasuk pakaian, buku, pajangan, dll. Secara berkala, kami sebisa mungin ingin mendonasikan barang-barang yang sudah tidak diperlukan. Kami rasa ini juga penting agar rumah terjaga tetap spacious dan tidak menumpuk energi stagnan dari barang-barang yang tidak terpakai.  Kami juga menerapkan solusi alami untuk membersihkan udara dalam rumah adalah dengan meletakkan tanaman-tanaman indoor tertentu. Tanaman seperti palem-paleman dan spatuphyllum secara riset sudah terbukti punya manfaat membersihkan udara. Untuk bahan-bahan pembersih rumah, kami sedapat mungkin menggunakan pembersih alami yang minim toksin, seperti baking soda, cuka, air soda.

Mengapa memilih Philips untuk pencahayaan dalam dan luar ruangan?

Waktu kami memulai riset, kami sudah menyadari penggunaan lampu LED menjadi pilihan yang paling ramah lingkungan dan sesuai konsep rumah yang kami ingin wujudkan. Dan saat ini, koleksi LED yang paling komplet untuk rumah tinggal adalah produk Philips Home Lighting. Bukan cuma indah secara estetik, kualitas lampu LED Philips juga memuaskan.

Dari mana kalian mendapatkan informasi berbagai produk Philips Home Lighting?

Kami riset sendiri dengan mengunjungi Philips Store dan berkonsultasi dengan timnya, hingga akhirnya menemukan bahwa produk Philips Home Lighting adalah pilihan yang paling tepat untuk kebutuhan kami.

Apakah ada yang membantu kalian memilih dan mengaplikasikan lampu-lampu tersebut?

Lebih ke trial and error, sih. Yang jelas, saya (Dewi) cukup sering bolak-balik ke outlet Philips Home Lighting untuk melihat dan mempelajari koleksi mereka serta menyesuaikan dengan kebutuhan di rumah. Saking seringnya baca katalog Philips, saya bahkan sampai hafal luar kepala beberapa nomor kode produk mereka, hehe.

Sunken Living Room, mengapa elevasinya dibuat lebih rendah? Ada filosofinya?

Ruangan di lantai 1 kami hampir tidak bersekat. Ruang keluarga dan ruang televisi berada di satu bidang. Elevasi yang berbeda menjadi "alat pemisah" tanpa harus ada partisi, tembok, dan sebagainya. Selain itu, ada kesan lebih hangat dan nyaman sekaligus solid, ketika sofa-sofa dan bantal dilingkupi oleh bidang kokoh di empat sisi. 

Philips Roomstyler LED diaplikasikan di Sunken Living Room tersebut, pertimbangannya apa?

Selain dari elevasi lantai, permainan drop-ceiling dan up-ceiling serta pemilihan lampu yang tematik membantu pemisahan ruangan dengan lebih halus. Kami menggunakan Philips Roomstyler model pendant di ruang televisi untuk "menjangkau" elevasi lantainya yang lebih rendah. Di ruang sebelahnya, yakni ruang tamu yang plafonnya bermodel up-ceiling, kami menggunakan model ceiling lamp. Jadi, ada kontras dengan lampu "tetangga"-nya.

Tiga buah inner court di rumah merupakan keinginan Dewi-Reza atau saran dari sang Arsitek? Mengapa mengaplikasikan banyak inner court?

Ridwan Kamil berusaha menghindari rumah yang "tebal", artinya ruangan dengan jarak bukaan yang jauh. Itu membuat sirkulasi udara lambat bahkan mandek. Karenanya, Ridwan Kamil membuat konsep "rumah di tengah hutan-hutan kecil" yang diaplikasikan menjadi rumah dengan banyak courtyard. Dengan demikian, jarak ruangan dengan bukaan dibuat setipis mungkin. Dengan konsep itu, rumah memiliki akses cahaya dan sirkulasi udara maksimal. Semua ruangan di rumah kami memiliki akses ke "hutan kecil" alias courtyard tadi. Ketika jendela kami buka, terasa rumah ini bernapas. Udara mengalir lancar. Untuk area yang ada di pojokan, beliau menyiasatinya dengan membuat skylight. Contohnya, untuk tangga utama yang terletak di pojok rumah. Seharusnya ini menjadi area yang gelap. Tapi, dengan membuat atap skylight, cahaya matahari menembus atap kaca dan menjadikan tangga kami terang benderang oleh sinar alami. Akibatnya, pemakaian lampu dan AC jadi minim. Kami juga tidak punya masalah dengan nyamuk karena serangga tidak "terperangkap" di rumah. Salah satu keunikan rumah ini antara lain banyaknya kupu-kupu yang hinggap. Mungkin karena rumah ini dilingkupi oleh area hijau dan punya banyak jendela, banyak kupu-kupu dan capung yang masuk ke rumah, tapi dengan mudah keluar lagi karena sirkulasinya banyak.

Keindahan inner court disempurnakan dengan pencahayaan dari produk-produk OuterStylers Philips. Dari mana Dewi-Reza mendapatkan ide pencahayaan ini?

Kalau malam hari, inner court perlu kami terangi karena kalau tidak akan kelihatan seperti blok hitam dari dalam ruangan. Dan, itu membuat suasana jadi kelam. Jadi, penerangan di setiap inner court juga penting. Tentu, intensitas cahayanya juga harus pas, karena kalau nggak malah jadi terlalu silau, dan mengganggu ambience rumah. Philips Outsyler memberikan keleluasaan bagi kami, karena sebagian besar produk yang kami pilih memakai bohlam tipe E27, yang artinya kami bisa tetap memakai bohlam LED untuk lampu-lampu eksterior kami. Selain itu, desain Philips Outsyler memiliki rentang luas, dari mulai klasik hingga minimalis, jadi cukup mudah menemukan desain lampu yang pas untuk rumah kami.

Mengapa Ruang Makan menggunakan 4 jenis pencahayaan yang berbeda. Dari functional lighting sampai lighting aksesori?

Ruang makan sebetulnya hanya ada dua jenis lampu utama. Pertama, lampu pendant untuk menerangi meja makan. Ini yang paling sering kami gunakan. Pencahayaan kedua, hanya untuk ambience, yakni lampu LED striplight di upceiling. Pencahayaan lainnya sebetulnya lebih ke aksentuasi dinding, karena kami berencana memasang artwork di dinding-dinding.

Adakah pencahayaan khusus untuk kamar Keenan dan Atisha? Bagaimana menata pencahayaannya?

Ada tiga tipe luminasi yang kami gunakan di rumah. Kelvin 4000, yang warnanya di antara kuning dan putih, jadi cenderung pink, untuk semua ruang publik dan ruang kerja. Dan, untuk pencahayaan 4000K ini kami memakai koleksi Ledino dari Philips. Untuk ruang servis, kami menggunakan Kelvin 6500, yang sinarnya lebih putih. Untuk semua ruang tidur dan kamar mandi, kami menggunakan Kelvin 2700 yang lebih kuning, jadi lebih cocok untuk suasana temaram dan istirahat. Di kamar anak kami pakai downlight dengan bohlam LED MyVision Philips, dengan dua lampu aksen model pendant di atas meja belajar mereka sesuai dengan karakter dan gender anak. Untuk Keenan kami memilih lampu bentuk roket, untuk Atisha kami pilih lampu bentuk fairy.

Apakah Ruang Kerja dan Perpustakaan juga menggunakan pencahayaan khusus?

Perpustakaan menggunakan koleksi Ledino dari Philips. Kami berusaha maksimal untuk pencahayaan di sana karena fungsi perpustakaan adalah mencari buku dan membacanya. Tapi, karena perpustakaan kami juga memiliki sofa untuk menonton televisi, jadi kami menambahkan standing lamp sebagai pilihan ambience. Ruang kerja Reza memakai koleksi Ledino, model pendant dan ceiling. Ada satu ruang kerja lagi, yakni ruang kerja bersama, yang pemanfaatannya lebih untuk saya atau anak-anak kalau mau mengerjakan pe-er, printing dokumen, dsb. Ruang kerja bersama ini bergabung dengan selasar di lantai 2, jadi kami aksentuasi pencahayaannya dengan penambahan pendant lamp dari koleksi Roomstyler Linea tepat di atas merja kerja.

Bagaimana Philips Home Lighting membantu Mbak Dee & Mas Reza dalam bekerja dan berkarya di rumah?

Pencahayaan adalah salah satu pilar utama dalam mengonsep rumah. Bisa dibilang, itulah gantinya cahaya matahari ketika malam tiba. Jadi, secara fungsional tentu lampu harus membantu kami seoptimal mungkin. Namun, optimal tidak berarti flat. Karakter rumah juga harus muncul lewat pencahayaan. Untuk itu, ambience, tipe lampu, posisi lampu, dan item yang akan diaksentuasi harus diperhitungkan dengan baik. Barulan pencahayaan bisa mendukung kami secara fungsional dan emosional. Sejauh ini, kami sangat puas dengan koleksi Philips Home Lighting yang kami aplikasikan di rumah. Dengan pencahayaan yang nyaman dan tepat, rumah ini benar-benar menjadi sanctuary bagi penghuninya.

Adakah kriteria pencahayaan yang dapat membantu Dewi-Reza untuk mendapatkan mood yang baik di rumah?

Fungsi, kualitas, ramah lingkungan dan estetika. Konsep pencahayaan kami sendiri adalah, tata lampu harus menyatu dengan rumah. Tidak overwhelming, tapi tidak juga underwhelming. Jadi, harus pas di tengah-tengah. Dan dengan setiap ruangan punya fungsi dan konsep yang berbeda, tentu pencahayaan pun harus mengikuti. Jadi, tidak dipukul rata untuk semua ruang.

Bagaimana cara Dewi-Reza menghemat listrik dari lampu-lampu yang digunakan?

Karena siang hari cahaya matahari bisa dibilang tumpah ruah di rumah kami, tapi tidak terik dalam ruangan, sepanjang hari kami hampir tidak pernah menyalakan lampu. Kecuali di area servis yang letaknya agak di pojok dan butuh sedikit penerangan ekstra. Menjelang malam, baru lampu-lampu kami nyalakan. Untungnya, setiap ruangan punya pencahayaan lebih dari satu opsi. Kalau mau fungsi maksimal, berarti semua lampu dinyalakan, ini berlaku kalau sedang ada acara, misalnya. Tapi kalau untuk sehari-hari, kami bisa reduksi penggunaan lampu dengan hanya menyalakan yang utama saja, atau yang ambience saja. tergantung mood dan kebutuhan. Jadi, jarang sekali kami harus menggunakan full semua lampu. Selain itu, penggunaan 95% LED di rumah juga sangat menghemat biaya listrik.


Apa pendapat kalian tentang teknologi lampu LED, apakah Mbak menggunakannya di rumah?

LED adalah teknologi masa depan yang transisinya sudah dimulai dari sekarang. Itu terlihat dengan semakin banyaknya pilihan LED di pasaran. Saya cukup yakin, LED akan menjadi pilihan utama di masa depan. Apalagi secara global kita mengalami isu lingkungan dan energi. Mau tidak mau, dunia harus beralih ke apa pun yang lebih hemat energi. Kami senang bisa memulai pemakaian LED di rumah baru kami ini. 95% lampu dan bohlam kami sekarang sudah LED.


Bloomberg | Wanita & Karier | Maret, 2013 | by Dita Mustafa


Apa project yang sedang Anda kerjakan saat ini?

Dalam waktu dekat akan meluncurkan coffee table book Madre dalam rangka menyambut rilisnya film Madre. Coffee table book ini kurang lebih isinya novelet Madre yang digabung dengan foto-foto behind the scene produksi film Madre.

Adakah perbedaan signifikan rutinitas yang Anda kerjakan sebelum dan sesudah berkeluarga?

Ada. Sekarang saya jauh lebih banyak bekerja di rumah. Hanya mengambil pekerjaan di luar rumah jika benar-benar penting dan valuable. Rutinitas saya sehari-sehari sangat domestik; mengurus anak, rumah, dan suami. Kecuali jika sedang memproduksi buku, maka saya banyak menghabiskan waktu untuk membaca dan disiplin menulis harian 2-5 jam sehari.

Pernahkah Anda melewatkan momen penting, dalam karier atau keluarga, karena Anda harus memilih salah satu, momen dengan keluarga atau karier atau sebaliknya?

Untuk karier cukup sering. Beberapa undangan ke luar negeri, rencana riset lapangan baik di dalam maupun luar negeri, dan cukup banyak tawaran pekerjaan yang saya tolak demi keluarga. Tapi, bagi saya, itu bukan hal yang terlampau besar. Prinsip saya dalam mengatur prioritas adalah dahulukan yang penting saat ini dan sekarang. Saya total berhenti bekerja waktu baru melahirkan hingga anak saya umur 2 tahun lebih. Dan tidak terlalu merasa kehilangan kesempatan, karena anak saya adalah prioritas pada saat itu. Kalau memang ada kesempatan yang jadinya tidak bisa saya ambil, saya anggap memang belum waktunya.

Perempuan memimpin dengan hati, laki-laki lebih memakai logika. apa pendapat Anda mengenai hal ini? Menurut Anda, apa yang harus perempuan lakukan saat menghadapi diskriminasi gender saat menjalani karier?

Menurut saya, itu cenderung generalisasi dan stereotipe. Tidak mungkin manusia bisa eksklusif cuma logika atau hati. Keduanya pasti mengambil porsi, cuma mungkin kadarnya yang beda-beda. Tidak semua laki-laki melulu logis, banyak yang intuitif juga. Sebaliknya demikian juga dengan perempuan. Yang barangkali membedakan dengan jelas adalah hal-hal kodrati seperti menstruasi, kondisi fisik, dsb, di mana kondisi fisik kita yang fluktuatif dapat menyebabkan perubahan hormonal yang kemudian berdampak pada bagaimana kita menjalani atau memutuskan suatu hal. Jadi, saya tidak percaya stereotipe tadi. Dalam bidang pekerjaan yang saya jalani, saya tidak pernah merasa ada diskriminasi gender. Jika ternyata ada, saya merasa tidak pernah mengalami secara pribadi. Jadi, saya bukan sumber yang tepat untuk dimintai tips mengenai hal tersebut.

Menjadi penulis kadang menemui writer’s block. Bagaimana cara Anda menyiasatinya?

Punya deadline. Bagi saya, deadline adalah kutukan sekaligus berkah bagi penulis. Kutukan karena menyebabkan stres, tapi berkah karena kita jadi insentif untuk bekerja. Tidak ada istilah writer's block jika kita memang betulan punya deadline. Kita akan selalu menemukan cara untuk kembali menulis. Tips gampang yang saya lakukan jika sudah mumet adalah mandi. Jangan tanya kenapa, it just works for me.

Memiliki karier dan keluarga. Apakah Anda merasa kehilangan "me time"? Biasanya apa yang Anda lakukan di kala "me time"?

Kadang-kadang. "Me time" bagi saya sederhana, yakni melakukan hal-hal yang saya suka tanpa ada tekanan waktu atau beralih fokus. Dan kegiatan yang saya sukai dan sangat personal bagi saya adalah membaca, melamun, dan jalan-jalan.

Kira-kira hal seperti yang akan membuat Anda nantinya "pensiun" dari karier Anda sekarang? contoh: kejenuhan atau mengurus anak yang tumbuh besar?

Pada satu titik saya tentu ingin pensiun. Tapi, dalam profesi seperti saya, tentunya pensiun memiliki arti lain yang nggak sama dengan mereka yang berkarier kantoran, misalnya. Bagi saya, pensiun adalah ketika saya bisa lepas berkarya tanpa beban mencari nafkah. Yang artinya, independensi finansial secara total. Saat ini, pendapatan utama saya dari royalti. Jadi, saya masih mengandalkan menulis sebagai profesi, sekalipun itu juga hobi saya. Satu saat saya ingin bisa berkarya hanya untuk senang-senang saja, dengan waktu yang sesuka-suka saya. Tanpa perlu memikirkan income sama sekali.

Wanita yang berpenghasilan lebih besar dari pasangannya kadang memicu konflik. Apa pendapat Anda?

Dalam konstelasi saya dengan suami saya, Reza Gunawan, bagi kami yang lebih krusial dari penghasilan adalah fokus dan atensi. Buat kami nggak masalah siapa yang punya penghasilan lebih besar, tapi adalah masalah jika satu dari kami kurang memberikan atensi pada keluarga dan anak-anak. Tentunya, dalam kasus umum, hal tersebut bisa terjadi karena kesibukan berkarier, misalnya. Karena itu saya dan suami selalu mencari cara agar kami bisa tetap produktif tanpa kelewat sibuk.

Bagaimana cara anda berkomunikasi dengan keluarga Anda? Memanfaatkan teknologi atau mem-blok hari tertentu untuk bertemu keluarga?

Saya hampir selalu di rumah, jadi tidak perlu sampai mengandalkan teknologi tertentu secara intensif untuk bisa berkomunikasi dengan keluarga. Paling hanya menelepon jika saya sedang di luar rumah. Kami jarang memblok hari tertentu karena pekerjaan saya dan suami tidak rutin di hari yang sama, kadang kami bekerja pada weekend atau saat orang-orang liburan. Kami juga kadang menyelipkan liburan keluarga saat saya atau suami bekerja, dapat undangan ke luar kota misalnya, kami jadikan sekalian ajang berlibur.  

Apa yang masih menjadi kekhawatiran Anda dalam menjalani profesi dan memiliki keluarga saat ini? contoh: apakah Anda takut tidak menikmati tumbuh kembang anak, Anda takut kehilangan kesempatan berkarier lebih jauh lagi karena repot mengurus keluarga?

Awalnya saat transisi mengurus anak total, sempat takut juga kehilangan momen dalam berkarier. Tapi setelah saya jalani, lama-lama kekhawatiran itu hilang dengan sendirinya. Jujur, saya lebih khawatir kehilangan kesempatan bersama keluarga dan anak ketimbang profesi. Apalagi dalam profesi saya, akselerasi berkarier lebih ditentukan oleh produktivitas saya, bukan tawaran dari luar. Setidaknya untuk saat ini saya tidak merasa kehilangan kesempatan karier.

Apa yang masih menjadi cita-cita Anda saat ini?

Traveling dan retreat meditasi lebh banyak . Tapi ini bisa saya lakukan kapan-kapan.

Sunday, December 21, 2014

Tabloid NOVA | Self-Healing | Juni, 2012 | by Erni



Sejak kapan Dee belajar Self Healing? Apa manfaat yang Anda rasakan setelah mengenal dan bisa melakukan self healing?

Saya belajar self-healing pertama kali tahun 2008 dengan Reza Gunawan. Manfaatnya tentu saja dalam kesehatan sangat terasa. Sejak menyusui anak pertama (tahun 2004), saya memang sudah nggak mengonsumsi obat-obatan kimia/medis, latihan self healing semakin membantu saya untuk bisa menjaga kesehatan secara mandiri sekaligus tahu bagaimana menangani tubuh ketika sedang sakit atau kurang fit, jadi bukan sekadar nggak minum obat saja tapi kita punya skill yang bisa diterapkan seumur hidup untuk menjaga keseimbangan tubuh dan mental.

Menurut Anda, self healing itu apa sih? Apa manfaat self healing bagi kesehatan dan kecantikan untuk Anda pribadi?

Rangkaian latihan sederhana menggunakan sentuhan, gerak, napas, dan meditasi, untuk mengembalikan kemampuan tubuh menyembuhkan dirinya sendiri.

Apakah ada kaitannya self healing yang Anda pelajari dengan proses kreatifitas?

Self healing secara umum meningkatkan kualitas hidup menjadi lebih baik. Otomatis, proses berkreasi dan sebagainya juga ditopang. Jadi nggak gampang sakit, lebih fit, dan tahu cara menangani stres.

Mungkin bisa dijelaskan, jika ada pengalaman Anda melakukan proses penyembuhan sakit yang diderita dan bagaimana hasilnya?

Sejauh ini sih cukup banyak. Saya memang nggak ada sakit berat atau kronis. Tapi yang jelas bisa hidup tanpa memakai obat-obat kimia sama sekali selama hampir delapan tahun buat saya adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dan melegakan.

Sulit enggak sih belajar untuk self healing? Apa yang harus dilakukan? Apa plus minus self healing? Apakah bisa untuk menjaga stamina dalam bekerja dan berkarya?

Tidak sulit sama sekali. Self healing sepertinya memang didesain Reza untuk bisa dilakukan oleh semua orang, kita tinggal perlu meluangkan waktu dan meniatkan diri untuk berlatih saja. Yang harus dilakukan tentu adalah ikut pelatihannya, mencoba latihannya secara rutin setiap hari (yang cuma memakan waktu kurang lebih 10-15 menit sehari) agar dampaknya terasa.

Apakah self healing bisa membuka aura kita hingga kecantikan kita dari dalam bisa keluar?

Saya nggak terlalu memahami soal aura, tapi menurut saya ketika kita sehat lahir batin, otomatis kecantikan lebih terpancar. Jadi bukan sekadar polesan di permukaan.

Berapa kali dalam seminggu Anda melakukan self healing? Apakah jika kondisi tubuh sedang tidak fit atau atau yang lainnya?

Latihan self healing idealnya dilakukan setiap hari, seperti minum vitamin. Ketika tidak fit, latihan bisa ditambah frekuensinya, biasanya yang tadinya mau flu, gejalanya jadi hilang sendiri ketika latihan self healing ditambah.

Buku terbaru, Partikel sudah launching dan sukses. Sepertinya di tahun 2012 ini, aktifitas dan karya yang di-launch ke masyarakat sangat banyak; buku, film, lagu. Tolong sedikit di-share bagaimana perasaan Anda saat ini atas beberapa karya yang keluar di tahun 2012?

Pada 2012 ini, selain Partikel memang ada dua film yang akan dirilis dari adaptasi karya saya, yakni Perahu Kertas dan Rectoverso. Single yang saya nyanyikan sendiri sih nggak ada. Hanya OST Perahu Kertas yang akan dinyanyikan oleh Maudy Ayunda, tapi lagunya saya yang buat. Perasaan saya ya senang tentunya, karya-karya tersebut diapresiasi dengan baik oleh masyarakat.

Xposisi.Com | Profil | April, 2012 | by Ifnur Hikmah


Bisa diceritakan tentang kesibukan Dewi sekarang?

Sekarang ini sedang mempersiapkan peluncuran buku baru, Supernova PARTIKEL. Terbit tanggal 13 April.
 
Genre tulisan apakah yang menjadi favorit Dewi? Selain itu, genre tulisan seperti apakah yang ingin Dewi tulis setelah ini?

Saat ini sih lebih seringnya fiksi. Tapi sebetulnya saya senang juga menulis nonfiksi. Mungkin setelah Supernova tamat, saya akan membuat karya-karya nonfiksi. We'll see.

Apakah Dewi punya waktu dan tempat khusus untuk menulis?

Saat ini, nggak ada. Saya banyak menulis di rumah, dan sesempatnya saja. Kadang pagi, siang, sore, malam. Nggak tentu.

Supporter terbesar mbak Dewi untuk terus menulis?

Keluarga, tentunya. Suami saya, Reza Gunawan. Kalau saya malas-malasan, dia yang rajin mengingatkan.

Di antara semua penghargaan yang Dewi terima, adakah yang paling berkesan? Penghargaan tertinggi apakah yang pernah mbak Dewi dapatkan dari pembaca?

Saat saya bertemu dengan seorang tukang bangunan yang membangun rumah saya, dan ternyata dia adalah pembaca Filosofi Kopi yang sudah lama berangan-angan ingin bertemu dengan saya. Itu momen yang sangat mengharukan bagi saya.

Di antara semua buku mbak Dewi, penulisan buku manakah yang menurut mbak Dewi paling berkesan?

Semua buku punya kesan masing-masing sih, karena ditulis dalam kondisi dan waktu yang berbeda, jadi tantangannya juga lain-lain. Kalau ditanyanya sekarang, tentu yang paling berkesan adalah Partikel. Karena ini adalah buku terakhir yang saya tulis, jadi ingatan tentang proses pembuatannya masih sangat segar. Dan ini adalah buku saya yang paling tebal (500 halaman lebih), dan saya buat ketika sudah punya dua anak yang masih kecil-kecil. Saya nggak pernah membayangkan bisa menulis seintens itu dalam kondisi harus mengurus keluarga dan anak, tapi ternyata bisa.

Apakah tantangan terbesar yang Dewi temukan dalam menulis?

Menemukan waktu luang yang tidak terganggu.

Apakah pengalaman menarik yang pernah Dewi rasakan saat menulis novel? Apakah ada pengalaman pribadi yang dimasukkan ke dalam cerita?

Buku saya selalu gabungan dari lamunan, pengalaman, hasil riset. Jadi nggak pernah ada yang murni satu unsur saja.

Menurut Dewi, seberapa besar arti seorang pembaca dan bagaimana cara Dewi me-maintain hubungan dengan pembaca?

Saat ini saya lebih nyaman berinteraksi dengan pembaca via Twitter, karena paling praktis. Beda dengan milis yang maintenance-nya lebih memakan waktu. Jadi, hampir semua interaksi saya dengan pembaca dilakukan di Twitter, atau sekali-sekali Facebook.

Dari semua tokoh yang pernah ditulis, tokoh manakah yang paling disukai? Mengapa?

Pertanyaan sulit. Saya punya kedekatan yang intens dengan semua tokoh saya. Karena yang paling terakhir ditulis adalah Zarah, saat ini saya merasa dialah yang paling berkesan.

Dalam waktu dekat, proyek apa yang akan Dewi kerjakan setelah Partikel?

Ada beberapa karya yang ditawari untuk difilmkan, saya nggak terlibat langsung sih, cuma konsultatif saja hubungannya. Saya mau meneruskan episode Supernova selanjutnya, yakni Gelombang.

Selamat atas terbitnya Partikel. Setelah menunggu selama delapan tahun, bagaimana perasaan mbak Dewi sekarang?

Tegang, excited, dan sangat senang.

Bisa diceritakan proses kreatif di balik pembuatan Partikel? Mengapa Dewi sampai membutuhkan waktu delapan tahun untuk menulis Partikel?

Sudah saya jelaskan panjang lebar di kata pengantarnya, hehe. Tapi intinya, setiap karya punya momen masing-masing untuk lahir. Setelah melihat ke belakang, saya merasa memang inilah momen yang tepat bagi Partikel, karena akumulasi informasi dan pengetahuan yang saya punya sekarang akhirnya mencukupi untuk itu. Kalau dikerjakan 2-3 tahun yang lalu, pasti beda banget.

Bisa dikatakan pembaca sangat menantikan kehadiran Partikel. Apakah ini menjadi beban untuk Dewi? Seberapa yakin seorang Dewi Lestari terhadap kepuasan pembaca setelah membaca Partikel?

Beban ke pembaca sih enggak. Karena keinginan untuk melanjutkan tentunya paling kuat berasal dari saya sendiri. Kalau ke pembaca, saya lebih ke rasa penasaran ingin tahu reaksinya bagaimana, review-nya seperti apa. Mudah-mudahan sih puas. Karena saya sendiri puas menulisnya.

Cara apa saja yang sudah Dewi lakukan untuk mempromosikan Partikel?

Waktu Supernova 1, saya benar-benar "pasang badan". Menjalani puluhan talkshow, dsb. Sekarang, sudah tidak dimungkinkan untuk itu lagi karena saya harus mengurus keluarga. Selain itu, dinamika media sosial Indonesia yang semakin hidup, memudahkan saya untuk bisa berpromosi tanpa harus "pasang badan" seperti dulu lagi. Untungnya, penerbit yang bekerja sama dengan saya, Bentang Pustaka, juga sangat akomodatif. Mereka sangat terbuka menerima ide-ide saya dan mengembangkannya dengan cukup baik. Untuk Partikel tema promonya adalah countdown, penjualan serempak, dan alien. Karena buku ini sudah sangat diantisipasi pembacanya, momen countdown dan penjualan serempak akan membuat rilisnya Partikel lebih klimaks. Kehadiran "Alien" sendiri untuk menyemarakkan suasana saja, kebetulan temanya relevan dengan buku.
 
Selama rentang waktu hingga Partikel lahir, Dewi juga mengeluarkan Rectoverso, Perahu Kertas. Apakah proyek tersebut lebih dulu dimulai dibandingkan Partikel atau bagaimana?

Perahu Kertas iya, sudah saya tulis versi awalnya dari 1996. Rectoverso lebih ke nggak sengaja. Waktu itu saya memang niat untuk bikin album, dan konsepnya akhirnya lahir bareng dengan buku. Jadi buku Rectoverso ikut diproduksi.

Mbak Dewi juga mengeluarkan beberapa kumpulan cerpen (Filosofi Kopi dan Madre). Bisa diceritakan alasan Dewi mengeluarkan kumcer ini?

Saya kalau bikin cerpen itu sporadis, nggak disengaja. Setelah sekian lama, maka cerpen-cerpen lepasan ini mulai menumpuk. Jadi biasanya per lima tahun saya mengeluarkan kumpulan cerpen, sebagai instrumen untuk mewadahi karya-karya lepasan saya.

Untuk film Perahu Kertas, sejauh mana keterlibatan Dewi di dalamnya? Bagaimanakah ceritanya sampai Perahu Kertas akhirnya difilmkan?

Saya menulis skenario, dan sisanya membantu secara konsultatif untuk casting. Saya juga akan menulis lagu untuk soundtrack-nya. Sisanya sudah dikerjakan oleh pihak-pihak lain yang kompeten.
Perahu Kertas memang sudah ditawari menjadi film berbarengan dengan penawaran penerbitan bukunya. Jadi, waktu itu Bentang Pustaka langsung datang bersama Mizan Production yang memang masih sister company. Saya sendiri memang sejak lama ingin Perahu Kertas bisa menjadi film, jadi langsung saya sambut.

Untuk serial Supernova selanjutnya, sudah sejauh manakah persiapannya?

Masih pengumpulan materi.

Bagaimanakah Dewi melihat pertumbuhan sastra sekarang? Bagaimana perkembangan buku di Indonesia sekarang ini?

Saya nggak pernah mengamati hanya terbatas pada sastra tok, saya lebih melihat industri buku secara keseluruhan. Untuk fiksi, yang genre sastra memang nggak terlalu banyak dibandingkan genre populer seperti teenlit, chicklit, dll. Tapi menurut saya itu nggak terlampau masalah. Pada akhirnya penulis berkembang, pembaca juga berkembang, dan akan ditemukan ekulibrium baru dengan sendirinya. Untuk industrinya, saya rasa kita kekurangan toko buku, dominasi toko tertentu belum tentu menjadi sehat bagi industri penerbitan. Saya juga excited dengan perkembangan buku digital di Indonesia. Sekarang belum terlalu kelihatan, tapi dua-tiga tahun ke depan, mungkin kita akan memasuki era baru.

Pernahkah mbak Dewi mengalami writer’s block? Cara seperti apa yang biasa mbak Dewi lakukan untuk mengatasinya? Adakah tips dan trik khusus tentang menulis yang bisa mbak Dewi bagi kepada pembaca xposisi.com yang sebagian besar merupakan penulis pemula? Terutama tentang mencari dan mengolah ide menjadi sebuah cerita utuh. Apa yang menurut mbak Dewi paling penting dalam proses tersebut?

Menulislah dari yang kita suka. Itu saja dulu. Jangan takut gagal. Di balik satu naskah yang selesai, bisa jadi ada puluhan naskah yang gagal. Itu biasa. Sekarang sudah ada pelatihan menulis seperti Plot Point, dll, itu bisa membantu. Belajarlah juga dari penulis yang kita suka dengan cara membaca cermat tulisannya. Dan banyaklah membaca referensi yang bagus.