Showing posts with label Teknik Menulis. Show all posts
Showing posts with label Teknik Menulis. Show all posts

Sunday, April 5, 2020

Air Asia Magazine | Profile | April, 2018 | Mahdiah



1.     Boleh ceritakan awal karier di dunia entertainment? 
 
 
Saya sudah mulai berkarier di musik sejak mulai kuliah, tahun 1993, awalnya jadi backing vocal, antara lain untuk (alm) Chrisye, Iwa K, Padhyangan Project, Java Jive, Harvey Malaiholo, dan banyak lagi. Setelah dua tahun menjadi backing vocal, saya berkesempatan rekaman dengan trio Rida Sita Dewi yang diproduseri oleh Adjie Soetama dan Adi Kla Project. Saya merilis empat album bersama Rida Sita Dewi. Hobi menulis lagu dan menulis fiksi juga sudah dari kecil. Saya mulai bikin lagu dan mencoba menulis novel dari kelas 5 SD, dan hobi itu berlanjut sampai besar. Lagu ciptaan saya pertama yang masuk ke dapur rekaman adalah Satu Bintang di Langit Kelam, yang ada di album perdana Rida Sita Dewi. Awalnya saya hanya menulis cerita buat dikonsumsi sendiri, atau dibagi ke teman-teman dan keluarga. Baru tahun 2000 saya berniat serius untuk menerbitkan karya pertama saya, Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Sejak itu, saya dikenal sebagai penulis hingga sekarang. 
 
 
2.     Seperti yang sudah diketahui, selain bernyanyi, Mbak Dee kini dikenal sebagai penulis serta pencipta lagu. Lantas, jika harus memilih lebih tertarik profesi yang mana?

Saya punya kebutuhan berbeda-beda untuk setiap pendekatan bercerita. Bagi saya fiksi dan lagu itu komplementer sifatnya, tidak saling menggantikan. Kepuasan yang dihasilkan masing-masing format juga berbeda, meski pada intinya sama-sama bagian dari seni bercerita.
 
 
3.     Mbak Dee dikenal sebagai sosok multitalenta, apakah ada hal baru yang hingga kini belum tercapai dan segera ingin diwujudkan?

Masih banyak jenis buku yang ingin saya tulis, mulai dari buku resep, buku anak, fiksi remaja, dsb. Saya juga ingin berkarya lagi di musik, entah dalam bentuk single, atau album. Tapi, karena waktu saya terbatas, saya hanya bisa fokus kepada satu atau dua proyek kreatif per tahunnya.

4.     Adakah buku karya Mbak Dee yang paling memorable?
 
 
Saya merasa paling dekat dengan karya yang saya tulis paling akhir. Pada saat ini, karya terasa paling dekat bagi saya adalah Aroma Karsa. Cukup banyak alasan lain mengapa Aroma Karsa paling memorable, salah satunya adalah proses risetnya yang saya dokumentasikan paling rapi dibandingkan buku-buku saya sebelumnya. Karena itu, saya bisa menerbitkan buku “behind-the-scenes”-nya, yakni Di Balik Tirai Aroma Karsa. Buku Di Balik Tirai Aroma Karsa sejauh ini baru terbit dalam format digital. Isinya mengenai proses kreatif, proses riset, dan berbagai strategi pemasaran yang saya lakukan saat menerbitkan Aroma Karsa. 
 
 
5.     Apakah Mbak Dee merasa nyaman apabila karyanya dituang ke dalam sebuah film? Lalu, film apa saja yang membuat Mbak Dee merasa puas karena karyanya benar-benar terealisasikan?
 
 
Ketika penulis sudah bersepakat dengan produser dan menjual hak adaptasi karyanya, otomatis harus sepenuhnya menerima segala konsekuensi. Bagi saya persoalannya bukan nyaman atau tidak nyaman. Memang tidak semua adaptasi memuaskan bagi kreatornya, termasuk saya. Namun, saya harus melihatnya sebagai karya adaptasi, bukan lagi karya saya pribadi. Jadi, ketika saya melihat film yang diangkat dari karya saya, sebisa mungkin saya memandangnya sebagai karya film bukan lagi buku. Ada pakem dan aturan yang berbeda, ada banyak faktor penentu di balik pilihan kreatif sutradara dan produser. Jadi, dalam hal posisi itu, saya kembali menjadi penonton, dan menilai film yang ditonton, bukan lagi buku yang saya tulis. 
 
 
6.     Berkaitan dengan Hari Musik Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Maret. Apa harapan Mbak Dee bagi industri musik Indonesia?
 
 
Saat ini ada keresahan dari banyak insan musisi tentang RUU Permusikan. Saya harap RUU tersebut dapat dibatalkan, atau setidak direvisi dan dipertimbangkan ulang dengan memperhitungkan aspirasi para musisi yang khawatir dengan potensi implementasi RUU itu kelak. Yang dibutuhkan para musisi adalah kejelasan tata niaga industri musik, bukan aturan yang mengatur dan mengekang kreativitas seniman. 
 
 
7.     Pengalaman traveling yang mengesankan bagi Mbak Dee?
 
 
Wah, banyak. Kalau luar Indonesia, saya sangat suka dengan Jepang. Saya mengagumi etos kerja masyarakat Jepang yang tercerminkan dari segala hal yang mereka kerjakan, mulai dari kualitas makanan, cara menjaga toko, cara menyambut tamu, dsb. Kalau domestik, perjalanan ke Papua salah satu yang paling berkesan. Alam Papua itu benar-benar berbeda dari belahan Indonesia lainnya. Saya memperhatikan mulai dari warna tanah, serangga, tanamannya, semuanya luar biasa unik. 
 
 
8.     Adakah pengalaman terseru konser pertama dan konser terakhir yang Mbak Dee tonton? 
 
 
Konser pertama yang saya tonton kalau tidak salah konser BB King, di Hardrock Café Jakarta, tahun 1992. Saya masih SMA waktu itu, di Bandung, bela-belain ke Jakarta naik kereta api yang penuh dan tidak dapat tempat duduk, jadi setengah perjalanan berdiri atau duduk di bordes. Pulangnya naik travel (dulu adanya 4848). Saya paling rajin nonton konser waktu masih SMA dan kuliah. Sekarang sudah jarang. Konser terakhir yang saya tonton adalah Konser Salute Erwin Gutawa di ICE BSD. Kenapa saya tonton? Karena Konser Salut tersebut didedikasikan untuk tiga penulis lagu-penyanyi perempuan, yakni Melly Goeslaw, Dewiq, dan saya. Hehe, jadi tidak mungkin saya tidak nonton. 
 
 
9.     Penulis novel favorit Mbak Dee?
 
 
Sejujurnya saya belum menetapkan siapa novelis favorit saya, karena saya jarang mengikuti dengan setia karya seorang penulis fiksi. Saya bacanya cabutan. Dan, setiap penulis itu punya ciri khas masing-masing yang sulit saya putuskan siapa atau gaya mana yang lantas menjadi favorit saya. Kalau penulis nonfiksi, saya malah cukup banyak punya favorit. Salah satu yang lagi saya sukai banget adalah Yuval Noah Harari, saya baca ketiga bukunya. 
 
 
1.  Tips menulis yang baik dan berkualitas dari Mbak Dee? 
 
 
Menulis yang baik dan berkualitas itu butuh pembelajaran seumur hidup. Sulit dirangkum dalam tips singkat. Yang jelas, kalau kamu suka menulis, yang perlu dikejar adalah menamatkan karya kita terlebih dahulu. Dengan menamatkan, kita jadi semakin mengenal proses kreatif itu seperti apa, dan kita lebih berani untuk mencoba. Setelah berhasil punya beberapa karya yang tamat, kejarlah kualitas. Parameter “kualitas” itu subjektif, ada yang ukurannya popularitas, ada yang ukurannya oplah, ada yang ukurannya penghargaan, ada juga yang bukan semua itu tapi lebih kepada kepuasan pribadi. Apa pun itu, kualitas dikejar dengan itikad dan upaya untuk menulis lebih baik—lebih rapi, lebih jelas, lebih jernih, lebih memikat. Belajarlah dari tulisan orang lain, banyak membaca, dan sering berlatih. 
 
 
11 Bagaimana Mbak Dee menggeluti passion menulis hingga dapat memberikan karya yang begitu sukses? 
 
 
Sama seperti yang saya tulis di atas. Saya menulis karena menyukai seni bercerita, dan dalam setiap buku, saya selalu berusaha memperbaiki dan mengejar cara bercerita yang menurut saya lebih baik: lebih efektif, lebih jelas, lebih memikat, lebih mengikat, dan seterusnya. Sukses dalam arti laku atau tidak, sangat sulit untuk dikendalikan. Kita tidak pernah tahu. Jadi, kalau bagi saya pribadi, saya berusaha untuk tidak mengejar “laku” atau “dapat penghargaan”, karena itu hal-hal yang tidak bisa saya kendalikan. Lebih memuaskan jika saya menulis karena saya mengejar cara bercerita yang bagi saya pribadi lebih baik daripada sebelumnya. Saya sebut itu “kaizen writing”, menulis dengan mengejar kemajuan yang berkesinambungan. 
 
 
12 Apa perbedaan membangun karakter dalam lagu dan dalam novel? 
 
 
Pada dasarnya, dalam lagu kita tidak punya ruang gerak yang banyak. Karakter tidak bisa dibangun dalam lagu seperti halnya membangun karakter dalam novel. Yang bisa kita lakukan adalah agar pendengar mengidentifikasi dirinya menjadi karakter dalam lagu. Dengan demikian, yang kita ceritakan dalam lagu menjadi ceritanya sang pendengar. Tentu saja itu juga subjektif. Belum tentu semua orang otomatis ‘relate’ dengan lagu kita. Namun, membuat cerita lagu sebaik mungkin dengan melodi yang sinergis dengan kata-kata, bagi saya adalah pintu masuk agar orang bisa menemukan kisahnya dalam lagu. 
 
 
Tiga destinasi wisata paling favorit? 
 
 
Bali, Bandung, Jepang. 
 
 
1   Adakah kebiasaan tertentu sebelum menulis yang selalu dilakukan Mbak Dee? 
 
 
Mandi. Mandi bagi saya seperti tombol “reset”. Saya selalu menulis pagi hari, jadi sebelum memulai hari, sebelum mulai menulis, saya “reset” tubuh dan pikiran saya dulu dengan mandi.

Wawancara Tugas Sekolah | Teknik Menulis | Feb, 2019 | Angie


1.     How do you set an atmosphere/tone throughout your work?

A tone can be based on many factors. For instance, it can follow the protagonist’s personality (is she/he cheerful, or rather gloomy). It can also follow the genre; if it’s a romantic story, then a writer can choose a rather romantic and artistic tone, and it can be reflected on the setting, the places, the events where scenes are taking place, etc. It can also be more than one, like a flow that changes as the storyline develops, i.e from gloomy to a bright/optimistic tone.

2.     How do you make sure you are engaging with the reader?

We won’t know for sure until our work reaches the readers. In the process, the only person I can count on is myself. So, as I write my story, I need to be as excited and as engaged as I want my readers to be. If it’s a funny scene, I need to make it’s funny to me as well. I need to laugh at my own funny scene, otherwise it probably won’t work for others either. I need to be in love with my characters, as I’d imagine my writers would be. So, make sure your writing is interesting for yourself first.

3.     How do you overcome writer’s block and get in the right state of mind to write?

Based on my experience, writer’s block mostly comes from technical issues. Sometimes we need to get technical to fix it. We need to fix the character, to fix the outline, to fix the plot, etc. The problem is, many beginner writers don’t like dealing with those issues. Hence, the writer’s block phenomenon is misunderstood as “lack of ideas”, or “lack of imagination”. Most of the time it’s not the idea or imagination that’s need to be fixed, it’s the writing. My best antidote for writer’s block is deadline. If you set a deadline and determined to accomplish it, you’ll find ways to overcome your difficulties. Just show commitment to your writing, set aside a dedicated time to work on it, daily. May it be thirty minutes or one hour. But, show up everytime.

4.     Do you have any other tips you could give me about writing in general?

For beginner writers, what you need to strive for is to finish whatever it is that you’re writing. Many people give up before they reach the end, therefore they never know the real struggle during the creative process. Once they can finish a writing, they will get more familiar with the whole process, and will have more courage and confidence to start another one. Practice a lot. Don’t worry about not being good enough. Once you’re familiar with finishing creative work and what it takes, strive for a better technique. Learn by reading good books, by reading books on writing techniques, attend seminars and workshops if you have to. But, find out what it takes to produce a more quality writing. Writing is a skill that takes a lifetime to learn. And that is good thing. It means there’s always a room for improvement, no matter what stage you are at in the given moment.

Saturday, April 4, 2020

BeritaBaik.ID | Penulis & Media Sosial | Sept, 2018 | Chaedar Ambadar


Bagaimana Dewi Lestari melihat sosial media saat ini sebagai penulis? Apakah ide tulisan bisa muncul dari sana?

Media sosial saat ini menjadi media saya berkomunikasi dengan pembaca. Konten media sosial saya upayakan lebih banyak ke pekerjaan ketimbang personal, karena saya memang lebih ingin teridentifikasi dengan karya saya daripada kehidupan pribadi. Ide tulisan pada dasarnya bisa didapat dari mana saja, termasuk media sosial, karena isi media sosial sangat beragam, mulai dari berita sampai gunjingan. Jadi, sama saja seperti kita berhadapan dengan kehidupan riil. Namun, saya belum pernah mengangkat cerita khusus dari media sosial. Kalau terbantu untuk riset, sering. Cukup sering saya melempar pertanyaan lewat media sosial, seperti nama tempat, atau narasumber, dan cukup sering saya terbantu.  


Sekarang ini sepertinya sedang tren penulis membuat karya secara online (seperti di Wattpad), setelah banyak respons positif dan banyak permintaan untuk diterbitkan baru dibuat buku fisik. Bagaimana Dewi Lestari melihat ini?

Dari sisi kreator, semua kanal yang bisa dipakai berbagi, tentunya menjadi celah baginya berkarya. Menurut saya ini baik, karena para kreator tidak harus lagi bergantung kepada jalur-jalur konvensional untuk bisa berkarya dan membagikan karyanya. Jika kemudian penerbit yang mengubah manuvernya, berburu penulis dan bukan lagi diburu, saya rasa itu adalah perkembangan wajar mengingat kondisi di era teknologi ini. Informasi semakin tidak bisa dibendung. Termasuk kreativitas. Perkembangan yang kita lihat sekarang ini tak lain tak bukan adalahP demokratisasi informasi. Dan, pada akhirnya, pembacalah yang menentukan diterima atau tidaknya sebuah karya.  

Dari seluruh karya Dewi Lestari, mana yang prosesnya paling singkat? Buku apa dan berapa lama pembuatannya dari ide, penulisan hingga akhirnya terbit?

Yang sifatnya antologi atau kumpulan cerpen, seperti Filosofi Kopi dan Madre, biasanya perampungannya lebih singkat dibandingkan novel. Singkat, karena sebagian besar isinya merupakan stok karya yang sudah saya kerjakan 5 bahkan 10 tahun sebelum kumcernya terbit. Jadi, “singkat” di sini adalah waktu yang dibutuhkan untuk penulisan beberapa karya baru. Mungkin 3-4 bulan untuk penulisan 3-4 cerita baru, dan 1-2 bulan ekstra untuk penyuntingan keseluruhan antologi, dan 1 bulan lagi untuk produksi serta distribusi. Tapi, jika dihitung-hitung, buku-buku kumcer saya sebagian isinya sudah ditulis bertahun-tahun yang lampau. Akibatnya, dipandang singkat atau tidak jadi tergantung perspektif kita melihatnya bagaimana.   


Apakah lama tidaknya proses pembuatan buku memengaruhi kepuasan penulis akan karyanya? Sekaligus tips bagi penulis pemula yang mungkin kerap ingin segera melihat karyanya di toko buku tapi kurang matang tulisannya.

Lama tidaknya proses pembuatan buku menurut saya tidak berpengaruh kepada kualitas maupun kepuasan. Ada tendensi untuk kita menilai bahwa buku yang bagus itu ditulisnya pasti lama, sementara buku yang ditulisnya kilat itu cenderung tidak bermutu. Sebetulnya tidak sesederhana itu. Buku sendiri wujudnya bermacam-macam. Kita tidak bisa menyamakan novelet 10.000 kata dengan novel epik 100.000 kata, walau hasil akhirnya sama-sama jadi satu buku. Yang mengerjakan 10.000 kata pasti akan lebih cepat daripada yang 100.000 kata, tapi belum tentu yang 10.000 bakal lebih jelek hasilnya. Jadi, lama atau tidaknya pengerjaan kembali kepada jenis buku apa yang hendak ditulis serta tingkat kesulitannya, tetapi tidak berarti yang ditulis lama hasilnya bakal berkualitas. Bisa saja lamanya itu karena ternyata tidak digarap dengan sungguh-sungguh, disambi dengan banyak pekerjaan lain, nulisnya berhenti-berhenti, dsb.
Matang atau tidaknya penulisan kadang tidak bisa jernih dinilai oleh penulisnya sendiri. Yang kita tulis hari ini bisa saja kita anggap mahakarya, tapi 10 tahun lagi sudah kita anggap sampah. Untuk penulis pemula yang ingin berkarya, luangkanlah waktu dan sumber dayamu untuk penyuntingan yang baik. Ada editor-editor lepasan yang bisa membantu memoles naskah kita. Jangan cepat berpuas diri. Menulis adalah keahlian yang harus terus digali seumur hidup. Selalu belajar. Ketika kamu membaca karya orang lain, baca bukan cuma untuk terhibur, melainkan juga untuk sambil belajar.


Siapa saja sih penulis yang menginspirasi Dewi Lestari? Kenapa?

Terlalu banyak untuk disebut satu-satu. Saat ini saya sedang sangat menyukai tulisannya Yuval Noah Harari. Kemampuannya mengolah materi, kejernihan dan ketajamannya bertutur sangat mengagumkan.

Friday, April 3, 2020

Tempo.Co | Aroma Karsa | Jan, 2018 | Aisha Shaidra


Sejak kapan akhirnya Dewi Lestari memutuskan untuk kembali menulis novel pasca merampungkan Supernova? Apakah tema yang diangkat kali ini sudah muncul sejak lama, atau memang ide baru yang hadir?

Pasca Supernova 6 sebenarnya sudah ada beberapa calon kisah yang ingin saya garap, yang mengantre sejak lama bahkan sebelum menulis Supernova 1. Waktu itu saya dihadapkan ke beberapa pilihan. Aroma Karsa sebenarnya justru ide yang paling baru, tapi saya merasa dorongan terkuat justru untuk menulis Aroma Karsa terlebih dahulu. Idenya sudah mulai diinkubasi sejak 2015. Setelah Supernova 6, saya rehat dulu sekitar sembilan bulan sebelum memulai proses riset Aroma Karsa. Saya mulai riset akhir tahun 2016 sambil mulai menyusun ide ceritanya.

Apakah ada peristiwa atau mungkin orang yang menginspirasi pembuatan novel ini?

Pada dasarnya, yang menggerakkan saya menulis Aroma Karsa adalah tema aroma itu sendiri. Penciuman menurut saya adalah indra yang jarang digarap di fiksi, deskripsi penciuman juga kalah banyak dibandingkan deskripsi visual. Padahal indra penciuman itu paling kuat mendorong imajinasi. Akhirnya, saya berpikir untuk membuat cerita yang tema besarnya tentang aroma, tentang penciuman.

Boleh diceritakan seperti apa proses penelusuran dan penggalian ide novel terbaru ini? Melihat dari update IG, banyak hal dilakukan untuk penggarapan novel Aroma Karsa. Ada obsesi apa yang ingin dipenuhi?

Sebenarnya, proses penulisan Aroma Karsa tidak jauh berbeda dengan bagaimana menggarap buku-buku saya yang lain, termasuk Supernova. Hanya saja, pada Aroma Karsa saya memang meniatkan untuk mendokumentasi lebih rinci proses risetnya. Selama ini cara saya meriset menjadi hal yang paling sering ditanyakan oleh pembaca, mereka ingin tahu caranya, prosesnya bagaimana, dsb. Berhubung buku-buku yang lalu saya sudah telat untuk mendokumentasi, di Aroma Karsa ini saya berusaha untuk selengkap mungkin mendokumentasikan. Ini juga jadi edukasi bagi publik tentang bagaimana profesi penulis dan bagaimana proses kreatif di balik sebuah tulisan.
Riset Aroma Karsa kebetulan memang melibatkan banyak bidang karena kebutuhan ceritanya demikian. Riset saya bergantung plot. Di Aroma Karsa, sesuai plotnya, saya perlu ke beberapa tempat yang menjadi kanvas penting dalam cerita, seperti pabrik kosmetik, Bantar Gebang, dan Gunung Lawu. Saya juga perlu referensi untuk berbagai profesi, seperti peracik parfum, pembalap, kolektor anggrek, dsb. Saya butuh acuan sejarah untuk merancang legenda, untuk itu saya berkonsultasi dengan ahli epigrafi dan ahli Jawa Kuno dari UI. Untuk tempat yang saya tuliskan tapi sulit dikunjungi karena jarak seperti Grasse, Prancis, maka saya pakai riset pustaka/video.

Berapa lama proses penggalian bahan untuk melengkapi kebutuhan cerita novel ini?
Saya lakukan sambil berjalan menulis naskah. Kurang lebih setahun sambil menulis.


Hal apa yang ingin ditawarkan Dewi Lestari kepada pembaca lewat karya baru ini?
Tujuan saya ketika menulis sebetulnya satu saja, membuat cerita yang sememikat dan mengikat mungkin. Saya ingin pembaca bisa tenggelam dalam cerita, dalam karakter, sekaligus beroleh banyak info dan pengetahuan menarik. Tentu ini akan kembali ke selera masing-masing pembaca. Ada yang bakal suka dan tidak. Yang jelas, setiap karya, termasuk Aroma Karsa, saya rancang untuk mencapai tujuan tadi: memikat, mengikat, dan memperkaya. Itu juga yang saya kejar dalam pengalaman membaca buku lain. Selain itu, saya ingin menghadirkan tema aroma kepada pembaca, yang mana saya rasa agak jarang fiksi mengulas tema tersebut.

Apakah ada habit penulisan yang cukup berbeda (atau malah baru) yang dilakukan khusus untuk penulisan novel ini dari proses kreatif sebelumnya?
Untuk saya pribadi, saya merasa menulis Aroma Karsa ini menjadi penyegaran karena inilah novel stand-alone saya kedua setelah Perahu Kertas. Sepanjang enam buku Supernova saya bercerita dengan perspektif serial. Menulis kumpulan cerpen seperti Filosofi Kopi dan Madre juga rasanya berbeda. Belum lagi tema yang saya angkat di Aroma Karsa adalah tema yang bagi saya sendiri fresh dan menarik. Berbeda dengan Supernova yang karakter dan tempatnya di berbagai belahan dunia, Aroma Karsa ini Indonesia banget.


Hal apa yang paling sulit dihadapi saat melakukan riset dan proses penulisan novel Aroma Karsa?
Yang paling menantang bagi saya adalah mengkonstruksi cerita itu sendiri. Jalan ceritanya intricate, jadi saya harus benar-benar jeli menyusunnya. Meski tema besarnya aroma, banyak elemen dalam Aroma Karsa yang harus saya pelajari, mulai dari anggrek, dekomposisi, kimia, belum lagi setting cerita yang berbeda-beda.

Kenapa merilis versi digital lebih dulu dan diberikan dalam format bersambung?
Sejak kecil saya sangat menyukai format cerbung. Sampai sekarang saya juga penyuka serial, baik film, buku fiksi, dan komik. Mungkin karena itu juga saya jadi punya kecenderungan bikin sesuatu yang berseri, semisal Supernova dan Perahu Kertas (yang dulu juga terbit digital dan bersambung). Saya ingin kembali menghadirkan sensasi baca cerbung itu di pembaca. Hanya saja sulit mencari platform-nya sekarang karena medium orang membaca sudah jauh berubah dibandingkan dulu. Untuk itu, saya mencari platform yang memungkinkan untuk saya merilis naskah saya secara bersambung. Kebetulan, sebuah penerbit digital, Bookslife, memang membuat sistem penjualan bukunya secara “part”. Bagi saya itu jadi solusi. Dan kenapa dirilis duluan? Karena kalau sudah ada versi cetaknya, yang pastinya harus terbit sekaligus dan tidak bisa dicicil, maka tidak mungkin lagi membuat format cerbung. Jadi, memang harus terbit duluan yang versi digitalnya. Bagi saya ini juga bukan situasi “either or” yang mana pembaca harus memilih. Keduanya menghadirkan sensasi yang berbeda. Karena itulah saya dan penerbit, baik Bookslife untuk versi digital maupun Bentang Pustaka untuk versi cetak, berusaha membuat penawaran yang sebaik mungkin untuk pembaca yang hendak mengalami keduanya. Digital, meski nggak ada fisiknya, sensasi cerbung ini nggak akan terulang dua kali. Sementara versi cetak, tentu punya keunggulan tersendiri seperti booksigning, romantisme kert

Thursday, April 2, 2020

Blog Putra Sasmita | Profil & Teknik Menulis | Mei, 2017 | Putra Sasmita

Bagaimana Anda memulai menulis novel? Apakah Anda membuat outline sebelum menulis?

Dari waktu ke waktu, teknik maupun metode saya menulis terus saya perbarui. Dulu saya menulis tanpa outline, walau hampir selalu membuat semacam peta cerita meski sederhana. Sekarang saya selalu membuat outline dan time table. Jadi, bukan hanya konten yang saya petakan, tapi sama pentingnya adalah jadwal kerja. Saya memberlakukan pemakaian outline hanya untuk novel. Prosa singkat, cerpen, atauapun novelet, biasanya saya tulis spontan.

Apa Anda punya target harian?

Ada. Bisa bervariasi sesuai kebutuhan. Untuk draf pertama, hitungan saya biasanya adalah jumlah kata. 1000 kata per hari. Jika sudah mendekati akhir cerita, lebih ke target ke berapa adegan yang bisa saya selesaikan (karena jalan cerita sudah semakin jelas). Pada tahap editing, target saya adalah menyunting sekian bab per hari (jumlahnya bergantung ada berapa banyak bab dan berapa lama waktu yang saya punya sebelum target cetak – yang biasanya saya tentukan sendiri).

Tampaknya Anda begitu disiplin dalam menulis. Anda memiliki target-target yang jelas, bahkan sampai target cetak yang Anda tentukan sendiri. Apakah kedisiplinan ini sudah ditanam oleh keluarga Anda sejak kecil?

Kedisiplinan menulis saya tumbuhnya berangsur, tidak serta merta, semata-mata karena akhirnya saya menemukan dan merasakan sendiri bahwa disiplin memiliki manfaat yang nyata bagi produktivitas kepenulisan saya sekaligus merupakan cara kerja yang realistis dengan kondisi saya yang berkeluarga. Pada aspek lain, saya orangnya cenderung santai.

Apakah Anda mengedit saat menulis atau setelahnya?

Tahapan pertama adalah penuntasan draf pertama. Melakukan penyuntingan pada tahap ini bagi saya kontraproduktif, karena bisa memperlambat jadwal kerja. Saya melakukan penyuntingan menyeluruh setelah draf pertama selesai. Ada kalanya di tengah jalan (biasanya mulai memasuki babak 2B), saya harus berhenti sejenak untuk meninjau ulang jalan cerita. Tapi, saya batasi untuk tidak jadi menyunting seluruh naskah, karena buat saya beda banget setting berpikir antara menulis dan menyunting. Kalau menulis saya harus di dalam cerita. Kalau menyunting saya harus di luar cerita. Kalau sudah di luar, cukup sulit untuk balik lagi ke dalam. Jadi, lebih baik penyuntingan dilakukan setelah draf pertama selesai.

Apa Anda punya rutinitas selama menulis?

Saya sudah mencoba berbagai macam jadwal dan kebiasaan. Dari menulis malam sampai menulis subuh. Dari nulis di keramaian sampai menulis sendirian. Saat ini saya cenderung menulis pagi hari hingga setelah makan siang, umumnya sebelum anak saya pulang sekolah. Biasanya saya olah raga dulu, mandi, ngopi, baru mulai menulis. Yang penting buat saya adalah tidak diinterupsi (diajak ngobrol). Tidak masalah dalam keramaian atau kesendirian.

Maya Angelou bercerita, saat menulis Ia akan menyewa sebuah kamar hotel dan harus ada sebotol Sherry, kamus, thesaurus, notepad, asbak, dan Injil. Bagaimana dengan Anda? Boleh gambarkan sedikit seperti apa ruang kerja Anda? Adakah kebiasaan yang Anda lakukan sambil menulis, misalnya sambil mendengarkan musik?

Saat ini saya sedang tidak punya ruang kerja khusus, biasanya saya menulis di kamar atau meja makan. Kalau di luar rumah, saya biasanya bekerja di kedai kopi. Saya berusaha tidak usah banyak “benda ritualistik” agar tidak repot. Yang penting ada air putih dan suhu ruangan tidak terlalu dingin/terlalu panas agar bisa menulis nyaman (saya menghindari tempat duduk yang terlalu dekat dengan tiupan angin AC). Kamus saya biasa pakai aplikasi KBBI, jadi tidak pakai versi cetak lagi. Terkecuali jika ada beberapa buku atau kamus spesifik yang saya butuhkan berkenaan dengan cerita. Musik tidak wajib, hanya kalau dirasa perlu. Kadang-kadang saya gunakan untuk membangun suasana saat menulis adegan tertentu. Tapi, tanpa musik juga bisa.

Siapa yang membaca draf pertama tulisan Anda?

Biasanya suami. Habis itu baru saya bagikan ke beberapa orang beta reader, yang biasanya teman-teman di penerbit.

Apakah suami Anda memberikan masukan?

Iya, dan juga kesannya terhadap cerita.

Ketika mengedit atau menulis, apakah Anda membaca keras-keras (read out loud)?

Iya. Tidak terus-terusan dalam setiap kali menyunting, tapi hampir selalu saya mengetes kalimat saya dengan membunyikannya (membacanya dengan bersuara).

Tema spiritualitas dan sains kerap muncul di serial Supernova, bagaimana Anda menggabungkan dua hal yang kelihatannya berseberangan ini ke dalam karya tulis Anda?

Bagi saya, justru keduanya tidak berseberangan, malah berkaitan. Dan keterkaitan itu yang menarik untuk ditulis. Tidak ada metode khusus untuk menggabungkan keduanya selain berusaha membangun cerita yang solid.

Bisa tolong jelaskan bagaimana Anda melihat keterkaitan spiritualitas dan sains?

Sains dan spiritualitas sama-sama bertujuan mengungkap realitas, memahami manusia, dan mekanisme kehidupan.

Sepertinya Ibu Dee tertarik dengan spiritualitas, sains, dan filsafat. Bagaimana ketertarikan ini bermula? Apakah Anda memiliki pengalaman pribadi?

Kalau saya ingat-ingat, memang hal-hal itu yang menarik minat saya sejak kecil. Mungkin belum saya bahasakan sebagai spiritualitas-sains-filsafat, tapi saya sering melamunkan bagaimana kehidupan ini bermula, dan buat apa saya (dan manusia lain) hidup dan terlahir di Bumi.

Apakah karena ini Anda menulis fiksi? Untuk mengungkap realitas, memahami manusia, dan menjelaskan mekanisme kehidupan?

Yang saya ungkapkan di atas itu lebih tepat sebagai alasan saya menulis Supernova. Karya fiksi saya yang lain tidak semuanya setema dengan Supernova. Saya menulis fiksi pada dasarnya karena saya suka seni bercerita.

Apakah pop culture ada pengaruhnya terhadap karya-karya Anda?

Saya tidak pernah benar-benar menyadari atau menyengajakannya, tapi saya percaya kita semua terpengaruh oleh budaya apa pun yang berlaku pada zaman kita hidup. Karena saya hidup dan besar di zaman ketika pop culture ada, tentunya saya terpengaruh. Seberapa banyak dan seberapa besar, saya tidak mengukurnya.

Bagaimana Anda melakukan riset untuk karya-karya Anda?

Riset yang saya lakukan umumnya dua macam. Riset langsung dan tidak langsung. Riset langsung contohnya ketika saya ke Sianjur Mula-mula untuk penulisan Gelombang, atau mencoba terapi listrik ketika menulis Petir. Namun, tidak semua kebutuhan riset bisa saya penuhi melalui riset langsung. Biasanya karena keterbatasan waktu. Misalnya, ketika saya masih punya bayi yang nggak bisa saya tinggal-tinggal, otomatis saya tidak bisa bepergian, meski kebutuhan cerita menuntut saya menulis berbagai tempat yang belum pernah saya kunjungi. Untuk itu saya melakukan riset tidak langsung, melalui riset pustaka (membaca buku, atau browsing), riset video / dokumenter, dan wawancara narasumber.

Pembaca bisa menduga bahwa Anda tentunya melakukan riset mendalam untuk karya-karya Anda. Biasanya yang terjadi apakah Anda meriset setelah menentukan cerita (plot, karakter, dsb) atau sebaliknya, riset dulu baru dicocokkan dengan cerita dan karakter? 

Keduanya bisa berjalan paralel. Hasil riset bisa menentukan jalan cerita. Jalan cerita juga bisa menentukan kebutuhan riset. Biasanya saya melakukan riset di awal, tapi hampir selalu saya mengecek banyak hal selama proses menulis berjalan, jadi bisa dibilang berjalan paralel.

Karakter-karakter yang Anda ciptakan tergambar kuat di benak pembaca. Apakah Anda membayangkan orang tertentu di dunia nyata saat menciptakan karakter?

Setiap karakter yang saya buat bagai kain perca. Ada campuran orang nyata (biasanya saya ambil nama, profesi, ciri fisik – dan jumlahnya lebih dari satu) dan imajinasi saya sendiri. Tidak pernah ada orang tertentu di dunia nyata yang benar-benar saya ambil utuh menjadi karakter.

Apakah bagi Anda proses menulis cerpen dan puisi serupa dengan proses menulis novel?

Beda. Puisi cenderung spontan. Cerpen memiliki perencanaan seperti halnya novel tapi jauh lebih sederhana. Tantangan cerpen buat saya adalah membuat kejutan dan fokus yang tajam. Sementara novel ibarat lari marathon, persiapannya panjang, prosesnya panjang, dan butuh stamina yang luar biasa.

Menurut Anda adakah persamaan proses menulis dengan menciptakan lagu?
Ketika saya menulis lagu, intinya juga saya membuat cerita. Tantangannya berbeda. Dalam lagu, efektivitas kata menjadi amat penting. Kita membuat cerita seutuh mungkin dalam durasi terbatas, dengan suku kata yang harus pas dengan melodi. Selain itu, dalam pembuatan lagu ada aspek menciptakan melodi dan menyusun aransemen. Tapi intinya sama-sama membuat cerita.

Ada yang mengatakan menulis lagu dan menulis puisi berkaitan. Bagaimana menurut Anda?

Kurang lebih prinsipnya sama, tapi tentunya di lagu ada melodi. Jadi ada aspek lain yang harus diperhatikan ketimbang puisi. Juga ada keterbatasan dalam lagu karena mengikuti durasi dan struktur tertentu (bait, reff, dsb).

Adakah penulis yang berpengaruh terhadap gaya penulisan Anda? Apakah Graham Hancock memiliki pengaruh dalam gaya penulisan Anda?

Untuk gaya menulis, saya tidak pernah terlalu menyadari. Mungkin karena bacaan saya juga kebanyakan nonfiksi. Graham Hancock dan penulis-penulis nonfiksi lainnya memengaruhi saya dalam hal konten, bukan gaya menulis. Gaya menulis lebih banyak bisa kita dapat dari penulis fiksi. Untuk metafora saya mengagumi Sapardi Djoko Damono. Untuk plot, penulis-penulis seperti Dan Brown, JK. Rowling, James Patterson, Alfred Hitchcock, Michael Crichton, Stephen King, amat patut dipelajari. Penulis seperti John Green dan Margaret Atwood menurut saya pintar memainkan emosi. Dan, ada penulis-penulis lain yang temanya unik dan kuat seperti Yan Martell, Alan Lightman, Paulo Coelho. Setiap yang saya baca pasti meninggalkan pengaruh, tapi karena kekuatan masing-masing penulis berbeda dan tampaknya yang saya serap juga berbeda-beda, saya tidak menunjuk satu-dua nama saja. Gaya penulisan merupakan kumulasi dari begitu banyak hal yang kita baca maupun gali dari diri kita sendiri.

Kalau saya tidak salah lagu Anda "Satu Bintang Di Langit Kelam" terinspirasi puisi SDD "Hujan Di Bulan Juni". Adakah karya Beliau lainnya yang Anda sukai? Bagaimana Anda menilainya?

SBDLK tidak terinspirasi HBJ. Tapi gaya menulis lirik saya berubah setelah membaca buku HBJ. Lebih metaforis dan puitis. Secara umum saya menyukai puisi-puisi Beliau. Saya menyukai metaforanya, kepekaannya memilih kata, dan ritme kalimatnya.

Apa yang Anda dapatkan dari menulis puisi/lagu yang tidak Anda dapatkan dari menulis novel?

Saya merasa hampir tidak pernah menulis puisi. Prosa pendek, iya. Lagu, iya. Yang tidak didapatkan dari menulis novel dibandingkan keduanya tadi tentu saja adalah perkawinan kata dengan melodi serta keleluasaan waktu. Secara durasi pengerjaan membuat novel jauh lebih panjang dan lebih rumit.

Ketika mengadaptasi novel Anda menjadi naskah film apa saja tantangannya? Sejauh mana keterlibatan Anda dalam setiap adaptasi film?

Keterlibatan saya berbeda-beda di setiap film. Ada yang terlibat sampai menjadi penulis skenario seperti di Perahu Kertas, ada juga yang tidak terlibat sama sekali seperti Madre dan Supernova KPBJ. Ada juga yang terlibat secara konsultatif, seperti Rectoverso, Filosofi Kopi 1, dan Filosofi Kopi 2. Dari cerpen menjadi film menurut saya tidak terlampau sukar karena biasanya yang terjadi pengembangan. Sementara masalah atau pun pendapat yang kontra biasanya muncul karena terjadi pemotongan/pengurangan dari cerita asli. Biasanya itu terjadi dalam adaptasi dari novel. Tantangannya tentu karena buku dan film merupakan medium yang berbeda, produk dari dua industri yang berbeda, yang mana keduanya punya aturan dan pakem sendiri. Dalam film, kita bicara durasi, pemain, penyutradaraan, sinematografi, investasi produser, dan banyak faktor lain yang tidak ada di buku. Saya sendiri melihat bahwa dalam adaptasi ke film, yang berkarya adalah para pembuat film, bukan penulis. Begitu juga ketika saya menjadi penulis skenario. Film akan “ditulis ulang” oleh sutradara dan editor, jadi skrip saya bukan satu-satunya patokan. Pada prinsipnya, yang terjadi adalah kompromi dan bagaimana kita bisa menjembatani keinginan dan kepentingan banyak pihak.

Bagaimana perasaan Anda setelah melihat hasil akhirnya di film?

Bergantung hasilnya. Tapi, dari setiap film akan selalu ada hal yang saya sukai, ada yang tidak. Sama-sama saja seperti kita melihat film lain sebetulnya, tapi tentu ada kebanggaan karena melihat bagaimana karya kita bertransformasi menjadi bentuk lain, dan film adalah hasil kerja keras banyak orang. Membayangkan bagaimana sebegitu banyak orang berupaya untuk mewujudkan cerita kita menjadi produk film juga membanggakan sekaligus mengharukan.

Apakah aktif di media sosial adalah salah satu cara Anda menjaga basis pembaca (readership)?

Media sosial bagi saya fungsinya kadang-kadang untuk saluran ekspresi yang personal juga, bersilaturahmi dengan teman-teman lama, dsb. Meski demikian, pemakaian yang utama memang adalah untuk mendukung pekerjaan saya. Pada zaman ini, pembaca memang tidak hanya mengenal karya, tapi bisa juga mengenal penulisnya. Tinggal tergantung seterbuka apa kita menunjukkan dunia kita yang lebih personal. Bagi saya, media sosial adalah cara paling praktis saat ini untuk berkomunikasi langsung dengan pembaca.

Saat menulis apakah Anda membayangkan audiens tertentu?

Sejujurnya, tidak. Saya membayangkan kalau saya yang jadi pembaca. Intinya, saya harus menulis buku yang bisa memikat minat saya. Buku yang bisa membuat saya kepengin terus membaca. Setelah berkali-kali menerbitkan buku tentunya saya bisa membayangkan profil pembaca saya. Tapi ketika berkarya, fokus saya hampir selalu internal.

Kalau saya tidak salah Supernova 1 adalah self-published, kemudian karya berikutnya dicetak penerbit lain. Bagaimana transisi ini terjadi? Adakah pengaruhnya terhadap karya Anda?

Untuk sejarah self-publish Supernova 1 bisa dilihat di arsip saya www.dee-interview.blogspot.co.id ya, karena sudah sering sekali saya bahas.

Menurut Anda bagaimana cara latihan menulis? Apakah penulis harus belajar secara otodidak?

Belajar terbaik menurut saya adalah dengan punya mentalitas ingin belajar terlebih dahulu. Dengan demikian, ketika kita membaca buku orang lain, kita bukan cuma sekadar membaca, melainkan membaca sambil belajar. Belajar mengenali apa yang kita suka, mengenali apa yang kita tidak suka, berusaha mengadopsi apa yang menurut kita baik, dan menghindari apa yang menurut kita tidak baik/tidak cocok. Otodidak atau tidak menurut saya bukan patokan. Kalau memang ada kesempatan ikut workshop, seminar, atau masterclass, mengapa tidak? Tapi, kalau tidak ada kesempatan itu, yang otodidak tidak berarti akan lebih buruk dari yang ikut workshop atau masterclass. Jam terbang akan amat menentukan. Tapi yang lebih menentukan lagi adalah keinginan untuk memperbaiki diri. Dari satu karya ke karya lain, kita harus dengan sadar ingin melakukan perbaikan.

Apakah Anda pernah mengikuti kelas menulis? Jika iya, bisa ceritakan pengalaman Anda? Siapa pengajarnya?

Sejauh ini, saya pernah ikut Masterclass James Patterson, ikut beberapa kursus fiksi dari Steve Alcorn, saya juga pernah mengikuti kursus scriptwriting dari Sue Clayton. Terkecuali dengan Sue Clayton, kedua yang pertama dilakukan secara online.

Anda dikategorikan dalam gerakan "Sastra Wangi" (fragrant literature), tanggapan Anda?

Sastra Wangi tidak ada maknanya buat saya. Itu hanya istilah yang diciptakan media untuk merujuk ke satu masa di awal 2000-an ketika banyak penulis perempuan muncul dan menonjol. Tidak ada substansi lain.

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Bagi Anda, apakah inspirasi itu datang dari dalam diri sendiri atau dari luar diri?

Dua-duanya.

Apakah ada hobi yang sedang Anda geluti saat ini?

Memasak dan berenang.

Jika boleh bertanya, buku apa yang sedang Anda kerjakan saat ini?

Saya sedang mengerjakan naskah buku baru, tapi detailnya saat ini belum bisa saya ungkap ke publik.

Setelah menjadi seorang ibu, adakah yang berubah pada diri Anda sebagai seorang penulis?

Perubahan utama adalah jadwal. Saya harus lebih disiplin dan lihai membagi waktu agar semua tugas dan kewajiban saya di rumah tetap terlaksana dan masih bisa berkarya.

Adakah pengaruh seni dari anggota keluarga Anda saat Anda kecil?

Tentunya ada, karena semua anggota keluarga saya suka seni, khususnya gambar dan musik. Semua suka membaca. Jadi, otomatis itu menjadi atmosfer saya sehari-hari di rumah sejak kecil.

Apa kendala teknis (dalam menulis) terberat yang sejauh ini Anda alami?

Bagaimana cara Anda mengatasinya?

Tantangan terbesar saya adalah penataan waktu. Hal tersebut tidak inheren termasuk dalam “teknik” menulis, tapi manajemen waktu menentukan produktivitas kita menulis. Bagaimana cara menjadikan menulis itu “habit”, kemudian merajutnya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kita sudah punya dedikasi untuk menjadikan menulis agenda kita sehari-hari, kesulitan dalam menulis akan terurai dengan sendirinya karena kita sudah punya waktu dan komitmen untuk itu. Tapi, kalau aktivitas menulis masih menjadi hal yang sporadis, nunggu mood, dsb, maka akan banyak perkara teknis dalam menulis yang sulit semata-mata karena kita tidak punya cukup dedikasi dan waktu untuk mencari solusinya.