Showing posts with label Riset. Show all posts
Showing posts with label Riset. Show all posts

Friday, April 3, 2020

Tempo.Co | Aroma Karsa | Jan, 2018 | Aisha Shaidra


Sejak kapan akhirnya Dewi Lestari memutuskan untuk kembali menulis novel pasca merampungkan Supernova? Apakah tema yang diangkat kali ini sudah muncul sejak lama, atau memang ide baru yang hadir?

Pasca Supernova 6 sebenarnya sudah ada beberapa calon kisah yang ingin saya garap, yang mengantre sejak lama bahkan sebelum menulis Supernova 1. Waktu itu saya dihadapkan ke beberapa pilihan. Aroma Karsa sebenarnya justru ide yang paling baru, tapi saya merasa dorongan terkuat justru untuk menulis Aroma Karsa terlebih dahulu. Idenya sudah mulai diinkubasi sejak 2015. Setelah Supernova 6, saya rehat dulu sekitar sembilan bulan sebelum memulai proses riset Aroma Karsa. Saya mulai riset akhir tahun 2016 sambil mulai menyusun ide ceritanya.

Apakah ada peristiwa atau mungkin orang yang menginspirasi pembuatan novel ini?

Pada dasarnya, yang menggerakkan saya menulis Aroma Karsa adalah tema aroma itu sendiri. Penciuman menurut saya adalah indra yang jarang digarap di fiksi, deskripsi penciuman juga kalah banyak dibandingkan deskripsi visual. Padahal indra penciuman itu paling kuat mendorong imajinasi. Akhirnya, saya berpikir untuk membuat cerita yang tema besarnya tentang aroma, tentang penciuman.

Boleh diceritakan seperti apa proses penelusuran dan penggalian ide novel terbaru ini? Melihat dari update IG, banyak hal dilakukan untuk penggarapan novel Aroma Karsa. Ada obsesi apa yang ingin dipenuhi?

Sebenarnya, proses penulisan Aroma Karsa tidak jauh berbeda dengan bagaimana menggarap buku-buku saya yang lain, termasuk Supernova. Hanya saja, pada Aroma Karsa saya memang meniatkan untuk mendokumentasi lebih rinci proses risetnya. Selama ini cara saya meriset menjadi hal yang paling sering ditanyakan oleh pembaca, mereka ingin tahu caranya, prosesnya bagaimana, dsb. Berhubung buku-buku yang lalu saya sudah telat untuk mendokumentasi, di Aroma Karsa ini saya berusaha untuk selengkap mungkin mendokumentasikan. Ini juga jadi edukasi bagi publik tentang bagaimana profesi penulis dan bagaimana proses kreatif di balik sebuah tulisan.
Riset Aroma Karsa kebetulan memang melibatkan banyak bidang karena kebutuhan ceritanya demikian. Riset saya bergantung plot. Di Aroma Karsa, sesuai plotnya, saya perlu ke beberapa tempat yang menjadi kanvas penting dalam cerita, seperti pabrik kosmetik, Bantar Gebang, dan Gunung Lawu. Saya juga perlu referensi untuk berbagai profesi, seperti peracik parfum, pembalap, kolektor anggrek, dsb. Saya butuh acuan sejarah untuk merancang legenda, untuk itu saya berkonsultasi dengan ahli epigrafi dan ahli Jawa Kuno dari UI. Untuk tempat yang saya tuliskan tapi sulit dikunjungi karena jarak seperti Grasse, Prancis, maka saya pakai riset pustaka/video.

Berapa lama proses penggalian bahan untuk melengkapi kebutuhan cerita novel ini?
Saya lakukan sambil berjalan menulis naskah. Kurang lebih setahun sambil menulis.


Hal apa yang ingin ditawarkan Dewi Lestari kepada pembaca lewat karya baru ini?
Tujuan saya ketika menulis sebetulnya satu saja, membuat cerita yang sememikat dan mengikat mungkin. Saya ingin pembaca bisa tenggelam dalam cerita, dalam karakter, sekaligus beroleh banyak info dan pengetahuan menarik. Tentu ini akan kembali ke selera masing-masing pembaca. Ada yang bakal suka dan tidak. Yang jelas, setiap karya, termasuk Aroma Karsa, saya rancang untuk mencapai tujuan tadi: memikat, mengikat, dan memperkaya. Itu juga yang saya kejar dalam pengalaman membaca buku lain. Selain itu, saya ingin menghadirkan tema aroma kepada pembaca, yang mana saya rasa agak jarang fiksi mengulas tema tersebut.

Apakah ada habit penulisan yang cukup berbeda (atau malah baru) yang dilakukan khusus untuk penulisan novel ini dari proses kreatif sebelumnya?
Untuk saya pribadi, saya merasa menulis Aroma Karsa ini menjadi penyegaran karena inilah novel stand-alone saya kedua setelah Perahu Kertas. Sepanjang enam buku Supernova saya bercerita dengan perspektif serial. Menulis kumpulan cerpen seperti Filosofi Kopi dan Madre juga rasanya berbeda. Belum lagi tema yang saya angkat di Aroma Karsa adalah tema yang bagi saya sendiri fresh dan menarik. Berbeda dengan Supernova yang karakter dan tempatnya di berbagai belahan dunia, Aroma Karsa ini Indonesia banget.


Hal apa yang paling sulit dihadapi saat melakukan riset dan proses penulisan novel Aroma Karsa?
Yang paling menantang bagi saya adalah mengkonstruksi cerita itu sendiri. Jalan ceritanya intricate, jadi saya harus benar-benar jeli menyusunnya. Meski tema besarnya aroma, banyak elemen dalam Aroma Karsa yang harus saya pelajari, mulai dari anggrek, dekomposisi, kimia, belum lagi setting cerita yang berbeda-beda.

Kenapa merilis versi digital lebih dulu dan diberikan dalam format bersambung?
Sejak kecil saya sangat menyukai format cerbung. Sampai sekarang saya juga penyuka serial, baik film, buku fiksi, dan komik. Mungkin karena itu juga saya jadi punya kecenderungan bikin sesuatu yang berseri, semisal Supernova dan Perahu Kertas (yang dulu juga terbit digital dan bersambung). Saya ingin kembali menghadirkan sensasi baca cerbung itu di pembaca. Hanya saja sulit mencari platform-nya sekarang karena medium orang membaca sudah jauh berubah dibandingkan dulu. Untuk itu, saya mencari platform yang memungkinkan untuk saya merilis naskah saya secara bersambung. Kebetulan, sebuah penerbit digital, Bookslife, memang membuat sistem penjualan bukunya secara “part”. Bagi saya itu jadi solusi. Dan kenapa dirilis duluan? Karena kalau sudah ada versi cetaknya, yang pastinya harus terbit sekaligus dan tidak bisa dicicil, maka tidak mungkin lagi membuat format cerbung. Jadi, memang harus terbit duluan yang versi digitalnya. Bagi saya ini juga bukan situasi “either or” yang mana pembaca harus memilih. Keduanya menghadirkan sensasi yang berbeda. Karena itulah saya dan penerbit, baik Bookslife untuk versi digital maupun Bentang Pustaka untuk versi cetak, berusaha membuat penawaran yang sebaik mungkin untuk pembaca yang hendak mengalami keduanya. Digital, meski nggak ada fisiknya, sensasi cerbung ini nggak akan terulang dua kali. Sementara versi cetak, tentu punya keunggulan tersendiri seperti booksigning, romantisme kert

Thursday, April 2, 2020

Blog Putra Sasmita | Profil & Teknik Menulis | Mei, 2017 | Putra Sasmita

Bagaimana Anda memulai menulis novel? Apakah Anda membuat outline sebelum menulis?

Dari waktu ke waktu, teknik maupun metode saya menulis terus saya perbarui. Dulu saya menulis tanpa outline, walau hampir selalu membuat semacam peta cerita meski sederhana. Sekarang saya selalu membuat outline dan time table. Jadi, bukan hanya konten yang saya petakan, tapi sama pentingnya adalah jadwal kerja. Saya memberlakukan pemakaian outline hanya untuk novel. Prosa singkat, cerpen, atauapun novelet, biasanya saya tulis spontan.

Apa Anda punya target harian?

Ada. Bisa bervariasi sesuai kebutuhan. Untuk draf pertama, hitungan saya biasanya adalah jumlah kata. 1000 kata per hari. Jika sudah mendekati akhir cerita, lebih ke target ke berapa adegan yang bisa saya selesaikan (karena jalan cerita sudah semakin jelas). Pada tahap editing, target saya adalah menyunting sekian bab per hari (jumlahnya bergantung ada berapa banyak bab dan berapa lama waktu yang saya punya sebelum target cetak – yang biasanya saya tentukan sendiri).

Tampaknya Anda begitu disiplin dalam menulis. Anda memiliki target-target yang jelas, bahkan sampai target cetak yang Anda tentukan sendiri. Apakah kedisiplinan ini sudah ditanam oleh keluarga Anda sejak kecil?

Kedisiplinan menulis saya tumbuhnya berangsur, tidak serta merta, semata-mata karena akhirnya saya menemukan dan merasakan sendiri bahwa disiplin memiliki manfaat yang nyata bagi produktivitas kepenulisan saya sekaligus merupakan cara kerja yang realistis dengan kondisi saya yang berkeluarga. Pada aspek lain, saya orangnya cenderung santai.

Apakah Anda mengedit saat menulis atau setelahnya?

Tahapan pertama adalah penuntasan draf pertama. Melakukan penyuntingan pada tahap ini bagi saya kontraproduktif, karena bisa memperlambat jadwal kerja. Saya melakukan penyuntingan menyeluruh setelah draf pertama selesai. Ada kalanya di tengah jalan (biasanya mulai memasuki babak 2B), saya harus berhenti sejenak untuk meninjau ulang jalan cerita. Tapi, saya batasi untuk tidak jadi menyunting seluruh naskah, karena buat saya beda banget setting berpikir antara menulis dan menyunting. Kalau menulis saya harus di dalam cerita. Kalau menyunting saya harus di luar cerita. Kalau sudah di luar, cukup sulit untuk balik lagi ke dalam. Jadi, lebih baik penyuntingan dilakukan setelah draf pertama selesai.

Apa Anda punya rutinitas selama menulis?

Saya sudah mencoba berbagai macam jadwal dan kebiasaan. Dari menulis malam sampai menulis subuh. Dari nulis di keramaian sampai menulis sendirian. Saat ini saya cenderung menulis pagi hari hingga setelah makan siang, umumnya sebelum anak saya pulang sekolah. Biasanya saya olah raga dulu, mandi, ngopi, baru mulai menulis. Yang penting buat saya adalah tidak diinterupsi (diajak ngobrol). Tidak masalah dalam keramaian atau kesendirian.

Maya Angelou bercerita, saat menulis Ia akan menyewa sebuah kamar hotel dan harus ada sebotol Sherry, kamus, thesaurus, notepad, asbak, dan Injil. Bagaimana dengan Anda? Boleh gambarkan sedikit seperti apa ruang kerja Anda? Adakah kebiasaan yang Anda lakukan sambil menulis, misalnya sambil mendengarkan musik?

Saat ini saya sedang tidak punya ruang kerja khusus, biasanya saya menulis di kamar atau meja makan. Kalau di luar rumah, saya biasanya bekerja di kedai kopi. Saya berusaha tidak usah banyak “benda ritualistik” agar tidak repot. Yang penting ada air putih dan suhu ruangan tidak terlalu dingin/terlalu panas agar bisa menulis nyaman (saya menghindari tempat duduk yang terlalu dekat dengan tiupan angin AC). Kamus saya biasa pakai aplikasi KBBI, jadi tidak pakai versi cetak lagi. Terkecuali jika ada beberapa buku atau kamus spesifik yang saya butuhkan berkenaan dengan cerita. Musik tidak wajib, hanya kalau dirasa perlu. Kadang-kadang saya gunakan untuk membangun suasana saat menulis adegan tertentu. Tapi, tanpa musik juga bisa.

Siapa yang membaca draf pertama tulisan Anda?

Biasanya suami. Habis itu baru saya bagikan ke beberapa orang beta reader, yang biasanya teman-teman di penerbit.

Apakah suami Anda memberikan masukan?

Iya, dan juga kesannya terhadap cerita.

Ketika mengedit atau menulis, apakah Anda membaca keras-keras (read out loud)?

Iya. Tidak terus-terusan dalam setiap kali menyunting, tapi hampir selalu saya mengetes kalimat saya dengan membunyikannya (membacanya dengan bersuara).

Tema spiritualitas dan sains kerap muncul di serial Supernova, bagaimana Anda menggabungkan dua hal yang kelihatannya berseberangan ini ke dalam karya tulis Anda?

Bagi saya, justru keduanya tidak berseberangan, malah berkaitan. Dan keterkaitan itu yang menarik untuk ditulis. Tidak ada metode khusus untuk menggabungkan keduanya selain berusaha membangun cerita yang solid.

Bisa tolong jelaskan bagaimana Anda melihat keterkaitan spiritualitas dan sains?

Sains dan spiritualitas sama-sama bertujuan mengungkap realitas, memahami manusia, dan mekanisme kehidupan.

Sepertinya Ibu Dee tertarik dengan spiritualitas, sains, dan filsafat. Bagaimana ketertarikan ini bermula? Apakah Anda memiliki pengalaman pribadi?

Kalau saya ingat-ingat, memang hal-hal itu yang menarik minat saya sejak kecil. Mungkin belum saya bahasakan sebagai spiritualitas-sains-filsafat, tapi saya sering melamunkan bagaimana kehidupan ini bermula, dan buat apa saya (dan manusia lain) hidup dan terlahir di Bumi.

Apakah karena ini Anda menulis fiksi? Untuk mengungkap realitas, memahami manusia, dan menjelaskan mekanisme kehidupan?

Yang saya ungkapkan di atas itu lebih tepat sebagai alasan saya menulis Supernova. Karya fiksi saya yang lain tidak semuanya setema dengan Supernova. Saya menulis fiksi pada dasarnya karena saya suka seni bercerita.

Apakah pop culture ada pengaruhnya terhadap karya-karya Anda?

Saya tidak pernah benar-benar menyadari atau menyengajakannya, tapi saya percaya kita semua terpengaruh oleh budaya apa pun yang berlaku pada zaman kita hidup. Karena saya hidup dan besar di zaman ketika pop culture ada, tentunya saya terpengaruh. Seberapa banyak dan seberapa besar, saya tidak mengukurnya.

Bagaimana Anda melakukan riset untuk karya-karya Anda?

Riset yang saya lakukan umumnya dua macam. Riset langsung dan tidak langsung. Riset langsung contohnya ketika saya ke Sianjur Mula-mula untuk penulisan Gelombang, atau mencoba terapi listrik ketika menulis Petir. Namun, tidak semua kebutuhan riset bisa saya penuhi melalui riset langsung. Biasanya karena keterbatasan waktu. Misalnya, ketika saya masih punya bayi yang nggak bisa saya tinggal-tinggal, otomatis saya tidak bisa bepergian, meski kebutuhan cerita menuntut saya menulis berbagai tempat yang belum pernah saya kunjungi. Untuk itu saya melakukan riset tidak langsung, melalui riset pustaka (membaca buku, atau browsing), riset video / dokumenter, dan wawancara narasumber.

Pembaca bisa menduga bahwa Anda tentunya melakukan riset mendalam untuk karya-karya Anda. Biasanya yang terjadi apakah Anda meriset setelah menentukan cerita (plot, karakter, dsb) atau sebaliknya, riset dulu baru dicocokkan dengan cerita dan karakter? 

Keduanya bisa berjalan paralel. Hasil riset bisa menentukan jalan cerita. Jalan cerita juga bisa menentukan kebutuhan riset. Biasanya saya melakukan riset di awal, tapi hampir selalu saya mengecek banyak hal selama proses menulis berjalan, jadi bisa dibilang berjalan paralel.

Karakter-karakter yang Anda ciptakan tergambar kuat di benak pembaca. Apakah Anda membayangkan orang tertentu di dunia nyata saat menciptakan karakter?

Setiap karakter yang saya buat bagai kain perca. Ada campuran orang nyata (biasanya saya ambil nama, profesi, ciri fisik – dan jumlahnya lebih dari satu) dan imajinasi saya sendiri. Tidak pernah ada orang tertentu di dunia nyata yang benar-benar saya ambil utuh menjadi karakter.

Apakah bagi Anda proses menulis cerpen dan puisi serupa dengan proses menulis novel?

Beda. Puisi cenderung spontan. Cerpen memiliki perencanaan seperti halnya novel tapi jauh lebih sederhana. Tantangan cerpen buat saya adalah membuat kejutan dan fokus yang tajam. Sementara novel ibarat lari marathon, persiapannya panjang, prosesnya panjang, dan butuh stamina yang luar biasa.

Menurut Anda adakah persamaan proses menulis dengan menciptakan lagu?
Ketika saya menulis lagu, intinya juga saya membuat cerita. Tantangannya berbeda. Dalam lagu, efektivitas kata menjadi amat penting. Kita membuat cerita seutuh mungkin dalam durasi terbatas, dengan suku kata yang harus pas dengan melodi. Selain itu, dalam pembuatan lagu ada aspek menciptakan melodi dan menyusun aransemen. Tapi intinya sama-sama membuat cerita.

Ada yang mengatakan menulis lagu dan menulis puisi berkaitan. Bagaimana menurut Anda?

Kurang lebih prinsipnya sama, tapi tentunya di lagu ada melodi. Jadi ada aspek lain yang harus diperhatikan ketimbang puisi. Juga ada keterbatasan dalam lagu karena mengikuti durasi dan struktur tertentu (bait, reff, dsb).

Adakah penulis yang berpengaruh terhadap gaya penulisan Anda? Apakah Graham Hancock memiliki pengaruh dalam gaya penulisan Anda?

Untuk gaya menulis, saya tidak pernah terlalu menyadari. Mungkin karena bacaan saya juga kebanyakan nonfiksi. Graham Hancock dan penulis-penulis nonfiksi lainnya memengaruhi saya dalam hal konten, bukan gaya menulis. Gaya menulis lebih banyak bisa kita dapat dari penulis fiksi. Untuk metafora saya mengagumi Sapardi Djoko Damono. Untuk plot, penulis-penulis seperti Dan Brown, JK. Rowling, James Patterson, Alfred Hitchcock, Michael Crichton, Stephen King, amat patut dipelajari. Penulis seperti John Green dan Margaret Atwood menurut saya pintar memainkan emosi. Dan, ada penulis-penulis lain yang temanya unik dan kuat seperti Yan Martell, Alan Lightman, Paulo Coelho. Setiap yang saya baca pasti meninggalkan pengaruh, tapi karena kekuatan masing-masing penulis berbeda dan tampaknya yang saya serap juga berbeda-beda, saya tidak menunjuk satu-dua nama saja. Gaya penulisan merupakan kumulasi dari begitu banyak hal yang kita baca maupun gali dari diri kita sendiri.

Kalau saya tidak salah lagu Anda "Satu Bintang Di Langit Kelam" terinspirasi puisi SDD "Hujan Di Bulan Juni". Adakah karya Beliau lainnya yang Anda sukai? Bagaimana Anda menilainya?

SBDLK tidak terinspirasi HBJ. Tapi gaya menulis lirik saya berubah setelah membaca buku HBJ. Lebih metaforis dan puitis. Secara umum saya menyukai puisi-puisi Beliau. Saya menyukai metaforanya, kepekaannya memilih kata, dan ritme kalimatnya.

Apa yang Anda dapatkan dari menulis puisi/lagu yang tidak Anda dapatkan dari menulis novel?

Saya merasa hampir tidak pernah menulis puisi. Prosa pendek, iya. Lagu, iya. Yang tidak didapatkan dari menulis novel dibandingkan keduanya tadi tentu saja adalah perkawinan kata dengan melodi serta keleluasaan waktu. Secara durasi pengerjaan membuat novel jauh lebih panjang dan lebih rumit.

Ketika mengadaptasi novel Anda menjadi naskah film apa saja tantangannya? Sejauh mana keterlibatan Anda dalam setiap adaptasi film?

Keterlibatan saya berbeda-beda di setiap film. Ada yang terlibat sampai menjadi penulis skenario seperti di Perahu Kertas, ada juga yang tidak terlibat sama sekali seperti Madre dan Supernova KPBJ. Ada juga yang terlibat secara konsultatif, seperti Rectoverso, Filosofi Kopi 1, dan Filosofi Kopi 2. Dari cerpen menjadi film menurut saya tidak terlampau sukar karena biasanya yang terjadi pengembangan. Sementara masalah atau pun pendapat yang kontra biasanya muncul karena terjadi pemotongan/pengurangan dari cerita asli. Biasanya itu terjadi dalam adaptasi dari novel. Tantangannya tentu karena buku dan film merupakan medium yang berbeda, produk dari dua industri yang berbeda, yang mana keduanya punya aturan dan pakem sendiri. Dalam film, kita bicara durasi, pemain, penyutradaraan, sinematografi, investasi produser, dan banyak faktor lain yang tidak ada di buku. Saya sendiri melihat bahwa dalam adaptasi ke film, yang berkarya adalah para pembuat film, bukan penulis. Begitu juga ketika saya menjadi penulis skenario. Film akan “ditulis ulang” oleh sutradara dan editor, jadi skrip saya bukan satu-satunya patokan. Pada prinsipnya, yang terjadi adalah kompromi dan bagaimana kita bisa menjembatani keinginan dan kepentingan banyak pihak.

Bagaimana perasaan Anda setelah melihat hasil akhirnya di film?

Bergantung hasilnya. Tapi, dari setiap film akan selalu ada hal yang saya sukai, ada yang tidak. Sama-sama saja seperti kita melihat film lain sebetulnya, tapi tentu ada kebanggaan karena melihat bagaimana karya kita bertransformasi menjadi bentuk lain, dan film adalah hasil kerja keras banyak orang. Membayangkan bagaimana sebegitu banyak orang berupaya untuk mewujudkan cerita kita menjadi produk film juga membanggakan sekaligus mengharukan.

Apakah aktif di media sosial adalah salah satu cara Anda menjaga basis pembaca (readership)?

Media sosial bagi saya fungsinya kadang-kadang untuk saluran ekspresi yang personal juga, bersilaturahmi dengan teman-teman lama, dsb. Meski demikian, pemakaian yang utama memang adalah untuk mendukung pekerjaan saya. Pada zaman ini, pembaca memang tidak hanya mengenal karya, tapi bisa juga mengenal penulisnya. Tinggal tergantung seterbuka apa kita menunjukkan dunia kita yang lebih personal. Bagi saya, media sosial adalah cara paling praktis saat ini untuk berkomunikasi langsung dengan pembaca.

Saat menulis apakah Anda membayangkan audiens tertentu?

Sejujurnya, tidak. Saya membayangkan kalau saya yang jadi pembaca. Intinya, saya harus menulis buku yang bisa memikat minat saya. Buku yang bisa membuat saya kepengin terus membaca. Setelah berkali-kali menerbitkan buku tentunya saya bisa membayangkan profil pembaca saya. Tapi ketika berkarya, fokus saya hampir selalu internal.

Kalau saya tidak salah Supernova 1 adalah self-published, kemudian karya berikutnya dicetak penerbit lain. Bagaimana transisi ini terjadi? Adakah pengaruhnya terhadap karya Anda?

Untuk sejarah self-publish Supernova 1 bisa dilihat di arsip saya www.dee-interview.blogspot.co.id ya, karena sudah sering sekali saya bahas.

Menurut Anda bagaimana cara latihan menulis? Apakah penulis harus belajar secara otodidak?

Belajar terbaik menurut saya adalah dengan punya mentalitas ingin belajar terlebih dahulu. Dengan demikian, ketika kita membaca buku orang lain, kita bukan cuma sekadar membaca, melainkan membaca sambil belajar. Belajar mengenali apa yang kita suka, mengenali apa yang kita tidak suka, berusaha mengadopsi apa yang menurut kita baik, dan menghindari apa yang menurut kita tidak baik/tidak cocok. Otodidak atau tidak menurut saya bukan patokan. Kalau memang ada kesempatan ikut workshop, seminar, atau masterclass, mengapa tidak? Tapi, kalau tidak ada kesempatan itu, yang otodidak tidak berarti akan lebih buruk dari yang ikut workshop atau masterclass. Jam terbang akan amat menentukan. Tapi yang lebih menentukan lagi adalah keinginan untuk memperbaiki diri. Dari satu karya ke karya lain, kita harus dengan sadar ingin melakukan perbaikan.

Apakah Anda pernah mengikuti kelas menulis? Jika iya, bisa ceritakan pengalaman Anda? Siapa pengajarnya?

Sejauh ini, saya pernah ikut Masterclass James Patterson, ikut beberapa kursus fiksi dari Steve Alcorn, saya juga pernah mengikuti kursus scriptwriting dari Sue Clayton. Terkecuali dengan Sue Clayton, kedua yang pertama dilakukan secara online.

Anda dikategorikan dalam gerakan "Sastra Wangi" (fragrant literature), tanggapan Anda?

Sastra Wangi tidak ada maknanya buat saya. Itu hanya istilah yang diciptakan media untuk merujuk ke satu masa di awal 2000-an ketika banyak penulis perempuan muncul dan menonjol. Tidak ada substansi lain.

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Bagi Anda, apakah inspirasi itu datang dari dalam diri sendiri atau dari luar diri?

Dua-duanya.

Apakah ada hobi yang sedang Anda geluti saat ini?

Memasak dan berenang.

Jika boleh bertanya, buku apa yang sedang Anda kerjakan saat ini?

Saya sedang mengerjakan naskah buku baru, tapi detailnya saat ini belum bisa saya ungkap ke publik.

Setelah menjadi seorang ibu, adakah yang berubah pada diri Anda sebagai seorang penulis?

Perubahan utama adalah jadwal. Saya harus lebih disiplin dan lihai membagi waktu agar semua tugas dan kewajiban saya di rumah tetap terlaksana dan masih bisa berkarya.

Adakah pengaruh seni dari anggota keluarga Anda saat Anda kecil?

Tentunya ada, karena semua anggota keluarga saya suka seni, khususnya gambar dan musik. Semua suka membaca. Jadi, otomatis itu menjadi atmosfer saya sehari-hari di rumah sejak kecil.

Apa kendala teknis (dalam menulis) terberat yang sejauh ini Anda alami?

Bagaimana cara Anda mengatasinya?

Tantangan terbesar saya adalah penataan waktu. Hal tersebut tidak inheren termasuk dalam “teknik” menulis, tapi manajemen waktu menentukan produktivitas kita menulis. Bagaimana cara menjadikan menulis itu “habit”, kemudian merajutnya dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kita sudah punya dedikasi untuk menjadikan menulis agenda kita sehari-hari, kesulitan dalam menulis akan terurai dengan sendirinya karena kita sudah punya waktu dan komitmen untuk itu. Tapi, kalau aktivitas menulis masih menjadi hal yang sporadis, nunggu mood, dsb, maka akan banyak perkara teknis dalam menulis yang sulit semata-mata karena kita tidak punya cukup dedikasi dan waktu untuk mencari solusinya. 


Friday, May 12, 2017

Tirto.ID | Supernova IEP & Serial Supernova | Januari, 2017 | Aulia Adam


Selamat ulang tahun, Supernova. Selamat ulang tahun juga, Ibu Suri.

Terima kasih banyak.

Februari nanti tepat satu tahun dirilisnya IEP, bagaimana kabar tokoh-tokoh di dalamnya – para peretas, infiltran, dan sarvara?

Kabarnya baik. Seperti saya, mereka tampaknya menikmati betul petualangan yang mereka alami dalam IEP.

Dalam rentang 15 tahun, sejak KPBJ pertama kali dirilis hingga IEP, rupanya karakter-karakter dalam Supernova berkembang tak hanya jadi sekadar tokoh dalam novel. Bak novel saga lainnya seperti Harry Potter, Twilight, atau Fifty Shade of Gray, mereka bahkan punya basis penggemar masing-masing. Apakah Ibu Suri memang merakit karakter-karakter ini supaya demikian?

Saya mulai merancang “plot berbasis karakter” itu setelah menulis Supernova 1 (KPBJ). Di KPBJ saya merasa ruang gerak karakter-karakternya agak sempit, terutama Dimas dan Reuben yang bahkan tidak keluar dari rumah mereka, dan untuk episode selanjutnya saya ingin memberikan ruang luas bagi setiap karakter. Artinya, saya bercerita dari sudut pandang mereka, kemudian saya menggambarkan kehidupan mereka sejak kecil, dsb. Dengan demikian, pembaca bisa benar-benar paham peristiwa-peristiwa penting yang membentuk setiap karakter. Saya juga merancang agar setiap karakter memiliki sifat, latar belakang, kelebihan dan kelemahan, yang berbeda dari satu sama lain. Waktu kecil, saya pernah menonton serial Yogi Bear edisi khusus berjudul Laff-A-Lympics. Puluhan karakter dari serial kartun produksi Hanna-Barbera yang berbeda-beda tiba-tiba disatukan dan ditandingkan. Bagi saya, sensasinya luar biasa. Saya biasanya mengenal karakter-karakter itu di “dunia” mereka masing-masing, dan tiba-tiba mereka dipersatukan. Sensasi itu yang kira-kira ingin saya bangkitkan ketika merancang episode-episode berikut (2 sampai 5), dan puncaknya mereka bertemu di 6. Otomatis, seiring waktu, setiap pembaca sudah memiliki “jagoan” masing-masing. Dan, di buku 6 mereka akan melihat sisi-sisi baru dan segar dari jagoannya setelah berinteraksi dengan tokoh-tokoh dari episode lain.

Ibu Suri sendiri punya karakter Favorit? Siapa?

Sulit sebenarnya dijawab karena saya menyukai semuanya hampir sama rata. Tapi, saya amat menikmati proses menulis Alfa Sagala (Gelombang).

Kalau ada, apa yang membuatnya menarik?

Saya merasa karakter Alfa itu menggemaskan. Pintar tapi lugu. Pergelutan batinnya sebagai pionir yang memulai pemberontakan Peretas terhadap Sarvara juga membuat Alfa memiliki banyak lapisan menarik untuk dieksplorasi.

Ada banyak sekali teori, budaya, dan gaya bercerita yang berbeda Dee paparkan dalam heksalogi ini. Semua riset mendalam itu yang akhirnya jadi salah satu daya tarik Supernova. Apakah semua itu memang dirancang sejak awal?

Pada awalnya, saya hanya menentukan tema, jadi sifatnya sangat global. Misalnya, tema lingkungan untuk Partikel. Atau, tema alam mimpi untuk Alfa. Namun, ketika ditulis begitu banyak sudut pandang sekaligus informasi yang harus dipilih dan dipilah. Subjek-subjek pendukung seperti mikologi, konservasi orang utan, fotografi alam, dsb, saya pilih melalui proses. Mana subjek yang memiliki unsur “drama” yang kemudian menunjang kehidupan si karakter, itulah yang saya pilih. Jadi, mirip menyusun puzzle. Kepingan puzzle itu tidak sekaligus hadir, tapi bertahap. Gaya bercerita saya tentukan sesuai karakter. Cara bercerita Elektra, misalnya, pasti harus berbeda dengan Alfa atau Zarah. Bagi saya itu jadi tantangan yang menarik. Terutama ketika mereka semua berkumpul. Setiap karakter tetap harus menyuarakan keunikannya masing-masing, rasanya seperti menata orkestra.

Sebagai penutup, IEP sebenarnya terkesan 'penuh'. Sebab hampir semua penjelasan yang tak terjelaskan di buku-buku sebelumnya justru dijawab satu per satu oleh IEP. Bahkan IEP masih belum menjawab siapa Peretas Puncak, dan apa yang akan terjadi setelah kehadirannya tiba. Apakah ini memang akhir yang dirancang? Atau akan ada 'keping' baru yang akan mengejutkan penggemar Supernova?

IEP adalah akhir dari “babak”-nya Supernova. Ceritanya sendiri masih akan berlanjut. Kenapa Supernova berakhir babaknya? Karena Supernova sebagai sebuah permasalahan saya anggap sudah selesai dengan terbongkarnya siapa Diva dan apa tujuannya. Babak berikutnya akan fokus kepada Peretas Puncak dan ke pertarungan besar Sarvara vs Infiltran.

Dee pernah bilang, kalau tak menutup kemungkinan kelanjutan kisah ini--tapi, tak lagi dalam rangkaian Supernova. Boleh kasih bocoran tentang kelanjutan nasib Peretas Puncak? Siapa dia? Atau Bagaimana kelanjutan kisah cinta Gio-Zarah? Alfa-Isthar? Atau Mpret-Etra?

Peretas Puncak adalah anak dari Gio dan Zarah. Dan karena dia adalah bagian dari gugus Asko yang melibatkan nama-nama yang disebut di atas, otomatis yang lainnya itu akan terceritakan juga. Walau fokusnya mungkin tidak akan sebanyak tokoh utama yakni si Peretas Puncak.

Jika punya kesempatan, dari sekian banyak tokoh di IEP, siapa yang paling memungkinkan punya cerita sendiri untuk dibuatkan novel sendiri? Kira-kira apa judulnya?

Saya merasa Liong punya potensi untuk itu. Realitas yang dikisahkan dari sudut pandang Infiltran pasti akan berbeda dengan sudut pandang Peretas. Dan, Liong punya masa lalu yang masih misteri. Dia pernah menjadi Peretas. Rasanya sih akan menarik, walau belum tentu akan saya wujudkan beneran menjadi novel. Judulnya belum terbayang. Sesuatu yang berhubungan dengan Naga, barangkali.

Supernova KPBJ sudah pernah dibuatkan film. Adakah rencana melanjutkan buku-buku selanjutnya untuk diterjemahkan dalam rol film?

Saya tidak pernah merencanakan. Dalam hal ini, tawaran adaptasi biasanya datang dari produser, bukan perencanaan dari penulis. Jadi, kalau ada produser yang punya ketertarikan terhadap satu buku tertentu, maka akan ada tawaran adaptasi. Bagi saya sendiri, hal itu tidak pernah menjadi target.

Bila dipaksa untuk menyebutkan aktor-aktor yang cocok untuk memerankan Alfa, Bodhi, Chandra, Empret, Etra, Gio, Ishtar, Kell, Liong, dan Zarah, siapakah mereka?

Itu pertanyaan sulit karena mereka semua harus “ter-orkestrasi” baru pas. Dan saat ini rasanya bagi saya terlalu pelik untuk menyusun orkestrasi casting itu. Kalau cuma dicocokkan satu-satu tapi secara keseluruhan nggak nyambung nantinya jawaban saya malah aneh dan merusak imajinasi pembaca.

Dalam waktu dekat, adakah rencana mengeluarkan buku baru? Bisa kasih bocoran?

Dalam waktu dekat, baru akan menulis manuskrip baru. Keluarnya belum tahu kapan, karena biasanya saya butuh waktu 6 bulan hingga setahun untuk rilis buku, termasuk produksi.

Ada pesan untuk para penggemar Supernova yang masih menanti kabar Peretas Puncak?

Bersabarlah. Paling cepat saya baru bisa menunaikannya dalam waktu lima tahun ke depan.

Sejak dirilis, IEP sudah beredar berapa kopi? Berapa cetakan?

Cetakan pertama, IEP langsung dicetak 40 ribu kopi, dan setahu saya sudah beberapa kali dicetalk ulang. Saya belum update lagi perkembangan terakhirnya. Mungkin bisa ditanyakan langsung ke Bentang Pustaka.


Monday, May 9, 2016

Cosmogirl | Role Model: Writer | April, 2016 | by Arzia Nuari


Apa yang Anda dapatkan ketika Anda menulis? Perasaan, atmosfer, dan suasana?

Bagi saya menulis adalah pekerjaan yang bisa membuat terhanyut, kadang lupa waktu. Drama yang digeluti oleh karakter-karakter saya, sedikit banyak saya rasakan juga. Suasana dan atmosfer yang saya ciptakan dalam semesta fiksi saya, sedikit banyak saya ikut berada di dalamnya juga. Dalam menulis saya menciptakan dunia lain dan ikut berada di dalamnya.

Sebelum menulis, Anda lebih dikenal sebagai seorang penyanyi. Kembali ke masa-masa itu, bagaimana sampai akhirnya Anda bisa menjadi seorang penulis?

Menulis adalah hobi sejak kecil. Tahun 2001 saya menerbitkan buku pertama saya, Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Sejak itu saya terus menulis buku hingga sekarang.

Menurut Anda, seperti apakah seorang penulis yang baik?

Penulis yang baik adalah pengamat yang baik. Penulis yang andal adalah penulis yang jernih dan runut; jernih mengungkapkan idenya dan runut dalam logika bercerita.

Untuk menghasilkan suatu tulisan (novel), berapa lama biasanya waktu riset yang Anda lakukan?

Biasanya riset saya sudah sepaket dengan proses menulisnya. Untuk banyak topik saya juga tidak menyisihkan waktu khusus karena riset sudah menjadi bagian dari keseharian saya. Apa yang saya baca dan pelajari dan saya pikir menarik, dalam kurun waktu mana pun itu, biasanya itulah topik-topik yang saya pilih untuk diceritakan. Jadi, bisa saja saya menulis manuskrip tahun 2015, tapi risetnya sudah saya lakukan sejak sepuluh tahun sebelumnya. Tapi, seiring penulisan manuskrip, tentu ada detail-detail baru yang juga perlu riset baru. Itu saya lakukan sambil berjalan.

Pernah nggak sih terbawa perasaan ketika menulis novel? Sampai menangis atau tertawa sendiri saat menulis?

Selalu.

Ketika merasa stuck di tengah-tengah penulisan, apa kiat Anda untuk mengatasinya?

Kalau hanya stuck biasa, saya paling berhenti dan rihat sejenak. Teruskan lagi keesokan harinya. Kalau kita punya deadline dan berkomitmen untuk memenuhinya, kita nggak akan lantas membatalkan karya kita hanya karena stuck. Kita akan jalan terus sampai selesai. Karena itu punya deadline dan rencana kerja sebelum memulai suatu karya sangatlah penting buat saya.

Siapa penulis idola Anda? Mengapa?

Sejujurnya tidak ada penulis yang karyanya terus-terusan saya ikuti atau terus-terusan saya jadikan panutan. Beberapa penulis yang pernah punya pengaruh atas kepenulisan saya antara lain Sapardi Djoko Damono, Rattawut Lapcharoensap, Dave Eggers, Ana Castillo.

Jika ada seseorang yang menulis sebuah novel dan menjadikan sosok Anda sebagai karakternya, karakter seperti apa yang sangat menggambarkan diri Anda?

Penuh rasa ingin tahu, senang humor, suka seni, nyentrik, dan cenderung pemalas.

Kembali mengingat seorang Dee Lestari saat pertama kali menulis novel Supernova pertama di tahun 2001, apa yang Anda rasakan ketika telah menjadi seorang Dee Lestari seperti sekarang ketika Anda punya semakin banyak karya dan semakin banyak yang mengenal karya-karya Anda?

Saya semakin mencintai seni bercerita, atau story telling, saya juga merasa tertantang untuk selalu memperbaiki skill saya dalam story crafting. Baik itu dalam fiksi maupun menulis lagu. Intinya, saya semakin mencintai pekerjaan saya. Dan, tampaknya itu jugalah yang kemudian menjadi identik di mata orang banyak saat ini, yakni sisi pencerita saya.

Dari 10 buku yang telah Anda tulis, termasuk 6 buku Supernova, adakah yang menjadi favorit Anda? Mengapa?

Saya selalu merasa paling dekat dengan karya yang paling akhir saya tulis. Jadi, saat ini (entah nanti), favorit saya adalah Supernova: Inteligensi Embun Pagi.

Buku apa yang penulisannya paling menantang Anda?

Sejauh ini juga Supernova: Inteligensi Embun Pagi. Itu adalah novel berukuran epik pertama saya, plus saya juga harus menggabungkan rangkaian dari lima buku sebelumnya. Jadi, sangat menantang.

Bicara project yang Anda kerjakan belum lama ini, yaitu menulis lagu untuk Raisa. Ceritakan mengenai project ini.

Berbeda dengan menulis fiksi, saya belum punya metodologi kerja rutin untuk bikin lagu. Jadi, saya bikin lagu itu musiman, hanya kalau disambar ‘wangsit’ saja. Satu saat, saya melihat foto di Instagram, kebetulan itu foto tangan Raisa yang ujung jarinya sedang digenggam oleh pacarnya, Keenan Pearce. Bagi saya foto itu indah dan menggugah, dan akhirnya tercetuslah lagu tersebut. Lagu itu sempat lama tertunda karena saya menulis IEP. Berbulan-bulan jaraknya dari ide pertama yang cuma sepotong reffrain hingga akhirnya rampung. Ketika lagunya jadi, momennya kebetulan pas dengan Raisa yang sedang menyusun materi album baru. I guess it’s just meant to be.

Apa rencana Anda selanjutnya?

Sampai bulan Mei nanti saya masih menjalankan beberapa acara promo buku, antara lain saya akan tampil di Asean Literary Festival, Makassar International Writers Festival, dan beberapa undangan talkshow di kampus-kampus. Setelah itu, saya ingin break dulu.

Apa pencapaian terbesar Anda sebagai seorang penulis?

Ketika ada pembaca yang mengatakan bahwa buku saya berhasil mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

Apa tips menjadi penulis dari Dee Lestari?

Berani memulai, berani gagal, dan berani menghadapi keberhasilan.