Showing posts with label Supernova GELOMBANG. Show all posts
Showing posts with label Supernova GELOMBANG. Show all posts

Monday, April 27, 2015

Majalah Sekolah Highscope | Menulis | Maret, 2015 | by Syafira Angelina


Saya pernah bertemu Anda di Indonesia Book Fair dan Anda menyatakan bahwa Anda sendiri bingung akan genre dari buku-buku Anda, terutama pentalogi Supernova ini. Mengapa?

Saya rasa genre lebih merupakan persoalan penerbit ketimbang penulis. Saya tidak terlalu sepakat sebetulnya kalau Supernova disebut fiksi ilmiah, karena basis saya menulis Supernova sebetulnya lebih ke spiritualitas ketimbang ilmiah, tapi sekali lagi, itu lebih menjadi opini dan “pe-er” dari pengamat dan penerbit. Apa pun genrenya, pada dasarnya saya hanya menuliskan apa yang saya suka.

Pembaca pasti tertarik akan gaya Anda yang menggabungkan romansa dan ilmiah. Ada alasan mengapa Anda menggabungkan dua hal yang menurut saya sendiri akan susah untuk digabungkan?

Sederhananya, karena itu kedua tema yang saya suka. Saya menggabungkannya bukan untuk memikat pembaca, melainkan untuk memuaskan diri saya sendiri terlebih dahulu.

Apa suka dan duka Anda menulis pentalogi Supernova ini? Terlebih lagi seri ini merupakan salah satu buku kontroversial di Indonesia yang membahas LGBT, kehidupan dewasa, dan hal-hal terlarang seperti ganja.

Saya rasa “membahas” beda dengan “menyetujui” atau “mengadvokasi”. Saya senang menulis sesuatu yang membuat orang berpikir dan meninjau ulang. Bukan demi pembaca menyepakati. Dukanya lebih karena sulit untuk membuat novel serial, dibutuhkan stamina yang kuat dan napas yang panjang untuk bisa bertahan. Sukanya karena puas mengerjakannya.

Siapa inspirasi Anda? Dan juga penulis yang sangat Anda hormati karyanya?

Inspirasi saya bukan orang tertentu, melainkan kehidupan itu sendiri. Banyak penulis yang saya suka. Yang bisa saya sebut salah satunya adalah Sapardi Djoko Damono.

Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh sudah dirilis sebagai film. Bisakah Anda menyatakan tentang bagaimana bisa Anda mempunyai ide untuk menjadikan buku ini sebagai sebuah film dan kesan Anda setelah film ini dirilis?

Yang punya ide adalah produser, sebenarnya. Mereka kemudian mengajukan penawaran untuk membeli hak adaptasi. Jadi, ide itu bukan berawal dari saya. Kesan saya untuk film KPBJ adalah film itu dibuat dengan kesungguhan dan berhasil menampilkan visual yang indah, ada beberapa catatan mengenai dialog dan jalan cerita, tapi secara keseluruhan film itu cukup membanggakan.

Apakah ada pemikiran untuk membuat Akar, Petir, Partikel, Gelombang, dan buku keenam Anda yang berjudul Inteligensi Embun Pagi sebagai sebuah film?

Sekali lagi, itu bergantung ada produser yang berminat atau tidak. Menjadikan buku saya film tidak pernah menjadi tujuan saya. Kalau ada yang berminat, tentunya akan saya jajaki dulu. Kalau memang ada kecocokan maka bisa tercipta kerjasama.

Di buku-buku Anda, saya menangkap bahwa Anda sangat menyukai ilmu tentang tidur dan hal-hal spiritual lainnya. Mengapa?

Lucid dreaming sebetulnya baru diungkap hanya di buku Gelombang, sebelumnya tidak pernah. Kalau hal yang spiritual, memang itu selalu menjadi minat saya, bahkan menjadi alasan untuk menulis Supernova. Kenapa? I don’t know for sure. Bagi saya, perihal itu penting dan menantang untuk ditelusuri.

Apa kunci sukses Anda selama ini?

Melakukan apa yang dicinta, menjalankannya dengan tekun, selalu memelihara rasa ingin tahu dan mau belajar.

Ada pesan-pesan untuk calon penulis remaja sebagai generasi penerus? Terutama untuk kami, anak-anak dari klub menulis Sekolah HighScope Indonesia.

Tulis apa yang ingin kalian baca. Temukan tema yang paling kalian suka, dan tekun berlatih dan menggali. Menulis adalah keahlian yang tak akan habis dipelajari seumur hidup. Jangan cepat puas.

Free Magazine | Simangunsong Sisters & Gelombang | Januari, 2015 | by Mikhail Teguh Pribadi


Simangunsong Sisters
 
Bagaimana ide awalnya bisa tercetus untuk kumpul kembali ?

Sebenarnya nggak ada konsep “kumpul kembali” sih, karena secara formal kami memang nggak pernah menjadi satu group. Tapi dari kecil kami sering nyanyi bareng dan bermusik bareng. Kami saling membantu kalau satu sama lain bikin album solo atau proyek musik. Kami juga pernah ikut group vokal dan paduan suara bareng-bareng. Cuma memang yang jarang terjadi adalah kami bernyanyi untuk publik (umum) dengan tema di luar dari Natal / acara keluarga. Dan itu akhirnya kejadian di acara Tribute to Carpenters yang diadakan oleh @America.

Mengapa memilih The Carpenters sebagai perform awal untuk tampil ?

Itu pun sebetulnya bukan kami yang pilih. Salah satu kurator @America, Chico Hindarto, berteman baik dengan Imel, dan Chico terpikir untuk mengadakan Tribute to Carpenters sebagai salah satu program spesial @America. Chico lalu menghubungi Imel dan menanyakan apakah kami bertiga, sebagai bersaudara, mau tampil membawakan lagu-lagu Carpenters. Setelah ada tanggal yang kosong, akhirnya Imel mengiyakan. Bagi kami sih sebetulnya bukan Carpenters-nya yang utama, cuma pengalaman nyanyi bareng untuk publik umumlah yang menjadikan tawaran itu menarik.

Dengan kesibukan masing-masing yang berbeda dan superpadat, bagaimanakah kalian mengatur scheduling untuk latihan akhirnya tampil?

Terus terang latihan agak minim karena kesibukan masing-masing, terutama Arina yang super sibuk dengan Mocca, plus kami sudah tidak tinggal sekota. Jadi, kami latihan waktu kumpul keluarga pas Natal 2014, lalu pas Arina ada acara di Jakarta, Imel menyengajakan pergi ke Jakarta untuk latihan bareng. Kami latihan di rumah saya di BSD, sudah bareng dengan para pemusik tambahan, Jesse (drum) dan Chaka (bass), termasuk suami saya, Reza, yang “ditodong” jadi pianis tamu. Berikutnya, kami langsung ketemu di @America pas sound-check. Jadi, agak mepet memang. Untungnya beberapa lagu sudah familier karena sering dengar dari kecil. 

Ke depan, akankah kalian akan lebih sering tampil bersama seperti ini?

Ide itu menarik sih untuk dieksplorasi, yang jelas hanya bisa dilakukan kalau Arina sedang berada di Indonesia. Mudah-mudahan acara @America tempo lalu jadi pemicu untuk kesempatan tampil lainnya.

Sejauh mana The Carpenters menginspirasi kalian ?

Sejujurnya kami nggak pernah (setidaknya saya) merasa ngefans amat sama Carpenters, tapi setelah kami mengulik lagu-lagunya, ternyata banyak sekali lagu mereka yang sudah kami mainkan sejak kecil tanpa sadar. Banyak lagu Carpenters menjadi lagu-lagu pelajaran waktu kami les musik. Dan, Carpenters juga banyak menyanyikan lagu-lagu orang lain, termasuk lagu-lagu yang kami suka, seperti lagunya Jim Henson “Rainbow Connection”, lagunya Joe Raposo “Sing”, dan lagunya Neil Sedaka “Solitaire”. Di luar itu, lagu-lagu yang ditulis oleh Richard Carpenters-nya sendiri memang banyak yang bagus. Dan gara-gara ngulik untuk acara tempo hari, saya jadi mengapresiasi ulang kepiawaiannya menulis lagu.


Gelombang

Setelah merilis Novel Supernova #5 : Gelombang, adakah rencana untuk kembali bermusik ?

Ada, tapi saya kayaknya ingin mendahulukan menyelesaikan Supernova 6, setidaknya sampai manuskripnya selesai, baru bisa fokus ke proyek-proyek kreatif lain. Nggak bisa disambi.

Adakah plan untuk kembali mengadakan reuni bersama RSD ?

Sejauh ini belum. Kalau hanya untuk show saja sebenarnya kami terbuka, tapi memang kesempatannya belum ada.

Sejauh mana musik mempengaruhi seorang Dee untuk berkarya dalam menulis?

Sangat berpengaruh. Dan itu awalnya tidak saya sadari. Tapi semakin ke sini, saya makin sadar bahwa cara saya menulis dan menyusun kalimat itu sangat terpengaruh dengan bunyi dan tempo. Bagi saya kalimat yang dibacanya enak itu adalah kalimat yang juga enak dibunyikan, punya ritme, dan temponya pas dengan keseluruhan cerita. Feeling semacam itu saya dapatkan dari bermusik.

Siapa musisi saat ini yang menginspirasi Anda?

Saya selalu suka dengan singer/songwriter yang liriknya bagus. Dari dulu saya senangnya ya seputar Sarah McLachlan dan Indigo Girls. Yang agak baru saya suka Corrine May dan Sara Barreiles. Dari Indonesia, saya lagi suka Tulus.

Wednesday, January 14, 2015

Info PEDAS - Bali's Lifestyle Magazine | Mimpi & Resolusi | Januari, 2015 | by Nurlailati Tha


Pada karya terbaru Anda seri Supernova: Gelombang, membahas tentang mimpi dan imajinasi. Menurut Anda, apa arti dari imajinasi?

Imajinasi bagi saya adalah sebuah realm, sebuah dimensi yang eksis secara paralel dengan realitas fisik. Manusia kreatif adalah manusia yang sering bolak-balik antar kedua dimensi ini. Dengan terlatih, mereka membangun akses dan koneksi dengan dimensi imajinasi.

Mengapa Anda mengambil tema mimpi dalam karya Anda tersebut?

Mimpi adalah misteri yang sejauh ini manusia modern baru bisa menggaruk permukaannya saja. Beberapa tradisi spiritual kuno malah jauh lebih advans menggali dimensi mimpi. Saya tertarik untuk mengangkatnya. Dan, tema mimpi yang dialami Alfa (tokoh utama dalam Gelombang) juga punya kesesuaian dengan plot besar Supernova, jadi klop.

Melalui seri Supernova: Gelombang ini, apakah ada pesan dan kesan yang ingin Anda sampaikan?

Saya jarang sekali punya misi pesan dan kesan dalam buku-buku saya. Kalaupun ada, itu lebih seperti efek sekunder ketimbang tujuan utama, yang biasanya pembacalah yang menarik kesimpulan dan kesan masing-masing. Tujuan utama saya dalam Gelombang adalah memberikan titik-titik terang bagi serial Supernova yang menjadi pijakan bagi episode final nanti. Dalam Gelombang, terungkap penjelasan tentang peran dan fungsi sebagian besar karakter dan sudah mulai ada gambaran kasar tentang misi mereka.

Bagaimana perasaan Anda setelah edisi terbaru Supernova telah terbit?

Senang dan lega, tentunya. Saya berhasil berkomitmen untuk tidak mengerjakan proyek menulis apa pun di jeda antara Partikel dan Gelombang. Bagi saya, itu prestasi tersendiri.

Setelah Gelombang, apakah ada seri selanjutnya dari Supernova?

Ada. Judulnya Inteligensi Embun Pagi.

Dari seri-seri Supernova, semua berhubungan dengan imajinasi, riset dan mimpi. Manakah yang lebih penting; imajinasi atau riset?

Imajinasi, tentunya. Riset hanyalah faktor pendukung. Riset tanpa imajinasi seperti pedati tanpa kuda. Punya bobot tapi nggak tahu mau dibawa ke mana.

Mengenai perayaan menjelang Tahun Baru, mimpi dan resolusi kan selalu berkaitan. Menurut Anda, apakah membuat resolusi itu penting? Apakah Anda termasuk orang yang membuat resolusi setiap tahunnya? Mengapa?

Mimpi bagi saya lebih dekat ke angan-angan. Resolusi itu lebih dekat ke to-do-list, yang artinya mimpi yang sudah dibuat konkret dan ketahuan “step-by-step”-nya apa. Umur 20-an saya masih rajin bikin resolusi, mungkin karena mimpinya masih lebih abstrak, hehe. Sekarang sih bagi saya resolusi tahun baru itu penting-penting-enggak. Tanpa bikin resolusi pun sekarang saya sudah tahu agenda besar saya apa, misalnya untuk 2015 adalah menyelesaikan draf Supernova 6, ya sudah, itu saja.

Hal apa saja yang menginspirasi Anda untuk menciptakan karya-karya yang mampu “menghipnotis” pembaca karya maupun pendengar musik Anda?

Saya terinspirasi oleh banyak hal, dari apa yang saya amati dan rasakan melalui panca indera. Kalau masalah “menghipnotis” pembaca atau pendengar, saya rasa itu sudah ada campur tangan skill. Bukan semata-mata inspirasi. Jadi, bagaimana kita membuat cerita yang plotnya merekat atensi pembaca, itu ada skill-nya. Bagaimana kesesuaian melodi dan lirik, itu ada aspek yang namanya prosody. Dan tentu saja, ada faktor keberuntungan juga. Pada intinya, sebagai kreator kita nggak bisa punya kendali bagaimana efek karya kita ke para penikmatnya, yang kita bisa lakukan hanyalah mengerjakannya sebaik mungkin, memanfaatkan ide yang kita punya dan skill yang kita asah.

Bagaimana cara Anda mengatasi writer’s block?

Kalau writer’s block ringan saya biasanya mandi, gerak badan, ke spa. Pokoknya yang relaks dan menyenangkan. Kalau writer’s block berat biasanya itu lebih ke aspek teknis, harus ada elemen cerita yang dibongkar atau bahkan seluruh cerita harus digugurkan dan ditulis ulang.

Apa resolusi yang ingin Anda capai untuk tahun 2015?

Menyelesaikan draf Supernova 6 dan berhasil menuntaskan satu bulan program ayurvedic balancing hasil konsultasi saya dengan seorang praktisi Ayurveda. Lumayan berat soalnya. Sebulan tanpa makan cabai. Bagi saya, itu bersanding tipis dengan kemustahilan.

Untuk sekarang, apakah ada impian yang belum Anda capai?

Ada. Kebanyakan berkaitan dengan pekerjaan, sih. Rasanya lebih ke mengejar target daripada mimpi.

Menurut Anda, mana yang lebih efektif; fokus pada satu tujuan atau melakukan beberapa hal secara bersamaan?

Saya lebih senang fokus pada satu tujuan. Banyak orang menganggap saya multitalenta dan lantas dianggap bisa multitasking. Kenyataannya, saya hanya bisa fokus pada satu hal. Yang bisa saya lakukan hanyalah menyusun prioritas dan urutan mana yang saya kerjakan duluan, tapi mengerjakannya sih tetap satu-satu.

Apakah Anda percaya terhadap sesuatu di luar batas ilmu pengetahuan manusia? Menurut Anda, apakah segala sesuatu dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan dan kalkulasi?

Tentu saja masih sangat banyak hal yang ada di luar batas ilmu pengetahuan kita. Otak kita saja masih baru terpakai kurang dari lima persen, 90% DNA kita masih belum bisa dipahami fungsinya. Saya percaya, perkembangan manusia itu bergerak paralel dari dalam ke luar dan sebaliknya. Apa yang kita sebut misteri adalah apa yang kita belum bisa pahami. Ketika potensi dan kapasitas kita melebar, maka misteri bisa saja berubah menjadi ilmu pasti.

Apakah Anda memiliki tips khusus untuk pembaca mengenai resolusi?

Sersan. Serius tapi santai.

Sebutkan lima kata yang dapat mendeskripsikan diri Anda.

Gila. Pemalas. Seru. Kampungan. Penasaran.

Last words? (quote)

Hidup adalah seni keseimbangan antara berkeluarga, berkarya, dan main game Plants vs Zombie.


FAST QUESTIONS (Mini questions)

FAMILY? My backbone.
BOOK? My lung.
MUSIC? My blood.
DREAM? My air.
LIFE? A treadmill.
LOVE? Valrhona chocolate.
TARGET? Tiring.
STYLE? Painless.
BALI? Sanctuary.

Tuesday, December 23, 2014

Provoke Magazine | Person of the Month | November, 2014 | by Rizki Ramadan


Minggu lalu, saya baru menyelesaikan baca Gelombang, dan perasaan saya saat baca selalu sama seperti saat baca seri Supernova sebelumnya. Semesta yang ada di buku itu begitu jelas dan detail. Saya seperti mebaca ensiklopedia versi fun tentang Kalimantan, Bogor, Sianjur Mula-Mula sampai New York.  Nah, tiap mau nulis buku itu proses riset Mbak Dewi itu seperti apa, sih? Lantas, apa sih yang bisa bikin Mbak Dee gemar berimajinasi, berkhayal sampai akhirnya diejewantahkan pada novel-novelnya ini?

Pada dasarnya saya menulis berdasarkan kebutuhan cerita dan konteks. Misalnya, tradisi spiritual di dunia yang menekankan pentingnya mimpi adalah tradisi spiritual Tibet dan secara kontekstual cocok dengan cerita saya, akhirnya saya memutuskan untuk membuat setting di Tibet, yang konsekuensinya saya harus riset tentang Tibet. Lalu, kenapa Alfa pergi ke Amerika, karena saya punya keluarga yang juga menjadi imigran di sana, dan mereka keluarga Batak. Kenapa New York, karena ada kaitan yang kontras antara Alfa yang tak bisa tidur dengan kota New York yang konon tak pernah tidur. Jadi, semua yang saya ceritakan selalu berada dalam konteks yang interdependensi, saling terkait. Riset hanyalah konsekuensi dari interdependensi bagian-bagian dalam cerita.

Ngomong-ngomong soal riset, riset yang mendalam ini karena rasa ingin tahu, Mbak Dee, yang memang gedenya bisa ngalahin T-Rex,  yah? Hehe. Biasanya kalau tiba-tiba penasaran dan pengin tahu tentang sesuatu, apa yang dilakukan?

Haha! Karena “curiosity kills the cat” terlalu mainstream! Well, saya pada dasarnya memang orang yang punya banyak ketertarikan. Ketertarikan kalau digali lebih dalam bisa jadi passion. Nah, passion hanya bakal jadi “panas yang kosong” kalau tidak diberi skill. Jadi, prinsip saya, kalau punya ketertarikan, berikan dia kesempatan menjadi passion dengan cara menggalinya lebih dalam. Kalau sudah jadi passion, kasihlah skill maka passion itu bisa jadi punya nilai lebih. Kalau saya tertarik sesuatu, pertama saya akan cari tahu lebih banyak, entah lewat baca banyak buku atau riset tentang topik tersebut. Kalau ternyata benar-benar menarik, saya akan cari kursusnya. Untuk menulis Zarah, saya kursus fotografi. Untuk menulis Alfa, saya ikut workshop Meditasi Mimpi dengan seorang rinpoche dari Tibet. Menulis Madre, terinspirasi dari ketika saya ikut kursus membuat roti. Jadi, saya ini ratu kursus sebenarnya.

Satu judul lagi, Supernova akan rampung. Setelahnya, Mbak Dewi berencana bikin apa lagi nih? Bikin novel bersambung lagi dooong... hmm, atau ada rencana nulis novel renyah kayak Perahu Kertas lagikah? Oh ya, ada rencana mau rilis Inteligensi Embun Pagi kapan, mbak?

Saat ini saya memprioritaskan untuk menyelesaikan serial Supernova dulu, mungkin setelah itu baru mengerjakan proyek menulis lainnya. Perkiraan waktu rilis Inteligensi Embun Pagi belum bisa saya kasih tahu, yang jelas saya akan mulai mengerjakannya dalam waktu dekat.

Apa yang bikin Mbak Dee nulis Supernova?  Saat awal-awal mau bikin Supernova proses kreatifnya gimana, sampai akhirnya pun langsung ngeluarin judulnya sampe seri yang keenam?

Sejak pertama menulis Supernova pertama memang sudah rencana jadi serial. Titik baliknya adalah ketika memutuskan untuk memunculkan empat tokoh baru. Dan karena untuk masing-masing tokoh saya bikinkan satu buku, otomatis jadi 6 buku. KPBJ sebagai pembuka, Akar hingga Gelombang untuk memperkenalkan empat tokoh utama, dan Inteligensi Embun Pagi sebagai buku penutup.

Novel-novelmu kan udah banyak yang difilmkan, Mbak. Nah, kami para pembaca kadang merasa waswas tiap kali ada novel yang kami suka dibuatkan film. Di satu sisi penasaran dan excited pengen liat bagaimana jadinya kalau cerita di buku jadi berwujud, tapi di satu sisi takut film nggak bisa mewujudkan sensasi yang diharapkan, takut nggak sesuai dengan ekspektasi lah pokoknya. Nah, apakah perasaan kayak gitu Mbak rasakan juga? terus pertimbangan apa sih yang biasa dilakukan sebelum akhirnya setuju untuk memfilmkan buku? (Misal: script-nya harus Mbak yang tulis sendiri, dll)

Tadinya begitu, sekarang sih sudah cukup santai. Setelah pengalaman di Perahu Kertas di mana saya jadi penulis skenario, tetap saja kadang-kadang ada hal-hal yang di luar dugaan. Ekspektasi dan reaksi pembaca juga beragam. Jadi, menurut saya sih hampir sama-sama saja antara ikut terlibat atau tidak. Yang barangkali bisa membedakan secara signifikan adalah kalau saya berperan sebagai produser dan penyandang dana, nah, barulah di situ saya punya kuasa penuh. Selama belum bisa begitu, ya saya harus menerima fakta bahwa film adalah karya kolaboratif dan bukan datang dari pemikiran tunggal seorang penulis sebagaimana layaknya buku, jadi pasti keduanya berbeda. Dengan tidak lagi membandingkan, saya jadi lebih santai sebagai penonton.

Ceritain dong, Mbak, masa SMA-mu seperti apa? Saat SMA sudah suka nulis kan pasti? Saat itu biasanya nulis apa, Mbak?

Saya hobi nulis fiksi sejak kecil, dari SD. Waktu SMA, saya sudah mulai bikin artikel untuk mading, bahkan pernah bikin koran yang isinya tulisan saya semua. Saya juga rajin nulis jurnal / buku harian dari SMP kelas 1, terus sampai dewasa, termasuk masa SMA. Beberapa kali bikin cerpen dan novel pendek, yang biasanya nggak tamat. 

Sebut lima judul buku yang Mbak baca saat masa SMA dan itu berkesan.

Komik Topeng Kaca, Candy-candy, Popcorn, dan buku-buku Sydney Sheldon.

Menulis dan mengiati kegiatan kreatif lainnya kan pasti banyak godaannya, seperti bosan, mentok atau disktraksi lainnya, bagaimana cara Mbak Dewi mengatasinya?

Punya deadline. Kalau sudah jadi penulis profesional, memiliki deadline tidak sulit lagi karena biasanya sudah jadi konsekuensi. Buat yang belum profesional, bikinlah deadline untuk diri sendiri. Publikasikan deadline kalian secara online, kasih tahu teman-teman, keluarga, dsb. Jadi ada tekanan untuk menyelesaikan. Distraksi, mentok, bosan, dan sebagainya, akan teratasi dengan sendirinya begitu kalian punya deadline yang nyata.

Mbak tertarik dengan alien (di Akar dan Partikel), dan di buku Gelombang ini tentang mimpi. Nah, di edisi depan kan Provoke! bertema capture the future ini, apa yang mbak bayangkan tentang masa depan? Ada hal yang ditakuti (atau malah ditunggu) dari masa depan nggak, Mbak?

Ketika sudah berkeluarga, bicara tentang masa depan biasanya sudah lebih memikirkan tentang anak ketimbang diri sendiri. Berkaitan dengan masa depan anak, saya lebih sering terpikir mengenai masa depan bumi dengan segala perubahan drastis yang terjadi akibat ulah manusia, dari mulai kepunahan spesies sampai pemanasan global. Saya berharap manusia bisa menemukan cara koeksistensi yang lebih harmonis dengan alam dan makhluk lainnya.

Apa yang Mbak Dee suka dari menulis buku?

Menciptakan dunia, kehidupan, dan karakter baru, tenggelam di dalamnya dan berinteraksi dengan alam imajinasi. Bagi saya itu semua adalah kepuasan dan rekreasi.

Minta tips dong untuk kita-kita yang lagi belajar jadi penulis ini.

Menulis adalah keahlian yang butuh proses panjang dan jam terbang tinggi. Jadi, berlatihlah dari sekarang. Just keep it small. Have small targets, but keep doing them. Bisa satu artikel blog satu minggu, satu cerpen satu bulan, satu novel satu tahun, dsb. Tapi teruslah berlatih. Miliki wawasan dengan banyak membaca.


RAPID QUESTION

Hutan atau laut?
Laut.

Kopi atau es krim?
Kopi.

Masa depan atau masa lalu?
Masa depan.

Buku harian atau Twitter?
Buku harian.

Alien atau UFO?
Alien.

Majalah Univ Mercu Buana | Supernova GELOMBANG | November, 2014


Selain project penerbitan buku, kesibukan apa lagi yang sedang dijalani lainnya?

Sedang ikut jadi juri untuk kompetisi yang diadakan oleh produsen gadget dan provider selular, dan baru saja selesai roadshow untuk produsen perawatan rambut.
Setahun ke depan ini saya juga akan membantu Kemendikbud dan IKAPI untuk sosialisasi peran Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015.

Apa saja yang dipersiapkan untuk peluncuran buku terbarunya?

Bentang Pustaka menyiapkan gimmick figur bernama Si Jaga Portibi yang akan berkeliling ke toko-toko buku. Selain itu, persiapan stok yang cukup tentunya.

Di mana peluncurannya?

Tidak ada event peluncuran. Konsepnya hanya serentak distribusi untuk sebagian besar wilayah Indonesia pada tanggal yang sama.

Roadshow peluncuran buku tersebut ke kota mana saja?

Masih akan disusun. Pastinya ke kota-kota besar di Indonesia.

Apa yang membedakan Supernova 5 (Gelombang) dengan Supernova sebelumnya?

Ada satu tokoh utama yang baru diperkenalkan di Supernova 5. Episode ini juga menjelaskan banyak hal yang akan menautkan semua episode. Konsep besar serial Supernova akan lebih jelas terbaca dalam episode ini.

Berapa lama proses penulisannya?

Intensifnya lima bulan, di luar dari editing dan riset.

Kendala apa yang ditemui saat proses penulisan?

Sebenarnya proses menulis Gelombang cenderung lancar sih, tidak ada kendala yang berarti. Malah ini proses penulisan yang paling sistematis dibandingkan yang sebelum-sebelumnya, karena akhirnya saya menemukan mekanisme kerja yang paling pas.

Ada rencana untuk difilmkan?

Untuk Gelombang, belum.

Apa harapan dari karya terbarunya ?

Setiap episode Supernova memiliki karakter yang berbeda-beda. Saya berharap Gelombang akan menemukan penggemarnya dan Alfa, tokoh utamanya, menjadi salah satu tokoh utama yang disukai dan meninggalkan kesan dalam.

Pesan apa yang ingin disampaikan dari Supernova (Gelombang) ini?

Saya nggak menyisipkan pesan. Nikmati ceritanya saja.

Dalam produksi film Supernova (Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh) Mbak Dewi ada keterlibatan produksi atau tidak?

Tidak ada. Hanya sebatas diskusi di awal-awal, tapi begitu produksi berjalan saya nggak terlibat.

Seberapa besar kontribusi Mbak Dewi dalam penggarapan film Supernova pertama?

Hanya berdiskusi dua-tiga kali dengan produser dan kasih komentar untuk draft skenarionya.

Sunday, December 21, 2014

The Jakarta Post | 2013 New Year Resolution | Desember, 2012 | by Indah Setiawati


What is your NY resolution for 2013, both for your career and personal life? Please elaborate details.

My main target is to release another Supernova series, which is titled Gelombang. Since I just moved into a new house this mid-December, I think I'll still be busy arranging and settling into the new house until January next year. It'll be great if I can start working in February. 

What do you plan to do to achieve them?

As usual, I'll start with research, and research. That usually includes huge volumes of reading material, mapping down details, and lots of pondering. I'll be cutting down public activities as best as I can so I can maximize my time working at home. 

Do you think it's important to have NY resolution?

Back in my 20's, it felt important. Now, I simply see them as to-do-list. Having resolution is nice, but now I lead my life with simpler approach. Whatever comes, I deal with it. The rest, I just try enjoying life with curiosity and playfulness. 

Do you have any resolution from last year that you don't yet accomplish this year? What is it? What is your plan for it -- are you going to add it up to your NY resolution for next year?

That's the thing. Since I don't actually have resolution last year, I couldn't really measure. But, I remember I wanted to take swimming lesson, and yet I couldn't make it happen because the new house building process was really absorbing and taking most of my focus. So, yes, maybe a swimming lesson this year. And, yes, I cannot swim. YET. Will get there in time. 

What is your biggest regret this year?

I cannot remember. I don't think I hold any major regrets. Small ones, perhaps. But they're too insignificant for me to hold onto. 

Last question, what is your biggest hope for the year to come -- personally and in general?

Personally, writing more books. In general, I wish humanity would find better ways to live without torturing this planet. We've taken so much from Mother Earth and other living beings for things and lifestyle we don't essentially need. This kind of living has to change.