Showing posts with label 2013. Show all posts
Showing posts with label 2013. Show all posts

Monday, December 22, 2014

Good Housekeeping | Resolusi Kesehatan 2014 | Desember, 2013 | by Brigida Marcella


Apa resolusi untuk hidup lebih sehat di tahun 2014? (Misal, ikut lari marathon, dll?)

Yang sifatnya lebih fisik, secara berkala saya ingin melakukan program detoks / clean eating. Selama ini saya ikut program Clean dari dr. Junger, saya beli bukunya dan ikut discussion groupnya di internet. Ada beberapa macam program dari dr. Junger. Tahun 2013 saya mencoba program Clean Gut. Tahun 2014 mudah-mudahan bisa mengulangi Clean Gut sekali lagi dan mencoba program Refresh untuk maintaning. Untuk yang sifatnya lebih halus (batin), saya ingin melanjutkan course Bach Flower Remedy yang sudah saya ikuti level 1-nya di 2013, tahun 2014 akan melanjutkan ke level 2. Bach Flower Remedy adalah metode healing yang menggunakan energi tumbuhan untuk menjaga keseimbangan fisik dan batin.

Apakah Anda memiliki masalah kesehatan di tahun 2013? Karena apakah?

Tidak ada.

Bagaimana Anda mengatur pola makan di tahun 2014? Dari pola makan sehari-hari dan menu makanan apa yang akan dihindari.

Saya sebetulnya tidak ingin berkiblat ke satu pola makan saja, karena menurut saya hal seperti itu sukar berjalan permanen, dan kalau pun ada yang bisa, biasanya banyak yang harus dikorbankan. Jadi, saya sih cenderung biasa-biasa saja, tidak banyak pantangan ini-itu. Everything in moderation. Yang saya rasa lebih berdampak bagi tubuh saya adalah menjaga tidak overeating alias makan terlalu kenyang serta menjaga jam makan yang stabil. Prinsip masyarakat tradisional Jepang "hara hachi bu" yakni makan sampai 80% kenyang, bagi saya sangat efektif, begitu juga sesekali menjalankan detoks dan clean eating.

Apa godaan yang sering mengganggu Anda ketika menjalankan program diet atau makan sehat?

Kalau yang ekstrem (juicing, zero carbs, dst) biasanya yang berat adalah adaptasi tubuh dan mental, seperti orang detoks di retreat, biasanya lemas dulu, emosi terpengaruh, dsb. Tapi sesudah lewat masa adaptasi biasanya oke-oke saja. Kalau yang tidak terlalu ekstrem perubahannya, seperti clean eating, dsb, itu lebih ke arah godaan makanan yang biasanya kita sukai tapi tidak ada di dalam program. Jadi lebih ke godaan cita rasa saja.

Bagaimana strategi Anda untuk mengkondisikan diri agar program di tahun 2014 tetap dapat berjalan dengan baik dan berhasil?

Serius tapi santai. Kalau terlalu militan biasanya hasilnya bagus di depan tapi tidak bertahan lama dan banyak yang dikorbankan. Banyak yang tidak sadar bahwa apa yang kita makan sangat berpengaruh pada kondisi mental kita dan sebaliknya. Kalau kita terlalu ngotot akan sesuatu, walaupun di atas kertas itu baik untuk tubuh, secara mental kita tergerogoti. Jadi, menjalankan satu program tertentu dengan mental yang relaks, penuh humor, dan tidak terlalu ngoyo, juga penting.

Perempuan.Com | Profil | Desember, 2013 | by Stephen Willy


Sejak kapan Dee tertarik untuk menulis? Apakah dulu sewaktu kecil Dee memang sudah bercita-cita untuk menjadi penulis?
Sudah hobi sejak kecil. Jadi cita-cita sih tidak, tapi menulis merupakan satu hobi yang selalu saya tekuni.

Apa yang membuat Dee mencintai dunia sastra?

Saya menyukai fiksi. Dan saya juga penikmat informasi. Sastra atau bukan, saya sebenarnya tidak terlalu peduli. Ada buku-buku fiksi yang saya suka dan bukan sastra, dan bahkan koleksi nonfiksi saya lebih banyak banyak daripada fiksi. Jadi, tepatnya, saya bukan eksklusif mencintai dunia sastra. Saya mencintai buku dan informasi.

Mana yang lebih Dee sukai, menyanyi, menulis cerita, atau mencipta lagu?

Ketiganya adalah bagian integral dari cara saya berekspresi, jadi saya suka ketiganya. Tapi mana yang jadi prioritas itu tergantung sikon. Saat ini menulis buku adalah yang paling nyaman karena memberikan saya fleksibilitas waktu untuk keluarga dan rumah tangga.

Adakah tokoh yang menjadi inspirasi Dee dalam dunia sastra? Dan apa karya sastra favorit Dee?

Saya tidak punya tokoh tunggal sebagai inspirasi, begitu juga karya favorit. Ada banyak dan berubah-ubah. Tapi satu buku yang saya sangat sukai sejak dulu dan masih sampai sekarang adalah Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono.

Pernahkah mengalami writer’s block? Jika pernah, apa yang Dee lakukan?

Pernah. Kalau saya punya deadline, biasanya saya terjang saja. Pokoknya saya upayakan untuk terus menulis. Tapi ada kalanya writer's block itu memang perlu disikapi dengan cara tidak fokus dulu ke menulis, melainkan melakukan aktivitas lain yang nggak ada hubungannya. Biasanya itu juga membantu proses penyegaran kita berkarya.

Berapa lama rata-rata waktu yang dibutuhkan oleh Dee dalam menulis sebuah novel? Saya pernah mendengar bahwa ketika menulis sebuah novel, Dee selama tiga hari berada di dalam kamar, menulis cerita dari awal hingga selesai. Namun gambarannya sendiri sudah ada dalam bayangan Dee melalui proses perenungan selama hitungan bulan. Benarkah demikian?

Yang di tiga hari di kamar nggak pernah tuh, mungkin salah dengar, hehe. Untuk novel saya selalu butuh bulanan, antara 9 bulan sampai 1 tahun, termasuk masa riset. Intensif menulisnya tok mungkin antara 3-5 bulan. Kalau cerpen memang bisa dalam hitungan hari. Tapi saya tidak pernah nonstop menulis. Pasti terselingi hal lain. Aktivitas dan kewajiban saya soalnya banyak, saya nggak bisa hanya menulis saja. Ada rumah tangga yang perlu diurus dan kegiatan lainnya, jadi saya harus terus membagi waktu. Kalau inkubasi idenya bisa tahunan, seperti Supernova. Tapi bisa juga cepat, seperti novelet Madre, yang idenya saya dapat ketika saya ikut kursus membuat roti, dan tidak lama kemudian langsung saya tuliskan menjadi cerita.

Seringkali saya mendengar bahwa ada beberapa rumusan khusus dalam menulis, baik fiksi maupun non-fiksi. Namun mengapa ada tulisan yang polanya sederhana tapi dapat menarik perhatian banyak orang? Satu contoh, buku diarinya Anne Frank yang sangat laris dan disebut sebagai salah satu karya sastra terhebat abad ke-20. Menurut Dee, adakah pakem-pakem tertentu yang harus dipatuhi oleh penulis dalam menulis suatu cerita?

Pakem dasar menurut saya ada. Tapi tidak berarti harus pakem teoritis. Selama seorang manusia bisa bertutur lisan dan ucapannya bisa dimengerti, menurut saya itu bisa diterjemahkan menjadi tulisan. Artinya, tulisan yang laris tidak berarti harus sempurna mengikuti pakem tertentu. Pada dasarnya, karya yang baik adalah karya yang bisa dipahami kontennya dan menyentuh pembacanya. Jelas saja buku Anne Frank sangat menyedot perhatian, karena pengalamannya itu berkaitan dengan peristiwa monumental yang menggugah dunia, terlepas dari Anne Frank mengerti pakem penulisan secara teoritis atau tidak. Selain itu, ada juga yang namanya editor, yang menurut saya fungsinya adalah untuk membantu tulisan seorang penulis agar lebih sesuai pakem, lebih rapi, dan lebih tertata. Jadi, kadang seorang penulis dibantu oleh beberapa pihak sampai bisa melahirkan produk jadinya yakni buku yang terbit di pasaran. Ada proses di balik itu semua.

Banyak sekali orang yang menemui dilema ketika harus memilih, antara mengikuti passion atau memilih pekerjaan yang realistis bagi mereka. Sama seperti yang Dee gambarkan pada sosok Kugy dan Keenan dalam Perahu Kertas. Apa masukan yang dapat Dee berikan bagi mereka?

Tentu kita dengan mudah akan terdorong untuk menganjurkan ikuti kata hati atau passion. Tapi kenyataannya memang tidak semudah itu. Saya pikir kita tetap harus cermat untuk mengamati situasi dan memilih apa yang riil. Mengikuti passion secara buta tanpa persiapan juga tidak bijak. Dan sebetulnya itu sudah diungkapkan oleh perjalanan Kugy dan Keenan. Meski pada akhirnya mereka memilih passion mereka, tapi pertimbangan yang mereka lalui cukup panjang dan berliku. Dan baru ketika sudah ada pijakan yang cukup pastilah mereka baru berani melangkah lebih jauh.

Apa arti cinta menurut Dee?

Energi.

Apa proyek yang sedang Dee kerjakan saat ini? Dan adakah cita-cita ataupun keinginan yang belum sempat terwujudkan?

Saya sedang mulai menulis Supernova berikutnya berjudul Gelombang. Minat atau pun keinginan saya sih masih banyak, tapi yang akan diseriusi sampai ke tahap karya mungkin akan terseleksi oleh waktu. Saat ini saya fokus ke menulis Supernova dulu.

Buat pembaca yang tertarik untuk mengikuti jejak Dee menjadi seorang penulis, adakah saran maupun masukan yang dapat Dee berikan untuk mereka?

Banyak membaca, tapi yang lebih penting adalah banyak menulis. Tidak ada cara lain untuk menulis selain menulis.

Majalah SWA | Tokoh Kreatif Indonesia | Oktober, 2013 | by Wisnu Rahardjo


Bagaimana selama ini Anda bisa terus menghasilkan ide-ide kreatif untuk mencapai prestasi? Bagaimana proses menghasilkan ide-ide itu? Apa saja stimulusnya? Untuk ini, apa perlu waktu dan tempat khusus untuk menelurkan ide-ide?

Berpikir kreatif menurut saya banyak ditentukan oleh pembiasaan. Seseorang yang memang berkecimpung di dunia kreatif dan sudah bertahun-tahun selalu berpikir dalam kerangka berpikir kreatif akhirnya akan terbiasa untuk memproduksi ide. Saya tidak lagi misalnya secara sadar atau sengaja ingin menghasilkan ide. Batin yang sudah dibiasakan untuk merasa dan berpikir secara kreatif otomatis akan menjadi lahan yang subur bagi ide. Stimulusnya jadi bisa dari apa saja, dari kegiatan sehari-sehari, dari membaca, dari mendengar informasi, membaca berita, dsb. Untuk menelurkan ide rasanya tidak ada tempat dan waktu khusus. Untuk mengolahnya, iya. Dibutuhkan disiplin dan ketenangan. Tapi ide bisa datang kapan saja dan di mana saja.

Berapa banyak ide dalam kurun waktu tertentu yang Anda hasilkan?

Saya tidak pernah sengaja menghitung. Kita perlu membedakan mana ide dan mana proyek kreatif. Ide tidak terbatas, kadang dieksekusi, tapi kadang gugur begitu saja. Tapi kalau sudah dijadikan proyek kreatif, maka ada deadline, ada pihak ketiga yang diajak kerja sama seperti penerbit, dsb. Untuk proyek kreatif saya biasanya hanya satu atau dua setahun.

Bagaimana menguji berbagai ide itu sebelum diterapkan lebih lanjut?

Biasanya ketika sudah dituang di atas kertas maka ide akan menunjukkan "wajah" sebenarnya. Kita akan tahu sendiri bahwa ternyata ide itu lemah atau tidak. Ide yang kuat cenderung bisa berkembang, bercabang. Misalnya, ide cerita, maka kita bisa langsung merasakan atau "melihat" cerita tersebut dari awal, tengah, sampai akhir. Tapi ada juga cerita yang ternyata hanya cantik di konsep juga, ketika dituangkan kita menemukan banyak jalan buntu. Itu artinya ide tersebut lemah.

Bagaimana menyeleksi ide yang sudah Anda pikirkan atau cetuskan untuk dijadikan produk atau karya tertentu?

Saya akan melihat kapasitas dan keleluasaan saya dalam periode waktu tersebut. Ada yang ingin saya wujudkan, tapi misalnya waktunya belum pas. Ide tersebut maka akan saya simpan dulu. Tapi ada juga ide yang sudah feasible untuk dijalankan, maka itu akan saya jadikan proyek dan dieksekusi segera.

Apakah Anda punya tim khusus untuk membantu mewujudkan ide-ide tersebut?

Untuk mengolah ide, menurut saya, adalah pekerjaan individual. Saya paling membutuhkan orang-orang untuk brainstorming saja secara informal. Saat ini, peran itu biasanya diambil oleh suami saya. Dia partner utama saya dalam brainstorming tentang apa pun, termasuk kalau saya sedang ada ide kreatif. Tentunya, saya juga ada partner-partner langganan untuk mengeksekusi ide tersebut. Misalnya, untuk penerbit buku, saat ini saya bekerja sama dengan Bentang Pustaka. Untuk desain, saya sudah punya desainer grafis kepercayaan. Di musik, saya juga ada orang-orang langganan yang selalu saya ajak kerja sama. Kepada merekalah saya biasanya mengolah ide-ide saya lebih lanjut.

Menurut Anda, siapa saja yang diuntungkan dengan ide-ide Anda tersebut? Apakah termasuk dari orang banyak, atau semata-mata untuk kepuasan batin Anda sendiri?

Setiap seniman pasti punya sudut pandang sendiri mengenai hal tersebut. Bagi saya, rumusnya simpel. Saya menulis buku yang ingin saya baca, membuat musik yang ingin saya dengar, membuat makanan yang ingin saya makan. Jadi, saya ingin menciptakan sebuah produk yang bisa memuaskan dan memenuhi standar pribadi saya dulu. Jika orang lain ikut menyukai, itu adalah bonus besarnya.

Seperti apa ukuran keberhasilan karya-karya Anda itu (misal bisa berupa jumlah buku terjual, jumlah pemirsa, magnitude, dll)?

Semuanya bisa jadi tolok ukur. Tidak ada tolok ukur tunggal, menurut saya. Menurut saya yang ideal adalah, pertama, diri kita sendiri puas. Kedua, jika produk itu dijual maka penjualannya baik, yang artinya diterima baik oleh masyarakat. Ketiga, punya impact yang sifatnya personal dan mendalam bagi penikmatnya, yang biasanya kita ketahui lewat apresiasi yang mereka sampaikan, entah itu di social media, di media, di blog, lewat e-mail, dsb. Keempat, ada penghargaan dan pengakuan resmi dari instansi publik, entah itu lewat penghargaan, memenangkan kompetisi, dsb. Kalau ada karya yang memenuhi keempatnya, maka itu adalah karya yang menurut saya berhasil.

Selama menjadi penyanyi, pencipta lagu, penulis buku, produser rekaman dan film, menurut Anda, apa saja hal-hal inovatif dan kreatif yang sudah Anda buat? Hal yang mungkin membedakan Anda dari orang lain yang berprofesi sama. Tolong kalau bisa diceritakan bentuk dan implementasinya? Bagaimana tanggapan khalayak terhadap kreativitas Anda tersebut?

Saya merasa bukan orang yang tepat untuk menjawab. Sepertinya hal itu lebih baik diungkapkan oleh pengamat, kritikus, atau pembaca / pendengar. Yang saya tahu adalah, karya saya selalu punya cita rasa yang khas. Entah itu terungkap dari gaya lirik, preferensi melodi, tema cerita, pemilihan kata-kata, dsb.

Apa yang mendorong Anda membuat hal-hal inovatif dan kreatif itu? Bagaimana proses kreatif pembuatan karya Anda itu berjalan (kalau bisa gambarkan step by step)? Inisiasinya bagaimana? Dan apa stimulusnya?

Saya melihatnya seperti ini: ada ide yang ingin mewujud, lalu memilih saya sebagai inangnya, kemudian saya wujudkan sebaik yang saya bisa. Itu saja. Jadi, apa yang mendorong? Saya rasa ide itu sendiri. Yang saya lakukan hanyalah melatih diri untuk bisa terus peka dan memperhalus teknik saya.

Belajar dari mana atau siapa agar bisa terus inovatif dan kreatif?

Saya tidak punya guru khusus. Saya belajar dari apa pun dan siapa pun yang saya bisa. Minat saya juga beragam. Semua itu jadinya saling silang. Saya suka masak, misalnya. Lalu, saya ikut kursus masak. Dari kursus tersebut, saya dapat ide untuk menulis cerita tentang roti. Jadi bisa dilihat bahwa hobi memasak saya, yang sekilas kelihatannya tidak ada hubungan dengan menulis, bisa memicu sebuah karya tulis. Yang jelas, saya senang mencari dan mengulik ilmu. Saya suka membaca, saya suka menggali dan berbicara dengan orang-orang yang saya pikir menarik, saya juga suka mengkhayal. Semua itu adalah stimulus sekaligus sumber saya untuk belajar.

Adakah kebiasaan-kebiasaan (habit) masa lalu yang mendukung proses kreativitas itu?

Mengkhayal, membaca, dan aktif bermusik sejak kecil.

Bagaimana ide kreatif ini Anda “pasarkan”/sosialisasikan? Bagaimana bisa marketable (diterima khalayak luas)?

Saya bukan ahli marketing, ide-ide pemasaran karya saya banyak dibantu oleh intuisi. Yang jelas, saya selalu membayangkan jika saya adalah pembaca/penonton/pendengar. Cara apa yang kira-kira bisa menarik saya untuk mengapresiasi karya tersebut? Desain bagaimana yang baik menurut saya? Dan seterusnya. Dan tentu saja, saya juga harus percaya pada kekuatan karya itu sendiri. Karena, menurut saya, marketing seperti apa pun akan percuma kalau produk yang ditunjangnya lemah. Mungkin hanya bisa jadi semacam kembang api saja, meledak sesaat tapi tidak sustainable. Jadi, marketing bagi saya nomor dua atau tiga. Lebih penting fokus dulu pada kekuatan karyanya.

Untuk ide yang berbau bisnis (baca: bisa diuangkan), bagaimana Anda memonetisasi ide kreatif tersebut jadi bisnis yang menghasilkan pemasukan uang?

Ide monetisasi banyak, tapi yang sustainable tidak banyak. Saya rasa yang paling bijaksana adalah fokus pada beberapa channel monetisasi saja. Jangan terlalu banyak. Semua itu butuh energi, fokus, dan waktu. Banyak juga seniman yang disibukkan oleh monetisasi sampai akhirnya tidak punya energi lagi untuk berkarya. Meski demikian, mengikuti perkembangan adalah penting. Apalagi dalam dunia digital, inovasi baru selalu ada. Jadi, pandai-pandai saja memilih.

Apakah Anda menjalin kemitraan dengan pihak lain dalam mewujudkan ide-ide kreatif Anda? Dengan siapa? Bagaimana menggaet para mitra tersebut? Misalnya dalam pembuatan/penerbitan buku, serta pembuatan film.

Seperti yang saya sebutkan, untuk penerbitan buku, saat ini saya kerja sama dengan Bentang Pustaka. Untuk film, saya pernah bekerja sama dengan Mizan Film, Starvision, Dapur Film, Keana Production, dan Soraya Intercine. Dalam kasus saya, karena karyanya sudah ada duluan, biasanya sayalah pihak yang dikontak dan bukan sebaliknya. Sama halnya seperti semua kerja sama, kita pastinya saling menjajaki kecocokan dulu. Karena bisa jadi ada satu karya yang diincar oleh beberapa pihak sekaligus, ya akhirnya ada proses seleksi.

Apa yang Anda lakukan agar ide kreatif itu bisa terus muncul dan berkesinambungan?

Terus memelihara rasa ingin tahu.

Jawa Pos | 100 Tokoh Muda Yang Menginspirasi Indonesia | November, 2013 | by Kardono

Anda masih sangat muda (25 tahun) ketika me-launching novel pertama dulu. Berapa lama proses pembuatan novel itu?

Sekitar sembilan bulan, termasuk masa riset pustaka.

Anda berhasil membuat teori kuantum menjadi liris dalam novel pertama anda. Kenapa memutuskan untuk membuat novel bergenre fiksi ilmiah? Apakah ini semacam pendobrakan terhadap novel-novel kitsch yang mulai menjamur saat itu?

Prinsip saya adalah menuliskan apa yang saya suka dan apa yang menjadi minat saya. Saat itu saya sedang terpesona dengan fisika kuantum dan hubungannya dengan kesadaran manusia serta semesta. Karena itu, saya lantas mengolahnya dalam cerita. Saya malah tidak terlalu memerhatikan tren novel saat itu, karena memang bukan itu yang menjadi motivasi saya. Saya tidak datang dengan keinginan untuk mendobrak, melainkan sekadar berbagi apa yang menjadi minat saya. 

Novel bergenre fiksi ilmiah bukan hal baru di dunia, meski baru di Indonesia (yang Anda jadi pelopornya). Siapa penulis-penulis luar yang menjadi inspirasi Anda dan kenapa?

Saya pribadi tidak terlalu sepakat jika Supernova dikategorikan fiksi ilmiah. Saya merasa Supernova adalah fiksi dengan "bumbu" ilmiah, tapi ia tidak memuntir realitas dengan basis ilmiah sebagaimana yang biasa dilakukan oleh cerita bergenre fiksi ilmiah. Tapi saya juga tidak ingin terlalu memusingkan kategorisasi Supernova karena menurut saya itu tugasnya kritikus sastra, bukan saya. Jadi, silakan saja jika Supernova dianggap fiksi ilmiah. Saya sendiri lebih banyak baca buku nonfiksi ketimbang fiksi, dan tidak terbatas pada topik sains saja. Saya senang membaca buku-buku Amit Goswami, F. David Peat, David Bohm, Gregg Braden, dan seterusnya. Dari genre fiksi imliah saya cukup suka dengan Michael Crichton, Carl Sagan.

Sastra tidak pernah lepas dari kepentingan ideologi. Dan kadang dunia sastra juga tergantung ideologi yang berkembang. Contohnya, Ayat-Ayat Cinta maupun Laskar Pelangi tidak akan laris bila momentumnya tidak tepat. Bagaimanakah pendapat anda soal dunia sastra? Apakah dunia sastra adalah dunia yang putih bersih dijaga para wali berhati suci, atau seperti dunia industri pada umumnya?

Sepertinya kita harus membedakan mana dunia sastra dan mana industri buku. Laku atau tidaknya sebuah buku menurut saya lebih banyak ditentukan oleh faktor-faktor yang bermain di industri buku, di mana banyak faktor X yang bermain, terutama faktor marketing dan timing. Dunia sastra sendiri merupakan ajang yang lebih spesifik, yang melibatkan dinamika antara pembaca, penulis, kritikus, dan komunitas. Kadang industri buku dan dunia sastra seiring sejalan, kadang keduanya punya jagoan yang berbeda. Saya rasa tidak ada dunia seni yang "putih bersih", karena itu berarti harus melibatkan dikotomi seberangnya yakni "hitam kotor". Bagi saya dunia seni adalah senantiasa dunia yang abu-abu, yang subjektif, yang relatif.

Harapan Anda terhadap dunia sastra Indonesia seperti apa? Terutama semakin banyaknya buku-buku tak jelas (seperti buku-buku copy-paste dari internet, diedit asal-asalan, dan diberi cover yang bagus).

Saya lebih bisa bicara tentang industri buku secara umum. Saya berharap industri buku bisa melewati transisi yang lebih mulus ke era digital dan format elektronik, dibandingkan industri musik, misalnya. Saya berharap akan ada lebih banyak pemain baru yang berani berinvestasi, khususnya di toko buku, sehingga persaingan dan aturan main bisa lebih sehat. Dalam minat menulisnya sendiri menurut saya memang ada kemajuan pesat, terutama justru karena sekarang seseorang bisa berekspresi dan eksis lewat tulisan tanpa harus menunggu peran penerbit dan jalur konvensional. Dengan media sosial, blog, penerbitan buku independen, setiap orang dimudahkan untuk berkarya. Soal kualitas menurut saya akan ada seleksi alami. Yang memang berbakat dan kualitasnya teruji akan bertahan. 

Anda tergolong penulis yang menulis sesuai dengan keyakinan anda. Bukan karena tuntutan pasar. Benarkah? Dan bisa diceritakan bagaimana proses anda menulis?

Seperti yang saya bilang saya sebelumnya, prinsip saya simpel saja, saya menulis apa yang ingin saya baca, dan membuat musik yang saya ingin dengar. Di tahap pertama berkreasi, saya berkreasi untuk kepuasan diri. Interaksi yang terjadi sebatas antara diri saya dan alam ide. Faktor eksternal seperti pembaca, penerbit, dan pemasaran, akan muncul kemudian pada tahap-tahap selanjutnya. Syukurnya, proses demikian terjadi alamiah pada saya. Jadi, saya tidak merasa harus memaksakan diri untuk berprinsip seperti itu. Karena, jujur saja, fondasi seperti itu sangat menolong saya untuk bisa berkarya dengan minim beban. Sungguh berat jika tujuan awal kita adalah memuaskan orang banyak. Jauh lebih realistis jika tujuan awal kita adalah untuk memuaskan diri kita sendiri dulu.

Menulis dan mencipta lagu. Dua hal mana yang lebih Anda sukai?

Keduanya punya tantangan berbeda dan sama-sama saya sukai.  

Soal Indonesia dan Muda. Anda terpilih menjadi salah satu dari 100 tokoh muda yang menginspirasi Indonesia versi kami. Apa yang Anda lakukan dengan hal ini?

Berterimakasih dan bersyukur, tentunya. Saya harap karya saya dapat memicu kreativitas dan berkontribusi positif bagi masyarakat muda Indonesia.

Bagaimana menurut anda situasi orang muda Indonesia sekarang ini? (parah, tapi masih ada harapan, atau benar-benar menjanjikan?)

Selalu ada harapan. Memang tidak mudah jika kita ingin bicara untuk seluruh orang muda Indonesia, berhubung setiap daerah bisa memiliki realitas yang sama sekali berbeda. Orang muda di kota besar dengan orang muda di pelosok terpencil Indonesia tidak bisa dipukul rata kondisinya. Tapi, saya menaruh harapan besar pada mereka, orang muda golongan menengah yang berpendidikan, saya rasa merekalah pemegang potensi perubahan paling besar di negara ini. Selalu saja ada muncul individu-individu exceptional yang dengan persisten berhasil melakukan terobosan. 

Menjadi muda yang ideal itu menurut Anda seperti apa?

Kaki berpijak teguh di tanah, tangan meraih langit setinggi mungkin. Dengan akar yang kuat, kita tidak perlu gentar dengan perubahan dan kecepatan zaman. Yang berbahaya adalah mereka yang melayang tinggi tanpa arah atau berpijak di bumi tanpa punya perspektif dan visi untuk maju.

Dalam konteks Indonesia, apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang muda? Apakah muda harus berarti radikal dan revolusioner? Kalau memang harus radikal dan revolusioner, seperti apakah bentuk atau konkretnya yang ideal dari dua hal tersebut?

Muda diidentikkan dengan radikal menurut saya miskonsepsi dan stereotipikal. Ada juga orang-orang muda yang punya wisdom dan kematangan cukup untuk bisa melakukan perubahan tanpa harus selalu jadi radikal. Satu hal yang sebaiknya menjadi ciri orang muda adalah kehausan untuk belajar dan keingintahuan. Jalur pendidikan dan pemberdayaan diri menurut saya adalah yang paling efektif. Pendidikan tentu saja tidak berarti hanya formal, justru penggalian hobi dan passion seringkali akhirnya lebih penting dan produktif ketimbang jalur formal. Ini yang menurut saya sebaiknya jadi fokus orang muda. Menggali bakat dan memperkaya minat.

Dengan segala keyakinan, pemikiran, dan batin anda, maka seperti apa idealnya orang muda berbuat untuk Indonesia?

Saya tidak merasa berkapasitas untuk menjawab bagi semua orang. Karena saya dari bidang seni, maka berkarya menjadi jawaban saya yang personal. Itu jalan yang saya tahu. Itu yang selama ini saya lakukan. Berkarya yang terbaik sesuai kapasitas kita, memelihara rasa ingin tahu dan punya kehausan belajar.

Kenapa memilih menulis dan bernyanyi? Lebih suka mana, menulis atau menyanyi, dan apa alasannya?

Karena dua hal itulah yang memang menjadi hobi dan minat saya sejak kecil, otomatis dua jalur itu juga yang menjadi saluran nyaman bagi saya berekspresi. Saya tidak bisa memilih antara menulis atau menyanyi, walau sekarang lebih banyak menulis, tapi itu karena alasan praktis dan kesesuaian kondisi per saat ini. Sampai kapan pun musik akan selalu menjadi bagian inheren dari diri saya. Akan selalu ada dorongan untuk berkarya dalam musik. Menulis saat ini memang paling convenient dengan kondisi saya yang sudah berkeluarga dan lebih senang di rumah, karena menulis memberikan fleksibilitas jadwal bekerja yang saya butuhkan.

Dengan segala yang ada, dan yang menurut kami Mbak Dewi adalah salah satu tokoh muda yang menginspirasi indonesia, apakah Dewi Lestari merasa sudah menjalankan masa muda secara maksimal, sesuai dengan konsep muda ideal Mbak Dewi?

Kalau dibilang puas, sih, sudah puas. Saat masa sekolah saya aktif di bidang-bidang nonformal / eksktrakurikuler yang saya suka, dan saat kuliah saya juga sudah profesional berkarier sebagai penyanyi, dan cukup banyak pengalaman lain yang sangat berharga. Jika ada satu andai-andai yang tersisa hanyalah perihal traveling. Karena dulu sudah bekerja profesional, saya tidak punya banyak kesempatan untuk pergi traveling lama-lama. Padahal setelah menikah dan punya anak, kesempatan untuk traveling semakin susah. Tapi, mungkin kesempatan traveling akan kembali lagi setelah anak-anak saya agak besar.

Dari penuturan yang Mbak Dewi berikan, sekedar mempertegas saja, bahwa Mbak Dewi lebih menempatkan kebijaksanaan, penggalian bakat, ketimbang gairah muda yang berapi-api, dan mencoba sana-sini sebagai hal yang sebaiknya dilakukan kaum muda?

Gairah muda yang berapi-api secara alamiah pasti terjadi. Tapi, fatal sekalinya selip, karena kenekatan anak muda kadang mengalahkan akal sehatnya. Kadang nekat itu berakibat positif, tapi tidak jarang berakibat negatif. Self control dan self awareness merupakan unsur penting yang perlu dijaga dan dipelihara. Dan, tentu saja, yang berperan di sini bukan cuma pemudanya, melainkan juga keluarga dan lingkungan.

Apakah Mbak Dewi ketika berusia 20 - 25 tahun itu juga sudah wisdom dan lebih menggunakan waktunya untuk pencarian minat dan memperdalam bakat?

Saya sudah mulai mempertanyakan hal-hal eksistensial dari umur 17 tahun, dan mulai tertarik spiritualitas sejak umur 22 tahun. Minat dan bakat itu penggalian panjang sejak kecil. Jadi, setelah dewasa tinggal menuai saja. Tapi, saya tidak merasa terlalu aneh, karena cukup banyak saya mengenal teman-teman seumur yang juga serupa polanya.

Parents Indonesia | Menulis & Membaca | Oktober, 2013 | by Resti Agtadwimawanti


Sebetulnya, tantangan menulis bagi pemula itu apa saja sih, Mbak? Mungkin Mbak Dee bisa flash back saat pertama kali menulis. Bagaimana cara Mbak mengatasinya?

Seingat saya, saat itu yang paling menantang adalah menyelesaikan cerita itu sendiri. Untuk cerita pendek sih nggak ada masalah. Tapi, saya kan sangat senang menulis novel. Sepertinya saat itu saya belum punya "stamina" dan pengalaman menulis cukup untuk bisa bertahan hingga cerita tamat. Supernova 1 adalah novel pertama saya yang berhasil tamat. Cara saya mengatasinya adalah terus mencoba. Lama-lama pengalaman itu akan terakumulasi sendiri.

Perlu enggak sih bagi penulis pemula untuk menentukan target, atau biarkan saja dulu untuk mengasah kepiawaiannya dalam menulis?

Selama targetnya realistis sih sah-sah saja. Yang agak sulit adalah, misalnya, berharap untuk terus menerus menang lomba. Untuk sebuah karya memenangkan lomba atau masuk ke media biasanya amat tergantung subjektivitas juri dan kebutuhan redaksi. Selama para penulis pemula tsb punya mental yang cukup kuat terhadap penolakan, boleh-boleh saja pasang target seperti itu. Tapi, menurut saya lebih realistis kalau targetnya adalah menyelesaikan sebuah novel dalam dua bulan, atau mengerjakan cerpen dalam dua minggu, dan seterusnya. Bisa juga itu diterapkan dalam target membaca. Toh, kalau ada karya yang sudah jadi, penulis bisa memulai mempublikasikannya via blog, atau minimal di-share ke teman-teman dan lingkungan dekatnya.

Kadang, orang enggan mencoba untuk menulis dengan alasan “enggak bakat”. Karena itu juga, bisa jadi tulisan enggak kelar-kelar. Menurut pandangan Mbak Dee sendiri bagaimana?

Bakat menurut saya memang menjadi faktor tersendiri. Ada orang-orang yang dilahirkan dengan batin yang peka dan punya archetype pencerita. Biasanya mereka dengan alami pandai merangkai cerita. Tapi, menulis juga merupakan skill dan teknik, yang artinya bisa dipelajari. Semakin jernih dan peka seseorang bisa merasa dan berpikir, semakin mudah mereka bisa mengomunikasikan alam pikirnya. Saya rasa itu modal utama seorang penulis.

Passion tentang apa yang hendak kita tulis itu berperan pentingkah? Seperti apa penerapannya pada karya-karya Mbak?

Tipe kepenulisan itu bermacam-macam. Ada orang yang memang hanya bisa membuat sebuah tulisan berdasarkan passion-nya, tapi ada juga orang-orang yang memang pekerja aksara. Mereka bisa menulis apa saja, tanpa harus passionate terlebih dulu terhadap apa yang mereka ingin tulis. Ini sering berlaku untuk tulisan-tulisan yang sifatnya lebih teknis seperti reportase, jurnalistik, riset, dll. Karena saya penulis fiksi, tentunya saya menulis berdasarkan imajinasi saya. Dan imajinasi saya didapat dari kombinasi minat, passion, observasi, riset.

Saran dari mbak Dee, sebaiknya penulis pemula ini menulis karya dalam bentuk apa dulu nih, Mbak? Misalnya cukup nge-blog dulu atau mungkin rajin mengirim artikel singkat ke media massa.

Keduanya bisa. Tapi kalau ke media massa, ya harus punya kiat, kita harus mengenal karakter media massa tersebut seperti apa, supaya tidak salah sasaran. Kalau blog kita sendiri kan bebas.

Bagaimana Mbak mengatur waktu saat Mbak harus segera menyelesaikan karya dan Mbak juga harus mengasuh anak? Ini juga mungkin bisa menjadi kendala terselesaikannya sebuah tulisan.

Sebelum punya anak, saya punya konsep ideal tentang menulis, bahwa menulis itu harus malam hari, harus panjang waktunya, tidak terputus, tidak ada gangguan, dsb. Setelah punya anak, saya harus menghadapi realitas bahwa konsep ideal tersebut sudah tidak bisa diwujudkan. Dan kalau saya menunggu kondisi ideal itu hadir, tidak akan ada buku baru yang lahir. Akhirnya saya belajar berdamai. Saya mencoba menulis di siang hari, pagi hari, kapan pun saya punya waktu. Tidak lagi harus durasi waktu panjang tapi sebisanya. Kalau dapat sejam ya syukur, kalau enggak, ya harus bisa menyambung lagi begitu ada kesempatan. Dari delapan buku yang kini terbit, hanya ada dua buku yang saya kerjakan sebelum punya anak, yakni Supernova 1 dan 2. Enam buku sesudahnya, termasuk Partikel yang lebih dari 500 halaman, saya kerjakan setelah punya anak. Berarti sebetulnya punya anak bukan sebuah keterbatasan, melainkan tantangan yang bisa disiasati.

Bisa di-sharing momen-momen yang enggak terlupakan pada saat itu? Soalnya beberapa saat lalu saya sempat baca tweet Mbak tentang saat Mbak harus ngetik sambil gendong bayi.

Waktu nulis Supernova 3 (Petir), Keenan sudah lahir. 40% buku tersebut saya selesaikan sambil mengasuh Keenan yang masih bayi. Saya hanya bisa menulis waktu dia tidur. Dan karena masih menyusui, mau tidak mau, kadang-kadang saya terpaksa mengetik satu tangan sambil sebelah tangannya lagi menggendong dia yang sedang menyusui. Waktu nulis Madre dan Partikel, Atisha juga sudah lahir. Saya baru mulai menulis lagi setelah Atisha berumur setahun lebih. Caranya kurang lebih sama, yakni dengan mencuri waktu sebisanya. Setiap hari syukurnya masih dapat satu-dua jam menulis di kamar tanpa diganggu, sementara Atisha main dengan pengasuh atau ayahnya.

Lalu, untuk membiasakan anak gemar membaca, bisa sharing tentang cara Mbak dalam membiasakan Keenan membaca? Mungkin ada waktu tertentu atau dengan cara yang menyenangkan?

Membaca selalu jadi ritual hampir setiap malam. Tidak ada buku pun saya suka mengarang cerita sendiri. Intinya, mereka dibiasakan mendengar storytelling.

Keenan dibiasakan membaca sejak usia berapa, Mbak? Aatau mungkin Atisha juga sudah distimulasi? Seperti apa stimulasinya?

Keenan cukup awal saya kenalkan pada membaca. Dia sudah bisa membaca dari umur dua tahun karena saya latih dengan menggunakan flash card. Lalu dilanjutkan dengan buku-buku sederhana. Saya juga selalu menyediakan stok bacaan yang banyak untuknya. Kami kadang-kadang ke toko buku bersama dan anak-anak boleh memilih buku yang mereka suka. Singkatnya, mereka mendapat akses mudah ke buku/bacaan.

Kendala umumnya apa sih saat pertama kali membiasakan anak untuk senang membaca? Dalam prosesnya, Mbak sendiri butuh berapa lama untuk membiasakan gemar membaca kepada Keenan? Apakah Mbak memberikan semacam reward kalau Keenan mau membaca? Kalau ya, seperti apa?

Kendalanya sebetulnya ada pada orang tua. Saya rasa, anak secara alamiah adalah seorang pembelajar. Mereka penuh keingintahuan dan merespons dengan baik pada segala sesuatu yang baru. Masalahnya, kadang-kadang kita sebagai orang tua memiliki keterbatasan waktu, fokus, tenaga, dan konsistensi untuk bisa terus mengenalkan anak pada dunia baca.

Bacaan apa saja yang Mbak berikan kepada anak-anak? Terbatas pada pelajaran sekolah atau bagaimana? Dan, bacaan yang paling disukai Keenan itu apa, ya?

Bacaan yang saya sediakan di rumah merupakan gabungan dari buku pengetahuan, fiksi, komik. Tidak terbatas dalam bentuk cetak saja, buku digital seperti dongeng anak2 elektronik yang bisa dibaca di Ipad pun kami suka kasih. Keenan saat ini lebih suka buku pengetahuan. Dia senang mempelajari binatang dan fenomena alam. Kalau fiksi, dia lagi suka Tintin.

Apakah ada tanda-tanda bahwa Keenan juga doyan nulis seperti mamanya?

Belum tahu. Saat ini dia lebih senang nonfiksi ketimbang fiksi. Tapi saya nggak memaksakan juga sih, ikut arusnya saja sambil terus dipantau.

We Indonesians Rule (Buku) | Juni, 2013 | by Juventia Vicky


Apa yang membuat Anda memutuskan untuk menggeluti karier menulis setelah berkarya dalam bidang musik melalui Rida Sita Dewi?

Sebetulnya menulis adalah hobi saya sejak kecil, yang berjalan paralel dengan hobi saya di musik. Jadi, keputusan berkarier dalam menulis bukan di posisi "either/or" dengan musik. Bagi saya, keduanya adalah saluran ekspresi kreatif yang sama-sama esensial. saya akhirnya berhasil menyiapkan manuskrip. Seiring waktu, saya harus akui saya jadi lebih nyaman dengan menulis karena faktor-faktor eksternal seperti berkeluarga dan punya anak. Dunia menulis memberikan saya lebih banyak fleksibilitas ketimbang dunia entertainment. Saya bisa lebih banyak di rumah dan mengatur jadwal kerja saya secara lebih independen.

Bagaimana Anda menjelaskan proses kreatif yang Anda lalui ketika menulis? Apakah riset berperan besar seperti yang ditunjukkan melalui tetralogi Supernova?

Saya rasa proses kreatif itu mirip-mirip untuk semua bidang. Intinya, kita menerjemahkan abstraksi dari alam ide ke sebuah pemaparan konkret yang bisa dinikmati dan dimengerti oleh orang banyak, termasuk oleh diri kita sendiri. Passion, disiplin, serta jam terbang menjadi penentu untuk seseorang bisa lancar dan konsisten berkarya. Riset menjadi salah satu metode saya untuk memperdalam cerita dan menjadikannya lebih believable. Lewat riset, bukan hanya pembaca yang diperkaya, saya yang melakukan risetnya pun ikut diperkaya. Dan demikian jugalah selera saya dalam menikmati karya orang. Saya senang dengan karya yang menantang cara berpikir dan memperkaya saya dengan pengetahuan. Karena itu, ketika saya berkarya, saya juga ingin melakukan hal yang sama.

Dari mana inspirasi untuk karya-karya Anda umumnya datang?

Dari mengamati hidup, lingkungan, diri sendiri.

Apakah Anda memiliki penulis favorit, baik dari Indonesia maupun negara lain, yang menjadi role model Anda?

Terus terang, saya lebih banyak baca nonfiksi ketimbang fiksi. Dalam nonfiksi yang biasanya ditekankan adalah materi tulisannya ketimbang gaya penulisannya. Saya suka dengan tema neo-arkeologi seperti buku-buku Graham Hancock, awareness-based science seperti buku-buku Amit Goswami, David Bohm, F. David Peat, dst. Belakangan saya senang dengan tulisan-tulisan Cheryl Strayed. Kalau dari penulis lokal, saya pengagum Sapardi Djoko Damono.

Anda telah menulis berbagai macam jenis sastra, dari novel dan cerita pendek hingga puisi. Bagaimana perbedaan bentuk ini mempengaruhi proses menulis Anda?

Saya tidak pernah terkungkung oleh bentuk. Saya rasa, idelah yang menentukan bentuk. Ada ide yang cukup diungkapkan lewat puisi, tapi ada juga ide yang perlu ruang lebih lebar seperti novel. I serve the ideas. Not the other way around. Saya tidak tahu pasti kreator lain bagaimana, tapi bagi saya, karya punya jiwa sendiri yang ingin berbicara, dan ia memanfaatkan saya sebagai medium. Jadi, ada kolaborasi dan kerja sama. Tapi, yang menjadi lokomotif adalah ide itu sendiri. Tugas saya adalah menerjemahkan "kemauannya" sebaik-baiknya dengan menjaga kepekaan dan mengasah skill saya menulis.

Apa yang Anda lihat sebagai signature style Anda ketika menulis?

Barangkali yang paling mudah dikenali adalah tema. Hampir semua tema tulisan saya, terlepas dari format dan segmentasinya, bercerita tentang eksplorasi jati diri. Kedua, ritme dan pemilihan kata. Mungkin karena saya berangkat dari penyanyi dan penulis lagu, saya sangat peka pada ritme. Sebuah paragraf harus bisa menemukan ritme yang pas, dan itu ditentukan oleh jumlah kata, bunyi, tekstur makna, dsb. Saya juga senang menggunakan kata-kata yang kontras, seperti menyisipkan satu istilah ilmiah dalam sebuah paparan puitis, misalnya. Semua ini mungkin terdengar abstrak, tapi bagi yang mengikuti karya-karya saya pasti bisa mengenali style tersebut. Sama halnya saya juga bisa mengenali jika style saya dipakai atau memengaruhi penulis lain.

Dalam Rectoverso, Anda menggabungkan novel dengan sebuah album musik. Apakah musik memiliki pengaruh yang besar terhadap tulisan Anda?

Dalam Rectoverso, lirik menjadi titik awalnya. Semua berkembang dari lirik. Jadi, lirik dulu baru fiksi, setelah itu aransemen musik. Kalau kasusnya Rectoverso, jelas musik berpengaruh sangat besar. Di tulisan-tulisan saya lain, pengaruh musik seperti yang saya jelaskan sebelumnya, yakni mengenai ritme. Musik mengajarkan saya untuk peka ritme, dan kepekaan itu kemudian saya tuangkan ke dalam cara saya menyusun kalimat, paragraf, bahkan cerita.

Beberapa karya Anda telah diadaptasi ke dalam film. Sejauh mana Anda memiliki andil dalam pembuatan film-film ini? Apakah melalui medium ini, Anda berharap penonton akan tergerak untuk mulai membaca karya-karya Anda?

Dalam setiap judul, keterlibatan saya berbeda-beda. Waktu Perahu Kertas, saya terlibat cukup banyak. Saya menulis skenario, saya membuat soundtrack, saya ikut menentukan casting, dan juga ikut editing. Bisa dibilang keterlibatan saya hampir seperti produser informal. Di Rectoverso, saya sudah lebih lepas tangan, dan hanya jadi konsultan saja. Di Madre, saya lepas sama sekali. Ketiga-tiganya punya risiko dan keuntungan masing-masing. Dengan bertransformasinya cerita menjadi film, memang ada potensi untuk menjangkau lebih banyak audiens. Saya tidak punya harapan tertentu sebetulnya. Secara umum memang ketika buku dijadikan film, otomatis ekspos terhadap buku tersebut meningkat, dan akibatnya bisa meningkatkan penjualan. Itu memang terjadi di ketiga buku yang saya dijadikan film. Tapi, sebelum itu pun buku-buku tersebut pun sudah punya pembacanya sendiri.

Menurut Anda, bagaimana situasi dunia sastra di Indonesia pada saat ini?
Anda beserta beberapa penulis perempuan kontemporer lain di Indonesia seringkali dicap sebagai penulis “sastra wangi.” Apa pendapat Anda mengenai karakterisasi tersebut?

Saya sendiri heran mengapa "sastra wangi" masih saja ditanyakan, padahal istilah itu munculnya sudah hampir delapan tahun yang lalu, dan kondisi saat ini sudah tidak lagi mengakomodir atau pun relevan untuk membahas "sastra wangi". Saya tidak punya pendapat khusus tentang "sastra wangi". Kalau definisinya adalah serangkaian penulis perempuan yang dengan berani mengungkap seksualitas yang selama ini dianggap tabu, saya rasa karya saya tidak berada dalam definisi itu. Tema seksualitas tidak pernah jadi tema sentral dalam tulisan saya. Saya juga lebih cenderung humanis ketimbang feminis dalam berkarya. Satu-satunya irisan saya dengan "sastra wangi" adalah jenis kelamin saya perempuan, saya penulis, dan saya wangi... kalau baru mandi.

Apa pandangan Anda akan budaya membaca di Indonesia? Apakah para pembaca mulai apresiatif serta kritis terhadap sastra Indonesia?

Jika dibandingkan dengan masa-masa Orde Baru, atau pra 1998, kondisi perbukuan Indonesia memang sudah jauh berkembang. Saya tidak tahu persis tentang budaya membaca masyarakat, saya bukan pengamat. Tapi, yang jelas, ada peningkatan jumlah penerbit, jumlah toko buku, jumlah penulis, dan jumlah genre buku. Barangkali itu bisa disimpulkan bahwa ada peningkatan budaya membaca di masyarakat modern Indonesia. Khususnya untuk genre sastra, saya rasa ada juga peningkatan (dari jumlah penulis dan jumlah buku terjual), tapi tidak sesignifikan genre-genre populer seperti chicklit, teenlit, atau buku-buku motivasi. Namun, saya tidak punya kapasitas mencukupi untuk bicara soal kritik sastra Indonesia. Biarlah hal seperti ini dijawab oleh mereka yang menekuni kritik sastra Indonesia. Peran saya adalah menulis.

Menurut Anda, apa yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak yang terlibat dalam dunia perbukuan—penulis, editor, penerbit, kritikus buku—untuk meningkatkan apresiasi atas sastra Indonesia? Apakah penghargaan seperti Khatulistiwa Literary Award dapat mendorong penulis-penulis Indonesia untuk berkarya dengan lebih baik?

Ajang penghargaan merupakan hal yang menarik, bisa mengundang perhatian media dan publik, dan pada level tertentu bisa menyemangati. Tapi, satu hal dalam perihal penghargaan, hampir semua ajang penghargaan selalu berbau conflict of interest. Dan, selalu saja akan ada nada-nada sumbang yang mengungkap adanya eksklusivitas atau dominasi pihak-pihak tertentu dalam penentuan pemenang. Jadi, menurut saya, sekalipun award adalah hal positif, tapi jangan menggantungkan ekspektasi terlalu besar. Award tidak mungkin jadi pendorong satu-satunya bagi perkembangan perbukuan. Bagi saya, untuk mendorong penulis-penulis berkarya, yang lebih luas dan jangka panjang adalah lewat ajang pelatihan, workshop, dsb, selama dilakukan dengan konsisten dan merata. Lewat kegiatan tersebut, bibit-bibit baru bermunculan, penulis atau editor yang sudah veteran pun berkesempatan untuk berbagi ilmunya, penerbit pun punya banyak potensi yang bisa dikembangkan. It's a win-win for everybody. Saya berharap semakin banyak pihak swasta yang tertarik untuk mensponsori pelatihan penulisan.

Beberapa karya Anda telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Seberapa penting outreach kepada audiens internasional dalam memajukan dunia sastra Indonesia?

Cukup penting. Sayangnya, belum banyak penulis Indonesia yang bisa menembus pasar internasional tanpa terlepas dari "kerangkeng" eksotisme. Saya masih merasa minat audiens internasional terhadap kita dan penulis Asia lainnya terjebak dalam eksotisme—entah itu tema budaya, sejarah, atau politik—jadi bukan fokus pada kualitas kepenulisannya. Akibatnya, jarang ada penulis yang benar-benar diterima dan diakui secara internasional. Lebih kepada pemenuhan katalog atau sensasi sejenak saja.

Karya seperti apa yang Anda ingin terbitkan selanjutnya?

Saya ingin menyelesaikan serial Supernova dulu. Setelah itu, saya ingin menulis nonfiksi. Ada cukup banyak topik yang ingin saya eksplorasi.