Showing posts with label Supernova AKAR. Show all posts
Showing posts with label Supernova AKAR. Show all posts

Sunday, December 21, 2014

Wawancara Skripsi | Supernova AKAR | Januari, 2007 | by Isma Noor Anggraeni

-->
Apa yang mendorong Dee untuk menulis Supernova? 

Saya tergerak menulis Supernova awalnya karena terjadi pergeseran paradigma dalam diri saya mengenai ketuhanan dan spiritualitas. Pada saat itu saya melihat bahwa akar segala konflik dan perpecahan manusia adalah karena pemahaman akan diri dan Tuhan yang  terpecah pula. Manifestasinya bisa dilihat di mana-mana, salah satunya adalah perpecahan antara sains dan agama. Saya mulai bergeser menuju paradigma holistik yakni melihat realitas sebagai fenomena utuh yang melampaui dualitas hitam-putih. Dan Supernova menjadi wahana bagi saya untuk berbagi sudut pandang ini. Pada dasarnya, Supernova adalah ‘sharing’ saya perihal spiritualitas yang dikemas dalam bentuk fiksi.

Dari mana muncul ide khusus untuk episode Akar? 

Akar adalah bagian dari babak ke-2 Supernova, yakni pengenalan empat tokoh baru yang mewakili empat karakter pencarian jatidiri yang berbeda-beda, tiga yang lainnya adalah: Petir, Partikel, dan Gelombang. Jadi episode Akar merupakan bagian intrinsik bersama-sama tiga episode lainnya. Akar dan Petir saling bercermin, Partikel saling bercermin dengan Gelombang. Jadi Akar dan Petir adalah bagian yang secara konseptual tidak terpisahkan, karena Akar yang merupakan elemen bumi melambangkan pencarian ke dalam diri, berpasangan dengan Petir yang merupakan elemen langit melambangkan pencarian ke luar diri. Kedua-duanya saling melengkapi. 

Dari mana munculnya inspirasi mengenai tokoh Bodhi? 

Saya ingin menciptakan tokoh yang seolah ‘tercerabut’ dari akarnya. Bodhi adalah tokoh soliter; yatim-piatu, independen, selalu hidup dalam lingkungan komunitas dan menemukan arti keluarga pada orang-orang yang tidak sedarah dengannya, dan dia juga dianugerahi kelebihan yang malah membuatnya semakin teralienasi. Jadi Bodhi digambarkan sebagai tokoh yang terobsesi untuk mencari akarnya: siapa dia, mengapa dia bisa terlahir seperti itu, dsb. Dan itu disesuaikan dengan tema pencarian jatidiri untuk episode Akar yang tentunya akan berbeda-beda dengan episode lain.

Mengapa Dee menamai tokoh utamanya dengan nama Bodhi? 

Bodhi saya ambil dari pohon bodhi, tempat Siddhartha Gautama bersemadi dan beroleh pencerahan. Ada keselarasan ‘bodhi’ sebagai pohon yang bisa dibilang sakral dengan tema ‘akar’ itu sendiri. Dan untuk itu saya sengaja membuat tokoh Buddhis sehingga keseluruhan cerita selaras dengan elemen-elemen yang saya pilih. 

Mengapa Bodhi digambarkan memiliki ciri fisik yang anomali? 

Bodhi memang tokoh digambarkan sebagai tokoh misterius. Dia overloaded dengan kemampuan indera ke-enam, asal usulnya tidak jelas, dan fisiknya juga tidak biasa. Dan pergelutannya adalah bagaimana menjadi ‘normal’. Anomali fisiknya termasuk dari penekanan karateristik dia yang misterius. Bodhi akan selalu mendapat tantangan yang datang dari ‘keanehan’ dirinya hingga pada akhirnya nanti ia mampu mengetahui rahasia dirinya dan menerima peran serta fungsinya. Tidak bisa saya jelaskan lebih lanjut karena ini adalah bagian dari episode Supernova selanjutnya. 

Mengapa tema Buddhisme dan Punk mendominasi episode Akar? 

Saya memilih Buddhisme secara khusus karena pendekatan ajaran Buddha dalam mendedah realitas selaras dengan paradigma holistik yang mampu menjembatani jurang antara sains dan religi, yang saya ungkap di no 1 di atas.

Menurut Dee, salahkah jika saya meneliti Buddhisme dan Punk sebagai budaya? 

Menurut saya, Buddhisme tidak terlalu tepat jika dipahami sebagai budaya. Buddhisme pada esensinya adalah ajaran Sang Buddha untuk memahami realitas hidup dan diri. Buddhisme sebagai budaya hanyalah ‘by-product’. Asimilasi Buddhisme dan budaya termanifestasi dalam bentuk bermacam-macam, misalnya aliran-aliran dalam ajaran Buddhisme (Tibetan, Mahayana, Hinayana, dll) yang di dalamnya terdapat perbedaan-perbedaan yang bersifat ritualistik saja. Jadi apabila Buddhisme diteliti sebagai budaya, harus sangat berhati-hati untuk menentukan budaya yang mana, karena asimilasi Buddhisme dengan budaya sudah sangat banyak ragamnya. Sementara untuk meneliti Punk sebagai budaya tidak ada masalah, menurut saya.

Apakah Bodhi menganut dan meyakini ajaran Buddha, atau hanya menjalaninya sebagai kebiasaan yang dibawa sedari kecil? Jika iya, aliran manakah yang diikuti Bodhi? 

Dilema Bodhi justru terletak pada menemukan makna baru dalam keyakinannya. Jadi Bodhi menganut dan meyakini ajaran Buddha, dan itu sekaligus dikarenakan ia dibesarkan dalam lingkungan vihara.  Perjalanan batin yang terungkap dalam Akar menunjukkan kebimbangan sekaligus kerinduannya untuk bertemu kesejatian diri lewat apa yang sudah ia dapat dari ajaran Buddha namun perlu ia maknai ulang. Saya tidak mengungkap secara eksplisit aliran yang diikuti Bodhi, walaupun kecenderungan yang saya pakai adalah Mahayana. Tapi sebetulnya Buddhisme dalam Akar dipakai esensinya saja, jadi lepas dari denominasi.

Apakah Bodhi mengakui dan meyakini filosofi Punk? Jika iya mengapa? 

Dalam posisinya, Bodhi tidak ‘mengakui’ atau ‘meyakini’, tapi dia dekat dan bergaul dengan lingkungan punk. Filosofi punk sendiri diwakili oleh Bong, dan bukan Bodhi. Kedekatan Bodhi dengan lingkungan Punk dikarenakan gaya hidup dan profesi yang dia pilih, yakni independensi dan tattoo. Saya memilih Punk karena implikasi yang dibawanya selaras dengan kehidupan Bodhi yang ingin saya bentuk. Bodhi sebatang kara tapi ia mampu mandiri, punya penghasilan. Punk memiliki filosofi D.I.Y yaitu Do It Yourself, dan menurut hasil riset yang saya lakukan di komunitas Punk, profesi yang ‘lumayan menghasilkan’ dalam dunia itu adalah tindik dan tattoo, atau jadi bandar ganja/narkoba. Yang terakhir jelas tidak mungkin untuk Bodhi, dan saya memilih tattoo karena ada simbol2 yang ingin digambarkan dalam Akar jadi tattoo sebagai seni bisa menjadi wahana yang tepat. Dalam Punk juga ada aliran Straight Edge, dan ini bisa menjadi ‘kedok’ bagi anomali Bodhi di tengah komunitas Punk. 

Mengapa Bodhi merasa nyaman di lingkungan Punk? 

Bodhi menghargai kemerdekaan berpikir, resistensi terhadap sistem opresif, dan juga kemandirian yang diusung oleh filosofi Punk. Tentunya tidak semua anak Punk sampai pada level sedalam itu, tapi di sini Bodhi menemukan role model dari tokoh Bong, yang memang digambarkan sebagai anak cerdas dan pemikir sejati.

Gaya hidup Bodhi yang seperti bikkhu membuatnya tampak seperti penganut Straight Edge di tengah-tengah komunitas Punk. Apakah itu merupakan unsur kesengajaan dari Dee untuk menunjukkan kepaduan  antara Buddhisme dan Punk dalam dirinya? 

Ya, seperti yang sudah saya jelaskan di atas, Straight Edge menjadi ‘excuse’ dari sterilnya Bodhi, sehingga dia tidak dianggap aneh di kalangan Punk berhubung pilihan hidupnya yang vegetarian, tidak merokok, tidak minum/mabuk, dsb. 

Apa kekhususan Episode Akar? 

Karakteristik khusus Akar terletak pada Bodhi. Demikian juga Petir yang kekhususannya terletak pada Elektra. Ini kembali lagi kepada konsep bahwa empat buku yang termasuk babak ke-2 Supernova ini memang dikhususkan untuk menceritakan per tokoh dengan mendetail. Mereka adalah empat manusia berbeda dengan pergulatan batin yang berbeda-beda, tapi mereka bermuara dalam satu pencarian jatidiri. Akar sangat kental unsur kontemplasinya, petualangan, traveling, dan Buddhisme. 

Bagaimana Pandangan, Kepercayaan, Stereotipe, dan Prasangka Dee  terhadap Buddhisme dan Punk? 

Buddhisme bagi saya identik dengan keheningan, penerimaan realitas sebagaimana adanya, dan ketiadaan diri. Sementara Punk identik dengan musik gaduh, resistensi, dan peneguhan kekuatan individu. Walaupun seperti bertolak belakang tapi baik Buddhisme dan Punk sama-sama menuntut upaya mandiri seseorang untuk membebaskan dirinya. Buddhisme menekankan pembebasan diri dari ilusi dan dukkha (penderitaan) dengan pembuktian sendiri (prinsip ehipassiko: lihat dan buktikan). Buddha selalu mengatakan ia tidak bisa memberikan pencerahan, ia hanya bisa menunjukkan jalannya. Punk menekankan pembebasan diri dari sistem opresif yang diwakili oleh kapitalisme, di mana setiap orang harus disadarkan bahwa selama ini mereka hanya sapi-sapi perah mesin kapitalis. Jadi menurut saya, keduanya bergerak dengan semangat pembebasan walaupun dalam level kedalaman yang berbeda. 

Seperti apa Representasi Mental Dee yang tercurahkan dalam Episode Akar? Apa saja nilai-nilai pribadi Dee yang tercermin dalam Episode Akar? 

Semua pencarian jatidiri dalam tokoh-tokoh saya adalah pencarian saya juga. Jadi kegelisahan Bodhi adalah kegelisahan saya, pencerahan dia adalah pencerahan saya, dsb. Saya menghargai filosofi Punk, saya juga merasa selaras dengan kebenaran dalam ajaran Buddha. Saya juga merasa ada konektivitas kuat antara mitos (yang diwakili oleh Star dan Kell) dan realitas sehari-hari yang diwakili matematika geometri suci, dll. Pada prinsipnya, saya menulis apa yang saya percaya. 

Bagaimana proses penulisan Episode Akar mempengaruhi Dee baik sebagai pribadi maupun sebagai penulis? 

Akar mempengaruhi saya cukup dalam. Setelah menulis Akar, saya tergerak untuk mempelajari ajaran Buddha lebih intens. Dari segi kepenulisan, di Akar untuk pertama kalinya saya mencoba teknik narasi mengalir tanpa tanda petik, menekan keakuan penulis dan membiarkan karakter saya Bodhi yang mengambil alih penceritaan. Teknik yang sama saya terapkan di Petir, dan akan dipakai lagi untuk Partikel dan Gelombang. 

Apa yang ingin Dee sampaikan kepada pembaca melalui Episode Akar? 

Saya hanya sharing penelusuran spiritual saya dalam kemasan fiksi, yang dalam Akar diwakili oleh Bodhi. Itu saja. Semua pesan dalam Supernova sebenarnya sama adanya, yakni pendekatan memahami realitas dengan paradigma holistik.

Soap Magazine | Profil: The Dark Side of Dee | Juni, 2005 | by Johan Sihotang


Dee’s Past

Aku kepingin tahu, masa kecil seperti apa sih yang telah membentuk seorang Dewi Lestari sekarang? Mungkin background khusus keluarga, kepribadian salah seorang tua yang cukup unik? Atau mungkin kehadiran masalah keluarga yang cukup besar sehingga sanggup membentuk kepribadian Dewi sekarang?

Keluarga saya itu sangat unik. I’m blessed to be raised in such family. Ayah saya, sekalipun perwira militer, sesungguhnya berjiwa seniman, he’s a fun person, musisi otodidak yang kreatif. Dan kualitasnya diimbangi oleh ibu saya yang sangat sistematis, tertata, but very thoughtful. Hasilnya kami berkesempatan untuk mengeksplorasi sisi seni kami, tanpa mengabaikan sekolah. Bisa dibilang kami punya modal disiplin tapi juga ‘keliaran’ kreativitas. Kalau masalah hampir nggak ada. Cuma Mama kadang-kadang kelewat hemat, kami hampir nggak pernah punya mainan, jarang beli barang baru. Tapi pikir-pikir, itu juga yang mendorong kami jadi kreatif, dan punya drive untuk bercita-cita. 

Apa trauma terbesar Dewi saat masih kecil, mungkin belum bisa didefinisikan sebagai trauma, tetapi yang tidak menyenangkan dan masih keinget, masih ada nga ya dampaknya sampai sekarang? (seperti saya masih ingat dipukuli teman-teman sendiri)

Hmm. Apa, ya. Barangkali waktu kelas 2 SD dulu, saya pernah lomba lari, tapi sepatu saya model loafer yang gampang copot, akhirnya pas lari sepatu saya lepas, diketawain satu sekolah. Sejak itu saya jadi nggak pede sama sekali dengan pelajaran olah raga dan segala permainan fisik. Sampai SMA saya bolos terus pelajaran olah raga, ngaku sakit segala macem, padahal sehat-sehat saja, bahkan I’m actually an active person. Saya sampai punya template surat sakit, memalsu tanda tangan ortu, pokoknya jadi sneaky berat, hanya untuk menghindari pelajaran satu itu. Hehe.

Ada nggak sih pengalaman-pengalaman di masa kecil dulu yang memalukan, lucu, memorable; mencium (lebih dulu) teman cowo mungkin? Apa yah cita-cita Dewi sewaktu kecil dulu, sudah terpikir untuk menjadi seorang selebritis sepeti sekarang?

Waktu kecil pengin jadi dokter hewan, karena cinta sekali sama binatang. Hanya kandas karena takut saya pada serangga melampaui cinta saya sama binatang. Hehe. Lalu arsitek, tapi kandas juga karena malas bermatematika ria, hanya sampai sekarang saya senang sekali menata interior, dsb. Anehnya, sekalipun tidak masuk ke daftar cita-cita, tapi yang saya lakoni secara konsisten sejak kecil memang seni. Baru saat kuliah, ketika pada semester 2 saya mulai membiayai hidup bahkan kuliah saya sendiri, saya tersadar bahwa hobi tersebut telah bertransformasi menjadi profesi. And it’s simply something I cannot live without. Saya tidak pernah lagi berpikir menjadi sesuatu yang lain.


Dee’s Train of Thoughts

Apa sih yang diinginkan dan dicari Dewi dalam hidup ini, dengan mengulik-ulik dunia spiritualnya? Mungkin beberapa orang sudah cukup nyaman dengan ‘spiritualitas pemberian’ (orang tua, masyaraktnya), kalau orang lain bilang hidup sudah terlau susah tanpa mempertanyakan kembali sisi spiritual, atau apakah karena ‘enggan mengutak-atik’ itu manusia merasa lebih susah?

Untuk seseorang sampai pada kembara spiritual yang sesungguhnya memang dibutuhkan satu titik balik. Ahli agama bisa berkhotbah sampai berbusa-busa, tapi kalau panggilan itu tidak muncul dari dalam hati, maka kita tetap jalan di tempat dan bahagia dengan itu. Saya setuju, pengembaraan spiritual itu memang bikin susah, tidak menjadikan hidup kita tambah mudah. Ada ungkapan yang mengatakan ‘ignorance is a bliss’. Ketidakmautahuan bisa jadi membuat hidup kita aman, tenang. Sementara keingintahuan justru menempatkan kita dalam track berbatu, menyakitkan, dicemooh, dst. Namun saya percaya, saat spiritualitas lama kita diguncang maka itu berarti kita sudah siap ‘naik level’. Sama halnya bersekolah, yang secara berkala kita harus ujian naik tingkat, dan nggak selamanya adem ayem tanpa diuji. Usaha saya menulis Supernova pun sekadar untuk berbagi, bahwa: this is my test, this is my exam sheet, how’s yours? Mereka yang berada pada tahap yang sama pasti akan connect. Mereka yang sudah lewat akan tersenyum simpul. Mereka yang belum sampai akan mengapresiasinya dengan cara yang lain lagi. I want nothing but to share. 

Kapan sih Dewi menemukan tujuan hidupnya seperti sekarang? Ada kejadian khusus yang melatar belakangi? (Sigmund Freud; women barely knows what they wants)

My series of epiphany took place by the end of 1999, sebelumnya pertanyaan saya tentang spiritualitas sudah menumpuk, tapi meledaknya pada saat itu. Buku yang menyatukan puzzle dalam otak saya adalah Conversation with God – Neale Donald Walsch. Semenjak itu pandangan saya terhadap Tuhan, hidup, dan juga diri, berubah total. Dan semenjak itu pulalah saya bertekad untuk sharing apa yang saya alami, dan berhubung talenta saya adalah menulis, plus cita-cita sejak kecil adalah menulis buku, maka tahun 2000 saya menulis Supernova.

Dengan kesuksesan seperti sekarang, kenapa memilih hidup berkeluarga dengan anugerah kehadiran seorang anak di sisi Anda? Dengan merepotkan penitian karir yang sedang baik-baik nya?

Kalau istilah ‘repot’ yang dipakai maka seolah-olah pilihan berkeluarga merintangi sesuatu. Menurut saya tidak demikian. My life is one assorted package. Kalau isinya melulu karier maka hidup ini pun terlalu sempit rasanya. Untuk bertumbuhkembang sebagai pribadi yang utuh manusia akan memilih beragam hal. Saya pribadi, memilih menikah dan punya anak. Karier sebagai salah satu aspek tentunya beradaptasi dengan kondisi tersebut. It is a challenge, but not an obstacle. Kalau dulu saya bisa nulis begadang dari malam sampai pagi, sekarang jadwal seperti itu tidak bisa dipertahankan.Tapi tidak berarti saya lantas tidak dimampukan untuk berkarya, kan. Hanya saya sekarang saya nulis pada jam yang lain, dengan pola yang lain. Sebetulnya yang bikin stres itu kan ekspektasi. Kalau nggak ingin stres, ekspektasi kita nggak usah ambisius. Kalau dulu pengin berpromo buku 4-5 hari dalam seminggu, sekarang 1-2 hari saja. Tiga harinya bisa dikompensasi dalam promo lain, perbanyak poster, pasang iklan, misalnya. Jadi hanya masalah beda siasat saja.   

Apa sih arti image untuk Dewi Lestari, hidup dengan ‘jaim’ terus, apalagi setelah menjadi selebritis dan menjadi sorotan public?

Image itu seperti peliharaan yang harus terus diberi makan. Everybody has an image to feed. Bukan cuma figur publik, orang biasa pun punya, hanya saja mungkinpeliharaannya lebih kecil dan relatif lebih mudah di-handle. Semakin besar dan gemerlap image yang dipunya, ya, maintenance-nya pun makin susah. Bahkan sampai tingkat tertentu tidak jarang image menjadi lebih besar dari diri kita yang sesungguhnya, sehingga kita dikendalikan image dan bukan sebaliknya. I just have to keep in mind that image is something partial, is a part of us but not us. Secara proporsional kita harus punya ruang dan waktu untuk melepaskan segala image yang melekat dan rileks dengan keberadaan kita yang sesungguhnya, bukan yang dituntut masyarakat. I’d like to think my image is like my Golden Retriever. It’s fun, friendly, and when it’s unleashed, you can feel safe knowing that it won’t kill you while you’re asleep.

Apakah Dewi punya misi jauh ke depan pada setiap pekerjaan yang dilakoni (menulis dan menyanyi)?

Rasanya saya sudah mantap dengan trek pekerjaan ini. Saya juga merasa beruntung menemukannya cukup dini. Jadi program saya hanyalah berkarya dan berkarya. Kalaupun ada pengembangan sifatnya lebih ke pelebaran audiens, satu saat saya ingin karya-karya saya bisa ‘go global’. Nggak cuma di Indonesia saja. 

Saya sempat gemas sekali dengan karakter Elektra (PETIR) yang begitu pemalas, sial terus menerus, tetapi ahirnya beruntung juga dengan perkenalannya dengan bisnis dunia maya warnet. Kenapa sih harus eksistensinya harus seperti itu?

Elektra adalah representasi metamorfosis manusia. Beda dengan Bodhi, atau Diva, yang jelas-jelas sejak awal dianugerahi kualitas ‘super’, Elektra butuh proses panjang untuk menemukan potensi dirinya. Bahkan kisahnya dalam Petir pun sebetulnya masih berupa awalan saja. Elektra mewakili sosok girl next door yang biasa banget, tapi sesungguhnya punya potensi luar biasa. Dan dia menemukannya dengan caranya sendiri, yang konyol, tapi sesungguhnya punya kedalaman. I had so much fun with Elektra, really. Menuliskannya sangat enjoyable, bahkan bisa membuat saya sendiri ngakak-ngakak.


Dee’s Dark Side

Seperti Bapak Freud mengutarakan kehadiran 3 elemen penting dalam setiap unik pribadi seseorang: id, ego, superego. Kali ini aku ingin melihat sisi gelap seorang Dewi Lestari. Dan karena ini majalah cowok Mbak, maaf sebelumnya jika saya ingin menanyakan hal-hal di sekitar seks dan juga hal-hal absurd lainnya, haha. Feel free not to answer. Sewaktu Mbak Dewi diributkan dengan masalah cover buku yang bertuliskan lambang umat Hindu, seperti apa Mbak dewi menanggapinya, sempat marah dulu?

Awalnya sempat kecewa, kesal juga. Bukan apa-apa, tapi karena hal tersebut seperti disengajakan untuk bocor ke pers terlebih dahulu, wartawan tahu duluan lewat faks yang sampai ke mereka beberapa hari lebih awal dibandingkan surat resmi ke saya. Jadi saya menerima kesan bahwa sebagian permasalahan lebih berupa cari sensasi bukan cari solusi. Tapi secara global kasus itu menyadarkan saya bahwa inilah gambaran masyarakat Indonesia. Spektrum consciousness level masyarakat kita sangatlah luas. Dari yang ekstrem fundamentalis sampai universalis ada di sini. Dan masalah simbol itu (dan kasus-kasus seputar simbol berikutnya) merepresentasikan bagaimana Tuhan diproyeksikan begitu beragam. Tidak ada yang salah, semua berpijak dari persepsi kita atas Tuhan, dunia, dan dirinya sendiri. Keputusan saya untuk akhirnya berunding dan berkompromi pun berpulang dari kesimpulan saya bahwa Tuhan tidak perlu dibela dan tidak perlu berpromo (baik lewat sampul novel atau sampul buku apa pun). Lenyapnya lambang Om dari Akar tidak berdampak apa pun bagi Tuhan. Dia tidak tambah besar, tidak juga tambah kecil. Tidak lebih ditinggikan, tidak juga lebih rendah. Wajah dan tapak Tuhan ada di mana-mana, dalam renik debu sekalipun, jadi buat apa didebatkan? Kasus kover Akar dan kasus sejenis sesungguhnya bukan kasus benar atau salah, tapi kasus yang tak perlu ada, alias nggak penting.

Kita terkadang hidup dengan defense mechanism (denial, proyeksi) masing-masing, yang terkadang perlu sewaktu menanggapi masalah, untuk memiliki mental yang sehat (saya sendiri sering ‘bertindak saat baik pada seseorang’ di saat saya justru sangat membencinya). Kalau Mbak Dewi seperti apa, ya?

Defense mechanism saya adalah dengan jurus ‘bird’s eye view’. Ketika ada masalah muncul, saya berusaha berpikir bahwa masalah itu menimpa Dewi Lestari, bukan diri saya yang sesungguhnya. Dewi Lestari itu kan kumpulan opini dari hasil konsensus sosial yang ditumpukkan sejak saya lahir. Seperti kain perca yang menyelimuti kesejatian kita. So when shit happens, it doesn’t really matter. Hanya keterikatan kita pada label sosial kitalah yang menjadikan itu ‘matter’. Tapi kalau kita berpulang pada diri kita yang ‘nonmatter’ then things ‘doesn’t matter’ anymore. Got it? Jurus bird’s eye view itulah yang, menurut saya, dapat sejenak membebaskan kita dari ilusi duniawi, termasuk segala masalah. Ketika beban tersebut lepas, solusi lebih jernih pun bisa didapat.

Pernah nggak menyakiti perasaan orang lain sampai teringat terus, atau bahkan masih bermusuhan sampai sekarang?

Disakiti kali, ye. Pernah. Nggak enak banget. Sebenarnya perasaan marahnya sudah bermutasi seperti ‘nggak usah kenal aja, deh. Kita beda frekuensi’. Beberapa kali dikhianati masalah bisnis, padahal dulunya teman baik, makanya sampai sekarang saya jadi berhati-hati sekali bisnis sama orang, kalau teman/saudara malah saya udah nggak mau sama sekali. Karena kalau ada apa-apa, sakitnya nggak worth it sama hasilnya. Lebih baik nggak usah.

Menyakiti atau disakiti? Yang mana yang lebih baik jika harus memilih?

Hmm. I have to say ‘disakiti’. Hehe. Kalau menyakiti you have to forgive yourself, which is even harder.

Hal apa yang bisa membuat Dewi merasa menjadi manusia terkejam di dunia?

Absolutisme. Tidak memberikan ruang untuk memilih dan wawasan akan pilihan yang ada. Menurut saya, semua kejahatan terbesar dalam sejarah manusia bermuara di situ. Merasa diri absolut yang paling benar dan tidak memberikan ruang bagi opsi.

Pernah tebersit ingin bunuh diri? Karena semua mulai terasa berantakan. Ke mana biasanya Anda ‘berlari’?

Nope. I cannot comprehend a suicide. Yet. Sepertinya dibutuhkan kasus berlatar belakang super luar biasa agar saya bisa memahami/memaklumi aksi bunuh diri. Tapi saya percaya kematian seharusnya adalah gerbang menuju sesuatu yang lebih baik. 

Bagaimana dengan membunuh, pernah paling nggak tebesit untuk membunuh orang lain?

Membayangkan membunuh in action sih, nggak. Tapi kalau membayangkan Bumi ini dikurangi populasinya sampai paling tidak setengah, pernah. Bahkan sering. Is it the same thing? I dunno.

Bagian tubuh pria yang paling menarik? Seperti saya yang adalah “leg person” hahaha…

Neck – one that’s firm, not too slender. Flat abdomen is also appealing. A bit muscley arm is nice as well. Dan juga urat kecil yang suka nongol di jidat, nggak tahu itu apa, but for me it’s a beautiful sight to see. But above all, pria yang menarik itu tidak dinilai dari tubuh, tapi auranya saat dia sedang asyik-asyiknya bekerja, now that is very sexy.

Pernah nggak sih menolak cinta orang lain, sampai pria itu begitu sakit hati?

Sering. Hehehe. But truly, it’s not something that I’m proud of. Seringnya saya jadi sedih dan miris. Cinta itu kan energi yang luar biasa, ya. Begitu melihat cinta salah alamat saya suka miris, andaikan cinta berbalas pasti dentumannya luar biasa. Tapi kalau tidak rasanya seperti nabrak dinding. Saya cuma berharap dinding itu bisa disikapi seperti cermin, jadi energi itu bisa terpantul dan menjadikan kita tambah kuat, bukannya malah buyar nggak karuan. Nggak jarang saya menyesalkan my unfortunate position sebagai si ‘penolak’, seriously. Lebih baik ditolak, kali. Terlebih kalau sikap atau kebaikan kita ternyata mislead or misguide other people. Aduh, nggak enak banget. 

Apa arti seks untuk Dewi Lestari?

Sex is one of God’s primal languages. Sex in a big picture is to exchange. Pertukaran dan saling-silang energi yang menghasilkan kehidupan baru. 


Thursday, February 19, 2009

COSMOPOLITAN | Fun Fearless Female | May, 2006 | By Intan Pradina

1. Kabarnya album Out of Shell sudah rilis? Bagaimana rasanya telah merampungkan satu proyek yang makan waktu lama dalam prosesnya? Semua Anda kerjakan sendiri mulai dari bikin lagu sampai produksi?

Rasanya plong! Karena proyek ini tertunda lama banget. Mungkin bisa dicatatkan di MURI sebagai album yang persiapannya paling lama, hehe. Saya memang mengerjakan semuanya hampir sendirian, bahkan kalau lagi rekaman saya kadang-kadang merangkap jadi ‘office girl’ juga, beliin makanan buat kru, musisi, dsb. Demo pertama saya buat sejak tahun 1997, dan master sudah jadi dari tahun 2002. Waktu itu kendalanya karena masih terikat di Sony, tapi ketika keluar dari RSD tahun 2003 pun saya masih belum bisa keluarin karena menikah lalu hamil, 2004 punya anak, 2005 Keenan masih kecil banget, nah… baru 2006 inilah, setelah sudah bener-bener nggak tahu album itu musti diapain, tahu-tahu jalannya terbuka begitu aja. Out of Shell pertama rilis di I-Tunes dulu, dua minggu kemudian baru di toko-toko. Sebagian pembiayaan album ini sempat dibantu juga oleh Triawan Munaf, tapi operasionalnya saya kerjakan sendiri.

2. RSD dulu sukses. Begitu pun buku-buku Anda, laku keras! Apa resepnya?

Wah, apa, ya? Mungkin karena semua dilakukan dengan cinta. Memang kecintaan saya ada di musik dan menulis. Ukuran laku sih relatif ya, tapi kalau kita melakukan profesi kita atas dasar cinta, passion, pasti hasilnya memuaskan, setidaknya dari ukuran kreatornya. Faktor lain yang nggak kalah penting lagi adalah kerja keras. Mempromosikan buku sebenarnya sangat melelahkan dan menyita waktu, makanya nggak semua penulis mau melakukannya. Tapi sejauh ini saya memilih untuk seoptimal mungkin berpromo karena saya rasa itu yang terbaik bagi buku itu sendiri.

3. Sepintas melihat Dee, yang terbayang Dee itu tipe pemikir dan orangnya serius. Tapi saat membaca beberapa karya Anda seperti Petir dan cerpen Rico De Coro (Filosofi Kopi), sepertinya sisi humor Anda tinggi juga bahkan cenderung “gila”. Benarkah?

Bener banget. Untuk banyak hal saya memang serius, sangat-sangat serius, saya senang berpikir, merenung, melamun, kontemplasi, dan bacaan saya juga kebanyakan serius dan berat. Tapi di sisi lain saya ini pencinta humor sejati, sangat senang tertawa, sangat ringan, konyol, bahkan “gila”. Itu terlihat dari sahabat-sahabat saya yang sangat beragam, dari mulai yang ancur-ancuran lucunya sampai ke para pemikir yang sangat serius. Dan memiliki kedua sisi itu, menurut saya, adalah cara terbaik untuk menikmati hidup. Ada yang bilang, ketika orang sudah mencapai pencerahan dia justru akan tertawa. Saya setuju banget. Untuk jadi tercerahkan biasanya kita setengah mati memeras hati dan otak, tapi kalau pada ujungnya nanti kita malah nggak bisa ketawa, maka pencarian itu sia-sia. Tidak ada cara terjitu untuk memaknai hidup selain lewat humor.

4. Imajinasi Anda pasti tinggi. Pernahkah merasa “kewalahan” dengan talenta Anda itu? Bagaimana Anda mengatur untuk dapat menampung seluruhnya dalam wadah yang tepat?

Kayaknya saya tiap hari kewalahan soal itu, deh. Haha! Dan memang itulah tantangan saya terbesar, mengorganisasi begitu banyak ide dan menyusunnya dalam rancangan kerja yang realistis. Selama ini, yang sering menjadi batu sandungan saya adalah jumlah ide dan keinginan yang tidak sinkron dengan kemampuan riil. Solusinya adalah kompromi dengan diri sendiri. Di kepala saya ada sepuluh proyek, tapi di atas kertas saya cuma bisa mencantumkan dua atau tiga, dan saya tidak boleh terhanyut rasa frustrasi atau gemas karena yang sisanya itu belum bisa direalisasi. Intinya sih, just get real. Dan untuk bisa realistis bagi seorang pemimpi seperti saya itu adalah tantangan besar.

5. Apa hal-hal yang bisa bikin Anda tertawa lepas dan gembira?

Almost anything. Saya punya sekelompok sahabat, yang kalau sudah dengan mereka dijamin saya bisa lepas dan gila. Dengan keluarga saya pun begitu juga, kami selalu mampu menemukan hal lucu. Momen terlucu yang baru-baru ini terjadi adalah ketika saya di restoran masakan Sunda di Cirebon, dan saya menemukan hal aneh di buku menunya. Jadi untuk menerjemahkan masakannya ke bahasa Inggris mereka pakai istilah Latin, mungkin karena ingin sekali terkesan serius dan akurat. Misalnya, “Keripik Emping” diterjemahkan jadi “Gnentum Gnenom Cracker”, “Ikan Mas Bakar” jadi “Grilled Cyphrinus Carpio”, “Pete Goreng” jadi “Fried Parkia Speciosa”, dan masih banyak lagi. Sumpah, saya ketawa sampai ternangis-nangis, setengah jam lebih nggak berhenti. I think that’s the best kind of humour. Ketika sesuatu tidak dimaksudkan untuk lucu, ditemukan nggak sengaja, dan absurd.

6. Apa sisi paling mengasyikkan dari pekerjaan Anda sekarang?

Bertemu begitu banyak orang yang berkualitas. Bertemu dengan para pembaca saya yang bilang ‘buku Anda menginspirasi saya’, ‘buku Anda mengubah hidup saya’. Itu tak terkatakan rasanya.

7. Anda bahagia menjadi Dee karena... ?

I can do what I love the most, and actually can make a living out of it. Untuk satu hal itu, I consider myself very, very lucky.

8. Orang-orang dekat Anda mengatakan Dee itu identik dengan apa?

Kata adik saya: Joget Norak dan Suara Dua. Haha! Berhubung di rumah cuma lagi ada dia, jadi saya nggak ada tambahan dari yang lain.

9. Anda pernah diprotes soal cover novel Akar yang menyinggung satu agama tertentu. Bagaimana reaksi dan sikap Anda menghadapi hal itu?

Setiap agama pasti punya kelompok chauvinist yang memang hobinya mengklaim ini-itu sebagai milik eksklusif kelompoknya, dan ini merupakan ciri umum dari agama di seluruh dunia. Ketika saya membahas masalah universal seperti spiritualitas, yang merupakan jantung tiap agama, pastinya akan beririsan dengan lapisan periferinya juga, yaitu dengan orang-orang yang pandangannya masih eksklusif dan sempit. Fenomena ini wajar sekali. There’s no wrong or right, hanya sudut pandang yang berbeda. Dan, saya pikir masyarakat pun bisa bijak melihat esensi dari masalah seperti itu. Toh di berbagai kasus yang serupa pun yang protes juga masih orang-orang yang sama.

10. Menurut Anda, sisi fearless Anda muncul pada saat Anda...

Saat saya jatuh cinta. Rasanya apa aja bisa dilakukan. And also in those short moments when I feel that life is actually a whole, inseparable, and everything is one.

11. Apa arti seksi buat Anda? Anda mengatakan seorang wanita tampak seksi bila?

Sexy is a state of mind. Sexy is an energy that when transcended becomes nothing but love. Jadi seksi sesungguhnya adalah kemampuan untuk mencinta. Ketika seseorang tampak sangat nyaman dengan dirinya sendiri, menurut saya itu sangat seksi. Penerimaan diri itu bukan hal yang mudah, tidak bisa dicapai dengan kosmetik atau operasi plastik, dan sepertinya orang-orang modern makin keras berjuang untuk bisa diterima. Mereka cari guidance dari majalah, dari iklan, dari macam-macam. Ada yang ketemu, tapi lebih banyak lagi yang malah tersesat. When a woman finally arrives at a point where she can claim: “This is me. And I’m happy and comfortable with myself”, it’s when she reaches the sexiest point of her life.

12. Anda suka membaca apa? Musik siapa yang Anda dengarkan?

Bacaan saya kebanyakan seputar spiritualitas, sains, filsafat, kesehatan, parenting, ekologi, dan beberapa fiksi. Kalau sekarang lagi suka baca bukunya Graham Hancock yang mendekonstruksi sejarah pra-primitif dan bicara soal The Lost Civilization, dan yang lebih menariknya lagi adalah ternyata penelitian tsb masih berhubungan dengan global warming yang kita hadapi sekarang. Lagi baca bukunya Osho juga. Untuk musik saya kebanyakan suka band atau singer-songwriter, saya suka Tears for Fears, Sarah McLachlan, Paula Cole, dll.

13. Apa pengaruh keluarga/orangtua dalam membentuk karakter Anda hingga seperti sekarang ini?

Sangat besar. Mereka tidak pernah intervensi kerjaan saya secara langsung, tapi keberadaan mereka sebagai sebuah sistem penyokong memungkinkan saya bisa berkembang seperti ini. Ayah saya sangat demokratis, berpikiran terbuka. Ibu saya cenderung disiplin, intelektual. Kakak-adik saya “gila” semua, mereka memang seniman-seniman sejak kecil, dan sampai sekarang pun bekerja di bidang seni. Jadi kreativitas sudah jadi kegiatan sehari-hari dari kami kanak-kanak.

14. Apa yang kamu lakukan untuk relaksasi, keluar dari 'rutinitas' sebagai selebriti?

Santai di rumah saja, nonton TV kabel, nggak keluar-keluar, bahkan seharian nggak mandi, itu sudah jadi relaksasi. Sesekali ke bioskop, atau nongkrong ketemu teman-teman lama.

15. Apa impian Anda saat ini?

Pingin travelling. Banyak sekali yang ingin saya lihat tapi sejauh ini waktunya belum ada. Mudah-mudahan setelah Keenan agak besar, setelah proyek-proyek buku selesai, saya ingin off dulu beberapa lama dan hanya travelling.

Monday, February 9, 2009

BUKUNE Majalah | Behind The Book: Supernova AKAR | Dec, 2006 | By Deta Oktaria

1. Mengenai cover buku "Akar", kenapa dulu cover itu bisa sampai bermasalah?

Pada cover depan Supernova ke-2 berjudul AKAR, saya memuat lambang Om (atau Aum). Lambang Om itu sendiri juga muncul di bagian dalam dan secara intrinsik terajut dalam cerita. Ternyata ada pihak yang menganggap bahwa Om sebagai lambang suci tidak layak dimuat dalam sampul novel, hanya di kitab suci. Dan juga Om itu eksklusif milik agama/budaya tertentu sehingga orang2 yang di luar dari penganut agama/budaya tsb tidak diperkenankan untuk memakai lambang Om dalam karya/keseharian mereka.

2. Siapa yang mempermasalahkan cover itu?

Sebuah organisasi pemuda berbasis Hindu di Bali. Menurut jubirnya, mereka hanya menampung aspirasi dari beberapa orang di lapisan masyarakat Bali yang merasa Om tidak pantas ada di sampul novel.

3. Perubahan apa yang dilakukan terhadap cover itu?

Sebetulnya kedua pihak (saya dan organisasi tsb) sudah sama-sama jelas dan sepakat bahwa penggunaan Om di cover AKAR tidak bermotivasikan penghinaan atau pelecehan, tapi untuk mengakomodir semua pihak maka kami memutuskan untuk mengubah sampul pada cetakan berikut. Saya tidak menyanggupi permintaan mereka untuk menarik buku cetakan pertama yang kadung beredar karena kesulitan teknis, dan akhirnya mereka juga setuju. Untuk cetakan berikut, sampul AKAR pada bagian Om akhirnya dibolongi.

4. Tahun berapa cover 'bermasalah' itu terbit?

Tahun 2002.

5. Apakah Mbak Dee kecewa dengan adanya masalah seperti ini?

Awalnya kecewa juga, karena menurut saya sikap eksklusivitas semacam itu kontraproduktif dengan universalitas nilai-nilai pihak itu sendiri. Tapi saya juga sadar sepenuhnya bahwa ini semua hanya keberagaman sudut pandang, jadi tidak usah dilebih-lebihkan. Saya sendiri nggak fanatik dengan desain cover, buktinya saya sering mengubah-ubah sampul buku saya sendiri dari cetakan ke cetakan. Jadi masalahnya memang bukan di desain, tapi persepsi yang memotori protes tersebut.