Showing posts with label Ide Supernova. Show all posts
Showing posts with label Ide Supernova. Show all posts

Wednesday, February 17, 2016

KOMPAS | Kompas Kita: Q&A Dee Lestari | Mei, 2015 | by Susie Berindra


Sudah lama Dee menuangkan ide lewat cerita dan juga lagu. Jika harus memilih, manakah yang paling memuaskan bagi Dee? - Anggun Gita Sari

Saya juga punya kebutuhan berbeda untuk setiap pendekatan bercerita. Bagi saya fiksi dan lagu itu komplementer sifatnya, tidak saling menggantikan. Kepuasan yang dihasilkan masing-masing format juga berbeda, meski pada intinya sama-sama bercerita.

Apakah ada misi khusus Dee dibalik penulisan Supernova sampai 5 jilid dan bahkan akan menerbitkan lagi yang keenam? Sejak awal sudah direncanakan Supernova akan sampai 6 jilid? - Iko Boangmanalu

Sudah direncanakan dari awal. Misinya sederhana: menyelesaikan cerita. Supernova episode pertama hanya sepotong dari keseluruhan cerita dalam kepala saya.

Apa yang menjadi resep Dee selalu produktif berkarya, baik itu dalam literasi atau musik? Lalu syarat apa yang mesti dipenuhi agar sebuah karya dapat diterima masyarakat? Bagus Setyoko Purwo

Tujuan saya berkarya semata-mata karena banyak yang ingin saya ungkapkan. Mungkin kalau sudah tidak ada lagi yang ingin disampaikan, baru saya berhenti. Saya rasa tidak ada syarat khusus agar karya kita diterima masyarakat, yang jelas karya yang disukai adalah karya yang mampu menciptakan ikatan dengan penikmatnya.

Sebagai penulis, pernahkan Anda  mengalami kebuntuan ide? Lalu bagaimana cara mengatasinya? Christina M

Kebuntuan yang ringan cukup diatasi dengan hal-hal yang sederhana, seperti istirahat, mandi, atau baca buku. Kalau cerita stagnan berkepanjangan, biasanya perlu dirombak secara teknis. Elemen fiksinya dikaji ulang dan diganti, bahkan ditulis ulang.

Bermusik dan menulis adalah kanal untuk berekspresi, itu yang saya baca dalam sebuah artikel ttg Mbak Dee. "Ritual" seperti apa sih yang selalu dilakukan untuk mendapatkan ekspresi yang mendalam saat bercerita lewat novel? Apa secangkir kopi punya "dongeng" tersendiri yg mempengaruhi setiap karya Mbak Dee Lestari? – Uniqa Wardhani

Tidak ada ritual khusus selain disiplin mendedikasikan waktu dan fokus sampai proyeknya selesai. Bekerja dengan takaran yang terhitung dan punya deadline. Kadang ditemani kopi, kadang tidak. Saya berusaha tidak fanatik pada satu ritual khusus karena saya tidak ingin menciptakan ketergantungan yang merepotkan. Kalau nggak ada kopi lalu jadi nggak bisa kerja, kan repot jadinya.

Kira-kira apa yang menginspirasi Dee sehingga film Filosofi Kopi berhasil ditayangkan? Apakah ada tokoh sehingga membuat Dee terinspirasi untuk membuat film tersebut? – Hesrianus Cengga
              
Keberhasilan Filosofi Kopi sebagai film adalah hasil kerja keras tim dari Visinema. Saya hanya melepas hak adaptasi dan membantu pembangunan cerita pada tahap awal. Cerpen Filosofi Kopi sudah saya tulis lama sekali, dari tahun 1996. Saya tidak membasiskannya pada siapa-siapa. Hanya ingin membuat cerita seputar kopi, itu saja.

Sejak kapan Anda menekuni aktivitas menulis? Apa motivasi Anda terjun ke dunia literasi? – Ardiansyah Bagus Suryanto

Sebagai hobi, dari kecil. Dari usia 9 tahun saya sudah mulai mencoba menulis cerita panjang. Secara profesional, baru tahun 2001 ketika Supernova terbit. Saya menulis karena saya merasa tema-tema yang saya suka belum banyak ditemukan di pustaka Indonesia. Pada dasarnya saya menulis apa yang saya ingin baca.

Membuat tulisan bertema science fiction tidaklah mudah. Kendala apa saja yang muncul ketika menulis? – Dwi Atika Sari

Intinya, membuat novel memang tidak mudah. Kita harus punya komitmen, intuisi bercerita, paham struktur dan menguasai teknik menulis. Mau itu science fiction atau chick lit, akan susah kalau penulisnya tidak punya minat kuat atas apa yang ia tulis. Selama penulisnya suka dan tertarik dengan tema tulisannya, ia akan menggali dengan semangat. Kesulitan utama menulis bukan di tema, tapi bagaimana bercerita sebaik dan sejernih mungkin.

Dee, walaupun hanya bisa berjumpa lewat tulisan ini, aku ingin menyampaikan bahwa aku apreciate dengan karya-karyamu. Kamu telah merampas tiga malamku untuk menyelesaikan tiga karyamu! Melalui media Kompas Kita ini, aku mau bertanya kepadamu, passion apa yang paling membuatmu berkarya sampai saat ini? Sekaligus apa yang Dee lakukan untuk menjaganya tetap ada dan membara? – Jois Efendi

Terima kasih untuk apresiasinya. Banyak ide dalam kepala saya. Medium yang saya suka adalah lagu dan tulisan. Keduanya adalah skill yang menarik dan menantang. Setiap karya adalah ajang saya untuk belajar dan melepas ide-ide dalam kepala saya.

Saat ini semakin banyak para penulis novel seperti Dee yang saling berebut untuk memenangkan hati para pembaca. Bagaimana Dee menanggapi hal ini, apa saja yang dilakukan Dee agar karya Dee dapat mendapat tempat di hati para pembaca untuk selalu menunggu karya-karya Dee selanjutnya? – Nurus Syarifah

Berusaha memuaskan pembaca adalah motivasi berbahaya bagi penulis. Pertama, karena kita tidak mungkin memuaskan semua orang. Kedua, kita kehilangan otensisitas atas apa yang menurut kita paling penting. Tulislah apa yang bagi kita penting, mendesak, menggemaskan. Dan, tulislah sebaik dan sejernih yang kita bisa. Itu saja resep saya.  

Saya baru baca Filosofi Kopi dan Madre. Dulu baca Supernova (Akar) tapi nggak ngeh dan pusing, hehe. Kapan bikin novel true story tentang Tuhan versi Dee yang teologinya kayaknya ‘timur’ banget? Atau tentang kehidupan pribadi Dee bagaimana kegetiran perceraian dan tentang anak-anak, atau cerita-cerita tentang riak-riak kehidupan di rumah? – Amin Nurrokhman

Belum tahu. Sekarang belum tergerak.

Saya sangat antusias membaca karya Mbak. Madre, Filosofi Kopi, adalah salah satu kegemaran saya. Materinya ringan tapi sarat dengan makna. Yang ingin saya tanyakan, pertama, apa arti menulis buat Mbak? Kedua, apakah Mbak merasakan apa yang Mbak tulis? – Nordin                   

Menulis bagi saya adalah seni menyampaikan ide. Merasakan dalam arti emosi, tentu pernah. Kalau saya menulis tentang hal yang sedih tapi tidak ikut merasakan kesedihannya, berarti tulisan itu belum berhasil.  

Apakah ide dari cerita yang Dee tuangkan dalam novel merupakan ide murni dari pemikiran Dee sendiri ataukah ditambah ide yang telah ada di novel kebanyakan? Saya juga sering mendapatkan ide untuk cerita tetapi ketika dituangkan rasanya sulit sekali. Pernahkah Dee mengalami hal seperti itu dan bagaimana solusinya? – Dharmana Dhini Cipta Telaga

Yang saya tulis selalu kombinasi dari imajinasi, hasil pengamatan, hasil pengalaman. Termasuk mungkin di dalamnya buku-buku yang pernah saya baca. Kesulitan menuangkan ide biasanya karena kurang latihan dan jam terbang, begitu sering dilakukan, kita akan tahu sendiri tekniknya.  

Adakah di antara karya Dee, baik buku maupun lagu, yang merupakan pengalaman pribadi Mbak Dewi? Saya mengusulkan bagaimana kalau yang menjadi tokoh utama dalam layar lebarnya adalah Mbak sendiri. – Zenny Anaria

Kalau pun ada pengalaman pribadi, biasanya sudah tercampur unsur lain. Saya belum pernah berkarya yang sifatnya otobiografis. Untuk menjadi tokoh utama dalam layar lebar, sejauh ini belum terpikir dan belum tertarik. 

Bagi saya novel-novel Mbak Dee adalah sebuah alternatif. Alternatif dari miskinnya gagasan di Indonesia kontemporer. Saat ini adalah eranya pragmatisme, materialisme, dan budaya instan. Jadi, novel, juga film yang diadaptasi dari novel Mbak Dee-lah jawaban atas budaya yang diusung dunia modern tadi. Saya berharap Mbak Dee terus menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk novel. Pertanyaan buat Mbak Dee, apa pendapatnya tentang kemalasan berpikir, budaya baca yang rendah, dan tradisi menulis yang belum mengakar dalam masyarakat Indonesia saat ini? – Darwinto

Terima kasih atas apresiasinya. Kalau kita bicara kultur, tentu kita bicara proses ratusan tahun, dan untuk membalikkannya tidak bisa dalam waktu singkat. Kita bisa menjadi agen perubahan dengan ikut aktif menjadi pelaku komunitas baca dan tulis. Mulai dari diri sendiri dan keluarga sendiri, misalnya. Setelah itu kita bisa melangkah lebih jauh dengan berkarya, bisa lewat blogging atau tulisan singkat. Dari level pemerintah juga banyak kebijakan yang bisa diberlakukan, salah satunya adalah bagaimana pemerintah bisa memproduksi buku lebih murah, mendorong penerjemahan, dan meningkatkan jumlah perpustakaan. 

Setiap penulis mempunyai diferensiasi pada karyanya, dan diferensiasi karya Dee ada pada tema yang selalu mengusung pencarian jati diri. Bagaimana defferensiasi itu awalnya terjadi? Apakah sengaja dibuat untuk membedakan karya Dee dgn karya-karya lain, atau ada dengan sendirinya? – Muh Turmudi              

Setiap penulis umumnya umumnya berkarya diawali oleh kegelisahan. Kegelisahan itu tidak bisa “diatur”. Segala bentukan lingkungan dan konstruksi batin seseorang akan memicu adanya kegelisahan yang kemudian diburu lewat mempertanyakan, lewat ekspresi seni, lewat kreasi, dan seterusnya. Kegelisahan saya yang terbesar memang sejak dulu berpusat di aspek spiritualitas.

Siapa sajakah yang menjadi inspirasi Dee dalam menulis novel ? – Laras Kusumaningtyas

Saya mengamati banyak orang, dan biasanya orang-orang yang saya temui bercampur menjadi karakter. Saking banyaknya saya tidak bisa lagi menyebutkan satu-satu.

Saya penasaran, dari mana nama pena "Dee" itu, serta apakah ada makna terselip di dalamnya? Bagaimana Dee menjalani multiperannya, yaitu ibu, penulis, penulis lagu, penyanyi? Mengalir saja, ataukah ada manajemen waktu sedemikian rupa sehingga tetap dapat menjalankan tugas di dalam rumah sekaligus menjalankan karier-kariernya? – Hesty Puji Rahayu

Waktu kuliah dulu, saya pakai ransel dengan inisial “D”. Sejak itu mulai suka dipanggil “D” (Dee) oleh beberapa orang. Saya senang dengan sebutan itu karena simpel. Menjalani multiperan mengalir saja dengan banyak trial and error, tentunya. Yang menantang adalah bagaimana menyusun prioritas dari waktu ke waktu, dan konsisten menjalaninya. Misal, ketika saya sudah harus intensif menulis, saya harus berani menolak banyak tawaran pekerjaan dan proyek kreatif lain, sebab waktu saya untuk rumah dan keluarga juga sudah memakan besar porsi hari-hari saya. Kalau saya ambil semuanya, pasti ada yang keteteran. Saya tidak ingin keluarga saya jadi korban hanya karena saya mengejar karier. Waktu 24 jam sehari tidak bisa ditambah, jadi saya harus memaksimalkan ketersediaan waktu yang ada.

Dee dan Arina (Mocca) kan adik kakak kandung, bagaimana bisa jadi figur yang keduanya penuh karya dan menginspirasi? Kalau boleh tahu bagaimana kebiasaan didikan keluarga sehingga bisa menjadi figur yang menginspirasi banyak orang? – Nida Hadaina Farida

Ketika kami kecil, kami tidak terpikir untuk bercita-cita jadi seniman. Tapi hidup kami sehari-hari memang sudah dipadati kegiatan seni, dari main musik, nyanyi, menggambar, dan sebagainya. Orang tua kami sangat mengutamakan soal akademis, dan itu jadi syarat untuk kami tetap meneruskan hobi seni. Di sisi lain, orang tua kami juga sangat suportif. Kami semua diberi kesempatan les musik. Rumah kami menjadi markas besar untuk kegiatan musik, latihan paduan suara sekolah, gereja, vokal group, band, dan lain-lain. Jadi, kegiatan berkesenian itu sudah seperti atmosfer tetap di rumah kami.

Monday, April 27, 2015

Majalah Sekolah Highscope | Menulis | Maret, 2015 | by Syafira Angelina


Saya pernah bertemu Anda di Indonesia Book Fair dan Anda menyatakan bahwa Anda sendiri bingung akan genre dari buku-buku Anda, terutama pentalogi Supernova ini. Mengapa?

Saya rasa genre lebih merupakan persoalan penerbit ketimbang penulis. Saya tidak terlalu sepakat sebetulnya kalau Supernova disebut fiksi ilmiah, karena basis saya menulis Supernova sebetulnya lebih ke spiritualitas ketimbang ilmiah, tapi sekali lagi, itu lebih menjadi opini dan “pe-er” dari pengamat dan penerbit. Apa pun genrenya, pada dasarnya saya hanya menuliskan apa yang saya suka.

Pembaca pasti tertarik akan gaya Anda yang menggabungkan romansa dan ilmiah. Ada alasan mengapa Anda menggabungkan dua hal yang menurut saya sendiri akan susah untuk digabungkan?

Sederhananya, karena itu kedua tema yang saya suka. Saya menggabungkannya bukan untuk memikat pembaca, melainkan untuk memuaskan diri saya sendiri terlebih dahulu.

Apa suka dan duka Anda menulis pentalogi Supernova ini? Terlebih lagi seri ini merupakan salah satu buku kontroversial di Indonesia yang membahas LGBT, kehidupan dewasa, dan hal-hal terlarang seperti ganja.

Saya rasa “membahas” beda dengan “menyetujui” atau “mengadvokasi”. Saya senang menulis sesuatu yang membuat orang berpikir dan meninjau ulang. Bukan demi pembaca menyepakati. Dukanya lebih karena sulit untuk membuat novel serial, dibutuhkan stamina yang kuat dan napas yang panjang untuk bisa bertahan. Sukanya karena puas mengerjakannya.

Siapa inspirasi Anda? Dan juga penulis yang sangat Anda hormati karyanya?

Inspirasi saya bukan orang tertentu, melainkan kehidupan itu sendiri. Banyak penulis yang saya suka. Yang bisa saya sebut salah satunya adalah Sapardi Djoko Damono.

Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh sudah dirilis sebagai film. Bisakah Anda menyatakan tentang bagaimana bisa Anda mempunyai ide untuk menjadikan buku ini sebagai sebuah film dan kesan Anda setelah film ini dirilis?

Yang punya ide adalah produser, sebenarnya. Mereka kemudian mengajukan penawaran untuk membeli hak adaptasi. Jadi, ide itu bukan berawal dari saya. Kesan saya untuk film KPBJ adalah film itu dibuat dengan kesungguhan dan berhasil menampilkan visual yang indah, ada beberapa catatan mengenai dialog dan jalan cerita, tapi secara keseluruhan film itu cukup membanggakan.

Apakah ada pemikiran untuk membuat Akar, Petir, Partikel, Gelombang, dan buku keenam Anda yang berjudul Inteligensi Embun Pagi sebagai sebuah film?

Sekali lagi, itu bergantung ada produser yang berminat atau tidak. Menjadikan buku saya film tidak pernah menjadi tujuan saya. Kalau ada yang berminat, tentunya akan saya jajaki dulu. Kalau memang ada kecocokan maka bisa tercipta kerjasama.

Di buku-buku Anda, saya menangkap bahwa Anda sangat menyukai ilmu tentang tidur dan hal-hal spiritual lainnya. Mengapa?

Lucid dreaming sebetulnya baru diungkap hanya di buku Gelombang, sebelumnya tidak pernah. Kalau hal yang spiritual, memang itu selalu menjadi minat saya, bahkan menjadi alasan untuk menulis Supernova. Kenapa? I don’t know for sure. Bagi saya, perihal itu penting dan menantang untuk ditelusuri.

Apa kunci sukses Anda selama ini?

Melakukan apa yang dicinta, menjalankannya dengan tekun, selalu memelihara rasa ingin tahu dan mau belajar.

Ada pesan-pesan untuk calon penulis remaja sebagai generasi penerus? Terutama untuk kami, anak-anak dari klub menulis Sekolah HighScope Indonesia.

Tulis apa yang ingin kalian baca. Temukan tema yang paling kalian suka, dan tekun berlatih dan menggali. Menulis adalah keahlian yang tak akan habis dipelajari seumur hidup. Jangan cepat puas.

Tuesday, December 23, 2014

Tabloid Wanita Indonesia | Rubrik: Bincang | Desember, 2014 | by Dewi Syafrianis

 
Halo Dee, apa kabar? Lagi sibuk apa? 

Kabar baik. Saya sedang terlibat beberapa penjurian lomba menulis dan merampungkan jadwal promosi Gelombang untuk akhir 2014 ini. 

Oh ya, Dee kan sudah nonton filmnya ya (waktu preskon, Sabtu 6 Des 2014). Puas nggak dengan hasilnya? Sudah sesuai dengan ekspektasikah? 

Menurut saya, filmnya cukup membanggakan, digarap dengan sangat serius dan produksinya luar biasa. Angin segar bagi perfilman Indonesia karena cerita dan penggarapannya yang tidak biasa. Tentunya, bukan tanpa catatan. Apalagi bagi saya yang nulis, ya. Tapi secara keseluruhan menurut saya filmnya amat layak ditonton. 

Boleh cerita lagi dong tentang ide awal menulis Supernova ini. Kan, katanya bisa dibilang ini tentang spiritual Dee yang diangkat dalam bentuk fiksi ya. Seperti apa tuh... 

Supernova saya tulis tahun 2000. Kira-kira setahun sebelumnya saya mengalami peristiwa yang mungkin bisa disebut “epifani” atau pencerahan kecil, yang mengubah pandangan saya tentang hidup. Dan sejak itu saya tertarik menyelami spiritualitas dan bagaimana hubungannya dengan dunia sains. Saya menulis Supernova karena ingin berbagi apa yang saya pikirkan. Karena saya bisanya ya nulis fiksi. 

Kesibukan Dee selain nulis novel apa lagi nih? Masih menekuni dunia menyanyi nggak sih?  Maksudnya di luar mencipta lagu ya. Apakah masih terima tawaran off air? 

Sedang enggak. Lagi fokus menulis saja. 

Seperti apa sih keasyikan menulis untuk Dee? 

Bagi saya, menulis adalah saluran berekspresi, jadi bukan sekadar asyik tapi juga kebutuhan. 

Sudah ada belum sih buku yang Dee buat bersama suami (Reza Gunawan)? Belakangan kan ada juga tuh penulis berkolaborasi dalam membuat novel. 

Belum. 

Olahraga kesukaan Dee apa sih? Apa manfaat yang didapat?

Saya cenderung suka olahraga yang cardio, seperti Body Combat, Taebo. Belakangan lagi coba interval training juga, kombinasi lari dan jalan. 

Apakah olahraga tersebut juga bagian dari me time? Kalau bukan, me time-nya apa tuh? 

Kalau buat saya, olahraga memang buat jaga kesehatan dan metabolisme. “Me time” lebih ke hal-hal yang relaks seperti membaca, melamun, meditasi, jalan-jalan, atau spa. 

Seperti apa bentuk dukungan suami terhadap karya-karya Dee selama ini? 

Dia seperti produser saya. Bukan soal kreatifnya, tapi soal jadwal. Soalnya peran saya kan bukan cuma penulis, tapi ibu dan istri. Jadi, dia ikut bantu menyusun jadwal kerja saya, dari mulai ngitung deadline sampai jam menulis, supaya peran saya yang lain nggak keteteran. Dan sejauh ini, peran dia sangat besar. Madre, Partikel, dan Gelombang nggak akan beres tepat waktu kalau bukan karena bantuannya.

Monday, December 22, 2014

Wawancara Skripsi | Supernova KPBJ | April, 2013 | by Nursa Bania


Apa yang mendorong Dee untuk menulis Supernova?

Saya tergerak menulis Supernova awalnya karena terjadi pergeseran paradigma dalam diri saya mengenai ketuhanan dan spiritualitas. Pada saat itu saya melihat bahwa akar segala konflik dan perpecahan manusia adalah karena pemahaman akan diri dan Tuhan yang  terpecah pula. Manifestasinya bisa dilihat di mana-mana, salah satunya adalah perpecahan antara sains dan agama. Saya mulai bergeser menuju paradigma holistik yakni melihat realitas sebagai fenomena utuh yang melampaui dualitas hitam-putih. Dan Supernova menjadi wahana bagi saya untuk berbagi sudut pandang ini. Pada dasarnya, Supernova adalah ‘sharing’ saya perihal spiritualitas yang dikemas dalam bentuk fiksi.

Apa yang melatarbelakangi Anda membuat tokoh Diva?  Mengapa Diva di sini berprofesi sebagai PSK?

Sebetulnya hal ini sudah saya ungkapkan dalam buku lewat percakapan Dimas - Reuben. Bahwa Diva adalah tokoh yang menggambarkan paradoks. Di satu sisi, ia memiliki profesi yang identik dengan pelacuran, tapi di sisi lain ia memiliki kebebasan dengan derajat amat tinggi. Dalam perspektifnya, ia melihat dunia yang penuh dengan pelacuran yang tak disadari. Semua orang melacurkan dirinya dalam satu dan lain hal. Mereka yang melacur pikiran dan waktu demi uang, demi jabatan, dan status sosial. Sementara bagi Diva, apa yang ia lakukan hanyalah pelacuran fisik, sesuatu yang menurut dia paling layak dilacurkan, tapi ia tidak pernah melacurkan pikiran dan kebebasannya berpikir.

Mengapa diberi nama Diva?

Saya suka nama itu.

Dalam novel ini, disebutkan Diva sebagai Bintang Jatuh, mengapa demikian?

Kembali, hal ini sudah diungkapkan langsung oleh Dimas dan Reuben dalam percakapan mereka. Semua tokoh dalam dongeng yang mereka susun secara paralel memiliki manifestasi di realitas lain. Seperti halnya Ferre adalah Kesatria, Rana adalah Puteri, dan Diva adalah Bintang Jatuh.


Sunday, December 21, 2014

Nylon Magazine | Supernova PARTIKEL | April 2012 | by Alexander Kusuma Praja


Awalnya saya mau bertanya tentang kenapa begitu lamanya rentang waktu dari Petir ke Partikel, but you already explain it on the book, so yang hendak saya tanya sekarang adalah how do you feel right now setelah Partikel dirilis?

Mixed of feelings. Yang mendominasi tentu saja rasa lega, sekaligus excited ingin tahu respons pembaca bagaimana, apalagi mereka yang sudah menunggu bertahun-tahun. So far, I'm overwhelmed with the warm response, beyond happy!

Bolehkah ceritakan sedikit bagaimana dulu Anda bisa terpikir untuk membuat novel Supernova pertama kali? Apa yang membuatmu tergerak untuk menulisnya?

Saya menulis Supernova tahun 2000, tak lama setelah saya mengalami semacam "epifani" personal yang mengubah total pandangan saya terhadap spiritualitas, religi, dsb. Dulu tujuannya bikin Supernova sebetulnya tidak lebih dari berbagi penelusuran spiritual pribadi saya.

Bagian apa yang paling susah/menyenangkan dalam menyelesaikan Partikel?

Paling susah adalah waktu. Saya menulis Partikel dalam kondisi sudah ada anak dua, yang satu sudah SD, yang satu masih balita, di tengah gempuran berbagai urusan pekerjaan dan mengurus rumah tangga. It felt almost impossible. Tapi dengan dukungan suami saya dan orang-orang rumah, keleluasaan dari penerbit, dan juga tekad yang memang sudah bulat untuk menyelesaikan manuskrip Partikel, akhirnya bisa juga. Yang paling menyenangkan tentunya adalah proses menulis itu sendiri. Bisa tenggelam dalam semesta kehidupan karakter saya. It's a pleasant and exciting process, bahkan saat sulit sekalipun. If it's pain, then it's a good pain.

Buku-buku atau materi apa saja yang paling membantu Anda sebagai referensi/bahan riset untuk Partikel?

Setiap bagian atau babak punya referensi tersendiri. Tiga yang paling membantu adalah buku-buku dan penelitian Paul Stamets tentang fungi, Graham Hancock tentang enteogen, dan Birute Galdikas tentang orang utan. Selain itu masih banyak lagi, tapi bisa dibilang pondasi terkuat adalah tiga penulis tadi.

Saat menulis tentang sebuah tokoh, apakah Anda membayangkan sosok orang tertentu yang pernah Anda lihat atau kenal?

Hampir selalu. Kadang juga meramu beberapa orang menjadi satu. Terkadang saya pinjam namanya, atau fisiknya.

Ini murni penasaran, jika Mbak Dee keberatan pertanyaan ini dimuat saya bisa memakluminya. Di Partikel Anda menuliskan dengan begitu gamblang tentang efek dari enteogen, apakah Anda juga mencoba mengonsumsinya untuk mengetahui efeknya?

Sayangnya tidak. I wish I had, though. Tiga tahun lalu saya sudah berencana ke Peru untuk ikut retret Ayahuasca, tapi batal karena hamil anak kedua. Akhirnya, murni riset informasi tangan kedua. Tapi, pengalaman bermeditasi amat sangat menolong. Ketika saya membaca dan tanya jawab dengan mereka yang sudah mengalami, saya sangat bisa relate. 

How do you manage to balance the family life and writing?

I don't think there's any certain formula to that. Dijalankan saja, lengkap dengan trial dan error tentunya. Selalu ada konsekuensi. Ketika menulis Partikel, saya sempat "disapih" oleh Atisha, anak kedua saya, padahal saya masih berencana menyusuinya. Mungkin dia merasa vibrasi ibunya jadi agak lain. Tapi begitu manuskrip selesai, pelan-pelan dia balik lagi menyusui. Sekarang sudah normal lagi. Suamiku, Reza Gunawan, yang untungnya terapis, juga kenyang dengan ups and downs yang saya alami, ketika stuck, ketika riset mentok, dsb. He was really, really, my strongest pillar throughout the process.

Bagaimana dengan project selanjutnya? Saya dengar Perahu Kertas akan difilmkan, boleh diceritakan sedikit keterlibatan Anda dalam pembuatannya?

Perahu Kertas sudah selesai syuting, akan tayang Agustus. Saya menulis skenario dan menggawangi hingga proses casting kemarin. Sisanya sudah di tangan Hanung Bramantyo dan para produser, tentunya. Untuk menulis, saya akan melanjutkan penulisan Supernova selanjutnya. Sekarang masih dalam tahap riset. Ada beberapa buku saya lain yang akan difilmkan juga, tapi saya nggak akan terlibat jauh. Mau menyelesaikan Supernova dulu.

Sekarang banyak novel Indonesia yang dialihbahasakan ke Bahasa Inggris, ada rencana serupa untuk Supernova?

Supernova pertama sudah diterjemahkan oleh Harry Aveling, diterbitkan oleh Lontar, dan dijual di iBooks dan Amazon. Episode lainnya belum.

Untuk sekarang, apa yang sedang Anda inginkan?

Beristirahat dulu. It was quite a roller coaster, secara batin terkuras tiap kali menulis intensif.

As a fan and your reader, saya tidak bisa menahan diri untuk bertanya, kapan Gelombang akan dirilis? Apakah Anda sudah mulai menulis beberapa bagiannya atau belum sama sekali?

Semua episode Supernova sudah saya buat konsepnya sejak 2001. Jadi embrio Gelombang sudah lama ada. Rencananya saya menulis maraton, sih. Jadi tidak ada proyek menulis lain sampai Supernova selesai.

Apa mimpi-mimpi Anda yang belum terwujud?

Hmm. Apa, ya. Saat ini rasanya saya lebih condong melihat sesuatu jarak pendek, nggak terlalu panjang-panjang lagi. Dalam jarak dekat ini "impian" saya adalah menyelesaikan Supernova. Tapi sebetulnya itu lebih ke target daripada "mimpi".

Apa tanggapan paling berkesan yang pernah Anda terima dari pembaca Anda?

Sejauh ini, pertemuan saya dengan seorang pembaca saya bernama Pak Kas yang pernah saya ceritakan di Twitter adalah hal yang paling berkesan yang pernah saya alami selama jadi penulis. Intinya, ketika seseorang merasa diubah hidupnya oleh buku atau tulisan saya, that's like the greatest award ever.

Bagaimana sih hari/suasana paling menyenangkan bagi seorang Dee untuk menulis?

Yang sepi, yang tenang, tidak diganggu.

Ada yang ingin disampaikan untuk yang sedang membaca artikel ini?

Bacalah Partikel. Hehe.

Komunitas Kastil Fantasi | Supernova PARTIKEL | Juli, 2012 | by Dian Kartawiria


Sewaktu dulu pertama kali menulis serial Supernova, apa yang ada di bayangan Dee mengenai serial ini? Apa ekspektasi Dee terhadap serial ini sewaktu pertama kali ditulis? 

Singkat kata, berbagi apa yang menjadi ketertarikan sekaligus penelusuran pribadi saya. Magnet utama saya dalam menulis adalah spiritualitas. Tema tentang pencarian jati diri dan kontemplasi akan makna kehidupan, keilahian, dan cinta, adalah sesuatu yang menarik buat saya. Dan saya ingin berbagi itu. Tidak ada ekspektasi saat kali pertama menerbitkan Supernova, sejujurnya saya menulis Supernova hanya untuk menghadiahi diri sendiri kado ulang tahun ke-25. Ada yang baca syukur, enggak juga nggak apa-apa. 

Apakah ada pesan khusus yang ingin disampaikan Dee melalui Supernova Partikel? Pesan moral, misalnya? 

Saya bukan penulis yang suka dengan pesan moral. Saya tidak suka bacaan yang disisipi pesan-pesan moral. Saya suka bacaan yang membuat orang terusik, bertanya, mencari, merenung, dan bukan pasif menerima. Demikian juga ketika saya menulis Supernova, termasuk Partikel, saya tidak berniat memberikan pesan moral, melainkan mengungkapkan banyak pertanyaan tentang asal-usul manusia, relasi manusia dengan lingkungan, dan seterusnya. Bagaimana pembaca menyikapinya, menurut saya itu akan tergantung keingintahuan mereka sendiri, dan saya tidak punya kendali atasnya. 

Siapa karakter terfavorit Dee di Supernova Partikel? Adegan/plot apa yang jadi terfavorit Dee di buku itu? 

Firas. Dia mewakili orang-orang yang terpinggirkan di masyarakat, yang karena kecerdasan dan rasa ingin tahunya, mengakibatkan ia menjadi sosok yang tidak konvensional, akibatnya ia terlihat begitu kontras dengan lingkungannya. Saya juga sangat menyukai Zachary Nolan, ia adalah sosok yang bisa menjadi sahabat saya di dunia nyata. Adegan yang sangat meninggalkan kesan bagi saya adalah kelahiran Adek. Adegan itu sangat mencekam saya, dan itulah kali pertama saya meneteskan air mata dalam proses menulis Partikel. 

Apakah Sarah adalah tokoh fiktif? 

Iya. 

Saya dengar Bukit Jambul terinspirasi setelah Dee menonton Tintin, benarkah? 

Sama sekali tidak. Dengar dari mana, ya? Bukit Jambul secara fisik saya ambil dari sebuah bukit yang sering saya lewati di perjalanan Bandung-Jakarta. Di kilometer 90-an Tol Cipularang, ada sebuah bukit yang berbeda sendiri dari bukit-bukit sekitarnya. Pohonnya tua dan besar-besar. Saya sering mengamati dan penasaran, bagaimana bisa dia beda sendiri? Kenapa tidak dijadikan ladang seperti bukit sekitarnya? Lalu, saya menamainya dalam hati: Bukit Jambul. Itulah yang kemudian saya ambil. Sementara untuk fenomena Bukit Jambul di dalam Partikel itu sih murni imajinasi, saya ciptakan untuk kebutuhan plot. 

Selain menulis, apa kegiatan sehari-hari Dee yang lain sekarang ini? Bagaimana cara Dee membagi waktu untuk menulis? Apa ada tips mengenai ini untuk teman-teman yang ingin mulai menulis juga? 

Sekarang saya sedang nggak menulis. Saya malah sedang beristirahat. Memberikan benak saya rihat setelah menulis intensif hampir setahun. Jeda seperti ini bagi saya penting. Seperti baru melahirkan anak, fisik kita pun harus istirahat total dulu agar bisa pulih seperti sediakala. Demikian juga yang selalu saya lakukan sehabis menulis buku. Saat ini saya sedang menjalankan tur booksigning keliling Indonesia. Ada 15 event yang akan berjalan hingga bulan September. Sekarang baru setengahnya.
Tidak ada tips khusus untuk membagi waktu. Saya pun menjalaninya dengan trial and error. Punya deadline akan sangat membantu kita agar disiplin dan punya target waktu yang jelas. Setelah ada deadline, manajemen waktu akan terbentuk dengan sendirinya. Ada yang mungkin menulis harian, atau menulis tiap akhir pekan, bebas saja. Sesuaikan dengan ritme dan aktivitas harian kita. Saya sendiri menggunakan patokan jumlah halaman. Ada jumlah tertentu yang harus saya penuhi setiap harinya. 

Apa proyek menulis Dee setelah Supernova Partikel? Apakah sekarang tengah melanjutkan ke Gelombang atau mungkin sedang mengerjakan buku lain? 

Langsung Gelombang. Target saya sekarang adalah menyelesaikan serial Supernova. Jadi, saya tidak mengambil proyek menulis apa pun hingga Supernova selesai. Dan bukan cuma proyek menulis saja, biasanya saya rihat total dari berbagai pekerjaan non-menulis, termasuk talkshow, promosi, dll. Benar-benar saya seleksi dan sedikit sekali yang saya ambil.


Pertanyaan dari Fred, pembaca di Jakarta:

Saya beranggapan kalau perubahan gaya kepenulisan di tiap-tiap buku serial Supernova adalah karena sengaja menyesuaikan dengan gaya narasi tokoh utama yang menjadi sentral dalam tiap-tiap buku, misalnya Partikel ditulis dalam gaya narasi Zarah, Petir bergaya narasi Elektra, dst. Apa pendapat Dee tentang hal ini? 

Pengamatan yang sangat tepat. Untuk konsep serial Supernova, dan gaya penulisan saya secara umum, adalah berserah pada karakter. Mereka yang maju. Bukan saya. Dan konsekuensinya adalah, saya bercerita lewat suara mereka, gaya mereka, preferensi mereka. Bukan Dewi Lestari. Makanya setiap episode berbeda-beda. 

Kalau boleh tahu, kenapa Petir tidak mendapatkan surat dari Supernova, ya? 

Masih rahasia. Akan diungkap belakangan. Ditunggu saja. 

Ketika mencari referensi untuk tulisan-tulisan fiksi, sumber dari mana yang paling menjadi favorit Dee? Apakah ada contoh sumber yang menurut Dee paling/sangat menarik atau informatif sehingga sampai saat ini masih teringat selalu? (Misalnya: dari internet, yang masih teringat adalah website “ABCD”; atau dari buku-buku referensi, yang masih teringat judulnya “XYZ”) 

Metode favorit saya adalah wawancara dan observasi langsung ke lapangan. Baru riset pustaka. Namun, tidak banyak juga kesempatan wawancara atau observasi langsung yang saya miliki. Akhirnya, hampir semua riset yang saya lakukan, khususnya Partikel, adalah melalui riset pustaka. Yang juga sangat membantu adalah menonton video, belakangan itu yang saya sering lakukan. Karena kita tidak cuma membaca data, tapi melihat wujud visualnya, jadi nuansanya lebih kaya. Salah satu yang paling berkesan selama riset Partikel adalah ketika saya bertemu dengan karya-karyanya Paul Stamets tentang fungi, dan juga menonton video-video presentasinya. Selain itu, bisa berkenalan dengan Dr. Birute Galdikas yang bukunya benar-benar menjadi panduan saya untuk menuliskan babak Tanjung Puting.

Pertanyaan dari Michael, pembaca di Jakarta:

Menurut Dee, genre Supernova ini apa? 

Tidak tahu. Bagi saya, fiksi atau sastra saja sudah cukup. Saya sendiri tidak terlalu sependapat jika Supernova disebut sci-fi. Benang merah serial Supernova bukan terletak pada sains-nya. Buktinya, di Akar dan Petir, hal tersebut hampir tidak muncul. Yang menjadi benang merah justru penelusuran spiritualnya. Tapi saya merasa, orang-orang menyebutnya sci-fi sebagai simplifikasi saja, atau pengamatan parsial berdasarkan beberapa episode Supernova saja. 

Adakah penulis atau buku tertentu yang mempengaruhi penulisan Supernova Partikel? 

Untuk Partikel saya lebih banyak membaca buku nonfiksi, untuk keperluan riset. Jumlahnya banyak, tidak bisa saya sebutkan satu-satu. Antara lain adalah karya-karyanya Graham Hancock, Andrew Collins, Paul Stamets, Birute Galdikas, Albert Hoffman, Daniel Pinchbek, dst. Sudah saya tulis di Kata Pengantar. Secara penulisan, tidak ada yang spesifik. Namun, saya banyak belajar dari beberapa novel luar genre suspense, saya mengamati cara mereka menyusun plot. Sedikit banyak itu mempengaruhi saya dalam penulisan Partikel.

Saat ini, Dee sangat dipengaruhi oleh penulis siapa? 

Fiksi, maksudnya? Tidak ada yang jelas. Karena jarang baca fiksi, saya tidak bisa menunjuk penulis atau buku yang saat ini sangat berpengaruh untuk saya. Nonfiksi sih, banyak. Antara lain yang tadi sudah saya sebutkan di atas. "Dipengaruhi" di sini maknanya adalah saya tertarik dengan apa yang mereka ungkapkan dalam karyanya.

Jawa Pos | Buku: Partikel | April, 2012


Rangkaian buku Supernova seperti perjalanan spiritual seorang Dee, bisa diceritakan bagaimana ceritanya Dee tertarik untuk menuliskannya? Dan mengapa tertarik untuk menuliskannya?

Awal saya menulis manuskrip Supernova pada awal tahun 2000 adalah karena beberapa bulan sebelumnya, yakni di akhir 2009, saya mengalami semacam epifani, atau sebutlah pencerahan kecil, yang mengubah total pandangan saya terhadap hidup dan eksistensi manusia. Pada kurun waktu yang sama, di Indonesia juga sedang banyak terjadi isu kekerasan atas nama agama, dan hal itu semakin memicu dan menggerakkan saya untuk menulis. Jadi, antara ingin menyuarakan keprihatinan sekaligus berbagi pemikiran saya saat itu. Dan karena saya senangnya menulis fiksi, ya sudah, itulah jalur yang saya pilih, dan akhirnya lahirlah Supernova. 

Setiap seri Supernova selalu mencantumkan kisah dengan latar belakang agama yang berbeda-beda, untuk Partikel kali ini adalah Islam, adakah alasan khusus? 

Sebetulnya karena namanya, yakni Zarah. Pemilihan nama tokoh sudah saya lakukan sejak tahun 2001. Dan karena Zarah adalah nama Arab, akhirnya saya pilih penokohan keluarga keturunan Arab, ya otomatis keluarga muslim. Jadi, bukan karena agamanya sendiri, begitu juga dengan tokoh-tokoh yang lain, saya sesuaikan dengan logika nama, kesesuaian cerita, dsb. 

Dalam beberapa karya Dee, selalu ditekankan jika kita berusaha peka dengan alam, maka alam akan memberi banyak pertanda untuk kita. Begitu juga dalam Partikel, apakah yang membuat Dee begitu percaya dengan itu? 

Iya, saya percaya itu. Dan sepertinya kepercayaan yang sama telah bersama-sama dengan manusia sejak eksistensi kita dimulai. Fase animisme, dinamisme, shamanisme, paganisme, dan juga kultur-kultur tradisional di seluruh dunia membuktikan adanya kedekatan manusia dengan alam, dengan cara membaca pertanda di langit, di bumi, dst. Sampai sekarang yang mempraktikkan hal tersebut pun masih sangat banyak. 

Adakah pengalaman pribadi yang Dee tuliskan dalam novel Partikel? 

Semua karya fiksi saya adalah gabungan dari pengalaman pribadi, observasi, imajinasi, dan riset. Demikian juga dengan Partikel. Susah untuk saya menjabarkan mana-mana yang diambil dari kehidupan nyata dan mana yang fiksi, kadang ada nama, ada peristiwa, ada tempat. Sebaiknya dinikmati saja sebagai satu keutuhan. 

Setelah ini proyek novel apakah yang akan segera Dee kerjakan? Tentang apa dan kapan ngerjainnya? Dan, seri Supernova berikutnya kapan akan dikerjakan dan kapan rilis? 

Komitmen saya untuk karya tulis adalah menyelesaikan serial Supernova sebelum yang lain-lainnya. Jadi setelah ini yang saya garap adalah episode kelima Supernova, yakni Gelombang. Saat ini masih sedang tahap riset. Rencana rilis belum bisa saya perkirakan. Mudah-mudahan bisa tahun depan.

Wawancara Skripsi | Supernova AKAR | Januari, 2007 | by Isma Noor Anggraeni

-->
Apa yang mendorong Dee untuk menulis Supernova? 

Saya tergerak menulis Supernova awalnya karena terjadi pergeseran paradigma dalam diri saya mengenai ketuhanan dan spiritualitas. Pada saat itu saya melihat bahwa akar segala konflik dan perpecahan manusia adalah karena pemahaman akan diri dan Tuhan yang  terpecah pula. Manifestasinya bisa dilihat di mana-mana, salah satunya adalah perpecahan antara sains dan agama. Saya mulai bergeser menuju paradigma holistik yakni melihat realitas sebagai fenomena utuh yang melampaui dualitas hitam-putih. Dan Supernova menjadi wahana bagi saya untuk berbagi sudut pandang ini. Pada dasarnya, Supernova adalah ‘sharing’ saya perihal spiritualitas yang dikemas dalam bentuk fiksi.

Dari mana muncul ide khusus untuk episode Akar? 

Akar adalah bagian dari babak ke-2 Supernova, yakni pengenalan empat tokoh baru yang mewakili empat karakter pencarian jatidiri yang berbeda-beda, tiga yang lainnya adalah: Petir, Partikel, dan Gelombang. Jadi episode Akar merupakan bagian intrinsik bersama-sama tiga episode lainnya. Akar dan Petir saling bercermin, Partikel saling bercermin dengan Gelombang. Jadi Akar dan Petir adalah bagian yang secara konseptual tidak terpisahkan, karena Akar yang merupakan elemen bumi melambangkan pencarian ke dalam diri, berpasangan dengan Petir yang merupakan elemen langit melambangkan pencarian ke luar diri. Kedua-duanya saling melengkapi. 

Dari mana munculnya inspirasi mengenai tokoh Bodhi? 

Saya ingin menciptakan tokoh yang seolah ‘tercerabut’ dari akarnya. Bodhi adalah tokoh soliter; yatim-piatu, independen, selalu hidup dalam lingkungan komunitas dan menemukan arti keluarga pada orang-orang yang tidak sedarah dengannya, dan dia juga dianugerahi kelebihan yang malah membuatnya semakin teralienasi. Jadi Bodhi digambarkan sebagai tokoh yang terobsesi untuk mencari akarnya: siapa dia, mengapa dia bisa terlahir seperti itu, dsb. Dan itu disesuaikan dengan tema pencarian jatidiri untuk episode Akar yang tentunya akan berbeda-beda dengan episode lain.

Mengapa Dee menamai tokoh utamanya dengan nama Bodhi? 

Bodhi saya ambil dari pohon bodhi, tempat Siddhartha Gautama bersemadi dan beroleh pencerahan. Ada keselarasan ‘bodhi’ sebagai pohon yang bisa dibilang sakral dengan tema ‘akar’ itu sendiri. Dan untuk itu saya sengaja membuat tokoh Buddhis sehingga keseluruhan cerita selaras dengan elemen-elemen yang saya pilih. 

Mengapa Bodhi digambarkan memiliki ciri fisik yang anomali? 

Bodhi memang tokoh digambarkan sebagai tokoh misterius. Dia overloaded dengan kemampuan indera ke-enam, asal usulnya tidak jelas, dan fisiknya juga tidak biasa. Dan pergelutannya adalah bagaimana menjadi ‘normal’. Anomali fisiknya termasuk dari penekanan karateristik dia yang misterius. Bodhi akan selalu mendapat tantangan yang datang dari ‘keanehan’ dirinya hingga pada akhirnya nanti ia mampu mengetahui rahasia dirinya dan menerima peran serta fungsinya. Tidak bisa saya jelaskan lebih lanjut karena ini adalah bagian dari episode Supernova selanjutnya. 

Mengapa tema Buddhisme dan Punk mendominasi episode Akar? 

Saya memilih Buddhisme secara khusus karena pendekatan ajaran Buddha dalam mendedah realitas selaras dengan paradigma holistik yang mampu menjembatani jurang antara sains dan religi, yang saya ungkap di no 1 di atas.

Menurut Dee, salahkah jika saya meneliti Buddhisme dan Punk sebagai budaya? 

Menurut saya, Buddhisme tidak terlalu tepat jika dipahami sebagai budaya. Buddhisme pada esensinya adalah ajaran Sang Buddha untuk memahami realitas hidup dan diri. Buddhisme sebagai budaya hanyalah ‘by-product’. Asimilasi Buddhisme dan budaya termanifestasi dalam bentuk bermacam-macam, misalnya aliran-aliran dalam ajaran Buddhisme (Tibetan, Mahayana, Hinayana, dll) yang di dalamnya terdapat perbedaan-perbedaan yang bersifat ritualistik saja. Jadi apabila Buddhisme diteliti sebagai budaya, harus sangat berhati-hati untuk menentukan budaya yang mana, karena asimilasi Buddhisme dengan budaya sudah sangat banyak ragamnya. Sementara untuk meneliti Punk sebagai budaya tidak ada masalah, menurut saya.

Apakah Bodhi menganut dan meyakini ajaran Buddha, atau hanya menjalaninya sebagai kebiasaan yang dibawa sedari kecil? Jika iya, aliran manakah yang diikuti Bodhi? 

Dilema Bodhi justru terletak pada menemukan makna baru dalam keyakinannya. Jadi Bodhi menganut dan meyakini ajaran Buddha, dan itu sekaligus dikarenakan ia dibesarkan dalam lingkungan vihara.  Perjalanan batin yang terungkap dalam Akar menunjukkan kebimbangan sekaligus kerinduannya untuk bertemu kesejatian diri lewat apa yang sudah ia dapat dari ajaran Buddha namun perlu ia maknai ulang. Saya tidak mengungkap secara eksplisit aliran yang diikuti Bodhi, walaupun kecenderungan yang saya pakai adalah Mahayana. Tapi sebetulnya Buddhisme dalam Akar dipakai esensinya saja, jadi lepas dari denominasi.

Apakah Bodhi mengakui dan meyakini filosofi Punk? Jika iya mengapa? 

Dalam posisinya, Bodhi tidak ‘mengakui’ atau ‘meyakini’, tapi dia dekat dan bergaul dengan lingkungan punk. Filosofi punk sendiri diwakili oleh Bong, dan bukan Bodhi. Kedekatan Bodhi dengan lingkungan Punk dikarenakan gaya hidup dan profesi yang dia pilih, yakni independensi dan tattoo. Saya memilih Punk karena implikasi yang dibawanya selaras dengan kehidupan Bodhi yang ingin saya bentuk. Bodhi sebatang kara tapi ia mampu mandiri, punya penghasilan. Punk memiliki filosofi D.I.Y yaitu Do It Yourself, dan menurut hasil riset yang saya lakukan di komunitas Punk, profesi yang ‘lumayan menghasilkan’ dalam dunia itu adalah tindik dan tattoo, atau jadi bandar ganja/narkoba. Yang terakhir jelas tidak mungkin untuk Bodhi, dan saya memilih tattoo karena ada simbol2 yang ingin digambarkan dalam Akar jadi tattoo sebagai seni bisa menjadi wahana yang tepat. Dalam Punk juga ada aliran Straight Edge, dan ini bisa menjadi ‘kedok’ bagi anomali Bodhi di tengah komunitas Punk. 

Mengapa Bodhi merasa nyaman di lingkungan Punk? 

Bodhi menghargai kemerdekaan berpikir, resistensi terhadap sistem opresif, dan juga kemandirian yang diusung oleh filosofi Punk. Tentunya tidak semua anak Punk sampai pada level sedalam itu, tapi di sini Bodhi menemukan role model dari tokoh Bong, yang memang digambarkan sebagai anak cerdas dan pemikir sejati.

Gaya hidup Bodhi yang seperti bikkhu membuatnya tampak seperti penganut Straight Edge di tengah-tengah komunitas Punk. Apakah itu merupakan unsur kesengajaan dari Dee untuk menunjukkan kepaduan  antara Buddhisme dan Punk dalam dirinya? 

Ya, seperti yang sudah saya jelaskan di atas, Straight Edge menjadi ‘excuse’ dari sterilnya Bodhi, sehingga dia tidak dianggap aneh di kalangan Punk berhubung pilihan hidupnya yang vegetarian, tidak merokok, tidak minum/mabuk, dsb. 

Apa kekhususan Episode Akar? 

Karakteristik khusus Akar terletak pada Bodhi. Demikian juga Petir yang kekhususannya terletak pada Elektra. Ini kembali lagi kepada konsep bahwa empat buku yang termasuk babak ke-2 Supernova ini memang dikhususkan untuk menceritakan per tokoh dengan mendetail. Mereka adalah empat manusia berbeda dengan pergulatan batin yang berbeda-beda, tapi mereka bermuara dalam satu pencarian jatidiri. Akar sangat kental unsur kontemplasinya, petualangan, traveling, dan Buddhisme. 

Bagaimana Pandangan, Kepercayaan, Stereotipe, dan Prasangka Dee  terhadap Buddhisme dan Punk? 

Buddhisme bagi saya identik dengan keheningan, penerimaan realitas sebagaimana adanya, dan ketiadaan diri. Sementara Punk identik dengan musik gaduh, resistensi, dan peneguhan kekuatan individu. Walaupun seperti bertolak belakang tapi baik Buddhisme dan Punk sama-sama menuntut upaya mandiri seseorang untuk membebaskan dirinya. Buddhisme menekankan pembebasan diri dari ilusi dan dukkha (penderitaan) dengan pembuktian sendiri (prinsip ehipassiko: lihat dan buktikan). Buddha selalu mengatakan ia tidak bisa memberikan pencerahan, ia hanya bisa menunjukkan jalannya. Punk menekankan pembebasan diri dari sistem opresif yang diwakili oleh kapitalisme, di mana setiap orang harus disadarkan bahwa selama ini mereka hanya sapi-sapi perah mesin kapitalis. Jadi menurut saya, keduanya bergerak dengan semangat pembebasan walaupun dalam level kedalaman yang berbeda. 

Seperti apa Representasi Mental Dee yang tercurahkan dalam Episode Akar? Apa saja nilai-nilai pribadi Dee yang tercermin dalam Episode Akar? 

Semua pencarian jatidiri dalam tokoh-tokoh saya adalah pencarian saya juga. Jadi kegelisahan Bodhi adalah kegelisahan saya, pencerahan dia adalah pencerahan saya, dsb. Saya menghargai filosofi Punk, saya juga merasa selaras dengan kebenaran dalam ajaran Buddha. Saya juga merasa ada konektivitas kuat antara mitos (yang diwakili oleh Star dan Kell) dan realitas sehari-hari yang diwakili matematika geometri suci, dll. Pada prinsipnya, saya menulis apa yang saya percaya. 

Bagaimana proses penulisan Episode Akar mempengaruhi Dee baik sebagai pribadi maupun sebagai penulis? 

Akar mempengaruhi saya cukup dalam. Setelah menulis Akar, saya tergerak untuk mempelajari ajaran Buddha lebih intens. Dari segi kepenulisan, di Akar untuk pertama kalinya saya mencoba teknik narasi mengalir tanpa tanda petik, menekan keakuan penulis dan membiarkan karakter saya Bodhi yang mengambil alih penceritaan. Teknik yang sama saya terapkan di Petir, dan akan dipakai lagi untuk Partikel dan Gelombang. 

Apa yang ingin Dee sampaikan kepada pembaca melalui Episode Akar? 

Saya hanya sharing penelusuran spiritual saya dalam kemasan fiksi, yang dalam Akar diwakili oleh Bodhi. Itu saja. Semua pesan dalam Supernova sebenarnya sama adanya, yakni pendekatan memahami realitas dengan paradigma holistik.