Showing posts with label 2011. Show all posts
Showing posts with label 2011. Show all posts

Sunday, December 21, 2014

Majalah Tumbuh Kembang | Rubrik Bintang Tumbuh Kembang | April, 2011 | by Deti Gurnita


Di antara kesibukan Dewi, kegiatan apa nih yang kira-kira sering dilakukan bersama anak-anak? Dan seperti apa membagi waktunya?

Anak kedua saya, Atisha, masih 17 bulan, jadi selalu saya dampingi tiap harinya. Justru saya yang mengurangi drastis kegiatan saya untuk bisa menemaninya. Kalau Keenan, sudah kelas 1 SD, jadi kegiatan saya dengan dia lebih banyak membimbing belajar, membaca buku bersama. Dan kalau weekend, kita sesekali jalan-jalan bareng sekeluarga. Saya banyak bekerja dari rumah, jadi paling saya mengkhususkan 2-3 jam bekerja (menulis, dsb), habis itu sudah. Saya nemani anak-anak lagi.

Kejadian atau kebiasaan unik apa nih yang sedang terjadi di keluarga?

Menurut saya sih, sebetulnya kebiasaan-kebiasaan kami biasa-biasa saja. Sedang menikmati perkembangan pesat Atisha dan menikmati humor dan kelakuannya Keenan yang penuh kejutan.

Apa saja perkembangan pesat Atisha yang sekarang Dewi amati?

Dia sangat "connect" dengan orang. Pandangannya selalu fokus, dan dia seperti memahami semua yang kita komunikasikan, meskipun dia belum bisa bicara seperti orang dewasa. Saat ini dia sangat pintar meniru, sangat senang bicara, sangat senang menari.

Humor dan kelakuan Keenan apa saja yang sering membuat Dewi terkejut?

Komentar-komentarnya suka tidak terduga. Saking seringnya saya udah nggak inget lagi satu-satu, cuma sering saya posting aja di Twitter, hehe.

Pola dan rules apa yang telah dibangun dan sedang berjalan di keluarga Dewi?

Kami mengajarkan anak-anak untuk tidak ragu mengungkapkan perasaan mereka, karena bagi kami itu lebih sehat untuk perkembangan mentalnya. Dan kami juga membiasakan menghargai perasaan mereka. Kalau mereka kelihatan sedih atau ngambek, kami ajak bicara baik-baik, permasalahannya apa, kenapa merasa seperti itu, dsb. Meski Atisha belum berkomunikasi verbal dengan jelas, tapi kami tetap sebisa mungkin menunjukkan itikad kami untuk menghargai perasaannya.

Sebagai penulis, pasti ada beberapa cerita yang terinspirasi dari anak-anak. Sebenarnya, sebagai orangtua, apa yang paling Anda harapkan dari mereka? dan bagaimana arti anak-anak sendiri di hidup Anda?

Saya berharap mereka tumbuh maksimal sesuai dengan potensi yang mereka punya. Mereka menjadi manusia yang sadar akan tujuan mereka, dan membantu menyembuhkan Bumi. Saya sepaham dengan Kahlil Gibran tentang makna anak. Mereka adalah panah yang akan melesat. Kami orang tua hanya membekali perjalanan mereka sebaik mungkin.

Pernahkah Anda terinspirasi dari anak-anak dalam membuat tulisan?

Kalau secara harfiah dijadikan cerita sih belum. Tapi beberapa kali membuat artikel berdasarkan kejadian saya dengan Keenan. Sudah pernah saya posting juga di blog.

Apa upaya Dewi dan suami dalam memaksimalkan tumbuh kembang anak-anak? 

Memberikan ruang bagi mereka untuk berekspresi, tapi juga punya guideline untuk mereka belajar disiplin.

Tolong berikan sedikit tips dari Anda dalam menciptakan waktu yang maksimal untuk anak-anak.

Semua profesi pasti punya tantangan masing-masing perihal pembagian waktu. Kalau saya, saya harus benar-benar menyediakan waktu untuk nulis secara khusus, 2-3 jam sehari, sisanya saya harus bagi untuk anak-anak dan keluarga. Intinya sih ya ditata saja waktunya, karena kalau nggak banyak yang keteteran. Saya sengaja nggak ambil banyak kerjaan selama Atisha masih ASI. Rencananya saya ASI sampai 2,5 thn. Jadi sebisa mungkin selama periode itu, saya lebih banyak bersama anak-anak.

TravelXpose Magazine | Liburan & Kontemplasi | Juli, 2011 | by Fadly Molana


Apa arti keluarga bagi seorang Dewi Lestari?

Keluarga buat saya seperti bumi tempat kita berpijak. Keluarga membuat kita lebih membumi, dan rasanya membuat hidup ini lebih punya makna.

Suka traveling? Ke mana saja?

Tempat liburan favorit sih Ubud. Kalau traveling saya sebagaimana ada kesempatannya aja, karena dengan dua anak di rumah, kesempatan saya untuk traveling nggak terlalu banyak. Cita-cita sih pengin bisa ke Peru.

Bisa ceritakan pengalaman-pengalaman seru dan tak terlupakan saat traveling?

Salah satu yang paling seru waktu masih sama RSD, kami nyanyi di acara Freeport di Tembagapura. Itu pertama kalinya saya ke Papua. Alamnya benar-benar beda, bahkan warna tanahnya aja beda. Dan kota Tembagapura buat saya sangat mengesankan. Ajaib bisa ada kota semodern itu di ketinggian 2500 meter, haha.

Pernah traveling bersama keluarga atau anak?

Waktu anak pertama, aktivitas saya padat, dan saya bawa dia ke mana-mana. Jadi dari bayi dia udah keliling Indonesia, bahkan udah ke Singapura, Malaysia, dan Australia. Sekarang dia udah nggak ingat, haha. Setelah punya anak kedua, kami udah pernah liburan ke Ubud. Dan sekali pernah nonton konser di Singapura. Saya yang nonton karena itu grup favorit saya banget (Tears for Fears), Reza menemani Atisha (bayi kami) di kamar hotel.

Apa bedanya traveling sendiri dengan traveling bersama keluarga atau anak?

Beda packing dan beda destinasi. Kalau bawa anak, ya orientasi tempatnya harus family/child friendly. Packingnya juga menyesuaikan dengan kebutuhan anak.

Kalau liburan bersama keluarga atau anak, tempat seperti apa yang menjadi tujuan?

Yang kami bisa bersantai, tapi anak-anak menikmati, entah itu main di kolam renang atau berjalan-jalan. Favorit kami sih ya Bali, tepatnya Ubud.

Tujuan wisata mana yang ramah akan lingkungan menurut Anda?

Belum pernah pergi ke tempat yang memang berorientasi ke arah ramah lingkungan.

Punya tujuan favorit jika traveling? Kenapa?

Cita-cita sih pengin bisa ke Peru. Karena saya tertarik dengan banyak situs sejarahnya: Macchu Picchu, Saqsayhuaman, Nazca Lines, dll.

Bisakah memberikan tips saat traveling bersama keluarga atau anak?
Kalau untuk anak, yang perlu dipastikan mereka tetap bisa makan dengan baik dan tepat waktu. Karena biasanya itu yang paling susah dijaga, berhubung liburan mereka biasanya euphoria, dan pola makannya bisa terganggu kalau nggak dijaga.

Punya makanan favorit khas Indonesia?

Hampir semua masakan Indonesia saya suka. Paling favorit sih Sunda, Bali, dan Batak. Pokoknya yang pedas-pedas.

Jika harus memilih, lebih memilih Jakarta atau Bandung? Kenapa?

Saat ini saya harus memilih Jakarta, karena pekerjaan suami saya di Jakarta. Saya cinta Bandung tapi belakangan Bandung juga cukup menyiksa macetnya.

Dalam waktu dekat ada rencana traveling ke mana? Sendiri atau dengan keluarga?

Akan ke Ubud, karena suami saya melakukan retreat meditasi setiap tahun di sana, dan biasanya kami sekeluarga menyusul sesudahnya.

Apa arti kontemplasi atau menenangkan diri bagi Anda?

Kontemplasi menurut saya beda dengan menenangkan diri. Kalau menenangkan diri hanya sekadar relaksasi. Tapi kontemplasi kita menggali lebih dalam tentang banyak hal, terutama tentang diri kita sendiri.

Pentingkah bagi Anda kontemplasi dalam hidup?

Saya rasa kontemplasi tidak bisa dilepaskan dari aspek kemanusiaan kita. Dalam-dangkalnya tergantung masing-masing orang. Namun pada satu titik kita semua pasti melakukannya.

Ke mana tujuan Anda saat kontemplasi?

Untuk kontemplasi sebenarnya tidak perlu ada tujuan khusus. Di mana pun bisa. Asalkan hati dan pikiran kita siap. Kalau ingin proses yang intensif, saya biasanya pergi ke retreat meditasi. Yang selama ini saya jalankan, biasanya saya ke Ubud atau ke Mendut. Tapi ini sih tergantung lokasi mana yang dipilih oleh panitia retreatnya, saya hanya ikut saja. Cuma kebetulan yang pernah saya ikut lebih dari satu kali ya di dua tempat itu.

Tolong sebutkan tempat-tempat wisata yang cocok untuk kontemplasi yang pernah Anda datangi.

Seperti yang saya bilang, sebetulnya kontemplasi tidak perlu dalam bentuk wisata. Di mana pun bisa. Karena kontemplasi bukan faktor tempat eksternal, melainkan kesiapan internal. Secara umum, ya, pilihlah tempat yang relatif sepi dan mendobrak rutinitas sehari-hari kita, artinya jika biasanya bangun dengan beker, atau nonton TV sampai larut, pada saat rekreasi yang kontemplatif bangunlah secara alami, nggak nonton TV, tapi lebih banyak melihat dan berinteraksi dengan alam sekitar, dsb. Tempat favorit saya sih Ubud.

Bisa berikan tips-tips kontemplasi saat berada di dalam rumah?

Latihan meditasi sangat membantu. Pelajarilah teknik meditasi pada instruktur yang kompeten. Jika dilakukan rutin akan sangat bermanfaat. Jadi, selain waktu bekerja, punyalah waktu khusus untuk hening.

Portal Berita TNol | Karya Fenomenal Sastra Populer Generasi Baru | Juli, 2011 | by Nopiyanti


Saat ini kesibukan Dee apa ya? Apakah sedang menulis novel kembali? Judulnya apa dan mengenai apa?

Baru saja meluncurkan kumpulan cerpen berjudul Madre, isinya beragam dan merupakan kumpulan karya saya selama lima tahun terakhir.

Mengenai karya Dee yang fenomenal Supernova, sebelum menulis karya tersebut, apa cerita itu memang obsesi Dee? Atau karena kisahnya berkaitan dengan Mbak saat itu? Atau ada peristiwa semacam itu sehingga Dee merasa fenomena itu peru dijadikan objek tulisan?

Untuk menulis bukunya sendiri sih sudah cita-cita dari kecil, karena menulis adalah hobi sejak umur 8 tahun seingat saya. Untuk tema Supernova-nya sendiri, saya menuangkan pemikiran dan perenungan saya tentang spiritualitas pada saat itu.

Setelah Dee menuangkan ke dalam tulisan apakah merasa lega?

Tergantung. Kalau tujuan tulisan tersebut hanya sekadar curhat ya mungkin lega, tapi kalau menulis untuk menjadi buku yang diterbitkan pastinya yang dicari tidak sekadar lega, melainkan bagaimana mengomposisi tulisan kita menjadi sebuah karya yang baik dan bisa dinikmati banyak orang.

Apakah hal itu berlaku terhadap karya Dee selanjutnya?

Tentunya.

Supernova merupakan salah satu karya fenomenal. Menurut Dee tentang karya fenomenal lainnya seperti Laskar Pelangi, Eiffel I’m in Love dan Ayat-ayat Cinta bagaimana? Apakah merupakan suatu keberuntungan atau memang layak diperoleh seorang pengarang yang telah berusaha menghasilkan karya sebaik-baiknya?

Segala sesuatu dalam hidup ini menurut saya selalu kombinasi dari kerja keras dan keberuntungan. Tugas seorang penulis maupun seniman hanyalah berkarya sebaik-baiknya, sesuai dengan kata hatinya, itu saja. Kalau kemudian diterima dan disukai orang banyak, dicap "fenomenal" dsb, menurut saya itu sudah banyak sekali elemen yang terlibat, antara lain timing, cara marketing, selera masyarakat pada saat itu, dsb. Terlalu kompleks untuk dijadikan sebuah formula yang seragam.

Menurut Dee, apakah suatu saat nanti Dee akan bisa menghasilkan suatu karya fenomenal lagi? Mengapa?

Tujuan saya tidak pernah membuat "karya fenomenal", karena menurut saya hal tersebut adalah sesuatu yang diberikan oleh orang lain. Sebuah bentuk apresiasi. Kita nggak bisa mengejar itu. Kalaupun dikejar, bisa jadi malah kecewa sendiri karena nggak sesuai ekspektasi. Bagi saya, jauh lebih penting membuat karya yang saya sukai. Karya yang mampu menyuarakan pemikiran, perenungan, dan imajinasi saya sebaik mungkin. Kalau nantinya dicap fenomenal ya syukur, kalau enggak, selama saya sudah puas, ya sudah.

Kira-kira apa yang nanti akan Mbak Dee angkat agar menjadi sebuah karya fenomenal kembali? Kenapa?

Jawaban masih sama, ya.

Dalam menulis sebuah karya, apakah Dee menyediakan waktu khusus? Kapan biasanya menulis, pagi, siang, sore atau malam? Adakah durasi waktu dalam menulis setiap harinya?

Dulu sih kebanyakan menulis malam hari sampai dini hari. Tapi setelah punya anak, udah nggak realistis lagi menulis di jam seperti itu. Jadi sekarang saya menulis sesempatnya. Kadang pagi, siang, sore. Malam malah jarang karena lebih banyak menemani anak. Durasi waktu saya upayakan minimal 2 jam per hari.

Dalam setahun, Dee menargetkan berapa novel yang ditulis?

Idealnya setahun sekali. Tapi selama ini rata-rata saya menerbitkan buku 1,5 tahun sekali.

Dengan menulis novel, bagaimana dengan kegiatan Dee dalam menyanyi? Akankah kumpul kembali dengan RSD? Jika iya, kapan akan direalisasikannya? Dan jika nanti bersatu kembali, apakah akan membuat album baru?

Nyanyi saya hentikan dulu ketika hamil anak ke-2. Soalnya kalau nyanyi tuntutan untuk ke luar rumah jauh lebih tinggi, sementara saya ingin lebih banyak di rumah dulu. Otomatis menulis menjadi fokus pekerjaan saya saat ini. Kalau nanti anak udah lebih besar, mungkin saja balik lagi nyanyi. Untuk RSD, kami sih hanya sempat bicara untuk konser reuni kecil-kecilan, tapi untuk bikin album lagi belum terpikir, karena kegiatan masing-masing yang cukup padat dan lokasi tinggal yang udah beda kota.

Selama tidak nyanyi bersama RSD,  apakah tetap saling komunikasi? Lewat telepon atau email? Biasanya membicarakan soal apa dengan Rida dan Sita?

Masih komunikasi via Twitter, SMS, atau BBM. Kita punya BB grup bertiga, hehe. Membicarakan apa saja, dari mulai berbagi foto lama sampai ketawa-ketiwi.

Tabloid Asah Asuh (Kemendiknas) | Pendidikan & Hari Kartini | April, 2011 | by M V Wirawan

-->
Apa pendapat Mbak Dewi mengenai pendidikan di Indonesia?

Pendidikan di Indonesia menurut saya sudah jauh lebih maju ketimbang dulu, setidaknya saya membandingkan antara zaman saya bersekolah dulu dan anak saya yang sekarang baru masuk SD. Masih banyak problem seputar dunia pendidikan, tentunya. Tapi saya melihat semakin banyak keragaman dan keterbukaan pandangan dan wawasan tentang pendidikan. Saya khususnya tertarik dengan pendidikan yang lebih menitikberatkan pada kecerdasan kualitatif, jadi bukan hanya sekadar nilai bagus, tapi juga perhatian yang berimbang terhadap beragam kualitas kecerdasan anak.

Bagaimana pendapat Mbak Dewi berkaitan dengan pendidikan untuk perempuan di negeri ini?

Saya tidak pernah memandang pendidikan tersekat-sekat, perempuan dan laki-laki, dsb, jadi bagi saya agak sulit menjawab pertanyaan itu. Sudah jelas terbukti bahwa saat ini kesempatan bekerja bagi perempuan dan laki-laki sudah berimbang, dan sistem pendidikan sudah jarang yang berbasiskan gender. Jadi kalau menurut saya, kesempatan bagi perempuan sudah sama terbukanya, sekarang tinggal individunya mau memanfaatkan kesempatan itu atau tidak.

Pesan Mbak Dewi untuk Kemendiknas agar bisa meningkatkan kinerjanya dalam hal pendidikan secara umum dan pendidikan untuk wanita?

Kecerdasan seseorang bukan hanya dilihat dari skor akademis. Banyak kualitas kecerdasan yang perlu digali dan dilihat secara proporsional. Kecerdasan fisik (kemampuan olah tubuh, menari, sport, dsb), kecerdasan seni, kecerdasan emosi, dsb. Kalau kita bisa dengan jeli mengembangkan potensi-potensi individu sesuai dengan kecerdasannya, menurut saya akan ada kebangkitan yang sangat besar pada generasi Indonesia, baik itu laki-laki maupun perempuan.

Saling Silang | Akun Addeection | Oktober, 2011 | by Tuti Ismail


Gimana awalnya akun @addeection ini bisa sampai ada?

Bisa dibilang gabungan kesengajaan dan tidak. Jadi dari dulu sebetulnya Bu Suri (panggilan sayang buat Dee) kepengin punya semacam wadah untuk para pembacanya, tapi belum pernah menemukan format yang pas. Dulu-dulu pernah ada mailing list, forum diskusi online, website, dll, tapi maintenance-nya nggak gampang. Setelah ada Twitter, barulah ketemu format yang jauh lebih praktis. Satu hari ada follower Bu Suri yang menanyakan fans club, lalu iseng-iseng ide itu dilemparlah ke timeline, langsung bermunculan banyak ide nama. Termasuk nama Addeection ini. Akhirnya, Bu Suri ngajak brainstorming untuk bikin akun. Menurutnya, akun ini bisa membantu banyak ke pekerjaannya karena bisa fokus ke aspek buku saja, sementara akun pribadinya kan lebih beragam isinya.

Dapat bahan di-tweet-kan dari mana?

Bahan tweet saya dapat dari Bu Suri, baik yang trivia maupun yang konten buku. Jadi saya kerjanya dari komputer, karena kalau buka buku lagi malah repot. Bahan sudah disusun sebelum mulai twit serial, supaya praktis. Walaupun pas prakteknya tetap ada improvisasi, ya.

Akun @addeection dikelola berapa orang, sih? Ada shift-shiftan gitu juga?

Sebenarnya masalah identitas dan jumlah admin kami rahasiakan. Hihi. Tadinya sih nggak direncanakan rahasia, tapi ketika waktu berjalan, sudah telanjur pakai banyak nama (inilah akibat dari ke-ababil-an kami), dan melihat reaksi para penongkrong (panggilan sayang untuk follower), maka kami putuskan untuk sekalian aja anonymous.

Kok pakai Bahasa Sunda? Apa nggak takut nanti kenanya segmented aja?

Bahasa Sunda sih sekali-sekali aja kalau ada yang mancing. Karena Mumun asalnya dari Bandung, Bu Suri juga, dan ada kecenderungan orang Sunda selalu berbicara Sunda jika ketemu sesama, jadi cukup sering Mumun keceplosan Bahasa Sunda. Tapi mayoritas tweet dalam Bahasa Indonesia, kok. Juga Bahasa Englais kalo diperlukan.

Ini ke depannya cuma sekedar menjaring followers, atau ada rencana-rencana lain, seperti kopdar para pecinta Dee, baksos, atau ngasih kursus bahasa Sunda mungkin buat followers yang ga ngerti bahasa Sunda? Hihihi...

Maman sih hobinya satu, ya: bikin posko. Jadi untuk baksos atau kursus, belum terpikir ke arah sana. Dagang bakso sambil bikin posko sih cukup menarik. Tapi untuk saat ini, Maman fokus dulu aja dalam pembangunan dan pembinaan posko. Sudah ada usulan dari para penongkrong untuk kopi darat, tapi Maman masih pikir-pikir, soalnya nanti muka Maman terekspos. Jujur, Maman takut terkenal. Lebih senang jadi orang belakang layar seperti ini.

Benefit lain kalo nge-follow @addeection apa? Mungkin kalo Dee ngeluarin buku baru, bakal ada diskon khusus mungkin?

Hobi Mimin selain bikin posko adalah menggelar kuis. Jadi, para penongkrong Addeection akan selalu dapat kesempatan menang kuis. Hadiahnya yang pasti collectible items seperti buku-buku ber-TTD. Dengan jaringan Bu Suri, kami bahkan pernah mendapat sponsor yang produknya bukan hanya buku. Kemarin ini, ada kuis berhadiah Self Healing yang disponsori Pak Suri (Reza Gunawan), lalu ada temannya Bu Suri yang mau ngasih cheese cake dari bakery-nya untuk jadi hadiah kuis. Untuk diskon sih bisa-bisa aja, kita belum eksplorasi ke arah sana. Yang jelas, Mimin menjaga hubungan baik dengan para penerbitnya Bu Suri, seperti Truedee Books, Bentang Pustaka, Gagas Media, dsb. Mereka juga seringkali berbaik hati mensponsori kuis Mimin.

Siapa pencetus hingga ada akun khusus ini?

Seperti yang Mahmud ceritakan tadi, ide untuk bikin komunitasnya sudah lama ada. Tapi gara-gara pertanyaan satu follower Bu Suri, akhirnya dibuatlah akun Addeection ini. Mahmud amati juga, memang karakter pembaca Bu Suri ini ada benang merahnya. Mereka itu bukan hanya suka baca karya Bu Suri, tapi juga seperti kecanduan. Makanya Mahmud akhirnya pakai judul Posko Sakaw Buku Dee.

Jobdesc Mimin apa aja sih?

Intinya sih menghidupkan akun Addeection. Walaupun banyak jobdesc yang nggak ada di brosur, seperti pengasuh anak, penunggu rumah, beliin nasi Padang, bikinin Indomie, dll, tapi semua itu Momod terima dengan lapang dada.

Suka duka jadi Mimin apa?

Sukanya karena melihat respons para penongkrong yang luar biasa. Berhubung Addeection ini akun yang sangat spesifik, yakni para pembaca buku Bu Suri, jadi Mukhlis juga enak kalau berkomunikasi dengan para penongkrong, karena rata-rata sudah familiar dengan karya-karya Bu Suri. Dukanya adalah, tidak setiap hari Mukhlis bisa menongkrongi timeline (karena kesibukan menjadi eksmud). Misalnya, program yang harusnya kelar satu bulan, malah bisa lebih karena Mukhlis nggak sempat bikin twit serial. Twit serial begitu kan butuh persiapan, ya.

Dengan adanya akun @addeection ini efektif nggak sih pendekatan ke penggemar-penggemar buku Dee Lestari? Dan bagaimana dengan pendekatan dengan orang-orang yang belum tau banyak tentang buku-buku Dee, ada strategi tersendiri, supaya buku-buku Dee jadi lebih dikenal?

Sejauh ini sangat efektif. Terutama kalau Munaroh sudah nge-tweet #KutipanMaut (kutipan-kutipan terpilih dari buku Bu Suri). Biasanya kalau sudah ngetweet rangkaian #KutipanMaut, mention dan jumlah follower langsung meningkat. Banyak yang jadi diingatkan lagi juga tentang konten buku Bu Suri, bahkan ini berdampak langsung pada penjualan. Setidaknya di jalur direct selling Truedee Books, itu kelihatan sekali efeknya. Begitu ada tema tweet atas buku tertentu, order buku tersebut langsung meningkat. Yang sudah baca Madre, tapi belum baca Filosofi Kopi, misalnya, ketika Munaroh cerita tentang Filosofi Kopi, penongkrong tersebut jadi tertarik untuk baca. Jadi ini berpengaruh juga pada pengenalan buku-buku Bu Suri secara umum.

Republika | Gentle Birth | Desember, 2011 | by Vidita



Selain menulis, Mbak juga sedang banyak bicara tentang gentle birth. Apa yang membuat Mbak tertarik untuk membudayakan cara melahirkan yang sebagian orang dianggap primitif tersebut?

Saya dan Reza mengalami sendiri benefit dari gentle birth. Apalagi pada persalinan pertama saya mengalami begitu banyak intervensi, dari mulai induksi sampai akhirnya saya melahirkan dengan cara Caesar. Saya tidak bisa IMD, tidak bisa bersama bayi saya. Apa yang saya lalui di persalinan kedua adalah kebalikan dari itu semua, dan manfaatnya sangat terasa, baik secara fisik dan mental. Tak hanya pada saya, tapi juga anak saya Atisha. Perkembangan dan kesehatannya luar biasa baik. Dan setelah melalui riset yang saya dan suami lakukan lewat membaca, menonton dokumenter, termasuk berbicara dengan banyak praktisi persalinan, gentle birth adalah metode yang paling ramah fisik dan jiwa karena minim trauma dan intervensi yang tidak perlu. Lewat gentle birth, power persalinan dikembalikan sebagaimana seharusnya kodrat alam yakni pada ibu dan bayi.

Aku mohon dijelaskan sedikit Mbak tentang gentle birth. Apa saja sih keuntungan dari gentle birth ini? Pernahkah mendengar respon yang negatif ketika Mbak bicara tentang hal ini?

Untuk lengkapnya tentang gentle birth bisa mengunjungi situs kami di www.gentlebirthindonesia.com. Sejauh ini sih tidak ada respon negatif, tapi memang tidak semua orang langsung percaya diri bisa melakukan gentle birth karena dianggap harus punya "skill" khusus. Menurut saya ini adalah mispersepsi akibat praktik persalinan umum yang terjadi selama ini, yakni pergeseran persalinan dari peristiwa alam menjadi peristiwa medis. Akibatnya, perempuan merasa bahwa jika bukan berlatarbelakang medis atau punya keterampilan khusus maka persalinan adalah peristiwa berbahaya jika dijalankan secara alami. Padahal seharusnya intervensi medis hanya dilakukan jika diperlukan saja. Untuk kehamilan yang sehat, ibu dan bidan atau keluarga bisa menjadi pendamping yang cukup. Tidak ada "skill" khusus, yang paling penting adalah keberserahan kita pada proses alamiah. Untuk itu kita harus punya informasi yang memadai agar yakin dengan cara persalinan yang kita pilih dan tidak mudah diintimidasi ketakutan orang lain.

Seperti apa sih keseharian Mbak Dewi di luar menulis? Apa saja kegiatan atau hobi yang sering Mbak lakukan untuk mengisi waktu luang?

Hobi saya banyak. Saya suka masak, berkebun, olah raga, membaca. Kalau ada waktu luang saya lebih banyak habiskan dengan anak-anak dan suami, atau kegiatan domestik seperti ke pasar dan mengurus rumah. Saya pindah dari Bandung tiga tahun lalu, dan sejak itu saya lebih suka di rumah. Nggak tahan macetnya Jakarta. Untung saya tinggal di pinggiran Jakarta dan di tempat saya tinggal fasilitasnya cukup lengkap. Kalau nggak penting-penting banget saya nggak keluar rumah.

Terakhir Mbak, sebagai orang yang dikenal memiliki kepedulian besar pada lingkungan. Permasalahan lingkungan apa yang paling menggangu perasaan Mbak? (Mungkin tentang penebangan hutan atau pembantaian orang utan yang terjadi baru-baru ini)

Hampir semua aspek tentang lingkungan menjadi concern saya saat ini. Dari mulai penebangan hutan hingga pengolahan sampah. Penebangan hutan bukan berarti hanya hilangnya pohon tapi juga spesies yang penghidupannya bergantung pada eksistensi hutan, contoh yang paling gres adalah orang utan yang terbantai akibat lahan sawit. Saya percaya kita bisa melakukan perubahan dari rumah. Lewat apa yang kita konsumsi, pilih, dan lakukan. Contoh kecilnya: mengolah sampah rumah tangga, membuat sumur resapan, biopori, menanam pohon, dan memilih produk-produk ramah lingkungan. Saya sendiri mengurangi konsumsi minyak goreng berbahan sawit dan beralih ke minyak kelapa. Hal-hal kecil seperti ini sering terlewat, padahal jika dilakukan secara kolektif dampaknya bisa sangat besar.

Saturday, December 20, 2014

Pikiran Rakyat | Rubrik Selisik: Perahu Kertas | Januari, 2011 | by Lia Marlia


Bagaimana Mbak Dewi memutuskan setting (kota) sebuah cerita?

Kalau saya menentukannya berdasarkan kebutuhan cerita, yang sesuai dengan karakter, dan risetnya juga nggak terlampau susah.

Apakah ada alasan khusus Mbak Dewi menggunakan Kota Bandung dan sekitarnya sebagai setting cerita dalam beberapa novel Mbak Dewi?

Seperti yg saya jawab sebelumnya, karena pada beberapa cerita saya Kota Bandung itu sesuai dengan kebutuhan, dan kebetulan juga karena saya tinggal di Bandung otomatis lebih mudah dan familiar.

Dalam novel Perahu Kertas beberapa tempat seperti Dago, BIP, Taman Sari, disebutkan secara jelas. Sementara ada penulis yang memilih untuk menyamarkan setting cerita mereka. Mengapa?

Untuk mendapatkan genuinitas, menurut saya detail seperti itu bisa membantu. Saya nggak selalu spesifik soal nama tempat, tapi kalau memang ceritanya memungkinkan untuk menuliskan detail dan cocok untuk membangun plot, buat saya oke-oke aja.

Bagaimana pendapat Mbak Dewi soal karya sastra seperti Eat, Pray, and Love atau Laskar Pelangi yang berhasil mendorong para pembacanya untuk mendatangi tempat-tempat yang dijadikan setting cerita?

Karya sastra, dan buku pada umumnya, memang jendela dunia, termasuk “membawa” kita ke tempat-tempat yang asing dan mengasyikkan. Semakin booming sebuah cerita, makin banyak pembaca yang terekspos, ya makin besarlah kekuatan buku tersebut mempromosikan setting-nya secara nggak langsung.

Rancabuaya, Pameungpeuk Kab. Garut juga menjadi salah satu setting novel Perahu Kertas. Bagaimana ceritanya sampai Mbak Dewi memilih tempat ini sebagai setting?

Karena saya mendengar cerita teman-teman saya yang sudah ke sana, dan katanya pantainya menakjubkan. Secara jarak juga logis untuk dipakai di cerita.

Saya dengar novel Perahu Kertas juga akan difilmkan. Bagaimana perasaan Mbak Dewi?

Senang dan deg-degan. Dari dulu bikin novel ini saya memang sudah membayangkan akan ada versi visualnya, entah serial teve atau film. Tawaran film ternyata langsung datang bahkan ketika Perahu Kertas masih manuskrip. Deg-degan, karena tidak semua eksekusi cerita ke visual bisa berjalan mulus. Apalagi kalau orang sudah baca bukunya biasanya mereka punya ekspektasi tinggi. Saya hanya berharap filmnya nanti tidak mengecewakan.

Apa dampak yang diharapkan Mbak Dewi dari pembuatan film Perahu Kertas?

Harapan saya kisah Kugy & Keenan dapat menjadi salah satu cerita cinta klasik yang selalu dikenang orang.

Apa yang bisa diharapkan para pembaca Perahu Kertas dari film tersebut?

Saya nggak mau banyak janji. Yang jelas, karena skenarionya saya yang tulis, minimal saya bisa menjaga unsur-unsur yang menurut saya penting untuk tetap ada di film. Kalau 100% plek sama buku jelas nggak mungkin, tapi versi skenarionya tetap punya greget yang kurang lebih sama.

Menurut Mbak Dewi, apa yang membuat sebuah novel dapat diterima oleh banyak orang?

Menurut saya, tidak akan pernah ada yang tahu formula pasti kesuksesan sebuah buku. Tapi cerita yang bisa menyentuh adalah cerita yang bisa membuat kita ikut teridentifikasi di dalamnya, dan membuat pembaca merasa terhubung dengan karakter-karakternya.

Majalah NEXT (Nexian) | Profil | Juli, 2011 | by Mahadi Asman


Lagi sibuk mengerjakan apa sekarang?

Baru saja merilis kumpulan cerpen berjudul Madre. Saya lebih banyak sibuk di rumah, karena masih fokus mengurus anak kedua saya yang baru 21 bulan.

Menyanyi dan menulis yang mana menjadi prioritas Dewi?

Buat saya, prioritas itu ditentukan oleh mana yang feasible dan mungkin untuk dikerjakan sesuai dengan sikon yang ada. Saat ini, karena saya masih full mengurus anak, otomatis saya rehat dulu dari kegiatan menyanyi. Menulis saat ini jauh lebih feasible karena saya bisa mengerjakannya dari rumah.

Bagaimana Dewi melihat dunia tulis menulis saat ini?

Saya lihat perkembangannya cukup baik. Dari banyak aspek, terlihat kemajuan secara global. Kualitas produksi buku-buku sekarang membaik, judul juga banyak, toko buku membanyak, animo pembaca juga baik. Barangkali yang perlu diperhatikan adalah penyebaran yang lebih merata ke daerah-daerah, dari segi jumlah toko, kecepatan distribusi, dsb. Jadi yang di daerah atau kota kecil nggak ketinggalan dibandingkan kota besar.

Apakah persamaan antara menulis dan menyanyi?

Sama-sama seni, sama-sama harus pakai hati, sama-sama hobi saya.

Di antara buku yang Dewi tulis mana yang paling Dewi kagumi? Dan kenapa?

Pertanyaan sulit karena setiap buku yang saya tulis menurut saya punya karakter dan tantangan yang berbeda-beda. Sulit dibandingkan "apple to apple".

Saat seperti apa paling sering mendapatkan inspirasi?

Justru di saat paling tidak mengharapkan munculnya inspirasi. Bagi saya inspirasi itu tidak dicari, tapi ia akan menemukan kita. Dan, momennya tidak bisa diduga-duga. Contohnya, Malaikat Juga Tahu, saya dapat melodinya justru lagi menyikat gigi. Nggak mengharapkan bikin lagu kan kalau lagi sikat gigi? Hehe. Tapi kalau kejadian, ya, nggak bisa menolak.

Dari fitur ponsel, mana yang paling sering Dewi gunakan dan yang sangat menolong?

Push-email dan internet (koneksi data). Karena saat ini komunikasi saya lebih banyak via online, nggak banyak lagi pembicaraan telepon, SMS juga hanya sekali-sekali.

Apa yang pertama kali dilakukan ketika pertama kali bangun pagi?

Minum air putih. Lalu bikin sarapan untuk keluarga.

Di mana tempat yang paling indah untuk liburan, menulis dan membuat lagu?

Kalau liburan saya nggak pernah nulis atau bikin lagu, hanya murni rekreasi. Soalnya bagi saya, menulis dan membuat lagu itu adalah pekerjaan. Tempat libur favorit saya di Ubud, Bali.

Tema majalah kita bulan ini "sang juara". Apa makna sang juara menurut Dewi?

Sang Juara berarti orang yang berhasil mengalahkan musuhnya paling besar, yakni dirinya sendiri.

Siapa "sang juara" yang paling Anda idolakan?

Siddhartha Gautama.

Rencana besar Dewi ke depan?

Menyelesaikan serial Supernova.

Nakita | Gentle Birth | Oktober, 2011 | by Dedeh


Kesibukan dan aktivitas apa saja yang sekarang Anda tengah lakukan?
                   
Saat ini saya sedang menyelesaikan buku saya kedelapan, Supernova Partikel. Untuk itu, saya sengaja cuti panjang dari berbagai kegiatan yang di luar rumah. Jadi saat ini konsentrasi saya hanya untuk menulis dan mengurus rumah, keluarga, anak-anak.
                   
Anda pernah menjalani persalinan dengan gentle birth. Dari pengalaman yang Anda rasakan, bagaimana pengaruhnya bagi diri anak sekarang ini dan juga hubungannya dengan Anda sebagai ibu? (Misalnya, anaknya termasuk anak yang tenang, bahagia, dan sebagainya. Hubungan dengan Anda sebagai ibu lebih erat, dan sebagainya.)
                   
Sejak lahir, Atisha bisa dibilang sangat "conscious". Perkembangannya sangat baik, baik itu motorik, sensorik, maupun memori dan daya tangkapnya. Dari Atisha masih di kandungan, saya dan sudah membiasakan berkomunikasi dengannya. Jadi setelah lahir pun, meski dia belum berkomunikasi seperti orang dewasa, dia sangat responsif terhadap apa yang kami sampaikan. Secara kesehatan, Atisha jarang sakit, daya tahan tubuhnya sangat bagus.
Pengalaman Gentle Birth benar-benar revolusioner dalam hidup saya, dan juga keluarga. Atisha juga dekat dengan abangnya dan ayahnya. Saya sendiri sangat menikmati peran saya sebagai ibu. Meski bisa dibilang, saya hampir tidak bekerja lagi seperti dulu, jadi hanya mengambil pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah, saya tidak merasa kehilangan apa pun. Malah kalau bisa selama mungkin mengurus Atisha secara penuh, setidaknya sampai sebelum dia bersekolah.
                   
Dalam hal membesarkan buah hatinya, seperti mendidik dan mengasuhnya, apa yang Anda anggap penting untuk ditanamkan pada diri mereka? Mengapa itu penting?
                   
Kami selalu mendorong mereka untuk jujur dan tidak sungkan mengomunikasikan perasaan dan pikiran mereka. Kami ingin mereka tumbuh besar menjadi orang yang peka dan tidak mengabaikan suara batin mereka. Karena kami melihat kecenderungan orang modern sekarang ini adalah melapisi diri mereka dengan berbagai tameng, entah itu citra, identifikasi yang tidak tulus, dan sebagainya.
                   
Kegiatan apa yang sering dilakukan bersama anak-anak dalam keseharian dan juga di hari weekend?

Kami sering jalan-jalan di sekitar kompleks, membaca, menyanyi di rumah. Saat kami semua berkumpul di kamar, bercanda dan ketawa-ketawa, itulah momen yang paling menyenangkan.

Kover Medan | Profil | Maret, 2011 | by Yuni Adisti


Sebelum Perahu Kertas, novel Kak Dee itu lebih berbau spiritual. Kenapa?

Spiritualitas adalah salah satu minat terbesar saya, dan juga salah satu tema yang menggerakkan saya untuk menulis. Pada prinsipnya, saya hanya menulis apa yang menjadi minat saya.

Untuk Supernova (1-3) ada beberapa adegan yang setting-nya diluar Indonesia. Apakah Kak Dee bener-bener pergi ke suatu tempat sebelum mulai nulis? Atau cuma bermodalkan Google?

Nggak semua ke tempatnya langsung. Dan, nggak semua juga cukup dengan Google. Saya riset juga melalui studi pustaka dan wawancara narasumber.

Apakah ada perubahan-perubahan yang didapat oleh Kak Dee dari menulis?

Perubahan apa maksudnya? (sori, pertanyaannya terlalu luas) Kalau saya melihat inti hidup ini adalah perubahan. Tanpa menulis pun, setiap hari segala hal berubah, termasuk saya.

Apa yang membuat Kak Dee merasa kalau writing is something you want to do? And if you're not the writer/singer that you are now, what do you want to be?

Sepertinya itu dorongan alamiah sejak kecil, sama seperti hobi dan ketertarikan yang biasa muncul sendiri. Bukan sesuatu yang saya niatkan dengan sengaja. Kalau saya bukan penyanyi atau penulis, jujur saya nggak kebayang. Yah, mungkin menjalankan hobi lain saya, seperti memasak, fotografi, atau yang ada hubungannya dengan tanaman.

What do you expect your readers to get/learn/realise from your writings?

I never expect anything from my readers. Dalam berkarya, prinsip saya kita mencipta apa yang kita suka dan apa yang kita percaya. Saya yakin orang yang tertarik pada karya kita adalah mereka yang memang akan bisa merasa terhubung dengan karya tersebut, tanpa perlu lagi kita targetkan ekspektasi tertentu.  Setiap pembaca pasti punya reaksi tertentu yang itu ada di luar kendali penulis. Mereka beli, baca dan mereka suka, saya bersyukur. Namun itu semua di luar kendali saya. Begitu juga sebaliknya kalau mereka nggak suka. It’s never in our hands.

Kak Dee sudah nulis dari lama banget, tapi kenapa milih untuk jadi penyanyi dulu baru jadi penulis?

Saya nggak memilih. Karier menyanyi terjadi mengalir begitu saja. Nggak pernah saya rencanakan “akan nyanyi dulu baru nulis”. Semua itu go with the flow saja.

I once read that you think religion and belief are two different things. While most Indonesians consider them to be the same. Care to explain why you think they're different?

Agama (religion) terinstitusi, ada organisasinya, ada aturan tata-tertibnya, dsb. Kepercayaan (belief) lebih informal, personal. Dua-duanya pada akhirnya membutuhkan keyakinan dan keimanan. Hanya secara superfisial ada perbedaan dalam aspek institusional.

Dilihat dari Twitter-nya, ada apa dengan Dewi Lestari dan berkebun?

Hobi.

Dulu, kalau mau nulis itu medianya cuma di kertas. Lalu bergerak ke komputer. Komputer dilengkapi dengan internet, muncul blog. Sekarang Twitter. Semakin banyak media, semakin gampang untuk tulisan seseorang dibaca orang banyak. Untuk Kak Dee sendiri apakah perubahan ini mempengaruhi kreativitas dalam menulis? Kalau iya, dari segi apa?

Pada kreativitas sih rasanya enggak. Social media seperti Twitter lebih kepada penyebaran informasi dan keterhubungan kita satu sama lain. Dengan adanya social media, berarti pentas seseorang untuk berbicara dan beraktulisasi bertambah. Tapi apakah itu lantas mengubah atau mempengaruhi kreativitas, tergantung individunya masing-masing. Bagi saya pribadi, dalam berkarya Twitter berpotensi jadi distraksi, tapi dalam berpromosi dan berinteraksi dengan pembaca maupun teman-teman, ya, Twitter menjadi sarana yang sangat efektif.

Sebagai penulis, obsesi apa yang belum kesampaian?

Bikin buku anak.

Dari semua karya Kak Dee, musik dan buku, ada nggak sih yang paling disukai? Mungkin karena punya lagu itu yang paling lama atau paling cepat prosesnya atau karena buku yang itu paling seru proses penulisannya?

Selalu susah jawab pertanyaan karena semua karya punya karakter dan story-nya masing-masing.

When you're not writing, what do you like to do?

Relaxing and traveling.

Kebiasaan aneh seorang Dewi Lestari?

Ritual bengong setiap pagi di meja makan. Buat saya itu saat paling menyenangkan. Nggak tahu deh itu aneh atau enggak.