Showing posts with label Film Perahu Kertas. Show all posts
Showing posts with label Film Perahu Kertas. Show all posts

Monday, May 9, 2016

Qubicle Center - SLATE | Mengangkat Novel Ke Layar Lebar | Maret, 2016 | by Nanda Elvina


Untuk saat ini kegiatan apa saja yang sedang dijalani oleh Dee?

Saat ini saya sedang menjalankan kegiatan promosi Supernova 6 (Inteligensi Embun Pagi).

Kami sangat mengangumi karya-karya Dee yang sudah diangkat ke layar lebar, apa bisa diceritakan awal mula novel pertama Dee bisa diangkat ke layar lebar?

Adaptasi buku saya ke film diawali dengan Perahu Kertas. Perahu Kertas juga mengawali kerja sama perdana saya dengan Bentang Pustaka (yang sekarang menjadi penerbit semua karya saya). Saat itu, ada beberapa penerbit yang sama-sama tertarik dengan naskah Perahu Kertas. Bentang sudah datang bersama Mizan Pictures, yang langsung menawarkan adaptasi ke layar lebar. Dari semua karya saya, Perahu Kertas menurut saya adalah yang paling potensial untuk dijadikan format visual, entah itu film atau serial, jadi saya menyambut tawaran itu. Sejak Perahu Kertas, tawaran lain bermunculan.

Bagaimana proses yang dijalani untuk membawa sebuah novel  ke layar lebar?

Produser membeli hak adaptasi dari penulis. Sebetulnya itu saja. Setelahnya adalah rangkaian proses seperti layaknya produksi film. Penulis terlibat atau tidak itu bergantung dari kesepakatan yang terjadi antara penulis dan produser.

Apa Dee terlibat langsung dalam produksi film dari novel-novelnya?

Tidak semua, hanya Perahu Kertas yang sampai menulis skenario. Sisanya saya hanya sebatas konsultasi, ada yang jadi konsultan formal (terikat kontrak), dan ada juga yang tidak.

Tantangan tersulit seperti apa sih yang pernah dihadapi dalam pembuatan film yang diangkat dari novel Dee?

Sebetulnya mungkin pertanyaan itu lebih tepat dijawab oleh produser sebagai yang membuat film. Bagi saya, kalau saya tidak terlibat, otomatis tidak ada tantangan yang berarti, saya mirip dengan posisi penonton. Tapi, tentu, ketika saya menjadi penulis skenario, misalnya. Saya menghadapi tantangan untuk mengonversi buku menjadi skenario. Dan sebagai penulis skenario saya harus berkompromi dengan keinginan dan kepentingan banyak orang. Jadi bisa dibilang, tantangan itu baru muncul ketika saya ikut terlibat, dan tantangannya adalah sejauh apa yang peran saya di sana.

Adakah bagian  yang cukup sulit divisualkan dari isi novel ( karakter, tempat, pemain, dll)?

Lagi-lagi, saya rasa ini pertanyaan yang lebih pas ditujukan ke para pembuat film. Secara umum kesulitan pertama adalah di adaptasi cerita, bagaimana bahasa dan struktur cerita dari buku kemudian menjadi bahasa dan struktur film, karena keduanya tidak persis sama. Dari cerpen biasanya yang terjadi justru pengembangan, sementara kalau dari novel yang terjadi biasanya sebaliknya.

Pengalaman paling berkesan seperti apa  yang pernah dirasakan oleh Dee saat membuat proyek film dari novel?

Saya paling menikmati justru bagian bikin soundtrack, karena membuat lagunya jadi terasa mudah ketika kita dibantu visual/adegan. Dan, ada kepuasan ketika lagu yang kita buat terasa padu dengan film.

Menurut pendapat Dee dari seluruh novel yang diangkat ke layar lebar, yang paling mendekati imajinasi saat menulis ada pada film yang mana, dan mengapa?

Beda semua sih sebetulnya. Termasuk Filosofi Kopi yang menurut saya adaptasinya paling bagus. Tapi mirip atau tidak dengan imajinasi orisinal saya sebetulnya bukan tolok ukur untuk keberhasilan sebuah adaptasi film. Yang lebih penting adalah mengadaptasinya menjadi film yang enak ditonton. Itu saja.

Seperti yang kita ketahui bahwa penggemar buku biasanya sering kali kecewa jika karya sebuah buku yang di film kan dianggap tidak sesuai, Sejauh ini adakah pengemar yang protes dengan hasil visualisasi yang diangkat dari novel ke layar lebar? Dan, bagaimana menghadapinya?

Penggemar pasti ada yang protes, dan itu hal yang wajar. Pada dasarnya para pembuat film yang mengadaptasi dari buku harus bersaing dengan imajinasi pembaca, dan sejak awal itu adalah persaingan yang tidak fair karena tidak mungkin sebuah film memvisualisasikan keinginan semua orang dengan sempurna. Saya menghadapinya sih relatif santai saja, karena tahu itu pasti akan terjadi. Tidak juga ada pihak yang bisa disalahkan. Tidak ada yang bisa mencegah penonton untuk tidak datang dengan keinginan membandingkan. Tidak mungkin juga bagi pembuat film untuk memuaskan keinginan semua orang. Pada akhirnya menurut saya film adalah film, tolok ukurnya bagus atau nggak bagus. Bukan mirip atau nggak mirip dengan buku.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada seluruh produser dan sutradara yang membuat film Dee, dari keseluruan novel yang diangkat ke layar lebar, film apa yang kira-kira berada sedikit atau di luar jalur konten isi novel  yang mungkin membuat Dee sedikit menyayangkan?

Sebetulnya semua tidak ada yang persis sama. Yang saya suka sekalipun, tetap ada kontennya yang keluar dari konten asli. Bagi saya sebetulnya berada di luar jalur tidak menjadi masalah. Kita harus memahami bahwa film yang diangkat dari karya tulis merupakan adaptasi, bukan fotokopi. Tapi, saya punya catatan khusus untuk Madre. Saya menyayangkan tokoh Tansen di dalam film ditulis sedemikian rupa hingga melakukan aksi yang “mencederai” karakternya. Ketika tokoh utama digembosi seperti itu, kekuatan cerita secara keseluruhan jadi memudar, menurut saya.

Dalam waktu dekat ini adakah rencana untuk kembali mengangkat karya Dee kembali ke layar lebar?

Rencananya Filosofi Kopi akan dibuat sekuel oleh Visinema Pictures. Saya akan menjadi konsultan cerita saja. Jika tidak ada halangan, maka sekuel tersebut akan dirilis akhir tahun ini.

Sunday, December 21, 2014

Tabloid Nyata | Profil | Oktober, 2012 | by Mohammad Yanuarika


Sisi kehidupan yang bagaimana sebenarnya yang Anda tonjolkan, sisi humanis, sosial  atau ketuhanan?

Bisa dibilang benang merah dari hampir semua karya saya adalah pencarian jati diri. Dan jalur yang ditempuh untuk itu bisa beragam, bisa lewat perjalanan asmara, perjuangan mencapai cita-cita, dan seterusnya. Jadi lewat prosesnya banyak aspek yang akhirnya ikut tergali, baik itu sisi humanisme, sosial, dan yang lainnya.

Dari keberagaman itu apa yang hendak Anda ungkapkan? Apakah pernah mengalami kegalauan tentang ketuhanan?

Awal saya menulis buku memang akibat kegelisahan spiritual yang saya alami sendiri. Itu terjadi pertama kali tahun 1999, dan akhirnya saya menuliskan manuskrip Supernova pada tahun 2000. Yang saya ingin ungkapkan tentu berbeda-beda untuk setiap buku, tergantung proses internalisasi yang terjadi saat itu apa. Barangkali yang saya ingin ungkapkan adalah keberagaman itu sendiri.

Bagaimana kemudian Anda menemukan Tuhan dan mengungkapkan lewat sebuah cerita novel?

Tuhan bagi saya bukan sesuatu yang statis, yang sekali ditemukan lalu sudah. Dalam setiap kisah maupun buku, meski isinya berbeda-beda, sesungguhnya kesemua itu adalah internalisasi kegelisahan seorang penulis yang mencerap kehidupan sekitarnya, termasuk kehidupan dirinya sendiri. Tuhan, menurut saya, adalah bagian intrinsik dari semua itu. Jadi, tanpa bicara spesifik bahwa seseorang menuliskan tema tentang Tuhan, menurut saya, proses kita menjalani kehidupan yang kemudian terekam dalam sebuah karya, sedikit banyak adalah cara kita memaknai Tuhan yang kita temukan masing-masing. Sementara, cara mengungkapkan sesuatu lewat novel adalah perkara teknis. Mau itu tentang Tuhan ataupun tentang sebuah makanan, misalnya, ya teknisnya sama. Kita harus punya premis, plot, karakter.

Bisa dijelaskan keterlibatan Mbak Dee dalam pembuatan film Madre? Dan bagaimana perbedaan dengan pembuatan film Madre dari film sebelumnya, Perahu Kertas?

Dalam film Madre, saya hanya melepas hak adaptasi saja. Jadi, segala proses kreatif dijalankan oleh pihak lain, dalam hal ini Mizan Production dan Benny Setiawan sebagai sutradara dan penulis skenario. Lain halnya dengan Perahu Kertas di mana saya terlibat formal sebagai penulis skenario dan penyusun soundtrack. Secara informal, dalam Perahu Kertas, mau tak mau saya juga jadi dilibatkan dalam proses casting, editing, dsb. Pada Madre, saya memang sejak awal ingin melepas hak adaptasi saja karena memang sedang tidak punya keleluasaan waktu untuk terlibat lebih dalam.
 
Mengapa karya tulis baru muncul setelah vakum dari dunia menyanyi?

Kronologisnya tidak begitu. Saya menerbitkan Supernova tahun 2001, dan baru keluar dari Rida Sita Dewi tahun 2003.

Selain menulis novel atau buku, apakah ada keinginan menulis lagu atau skenario?

Saya menulis lagu dari tahun 1995, Mas. Dan skenario film Perahu Kertas saya yang tulis.

Bagaimana karier Mbak Dee dalam dunia tarik suara? Apa sudah tidak tertarik melanjutkannya?

Sesekali, sih, oke-oke saja. Di soundtrack Perahu Kertas, saya menyanyi lagi satu lagu bersama grup saya dulu, Rida Sita Dewi. Judulnya Langit Amat Indah.

Bagaimana perasaan Mbak Dee melihat karyanya yang dijadikan film Perahu Kertas mencapai kesuksesannya?

Terharu. Bukan semata-mata karena jumlah penonton, tapi bagaimana banyak penonton Perahu Kertas yang benar-benar menghayati cerita tersebut hingga membuat berbagai karya seni, produk, kerajinan tangan, dan lain-lain, atas kecintaan mereka terhadap kisah Perahu Kertas.

Bagaimana proses Madre bisa dibikinkan film?

Mizan Production mengajukan diri untuk membeli hak adaptasinya. Karena Mizan adalah salah satu perusahaan film yang kredibel dan kami sudah bekerja sama di Perahu Kertas, saya merasa sreg untuk melepas. Selebihnya, Mizan yang kemudian menyusun tim produksi termasuk memilih sutradara dan penulis skenario.

Setelah Madre, apakah ada novel lain Mbak Dee yang akan dibuatkan film ketiga dan berikutnya?

Rectoverso akan dibuat menjadi film, diproduksi oleh Marcella Zalianty dan disutradarai oleh lima artis perempuan.

Bagaimana dukungan keluarga terhadap profesi penulis Mbak Dee?

Bisa dibilang, merekalah sebagian besar dari alasan saya berkarya. Dukungan mereka adalah segalanya bagi saya.

Rolling Stone Indonesia | Film Perahu Kertas | Agustus, 2012 | by Wening Gitomartoyo


Penulisan novel Perahu Kertas dilakukan dengan 'mengasingkan diri' selama 60 hari. Bagaimana dengan penulisan skenario filmnya? Dan berapa lama pengerjaannya?

Untuk skenario saya nggak menargetkan waktu seperti saat menulis novel. Saat menulis skenario, prosesnya saya barengi dengan belajar dasar teorinya juga. Jadi, cukup lama juga saya berkutat dengan buku-buku penulisan skenario, membaca skenario film yang menurut saya bagus dan mempelajari strukturnya. Saya lebih lama bermain dengan struktur ketimbang penulisannya, karena tantangan skenario Perahu Kertas adalah memuat cerita yang begitu besar ke dalam skenario 100 halaman tanpa merusak grafiknya. Belum lagi penulisan skenario tersebut harus mengakomodasi keinginan tiga produser (Pak Chand Parwez dari Starvision, Pak Putut dari Bentang Pictures, dan Hanung Bramantyo dari Dapur Film). Jadi, cukup lama proses bongkar pasangnya. Kira-kira setahun saya mengerjakan skenario Perahu Kertas.

Hal apa yang dirasa paling pelik dalam 'memindahkan' karakter-karakter novel ke dalam film?

Tidak banyak perubahan dalam karakter. Karakter-karakter di novel sudah cukup kuat. Namun, saya merasa, dalam film, cerita dan karakter harus dipertegas gradasinya. Harus ada tokoh-tokoh yang menajamkan konflik. Untuk itu, saya memunculkan beberapa tokoh "baru", tepatnya, tokoh yang sudah ada di novel tapi dikembangkan sedemikian rupa sehingga mereka memiliki porsi yang lebih besar dan signifikan. Misalnya, tokoh Siska (partner kerjanya Remigius) dan Banyu (pemahat di Ubud). Dua tokoh itu ada di novel, tapi hanya selewat, di film mereka diperbesar dan punya porsi signifikan dalam hidup tokoh-tokoh utama.

Film biasanya tidak bisa seleluasa novel, dalam arti ada hal-hal yang harus dikorbankan atau dihilangkan. Bagaimana Mbak Dewi berkompromi dengan hal ini?

Itu hal yang saya sadari sejak awal. Karena itulah saya mengajukan diri sebagai penulis skenario Perahu Kertas sejak awal kerja sama. Saya berpikir, kalau ada orang yang bisa tega memutilasi cerita Perahu Kertas, ya, harus saya orangnya. Sayalah orang yang memahami betul fondasi cerita Perahu Kertas, hingga sayalah yang bisa memutilasinya tanpa membunuh spirit ceritanya. Konsekuensinya, kalau ada yang protes kenapa cerita beda dengan novel, ya, saya jugalah orang yang diprotes. Nggak bisa cari kambing hitam. Hehe.

Bagaimana komentar Mbak Dewi untuk Hanung Bramantyo sebagai sutradara film ini? Apa dari awal memang sudah menginginkan Hanung di posisi itu?

Untuk pemilihan sutradara, kami pitching bersama (saya, Pak Chand Parwez, dan Pak Putut). Ada empat nama sutradara yang sempat dicalonkan. Sejak awal, Pak Parwez sudah sangat yakin dengan Hanung, karena menurut beliau, Hanung tipe sutradara yang mampu memegang banyak pemain, pas dengan karakter Perahu Kertas yang punya tokoh banyak. Sayangnya, Hanung sempat tidak bisa karena jadwal kerjanya nggak matching. Setelah rencana rilis Perahu Kertas diundurkan ke Agustus 2012, jadwal Hanung kembali memungkinkan, dan akhirnya Pak Parwez kembali mengusulkan Hanung. Jujur, tadinya saya ragu. Tapi, setelah kenal langsung dengan Hanung, intuisi saya seketika mengatakan, dialah orang yang tepat. Apalagi akhirnya Hanung bukan cuma menyutradarai, tapi ikut terlibat sebagai produser dengan perusahaannya, Dapur Film.

Mbak Dewi juga terlibat dalam pemilihan pemain filmnya. Bisa diceritakan bagaimana prosesnya? Sulitkah 'memasangkan' karakter-karakter di novel dengan para aktor/aktrisnya?

Keterlibatan saya lebih konsultatif, sih. Proses casting tetap sepenuhnya dijalankan oleh Zaskia. Menurut Zaskia sendiri, inilah proses casting tersulit yang pernah dia lakukan. Casting Perahu Kertas itu seperti orkestrasi, semua pemain saling terkait, jadi kalau ada satu yang diubah, yang lain harus ikut berubah. Maudy adalah pemain yang pertama kami kunci, dan memang sayalah yang meyakini bahwa Maudy adalah pemain yang tepat untuk Kugy. Setelah semua pihak setuju, barulah kami menyesuaikan semua pemain berdasarkan tokoh Kugy yang sudah kami kunci.

Selain Maudy Ayunda, film Perahu Kertas juga memuat Rida Sita Dewi dalam soundtrack-nya. Apa yang memicu ini, dan bagaimana saat kembali menyanyi setelah beberapa tahun tidak bersama?

Ide melibatkan RSD sebenarnya sudah cukup lama ada di benak saya, tepatnya ketika saya menuliskan adegan terakhir Perahu Kertas. Ada satu lagu yang saya rasa pas banget untuk adegan itu. Lagu lama saya yang belum pernah dirilis, saya tulis mungkin sekitar tahun '96, judulnya "Langit Amat Indah". Tahun segitu saya lagi senang-senangnya dengan Indigo Girls, jadi lagu itu pun feel-nya kurang lebih seperti lagu-lagu Indigo Girls yang cenderung folk, dinyanyikan lebih dari satu orang, dst. Saya pun iseng terpikir untuk menyanyikannya bareng RSD. Ternyata para produser, termasuk Trinity Optima yang mengerjakan soundtrack-nya, bersemangat dengan ide tersebut. Saya sendiri baru mengontak Rida dan Sita menjelang rekaman. Mereka juga ternyata bisa dan semangat untuk rekaman lagi. Rasanya lucu campur aneh, ya. Bayangkan, kami terakhir rekaman 8 tahun yang lalu. Sudah nggak tahu lagi suara kita kalau digabung seperti apa. Begitu rekaman, ternyata belum berubah, termasuk kelakuannya juga. Jadi, seru banget proses rekamannya waktu itu.

Penulisan lagu-lagu untuk soundtrack Perahu Kertas memakan waktu berapa lama? Bagaimana proses merangkum cerita panjang di novel menjadi lirik lagu?

Sejak awal pula saya sudah tahu akan melibatkan diri dalam soundtrack. Saya rasa, dengan profesi saya sebagai musisi dan pencipta lagu, sangat alamiah jika saya pun berpikir tentang Perahu Kertas dalam format musik. Jadi, ketika skenario selesai, saya langsung membuat lagu "Perahu Kertas". Saya pilah-pilah mana ide yang perlu dimasukkan, dan juga kata-kata kunci seperti "perahu kertas", "surat cinta', "radar", dsb. Jadi terasa jelas keterkaitan lagu dan film. Saya menciptakan lima lagu untuk soundtrack ini. Ada empat lagu baru (termasuk "Perahu Kertas), dua di antaranya bahkan saya tulis dalam waktu seminggu saja, karena baru kita ketahui slotnya ketika sudah nonton preview pertama kali. Satu lagu yang sudah saya tulis lama tapi belum pernah dirilis, "Langit Amat Indah" (RSD). Sisanya: "Tahu Diri" oleh Maudy Ayunda, "Dua Manusia" oleh Dendy Mikes, "A New World" oleh Nadya Fathira. Di luar dari lagu saya, ada Triangle Band ("How Could You") dan Adrian Martadinata ("Behind The Star").

Kabarnya Mbak Dewi sempat ragu akan kemampuan Maudy Ayunda menyanyikan theme song Perahu Kertas. Bagaimana setelah mendengar hasil akhirnya?

Usia Maudy masih sangat muda, dan saya tadinya ragu apakah dia punya kematangan cukup untuk bisa menyelami lagu tersebut. Tapi Maudy ternyata menguasainya dengan baik. Satu hal tentang Maudy, menurut saya dia orang yang sangat cerdas dan perseptif, dengan mudah dia memahami apa yang dibutuhkan darinya, dan apa yang kita mau. Jadi, prosesnya cukup mulus.

Selain Perahu Kertas, Rectoverso juga akan dibawa ke layar lebar oleh beberapa sutradara perempuan. Sulitkah menaruh kepercayaan pada orang lain atas pembuatan karya Mbak Dewi dalam format lain?

Memang tidak mudah. Tapi saya sendiri bukan tipe kreator yang fanatik, dalam arti saya masih bisa melihat karya saya berkembang dari benak orang lain, dan malah penasaran seperti apa hasilnya. Yang sulit sebetulnya adalah menjaga agar karakter dan "flavor" Dee tetap ada dalam karya-karya yang dikembangkan tersebut, karena itu yang rentan hilang. Sementara menurut saya justru "flavor" itulah yang paling dikenali oleh pembaca. Jadi, kalau bukan saya terlibat langsung, ya, saya harus benar-benar berani melepas. Di Rectoverso, keterlibatan saya memang agak "nanggung", karena saya tidak menulis skenario atau casting, dan hanya terlibat secara konsultatif saja. Tapi, ya, kita lihat nanti. Saya rasa Marcella dan teman-teman sudah bekerja dengan sangat serius untuk mewujudkannya menjadi film yang cukup baik.

Majalah HAI | Memfilmkan Buku | September, 2012 | by Ananda Rasulia


Saat pertama mendapat tawaran, apa rasanya novel yang ditulis sendiri akan difilmkan? Apa yang terbayang saat itu?

Dari kali pertama menuliskan cerita Perahu Kertas tahun 1996, saya sudah mengkhayalkannya menjadi film. Dalam benak saya saat menuliskannya pun yang terbayang adalah film. Walaupun menurut saya saat itu, format yang ideal untuk Perahu Kertas adalah serial, karena konten ceritanya yang sangat padat. Dari tahun 2001 pun sebetulnya saya dan kakak saya sudah memperjuangkannya menjadi film, tapi belum berjodoh. Baru tahun 2009 tawaran itu datang bersamaan dengan tawaran menerbitkan Perahu Kertas menjadi buku (sebelumnya sudah terbit dalam format digital WAP oleh XL). Yang terbayang saat itu adalah kerja keras. Saya memang sudah mensyaratkan beberapa hal, salah satunya menjadi penulis skenario, terlibat dalam proses casting, dan membuatkan soundtrack. 

Mbak juga menjadi penulis naskah Perahu Kertas, apakah alasan utama meminta posisi tersebut dalam film?

Karena saya merasa sebagai orang yang paling mengenal cerita, jadi kalau ada yang harus tega "memutilasi" novel Perahu Kertas tapi tanpa kehilangan esensi dan gaya bertutur Perahu Kertas, ya orang itu adalah saya. Saya memang harus belajar menulis skenario dari nol, karena format dan hukum-hukumnya yang nggak persis sama dengan novel. Tantangan yang menyenangkan, sih. Saya belajar banyak dari menulis skenario Perahu Kertas.

Apa pendapat Mbak tentang 'film yang diangkat dari novel, sering mengecewakan penonton yang sudah membaca novel tersebut?'

Ya, itu sudah lumrah hukumnya. Teater dalam pikiran pembaca adalah yang terbaik, mutlak, dan tak bisa dikalahkan. Otomatis, pembaca yang menjadi penonton akan melakukan komparasi dan pembanding-bandingan antara apa yang ia lihat di layar dan yang ia khayalkan dalam benaknya. Dan hampir pasti keduanya berbeda.

Bagaimana sebenarnya proses adaptasi film dari novel? Jika dibuat langkah demi langkah secara garis besar seperti apakah kira-kira langkahnya?

Skenario punya struktur yang hampir baku. Grafik cerita, naik-turun, sudah ada hukum-hukumnya. Sudut bercerita dalam film juga harus jelas, apa yang jadi premisnya, segalanya harus lebih tajam. Jadi, dari novel, kita harus menentukan ulang, premis cerita kita apa, karakter-karakter mana yang menjadi pencerita, dsb. Selebihnya, kita memuatkan isi novel ke dalam struktur skenario mengikuti hukum grafiknya. Karena itu terkadang ada tokoh yang tidak menonjol jadi menonjol, konflik yang tidak ada jadi ada, dsb, karena kita harus "melukis" ulang grafik cerita sesuai dengan hukum film. 

Apa yang paling sulit dari semua langkah itu? Dan bagaimana cara mengatasinya?

Yang paling sulit adalah mengakomodasi keinginan banyak orang. Film itu melibatkan banyak pihak: sutradara, produser, artistik, dsb. Semua itu harus diakomodir dalam skenario. Jadi nggak bisa sesukanya penulis. Beda dengan novel di mana penulis punya kebebasan hampir mutlak. Mengatasinya ya dengan belajar berkompensasi. Memahami bahwa inilah film. Bukan buku.

Tentang film yang sekarang banyak diangkat dari novel, apakah Mbak melihatnya sebagai tren, latah, atau memang permintaan pasar yang besar?

Ada beberapa aspek bisnis yang jelas menguntungkan dengan mengadaptasi buku. Pertama, buku, terutama yang laris, pastinya sudah punya pembaca setia dalam jumlah besar. Pembaca itulah yang kemudian diharapkan menjadi penonton. Jadi, sudah ada sejumlah penonton yang pasti. Kedua, film itu tulang punggungnya adalah cerita. Buku, terutama yang laris, kurang lebih karena punya cerita yang kuat. Berarti itu sudah menjadi modal tulang punggung yang kuat bagi film. Risikonya, kalau adaptasi tidak memuaskan. Otomatis akan menjadi publikasi yang kurang baik bagi film, bahkan bagi penulis. Jadi tetap ada risikonya.

Sekarang sedang garap film Madre ya, mbak? Sudah sampai mana prosesnya? Mbak jadi penulis naskah lagikah?

Dalam Madre, saya tidak terlibat produksi sama sekali. Cerita akan ditulis dan disutradari oleh Benny Setiawan. Jadi, di Madre, saya belajar juga untuk melepas karya saya sepenuhnya. Bagi saya ini sebuah pengalaman yang perlu dicicipi juga. Yang saya tahu, saat ini Madre masih penggarapan naskah sekaligus persiapan syuting. Syuting mulai Oktober.

Ada pesan khusus untuk filmmaker yang akan menggarap film yang diangkat dari novel?

Pahami premis cerita dengan baik, karena itulah benang merah yang minimal harus ada untuk menjembatani buku dan film. Pahami bahwa film dan buku adalah dua format yang berbeda. Jangan salahi struktur hanya karena ingin "setia" sama buku. Tulang punggung film tetap harus skenario yang kuat, bukan skenario yang persis buku.

Xposisi.Com | Profil | April, 2012 | by Ifnur Hikmah


Bisa diceritakan tentang kesibukan Dewi sekarang?

Sekarang ini sedang mempersiapkan peluncuran buku baru, Supernova PARTIKEL. Terbit tanggal 13 April.
 
Genre tulisan apakah yang menjadi favorit Dewi? Selain itu, genre tulisan seperti apakah yang ingin Dewi tulis setelah ini?

Saat ini sih lebih seringnya fiksi. Tapi sebetulnya saya senang juga menulis nonfiksi. Mungkin setelah Supernova tamat, saya akan membuat karya-karya nonfiksi. We'll see.

Apakah Dewi punya waktu dan tempat khusus untuk menulis?

Saat ini, nggak ada. Saya banyak menulis di rumah, dan sesempatnya saja. Kadang pagi, siang, sore, malam. Nggak tentu.

Supporter terbesar mbak Dewi untuk terus menulis?

Keluarga, tentunya. Suami saya, Reza Gunawan. Kalau saya malas-malasan, dia yang rajin mengingatkan.

Di antara semua penghargaan yang Dewi terima, adakah yang paling berkesan? Penghargaan tertinggi apakah yang pernah mbak Dewi dapatkan dari pembaca?

Saat saya bertemu dengan seorang tukang bangunan yang membangun rumah saya, dan ternyata dia adalah pembaca Filosofi Kopi yang sudah lama berangan-angan ingin bertemu dengan saya. Itu momen yang sangat mengharukan bagi saya.

Di antara semua buku mbak Dewi, penulisan buku manakah yang menurut mbak Dewi paling berkesan?

Semua buku punya kesan masing-masing sih, karena ditulis dalam kondisi dan waktu yang berbeda, jadi tantangannya juga lain-lain. Kalau ditanyanya sekarang, tentu yang paling berkesan adalah Partikel. Karena ini adalah buku terakhir yang saya tulis, jadi ingatan tentang proses pembuatannya masih sangat segar. Dan ini adalah buku saya yang paling tebal (500 halaman lebih), dan saya buat ketika sudah punya dua anak yang masih kecil-kecil. Saya nggak pernah membayangkan bisa menulis seintens itu dalam kondisi harus mengurus keluarga dan anak, tapi ternyata bisa.

Apakah tantangan terbesar yang Dewi temukan dalam menulis?

Menemukan waktu luang yang tidak terganggu.

Apakah pengalaman menarik yang pernah Dewi rasakan saat menulis novel? Apakah ada pengalaman pribadi yang dimasukkan ke dalam cerita?

Buku saya selalu gabungan dari lamunan, pengalaman, hasil riset. Jadi nggak pernah ada yang murni satu unsur saja.

Menurut Dewi, seberapa besar arti seorang pembaca dan bagaimana cara Dewi me-maintain hubungan dengan pembaca?

Saat ini saya lebih nyaman berinteraksi dengan pembaca via Twitter, karena paling praktis. Beda dengan milis yang maintenance-nya lebih memakan waktu. Jadi, hampir semua interaksi saya dengan pembaca dilakukan di Twitter, atau sekali-sekali Facebook.

Dari semua tokoh yang pernah ditulis, tokoh manakah yang paling disukai? Mengapa?

Pertanyaan sulit. Saya punya kedekatan yang intens dengan semua tokoh saya. Karena yang paling terakhir ditulis adalah Zarah, saat ini saya merasa dialah yang paling berkesan.

Dalam waktu dekat, proyek apa yang akan Dewi kerjakan setelah Partikel?

Ada beberapa karya yang ditawari untuk difilmkan, saya nggak terlibat langsung sih, cuma konsultatif saja hubungannya. Saya mau meneruskan episode Supernova selanjutnya, yakni Gelombang.

Selamat atas terbitnya Partikel. Setelah menunggu selama delapan tahun, bagaimana perasaan mbak Dewi sekarang?

Tegang, excited, dan sangat senang.

Bisa diceritakan proses kreatif di balik pembuatan Partikel? Mengapa Dewi sampai membutuhkan waktu delapan tahun untuk menulis Partikel?

Sudah saya jelaskan panjang lebar di kata pengantarnya, hehe. Tapi intinya, setiap karya punya momen masing-masing untuk lahir. Setelah melihat ke belakang, saya merasa memang inilah momen yang tepat bagi Partikel, karena akumulasi informasi dan pengetahuan yang saya punya sekarang akhirnya mencukupi untuk itu. Kalau dikerjakan 2-3 tahun yang lalu, pasti beda banget.

Bisa dikatakan pembaca sangat menantikan kehadiran Partikel. Apakah ini menjadi beban untuk Dewi? Seberapa yakin seorang Dewi Lestari terhadap kepuasan pembaca setelah membaca Partikel?

Beban ke pembaca sih enggak. Karena keinginan untuk melanjutkan tentunya paling kuat berasal dari saya sendiri. Kalau ke pembaca, saya lebih ke rasa penasaran ingin tahu reaksinya bagaimana, review-nya seperti apa. Mudah-mudahan sih puas. Karena saya sendiri puas menulisnya.

Cara apa saja yang sudah Dewi lakukan untuk mempromosikan Partikel?

Waktu Supernova 1, saya benar-benar "pasang badan". Menjalani puluhan talkshow, dsb. Sekarang, sudah tidak dimungkinkan untuk itu lagi karena saya harus mengurus keluarga. Selain itu, dinamika media sosial Indonesia yang semakin hidup, memudahkan saya untuk bisa berpromosi tanpa harus "pasang badan" seperti dulu lagi. Untungnya, penerbit yang bekerja sama dengan saya, Bentang Pustaka, juga sangat akomodatif. Mereka sangat terbuka menerima ide-ide saya dan mengembangkannya dengan cukup baik. Untuk Partikel tema promonya adalah countdown, penjualan serempak, dan alien. Karena buku ini sudah sangat diantisipasi pembacanya, momen countdown dan penjualan serempak akan membuat rilisnya Partikel lebih klimaks. Kehadiran "Alien" sendiri untuk menyemarakkan suasana saja, kebetulan temanya relevan dengan buku.
 
Selama rentang waktu hingga Partikel lahir, Dewi juga mengeluarkan Rectoverso, Perahu Kertas. Apakah proyek tersebut lebih dulu dimulai dibandingkan Partikel atau bagaimana?

Perahu Kertas iya, sudah saya tulis versi awalnya dari 1996. Rectoverso lebih ke nggak sengaja. Waktu itu saya memang niat untuk bikin album, dan konsepnya akhirnya lahir bareng dengan buku. Jadi buku Rectoverso ikut diproduksi.

Mbak Dewi juga mengeluarkan beberapa kumpulan cerpen (Filosofi Kopi dan Madre). Bisa diceritakan alasan Dewi mengeluarkan kumcer ini?

Saya kalau bikin cerpen itu sporadis, nggak disengaja. Setelah sekian lama, maka cerpen-cerpen lepasan ini mulai menumpuk. Jadi biasanya per lima tahun saya mengeluarkan kumpulan cerpen, sebagai instrumen untuk mewadahi karya-karya lepasan saya.

Untuk film Perahu Kertas, sejauh mana keterlibatan Dewi di dalamnya? Bagaimanakah ceritanya sampai Perahu Kertas akhirnya difilmkan?

Saya menulis skenario, dan sisanya membantu secara konsultatif untuk casting. Saya juga akan menulis lagu untuk soundtrack-nya. Sisanya sudah dikerjakan oleh pihak-pihak lain yang kompeten.
Perahu Kertas memang sudah ditawari menjadi film berbarengan dengan penawaran penerbitan bukunya. Jadi, waktu itu Bentang Pustaka langsung datang bersama Mizan Production yang memang masih sister company. Saya sendiri memang sejak lama ingin Perahu Kertas bisa menjadi film, jadi langsung saya sambut.

Untuk serial Supernova selanjutnya, sudah sejauh manakah persiapannya?

Masih pengumpulan materi.

Bagaimanakah Dewi melihat pertumbuhan sastra sekarang? Bagaimana perkembangan buku di Indonesia sekarang ini?

Saya nggak pernah mengamati hanya terbatas pada sastra tok, saya lebih melihat industri buku secara keseluruhan. Untuk fiksi, yang genre sastra memang nggak terlalu banyak dibandingkan genre populer seperti teenlit, chicklit, dll. Tapi menurut saya itu nggak terlampau masalah. Pada akhirnya penulis berkembang, pembaca juga berkembang, dan akan ditemukan ekulibrium baru dengan sendirinya. Untuk industrinya, saya rasa kita kekurangan toko buku, dominasi toko tertentu belum tentu menjadi sehat bagi industri penerbitan. Saya juga excited dengan perkembangan buku digital di Indonesia. Sekarang belum terlalu kelihatan, tapi dua-tiga tahun ke depan, mungkin kita akan memasuki era baru.

Pernahkah mbak Dewi mengalami writer’s block? Cara seperti apa yang biasa mbak Dewi lakukan untuk mengatasinya? Adakah tips dan trik khusus tentang menulis yang bisa mbak Dewi bagi kepada pembaca xposisi.com yang sebagian besar merupakan penulis pemula? Terutama tentang mencari dan mengolah ide menjadi sebuah cerita utuh. Apa yang menurut mbak Dewi paling penting dalam proses tersebut?

Menulislah dari yang kita suka. Itu saja dulu. Jangan takut gagal. Di balik satu naskah yang selesai, bisa jadi ada puluhan naskah yang gagal. Itu biasa. Sekarang sudah ada pelatihan menulis seperti Plot Point, dll, itu bisa membantu. Belajarlah juga dari penulis yang kita suka dengan cara membaca cermat tulisannya. Dan banyaklah membaca referensi yang bagus.

U Magazine | Profil | Januari, 2010


Bagaimana Anda mendefinisikan "budaya"?

Sebuah hasil efek samping yang tak terhindarkan, diakibatkan oleh tubrukan antara aspek sosial dan aspek individual dari umat manusia.

Menurut Anda, apa media yang paling ampuh untuk menyebarkan suatu nilai budaya? Alasannya?

Televisi, dan sekarang ini jejaring sosial di internet. Televisi, karena kekuatan audio-visual dan penggunaannya yang sudah sangat luas. Internet, karena selain juga bisa audio-visual, kecepatannya real-time.

Lewat buku atau musik, Anda merasa mewakili satu "genre" atau "kelompok" kebudayaan tertentu? Kalau iya, "genre" atau "budaya" apa?

Secara umum, saya dibesarkan dalam konteks budaya pop. Saya tidak merasa mewakili kelompok kebudayaan tertentu, tapi yang jelas karya saya tidak bisa lepas dari andil/pengaruh budaya pop.

Saat ini banyak negara mengandalkan industri kreatif untuk menggenjot pendapatan. Anda setuju dengan "mengkomersilkan" kreatifitas? Atau memang harus begitu supaya maju dan berkembang?

Menurut saya, jika ingin berkembang luas, faktor komersil dan kreativitas seharusnya berjalan seimbang. Komersialitas jangan memakan dan mendikte kreativitas, sebaliknya kreativitas tanpa komersialitas juga akan berjalan di tempat.

Apakah Anda melihat masyarakat Indonesia telah cukup cerdas untuk menerima produk budaya yang bagus (meski kadang-kadang "susah")? Apa indikasinya? Apakah, misalnya dengan banyaknya toko-toko buku baru bisa menjadi ukuran bahwa masyarakat Indonesia makin cerdas?

Dalam pengamatan saya, yang tentunya terbatas, saat ini ada minat dan geliat baru dalam dunia pustaka Indonesia. Salah satu indikasinya adalah lebih banyak toko buku, lebih banyak penerbit, lebih banyak penulis, dan volume oplah keseluruhan yang juga meningkat. Tapi apakah itu berkorelasi dengan kualitas dan kecerdasan, menurut saya belum tentu.

Buku terbaru Anda (yang sebenarnya bersumber dari tulisan lama Anda), Perahu Kertas, cenderung lebih ringan dibandingkan novel-novel sebelumnya? Apakah ini bagian dari "mengikuti selera pasar"?

Pada prinsipnya, saya tidak pernah mengikuti selera pasar. Saya hanya menuliskan buku yang ingin saya baca. Perahu Kertas adalah naskah yang juga berada dalam rentang selera dan minat saya pribadi. Dibilang lebih ringan bisa jadi, yang jelas kreativitas saya memang berwarna dan tidak pernah berada dalam satu spektrum saja. Dan Perahu Kertas sudah ada jauh sebelum serial Supernova, jadi sebetulnya kalau saya merilis Perahu Kertas lebih cocok saya dibilang “menentang pasar” ketimbang “mengikuti pasar” saya yang sudah ada dan terbentuk oleh Supernova.

Apa yang mendorong Anda bekerjasama dengan XL untuk pemasaran novel ini -- yang mengharuskan Anda menyelesaikannya dalam 55 hari dengan banyak perubahan dari naskah asli, seperti Anda tulis di blog?

Saya suka proyek-proyek pionir. Dan saat itu novel digital memang belum ada, jadi Perahu Kertas menjadi yang pertama. Selain itu, saya memang sudah berniat untuk menyelesaikan naskah Perahu Kertas yang sudah mati suri sekian lama. Jadi, tawaran XL menjadi motivasi segar bagi saya untuk menyelesaikannya. Kenapa 55 hari? Karena kalau tidak ada deadline seperti itu, saya berisiko untuk menghabiskan waktu terlalu lama untuk menulis ulang naskahnya, yang artinya Perahu Kertas mati suri lebih panjang lagi.

Anda meluncurkan Rectoverso satu paket buku dan musik. Sebenarnya bagaimana ide awalnya dan apa pertimbangannya? Apakah masyarakat pembaca buku Indonesia siap dengan model seperti ini? Tanggapan para pembaca buku Anda, bagaimana? Adakah pengaruhnya terhadap tingkat penjualan buku ini -- menjadi lebih laku atau malah sebaliknya?

Lagi-lagi, Rectoverso adalah proyek pionir. Belum ada sebelumnya buku dan album musik yang saling bercermin seperti itu (bukan soundtrack), dan kebetulan musik dan penulisan adalah bidang yang saya kuasai. Tanggapan masyarakat cukup bagus, pembaca saya juga sejauh ini positif menanggapinya. Walaupun saya berkesimpulan, secara penjualan tetap buku yang lebih kuat, karena industri musik sendiri sedang mengalami perubahan drastis dengan peralihan ke format digital, download, RBT, dan maraknya pembajakan.

Waktu pertama kali meluncurkan Supernova, Anda memakai jalur penjualan indie, apakah ini menguntungkan dari segi komersil? Mengapa Anda sekarang akhirnya kembali ke jalur penjualan "normal" lewat toko buku? Apakah ada pertimbangan khusus atau semata-mata soal bisnis?

Menyimpulkan dari masa sekarang, indie atau tidak keuntungan komersialnya sama-sama saja. Karena sekalipun profit menerbitkan sendiri lebih besar ketimbang cuma dapat royalti tapi konsekuensinya kita juga harus punya sistem, SDM, dsb, yang butuh energi dan biaya juga. Yang membedakan hanyalah kemerdekaan dan keleluasaan untuk menetapkan strategi, harga, dsb, karena buku itu otomatis menjadi barang kita sendiri. Perlu digarisbawahi bahwa “indie” artinya adalah menerbitkan sendiri (dan sebagian mendistribusikannya lewat jalur sendiri), tapi itu bukan berarti tidak lewat toko buku. Semua buku saya sejak dulu selalu lewat toko buku. Hanya saja ada saluran tambahan lewat internet, direct selling, dsb. Jadi tidak tepat kalau dibilang saya “kembali ke jalur normal”, karena kalau yang disebut “normal” adalah lewat toko buku, dari dulu pun buku saya selalu dijual di toko buku. Hanya peran distributor dan penerbitnyalah yang dilakoni sendiri. 

Tahun ini, Perahu Kertas akan difilmkan oleh Mizan. Apa yang membuat Anda bersedia? Apa saja persiapan Anda? Anda yakin filmnya akan setia pada buku? Tidak takut nantinya terjadi "penyelewengan" dari buku ke film?

Sejak awal menulis Perahu Kertas saya memang sudah punya visi untuk mengangkatnya ke layar lebar. Jadi tinggal mencari partner yang tepat saja. Kebetulan karena sekarang Perahu Kertas bekerja sama dengan Bentang sebagai penerbitnya, maka selaku paying dari Bentang, Mizan Production-lah yang maju terlebih dahulu. Soal penyelewengan, saya sih cukup realistis, tidak akan pernah mungkin naskah buku sama persis ketika difilmkan. Jadi “penyelewangan” pasti terjadi. Tinggal sekarang bagaimana “penyelewengan” itu tetap bagus dan manis sehingga bisa diapresiasi sebagai karya seni yang baik.

Kalau harus memilih fokus ke satu hal, Anda akan memilih jadi apa: penyanyi, penulis, pemain film, ibu rumah tangga, atau apa?

Ibu rumah tangga yang hobi nyanyi dan cari uang sambilan dari menulis. Main film? Tidak pernah terlintas di benak saya.

Dari semua buku-buku Anda, ada yang jadi favorit Anda? Kenapa?

Sejauh ini, saya paling suka Petir dan Perahu Kertas. Semata-mata karena dua buku itu proses pembuatannya sangatlah menghibur.

Apa yang paling mempengaruhi Anda dalam menulis: pengalaman atau pengamatan sehari-hari ATAU ide-ide liar tentang apa saja yang tiba-tiba muncul di kepala?

Kesemuanya. Menurut saya tidak ada “single factor” dalam menulis, apa pun yang menjadi pengalaman mental, fisik, maupun rohani dalam kehidupan nyata kita, akan menjadi bahan yang keluar tiba-tiba ketika kita menulis.

Apa yang paling sulit dan memakan waktu ketika menulis novel: mencari ide, membuat riset, menulis, atau justru saat melemparnya ke pembaca? Dari semua itu, mana yang paling Anda nikmati dan kenapa?

Paling makan waktu: riset. Paling bikin pusing tapi mengasyikkan: menulis. Paling melelahkan: promosi buku. Saya paling menikmati saat buku sudah jadi tapi belum rilis. Itu fase ‘tengah-tengah’ di mana ada kelegaan karena sudah selesai, tapi stres berikutnya yakni mempromosikan buku, belum datang.

Apa proyek atau karya Anda berikutnya? Apakah tetap berkisar di buku dan musik atau mungkin sesuatu yang sama sekali berbeda?

Supernova Partikel dan skenario film Perahu Kertas. Ada proyek-proyek lainnya yang nonfiksi, tapi masih dalam tahap penggodokan.

Apa film terakhir yang Anda tonton dan sangat suka? Kenapa?

Saya lagi jarang nonton film layar lebar, apalagi ke bioskop, karena masih ngurus bayi. Saya lagi senang nonton film serial, favorit saya: Criminal Minds, Lie To Me, Castle, dan Fringe. Serial-serial itu menurut saya mencerdaskan karena saya jadi tahu banyak hal sekaligus terhibur.

Apa buku terakhir yang Anda baca dan bagian apa yang paling Anda suka?

Saya lagi baca buku fotografi, Understanding Exposure oleh Bryan Peterson.

Sindo Weekly | Profil | Agustus, 2012 | by Diah Ayuningtyas


Bicara mengenai novel Dewi Lestari yang diangkat ke layar lebar, Perahu Kertas dan Rectoverso, apa yang melatarbelakangi dua novel tersebut terpilih sebagai base story film yang akan diangkat ke layar lebar? 

Sebenarnya pertanyaan itu lebih tepat diajukan ke produser. Karena dalam hal ini, saya menjadi pihak yang ditawari, bukan menawarkan diri, jadi pertimbangan untuk memfilmkan sepenuhnya adalah keputusan dan ketertarikan para produser. Untuk Perahu Kertas ada 3 PH yg terlibat: Bentang Pictures, Starvision, dan Dapur Film. Sementara Rectoverso adalah Keana Production (Marcella Zalianty). 

Dewi Lestari sendiri ikut ambil peran dalam pembuatan film tersebut such as mengisi soundtrack atau ikut menjadi salah satu cast film-film tersebut? 

Di Perahu Kertas saya diminta main, tadinya buat jadi cameo, tapi nggak ada slot yang tepat, akhirnya jadi salah satu pemeran kecil, cuma satu scene doang, hehe. Untuk soundtrack saya memang terlibat, ada lima lagu yang saya ciptakan untuk OST Perahu Kertas. Dalam Rectoverso, lima lagu saya juga dipakai, tapi dinyanyikan ulang oleh penyanyi-penyanyi lain, antara lain Glenn Fredly, Drew, Dira Sugandhi, dan Acha Septriyasa. Saya nggak terlibat main di Rectoverso, hanya menjadi konsultan informal saja. 

Bagaimana proses mulai dari pengambilan keputusan dua novel tersebut terpilih sampai benar-benar diangkat jadi skenario dan lain-lain? 

Sebagaimana yang saya jelaskan tadi, pemilihan cerita-cerita mana yang diangkat adalah keputusan produser. Perahu Kertas sudah ditawari untuk difilmkan sejak tahun 2008, tepatnya ketika saya mencari penerbit untuk novel Perahu Kertas, dan saat itu Bentang Pustaka datang bersama dengan Mizan Production untuk ikut pitching. Jadi, sejak awal tawaran penerbitan sudah dibarengi dengan tawaran untuk difilmkan. Saya tertarik, dengan syarat saya yang menulis skenarionya dan dilibatkan dalam pemilihan cast. Ini memang sudah menjadi rencana saya sejak lama. Saya selalu membayangkan Perahu Kertaslah buku saya yang pertama kali difilmkan, karena materi ceritanya memang sangat filmis. Dan untuk menjaga spirit dari buku, saya ingin terlibat sebagai penulis skenario. Bisa dibilang saya seperti konsultan garis miring produser informal untuk Perahu Kertas, karena memang saya dilibatkan cukup jauh. Dari mulai skenario, pemilihan sutradara, casting, soundtrack, dll. Saya senang sekali karena diberikan ruang dan keterlibatan yang cukup luas oleh Bentang Pictures, Starvision, dan Dapur Film. Skenario Perahu Kertas saya kerjakan kurang lebih setahun. Untuk Rectoverso, keterlibatan saya nggak sedalam itu, sifatnya hanya lebih konsultatif saja, karena dalam Rectoverso pihak yang terlibat sudah cukup banyak berhubung ada lima sutradara dan lima penulis skenario. 

Setelah Perahu Kertas dan Rectoverso, sudah ada rencana untuk novel lain dari Dewi Lestari yang akan diangkat ke layar lebar, seperti Filosofi Kopi atau Partikel? 

Yang sudah pasti akan difilmkan adalah Supernova 1 dan Madre. Filosofi Kopi sedang dijajaki. 

Untuk penulisan skenario, apakah Dewi Lestari juga turut serta? 

Dalam Perahu Kertas, saya penulis skenarionya. 

Bicara mengenai karier sebagai penulis, apa keluarga memberi dukungan penuh? 

Sangat. Saya nggak akan mungkin bisa menjalankan begitu banyak proyek menulis jika bukan karena dukungan keluarga saya, khususnya suami saya, Reza Gunawan. Dialah support system saya yang paling penting. Kehadiran keluarga juga memberikan balans bagi saya, karena pekerjaan menulis kalau nggak dijaga rambu-rambunya cenderung menghanyutkan dan membawa kita ke dunia sendiri. 

Bagaimana kabar RSD (Rida, Sita, Dewi)? Masih eksis atau tidak? Bagaimana RSD memberi bukti atas ke-eksisannya di dunia musik Indonesia? 

RSD secara formal sudah bubar sejak 2003. Tahun 2007 kita pernah konser reuni, dan tur ke 12 kota di Jawa Barat. Sampai sekarang sih kami belum terpikir untuk bikin album. Namun, di soundtrack Perahu Kertas, saya iseng-iseng mengajak Rida & Sita untuk nyanyi lagu satu lagu saja. Tidak ada rencana panjang bahwa itu akan berlanjut ke dalam bentuk album, dsb. Bagi kami, reuni rekaman dalam satu lagu saja sudah luar biasa sekali rasanya. Kita lihat saja nanti ke depannya bagaimana. 

Personal message dong untuk dunia seni khususnya penulisan untuk pembaca SINDO Weekly. 

Temukan jenis buku yang kita suka, dan tulislah buku yang ingin kita baca.