Showing posts with label Madre. Show all posts
Showing posts with label Madre. Show all posts

Tuesday, December 23, 2014

FAQ: Kumpulan Cerita MADRE (2011, Bentang Pustaka)


Madre ini buku yang keberapa?

Yang ketujuh, setelah Perahu Kertas (2009). 

Kenapa memilih kembali menghadirkan bentuk antologi? 

Karya-karya saya termasuk cukup beragam bentuknya, tidak hanya novel. Ada cerita pendek, novelet, puisi, dan lain-lain. Jadi, format antologi ini saya gunakan untuk menampung karya-karya non-novel, yang ketika sudah berjalan sekian tahun, volumenya semakin banyak dan bisa diterbitkan menjadi buku. Filosofi Kopi, misalnya, adalah kumpulan variasi karya saya selama satu dekade. Madre juga seperti itu bentuknya,  yakni kumpulan variasi karya saya selama lima tahun terakhir. 

Ada berapa cerita pendek dalam antologi Madre? 

13 cerita. 

Berapa lama menyelesaikan Madre? 

Karena Madre berbentuk antologi selama lima tahun terakhir, beberapa di antaranya sudah banyak yang selesai, meski semua naskah tetap harus disunting ulang. Tapi ada juga naskah baru yang memang dibuat tahun ini, yakni Madre itu sendiri. Selain itu ada juga beberapa naskah lama yang saya tulis ulang dan selesaikan, seperti "Menunggu Layang-layang" dan "Have You Ever?". 

Mengapa terpikir untuk meminta Sitok Srengenge sebagai editor untuk Madre? Ada pertimbangan khusus? 

Saya kenal Mas Sitok secara pribadi, dan mengagumi karya-karyanya. Sebetulnya waktu itu saya justru tanya ke Mas Sitok, editor mana yang ia rekomendasikan. Mas Sitok tahu-tahu malah menawarkan diri, padahal jadwal beliau sangat padat. Bagi saya, ini kesempatan yang sangat istimewa. Mas Sitok punya kepekaan bahasa yang baik, dan karena beliau juga bergerak di bidang penerbitan, ia terbiasa jeli menghadapi naskah. Jadi, kemampuan beliau sangat unik. 

Kisah Madre sendiri, mengapa tergerak membuat cerita tentang roti? 

Saya senang masak dan makan. Sejak dulu ingin sekali membuat cerita tentang makanan. Memilih roti sebenarnya tidak diniatkan sejak awal. Ide itu baru terpicu ketika saya ikut kursus membuat roti, dan instruktur saya bercerita tentang bedanya ragi instan dan ragi yang dikulturkan, yang biasanya disebut starter dough atau adonan biang. Saya langsung tertarik. Setelah saya riset, saya makin kagum. Bayangkan, adonan biang bisa bertahan ratusan tahun dan menjadi ibu bagi entah berapa banyak roti, seperti Boudin Bakery di San Fransisco. Waktu kecil, saya pun pernah berlangganan roti seperti itu. Sayangnya, toko roti tersebut tergusur zaman dan sekarang tutup. Bagi saya semua hal tadi memiliki elemen yang sangat kaya untuk diwujudkan dalam cerita. 

Kalau melihat secara keseluruhan, kisah paling favorit dari antologi Madre? 

Itu pertanyaan sulit, karena bagi saya semua cerita punya pemicu, kenangan, dan proses kreatif yang berbeda-beda. Kisah berjudul "Madre" tentunya istimewa karena saya memang sudah lama ingin membuat cerita tentang makanan, dan "Madre" memang menjadi cerita utama di buku. Saya juga punya kesan mendalam pada cerita "Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan", bagi saya cerita itu sangat merepresentasikan apa yang saya rasakan dan alami secara spiritual. 

Apa yang membuat Madre berbeda dari karya-karya Dee sebelumnya? 

Sejauh ini, setiap buku saya memang beda-beda, ya. Madre, misalnya, walaupun mirip formatnya dengan Filosofi Kopi, tapi jika ditelaah isinya "citarasa"-nya berbeda. Menurut saya, yang "khas" dari Madre ini adalah tema-tema yang diangkat. Benang merahnya cukup jelas. Tema spiritualitas, re-birth, reinkarnasi, banyak muncul dalam antologi Madre. 

Sudah adakah rencana untuk buku berikutnya? 

Untuk 2-3 tahun ke depan, saya memang berencana untuk menulis marathon. Jadi proses kerja saya hampir tak terputus. Sesudah ini saya mau menyelesaikan serial Supernova, Sudah setahun ini, sejak mempersiapkan Madre, saya mengurangi aktivitas di luar untuk fokus menulis dulu. Target saya sesudah ini adalah buku keempat Supernova yakni "Partikel". 

Apakah buku Madre juga berencana dibuat film? 

Untuk produksi film tidak pernah menjadi target buat saya. Kalau ada yang tertarik, dan rasanya berjodoh, ya mungkin bisa jalan. Tapi kalau tidak pun tidak apa-apa. 

Apakah buku Madre ini juga punya karya musik pendamping, misalnya soundtrack? 

Tidak ada, karena memang konsepnya Madre ini murni buku fiksi saja. 

Apakah sekarang berencana lebih fokus ke menulis saja, ketimbang di bidang musik? 

Meski musik merupakan minat dan profesi saya, dalam menetapkan prioritas saya lebih melihat situasi. Saat ini saya sedang ingin lebih banyak di rumah, membesarkan anak-anak, terutama Atisha yang belum 2 tahun. Untuk itu, saat ini saya lebih condong ke menulis karena saya dimungkinkan lebih banyak di rumah ketimbang jika saya beraktivitas di musik. 

Seberapa jauh efektivitas media sosial yang Dewi gunakan untuk meluncurkan buku terbaru kali ini? 

Media sosial, khususnya Twitter, sekarang adalah sarana utama saya berkomunikasi dengan pembaca. Lewat media sosial, saya bisa kasih informasi, bikin kuis, berinteraksi, dari yang sifatnya pekerjaan sampai ngalor ngidul. Bahkan untuk Madre, melalui Twitter saya dan penerbit bisa membuat momen pre-sale yang cukup sukses. 

Bagaimana selama ini menyeimbangkan waktu dan tenaga antara proses menulis dengan merawat bayi, terutama waktu membuat Madre? 

Jujur saja, tidak terlalu mudah. Saya harus membiasakan diri kerja dengan interval pendek-pendek karena nggak bisa meninggalkan anak saya terlalu lama. Padahal kalau menulis itu saya terbiasa menghabiskan waktu berjam-jam sekali duduk. Tapi saat ini, sih, sudah mulai terbiasa dengan itu. Konsekuensinya ya saya nggak terima pekerjaan di luar rumah dulu. 

Baru-baru ini Supernova edisi pertama diterbitkan dalam bahasa Inggris.  Bagaimana ceritanya, apakah memang ditargetkan karya-karya lain juga akan dibuat versi Inggrisnya? 

Untuk penerjemahan juga tidak menjadi target saya, karena memang hal tersebut sifatnya situasional. Artinya, jika ada penerbit yang merasa sebuah naskah asing memiliki pangsa pasar dan bisa memasarkan, maka tawaran itu datang. Hal tersebut juga berkaitan dengan ketertarikan masyarakat internasional pada karya sastra Indonesia. Tentunya saya akan merasa sangat senang jika ada tawaran penerjemahan karya-karya saya, tapi bagi saya itu bukan hal yang jadi prioritas.

Monday, December 22, 2014

Majalah HAI | Film Madre | Maret, 2013 | by Anka Perkasa


Ide awal Dee untuk menulis Madre datang dari mana? Apakah Dee sendiri penggemar roti?

Idenya datang ketika saya ikut kursus membuat roti, dan saat itu instruktur saya menceritakan tentang adonan biang, dan bedanya dengan pengembang roti instan. Saat itu rasanya saya kecantol dengan adonan biang itu, saya merasa adonan biang memiliki aspek cerita yang sangat menarik. Sepulang kursus, saya langsung googling dan mencari tahu lebih banyak tentang adonan biang. Dalam kepala saya berkembanglah cerita, dan itu yang kemudian saya tuangkan menjadi novelet Madre.

Siapa yang pertama kali mengajukan untuk mengangkat Madre menjadi film?

Yang mengajukan adalah pihak produser tentunya, yakni Mizan Production. Setelah membaca Madre, Pak Putut Widjanarko dari Mizan Production mengontak saya dan mengungkapkan ketertarikannya untuk menjadikan Madre sebagai film. Proses kontraknya tidak langsung, kira-kira setengah tahun setelah ide itu terlontar, baru betulan diikat dalam kontrak dan Mizan mulai ancang-ancang produksi.

Ada persyaratan khusus yang diajukan ke produser yang ingin mengadaptasi novel Dee ke film?

Tergantung, sih. Untuk Perahu Kertas, saya memang ingin terlibat sebagai penulis skenario dan ikut proses casting. Barangkali karena itu kisah saya yang pertama kali diangkat jadi film, dan menulis skenario Perahu Kertas merupakan impian saya sejak lama. Tapi untuk yang sesudahnya, Rectoverso dan Madre, saya sebetulnya sudah lebih melepas proses tersebut ke tangan produser dan sutradara. Saat itu memang saya tidak dimungkinkan secara waktu untuk terlibat proyek lain berhubung sedang intensif menulis Partikel. Karena begitu nyebur ke dalam produksi film, nggak bisa tanggung-tanggung. Jadi, buat saya lebih baik melepas sekalian. Meski begitu untuk Rectoverso saya masih dilibatkan sebagai konsultan informal. Sementara untuk Madre saya sempat kasih masukan untuk plotnya. Tapi, keterlibatan saya bisa dibilang minimal.

Madre itu novelet dengan cerita yang nggak terlalu panjang. Saat harus diangkat ke layar lebar ada beberapa penambahan skenario di filmnya. Apakah ide di film Dee yang membuat atau tim dari film yang membuatnya?

Untuk Madre, pengembangannya dilakukan sepenuhnya oleh Benni Setiawan, penulis skenario sekaligus sutradara dari film Madre. Kalau Rectoverso, saya cukup banyak kasih masukan ke sutradara, walaupun saya nggak ngedit langsung skenarionya.

Opini Dee tentang Benni Setiawan? Apa yang Dee suka dari dia?

Ini adalah kerja sama saya pertama kali dengan Benni Setiawan. Yang saya tangkap dari beliau adalah keseriusannya. Membuat setting Madre tidak mudah, tapi Benni mengarapnya dengan sungguh-sungguh.

Pernah merasa beban nggak saat novelnya diangkat menjadi film?

Kadang-kadang. Waktu Perahu Kertas, karena proyek perdana, terasa lebih berbeban. Sekarang sih rasanya enggak. Sejak saya terlibat produksi, saya lebih memahami kompleksitas produksi dan industri film, jadi saya lebih bisa menerima keterbatasan sekaligus kelebihan medium film.

Menurut Dee, keuntungan saat sebuah film mengambil cerita dari sebuah novel? Kalau kesulitannya?

Keuntungannya karena sudah ada penonton yang "pasti", yang terdiri dari fans sang pembaca, prosentase dari jumlah pembeli buku, dll. Jadi sudah lebih terukur derajat keberhasilannya. Sementara kesulitannya tentu karena film yang diadaptasi akan mengalami pembandingan dari pembacanya, yang bisa suka atau nggak suka, sehingga otomatis beban para pembuat film lebih berat.

Dari semua karya Dee. Ada nggak yang paling ingin diangkat jadi film?

Yang paling saya inginkan adalah Perahu Kertas dan sudah terwujud. Judul-judul lain bagi saya adalah bonus, kalau terwujud dan hasilnya bagus ya syukur. Kalau tidak jadi film pun tidak apa-apa.

Apakah Dee punya film favorit yang ceritanya diangkat dari novel? Kenapa?

Lords of the Rings. Karena nonton filmnya lebih nikmat dan mudah daripada baca bukunya.

Wednesday, December 17, 2014

Wawancara Skripsi | Madre & Menunggu Layang-layang | Juni, 2012 | by Jatmiko


Bagaimana proses kreatif dalam penciptaan Madre dan Menunggu Layang-layang? Apa yang menjadi inspirasi dari dua cerpen tersebut? 

Ide menulis Madre muncul ketika saya ikut kursus membuat roti dan instruktur saya menjelaskan tentang adonan biang. Kebetulan saya punya keinginan terpendam untuk membuat cerita yang bertemakan kuliner. Saya langsung tertarik dengan adonan biang yang menurut saya punya dimensi drama yang bisa dikembangkan. Menunggu Layang-layang sebetulnya cerita yang sudah lama sekali saya garap, pertama kali ditulis tahun 1996, dan versi yang ada di kumpulan cerita Madre adalah versi hasil ditulis ulang tahun 2010. Idenya adalah kisah yang bertumpu pada dua karakter yang kontras (Starla dan Che), serta dinamika yang tercipta karena karakter mereka yang bertolak belakang tersebut. 

Apa yang melatarbelakangi terjadinya konflik batin yang dialami oleh Tansen sehingga ketika mendapatkan warisan Tansen ingin berlari dan menjual Madre (dilihat dari sisi Penulis)? 

Tansen tiba-tiba seperti ditendang dari zona nyamannya. Dari orang yang hidup bebas dan sudah terbiasa tidak memiliki "akar", tiba-tiba Tansen merasa terancam karena muncul ikatan yang tidak ia duga yakni Madre. Madre berpotensi menghancurkan kebebasannya dan menjadi ikatan yang tidak ia harapkan. Selain itu, silsilah keluarga yang tidak ia tahu juga menjadi faktor yang mengejutkan Tansen. 

Mengapa konflik batin dalam diri Mei terjadi ketika dewasa saat Mei mengetahui tentang Madre? 

Mei menyimpan penyesalan sejak kecil ketika ia "membinasakan" adonan biang kakeknya. Ia kemudian mengembangkan bisnis roti keluarganya masih dengan rasa penyesalan tersebut, dan karena itulah ia sangat tertarik dengan Madre. Madre merupakan jalan keluarnya untuk membayar penyesalannya.

Apa yang melatarbelakangi cerita tentang Pak Hadi yang mempertahankan Madre sehingga hal itu menyebabkan konflik batin dalam diri Pak Hadi ketika Madre hendak dijual? 

Bagi Pak Hadi, Madre adalah identitas dan hidupnya. Ia percaya pada kesetiaan dan dedikasi. Ia mendedikasikan hidupnya pada toko yang dipercayakan Tan kepadanya. Ini yang kontras dengan Tansen yang semasa hidupnya justru tidak mengenali kualitas-kualitas tersebut. Ketika Madre hendak dijual, bagi Pak Hadi itu adalah berakhirnya kehidupan yang ia tahu. Kehidupan sebagai pembuat roti. 

Bagaimana konflik batin dalam diri Christian dapat terjadi sehingga muncul penolakan terhadap Starla? Mengapa hal tersebut dimunculkan oleh Penulis? 

Sebagai seseorang yang mengamati dinamika hidup Starla dari jarak yang dianggapnya aman, Che merasa terguncang ketika ia sadar bahwa ia telah kehilangan posisi aman tersebut. Baginya, selama ini hidup Starla adalah hidup yang berbahaya, yang selalu berusaha ia hindari. Sebetulnya yang ia hadapi adalah ketakutannya sendiri akan perubahan dan ketidakpastian, karena Che adalah orang yang sangat takut kehilangan kendali hidupnya. 

Bagaimana proses terjadinya konflik batin Starla dan Rako dari sisi Penulis? Mengapa konflik batin Rako tiba-tiba dimunculkan dalam cerita? 

Rako menjadi titik balik bagi Che. Jika selama ini ia berusaha menahan diri untuk tidak protes terhadap segala sepak terjang Starla, ketika hal itu terjadi pada sahabatnya sendiri, Che tidak tahan lagi. Dan untuk kali pertama, konflik terbuka di antara Che dan Starla. 

Apakah konflik yang dialami oleh tiap-tiap tokoh memengaruhi kejiwaan tokoh yang lain? 

Menurut saya, harus. Justru itulah yang membuat sebuah cerita menjadi masuk akal dan plot menjadi utuh, karena ada keterkaitan emosi antar tokoh-tokohnya. Yang satu menyebabkan yang lain.

Pesan apakah yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Penulis dalam cerpen Madre dan Menunggu Layang-layang?

Pada Madre, pesan utamanya adalah pada menemukan rumah di dalam diri. Ketika kita merasa nyaman dan berdamai dengan diri sendiri (seperti yang dilakukan akhirnya oleh Tansen), maka rumah pun terwujud untuk kita. Pada Menunggu Layang-layang, adalah keberanian menghadapi ketakutan dan kelemahan terbesar kita, seperti yang akhirnya dilakukan oleh Che dan Starla. 

Jawa Pos | Film Madre | Maret, 2013 | by Amalia Nurul M


Madre merupakan cerita yang sangat memikat. Dari mana Dee mendapatkan inspirasinya? 

Idenya datang ketika saya ikut kursus membuat roti, dan saat itu instruktur saya menceritakan tentang adonan biang, dan bedanya dengan pengembang roti instan. Saat itu rasanya saya kecantol dengan adonan biang itu, saya merasa adonan biang memiliki aspek cerita yang sangat menarik. Sepulang kursus, saya langsung googling dan mencari tahu lebih banyak tentang adonan biang. Dalam kepala saya berkembanglah cerita, dan itu yang kemudian saya tuangkan menjadi novelet Madre. 

Pesan apa yang ingin Dee sampaikan lewat Madre? 

Singkat kata, inti cerita Madre adalah pemaknaan ulang arti rumah dan keluarga. Dalam proses merajut ceritanya, cukup banyak pesan sekunder lain yang tertuang, antara lain: dedikasi, kesetiaan pada profesi, entrepreneurship, harmonisasi antargenerasi, pluralitas, dan keberanian berkomitmen.
 

Madre dalam buku merupakan cerita pendek namun ia akan diangkat ke film yang berdurasi panjang, apakah akan terdapat penambahan cerita saat difilmkan? Bila iya, apakah Dee tidak khawatir penambahan tersebut dapat merusak esensi dari Madre? 

Ada penambahan. Bagi saya, itu wajar terjadi. Kebutuhan film dan buku tentu berbeda. Tapi memang saya meminta untuk baca skenario demi memastikan bahwa premis Madre masih tetap sama. Karena bagi saya pesan utamanya jangan sampai berubah. Jadi, saya sempat kasih masukan juga untuk pengembangan cerita. Untungnya Benni Setiawan dan pihak produser juga kooperatif, dan hasil akhirnya menurut saya cukup baik. Pengembangannya sejauh ini tidak melenceng dari pesan utama cerita asli.

Ekspektasi Dee terhadap film Madre? 

Tentu saya berharap Madre bisa mendapat sambutan hangat dari penonton, dan semoga jumlah penontonnya bagus.

Dalam film Perahu Kertas, Dee ikut terlibat di proses pembuatannya. Mengapa Dee tidak mau terlibat pada film Rectoverso dan Madre?

Karena saat produksi Rectoverso dan Madre dimulai, saya sedang menulis Partikel (Supernova 4). Untuk menulis skenario Perahu Kertas saat itu, saya harus break satu tahun dari menulis buku. Kalau saya terjun lagi di produksi Madre dan Rectoverso, buku saya akan keteteran, dan akhirnya saya memilih untuk fokus di buku. Toh, kalau di film, sudah banyak orang-orang kredibel yang bisa membantu. Sementara menulis buku kan tidak bisa digantikan siapa pun. Karena itu saya melepas Rectoverso dan Madre untuk digarap pihak lain. 

Madre merupakan buku ke-3 dari Dee yang difilmkan, apakah suatu saat Dee berencana untuk mengangkat pula kisah Supernova ke layar lebar? 

Supernova 1 memang sudah dibeli hak adaptasinya oleh Soraya Film (yang membuat film 5 CM). Tapi sepertinya baru akan diproduksi tahun 2014. 
 

The Jakarta Globe | Madre | Juli, 2011


Why "Madre"?

Madre saya pilih sebagai judul dari antologi karena memang kisah "Madre" sendiri merupakan cerita yang paling panjang dan paling gres yang saya buat di dalam antologi tersebut. Antologi ini merupakan kompilasi karya saya selama lima tahun terakhir, dan "Madre" inilah yang paling "bungsu" alias paling baru dibuat.

Siapakah Madre? Sekadar tokoh karakter atau betulan ada? Apa yang menarik dari kisahnya?

Kisah Madre sendiri merupakan perwujudan minat saya terhadap dunia kuliner. Idenya saya dapat ketika saya kursus membuat roti dan jadi mengetahui apa yang dinamakan dengan "adonan biang". Madre adalah nama dari adonan biang atau "starter dough". Di Italia, adonan biang disebut juga "Paste Madre atau "adonan ibu". Jadi, Madre di sini bukan orang, melainkan makanan yang hidup.

Apakah menggambarkan sisi lain atau sisi baru seorang Dee?

Karena merupakan kompilasi lima tahun terakhir, bisa dibilang "Madre" secara keseluruhan merepresentasikan persepsi dan perenungan aktual saya tentang hidup.

Tema "dialog ibu dengan janinnya" dan "reinkarnasi" apakah merupakan kekuatan utama buku Madre? Atau ada tema/judul yang lebih menonjol?

Reinkarnasi, rebirth, kematian, soulmate jika diamati dengan saksama, merupakan benang merah dari rangkaian kisah dalam "Madre", walaupun penyajiannya berbeda-beda. Ada yang bentuknya seperti puisi, ada yang murni cerita.

Berapa buku pre-order yang telah dirilis dan ditandatangani?

Tadinya hanya 1250, tapi begitu isu pre-order ini dilontarkan ke pembaca, permintaan jadi membludak, dan akhirnya kami sepakat untuk merilis 2600 buku untuk pre-order yang ber-TTD.

Berapa buku per hari?

Tadinya saya pesimis bisa menyelesaikan dalam waktu cepat karena asisten rumah sedang pulang kampung sebulan, jadi saya full mengurus anak. Tapi ternyata 700-800-an buku bisa saya selesaikan tandatangannya dalam satu hari. Tiap anak saya tidur siang, saya baru tanda tangan buku.

Bagaimana mengatasi keletihan menandatangani buku-buku itu? 

Letih sih enggak, tapi karena repetitif jadi cenderung bosan. Disiasati dengan bersenandung, dan diselingi main dengan anak atau main game, hehe. 

Tuesday, December 16, 2014

Majalah HELLO! | Karya & Keluarga | Oktober, 2012 | by Risty Nurraisa


SEPUTAR KARYA 

Selamat atas diputarnya film Perahu Kertas 1 dan 2. Bisa diceritakan bagaimana perasaan Anda ketika menyaksikan sendiri film yang diangkat dari novel Anda, dan script-nya dibuat oleh Anda? Saat menyaksikannya, apakah Anda menempatkan diri sebagai penonton, atau sebagai penulis, dan bagaimana Anda menggambarkan kepuasan Anda terhadap film ini? 

Dalam hal ini rasanya tak terelakkan kalau saya akan melihat film Perahu Kertas dari berbagai perspektif sekaligus. Bagi saya pribadi, Perahu Kertas menjadi film adalah mimpi besar yang jadi kenyataan, karena dari sejak tahun 1996 saat saya menulis Perahu Kertas pertama kali di bangku kuliah, saya sudah menyimpan impian bahwa cerita Perahu Kertas satu saat akan bertransformasi dalam bentuk "motion picture" entah itu di layar kaca atau lebar. Dan akhirnya di 2012 ini, mimpi itu menjadi kenyataan. Terharu rasanya. Sebagai penonton, saya merasa Perahu Kertas memiliki unsur-unsur yang saya cari dan sukai dalam sebuah film. Saya memang penyuka genre drama, dan saya suka drama yang membuat saya tertawa, terharu, dan merenung. Sebagai sebuah film, saya merasa mendapatkan itu semua dari Perahu Kertas. Sebagai penulis skenario, saya lebih memerhatikan aspek teknis, bagaimana eksekusi skenario ke gambar, interpretasi aktor dan aktris yang membawakan, properti, wardrobe, dsb. Jadi, lebih ke detail teknis. Dan semua kesan itu simultan saya rasakan saat menonton Perahu Kertas. 

Bagaimana perbedaan kenikmatan antara menulis novel dan skenario? Apakah nantinya Anda juga berniat untuk semakin mendalami profesi sebagai penulis skenario? 

Ada keasyikan tersendiri dalam menulis skenario. Bagi saya, penulisan skenario lebih mekanistis, saintifik, dan baku rumusnya ketimbang menulis novel. Jadi, keasyikannya adalah bagaimana memuat cerita yang lebih "organik" di novel menjadi sebuah struktur skenario. Kayak main puzzle jadinya. Saya nggak merencanakan secara pasti akan menulis skenario atau tidak. Yang jelas, core kepenulisan saya ada di buku. Dan saya masih punya pe-er besar menyelesaikan serial Supernova. So, saya ingin fokus dulu di buku. Jika sudah ada keleluasaan untuk mengulik skenario, dan kesempatannya ada, mungkin saya akan menulis skenario lagi. 

Film Rectoverso akan segera diluncurkan, dan disutradarai oleh lima artis wanita. Apakah Anda juga terlibat dalam pemilihan kelima wanita ini? Jika iya, apa yang membuat Anda sreg dengan mereka? 

Rectoverso adalah murni proyeknya Marcella Zalianty. Marcella yang sudah punya ide duluan untuk menggarap film dengan empat artis perempuan, dan mereka tinggal mencari cerita. Marcella kemudian mengontak saya, menanyakan saya punya materi cerita atau enggak. Marcella ingin menggarap film tentang cinta tapi dari berbagai perspektif. Saya lalu teringat Rectoverso. Akhirnya saya kirimkan bukunya, dia baca dan tertarik. Marcella yang lalu memilih sendiri cerita-cerita mana yang akan digarap. Secara formal saya nggak terlibat dalam Rectoverso, walaupun terkadang dimintai konsultasi dari waktu ke waktu. Jadi, keterlibatan saya lebih konsultan informal saja. Semua keputusan kreatif, strategis, maupun hal lainnya ada di tangan Marcella dan Keana Production. 

Santer terdengar bahwa Madre juga akan difilmkan. Ketika membuat novel-novel ini, apakah Anda pernah bermimpi bahwa semuanya akan diangkat ke layar lebar? Atau proyek-proyek ini memang seperti 'bonus' bagi karya-karya Anda? 

Layar lebar tidak pernah menjadi tujuan saya. Sebatas mengangan-angankan saja sih pasti pernah. Tapi tidak menjadi target. Dalam hal ini, posisi saya lebih pasif. Jika ada yang tertarik lalu menawarkan untuk membeli rights adaptasi, dan kemudian kami menemukan kesepatakan, ya sudah, dijalankan. Bisa dibilang memang pemfilman, dsb, hanya bonus bagi saya. Karena inti pekerjaan saya sebenarnya bukan di sana. Film adalah karya seni format lain lagi. Saat menulis buku, ya, saya hanya fokus pada format buku. 

Sejauh apa keterlibatan Anda dalam pembuatan film Rectoverso dan Madre? 

Sama seperti Rectoverso, dalam Madre saya juga hanya melepas rights adaptasi. Madre akan ditulis skenarionya dan disutradarai oleh Benny Setiawan. Jadi, film Madre akan menjadi murni karyanya Mas Benny. Kalau memang ada yang perlu ditanyakan, atau butuh kejelasan tertentu mengenai cerita, saya membuka diri untuk ditanya kapan pun. Jadi, sekali lagi, hanya sebatas konsultan informal saja. 

Adakah novel yang akan Anda luncurkan atau mulai tulis dalam waktu dekat? 

Setelah ini saya berencana untuk meneruskan seri Supernova berikutnya, Gelombang. Tapi belum saya mulai prosesnya, karena akhir tahun ini saya mau pindah rumah dulu. Setelah settled di rumah baru dan beres-beresnya kelar, yang mungkin akan makan waktu bulanan, barulah saya bisa menulis lagi. 

Jika Anda memiliki pesan kepada penulis pemula, apa yang ingin Anda sampaikan? 

Tulislah buku yang ingin Anda baca.

SEPUTAR KELUARGA 

Banyak penulis membutuhkan tempat yang tenang untuk mengeluarkan idenya. Dengan memiliki dua anak, bagaimana Anda menyiasati agar perhatian Anda kepada si kecil tetap maksimal, namun karya-karya Anda juga tidak terbengkalai? 

Bagi saya itu proses adaptasi panjang, dan tidak ada rumusnya. Setiap saat situasinya bisa berbeda, dan butuh penanganan yang berbeda juga. Dulu, misalnya, saat Keenan masih kecil dan saya harus menulis Perahu Kertas, saya sampai harus menyewa kamar kos dekat rumah untuk saya jadikan "kantor". Saat punya anak kedua, Atisha, saya nggak bisa melakukan hal yang sama lagi, jadi saya lebih bersiasat untuk menulis dengan durasi pendek-pendek tapi sering. Dan selalu ada harga yang harus dibayar. Jadi, susah sekali mewujudkan kondisi ideal di mana perhatian pada anak tetap maksimal sementara berkarya jalan terus. Harus saya akui, jika saya menulis intensif, perhatian saya pada keluarga otomatis sedikit berkurang, dan perlu pintar-pintar untuk menyelipkan waktu di mana saya membayar utang atensi saya pada mereka. 

Anda dan keluarga menjalani pola makan sehat. Sulitkah untuk memberi pengertian kepada anak-anak betapa pentingnya menjalani pola makan sehat, mengingat anak-anak kadang tertarik untuk jajan atau makan junk food? 

Sebetulnya keluarga kami nggak steril-steril amat sih soal jajanan. Walaupun mereka jarang makan fast food, nggak pernah minum soda atau makan permen, tapi kalau jajanan seperti snack komersil di supermarket, ya, beli juga. Tapi kami membiasakan disiplin seperti: ngemil boleh, tapi selesaikan makan besarnya dulu. 

Anda adalah seorang istri, ibu, dan penulis. Bagaimana Anda menjalani semua peran tersebut secara seimbang? 

Seperti yang saya bilang tadi, nggak ada rumus idealnya. Bagi saya, menjalani multiperan adalah perjalanan panjang trial and error. Barangkali justru yang perlu dipahami pertama kali adalah, menerima bahwa saat bermulti peran, tidak bisa selamanya proporsi tersebut seimbang. Yang ada malah jadi stres karena kita mengharapkan segalanya berjalan sempurna dan proporsional terus menerus. Menurut saya keseimbangan semacam itu malah tidak realistis. 

Bukan bermaksud mengungkit, namun saya sangat tertarik melihat keharmonisan antara keluarga Anda dan keluarga mantan suami Anda, Marcell. Sepertinya, tak banyak pasangan yang sudah berpisah dapat tetap menjaga hubungan baik. Apa rahasia atau prinsip Anda dalam menjaga hubungan baik ini? 

Sepertinya yang menentukan adalah bagaimana kondisi saat perpisahan itu terjadi. Sebelum saya dan Marcell resmi berpisah, kami sudah terlebih dulu tiba di titik ikhlas untuk melepas dan bisa berteman. Jadi, yang kami teruskan sekarang adalah hubungan persahabatan kami. Dengan adanya anak, kondisi tersebut juga semakin menentukan. Penting bagi anak kami untuk tumbuh besar dalam suasana yang kondusif. Kami juga tidak menanamkan stigma pada Keenan bahwa perpisahan adalah hal yang buruk atau aib. Sekarang ini, Keenan merasa memiliki keluarga yang ekstra besar. Dengan percaya diri dia selalu berkata pada orang-orang bahwa dia punya dua papa dan dua mama. 

Hang Out Jakarta | Freedom of Expression | Juli, 2011 | by Fauzya Harahap


Sebelumnya saya ucapkan selamat atas terbitnya Madre. Bisa ceritakan sedikit tentang kesibukan Anda saat ini?

Saat ini saya lebih banyak di rumah. Selain sedang tidak ada babysitter jadi harus full menjaga anak-anak, saya juga memang merencanakan untuk fokus menulis 1-2 tahun ini untuk menyelesaikan serial Supernova, jadi membatasi kegiatan di luar rumah.

Madre, how did you come up with the title?

Adonan biang di Italia disebut "Pasta Madre" (adonan ibu), dari sana saya mengambil nama "Madre". Pemilihan judul Madre untuk kumpulan cerita ini sendiri dikarenakan Madre adalah cerita terpanjang sekaligus yang paling baru yang saya tulis dalam kumpulan tersebut.

Apa yang menginspirasi seorang Dee dalam penulisan Madre?

Untuk kumpulan ceritanya sendiri, saya memang sesekali membuat cerita lepas, entah novel pendek, cerpen, puisi, dll. Setelah cukup banyak terkumpul, biasanya saya jadikan kompilasi, seperti Filosofi Kopi (2006). Madre juga sama. Isinya adalah kumpulan karya saya selama 5 tahun terakhir. Cerita Madre sendiri saya dapatkan idenya ketika ikut kursus membuat roti dan menjadi tahu tentang adonan biang yang bisa "dipelihara" sampai ratusan tahun. Bagi saya itu menarik. Di samping itu saya juga memang kepengin bikin cerita tentang makanan.

Apakah ada pesan dalam noveI Madre yang ingin Anda sampaikan kepada pembaca?

Banyak aspek yang disajikan dalam Madre, tentang keberanian menjalin komitmen, tentang harmonisasi antargenerasi, hidup dengan perbedaan, dll. Saya tidak pernah bertujuan secara spesifik untuk menyampaikan pesan tertentu pada pembaca. Saya rasa, setiap pembaca akan memetik nilai/pesan/apa pun dari tulisan saya, sesuai dengan pemahaman dan filter mereka masing-masing.

Hal tersulit apa yang sering ditemukan dalam proses penulisan novel-novel Anda?

Sejujurnya, yang paling menantang bagi saya saat ini adalah menata waktu untuk menulis. Berhubung anak bungsu saya masih balita dan butuh pengawasan ekstra, di samping mengurus rumah tangga dan kegiatan domestik lainnya, sangat menantang untuk bisa punya waktu khusus dan rutin menulis.

Kabar baik tentang novel terbaru sejauh ini, mungkin respons dari pembaca?

Sejauh ini responsnya sangat baik. Penjualan juga bagus. Bahkan penerbit saya menyebut fenomena Madre ini sebagai anomali, karena biasanya animo terhadap kumpulan cerpen biasanya tidak seantusias animo terhadap novel. Tapi antusias pembaca pada Madre luar biasa.

Buku apa yang sedang Anda baca sekarang?

Saat ini lebih banyak baca untuk riset novel berikut. Di luar riset, saya baru sempat membaca satu novel dari researcher/historian favorit saya Graham Hancock, judulnya Entangled. Isinya kurang lebih riset Graham Hancock dikemas dalam bentuk fiksi.

Menurut seorang Dee, Freedom of Expression itu apa?

Kebebasan berekspresi, dalam berbagai bentuk. Tidak hanya seni dan yang terwujud. Tapi juga dalam bentuk intention.

Random question. Kalau Anda mempunyai kesempatan untuk makan malam dengan seseorang, hidup atau mati, siapa dan kenapa?
 
Einstein. Kalau melihat karya dan juga membaca filosofinya atas hidup, saya tertarik ingin berbincang dengan beliau perihal semesta dan spiritualitas.

Saturday, December 13, 2014

Bookopedia | Pertanyaan dari Pembaca | Maret, 2012

@felicia_hana: Bagaimana cara nulis dengan pemilihan kata yang minim tapi feelnya bisa terasa dan bikin orang senyum/nangis? 

Pertama, karakter tersebut harus merasuk dulu ke dalam batin kita. Jadi kita menulis dari sudut pandangnya, bukan semata2 sudut pandang kita pribadi. Kalau kita ikut senyum/nangis, kemungkinan besar pembaca juga akan merasa begitu. Jadi, kita sebagai penulis harus ikut hanyut. Pemilihan kata yg efektif terbentuk dari latihan, dari editing, hingga lama-lama jadi kebiasaan/skill.  

@DeltaYordani: Adakah keinginan untuk membuat suatu tempat/organisasi untuk membuat anak-anak indonesia gemar baca? 

Saat ini belum. Dan untuk yang gemar baca sudah cukup banyak organisasi/individu yang membuat wadahnya. Pelatihan menulis masih sedikit. Tapi saya belum punya cukup keleluasaan waktu dan fokus untuk membuat wadahnya. 

@tottilicious79: Buku mana yang penulisannya paling menguras energi dan emosi? 

Supernova 4, Partikel. Sejauh ini, ya. Nanti-nanti nggak tahu :) 

@YolandaHul: Bagaimana cara supaya mood buat nulis lagi, di saat kita malas nulis? 

Bikin deadline. Kalau sudah merasakan menulis dan diterbitkan, kita akan tahu sendiri bahwa mood tidak menjadi prasyarat mutlak untuk bisa menulis. Yg menjadi penggerak mutlak adalah ketika kita HARUS menulis. Kalau belum ada pihak yang memberi deadline, bikinlah sendiri, dan coba patuhi. 

@RMDalvin: Ada minat buat novel horor atau thriller, nggak? Terus berkarya dalam karya tulis atau ingin pindah ke yg lain? 

Untuk genre horor dan thriller, jujur saya belum kepikir. Mungkin karena minat saya memang bukan di sana. Genre lain yang mungkin saya jelajahi adalah nonfiksi dan buku anak.  

@Amel4thegunner: Pernah mengalami jatuh bangun selama menjadi penulis? Pernah punya keinginan ‘duet’ nulis sama penulis luar, kalau iya, sama siapa? 

Jatuh bangun amat sering. Sepertinya seluruh perjalanan karier menulis terbentuk dari yang namanya jatuh bangun. Duet penulis susah diwujudkan, karena itu seperti menggabungkan dua semesta tanpa konduktor. Beda dengan duet musik. Ada produser yang menengahi. Sejauh ini saya nggak punya cita-cita ke arah sana. 

@esvandiarisant: Andaikan Tuhan mengambil kemampuanmu menulis, apa yang akan kamu lakukan? 

Tetap hidup. Entah jadi apa, but I'll survive. 

@destiimnida: Setelah Perahu Kertas, cerita apa lagi yang mau diangkat ke layar lebar? 

Rectoverso, Filosofi Kopi, dan ada beberapa kemungkinan judul lain, tapi belum bisa saya kasih tahu. 

@NanaGensai_asl @FhilyAnastasya @arsachputri: Apa kiat-kiat untuk menjadi seorang penulis yang hebat sperti Mbak? Punya tips buat penulis pemula yang nggak pede ngirim karyanya ke penerbit atau self-publishing? 

Sering berlatih, sering gagal, dan tidak jera mencoba lagi. Nggak pede hanya bisa disembuhkan oleh yang bersangkutan. Self-publishing saat ini sangat dimungkinkan, yang penting punya modal. Sekarang sudah ada wadah seperti @NulisBuku yang memungkinkan para penulis menerbitkan sendiri. Bikin jalur sendiri juga bisa. Kuncinya, punya modal dan siap kerja keras.  

@hyukiein: Bagi Kakak lebih enak jadi penyanyi atau penulis, sih? 

Sejauh ini lebih enak jadi penulis. Saya bisa kerja dari rumah, nggak perlu make-up, nggak perlu hair-do, nggak perlu stand-by seharian nunggu syuting/manggung. Dan menulis adalah profesi yang nggak kenal umur. Sampai tua saya bisa terus produktif. 

@arsachputri: Gimana sih Mbak menciptakan karakter yg menarik kayak Kugy di Perahu Kertas? Gimana caranya supaya novel/cerpen endingnya nggak ketebak sama pembaca, Mbak? 

Karakter adalah segalanya. Kalau tidak bisa membuat karakter yang menarik dan mengikat, kemungkinan besar cerita tersebut akan gagal. Menyusun plot itu seperti exercise. Kita susun seperti puzzle. Yang lebih penting sebetulnya bukan nggak ketebak, tapi menarik. Bisa ditebak asal bagus juga nggak apa-apa, daripada nggak ketebak dan tidak bagus. 

@samunifu: Punya pengalaman apa yang tidak terlupakan tentang “janji”? 

Saat ini nggak ada yang ingat. 

@lucylucuu  @erma_pd @rabiaedra @diraasjingga: Adakah penulis idola kamu? Siapa? Apa alasannya? Apa/siapa inspirasi/inspirator terbesar Dee? 

Kalau dari sosok penulis sih nggak ada. Inspirasi terbesar saya adalah alam ini sendiri. Tidak ada inspirator tunggal. 

@T_jacks17: Mengapa Anda memilih Madre sebagai judul buku di karya ketujuh Anda? 

Karena Madre dari segi kuantitas halaman adalah cerita yang paling mendominasi dari kumpulan cerita tersebut.   

@mygsftri: Menurut Kakak menulis itu apa, sih? 

Salah satu cara homosapien berkomunikasi.

Wednesday, December 10, 2014

Area Magz | Rubrik Hotseat | September, 2011

Alasan menghadirkan buku kumpulan cerita Madre? 

Untuk membuat kumpulan cerita, butuh waktu tahunan bagi saya mengumpulkannya, karena saya menulis cerpen itu biasanya insidental. Beda dengan novel. Sejak Filosofi Kopi dan Rectoverso rilis, saya sudah punya lagi "tumpukan" karya pendek dalam kurun waktu 2006-2011, yang setelah saya hitung-hitung, volumenya cukup untuk membuat kumpulan cerita. Jadilah Madre. 

Menyoal cerita Madre, ada latar belakang apa yang membuat Anda tertarik dengan roti? Ada riset khusus yang dilakukan? 

Beberapa tahun terakhir saya hobi memasak, juga baking. Ingin sekali menulis tentang dunia memasak. Ide baru muncul ketika saya ikut kursus bikin roti, di sana saya dapat informai tentang ragi instan vs adonan biang. Seketika saya tertarik. Dan setelah saya riset, ternyata memang ada dimensi cerita yang saya bisa gali dan kembangkan dari sana.   

Kopi sudah. Kini roti. Anda sedang tertarik dalam wacana kuliner? 

Sejak dulu, sih. Kuliner selalu jadi minat saya sejak kecil. Cuma memang baru intensif saya lakukan ketika sudah berumah tangga.   

Madre jadi buku kumpulan cerita ketiga selain Filosofi Kopi dan Rectoverso. Dari Anda sendiri, ada alasan tersendiri menghadirkan buku kumpulan cerita selain novel?   

Seperti jawaban nomor 1 di atas, secara insidental saya cukup sering membuat karya pendek, baik itu cerpen maupun prosa. Otomatis peluang untuk membuat kumpulan cerita jadi ada. Saya ini kan penulis, bukan cuma novelis, hehe, jadi berkaryanya bukan hanya dalam bentuk novel.  

Cerita yang beragam. Buku ini menjadi ajang luapan segala unek-unek Anda atas segala tema, mulai dari cinta, hubungan ibu dan janinnya, tuhan, dan lainnya. Sengaja untuk tidak mengkhususkan pada satu bahasan? Ada alasan menghadirkan sejumlah sajak dalam buku ini? 

Seperti yang saya jelaskan tadi, menulis cerpen/karya pendek lainnya bagi saya insidental, tema apa yang menginspirasi saya pada momen itu, ya itulah yang saya jadikan tulisan. Baik itu cerpen atau prosa (atau yang disebut di pertanyaan sebagai sajak). Jadi tentunya tidak ada frame work untuk menyambungkan semuanya dalam satu tema, karena proses penulisannya tidak seperti itu. 

Jujur saja, menurut saya, cerita yang Anda hadirkan sederhana. Tokoh yang diciptakan sederhana. Tapi kenapa Anda selalu berhasil membuat kejutan dan membikin penasaran. Menurut Anda sendiri apa kunci keberhasilan Anda? 

Sejujurnya, saya sendiri nggak tahu persis apa kuncinya. Saya selalu percaya tidak ada rumusan baku di balik keberhasilan sebuah buku. Rumus dasar saya dalam berkarya cuma satu: menulis buku yang ingin saya baca. Mungkin apa yang ingin saya baca atau temukan dalam sebuah buku ternyata juga menjadi pencarian bagi banyak orang. Mengenai "sederhana" tadi, bagi saya justru keindahan lebih banyak bisa kita dapatkan dari hal-hal yang sederhana. Jadi faktor kejutan atau penasaran bukan ditentukan oleh sederhana/tidak, tapi seberapa kuat cerita itu bisa mengikat pembaca. 

Harus diakui, keberhasilan buku satu menyulut tuntutan keberhasilan di buku-buku selanjutnya.  Pembaca setia selalu menanti kejutan dari Anda. Bagaimana Anda menyikapi situasi ini? Bagaimana menghadapi pembaca-pembaca Anda yang over-expectation? 

Saya dengarkan, kadang dijadikan pertimbangan, sekaligus evaluasi. Tapi saya nggak pernah menjadikan keinginan pembaca sebagai benchmark dalam berkarya. Seperti yang saya bilang tadi, pada dasarnya saya hanya ingin menulis buku yang ingin saya baca. Dalam posisi tersebut, saya menjadikan diri saya sebagai pembaca: apa yang ingin saya cari dari sebuah buku, metafora seperti apa yang bisa menyentuh saya, dsb, itulah yang saya terapkan dalam semua karya saya. 

Kenapa memilih menulis? 

Bagi saya yang utama adalah bercerita. Saya bercerita lewat tulisan dan lagu. Barangkali inti dari semua itu adalah dorongan untuk ingin berbagi. Menulis hanyalah saluran atau cara yang pas bagi saya.  

Dalam proses kreatif penulisan, utamanya berkenaan dengan tema ilmiah dan historis yang kerap Anda ungkap, riset menjadi proses terbesar dan terpenting yang melatari kelahiran buku-buku Anda. Apa yang biasanya Anda lakukan? Apa kendala yang dihadapi? 

Riset pustaka, wawancara, riset internet, dan apa pun yang bisa membantu saya menggali sebuah tema. Yang paling besar tentunya adalah riset pustaka alias baca buku. Kendala saat ini adalah waktu. Banyak yang saya perlu urus di rumah, terutama anak-anak, jadi harus lihai mencuri-curi waktu, dan realistis bikin target biar nggak terlalu ngoyo. 

Di balik semua perdebatan, berkat Supernova Anda didaulat sebagai pengusung sains fiction. Adakah gelar tersebut menjadi beban dalam proses penulisan Anda selanjutnya? 

Saya nggak pernah setuju dengan penyebutan Supernova sebagai science fiction. Genre science fiction yang saya tahu itu nggak seperti Supernova. Dalam science fiction ada realitas yang diolah dan dimanipulasi dengan sains, sementara di Supernova yang ada hanyalah tokoh yang kebetulan suka sains. Jadi sudah beda definisi sebetulnya. Tapi mungkin karena saat itu nggak ada lagi cerita lain yang ada unsur sains, jadi dengan ringannya Supernova dikategorikan sebagai science fiction.  

Menulis buku (cerita pendek atau panjang) sedianya memiliki tantangan. Anda sendiri, kala menulis novel atau cerita-cerita pendek, tantangan apa yang dihadapi? 

Dalam cerita pendek yang menjadi tantangan adalah plot, bagaimana kita bisa membuat grafik cerita yang bagus dan dinamis dalam ruang yang ketat. Begitu juga dalam membentuk karakter, dengan cepat kita harus membuat pembaca mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh utama. Kita punya waktu panjang untuk itu dalam novel, tapi dalam cerpen efisiensi harus kita perhitungkan dengan matang. 

Apa yang menjadi tolok ukur keberhasilan Anda dalam menulis? 

Pertama, jika saya puas dengan hasilnya, bisa terbawa suasana oleh ceritanya, dan bisa sejiwa dengan karakter-karakternya. Kedua, jika ada pembaca yang juga merasakan sama.

Apa proyek selanjutnya? Buku atau musik? 

Supernova 4 yang berjudul Partikel.  

Bagaimana dengan urusan tarik suara dan menulis lagu? Masih berhasrat menyalurkan talenta tersebut dalam album? 

Masih, tapi tidak sekarang. Saat ini saya ingin fokus dulu membesarkan anak-anak, apalagi yang bungsu belum genap dua tahun. Musik itu lebih demanding ketimbang menulis karena ada jadwal promo yang lebih padat serta melelahkan. Bagi saya hal itu nggak realistis untuk saya kejar saat ini.  

Banyak orang bisa menulis. Banyak yang bisa menerbitkan buku. Banyak juga yang sekadar one-hit-wonder lantas hilang. Bagaimana tanggapan Anda dengan penulis-penulis yang demikian? Faktor apa yang menjadi aral? 

Banyak faktor. Bisa jadi mentok di ide, bisa jadi tertarik pada karier lain sehingga nggak ada lagi waktu untuk menulis, bisa jadi juga persaingan dalam industri. Hal seperti itu selalu terjadi dalam berbagai industri. Ya menulis, ya musik. Seleksi alam selalu ada. Saya sih yang penting industrinya yang tetap maju dan sehat supaya bisa terus men-support penulis-penulis baru, memapankan penulis yang sudah established, dan terus mengembangkan pembaca. 

Selebritas, popularitas, musik, buku, keluarga, anak-anak, dan lain-lain. Masih ada impian yang ingin diraih? 

Kursus merangkai bunga. Dari dulu belum kesampaian.  

Menyoal teknologi komunikasi digital dan social media. Bagaimana perannya dalam mendukung kreatif Anda dan pemasaran karya Anda? 

Untuk pemasaran, promosi, dan interaksi dengan pembaca, social media sangat membantu, khususnya Twitter. Namun untuk proses kreatif, bisa jadi pedang bermata dua. Terkadang saya terbantu juga oleh masukan atau input dari pembaca seputar nama karakter, informasi, dsb. Tapi Twitter adalah distraksi besar jika sudah memasuki proses nulis. Walaupun sepertinya nggak signifikan, tapi media seperti Twitter itu menyedot atensi dan energi kita.