Showing posts with label Toni Mpret. Show all posts
Showing posts with label Toni Mpret. Show all posts

Monday, May 9, 2016

SiPenulis.Com | Profil | April, 2016 | by Noor Hadi


Jika kamu adalah sebuah novel, kamu ingin ditulis oleh siapa? Kenapa kamu memilih pengarang itu?

Enid Blyton, karena saya akan disuguhi banyak sekali limun jahe.

Jika memiliki kesempatan untuk berpacaran dengan sebuah kata, kamu ingin berpacaran dengan kata apa? Boleh tahu alasannya?

Energi, karena energi tidak bisa dimusnahkan.

Jika membaca sebuah buku akan membuat usiamu bertambah 5 tahun, dan semakin banyak membaca buku artinya kamu akan semakin cepat tua, apakah kamu masih tetap ingin membaca buku? Kalau masih, kenapa kamu nekat sekali?

Saya akan berhenti dan gantinya akan menulis saja. Saya lebih bisa hidup tanpa membaca ketimbang tanpa menulis. Sumber inspirasi tidak semata dari buku. Jika diamati dengan jernih dan jeli, hidup ini sebenarnya adalah buku besar yang tak akan habis dibaca.

Jika writer’s block mendatangimu dalam wujud manusia, apa yang akan kamu lakukan terhadapnya? Mengusirnya dengan sapu, menendangnya ke jurang, menghajarnya sampai babak-belur, atau apa?

Akan saya ajak bicara baik-baik, saya suguhi teh panas dan kue-kue kecil. Writer’s block itu cuma ingin didengarkan saja maunya apa. Nanti setelah dia puas curhat, dia akan pergi dengan sendirinya.
Dilawan cuma buang-buang tenaga. Dalam curhatnya, writer’s block biasanya membawa pesan terselubung bagi kita, sebuah paket pembelajaran. Kalau kita dengarkan dengan baik dan pesan darinya sampai, justru kita yang beroleh manfaat.

Jika salah satu tokoh fiksimu diberi kesempatan untuk hidup menjadi manusia sungguhan, siapa yang akan kamu pilih? Bisikkan kepada kami kenapa kamu memilihnya. Kami janji tidak akan memberi tahu siapa-siapa.

Toni alias Mpret. Dia manusia yang sangat berguna, apalagi di era digital seperti ini, sangatlah menyenangkan jika punya tech support yang bisa diandalkan. Apalagi Toni itu orang yang sangat setia kawan. Di lain sisi, dia juga orang yang low-maintenance, nggak banyak tuntutan, dan mandiri. Berkawan dengan dia sama sekali tidak merepotkan.

Jika pada suatu hari Puisi menghubungimu melalui telefon, Cerpen mengirim pesan kepadamu melalui email, dan Novel mengetuk pintu rumahmu berkali-kali, mana yang lebih dulu ingin kamu tanggapi? Semua hal itu berlangsung dalam waktu bersamaan.

Saya akan dahulukan novel. Saya menyukai kerja yang panjang, cerita yang kompleks, dan jika bicara pasar, novel punya prospek pasar yang lebih bagus dibandingkan puisi dan cerpen.

Jika kamu diberi kesempatan oleh Presiden untuk menghapus 3 kata yang terdapat di KBBI, kata-kata apa saja yang akan kamu pilih untuk dihapus? Tenang, kami tidak akan menanyakan alasannya.

Mangkus, sangkil, dan gegara. Yang terakhir tidak ada di KBBI, tapi saya ingin sekali menghapusnya dari percakapan media sosial.

Jika saat ini kamu sedang duduk bersama Dave Eggers dan Ana Castillo pada jamuan makan malam, kira-kira apa yang akan kamu bicarakan bersama mereka?

Saya pernah jamuan makan malam bersama Vikram Seth dan Sebastian Faulks. Satu hal yang saya amati adalah, dalam kesempatan seperti itu, biasanya yang terjadi justru pembicaraan dengan topik umum, bukan teknik menulis, bukan pula proses kreatif. Pada kesempatan seperti itu, yang kita dapatkan biasanya adalah persona mereka sebagai “manusia biasa”, bukan kreator. Jadi, dengan Dave Eggers barangkali saya hanya akan menikmati humor dan kecerkasannya, yang saya harap terefleksi dalam persona kesehariannya jika ditemui langsung (bisa jadi ia lucu ketika menulis saja). Dengan Ana Castillo, mungkin saya akan bicara hal yang umum seputar kultur Amerika Latin dan mungkin dia ingin tahu tentang kultur Indonesia. Sejujurnya, jika boleh memilih, saya lebih memilih kesempatan mengobrol dengan para penulis nonfiksi yang menjadi referensi saya, seperti Graham Hancock dan Amit Goswami.

Jika kamu adalah manusia paling jujur sedunia, tolong katakan kepada kami, judul buku apa yang paling ingin kamu singkirkan di muka bumi ini.

Tidak ada. Dan, itu jawaban jujur. Saya menghargai adanya buku yang tidak saya suka sama halnya dengan kehadiran buku yang saya suka. Buku yang tidak saya suka perlu ada agar saya bisa tahu jangan sampai saya menulis seperti itu. Itu kompas yang sama penting dengan buku-buku yang saya suka. 

Jika semua tanya-jawab ini adalah mimpi, menurutmu apakah ini termasuk mimpi indah atau mimpi buruk?

Mimpi indah. Saya selalu suka jika hal-hal abstrak seperti ide dianalogikan seperti makhluk konkret. Justru dengan cara seperti inilah kita bisa lebih memahami yang abstrak.  

Terima kasih banyak atas jawaban-jawabannya. Semoga tanya-jawab ini bisa memantik imajinasi dan kreativitas bagi mereka yang membacanya.

Terima kasih sama-sama untuk wawancara yang menarik.

Wednesday, February 17, 2016

Bentang Pustaka | Supernova IEP Part 2 | Januari, 2016 | by Fitria C. Farisa


Kalau diminta menyebut satu judul dari keenam Serial Supernova, Dee paling memfavoritkan Supernova yang mana? Kenapa?

Saya punya kecenderungan untuk merasa paling suka dan dekat dengan karya yang paling baru saya garap. Nah, karena IEP adalah yang paling gres saya kerjakan, otomatis itu menjadi favorit saya. Secara konten, IEP ini memang sangat seru, banyak twist, ketegangan, dan juga ada bumbu humor dan romantisme, pokoknya semua unsur yang saya sukai ada di sana.

Siapa tokoh favorit Dee dari Serial Supernova? Alasannya?

Sulit memilih, jujur. Di IEP saya sangat menyukai Toni alias Mpret, tapi secara keseluruhan Alfa Sagala tetap yang paling berkesan buat saya. Mungkin karena saya sangat menikmati proses menulis Gelombang dan merasa ikut dalam pertumbuhan Alfa. Dia itu gigih, cerdas, cerdik, kadang bisa jadi kelihatan menyebalkan, tapi di beberapa aspek dia bisa sangat polos dan lugu. Dan, itu yang membuat karakter Alfa ini menjadi mengasyikkan sekali untuk digarap.

Dari keenam seri, yang paling banyak menemui kendala saat proses penulisan yang mana? Bisa disebutkan apa saja kendalanya?

Setiap episode berbeda-beda, karena kondisi lingkungan saya juga berubah-ubah terus. Waktu Partikel, misalnya, kesulitan utamanya adalah memulai lagi proses kreatif yang sempat tertunda bertahun-tahun, dan saya masih punya anak balita (saat itu Atisha baru 3 tahun). Waktu Gelombang, saya mulai menyempurnakan sistem kerja saya, tapi itu pun masih banyak yang harus saya perbaiki. Waktu IEP, sistem kerja saya sudah jauh lebih efisien dan strategis, tapi volume IEP yang besar ini sangat menyita fokus dan tenaga. Saya nggak terlalu banyak problem dengan konten maupun jalan cerita. Yang lebih menantang adalah menyelaraskan proses menulis dengan aspek kehidupan saya yang lain.

Dari keenam seri, yang paling cepat ditulis yang mana? Apa yang membuatnya bisa menjadi paling cepat?

Petir yang paling cepat. Rata-rata untuk tiap episode saya menghabiskan tujuh hingga satu tahun. Untuk Petir, mungkin sekitar lima bulan. Tapi, secara cerita, Petir memang tidak menuntut riset yang terlalu kompleks. Setting-nya Bandung, tempat yang saya sangat familier, dan jalan ceritanya juga cenderung mengalir, tidak banyak konflik.

Dari banyaknya setting tempat dalam Serial Supernova, Dee paling suka setting tempat di mana? Alasannya?

Salah satu yang berkesan adalah Tanjung Puting. Lucunya, saya sendiri sampai sekarang belum pernah ke sana. Hanya mengandalkan riset dan narasumber. Tapi, pada dasarnya saya sangat senang menulis setting yang sifatnya alami, hutan, dsb. Jadi, menuliskannya pun membuat saya merasa berada di tempat itu, sekaligus terkagum-kagum atas keindahannya. Nah, ajaibnya, banyak orang tergerak mengunjungi Tanjung Puting setelah baca Partikel dan melapor ke saya, mereka merasa deskripsi di buku sangat mendekati asli. Saya juga sangat terkesan dengan Sianjur Mula-mula. Gara-gara Gelombang, jadi banyak juga pembaca saya yang tergerak ke Sianjur Mula-mula. Bahkan tempat itu sekarang sering diliput media.

Dari beberapa kisah cinta yang ada dalam Serial Supernova, Dee paling suka kisah cinta siapa? Kenapa?

Saya pengin kasih tahu tapi nggak mau spoiler. Pokoknya yang paling saya suka itu ada di IEP.

Dari keenam seri, mana yang membutuhkan paling banyak referensi, baik literatur maupun wawancara narasumber?

Akar adalah salah satu yang paling ekstensif karena melibatkan banyak tempat sekaligus. Ada banyak elemen-elemen yang saat itu saya juga belum familier, seperti seni tato, komunitas punk, Buddhisme, dsb. Zaman itu juga informasi di internet belum semelimpahruah sekarang ini, jadi pekerjaan mencari datanya lebih berat dan lebih manual. Saya terpaksa bayar teman saya untuk ikut jadi staf riset. Saya bahkan masih wawancara menggunakan tape recorder. Sekarang, kaset sudah jadi barang vintage!  

Dari keenam seri, mana yang paling membuat Dee deg-degan sebelum dirilis? Ada alasan khusus?
Seingat saya, Partikel. Sepertinya karena ada jeda panjang dari Petir, dan karya-karya saya sebelum itu (Perahu Kertas, Rectoverso, Filosofi Kopi) cenderung lebih mudah dibaca, Partikel kembali menjadi “pertaruhan”. Untungnya, Partikel diterima dengan baik, bahkan serial Supernova seperti punya basis pembaca baru (yang lebih muda) pasca terbitnya Partikel dan dirilis ulangnya semua episode Supernova oleh Bentang Pustaka.

Jika diminta menyebutkan satu simbol favorit dari keenam simbol yang ada, Dee paling menyukai yang mana? Mengapa?

Beberapa simbol Supernova mengambil dari simbol sakral yang memang sudah ada sebelumnya, seperti Flower of Life (Akar), Antahkarana (Petir), dan Bumi (Partikel). Tapi beberapa memang saya rancang sendiri dibantu seorang desainer langganan saya, Fahmi Ilmansyah. Saya paling suka IEP sih, karena maknanya sangat kaya, dan pilihan warnanya juga unik (baru ketahuan kalau nanti bukunya sudah keluar, hehe).

Mungkin ada hal-hal unik yang Dee ingat waktu menulis masing-masing seri? Kalau IEP, konon Dee sampai harus ‘mengungsi’ ke hotel, nah, adakah hal-hal unik lain yang mba ingat ketika proses penulisan Serial Supernova selain IEP?

Waktu penulisan IEP, di lingkungan rumah saya kebetulan lagi banyak pembangunan, jadi agak berisik di rumah. Sementara slot waktu saya menulis hanya bisa di pagi sampai siang hari. Akhirnya di IEP ini saya banyak tur dari kafe ke kafe, sampai akhirnya saya menemukan “kantor” favorit saya. Namanya kedai kopi Rosso Micro Roastery, yang kebetulan lokasinya sangat dekat dari rumah, hanya sekitar 15 menit. Jadi, di Rosso ini saya seperti punya tempat keramat, yang kata baristanya, pengunjung lain sampai segan duduk di situ karena tahu biasanya saya bakal datang dan duduk di tempat sama selama berjam-jam. Satu hari, pernah ada rombongan arisan di Rosso dan semua meja full, banyak anak kecil juga. Akhirnya saya diungsikan ke kantor/gudang staf, nulis di sana. Saya nulis adegan puncak IEP justru di gudang itu, dikelilingi karung-karung isi biji kopi. Terharu banget ketika adegannya selesai, saya sampai nangis. Syukur juga saya kerja sendirian di gudang, jadi nggak ada lihat saya mewek, hehe.