Saturday, December 20, 2014

Majalah PESONA | Close Up Interview with Dewi Lestari | Mei, 2009 | by Shinta Kusuma



Present Moment
Mengapa sekarang Anda menghindari wawancara tatap muka? 

Alasan pertama, karena kondisi fisik. Di kehamilan trimester pertama ini saya cukup sering ‘out of breath’, apalagi kalau harus ngomong lama, suka jadi ngos-ngosan dan habis itu kepinginnya berbaring. Sementara kalau wawancara kan pihak yang lebih banyak bicara pastinya saya. Alasan kedua, pengalaman saya diwawancara cukup sering membuat saya agak berhati-hati dengan format lisan. Masalahnya, cukup sering ucapan saya disalah kutip, salah dengar, salah tangkap, dsb. Alasan ketiga, banyak pertanyaan wawancara yang sering diulang-ulang, misalnya: sejak kapan suka menulis, dsb. Kalau wawancara tertulis saya bisa copy-paste dari arsip, hehe. Jadi, selain meminimalisir kesalahan kutip dan sejenisnya, lebih hemat waktu/energi juga bagi kedua belah pihak, dan saya jadi punya dokumentasi wawancaranya. Kalau dibilang ‘kurang hidup’ atau ‘feelingnya nggak dapet’, pengalaman saya menunjukkan ketika wawancaranya sudah dimuat dalam bentuk tulisan, nggak terlalu berasa juga ketemu langsung atau enggaknya. 

Sedang sibuk apa saat ini? 

Secara garis besar, sedang nggak sibuk. Sejak tahu hamil saya mengurangi drastis aktivitas saya. Dan memang fisik saya juga sempat naik-turun banget, ya mual, muntah, lemas, dan sebagainya. Tapi sebetulnya saya lagi menyiapkan buku baru juga, yakni novel digital saya berjudul Perahu Kertas, yang sedang dipersiapkan untuk naik cetak. 

Bagaimana dengan kondisi kehamilan Anda: apa bedanya ketika hamil Keenan? Ekspektasinya perempuan atau laki? 

Kehamilan yang sekarang lebih ‘alami’. Nggak pakai obat, nggak setiap bulan di-USG, nggak pakai suplemen macam-macam. Saya cuma minum satu vitamin prenatal, dan sisanya makan sebaik mungkin saja. Saat muntah-muntah pun dijalani saja tanpa obat apa-apa. Hasilnya sih lumayan. Keluhan-keluhan trimester pertama ini malah lebih cepat lewat dibandingkan kehamilan saya dulu. Dan kehamilan kali ini saya juga sudah vegetarian, dulu belum. Ekspektasi? Hmm. Jujur saya agak kepingin perempuan, karena anak pertama laki-laki dan semua keponakan saya laki-laki. We need more girls in the family. Tapi kalau pun cowok lagi, ya, nggak apa-apa. 

Rencana melahirkan: apa mau berbeda misalnya dengan hypno-birthing atau water birth? 

Untuk persalinan pun inginnya kali ini sealamiah mungkin. Kalau bisa water birth. Bahkan kalau memungkinkan, penginnya home birth, yakni melahirkan di rumah. Di persalinan yang dulu saya sudah mencicipi induksi dan operasi caesar. Mudah-mudahan yang berikut ini pengalamannya bisa berbeda.

Bagaimana peran Reza dalam kondisi kehamilan Anda sekarang?

Wah. Saya beruntung banget didampingi Reza. Pokoknya semua keahlian penyembuhannya saya ‘peras’ habis selama kehamilan ini. Haha! Dia hampir selalu meluangkan untuk merawat saya, memberi terapi, menemani dan menemani saat saya muntah-muntah, bahkan mau keluar rumah malam-malam buat cari jambu biji (saya sempat ngidam). Selain itu dia juga harus beradaptasi dengan perubahan fisik saya, di mana saya sempat nggak keluar rumah berminggu-minggu, lemas melulu, dsb. Tentunya nggak gampang buat Reza, karena ini kan pengalaman pertamanya juga mendampingi perempuan hamil secara intensif, tapi berhasil dilalui. Keenan juga pintar, lho. Kalau Reza nggak ada, dia yang nemenin saya muntah-muntah di kamar mandi sambil pijat-pijat punggung saya. Nyontek dari Reza… hehe.

Soul Character


Sebutkan 3 karakter Anda yang paling kuat (dan mungkin orang lain tidak tahu). 

Pemalas, konyol, dan kampungan. 

The best the worst moment in your life: kapan turning point dalam hidup Anda? Apa yang terjadi saat itu? 

Bagi saya, turning point terbesar dalam hidup sejauh ini adalah akhir tahun 1999, ketika saya melepaskan semua konsep agama dan mulai berjalan dalam ranah spiritual tanpa peta. It changed my life forever, termasuk menginspirasi saya untuk melakukan banyak hal, salah satunya: menulis Supernova. 

Siapa the most inspiring person di mata Anda? Alasannya? 

Thich Nhat Hanh. Beliau berhasil menerjemahkan ajaran Buddha menjadi begitu membumi, universal, dan merangkul begitu banyak orang tanpa semangat konversi, semata-mata karena welas asih. Beliau bukan hanya seniman dan rohaniwan, tapi juga seorang humanis yang benar-benar menjalankan apa yang ia ucapkan, menjadi seorang “bukti hidup”. He walks the talk like no other. 

Apakah Anda percaya pada reinkarnasi? Kalau ya, Anda ingin jadi siapa jika dilahirkan kembali? Alasannya? 

Jadi ikan paus. Karena saya sekarang belum bisa berenang. Sementara saya selalu tertarik pada misteri kehidupan di bawah laut. Jadi alangkah menyenangkannya kalau saya bisa menjelajah laut dengan menjadi ikan yang paling besar. Dan mudah-mudahan saat saya jadi ikan paus, semua orang sudah vegetarian jadi saya nggak diburu. 

What is your wildest dream? 

Diculik alien, dan dibawa jalan-jalan lihat semesta raya. Dengan catatan: dipulangin lagi. 

Soul Mate


Siapa sosok soulmate bagi Anda? Kalau memang bisa lebih dari 1 orang, bagaimana arti Reza bagi Anda? 

Buat saya, siapa pun yang dihadirkan ke dalam hidup kita, baik itu jadi musuh atau teman, siapa pun yang memberikan kita pelajaran dan pengalaman yang bermakna, merekalah ‘soulmate(s)’. Karena kehadiran mereka memberikan jiwa kita kesempatan untuk bertumbuh. Perannya saja lain-lain. Termasuk juga Reza, hanya saja perannya sekarang dalam hidup saya adalah sahabat, suami, pasangan hidup, dsb. Jadi bagi saya, soulmate itu bisa macam-macam perannya dan, tentu, tak cuma satu. 

Apa yang menarik dalam diri Reza sehingga Anda memutuskan untuk menikah? (Sebutkan 3 hal) 

Sejak awal kenal, saya menemukan sosok sahabat dalam dirinya, kita bahkan pernah bercita-cita jadi tetangga. Dan kualitas sahabat itu membuat saya selalu nyaman jadi diri saya sendiri saat bersama dengan dia. Kedua, dia itu aneh. Dan saya memang suka yang aneh-aneh. Reza itu biangnya paradoks. Contohnya: kesan luarnya dia tipe orang yang manut, padahal dia itu pemberontak. Kesan lainnya dia itu waras, padahal ‘gila’. Haha! Ketiga, ini faktor yang subtil sih, tapi bagi saya nyata, yaitu: intuisi. Keputusan saya menikah dengan Reza adalah keputusan yang intuitif, nggak bisa diverbalkan dengan mudah. 

Apa pengaruh terbesar setelah kehadiran Reza dalam hidup Anda? Hal apa yang 'mengejutkan' dari Reza (yang baru diketahui setelah nikah & tinggal bareng)? 

Saya jadi lebih apa adanya. Kalau ngamuk ya ngamuk, sedih ya sedih, malas ya malas, sementara kalau dulu saya sangat ahli dalam bungkus-membungkus perasaan. Sekarang nggak lagi. Saya bahkan jadi tahu rasanya cemburu. Itu hal langka, karena saya orangnya lempeng banget soal yang begitu-begitu. Yang mengejutkan dari Reza… hmm, sejauh ini adalah soal makanan. Ternyata buat dia, perihal makanan—dari mulai ketersediaan sampai menu yang cocok—itu amat, sangat penting. Sementara selera kita nggak selalu sama. Dan jujur, saya orangnya agak serampangan soal makan. Jadi butuh kerja keras juga untuk saling menyesuaikan. Dia akhirnya bantu saya untuk lebih sistematik dalam menyusun menu dan sistem masak-memasak di rumah. 

Reza adalah soul twin Anda, apakah kalau terlalu sama malah boring? Apakah Anda tidak pernah mengalami konflik? Kalau ya, biasanya soal apa? 

Tanggal lahir kita memang cuma beda sehari, minat kita banyak banget yang sama, dan begitu banyak sinkronisitas yang kita temukan sejak awal kita kenal. Tapi sebetulnya kita juga cukup berbeda. Konflik pasti ada, cukup banyak malah, dari mulai soal kecil seperti pilih DVD sampai soal besar seperti sifat, kebiasaan, dsb. Penyelamat kita adalah komitmen untuk tetap jujur pada satu sama lain, seburuk apa pun kejujuran itu. 

Apakah cerita di buku Rectoverso berjudul Grow a Day Older adalah kisah sejati antara Anda dan Reza?

Semua fiksi saya nggak pernah sepenuhnya 100% mengambil kisah nyata. Terinspirasi, sih, iya. Dan Grow A Day Older memang terinspirasi oleh keberadaan Reza, bahkan lagunya adalah hadiah ulang tahun saya buat dia waktu itu.

So(u)litary Moment
Bagaimana cara Anda menikmati liburan? Tempat liburan & kegiatan favorit Anda? 

Saya suka liburan yang tidak terburu-buru dan tidak ambisius, yang nggak harus mengunjungi 10 tempat dalam sehari, dan sesudah itu terkapar nggak ada tenaga. Jadi, bagi saya berlibur itu ya sebisa mungkin rileks dan santaaai. Tempat favorit: Ubud. Kegiatan favorit: lihat pemandangan, makan, dan mengobrol bersama orang-orang lokal. Selalu ada hal menarik biasanya. 

Punya waktu khusus untuk 'me time'? Kalau ya, biasanya apa yang dilakukan? 

Menulis tanpa diganggu, seharian di spa atau salon (pijat, lulur, meni-pedi, creambath, dll), nonton film, atau main-main bertiga—saya, Keenan, Reza—ketawa-ketawa di tempat tidur, atau main-main air di kolam renang. 

Apakah sekarang masih perlu waktu khusus untuk mencari inspirasi dan menulis? 

Kalau saya dari dulu prinsipnya tidak pernah “mencari” inspirasi, karena menurut saya, inspirasilah yang menemukan kita. Jadi kita bisa terinspirasi di mana saja dan kapan saja. Cuma untuk menuliskannya memang butuh waktu khusus. Sekarang saya menulis kapan pun sempatnya, nggak ada waktu ideal. Pokoknya kalau ada waktu di mana saya sedang sendiri, ya itulah kesempatan saya menulis. 

'Vacation is a state of mind'. Apa maksud kalimat Anda ini? 

Kadang-kadang badan kita berlibur, pergi ke satu tempat wisata misalnya, tapi pikiran kita tidak berlibur, tetap saja memikirkan pekerjaan, dsb. Menurut saya yang paling penting dalam berlibur adalah pikirannya dulu yang berlibur. Caranya bisa dengan relaksasi, meditasi, dsb. Kalau sudah bisa begitu, nggak terlalu masalah lagi mau berlibur ke mana secara fisik. Di mana pun kita bisa “berlibur”. 

Impian liburan yang belum kesampaian? 

Ke Peru, ke Galapagos, ke Bhutan, dan keliling Asia Tenggara. Oh ya, saya juga kepingin ‘napak tilas’ perjalanannya Graham Hancock seperti di bukunya Fingerprints of the Gods.