Saturday, December 20, 2014

Tabloid Nyata | Perahu Kertas | September, 2009 | by Endah


Hai Dee, apa kabar? Apa kegiatannya sekarang?

Kabar baik. Sekarang ini saya lebih banyak di rumah.

Apakah istirahat karena baru melahirkan Perahu Kertas, atau malah tambah sibuk nih?

Sempat sibuk selama dua minggu untuk mempromosikan Perahu Kertas di radio, teve, dan toko buku. Tapi setelah itu saya memang sudah kembali istirahat untuk mempersiapkan kelahiran anak ke-2 saya.

Bagaimana rasanya punya ’bayi baru’ Perahu Kertas?

Sebagaimana rasanya setiap punya buku baru, ya lega, senang, semangat, dsb.

Sebenarnya sudah berapa lama ide dasar Perahu Kertas mengendap? Apakah yang sudah jadi pada 11 tahun lalu Perahu Kertas dalam bentuk ide, atau sudah berupa naskah kasar?

Pertama kali saya menuliskan naskah Perahu Kertas yakni tahun 1996, waktu saya juga masih kuliah. Judul aslinya dulu “Kugy & Keenan”, dan saya hanya sanggup mengerjakan sampai naskahnya ¾ selesai karena mentok alias “habis bensin” di tengah jalan. Naskah itu kemudian saya tinggalkan dulu, tapi disimpan terus, karena dalam hati saya bertekad untuk menyelesaikannya suatu hari nanti.

Dari mana Dee mendapatkan ide? Adakah orang-orang ’nyata’ di sekitar Dee yang menjadi ide dasar karakter-karakter di buku ini?

Saya kangen sama cerbung-cerbung yang dulu banyak di majalah remaja, dan saya juga banyak terpengaruh dari komik drama serial Jepang, dan semua itu lantas memotivasi saya untuk menuliskan Perahu Kertas. Nggak ada orang ‘nyata’ yang menjadi ide dasar. Tapi saya banyak mengambil unsur-unsur kecil dari orang-orang di sekitar saya, terutama teman-teman kampus, yang namanya banyak saya pakai di dalam buku Perahu Kertas. 

Bagaimana proses kreatifnya?

Saya menulis Perahu Kertas versi baru ini dari nol lagi. Jadi naskah lama tidak dipakai sama sekali, hanya ide dasarnya saja yang dipertahankan. Cukup banyak eksperimen baru yang saya lakukan dalam menuliskan Perahu Kertas versi baru ini. Salah satunya adalah mencoba disiplin waktu, yakni menulis tidak lebih dari 60 hari kerja. Saya juga menyewa tempat kos khusus untuk menulis, jadi ada semacam kantor tempat saya ‘bekerja’ setiap hari. Proses hari per harinya pun saya tuliskan dalam sebuah blog (www.dee-55days.blogspot.com) yang bisa diikuti secara terbuka oleh orang-orang.

Apa yang Dee ingin sampaikan kepada pembaca dengan isi cerita Perahu Kertas?
       
Perahu Kertas banyak bercerita tentang kejujuran, baik dalam mencintai maupun dalam meraih cita-cita. Cerita ini juga mengungkap mekanisme dalam hidup: kapan kita berserah, kapan kita bertahan, dan bagaimana intuisi sebetulnya mampu memberi petunjuk itu.
       
Apakah Dee ingin memotivasi pembaca untuk mewujudkan obsesi-obsesinya? Dee sendiri, apakah sudah merasa perahu kertas Dee telah berlabuh?

Sejujurnya nggak ada keinginan khusus, kalau ada yang tergerak atau terinspirasi ya syukur, kalau enggak juga nggak apa-apa. Dalam menulis saya lebih banyak digerakkan oleh keinginan untuk sharing dari diri saya pribadi, bukan untuk memotivasi orang.

Apakah menjadi penulis memang keinginan mendasar Dee? Apakah sudah mewujudkan keinginan terdalam Dee? Bagaimana rasanya? Seperti Keenan yang ingin jadi pelukis, apakah Dee memendam keinginan-keinginan lain yang Dee belum wujudkan? Apa itu?

Sejauh ini sih saya merasa sudah berada di jalur yang memang saya suka dan saya bisa, yakni menulis dan musik.

Tentang kepenulisan, bagaimana Dee bisa mempertahankan keajegan menulis, dan memasang deadline untuk diri sendiri? Adakah menjadwal waktu khusus untuk menulis? Jam berapa?

Biasanya sih enggak, tapi khusus ketika menulis Perahu Kertas saya memang membuat jadwal khusus. Jamnya fleksibel, yang penting realistis dan bisa sejalan dengan kegiatan saya lainnya. Jadi setiap harinya bisa beda-beda. Untuk buku berikut saya bisa saja memakai sistem yang sama, tapi belum tahu juga. Lihat nanti. 

Ada ‘ritual khusus’ dalam menulis? Misalnya, harus siap dengan secangkir teh, pasang aromaterapi, setel musik tertentu? Kalau sambil dengerin musik, apa musik favorit Dee saat menulis? 

Saya nggak bisa dengar musik kalau menulis. Harus hening. Minuman dan makanan tergantung mood saat itu. Keheningan hanyalah satu-satunya syarat mutlak saya untuk menulis. Semakin sedikit distraksi semakin baik.

Setelah Perahu Kertas, apa yang ingin Dee tuliskan? Ceritakan dong proyek buku terbarunya itu. Atau masih ingin beristirahat?

Mau lahiran anak dulu aja, sesudah itu baru menulis lagi.