Sunday, December 21, 2014

Majalah Economica | Profil | April, 2012 | by Nadya Restu Mayestika


Boleh minta Mbak berbagi cerita sewaktu dulu kuliah? Bagaimana Mbak Dewi menjalani hidup sebagai seorang mahasiswa?

Waktu kuliah saya sudah mulai berkarier jadi penyanyi, jadi saya nggak bisa terlalu sering di kampus karena disibukkan oleh kegiatan menyanyi, latihan, dsb. Benar-benar seperlunya saja. Untung ada beberapa teman yang cukup dekat di kampus, jadi masih bisa bergaul, walaupun terbatas dan nggak sering.

Adakah mimpi Mbak yang masih ingin dicapai?

Sekarang saya lebih tertarik menjalani hidup apa adanya. Mungkin namanya bukan mimpi lagi, tapi target. Seperti menulis buku, menyelesaikan serial Supernova, dsb, itu bukan lagi mimpi tapi sudah jadi target.

Antara nyanyi dan menulis, mana yang lebih passionate buat Mbak?

Dua-duanya sebetulnya senangnya sama. Tapi saat ini saya lebih dimungkinkan untuk menulis karena anak-anak di rumah masih kecil, dan butuh kehadiran saya lebih sering. Jadi saya cuti dulu dari segala kegiatan nyanyi-menyanyi. Lagian, saya memang kurang senang manggung, lebih senang rekaman. Namun saat ini fokus saya sedang tidak ke sana.

Dari kecil, memangnya Mbak sudah memiliki passion dalam bidang menulis? Apa dulu Mbak mempunyai passion yang sebenarnya ingin dicapai, tapi tidak tercapai?

Dari kecil sudah menulis. Pertama kali menulis dengan serius waktu kelas 5 SD. Saat ini sih rasanya saya sudah menjalani apa yang saya suka sejak dulu, yaitu musik dan menulis. Passion lain, memasak, sudah dilaksanakan juga di rumah.

Bisa ceritain nggak Mbak, bagaimana caranya Mbak bisa mengetahui passion Mbak sebenarnya dan bisa menjalaninya dengan sukses?

Dengan banyak mencoba. Akhirnya kita tahu mana yang benar-benar kita suka. Dan jika memang berjodoh, banyak jalan yang terbuka dengan mudah. Kita juga harus konsisten berkarya, dan berani mencoba, meski melalui kegagalan.

Mbak Dewi sampai sekarang kan masih aktif menyanyi dan menulis ya, gimana cara Mbak menyinergikan kedua aktivitas tersebut?

Jalani apa adanya saja. Sesuai dengan prioritas yang saat ini realistis dengan situasi dan kondisi saya. Rasanya nggak ada tips khusus.

Sejauh ini tulisan Mbak selalu memiliki tema yang mendalam tentang kehidupan dan spiritualitas, apa yang menginspirasi Mbak Dewi untuk menulis dalam tema tersebut? Apa ada alasan khusus kenapa Mbak sering memilih tema tersebut?

Karena spiritualitas adalah passion saya. As simple as that. Tentu kita lebih semangat untuk berkarya jika tema yang kita pilih adalah apa yang menjadi passion kita, kan?

Sejauh ini dari buku-buku yg sudah ditulis Mbak Dewi, dari Perahu Kertas sampai Partikel, apa dalam proses penulisannya ada yang paling berkesan?

Karena yang paling terakhir adalah Partikel, tentu yang terasa paling berkesan adalah Partikel, soalnya ingatan saya tentang prosesnya masih segar.

Apa pengalaman yang paling mengubah pandangan Mbak Dewi terhadap sastra sehingga dari seorang penyanyi Mbak juga mulai menulis?

Saya menulis karena memang hobi dari kecil, nggak ada hubungannya dengan pandangan saya tentang sastra, atau bermotivasi "banting setir"profesi. Waktu itu malah saya nggak tahu apa-apa sama sekali dengan industri tulis menulis. Pokoknya inginnya ya menulis buku. Dunia sastra baru saya kenal setelah saya menulis.

Bagaimana perjuangan yang Mbak tempuh untuk merintis karier dulu di dunia musik dan kini di dunia sastra?

Wah, terlalu panjang untuk diceritakan. Kayaknya perlu buku biografi untuk menjawab pertanyaan "selebar" itu. Hehe.

Apa halangan terberat yang dirasakan dalam karier Mbak?

Saat ini adalah ketersediaan waktu. Karena yang perlu saya urus banyak, jadi mencari waktu luang yang memadai untuk menulis, riset, dsb, cukup sulit. Belum lagi dengan pekerjaan non-menulis, permohonan wawancara, dsb. Kalau bisa sih setiap nulis saya masuk gua dulu dan nggak diganggu siapa pun.

Apa Mbak juga concern dengan hal-hal di luar kesastraan, misalnya pada pendidikan atau lingkungan? Bagaimana cara Mbak mengekspresikan rasa concern tersebut?

Sejauh ini sih dengan menulis, atau sesekali mengisi talkshow yang bertema lingkungan.

Mengenai soal lingkungan, tema Economica kali ini adalah Green Economy. Bagaimana pendapat Mbak mengenai Green Economy?

Sepertinya itu memang akan menjadi tren yang tidak terelakkan, ya. Kalau ingin hidup kita lebih lama di Bumi, semua aspek kehidupan saat ini harus beriorientasi lingkungan.

Ada minat nggak, Mbak memulai tulisan dengan bermaksud memberikan nilai berupa bujuakan atau insight yang dapat membantu alam sekitar?

Sudah sering.

Apakah semangat Green Economy bisa ditularkan lewat media tulisan fiksi, misalnya novel, mengingat temanya yang bukan hanya tentang lingkungan tapi juga ekonomi?

Sudah saya lakukan lewat Partikel.

Apakah selama ini media buku fiksi sudah cukup mengulas banyak berita mengenai lingkungan yang bisa meningkatkan kepedulian masyarakat pada lingkungan?

Saya rasa ada beberapa. Tapi saya bukan pengamat sastra/fiksi, hanya penulis, jadi saya tidak bisa menjawab dengan pasti.

Menurut Mbak, berapa tingkat kepedulian masyarakat Indonesia pada lingkungan dari skala 1-10?
6.

Apa saran Mbak agar masyarakat Indonesia bisa meninggikan kepeduliannya pada lingkungan?

Edukasi dan penegakan hukum.

Apa harapan Mbak ke depannya untuk sastra di Indonesia?

Lebih banyak karya bermutu dan variasi genre yang semakin banyak.

Apa prinsip hidup Mbak?

Nggak ada. Saya cuma segalanya berubah. Jadi siap saja dengan perubahan.

Apa tips Mbak untuk menjalani kehidupan kita agar bisa sedekat mungkin mencapai kebahagiaan?

Lebih banyak menyelami diri sendiri, bermeditasi, karena sumber kebahagiaan adanya di dalam, bukan di luar.

Adakah pesan untuk mahasiswa-mahasiswa Indonesia sekarang?

Segeralah temukan apa yang menjadi passion kita, dan jangan terpaku pada struktur formal untuk menekuninya. Belajarlah dari segala hal.