Saturday, December 20, 2014

Majalah Panorama | Profil | Oktober, 2010 | by Jaka Setia


Anda banyak juga dikenal dengan nama pena “Dee”, apakah ada sejarah/alasan khusus di balik nama “Dee”?

“Dee” memang ‘tidak sengaja’ jadi nama pena saya. Sebetulnya karena pertimbangan nama “Dewi” itu agak pasaran, hehe, dan asosiasi orang saat itu selalu “Dewi RSD” jadi untuk tampil dengan image fresh sebagai penulis, saya mencoba memakai nama panggilan saya yakni “Dee”. Dipanggil “Dee” karena waktu kuliah saya pakai ransel dengan emblem besar huruf “D” (Dee).

Menurut Anda, adakah perbedaan antara seorang Dewi Lestari di karya-karya buku dan musik, dan seorang Dewi Lestari di kehidupan sehari – hari?

Dewi Lestari yang bermusik dan menulis adalah sebagian aspek dari diri saya keseluruhan. Mewakili saya, memang, tapi itu bukan sepenuhnya diri saya juga. Jadi bukannya beda, tapi “belum lengkap”. Yah, lengkapnya yang sehari-hariyang hobi, kelakuan, cara bicara, karakter, dsbhanya dikenal oleh orang yang memang berinteraksi dengan saya sehari-hari.  Dan belum tentu diketahui oleh pembaca atau pendengar musik saya.

Sebagai seseorang yang aktif dalam dunia musik dan literatur, adakah korelasi di antara keduanya? Adakah passion terpendam lainnya yang ingin Anda kerjakan dalam waktu dekat ini?

Bagi saya, korelasi keduanya tentu sangat dekat.  Keduanya merupakan saluran saya berekspresi yang sama pentingnya. Passion saya yang lain cukup banyak, saat ini sedang hobi memasak, fotografi, dan lagi senang belajar tentang masalah gizi dan parenting. Saya sedang berencana membuat situs tentang vegetarianisme dan Gentle Birth (metode persalinan alami).

Boleh ceritakan tentang pengarang favorit Anda dan bagaimana ia telah memberikan inspirasi dan pengaruh terhadap karya tulisan Anda?

Penulis Indonesia yang saya kagumi antara lain Sapardi Djoko Damono, yang metaforanya menurut saya mencengangkan. Ayu Utami, penulis yang karyanya “Saman” adalah salah satu buku yang membuat saya bersemangat untuk menerbitkan buku. 

Di buku Supernova, Anda berhasil untuk merangkai dan menggabungkan fakta dan alur cerita menjadi sebuah kesatuan yang menarik. Bagaimana proses Anda melakukan itu?

Gabungan dari riset dan imajinasi. Harus rajin mengolah keduanya. Dan yang lebih penting lagi, adalah harus terus menghidupkan tema dan napas untuk cerita tersebut karena sifatnya yang serial. Stamina kreativitasnya harus kuat. 

Berbagai buku Anda memiliki hubungan yang erat dengan tema ‘life searching’. Boleh bercerita bagaimana pandangan Anda terhadap sebuah proses pencarian jati diri dan makna hidup?

Menurut saya pencarian jati diri adalah proses inheren dalam setiap kehidupan manusia. Semua orang pasti mengalaminya, meski dalam format yang berbeda-beda. Jadi bagi saya, itu adalah tema yang universal.

Sebagai salah satu penulis Indonesia yang telah menjadi bagian dari ajang prestisius Ubud Writers & Readers Festival 2010, bagaimana Anda ingin memberikan inspirasi terhadap penulis dan pembaca dewasa ini?

Dengan terus berbagi dan berkarya sebisa saya. Menurut saya hanya itu yang paling baik dan realistis untuk dilakukan.

Menjadi bagian dari panel diskusi Writing the Digital Future, bagaimana pendapat Anda tentang dunia literatur di era yang serba digital saat ini?

Dunia literatur mau tak mau perlu beradaptasi dengan perubahan zaman. Terutama yang berkenaan dengan format dan saluran-saluran menulis baru seperti blog, Twitter, e-book, dsb. Secara spirit, menurut saya menulis adalah menulis. Dari zaman ke zaman esensinya tetap sama. Tapi bagaimana kita menyuarakannya, inilah yang terus berubah dan berkembang.

Rectoverso, sebuah hasil karya musik dan literatur, sementara Perahu Kertas akan ditayangkan di layar lebar pada waktu dekat ini, kira-kira kejutan apalagi yang pada masa dekat ini? Menggabungkan perfilman dan musik atau menghasilkan produksi musikal mungkin?

Kalau pentas musikal, saya merasa itu bukan bidang keahlian saya, walaupun saya bergelut di bidang musik dan penulisan. Kalau hanya menulis beberapa lagu untuk soundtrack, itu masih lebih mungkin.

Berada di Bali untuk festival writers & readers tahun 2010 ini, adakah hubungan batin yang erat terhadap Bali, khususnya Ubud?

Ubud adalah tempat liburan favorit saya. Bahkan terpikir juga untuk menghabiskan masa pensiun nanti di sini. Kalau bisa sebelum itu ya lebih baik lagi, hehe. Pokoknya dalam setahun saya harus ada kunjungan ke Ubud, buat nge-charge baterai batin. Hehe.

Beralih topik tentang kesukaan Anda terhadap dunia traveling, ceritakan perjalanan mana yang paling berkesan bagi Anda?

Waktu saya ke Papua, tepatnya Tembaga Pura, tahun 1999. Itu tempat yang “ajaib” menurut saya. Ada kota modern di ketinggian 2500 kaki, di tengah hutan, dilingkung gunung. Dan, ada cable car sampai ke tengah-tengah Jayawijaya. Dan semua itu karena manusia menambang emas. Baru kali itu saya melihat kapabilitas intervensi manusia yang begitu besar pada alam.

Hal apakah yang paling Anda sukai pada saat berpergian/traveling?

Mengamati. Melihat segala sesuatu yang baru. Menyentuh ranah ketidaktahuan.

Pastinya Anda sudah berpergian mengunjungi bermacam-macam negara, pernahkah tercetus ide untuk membuat travelog dari berbagai destinasi yang pernah Anda kunjungi?

Sudah lumayan banyak: Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Dubai, Australia, New Zealand, dan beberapa negara di Asia. Tapi kebanyakan dalam rangka bekerja, jadi saya nggak benar-benar traveling murni. Lain sih rasanya. Satu saat saya ingin sekali ke Peru. Harusnya tahun 2009, tapi karena hamil saya batalkan.