Monday, December 22, 2014

Wawancara Tugas Sekolah Pelita Harapan | April, 2013 | by Pitaya Rahmadi


Pertanyaan untuk SUPERNOVA :

Ada kesan bahwa novel ini seperti  “memutarbalikkan” moral  masyarakat melalui kontradiksi antar karakternya (karakter homoseksual antara Dimas dan Reuben, Rana yang sudah menikah namun jatuh cinta pada Ferre, Diva yang menjual dirinya namun memiliki intelek yang tinggi). Bagaimana tanggapan Anda?  Apakah tujuan yang ingin Anda capai melalui karakter-karakter tokoh yang sepertinya berlawanan dengan moral umum di masyarakat?

Ya, betul sekali. Itu memang menjadi sebuah kesengajaan. Intinya, saya ingin menggambarkan bahwa secara superfisial banyak hal yang mengecoh kita, padahal ketika digali lebih dalam, esensinya bisa bertolak belakang dari kesan luarnya. Dari Reuben dan Dimas, saya ingin menggambarkan bahwa hubungan cinta yang sehat dan konstruktif bisa terjadi secara universal, tidak dibatasi oleh preferensi seksual. Dengan Diva, saya ingin mengajak orang-orang berefleksi bahwa ternyata pelacuran terjadi di mana-mana. Pelacuran pikiran, pelacuran harga diri, identitas, dan bukan semata-mata pelacuran fisik saja. Begitu juga dengan Ferre dan Rana yang cintanya menerabas keterbatasan sosial. Semata-mata karena mereka menemukan esensi yang berbeda dari apa yang mereka temukan di lapisan superfisial.  

Seberapa besar realitas kehidupan Anda, Anda tuangkan dalam khayalan di novel Supernova? Atau ada juga elemen-elemen yang diadaptasi dari kehidupan nyata orang-orang di sekitar Anda?

Proses kreatif adalah proses yang cair. Saya tidak pernah mematok berapa porsi kehidupan nyata, hasil riset, imajinasi, yang kemudian saya tata menjadi cerita. Semua cerita saya selalu mengandung unsur kehidupan nyata, observasi, riset, dan imajinasi. Saya kadang meminjam nama orang di sekitar kita, beberapa potong babak kehidupan mereka, tapi kebanyakan adalah fiksi tentunya.

Apakah Anda sendiri setuju dengan cara pandang karakter Diva dan Rana dalam masalah cinta?

Dalam berkarya saya selalu mengajak orang untuk bertanya, terlepas saya setuju atau tidak, orang lain setuju atau tidak. Jadi, yang saya muat dalam cerita bukan persetujuan saya atas sesuatu, tapi pertanyaan saya atas sesuatu. Saya tidak otomatis setuju dengan Diva dan Rana, tapi pertanyaan mereka adalah pertanyaan saya. Bagaimana cara menjawabnya, menurut saya itu tidak lagi penting. Karena proses hidup akan mengantarkan kita masing-masing kepada jawaban yang kita butuhkan. Tapi dalam cerita, yang saya bawa adalah pertanyaan.


Pertanyaan untuk PERAHU KERTAS:

Mohon penjelasan dari Mbak Dewi,  latar belakang Anda memutuskan untuk menggambarkan karakter utama Kugy dan Keenan?

Saya hanya ingin menggambarkan dua orang yang punya ikatan yang mendalam, yang mereka temukan dalam berkarya. Tapi di luar itu, jalan mereka rumit dan berputar-putar. Kugy dan Keenan keduanya adalah sosok yang sukar dipahami orang umum, mereka punya keunikan dan dunia sendiri. Tapi, mereka berdua saling memahami dengan sangat baik.  

Seberapa besar realitas kehidupan Anda, Anda tuangkan dalam khayalan di novel Perahu Kertas? Atau ada juga elemen-elemen yang diadaptasi dari kehidupan nyata orang-orang di sekitar Anda?

Jawaban sama dengan pertanyaan no 3 di Supernova.

Apakah ada makna tertentu di balik konflik yang dialami karakter lain (seperti Wanda, Eko, Noni, Remy)?

Konflik antar mereka menurut saya merepresentasikan banyak konflik serupa di kehidupan nyata. Persahabatan yang diuji, cinta yang diuji, dan sebagainya. Intinya adalah, kejujuran akan selalu lebih baik. Konflik yang terjadi di antara mereka adalah akibat banyaknya hal-hal yang ditutupi, meski niat mereka bukan membohongi. Demi kebaikan mereka merasa lebih baik untuk tidak sepenuhnya terbuka. Namun, pada akhirnya ketika semuanya terungkap, meski menyakitkan, hasil akhirnya tetap lebih baik, dan akhirnya mereka jadi saling menguatkan.