Monday, December 22, 2014

We Indonesians Rule (Buku) | Juni, 2013 | by Juventia Vicky


Apa yang membuat Anda memutuskan untuk menggeluti karier menulis setelah berkarya dalam bidang musik melalui Rida Sita Dewi?

Sebetulnya menulis adalah hobi saya sejak kecil, yang berjalan paralel dengan hobi saya di musik. Jadi, keputusan berkarier dalam menulis bukan di posisi "either/or" dengan musik. Bagi saya, keduanya adalah saluran ekspresi kreatif yang sama-sama esensial. saya akhirnya berhasil menyiapkan manuskrip. Seiring waktu, saya harus akui saya jadi lebih nyaman dengan menulis karena faktor-faktor eksternal seperti berkeluarga dan punya anak. Dunia menulis memberikan saya lebih banyak fleksibilitas ketimbang dunia entertainment. Saya bisa lebih banyak di rumah dan mengatur jadwal kerja saya secara lebih independen.

Bagaimana Anda menjelaskan proses kreatif yang Anda lalui ketika menulis? Apakah riset berperan besar seperti yang ditunjukkan melalui tetralogi Supernova?

Saya rasa proses kreatif itu mirip-mirip untuk semua bidang. Intinya, kita menerjemahkan abstraksi dari alam ide ke sebuah pemaparan konkret yang bisa dinikmati dan dimengerti oleh orang banyak, termasuk oleh diri kita sendiri. Passion, disiplin, serta jam terbang menjadi penentu untuk seseorang bisa lancar dan konsisten berkarya. Riset menjadi salah satu metode saya untuk memperdalam cerita dan menjadikannya lebih believable. Lewat riset, bukan hanya pembaca yang diperkaya, saya yang melakukan risetnya pun ikut diperkaya. Dan demikian jugalah selera saya dalam menikmati karya orang. Saya senang dengan karya yang menantang cara berpikir dan memperkaya saya dengan pengetahuan. Karena itu, ketika saya berkarya, saya juga ingin melakukan hal yang sama.

Dari mana inspirasi untuk karya-karya Anda umumnya datang?

Dari mengamati hidup, lingkungan, diri sendiri.

Apakah Anda memiliki penulis favorit, baik dari Indonesia maupun negara lain, yang menjadi role model Anda?

Terus terang, saya lebih banyak baca nonfiksi ketimbang fiksi. Dalam nonfiksi yang biasanya ditekankan adalah materi tulisannya ketimbang gaya penulisannya. Saya suka dengan tema neo-arkeologi seperti buku-buku Graham Hancock, awareness-based science seperti buku-buku Amit Goswami, David Bohm, F. David Peat, dst. Belakangan saya senang dengan tulisan-tulisan Cheryl Strayed. Kalau dari penulis lokal, saya pengagum Sapardi Djoko Damono.

Anda telah menulis berbagai macam jenis sastra, dari novel dan cerita pendek hingga puisi. Bagaimana perbedaan bentuk ini mempengaruhi proses menulis Anda?

Saya tidak pernah terkungkung oleh bentuk. Saya rasa, idelah yang menentukan bentuk. Ada ide yang cukup diungkapkan lewat puisi, tapi ada juga ide yang perlu ruang lebih lebar seperti novel. I serve the ideas. Not the other way around. Saya tidak tahu pasti kreator lain bagaimana, tapi bagi saya, karya punya jiwa sendiri yang ingin berbicara, dan ia memanfaatkan saya sebagai medium. Jadi, ada kolaborasi dan kerja sama. Tapi, yang menjadi lokomotif adalah ide itu sendiri. Tugas saya adalah menerjemahkan "kemauannya" sebaik-baiknya dengan menjaga kepekaan dan mengasah skill saya menulis.

Apa yang Anda lihat sebagai signature style Anda ketika menulis?

Barangkali yang paling mudah dikenali adalah tema. Hampir semua tema tulisan saya, terlepas dari format dan segmentasinya, bercerita tentang eksplorasi jati diri. Kedua, ritme dan pemilihan kata. Mungkin karena saya berangkat dari penyanyi dan penulis lagu, saya sangat peka pada ritme. Sebuah paragraf harus bisa menemukan ritme yang pas, dan itu ditentukan oleh jumlah kata, bunyi, tekstur makna, dsb. Saya juga senang menggunakan kata-kata yang kontras, seperti menyisipkan satu istilah ilmiah dalam sebuah paparan puitis, misalnya. Semua ini mungkin terdengar abstrak, tapi bagi yang mengikuti karya-karya saya pasti bisa mengenali style tersebut. Sama halnya saya juga bisa mengenali jika style saya dipakai atau memengaruhi penulis lain.

Dalam Rectoverso, Anda menggabungkan novel dengan sebuah album musik. Apakah musik memiliki pengaruh yang besar terhadap tulisan Anda?

Dalam Rectoverso, lirik menjadi titik awalnya. Semua berkembang dari lirik. Jadi, lirik dulu baru fiksi, setelah itu aransemen musik. Kalau kasusnya Rectoverso, jelas musik berpengaruh sangat besar. Di tulisan-tulisan saya lain, pengaruh musik seperti yang saya jelaskan sebelumnya, yakni mengenai ritme. Musik mengajarkan saya untuk peka ritme, dan kepekaan itu kemudian saya tuangkan ke dalam cara saya menyusun kalimat, paragraf, bahkan cerita.

Beberapa karya Anda telah diadaptasi ke dalam film. Sejauh mana Anda memiliki andil dalam pembuatan film-film ini? Apakah melalui medium ini, Anda berharap penonton akan tergerak untuk mulai membaca karya-karya Anda?

Dalam setiap judul, keterlibatan saya berbeda-beda. Waktu Perahu Kertas, saya terlibat cukup banyak. Saya menulis skenario, saya membuat soundtrack, saya ikut menentukan casting, dan juga ikut editing. Bisa dibilang keterlibatan saya hampir seperti produser informal. Di Rectoverso, saya sudah lebih lepas tangan, dan hanya jadi konsultan saja. Di Madre, saya lepas sama sekali. Ketiga-tiganya punya risiko dan keuntungan masing-masing. Dengan bertransformasinya cerita menjadi film, memang ada potensi untuk menjangkau lebih banyak audiens. Saya tidak punya harapan tertentu sebetulnya. Secara umum memang ketika buku dijadikan film, otomatis ekspos terhadap buku tersebut meningkat, dan akibatnya bisa meningkatkan penjualan. Itu memang terjadi di ketiga buku yang saya dijadikan film. Tapi, sebelum itu pun buku-buku tersebut pun sudah punya pembacanya sendiri.

Menurut Anda, bagaimana situasi dunia sastra di Indonesia pada saat ini?
Anda beserta beberapa penulis perempuan kontemporer lain di Indonesia seringkali dicap sebagai penulis “sastra wangi.” Apa pendapat Anda mengenai karakterisasi tersebut?

Saya sendiri heran mengapa "sastra wangi" masih saja ditanyakan, padahal istilah itu munculnya sudah hampir delapan tahun yang lalu, dan kondisi saat ini sudah tidak lagi mengakomodir atau pun relevan untuk membahas "sastra wangi". Saya tidak punya pendapat khusus tentang "sastra wangi". Kalau definisinya adalah serangkaian penulis perempuan yang dengan berani mengungkap seksualitas yang selama ini dianggap tabu, saya rasa karya saya tidak berada dalam definisi itu. Tema seksualitas tidak pernah jadi tema sentral dalam tulisan saya. Saya juga lebih cenderung humanis ketimbang feminis dalam berkarya. Satu-satunya irisan saya dengan "sastra wangi" adalah jenis kelamin saya perempuan, saya penulis, dan saya wangi... kalau baru mandi.

Apa pandangan Anda akan budaya membaca di Indonesia? Apakah para pembaca mulai apresiatif serta kritis terhadap sastra Indonesia?

Jika dibandingkan dengan masa-masa Orde Baru, atau pra 1998, kondisi perbukuan Indonesia memang sudah jauh berkembang. Saya tidak tahu persis tentang budaya membaca masyarakat, saya bukan pengamat. Tapi, yang jelas, ada peningkatan jumlah penerbit, jumlah toko buku, jumlah penulis, dan jumlah genre buku. Barangkali itu bisa disimpulkan bahwa ada peningkatan budaya membaca di masyarakat modern Indonesia. Khususnya untuk genre sastra, saya rasa ada juga peningkatan (dari jumlah penulis dan jumlah buku terjual), tapi tidak sesignifikan genre-genre populer seperti chicklit, teenlit, atau buku-buku motivasi. Namun, saya tidak punya kapasitas mencukupi untuk bicara soal kritik sastra Indonesia. Biarlah hal seperti ini dijawab oleh mereka yang menekuni kritik sastra Indonesia. Peran saya adalah menulis.

Menurut Anda, apa yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak yang terlibat dalam dunia perbukuan—penulis, editor, penerbit, kritikus buku—untuk meningkatkan apresiasi atas sastra Indonesia? Apakah penghargaan seperti Khatulistiwa Literary Award dapat mendorong penulis-penulis Indonesia untuk berkarya dengan lebih baik?

Ajang penghargaan merupakan hal yang menarik, bisa mengundang perhatian media dan publik, dan pada level tertentu bisa menyemangati. Tapi, satu hal dalam perihal penghargaan, hampir semua ajang penghargaan selalu berbau conflict of interest. Dan, selalu saja akan ada nada-nada sumbang yang mengungkap adanya eksklusivitas atau dominasi pihak-pihak tertentu dalam penentuan pemenang. Jadi, menurut saya, sekalipun award adalah hal positif, tapi jangan menggantungkan ekspektasi terlalu besar. Award tidak mungkin jadi pendorong satu-satunya bagi perkembangan perbukuan. Bagi saya, untuk mendorong penulis-penulis berkarya, yang lebih luas dan jangka panjang adalah lewat ajang pelatihan, workshop, dsb, selama dilakukan dengan konsisten dan merata. Lewat kegiatan tersebut, bibit-bibit baru bermunculan, penulis atau editor yang sudah veteran pun berkesempatan untuk berbagi ilmunya, penerbit pun punya banyak potensi yang bisa dikembangkan. It's a win-win for everybody. Saya berharap semakin banyak pihak swasta yang tertarik untuk mensponsori pelatihan penulisan.

Beberapa karya Anda telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Seberapa penting outreach kepada audiens internasional dalam memajukan dunia sastra Indonesia?

Cukup penting. Sayangnya, belum banyak penulis Indonesia yang bisa menembus pasar internasional tanpa terlepas dari "kerangkeng" eksotisme. Saya masih merasa minat audiens internasional terhadap kita dan penulis Asia lainnya terjebak dalam eksotisme—entah itu tema budaya, sejarah, atau politik—jadi bukan fokus pada kualitas kepenulisannya. Akibatnya, jarang ada penulis yang benar-benar diterima dan diakui secara internasional. Lebih kepada pemenuhan katalog atau sensasi sejenak saja.

Karya seperti apa yang Anda ingin terbitkan selanjutnya?

Saya ingin menyelesaikan serial Supernova dulu. Setelah itu, saya ingin menulis nonfiksi. Ada cukup banyak topik yang ingin saya eksplorasi.